RSS

[THE SERIES] SOULMATE – Chapter 4

06 Jul

SOULMATE – Chapter 4

(Ch. 1; Ch. 2; Ch. 3)

Written by: Lolita Choi (@lolita309)

Starring: Choi Siwon

Son Dongwoon

 

Chapter 4. HE IS MY HAPPINESS (Yora’s POV)

Flashback

“Let’s get straight to the point. Kamu mau kita putus?” Tanya Siwon dingin padaku setelah jeda cukup lama sejak aku mengutarakan alasanku ingin bertemu dengannya mendadak pagi ini.

Aku hanya mampu tertunduk, tak kuasa menjawab. Karena jujur, aku pun bingung! “Aku… sebetulnya… justru itu… aku ingin tanya pendapatmu tentang…”

“Pergilah.” Potong Siwon tanpa melihatku sama sekali. Bagus, sekarang kamu sukses membuat tunanganmu sendiri membencimu, Yora!

Aku tergagap menjawabnya, tak mempercayai pendengaranku, “A-Apa…?”

“Ka-yaji (you should go). Sudah nggak ada lagi yang bisa kita diskusikan, kamu nggak perlu dengar pendapatku. Aku tahu kamu mengkhawatirkan perasaanku makanya sekarang aku tegaskan: pergilah. Nae geokjeonghajima (jangan khawatirkan aku).” Katanya datar namun kini sudah berani menatap wajahku.

Dan kedua mata itu… Kata-katanya memang terlihat tegar, tapi sorotan matanya sama sekali tak bisa berbohong. Aku betul-betul tak mengerti apa yang sudah kulakukan… Kenapa aku sampai membuat keputusan ini? Keputusan yang biarpun sejak tadi belum aku katakan, tapi seperti fixed memang itu yang akan terjadi: aku memilih Dongwoon. Dan kami berdua tahu itu…

“Maaf…” Akhirnya hanya kata itu yang keluar dari mulutku. “Aku hanya… Aku betul-betul mau dengar pendapatmu, kalau–”

“Kamu mau dengar pendapatku?” Potongnya, mulai dingin. “Aku nggak rela. Puas? Aku sama sekali nggak rela. Mana ada sih cowok yang rela tunangannya memilih cowok lain? Nggak ada, Yora! Tapi itu cuma pendapatku, yang menurutku nggak perlu kamu dengar. Karena apa, yang perlu kamu dengar adalah yang di dalam sini,” ia menyentuh bagian dadanya. “…dan aku akan mendukung apapun yang hatimu inginkan, apapun.”

Mataku mulai panas mendengar kata-kata dan ekspresi wajahnya. Siwon-ku—ah, apa masih boleh aku menyebutnya begitu?—yang selalu terlihat kuat, dewasa, aku bahkan tak pernah melihatnya melankolis seperti ini selama 4 tahun kami bersama. Karena hubungan kami seperti selalu diberkati Tuhan, semua berjalan mulus dan lancar. Tapi banyak yang bilang sesuatu yang terlalu lancar malah patut dicurigai, karena takut sekalinya muncul masalah akan sebegitu besarnya sampai tak bisa ditanggulangi. Dan itu betul-betul menjadi kenyataan kini.

“Maaf…” Lagi-lagi hanya kata itu yang mampu keluar dari mulutku, sambil tertunduk agar airmataku yang mulai menitik tak terlihat olehnya. “Mianhae, mianhae, mianhae, mianhae—”

“Saranghae, saranghae, saranghae.” Potong Siwon tegas seraya menggenggam tanganku tiba-tiba. Aku seketika mengangkat wajahku pelan-pelan, dan menemukan kedua mata itu lagi. Mata yang selalu menatapku penuh kasih selama 4 tahun ini, bagaimanapun kondisinya, bahkan ketika aku menyakitinya seperti sekarang… Airmataku tak terasa terus mengalir, dan semakin menderas setelah mendengar kelanjutan perkataannya, “Karena aku mencintaimu makanya aku melepasmu… Nae geokjeongmalgo, haengbokhaerago… (Kubilang jangan khawatirkan aku, berbahagialah…)”

Flashback End

 

“Yo, Yo, Yo… Yo to the Ra, what’s up, BRO?” Kakakku, Eunhyuk, tiba-tiba menghancurkan semua ingatanku dengan gaya sok hiphop-nya. Dia baru pulang kerja dan tahu-tahu sudah disambut ‘arca’ adiknya yang hanya diam memeluk lutut di atas sofa ruang tamu ini begitu saja, jelas siapa pun juga akan jadi kepo (pengen tahu) dibuatnya.

Tapi sayangnya mood-ku sedang tidak ingin mengerti keadaan orang lain begitu, maka hanya kerlingan sinis yang menyambut tanyanya itu, beserta… “’SIS’.” Ralatku singkat-padat-dan… galak? Habis orang ini kayak yang nggak bisa baca ekspresi orang, sih…

Kakakku malah makin kepo melihat tanggapanku, maka alih-alih kabur menghindari amuk massa berikutnya, kini dia malah menggeser-geser tubuhku di tengah-tengah sofa, mencari tempat duduk untuknya sendiri. Dan PLOP! dengan indah ia pun akhirnya berhasil duduk.

“Oppa apaan sih ah…!” Protesku segera menyambut kehadirannya di sebelahku.

Dia malah menutup mulutku dengan sebelah tangannya. “Akhir-akhir ini kamu galak banget sih? Padahal waktu pertama ketemu kamu kalem banget deh, Saeng… Itu Donghae kamu cuekin lagi. Bukannya kalian kemarin sudah baikan gara-gara ngurusin noona sakit bareng-bareng?”

Aku terdiam, masih dalam bekapan telapak tangannya. Betul-betul terlihatkah perubahanku semenjak kedatangan Dongwoon ini? Tapi inilah aku yang sebenarnya, aku pun baru sadar sekarang kalau akhirnya, si ‘little miss bossy’ Yora yang dulu telah kembali. Yora yang ekslusif, Yora yang hanya mengakui Dongwoon seorang, satu-satunya orang yang mengerti dirinya…

“Sekarang malah diam.” Sambung Eunhyuk oppa lagi seraya melepas tangannya dari mulutku. Ia kini duduk santai setelah melonggarkan dasi dan membuka satu kancing kemejanya. Seperti mengerti perasaanku, ia kini memandangku penuh sayang, “Ya sudah, sekarang penawaran spesial nih: mau cerita, nggak?”

Melihat perhatiannya itu, perlahan tapi pasti airmata mulai merebak di pelupuk mataku. Dan sekejap tanganku sudah terbentang untuk memeluknya, “Aaangg~ oppaaa…”

“Ya, ya, ya. Tunggu.” Tiba-tiba seseorang sudah menghalangi pelukan kami begitu saja dengan tas kerjanya. Seketika kami pun menoleh.

“Heeehh, Teuki oppa??” seruku seketika begitu mengetahui siapa ‘tersangka’ itu. Kakak iparku dengan wajah capeknya yang tetap terlihat tampan mengesampingkan umurnya, bertolak pinggang sambil sok memelototi kami. Di sampingnya, sang istri yang juga kakakku, Ryeoru eonni, hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah suaminya, seperti tahu apa yang akan ia lakukan.

“Yoraa~ Oppa-mu cuma oppa, kan? Sini, sini, peluk oppa aja, mau cerita apa sih? Kamu lagi ada masalah? Jangan dekat-dekat dia, dia bau, tahu!”

Eeehh??

Sedangkan Eunhyuk oppa langsung bereaksi mendengar kalimat terakhir Teuki oppa tadi, “Wah… sudah nggak bener ini. Hyungnim!”

“Eh… sudah-sudah, apa-apaan sih. Yeobo, inget umur lah, kamu kan lebih tua, kok masih cemburuan aja sih kayak anak-anak. Hyukie juga, masuk ke kamarmu sana, istirahat. Besok kan masih kerja… oke? Yora biar sama noona aja.” eonni-ku yang paling ‘waras’ dengan cepat mengendalikan keadaan dengan memisahkan sepasang bos-karyawan baru itu yang terlihat mulai memanas (cuma gara-gara rebutan adik? -___-)

Agak terpaksa, Eunhyuk oppa pun akhirnya mengangguk dan kabur ke lantai atas—kamarnya—setelah… sempat-sempatnya memeletkan lidah ke arah kakak ipar kami.

“YAA~ Lee Hyukjae!!”

Sementara oppa iparku masih misuh-misuh sendiri, Ryeoru eonni yang memang sudah tahu tentang kedatangan Dongwoon kembali—biarpun belum tentang masalah aku dan Siwon—langsung mendekatiku. Oh, aku sekarang tahu alasan mereka kemari biarpun ini bukan weekend (karena biasanya jadwal kunjungan ke rumah orangtua sepasang newlyweds ini hanya pas weekend). Ah… rasanya semua kakakku punya rasa ‘mau tahuuu aja’ yang cukup besar, entah harus sedih apa senang mengetahuinya.

“Jadi,” kakakku memulai. “…ada yang mau kamu ceritain?”

Aku menatapnya ragu. Tapi… rasanya aku betul-betul sudah tak kuat lagi menyimpan ini sendirian! Lagipula eonni lah satu-satunya orang yang pasti akan mengerti perasaanku, ia kenal Dongwoon, ia tahu bagaimana hubungan kami, maupun hubunganku dengan Siwon. Dan satu yang aku tahu pasti, eonni-ku sangat objektif, dia…

“Huweeee, eonni…” dan tanpa bisa kutahan lagi, akhirnya semua isi hatiku pun tertumpah, hari itu.

 

“Jadi kalian…” eonni-ku tidak dapat menyembunyikan kekagetannya setelah mendengar ceritaku. Ia menutupi mulutnya dengan kedua tangannya, betul-betul terlihat shock.  Sudah kukira akan seperti ini, dan aku rasa semua orang yang mengenalku dan Siwon juga pasti akan bereaksi yang sama. Aku dan dia, selama ini, apalagi penyebabnya adalah karena orang ketiga… ah, sudahlah, sepertinya sudah tak ada lagi yang perlu diungkit, sungguh sakit. Biarpun aku akui, kalau ini semua memang salahku… Aku penyebab semua ini.

Maka aku cuma bisa mengangguk, dan segera, Ryeoru eonni merengkuhku dalam pelukannya. Ah… dipeluk memang sangat nyaman buat wanita kan? Sangat nyaman sampai-sampai tak terasa airmataku pun jatuh satu-satu ke bahu kakakku. Aku menangis terisak-isak, lagi, setelah beberapa hari ini aku cuma bisa menangis sendirian. Kakakku mengelus-elus pundakku sabar, seperti isyarat izin untukku boleh mengeluarkan semua unek-unekku selama ini. Selagi kami hanya berdua di kamarku ini, selagi Teuki oppa sudah dipaksa tidur duluan di kamar eonni-ku, selagi aku belum sepenuhnya menjadi Yora yang benci sekali menangis…

“Ssshh… sudah?” Ryeoru eonni mulai bersuara lagi setelah tangisku terdengar mulai mereda. Aku mengangkat kepalaku dari bahunya dan mengangguk. “Ya sudah, biar bagaimanapun kamu sudah memilih Dongwoon… dan kamu yakin memang dialah yang terbaik kan? Tentang Siwon… apa sampai sekarang kalian betul-betul nggak pernah kontak-kontakan lagi?”

Aku menggeleng lemah.

Ryeru eonni tersenyum sambil menepuk pundakku, “Nggak boleh gitu lho. Sesekali kamu lah coba SMS dia, tanya kabar. Biarpun kalian istilahnya ‘sudah berakhir’, tapi bukan berarti nggak bisa jadi teman kan? Siwon pasti takut ganggu makanya selama ini dia nggak pernah hubungin kamu, secara sekarang yang ‘sudah punya kehidupan baru’ kan kamu… Dan jangan gengsi.” Sambung kakakku cepat di kalimat terakhirnya, sebelum aku sempat mengeluhkan harga diriku yang super tinggi itu.

Aku manyun, tapi Ryeoru eonni menjitak kepalaku pelan. “Setidaknya jika kalian benar-benar mau putus hubungan, putuslah baik-baik…”

 

Maka malam itu, setelah semedi berjam-jam di atas tempat tidur sepeninggal kakakku dan wejangannya, subuh-subuh aku baru mendapat kalimat-kalimat yang pas untuk mengirim SMS-ku (mungkin yang terakhir kalinya) kepada Siwon. Terakhir kalinya, karena aku ingin, setelah ini kami betul-betul hanya teman, yang hanya perlu saling menghubungi sekedarnya. Aku harus teguh kalau Dongwoon-lah kebahagiaanku, dan Siwon pun juga harus bisa melupakanku dan menemukan kebahagiannya sendiri …

“Siwon-ah, jal jinaejyo? Nan jal jinaego isseo. (Siwon-ah, apa kabar? Kalau aku baik-baik aja.) Maaf ya ganggu pagi buta begini, kamu pasti masih tidur kan? 🙂 Kemarin malam Ryeoru eonni pulang, dan aku cerita tentang kita, nggak apa-apa kan? Cuma dia kok. Dia marahin aku karena setelah ketemuan kita yang terakhir itu, aku nggak pernah hubungin kamu sama sekali. Dan setelah aku pikir-pikir, hehe, betul juga ya. Jadi setelah ini, ayo kita tetap jadi teman baik!^^”

Aku betul-betul sama sekali mengira Siwon masih tidur dan tidak akan membalasku—aku bahkan sudah siap tidur juga, lumayan 1-2 jam sebelum berangkat ke RS—ketika tiba-tiba, ponselku bergetar.  Dan itu… telepon. Dari Siwon.

Drrt~ drrt~ drrt~

Ponselku masih bergetar dengan dahsyatnya, sementara aku terbengong-bengong, tak kuasa mengangkat alat eletronik kecil berwarna pink itu. Lho, kenapa dia malah telepon? Kalau SMS mending, aku masih bisa berpikir sebelum membalas. Nah telepon? Aku harus ngomong apa nanti aaaaa~

Drrt~ drrt~ drrt~

Tapi benda nakal itu masih juga keukeuh mengeluarkan vibrasi terhebohnya. Aku pun akhirnya mengulurkan tanganku takut-takut, mencoba meraih ponsel yang kuletakkan di atas selimutku itu. Ayo Yora, beranikan dirimu…

“Yeobo… seyo?”

“Yora? Hei. Senang dengar suaramu lagi.” Balas suara berat seorang pria dari seberang sana.

Oh. My. God. Itu betul-betul Siwon…! Aaaa~ Eotteokhae?? “Siwon… ah?” tanyaku super-duper-bodoh. Ya jelas itu Siwon, sudah berapa tahun suaranya selalu menyapamu setiap hari, Park Yora?? “Oh… hai. Aku kira kamu sudah tidur.” tambahku lagi akhirnya.

Ia terdengar tertawa kecil di ujung sana, “Haha, aku kira juga begitu. Entahlah, akhir-akhir ini aku suka lupa apa aku sudah tidur atau belum. Tahu-tahu sudah pagi lagi yang berarti aku harus kerja juga. Kira-kira aku sakit apa ya, Bu Dokter? Pikun kah? Aku rasa belum waktunya deh.” Katanya, mencoba bercanda.

Aku pun tak kuasa tersenyum juga. “Nah, sekarang kan berarti kamu belum tidur, tidurlah. Jaga kesehatanmu, Pak Workaholic.”

Diam sejenak.

“Eng… Siwon-ah? Jangan bilang kamu betul-betul langsung tidur?” sapaku lagi memastikan.

“Aaah… Yora, aku kangen sekali dibaweli kamu seperti tadi.”

DEG! Seketika jantungku berdegup kencang mendengar ucapan spontannya barusan. Sekarang malah jadi aku yang hanya bisa terdiam, betul-betul tak tahu mau menjawab apa lagi.

Namun sepertinya—dan seperti biasanya—Siwon mengerti apa yang aku pikirkan, maka buru-buru ia menambahkan, “Hey, just saying. Nggak usah kamu pikirin yah, aku ngerti—betul-betul ngerti—keadaan kamu sekarang. Jadi tenang aja, telepon ini pun, sepertinya akan sangat jarang kamu temui. Aku menghormati privasi barumu sekarang, dan seperti perkataanmu, biar kita jadi teman baik aja setelah ini. Yang hanya kabar-kabaran sekali-kali. Yaksok?”

Tuh kan, dia sukses bikin aku mulai mellow lagi, cuma dengan kata-kata. Dan biarpun ia mengatakannya dengan nada yang ceria, tapi entah kenapa, aku betul-betul jadi merasa orang yang sangat jahat disini…

Maka pelan, akupun hanya bisa menjawab, sebuah pesan terakhirku sebagai ‘mantan kekasih’ baginya, “Kkok, na boda joheun saram manna… (Harus, kamu harus bertemu dengan orang yang lebih baik daripada aku…)”

Setelah kembali jeda yang cukup lama, hanya satu kata yang jadi balasan Siwon. Perlahan ia hanya berkata, “…ne… (ya…)”

Dan dengan itu, perbincangan yang sepertinya akan jadi yang terakhir dalam waktu lama antara aku dan Siwon pun juga berakhir. Tapi tidak, aku tak boleh menangis lagi. Tidak-tidak-tidak! Maka memejamkan mataku erat-erat, aku akhirnya menggulung diri dalam selimut, mencoba membawa airmata yang belum jadi keluar itu ke dalam tidurku. Dan doaku hari ini sebelum tidur, selain tentu seperti biasa untuk Tuhan melindungiku selagi tidur, adalah juga supaya ketika terbangun nanti, tak boleh ada lagi airmata penyesalan bagi perpisahanku dan Siwon. Supaya aku bisa mencintai Dongwoon setulus hati seperti seharusnya, dan yang terakhir, supaya Siwon betul-betul bisa menemukan gadis yang jauh lebih baik lagi dariku…

 

Sementara itu, di tempat Siwon,

Sampai matahari terbit, pasca percakapan telepon mereka berakhir, Siwon akhirnya masih terpaku menatap ponselnya di pinggir jendela kamar tidurnya tempat ia menghabiskan malam tadi, merenung, insomnia sejak beberapa hari lalu, tepatnya setelah ia dan Yora resmi putus. Kamu harus menemukan orang yang lebih baik dari aku… ia kembali mengingat pesan Yora tadi, dan seketika emosinya kembali meluap.

Apa ada, apa ada, Yora?? Sungguh kamu membuatku gila…

 

***

 

“Yora… hei, Yora. Mikir apa sih?” tiba-tiba lambaian tangan seseorang di depan wajahku langsung menyadarkanku dari lamunan.

“Oh… Dongwoon-ah. Ah, mianhae, mian. Akhir-akhir ini aku memang nggak fokus. Dokter pembimbing magangku galak sekali jadi biarpun sudah pulang begini aku masih was-was takut tadi di RS ada kerjaanku yang nggak benar. Ya.”

Oke, alasan barusan itu bohong. Tapi aku tak akan menyebutkan alasan sebenarnya, karena kalian juga pasti sudah tahu *sigh* Tapi yang mungkin kalian tidak tahu sih… kalau kenyataan bahwa ‘alasan ketidakfokusanku’ itu ternyata benar-benar terpuruk tanpaku. Kemarin tak sengaja aku bertemu dengannya ketika mengambil semua barang-barangku di rumahnya… Dan sungguh, aku hanya bisa pura-pura tegar melihatnya yang begitu tak terurus. Dan klimaksnya, berkata kalau aku benar-benar bahagia dengan Dongwoon dan meninggalkannya begitu saja, agar ia cepat melupakanku…

Dongwoon mengelus tanganku yang berada di atas meja makan dengan lembut, “At least kalau sudah waktunya makan, lupain dulu lah. Itu makananmu hampir dingin. Cepat dimakan biar kita juga bisa cepat pulang. Ya?”

Aku menatapnya balik seraya tersenyum. Dongwoon yang selalu baik dan perhatian. Bagaimana mungkin aku masih bisa memikirkan pria lain sementara ada pria, soulmate-ku, sebegini baiknya di depan mata? Tuhan, aku mohon, biarkanlah hanya Dongwoon seorang yang ada di hati maupun kepalaku!

“Oh ya, Yora.” Panggil Dongwoon lagi saat aku sudah kembali mulai makan. “Magangmu… bisa cuti kan?”

Aku mengangkat wajahku yang pasti sudah penuh tanda tanya begitu mendengar pertanyaannya, “Boleh sih… Wae?”

“Um… buat refreshing aja sih, tadi kan kamu bilang kamu mulai nggak fokus gara-gara kesibukan magangmu… Jadi aku mau ajak kamu liburan. Ke Jepang. Hitung-hitung aku juga cari ide segar buat kelanjutan bukuku.”

“Uhuk, uhuk!” seketika aku tersedak di buatnya. “Ap… Apa? Ke Jepang? Berdua… aja?”

“Ya kalau kamu mau ajak keluargamu, boleh aja sih… Tapi apa mereka sempat? Bukannya semuanya juga sibuk?” tanya Dongwoon balik, super polos!

“Eng… Bukan gitu sih maksudnya… Oh ya, memang mau kapan?”

“Besok?”

“UHUK!” aku batuk lagi. Besok?? Yang bener ajaaaa~

“Oh, oke, oke… Lusa. Jadi kamu ada waktu untuk izin dan packing kan?”

Dan aku… mengangguk. Omona~ jadi kita betulan bakal pergi ke luar negeri berduaan, nih??

 

***

 

“Whooaaa~ Ilbon jeongmal choigoya…! (Jepang memang betul-betul the best…)” dan lusa, seketika aku sudah betul-betul melupakan kegalauanku bakal pergi berdua dengan soulmate kesayanganku begitu menginjakkan kaki di negara yang memang sangat kusukai ini. “A~~ jinjja johda, johdago… (Ah, menyenangkan ya, menyenangkan sekali…)”

Dongwoon hanya tersenyum-senyum menatap ekspresi kesenanganku itu: membuka tangan lebar-lebar, menghirup udara Tokyo yang segar, saking asik sendirinya tak memperhatikan kalau aku menghalangi jalan orang… Dan akhirnya ia tertawa sambil mengacak rambutku yang tertutup topi rajut, “Nggak salah kan aku bawa kamu kesini?”

Aku menoleh dengan tatapan penuh terima kasih, “Nggak, nggak salah! Sama sekali nggak salah!”

“Dahaengiya. (Syukurlah.)” jawabnya sambil masih mengelus-elus kepalaku. “Ya sudah yuk, kita ke hotel dulu, istirahat. Nanti disana baru kita rencanain mau kemana lagi. Oke?”

“Oke, bos!!”

Dan sesampainya di hotel, hal yang pertama kulakukan adalah menelepon eomma-ku di Korea. Biasalah, mengabarkan aku baik-baik saja, kalau ternyata kekhawatiranku tentang acara ‘ke luar negeri berdua aja bersama pacar’ itu terlalu berlebihan, dan lain sebagainya. Masalahnya selama ini aku memang pernah liburan dengan pacar (Siwon), tapi bukan ke luar negeri. Itupun seringnya dengan teman-teman pergi ke vila keluarganya, atau minimal appa-ku mengirim Yesung sebagai tokoh pengacau. Kalau ke luar negeri kan susah mau mengirim pengintai juga… Itulah sumber kekhawatiranku (dan appa) awalnya.

“Jadi intinya semua aman terkendali, kan?” ibuku memastikan sekali lagi.

Aku mengangguk, “Um! Santai kayak di pantai, eomma…”

“Kamar kalian? Bagaimana?” tiba-tiba suara appa-ku sudah muncul begitu saja. Lhoo?? Kok ada appa juga??

Seperti mendengar teriakan di kepalaku, eomma-ku langsung menjawab, “Oh, maaf, Yora. Tadi begitu kamu telepon, eomma langsung sambungin ke RS appa. Dipesen kayak gitu soalnya sama appa-mu.”

“Ya sudah… cepat dijawab saja, Park Yora…” appa-ku mulai tak sabar.

“Yeppeun bang-iyeyo! (Kamarnya bagus, lho!) Besar, twin bed—“

“Apa? Twin bed?? Kalian… sekamar??”

Aku menjawab ragu, “I… ya, ada apa ya… appa? Twin bed ini kan… Nggak apa-apa kan jadinya…”

“APANYA YANG NGGAK APA-APA? PULANG, CEPAT!”

Aku seketika menjauhkan gagang telepon hotel itu dari telingaku. Ah… appa mulai lagi, deh… Apa jadinya kalau dia tahu kelakuanku yang suka menginap di tempat Siwon dulu-dulu? Buat aku sih, yang penting kami tidak melakukan ‘hal-hal yang tidak pantas’, kan? Apalagi ini twin bed, ranjangnya betul-betul terpisah. Waktu pertama tahu kalau Dongwoon memesan kamar seperti ini saja aku sudah legaaaa sekali. Dia pasti hanya ingin aku berada dalam jangkauan penjagaannya, tapi tetap tidak ingin melangkahi hubungan kami yang memang baru hitungan minggu (dengan tidak memesan kamar dengan satu ranjang).

Aku cuma diam saja, makanya Dongwoon merasa ada yang aneh denganku. Setelah bertanya, ia pun segera mengambil alih telepon itu tanpa bisa kucegah.

“Ahjussi, Dongwoon-igoyo. (Ahjussi, ini Dongwoon.)” sapanya sopan. “Ne… joisonghamnida, man, geokjeongmaseyo. (Ya… maaf, tapi Anda tidak perlu khawatir.) Saya hanya ingin menjaga Yora, karena seingat saya dia selalu punya masalah dengan tinggal di tempat baru, kan? Ne… geurobseumnida.  (Ya, betul.) Saya masih tahu bagaimana mengatasinya. Baiklah, ahjussi. Ne, saya akan menjaga Yora dengan baik. Terimakasih atas kepercayaannya. Ne… annyeonghaseyo.”

“Kamu masih ingat?” aku segera memburunya begitu ia selesai meletakkan kembali gagang telepon itu pada tempatnya.

Dongwoon tersenyum, “Bagaimana mungkin aku bisa lupa? Kamu bikin semua orang kalang kabut karena tiba-tiba mengigau sampai keringat dingin ketika tidur pas kita camping dulu. Justru aku yang nggak nyangka kalau kamu masih begitu sampai sekarang.”

Aku tertawa sebelum memeluknya erat, tanpa aba-aba. “Terima kasih, soulmate-ku…” ternyata memang berada dalam lindungannya lah tempatku yang paling nyaman.

 

***

 

CKREK!

Aku memotret Dongwoon yang sedang sibuk menulis kelanjutan bukunya di kafe kecil ini tanpa persetujuan darinya. Kami memang mengawali liburan kami setelah istirahat sejenak di hotel tadi dengan mencoba kafe ini, karena ia bilang ia sedang mood menulis dan butuh tempat. Dan satu lagi hobinya memang adalah fotografi, makanya ia juga selalu membawa kameranya kemana-mana, yang tentu saja ia anggurkan saat menulis ini makanya bisa kusabotase. Seketika ia menoleh dan kembali… CKREK! aku mengambil gambarnya lagi begitu saja dengan kamera profesionalnya itu.

“Ya, ya, ya…” ia menegurku dengan mengelus-elus poniku agak keras.

Aku manyun, “Habis kamu serius banget, nulis apa sih?”

Ia tersenyum seraya mengangkat pulpennya, “Novel.” Jawabnya singkat. Sebagai penulis, ia memang lebih suka menuliskan bagian-bagian isi bukunya terlebih dulu di kertas, baru kemudian nanti diketik bila sudah terkumpul banyak.

“Ya tahu… tentang apa?”

“Kita.”

Aku mengernyitkan alisku heran, “Kita?”

“Ya, kita. Judulnya aja SOULMATE tuh,” ia mengangkat agendanya itu dan menunjukkan halaman pertamanya, tulisan SOULMATE besar-besar yang diukir-ukir indah. “Karena menurut aku cerita kita indah banget, soulmate masa kecil yang terpisah, namun akhirnya tetap bersatu biarpun yang cewek sudah punya tunangan.”

“Ih nyindir.” Aku langsung buang muka. Ia tertawa lagi.

“Ya sudahlah, sudah masa lalu.” Ia menggenggam tanganku erat. “Yang penting gimana kita sekarang dan nanti kan?”

Aku mengangguk pasti, menyadari kalimatnya benar adanya. Maka aku pun segera menarik tangannya yang menggenggamku tadi, mengajaknya berdiri. “Yang penting gimana sekarang kita di Jepang ini, ayo ke Disneyland…!”

 

***

 

Pagi ini, aku membuka mata dan langsung terlihat ranjang Dongwoon yang sudah kosong di depan mataku. Buru-buru aku pun terbangun. Tak biasanya Dongwoon bangun lebih pagi dariku… Dan ketika aku mengecek kamar mandi, ia juga tak ada disana. Seketika aku panik, dan bahkan sudah nyaris menelepon front office untuk bertanya apa Dongwoon titip pesan disana kalau-kalau ia keluar tadi, ketika tiba-tiba ponselku berbunyi. MMS… dari Dongwoon?

“Hei, putri tidur, kecapekan seharian di Disneyland kemarin ya? Maaf aku pergi nggak bilang-bilang, kamunya nggak bisa dibangunin sih… Nggak tahu kan aku udah ngapain kamu apa aja? Hahaha :D—

Jreeng… buru-buru aku langsung mengecek keadaan tubuhku, baik di kaca maupun meraba-rabanya sendiri. Eh? Tak ada yang aneh kok… Semua ‘perangkat pakaian’ masih lengkap, tak ada bekas aneh-aneh. Fiuhh~ syukurlah… Eh, lho kok aku bersyukur? Memangnya aku mikir apa? *pipi langsung merah*

Maka aku segera melanjutkan membaca pesan Dongwoon tadi—yang di-enternya banyak sekali sampai aku tertipu tadi,

“YA~ Aku bercanda, kali… Aku keluar beli ini nih,

sekali-sekali romantis sedikit seru kali ya, biar nggak kalah sama mantan kamu *ups* :p Kalau kamu lihat pesan ini sebelum morning call dari front office, artinya kamu masih punya cukup waktu untuk mempercantik diri. Ah, nulis pesan panjang-panjang bikin pulsaku cepat habis, ada tarif roaming pula. Buka lemari aja ya. Dan perasaanku sesuai yang tertulis di foto di atas^^”

Aku senyum-senyum sendiri melihat MMS itu. Hei, kenapa itu rambutnya? Pasti dia juga baru bangun tidur pas pergi keluar tadi. Dasar. Hihi, tapi tak dipungkiri hatiku senaaaaang sekali. Dan lemari? Ada apa disana?

“Kertas?”

“Ini nomor telepon room service. Aku sudah titip sesuatu sama mereka, sana telepon, bilang kamu sudah bangun. –DW”

“Eeeh? Anak ini nggak praktis banget sih, kenapa nggak bilang di MMS tadi aja? Geez,” gerutuku sambil meraih gagang telepon kamar dan memencet angka sesuai kertas tadi.

Betul-betul hanya berkata kalau aku sudah bangun, tak berapa lama bel kamarku pun berbunyi.

“Yora-sama? Konnichiwa. Kore wa Dongwoon-sama kara moraimashita. Moratte kudasai. (Nona Yora? Selamat siang. Ini adalah titipan dari Tuan Dongwoon. Mohon diterima.)”

“Eh? H-Hai… Konni… chiwa? (Eh? Y-Ya… Selamat… siang?)” jawabku tergagap sambil menerima kotak besar itu, tak lupa buru-buru ngacir mencari dompet demi memberi tip untuk roomboy muda tadi. Ya ampun, ternyata aku betul-betul kesiangan, dengar saja sapaannya itu! -__-

Namun begitu kembali… roomboy tadi sudah menghilang. Disaat itu aku baru sadar kalau ada kertas lagi di dalam dompetku.

“Tenang, tenang… roomboy tadi sudah kukasih tip yang BANYAK kok. ;p –DW”

“Huahaha…” aku tak bisa lagi menahan tawaku. Dongwoon, kamu benar-benar… Aku tertawa sampai menitikkan airmata. Memang hanya Dongwoon yang bisa membuatku tersentuh sekaligus terhibur di saat yang bersamaan seperti ini…

 

 

“Hai.” Sapa Dongwoon yang mengenakan jas lengkap sambil melambai padaku yang menunggu di dermaga sebuah pantai yang entah-namanya-apa ini.

“Hai, hai…” gerutuku dengan bibir sukses maju beberapa senti. “Dasar Arab… lama banget sih?? Nggak praktis pula, kalau mau kasih gaun kenapa nggak ditaruh di lemari aja dari awal? Ini juga,” aku mengangkat sebuah tas kertas warna merah bermotif hati yang berisi dua kuntum mawar dan coklat, hadiah yang ia bilang baru dibelinya dalam MMS tadi. “…ini ada di depan pintu kamar, berarti kamu sempat balik kan? Tahu gitu kenapa nggak sekalian jemput aku aja, Jelek? Pakai acara minta tolong mobil hotel, mana aku lagi yang disuruh telepon sendiri. Dasar repot—“

KISS. Tiba-tiba bibirnya yang lembut sudah mengunci segala omelanku tentang kejutannya hari ini. Mataku masih terbelalak lebar, belum sadar dengan apa yang terjadi. Biarpun akhirnya… “Ya~” aku buru-buru mendorong tubuhnya menjauh. Sungguh, berciuman dengan soulmate-mu sendiri, belahan jiwamu, itu sungguh sangat aneh rasanya…

Dongwoon mencubit hidungku, “Habis kamu, dasar little miss bossy. Bawa-bawa ‘Arab’ segala, lagi… Memang kenapa kalau aku Arab? Wee,” ia menjulurkan lidahnya padaku.

“Wee.” Balasku juga, sebelum akhirnya kami tertawa bersama.

Ia mengelus rambut panjangku sambil menggandeng tanganku untuk ikut berjalan, “Maaf ya lama, yah, kendala bahasa deh.”

“Memang kamu habis ngapain?”

“Tepuk pramuka, cepetan.”

“EH??”

Ia memelototiku, “CE-PE-TAN.”

Keburu takut, aku pun mengikuti saja suruhannya. Prok prok prok, prok prok prok, prok-prok prok-prok prok-prok-prok! Kulakukan juga instruksi konyolnya itu. Dan seketika…

SRIINGG~ berbagai lampion aneka bentuk dan warna beterbangan di kanan dan kiri dermaga ini, seperti cerita di film animasi TANGLED yang sangat kusukai.

“WOW… Dongwoon, ini—“

Belum sirna rasa kagumku dengan ‘keajaiban tepuk pramuka’ tadi, tiba-tiba Dongwoon sudah menahan tanganku, dan berlutut begitu saja dengan sebelah tangan memegang sebuah kotak kecil bertuliskan Harry Winston yang berisi sebuah cincin. Persis, seperti kejadian dua minggu yang lalu.

“Masih ingat permintaanku ketika baru datang dulu, Yora? Kamu belum menjawab, dan kini, aku mau mengulang itu semua lagi. Menikahlah denganku, Park Yora. Kita soulmate, kan?”

Dan kini, tanpa perlu berpikir dua kali, aku mengangguk pasti. “Um! Kita soulmate.”

Karena kini aku yakin, ialah sumber kebahagiaanku… Soulmate-ku.

 

TBC

 

PS: Baru kali ini bikin SOULMATE dan saya puas dengan hasilnya… xixixi, semoga readers juga bisa suka ya^^

Advertisements
 
27 Comments

Posted by on July 6, 2011 in Super Junior, [THE SERIES]

 

Tags: , , ,

27 responses to “[THE SERIES] SOULMATE – Chapter 4

  1. chrisnagustyani

    July 6, 2011 at 10:28 pm

    bagus, bagus! Two thumbs up dh nyah! Uwoo ngebayangin si DW, jd melting aku *kyuditendang*

    ceritanya, so swit!
    tapi, si Yora tetep bkal blik ma Siwon kan? Pnasaran dh gmana kelanjtan’a, kasian siwon…

    ayo, lanjut next partnya!!

     
    • lolita309

      July 7, 2011 at 7:44 am

      aaang~ gomawo^^

      iyaa nih DW sweet bener… sweet tapi tetep kocak jadi ga enek hehehe :p

      iyaaa Yora sama Siwon… hint tentang endingnya udah ada di ch.ini kok, tapi kalau masih belom bs ditebak ya maap2 aja yaa hehehe, asal jgn kaget nanti pas baca ch.endingnya 😀

      sipp, next part! tapi aku lagi ada project dulu nih, biasa biar selang seling sm DBSK, jadi pasling nanti post yg itu dulu^^ makasi sayang uda baca 😀

       
      • chrisnagustyani

        July 13, 2011 at 8:17 pm

        jinjja?? di mana hintnya??? waduh bingung aku gak bisa nebak endingnya huhuhu

        aduh nyah, selama pulkan modem gak bisa dipaek jadi gak bisa OL,, derita anak kampung huhhu#curcol wwkwk

         
      • lolita309

        July 13, 2011 at 10:55 pm

        huahaha ya sudah lupakan saja masalah hint itu kkkkk~

        lagi pulkam kamu ciz? dimance oh dimance kampungmu? oleh-oleh cuuuuy hehehe *ditabok* XP
        wuaaa sabar yaa sayaaang~ terpencil amat apa gimana sampe ga bisa dipake gitu?

         
  2. hwangminmi

    July 7, 2011 at 7:08 am

    #eaeaeaea (?)

    Akhirnya eonni publish jg, yeah~~~ \(•ˆ▽ˆ•)/
    Lama deh nunggunya (‾_‾”) #apasih

    Yg bagian Dongwoon dipublish secepatnya ya eonni, SECEPATNYA! #maksa
    *kalo gak mau secepatnya silahkan tabok saiia #lho?*

    Agak gimana gitu baca part yg ini eonni, gak rela (?) aja gitu (‾_‾”)
    Ah, yg penting endingnya yora-siwon~
    -(‾▿‾)/ \(‾▿‾)-

    Dan seperti biasa, (FF) eonni daebak~ ~(˘▿˘~) ~(˘▿˘)~ (~˘▿˘)~ #gaje

     
    • lolita309

      July 7, 2011 at 7:51 am

      waaa ditungguin, makasi yaaa, maap lama^^

      sipp, pasti dipublish kok, tapi paling abis ini post ttg DBSK dulu ya biar selang seling 🙂

      btw uda nebak belum gimana kira2 endingnya? uda ada hint-nya kok di ch.ini. hehehe

      huahaha, gak rela ya? ih, gejala (?) WonRa shipper (?) nih sepertinya kk~ *plak :p

      wuaaaa gomawo sayaang, makasi uda baca+komen~ ~(˘▿˘~) ~(˘▿˘)~ (~˘▿˘)~

       
      • megumitm

        July 8, 2011 at 11:29 am

        Iya dong ditungguin, kehabisan FF yg bisa dibaca ni eonni ~(˘▿˘~) ~(˘▿˘)~ (~˘▿˘)~ #lho? #PLAK

        TVXQ? .__.
        Castnya siapa?
        Kalo gak suka gak baca deh (?) ƪ(˘⌣˘)┐ƪ(˘⌣˘)ʃ┌(˘⌣˘)ʃ

        Endingnya? Clue?
        Err….
        Gak tau .___.
        Tunggu publish aja baru aku tebak endingnya gimana eonni XD #apaandeh

        Apa? WonRa shipper?
        Ngaku gak yaaaaa~ #apasih XD
        Bahaya jg kalo kebanyakan jadi shipper (?)

        Komennya kepanjangan ini kayaknya -__-

         
      • lolita309

        July 8, 2011 at 5:50 pm

        ini anak kenapa kalo bales komen pake akun yg beda terus ya 0.o #lupakan

        aaaahh masa sih keabisan bacaan… kan forum2 ff banyak neng 😀

        tvxq all members (5 orang)^^

        jiaaahhh, tipe cewek yang nerima2 aja diapain aja (?) nih…. #PLAK :p

        hah? kebanyakan jadi shipper? walaah, tobat nak kkkkk~

        (maafkan juga balasan yang geje ampun2an ini ><)

         
  3. ms.o

    July 7, 2011 at 7:48 pm

    beneran? beneran sama si Arab itu? yaaa,,,kasian bang Siwon dunk,,

     
    • lolita309

      July 7, 2011 at 8:51 pm

      hehehe, beneran ga yaaa~ menurut kamu gimana? *author minta digampar* :p

      tapi beneran, kamu kira2 uda bisa nebak blm gimana endingnya? 😀

       
      • ms.o

        July 8, 2011 at 2:37 am

        to be honest nih eonn,,saiia juga belom tau endingnya,,kayaknya sama bang siwon(??)
        tapi kalo dari POV nya yora, kok dia pas yg di akhir2 part ini, udah mulai tenang2 aja sama dongwoon,,
        tapi, kan akhirnya tetep nikah sama Bang Siwon kan ya??
        #bingung strata dua,,,

         
      • lolita309

        July 8, 2011 at 8:47 am

        iyaa dong sama siwon, kan uda ada cerita mereka uda merit segala kkkk~ :p

        nah kan nah kan bingung.. karena kl disini yora emang milih dongwoon lho^^ clue-nya ada di pekerjaannya DW, selamat menebak^^

         
  4. Carrie Cho

    July 7, 2011 at 9:21 pm

    whoaaaah, kenapa pas aku baca bagian terakhirnya malah ngerasa sesuatu ngga enak -_-”
    ada bau-bau apa gitu (?) yang jelas ngga enak XDDD
    Siwon makan ati bet ya itu ~.~ berusaha tegar tapi susah hahaha. get well son, Siwon oppa. wkwk

     
    • lolita309

      July 8, 2011 at 8:50 am

      bau (?) ?? ah kamyu bisaaaa aja, kalo ga enak kasi kucing aja.. *apadeh *plak :p

      hu-uh, kecian aa iwon, sini sama akyu ajaaa~ huhuhu

      btw kira2 uda bisa nebak kah akhirnya gimana sayang? 😀 (nanya ke semua org XP)

       
  5. wiehj

    July 7, 2011 at 9:53 pm

    akhirnyaaa aq baca juga nii ff stlah bersusah payah nahan iman utk gag oL dr siang hahhahahaa
    haduuuuu, siwon nya kasian ntuuu….
    mau nangis rasanya pas baca bagian siwon-yora tlponan..
    ntu si siwon hatinya baik bangetttt!! aq klu nemu cowo berhati kayak dy sh gag akan penah ku sia2 kan.. huwaaaaa >,<
    tpi tpi tpi, si woonie juga sweet!! haahhaha, klu jd yora sih pasti akan dilemma juga dehh wkwkkwkw
    hmpp, ud ad hint nya di chpter ini?? hhmp *berfikir*
    ini nanti si yora yah yg mutusin klu dy gag bsa am woon?? karna walopun woonie ngertiin yora bgt tp dy cuman soulmate.. yora lebi mili woon karna si woon ntu soulmate tp bkan karena dy cinta kan?? jdiii, yang aq tebak yora akhirnya sadar klu yg dy cintai tuu siwon bukan si dongwoon.. soulmate bukan berarti mencintai kan?? iya gag sih cingu?? 😀
    miann klu mala ngegaje di komen ampe panjang2 bgini.. hhahahaahha
    gag sabar bgtt am next chapternya!! btw lagi bqin ff dbsk jga?? siapa cast nya?? *bharapsiuno* XD

     
    • lolita309

      July 8, 2011 at 8:59 am

      wuahaha, gimana ujiannya? semoga berhasil, ayo cepet susul org2 yg uda pada libur! XDD

      jrejreeeng~ siwon disini emg baik banget yaaa, padahal mah… *masi galau tweet siwon-agnes* #PLAK

      hahaha, dilema kan emang awalnya, biarpun akhirnya ttp milih DW.. 😀

      iya uda ada hint-nya, tp emang ada yg lupa aku tambahin jadi mungkin emg kurang jelas hint-nya huhu mian ><

      DDAENG!! masih kurang tepat… ayoo dicari lagi KENYATAANNYA kkk~ (ini clue loh XP)

      waaa gpp, aku malah suka digajein (?) gini XD iyaa cast-nya all members kok, ditunggu yaa 😀

       
      • wiehj

        July 9, 2011 at 2:31 pm

        ujiannya??berhasil dunnn, berhasil ngarang!! hhahahahah XDD
        1minggu lgi niih penantian ku berakhir… sedih yahh, disaat org2 ud pada libur aq mala masi uas TT.TT
        hhahahaha, jangan galau2 cingu.. siwon-agnes mah pasti cman hubungan teman hhahaha..
        nah loh?? sala yah dugaan gaje ku wkwkkw
        hmmp, apa yahhhh.. ‘kenyataanyya’ ‘kerjaannya dongwoon’ ntu clue?? ehhmm, *berfikirkeras*
        ahhh!! jangan2 si dongwoon gag bner2 serius yah am yora?? dy ngdeketin yora lagi demi dpet inspirasi buat nulis buku dy yg judulnya soulmate ntu?? cman demi buku nya terkesan lebi hidup gt critanya.. iyah gag sh?? *okeh saya mulai menggaje* hahhahaha
        reply via twider sajahh yahh lolaa, lage jarang oL laptop soale hahhaah XDD

         
      • lolita309

        July 13, 2011 at 11:38 pm

        bener ga yaaa? kita cek di ch.berikutnya aja yaaa hahaha 😀

        unyuuuu, semangat wie! kalo ngarangnya mentok, bikin ff aja sekalian! *PLAK*

        temenan macem apaa caper mulu begitu… ah tuh kan galau lagi. ayo lupa-lupa-lupa!!

        hehe, sipp, bales lewat aja boleh yg penting bales^^ makasi sayaang uda bacaa, cuuup! :*

         
  6. babyhae

    July 8, 2011 at 1:29 pm

    Ah,,,tadinya kupikir bisa lupa lho sama siwon pas liat caranya Dongwoon, tapi kok tetep kebayang siwon ya? *ditampar lagi* wkwkwk

    Sweet tapi ada lucunya, jadi kesannya fluff^^

    aaaa….penasaran sama lanjutannyaaaaa……akhirnya saya baca juga ini sampe ch. 4…maaf baru sempet Lola T____T

     
    • lolita309

      July 8, 2011 at 6:04 pm

      huahahaha, siwon kesannya gentle terus sih yaaa~ ah, tp lagi ga pgn ngomongin siwon deh, masi galau (?) #PLAK

      hehe, iya ya? romantisnya kurang niat nih DW kkk~

      iyaaaa gpp ko sayang, lebih baik telat drpd engga sm sekali kan? 😀
      how’s life? 🙂

       
  7. Oepieck

    July 9, 2011 at 12:49 am

    Aaiish!! Eonni sialaaan!!! *mintadigorok

    saking suksesnya eonni bikin ni chapter sampe aku tambah galau.
    Klo ngeliatin siwon, ngenesnya minta ampun. Tapi klo ngeliatin dongwoon yang perhatian itu kaya liat malaikat.
    Gak heran yora udah g pake mikir lagi langsung mau diajak kawin.
    Hwa, siwonie… Eottokae??? TT___________TT

    btw, suka bgt pas leeteuk ama eunhyuk kumpul jadi satu, kwkwkwksampe aku tambah galau.
    Klo ngeliatin siwon, ngenesnya minta ampun. Tapi klo ngeliatin dongwoon yang perhatian itu kaya liat malaikat.
    Gak heran yora udah g pake mikir lagi langsung mau diajak kawin.
    Hwa, siwonie… Eottokae??? TT___________TT

    btw, suka bgt pas leeteuk ama eunhyuk kumpul jadi satu, kwkwkwk

     
    • lolita309

      July 19, 2011 at 1:29 am

      haha, diajak kawin?? NIKAH! *plak :p

      hehe, pada kangen kan sama sodara2 ajaibnya yora? disini deh munculnya^^

      makasi sayang uda baca 😀

       
      • oepieck

        July 20, 2011 at 5:43 am

        sip eonni 😀

         
  8. chaeky

    July 11, 2011 at 8:51 am

    tambah rumit, yora gimana sih? baik2 aja tuh sama dongwoon.. cepet balikan sama siwon deh, kasihan si kuda #plak
    pas siwon ngomong saranghae saranghae saranghae jadi ingat fiction, kkk~
    lanjuuuuuuuut onn, jangan lama2 ya 😉

     
    • lolita309

      July 19, 2011 at 1:28 am

      itu emang keinspirasi fiction say hahahaha
      abis junhyung kayaknya dalem bener pas ngerap-in itu. SARANGHAE, SARANGHAE, SARANGHAE, bagian favorit aku!!

      makasi sayang uda baca^^

       
  9. Herizal Alwi

    December 17, 2011 at 2:20 pm

    Hm……

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: