RSS

[THE SERIES] HAPPINESS

30 Jul

HAPPINESS

Written by: Lolita Choi

Starring: SJโ€™s Han Geng

(Sorry, but as for me, Han will always be part of SJ forever hehe^^

“Sojin-ssi masuk RS hari ini, tapi dia tak mau melahirkan kecuali kamu datang.”

Pesan singkat yang baru saja masuk ke dalam ponselku seketika membuatku bimbang setengah mati. Sojin berulah lagi… Padahal dia tahu sekali aku tak akan bisa muncul ke muka publik bersamanya. Biarpun aku juga tahu bahwa pasti berat sekali memiliki suami yang tak pernah bisa kamu akui, tapi tetap saja…

“Han Geng-ssi, mari, kita segera take untuk scene berikutnya!” Seruan seorang kru segera mengalihkanku dari ponsel. Aku menoleh sebentar, tapi alih-alih beranjak menghampirinya, aku malah sibuk berkemas-kemas, dan tak lama sudah bangkit dengan mencangklong ransel kotak-kotak Burberry-ku.

“Joisonghamnida, man, jeo meonjeo kalkkeyo. (Maaf, tapi saya harus pergi duluan.)”

Ah, Sojin, kenapa aku begitu mencintaimu??

 

Flashback

“Jeogiyo. Jeogiyo. (Permisi. Permisi.)” Aku yang lebih muda, yang baru saja menginjakkan kakinya di negeri Ginseng ini mengetuk-ngetukkan jariku di lobi penginapan murah pertama yang kutemui malam-malam begini. Pikirku, tak apalah kalaupun jelek, besok aku bisa dengan mudahnya pindah, kalau malam begini pasti sulit mencari penginapan lain yang masih buka. Biarpun seketika pikiranku itu langsung berganti begitu wanita penjaga losmen itu menoleh karena panggilanku barusan.

Aku tiba-tiba langsung merasa terkesiap. Dan seketika hatiku pun langsung menetapkan, mau sejelek apapun tempat ini, aku tak akan pindah, sumpah! Aku bahkan sampai tak sadar kalau tangan wanita itu sudah sibuk melambai-lambai di depan wajahku, berniat menyadarkan pemuda Cina ini yang sedang terpesona karenanya.

“Ah, joisonghamnida.” Kataku buru-buru sambil membungkukkan badan begitu tersadar. Biarpun baru menginjakkan kaki di Korea, aku memang sudah banyak mencari tahu tentang bahasa maupun etika negara ini sejak diputuskan lolos putaran kedua audisi sebuah agensi besar Korea yang diadakan di negara asalku. Dan aku pun disini, juga karena akan mengikuti audisi lanjutan pencarian bakat itu.

“Orang asing, ya?” Wanita itu dengan santainya berbicara yang lebih terdengar sebagai judgement daripada pertanyaan.

Aku mengangguk, “Han Geng-igoyo, Chungguk-eseo wasseumnida. (Aku Han Geng, datang dari Cina.)”

“Chungguk saram-inka… (Orang Cina, ya…)” Wanita dengan make up yang bahkan masih terlihat jelas malam-malam begini itu hanya mengangguk-angguk seraya menulis-nulis di buku tamunya. “Mau berapa malam?”

“Dua minggu.” Jawabku pasti. Ya, setidaknya sampai keluar hasil final audisi ini. Kalau lulus ya bakal diperpanjang atau mungkin tinggal di dorm jika diharuskan, dan kalau tidak lulus ya pulang kampung.

“Tanda tangan disini, dan kami mewajibkan deposit sebesar biaya sewa sebulan untuk yang tinggal lebih dari seminggu. Jadi 50 ribu won.” Terangnya, acuh lagi.

Aku iya saja dan langsung merogoh kantung depan ranselku. Satu per satu kuhitung lembaran kertas won hasil penukaran dengan tabungan seumur hidupku itu sebelum menyerahkannya pada sang wanita penjaga. Wanita penjaga? Ah, aneh sekali panggilannya… “Maaf, boleh aku tahu namamu?” Cegahku akhirnya sebelum wanita itu keburu berbalik lagi pasca menyerahkan kunci kamar untukku.

Wanita itu akhirnya kembali menoleh, “Kamu tertarik padaku?”

Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tak gatal, salting to the max. “Ung… Geulsse… (Ung… Bagaimana, ya…)”

Senyum sinis terbentuk di wajah si penjaga losmen melihat tingkah tamu barunya. “Maaf, tapi aku tak tertarik dengan orang asing.” Jawabnya datar sebelum menutup sekat lobi yang seperti loket penjualan tiket itu dengan tegas.

 

***

 

“Hei, orang baru, ya?”

Aku segera menoleh mendengar sapaan akrab dari belakang itu. Seorang pemuda berambut gondrong sebahu yang sangat tampan (atau cantik mungkin lebih tepat?) menatapku seraya tersenyum, memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rata. Di lehernya terkalung sebuah kamera profesional berwarna hitam.

Aku balas tersenyum canggung, “Hai. Iya, aku baru.”

“Kim Heechul.” Pria itu mengulurkan tangannya. Aku menyambutnya. “Aku kos disini, kuliah di Institut Seni di jalan besar situ, Fotografi.” Ia mengangkat kameranya. Aku mengangguk-angguk.

“Namamu?” Tanya Heechul.

Aku seketika tersadar, oh ya, aku bahkan belum memperkenalkan diri! “Han Geng. Aku Han Geng.”

“Han Geng? Chinese?”

Aku mengangguk. Kami pun sepakat untuk mengobrol sembari berjalan masuk ke dalam losmen. Heechul orang yang sangat ramah sekali. Tak disangka kamarnya pun tepat berada di seberang kamarku. Mengobrol dengan Heechul sangat amat bikin lupa waktu, padahal kami berdiri di lorong, dan aku bahkan baru pulang dari audisi, tapi rasa capek sama sekali tak kurasakan. Banyak hal yang kuketahui dari Heechul yang termasuk ‘bocor’, sampai tentang si wanita penjaga losmen yang sejak awal memang sudah amat membuatku penasaran…

“Sojin-ssi, maksudmu?” Heechul nyaris tertawa mendengar pertanyaanku. Buru-buru kupicingkan mataku galak. “Haha, maaf, maaf. Sojin-ssi, ya… Nama lengkapnya Lee Sojin. Umurnya 30… 31? Yah, segitulah. Masih single, terlalu banyak memilih, sih… Orang tuanya, pemilik losmen ini, sampai pusing merancang perjodohan, macam-macam lah supaya Sojin-ssi cepat menikah. Tapi sepertinya gagal terus.”

“Padahal dia cantik kok.”

“Make up-nya agak ganggu sih.” Heechul berkomentar. Aku mengangguk-angguk setuju. Tanpa make up sepertinya ia juga sudah cantik, kok! “Tapi dengar-dengar nih ya,” Heechul mulai berbisik. “…dia sudah make up seperti itu sejak masih belasan, supaya terlihat dewasa dan bisa mengimbangi pacarnya yang ahjussi-ahjussi. Mereka sudah nyaris menikah waktu Sojin-ssi menginjak umur 20, tapi si ahjussi kecelakaan dan meninggal. Mungkin kebiasaan, atau masih berharap ahjussi itu kembali, Sojin-ssi tetap make up begitu deh sampai sekarang ia benar-benar dewasa. Dan itu juga tuh kenapa dia jadi pemilih.”

Aku bengong. Bukan karena akhirnya tahu masa lalu Sojin dan sebagainya (itu juga sih), tapi lebih kepada cowok kuliahan di hadapanku ini yang kapasitas gosipnya setara dengan ibu-ibu rumah tangga!

“Oh gitu.” responku akhirnya.

Heechul mengangguk-angguk, “Makanya tadi aku ketawa, kalau kamu suka sama dia, mending lupain aja deh. Cowok yang lebih muda kayak kita pasti bukan level dia.” Katanya seraya menepuk hangat sebelah pundakku sebelum memutuskan masuk ke kamarnya sendiri.

Dan masih di tempat yang sama, aku masih juga terpaku sepeninggal Heechul. Lupakan? Alih-alih begitu, entah kenapa setelah mendengar semua omongan Heechul, aku malah jadi lebih ingin mengobati luka hati Sojin yang ditinggal mati calon suaminya dulu, sih…

 

***

 

LOLOS!! YES!!

Sudah nyaris seminggu aku berada di Korea, dan hari ini aku baru pulang dari kantor agensi tempatku audisi demi melihat pengumuman nama-nama peserta yang lolos audisi tahap ketiga 3 hari yang lalu. Dan aku lolos!! Jalan pulang kulalui dengan riang seraya memikirkan berbagai rencana untuk audisi tahap akhir nanti. Pastinya aku akan minta tolong Heechul untuk pembuatan profil nanti, supaya hasil fotonya lebih bagus. Biarpun belum lama kenal, tapi pria nyentrik itu memang sudah seperti sahabat bagiku, sangat nyaman. Tapi siapa sangka begitu aku sampai di losmen, tempat itu seperti dilingkupi aura kelabu, yang ternyata memang karena tempat itu baru saja ditinggalkan kedua pemiliknya, untuk selama-lamanya.

“Baru pulang?” Heechul yang sudah berpakaian hitam-hitam menyambutku yang baru masuk ke dalam losmen kami. “Bos dan istrinya meninggal dunia tadi siang, dengan tenang di kamar mereka. Romantis deh, meninggal aja bareng-bareng begitu.”

“Hus!” buru-buru kutoyor kepala sahabat ngawurku itu sambil terus menaiki tangga menuju lantai tempat kamarku berada, mengikuti saran Heechul juga untuk ganti baju dan ikut menyambut para pelayat di bawah. “Umm… Sojin-ssi gimana?”

Heechul memicingkan matanya menatapku, “Dia tegar aja, sih… Tapi kamu, masih suka sama dia, ya?” Tembaknya tepat sasaran.

Aku gelagapan, “M-Memangnya simpati nggak boleh?”

Heechul masih menatapku curiga, “Boleh, sih…”

“Nah, hayuklah kita turun, aku sudah siap nih!” Aku buru-buru menarik tangannya, mencoba mengalihkan pembicaraan.

Di bawah, secara refleks mataku langsung sibuk berkelana mencari satu orang: Sojin, yang secepatnya kutemukan berdiri bersama dua orang penghuni losmen ini di samping meja persembahan mendiang ayah dan ibunya. Satu hal yang sangat kusuka dari losmen ini memang adalah rasa kekeluargaannya, yang dibangun oleh si bos dan istri pemiliknya. Terlihat dari saling bahu-membahunya para penghuninya membantu Sojin yang tinggal sebatang kara: ada yang jadi penerima tamu, menemani Sojin tadi, maupun seksi sibuk sepertiku dan Heechul.

Dan Sojin, wanita itu terlihat tidak meneteskan setitik airmata pun. Dengan tenang seperti biasanya ia membungkuk pada setiap pelayat yang datang. Namun hal itu justru menimbulkan omongan tak sedap dari para tetangga. Di luar, telingaku sampai sakit mendengar celotehan para ahjumma yang menganggap Sojin anak tak berbakti, tidak sedih dan masih sempatnya make up ketika orangtuanya meninggal, dan sebagainya. Aku sudah nyaris bereaksi ketika Heechul, sambil menyesap rokoknya, dengan cepat menahan tanganku dan memberi isyarat gelengan kepala, menyuruhku untuk jangan menambah masalah. Aku pun menurut, biarpun kepalan tangan itu makin tergenggam kuat setiap kali kudengar omongan tak sedap tentang Sojin kembali berkoar.

Malamnya, aku sedang berjalan ke dapur di lantai bawah untuk mencari minum ketika terdengar suara tangisan dari ruang persembahan mendiang bos dan istrinya di depan lobi losmen ini. Aku segera membatalkan niatku dan mengintip dari balik dinding, dan seperti yang kukira, Sojin masih dengan hanbok putih khas duka cita-nya sedang meringkuk di depan meja persembahan itu sambil menangis tersedu-sedan, memeluk dua buah pigura foto dengan kedua lengannya. Menuruti intuisi, tanpa permisi lagi aku segera masuk ke dalam ruang itu dan ikut berjongkok di sampingnya, berniat menenangkan wanita yang kusukai itu.

Tapi tentu saja, Sojin malah jadi bersikap waspada dan tambah galak melihat perlakuan tanpa izin yang kuberikan. “Mau apa kamu??” Katanya seraya mundur teratur dari duduknya.

Dan sekilas aku pun bisa melihat foto di kedua pigura yang tadi masih dipeluknya: foto kedua orang tuanya dan satu lagi foto seorang pria tampan sekitar umur 30-an, yang kutebak pasti calon suaminya dulu. Merasakan kepahitan yang pasti dirasakan Sojin karena kehilangan orang-orang yang ia sayangi–apalagi kali ini sampai dua sekaligus–secara refleks aku pun merengkuhnya, “Nangislah, menangislah sampai kamu puas.” Kataku sambil mengelus-elus punggungnya. Awalnya Sojin meronta, tapi pelukanku yang kuat dan mungkin karena kesedihannya juga yang sudah mencapai klimaksnya, Sojin pun menyerah dan menangis tersedu-sedu di bahu salah satu penghuni losmennya itu. Aku.

“Dasar bodoh, kenapa baru menangis sekarang…” Gumamku sambil terus mengelus rambutnya, mengingat semua cemooh tetangga yang kudengar tadi sore. Tapi aku tahu, semua pasti punya alasan. Terutama bagi wanita yang selalu berakting kuat dan tegar ini…

“Sudah, cukup.” Sojin akhirnya mendorong dadaku setelah beberapa saat membiarkan dirinya menangis disana. Aku cuma bisa geleng-geleng kepala. Berlagak kuat lagi, pikirku.

“Anka? (Kamu nggak pergi?)” Tanya Sojin, yang lebih terdengar seperti: “Pergi, sana.”

Aku mengekeh, “Angkat dulu kepalamu, aku mau pastikan kamu sudah berhenti menangis.”

“‘Kamu’?? Kamu bicara banmal denganku? Aku lebih tua darimu–” Sojin yang memang sedari tadi masih menunduk segera bereaksi begitu tersadar kalau dari tadi aku memang menggunakan bahasa informal (yang diajarkan Heechul) dengannya, sebelum kemudian tersadar dan kembali menunduk, “Sirheo.”

“Geureom anka. (Ya sudah, aku juga nggak pergi.)”

“Karago…! (Aku bilang pergi…!)”

“Sirheunde! (Nggak mau!)”

Diam.

Memberanikan diri, aku pun mencoba mengulurkan tangannya ke arah dagu Sojin, mengangkat wajah gadis itu. Sojin segera menepisnya.

“Jangan lihat aku. Make up-ku pasti sudah luntur semua. Aku pasti terlihat kacau sekali.”

Aku tersenyum, “Kata siapa? Aku sudah lihat kok, kamu lebih cantik tanpa make up itu, malah.” Kataku sambil kembali mencoba mengangkat wajah Sojin. Kali ini ia tidak menolak. “Ya kan?” senyumku lebar di hadapannya.

Sojin sejenak terpaku, mungkin karena senyum tulus yang kuberikan barusan. Dengan bibir bergetar, ia akhirnya berkata, “Aku… bukan wanita lemah. Dengan make up ini, orang-orang akan melihatku sebagai wanita yang kuat, mereka tidak akan berani menjadikanku bahan lelucon… Apalagi setelah Minho-ssi pergi…”

Refleks, aku kembali memeluk wanita yang badannya kini sudah ikut bergetar itu, merasakan lagi kesedihan yang kembali menjalarinya, “Sstt, ara. Kamu wanita yang kuat, bahkan tanpa make up itu. Bangkitlah, kamu masih punya kami, para penghuni losmen ini. Terutama aku.”

Sojin menatapku terkejut.

Aku balas tersenyum, “Kenapa? Bukankah kamu sendiri yang sejak awal sudah menebak kalau aku tertarik padamu? Yah, biarpun langsung ditolak mentah-mentah saat itu juga sih. Tapi aku serius, dan perasaan itu masih ada. Jadi, maukah kamu menerimaku?”

Sunyi sejenak, sebelum akhirnya perlahan, Sojin mengangguk. “Setelah kamu memberitahuku lagi namamu.” Pintanya.

Aku tertawa, menyadari ia pasti tak akan mengingat namaku waktu itu. “Han Geng, aku Han Geng. Mannaseo bangapta. (Senang bertemu denganmu.)”

Hari ini aku adalah orang Cina paling bahagia di Korea Selatan!

 

***

 

“Jinjjaya?? Jinjja? Wuaa, daebak-inde!!” Heechul mulai lagi dengan kelakuan nyentriknya yang langsung berlarian kesana kemari di dalam kamarnya begitu aku memberitahunya kalau aku berhasil memenangkan audisi agensi besar Korea yang memang kuikuti selama disini. Hanya juara kedua sih, tapi aku tetap berhak atas kontrak ekslusif dengan agensi itu serta training system yang dimilikinya, semua gratis: makan-tidur-sekolah seni-pakaian… SEMUANYA! Di dalam kontrak yang akan aku tanda tangani nanti juga ada jaminan untuk debut dalam kurun waktu tidak lebih dari 2 tahun ke depan, sehingga sudah dipastikan aku akan bisa menjajal tangga kesuksesanku di dunia keartisan yang memang mimpiku sejak lama itu dalam waktu singkat.

Aku tersenyum, “Semua nggak lepas dari andil kamu juga. Terima kasih ya buat portfolio-ku yang daebak!”

Ia berhenti sejenak untuk nyengir ke arahku sebelum kembali melanjutkan ekspresi riangnya atas kesuksesanku itu. Aku mengikuti geraknya sambil tersenyum bahagia. Heechul betul-betul sahabat yang hebat. Ia bahkan sama sekali tak minta balasan bahkan ketika aku sudah dinyatakan menang audisi seperti ini. Dialah salah satu alasan terberatku meninggalkan tempat ini demi menyongsong mimpiku. Biarpun tentu, alasan terberatnya… “Sojinie mariya… (Tentang Sojin…)” Lirihku pada Heechul yang sekarang sudah sibuk bermain dengan syal bulu-bulu pink (?) yang entah kenapa dimilikinya itu.

Ia segera berhenti dan menatapku. “Kamu tuh masih, ya… Sojin-ssi ga noona-janha, noona! (Sojin-ssi itu noona buat kita, kamu tahu kan!)”

“Memang kenapa sih kalau dia lebih tua??” Aku mulai emosi. Selalu dan selalu ini yang jadi permasalahan orang-orang di sekeliling kami. Apa salahnya sih kalau aku mencintai wanita yang lebih tua dariku?

“Han…” Rajuk Heechul padaku.

“Hee-ya, kamu yang paling mengerti aku. Kamu yang sejak awal tahu gimana cintanya aku sama dia… Aku hanya butuh dukunganmu, dan aku akan menutup telinga untuk semua omongan orang… Jadi mohon,” aku mencengkram kedua bahunya. “…dukung aku. Hanya padamu aku berani menitipkan Sojin, selama aku pergi demi meraih suksesku. Ne?”

Heechul masih setia memandang lantai kayu di bawah kamarnya, pura-pura tidak mendengarku seraya mengetuk-ngetukkan sebelah kakinya disana. Terkadang sikapnya memang bisa persis sekali seperti anak-anak begini, aku bahkan sampai tak percaya kalau ia adalah anak sulung dari 6 bersaudara, kalau saja tiga adik terkecilnya: si kembar SMA Ryeowook dan Kibum, juga si bungsu Saera tidak pernah mengunjunginya waktu itu.

“Aku anggap itu sebagai ‘ya’.” Simpulku sebelum berlari keluar kamarnya, menuju satu lagi orang spesialku yang akan kuberitahukan tentang kabar bahagia ini: Sojin.

“Wah, baguslah. Chukhahae!” Sojin memberiku selamat dengan tulus, biarpun aku masih bisa menangkap sedikit kekhawatiran yang tersirat di wajahnya, yang aku tahu pasti karena apa.

“Kamu takut karena aku akan menambah daftar orang yang pergi meninggalkanmu kan?” Tebakku tentang kekhawatirannya itu.

Ia mengangguk pelan, “Ya sih, tapi seperti yang kamu bilang, aku masih punya penghuni losmen ini kan.” Senyumnya lagi.

Aku mengacak rambutnya, “Gitu, dong!”

“Ya! Bagaimanapun aku lebih tua darimu!” Omelnya seraya menepis tanganku dan mencibir kesal. Aku tertawa.

Menatap wajah polos Sojin (sejak hari itu ia betul-betul mengurangi polesan make up-nya sampai tipis sekali lho, tapi justru itu cantik sekali), jujur membuatku makin berat meninggalkan tempat ini. Kupandang gurat-gurat halus yang alami mulai muncul di wajahnya seiring penambahan usianya, dan aku baru tersadar kalau biasanya, wanita seusianya pasti sudah hidup bahagia dengan pernikahan. Apalagi semua omongan tentang ‘perawan tua’ yang mau tak mau pasti ia dengar dari lingkungan sekitar kami. Betapa berat hidup yang ia jalani, dan kini aku pun akan meninggalkannya…

“Ah, sini.” Maka aku pun segera mengambil buku tamu losmen yang diletakkan di loket lobi dan membaliknya hingga halaman terakhir. Sudah masuk tahun 2009, berarti 3 tahun lagi. Aku buru-buru menandai tanggal hari ini di tahun itu dan meletakkan spidol hitamku dengan puas setelahnya.

Sojin menatapku bingung.

Aku tersenyum lebar, “Lihat, tepat 3 tahun lagi, aku akan kembali dan menjemputmu untuk menjadi pengantinku. 2 tahun lagi aku pasti debut, jadi setidaknya setahun kemudian aku pasti sudah cukup mapan.”

Sojin masih mengerutkan keningnya, mungkin sedikit ragu dengan semua perkataanku. Jika aku sudah sukses, akankah aku kembali demi seorang noona-noona biasa yang jauh lebih tua darinya? Maka aku kembali melanjutkan, “Tapi bukan berarti aku sudah mengikatmu. Jika selama waktu itu kamu menemukan pria lain yang bisa membuatmu nyaman dan mencintaimu, aku tak akan bisa menahanmu. Pergilah. Tapi jika kamu memang percaya padaku, chama (bertahanlah), dan tunggu aku. Aku PASTI akan kembali. Pasti.”

Perlahan, Sojin mengangguk setuju seraya tersenyum, “Ne.”

Dan tepat tiga tahun kemudian, di puncak kesuksesanku, aku betul-betul kembali datang ke losmen yang sama sekali tidak berubah sejak pertama kali aku menginjakkan kaki di halamannya ini. Heechul sudah lulus dan tidak kos disana lagi, namun aku masih menemukan Sojin yang tetap setia menjaga lobi losmen peninggalan orangtuanya ini.

Aku melepas kaca mata hitamku seraya tersenyum menatap wajah cantiknya, “Sudah kubilang aku pasti kembali, kan?”

Dan wajah bahagia Sojin yang menyambutku waktu itu, selamanya tidak akan pernah ada yang bisa mengalahkannya dalam ingatanku.

Flashback end

 

Dalam perjalananku ke RS Universitas Korea tempat Sojin dilarikan oleh manajerku, satu-satunya orang yang tahu tentang pernikahan kami, aku mengingat setiap detil pertemuanku dengannya. Tiga tahun penantian memang bukan waktu yang singkat, aku tahu sekali hal itu. Makanya aku tetap mengusahakan setiap waktu luangku untuk menghubungi Sojin, setidaknya agar kami tidak hilang kontak sama sekali, memastikannya tetap percaya kalau aku benar-benar akan kembali.

Dan aku membuktikan janji itu. Kini, setelah dua tahun pernikahan kami yang hanya disaksikan oleh Tuhan dan manajerku, Sojin sedang berjuang melahirkan buah cinta kami. Dan mengingat semua bebannya selama menjalani pernikahan rahasia ini denganku, aku mengerti sekali jika kini ia merajuk dengan menolak melahirkan bayi kami sebelum aku datang. Karena aku mengerti, maka tanpa pikir panjang aku segera pergi menemuinya seperti ini. Ini masalah istriku dan bayi kami, dua orang yang sangat penting dalam hidupku, bahkan dibanding karirku sebagai penyanyi dan aktor top Korea. Maka aku tak peduli lagi dengan apa yang akan terjadi, dengan kontrakku yang melarangku menikah, bahkan dengan perasaan para fansku nantinya.

Tapi ketika tekadku sudah bulat seperti itu, tiba-tiba datang lagi sebuah SMS dari manajerku:

“Kamu tak usah datang. Setelah mengobrol dari hati ke hati dengan seorang dokter tadi, Sojin-ssi akhirnya mengerti dengan profesimu Sekarang dia sedang menjalani proses kelahiran.”

Ah… Apa orang hamil itu selalu plin-plan begini, ya?

“Aku sudah di jalan, Hyung.” Balasku, ngotot tetap ingin datang. Tekadku sudah terlanjur bulat, tahu!

Namun tak disangka, yang membalas SMS terakhirku ternyata sebuah video call. Aku buru-buru mengangkatnya. Dan segera, wajah mungil seorang bayi merah yang sudah dibersihkan dan terbungkus selimut biru menyambutku.

“Appa, annyeong…” Suara itu… Sojin! Video call dari ponsel manajerku itu pun segera beralih ke wajah penuh peluh istri tersayangku.

“Hanie, annyeong…” Ia melambaikan tangannya padaku. Hanie, dari Han-nya Han Geng, memang panggilan yang ia berikan untukku. Dia sama sekali menolak memanggilku sayang, yeobo, jagi, nampyeon, apalah itu, dengan alasan yang masih sangat kuat dipegangnya tentang usianya yang lebih tua dariku. Aku iya saja lah, seperti yang kubilang di awal cerita, aku memang terlalu mencintainya.

“Yang tadi… Yang tadi… bayi kita?” Aku terlalu bersemangat bahkan untuk bisa menjawab sapaannya terlebih dulu.

“Ne… Jagoan kayak appa.” Jawab Sojin sebelum video kembali beralih ke arah bayi kami. “Appa, appa nggak usah kesini ya… Aku sama eomma baik-baik aja kok… Disini banyak dokter yang baik…” Suara Sojin terdengar mencoba mendubbing putra pertama kami.

Aku menggeleng, “Telat. Aku sudah di jalan, sayang… Siapa suruh tadi minta-minta aku datang.”

“Kalau gitu, bilang aja aku fans beratmu, dan kamu jenguk aku… Ne?”

“An-ne.” Aku memelesetkan bahasa Korea ‘an’ yang berarti ‘tidak’ dan ‘ne’ yang berarti ‘iya’ dari hal yang ditawarkannya. Mana mungkin aku bilang istriku sendiri adalah cuma fans?? Maka seketika Sojin merengut dan langsung menyerahkan ponsel itu pada pemiliknya, manajerku. Dan alih-alih menerimanya, manajerku malah mengopernya lagi ke seorang wanita dengan jas putih dan stetoskop di lehernya, mungkin ia dokter yang menangani Sojin barusan. Tapi belum sampai video tadi menyorot wajahnya, ia sudah mengoper ponsel itu lagi ke orang lain. Aku jadi bingung sendiri, ini kenapa jadi lempar-lemparan tugas bicara denganku sih? Selama ini mana pernah ada orang yang menolak bicara dengan bintang sebesar seorang Han Geng, coba? Stasiun TV bahkan harus membayarku untuk sebuah interview!

“Dok, bicara dong.” Kali ini malah terdengar suara seorang wanita muda, sepertinya dokter tadi.

“Park! Kamu kan yang tahu kondisi psikis pasien Lee, jadi kamu yang harus menjelaskan!” Suara seorang pria. Kalau dengar dari bentakannya sih, sepertinya atasan dokter tadi, mungkin. Tapi eh… ini apa-apaan, sih? Kenapa malah jadi bertengkar?

“Neomu tteolyeowasseoyo, je aidol godeun-yo… (Saya terlalu gugup, Dok, dia kan idola saya…)”

“PARK!”

“Ah, ne.” Akhirnya dokter wanita muda itu pun menyerah dan mengangkat ponsel itu sehingga wajahnya dapat terlihat di kamera dan iapun dapat melihatku. Ia terlihat menundukkan kepalanya, memberi hormat. “Park Yora imnida, dokter yang menangani Lee Sojin-ssi. Maaf dulu sebelumnya kalau akhirnya saya dan resident saya, dr. Shin tadi, sekarang jadi dua orang tambahan yang tahu tentang Anda dan Sojin-ssi.”

Aku mengangkat sebelah telapak tanganku yang bebas seraya tersenyum, dokter itu cantik juga soalnya #plak, “Animnida.”

“Jadi setelah mengobrol tadi,” ia mulai berbisik. “…Sojin-ssi sepertinya terkena Baby Blue Syndrome, sindrom yang membuat para ibu hamil menjadi terlalu sensitif tentang apapun, terutama masalah bayinya, makanya tadi ia sempat menolak bersalin kecuali Anda datang kan?”

Aku mengangguk.

“Karena itulah, saya selaku dokter yang menangani pasien Lee sekaligus psikiatris pengganti RS ini meminta Anda untuk sementara menuruti dulu apa saja keinginannya, termasuk yang barusan ia katakan. Itu kalau Anda masih ingin melihat baby ini dengan segera…”

“Mau, tentu saya mau, Dok!” Aku buru-buru menyela.

Dokter itu tersenyum. “Geureom, saya kembalikan pada istri Anda, ya. Sojin-ssi, ini.”

Perlahan, wajah Sojin kembali memenuhi tampilan layar ponselku. “Sudah deal…?” Tanyanya lemah.

Aku mengangguk, “Sudah. Dasar menyusahkan!” Omelku bercanda. Ia tertawa. “Kalau begitu tunggu ya, sekitar 15 menit lagi aku sampai. Dan tolong sampaikan pada dr. Park tadi, kalau ia mau aku ingin memberinya hadiah albumku yang sudah ditandatangani karena sudah menanganimu dengan baik. Itu kalau dia mau ya.” Tekanku penuh canda, karena aku juga tahu kalau semua orang di dalam ruang itu masih bisa mendengarku.

Dan segera terdengar pekikan riang seorang wanita (pastinya dr. Park) yang disusul omelan seorang pria padanya untuk menjaga sikap (pasti dr. Shin, resident yang dibilangnya tadi). Aku dan Sojin tertawa sebelum akhirnya ia mengakhiri telepon itu, khawatir tagihan ponsel manajerku bengkak karenanya. Dan dalam taksi yang membawaku, aku menghela napas lega. Setidaknya seperti kata bayiku melalui Sojin tadi, mereka berdua berada di tangan yang tepat, bertemu dengan dokter-dokter baik seperti dr. Park dan dr. Shin…

“Han Geng-ida!”

“Geurae, Han Geng-ida, Han Geng!!”

Setelahnya di RS, seperti yang diperkirakan kehebohan besar segera terjadi karena kedatanganku, biarpun secepatnya bisa diredakan sesuai skenario yang diinginkan Sojin tadi. Biarpun harus dalam kebohongan, aku pun akhirnya mampu menggendong putraku sendiri dengan kedua tanganku, merasakan hangat tubuh mungilnya dalam pelukan. Kupandang Sojin yang ternyata tidak menungguku dan malah tertidur, dan aku tersenyum. Seperti yang dijelaskan dr. Park, ia pasti sangat lelah karena di usianya yang sudah cukup rentan (35 tahun), ia masih bersikeras melahirkan normal. Para suster berniat membangunkannya untuk melihat kedatanganku yang (ceritanya) idolanya, tapi aku melarang mereka. Bagiku, malah bagus ia tertidur, karena itu bisa menjadi alasanku untuk berkunjung lagi, karena ‘fansku’ ini belum sempat bertemu denganku, kan? Kkkk~

Dan hari yang panjang dan penuh cemas ini, akhirnya berakhir bahagia. Putra kami kuberi nama Han Ga-oh, Ga-oh dari kata Gao pada ‘Gaoxing’, bahasa Mandarin yang berarti ‘senang/bahagia’. Aku ingin ia menjadi lelaki yang berbahagia, sepertiku karena telah memilikinya dan juga sang ibu, istri tercintaku, Lee Sojin.

 

END

 

welcoming baby pertama the series kkkkk~ XD

Advertisements
 
17 Comments

Posted by on July 30, 2011 in Super Junior, [THE SERIES]

 

Tags: ,

17 responses to “[THE SERIES] HAPPINESS

  1. chrisnagustyani

    July 30, 2011 at 3:26 pm

    kekeke first kah?? Dari dulu mikir waktu bca postingan the series, aku pikir si gege bkal nikah ama cewe yg cuma bda 2-3 taun, trnyata hmpir 7-8 taun yah? (kalo pke umur gege sekarang)
    itu si yora lucu dh, yg biasanya well-mannered bisa juga cekikikan gr2 artis idolanya… Eh, marganya hangeng bukannya Tan yah?

    tapi… Boleh kritik gak nyah? Kok ceritanya agak ngambang yah? Kurang greget gtu, abisnya gk ada bakar2an rumah <.< ditnggu epep the series lainnya ya ๐Ÿ™‚

     
  2. chrisnagustyani

    July 30, 2011 at 3:28 pm

    komenku kepotong -__- zz

    <.< ditnggu epep the series lainnya ya ๐Ÿ™‚

     
  3. chrisnagustyani

    July 30, 2011 at 3:36 pm

    lanjut dsini yah huhuhu *pengenbakarwordpress*

    ini lnjtan kritik (boleh ya boleh?)
    jd kesan’a kaya ni ff terburu-buru gt nyah…. Trus blm dcritain t gmana yora bisa bjuk sojin… Ato bkal d critain d the series lain’a?

    tuh, nyonyah ungkit2 Kim siblings, jd kangen >.< lanjutan ff mereka blm kan?

     
    • lolita309

      July 31, 2011 at 10:16 am

      balesnya jadi satu aja yaaa ๐Ÿ™‚

      iyaa, emang dr awal aku plot yg beda umurnya juauh, biar BERASA (?) kkkkk #PLAK XD

      hehe, masalah ngambang-mengambang dan alurnya cepet, mungkin memang iya.. karena bener kamu, masalah bujuk-membujuk sojin bakal diceritain di tempat laen hehehe. lagipula ini juga kayak cerita kamu sm si kunyun waktu itu, cuma pembuka aja^^ jadi dari sini bisa ketauan benang merah han geng sama the series, dari sisi heechul ada, dari sisi dokter2an yora sama shindong ada ๐Ÿ˜€

      marganya Han kok sayaang, uda nyari ampe wikipedia hahahah

      makasi uda baca, dan makasi lagi buat kritiknya, seneng deh^^

       
  4. wiehj

    July 31, 2011 at 11:54 pm

    eh? ini bag dr the series toh hahhahaa
    ihh kangen dee am the series… akhirnya muncul jga ff yg bhub am the series ๐Ÿ˜€
    wehh, beda umur nya jauh amattt -__- si hangeng jd brondong wkwkwkkwkw XDD
    aq menanti lanj the series nihhhh >,<
    apalagii yg hyuk-saera.. penasarannnnn~!!! XD

     
    • lolita309

      August 1, 2011 at 6:50 pm

      Iyaaa, ga kliatan kaya the series ya hahahah

      Haha bronis deh pokonya si koko kita itu ๐Ÿ˜€
      Sipp, nanti ada the series lg yaa, saya semedi dl haha

      Makasi syg uda baca^^

       
  5. oepieck

    August 1, 2011 at 1:36 pm

    pertama kali baca gak ngeh klo ini the series, ngiranya cerita lepas biasa
    eh ternyata! makanya kaget waktu ada adiknya heechul disebut”, kwkwkww

    oh, ini toh hubungannya dr. shin ama dr. park dengan hangeng, ternyata-ternyata-ternyata
    sama sekali gak nyangka masalah bayi ini yang jadi peyambungnya…
    ngakak waktu acara oper”an hp sama pas yora teriak mau dkasih album bertandatangan, kkk~
    btw, idenya bagus. dan sejauh sejarah the series kayaknya sojin yang kisah masa lalunya paling merana setelah kyu
    tapi eonni, entah kenapa ff yang ini berasa terlalu sinetron, terlalu terburu-buru dan auranya beda ama ff” yang lain, peace ye ^_^v

    and i’m agree about hangeng always be the part of SJ forever

     
    • lolita309

      August 1, 2011 at 7:01 pm

      Huahaha kayak sinetron yaaa? Maaf yaaa XDD Aku pikir malah model yora-siwon itu loh yg lebih kayak sinetron hohoho Wah banyak nih kritiknya, tp malah gapapa bgt loh, berguna bgt buat perkembangan aku, malah aku seneng dikritik begini, kalo jelek ya blg aja jelek hehe ๐Ÿ˜€ auranya beda? Waduh, tp aku pas nulis+baca ulangnya juga berasa auranya sih.. Abu-abu, pokoknya kelabu, dark gitu deh. Entah kenapa. Km ngerasanya auranya gmn? ๐Ÿ™‚

      Iyaaa, aku jg tau kalo awalnya org2 pasti ga bkl ngira ini the series hehe ๐Ÿ˜€

       
      • oepieck

        August 2, 2011 at 7:03 pm

        ho’oh, asli kayak sinetron. cerita yora-siwon malah menurutku ‘realitas kehidupan’ banget,
        pokoknya aura yang ini beda. ya itu, lebih dark gmanaa gitu, kelam kelam kelabu (?)
        bagus deh klo kritikannya diterima ๐Ÿ˜€
        semoga eonni makin maju ^^

         
      • lolita309

        August 2, 2011 at 11:18 pm

        aminn, makasi sayang doanya^^

         
  6. hwangminmi

    August 1, 2011 at 4:14 pm

    eonni~!! >.<

    ……….
    *otak langsung blank pas ngebaca nama kibum*

    bingung mau komen apa T^T

     
    • lolita309

      August 2, 2011 at 11:15 pm

      apaaa sayaaang? ๐Ÿ˜€

      hehe, maaf yaa buat yg galau gara2 biasnya ga jadi ikutan 5jib… *ups

      tapi berita baiknya, aku lagi kerjain proyek the series kibum-kamu looohh… ><
      biarpun berita buruknya aku gatau kapan itu bajal selesai ataupun keluar ._. hehe

      makasi sayang uda baca^^

       
  7. ms.o

    August 1, 2011 at 7:20 pm

    oalah,begitu maksud nya iyg di intro itu…dan gak bs ngebayangin yora jejingkrakan gr2 mau dapet albumnya han geng,,,hahahaha,,keluar deh jiwa anak2nya #plaakk..

     
    • lolita309

      August 2, 2011 at 11:17 pm

      hehe, karena dalemnya yora ya emang bocah sih, anggunnya mah topeng doang hahaha XDD

      iyaaa beginilah maksudnya tadaaaa~

      makasi uda baca sayang^^

       
  8. cybersunyoungpark

    August 20, 2011 at 11:06 pm

    Oh, yang Hangeng ini? Sojin? Baru ngeh aku pas baca THE SERIES yang perkenalan karakter itu, ternyata maksudnya begini toh :O

    Uwaaa~~ >< keren banget ini onnie! Hangengnya nerobos rumah sakit, ini adegan yang paling aku bayangin daripada kejadian melahirkannya itu! Susahnya gimana kalo dikejar fansnya =="
    Sojin, kamu kena baby blues syndrom? Kukira berbahaya, ternyata enggak ya?

    Yaudah, selamat, semoga anaknya bisa jadi sholeh *?* dan taat pada orang tua ๐Ÿ™‚
    Onnie juga semangat ya, buat nerusin ff yang lainnya ๐Ÿ™‚

     
    • lolita309

      August 21, 2011 at 11:06 pm

      iyaa yang han geng ini^^

      iya beginilah jadinya yah ._. (?)

      huahaha XDD

      iyaaa seru banget yah kalo punya suami artis, trus suaminya bela2in ke RS biarpun harus pura2.. unyu ><

      umm… kalo dibiarin aja, ada yg biasa sampe bahaya juga sih.. di amrik sampe ada ibu yang ngebunuh baby-nya gara2 baby blues itu… T.T

      haha aminn yah Ga-oh… ๐Ÿ™‚

      sipp, makasi yaa sayang supportnya, cups :*

       
  9. babyhae

    September 2, 2011 at 12:08 pm

    Ah, baca note di bawahnya….bayi pertama The series….wkwkwkwk

    Ouw…kisah cintanya to the point ya dibanding yang laen, kisah cinta ini kesannya mateng banget ahahahaha.
    Yora, tumben jadi begitu? biasanya tenang, kalem, dewasa XD

    ah…suka sama cerita ini. Awesome. Bahasanya ringan ala Lola dan lagi-lagi, berbeda dari kisah cinta lain di The Series. Jadi gampang buat yang baca untuk bedain yang ini sama yang laen^^ Cool

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: