RSS

Monthly Archives: July 2011

PURPLE LINE

PURPLE LINE

Written by: Lolita Choi

Starring: all DBSK members

 

 

Alkisah, ada saat dimana bumi hanya terbagi menjadi dua wilayah, Timur dan Barat, yang dipisahkan oleh sebuah garis ungu yang disebut Purple Line. Timur dan Barat sangat saling membenci satu sama lain, entah karena apa. Purple Line pun disinyalir terbentuk dari darah para penduduk yang telah meng-ungu, hasil peperangan yang memang seringkali terjadi antar penduduk dua wilayah itu, yang pastinya tak pernah jelas siapa pemenangnya karena selain sama-sama kuat, masing-masing juga selalu mengklaim kalau diri kaum merekalah sang juara. Namun ada satu hal yang jelas dari peperangan itu: bahwa banyak sekali nyawa tersia-sia dan darah tertumpah hanya deminya, yang tentu juga makin mempertebal Purple Line dari masa ke masa.

Read the rest of this entry »

Advertisements
 
10 Comments

Posted by on July 31, 2011 in DBSK, [SONGFIC]

 

Tags: , , , , , ,

[THE SERIES] HAPPINESS

HAPPINESS

Written by: Lolita Choi

Starring: SJ’s Han Geng

(Sorry, but as for me, Han will always be part of SJ forever hehe^^

“Sojin-ssi masuk RS hari ini, tapi dia tak mau melahirkan kecuali kamu datang.”

Pesan singkat yang baru saja masuk ke dalam ponselku seketika membuatku bimbang setengah mati. Sojin berulah lagi… Padahal dia tahu sekali aku tak akan bisa muncul ke muka publik bersamanya. Biarpun aku juga tahu bahwa pasti berat sekali memiliki suami yang tak pernah bisa kamu akui, tapi tetap saja…

“Han Geng-ssi, mari, kita segera take untuk scene berikutnya!” Seruan seorang kru segera mengalihkanku dari ponsel. Aku menoleh sebentar, tapi alih-alih beranjak menghampirinya, aku malah sibuk berkemas-kemas, dan tak lama sudah bangkit dengan mencangklong ransel kotak-kotak Burberry-ku.

“Joisonghamnida, man, jeo meonjeo kalkkeyo. (Maaf, tapi saya harus pergi duluan.)”

Ah, Sojin, kenapa aku begitu mencintaimu??

Read the rest of this entry »

 
17 Comments

Posted by on July 30, 2011 in Super Junior, [THE SERIES]

 

Tags: ,

DEUDGOSHIPEUN MOKSORI – Part 2 (END)

Deudgoshipeun Moksori (The Voice I Want To Hear) – Part 2 (END)

(Part 1)

Written by: Lolita Choi

Starring: Jung Yunho

 

“Apa tidak ada orang yang suaranya betul-betul Anda rindukan? Anim… kajang, deudgoshipeun moksori? (Atau… yang ingin sekali Anda dengar?)”

Aku membaca baris demi baris tulisan dokter yang tiba-tiba disorongkannya itu dan pikiranku seketika hanya melayang pada satu orang… Cheonsa.

Sampai saat ini aku bahkan tak pernah terpikir untuk bisa mendengar suaranya. Tapi setelah dokter ini membahasnya… betul juga. Waah payah sekali, kenapa aku tiba-tiba jadi sangat ingin mendengarnya bicara langsung padaku?? Bagaimana suaranya? Bagaimana caranya bicara? Aku jadi ingin sekali mengetahuinya…

“Ada… sih Dok.” Jawabku akhirnya, cukup malu, sih. Dokter muda itu menyilangkan tangannya di depan dada, tertawa kecil. “Tapi… Tapi, tentang operasi itu saya masih belum bisa memutuskannya kalau tiba-tiba begini…”

Read the rest of this entry »

 
16 Comments

Posted by on July 16, 2011 in DBSK

 

Tags: , ,

[THE SERIES] SOULMATE – Chapter 5 (END)

SOULMATE – Chapter 5 (END)

(Ch. 1; Ch. 2; Ch. 3; Ch. 4)

Written by: Lolita Choi (@lolita309)

Starring: Choi Siwon

Son Dongwoon

Chapter 5. FICTION (Dongwoon’s POV)

Aku meletakkan pulpenku di atas meja dan menarik rambut depanku ke belakang dengan kedua tangan. Ah… lelah sekali. Dua sisi yang berbeda sudah rampung, sekarang tinggal menulis sisi bagianku. Bagaimana aku harus mengakhiri kisah ini? Tentu… happy ending. Untukku. Demi menghibur diriku, karena pada kenyataannya, kisah ini diciptakan bukan untukku. Karena pada kenyataannya, aku lah pihak yang kalah. Karena pada kenyataannya…

 

Flashback

“Menikahlah denganku, Park Yora. Kita soulmate, kan?”

Aku tersenyum lebar menatap gadis yang kucintai ini, sambil memegang cincin yang memang langsung menarik perhatianku saat hunting ‘senjata lamaran’ ini di salah satu mal di Istanbul sebelum kembali ke Korea. Cincin ini sangat Yora sekali, Yora kecilku yang kutebak (dan kuharap) belum juga berubah sejak 10 tahun yang lalu. Lingkaran platina tipis yang hanya bertahtakan sebuah berlian mungil berwarna shocking pink di tengahnya, betul-betul simpel tapi bold, outshine, dan… cantik. Yora.Ia masih menatapku kaget, yang tentu aku pahami itu. Siapa yang tidak akan terkejut jika ada seseorang yang tidak pernah lagi kau temui selama 10 tahun tiba-tiba datang dan melamarmu? Bahkan jika itu–so called–soulmate-mu sendiri. Aku pun menyesali itu, maka kini aku hanya berani berharap kalau di dalam hati Yora memang separuhnya masih milikku. Karena di dalam hatiku pun demikian… Dan melihat dari perlakuan Yora selama aku bertamu di rumahnya barusan, sepertinya aku masih bisa berharap lebih. Ia menerima kedatanganku dengan baik, biarpun kami memang agak sedikit canggung di awal–baru sedetik melihatku saja dia sudah berhasil memecahkan sebotol parfum bermerk-nya. Yang aku tidak tahu adalah bahwa itu hanyalah manner seorang Yora… yang saat itu aku lupa sama sekali kalau ia memang dibesarkan di keluarga penuh sopan santun maksimal. Diterima dengan baik bukan berarti ia juga memiliki perasaan yang sama denganmu… itu hanya perlakuan standar yang memang diberikannya pada semua orang.

Melihatnya yang belum juga membalas, maka aku pun kembali melanjutkan, “Karena alasanku ingin semuanya selesai sebelum kembali lagi kesini adalah agar aku bisa langsung menyuntingmu. Sebagai seorang pria Korea yang mantap. Agar aku nggak perlu lagi harus meninggalkan kamu lagi untuk kedua kalinya–”

“Maaf, Dongwoon-ah.” Maka bisa dibayangkan ekspresiku begitu mendengar hanya dua kata dari belahan jiwaku ini. Sungguh, aku sudah percaya diri sekali ia akan menerimaku, mengingat betapa selama 10 tahun ini aku selalu memikirkannya, mencintainya, tanpa pernah membiarkan seorang gadispun–SERIUS–pernah mencuri biarpun sedikit dari setengah hatiku yang memang milik Yora. Karena aku selalu berpikiran kalau ia pun juga akan melakukan hal yang sama… Yang terbukti salah saat ini.

“W-Wae…?” Perlahan aku bangkit berdiri, menuntut penjelasan darinya dengan pandangan heran. Bagaimana mungkin Yora, bagaimana mungkin kamu tidak menerimaku lagi? Kita soulmate kan? Dan soulmate ditakdirkan bersatu!

Yora menatapku penuh sesal (atau pandang kasihan? Entahlah) namun tetap mencoba menutupinya dengan senyum tipis seakan ingin meyakinkanku kalau penolakan ini bukanlah akhir dunia bagiku. Ia mengepalkan tangan kirinya, memandang sebuah benda yang terletak di salah satu jari itu sebelum akhirnya menghela napas. Ia membuka kepalannya, memperlihatkan punggung tangan itu padaku.

Bukan punggung tangannya lebih tepatnya yang ingin ia perlihatkan, melainkan sesuatu berkilau yang melingkar di jari manis tangan kirinya.

“Yora, kamu–”

“Ne. Ne, aku… sudah bertunangan. Selama dua tahun ini.” Ia tersenyum menatapku. Sumpah, aku masih hanya bisa ternganga melihatnya. Melihatku masih seperti itu, Yora pun segera menghampiriku, meraih tanganku. “Ya… Kamu jangan gitu dong, apa kamu nggak senang lihat aku bahagia?”

“Apa kamu… bahagia?”

Yora mengangguk pasti, “Um, bahagia sekali. Choi Siwon, polisi. Dialah orang yang berhasil bikin aku cheer up lagi pas kamu nggak jadi pulang 4 tahun lalu.” Ia kini menampilkan wajah cemberut, yang tak lama segera digantinya dengan senyuman lagi, menandakan kalau cemberutnya tadi hanya bercanda. “Sayang banget deh, padahal aku nungguin kamu lho…”

Um, bahagia sekali. Pikiranku masih ada pada kata-kata dan ekspresi Yora saat mengucapkan itu. DANG! Seketika aku langsung merasa kalah. Itulah kata-kata final, yang langsung membuatku KO seketika. Game Over. Ah, sudahlah… cukup. Sepertinya memang sudah saatnya aku mengakhiri ini semua dan tak lagi keras kepala mengharapnya menerimaku.

Maka menunduk sebentar demi memastikan ekspresiku sesuai dengan mood yang coba dibuat Yora–bahwa ini bukanlah akhir dunia–aku pun akhirnya kembali dengan wajah cemberutku yang dibuat-buat, “Jadi maksudnya kamu mau bilang ini salahku, gitu?” Omelku bercanda sambil menyentil keningnya.

Yora langsung menangkap maksud candaku. Ia menghela napas lega (kalau aku tidak shock berkepanjangan) sebelum mencibir, “Iyalah, siapa suruh nggak balik-balik? Kamu ngeremehin aku sih, kamu kira aku nggak bakal laku gitu selama kamu pergi? Wee.”

“Huu, dibilang banyak yang aku urusin… Orang sibuk nih.” Balasku mencibir. Biarpun sungguh sakit sekali rasanya, pura-pura tetap ceria begini.

Tapi tak apa, asal hubunganku dan Yora tetap baik…

“Maaf ya.” Ulang Yora saat mengantarku sampai depan rumahnya, setelah berjam-jam kami mengobrol, kangen-kangenan, serta sempat makan malam juga bersama keluarganya. Yang dari situ aku baru dengar juga kalau ternyata Ryeoru noona sudah menikah, juga keberadaan tiga sepupu laki-laki Yora–bernama Lee Sungmin, Lee Donghae, Lee Hyukjae/Eunhyuk–yang kini diangkat anak keluarga Park dan menetap disana. Wah, betul-betul banyak sekali yang kulewatkan selama 10 tahun ini.

Aku berbalik dan menatapnya heran, “For…?”

“For I can’t marry you.”

Aku tersentak, sebelum akhirnya (memaksa) tertawa, “Masih aja dibahas.” Kataku seraya meletakkan telapak tanganku di puncak kepalanya. “Dengar ya, Yora sayang, pada dasarnya posisi soulmate tuh bahkan lebih oke daripada pasangan kita lho.”

“Hm?”

“Um-hum. Gini deh, yang namanya hubungan tuh bisa aja putus, tapi soulmate bakal terus long last. Dan setelah putus, kita tetap bisa hidup kok tanpa pasangan, tapi tanpa soulmate, hati kamu jadi tinggal setengah. Selamanya akan tinggal setengah.” Aku menusuk-nusuk bahunya bercanda. “Makanya setelah dipikir-pikir untung aja kamu nolak aku tadi.” Senyumku.

Yora menyingkirkan tanganku, “Tanpa soulmate, hati tinggal setengah? Kayak aku 10 tahun ini dong.”

DENG! Kena lagi. “Yah, dia sih diungkit-ungkit terus…” Aku manyun.

Yora tertawa puas.

“Dasar chubby.” Ledekku, menggunakan panggilan yang paling dibencinya sejak kecil itu. Habis aneh sekali, sekeras apapun dia diet, sudah sekurus apapun tubuhnya, hanya pipinya yang tak pernah berubah. Tetap chubby, bahkan setelah ia dewasa begini.

Ia langsung bereaksi, “Yee, Arab!”

“Chubby. Pipi mandoo.” (Mandoo itu nama dumpling di Korea)

“Ihh, pulang sana pulang!” Ia mendorongku keluar dari pagar rumahnya dengan lidah menjulur kesal. Sebelum akhirnya… tertawa juga.

“HAHAHA…” Kami berdua tertawa keras sekali sampai-sampai seperti terdengar teriakan “Park…!” Dari arah rumah tetangga kami. Mendengarnya, kami pun buru-buru menurunkan volume dan cekikikan.

Ah, ini semua… persis seperti dulu.

“Aku pulang.” Kataku, lagi.

Yora mengangguk, “Um. Dengar tuh kata eomma tadi, bujangan tinggal sendirian, kalau lagi nggak ada makanan atau kesepian mungkin, kesini aja. Sekarang disini banyak cowok, banyak teman main kalau aku nggak ada.”

Aku mengacak rambutnya ringan, “Iya deh. Oh ya, kapan-kapan aku mau kenalan dong sama tunanganmu, ujian penerimaan dari soulmate nih.”

Ia mencibir, “Cih, kamu mau bilang apa juga, kita bakal jalan terus.”

“Eh serius, ini…”

Belahan jiwaku tertawa, “Iya, aku juga rencana gitu kok, dia harus ketemu sama Son Dongwoon, belahan jiwaku tersayang. Puas?” Ia memencet hidungku. Sejak dulu ia memang agak sensi dengan hidungku yang mancung khas Arab Turki turunan ibuku itu, iri sepertinya, makanya sejak kecil juga ia terobsesi agak mendatarkannya sedikit. Yang tentu saja tak pernah berhasil hahaha. “Eh tapi hati-hati, tunanganku itu suka makan orang, apalagi cowok yang dekat sama aku.” Bisiknya bercanda.

Aku langsung pura-pura bergidik, “Ih, nggak jadi deh. Kamu ketemu dia di SMA apa suku primitif hutan sih?”

“Huahaha…” Kami tertawa bersama lagi.

 

Sementara itu di tempat Siwon,

“HUACHIM!!”

Siwon mengusap-usap hidungnya yang tiba-tiba gatal.

“Kenapa, Won?” Tanya Yesung sambil menurunkan komiknya, pada housemate yang tahu-tahu bersin padahal sepengetahuannya tidak sedang sakit itu.

Siwon mengangkat bahu sambil tetap mengusap-usap hidungnya, “Entah. Ada yang ngomongin aku, kayaknya.”

 

Kembali lagi ke rumah Yora,

“Ya sudahlah, aku jadi nggak pulang-pulang ini. Pulang dulu ya.” Aku melambaikan tanganku padanya.

Yora membalasnya, “Sabtu atau Minggu ya, aku sama Siwon.”

Aku mengangguk singkat sebelum berbalik dan melangkahkan kakiku menuju taksi yang sudah kupesan. Ah tapi…

“Yora.” Aku kembali berbalik dan memanggilnya yang sudah siap masuk melalui pintu besar putih rumahnya itu.

Ia berbalik. “Hm?”

Aku kembali melangkahkan kakiku mendekatinya. “Boleh… peluk?”

Ia mengernyitkan keningnya sejenak, sebelum akhirnya mengangguk seraya tersenyum dan membuka kedua lengannya untukku.

Aku memeluknya erat, mengelus-elus punggungnya seakan tak akan pernah ada hari aku bisa memeluknya lagi. Yora yang tak mengerti apa-apa hanya membalasku dengan perlakuan sama.

“Hei, ada apa sih?” Tanya Yora bingung dalam pelukanku.

“Nothing.” Jawabku singkat. Hanya… ini hanyalah sebuah bentuk ucapan selamat tinggal pada cinta masa kecilku. Yang semuanya tidak akan pernah begini kalau saja dulu aku memenuhi janjiku dan kembali…

Flashback end

 

Maka disinilah aku, di apartemen yang kusewa selama sebulan ini sejak kembali ke Korea, menulis semua kisahku dan Yora sejak kecil di bawah satu judul fiksi SOULMATE. Fiksi, karena hanya sampai bagian aku kembali pulang dan melamar Yora-lah yang merupakan kenyataan, sisanya aku memutar posisiku dengan Choi Siwon, tunangan belahan jiwaku itu. Aku membuatnya terpuruk dalam tulisanku, padahal kenyataannya akulah yang seperti itu. Terpuruk setelah gadis yang selalu kucintai ternyata berakhir dengan orang lain.

Yang semuanya, kuakui, salahku.

Ah, berbicara tentang Choi Siwon, Yora akhirnya benar-benar mengenalkanku dengannya. Baiklah dia memang tampan, tapi juga… menyeramkan. Bukan apa-apa, tapi aura yang dihasilkannya, bahkan ketika ia hanya duduk dan memandangku dari ujung kepala sampai kaki saja sudah membuatku merinding. Dan padahal dia sama sekali tidak bicara banyak! Hanya sepatah dua patah kata saat dikenalkan denganku, dan sisanya aku mengobrol dengan Yora. Tapi justru disitu sepertinya masalahnya, aku sampai takut ia betul-betul akan memakanku seperti yang dikatakan Yora waktu itu.

Yah, biarpun begitu, harus kuakui kalau ia memang terlihat sangat bisa diandalkan (selain karena dia polisi, dengar-dengar dari biang gosip kita, Ryeoru noona, dia memang putra konglomerat Korea. W-O-W sekali deh). Pandangannya saat ia menatap Yora, betul-betul seperti langsung ada perasaan di hatiku yang menyatakan kalau memang aman mempercayakan Yora padanya. Dan pandangan yang diberikan Yora kepadanya… betul-betul lebih memaksaku lagi untuk menerima kenyataan kalau ya, mereka memang diciptakan untuk satu sama lain.

Tapi tetap saja, ada bagian dalam hatiku yang sampai kapanpun tidak akan bisa melupakan Yora. Menerima semua ini. Maka dari itu, untuk satu bagian dalam hatiku itulah karya fiksiku kali ini tercipta. Dan di dalam bagian hatiku yang satu itu jualah aku menulis kisah ini, kisahku dan Yora yang bagiku tak akan pernah berakhir…

TINGTONG!

Aku langsung bereaksi mendengar bunyi bel itu, karena jarang sekali aku punya tamu mengingat di Korea ini aku tak punya siapa-siapa lagi.

“Ne…” Jawabku sambil memakai sandal rumah, bersiap membuka pintu. “Lho, Yora?”

Dan gadis kesayanganku ini ada disana, melambaikan tangannya padaku. “Halo!”

“Ngapain kamu? Memang nggak magang?”

“Libur.” Katanya, masih di luar padahal aku sudah membuka pintu lebar-lebar. Oh ya, aku lupa bilang silakan masuk! Kalau belum dipersilakan masuk dengan kata-kata, mau sampai kapan juga Yora tak akan pernah masuk rumahmu. Pelajaran manner lagi. Maka setelah aku mempersilakannya dengan benar barulah ia melangkahkan kakinya masuk.

“Ada apa?” Tanyaku setelah membereskan semua alat tulis-menulisku dan juga ‘segala hal yang tak perlu ia lihat’ di dalam apartemen kecilku ini.

Ia meraih kamera profesionalku yang tergeletak di sebuah kabinet kecil dan CKREK! memotretku begitu saja. Hei, kenapa aku merasa ini mirip dengan cerita yang kutulis di bagian Yora dalam novelku? Ternyata aku benar-benar tepat menebak tabiat Yora. Hah, Choi Siwon, pria itu bahkan belum tentu bisa seakurat aku dalam mengenal seorang Park Yora…

Tuh kan, masih saja suka begini. Stop it, Dongwoon!

“Heeeii…” Maka aku pun langsung menegurnya seraya merebut kamera itu.

“Hehe.” Kekehnya. Ia kini merogoh tas tangannya dan mengeluarkan sesuatu. Selembar… foto? “Taraa~ Lihat deh yang aku temuin. Tadi pagi pas buka-buka album lama, aku lihat ini. Kalau dipikir-pikir, ini hasil jepretan pertamamu kan? Aku nggak nyangka hobi fotografimu bakal terus lanjut sampai sekarang, makanya begitu ketemu ini aku langsung kepikiran buat main kemari lagi, kasih ini buat kamu. Karya perdana Son Dongwoon.”

Aku tertawa seraya meraih foto itu dari tangan Yora. Sebuah foto hitam-putih, yang kalau orang yang tidak tahu mungkin akan menganggap foto itu fokus-fokus saja. Padahal nyatanya, sama sekali tidak… Aku mengambilnya dengan kamera ayahku saat usia TK dulu. Saat itu ayahku yang bertugas menjemputku sekolah ternyata juga diminta tolong ibu Yora untuk sekalian menjemput putrinya karena beliau sedang tidak bisa. Kami memang bertetangga dekat sekali, Yora dan aku satu sekolah pula, maka saling tolong-menolong seperti itu sudah biasa.

Kembali lagi ke foto, saat itu Yora sedang ikut ekskul balet dengan teman-temannya yang lain. Iseng selama menunggunya, akupun meminjam kamera poket ayahku dan CKREK! memfotonya begitu saja, jadilah foto ini. Nah, bagian tidak fokusnya adalah… berhubung masih anak-anak, niatnya sih Yora yang jadi fokusku, tapi entah apa yang terjadi hingga akhirnya satu-satunya bocah Korea tulen di kelas baletnya itu pun malah terpotret paling pinggir (sebelah kiri, yang rambutnya hitam dikuncir), dekat dengan frame foto itu. Itu saja masih untung seluruh tubuhnya masih terpotret dan kelihatan di foto itu.

Maka aku hanya bisa senyum-senyum sendiri mengingat kembali masa-masa itu, masa-masa kecil kami yang selalu bersama-sama dari TK sampai SD, hingga kepergianku di liburan kenaikan kami dari kelas 6 ke SMP. Tentang bocah-bocah asing teman Yora itu, kami berdua memang disekolahkan di sebuah sekolah internasional, lebih tepatnya awalnya AKU yang disekolahkan disana mengingat aku setengah bule kan (pamer dulu :p), eh Yora minta ikut, ya sudah jadilah.

Yora menahan tawanya melihatku, “Ya kan? Senyum-senyum sendiri kan? Aku juga gitu pas pertama ketemu ini.” Ia merebut foto itu dariku dan ikut tersenyum melihatnya. “Waktu kecil aku lucu ya…”

“Iya.” Responku. Yora langsung menatapku takjub, tak menyangka akan kena puji. Aku balik menatapnya heran, “Dari belakang, kan?” Tambahku kasual.

Dan TAKK! Ah… Sudah lama sekali aku tak kena jitakannya… Dan ternyata sudah sangat jauh bertambah kuat dalam 10 tahun ini.

“SAKIT!” Teriakku seketika. Ia hanya memeletkan lidahnya padaku. Oh ya, betul juga. Ada yang ingin kusampaikan padanya… “Oh, Yora. Kebetulan kamu kesini, ada yang mau aku bilang.”

Ia yang sedang meminum air mineral kemasan gelas yang memang kusajikan di ruang tamu itu menoleh, “Um?”

“Akhir bulan ini aku akan pindah, ke Daejeon.”

Brushh~ semburan airnya sukses menerpa wajahku. “YORAAA!!”

“Huaaa, maaf, maaf.” Ia buru-buru mengambil sapu tangan di dalam tasnya dan mengelapkannya di wajahku.

Melihat wajahnya secara close-up begini… Matanya, hidungnya, bibirnya… Aku sungguh takut imanku kurang kuat, apalagi kami cuma berdua begini. Bisa-bisa semua tekadku merelakannya amblas sudah. Maka dengan gugup, aku pun buru-buru merebut sapu tangannya dan bersikeras mengeringkan wajahku sendiri.

“Biar aku.” Kataku saat menarik sapu tangan itu dari genggamannya.

“Eo.” Yora hanya mengangguk pasrah dan melihatiku. “Kenapa… harus pergi lagi sih?”

Aku langsung menghentikan acara lap wajahku menyadari arah pembicaraan Yora ini. Duh, sungguh seperti disayat sembilu mendengar pertanyaan dan ekspresinya itu. Aku betul-betul seperti yang tak tahu bagaimana perasaannya saja dengan tetap tak peduli apapun dan meninggalkannya lagi begini.

“Mian.” Kataku, menghindari menatap wajahnya. “Kamu tahu kan pekerjaanku, dan penerbit yang mengontrakku selama di Korea ini, berpusat di Daejeon… Semuanya hanya demi memperlancar proses cetak buku-bukuku saja.”

“Geojitmalhajima… Na ttaemune aniji? Narang Siwon-irang ttaemunnyago. (Jangan bohong… Karena aku kan? Karena aku dan Siwon)”

DEG! Aku lupa. Betul-betul lupa, bahwa sepertiku yang juga mengenal Yora dengan sangat baik, ia juga bisa membaca diriku dengan begitu akuratnya…

“Ya! Berhenti mengkhayal.” Maka aku hanya bisa menutupinya dengan memaksa tertawa dan mengacak rambutnya bercanda.

Yora segera menarik tanganku dari kepalanya dan menatapku lekat, di kedua mata. “Geurae? (Betulkah?)”

“Geurae.” Kataku, mencoba selugas mungkin. Yora pun akhirnya menyerah, menghela napas panjang sebelum melepas genggamannya.

“Ya sudahlah.” Katanya lesu sembari meraih tas tangannya. “Nanti kalau sudah hari-H kasih tahu aku ya, sebisa mungkin aku pasti antar paling nggak sampai stasiun. Dan jangan lupa main-main kesini juga…”

Aku mengangguk seraya bangkit dan mengantarnya yang juga sekalian mau pulang ke pintu.

Ia mengangkat tangan kanannya, “Aku pulang dulu.”

“Um. Bilang hati-hati sama Geunsuk ahjussi. Ne?” Kataku menyebut supir pribadi keluarganya bahkan sejak kami masih kecil itu.

“Ne…” Jawabnya masih lesu.

Aku mencubit hidungnya, “Masih lesu! Aku juga perginya masih lama, kali.”

“Memangnya gara-gara kamu…” Katanya membela diri, yang tak seperti biasanya karena ia melakukannya tanpa tenaga sama sekali. Tak ada tepis-menepis tangan maupun juluran lidah seperti biasanya.

Yang akhirnya malah membuatku makin merasa bersalah…

“Dah.” Katanya lagi.

Aku mengangguk, “Hati-hati.”

“Eo…”

Dan BLAM! aku menutup pintu pasca Yora berlalu, dan segera melorot dengan bersandar pada pintu itu.

Sungguh, sampai saat ini pun aku sebetulnya belum bisa melupakanmu, Yora…

Aku masih belum bisa memercayai semuanya.

Bagaimana mungkin aku bisa melepasmu setelah selama ini??

Tapi karena itulah, kupersembahkan kisah ini padamu, kisah dimana sampai hari ini pun tetap kita berdua yang menjadi bintang utamanya. Kisah kita berdua yang tak akan pernah berakhir… semuanya dalam FIKSI.

 

ireohke nan tto ijji mothago

(Seperti ini lagi, aku tak bisa melupakanmu)

nae gaseum soge kkeutnaji anheul iyagil sseugo isseo

(di dalam hatiku, aku menulis sebuah kisah yang tak akan pernah berakhir)

neol butjabeulge

(aku akan terus mempertahankanmu)

nochi anheulge

(tak akan kubiarkan kau pergi)

kkeutnaji anheun neowa naui iyagi sogeseo

(berada di dalam kisah kita berdua yang tak akan berakhir)

oneuldo in Fiction

(bahkan sampai hari ini, dalam FIKSI)

 

END

 

 
20 Comments

Posted by on July 16, 2011 in Super Junior, [THE SERIES]

 

Tags: ,

DEUDGOSHIPEUN MOKSORI – Part 1

PS: Dalam kisah ini, tidak ada grup TVXQ. Dan anggaplah Yunho dan Yoochun adalah bagian dari Chocoball, geng pertemanan Super Junior Heechul^^

 

Deudgoshipeun Moksori (The Voice I Want To Hear) – Part 1

Written by: Lolita Choi

Starring: Jung Yunho

 

Menjadi tuli adalah mimpi paling buruk bagi semua musisi. Dan sialnya, aku kejatuhan mimpi buruk tersebut.

Read the rest of this entry »

 
17 Comments

Posted by on July 13, 2011 in DBSK

 

Tags: , ,

[THE SERIES] SOULMATE – Chapter 4

SOULMATE – Chapter 4

(Ch. 1; Ch. 2; Ch. 3)

Written by: Lolita Choi (@lolita309)

Starring: Choi Siwon

Son Dongwoon

 

Chapter 4. HE IS MY HAPPINESS (Yora’s POV)

Flashback

“Let’s get straight to the point. Kamu mau kita putus?” Tanya Siwon dingin padaku setelah jeda cukup lama sejak aku mengutarakan alasanku ingin bertemu dengannya mendadak pagi ini.

Aku hanya mampu tertunduk, tak kuasa menjawab. Karena jujur, aku pun bingung! “Aku… sebetulnya… justru itu… aku ingin tanya pendapatmu tentang…”

“Pergilah.” Potong Siwon tanpa melihatku sama sekali. Bagus, sekarang kamu sukses membuat tunanganmu sendiri membencimu, Yora!

Aku tergagap menjawabnya, tak mempercayai pendengaranku, “A-Apa…?”

Read the rest of this entry »

 
27 Comments

Posted by on July 6, 2011 in Super Junior, [THE SERIES]

 

Tags: , , ,