RSS

[THE SERIES] SOULMATE – Chapter 2

16 Jun

SOULMATE – Chapter 2

(Chapter 1)

Written by: Lolita Choi (@lolita309)

Starring: Choi Siwon

Son Dongwoon

 

Chapter 2. LET’S GET STRAIGHT TO THE POINT

“Menikahlah denganku, Park Yora. Kita soulmate kan?” Kata Dongwoon seraya berlutut dan tersenyum lebar, menunjukkan gigi-giginya yang rata. Yang bagi Yora seperti membawanya kembali ke masa lalu, pada Dongwoon cilik belahan jiwanya yang juga selalu tersenyum lebar kepadanya. Cengiran khas Dongwoon, tawa khas Dongwoon….

Melihat Yora yang masih belum membalas, Dongwoon kembali melanjutkan, “Karena alasanku ingin semuanya selesai sebelum kembali lagi kesini adalah agar aku bisa langsung menyuntingmu. Sebagai seorang pria Korea yang mantap. Agar aku nggak perlu lagi harus meninggalkan kamu lagi untuk kedua kalinya, kita bisa bareng-bareng lagi seperti dulu, sebagai soulmate, yang kali ini aku janji tidak akan lagi harus terpisah…”

Soulmate.

Kita soulmate kan?

Semua ingatan-ingatan manis tentang kebersamaan mereka di masa lalu pun seketika membanjiri pikiran Yora. Kalimat yang selalu mereka ucapkan tiap habis berbaikan pasca bertengkar, kalimat yang mereka gunakan demi memastikan perasaan satu sama lain. Semua kenangan indah, tapi entah mengapa ingatannya akan hal tersebut malah menaikkan amarah Yora. Ia berdiri dari sofanya seraya tersenyum sinis, “Soulmate, kamu bilang? Oh, aku pikir kamu sudah lupa.”

Seketika Dongwoon kehilangan senyumnya dan menatap dokter muda itu kaget.

“Bertahun-tahun ini aku hidup hanya dengan setengah jiwa.” Ucap Yora perlahan, yang terasa sangat dingin dan menusuk. “Hari demi hari aku mencoba bertahan hanya dengan separuh hatiku. Aku tertawa, aku bergaul, tapi nggak sepenuhnya ada perasaan disana. Hidupku penuh dengan akting. Kenapa? Karena aku hanya ingin bisa bertahan hidup sampai setengah jiwaku kembali lagi. Kamu.”

Yora kini bisa menatap lurus Dongwoon ketika pria itu sudah bangkit dari berlututnya, tampilan shock masih tertera jelas di wajah pria itu. Ia kembali melanjutkan, “Bagiku nggak masalah untuk berbaur biarpun seringkali pandangan teman-temanku sangat lain denganku, karena aku percaya kamu akan kembali. Sesuai janjimu. Dan di saat itu aku nggak perlu lagi berpura-pura, karena bagiku, untuk bertahan hidup aku hanya butuh kamu, satu-satunya orang yang mengerti aku.

“Tiap hari aku menunggumu seperti yang kamu minta. Aku terus percaya dan berusaha terus bertahan menjalani hidupku, agar aku masih bisa menyambutmu ketika kamu pulang. Sampai akhirnya 6 tahun berakhir. Dan kenyataannya? Kamu nggak juga kembali. Dan di saat itu, semua kepercayaanku hilang. Sudah bukan setengah lagi, kini ragaku hidup tanpa jiwa.”

Dongwoon sudah menggenggam tangan Yora dan berniat merengkuhnya begitu menyadari bahwa ketika mengucapkan semua pengakuannya itu, mata Yora betul-betul terlihat kosong seakan memang benar tak ada jiwa di dalamnya. Tapi gadis itu segera menarik tangannya kasar, seiring sebutir air mata yang jatuh darinya.

Ia menghapusnya terlebih dulu sebelum melanjutkan, “Tapi kamu nggak perlu khawatir, karena sekarang aku bukan lagi Yora yang kamu kenal. Terima kasih karena kamu mengkhianatiku, aku jadi tersadar kalau ternyata banyak orang yang perhatian padaku di sekelilingku. Aku sudah nggak butuh kamu lagi, aku SUNGGUH nggak butuh kamu lagi.” Katanya dengan suara yang mulai bergetar. Yora menggigit bibirnya, mencoba menahan sesuatu yang mulai mendesak keluar dari matanya yang sekarang terasa panas. Tapi kali ini, alasannya bukan karena ia enggan dipanggil bayi lagi, Yora yang sekarang sudah betul-betul dewasa, bukan lagi Yora berumur 12 tahun yang sok dewasa. Ia hanya mencoba untuk menahan perasaannya, karena hal itu memang tidak patut. Ia sudah memiliki seorang Choi Siwon dalam hidupnya. Ya, tunangannya.

Tapi tak disangka, Dongwoon segera menariknya dalam pelukan sebelum Yora bahkan mampu menolak lagi. Entahlah, sejak dulu ia memang seperti mampu merasakan juga perasaan gadis dalam pelukannya ini. Mungkin karena mereka soulmate? Ia juga tidak tahu. Yang jelas, respon Dongwoon tiap kali berada dalam situasi ini sama: diam. Setelah memeluknya, ia hanya diam, itu sudah terjadi sejak mereka kecil dulu, sejak mereka memproklamirkan diri sebagai soulmate. Tak ada kata darinya, segala respon dari setiap bertambah atau menurunnya emosi Yora hanya ia tunjukkan dengan perbuatan. Semakin emosi Yora naik, entah itu tangisannya yang makin menderas atau apa, akan semakin erat pula pelukan Dongwoon padanya. Karena ia tahu wanita—atau mungkin lebih spesifiknya Yora?—tidak perlu yang namanya kata-kata manis untuk menenangkannya. Hanya dengan ia tahu bahwa ada seseorang disana untuknya, itu sudah cukup. Seperti kali ini.

Pasca menerima perlakuan Dongwoon, Yora memang akhirnya tak mampu lagi membendung air matanya. Break down, itulah yang terjadi pada putri kedua keluarga Park itu. Segala pertahanan Yora hancur, seluruh airmata untuk Dongwoon yang ia tahan sejak bertahun-tahun lalu seperti tercurah semua kali ini. Kakinya serasa lemas, Yora pun terjatuh karena tak kuat lagi menahan semua perasaannya. Dan Dongwoon tetap disana, makin memeluknya erat, apalagi setelah mendengar satu lagi pengakuan yang sangat menusuk baginya, di tengah tangisan gadis yang paling dicintainya itu. Pengakuan yang sangat bertolak belakang dengan kata-kata sinis yang sebelumnya diucapkan Yora, “…sebetulnya aku nggak pernah berhenti menunggumu… Semua orang berpikir aku melakukannya, tapi kenyataannya, seperti yang kubilang hidupku penuh dengan akting setelah kamu pergi. Dan tanpa kusadari aku kembali melakukannya… Semua ekpresiku palsu. Aku merindukanmu, aku merindukanmu…

 

***

Yora menyeruput kopinya dengan perasaan tak tenang, hatinya berdebar tak karuan biarpun sebisa mungkin ia menyembunyikannya. Ia berkali-kali menarik dan menghembuskan napas, mempraktikkan ilmu Yoga yang sudah ditekuninya sejak lulus SMA itu. Pagi ini ia memang memiliki janji untuk bertemu dengan seseorang di coffee shop favoritnya ini. Mereka akan berunding, ah, tapi apa ‘berunding’ kata yang tepat? Lebih tepatnya mereka akan bertukar pikiran untuk mencari jalan keluar sebuah masalah di antara mereka. Well, untuk sekarang mungkin memang masih menjadi masalah Yora seorang, tapi hal itu tidak akan berlangsung lama lagi…

“Jagi.” Seseorang melambai riang pada Yora dari pintu masuk coffee shop itu. Tidak perlu ditanya siapa, karena selama ini, memang hanya dan selalu hanya ada satu orang yang memanggilnya begitu. Mengenakan pakaian ‘polisi preman’-nya, Siwon yang adalah polisi di divisi investigasi memang nyaris tidak pernah mengenakan seragam kepolisian saat bekerja. Ia melepas jasnya, meninggalkan polo shirt ungu yang dikenakan di dalam jas tadi begitu berada di hadapan tunangannya yang seperti langsung beku melihat kehadirannya.

Siwon menarik kursi yang berseberangan dengan Yora seraya menjulurkan tangannya untuk mengacak lembut rambut gadis itu, “Hei, pagi, jagi. Kamu belum jawab aku lho daritadi.”

“Eh, oh ya. Pagi. Jagi-ya.” Jawab Yora gugup sambil memberikan senyum kaku. Siwon menangkap keanehan dalam gelagat dokter yang menurutnya tercantik sedunia itu.

“Hm? Ada apa sih ini? Kamu kenapa? Tumben ajak ketemuan pagi-pagi banget gini. Kangen yaa? Wah, padahal baru kemarin kita ketemu.” Godanya seraya mencubit hidung wanita mungil itu.

Yora hanya diam seraya menunduk dengan jari sibuk mengetuk-ngetuk cangkir kopinya di atas meja, bingung mau mulai dari mana. Siwon masih menatap gadisnya, menunggu kata-kata keluar dari mulut itu, biarpun dengan tampang bingung setengah mati. Jarang sekali Yora bersikap seperti ini. Entah kenapa perasaannya jadi sedikit tidak enak…

“Ah, oh ya. Gimana kalau kamu pesan minum dulu? Sudah sarapan? Kalau belum sekalian aja gimana? Hm?” Yora akhirnya bersuara sebelum buru-buru memanggil pelayan untuk mencatat pesanan Siwon. Dia betul-betul tidak tahu bagaimana harus memulai! Siwon makin memandang curiga sang tunangan, karena itu ia hanya memesan kopi hitam yang sama seperti Yora–selera kopi mereka memang sama–untuk mempercepat semuanya. Sekilas ia memergoki Yora menghembuskan napas lega, entah karena apa.

Pasca minuman Siwon datang, ia pun segera menuntut Yora segera bicara. Namun lagi-lagi, yang datang dari gadisnya hanya balasan, “Kamu minum dulu.”

Siwon makin ‘nggak nyantai’ menghadapi tingkah tunangannya ini. Tidak peduli kopinya masih mengebul panas pun, ia segera meneguknya begitu saja seakan tak takut tenggorokannya akan terbakar karenanya. Yora langsung takut melihatnya. Siwon bisa jadi memang orang yang sangat sabar dan dewasa, tapi ada juga saat seperti ini, ketika kesabarannya hilang dan ia jadi SANGAT menyeramkan. Yora sangat tahu itu (4 tahun bukan waktu singkat mengenal tabiat asli satu sama lain kan?), maka di jeda ketika Siwon meletakkan kopinya, Yora pun mencoba meraih udara sebanyak mungkin, demi ketenangannya dalam menyampaikan, well, apa yang akan ia sampaikan.

Nah, ia siap.

“Oke, aku sudah minum. Jadi–”

“Dongwoon kembali.” Potong Yora cepat, tanpa mampu melihat wajah Siwon. Ia memejamkan matanya erat-erat sambil menunduk, betul-betul tidak mau membayangkan respon polisi muda itu.

Sedetik, dua detik… Harap-harap cemas ia menanti reaksi kekasihnya sejak SMA itu. Tapi Siwon hanya diam, maka perlahan, Yora pun mencoba mengangkat wajahnya biarpun dipenuhi rasa takut. Apa Siwon sebegitu marahnya sampai-sampai ia tidak mampu berkata-kata? Aah, jangan sampai!

Tapi Siwon ternyata malah mengerutkan dahinya seperti bingung dengan perkataan Yora. Dongwoon, Dongwoon… Ia sepertinya pernah dengar nama itu… Tapi siapa?? Ia masih berpikir keras sebelum akhirnya menyerah dan bertanya balik, “Dong… woon?”

Yora mengangguk pelan. Ia tahu Siwon pasti lupa. Ia saja kalau bukan karena kehadiran pria itu lagi dalam hidupnya, dipastikan ia akan terus merasa bahwa Siwon lah satu-satunya, dan hidup dengan hanya pikiran bawah sadarnya yang mengingat pria itu. Dongwoon. Kalau saja ia tidak datang dan akhirnya memaksa pikiran bawah sadarnya itu kembali menempati posisinya yang seharusnya, menguasai lagi kesadaran Yora…

Gadis itu sudah akan bersuara demi menjawab tanya Siwon akan nama yang baru saja disebutnya telah kembali itu ketika sekejap, air wajah Siwon terlihat berubah. Pria itu membulatkan matanya seperti tiba-tiba teringat sesuatu. Ia bergumam pelan, seperti sebetulnya tak ingin menyebutkan kata itu. Nama pria yang dulu selalu ingin ia ucapkan terima kasih padanya karena tak pernah kembali lagi di kehidupan kekasihnya… “Dongwoon…”

 

Siwon’s flashback

6 tahun yang lalu,

“Halo, boleh duduk disini?” Tanya Siwon yang waktu itu masih duduk di kelas 1 SMA pada seorang gadis berambut ikal seleher yang sedang sibuk menggambar… apa itu? Susunan anatomi tubuh manusia?? Siiing~ seketika Siwon merinding melihatnya. Yang kayak gini, anak kelas 1 juga nih? Jadi benar rumor di antara siswa-siswa pria di sekolahnya kalau gadis cantik ini lah pemecah rekor nilai masuk murid baru tertinggi itu? Ya ampun, sudah cantik, (sepertinya) sangat pintar juga, NGERI sekali…

Gadis itu mengangkat wajahnya seraya menyelipkan rambutnya yang terurai ke belakang telinga, “Um? Oh, ya, silakan…”

Tersenyum, Siwon pun buru-buru mengambil tempat tepat di sebelah gadis itu. Ia memang sengaja memilih tempat di dekat siswi satu ini. Sudah sejak ia melihatnya waktu pendaftaran masuk SMA, Siwon menaruh ketertarikan padanya. Gadis ini betul-betul tipenya! Anggun, feminin, dan ia sangat menyukai cara berjalannya yang sangat mantap seperti tak pernah ada keraguan dalam hidupnya. Masalah wajah, baginya kecantikan gadis ini hanya bonus, karena yang paling penting untuknya adalah kepribadian itu.

“Ekskul apa?” Tanyanya, mencoba memulai pembicaraan lagi, biarpun sebetulnya ia sepertinya sudah bisa menebak apa jawaban gadis ini. Mereka memang berada di aula ini dalam rangka konferensi ekskul sekolah, semacam gathering sekaligus perkenalan bagi ketua-ketua baru ekstrakurikuler di sekolah ini. Dan Siwon sendiri, adalah ketua baru ekskul basket.

“Sains.” Jawab gadis itu tanpa menoleh karena sudah kembali sibuk dengan notesnya. Sudah kukira… pikir Siwon seraya menggeleng-gelengkan kepalanya dan tertawa dalam hati. Tukk. Tiba-tiba ia mendengar suara pensil yang diletakkan. Sepertinya gadis di sebelahnya telah selesai dengan pekerjaannya tadi, karena kini, ia sudah terlihat tersenyum menatap Siwon dengan tangan kanan terjulur ke arah pria itu. “Park Yora. Kamu? Ekskul apa?”

Siwon seketika seperti merasa terkesiap dengan senyum itu, tapi ia buru-buru mengembalikan lagi kesadarannya dan menjawab penuh semangat, “Siwon. Choi Siwon-iyeyo. Basket.” Katanya pasti seraya menjabat uluran tangan itu. Ia bahkan tak peduli dengan kenyataan kalau ia sebetulnya sudah tahu nama gadis itu sebelumnya. Terima kasih pada siswi-siswi kelasnya yang memang sering membicarakan gadis ini. Hahaha.

Yora tersenyum, “Biarpun sains dan basket sepertinya nggak akan pernah ada proyek bareng, tapi tetap mohon bantuannya ya.” Pintanya seraya menunduk. Dan cringg! Siwon akhirnya melihat benda itu, benda unik yang tergantung sempurna di leher Yora karena jatuh keluar dari dalam kemeja seragamnya. Seketika rasa penasaran Siwon muncul.

“Ah, ya.” Siwon menjawab permohonan Yora dengan mengangguk sekilas. “Oh ya, kalung kamu bagus.” Pujinya tulus, sekaligus mencari-cari bahan omongan lagi. Eh, tapi kalung itu memang bagus kok, liontinnya berbentuk pecahan koin, antik sekali!

Yora terlihat kaget seraya menggenggam liontin kalung itu dan buru-buru memasukkannya lagi ke dalam seragamnya. “Oh ya? Makasih. Tapi jangan bilang-bilang guru ya, kita kan nggak boleh pakai perhiasan ke sekolah. Bisa gawat kalau ini sampai diambil.”

Siwon tertawa kecil, senang sekali bisa tahu sesuatu tentang gadis ini yang tidak diketahui orang lain. “Oke. Kubawa sampai mati deh.” Katanya seraya mengulurkan tangan untuk menjabat Yora.

Gadis itu menyambutnya senang. “Thank you!”

Sejak itu, tiap kali Siwon memperhatikan Yora dalam pakaian bebasnya seperti saat ekskul maupun summer course, ia selalu mendapati kalung itu bertengger disana, diam menghiasi leher indah Yora. Rantai kalung itu panjang, makanya jadi terlihat seperti fashion item yang juga sedang ngetren dikalangan cewek-cewek saat itu. Tapi melihat Yora yang selalu memakai dan menjaganya (yang bahkan dulu sampai meyakinkan Siwon untuk tidak memberitahu tentang kalung itu pada guru), Siwon tahu nilai kalung itu bukan hanya sebagai fashion item semata. Kalung itu berharga, hanya saja ia tak tahu alasannya…

 

“Ini siapa?” Tanya Siwon 2 tahun kemudian, ketika ia sedang memainkan ponsel Yora di kelas. Di kelas 3 ini memang pertama kalinya mereka (akhirnya) sekelas, dan Siwon tentu tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Setelah 2 tahun hanya diam-diam menyukai, ia kini akhirnya dapat mendekati Yora secara personal. Dan sukses, mereka pun kini terhitung dekat meskipun belum tanpa ikatan. Yah, masalah ‘penembakan’ nanti sajalah, belum siap mental! pikirnya dalam hati seraya menggeleng kencang, begitu mengingat status mereka itu.

Mendengar pertanyaan Siwon, Yora yang sedang sibuk menyelesaikan PR untuk pelajaran mereka berikutnya pun menoleh. Siwon menunjuk-nunjuk wallpaper ponsel pink itu yang menunjukkan foto sepasang uljjang cilik dengan seragam SD mereka, dan seketika Yora tersenyum sebelum kembali melanjutkan pekerjaannya, “Aku.” Jawabnya singkat.

Siwon memicingkan matanya seperti berkata: Aku juga tahu, kalau itu mah… (¬_¬) yang seketika membuat Yora terbahak-bahak. Wajahnya memang tidak banyak berubah dari kecil hingga sekarang, sudah banyak yang bilang begitu.

Maka ia segera menambahkan, “Itu Dongwoon. Soulmate-ku.”

“Soulmate?” buru Siwon cepat dengan nada jutek tiba-tiba yang tidak ia sadari keluar begitu saja dari mulutnya. Iya, dia cemburu! Masalahnya Yora sama sekali tidak pernah bilang sesuatu tentang si Dongwoon-Dongwoon ini, satu-satunya pria lain yang ia tahu dekat dengan Yora dan selalu bikin dia jengkel ya hanya Yesung seorang. Kim Jongwoon. Disini, dia baru merasa kalau ia memang belum tahu apa-apa tentang seorang Park Yora…

Yora terkekeh seperti menggoda, “Kenapa?”

“Nggak.” Jawab Siwon cepat sambil buang muka. Argh, kembalikan wajah cool ala ice prince-nya! Kenapa di depan gadis ini semua rancangan coolness-nya selalu gagal total sih? *nggak nyantai* “Cuma… blasteran ya?”

“Um.” Angguk Yora cepat. Tuh kan, pantes. Setidaknya kalaupun aku kalah, aku kalah dengan setengah bule. Nggak buruk. pikir Siwon saat itu, sinis karena bersiap kalah saing dengan ‘soulmate’ gadis favoritnya ini. “Ganteng, ya? Aku penasaran banget deh wajah dia sekarang. Pasti lebih ganteng lagi.” Lanjut Yora dengan wajah berbinar.

Siwon menaikkan alisnya, menangkap ‘harapan’ dari jawaban Yora barusan, “‘Sekarang’? Memang dia sudah nggak disini lagi?”

“Dia pindah ke Turki, sudah lama sih. Sekitar 6 tahun yang lalu. Dan aku nggak tahu dia akan kembali atau nggak.” Jawab Yora sambil tersenyum tipis, dan sekilas Siwon memergokinya menggenggam bagian dada seragamnya? Entahlah dia juga tak yakin. Tapi dari ekspresi Yora ketika mengucapkan kalimat barusan, dia tahu, kalaupun suatu saat nanti mereka akhirnya bersama, dirinya memang akan terus berada dalam bayang-bayang Dongwoon ini…

 

“Noona.” Sapa Siwon pada kakak sang pacar ketika ia baru saja dipersilakan masuk oleh pembantu rumah keluarga Park. Hari ini adalah hari jadinya yang ke-6 bulan dengan Yora, dan mereka berencana akan merayakannya dengan pergi ke pantai bersama-sama.

Ryeoru, kakak Yora, segera menoleh begitu mendengar sapaan itu, “Siwon-ah! Ciee, yang mau enam bulanan…” Godanya seraya menyikut bercanda calon polisi itu.

Siwon tertawa malu, “Haha, aku anggap itu ucapan selamat deh. Thanks, noona!”

“Sama-sama.” Jawab Ryeoru. “Oh ya, tapi early warning aja nih, kalian sudah nggak ketemu semingguan kan? Nah, semingguan ini Yora kayaknya agak badmood. Mungkin ada hubungannya sama Dongwoon kali ya… Ah, lupakan. Yang jelas, pokoknya kalau nanti Yora agak cuek dan malas ngomong, biarin aja ya. Takutnya kamu yang dibentak-bentak. Hahaha.”

Siwon yang barusan sudah akan menyela tentang Dongwoon langsung kehilangan fokusnya begitu mendengar omongan terakhir Ryeoru, “‘Dibentak-bentak’? Seorang Park Yora bisa marah besar pun aku ragu lho, noona. Makanya… ngebentak sih aku nggak yakin deh.” Tolak Siwon sambil tersenyum. Sejauh yang dia kenal, dua kata benda yaitu ‘Yora’ dan ‘perkataan keras’ tidak akan pernah punya titik temu. Terkadang ia bahkan suka seram sendiri kalau ingat betapa gadis yang ia pacari ini begitu mirip dengan robot: teratur dan nyaris tidak punya emosi.

“Ckck, ini masalahnya lain, Choi Siwon-ssi… Ah, ya sudahlah, itu Yora turun. Have fun ya!” Seru Ryeoru sebelum kabur dan menarik Yora yang berjalan pelan-pelan ke hadapan kekasihnya.

Dan Siwon akhirnya membuktikannya sendiri. Yora hari ini memang terlihat diam, biarpun tetap memberikan senyumnya–yang datar–untuk sang pacar. Tapi sepertinya… selain keceriaan Yora, ada satu lagi yang luput dari penampilannya hari ini, sepenglihatan Siwon. Tapi apa? Ah ya sudahlah lupakan, hari ini kan mereka mau senang-senang!

“Masih lama, ya?” tanya Yora di setengah perjalanan mereka. Ia terlihat bosan sekali. Main HP sudah, mendengarkan musik sudah, tapi tetap saja mereka tak juga sampai.

“Kenapa? Capek ya?” respon Siwon sambil sesekali menoleh ke arah Yora, mengimbangi dengan fokus menyetirnya juga. Yora cuma mengangkat bahu seakan berkata jutek: Menurut kamu? “Ya sudah, tidur aja gih, nanti kalau sudah sampai aku bangunin.” Kata Siwon seraya tersenyum.

…yang langsung ia sesali ketika belum lama Yora tidur, ia mendengar sesuatu yang sangat tidak ingin ia dengar dari gadisnya itu. Ya, Yora mengigau… memanggil Dongwoon.

“Dongwoon-ah… Tukang bohong, tukang bohong… Aku benci—“

“Yora…” Siwon mengguncang-guncang bahu Yora pelan untuk membangunkannya. Belum berhasil. “Yora!”

Kesabaran Siwon akhirnya habis ketika igauan Yora kembali menyebut nama orang yang sudah lama tak didengarnya itu. Ia menginjak rem mendadak diiringi panggilan kerasnya barusan yang akhirnya sukses membuat Yora terbangun dengan kaget.

“Jagi-ya! Apa-apaan, sih?” tegur Yora sambil memegangi dadanya. Dan disitu Siwon baru sadar, satu hal  yang luput dari penampilan Yora hari ini adalah kalung itu…

Tapi itu bukan hal yang penting sekarang. Siwon menatap Yora tajam, “Kamu sadar nggak tadi kamu ngigau?”

“Oh ya?” tanya Yora balik sebelum akhirnya mendecak, “Ya ampun jadi cuma masalah ngigau aja? Oke, aku minta maaf. Tapi… oh please, Siwon, itu bukan—“

“Kamu panggil-panggil nama Dongwoon, Yora!”

DEG! Yora langsung membeku di tempat.

“Tadi di rumah, Ryeoru noona juga sempat sebut-sebut dia sebagai penyebab badmood kamu. Tapi sebetulnya siapa sih dia? Kenapa kamu terima aku kalau kamu masih terus ingat-ingat dia!” Siwon akhirnya meledak, menyuarakan keraguan hatinya akan posisinya di hati Yora.

“Dongwoon cuma teman kecilku, tadi mungkin aku cuma ingat dia aja.” Jawab Yora lugas.

“Kamu bilang dia SOULMATE-mu, Park Yora. Aku ingat sekali.”

“Teman kecil.” Yakin Yora.

“SOULMATE.”

“Hanya TEMAN KECIL, Choi Siwon. Dan dia nggak akan kembali lagi jadi aku mohon berhenti bicara tentang dia!” teriak Yora cepat yang langsung membuat Siwon terhenyak. Ramalan Ryeoru tadi benar, Yora yang ia pikir tidak akan pernah mampu berkata keras, kini memaki dirinya… Sebegitu berpengaruhkah seorang Dongwoon ini bagi Yora? Sampai ia mampu membuat Yora yang emotionless jadi penuh perasaan seperti ini?

“Oh, maaf.” Yora langsung menyadari sikapnya dan segera meminta maaf pada Siwon. Tapi pria itu menggeleng.

“Ya sudahlah.” Jawabnya. “Sini, kemari. Justru aku yang minta maaf karena sudah mengungkit-ungkit masa lalu kamu. Maaf ya, aku cuma takut kalau aku bukan satu-satunya yang ada di hati kamu. Aku takut sekali.” Jujur Siwon seraya memeluk Yora erat, ia betul-betul sangat takut kehilangan gadis ini.

Mata Yora mulai panas seiring gelengannya dalam pelukan Siwon. Ia sudah memutuskan. “Nggak. Cuma ada kamu, percayalah, cuma ada kamu.” baginya Dongwoon sudah mati kini. Waktunya telah habis, ia telah mengkhianati janjinya sendiri. Kini, tak akan ada lagi penantian…

Sementara Siwon hanya diam, namun dalam hati ia berharap semoga Dongwoon memang betul tidak akan pernah kembali. Karena kalau tidak, biarpun berat ia merasa ia harus melepas Yora…

“Ya sudah. Kita lanjut lagi, ya?” Tanya Siwon setelah melepas pelukannya. Yora mengangguk pelan. “Oh ya, ngomong-ngomong hari ini aku nggak lihat kalungmu, kemana?”

Yora menatap lurus ke depan sebelum akhirnya menjawab datar, “Hilang.”

End of Flashback

 

“Dongwoon… yang itukah?” Tanya Siwon terbata-bata.

Yora mengangguk dalam tunduknya, “Aku… hanya ingin kamu tahu kenyataan itu. Bagaimanapun kita punya komitmen untuk selalu terbuka–”

Siwon memejamkan matanya erat sebelum memutuskan untuk memotong perkataan Yora. Inilah yang terbaik untuk Yora. Apapun akan ia lakukan demi kebaikan gadis kesayangannya itu. Lagipula ia dulu sudah berjanji, dan sebagai gentleman, ia harus melaksanakannya. Biarpun itu harus mengorbankan dirinya… “Let’s get straight to the point. Kamu mau kita putus?”

Karena Siwon dapat merasakan betapa berartinya Dongwoon bagi Yora…

 

TBC

 

ah ini kacau sekali.. gagal-maksa… T.T

mian 😥

Advertisements
 
23 Comments

Posted by on June 16, 2011 in Super Junior, [THE SERIES]

 

Tags: , , ,

23 responses to “[THE SERIES] SOULMATE – Chapter 2

  1. hwangminmi

    June 17, 2011 at 9:03 am

    Huwaaa (╥_╥) jangan putus~~~
    Tidak tidak tidak tidak~ #apaandeh

    Yg ini kok rasanya kurang panjang ya eonni? (.__.) #PLAK

    Oh iya, aku galau lg ni eonni (╥_╥)
    *galau aja bilang”* (¬_¬)

    Dan seperti biasa, daebak eonni~
    \(•ˆ▽ˆ•)/

     
    • lolita309

      June 21, 2011 at 6:35 pm

      hahaha, gak rela ya kalo mereka putus kkkkk~

      kurang panjang ya? yaa maap yaa lagi buntu (?) nih otak huhuhu

      eh? galau kenapa? masi galau? *maap telat bales*

      aaa~ gomawo sayang^^

       
      • megumitm

        June 22, 2011 at 2:01 pm

        Gapapa deh, udah rela (?) ~(˘▿˘~) ~(˘▿˘)~ (~˘▿˘)~

        Galau? Udah nggak dong~
        Udah gak bisa berpaling lg soalnya~

        Eh emang eonni tau aku galau gara” apa? .__.a

         
      • lolita309

        June 22, 2011 at 5:27 pm

        gatau juga sih sebenarnya gara2 apa… hahaha tapi bagus deh kalo uda ga galau, selamat (?) ya kk~ 😀

         
  2. oepieck

    June 17, 2011 at 7:31 pm

    he? siwon minta putus?
    ni aku masih membelalakkan mata lho eonni.
    aigoo, beneran nih mau ngelepasin yora?
    terus yora-nya gimana?
    duh, hatiku makin jelas terbagi. siwon yang udah klop banget sama yora, tapi dongwoon orangnya juga perhatian. ish, bingung! aku penasaran banget nih eonni, sayang rasanya chapter kali ini pendek ^_^v
    yang selanjutnya jangan lama-lama ya 😀

    ujiannya gimana eonni?

     
    • lolita309

      June 21, 2011 at 6:37 pm

      hahaha, pendek yaa? huhuhu maap yaa lagi buntu banget nih beneran, ch.3 aja ga selesai2 ><

      ujiannya? belum berakhir sih…. tapi doain aja ya *cross fingers*

      makasi sayang uda baca+komen^^

       
      • oepieck

        June 22, 2011 at 12:35 pm

        sama-sama eonni ^^

        tenang aja, aku tungguin kok ^_^v sekali lagi fighting untuk unjiannya 😀

         
  3. GDictator710

    June 18, 2011 at 7:43 pm

    Pasti yora ngamuk wkt siwon gmg kya gt!
    Daebak lola

     
    • lolita309

      June 21, 2011 at 6:38 pm

      hahaha, ngamuk ga yaa? jawabannya di ch.depan 🙂

      aaa gomawo sayang^^

       
  4. wiehj

    June 19, 2011 at 4:14 pm

    haduuuu TBC nyaaaaa!! pas amat sih di saat yg menegangkan (?) kayak gtuuu >,<
    yora nya gag bilang ke woon klu dy ud punya siwon?? hmpp, pasti yora labil dehh
    lanjut asap yahh cingu 😀

     
    • lolita309

      June 21, 2011 at 8:56 pm

      hahaha, menegangkan (?) kah? :p

      oke, yora labil deh ini emang, tapi siapa coba yang nolak kalo tiba2 ada cowok macem dongwoon dateng gitu aja? aaaaa~ #PLAK

      hehe, makasi sayaang uda baca 🙂

       
  5. Carrie Cho

    June 19, 2011 at 9:19 pm

    YAKIIIIIN DEH ITU SIWON MINTA P-U-T-U-S? .__.
    nanti… menyesaaal loooh, penyesalan selalu ada di akhir bukan di awal =.=
    sumpaaah deh, hahaha segitu sukanya Siwon sama Yora wkwk sampai nanya nama, padahal udah jelas-jelas tau namanya Yora lol

    Siwon ituuuh kerjanya di bagian investigasi bukan yaaa? /plak #dasarreadersoktau

     
    • lolita309

      June 21, 2011 at 8:58 pm

      yakin kok yakin…. hehehe

      iya tuh, nyesel lho bang… (loh?) :p

      iyaaa sayang, sama kayak donghae kerjanya, kalo yesung polantas^^

      makasi uda baca 😀

       
  6. chrisnagustyani

    June 21, 2011 at 6:28 am

    UWAAA….!! Telat berapa minggu dh ni aku? Ckckck derita bokek nih ampe plsa aja kagak ada huhuhuhu

    nah loh siwon, gk nysal t apa mau mutusin yora? Mewek ntar yg ada… It jg si dongwoon maen asal lamar, kgak nanya dlu kek si yora pnya pcr apa blm.. Saran aku sih Dongwoon buat aku aja #plakk

    kalo gak, bisa poliandri aja << makin ngaco

    gmana ujiannya nyah, sukses?
    kalo ujianku mah sukses gagal, gmana gak gagal coba, soal tesnya it soal buat uji kompetensi dokter (yg udh lu2s dokter) tapi dicobain buat mhsiswa tingkat 1! Gmana gk botak tuh huhuhu…

     
    • lolita309

      June 21, 2011 at 9:01 pm

      baru telat 4harian kok sayang.. kkkk~

      hahaha, saya juga mau kalo dioper dongwoon mah. poliandri? bisa, bisaaaaa #digampar

      belom selesai say, tapi kayaknya gatot (gagal total) juga.. ah akuntansi memang lah itu… T.T

      weh, seru amat, semua mata kuliah digituin tuh? yang sabar yaaa cizzy sayang~~ *tepok pundak*

      😀

       
      • chrisnagustyani

        June 21, 2011 at 10:29 pm

        ah nyonyah.. membuat ku makin tergila-gila pada soso dongwoon!! tapi sumpeh, aku gak suka liat rambutnya di fiction, bagusan waktu di Soom^^

        ayo nyah HWAITING! Siwon n Dongwoon menunggumu!! Ujiannya ahrus sukses biar bisa cepat publish part 3 nyaa~

         
      • lolita309

        June 21, 2011 at 10:57 pm

        eh? aku malah suka di fiction… tp di soom emang keren banget sih aaaa~!

        gomawo sayaaang, seneeng deh ada yang semangatin, makasi yaaa terharu deh :’)
        mudah2an minggu ini bisa update… amin! 😀

         
  7. ms.o

    June 30, 2011 at 11:54 pm

    aigo,,putuss? jangan, udah pas mantab tuh berdua

     
  8. babyhae

    July 8, 2011 at 12:34 pm

    ah, Siwon…kenapa jadi ada sunda-nya di sana? wkwkwkwk #plakk

    Siwon bisa marah? eh, gimanapun siwon cowok sih, “hak miliknya” dilirik orang, pasti bakal murka ehehehe….Yora marah? kebiasaan taunya Yora ngambek LOL

    Siwon, pertanyaan terakhirnya sangat mengerikan pake bawa-bawa kata keramat itu..putus?? andweee!!

    lanjut ke ch. 3 ah^^

     
    • lolita309

      July 8, 2011 at 7:14 pm

      hahaha, saya banyak nyunda selama bikin ini, ini di ch.4 pake acara ada kata keukeuh segala…. apadeh banget -____-

      XDD

      huaaaaa~ bahkan pembaca uda bisa ekspektasi kelakuan Yora.. keliatan jelas ini perangainya itu cewek yaaa kkk~ aih mewakili Yora saya jadi malu >< #PLAK

      makasi uda baca sayang^^

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: