RSS

DEUDGOSHIPEUN MOKSORI – Part 1

13 Jul

PS: Dalam kisah ini, tidak ada grup TVXQ. Dan anggaplah Yunho dan Yoochun adalah bagian dari Chocoball, geng pertemanan Super Junior Heechul^^

 

Deudgoshipeun Moksori (The Voice I Want To Hear) – Part 1

Written by: Lolita Choi

Starring: Jung Yunho

 

Menjadi tuli adalah mimpi paling buruk bagi semua musisi. Dan sialnya, aku kejatuhan mimpi buruk tersebut.

Belum lama, bisa dibilang aku, Jung Yunho, adalah komposer muda paling berbakat di negara ini. Yah, setidaknya banyak sekali yang akhirnya menyetarakanku dengan hits-maker Yoo Youngjin sunbae-nim. Sama seperti beliau, sejak awal debut komposerku, tiap lagu yang aku buat maupun gubah selalu mampu merajai berbagai topchart. Sejak itu banyak agensi mulai memesan lagu padaku, yang tentunya semua juga sukses besar. Pundi-pundi uang mengalir deras ke rekeningku, beberapa bahkan membayar hasil karyaku dengan benda seperti mobil dan apartemen sehingga walhasil, hidupku nyaman dan tentram tanpa perlu banyak berusaha, hanya perlu melakukan apa yang kusukai yakni membuat musik.

Mengenai penampilan, berhubung komposer sejati (maksudnya yang profesinya memang hanya pencipta lagu semata) terhitung bekerja di balik layar, pasti banyak yang berpendapat kalau wajah maupun tampilan mereka betul-betul khas orang kebanyakan. Maksudnya, jika kamu tampan dan mampu mencipta lagu segala pula, untuk apa kamu hanya bersembunyi di balik layar, bukan? Lebih baik debut dan sebagainya, yah, seperti G-Dragon dari Big Bang, contohnya. Tapi lain halnya denganku. Bukan bermaksud sombong, tapi banyak orang memang sudah mengakui rupaku yang memang di atas rata-rata, bahkan tak jarang yang bilang aku setara, bahkan mungkin lebih tampan dari beberapa selebriti. Perawakanku tinggi dan tegap, bahkan sejak SMA aku sudah terkenal sebagai uljjang yang fotonya sering wara-wiri di internet. Tawaran sebagai artis? Jangan ditanya, tentu berbagai agensi dari yang suka mencari bibit di jalan-jalan dan mal sampai The Big 3 (SM, YG, dan JYP), sudah pernah menawariku bergabung. Tapi aku terlalu independen, selain karena aku hanya ingin jadi komposer semata, aku sama sekali tak ingin terikat. Karena itu pada akhirnya, tawaran mereka yang bagi banyak orang mungkin sangat menggiurkan itu, sama sekali tak kugubris. Toh tanpa itu semua aku tetaplah bisa menjadi aku yang sekarang, komposer kelas atas, Jung Yunho.

Mengenai kehidupan sosial, semuanya lebih mengesankan lagi. Aku berteman dengan banyak selebriti papan atas, sempat berpacaran dengan beberapa artis juga baik penyanyi maupun aktris, dan kini aku bahkan tergabung dalam circle of friends eksklusif pimpinan sang Space Big Star Kim Heechul: Chocoball. Golongan darahku bukan AB tapi aku bisa ikut berkumpul dengan geng persahabatan artis paling populer itu, bisa dibilang berarti mereka juga telah mengakuiku sebagai ‘orang berpengaruh’ di kancah perindustrian musik Korea. Dan mengenai fans… aku bahkan bukan idol, tapi tak pernah kulewatkan hari tanpa menerima kado dari mereka. Tiap ada acara penganugerahan musik, fans-ku bahkan tidak pernah kalah dalam jumlah dari fans-fans band atau idol yang lain. Dan ditambah sifatku yang terlihat ramah, tiap hari ada saja tambahan dalam jumlah anggota fancafe resmiku.

Jadi, bagaimana? Muda, tampan, kaya, berbakat, dan populer, hidupku seperti penuh dengan keberuntungan, eh? Aku juga berpikir seperti itu, dan mungkin akhirnya terlalu terbuai sehingga aku tak pernah menyangka, hanya dalam satu jentikan jari semua itu bisa hilang begitu saja.

 

Flashback

Hari itu aku, seperti biasa, sedang menggarap musik pesanan. Kali ini datangnya dari sebuah agensi yang tidak begitu terkenal, namun mereka akan segera memperkenalkan sebuah grup band baru. Dalam hatiku ketika pertama menerima tawaran ini adalah: betapa beraninya mereka. Hanya demi meroketkan sebuah artis, agensi kecil-kecilan begitu bahkan berani berinvestasi padaku yang bisa dibilang nilai satu lagunya bahkan bisa nyaris membuat bangkrut perusahaan itu. Tapi justru karena itulah aku jadi tertantang untuk bisa mengembalikan kebangkrutan mereka dengan menghasilkan karya yang bagus sehingga artis yang membawakannya pun bisa ikut populer.

Aku tengah serius berkutat dengan alat-alat kerjaku: mixing set, keyboard, headphone, kertas partitur, pulpen, ketika tiba-tiba kurasakan ada seseorang menarik-narik bagian bawah celana panjangku.

“Yunho samcheon…”

Oh, ternyata Soya, putra adik perempuanku yang baru berusia dua tahun. Adikku memang sering bermain ke apartemenku pasca suaminya berangkat kerja, mengurusku sekaligus mencari teman juga karena memang, ia hanya punya aku sepeninggal ayah yang kemudian disusul ibu kami beberapa tahun lalu. Dan Soya, ah, lihat, lucu sekali dia. Tapi sayang, aku betul-betul sedang tak ada waktu bermain dengannya. Kemarin-kemarin aku terlalu sibuk bersantai-santai (?) hingga akhirnya dekat deadline begini aku baru memulai semuanya. Maka hanya mencubit pipinya sebentar–aku bahkan tak menggendongnya sama sekali–aku segera memanggil adikku untuk cepat-cepat mengevakuasi Soya dari ruang kerjaku.

“Yunhwa… Tolong bawa Soya ini… oppa sedang kerja…!”

Tak ada jawaban.

“Yunhwa… Ya, Yunhwa…” Aku masih memanggil-manggil adikku sambil tetap memasang headphone di telinga dan memencet berbagai kombinasi tuts–mencoba multitasking saking tidak adanya waktu lagi–sampai akhirnya adikku pun terdengar menyahut dari lantai bawah.

“Ne, oppa…!”

Hah, baguslah, pikirku dalam hati. Aku pun akhirnya membiarkan saja Soya yang makin merengek karena aku tak menggubrisnya. Yah, bertahan sebentar lagi saja, tak lama ibunya juga akan naik mengambilnya. Tapi ternyata, Soya tak mentolerir sikapku itu. Rengekannya terdengar makin keras, bahkan oleh telingaku yang padahal tertutup headphone. Ia bahkan mulai memukuli kakiku, yang memang hanya bagian tubuh itu yang mampu dijangkaunya.

Aku menarik napas panjang, mencoba bersabar sedikit lagi dengan terus melanjutkan pekerjaanku. Ah, baiklah, not ini disini… yang ini sebaiknya aku turunkan setengah nada… Aku mencoba sekuat tenaga menghiraukan keberisikan Soya. Berhasil memang, aku kembali pada track-ku yang sebenarnya, berjuang membuat lagu. Tapi Soya tak habis akal, ia kini mulai mencoba menyentuh segala peralatan produksi musikku demi mendapatkan keinginannya: perhatianku. Aku masih bersikeras mendiamkannya saja karena aku tahu, ketika marah, anak kecil pasti akan melakukan apa saja demi dituruti keinginannya. Yang aku tidak tahu adalah bahwa ada sebuah alat yang aku letakkan di bawah, yang notabene dalam jangkauan Soya, yang tersambung dengan alat indra paling penting dalam menunjang karir profesionalku sekarang. Indra yang kalau sampai itu hilang, aku bahkan lebih ingin mati, ikut menghilang bersamanya daripada terus hidup namun tak akan sanggup lagi berkarya. Ya, indra itu adalah pendengaran, dan alat itu adalah sebuah ampli yang tersambung dengan headphone yang kupakai saat ini.

SSAK!!

Tiba-tiba kurasakan seperti ada yang menusuk telingaku, seperti suara anak panah yang dilesatkan dan langsung menghujam ke dalam gendang telingaku, memecahkannya. Awalnya aku tak sadar apa yang terjadi sampai aku melihat tangan Soya yang berada di putaran volume ampli-ku. Dan posisi putaran volume itu… maksimum. Aku masih betul-betul belum sadar sampai ketika Yunhwa masuk dan terlihat bingung dengan keadaanku yang seperti shock. Ia berkali-kali melambaikan tangannya di depan wajahku sambil menggendong Soya. Yang anehnya, mulutnya bergerak-gerak namun sama sekali tak ada suara yang terdengar darinya… bahkan ketika aku telah melepas headphone-ku. Dan tepat saat itu juga, tiba-tiba telingaku terasa sakit. Tak berapa lama aku sukses tak sadarkan diri.

 

***

 

Aku tahu apa yang terjadi padaku. Tanpa perlu bisa mendengar penjelasan dokter pun, aku tahu apa yang terjadi padaku. Telingaku menuli akibat shock yang diterimanya saat Soya dengan tiba-tiba memutar volume proyek musik yang kukerjakan menjadi maksimum begitu saja. Gendang telingaku pecah, itulah yang tertulis di rekam medik yang diberikan padaku keesokan harinya, saat kondisiku dinyatakan sudah stabil dan mampu menerima kenyataan yang ada. Tunggu… ‘Stabil’? ‘Mampu menerima kondisi yang ada’? Apa mereka gila?? Hanya musisi goblok yang akan tetap stabil dan bisa menerima kondisi kalau bakatnya dirampas begitu saja!! Apalagi ternyata tak ada yang bisa dilakukan untuk membuatnya normal lagi, paling hanya operasi dan itu pun tetap tidak akan mampu mengembalikan kemampuan dengarku seperti semula. Aku tak tahu sudah berapa banyak headphone, earset yang kurusakkan, baik kupatahkan maupun kulempar tak tahu arah ketika barang-barang itu bahkan tak bisa menyampaikan volume penuh musik yang kuputar di ponselku. Aku marah, aku murka!! Aku marah karena aku tahu kalau kerusakan bukan terletak baik pada semua alat dengar itu maupun ponselku, melainkan pada diriku sendiri, pada bagian hidupku yang paling berharga. Disaat itu aku baru sadar, kalau aku telah betul-betul tuli… Tuli total, yang bahkan tidak akan mampu mendengar suara apapun sekalipun ada orang yang berteriak di telingaku. Hidup tanpa bisa mendengar suara sekecil apapun… aku sudah sukses bertemu dengan momok paling mengerikan yang bisa dipikirkan oleh seorang musisi. Dan parahnya, tak akan ada yang bisa menolongku. Sial!! AAAARGHHH!!

Yunhwa yang datang bersama suaminya sambil menggendong Soya ke RS ini hanya bisa melempar pandangan penuh rasa bersalah padaku. Ia tak henti membungkuk di depang ranjang rawatku bersama Soya, aku tak bisa mendengar apa yang ia katakan tapi kutebak ia pasti meminta maaf. Aku tetap buang muka. Sungguh aku kasihan melihat adikku seperti itu, tapi sekarang sebetulnya siapa yang lebih patut dikasihani: aku atau dia?? Tiap kali melihat Soya, rasanya kalau tak punya hati aku ingin sekali membunuhnya! Aku yang selama ini tak terkalahkan di dunia musik, tiba-tiba semua mimpinya harus terpatahkan hanya oleh sebuah tangan kecil. Oleh seorang balita yang bahkan belum hidup lebih dari dua tahun!! Biarpun akhirnya aku sadar, kalaupun ya aku sampai hati membunuhnya, tetap saja itu tak akan mampu mengembalikan segalanya seperti semula lagi. Mengembalikan lagi semua eksistensi yang sejak bertahun-tahun lalu kubangun dengan susah payah sampai bisa seperti ini.

“Cukup, Yunhwa! Sia-sia saja, aku bahkan sama sekali tak bisa mendengarmu!!” Maka akhirnya hanya itu yang bisa kuteriakkan ketika Yunhwa tak juga berhenti membungkuk dengan airmata mulai berlelehan di pipinya melihat aku yang hanya mematung, tak menggubrisnya sejak tadi. Soya dalam pelukannya bahkan terlihat sudah mulai menangis, mungkin kaget akibat diajak menunduk dan berdiri terus-menerus berulang-ulang oleh sang ibu selama tadi. Tubuh Yunhwa akhirnya melunglai, jatuh berlutut mendengar makianku dengan tetap memeluk Soya. Wajahnya memerah, tangisnya terlihat makin menjadi, tak jauh beda dengan Soya di pelukannya, mereka bahkan jadi terlihat seperti sedang beradu tangis saat ini. Kim Junsu, suaminya yang sedari tadi hanya mampu menatap iba sang istri, buru-buru berjongkok dan memeluk keluarga kecilnya, mengambil alih Soya dan mengelus-elus punggung Yunhwa untuk menenangkannya. Dan aku? Aku masih membuang muka, karena seperti yang aku bilang tadi: sia-sia saja ia mau menangis seperti apapun. Aku tak akan bisa mendengarnya. Telingaku sudah mati.

Flashback End

 

Aku resmi hidup dalam dunia film bisu sejak hari itu. Orang berlalu lalang tanpa bisa aku dengar sama sekali apa yang mereka bicarakan. Dunia yang tadinya sangat bising, kini menjadi sunyi bagi pendengaranku. Terlalu sunyi, bahkan suara jangkrik pun tak ada disana, bahkan dalam mimpiku sekalipun.

Tapi menjadi tuli, bukan berarti aku tak tahu apa yang terjadi di sekitarku, di jagat permusikanku. Aku masih punya mata, dan aku jelas tahu bahwa kejadian yang menimpaku langsung menjadi headline dimana-mana saat akhirnya pers mencium itu semua. Infotainment menggila, jagat permusikan negara ini seketika menjadi heboh. “Komposer Muda Berbakat Jung Yunho Kehilangan Pendengaran”, “Kehilangan Besar Bagi Industri Musik Korea”, bermacam-macam judul yang mereka berikan atas satu berita mengejutkan mengenai hal yang menimpaku itu, menyayangkannya. Aku hanya bisa mendecak, Cih, ‘kehilangan besar’? Apa mereka pikir aku sudah mati?

Oh ya, aku lupa. Kehilangan pendengaran bagi seorang musisi memang sama saja seperti ia kehilangan jiwanya. MATI. Aku saja yang bodoh sampai belum juga berhasil betul-betul mematikan diriku sekalian. Tapi tidak juga sih, aku punya agama, jadi aku sama sekali tidak percaya pada reinkarnasi. Itulah mungkin yang selalu mematahkan niat melenyapkan diriku sekalian dari dunia ini juga, biarpun terkadang memang aku sangat ingin melakukannya.

“Yunhwa-ya… Aku jalan-jalan sebentar!” Seruku sambil meraih topi dan memakai earset, cepat-cepat keluar sebelum Yunhwa berhasil menghampiriku dan kembali mencegahku pergi sendirian. Aku dapat merasakan–bukan mendengar–omelannya di belakangku, tapi aku tetap melangkah pergi. Yah, setidaknya ada satu hal yang bagus dari kondisiku ini, aku jadi tidak perlu berpura-pura tidak mendengar omongan orang lain. Karena itu kenyataan, aku tidak bisa mendengar mereka. Jadi baik itu Yunhwa yang terlalu berlebihan mengkhawatirkanku maupun gunjingan orang lewat di jalan setiap melihatku, silakan sajalah…! Toh itu semua tak akan berpengaruh padaku. Aku seperti hidup dalam duniaku sendiri sekarang, menentukan semua keinginanku sendiri tanpa perlu harus mendengar pendapat orang lain (apa yang bisa didengar juga?). Dan sepertinya makin kesini juga aku jadi seperti menyukainya, yah, mulai terbiasa sepertinya kata yang lebih tepat. Hm, bicaraku terdengar sarkastis? Tidak juga, karena saat ini aku sepertinya memang sudah betul-betul (setidaknya mencoba untuk) merelakan itu semua.

Yah, biarpun memang sempat depresi, tapi tak berapa lama sejak kejadian itu, seiring keluarnya aku dari RS lebih tepatnya, aku memang akhirnya bertekad untuk merelakan apa yang telah terjadi padaku. Nasi sudah menjadi bubur, kan? Aku bahkan menolak tindak operasi seperti yang disarankan dokter, membiarkan saja kondisiku yang tuli total seperti sekarang, karena toh operasi pun tak akan mampu mengembalikan pendengaranku seperti semula. Maka sejak dibolehkan pulang itu aku akhirnya juga menetapkan mindset di kepalaku: tak ada suara dari siapapun yang ingin aku dengar, yang begitu berharganya hingga perlu aku dengar. Aku harap dengan begitu aku pun akan lebih mampu merelakan semua yang telah terjadi…

Dan demi mendukung itu semua, pasangan Junsu-Yunhwa pun akhirnya menuntutku untuk tinggal bersama keluarga kecil bahagia mereka, sehingga akan ada yang memerhatikanku (biarpun tidak terucap, tapi aku rasa mereka juga takut aku bunuh diri kalau dibiarkan tinggal sendirian, sepertinya. Ah sial, itu memang benar sih) dan agar aku tak perlu lagi melihat semua alat-alat bermusikku yang kemungkinan besar akan makin membuatku terpuruk karena semua ingatanku atas barang-barang itu dan kesuksesan profesiku. Aku mengembalikan semua uang dari para pemesan laguku melalui Junsu yang memang bekerja di bank tempat rekeningku berada, dan dengan itu, biarpun aku sama sekali tidak menggelar konferensi pers yang menyatakannya, tapi sepertinya semua orang telah dapat menyimpulkan: kalau secara tidak resmi Jung Yunho telah mengundurkan diri dari jagat permusikan.

“Boleh aku duduk disini?” Tanyaku pada seorang gadis berambut panjang yang sedang sibuk menulis di bangku taman kompleks perumahan Junsu dan Yunhwa itu. Gadis itu menoleh yang akhirnya menyingkap helai-helai rambut yang sedari tadi menutupi wajahnya, dan seketika tersingkap pulalah kecantikan itu. Parasnya begitu pure… inosen, dan sekilas aku melihatnya amat mirip dengan Park Minyoung, aktris bintang drama Sungkyunkwan Scandal dan City Hunter, namun dalam versi lebih mudanya. Atau malah gadis ini yang lebih cantik? Ah tidak, itu pasti hanya karena efek usianya yang lebih muda.

Aku menyandarkan tubuhku santai di bangku itu setelah mendapat anggukan dari si gadis yang tadi sudah mendudukinya lebih dulu. Aku menengadah sembari memejamkan mata dibawah pet topiku yang sudah diturunkan demi menghindari matahari tadi, mencoba menghirup udara musim semi dan menikmati kesendirian yang jarang-jarang bisa aku dapatkan sejak Yunhwa bersikeras menempelku terus pasca aku resmi tinggal di rumahnya. Ah, Yunhwa… aku tahu dia bermaksud baik, tapi aku sungguh sudah tidak apa-apa. Tak tahukah ia bahwa dengan sikap terlalu mencemaskanku itu malah makin membuatku merasakan ‘kecacatan’ ini? Setiap hari aku malah jadi seperti disadarkan kalau memang ya, semua sudah berbeda. Jung Yunho yang sekarang bukanlah lagi Jung Yunho yang dulu, Jung Yunho yang sekarang adalah Jung Yunho si cacat, bukan lagi Jung Yunho sang komposer terkenal. Derajatku kini bahkan lebih rendah dari orang-orang biasa yang dulu selalu kurasa bahkan bukan levelku itu.

Tuk tuk!

Tiba-tiba aku merasakan ada seseorang mengetuk lenganku, dan seketika aku menoleh. Gadis duplikat Park Minyoung tadi kini sedang menatapku dengan mata besarnya. Begitu menyadari aku telah menoleh, ia menghela napas lega, sepertinya sudah dari tadi ia mencoba memanggil-manggilku yang sia-sia, sebelum akhirnya memutuskan mengetuk sebelah lenganku. Ia sudah akan membuka mulutnya untuk bicara ketika aku, buru-buru menghentikannya.

“Oh, maaf.” Aku mengulurkan telapak tanganku yang terbuka ke depan wajahnya agar ia cepat mengurungkan niat berbicara padaku yang pastinya akan sia-sia nanti itu. Ia terlihat bingung, tapi aku kembali melanjutkan. “Aku tak bisa mendengarmu.”

Aku pikir semua orang yang mendengar itu akan langsung memberi pandangan iba padaku, tapi reaksi gadis ini sungguh di luar perkiraan. Ia malah terlihat tertawa kecil sambil sesekali melirikku sebelum kemudian tertawa lagi.

Sekarang aku yang bingung, “W-Wae? Ah, tulis di bukumu itu saja.” Aku memberikan saran menggunakan metode yang sekarang dipakai Yunhwa-Junsu berkomunikasi denganku: tulisan.

Ia masih tersenyum-senyum sendiri sebelum meraih agendanya itu,

“Dari tadi juga aku sebenarnya mau tulis disini kok. Jung Yunho-ssi anira? (Anda Jung Yunho kan?)”

Aku membaca barisan kata-kata di agenda yang segera disorongkannya itu, “Oh ya, aku Jung Yunho. Nah tuh, kamu tahu tentangku kan? Tapi yang sekarang mau aku tanyakan adalah, kenapa kamu tertawa tadi ketika aku bilang aku tak bisa mendengarmu?”

Ia langsung terlihat tertawa lagi. Aku kembali geleng-geleng kepala, “Ya~ ditanya, juga…”

“Yunho-ssi tak bisa mendengarku karena earset itu kan?”

Ia menyorongkan agenda yang terbuka itu sembari sebelah tangannya menunjuk-nunjuk telinganya sendiri. Aku memicingkan mataku sebelum akhirnya tersadar dengan keberadaan earset putih yang memang sedang kupakai ini, earset yang sama sekali tak tersambung dengan pemutar musik apapun. Sejak di RS aku memang jadi terbiasa memakainya setiap ingin jalan-jalan keluar, sebagai kamuflase jika mungkin nantinya banyak orang-orang random yang kutemui di jalan mengeluh karena aku tak menyahut ketika dipanggil atau apa. Biarkan saja mereka berpikir, “Oh, sedang mendengarkan musik… pantas saja.”, sehingga dengan begitu aku pun jadi tak perlu lagi menjelaskan kondisiku yang sebenarnya. Toh aku tak akan bertemu mereka–orang-orang random di jalan itu–dua kali.

Tapi seperti bumerang, kini maksudku yang ingin menghindari tanya orang-orang itu malah mengundang tanya tersendiri dari gadis ini. Dan lucunya, pertanyaannya malah betul-betul seperti tanggapan yang ingin kuterapkan pada setiap orang: bahwa aku tak bisa mendengar ya karena sedang asik sendiri mendengarkan musik! Menyadari kebodohanku, akhirnya aku malah tidak mampu berkata apa-apa lagi.

“Puhahahaha~” masih geleng-geleng kepala, aku sekarang malah hanya bisa tertawa karenanya. Jadi dia ingin berkomunikasi lewat tulisan tadi bukan karena tahu kondisiku, tapi lebih kepada putus asa karena aku tak juga menyahut yang dipikirnya akibat tertutupi musik yang sedang kudengar?? Tawaku masih berlanjut semakin memikirkannya–bahkan sampai menitikkan airmata–tawa yang memang sedikit bagiannya masih terasa miris, tapi sebagian besar lebih kepada ekspresi yang kulihat pada gadis ini: ekspresi yang betul-betul polos dan lugu, betul-betul tidak tahu kalau ia sudah termakan tipuan earset-ku.

Maka ketika akhirnya aku meluruskan pandangannya itu, ia langsung memberi ekspresi yang seperti berseru “Oh!” dengan mata membuka lebar dan menutup mulutnya kaget. Ia buru-buru meraih agendanya lagi dan menuliskan banyak kata maaf, sekaligus menjelaskan kalau ia memang baru saja kembali dari luar negeri sehingga melewatkan berbagai kabar dari industri hiburan Korea. Ia menuliskan kata-kata penyesalannya atas kondisiku dengan gugup karena merasa telah bersalah, yang anehnya bukannya membuatku jadi canggung seperti biasanya kalau dihadapkan dengan orang lain yang tahu tentang masalah ini, tapi malah membuatku merasa hangat. Entahlah, pandangan matanya berbeda dengan orang-orang lain itu. Ia tidak memandangku dengan pandang kasihan layaknya ‘orang dengan kesempurnaan fisik’ kepada ‘orang yang cacat’. Matanya lebih memancarkan kehangatan, seperti pandangan yang akan diberikan ‘teman sejati’ kepada ‘teman sejati’-nya. Setara.

“Cheon-ah!” Dan tanpa kusadari… aku kembali dan kembali terus menemuinya. Gadis ini, Yong Cheonsa (atau biasa kupanggil ‘Cheon’ saja), entah kenapa sejak pertemuan dan kesalahpahaman pertama kami dulu, sudah seperti ada perasaan percaya padanya di hatiku. Makanya dari awal dengan mudahnya aku bisa berkata begitu saja, blak-blakan padanya kalau aku memang tidak bisa mendengar, kan? Awalnya aku sendiri juga kaget dengan pengakuan yang biasanya tak akan keluar dari mulutku bagi total stranger seperti Cheonsa tadi, tapi kini aku sadar, ya, ini pasti cara Tuhan untuk membangkitkanku dari keterpurukan. Dengan menurunkan seorang malaikatnya, malaikat dalam sosok gadis sempurna rendah hati biarpun sedikit kurang pintar menyamar karena tetap menggunakan nama profesinya itu, Cheonsa. (Cheonsa berarti malaikat dalam bahasa Korea)

“Oppa!!” Gerakan bibirnya jelas menyatakan panggilan padaku. Ia berdiri dari bangku yang sejak pertemuan pertama kami itu sudah ditetapkan menjadi titik temu kami setiap hari dan melambai-lambaikan tangannya.

“Lama?” Tanyaku. Ia menggeleng. Sekarang ia memang sudah cukup pintar untuk tidak menyia-nyiakan tenaga dan berusaha bicara padaku seperti dulu, semua jawaban selalu ia tunjukkan dengan bahasa tubuh maupun buru-buru mengambil pulpen dan agendanya untuk menulis. Itu, satu lagi hal yang kusuka darinya. Ia begitu proaktif, selalu berinisiatif sendiri, seperti tahu bagaimana sakitnya jika berbagai hal yang menyangkut kekurangan kita selalu diungkit-ungkit.

“Burungnya saling sahut-sahutan lho, oppa… Merdu sekali.” Tulisnya dalam SMS yang ditujukan padaku yang bahkan tepat hanya berada di belakangnya, saling bersandaran pada punggung masing-masing sambil menengadah dan memejamkan mata, seperti ingin merasakan setiap detik momen kebersamaan kami.

Aku segera membalasnya dengan suaraku sendiri, “Oh ya, bagaimana bunyinya?”

“Khu-khu-khu~ yah begitulah, pokoknya indah sekali.” Jawabnya, masih dengan SMS yang dikirimkan padaku. Dari hari ke hari, memang makin beragam bentuk sarana komunikasi yang kami gunakan dalam menjembatani perbedaan ini. Tidak hanya konvensional dengan menulis di agenda saja, terkadang kami juga menggunakan scratchpad di iPad ataupun melalui SMS, seperti tadi. Dan yang membuatku makin terharu adalah pada kesediaannya untuk menjadi telinga bagiku sejak pertemuan kami yang kedua kalinya. Ya, lagi-lagi tepat seperti tadi. Biarpun dulu aku memang pernah mensugesti diriku sendiri untuk tidak ingin mendengar suara apapun lagi, tapi demi menghargai kesediaannya itu aku akhirnya mengiyakannya saja. Sebagai salah satu pengagum karyaku (ia sendiri yang bilang), aku tahu pasti betapa ingin ia menjadi sedikit berguna dalam hidupku.

Tapi jangan kira segala informasi yang kudapat dari ‘telinga baruku’ itu selalu sesuatu yang ‘betul’ seperti tadi: suara burung, gemeresak pohon yang terkena angin, tawa riang para bocah, dan yang lainnya. Layaknya telinga asli, ‘telinga baruku’ yang memang sangat lugu ini juga tetap menyampaikan info apapun yang ia dengar, bahkan ketika itu tergolong sesuatu yang tak penting. Contohnya adalah pembicaraan ahjumma-ahjumma yang sedang berkumpul juga di taman kesayangan kami ini.

“Oppa, masa kata mereka, Hoon-ssi yang tinggal di blok 2 itu punya istri lagi lho.” Tulisnya pada sang agenda sambil masih tetap menyandarkan kepalanya di bahuku.

Aku langsung memasang ekspresi begini (¬_¬) padanya sebelum melepas sebelah earset-ku dan memasangkannya di satu telinganya, “Arsh~ sudah. Tutup telingamu, info yang aneh.”

Tapi ia kembali menulis, “Dia tiba-tiba bawa anak dari istri keduanya itu ke rumah…”

Dan kali ini, bukan hanya satu, aku kembali melepas sebelah earset-ku dan memasangnya di telinganya. “Sikkeureo…! (Berisik…!) Sudah diam. Duduk yang manis.” Omelku.

Awalnya ia memang menurut, namun belum ada satu menit ia sudah kembali mengambil agenda dan pulpennya lagi, “Oppa, untuk yang kali ini aku tidak bisa tidak lapor… Mereka dengar oppa lho tadi, ‘Sikkeureo…!’ itu. Kayaknya mereka pikir itu buat mereka deh, mau nyamperin kita sepertinya…”

“Eh??” Aku segera bereaksi akan informasinya itu. “Ya sudah ayo sekarang kita kabuurr~!”

 

***

 

Aku memandang tumpukan SMS-SMS yang masuk di nomor ponsel lamaku dengan perasaan yang susah untuk dideskripsikan. Sebagian besar dari member Chocoball, mulai dari Heechul sampai si satu-satunya wanita, Jia, tapi yang paling banyak tentu dari sahabat terkentalku dalam lingkaran pertemanan itu, aktor Park Yoochun. Semuanya memiliki berbagai gaya bahasa yang berbeda-beda khas masing-masing, seperti Heechul dan Sangchu yang to the point, Ssamdi dengan satoori (aksen Busan)-nya, Jia si warga impor yang sopan, sampai Yoochun yang sangat detil. Tapi yang pasti, inti semua pesan singkat itu sama: mengkhawatirkan dan menanyakan keadaanku.

Sudah sejak keluar RS memang aku sengaja menghilang dan mengganti nomorku untuk menghindari wartawan maupun teman-temanku sendiri. Aku sengaja menarik diri, karena menurutku aku sudah tak cocok lagi dengan mereka. Aku bukan lagi seniman… levelku bahkan sudah terjun bebas ke jurang tak berdasar. Aku hanya mencoba sadar diri… apa itu salah?

Tapi tiba-tiba saja amarahku bangkit ketika aku membuka pesan terakhir di ponselku yang baru saja dikirimkan Yoochun pagi ini.

“Yunho-ya, please, kalau kamu baca pesan ini, datanglah ke restoran Ssamdi nanti sore jam 4. Kami semua mau mengadakan galang dana untuk kesembuhanmu. Segeralah kembali berkarya, karena kami merindukanmu.”

BRAKK!!

Tanpa sadar aku sudah melempar ponselku begitu saja ke dinding di hadapanku. “Arghh!! ARGHH!!” Aku berteriak-teriak layaknya orang gila sambil mengacak rambutku kasar. Apa yang dia bilang? APA? Galang dana?? Apa mereka pikir aku sebegitu menyedihkannya? Apa mereka pikir aku tak punya uang?? Cih, rasanya ingin sekali aku berteriak: YA! Akulah Jung Yunho, musisi muda terkaya se-Korea Selatan!! Aku tak bekerja seperti sekarang pun aliran uang juga tetap akan deras menghampiriku berkat royalti-royalti itu!! Maka itu, alasanku tidak melakukan operasi jelas sama sekali bukan karena aku miskin, apa mereka sama sekali tidak bisa menyadari itu?? Aku pikir ada apa hari ini sehingga tiba-tiba aku merasa terdesak membuka lagi nomor lamaku, ternyata ini? Sungguh aku merasa terhina sekali, jauh lebih terhina dari ketika mereka menjengukku di RS dulu dengan tampang seragam, mengasihani. Dan sekarang mereka bahkan mau memberi uang untukku?? BAH!

Aku tersentak karena sentuhan lembut tapi panik seseorang di pundakku. Yunhwa.

“Museun irisseo? (Ada apa?)” Ia buru-buru meraih iPad-ku yang tergeletak di meja dan menuliskan kata-kata itu disana.

“Ani.” Aku buru-buru menjawab dengan gestur tangan yang juga menyatakan kalau aku tak apa. “Aku mau keluar sebentar. Ya, lebih baik aku keluar sebentar.”

Tapi ternyata Yunhwa masih menahan lenganku. Ia menatapku begitu khawatir, seakan ingin melarangku pergi tapi juga takut dengan mood-ku yang entah kenapa tiba-tiba hancur berantakan. Ia kembali menulis sesuatu di iPad-ku dengan tangannya yang bebas, “Oppa… sudah minum anti depresan-nya?”

Aku mendelik, “SUDAH, Jung Yunhwa. Jadi aku boleh pergi kan?”

Ia masih menatapku ragu, tapi kutebak ia pasti sudah kehabisan alasan untuk menahanku. Maka perlahan–masih tak rela, sepertinya–ia pun melepaskan lenganku, membiarkanku pergi. Aku hanya mengangguk, isyarat terima kasih sekedarnya pada adik kesayanganku itu sebelum melangkah keluar.

Tapi pada kenyataannya, aku sama sekali tak tahu mau kemana. Ah, ya sudahlah, biarkan saja rambu-rambu jalan nanti yang menuntunku dan mobil ini, pikirku seraya menginjak gas dan melaju pergi. Di tengah perjalanan aku merogoh kantong jeans-ku dan mengeluarkan sebotol kecil obat, anti depresan seperti disebutkan Yunhwa tadi. Aku tertawa sinis, Gila kan, bahkan sekarang seorang Jung Yunho diharuskan meminum obat ini setiap hari. Mencoba mencegahku jadi sinting, eh?

Walaupun harus kuakui juga kalau obat ini sesungguhnya memang betul-betul berguna. Aku bahkan tak habis pikir bagaimana aku yang dulu, yang padahal sudah memiliki cukup alasan untuk segera mengakhiri hidupku saja, seiring dengan pemaksaan konsumsi obat ini selama di RS tiba-tiba menjadi lebih tenang. Terbukti dengan aku yang tak jadi mati dan malah memilih untuk merelakan semuanya saja kan? Biarpun efek buruknya tentu, aku jadi sedikit ketergantungan. Bukan ketergantungan dalam arti aku jadi ‘nagih’ memakannya (ih, bila boleh aku bahkan sama sekali tak ingin mengonsumsinya lagi. Bagaimanapun ini obat orang gila, kan? Dan aku TIDAK gila!), lebih kepada bila aku tak minum ini sehari saja, emosiku bisa cepat tersulut, mood-ku terjun bebas, depresi gila-gilaan terutama kalau ada pemicunya. Yup, tepat seperti tadi. Aku memang tadi berbohong pada Yunhwa dengan bilang aku sudah minum obat ini. Karena pada kenyataannya aku memang sedang mencoba mengurangi konsumsinya–tentu tanpa bilang-bilang Yunhwa dulu–berhubung kini aku sudah menemukan obat penenangku sendiri. Obat yang biarpun juga menyebabkan ketagihan bagiku, tapi aku sama sekali tak apa. Anti depresan hidup-ku… Cheonsa.

Ah, tapi berhubung sekarang Cheonsa juga tidak ada dan aku juga tidak bisa menemuinya–hari Jumat adalah harinya les piano, katanya–maka sepertinya mau tak mau aku harus meminum obat ini. Menggunakan kesempatan lampu merah, HAP! dalam sekali tenggak, tanpa air, aku pun sudah berhasil menelannya. Baru beberapa menit menjalankan mobilku lagi, efek obat ini sudah terasa. Aku merapat sebentar demi membiarkan efek lanjutan anti depresan-ku bekerja. Kupejamkan mataku dan menarik napas dalam sesuai anjuran dokter dulu, dan sedikit demi sedikit, bisa kurasakan perasaan tenang mulai menjalar di tubuh dan pikiranku. Aku memutuskan untuk beristirahat dulu lah sejenak, sekalian berhenti, ketika tiba-tiba aku baru tersadar kalau aku meminggirkan mobilku tepat di depan sebuah area RS. RS tempatku dirawat dulu… yang memang dekat dengan tempat tinggal Junsu dan Yunhwa.

Entah kenapa, tiba-tiba rasanya aku juga jadi ingin menemui dokter… berkonsultasi. Eh, tunggu, pikirku cepat. Seketika aku langsung meraih botol obatku lagi di kursi penumpang dan memandangnya lekat-lekat (plus memutar-mutarnya, sekalian). Apa jangan-jangan dalam kandungan obat ini juga ada obat pensugesti pasiennya untuk menemui dokter, ya?? Habisnya, kenapa setelah menenggaknya aku jadi ingin periksa begini?

Ah… pikiran bodoh. Mana ada kandungan obat seperti itu? Aku buru-buru menggelengkan kepalaku lagi. Tapi ya sudahlah, sudah terlanjur kemari. Lagipula aku juga sudah lama tidak konsultasi lagi, paling Yunhwa saja yang menelepon dokter kalau dilihatnya aku kurang beres sedikit.

Maka mengedikkan bahu, akupun membuka pintu mobilku dan melangkah keluar.

“Kondisi Anda baik, tapi sebaiknya Anda mengunjungi RS secara berkala untuk perawatan seperti tadi. Yah, pembersihan, dan sebagainya. Karena luka di dalam telinga Anda itu sangat rawan terkena bakteri maupun yang lainnya.”

Aku hanya mengangguk-angguk melihat tulisan tangan dokter itu yang disorongkannya padaku di atas meja setelah perawatan yang diberikannya tadi.

Diam. Pada dasarnya aku juga tak tahu apa yang ingin kukonsultasikan. Tadi kan aku kemari juga karena kebetulan saja.

Menyadari itu, dokterku kembali menarik kertasnya dan menulis lagi.

“Apa betul Anda sama sekali tidak ingin kembali mendengar lagi?”

“Karena menurut saya sama saja bohong Dok, kalau hanya membantu sedikit seperti yang akan dihasilkan operasi itu. Itu terhitung tidak membantu, bahkan, bagi saya.” Jawabku lugas begitu membaca kertas tadi.

“Lupakan kalau saya dokter, saya tak ingin Anda mengira kalau saya melakukan ini demi keuntungan RS.” Tulisnya lagi. Aku mengangguk. “Ini sebetulnya hanya common sense, Jung Yunho-ssi. Sebagai orang biasa, tentu saya juga akan tetap menyarankan operasi ini. Sungguh, Anda boleh tanya ke semua orang. Karena kasarnya begini: dengan hanya bisa mendengar sedikit, memang itu masih less normal. Tapi lebih baik less normal daripada TIDAK normal sama sekali kan?”

DAG! Aku merasa ditonjok tepat di bagian jantungku. Kata-katanya so true sekali. “Sangat common sense.” Responku akhirnya, datar.

“Je mal-i (Sudah saya bilang, kan).” Jawabnya dengan gerak bibir yang jelas bisa kulihat. Ia kembali menarik kertasnya dari hadapanku. Sisi satu sudah penuh, ia pun membaliknya dan menulis di sisi yang berlawanan, setelah menarik napas panjang dan membuangnya, seperti capek. Aku memicingkan mataku heran.

“Yah, saya lihat sepertinya saya belum mampu menggerakkan hati Anda ya. Tapi ya sudahlah. Sekarang begini, kalaupun Anda tetap tidak ingin operasi, apa Anda juga tidak ingin belajar bahasa isyarat? Sangat buang waktu sekali berkomunikasi dengan tulisan seperti ini, dan jujur, capek. Setidaknya pikirkanlah orang-orang terdekat Anda, biarpun pada dasarnya yang harus mempraktekkan ini adalah mereka pada Anda, tapi pasti mereka akan lebih senang karena selain praktis ini juga menambah pengetahuan.”

Oh, jadi tadi beliau menghela napas capek karena ini… pikirku dalam hati. Akupun kembali mencerna kata-kata itu. Bahasa isyarat, kah… “Entahlah… Dok.” Jawabku ragu. Di kepalaku berputar-putar sosok Yunhwa, Junsu, maupun–dan yang terpenting–Cheonsa, yang memang sering berkomunikasi melalui tulisan denganku. Mereka memang tak pernah mengatakannya, tapi bagaimana aku bisa tahu apa yang mereka pikirkan mengenai cara ini? Jadi… akankah aku mengatakan hal sebenarnya, alasan egoisku semata? “Saya hanya… entah, saya lebih merasa seperti orang… cacat,” akhirnya aku mengatakannya juga, “…kalau menggunakan cara itu…” Tutupku tak yakin.

Dokterku menghempaskan punggungnya ke sandaran kursinya seraya tersenyum. Mulutnya bergerak-gerak, sepertinya ia kini menjawabku dengan suara.

“Hah…?” Responku. Bagaimana aku bisa dengar, coba?

“Je malsseumeun (Saya bilang),” gerak bibirnya lambat-lambat. Aku mengangguk-angguk mengerti. “…kita, kembali, ke topik, awal.”

“Kembali ke topik awal? Maksudnya…?” Ulangku tak mengerti. Sebelum akhirnya… aku tersadar. Ya, kembali ke topik awal… tentang normal dan tak normal. Dokter itu tersenyum lagi seakan bisa menangkap pikiranku. “Tapi Dok… Di kepala saya sudah terlanjur terpasang mindset kalau saya sudah tidak ingin mendengar apa-apa lagi, dan memang itu telah saya tetapkan sejak keluar RS ini–“

“Apa tidak ada orang yang suaranya betul-betul Anda rindukan? Anim… kajang, deudgoshipeun moksori? (Atau… yang ingin sekali Anda dengar?)”

 

TBC

 

maaf, belum jadi ngepost yg DBSK all members, malah lagi mood nulis ini duluan T.T tapi nggak panjang2 kok, semua bakal abis di part kedua hehehe :p

Advertisements
 
17 Comments

Posted by on July 13, 2011 in DBSK

 

Tags: , ,

17 responses to “DEUDGOSHIPEUN MOKSORI – Part 1

  1. chrisnagustyani

    July 13, 2011 at 8:13 pm

    absen dulu ya nyah,, mumpung bisa ol pake modem om hehehe

     
    • lolita309

      July 13, 2011 at 9:37 pm

      sipp, lagi pulkam kamu ciz? kemance? oleh-oleeeeh 😀 #digampar

       
  2. wiehj

    July 13, 2011 at 8:26 pm

    uwahhh, uri uno!!!
    knapa dibuat tuli?? TT,TT
    kasiann bgtt sih.. aku mah rela dee ngjagain dy, jdi telinga baru dy.. hahahhahaha
    bagusss deee lolaaaa, crta nya gag byasaaa!! 😀
    inii ntar si uno jd operasi?? dijadiin yahh :p dy kan pasti mau denger suara si cheonsa kan tuhhh

     
    • lolita309

      July 13, 2011 at 9:55 pm

      sebenernya aku bikin ini juga karena komen kamu pas aku bilang lagi ngerjain proyek dbsk… kamu bilang mudah2an uno kan? nah, ini diaaaa~ 😀

      hehe, maaf yaa aku bikin budek.. *PLAK :p
      cieee, mau jadi cheonsa nih yee~ eh btw kamu punya nama korea? siapa tau kapan2 aku bikin ttg uno lagi hehe (hobi baru author: nawarin cast ke reader -____-)

      waaaa~ iyakah? makasi sayaang, aku emang pengennya selalu bikin yang ga biasa biar ga pasaran hehe^^ makanya seneng deh kalo dianggap berhasil (pujian kamu aku anggap tulisanku berhasil ya^^)

      umm, jadi ga yaaaa? mudah2an ya, doain aja dia mau operasi lagi hehehe

      makasi uda baca^^

       
  3. hwangminmi

    July 14, 2011 at 10:16 pm

    …… *terpesona*

    Eh ciee eonni FFnya keren deh :3 (ˇ▽ˇ)-c<ˇ_ˇ) #langsungditabok
    Maaf ya eonni, efek berita kibum ikut 5jib sih hohoho~ XD #gaadaygnanya #ditaboklg

    Masa nama anaknya soya sih eonni? Jadi ingat merk minuman soya gitu lo (‾_‾") #apaandeh
    Itu cewek jg , enak amat namanya cheonsa , aku jg mau (╥_╥) #halah

    Soulmate nya kapan dilanjutin ni? Kan tinggal 1 part lg~ ~(˘▿˘~) ~(˘▿˘)~ (~˘▿˘)~

    Oh iya, soal 'komen dgn nama berbeda' (?) itu dikarenakan diriku komen dr hp , dan ngelike itu cuma bisa 1x dan jadinya begitulah u.u <– ngerti gak eonni? .__.

    Yak, kita sudah tiba di penghujung komen ini~
    Sekian dan terimakasih , sampai bertemu di komen berikutnya~ #halah \(•ˆ▽ˆ•)/

     
    • lolita309

      July 14, 2011 at 10:49 pm

      aaaaa makasih :3

      eciee, ga bakal sering liat dirimu galau lagi doong~ *ditabok*

      iyaaa bentar yaa, entah kenapa aku males banget nulis lanjutannya tuh, padahal ide mah udah banget di otak T.T

      gak ngerti say ._. emang dirimu ngelike berapa kali deh? perasaan sekali -____-

      yak baiklah, sekian juga balasan dari saya, 4 x 4 = 16, kalau gak sempat ya ga usah paksain bales sih.. kasian *loh?* #PLAK

      makasi sayaang uda baca^^

       
  4. Carrie Cho

    July 16, 2011 at 12:36 pm

    Cheonsa ~.~ Cheonsa ~.~ Cheon Cheon haahaha -__-”
    lama-kelamaan si Yunho bakal sadar deh kalau dia pengen bisa ngedenger lagi (?) tapi sebenarnya pas di awal aku rada sempet sebel sih sama bocah Soya Soya itu -__-”
    haha ya tapi namanya juga anak kecil ~.~ mau begimane lagi.

    whoaaaa, aku tunggu deh yah lanjutannya hihihi.

     
    • lolita309

      July 16, 2011 at 1:19 pm

      huahaha, yang budek yunho kok yang kesel sama soya kamu sih. hehehe :p

      lama kelamaan? ga lama2 kok say, wong abisnya juga uda part berikutnya ._.

      hehe, sipp, makasi yaaa sayang uda baca+komen^^

       
  5. Lietha

    July 17, 2011 at 1:12 pm

    wooooooooooooooooooooooooooo~~~
    makasi ya onni udah kasi rekomendasi sama akuu~
    FFnya keyeeeenn~
    dapet feel banget pas bayangin yunho~ mukanya kan rada judes gitu(?) jd pas banget sama mindsetnya
    kekekek
    langsung ke part 2 ya~
    annyeong~+_+!!!

     
    • lolita309

      July 17, 2011 at 9:39 pm

      sama2 sayaaang, seneng deh kamu beneran (?) mampir 😀

      MAKASIIIIII~ hahaha yunho jutek ya mukanya? #PLAK

      gomawo uda baca dan komen dear^^

       
  6. chrisnagustyani

    July 18, 2011 at 11:22 pm

    ane pulkam ke hutan rimba kalimantan tengah nyah #plakk
    sbnr’a kagak pdalaman2 amat sih, cuma mdemku flexi sinyalnya amit-amitan jd gak bisa d pake, mw pke hape mahall…

    oleh2? Mau oleh2 apa nyah? Suka durian gak? Dsini buanyaakkk…

     
    • lolita309

      July 19, 2011 at 12:00 am

      jia ilaaah, emang selama ini kamu domisilinya dimana say?

      kagaaak~ ane kaga demen duren neng… huhuhu apa yaa? (loh? kayak bnrn aja kkkk~)

      uda pulang tapi sekarang? libur kuliah smpe kpn?

       
  7. chrisnagustyani

    July 19, 2011 at 2:13 pm

    aku kuliah d palangkaraya nyah, cuman aku dari kabupaten gt… Tetep di kalteng juga si hahahaha

    gak suka durian? Jadi apa ya? *ikutanmikir*

    ya udh ni ku lempar siwon, mumpung td siwon bru aja selese bersih2 di rumah *lukatababu* wkwkwk

    iya ni aku libur 2bulan lebih, enak bnget hahaha

     
  8. oepieck

    July 20, 2011 at 5:40 am

    TOENG! komen sampe menggunung dan ff lain sudah mengantri aku baru bisa baca… maaf ya eonnie..

    karakternya yunho bangeet. sosoknya dewasa, meski kadang gampang marah, tapi dia pasti merenung dan mikir dua kali sebelum bertindak.
    penggambaran betapa desperatenya dia dan kehidupannya sehari” sebagai orang tuli itu keliatan real banget! daebak! 😀
    paling geli waktu lagi sama cheonsa terus ngomongin ahjumma lagi gossipin tetangga, kakakaka~ lucu banget itu!

    anyway, penasaran sama siapa yang dirinduin ama yunho. kemungkinan besar sih cheonsa, tapi adakah orang lain?

    daebak eonni! :DDD

     
    • lolita309

      July 31, 2011 at 11:05 am

      iya gapapa kok sayaaang, mendingan telat daripada nggak sama sekali kan? hehe^^

      iyakah? wah, berarti aku sukses dong gambarinnya #PLAK
      hehe, makasi yaaaa sayangkuh 😀

      MAKASI sayang uda baca^^

       
      • oepieck

        August 1, 2011 at 1:40 pm

        sip eonni! sama-sama 😀
        iya kok onnie bisa dibilang selalu sukses gambarin perasaan orang ^^

         

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: