RSS

DEUDGOSHIPEUN MOKSORI – Part 2 (END)

16 Jul

Deudgoshipeun Moksori (The Voice I Want To Hear) – Part 2 (END)

(Part 1)

Written by: Lolita Choi

Starring: Jung Yunho

 

“Apa tidak ada orang yang suaranya betul-betul Anda rindukan? Anim… kajang, deudgoshipeun moksori? (Atau… yang ingin sekali Anda dengar?)”

Aku membaca baris demi baris tulisan dokter yang tiba-tiba disorongkannya itu dan pikiranku seketika hanya melayang pada satu orang… Cheonsa.

Sampai saat ini aku bahkan tak pernah terpikir untuk bisa mendengar suaranya. Tapi setelah dokter ini membahasnya… betul juga. Waah payah sekali, kenapa aku tiba-tiba jadi sangat ingin mendengarnya bicara langsung padaku?? Bagaimana suaranya? Bagaimana caranya bicara? Aku jadi ingin sekali mengetahuinya…

“Ada… sih Dok.” Jawabku akhirnya, cukup malu, sih. Dokter muda itu menyilangkan tangannya di depan dada, tertawa kecil. “Tapi… Tapi, tentang operasi itu saya masih belum bisa memutuskannya kalau tiba-tiba begini…”

“Gwaenchanseumnida.” Jawab sang dokter dengan gerak bibir yang jelas lagi. Tatapannya terlihat teduh. “Nikmati, waktu, Anda. Oke?” Lanjutnya sembari bangkit dan menepuk pundakku. Ia kini duduk di pinggir mejanya sendiri.

“Terima kasih, dr. Shim.”

“Ne.” Ucapnya sambil mengangkat bahu dan alisnya sebelum tertawa ramah. Dokter THT ini betul-betul asik sekali pembawaannya. “Ah matda.” Katanya tiba-tiba seperti teringat sesuatu. Aku mengikuti segala gerak-geriknya.

“Apa sudah ada obat Anda yang habis? Biar sekalian Anda kesini.” Tulisnya pada kertas tadi. Aku merogoh kantongku dan mengeluarkan botol anti depresan tadi yang memang isinya tinggal sedikit, menunjukkannya padanya. Hanya ini sih obat yang menurutku bisa gawat kalau tiba-tiba tak ada saat dibutuhkan. Ia mengangguk mengerti.

Setelah menggoreskan pulpennya di tempat lain yang sepertinya kertas resep, ia pun segera mengulurkannya padaku.

“Gomapseumnida.” Ucapku yang dibalas anggukannya. Tapi dahiku seketika mengerut melihat isi resep itu. Bukan karena apa yang tertulis disana (mana aku mengerti tulisan abstrak begitu), melainkan… “Lho, Dok? Tulisan Anda kok beda?” Sungguh, selama kami mengobrol tadi ia bahkan sudah berhasil mengubah paradigma-ku kalau tidak semua tulisan dokter itu bak sandi rumput, tulisannya bagus sekali! Tapi kenapa begitu ketemu kertas resep jadi begini lagi… -__-

Dia hanya tertawa mendengar tanyaku. Tertawa, dan terus tertawa, bahkan ketika aku akhirnya mohon diri untuk pulang. Yah, sepertinya selamanya itu akan tetap jadi misteri untukku… (Jawabannya adalah: author pernah denger kalo katanya ketika nulis resep memang ada standardisasinya, yang cuma dokter sama apoteker yang bisa baca jadi nggak mudah disalahgunakan… Ya nggak sih Ciz? *nanya Cizzy yang anak FK :p)

Dan malam itu, aku sungguh tidak bisa tidur. Di kepalaku terus terbayang wajah Cheonsa. Dan suaranya… bagaimana sebetulnya suaranya? ‘Oppa, oppa!’ betapa ingin aku mendengar panggilan itu secara langsung. Deudgoshipeun moksori (Suara yang ingin kudengar)… Aah, dokter itu pintar sekali meracuni orang! kambing hitam-ku dalam hati akhirnya, sebelum buru-buru menarik selimut dan memaksa tidur.

 

***

 

“Apa oppa tidak mau belajar bahasa isyarat?” Tulis Cheonsa suatu hari, ketika kami bertemu di taman, lagi-lagi.

Aku mengernyitkan keningku, kaget mendapatkan pertanyaan ini dari orang yang memang paling aku khawatirkan setelah beberapa hari lalu aku bertemu dr. Shim yang akhirnya menyadarkanku. Maka aku bertanya takut-takut, “Kamu… capek harus selalu menulis?”

Ia buru-buru menggeleng dengan wajah bersalah, “Tidak, kok… tidak. Hanya aku sedikit bisa bahasa isyarat jadi kalau oppa mau belajar mungkin aku bisa bantu. Bukan karena aku capek. Sungguh.” Ia menyorongkan agendanya yang baru sebentar sudah buru-buru ditarik dan ditulisinya lagi. “Hanya kalau oppa mau.” Tulisan yang ia tambahkan di sana.

Aku berpikir sebentar sebelum akhirnya mengacak rambutnya, “Aku pikir-pikir dulu ya. Mau es krim?”

Ia menatapku riang seraya mengangguk pasti satu kali, “Um!”

Park Minyoung cilik-ku ini buru-buru menyerbu es krim cone yang kubawa begitu aku bahkan baru mulai menghampirinya. Ia menikmatinya dengan gembira, betul-betul menerapkan etika ‘dilarang bicara saat makan’ saking seriusnya melahap es rasa stroberi itu. Aku menatapnya sambil tersenyum. Dia memang betul-betul lebih cantik dari Park Minyoung, kini aku mengakuinya. Mau ia bertambah usia pun, aku yakin ia akan tetap lebih cantik dari mantan lawan main Yoochun itu. Tapi sungguh, tak pernah terbayang kalau aku suatu hari akan bisa berhubungan dengan fans, apalagi yang muda belia seperti ini. Usia Cheonsa bahkan masih belasan, 19 tahun. Tapi ia tidak melanjutkan kuliah dan memilih belajar sendiri di rumah karena sudah terbiasa dengan sistem homeschooling sejak kecil dulu. Lihat, aku bahkan sudah tahu begitu banyak tentangnya, hanya tinggal satu lagi… “Cheon-ah… seperti apa ya suaramu?”

Ia seketika menghentikan aksi jilat es krim-nya dan memandangku kaget, seperti berkata “Eh?” mendengar gumaman asal-ku itu.

“Kenapa? Apa ada yang aneh?” Tanyaku bingung.

Cheonsa secepatnya menggeleng sebelum meraih agenda yang tergeletak di pangkuannya dan menulis, “Hanya… dulu oppa pernah bilang sudah merelakan saja semuanya…”

Aku membacanya dan segera tersenyum, “Oh, kamu kaget aku tiba-tiba berubah pikiran ya?” Aku mengacak rambutnya. “Haha, ini masih cuma pikiran asal kok. Aku cuma penasaran saja, bukan mau operasi.”

Padahal kenyataannya… setiap malam aku kini memikirkan kemungkinan tersebut. Karena dari hari ke hari, semakin aku melihat Cheonsa, semakin ingin pula aku mendengar suaranya… Apalagi setelah ia juga menganjurkan bahasa isyarat itu. Daripada bahasa isyarat, berkomunikasi langsung pastinya lebih baik kan? Betul lagi apa yang dikatakan dr. Shim padaku dulu waktu aku bersikeras tidak mau dioperasi. Untuk aku agar bisa menginginkan pendengaranku lagi, memang dibutuhkan motivasi… Sesuatu yang untuk bisa mendengarnya aku bahkan rela menjalani operasi biarpun nanti hasilnya tak sempurna dan hanya akan mampu mendengar pelan suaranya. Jadi kalau sekarang… apa bisa dikatakan kalau aku sudah menemukan motivasi itu?

Kali ini aku betul-betul tidak bisa tidur, semalaman aku berpikir keras, menimbang-nimbang segala keputusan yang bisa aku ambil sebelum akhirnya, di depan Junsu dan Yunhwa saat sarapan, aku mengutarakan semuanya, “Sepertinya aku akan menjalani operasi itu. Aku sudah memutuskan.”

 

***

 

“Jung Yunho-ssi, Anda bisa mendengar saya? Jung Yunho-ssi?”

Aku terbangun pasca obat biusku menguap dengan suara kecil seorang pria di telingaku. Telinga… Suara? Aku buru-buru membuka mataku dan bangkit saking kagetnya bisa mendengar lagi hal kedua yang kusebutkan tadi sebelum akhirnya… “Aw!” Rintihku menahan nyeri yang tiba-tiba menyeruak di sebelah telingaku.

“Ya~ Pelan-pelan sajalah, suara-suara di dunia ini sudah tak akan bisa kabur lagi kok.” Tegur dr. Shim sambil tersenyum menatapku. Oh… jadi yang tadi suaranya? Suaranya tinggi, setinggi orangnya… pikirku, masih norak dengan hasil operasiku yang biarpun dalam volume kecil, tapi aku bisa mendengar semuanya ini. Aku mengedarkan pandangku dan barulah aku betul-betul bisa melihat semua orang di kamar rawatku. Ada Junsu, Yunhwa dan Soya, Yoochun…

Yoochun??

“Yoochun-ah! Neo–”

“Aku yang meneleponnya.” Junsu mengangkat tangannya. “Dia memberiku nomornya saat menyerahkan uang hasil galang dana para artis ke kantorku.” Dan suara Junsu… tidak pernah aku begitu senang mendengar suara adik iparku ini.

“Hey, man!” Yoochun mendekat dan memelukku. Ditepuk-tepuknya juga punggungku, oh, betapa aku juga ternyata merindukannya…

“Chocoball?” Tanyaku padanya. Ia melepas peluknya sebelum menjawab.

“Semua jadwal. Tapi pasti mereka semua bakal berkunjung sebelum kamu discharge.”

“Oppa…” Tiba-tiba ada suara memotong percakapan kami. Aku menoleh, dan terlihat Yunhwa sudah sukses banjir airmata dengan Soya yang terlihat bingung ibunya tiba-tiba menangis akhirnya sibuk menghapusi lelehan air di pipi Yunhwa dengan tangan mungilnya. “Oppa… jadi sudah betul-betul bisa mendengar lagi kan?”

“Apa? Aku tak bisa mendengarmu, Jung Yunhwa.” Balasku. Ia terlihat kaget, tapi aku kemudian tertawa, “Karena suaramu terlalu kecil. Sini, kemari.” Aku merentangkan tanganku ingin memeluknya. Ia tersenyum lega dan segera menghampiriku setelah mengoper Soya pada Junsu. Kami berpelukan erat dengan aku mengelus lembut rambut sedangnya.

Yunhwa… orang yang paling aku kasihi di dunia ini. Orang yang paling mengkhawatirkanku melebihi siapapun di dunia ini. Betapa aku merindukan suaranya… “Sekarang kamu tak perlu ragu lagi berkata keras padaku. Kamu bahkan harus melakukannya, kalau tidak aku tidak akan bisa mendengarmu.” Bisikku. Ia mengangguk dengan airmata masih mengalir di pipinya. Aku menghapus itu semua sebelum mencubit pipinya penuh sayang.

Kini, dunia bukan lagi film bisu bagiku…

 

***

 

“Yunhwa-ya, aku keluar lagi!” Seruku yang sudah sibuk memakai sepatu, siap dengan rutinitasku bertemu Cheonsa di taman.

Yunhwa tergopoh-gopoh menghampiriku dengan tangan masih memegang mangkuk dan sendok bayi hasil menyuapi Soya. “Iih, oppa kan baru pulang dari RS hari ini, besok saja kenapa sih?”

“Ooh, tidak bisa…” Bantahku cepat-cepat. “Aku bahkan membujuk dr. Shim mengeluarkanku cepat-cepat demi ini, Saeng.”

Yunhwa menatapku kesal, “Sebetulnya siapa sih yang oppa temui itu? Tak pernah mau kasih tahu, deh.”

Aku tertawa sebelum menghela napas menyerah. Yah, cepat atau lambat dia juga pasti akan tahu, kan. “Anak blok sebelah, Yong Cheonsa. Kamu kenal? Masih muda, umur anak kuliahan lah.” Jawabku akhirnya.

“Yong Cheonsa? Yong… Blok sebelah…” Yunhwa mengernyitkan alisnya, seperti berpikir. “Ah, putri keluarga Yong itu? Yang mirip Park Minyoung?” Tanyanya sedikit kaget. Aku mengangguk antusias.

“Betulkah? Tapi bukankah putri keluarga Yong itu–”

“Aah, Yunhwa, Yunhwa, aku sudah telat! Lanjut nanti saja ya, aku pergi dulu. Dah!” Seruku memotong omongannya seraya langsung berlari pergi.

Masih dapat kudengar teriakannya dari belakang, “Lho, oppa…!!”

 

 

“Kemarin-kemarin kemana saja? Tak datang dan tak ada kabar.” Cheonsa menyerahkan agendanya yang terbuka begitu menghampiriku di taman ini dengan wajah ditekuk.

Aku membacanya dan malah tertawa. Ia sukses makin menggembungkan pipi chubby-nya kini. “Sudah, sudah… Sini duduk.” Kataku akhirnya seraya menarik gadis itu ke sebelahku, sebelum pipinya betul-betul meletus saking sudah begitu gembungnya.

“Untuk menjawab itu, aku punya dua kabar buatmu: baik dan buruk. Mau yang mana dulu?”

“Buruk.” Jawabnya masih ketus. Ha, pilihannya betul-betul tipikal para gadis. Kabar buruk terlebih dulu supaya nanti tetap bisa sedikit terobati dengan kabar baik sesudahnya.

Aku tersenyum, “Kabar buruknya adalah kita harus segera memuseumkan agendamu itu,” Aku menunjuk agenda coklat muda digenggamannya. Ia menatapku bingung. “…karena kabar baiknya adalah mulai hari ini kita sudah bisa berkomunikasi secara lisan! Ya Cheonsa, ya, aku menjalani operasi itu dan sudah bisa kembali mendengar…!!”

Tapi tak seperti yang kukira, wajahnya tidak menunjukkan tanda-tanda bahagia mendengar berita baikku ini. Entahlah… air mukanya tak bisa dideskripsikan, kaget pasti, tapi juga ada campuran… takut?

Ia buru-buru membuka lagi agendanya dan menulis disitu cepat bahkan sebelum aku bisa mencegahnya, “Tapi oppa bilang oppa TIDAK akan operasi!”

“Hei, kamu masih terbiasa menulis, ya? Sekarang kan sudah kubilang tidak perlu lagi…” Aku segera menurunkan agenda yang dibukanya ke arahku itu. Dan akhirnya bisa kulihat wajahnya… yang tambah cemberut seperti sebisa mungkin menahan tangis. Dan perkataannya tadi… Aku makin tak mengerti dengan semua sikapnya, “Tunggu. Ada apa sih ini?”

Aku menatapnya intens, meminta jawaban. Setelah sibuk mengatur napasnya berkali-kali, ia kini juga memberanikan diri menatap tepat di kedua mataku. Dan sekali lagi ia menarik napasnya… “Ahhu hikhu, opha.” Katanya dengan artikulasi tak jelas. Aku makin mengernyitkan dahiku heran, maka ia kembali mengambil agendanya dan menulis besar-besar:

“AKU BISU, OPPA!!”

 

***

 

Aku berguling-guling gelisah di atas kasur, berniat tidur dan melupakan semuanya, semua yang terjadi padaku hari ini tapi tak bisa. Maksudnya, bagaimana mungkin aku bisa?? Malaikatku… gadis yang kucintai, orang yang suaranya selalu ingin aku dengar, ternyata selama ini… BISU?

Tapi aku sudah bertekad untuk melupakannya! Dia tak baik untukku… itu sudah jelas, kan? Mungkin aku akan terdengar sangat jahat, tapi kalau mau jujur-jujuran, dia cacat, dan aku (kini) setengah cacat. Bagaimana kami nanti bisa maju? Memang tak ada jalan lagi bagi kami selain aku yang berinisiatif meninggalkannya…

Tapi kenapa sekeras apapun aku berusaha lupa, wajah dan ekspresinya tadi siang terus menghantuiku??

 

Flashback

“AKU BISU, OPPA!”

Aku membaca huruf demi huruf dalam agenda itu dengan hati hancur tak karuan. Cheonsa… bisu? Ia… tidak bisa bicara? Aku masih tak percaya itu semua! Bagaimana mungkin? Jadi sebetulnya motivasiku itu… tak pernah ada? “Kamu–”

Ia mengangguk pelan, airmata terlihat mulai menetes di pipinya tapi cepat-cepat ia hapus. Kini ia sudah menyorongkan lagi agendanya padaku, “Suaraku buruk ya, oppa? Maaf. Tapi aku sudah berusaha sekuat tenaga…”

Aku menggeleng cepat-cepat, yang lebih terasa refleks daripada merupakan cerminan perasaanku sendiri. Karena perasaanku… campur aduk, aku sama sekali tak siap dengan kenyataan ini, mana pernah aku mengira kalau ia ternyata bisu?? Dan sekejap, aku seperti merasa dibohongi mentah-mentah. Kenapa ia selama ini tak pernah bilang? Apa maksudnya? Karena itu kan aku juga jadi berpikir kalau semua memang baik-baik saja. Ia gadisku yang sempurna. Tapi ternyata semua bullshit!

Aku baru akan mengeluarkan semua kemarahanku itu ketika tiba-tiba semua potongan-potongan kejadian sejak awal pertemuan kami berkelebat di pikiranku. Apa yang ia bilang waktu pertama kami berbicara?

“Dari tadi juga aku sebenarnya mau tulis disini kok.”

Jadi itu karena ia memang ingin berkomunikasi dengan tulisan padaku? Karena ia… bisu? Dan bukan karena ia putus asa melihatku dengan earset seperti yang selama ini aku pikirkan? Karena itu jugakah sejak awal ia selalu memandangku layaknya teman yang setara, bukan lebih rendah? Itu jugakah kenapa selama ini ia selalu seperti mengerti perasaanku tentang kecacatan ini?

Dan waktu itu juga…

“…aku sedikit bisa bahasa isyarat…”

Dan ekspresi kagetnya ketika aku bergumam tentang bagaimana kira-kira suaranya… Itu bukan karena kaget atas perubahan pikiranku yang tiba-tiba, tapi juga karena ini? Jadi pada dasarnya, selama ini ia sudah menunjukkan tanda-tanda itu tapi aku saja yang terlalu bodoh dengan selalu berpikiran yang indah-indah??

Tanpa aku sadari, sedikit demi sedikit aku mulai menjauhkan posisi dudukku dari dirinya, seperti langkah awal untuk juga menjauhkan hubungan kami sebelum akhirnya, memutuskannya. Dan dalam sekejap aku sudah berdiri, buru-buru membungkuk ke arahnya dan berlari pulang tanpa kata. Layaknya pengecut.

Flashback end

 

“…ppa, oppa…”

Aku menoleh dari pembaringanku begitu mendengar suara kecil itu. Terlihat Yunhwa melongokkan kepalanya di pintu kamarku.

“Oh, kamu. Masuklah, maaf aku tadi tak mendengarmu.” Kataku seraya bangkit dan duduk di pinggir tempat tidurku. Yunhwa melangkahkan kakinya dan ikut duduk di sana. “Junsu sudah pulang?” Tanyaku padanya.

Ia mengangguk, “Iya, sedang main dengan Soya.”

Diam.

“Ah, oppa.” Yunhwa akhirnya kembali buka suara. Aku menoleh lagi. “Tentang Yong Cheonsa…”

Cheonsa. Oh ya, aku baru ingat kalau tadi sebelum pergi kami memang sedang bicara tentangnya. Dan sepertinya Yunhwa juga tahu tentang ‘hal itu’… “Hm, kenapa?”

“Oppa… tahu kan kalau dia… tuna wicara?” Tanya Yunhwa, ragu-ragu makanya memilih kata yang sangat sopan.

Aku terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk.

Yunhwa kembali melanjutkan kata-katanya, “Aku juga baru pindah kesini tiga tahun, setelah menikah dengan Junsu makanya juga hanya tahu sedikit-sedikit tentangnya dari ibu-ibu kompleks. Tapi kalau oppa betul-betul menyukainya, aku sangat mendukung.

“Dari yang kudengar, ia lahir memang dengan pita suara yang memiliki kelainan. Tapi hal itu tidak membuatnya kehilangan semangat. Ia menggunakan segenap alat indranya yang lain semaksimal mungkin hingga akhirnya bisa tumbuh menjadi gadis yang cantik–Park Minyoung, kan?–dan berbakat. Berbagai kejuaraan piano ia menangkan. Ia musisi sama seperti oppa, makanya tadi aku bilang aku akan mendukung jika oppa betul-betul suka padanya. Ia sangat membanggakan… sungguh hanya kekurangannya itu saja yang sangat disayangkan. Dan aku tahu betapa berat waktu yang ia lalui hanya karena hal itu…”

“Eh?” Reaksiku seketika setelah selama tadi hanya diam dan mendengarkan.

Yunhwa menatapku seperti bertanya, “Apa?” dengan ekspresinya.

“Kamu tahu betapa berat waktu yang dia lalui karena kekurangan itu…”

“Um.” Angguk Yunhwa. “Ini sudah seperti rahasia umum penghuni kompleks ini, sih…”

Aku mendengarkan segala penjelasannya dengan baik.

“Kita semua tahu betapa cantiknya Yong Cheonsa, itu sudah tersiar sampai ke seluruh kota ini, bahkan. Beberapa fotonya juga sempat di upload ke internet, seperti oppa dulu lah, uljjang.”

“Kamu juga, uljjang-nya Gwangju.” Potongku, menyebut sebutan yang diberikan orang-orang pada adikku dulu. Gwangju adalah kota asalku dan keluargaku.

Ia tertawa, “Ya apalah itu… Nah, kembali ke topik. Fotonya menyebar luas di forum-forum sebagai Park Minyoung muda, bahkan sampai ada agensi yang mencarinya untuk direkrut. Tapi justru disitu titik masalahnya… Agensi itupun akhirnya menolak mentah-mentah, tidak jadi mengajaknya bergabung ketika mereka tahu kalau Cheonsa istilahnya… cacat,” Yunhwa juga seperti tidak sampai hati mengatakannya. “Dan yang bikin aku kesal adalah agensi itu menyebarkannya di internet, sehingga semua orang yang tadinya memujinya pun kini menghinanya, minimal menyayangkan kekurangannya itu. Pria-pria seumurannya yang tadinya sudah akan mendekatinya pun buru-buru menarik diri, bahkan ketika akhirnya ada pria yang tulus sayang padanya, malah kedua orangtuanya yang tidak setuju putranya berpacaran dengan gadis cacat. Dengan terpaksa mereka pun harus putus, dan aku saja bisa membayangkan pasti sakiiiit sekali ketika kita sudah susah payah menemukan seseorang, tapi kemudian dipaksa berpisah begitu saja, hanya karena keegoisan semata…”

DEG! Aku tersentak mendengar kata-kata adikku itu. …hanya karena keegoisan semata… Bukankah itu ‘aku’ sekali? Aku meninggalkannya, mencoba melupakannya, hanya karena tiba-tiba tahu kalau ia tuna wicara. Padahal selama aku tuli, ketika semua orang membuangku, ia masih tetap disana, bersedia menjadi telingaku, tetap menjadi penikmat setia karya-karyaku… Dan kini hanya karena kepengecutanku, aku membuangnya. Tidak pernah berpikir tentang apa yang ia rasakan, aku telah menjadi salah satu dari banyak orang egois yang meninggalkannya hanya karena satu kekurangannya itu. Aku sama saja seperti mereka!

“…makanya oppa, aku harap sih oppa jangan jadi kayak gitu. Karena kalau aku dan Junsu pasti akan dukung 100%, jadi tinggal bagaimana oppa saja. Kalau oppa tak serius lebih baik jangan lanjutkan, aku tak akan pernah memaafkan oppa kalau oppa berani-berani ikutan jadi oknum-oknum yang jahat padanya itu.” Ancam Yunhwa bercanda sebelum akhirnya tersenyum dan menepuk pahaku hangat. Aku menatapnya selama beberapa saat. Di waktu-waktu ia berkata bijak seperti ini, aku baru betul-betul sadar kalau adikku ternyata sudah dewasa. Tidak hanya karena sudah menjadi seorang ibu, ia betul-betul telah menjelma menjadi sosok yang keibuan. Persis seperti ibu kami.

Seperti disentil rasanya mendengar semua cerita adikku itu. Betapa aku baru sadar kalau aku telah sangat brengsek bahkan hanya dengan sudah berencana untuk kabur dari hidup seorang Yong Cheonsa, mengingkari semua yang sudah ia berikan di saat-saat terberat hidupku beberapa waktu lalu. Sudah sepenuhnya sadar, maka aku pun akhirnya kembali memutuskan.

“Terima kasih ya, Saeng. Ya sudah, oppa sekarang juga pergi dulu ya. Sebentar kok.” Kataku membalas senyumnya sambil buru-buru beranjak dari kasur.

“Eh, eodikayo (mau kemana)?” Buru Yunhwa seketika.

Aku tersenyum lebar, “Mencari kakak ipar untukmu! Dah!”

“HAH??”

 

***

 

Beberapa tahun kemudian,

Tahun-tahun berlalu begitu cepat ketika duniaku bukan lagi sebuah film bisu. Oh, begitu cepat dan juga begitu berisik lebih tepatnya, bahkan bagi ‘telinga volume rendah’-ku. Yah, biarpun sebetulnya keberisikan itu lebih kepada hal ini, sih…

“Huaaaa… Huaaaa…” Tangis anak 1.

“Huaaaaa… Aaaaaa…” Tangis anak 2.

“Aaaaaaaaaaaa…” Teriakan anak 3.

Tiap hari aku stres menghadapi ini semua, belum lagi ketika tiba-tiba… “AWW!!”

Cheonsa memeletkan lidahnya ke arahku setelah sukses menginjak kakiku sebagai hukuman tak membantunya menenangkan murid-murid cilik kami. Tiap hari tak terhitung berapa kali aku disiksa olehnya karena dianggap tak membantu. Wah, dia tak tahu kan aku punya trauma dengan anak kecil sejak kejadian Soya dulu, dan sampai sekarang trauma itu masih ada! Lagipula aku juga membantu mengajar anak-anak yang lebih besar, kok… Yang tak suka merengek dan menangis. Membuat aku rasanya ingin kembali ke dunia film bisu-ku yang dulu saja… Eeh, tidak deh, tidak. Aku bercanda! Sama sekali aku tidak ingin kembali ke neraka itu!

Ya, selamat datang di sekolah musik luar biasa yang kudirikan bersama dengan calon istriku itu. Sekolah ini sudah kami bangun sejak dua tahun lalu namun baru resmi dibuka kurang lebih setahun, hasil kecintaan kami pada musik sekaligus apresiasi bagi anak-anak bangsa yang memiliki kekurangan namun tetap semangat ingin mempelajari musik, seperti kami. Aku dan calon istriku tadi memang bisa dibilang ‘kurang sempurna’, aku yang setengah tuli dan dia bisu, tapi kami berdua adalah musisi. Ia yang sampai sekarang masih aktif berpiano, dan aku yang mantan komposer kebanggaan negeri ini. Itulah awal dari proyek sekolah yang cukup unik milik kami.

Kuperhatikan gerak-gerik Cheonsa yang memang betul terlihat kerepotan menghadapi bocah-bocah itu. Ini kebetulan adalah kelas beginner bagi tuna wicara, tuli parsial, maupun tuna rungu (bisu-tuli) yang memang dipegang penuh olehnya. Makanya dari tadi ia sibuk memberi gestur tangannya, mencoba meminta ketenangan mereka dengan bahasa isyarat. Dan begitu melihat aku yang belum juga bergerak membantu, ia kini malah menyasarkan bahasa isyarat omelannya padaku. Buru-buru aku pun menurutinya sambil cengar-cengir.

Aku memberikan isyarat padanya agar ke depan saja dan mulai memainkan piano, instrumen andalannya, dan meninggalkan urusan penenangan bocah-bocah yang jumlahnya tak lebih dari 10 ini padaku. Ia mengangguk mengerti, dan tak lama, dentingan indah piano dari juara berbagai kompetisi piano itupun mengalun.

Yang seketika juga, seperti perhitunganku, langsung membuat bocah-bocah ini diam begitu saja. Musik memang bahasa universal, bahkan bagi anak-anak luar biasa ini.

Maka mumpung mereka sedang terbuai, aku pun segera menggunakan bahasa isyaratku dan menyuruh mereka duduk dengan baik, dan mendengarkan dengan baik karena nanti mereka pun akan mencoba satu-satu piano itu. Benar saja, dengan mudah dan bersorak-sorai mereka pun menurut dan duduk manis mendengarkan.

Bahasa isyarat. Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh kelas ini, yang akhirnya berujung pada malaikat kami yang bersinar di depan: kekasihku selama 3 tahun ini, Yong Cheonsa. Guru bahasa isyarat dan juga guru kehidupanku. Aku masih ingat bagaimana awal pertemuan kami, kisah hidupnya yang menyadarkan perasaanku sesungguhnya, perjuanganku merebut kembali hatinya (yang untungnya aku cepat-cepat sadar tentang perasaan ini jadi tak butuh waktu lama ia sudah memaafkanku yang sempat meninggalkannya), sampai tiap detil kebersamaan kami dari yang dulunya masih capek-capek berkomunikasi lewat tulisan sampai akhirnya lancar dengan bahasa isyarat ini. Dan dari hari ke hari, aku makin sadar betapa dalam perasaanku padanya.

“Yong Seonsaeng-nim, Jung Seonsaeng-nim, gomapseumnida. Annyeonghaseyo.” Satu per satu orangtua murid-murid kami pun datang menjemput ketika sudah tiba waktunya pulang. Kami membalas satu per satu anggukan dan bungkukan dari mereka, yang betul-betul mengisyaratkan rasa terima kasih mereka pada kami dan sekolah ini. Walaupun kenyataannya, kamilah yang sesungguhnya harus berterima kasih. Dulu-dulu, mana ada orangtua yang begitu memperhatikan perkembangan non-akademis putra-putrinya yang memiliki kekurangannya? Tak jarang bahkan ada yang malah menguncinya di rumah saja agar tidak membuat malu keluarga. Maka ketika kini banyak orangtua mulai mencari kegiatan penunjang bagi anak-anak hebat itu seperti dengan memasukkan mereka ke sekolah musik seperti ini, tentu kamilah, sebagai dua orang yang juga memiliki nasib yang sama dengan anak-anak itu, yang harus berterima kasih…

Aku masih menyalami seorang ibu yang putra remajanya mengambil kelas composing-ku ketika kudengar Cheonsa terkekeh sambil tetap membalas salam para orangtua murid. Begitu ada jeda aku pun langsung menyenggolnya, “Kenapa ketawa-ketawa sendiri?”

Ia masih tertawa kecil sebelum menjawabku dengan bahasa isyaratnya.

“‘Andeullini’? (‘Oppa tidak dengar, tadi?’)” Tafsirku. Aku buru-buru menggeleng, menjawab sendiri apa yang kukatakan. “Anha, deulliji anha, wae? (Tidak, tidak dengar… Memang mereka ngomong apa?)”

Cheonsa pun kembali dengan isyaratnya.

“Hm? Banyak, ibu-ibu, yang naksir sama, AKU??” Bacaku dari gerakan-gerakannya. Ia mengangguk-angguk geli dan kembali menambahkan gerakan tangannya, “Tapi, murid-murid remaja… KU, suka sama… KAMU??”

Ia mengangguk-angguk lagi dengan senang. Aku mengacak rambutnya, sok ngambek. “Iya deh… Park Minyoung.” Tekanku pada nama artis yang sering dibilang mirip dengannya itu. “Haah, padahal kamu cuma mirip artis, sedangkan aku dulu bahkan ARTIS betulan, tapi tetap saja disini lebih populer kamu.”

Ia makin mengikik bahkan ketika kami sudah berjalan kembali ke ruang guru. Aku awalnya masih sok cemberut, tapi begitu melihat wajah tertawanya, tak bisa kuhindari senyum juga terbentuk di bibirku. Aku merangkul pundaknya penuh sayang, yang dibalas pelukannya di pinggangku.

Aku–KAMI–bahagia, betul-betul bahagia. Hubunganku dengannya adalah hubungan yang paling menyenangkan selama petualangan cintaku dengan beberapa wanita selama ini. Menyenangkan, karena kami saling melengkapi. Ia adalah telingaku, dan aku adalah suara baginya, semua dalam arti harfiah. Aku memang tak sepenuhnya tuli, tapi ada saat-saat aku tak bisa mendengar jika seseorang berkata terlalu pelan atau dari jauh. Di saat itulah Cheonsa berperan, tepat seperti ketika ia memberi tahu omongan ibu-ibu orangtua murid tadi, yang biarpun apa yang ia dengar memang kadang tak penting, tapi selalu membuatku tertawa.

Sedang aku, aku berperan ketika kami harus berhadapan dengan orang lain. Seperti ketika memesan makanan, maupun menghadapi orangtua murid yang berkonsultasi. Di saat itu Cheonsa akan menjawab dengan bahasa isyarat dan aku yang menyampaikannya.

Tapi bukan berarti hubungan kami selalu indah karena simbiosis mutualisme itu, karena namanya juga pasangan dengan kekurangan yang bertolak belakang, terkadang kami suka salah tafsir yang berakhir salah paham, maupun yang lainnya. Tapi tentu saja itu semua malah membuat kami jadi terpacu untuk lebih saling mengerti satu sama lain dan mengusahakan jalan bagi perbedaan kami itu. Dinikmati saja, adalah kuncinya.

Ah… membicarakan hubungan kami yang manis, aku jadi betul-betul tidak sabar menuju pernikahan kami tahun depan!

“Cheonsa-ya, bagaimana kalau pernikahan kita dipercepat, jadi besok?”

“EHH??”

 

END

Advertisements
 
16 Comments

Posted by on July 16, 2011 in DBSK

 

Tags: , ,

16 responses to “DEUDGOSHIPEUN MOKSORI – Part 2 (END)

  1. hwangminmi

    July 16, 2011 at 4:44 pm

    KYAAAAAA~~~~
    KEREEEEEN~ >.<
    Si bisu dan si (setengah) tuli bersatu huahahaha~ XD #apaandeh

    Kalo soal resep"an itu emang bener kayak gitu kok eonni .__.b #padahalbelumkuliah

    Eh tapi kok cepet bgt publish lanjutannya? Lagi rajin ya? XD (ˇ▽ˇ)-c<ˇ_ˇ)

     
    • lolita309

      July 16, 2011 at 8:33 pm

      AAAAAA MAKASIIIIIHH~ ><

      hehe, tuhan maha adil ya, berdua bersatu gitu kkkk~

      oh iya ya? kamu tau darimana say?

      huu, ini emang jadi duluan daripada si soulmate… tp nunda dulu deh kesian si soulmate ga selesai2 kmrn hehe

      makasi uda baca 😀

       
  2. Lietha

    July 17, 2011 at 1:23 pm

    yayaya dokter sih emg gitu onn, sodaraku dokter . kalo pake baju harian tulisannya bagussss banget kaya kaligrafi, tapi kao pake jas dokter, tulisannya kaya cacing gila (?)
    yah udah kuduga kalo so cheonsa itu bisu~
    tapi endingnya kupikir itu yang suara anak nangis itu anak2nya merek loh onn, sumpah deh, aku udh terlanjur senyum2 sendiri, eh ternyata itu murid2 mereka~+_+~
    onni kamu bikin after story gak? /diinjek/
    wah FFnya keren , aku nyari FF lainnya ya onni~
    annyeong~+_+!!!

     
    • lolita309

      July 17, 2011 at 9:37 pm

      hehe, uda ketebak ya? 🙂

      huahaha, aku juga mikirnya pasti orang2 bakal nebak gitu deh. tapi engga dulu lah~ uda banyak yang maen anak2an (?) begitu. makanya jadinya murid dulu aja 😀

      ga bikin sayaang, apa yang mau dibikin after story coba soalnya? ._. #PLAK

      hehe, makasi sayaang uda baca+komen, aku rekomen Don’t Call Me Oppa ya, series sih, agak panjang gitu tapi respon readerku bagus, coba deh^^

       
  3. wiehj

    July 17, 2011 at 11:56 pm

    ternyata oh ternyata!! si cheonsa bisu??!!? *syok*
    suara yg pengen bgt didenger mala ternyata si empunya suara malah bisu…
    tpi yah klu udah cinta yahh apalah arti bisu wkwwkwk XD
    ahhh, baca nii ff plus nton serie nya jaewon jd buat aq nyadar klu qta harus bersyukur masi punya kelengkapan fungsi panca indera dan gag cacat.. 0:)

     
    • lolita309

      July 19, 2011 at 1:26 am

      hahaha yunho itu budek (?), cheon itu bisu, dan cinta itu BUTA. klop. wkwkwkw~ :p

      iyaaaa, pesan moralnya pokoknya jangan suka dengerin lagu pake headset kenceng2 ya (loh?). btw serie-nya jaewon apa sayang? dan siapakah jaewon??? *kurang gaul* *maafkan*

      makasi uda baca^^

       
      • wiehj

        July 20, 2011 at 11:49 am

        kim jae won cinguu~ judul serie nya ‘can you hear my heart’ yg maen jaewon am hwang jung eum..
        bagus lohhh ntu *kugjdipromosi?* hahahhaaha
        yepp, klop bgtt.. budeg+bisu+buta hahahahahah

         
  4. chrisnagustyani

    July 18, 2011 at 11:45 pm

    wah, udah ketebak kalo Cheonsa it bisu… Smpet2 keki ama yuno abis’a enak aja dia mw ninggalin Cheonsa..
    iya, katanya (?) kalo nulis resep tlisan’a emang sengaja dbikin kaya cakar ayam, supaya org awam gak bisa baca jd gak sembarangan nafsirin resep sendiri. Cuman kalo aku mah biar tlisan biasa kayak catatan ato laporan kuliah tetap aja jelek =.=a

    yah nyah, tak kirain td si yuno punya anak kembar tiga, kebayang aja gmana rusuhnya. Jangan2 kalo mreka punya anak perpaduan’a jadi (1/2)tuli + bisu = si buta dari goa hantu #abaikan

    nyah, kangen ama the series ni, kapan lanjoot??galin Cheonsa..
    iya, katanya (?) kalo nulis resep tlisan’a emang sengaja dbikin kaya cakar ayam, supaya org awam gak bisa baca jd gak sembarangan nafsirin resep sendiri. Cuman kalo aku mah biar tlisan biasa kayak catatan ato laporan kuliah tetap aja jelek =.=a

    yah nyah, tak kirain td si yuno punya anak kembar tiga, kebayang aja gmana rusuhnya. Jangan2 kalo mreka punya anak perpaduan’a jadi (1/2)tuli + bisu = si buta dari goa hantu #abaikan

    nyah, kangen ama the series ni, kapan lanjoot??

     
    • lolita309

      July 19, 2011 at 1:23 am

      itu berarti situ bakat (?) jadi dokter, neng…. *muji loh saya* #PLAK
      :p

      jia ilah doainnya kaga enak bener, doainnya biar punya anak cakep dong kayak saya (?) HUAHAHA *ditabok*

      Lanjut the series yg mana lagi say? yg TBC-TBC uda pada abis, lagian saya pikir pada bosen kalo keluarnya the series mulu.. huhuhu

      kmrn sih sempet iseng2 ngetik changmin, tapi tiba2 ide amblas. gagal maning, gagal maning…. T_T

      dan seperti biasa, makasi sayang uda baca^^

       
  5. chrisnagustyani

    July 19, 2011 at 2:21 pm

    bakat? Hahaha padahal aku ngerasa kalo aku salah jurusan loh nyah. Rasanya pengen ganti jurusan jd kimia aja (sbenernya dlu emang udh keterima jurusan kimia) cuman karena udh terlanjur terikat kntrak beasiswa ama pemerintah ya udh dh 😥 #curcol

    kan byk t nyah cast suju d the series yg blm d eksplor, kaya yesung, umin, trus kim family.. O ia yg lee triplet vs kim brother (bener gk judul’a? Aku udh lupa #plakk) gak dilanjutin nyah? Pdhl aku pnasaran loh kelanjutan gmana wkt Ryeoru di umpanin ke Kangin wkwk trus aku mw nanya ni, ffq kmren ada lanjtan’a ato cuma sampe sgtu aja? *wink*

     
    • lolita309

      July 31, 2011 at 8:56 am

      yaaaah bagusan dokter kemana2 kali saaaaaayyyyy, susahnya selama kuliah worth pas lulus nanti hehehe^^
      ecieee beasiswa, asik dong ;D

      hahaha, itu sebenernya uda ada lanjutannya, tinggal dikit lagi selesai deh. tapi dikit laginya ituuu, bikin ujungnya aja susaaaaah bener deh huhu T.T
      ada, adaaaa, belum dibikin aja. sabar yaaa beiby ;p

       
  6. oepieck

    August 1, 2011 at 1:44 pm

    wah, ternyata yang ini aku belum komen…

    intinya… aku kaget pas tahu cheonsa itu bisu, tapi penyelesaiannya keren eonni :DDDD

     
    • lolita309

      August 1, 2011 at 10:15 pm

      Ahaha aku juga kepikiran bikin si cheon bisu jg baru ditengah2 cerita ko hahaha

      Penyelesaiannya yg mn syg? Hehe makasi yaa 😀

       
      • oepieck

        August 2, 2011 at 7:05 pm

        jiah! ternyata… hahaha 😀 keren kok eon

        penyelesaian maksudnya waktu yunho dah ninggalin cheonsa dengan tidak gentlenya (sumpah sebel banget aku bacanya pas itu) sampe akhirnya dia disadarin ama adiknya terus mereka akhirnya pacaran ^^

         
  7. Carrie Cho

    August 7, 2011 at 10:13 am

    whuaaaaa ternyata Cheonsa itu… bisu? eh bisu sama tuli apa bedanya -_-” *bego
    pasti nyesek banget ya, buat Yunho *tepok pundak yang niatnya pengen denger suara si malaikat *ciyeee eh tau-taunya ~.~
    tapi keren loh kak, makna ceritanya hihi. suka banget dan yang jelas ngena banget

     
    • lolita309

      August 8, 2011 at 3:22 pm

      ejiaaaah bisu ama tuli ya beda dong sayang ._.

      XDD

      iyaa nyesek, makanya tu bocah awalnya pake acara mau mundur pelan2 segala. huh dasar cowo! *kibasrambut*

      iiiiihhh, makasiiii, makasi lagi yaaa sayang uda baca^^

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: