RSS

PELARIAN

05 Jun

Sungguhpun gue ga ngerti lagi konten blog ini hahahah~~ But enjoy! just enjoy!

PELARIAN

by: @lolita309

Starring: SVT’s Dokyeom, Joshua

Untitled

“Jihan sunbae!” sapa Dokyeom begitu aku keluar kelas. Ya ampun, baru juga bel pulang selesai bunyi, sudah nongol aja ini bocah.

“Hei, dengar aku! Mau kamu apa sih?”

“Lho, perlu aku ulang lagi, sunbae?”

“Nggak.” jawabku nggak nyantai. “Maksudku, tolong ya DK, yang suka sama kamu tuh banyak, kenapa harus aku??”

“Umm… perlu aku ulang lagi Sunbae?” tanyanya lagi. Yeah yeah, aku cukup tahu  deh. Dasar bocah keras kepala.

Okay, Dokyeom. Jadi mau kamu sekarang aku kayak gimana? Nggak mungkin kan tahu-tahu aku nerima kamu gitu aja? Secaranya aku juga nggak gitu kenal sama kamu. Lagipula kayaknya aku pernah bilang aku suka orang lain.” lirihku di kalimat terakhir.

DK hanya mengangkat bahu, sok nggak mendengar kalimat terakhirku, “Makanya Jihan sunbae bales chat aku kenapa sih? Kan biar lebih kenal… Kalau setelah sunbae kenal aku tapi tetep nggak bisa nerima, oke aku bakal mundur… Gimana?”

“Umm… boleh juga. Okay, deal.” aku mengulurkan tanganku yang disambut jabatan erat Dokyeom. Haha, terus bermimpilah Lee Dokyeom. Aku nggak akan semudah itu ngelupain seorang Hong Jisoo…

 

***

 

Jadilah semenjak itu kita—tentu saja selalu dia pemrakarsanya—chatting layaknya ‘temen’ (temen tapi ngarep padahal tuh si DK). Oke, Dokyeom itu… baik. Tapi kalau kalian ngerasain jadi aku, seperti yang aku bilang ngelupain Jisoo tuh nggak gampang…

Sampai suatu hari,

“Noah, kamu mau jadi pacar aku?” tanya Jisoo di pertengahan istirahat itu. Bukan untuk aku, jelas. Karena aku bukan Noah. Noah disini ternyata adalah No Ahyoung, temanku Ahyoung.

Otakku tersendat-sendat mencerna semua kejadian yang terjadi tepat di depan mataku, di teras depan kelasku itu. Romantis banget… Dia berani nembak Ahyoung terang-terangan di depan kita semua, yang terang-terangan juga kakak kelasnya. Tanpa terasa air mataku menetes, dan semakin deras seiring hujanan tatapan iba teman-teman sekelas, termasuk Ahyoung sendiri. Ya, sejak awal mereka memang tahu aku menyukai Jisoo, ikatan pertemanan yang begitu erat di kelasku membuat nyaris nggak ada rahasia di antara kami ber-30. Biarpun akhirnya aku nggak tahan lagi dengan semua tatapan itu dan segera beranjak dari sana dengan anggun, walau dengan air mata berlinangan di pipiku.

“Jihan-ah, Kim Jihan!” panggil Ahyoung sambil berusaha menggapai tanganku. Dapat.

“Jihan-ah, mianhae… jeongmal mianhae… (maaf… maaf banget…) Ahyoung juga nggak tahu  bakal kayak gini jadinya—“

“Lalu ‘Noah’??” potongku sengit. Aku nggak pernah se-nggak sopan ini sebelumnya. “Dari mana asal panggilan itu, hah?? Lagipula ya sudahlah, aku juga bukan siapa-siapa dia. Dia mungkin bahkan nggak kenal aku!!”

“Jihan-ah, jeongmal mianhae… Ahyoung… Ahyoung ngaku selama ini Jisoo memang suka chat Ahyoung, dan bodohnya Ahyoung ngebales… Jihan-ah, Ahyoung memang bodoh, Jihan pantas marah sama Ahyoung! Jisoo… Ahyoung…” ujarnya terisak-isak. Aku mulai nggak tega melihatnya. Lagipula Ahyoung memang sangat manis, nggak akan heran banyak cowok—termasuk Jisoo—suka padanya. (Ya ampun, di saat-saat seperti ini aku masih sempat-sempatnya baik, deh?!).

“Ahyoung.” Aku memegang kedua pundaknya, tersenyum (maksa, sih). “Tuh, ditungguin Jisoo.” Aku menunjuk seseorang di hadapanku, yang dipunggungi Ahyoung.

“Jihan-ah, bener—“

“Ssst. Jangan sampai Ahyoung nyesel nantinya.” tutupku sambil mengedipkan mata dan mendorong Ahyoung ke arah Jisoo. Pangerannya, yang dulu pangeranku… ralat, raja. Sebegitu besarnya tempat seorang Hong Jisoo di hatiku, sekarang semuanya kandas sudah.

Aku berbalik, masih sayup-sayup mendengar suara Jisoo, “Ada apa sih, Noah? Jihan sunbae kenapa?”

Sambil berjalan perlahan aku tersenyum pahit. Setidaknya dia masih ingat nama kamu, Kim Jihan. Ups, tuh kan air mataku keluar lagi. Aku mempercepat langkahku, menuju ruang OSIS. Tempat persembunyianku. Untung nggak ada orang, padahal ini istirahat. Aku segera mencopot kunci yang menempel di luar pintu, dan mengunci diri dari dalam.

Aku menangis lagi. Ya iyalah, cuma itu yang bisa aku lakukan sekarang. Air mata mengalir deras di pipiku. Ah, dalam waktu 10 menit mataku pasti sudah bengkak. Mungkin setelah ini aku bakal stay aja di ruang kesehatan… pura-pura sakit.

Tiba-tiba HP-ku berbunyi. Dokyeom.

“Sunbae, lagi istirahat nih. Jangan lupa makan. :)”

Aku tersenyum. Lee Dokyeom… Anak itu, kenapa aku nggak juga bisa suka sama dia? Anak seganteng itu, kenapa begitu suka sama aku?

Tiba-tiba aku teringat kejadian tadi lagi. Jisoo-ya… kenapa harus Ahyoung? Kenapa harus temanku?? Sambil menghapus air mata yang nyaris menetes lagi, aku mengetik balasan.

“Dokyeom-ah, ingat hoobae yang aku suka nggak? Dia baru jadian…”

Baru saja aku menekan tombol send, HP-ku sudah berbunyi lagi. Dokyeom calling.

“Yeoboseyo? (Halo?)”

“Jihan sunbae, kamu dimana aku kesana sekarang.”

“Ruang OSIS… Sudahlah, nggak usah DK—“

“Suara kamu sengau artinya kamu habis nangis. Tunggu aku 5 menit, ah, 2 menit. Oke? Jangan pergi dari sana.”

“Dokyeom—“

TUUUTTT…

Aku jatuh terduduk. Lee Dokyeom… jangan terlalu baik sama aku, aku takut nggak bisa ngebalas semua kebaikan itu…

Dokyeom calling.

“Aku di luar ruang OSIS.”

Hah, cepet banget? “Dokyeom-ah… tolong, jangan terlalu baik sama aku…”

“Jihan-ah. Kamu butuh aku.”

Kontan aku melongo. Ha? Dia sudah nggak manggil aku ‘sunbae’ lagi?

“Kamu butuh seseorang, a shoulder to cry on. Aku tahu  kamu sayang banget sama dia kan? Kamu pasti sakit banget kan? Aku tahu rasanya. Karena selama ini aku juga sayang sama orang yang sayang sama orang lain…”

Aku hanya mampu terdiam seraya bersender di pintu ruang OSIS. Ironis. Kita begitu dekat, tapi aku bahkan masih menutup diri…

Perlahan aku memutar kunci pintu. Dengan cepat Dokyeom membukanya dan memelukku. Untung bel masuk sudah berbunyi tadi, koridor pun sepi. Tapi aku buru-buru melepas pelukannya dan menariknya ke dalam.

Dokyeom kembali memelukku erat. Akhirnya pertahanan diriku jebol juga. Aku menangis sesenggukan di pelukannya.

“Jihan-ah, kamu boleh nangis sampai kamu capek. Aku bakal terus disini buat meluk kamu…”

Aku tersenyum kecil. “Aish, itu sih mau kamu.”

“Ya, aku serius!” ujarnya pura-pura marah. Ah DK…

“Eh, ngomong-ngomong, kamu tinggi juga ya? Kamu kan seharusnya baru lulus SMP.

“Haha, bukan aku yang tinggi tapi kamu yang pendek, Sayang.” ujarnya sambil mengacak-acak rambutku panjangku.

Aku mengernyit. HA? ‘Sayang’?? Anak ini minta dijitak, ya?

“Apa?” tanyanya (sok) polos.

“Jangan ngambil kesempatan dalam kesempitan deh.”

“Kenapa? Jihan-ah, sekarang kan sudah nggak ada penghalang lagi, jadian yuk.”

“MWO?? (APA??)”

Okay, baby? Asik, diam berarti ‘iya’.” Simpulnya melihatku hanya bengong. Ternganga lebih tepatnya.

“Jihan-ah? Kim Jihan??” Dokyeom melambai-lambaikan tangannya di depan mataku.

“Y-Ya!!” aku langsung menepis tangannya, blushing.

“Kamu nggak bakal nyesel, Jihan-ah. Janji deh.” katanya seraya mencium jemariku. Eh, tapi ngomong-ngomong anak ini pakai seragam olahraga?

“Kamu tadi pelajaran olahraga?”

“Iya.” jawabnya mengangguk-angguk. “Masih pelajaran olahraga lebih tepatnya. Tadi lagi gantian basket, eh kamu chat begitu. Buru-buru kesini deh. Makanya sekarang aku mau langsung balik. Dicariin nggak ya? Eh tapi kamu sudah happy lagi kan?”

“Iya. Makasih ya.” kataku sambil memaksa tersenyum menatapnya. “Oh ya, mataku bengkak nggak?”

“Umm… sedikit sih, tapi tetap cantik kok.” ujarnya sambil menyelipkan rambutku ke belakang telinga. Aku tersipu lagi. Iiiihhh, kenapa aku sekarang jadi gampang blushing sih?

“Terus sekarang kamu mau gimana? Balik ke kelas apa cabut?” tanyanya lembut.

“Aku cabut ke ruang kesehatan aja deh… Malu mataku bengkak begini.”

“Ya sudah, tapi sekarang kita keluarnya ganti-gantian ya. Takut dilihat orang kan nggak enak nanti dikira ngapa-ngapain lagi—pengennya sih gitu,“ ujarnya pelan.

“Apa?” tanyaku, mencoba mengkonfirmasi perkataannya barusan.

“Hehe, nggak… sudah kamu keluar duluan sana.”

Aku tersenyum.

“Apa?” kali ini gantian ia yang bertanya bingung.

Aku menggeleng, “Nggak. Makasih ya… makasih banget.”

Kontan senyuman cerah merekah di wajah tampannya, “Sama-sama. Selamat istirahat ya, Sayang.”

Aku mengangguk.

Hari itu, hari yang sama dengan Ahyoung dan Jisoo, aku jadian. Pelarian.

 

END (or TBC??)

 

Haii!!! Gantung ya? Hahahah~~

Jadi ceritanya cerpen ini kubuat waktu masih SMP, kurang lebih 12 tahun yang lalu hahaha makanya sebetulnya juga setting aslinya SMP, tokoh DK itu kelas 7, Jisoo kelas 8, dan Jihan kelas 9. Tapi berhubung kayaknya kemudaan dan ga kebayang DK yang bodinya sebongsor itu jadi anak yang baru lulus SD *plak* jadinya kunaikin settingnya ke SMA. Oh iya mungkin ada yang ngeh, ini juga sebelumnya pernah kupost di ffindo pake cast Suju di tahun 2010 hahaha

Dan ini ada before story-nya….. yang lebih nyeritain waktu Jihan masih suka-sukanya sama Jisoo, dan awal ketemunya Jihan dan DK juga. Kalo responnya positif akan aku post, jadi tolong vote and comment yaa~~~

Terima kasih *bow*

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on June 5, 2017 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: