RSS

WELCOME

25 Apr

Hola~~!! Tribute to Yunho leadernim for his military dischargement!! 

Yunho memang tampan *udah itu aja* #eh

Cekidot~

 

WELCOME

(Related story: SEND YOU OFF)

By: @lolita309

Starring: TVXQ’s Jung Yunho, Song Rideum (OC)

screenshot-2525

 

Kantor Akuntan Publik KPMG Korea, Gangnam

“Nggak kerasa, tahun ini engagement terakhir kita dengan SM.”

Aku mengangguk-angguk seraya membereskan ordner dan report-report tahunan 2016 perusahaan yang kupegang—termasuk di dalamnya SM Entertainment—, bersiap untuk pulang. Karena peak season* sudah berakhir, pekerjaanku belakangan ini memang hanya me-review kembali rilisan berbagai report dan membuat laporan untuk disampaikan kepada atasanku. Makanya bahkan saat matahari belum terbenam seperti ini pun aku sudah nyaris bisa keluar kantor. Yay! “Iya, ya, Eon. Nggak kerasa sebentar lagi kita sudah nggak di—W-WHAT????”

Shiho eonni, supervisor-ku itu terlihat berjengit mendengar suaraku, “Ih, apaan, sih. Memang kamu lupa kalau tahun ini memang sudah tahun keenam SM bareng kita?”

Aku mengangguk.

“Ya, ini sudah tahun keenam. Sesuai peraturan internasional, mereka harus switch konsultan atau nanti kita bakal dicurigai punya ‘hubungan istimewa’ dengan mereka.”

Aku sedikit melongo, tidak jadi pulang. Bukannya aku tidak tahu tentang peraturan ini… ini bahkan diajarkan sewaktu aku kuliah.

T-Tapi… kami kan memang punya ‘hubungan istimewa’…

 

***

 

Bicara tentang hubungan istimewa, aku jadi teringat kalau beberapa hari lagi Yunho oppa akan resmi menyelesaikan masa wajib militernya. Ya, hubungan istimewa dengan SM yang kumaksud memang adalah tentang percintaanku dengan salah satu artis dalam labelnya, Ieader TVXQ, Jung Yunho. Mengejutkan, bukan? Aku juga terkadang masih suka tak percaya, kok. Dan tanpa kusadar ternyata 3 tahun berlalu begitu saja, dengan 2 tahun belakangan kami LDR karena oppa sedang wajib militer.

Yah, bukannya sebelum itu kami juga tidak bisa dibilang LDR, sih. Schedule oppa sebagai selebritas yang kebanyakan di luar negeri terutama Jepang dan juga rutinitasku sebagai auditor dengan jam kerja tinggi membuat kami sudah jarang bertemu bahkan sejak awal berhubungan. Tapi justru itulah yang membantu ketika kami harus berpisah lama seiring tugas negaranya ini. Seperti yang oppa yakinkan, itu tak akan jauh berbeda dengan hubungan kami sebelumnya. Benar saja, kami akhirnya memang hanya bisa bertemu sekali setiap 3 bulan liburnya, chat dan telepon juga hanya sesempatnya (biasanya nyaris tengah malam setelah ia selesai bertugas dan aku, tentu saja, sedang lembur #nasibauditor).

Namun nyatanya kami bertahan, tuh. Ketakutan Yunho oppa yang sempat ia utarakan sebelum pergi kalau aku bisa saja bertemu orang baru selama kami berpisah cukup lama, akhirnya terbukti tak terjadi. Macam-macam pria tetap berseliweran dalam hidupku pastinya, baik dalam wujud klien maupun rekan kerja baik baru maupun lama. Tapi coba saja pikir, mana ada sih yang bisa menandingi seorang Jung Yunho? Lagipula cuma wanita lemah (dan bodoh) yang bisa-bisanya meninggalkan seorang pria hanya karena dia sedang wajib militer. Sebaliknya, aku malah betul-betul menantikan saat aku bisa menyambut oppa lagi dengan tangan terbuka sebagai pria yang membanggakan. Orang yang telah menunaikan kewajibannya dengan penuh tanggung jawab kepada negara ini.

 

20 April 2017

Perbatasan kamp militer Gyeonggido

Hari ini aku memutuskan untuk datang. Yunho oppa sebetulnya melarangku karena ini hari kerja, tapi aku bersikeras untuk menyambutnya di perbatasan kamp, bahkan jauh-jauh ke Gyeonggido dari Seoul setelah mengantongi cuti dari kantor. Aku merasa bersalah karena tidak mengantarnya sampai ke kamp di hari pertamanya bertugas 2 tahun lalu (yang alasannya juga karena hari itu hari kerja), oleh sebab itu di hari bersejarahnya yang satu ini aku sudah bersumpah tak akan melewatkannya.

Dan melihat kekasihmu memberi salam hormat dengan tegap dan gagah di luar markas besarnya, dengan seragam loreng, baret hijau, dan senyum penuh kebanggaan, sungguh menyebarkan rasa haru yang tak bisa kujelaskan dengan kata-kata. Aku bahkan tak peduli kalau keberadaanku sekarang bahkan nyaris tak terlihat di tengah lautan fans dan juga reporter yang meliput hari besarnya. Aku bisa melihatnya lagi, terang-terangan dan sepuas hatiku seperti ini sudah lebih dari cukup.

“Terima kasih atas dukungan kalian selama ini. Ke depannya aku akan berusaha terus menjadi pemuda Korea yang membanggakan. Terima kasih!”

“OPPA KAJIMAAAA~~~ (OPPA JANGAN PERGIIII~~~)”

Yunho oppa yang barusan sudah dua langkah meninggalkan posisi berdirinya sekejap berhenti, dan dengan tertawa kecil menatap kumpulan fans-nya seraya berkata, “Na kayaji. (Tentu saja aku harus pergi.) Kalian mau aku kembali ke dalam sana lagi?”

“ANDWAEEE!!! (JANGAAAN!!!)”

Tertawa sampai kedua matanya hanya membentuk garis, pria tinggi berkulit coklat itu pun sekali lagi membungkuk sebelum kembali melanjutkan langkahnya menuju van putih operasional SM Entertainment yang sejak tadi memang sudah stand by di dekat situ. Masih dengan mata mengikuti sosoknya yang berjalan menjauh, aku merogoh tas tangan hitamku untuk meraih ponsel yang berbunyi nyaring dari dalam sana. Tebakanku, pasti Shiho eonni lagi. Dia memang tak pernah bisa membiarkanku cuti dengan tenang, bahkan biarpun hanya sehari dan di low season seperti ini sekalipun.

Biarpun ternyata caller ID-nya… “Yeoboseyo? (Halo?) O-Oppa??”

“Apa-apaan itu ‘WELCOME BACK YUNHO OPPA’?? Bajumu terlalu formal untuk pegang banner dan menyamar jadi fans-ku, tahu.”

Nyengir, aku menunduk untuk memperhatikan blazer merah marun dan rok span hitam yang kugunakan—sepertinya aku terlalu terbiasa dengan kostum ke kantor di pagi hari—sebelum kembali melihatnya yang memang kini sedang memegang ponsel di telinganya dan sebelah tangan lagi mencoba membuka pintu mobil untuk naik. “Hehehe… oppa lihat aku, ternyata.”

“Ya iyalah!” omelnya biarpun dalam bisikan. “Sekarang ke pos penjaga 8, dari tempatmu itu ke kiri, kira-kira 100 meter. Aku jemput di sana. Ikut aku pulang ke Gwangju.”

WHAAATTT?????

Segera kudengar tawa lepas Yunho oppa dari ujung telepon, “HAHAHA! Nggak ding, aku masih ada urusan di Seoul, kok. Baru pulang ke Gwangju weekend. Sudah, cepat jalan biar kita segera pulang. Umm…. Rideum-ah,”

Aku mengernyit, “Apa…?”

I missed you.”

 

***

 

“Annyeonghaseyo… (Selamat siang…) Annyeonghaseyo…” aku sibuk berdiri dan membungkuk setiap ada staf SM Entertainment yang kukenal melewati meja kami di kafetaria khusus pegawai ini. Di hadapanku, Yunho oppa yang sudah berganti baju kasual di rest area sebelum menuju kesini terlihat sama sekali tak terpengaruh. Masih sibuk dengan dua mangkuk jjajangmyeon yang dia bilang memang diidamkannya sejak masih bertugas, oppa makan seperti orang yang tidak diberi makan 2 tahun. Padahal kudengar di militer makanannya sangat enak. Makanya banyak pria yang setelah wamil kembali dengan badan ‘mengembang’. Tapi kenapa orang ini malah…

“Wae? (Kenapa?) Kok nggak makan?” Di sela-sela makannya, toh Yunho oppa ternyata masih merasa kalau sedari tadi aku begitu takjub dengan mukbang yang ia lakukan.

Aku menggeleng, “Makan, kok.” jawabku seraya kembali meraih sumpit logam yang tadi kuletakkan saat menyapa orang-orang. “Tapi oppa, kenapa sih aku juga harus ikut kesini? Nanti aku dikira balik lagi karena urusan pekerjaan… Padahal hubunganku dengan kantor ini kan sudah selesai.”

“Tapi hubunganku dengan kamu kan belum selesai.” jawab Yunho oppa simpel sebelum HAP! menyantap sesumpit besar mi kacang hitamnya lagi, dari mangkuk kedua. Selama perjalanan di mobil tadi aku memang sudah cerita tentang kantornya yang dengan terpaksa harus berpisah jalan dengan kantorku karena aturan soal ‘hubungan istimewa’ itu, yang disambut oppa dengan kecewa. Dia bilang padahal dia menantikan saat-saat kami bisa sering bertemu lagi saat aku sedang bertugas di kantornya, seperti awal pertemuan kami dulu. Dalam rangka audit, selama sekitar 2 bulan seorang auditor memang akan bertugas langsung di kantor kliennya demi kelancaran arus data laporan keuangan yang sedang ia periksa.

Dan karena salah satu prosedur audit itu jugalah, aku dan seorang selebritas Jung Yunho juga jadi bisa saling mengenal dan kemudian jatuh cinta.

“Padahal sebentar lagi sudah waktunya kamu untuk ‘intern’ lagi seperti waktu itu kan? Sekitar… Agustus? 2014? Waktu kita pertama ketemu.”

“’Interim’, oppa. Artinya ‘audit tengah tahun’. Biarpun memang sih waktu itu aku lebih kelihatan seperti intern SM daripada auditor…” lirihku di akhir. Mengingat lagi masa-masa awal karirku sebagai auditor. Ya, SM Entertainment memang adalah engagement atau klien audit perdanaku. Aku masih ingat betapa girangnya aku saat ditugaskan disini. Saat itu aku hanya berharap bisa bertemu satu-dua artis, siapa sangka kini aku malah menggaet salah satunya. *nyengir*

“Hahaha, iya kan? Habis kamu kecil banget sih, kayak anak kuliahan yang baru masuk kerja…”

“Waktu itu kan aku memang fresh graduate!” omelku seraya mencubit lengan kirinya yang terlipat di atas meja.

“AWW!!” kontan Yunho oppa mengaduh, yang dengan segera menarik perhatian seluruh isi kantin di jam makan siang ini.

Aku buru-buru makin menyurukkan topi pet yang dipakai kekasihku lebih dalam menutupi wajahnya, dan dengan segera menarik tangannya keluar kantin, tak ingin lebih lanjut jadi perhatian. Hubungan kami memang belum diketahui banyak orang, dan aku pun belum ada niat mengubah kenyataan itu dalam waktu dekat. Bagaimanapun oppa adalah figur publik yang dicintai banyak orang, jujur aku masih terlalu takut dengan reaksi publik (terutama fansnya) jika hubungan kami terbongkar.

“Oppa mianhae (Oppa maaf), tadi aku terlalu kencang ya cubitnya?” tanyaku khawatir begitu kami sudah di luar kantin.

Pria berhidung mancung itu sedikit menekuk lututnya demi menatap wajahku lekat (dia itu tinggi sekali, asal tahu saja), dan dengan wajah penuh aegyo menjawab, “Iya, sakit banget deh.”

Aku langsung tahu telah sukses dikadali olehnya. “Oh, gitu ya…? Mau yang lebih sakit? Nih, nih!” PAKK! PAK!! Dengan sukses aku sudah melancarkan pukulan-pukulan kecil balas dendam ke tubuh berototnya dengan tas tanganku.

“YA, YA! (HEI, HEI!) SONG RIDEUM!”

“Oh, Rideum-ssi!”

Baik aku dan Yunho oppa yang barusan masih bertengkar di lorong, dengan cepat menoleh. Pria yang menyapaku itu juga dengan terburu-buru meninggalkan kedua rekannya di pintu kantin demi menghampiriku. Sepertinya mereka baru akan mulai makan siang.

“A-Annyeonghaseyo, Junghwan-ssi.” sapaku seraya mengangguk kecil. Aku memang mengenalnya sebagai salah satu staf pria dari Divisi Accounting SM Entertainment yang sering bekerjasama denganku setiap kali kami melaksanakan audit.

Pria berumur sekitar akhir 20-an dan mengenakan kemeja abu-abu dengan nametag karyawan bertuliskan Seo Junghwan melingkar di lehernya itu menganggukan kepala menjawab salamku, “Annyeonghaseyo. Ada apa Rideum-ssi kembali kemari? Apa ada data yang kurang? Bukankah kemarin report sudah rilis, ya?”

Aku hanya bisa tersenyum memaksa. Seperti tebakanku, semua orang yang mengenalku pasti mengira aku kembali kesini karena pekerjaan. “A-Aniyeyo… (B-Bukan…)”

“Dia datang dengan saya, kok. Seo Junghwan-ssi?” Melepas topinya terlebih dulu, dengan santai Yunho oppa sudah melingkarkan lengan panjangnya di bahuku, menatap pria di hadapannya dengan ‘senyum cari gara-gara’.

“Oh, Jung Yunho-ssi! Annyeonghaseyo.” sapa Junghwan-ssi dengan wajah terlihat bingung. “Oh ya, saya dengar memang Anda baru selesai wajib militer hari ini?”

Yunho oppa mengangguk, “Majayo. (Betul.) Dan Rideum menjemput saya disana.”

“G-Geuraeyo? (B-Betulkah?) Memang apa hubungan—“

“Yeojachingu-yeyo. (Dia pacar saya.)” aku Yunho oppa dengan gamblang, seraya makin mengeratkan rangkulannya padaku, nyaris memelukku bahkan. Aku hanya bisa nyengir kuda, terlihat risih tapi tak bisa berkata apa-apa. Bahkan sampai Junghwan-ssi yang terlihat masih tak mengerti dengan apa yang terjadi akhirnya pamit untuk mengejar teman-temannya yang sudah lebih dulu masuk kantin.

“Oppa~~” rajukku, dengan pandangan kenapa-sih-kamu-harus-bilang-begitu selama perjalanan menaiki tangga menuju lantai 2, tempat ruangan pribadinya berada.

“Wae? (Kenapa?) Kan kamu betul pacarku.” jawabnya mudah… sebelum dengan segera memicingkan mata, “Jangan-jangan kamu ada apa-apa sama si Seo Junghwan itu? Sampai nggak mau ketahuan kalau kita pacaran. Ngomong-ngomong dia orang baru, ya? Belum pernah lihat.”

“Oppa!!”

“Ya habis kenapa? Dulu kamu bilang karena kamu adalah auditor independen kantor ini, akan melanggar independensimu kalau kita sampai ketahuan punya hubungan istimewa, secara aku adalah ‘orang dalam’ disini, kan? Nah sekarang hubunganmu dengan kantor ini sudah berakhir. Yang berarti nggak ada alasan lagi untuk kita sembunyi-sembunyi. Aku salah?”

“Bukannya gitu…”

“Sudah, percaya saja sama aku.” tenangnya dengan senyum lebar persis di depan wajahku, sebelum dengan ringan menyentuhkan dahi kami berdua. “Aku yang tanggung jawab kalau nanti semuanya jadi heboh. Setuju?”

Terdiam sebentar, aku akhirnya mengangguk. Sepertinya sudah saatnya aku juga mulai rileks dengan hubungan ini. Apa yang akan terjadi, terjadilah.

“Oh ya, ngomong-ngomong setelah aku pergi, kontrak siapa yang kalian jadikan sampel 2 tahun ini?” tanya Yunho oppa sembari kami masih menyusuri lorong lantai 2.

Kuputar kedua bola mataku, mencoba mengingat-ingat, “Tahun ini SNSD Taeyeon-ssi. Tahun lalu… EXO Lay-ssi. ”

“Taeyeon dan Lay? Memang ada apa dengan kontrak mereka? Waktu itu kalian bilang kontrakku dipilih karena ada perubahan nilai yang cukup signifikan di dalamnya tahun itu, kan?”

Aku mengangguk. Kontrak artis memang merupakan aset utama dari perusahaan agensi selebriti seperti SM Entertainment ini, oleh sebab itu audit atas sampel kontrak dan amortisasinya merupakan prosedur yang mandatory atau wajib dilakukan untuk memeriksa kebenaran nilai aset agensi tersebut. Dan salah satu faktor utama pemilihan sampel adalah dengan melihat kontrak yang memiliki perubahan nilai yang signifikan selama tahun berjalan, seperti yang dikatakan Yunho oppa tadi. “Umm… Taeyeon-ssi karena sejak tahun kemarin dia mulai fokus untuk solo kan, makanya nilai kontraknya berubah drastis.” jawabku.

Yunho oppa mengangguk-angguk, setuju. “Kalau Lay?”

Kontan wajahku berubah tersipu-sipu, “Naega johaseo. (Karena aku suka.)”

“YA!!”

Aku tertawa lepas, “Hahaha, nggak ding. Karena di tahun sebelumnya, kamu ingat satu per satu member Tiongkok EXO keluar kan? Karena itu kantormu cukup banyak mengubah kontrak Lay-ssi untuk mempertahankan dia.” jelasku sederhana. “Tapi… aku suka dia juga betul, sih. Sumpah, Lay-ssi baik dan sopan banget saat kami ngobrol—AAWW, OPPA!!”

Pacarku kini dengan sukses mencubit pedas kedua pipiku dengan telapak tangannya yang besar.

“Ah… pasti bakal kangen, ya. Sudah 3 tahun aku ‘kerja’ di kantor ini.” kataku seraya melempar pandangan ke sekeliling lorong bercat pink muda di kantor utama SM Entertainment ini sebelum memasuki ruangan Yunho oppa, mencoba merekam semuanya dalam ingatanku.

“Iya.” angguknya seraya merangkulku untuk segera masuk. “Tapi mudah-mudahan auditor pengganti kalian juga cantik-cantik, ya.”

“Iiihhh, apaan, sih!!”

Yunho oppa menjulurkan lidahnya seperti balasan ledekanku tentang EXO Lay tadi, “Ya habis gimana, dong? Padahal ekspektasiku bisa tiap hari ketemu kamu lagi seperti waktu kamu audit dulu… jangan salahin aku kalau nanti auditor baru ini juga ngejadiin kontrakku sampel audit mereka, dan minta ketemu untuk tanya-tanya seperti kamu waktu itu.”

“OPPA!”

“Hehehe, bercanda, ah. Sudah jangan manyun begitu, nanti cantiknya hilang.” hiburnya seraya mengusap-usap rambut coklat terangku yang dipotong sebahu. Perlahan kukembalikan bentuk bibirku yang tadi sudah seperti kurung buka ke bawah, biarpun belum sepenuhnya bisa tersenyum lagi. Bahkan oppa sendiri yang berkata begitu, aku jadi betul-betul kepikiran kalau bisa saja auditor baru yang datang nanti memang cantik-cantik dan bahkan seksi. Uuuuuhhh, sebel!! “Oh ya… Aku dengar Shinwa Eric sunbaenim mau menikah, ya?”

Ah, jelas sekali oppa berusaha mengalihkan pembicaraan kami barusan, dengan topik baru yang sungguh… jauh menyimpang. Maksa! “Iya, aku juga baca di artikel. Yoochun-ssi juga.” jawabku sebelum… UPS! menutup mulutku dengan sebelah tangan, sadar kalau keceplosan mengungkit mantan teman satu grupnya itu. “M-Maaf—“

“Nggak apa-apa, kok. Memang sudah waktunya juga. Kami semua sudah dewasa, bahkan termasuk Changmin.” jawab Yunho oppa dengan senyum ringan. “Lagipula kantor juga kelihatannya cool saja, buktinya mereka dengan mudahnya mengizinkan Sungmin menikah waktu it—AAAHH!! AKU TAHU!!”

Aku kontan berjengit menatapnya, “Ha? Tahu apa…?”

“Akhirnya aku menemukan cara supaya kita bisa ketemu lagi setiap hari, walaupun kamu sudah nggak tugas disini!”

Kunaikkan kedua alisku, makin tak mengerti.

GREPP!! Tanpa aba-aba Yunho oppa meraih tanganku seraya tersenyum lebar, “Ayo kita menikah, Song Rideum. Ayo kita menikah dan menjalani semuanya bersama. Welcome. I’m welcoming you to my life!

 

end

 

*peak season: masa sibuk audit yang terjadi sekitar bulan januari-maret, untuk memeriksa laporan keuangan tahunan (januari-desember tahun lalu) yang telah dibuat perusahaan. Deadline maret biasanya karena pada akhir bulan itu, perusahaan diwajibkan untuk telah melaporkan laporan keuangan auditan pada negara.

Lawan peak season adalah low season, yaitu bulan-bulan setelahnya dimana tidak ada deadline mendesak sehingga pekerjaan lebih santai (biarpun lembur tetap tidak bisa dihindari, karena banyaknya klien #nasib)

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on April 25, 2017 in DBSK

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: