RSS

BAD GUY

20 Apr

Hi! Another SVT’s fanfic LOL XD Ini sebenernya jadi blog apa sih?? Hahaha.

Tapi abis ini mudah2an bakal post welcome tribute buat Yunho!! Welcome back uri leader-nim, tambah ganteng aja yang abis jadi tentara ><

Anyway, ff ini sebenernya cuma terinspirasi dari episode Star Show 360-nya SVT, pas ada acting challenge buat Wonwoo dan Sohye. And by that, Wonwoo bagus banget eksekusi aktingnya TT (click here to see the clip)

So without further ado, lets check this out!^^

BAD GUY

(나쁜 )

by @lolita309

Starring: Seventeen’s Jeon Wonwoo, IOI’s Kim Sohye

15046802_1836968003206724_5194111402268164096_n

Sejak awal menerima tawaran menjadi kekasih playboy kampus macam seorang Jeon Wonwoo, aku sudah tahu kalau suatu hari nanti aku akan terluka. Teman-temanku juga tak ada lelahnya memperingatkan, bahkan sejak saat mereka tahu idola Fakultas Seni itu mulai mendekatiku. Tapi aku tak pernah memusingkan itu semua. Semua orang bilang Wonwoo adalah cowok brengsek, tapi aku sendiri sadar kalau aku bukannya ‘cewek baik-baik’ juga, jadi kurasa itu tak masalah.

…Atau setidaknya, itu yang kuyakini. Nyatanya setelah apa yang coba diperingatkan semua orang itu kini betul-betul terjadi padaku, rasanya tetap saja menyakitkan…

“Ini siapa?” tanyaku nggak nyantai, padahal hari masih pagi seraya nyaris menempelkan layar 5 inci ponsel Wonwoo ke wajah tampannya (yang bagiku sekarang sangat menyebalkan itu).

Cowok tinggi berkacamata itu segera menghentikan aktivitasnya mencari minum di kulkas, dan kini malah mengernyit menatap layar ponselnya sendiri. Menatap tampilan chatroom KakaoTalk dengan seorang wanita ber-profile picture seksi dengan baju kurang bahan dan ekspresi ‘mengundang’. Dan bisa ditebak, isi percakapan mereka juga sungguh… ah, tak bisa kujelaskan dengan kata-kata. “Oh, Sunny-ya. (Itu Sunny.)”

“Aku juga tahu kalau itu.” jawabku ketus seraya menunjuk-nunjuk display name di atas chatroom itu dengan jariku. “Maksudku Sunny itu siapa?”

“Umm…” Wonwoo terlihat berpikir. “Yeojachingu. (Pacarku.)”

Kontan mulutku menganga tak bisa dikontrol. W-WHAT…?! “Geureom na-neun?? (Terus aku??)”

“Ya kamu juga pacarku.” jawabnya santai, bahkan dengan kasual mengulurkan tangan kanannya untuk mengelus-elus rambutku sembari tersenyum.

…Yang tentu saja segera kutepis dengan kasar. “Kamu bercanda, ya??”

“Memang aku kelihatan kayak bercanda?” tanyanya balik seraya mengangkat bahu, dengan wajah yang sungguh tanpa dosa. Dan dari saat itu juga aku tersadar…

…bahwa ini semua telah salah dari awal. Ini semua telah salah bahkan sejak kali pertama aku merespon chat Wonwoo yang sebelumnya bahkan hanya pernah kudengar namanya dari rumor gadis-gadis rekan Fakultas Ekonomi-ku.

Tapi salahkah jika di dalamnya hati kecilku masih ingin mempertahankannya? Mempertahankan hubungan kami??

Melihatku yang menatapnya dengan pandangan ‘membunuh’, Wonwoo malah terlihat menyunggingkan tawa kecilnya, “Wae? (Kenapa?) Kalau nggak suka pergi saja.”

Seketika amarahku mendidih, “Ini apartemenku, kamu yang pergi dari sini!!”

“Oke.” terimanya dengan mudah, seraya langsung beranjak ke sofa dekat kasur untuk mengambil ransel dan kemeja denim yang kemarin ia pakai kemari dari kampus. Memakai kemeja itu terlebih dulu sebagai pelapis kaos putihnya, Wonwoo kini sudah kembali ke hadapanku, tersenyum penuh arti dengan sebelah tangan terulur membuka. Ia meminta ponselnya kembali.

Tanpa sadar aku mundur satu langkah. Kurasa aku masih betul-betul belum rela ia mengaku secepat ini, bahkan tanpa merasa perlu membela diri atau bahkan mempertahankanku! Dan memikirkan bahwa ini semua hanya karena gadis murahan itu… “Di saat-saat seperti ini, bukankah seharusnya kamu minta maaf?” tanyaku, seperti ingin menawarkan sebuah kesempatan lagi padanya.

Wonwoo menggeleng seraya tertawa kecil, “Seumur hidup aku nggak pernah sekalipun meminta maaf. Sekarang kembalikan ponselku.”

“Kamu yakin kamu nggak akan menyesal??”

“Bukannya aku yang seharusnya bertanya seperti itu?”

DEG!!! Lagi-lagi aku merasa ter-skakmat oleh seorang casanova dingin seperti Jeon Wonwoo. Namun yang lebih menyedihkan adalah, kesadaranku seperti dipaksa mengakui bahwa… ya, akulah yang memang akan menyesal jika melepasnya.

Kurasa… aku telah betul-betul mencintainya.

“Kamu memang nggak pernah mencintaiku, kan?”

Tersenyum terlebih dulu, cowok berkulit putih itu perlahan melingkarkan kedua tangannya memeluk tubuhku… dan dengan sangat natural mengambil alih ponselnya yang kugenggam di balik punggung. “Tadi aku bilang seumur hidup aku belum pernah meminta maaf, kan?” tanyanya balik, dengan posisi kami masih berpelukan dan wajahnya yang begitu dekat dengan wajahku. Refleks, aku membuang muka, sama sekali tak ingin diintimidasi sekali lagi olehnya. “Berbanggalah karena sekarang kamu akan jadi orang pertama yang mendengarnya dariku. Mianhada, Sohye-ya. (Maaf, Sohye.) Tapi dari awal aku memang nggak punya perasaan seperti itu padamu.”

Kontan lututku terasa lemas. Dan menyaksikan tampak punggungnya semakin menjauh dariku demi meninggalkan apartemen studio ini… mengumpulkan segenap harga diriku yang terserak, aku pun kembali memutuskan untuk bersuara, “Nappeun nom-ah. (Cowok brengsek.)”

TAK. Seketika langkah Wonwoo berhenti. “Kamu pikir kamu cewek baik-baik? Jangan sok suci, Kim Sohye.” katanya, baru kemudian berbalik untuk menatapku lagi dengan seringainya. “Setelah Kim Mingyu mencampakkanmu, semua hubunganmu juga cuma main-main, kan? Memasang topeng malaikat, kamu menerima semua cowok yang mendekatimu, hanya untuk putus setelah mereka sadar, mereka berpacaran dengan ‘batu’. Nggak ada perasaan sama sekali di sana.”

DEG!! DEG!! Mataku seketika kosong, dan jantungku berdegup tak karuan, seperti Wonwoo telah mengoyak-ngoyak kulit terluarku, hanya meninggalkan seorang Kim Sohye ‘asli’ yang sungguh sangat kerdil. Bibirku bahkan terlalu kelu untuk membela diri, menyampaikan apa yang kurasakan sesungguhnya. Sakit hatiku setelah Mingyu, mantan pacarku sejak awal kuliah itu pergi, betapa aku hanya ingin mencari orang yang bisa mengobati rasa sakit itu…

Ingin sekali aku berteriak, “Dan aku menemukannya di dirimu. Aku mencintaimu!” Namun akankah dia percaya…?

Karma does exist, Kim Sohye. Jangan pernah berpikir kamu nggak lebih busuk dari aku. Kita berdua sama.”

BLAM! Pintu ditutup.

Dan aku mulai menangis.

 

END

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on April 20, 2017 in Uncategorized

 

Tags: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: