RSS

TATTOO

30 May

“Aku membuat tato karena aku ingin mengabadikan sesuatu… seseorang. Dan abadi bersamanya.”

 

TATTOO (Rated PG-15)

Written by: @lolita309

Starring: Kim Jaejoong

68741fd993cd99d6ecc9c7048037603f

“Tato lagi, Jae?”

Pria berkulit pucat dengan tinggi 180 cm, berambut pirang yang ditutup sebuah topi pet abu-abu dan mengenakan kacamata hitam di wajahnya itu hanya tertawa mendengar tanya yang dilontarkan padanya. Bahkan seniman tato langganannya bosan dengannya! Apa ia betul-betul sudah begitu maniak tato?

“Apa lagi kali ini?” Sang seniman tato, pria dengan rambut rasta ala raggae berkaos dan jeans hitam-hitam itu bertanya lagi masih dalam duduknya yang memeluk punggung kursi tokonya. Ekor matanya mengikuti sang pelanggan dari mulai masuk hingga mendekatinya kini.

Si pelanggan berkulit pucat dengan cekatan melepas jaket kulitnya dan menyampirkannya asal saja begitu ia sampai di kursi ‘pasien’ si toko tato. Duduk dengan cool, Jaejoong—nama pelanggan itu—baru memutar kursinya demi menjawab tanya kepo sang pemilik toko, “Kenapa pertanyaan hyung begitu? Perasaan tatoku baru 8, kecil-kecil pula. Nggak kayak aku bakal bikin ala-preman-gambar-naga juga, bahkan.” Protesnya dengan suaranya yang sedikit husky namun begitu merdu. Kim Jaejoong, nama lengkapnya, ia memang adalah seorang penyanyi. Penyanyi terkenal, bahkan. Bagian dari sebuah trio vokal bernama JYJ, pecahan dari sebuah grup musik terbaik di Korea bernama TVXQ… ah, tak akan selesai menceritakan semuanya. Anyway, itulah alasan kenapa pergi ke toko tato di siang hari saja begitu membuatnya harus berpakaian ala mata-mata Korea Utara: jaket kulit, topi, kacamata hitam… Mungkin ibarat tokoh vampir di Twilight Saga yang kalau siang hari tubuhnya akan berkilauan, seperti itulah kira-kira bagaimana Jaejoong akan menarik perhatian orang-orang di luar sana jika berada di siang hari tanpa penyamarannya. Beruntung si pemilik toko tato yang begitu dekatnya sampai ia panggil ‘hyung’ itu segera mengenalinya bahkan dengan tampilan seperti itu.

Biarpun kini giliran sang hyung yang tertawa mendengar protes sang pengunjung. Betul juga, lagian untuk apa ia menolak konsumen? Banyak pelanggannya yang bahkan lebih addict dari ini, menahan sakit hanya demi menggambari sekujur tubuhnya dengan gambar-gambar yang bahkan, hanya demi terlihat keren atau ‘garang’. Jaejoong masih jauh lebih mendingan.

“Habis 2 bulan ini saja kamu sudah 3 kali kesini.” Jawab sang seniman tato berambut gimbal itu akhirnya, sebelum kemudian bangkit untuk menepuk kedua bahu berkaos oblong abu-abu sang pelanggan dari balik ‘kursi pasien’ tokonya. “Tapi ya sudahlah. Nah, kali ini mau apa?”

Jaejoong nyengir, menengadah yang membuat rambut pirang agak gondrongnya jatuh halus menutupi puncak kursi yang ia duduki. Menatap sang hyung dengan begitu berbunga-bunga, ia menjawab riang, “Nama orang… cewek. Suyeon.”

“Cewek?? Serius?” Respon sang lawan bicara, sebelum akhirnya memutar kursi Jaejoong untuk menatap pria tampan itu lekat-lekat. “Kamu tahu tato bukan mainan, Jae. Sekali alat ini bekerja,” ia segera meraih alat tatonya, sebuah perangkat berjarum dengan tabung berisi tinta setengah penuh dan kabel di ujungnya untuk disambungkan ke listrik. “…ia akan ada di tubuhmu selamanya. Aku nggak mau nasibnya seperti tato di punggungmu itu. Hasil karyaku harusnya membuat pemiliknya puas, bukan menyesalinya.”

“Sudah selesai ceramahnya?” Jaejoong, atau yang memang biasa hanya dipanggil ‘Jae’ oleh orang-orang di sekelilingnya itu menyilangkan kedua lengan berotot hasil workout-nya di depan dada, menatap sang hyung dengan dahi berkerut. “Hyung tahu aku nggak pernah main-main masalah ini. Lagian siapa bilang aku menyesalinya? Tato di punggungku ini,” ia menunjuk punggungnya yang tertutup kaos lengan pendek abu-abu kerah V yang ia pakai, “…memang sakit tiap kali melihatnya, tapi aku nggak pernah menyesal. Lagipula ada seseorang spesial yang bilang kalau ini begitu indah…” Pandangannya seperti menerawang mengucapkan itu, sebelum secepatnya, ia sudah kembali ke dunia nyata lagi, memegang erat kedua pergelangan sang hyung. “Jadi tolong cepat kerjakan.”

Sang hyung mengangguk-angguk pasrah, iya saja deh dengan apa yang pria ini katakan. Mulai mengambil pensil dan kertasnya di laci meja berkaca yang ada di depan kursi Jaejoong untuk mulai mendesain gambar (karena pelanggannya yang satu ini biasanya tak level hanya dengan gambar-gambar yang sudah ada di katalog), ia kembali bertanya, “Ya sudah, bilang mau desainnya kayak gimana. Dan dimana? Biar kusesuaikan dengan kontur kulit di bagian yang kamu mau.”

Segera, Jaejoong kembali nyengir, seperti begitu bahagia hanya dengan memikirkannya. Senyumnya tampan sekali. “‘Suyeon’, dengan tulisan hanja.” pintanya. “Di nadi tangan kiri, ya.”

“HA??”

 

_____

 

3 bulan lalu,

21.30, Club H di Nohyeondong, Gangnam

BRUKK!

“Oh! Ah, joesonghamnida (maaf).” Jaejoong hanya meminta maaf pelan—tahu suaranya begitu khas—seraya menundukkan kepalanya singkat ke arah orang yang barusan ia tabrak di lorong pintu masuk club itu. Entah siapa, ia juga tidak ingin melihatnya, tidak ingin orang itu mendengar suaranya, lebih-lebih melihat wajahnya. Ia memilih buru-buru kabur dengan wajah terpaling, menuju hingar-bingar, lebih masuk ke dalam klub ini. Bersyukurlah pencahayaan semua klub cenderung remang-remang…

Itu sudah orang keberapa yang Jaejoong tabrak hari ini. Hari ini fokusnya sedang entah kemana. Padahal belum, ia sama sekali belum mabuk. Minum saja belum. Seharian ini selain air putih, ia baru minum jus yang dibeli di Mango Six tadi siang. Stres pra-album baru, kah?

“So-maek (campuran soju dan maekju/bir), 80:20.” Ia memesan pada bartender di balik meja bar di hadapannya, yang biarpun awalnya sedikit mengernyit tapi segera mengangguk untuk menyiapkan minuman itu. So-maek 80:20, yang berarti campuran 80 persen soju dan 20 persen bir. Agak janggal dipesan memang di klub sekelas ini, dimana kebanyakan orang pastinya memesan Gin, Martini, atau minimal bir botolan. Dan dia soju?

Tapi begitulah, tak ada yang bisa menentang jika Jaejoong menginginkan sesuatu. Dan kali ini moodnya sedang level bawah, tapi ia ingin hingar-bingar seperti yang ada di klub kelas atas begini. Orang bilang Jaejoong menunjukkan perasaannya seperti memakai baju; semua orang akan bisa melihat apa yang ada di pikirannya. Dan sepertinya itu memang benar.

Seriously, so-maek?”

Biarpun sepertinya ada orang lain yang tak kalah gamblang menyuarakan pikirannya di situ. Suara wanita, yang membuat Jaejoong makin ingin lekas menoleh dengan sebelah alis diangkat. “Waeyo (Kenapa)?”

“Aniyo (Tidak)—Eh?”

“‘Eh?'” Jaejoong mengulang.

“TVXQ… Kim Jaejoong-ssi?”

“Ne (Ya)?” Ditanya seperti itu, Jaejoong akhirnya malah mengernyit, menatap lekat-lekat wanita yang duduk di sebelah kanannya itu. Ia terdiam sebentar… ia kira ia salah dengar, karena terdistorsi dengan dentuman musik keras dari DJ di belakang. Tapi di akhir, sungguh, rasanya ia betul-betul ingin tertawa. Ia akhirnya tertawa lepas sampai menyibak rambut pirangnya dengan tangan kiri yang bertumpu di meja bar. Sudah lama tak ada yang memanggilnya seperti itu lagi. Sekitar 4 tahun. Sejak sekitar 4 tahun yang lalu ketika ia dan 2 rekannya, Junsu dan Yoochun, memutuskan hengkang dari grup itu. Grup vokal pria terbaik di Korea Selatan.

Tapi… tunggu. Wajah wanita ini… Rasanya ia sudah pernah melihatnya hari ini… Bukan, bukan bermaksud gombalan karena kebetulan dia cantik… Serius, Jaejoong betul-betul merasa mereka sudah bertemu hari ini, tapi dimana…??

Yah, tapi dia memang cantik, sih. Ditambah rambut coklat gelap bergelombang sepunggung, yang bagai tirai bagi mini-dress hitam ketat berpunggung terbuka-nya. Sedikit kulit pinggangnya yang tak tertutup rambut seakan mengintip, seksi sekali. Dan jangan membuat kita bicara tentang kakinya yang tak tertutup dress yang hanya sebatas paha itu. Apalagi dengan posisinya yang sedang duduk dengan kaki disilangkan di atas kursi tinggi bar… Jadi baiklah, mungkin bisa kita anggap deja vu Jaejoong itu memang sekadar insting gombalan biasa darinya.

“Betul, kan? TVXQ Kim Jaejoong-ssi…?” Wanita itu bicara lagi, biarpun nada suaranya kini lebih ragu. Mungkin karena pria di hadapannya tidak segera menjawab. Karena sebetulnya Jaejoong sendiri sedang bingung apa yang harus ia jawab. Dibilang bukan tapi ya, itu memang sempat menjadi identitasnya… Dibilang ya, tapi kini bukan lagi… Dan bukankah ia sedang tidak ingin berurusan dengan orang saat ini?

“Ne (Ya).” jawab Jaejoong akhirnya. “Ne, geundae (Ya, tapi), bisakah Anda—”

Wanita itu menghela napas lega, “Matjyo? (Betul, kan?) Aku sudah takut salah orang, biarpun rasanya tak mungkin karena wajah sepertimu tak  pasaran. Ah, aku fans-mu.” Ia mengulurkan tangan kanannya seraya tersenyum.

Jaejoong menyeringai kecil, sedikit menunduk memainkan gelas somaek-nya. Ternyata benar. Fans dan modus mereka untuk berkenalan. Sudah sering terjadi…

Yah, tapi ia harus tetap profesional, kan? “Ne (Ya).” ia menyambut tangan wanita itu. “Bangabseumnida. (Senang bertemu denganmu.)”

“Jega bangabjyo. (Saya yang senang bertemu denganmu.)” senyum wanita itu. Sangat innocent, bertolak belakang dengan tampilannya yang terkesan ‘berani’. Dan SIRR~ entahlah, rasanya bad mood Jaejoong seperti terlupakan saat itu juga, berkat senyum itu. Padahal bukankah tadinya secara sopan ia sudah ingin meminta orang ini untuk membiarkannya sendiri? Dan bukankah tadi dia juga yang sekejap mata langsung mengecapnya seperti ‘fans-fans lain’ dan modus mereka?

Diam.

“Um… Tapi sesungguhnya, sudah lama sekali saya tidak mendengar itu.”

Gadis itu menelengkan kepalanya, “Dengar apa?”

“’TVXQ… Kim Jaejoong’.” jawab Jaejoong, pelan.

Wanita itu segera menunduk, tersenyum pahit. Ia tahu apa yang dimaksud oleh pria di sebelahnya ini, “Joesonghamnida (Maaf). Saya hanya… sangat menyukai tim kalian sebagai lima orang, saya tidak bermaksud—”

“Animnida, gamsahamnida (Tidak apa-apa, terima kasih).” Jaejoong menggeleng, mencoba mengembalikan senyumnya. “Lalu, apa maksud Anda tadi mengomentari pesanan so-maek saya?” protesnya bercanda, kelihatan sekali ingin buru-buru mengubah suasana yang ada.

Wanita itu ikutan tertawa, “Habis, siapa juga yang di klub sekelas ini, memesan so-maek? Anda bahkan bisa mencampurnya sendiri di warung tenda pinggir jalan.” sindirnya. Jaejoong terkekeh, mengangkat bahunya. Sungguh… wanita ini seperti pesulap. Dengan mudahnya ia bisa mengubah suasana hati Jaejoong di pertama kalinya mereka bertemu, dan entah terkena sihir apa, Jaejoong begitu merasa nyaman berbincang dan bercanda gurau dengannya… “Mari aku tunjukkan apa yang seharusnya kamu pesan disini. Bartender, olive mojito satu.”

Dan disitulah… Jaejoong melihatnya. Saat wanita itu mengangkat tangan kirinya untuk memesan minuman, barisan huruf itu segera menarik perhatiannya. Di pergelangan tangan dan sangat kecil, namun tulisan itu sangatlah familiar hingga ia tak akan mungkin salah melihatnya. Dan entah kenapa ia merasa pernah melihat hal unik itu di suatu tempat…

Ah! Wanita ini. Tentu saja, kalau bicara lagi tentang aksi ‘tabrak orang’-nya sepanjang hari ini, wanita inilah ‘korban’ pertamanya. TKP-nya persis di depan Mango Six Apgujeong, salah satu cabang kafe jus yang memang sedang begitu happening di Seoul itu. Ketika sedang random berjalan saat istirahat meeting—yang menjelaskan setelan jas yang ia pakai—BRAK! Tak sengaja ia menabraknya. Wanita langsing dengan mini-dress hitam ketat itu… Orang yang sudah jusnya ia tumpahi, tumpahannya pun mengenai baju pemiliknya. Orang yang seharusnya begitu ia ingat bukan karena ia jadi harus mengganti minuman wanita itu (dan akhirnya juga membeli satu gelas untuknya sendiri), atau bahkan karena wajahnya yang cantik dan pakaiannya yang menarik. Melainkan karena keberadaan tato itu… Sekilas ia melihat tato kecil bertuliskan huruf hanja 東方神起 (Dong Bang Shin Ki) di pergelangan bagian dalam tangan kiri wanita itu. Apa ia sedang bertemu seorang sasaeng?

Untunglah saat itu, kacamata hitam yang dipakainya sedikit membantu menyamarkan identitasnya. Tapi tetap saja… dilihat dari manapun, gadis ini sama sekali tak tampak seperti itu.

…Dan seiring mereka terus berbincang… ia sama sekali makin tak tampak seperti itu. Tak tampak seperti seorang sasaeng.

 

_________

 

Impresi pertama itupun begitu baiknya sampai berlanjut ke apartemen Jaejoong yang luas di daerah Gangnam. Pukul 2 dini hari. Tanpa terasa mereka bahkan mengobrol selama 4 jam di meja bar saja sebelum akhirnya memutuskan berpindah tempat ke kediaman Jaejoong, bahkan sama sekali tidak turun ke lantai dansa. Dan tak sekalipun Jaejoong bertanya tentang tato di pergelangan tangan wanita itu—Han Suyeon, ternyata namanya. Seorang redaktur majalah fashion… dan seorang Cassiopeia. Biarlah itu menjadi misteri. Kalaupun ia seorang sasaeng, at least she’s a pretty one.

Suyeon sendiri sama sekali tidak merasa terkejut maupun terkagum-kagum melihat ‘sarang seorang bachelor’ milik Jaejoong itu. Ekspresinya biasa saja, padahal sungguh, apartemen itu begitu mewah, luas, terkesan futuristik namun minimalis dan sangat rapi. Dia bahkan terlihat familiar dengan furnitur di dalamnya. Tangannya dengan ringan menyapu permukaan sofa panjang dan kitchen set Jaejoong selagi melihat-lihat.

…Hal yang sesungguhnya sedikit menyeramkan untuk Jaejoong. Mengapa dia familiar dengan rumah ini? Jadi dia betul-betul seorang sasaeng?? “Apa… kamu pernah melihat rumahku?”

“Pernah.” angguk Suyeon. Seketika tubuh Jaejoong membeku. “House and Living, kan? Aku terkesan dengan betapa rapinya rumahmu untuk seorang cowok single.”

Ah, House and Living. Jaejoong segera menghela napas lega. Majalah yang bulan lalu mewawancarainya dengan mengambil lokasi di rumahnya itu. Jaejoong baru paham semuanya. Tentu saja, Suyeon seorang redaktur majalah juga, bukan? Tidak akan aneh ia membaca banyak majalah lain biarpun tak ada hubungannya dengan fashion seperti segmentasi yang ia kerjakan.

Pria itu tertawa, “Justru karena aku single, tidak cukup orang untuk memberantaki rumah ini.”

Meong~ Meong~

“Oh, Jiji-ya!” Jaejoong segera berjongkok untuk menggendong berwarna biru gelap (jenisnya saja Russian Blue) itu dan menciuminya.

Suyeon mengernyit, “Jiji?”

“Kucingku. Mollasseo (Kamu nggak tahu)?”

“Sudah kubilang aku menyukai kalian sebagai sebuah grup. Selain musik dan live performance kalian, aku tak tahu apa-apa lagi.”

Jaejoong tertawa kecil. Wanita ini betul-betul membuatnya gemas sekaligus penasaran.

 

___________

 

“Tatomu indah sekali.” Suyeon memuji seraya mengelus tato bertuliskan TVfXQ SOUL berhiaskan sayap di punggung Jaejoong dengan jarinya. Pria yang baru saja berdiri untuk mengenakan celana piyamanya sebelum tidur itu melirik wanita yang sudah berdiri di belakangnya, selimut abu-abu dari tempat tidurnya membungkus tubuh semampai Suyeon.

b409e022294b8b0082e02b8918ada448

“Terima kasih.” Jawab Jaejoong seraya tersenyum, menarik sebelah lengan Suyeon yang tidak ia gunakan untuk menggenggam selimut agar memeluk pinggangnya.

Suyeon menurut, menyandarkan sebelah pipinya ke punggung pucat itu. Wajahnya tak lepas memandangi pemandangan tepat di atas matanya. Tulisan itu… “Apa tidak sakit setiap melihatnya? Kalian tidak bersama-sama lagi, tapi kamu terlanjur mengukirnya disini. Ia tak akan hilang…”

Pria berambut pirang itu terdiam. “Tato di pergelangan tanganmu, apa kamu menyesal membuatnya?”

“Oh!” Tertegun, Suyeon segera menarik tangan kirinya dari pinggang Jaejoong dan menyembunyikannya di belakang tubuhnya.

Jaejoong tertawa, “Kita sudah sampai sejauh ini, kamu pikir aku tak akan melihatnya?”

“Ini… Justru aku membuatnya ketika kalian sudah berpisah. Aku menyukai–”

“…’kalian sebagai sebuah grup’.” Jaejoong meneruskan, tahu apa yang akan dikatakan Suyeon. Gadis itu tertunduk malu. Jaejoong tersenyum, menarik kembali tangan kiri Suyeon melingkari pinggangnya, meraba permukaan timbul tulisan hanja Dong Bang Shin Ki (東方神起) di nadi gadis itu.

“Aku juga menyukai kami sebagai sebuah grup, makanya aku sampai ingin mengabadikannya bersamaku. Sakit memang tiap melihatnya, tapi itu mengingatkanku untuk terus berterimakasih. Aku tak akan pernah menyesali kehadiran mereka dalam hidupku.”

“Aku pasti terlihat seperti seorang sasaeng.”

Jaejoong menggeleng seraya berbalik, mencium lembut tato hitam di pergelangan tangan bagian dalam Suyeon itu, “Aku tidak tidur dengan seorang sasaeng.” Katanya seraya perlahan, mendekati wajah Suyeon dan mencium bibirnya hangat.

Jaejoong kira ini akan menjadi one night stand biasa seperti sebelum-sebelumnya, tapi sepertinya ia salah. Gadis ini istimewa.

Mungkin benar ia akan menikahi seorang fans seperti yang pernah dikatakannya dulu.

 

***

 

“Wah, ceritanya bagus.”

“Terus sampai sekarang kalian masih berhubungan?”

Mendengar tiba-tiba suara yang bertanya padanya menjadi tak hanya suara sang hyung pembuat tato lagi, Jaejoong yang sampai tadi bercerita sambil memejamkan matanya karena menahan nyeri mesin tato, segera melepas kacamata hitamnya dan melihat sekeliling. Lho, kenapa tiba-tiba jadi banyak orang??

Dan memang benar, di sekeliling kursi pelanggan yang diduduki Jaejoong, sekarang sudah berkumpul baik para karyawan toko tato hyung-nya, pelanggan di kursi sebelah, gadis kasir yang harusnya berjaga di counter, sampai cleaning service! Jaejoong kontan menghela napasnya, bingung mau berkomentar apa.

“Tentu saja kami masih berhubungan, kalau tidak mana mungkin aku minta Tody hyung membuat tato ini.” Pria itu akhirnya menjawab salah satu tanya yang ditujukan padanya tadi, seraya mengangkat lengan kirinya yang kini telah bertuliskan hanja Suyeon sesuai permintaannya.

Klingg! Di saat itu, denting gantungan di atas pintu toko berbunyi tanda seseorang membuka pintu tersebut. Jaejoong menoleh, dan seketika senyumnya merekah seraya menyapa, “Suyeon-ah!”

Sekejap, semua orang disana ikut menoleh ke arah pintu.

…dan mereka sukses ternganga.

Wanita yang sangat cantik dengan tubuh tinggi langsing bak model, rambut hitam pekat bergelombang sepinggang, dan mengenakan terusan tanpa lengan selutut berwarna krem itu tersenyum seraya menganggukkan kepalanya kepada semua orang disana. “Annyeonghaseyo…”

Dan saat itu juga, Tody segera menahan lengan Jaejoong yang cepat-cepat melompat dari kursinya untuk menyambut sang kekasih. Jaejoong menoleh. “Sekarang aku mengerti kenapa kamu mau mengabadikan namanya di tubuhmu, Jae. Akupun juga pasti akan melakukannya kalau punya pacar se-mengagumkan itu.”

Mendengarnya, Jaejoong kontan tertawa, “Hahaha, sudah kubilang, kan?”

 

END

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on May 30, 2016 in DBSK

 

Tags: , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: