RSS

PURPLE LINE

31 Jul

PURPLE LINE

Written by: Lolita Choi

Starring: all DBSK members

 

 

Alkisah, ada saat dimana bumi hanya terbagi menjadi dua wilayah, Timur dan Barat, yang dipisahkan oleh sebuah garis ungu yang disebut Purple Line. Timur dan Barat sangat saling membenci satu sama lain, entah karena apa. Purple Line pun disinyalir terbentuk dari darah para penduduk yang telah meng-ungu, hasil peperangan yang memang seringkali terjadi antar penduduk dua wilayah itu, yang pastinya tak pernah jelas siapa pemenangnya karena selain sama-sama kuat, masing-masing juga selalu mengklaim kalau diri kaum merekalah sang juara. Namun ada satu hal yang jelas dari peperangan itu: bahwa banyak sekali nyawa tersia-sia dan darah tertumpah hanya deminya, yang tentu juga makin mempertebal Purple Line dari masa ke masa.

Sampai suatu ketika, baik penduduk Timur dan Barat masing-masing sudah tak bisa lagi menahan rasa benci mereka satu sama lain. Tiap kali dua orang beda wilayah itu berpapasan, tak pelak pasti akan terjadi ribut besar, baik yang berpapasan itu anak-anak, wanita, ataupun pria dan para tetua. Setelah rembuk sengit, akhirnya diputuskan untuk menutup masing-masing wilayah pada batas Purple Line. Dengan apa menurut kalian? Tembok? Kawat? Itu tak akan mempan bagi penduduk dua wilayah yang sama-sama headstrong ini. Saking bencinya, mereka akhirnya memutuskan untuk membuat dinding tak terlihat, yang membuat daerah lawan menjadi juga tak terlihat dari daerahmu. Sehingga kedua wilayah pun merasa kalau merekalah satu-satunya kaum penghuni dunia dan tak perlu melihat kaum sebelah yang menurut masing-masing sangat bikin sakit mata.

Sihir yang saat itu masih melingkupi kehidupan semakin mendukung keputusan tersebut. Mantra-mantra kuat pun dikekalkan pada Purple Line sehingga akhirnya terciptalah ‘bumi’ seperti yang kita kenal sekarang, bumi yang damai dan satu. Hingga lambat laun, sejarah tentang Timur dan Barat pun menjadi kabur dan mulai terlupakan, dan tak pernah ada yang tahu lagi bekas bagian wilayah manakah bumi yang kita tempati: apakah kita keturunan Timur, ataukah Barat? Kuncinya hanya terletak pada batu tempat terukirnya mantra penyegel Purple Line, yang keberadaannya tidak pernah diketahui…

 

***

 

…Kecuali oleh satu orang.

It looks like Purple Line, gotta introduce myself!”

Hari ini Max kembali menyebutkan mantra pembuka Purple Line, garis ungu aneh yang ia temukan beberapa hari lalu ketika tak sengaja tersasar di hutan cukup jauh dari desanya. Mantra itu sendiri ia dapatkan dari sebuah batu dengan tulisan aneh di salah satu titik pada Purple Line, yang ia baru sadar kalau itu adalah tulisan kuno seperti yang pernah ia baca di salah satu buku di perpustakaan pusat desanya.

Dari sekadar iseng-iseng belaka membaca tulisan itu, terbukalah suatu keajaiban bagi Max. Begitu ia selesai mengucapkan kata terakhir kalimatnya, seketika pemandangan hutan di hadapannya mengabur sesuai batas garis ungu itu, dan DUKK! seketika keningnya menyapa sebuah dinding batu, yang tentunya, tadi tidak ada disitu. Oke, setidaknya, tidak pernah terlihat dari situ.

“Aduduh…” Max mengusap-usap kepalanya yang mulai benjol seraya menengadahkan kepalanya. Iapun baru tersadar… “Whoaaa!! Sejak kapan ada tebing disini??”

Dan memang benar, kini di hadapannya, sesuai batas garis ungu itu, tegak menjulang sebuah tebing abu-abu yang tak pernah ia lihat. Max pun celingak celinguk sana-sini, masih bingung dengan pemandangan baru itu dan kejadian aneh yang menimpanya. Dibelakangnya, hutan yang ia kenal masih ada, tapi kenapa pemandangan di hadapannya jadi seperti ini? Tak sengaja ia pun melihat sebuah mulut gua yang merupakan bagian tebing itu tak jauh dari tempatnya berdiri. Pertama sih pikir-pikir dulu, akankah ia masuk? Takut sih, tapi ternyata rasa ingin tahunya yang lebih kuat. Maka memberanikan diri, setelah sibuk rogoh kantong sana-sini mencari korek api untuk membakar kayu sebagai obor, Max pun akhirnya menyusuri gua itu. Yang akhirnya membawanya ke suatu keajaiban lagi…

“Waaaa~” pekik kagum Max langsung menyeruak begitu melihat keadaan yang ada di hadapannya lagi. Setelah sekitar 15 menit menyusuri gua gelap itu, sampailah ia pada ujungnya, yang ternyata adalah sebuah pasar dengan hiruk-pikuk khas kegiatan jual-belinya. Sebuah pasar, lingkungan, dan orang-orang yang tak pernah ia lihat, dengan pakaian yang tentu juga berbeda dengan model yang berkembang di tempatnya tinggal dan dibesarkan.

“Waahh… tapi ini bagus sekali…” Max menyentuh berbagai komoditi jualan di sana seraya berpikir: kenapa di tempatnya tidak pernah kepikiran membuat model pakaian dan aksesoris seperti ini, ya? Wah, pokoknya balik-balik nanti ia harus jadi trendsetter!

“Wah, pilihanmu bagus sekali, Nak. Itu baju yang bagus, cocok untuk pemuda tampan sepertimu. Bibi beri murah ya, 13 shilling saja.” Suara ramah penjualnya segera menyambut gumam Max barusan.

Mendengar kata ‘murah’, seketika Max pun merogoh kantongnya, siap-siap beli ketika ia tersadar kalau uang yang ia punya bukanlah pecahan… apa? Shilling? Ah… jangan bilang kalau selain model pakaian yang sedang tren, mata uang tempat ini juga berbeda dengan tempatnya? Sayang sekali…

Maka dengan wajah sedih Max pun menaruh kembali pakaian yang tadi ia pegang dan meminta maaf pada sang penjual, “Bibi maaf, aku—“

“Bi, aku beli ya. Ini.” Tiba-tiba suara seorang pemuda terdengar dari sebelah Max seiring tangannya yang menyerahkan beberapa keping uang pada bibi penjual baju tadi. Ia meraih baju yang baru diletakkan Max tadi dan menyerahkannya pada pria jangkung itu dengan tersenyum, “Ini. Kamu orang baru, ya? Aku Xiah, putra walikota disini.”

Max yang memang tak pernah menaruh curiga sedikit pun pada orang lain seketika membalas pria berambut hitam dan berpakaian rapi khas terpelajar itu dengan tatapan cerah dan anggukan, “Um! Xiah, aku Max! Wah… terima kasih ya, kamu baik banget deh.”

Xiah tersenyum seraya memimpin jalan mereka, “Sudah kewajibanku sebagai putra walikota buat ramah sama tamu hahaha. Oh ya, kamu sama siapa kemari? Dalam rangka apa? Jalan-jalan? Studi?”

“Sendiri.” Jawab Max singkat. “Entahlah, aku tersasar. Sepertinya. Eh, omong-omong, ini dimana sih?”

“Tersasar? Haha, harusnya sudah kuduga, pasti itu alasannya kamu nggak bisa beli baju tadi kan?” Xiah tertawa kecil. “Disini, kota Sunderfield. Memang kamu dari mana? Ke rumahku deh, ayahku, atau setidaknya kakakku pasti tahu apa yang harus kamu lakukan.” Usul Xiah sambil langsung menarik tangan Max tanpa aba-aba.

“Aku dari desa di sana, di Cassioville. Sebetulnya sih aku tahu gimana aku bisa pulang—waaaa, Xiah tunggu dulu…!”

 

 

“Cassioville?” Hero, kakak Xiah, seketika mengernyitkan keningnya begitu mendengar asal-usul pemuda jangkung yang umurnya pasti tak lebih dari adiknya itu. “Entahlah, sejauh buku-buku geografi negeri ini yang aku pelajari, sepertinya aku belum pernah dengar nama tempat itu… Kamu yakin letaknya dekat dari sini?”

Max mengangguk dengan mulut dan tangan yang  masih penuh dengan kue-kue yang disajikan di kediaman walikota itu. Yah, biarpun si empunya rumah memang sedang tak ada makanya dia cuma bisa dipertemukan dengan putra sulungnya saja. “Um, di belakang tebing di dekat pasar itu. Kamu masuk ke guanya aja, nanti ketemu hutan. Itu sudah wilayah Cassioville.” Katanya setelah berhasil menelan kunyahan di mulutnya, sebelum kembali melahap kudapan lain yang tersedia. Max memang hobi makan, yang sama sekali bertolak belakang dengan tubuh kurusnya.

Hero kembali menunjukkan wajah bingung, “Tebing itu batas akhir negeri ini, nggak ada wilayah lagi disana…”

“Ada kok.” Angguk Max cepat. “Ah, sudah mau malam, aku harus pulang! Xiah, Kak Hero, aku pulang dulu ya. Kapan-kapan aku boleh main kesini lagi kan? Nanti aku ajak tetangga yang sudah kuanggap kakakku sendiri, dia sepertinya seumur Kak Hero lho, kalian pasti bisa cepat akrab. Sudah dulu ya, sampai jumpa.”

“Ah, Max, mau diantar?” Seru Xiah buru-buru sebelum Max hilang dari pandangan, khawatir akan teman barunya itu.

“Nggak usah!” Seru Max juga dari kejauhan seraya tersenyum. “Sekali lagi makasih buat bajunya ya, Xiah! Dah!”

“Dah…” Balas Xiah pelan, cuma mampu bengong saking cepatnya Max datang dan pergi seperti itu.

Sementara di belakangnya, sang kakak masih berpikir keras, sibuk mencerna semua perkataan Max yang belum juga habis dipikirnya, “Cassioville… Ah, Xiah, aku mau ke perpustakaan dulu mengecek buku-buku geografi lagi. Tapi tolong, selagi aku memastikan semuanya, jangan dulu berteman terlalu dekat dengan Max. Dia… sepertinya agak aneh.”

Xiah mengangguk seraya menatap Hero polos, “Kalau masalah aneh, dari awal ketemu dia juga aku sudah tahu, Kak…”

 

Sementara itu di Purple Line,

Max yang sudah berhasil melintasi garis ungu itu masih terdiam di tempatnya, menatap aneh perbedaan pemandangan antara wilayahnya dan wilayah Sunderfield. Bagaimana mungkin dulu wilayah itu bisa tak terlihat? Bagaimana mungkin ada dua wilayah bisa setengah-setengah begini? Satu hutan, satu tebing, pas betul pula batasnya ada di garis ungu ini. Sampai sekarang pun dia masih belum habis pikir… Maka alih-alih lanjut berjalan pulang, Max malah kembali ke garis ungu itu, mencoba meletakkan kakinya sebelah-sebelah di masing-masing wilayah.

Err… rasanya aneh sekali, seperti badanmu dibelah dua, sungguh! Merinding, Max pun buru-buru kabur untuk menceritakan pengalaman anehnya pada tetangga yang sudah dianggapnya kakak sendiri itu, seorang terpelajar muda desanya, Yuno.

 

***

 

Dan begitulah awal petualangan Max melintasi Purple Line, dan kembali lagi ke cerita awal, kini dia memang sudah terbiasa lompat wilayah seperti itu. Apalagi setelah juga mengajak Yuno. Dari Yuno yang pintar pulalah Max sadar kalau ada satu mantra lagi di batu tulisan itu, yang ternyata merupakan mantra penutup Purple Line. Dan selayaknya etika membuka pintu, kita pun harus menutupnya sendiri, maka Yuno pun menyarankan Max maupun tiga kenalan baru mereka—Xiah, Hero, dan Micky teman sekolah Xiah—untuk selalu menutup juga Purple Line setiap kembali dari petualangan mereka.

Ya, setelah hari pertama itu, setiap hari di waktu yang sama Max jadi suka bermain ke wilayah sebelah, baik dengan ataupun tanpa Yuno. Tiap hari pun ia jadi makin dekat dengan Xiah dan Hero—yang akhirnya telah putus asa mencari kebenaran tentang Cassioville karena sama sekali tak ada buku yang membahasnya—juga Micky yang ternyata juga sering bermain ke rumah Xiah. Dan benar prediksi Max, Hero dan Yuno juga langsung akrab sejak pertama kali mereka bertemu karena usia mereka yang sebaya. Tahu Yuno juga suka membaca, tiap giliran Xiah dkk yang berkunjung ke Cassioville pun Hero selalu langsung kabur ke perpustakaan dengan Yuno, meninggalkan tiga anak yang lebih kecil bermain-main ataupun jalan-jalan.

“Oke, kita pulang dulu ya.” Max dan Yuno melambaikan tangan mereka pada Xiah, Hero, dan Micky yang mengantar sampai batas Purple Line. Sekarang mereka bahkan sudah melupakan keanehan batas wilayah dengan pemandangan yang sama sekali berbeda itu. Yang penting adalah persahabatan, karena ikatan layaknya saudara seperti langsung terbentuk di antara mereka bahkan hanya beberapa hari sejak bertemu.

“Iya, hati-hati.” Jawab Hero sembari juga melambaikan tangannya.

“Eh, tunggu.” Sergah Micky begitu Max dan Yuno sudah siap pergi. “Besok siapa yang mau main ke tempat siapa? Bukannya batas ini nggak bisa dibuka selain oleh orang yang ada di wilayah orang yang terakhir menutupnya ya?”

“Ah ya, lupa.” Yuno langsung berbalik begitu mendengar perkataan Micky itu. Sesuai pengalaman mereka, batas wilayah ini memang hanya bisa dibuka oleh orang di bagian yang terakhir menutupnya, misalnya jika sekarang yang menutup adalah Max, maka yang bisa membukanya kembali juga adalah orang Cassioville, bisa Max maupun siapa saja, pokoknya orang yang berasal dari tempat dimana batas itu terakhir ditutup. “Kalian aja gimana? Sepertinya besok aku agak sibuk, mau ada ujian negara. Kalau Hero mau, dia bisa bantu aku sih, kayaknya aku akan ada di perpus seharian.”

Hero mengangguk mantap, “Sip, besok aku cari ke perpus ya.”

“Okelah, jadi sudah fix ya, sekarang kita tutup dulu. Dah Max, Kak Yuno, sampai ketemu besok ya!” seru Xiah sebelum mengangguk pada kakak dan temannya. Baiklah… mereka siap. “Purple Line, let me set up my world!” teriak mereka bersama.

Dan… SIING~ Seketika pemandangan di hadapan Micky, Xiah, dan Hero pun kembali seperti semula, kumpulan tebing batu, bukan lagi setengah-setengah antara hutan dan sebuah tebing. Seperti memang yang tersebut di dalamnya, mantra penutup Purple Line memang seperti diciptakan untuk membuat dunia sendiri bagi masing-masing wilayah. Dan hanya ini juga satu hal yang masih belum dapat diterima akal sehat Hero maupun Yuno (karena sebetulnya selama ini mereka selalu berkutat di perpus berduaan adalah untuk mencari lagi asal-usul Purple Line), untuk apa menciptakan dunia masing-masing? Pasti ada sesuatu alasan di baliknya, dan itulah yang ingin sekali mereka cari tahu…

“Yuno!” Hero menyapa Yuno yang sedang sibuk mencari-cari buku di salah satu rak perpustakaan begitu ia sampai di wilayah ini. Yuno segera menolah saat mendengar suara sahabat barunya itu.

“Hei, Hero! Yang lain mana?”

“Main, seperti biasa. Oh ya… bicara tentang main, kalau Micky dan Xiah kan memang baru libur sekolah dua-tiga hari ini… Tapi sepertinya Max kok waktunya luang terus ya? Dia nggak sekolah?”

Yuno langsung tertawa kecil mendengar pertanyaan Hero, “Haha, disini nggak pakai sistem sekolah… Lebih kepada anak yang sudah siap, dia akan mencari guru sendiri dan belajar. Nanti ada yang namanya ujian negara seperti yang mau aku ikuti ini, disitu baru kemampuan kita akan dites. Dan bicara tentang siap nggak siap… sepertinya Max kita termasuk di kategori kedua. Anak itu memang hobinya main terus sih.” Gerutu Yuno sambil geleng-geleng kepala memikirkan nasib anak tetangga yang sudah dianggapnya adik itu. Hero tertawa terbahak-bahak—sebelum sadar kalau mereka ada di perpustakaan dan buru-buru mengunci mulutnya.

“Ah ya, memang besok kamu mau ada ujian apa?” tanya Hero sambil mengambil acak sebuah buku dari rak di depannya dan membolak-baliknya.

“Aritmatika.” Jawab Yuno seraya berjalan dan duduk di kursi yang sudah disediakan di perpustakaan itu. Hero mengikutinya. “Oh, ini buku yang kemarin kita baca bareng-bareng. Kamu masih penasaran ya?” lanjutnya seraya menyerahkan sebuah buku tua pada Hero.

Hero buru-buru meletakkan buku yang barusan masih dipegangnya dan menyambut buku tua itu. “Thanks. Iya nih, masih. Memangnya kamu nggak?”

“Masih, sih.” Jawab Yuno yang sudah sibuk dengan bacaan ujiannya. “Tapi sudah mau ujian, aku berhenti dulu deh penasarannya.”

“Nah, kalau gitu aku yang lanjutin.” Balas Hero sambil tersenyum. “Tapi betul deh, perpustakaan desamu sepertinya lebih lengkap dari di kotaku… Ah~ ini menyenangkan sekali^^”

Yuno melirik sekilas dari bacaannya dan seketika mengulum senyum melihat ekspresi bahagia sahabatnya itu dikelilingi buku-buku. Ah, tapi… mendengar pernyataan Hero tadi, ia jadi penasaran…

“Hero–”

“Yuno–” mereka berdua saling memanggil di waktu bersamaan, sebelum akhirnya tertawa bareng. “Duluan.” Suruh Hero.

“Ah, ya.” Respon Yuno. “Tentang Sunderfield… Apa kotamu termasuk kota kecil? Habis tadi kamu bilang koleksi perpustakaan desaku ini bahkan lebih banyak dari kotamu…”

Hero berpikir sebentar, “Nggak juga sih. Malah kota kami itu ibukota negara. Peiaground. Tapi sepertinya jaman dulu di tempat kami, intelektual memang nggak begitu diperhatikan sih, terbukti dengan koleksi literaturnya yang memang sedikit. Makanya sekarang-sekarang ini sekolah betul-betul digalakkan buat semua generasi muda. Ayahku salah satu pemrakarsanya lho^^”

“Begitu kah…” respon Yuno sambil mengangguk-angguk. “Nah, oh ya, tadi kamu mau tanya apa?”

Ditanya begitu, Hero malah sibuk menerawang ke langit-langit seraya menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal, “Apa ya…? Hehe, lupa. Maaf.”

Yuno cuma bisa tertawa kecil sambil mengangkat bahu sebelum kembali ke bacaannya, “Dasar.”

Tapi belum berapa lama, terlihat mata Hero yang mulai membesar pasca ia juga melanjutkan bacaannya di buku sejarah Cassioville. “Yuno, Yuno!!” Ia mulai memukul-mukul lengan sahabatnya, sebelum akhirnya menghentikannya sendiri.

“Ya?”

Hero cepat-cepat menggeleng, mengurungkan niatnya memberitahu Yuno tentang apa yang barusan ia temui. “Nggak, nggak ada apa-apa.”

Yuno mengerutkan keningnya heran, “Kamu kenapa sih? Aneh dari tadi.”

“Hehe.” Hero hanya bisa terkekeh kaku sebagai respon. Tapi di dalam hatinya, ia sangat mempertanyakan maksud sebuah catatan dalam buku yang ia baca tadi:

 

“Belahan Timur, atau yang sekarang adalah Cassioville kita adalah bangsa pemenang dan terpelajar. Kita telah berhasil memusnahkan Belahan Barat di seberang Purple Line, namun satu-satunya yang diambil pejuang Cassioville dari mereka hanyalah segala koleksi pengetahuan–“

 

Belahan Barat? Timur? Seberang Purple Line? Mengambil koleksi pengetahuan? Apa maksudnya semua ini?? Apa itu artinya, di negeri tempat Sunderfield ada, dulunya intelektual bukannya tidak digalakkan, tapi dicuri??

 

***

 

“Ayah,” panggil Hero pada sang ayah yang sedang menyesap kopinya di pagi hari itu.

“Hm?”

“Apa… Ayah tahu tentang… Purple Line? Atau Belahan Barat dan Timur…?”

“Uhuk!” Segera, ayah Hero, si walikota Sunderfield tersedak begitu mendengar pertanyaan putra sulungnya. “Dari mana kamu dengar tentang itu, Hero?”

“Sebetulnya…”

Dan secepatnya, cerita pun mengalir dari mulut Hero tentang Purple Line, Cassioville, Yuno dan Max, persahabatan mereka berlima termasuk Micky, hingga penemuan Hero dalam buku sejarah Cassioville kemarin. Mendengar penuturan putranya, sedikit demi sedikit ketakutan pun mulai jelas terbaca dari wajah sang walikota.

“…aku hanya penasaran, apa mungkin yang dimaksud Belahan Barat itu negeri kita–”

“Tinggalkan mereka, Hero!! Jangan pernah menyeberang kesana lagi! Dan katakan juga itu pada adikmu dan Micky!!”

“Tapi kenapa, Yah?” Sergah Hero. “Apa benar mereka mencuri semua pengetahuan kita? Kalau begitu, berarti mereka jahat? Rahasia apa sebenarnya yang tersembunyi di balik tabir Purple Line, Ayah??”

Sir Sijes, sang ayah, akhirnya mengatur napasnya, merasa kalau sudah saatnya ia memang harus menjelaskan ini pada sang anak, sekaligus menurunkan juga cerita turun temurun yang memang hanya dipegang keluarga mereka sebagai juru kunci negara Peiaground, atau… tidak,  lebih tepatnya, Belahan Barat.

“Jadi, bukan seperti yang selama ini kita sadari, bumi bukanlah seluruhnya negeri Peiaground kita. Ada sebuah wilayah lagi, tersembunyi di balik dinding tak terlihat Purple Line. Ya, Belahan Timur, atau mungkin kamu sebut sekarang, Cassioville itu.

“Sama sekali tak pernah ada kata tenang dan damai antara kaum kita dan mereka sebelum dinding Purple Line dibentuk. Tak seharipun lewat tanpa perselisihan, dan Purple Line pun, kamu tahu dari apa garis itu terbentuk?”

Hero menggeleng.

“Darah manusia. Hasil peperangan berkelanjutan yang terus terjadi antara kita.”

Siingg~ Seketika bulu kuduk Hero terasa merinding mendengarnya. Dan satu per satu, rahasia Purple Line dan dinding tak terlihatnya pun terkuak. Betapa ternyata penyebab peperangan itu adalah kebiasaan Belahan Timur yang selalu menculik bayi-bayi lelaki Barat demi membangun dan memperbesar angkatan perang dan cendekiawan mereka, dengan cara mendidik bayi-bayi itu sebagai pemuda Timur dan mendoktrin mereka untuk menghancurkan Barat, tanpa mereka sadari kalau itu adalah tanah kelahiran mereka sendiri. Dan setelah dinding Purple Line terbentuk demi menjembatani perselisihan turun temurun yang selalu mengelilingi mereka, Barat pun akhirnya juga sepakat untuk membiarkan Timur mengambil semua koleksi pengetahuan mereka dengan syarat agar selamanya, Purple Line tidak boleh diketahui keberadaannya sehingga tak akan ada lagi warga Timur yang menculik bayi-bayi Barat lagi. Dan semua itu dipenuhi, terbukti bahkan ayah Hero yang seorang pemegang kunci kisah asli Purple Line pun tidak pernah tahu dimana letak dinding tak terlihat itu…

Hero tak kuasa menahan diri untuk tidak menganga maupun membelalak mendengar semua penuturan ayahnya sendiri. Jadi ternyata selama ini… misteri mantra itu pun: let me set up my world, menciptakan dunia mereka sendiri, semua karena mereka muak hidup bersama tapi selalu berselisih… Dan biang keroknya… Timur? Tanah leluhur Yuno dan Max?? “Tapi Ayah, mungkin saja itu hanya cerita bikinan, karena kenapa negeri kita terlihat seperti yang tertindas, yang murah hati, biasanya begitu kan?” Hero masih bersikeras tidak ingin mempercayai itu semua. Masalahnya selama ini orang-orang Cassioville, Yuno dan Max, mereka sama sekali tidak pernah jahat padanya…

“Itu kenyataannya, Hero. Tak ada yang bisa kamu ubah.” Yakin Sir Sijes sambil memegang kedua bahu sang anak dan menatap pemuda berambut sebahu itu tepat di kedua matanya.

Hero menghindari pandangan itu, menyadari ayahnya bukanlah tipe pembohong, ia tidak mungkin mengatakan hal yang bukan sebenarnya, apalagi yang menjelek-jelekkan pihak lain seperti ini. Tapi ia sungguh tidak ingin percaya… “Tidak, Yah. Yuno dan Max, mereka baik, mereka–”

“Cerita apa tadi semua??” Tiba-tiba Xiah dan Micky sudah membuka pintu tinggi ruang keluarga kediaman walikota Sunderfield itu begitu saja dengan pandangan kaget.

Hero dan ayahnya segera menoleh ke dua pemuda yang masih berada di penghujung belasannya itu dengan kaget pula. Sejak kapan mereka ada disana dan mendengarkan??

Xiah dan Micky cepat-cepat menghampiri mereka, “Kak, apa maksudnya semua cerita tadi?? Jelaskan pada kami, dan kenapa Kak Hero nggak pernah cerita tentang penemuan kakak di perpustakaan Cassioville itu?” Desak Micky lebih dulu.

Hero hanya bisa menggeleng dalam diam, karena ia disini juga hanyalah pendengar, kan? Ia sama sekali tak tahu apa-apa… Tak tahu kalau semua akan jadi seperti ini…

“Kak, jelaskan!! Yah, Ayah…” Kini giliran Xiah mengguncang-guncang bahu kakak semata wayangnya, sebelum akhirnya berganti pada sang ayah sejak kakaknya itu sama sekali belum memberikan respon berarti. “Ayah, aku mohon… Max… Max tidak mungkin orang jahat, kan?? Max…”

“Ayah tak tahu, Xiah. Teman kalian Yuno dan Max itu, mungkin mereka memang tidak pernah jahat pada kalian, tapi tak ada yang pernah tahu… Di dalam darah mereka mengalir darah barbar Timur, semua bisa saja terjadi, apalagi kalau mereka sampai tahu tentang kisah asli ini…”

“Jadi Sir, apa yang sebaiknya kami lakukan? Yuno dan Max adalah sahabat berharga kami–”

“Tutup Purple Line selamanya, Micky.” Sir Sijes segera memotong pertanyaan pemuda itu. “Itu hal terbaik yang bisa kalian lakukan untuk mereka, dan juga warga Peiaground. Kalian tak pernah tahu kan selama kalian membuka Purple Line, sepanjang garis itu juga ikut terbuka, bukan hanya Sunderfield… Kita tak akan pernah tahu jika ada warga wilayah Peiaground lain yang menyeberang, maupun warga Cassioville yang mungkin berniat jahat seperti akar leluhur mereka…”

“Tapi, Yah…” Xiah yang memang sangat menyayangi Max seperti adiknya sendiri masih berusaha menyangkal itu semua. Max dan Yuno orang yang baik, kenapa mereka harus berpisah hanya karena masalah leluhur seperti ini?? Ia tak bisa menerimanya…

“Setidaknya, izinkan kami berpamitan, Yah. Untuk terakhir kalinya.” Memejamkan matanya, Hero mengatakan hal itu dengan tegas. Biarpun menyakitkan karena harus berpisah dengan sahabat yang mereka sayangi, tapi ia tahu, kalau ini memang yang terbaik untuk semuanya. Ia–mereka–tidak boleh egois dan hanya memikirkan diri mereka sendiri, bukan?

Micky dan Xiah segera menoleh tak percaya ke arah pemuda itu, “Kak…!”

“Kita nggak boleh egois, Micky, Xiah. Ini yang terbaik…” Terang Hero.

“Sayangnya, akan lebih baik jika kalian melakukan itu tanpa berpamitan, anak-anak.”

“Ayah, jangan mulai lagi…!” Xiah mulai merajuk.

“Bayangkan apa yang akan kalian katakan pada mereka? Kalian tak mungkin menceritakan kisah ini, itu hanya membangkitkan permasalahan lama. Akan lebih baik, sangat baik, jika mereka tetap tak tahu seperti sekarang, bukan?”

Semua terdiam, menyadari itu benar adanya. Selalu bijak, seperti yang dapat diperkirakan dari seorang walikota Sunderfield yang terhormat.

“Baik Yah, aku mengerti.” Hero terlebih dulu memecah kesunyian. Xiah dan Micky terlihat sudah akan protes, tapi mereka segera mengurungkannya lagi. Semua tak akan berguna lagi sekarang. “Seperti yang sudah kuceritakan tadi, hari ini giliran Yuno dan Max yang berkunjung kemari. Jadi mari kita lakukan penutupan setelah mereka pulang, dengan dalih kita yang akan main ke Cassioville besok. Bagaimana?”

“Kalian selalu berkunjung di waktu yang sama kan?” Tiba-tiba Sir Sijes bertanya balik.

Ketiga pemuda di hadapannya menatapnya heran. “Ya, memang kenapa?”

“Kalian bisa melakukan penutupan itu tepat ketika mereka membuka Purple Line, sebelum mereka sempat menyeberang kemari.” Kata Sir Sijes dingin.

Yang tentu saja langsung mendapat respon panas dari masing-masing anak itu… “Tepat di hadapan mereka? Tanpa mereka tahu apa-apa? Sir, itu kejam sekali–”

“Kita tak bisa membiarkan Purple Line terbuka lagi walaupun sebentar, kalian selalu baru menutupnya lagi setelah bermain, kan? Bayangkan dalam beberapa jam itu berapa banyak kemungkinan orang lain menyeberang, Nak! Kita tak bisa membiarkan itu lagi…”

Terlihat Micky, Hero, dan Xiah yang kini sudah menundukkan kepala masing-masing, mencoba menahan semua emosi kesedihan akan kenyataan dan takdir bertubi-tubi yang harus mereka terima hari ini. Kenapa, kenapa hanya karena perselisihan masa lalu persahabatan mereka juga harus terbawa-bawa??

“Baik, Yah… Baik. Kami… mengerti.”

Biarpun selamanya mereka yakin mereka tak akan pernah bisa mengerti…

 

Maka, sebelum pukul 3 sore, waktu biasanya mereka menyeberang untuk bermain, Micky, Hero, Xiah, dan sang walikota sudah tiba lebih dulu di balik tebing tempat dinding tak terlihat pemisah Timur dan Barat itu berada. Segera, Sir Sijes mengenali batu tempat mantra Purple Line tertulis yang teronggok tepat di hadapannya. Batu yang selama ini hanya ia dengar dari kisah turun-temurun yang keluarganya wariskan itu…

“Jadi ternyata batu itu disini… Di Sunderfield…” Gumamnya takjub.

“Di Sunderfield dan desa kami, lebih tepatnya.”

Siiingg~ seketika pemandangan tebing-tebing dari bagian Sunderfield pun menghilang, terganti dengan rerimbunan hutan yang hijau dan rapat. Terlihat dua orang pemuda berperawakan tinggi tersenyum seraya melambai ke arah mereka. Ternyata itu suara Yuno.

Sir Sijes segera bangkit dari jongkoknya di hadapan batu itu dan beralih ke balik tiga orang pemuda yang datang bersamanya kesini: Hero, Micky, dan Xiah, mencoba memberi kekuatan dan rasa yakin pada mereka untuk melakukan apa yang akan mereka lakukan ini.

“Micky, Xiah!” Sapa Max yang tidak tahu apa-apa riang, seraya sudah akan melangkahkan kakinya mendekati wilayah Sunderfield.

Setitik airmata terlihat menitik dari sudut mata Micky, sebelum ia berucap “Max, maafkan kami…” dengan lirih.

Max mengerutkan dahinya heran, “Kenapa? Dan siapa paman itu–”

Purple Line, let me set up my world!!” Teriakan serentak Micky, Hero, dan Xiah yang kesemuanya bahkan tak sanggup mengucapkannya dengan mata terbuka sontak bergaung di antara tebing-tebing Sunderfield. Angin kencang seketika berhembus meniup dedaunan di pohon-pohon tinggi hutan Cassioville seakan mengiringi keputusan klimaks mereka itu, sementara Yuno dan Max hanya bisa menganga, tak mengerti apa yang sedang terjadi.

“Hero, Micky, Xiah, apa yang kalian lakukan?? Apa maksud–”

FLAP. Tertutupnya kembali Purple Line dengan sempurna sekaligus memotong juga tanya Yuno dan Max yang tak sempat terjawab. Dan seperti terkuncinya lagi dinding tak terlihat dan kedap suara Purple Line, seperti itu pulalah kini kewajiban yang harus ditampuk tiga pemuda Sunderfield kita. Selamanya, mereka kini juga harus mengunci hati masing-masing untuk tak tergoda membuka lagi apa yang sudah mereka tutup. Karena kini, selama tak ada lagi warga Peiaground yang bisa menemukan batu mantra itu, hanya merekalah juru kunci Purple Line yang legendaris. Hero, Micky, dan Xiah, tiga pemuda yang sudah dipaksa menukar persahabatan mereka dengan kedamaian abadi bagi kedua wilayah: Barat dan Timur…

 

END

 

picture credit as tagged. <– ketauan bgt males bikin poster sendiri kkkkk XD

dan ini adalah genre fantasy pertamaku setelah terakhir kali nulis beginian di zaman SD, jadi mohon kritik dan saran^^

oh ya, kalau ada yg nebak, bener banget ini ttg “perpisahan yang tak diinginkan” dalam DBSK 😥

Advertisements
 
10 Comments

Posted by on July 31, 2011 in DBSK, [SONGFIC]

 

Tags: , , , , , ,

10 responses to “PURPLE LINE

  1. chrisnagustyani

    July 31, 2011 at 6:26 pm

    oh, jadi ini toh yg d twitter it nyah?? Fantasy? Hmm idenya unik nyah, cuma kurang tokoh cewek’a << apa2an ini (?)

    endingnya… Benar2 tdak diharapkan, sama seperti perpisahan DBSK…

    jd ini kayak analogi sama kisah nyata mreka gt ya nyah?

     
    • lolita309

      July 31, 2011 at 6:52 pm

      Hahaha, kebiasaan baca ff romance ya? Apa saya yg keseringan bikin ff romance? Kkkk~ XD

      Ga analogi bgt sih say, tadinya aku mau bikin yg bnr2 tragedi, yg analogi bgt, jd awalnya mereka tinggal di wilayah yg sama tp nantinya JYJ mutusin bwt pindah ke seberang gt aja… Tp ga jadi. Takut menyinggung cassie2 laen hehe 😀

      Makasi sayang uda baca ~(˘▽˘~)(~˘▽˘)~

       
  2. wiehj

    July 31, 2011 at 11:55 pm

    pas baca ending nya aq serasa mau nangis.. keinget lagi am mreka.. :((
    aq gag bsa komen banyak, bingung bgtt mau komen apa.. *akibatsedih* :p
    sampe skrg bner2 kepikiran bsa kah ntu homin dan jyj bareng lagi jd dbsk.. yah ato paling gag gag kayak musuhan gnii.. hiksshikss :((

     
    • lolita309

      August 1, 2011 at 6:56 pm

      Bisakah mereka balik lagi?
      Tiap kali dgr pertanyaan itu aku rasanya pengen bgt teriak BISA! Tp kalo mau realistis, rasanya kemungkinannya kecil bgt.. Tp kl mikirin itu, rasanya aku jd ga mau jd org yg realistis.. ​‎​‎​(-̩̩̩-͡ ̗–̩̩̩͡ )

      Iyaa skrg ky musuhan.. Terutama dr pihak homin. Aku gatau itu dr SM ato gmn, tp mreka ga prnh ngomongin anak JYJ sm sekali. Aku hrp mereka cpt pny akun social network biar bs express prasaan mreka sndri dh ky JJ yg blg kgn mereka wktu itu..

       
  3. oepieck

    August 1, 2011 at 1:39 pm

    ya allah, nyesek baca endingnya…
    huwuwuw~
    eonni kreatif banget deh bikinnya, bisa nyambung sama realita
    bener-bener berharap mereka balik berlima lagi…. 😦

     
    • lolita309

      August 1, 2011 at 7:03 pm

      Makasi sayaang 🙂

      Hu-uh, aku (dan pastinya semua Cassie) sebetulnya msh nyayangin banget pisahnya mereka, makanya aku bikin cerita ini… Tp dimata aku ya DBSK ttp 5, ga ada 2 atau 3 😦

       
      • oepieck

        August 2, 2011 at 6:58 pm

        setuju!!
        T_________T

         
  4. hwangminmi

    August 1, 2011 at 4:38 pm

    he…
    sad ending ternyata T^T

    lanjutin eonni biar jadi happy ending! #maksa >.<

    ah tapi yg penting keren deh~ XD

     
    • lolita309

      August 2, 2011 at 11:20 pm

      iyaaa sad end T^T

      jiaaah pegimana lanjutinnya kalo begini mah? paling2 after story hahaha

      aaaaa gomawo cups :*

       
  5. @sysie14

    February 6, 2013 at 6:37 pm

    buat FF DBSK lg thoorrr 😀
    i luph yooouuu :*

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: