RSS

[THE SERIES] SOULMATE – Chapter 3

22 Jun

SOULMATE – Chapter 3

Written by: Lolita Choi (@lolita309)

(Chapter 1; Chapter 2)

Starring: Choi Siwon

Son Dongwoon

 

Chapter 3. WHEN YOU’RE GONE (Siwon’s POV)

BUKK!!

Tanpa ba-bi-bu, Yesung yang tiba-tiba muncul begitu saja di kantorku, masih lengkap dengan seragam polantasnya sudah menyerangku begitu saja dan memberikan bogem mentahnya. Darahku seketika naik ke ubun-ubun, “YA! Apa masalahmu, sih??”

“Kamu putus dengan Yora, kan?? Itu masalahku!”

Aku tertawa kecil, melecehkan. Setelah seminggu berlalu, mungkin dia baru mulai mencium keanehan dari kami. Yora yang tidak pernah datang lagi ke rumah, aku yang tidak pernah lagi membicarakannya… Yah, itu bukan salahnya sih. Aku dan Yora memang sepakat untuk tidak menggembar-gemborkan ini. Let time heals. “Iya, aku memang putus dengan Yora. Baru tahu?”

Yesung sudah akan kembali menyerangku namun berhasil ditahan teman-teman sekantor, “Buat apa dulu aku menyerah dan mengalah kalau akhirnya kamu juga seperti ini, dasar bodoh!! Ada apa sih dengan kalian??”

Aku mendecak pelan, “Nggak ada apa-apa. Apa harus ada alasan untuk putus? Aku bosan dengannya, she has no fun. 4 tahun yang sungguh boring sekali.”

Yesung terlihat mengertakkan giginya penuh amarah, “Choi Siwon… rasanya aku ingin sekali membunuhmu!”

Wah, kebetulan sekali. Aku memang sedang ingin mati. Mengatakan semua hal yang sama sekali tidak aku inginkan… Berpura-pura bahwa aku tidak lagi menginginkannya… Aku bukan aktor, aku tidak pandai berakting. Maka lebih baik aku mati sebelum semua sandiwaraku terbongkar, membiarkan predikat ‘the bad guy‘ dalam hancurnya hubungan kami ini bersamaku. Karena sejak awal ini semua memang sudah salah, semua salahku karena berniat mengambil risiko kalau masa lalu tidak akan pernah kembali menghantui kami…

Dan BUKK!! Kini tinju yang lebih keras, berbeda dari milik Yesung tadi, menghampiriku. Aku menoleh dengan pandangan marah, siapa lagi yang berani memukulku begitu saja dan ikut campur dalam urusan kami?? Namun seketika aku hanya dapat tertawa menyedihkan. Itu Donghae Hyung, kakak Yora yang memang sekantor denganku. Pasti dia juga baru mendengar semuanya. Aku terus tertawa seperti orang gila, yang langsung dipandang aneh oleh semua orang yang ada disitu. Ya, aku menertawakan diriku sendiri, pria malang. Pria malang yang baru tahu kalau perpisahan memang menyakitkan, namun dalam kasusku, sakitnya bukan hanya pada hati, tapi juga fisik.

 

***

 

Aku membuka pintu kamarku sepulang kerja, dan menemukan pakaian-pakaian Yora yang memang beberapa ditaruhnya disini tergeletak di atas ranjangku. Awalnya aku heran, namun setelah kupikir lagi, pasti kemarin aku tanpa sadar mengeluarkannya dari lemari saking merindukannya.

And the clothes you left, they lied on the floor

And they smelled just like you, I love the things that you do…

Seketika dua baris lirik lagu When You’re Gone oleh Avril Lavigne itu pun terlintas di kepalaku. Gila, betapa cocoknya baris-baris lagu itu dengan situasiku saat ini. Yah, bedanya paling hanya pada kenyataan baju-baju Yora tergeletak di atas ranjangku, dan bukan di lantai. Tapi sepertinya masih akan banyak lagi kecocokan dari tiap lirik lagu itu dengan apa yang terjadi padaku. Menyebalkan sekali… sekaligus menyakitkan. Mengingat itu juga adalah salah satu lagu yang disukai Yora… Ah, Yora lagi. Ternyata betul, sampai kapanpun aku dipastikan tak akan pernah bisa melupakannya.

Maka kini akupun perlahan mendekatinya, meraih sehelai kemeja tartan yang sering dipakainya berangkat ke kampus itu. Masih harum khas Yora, bahkan kamar ini pun masih betul-betul terasa keberadaannya. Sejak aku dan Yesung lulus akpol dan mengontrak rumah ini, Yora memang sering menginap jika ia kesepian di rumah besarnya. Ia juga sering dengan sukarela memasak dan mengurus rumah dua ‘bujangan kacau’ ini, membuat tidak hanya di tiap sudut kamar ini aku seperti melihat bayangannya, tapi juga di tiap bagian rumah mungil ini. Sial… Betapa aku merindukannya.

Klekk, tiba-tiba pintu kamarku terbuka. Aku yang sedang duduk di pinggir ranjangku yang memang berhadapan dengan pintu seketika mendongak dan langsung terpaku. Di seberang sana, gadis itu juga melakukan hal yang sama. Matanya terbuka lebar karena kaget dan BRUKK, sebuah koper mini bermotif kotak-kotak yang dipegangnya pun terlepas dan jatuh.

“Siwon-ah… Maaf, maaf aku masuk gitu aja, aku pikir kamu dan Yesung–”

Aku memaksa senyum terbentuk di bibirku, “Gwaenchana. Masuklah, aku hari ini memang pulang siang. Apa kabarmu?”

Ia terlihat ragu sebelum akhirnya melangkah masuk juga. “Aku baik. Kamu? Maaf tadi pas ambil koper di lemari luar aku nggak dengar kamu datang… Hari ini aku cuma mau ambil barang-barangku aja kok, setelah itu aku akan langsung pergi–”

Cringg. Sekilas aku melihat sesuatu yang memantulkan cahaya di bagian dada Yora. Dan aku merasa deja vu seketika… “Kalung itu… ketemu?” Tanyaku, memotong perkataannya, seakan bahkan tidak mendengarnya sama sekali.

Yora merasa bingung sebelum akhirnya ia menunduk ke bawah dan baru menyadari arah pembicaraanku. Ia memegang liontin kalung itu sebelum kemudian mendongak dan tersenyum, “Ya.”

Terhanyut dalam pikiranku sebentar, akupun akhirnya tersenyum sinis setelah berhasil menghubung-hubungkan semuanya. Aku betul-betul KO kali ini. Bagaimana mungkin aku tidak pernah sadar? Kalung itu hilang ketika ia tak juga kembali, dan kalung itu muncul lagi setelah ia juga kembali pulang. Sejak dulu Yora selalu menjaganya karena…

“Dongwoon, kan?” Tanyaku pelan pada Yora yang sudah mulai menyusun pakaian-pakaiannya di dalam koper. Ia menoleh dan menelengkan kepalanya, terlihat bingung. “Kalungmu.” Tambahku. “Kalungmu… dari Dongwoon kan?”

Yora terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk pelan, “Ya.” Jawabnya sebelum kembali sibuk dengan urusan packing-nya.

“Apa…yang dikerjakan Dongwoon disini?” Tanyaku, mencoba mencari-cari bahan pembicaraan. Biarpun lidahku rasanya langsung kaku seketika tiap kali harus menyebut nama orang itu. Dongwoon.

“Dia penulis. Fiksi.” Jawab Yora tanpa sedikitpun menoleh ke arahku. Ia terlihat begitu sibuk (atau pura-pura sibuk?) dengan misi penarikan kembali barang-barang pribadinya dari kamarku itu.

“Apa kamu bahagia?” Pertanyaan yang sedari tadi begitu gatal mengangguku akhirnya keluar juga, begitu saja tanpa aku sadari. Tapi aku tak menyesal, karena biarpun sakit bagiku, melihat Yora yang kini menatapku dengan binaran mata dan senyumnya, aku tahu aku telah membuat keputusan yang tepat. Well, at least baginya.

“Ya, aku bahagia sekali.” Jawabnya. “Terima kasih ya.”

“Untuk?”

Ia menatapku hangat, “Untuk masih perhatian padaku.”

Aku terhenyak. Bagaimana mungkin aku bisa berhenti memperhatikanmu? Aku bahkan takut kalau sampai kapanpun aku tak akan bisa berhenti memperhatikanmu… Tapi kembali aku memasang wajah biasa dan menggeleng, “Um. It’s okay.”

It’s okay.

It’s okay.

Selalu, dan selalu aku berpikir dan berkata kalau ini semua memang akan baik-baik saja. That it was all gonna be okay. Padahal nyatanya, tiap hari aku makin merindukannya… Sial, sial! Kenapa waktu itu aku sok baik dengan merelakannya? Benar kata Yesung, aku memang bodoh, menyedihkan. Aku bahkan tak punya kekuatan mempertahankan gadis yang aku cintai. Padahal seharusnya aku bisa menahannya, tapi saat itu yang kupikirkan hanyalah: untuk apa jika sudah tak ada aku lagi di hatinya… Pada akhirnya aku memang selalu menempatkannya sebagai prioritas, bahkan melebihi diriku sendiri.

“Baiklah, sepertinya sudah semua.” Di saat aku sibuk dengan pikiranku sendiri, ternyata ia sudah merampungkan segala pekerjaannya. Aku langsung mendongak dengan kaget. Secepat ini? Tak bisakah kamu disini lebih lama? “Oh ya, ini kunci rumah dan kamar ini. Aku tahu kamu nggak pernah suka aku mengembalikan semua barang-barang pemberianmu, tapi sepertinya untuk yang satu ini memang harus. Well, aku nggak mau jadi tertuduh kalau suatu saat nanti rumahmu kecurian.” Lanjutnya bercanda, mencoba mencairkan sedikit kekakuan di antara kami sambil menyerahkan dua kunci yang dirangkai satu dengan gantungan sayap. Kunci rumah ini dan kamarku yang memang kuberikan padanya sebagai akses ke kehidupan pribadiku.

Aku meraihnya dengan tangan kiriku, yang langsung membuat Yora mematung sejenak melihat benda yang masih terpasang di jari manisnya.

“Kamu… masih memakainya?”

Aku melihat jariku sekilas, tempat bertenggernya cincin pertunangan kami, sebuah purity ring bertuliskan ‘True Love Waits‘ itu sebelum tersenyum menatapnya. “Nggak apa-apa kan? Buat aku ini lebih dari sekadar cincin pertunangan kok, ini adalah janjiku sama Tuhan, janji kita sama Tuhan. Jadi tenang aja ya.”

Yora terhenyak sebentar, sebelum akhirnya tertawa kecil. “Ah… ya, iya juga. Kenapa aku nggak mikir sampai situ ya? Wah, bodohnya.” Katanya dengan pipi memerah.

Aku hanya bisa menahan tanganku untuk tidak melakukan refleksnya ketika melihat ekspresi Yora barusan. Dulu, kalau pipinya sedang merah begini, aku pasti akan langsung mengacak rambutnya, bercanda penuh sayang, yang tentu akan langsung dibalas omelan kesal Yora sih, dia sangat tidak suka ada orang merusak tatanan rambutnya. Namun setelahnya kami akan tertawa bersama, dan kenangan-kenangan itulah yang amat sangat menyulitkanku melupakannya… Dan kini semua yang bisa aku lakukan hanyalah mengenggam tinjuku erat-erat, menahan diri. Aku harus bisa.

“Oke deh, sepertinya aku sudah harus pergi. Aku pulang ya, Siwon-ah.” Pamitnya seraya mengangkat koper itu, yang lagsung buru-buru aku bantu namun segera ditolak olehnya. “Selalu gentleman deh kamu.” Katanya dengan tawa kecil. Tapi ia perlahan menyingkirkan tanganku dari kopernya. “Tapi aku nggak apa-apa kok, jeongmal-iya. Terima kasih untuk selama ini ya. Annyeong.”

Ia sudah berbalik akan keluar dari kamarku ketika aku kembali memanggilnya, “Yora, aku antar… Eottae (gimana)?”

Ia menoleh dan tersenyum, “Gwaenchanayo… Nggak enak kalau nanti Dongwoon tahu. Kamu mengerti perasaannya kan? Aku ada Geunsuk ahjussi kok.” Katanya menyebut nama supir keluarga Park, keluarganya itu.

Aku seketika hanya bisa tertawa menyedihkan lagi. ‘Kamu mengerti perasaannya kan?’ Cih, tentu aku mengerti, Yora! Itu semua ajaranku kan, untuk selalu menjaga perasaanku dan stay away dari hubungan yang terlalu dekat dengan teman-teman prianya. Awalnya hanya untuk menjembatani kasus Yesung dulu, namun kini seperti sudah menjadi kebiasaan baginya, ia kini juga menerapkan itu untuk pria lain. Sungguh menyakitkan.

Dan kini, aku hanya dapat memandangi punggungnya yang menjauh, melangkahkan kaki untuk keluar dari rumah ini. Tap, tap, tap. Satu per satu kuhitung jejak langkahnya, jejak langkahnya untuk keluar dari hidupku. Yora, Yora, Yora…! Aku tak rela, sungguh. Kumohon kembalilah…!

(When you walked away I counted the steps that you take

Do you see how much I need you right now??)

Tapi yang namanya keinginan tanpa perwujudan, selamanya hanya akan jadi angan-angan semata. Hatiku menginginkannya, tapi tubuhku seperti mengerti keadaan Yora dan pria itu, dan menolak mendukung jiwanya sendiri. BLAM! Terdengar pintu rumahku tertutup. Dan seiring dengan itu, tubuhku roboh, jatuh terlutut.

“Sial, sial, sial…!! AAAAAA…!!” Aku hanya mampu berteriak kencang, memukul-mukul lantai kayu di bawahku.

 

Klekk, perlahan aku membuka pintu kamarku lagi untuk masuk, baru sadar kalau aku belum berganti baju sejak pulang tadi. Dan kembali aroma tubuh Yora masih menyapa saat aku menatap ruangan 4 x 5 meter yang kini sepenuhnya jadi milikku itu. Ah, niatku berganti lagi, kan. Alih-alih menghampiri lemari untuk mengambil baju ganti, pandangan dan langkahku malah tertuju pada ranjangku sendiri. Perlahan aku duduk di pinggirnya, di tempat Yora biasa tertidur jika ia menginap disini. Kuusap lembut bantal yang selalu menyangga kepalanya saat tidur, masih membekas sekali di kepalaku bagaimana aku sering menatap punggungnya dari belakang jika ia tertidur dengan membelakangiku. Bahkan hingga sekarang pun aku masih menyisakan tempat Yora ini ketika tertidur (kalau aku bisa tidur, yang sudah seminggu lebih ini jarang sekali kulakukan), dan lebih memilih sisi satunya yang menempel dengan tembok, tempatku. Rasanya betul-betul masih seperti kemarin kami bercanda sebelum tidur, bercerita pengalaman kami seharian itu. Komunikasi memang jurus andalan kami mengatasi kesibukan sebagai dokter dan polisi, sampai-sampai biarpun kami memang sering terlibat debat kecil, tapi sekalipun aku sama sekali tak pernah bermimpi kalau suatu hari semuanya akan berakhir seperti ini, apalagi karena orang ketiga. Hubungan kami terlalu indah, selalu indah. Aku tak mengerti di bagian mana yang salah…??

Tes… Tes.

Tanpa kusadari, dua butir airmataku pun sudah jatuh membasahi bantal Yora yang masih kusentuh itu. Kenapa? Apa akhirnya kini tubuhku sudah kembali mendukung hatinya? Karena sejak perpisahan kami itu, hatiku memang seperti ingin menangis, tapi entah kenapa tak ada yang bisa keluar, entah karena pride sebagai pria atau seperti yang kubilang tadi, tubuhku memang berpihak pada Yora saking mencintainya. Tapi buat apa, semua sudah terlambat kini! Dan tes… Tes. Kembali airmata itu jatuh, yang makin menderas seiring jatuhnya juga tubuhku yang tadi terduduk menimpa spring bed sisi Yora ini. Kini harum Yora betul-betul memenuhi kepalaku, karena ternyata itu semua memang berasal dari tempat tidur di sisi ini. Harum shampoo Yora di bantalnya (betapa ia sering tidur sehabis mandi dan mengeringkan rambut hanya sekedarnya dengan handuk), wangi bunga parfum Aigner Too Feminine Spring kesukaannya di sprei putih kami, bed cover biru tua yang selalu kami bagi bersama, semuanya, semuanya…

“Yora, Yora… Yora…”

Dan pada akhirnya, aku hanya bisa menyesal. Menggenggam erat sprei kami, aku meringkuk di atas kasur dan menangisi kepergiannya. Seluruh isi hatiku seakan ingin aku tumpahkan, karena sungguh aku tak tahu lagi kapan lagi aku bisa betul-betul menangis seperti ini. Aku harap hari ini cepat berganti, karena setiap hari kini terasa bagai bertahun-tahun lamanya di saat aku sendiri begini. Silly, karena dulu aku selalu merasa 24 jam itu kurang, betapa tiap kali aku belum puas menghabiskan waktuku dengan Yora, tiba-tiba hari sudah kembali berganti tanda kami juga sudah harus memulai lagi kesibukan masing-masing.

(And the days feel like years when I’m alone

And the bed where you lied, is made up on your side…)

Di kantor pun, sejak ia pergi aku memang masih bisa bekerja seperti biasa, namun kini aku lebih terlihat seperti robot. Datang ke kantor, tidak banyak komunikasi, mengerjakan tugas dengan benar, dan kemudian pulang ketika sudah saatnya. Yang kini baru aku sadar seperti itu jugalah keadaan Yora saat pertama aku kenal dengannya di SMA dulu: teratur dan emotionless. Apa itu berarti saat itu ia juga sedang berada pada masa-masa terpuruk seperti aku kini? Karena Dongwoon? Dan mengingat ia sudah menjalaninya selama bertahun-tahun sejak Dongwoon pergi, maka…

Ah… payah, aku lagi-lagi kalah. Perasaanku pada Yora yang kupikir sudah merupakan perasaan terbesar dari seseorang pada orang yang dicintainya, ternyata perasaan Yora pada Dongwoon masih lebih dari itu. Dan kenyataan itu, kalau ternyata Yora tetap setia pada Dongwoon dan lebih memilihnya daripada aku setelah sekian lama, entah mengapa malah membuatku makin merindukannya…

“Bogoshipeoseo… Jebal dorawa… (Aku mohon kembalilah… Karena aku merindukanmu…)” Kini hanya tangis penyesalanku yang memenuhi ruang ini, membasahi sisi ranjang miliknya.

 

When you’re gone, the pieces of my heart are missing you

When you’re gone, the face I came to known is missing to you

When you’re gone, all the words I need to hear, to always got me through the day…

I miss… you…

 

***

 

Dua minggu kemudian,

Aku makin seperti mayat hidup, aku tahu itu. Semua orang yang melihatku pasti akan langsung bertanya-tanya apa yang terjadi pada seorang pemerhati kesehatan, penggila workout macam diriku ini. Tubuhku mengurus, aku kurang tidur sehingga lingkaran mata betul-betul tercetak jelas di wajahku. Yah, setidaknya bagi yang tidak bertanya-tanya, mereka pasti mengira aku sedang diet, untuk sesuatu yang mereka tak tahu apa.

Tapi tidak dengan Yesung. Sahabat sekaligus mantan musuh besarku itu tahu segalanya tentangku, dan juga ap yang terjadi padaku sampai aku berakhir seperti ini. Namun biar begitu, tak pernah sekalipun ia memandangku kasihan. Ia selalu bersikap biasa, karena ia tahu aku sama sekali tak suka dikasihani. Ia selalu berbicara padaku seakan tak pernah terjadi apa-apa denganku, maka itu aku amat sangat risih ketika hari ini, entah mengapa ia menatapku penuh iba sesegera begitu ia berpapasan denganku saat masuk ke rumah pagi ini, selesai mencuci motor polisi kesayangannya.

Aku memicingkan mataku saat menangkap pandang iba itu, “Ada yang salah denganku, hm?”

Ia menggeleng cepat-cepat dengan tangan yang buru-buru disembunyikan ke belakang, “Ani, eobseo.”

Anak ini polos sekali. Jelas-jelas ia sedang menyembunyikan sesuatu di balik tubuhnya, “Apa itu, Kim Jongwoon?” Tanyaku penuh penekanan pada nama aslinya.

Ia masih menggeleng, “Eobtanikka, eobseo. (Aku bilang nggak ada kan, nggak ada apa-apa)”

Ah, masih saja berbohong. Maka, menggunakan keuntungan fisikku yang tentu memiliki segala bagian lebih panjang dari miliknya (badan, tangan, dan kaki), dengan segera aku pun sudah melangkah ke belakangnya dan menjangkau sebuah amplop yang ia letakkan di dalam saku belakang celana kargonya itu. Mudah sekali, atau karena ia yang terlalu pendek? Ah entahlah. Yang jelas wajahnya seketika pucat ketika aku mendapati benda yang pastinya baru ia ambil dari kotak surat di depan rumah kami itu.

Aku membacanya dengan seksama, dan tak berapa lama wajahku pun kini tak kalah pucatnya dengan milik Yesung.

 

Invitation

The Wedding:

Park Yora, dr. Park Gildong’s youngest daughter

with

Son Dongwoon, the late Son Kiho’s only son

 

Yora… akan menikah?

 

TBC

 

Sumpah, akhir2 ini saya selalu merasa tulisan saya gagal semua… total fail.

terutama serangkaian ff SOULMATE ini… maaf sudah menyampah huhuhu 😥

Advertisements
 
20 Comments

Posted by on June 22, 2011 in Super Junior, [THE SERIES]

 

Tags: , , ,

20 responses to “[THE SERIES] SOULMATE – Chapter 3

  1. Chaeky

    June 24, 2011 at 4:14 pm

    Kesal sama siwon, kok pasrah sih? Badan aja yg gede (?)
    dongwoonnya gx muncul di part ini XD
    YORA MENIKAH? Andwae!
    Gx mungkin kan onn, secara ini kan flashback, hho
    ditunggu next part, asap ya onn 😉

     
    • lolita309

      June 24, 2011 at 8:31 pm

      hahaha, beneran aku juga mikir gitu lho pas bikin… cemen nih iwon, gede badan doang wkwkwkw~ :p

      hayooo, mungkin ga yaaa~ yang jelas warning aja, endingnya bakal bener2 nggak diduga sama sekali. beneran. hehe 😀

      makasi uda baca sayang^^

       
  2. chrisnagustyani

    June 24, 2011 at 7:34 pm

    maksudnya t invitation apa?!?! Aku btuh penjelasan dri Yora pov!! Ayo ayo penasaran ni…

    Ffmu gak fail kok nyah, jgn galau gt ok? 🙂

    btw, skrg aq gk bsa sering2 online nyah, abisnya mahal sih huhu ntar bsok2 mklum aja ya klo aq sering telat komen 😦

     
    • lolita309

      June 24, 2011 at 8:49 pm

      sipp, tapi yora pov belum akan menjawab semuanya say, tunggu dongwoon pov deh. yg jelas maap2 aja kalo akhirnya nanti bakalan nggak sesuai ekspektasi hehehe :p

      aaaa makasi sayang ><

      iya gapapa kok, santai aja yaaa, yang penting kapanpun baca jgn lupa kesan dan pesan hihihi^^

      makasi uda baca dear cizzie! 🙂

       
  3. hwangminmi

    June 25, 2011 at 7:36 am

    Eonni~ (╥_╥)
    Sedih bacanya~
    MASIWON BABO! X(

    Yg bagian ini ada Yora’s POV sama Dongwoon’s POV nya jg?
    Meskipun udah pasti yora ujung”nya nikah sama siwon jg #eaeaea tapi tetep penasaran jg sama lanjutannya \(•ˆ▽ˆ•)/

    FF nya gak fail kok eonni, di mataku FF eonni selalu daebak hohoho~ X)

     
    • lolita309

      June 25, 2011 at 10:49 pm

      aaaang~ benarkah? aku terharu (?) nih….

      yup, next part Yora’s POV, next after next part Dongwoon’s POV, sekaligus tamatnya. jadi total ada 5 chapter. 🙂

      huaaaa makasi yaa sayang uda baca dan cheer up aku… huhuhu :’)

       
  4. oepieck

    June 25, 2011 at 6:33 pm

    ha? yora mau nikah sama dongwoon?
    gak nyangka siwon-yora sempet ngalami tragedi kayak gini.
    jadi penasaran gimana caranya mereka bisa balikan lagi.

    siwon… anda sangat terpuruk sekali, aku turut sedih TT_______TT
    Yesung perhatian banget deh,

    Eonni, biar katak eonni nyampah tapi yang eonni anggap sampah itu menurutku selalu produk” bagus. jadi jangan pesimis! Lola eonni pasti bisa! Fighting!! 🙂

     
    • lolita309

      June 25, 2011 at 11:23 pm

      yora sama siwon emang nggak pernah ngalamin tragedi kayak gini kok…. #ups. spoiler alert hahaha :p

      huhuhu~ iyaa disini siwon kesian yaaa… dan yup, yesung emang perhatian banget, soalnya sekarang apalagi yg bisa dia lakuin selain ngedukung won-ra couple? udah jelas2 nggak bisa dapetin si wanita soalnya haha XD

      huaaa~ makasi yaaa sayaang~ *hug* fighting!^^

      makasi uda baca… dan semangatin aku juga~ hup hup semangat! 🙂

       
      • oepieck

        June 28, 2011 at 8:46 pm

        hayo hayo… lola eonni embeer!! XD makin penasaran ntar skenario misi penyelamatan cinta siwon gimana.

        kekeke, kesian juga yesung gak dapet-dapet jodoh.

        *hug too
        sip! sama-sama eonni 😀

        oh iya, akhir” ini lagi nonton athena. siwon ganteng kagak nahaaaan XD

         
  5. wiehj

    June 25, 2011 at 10:03 pm

    ini sama skali gag gagal cingu!!
    aq nangis loh baca ini.. yaampunn, bener2 dpet gt feel nya.. sedihnya siwon..
    mana aq baca nee ff sembari dger lagu when ur gone nya avril.. makin nangis aq T,T
    bagusss bgtt~!! bisa bqin yg baca nee ff tu ngikut prasaan yg dialami am si karakter *utkakusihiya* 😀
    fighting cingu~!! aq amat menanti kelanjutan nyaaa~
    gmna bsa yora mau merid am woon?? trus gmna ntar siwon-yora crtanya balikan??haduuuu, gag sabar baca lanj nyaa >,<

     
    • lolita309

      June 25, 2011 at 11:27 pm

      huaaaa makasiiiiii~ *peluk*

      thank God, aku pikir ini gagal banget dan maksa banget huhuhuh~

      sipp, makasi sayang, fighting!^^

      hahaha, seperti yg dibilang di atas cara berakhirnya ini semua sepertinya nggak bakal diduga hehehe, ditunggu aja, thanks dear uda baca dan semangatin aku~ fufufu *kiss* 😀

       
  6. Iwang

    June 26, 2011 at 1:35 pm

    hola~hola~
    ..
    mian bru nongol lg nih…hehe…
    Wah..bang wonwon c abang cemen banget 😛
    kekeke~
    wah won-ra yg adem ayem pernah ngalamin kaya gini y?
    hahaha~penasaran endingnya…
    yoranya cool bnget…
    won2nya menderita..hhe…

     
    • lolita309

      June 26, 2011 at 2:19 pm

      holaaaa~

      wuaa uda lama ga liat iwaang~ 😀

      iya tuh gede badan doang bang iwonnya mah ><

      hehe, aneh ya ngeliat mereka begini? :p

      makasi uda baca + komen sayang^^

       
  7. Carrie Cho

    June 27, 2011 at 9:43 pm

    Siwooon cemeeen ah .__. hahaha geregeten sendiri bacanya, bukannya nyegat malah bermelow-melow ria. wkakak
    itu deh, beneran Yora kawin? /plak tapi ini berhubung kisah masa lampau, jadi penasaran juga Siwon ngelakuin apa hahaha, yang intinya kan Yora akhirnya nikah sama Siwon juga wkwk
    kak, kok ngga ada judulnya ya?
    hahaha pas aku ngecek di hp ngga bisa dibuka wkwk mungkin ada jdulnya, baru deh pas aku buka di laptop bisaaaaaaaaaaaaaaa yeyeyyyy

     
    • lolita309

      June 27, 2011 at 11:46 pm

      hahaha itu diaaa kenapa aku bilang aku ngerasa failed… perasaan lebay banget melow-melow-annya kkkkkkk~

      oh iyaaaaa! sumpah baru sadar kalo belom dikasi judul dr awal posting, haha makasi yaa uda ngingetin kikiki~

       
  8. ms.o

    July 1, 2011 at 12:05 am

    makin ribet deh siwon-yora, sama2 tersakiti #halah,,
    ayo bang siwon(?), pertahankan cintamu

     
  9. babyhae

    July 8, 2011 at 12:44 pm

    Tidakkkkkkkkkkkkkkkk!!!! Siwon ah, kenapa nyerah sih? satu-satunya yang keren dari pria itu adalah perjuangannya T_____T

    Eh, jadi inget sama cerita Sungmin nih tiba-tiba *ditampar, bacanya siwon, pikirannya ke sungmin XD*. Di Sungmin lebih tegar, di sini Siwon menderita banget..sampe nangis *ah, jadi ikutan patah hati nih*

    itu Yora mau kawinan? aduh…..lanjut ah ke ch. 4

     
    • lolita309

      July 8, 2011 at 8:50 pm

      masalahnya siwon penampakannya (?) uda keren, jadi kalo perjuangannya ga maksimal diampuni (?) lah ya~~ #ditabok XDD

      aahh kamyu~~ aku jadi ikutan sedih, kesian bang iwon sini sama aku ajaaa :3

      makasi sayang uda baca^^

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: