RSS

(NOT) A CINDERELLA STORY

09 May

Got this idea after I saw Cizzie aka Jung Yoona’s comment in [SABOTAGE] tentang kisah Kyu dan Yoona yang berakhir pahit, karena sesungguhnya cinderella story cuma terjadi once in a million. Dan di luar sana, banyak juga yang mengidentikkan cerita macam Geum Jandi dan Gu Junpyo, Kim Tan dan Cha Eunsang sebagai Cinderella story karena menceritakan gadis miskin yang berhasil merusak siklus hidup keluarga kaya, yakni dengan menikahi salah seorang putranya.

But are we sure kalau Cinderella story benar seperti itu? Are we sure kalau Cinderella benar-benar gadis miskin?

PS: Anyway, it’s another tribute to one of my readers!

 

(NOT) A CINDERELLA STORY

By: @lolita309

Starring: Kim Youngwoon (Kangin)

Song Il Geum (Honey/@pinkylova3008)

e6a5256bbcc96017cb66d82f60d74e90

“Aniya (Nggak), don’t put it like that. Karakter tokoh utama wanita kita nggak boleh dibikin ‘sendu menye-menye’ kayak melodrama kebanyakan. Drama kita harus beda, dong! Judulnya saja ‘New Cinderella Story’!”

Sret. Sret. Menghela napas bosan (biarpun dengan frekuensi kecil karena takut kedengaran Pak Produser), untuk kesekian kalinya aku mencoret gambaran kasar plot dalam notulen rapat tim produksi kami kali ini. Ah, sudah berapa lama rapat ini berjalan… yang intinya hanya berputar-putar pada konsep yang sebisa mungkin tidak boleh sama dengan drama setipe yang pernah ada sebelumnya.

Masalahnya kalau tidak mau sama kenapa pilih tema pasaran macam Cinderella story, coba??

Dan lagi, sesungguhnya seperti banyak orang di luar sana, sepertinya memang pemahaman tim produksiku ini yang memang sudah salah tentang kisah Cinderella yang sesungguhnya…

“Jadi bagaimana keputusannya, Sutradara Seo?”

“Aku ikut dengan Pak Prosedur, as always.”

“Aniranikkayo (Saya bilang: Tidak).” Penulis Shin segera angkat suara. “Dari pengalaman saya, justru melodrama dengan karakter yang membangun simpati pemirsa yang pasti akan membawa rating bagus! Apalagi dengan kisah Cinderella, tentu yang terbaik adalah dengan mengikuti kisah klasiknya! Gadis miskin yang dipersunting pria tampan dan kaya bak seorang pangeran…”

“Jeogi (Anu)…” Memberanikan diri, aku mencoba mengangkat tangan karena mulai tak tahan dengan debat kusir ini. “Cinderella sama sekali bukan–”

“Animnida (Tidak), Penulis Shin.” Biarpun lagi-lagi suaraku kalah dengan suara Pak Produser, “Sudah saya bilang, ini adalah ‘New Cinderella Story’! Apa ‘new’-nya kalau kita tetap memakai karakter yang pasaran?? Gadis miskin, oke. Tapi Cinderella kita adalah gadis miskin yang kuat–”

“Cinderella bahkan bukan gadis miskin, for the God’s sake!” SREETT!! Bunyi kursi yang menggesek lantai dan suara kerasku seketika membuat seluruh orang dalam ruang rapat di stasiun TV kabel JTBC tempatku bekerja ini, menoleh. Tanpa kusadari, aku sudah berdiri dari kursiku dengan dua tangan bertumpu di atas meja! Berteriak pula! Oh my God…

Tapi sudah terlanjur kejadian juga… “S-Song Ilgeum imnida (Saya Song Ilgeum), asisten screenwriter yang baru.” sapaku akhirnya seraya membungkuk cepat, membuat rambut panjangku yang super lurus jatuh menutup wajah seperti tirai. “C-Cinderella sesungguhnya sama sekali bukan gadis miskin. Ia berasal dari keluarga terpandang, ayahnya adalah seorang saudagar. Sungguhpun,” mencoba menegarkan diri, aku menatap 7 pasang mata yang ada di ruangan itu dengan mantap. “…jika Cinderella bukanlah putri keluarga terpandang, saya tak yakin ia akan membuat pangeran jatuh cinta. Di luar kecantikannya, bukankah pembawaan dan tutur katanya saat mereka berbincang selama berdansa yang akhirnya membuat pangeran terpikat? Dijadikan pembantu di rumahnya sendiri oleh sang ibu tiri, tapi jiwa Cinderella tetap seorang lady. Jiwa  yang tak akan pernah dimiliki gadis-gadis kelahiran rakyat jelata.”

“Intinya,” aku kembali melanjutkan. “Please get the fact straight first. Bahkan kisah Cinderella pun sesungguhnya tentang dua orang dari status sosial yang setara. Apalagi di masa kini? Pria kaya dengan gadis miskin, ataupun sebaliknya, itu nyaris hanya sebuah mitos. Keberadaannya sangat diragukan.”

 

***

 

“Aaarghh… Aku berulah lagi…”

DUKK. Aku menjatuhkan kepalaku sendiri ke atas meja warung soju pinggir jalan tempatku dan Youngwoon janjian untuk bertemu malam ini. DUKK. DUKK. DUKK. Berulang kali kini aku membenturkan dahiku ke permukaan meja besi itu, betul-betul menyesali ulahku yang banyak mulut saat rapat tadi.

Haahh, habis mereka membahas tentang Cinderella! Bisa-bisanya, di produksi drama pertamaku ini, mereka membahas kisah yang paling familiar untukku! Bagaimana mungkin aku tak bereaksi??

Yah, familiar. Karena sesungguhnya, bisa dibilang aku merupakan versi hidup dari Cinderella…

Mendiang ayahku adalah sekretaris seorang diplomat yang akhirnya membuat keluarga kecil kami selalu ikut berpindah-pindah negara seiring mutasi Bapak Diplomat. Dan karena hal itu, sejak kecil ibuku juga selalu mendidikku dengan etiket yang baik karena tentu saja aku akan bertemu banyak orang setiap menghadiri acara kenegaraan. Biarpun ayah masihlah seorang sekretaris diplomat, tapi ibu selalu menekankan kalau nantinya ayah juga akan duduk di posisi diplomat, oleh sebab itu aku tidak boleh minder maupun merasa inferior berada di antara putra Bapak Diplomat yang merupakan atasan ayah. Nyatanya, aku mencintai salah seorang di antara mereka.

Sayangnya, ibuku meninggal dunia di usia muda, yang membuat ayah kemudian menikah lagi dengan seorang  janda lokal saat sedang bertugas di Jepang. Ibu tiriku memiliki sebuah warung ramen, dan seperti yang mungkin bisa kalian tebak, aku sukses diminta untuk membantu bekerja disana. Saat itu aku masih kelas 2 SMP, saat sedang emosional-emosionalnya akibat puber, namun berusaha kutahan karena tidak ingin membuat ayah bertengkar dengan istri barunya hanya karena aku dianggap tak mau membantu. Akhirnya aku hanya bisa menangis sambil mencuci piring, sambil mulai menyama-nyamakan nasibku dengan kisah Cinderella. Terkadang dibantu oleh Youngwoon, putra Bapak Diplomat yang seumur denganku (dan juga yang kucintai–dirinya yang memang begitu manly selalu tanpa diminta, tanpa segan dengan statusnya, membantu pekerjaanku begitu saja. Bagaimana mungkin aku tidak jatuh hati padanya?), aku mengerjakan pekerjaan di warung dengan kesabaran maksimal. Betapa aku harus bertahan, karena seperti Cinderella, aku adalah seorang lady. Calon lady. Ketika ayah diangkat menjadi diplomat, ibu tiriku tak akan punya alasan mempertahankan warungnya karena kami akan berpindah negara. Aku tidak akan perlu lagi merebus mi maupun mencuci piring sampai kulit tanganku mengelupas. Yay!

Biarpun itu akhirnya tak pernah terjadi. Ayahku menjadi diplomat, maksudnya.

Hanya kurang dari setahun setelah pernikahannya dengan ibu tiriku, ayah meninggal dunia karena virus flu burung yang saat itu sedang gempar mengguncang dunia. Aku menangis tanpa henti, meraung-raung, selain karena kini aku resmi menjadi yatim piatu, aku sama sekali tidak rela menghabiskan hidupku di bawah asuhan ibu tiri berkebangsaan Jepang-ku itu. Aku patah hati, bagaimana mungkin tidak hanya menghancurkan impianku menjadi putri seorang diplomat, ayah bahkan meninggalkanku dengan ibu tiri yang selalu menyuruh-nyuruhku ini?! Tidak, sampai matipun aku tidak rela ia menjadi waliku!

Untungnya, Youngwoon berhasil meyakinkan Bapak Diplomat untuk ikut mengajakku kembali ke Korea ketika masa tugasnya di Jepang berakhir, tidak begitu lama setelah ayahku meninggal. Setelah bernegosiasi dengan ibu tiriku yang juga dibantu pengacara, kami sepakat bahwa aku boleh dibawa kembali ke Korea dan kami memutuskan hubungan, dengan syarat seluruh aset ayah di Jepang menjadi milik ibu tiriku. Aku pun sukses hanya ditinggalkan tabungan ayah yang berada di 2 bank Korea. Sisanya, bahkan uang pensiun karena meninggal milik ayah akan ditransfer ke rekening ibu tiriku. Oh, ibu tiri Cinderella sekali, bukan??

“Park Ryeoru… Oh Park Ryeoru… Teganya kamu bahkan mempermainkanku…”

Mengangkat wajahku dari meja karena mendengar suara mabuk seseorang yang begitu familiar, aku segera terkejut ketika melihat kalau itu memang dia. Youngwoon, Kim Youngwoon. Putra kedua Bapak Diplomat Kim Jihoo. Pria bertubuh tegap dan ‘jadi’ berkat profesinya sebagai atlet tinju amatir nan garang. Sahabatku… yang kucintai, bahkan hingga sekarang.

Yah, biarpun hari ini, kegarangannya itu sedikit tidak tampak karena tampilannya yang begitu rapi dengan kemeja biru muda, celana bahan, dan juga trench coat warna hitam. Kira-kira dari mana dia dengan kostum se-necis itu?

“Ya ampun, apa lagi sih yang terjadi denganmu??” Maka buru-buru bangkit, segera omelan yang keluar dari mulutku seraya memapahnya duduk di kursi. “Daedaphae (Jawab)! Bagaimana mungkin kamu bahkan sudah mabuk duluan sebelum sampai disini?? Kita kan janji mau minum sama-sama!”

“Ilgeum-ah… Song Ilgeum… Kenapa… Kenapa nggak pernah ada orang yang memihakku…?” racaunya dengan wajah memerah khas orang mabuk.

Perlahan kembali duduk di kursiku yang persis di hadapannya, aku akhirnya hanya mampu memandangi wajah itu. Wajahnya yang terlihat sudah nyaris hilang kesadaran, sebelah pipinya tertumpu begitu saja di atas meja yang dingin. “Aku berada di pihakmu, babo-ya (dasar bodoh)…” jawabku pelan, tiba-tiba lupa dengan semua masalahku tadi yang sedianya akan kutukar dengannya lewat ajang minum-minum ini.

Aku bahkan tak tahu apa yang ia bicarakan, tapi apapun itu, aku pasti akan selalu ada di pihaknya. Sebagaimana ia berada di pihakku saat itu. Saat aku menjadi yatim piatu.

So what happened? Sekarang bilang padaku apa yang membuatmu jadi seperti ini, hah?”

Ia tersenyum dalam mabuknya terlebih dulu sebelum mengangkat kepala dengan susah payah, “Ryeoru-mariya (Tentang Ryeoru)… Park Ryeoru…”

Seketika aku terdiam. Park Ryeoru. Cinta pertama dan sepihak Youngwoon sejak kuliah, 6 tahun yang lalu. Tapi kenapa namanya kembali muncul setelah sekian lama??

Park Ryeoru adalah kakak kelas kami di Universitas Sungkyunkwan. Dia di Jurusan Seni, Youngwoon di Jurusan Olahraga, dan aku Jurusan Broadcasting. Youngwoon jatuh cinta pada pandangan pertama dengannya, sejak masa orientasi kampus dimana saat itu Ryeoru menjadi panitianya. Gayanya yang chic dan cool, dengan rambut sebahu dan jeans robek serta sneakers, juga tingkah lakunya yang seperti selalu asik dan tak peduli dengan sentimen orang lain sukses menarik perhatian Youngwoon yang memang juga adalah orang seperti itu. Dan kurasa mungkin sifat-sifat itu memang merupakan hasil bentukan keluarga yang setipe, karena ternyata Park Ryeoru juga adalah putri orang terpandang. Ayahnya adalah dokter spesialis jantung paling kesohor di seantero Seoul.

Youngwoon tergila-gila pada Park Ryeoru, di saat aku saat itu hanya bisa menjadi penonton bahkan terkadang konsultan percintaannya. Menahan sakit hati karena sama sekali tak bisa mengungkapkan perasaanku. Karena setelah insiden ikut pulangnya aku ke Korea, aku harus tersadar bahwa konsekuensi dari itu semua adalah aku yang kehilangan kesempatan menjadi seorang gadis di matanya. Bahkan aku yang begitu feminin ini sama sekali tidak dianggapnya sebagai lawan jenis. Karena ternyata, pangeran ini tidak membiarkanku menjadi Cinderella, alih-alih, ia memilih menjadikanku seorang putri di istana sang ayah.

Ya, sejak itu aku resmi tinggal dengan keluarga Diplomat Kim, karena ayahku tidak memiliki rumah tetap di Korea, sanak saudara pun aku tak punya. Aku tidak diadopsi, tapi seluruh anggota keluarga Bapak Diplomat telah menganggapku sebagai saudara mereka sendiri. Dan itu… termasuk Youngwoon.

“M-Mwoya (A-Apaan sih)… Bukannya kamu sendiri yang bilang dia sudah punya long-term boyfriend dan akan menikah, dulu? Jadi dia belum menikah juga?” Tanpa kusadari, sepertinya komentarku begitu nyinyir.

“Haetji, yae-ga… Gyeolhon… (Tentu saja sudah… Dia sudah menikah…) Itulah kenapa aku jadi seperti ini… Hahaha!!”

Aku mengernyitkan kening. Sepertinya makin lama orang ini makin seperti orang gila. Sebetulnya apa yang terjadi hari ini, sih?

“Itjana (Kamu tahu, lah)… Pacarnya Saera, si ‘monyet gunung’ itu…” Youngwoon akhirnya memulai kisahnya, masih dengan mata setengah terbuka seperti orang mengigau di hadapanku. Anyway, Saera adalah nama adik bungsu Youngwoon, putri semata wayang Bapak Diplomat. “Ternyata dia… Adiknya Ryeoru.”

“Eh? Pacarnya Saera bukannya marganya Lee? Lee… Eunhyuk, kan?”

Disini, Youngwoon mengeluarkan cengirannya seraya CTAKK! menjentikkan jarinya tepat di depan mukaku. Aku menepisnya kesal. “Geuji (Ya kan)? Kamu juga menanyakan hal yang sama kan? Jadi mereka awalnya sepupu, tapi setelah orangtua ‘si monyet’ meninggal, keluarga Ryeoru mengangkatnya sebagai anak… Aarghh… Dunia sungguh sempit, bukan? Hahaha.”

“Jadi sebetulnya yang membuatmu jadi seperti ini itu yang mana? Kenyataan kalau Park Ryeoru sudah menikah, atau karena pacar Saera yang kamu benci setengah mati itu adalah adiknya?” Tiba-tiba saja, aku sudah menemukan diriku bertanya lebih dalam tentang problematikanya.  Sepertinya aku terlalu terbiasa dengan peranku selama ini (jadi konsultan percintaannya, maksudnya).

…yah, biarpun itu berarti akhirnya aku harus menyakiti hatiku sendiri. Tapi mau bagaimana lagi? Setidaknya ia membagi perasaannya denganku. Setidaknya, aku menjadi orang yang ia jadikan tumpuan setiap kali mempunyai masalah. Jadi kurasa rasa sakit itu bukannya tidak sebanding juga…

Perlahan kulihat senyum Youngwoon terbentuk di wajah maskulinnya. Senyum yang begitu pahit. “Kenyataan kalau dia sudah menikah, tapi tetap mengajakku bertemu hari ini seperti sebuah kencan. Yang ternyata dilakukannya hanya demi membantu ‘si monyet’ mendapatkan restu dariku…” Tanpa meminta izin, ia meraih gelas sojuku dan meminumnya  sekali tenggak. Glek! “Ck, dia nggak tahu betapa berbunganya hatiku bahkan hanya dengan menerima teleponnya kemarin… Ternyata semua cuma pura-pura.”

Tak mampu memberi respon apapun, aku hanya terdiam menatapnya yang makin terlihat seperti pria paling menyedihkan sedunia: terus tersenyum pahit seraya memutar-mutar gelas soju yang kosong, entah melihat apa dari gelas kaca kecil itu. Sedalam itukah perasaanmu untuk Park Ryeoru, Kim Youngwoon? Tak terlihatkah aku yang selalu ada di sampingmu ini?

“Tapi kamu tahu? Yang paling membuatku kesal sebetulnya bukan perkara perubahan status Ryeoru yang sudah jadi istri orang, tapi lebih kepada caraku mengetahuinya. Bayangkan, ketika akan menciumnya di dalam mobil karena kupikir dia masih single, tiba-tiba suaminya mengetuk jendela mobilku! How awkward was that??” Disini, Youngwoon terlihat nyaris tertawa mengingat kejadian yang tadi menimpanya. Sepertinya mabuknya sudah lumayan berkurang. “Sudah gitu, tampang suaminya juga sengak banget! Cih, sudah om-om tapi rambutnya dicat pirang terang macam ABG. Kamu tah—”

“Youngwoon-ah.”

Seketika, Youngwoon menghentikan ocehannya mendengar panggilanku. Ia menelengkan kepalanya seraya tersenyum, “Hm?”

“Na… andwaelkka? (Nggak bisakah itu… aku?)” tanyaku, mulai memberanikan diri mengangkat kepala dan menatap kedua mata kecilnya. Kebingungan mulai tersirat di wajah sahabatku. “Berhenti membicarakan wanita yang bahkan kini sudah menjadi istri orang. Sekian lama aku menunggumu… Orang yang kamu cintai, nggak bisakah itu aku?”

Cukup lama memang sampai aku kini tersadar: karena aku bukan lagi Cinderella, tentu saja tak akan ada yang membantuku untuk datang ke pesta dansa dan mempesona hati pangeran. Maka itu, aku harus membuat jalanku sendiri.

…Biarpun itu harus menunggu cinta pertamanya dinikahi orang lain terlebih dulu. But better late than never, right?

 

END

 

Mari kita berdoa sama-sama supaya Kangin sedikit ‘melek’, hahaha! Sengaja bikin dengan open-ending, silakan membayangkan sendiri ending yang diinginkan yaaa~

To Honey sebagai pemilik tribute ini, aku nggak tahu apa kamu masih baca blog ini atau nggak, sorry to keep you waiting (aku buka pairing kangin ini di 2011, dan lagi-lagi baru jadi ceritanya sekarang. Mianhae ><). I can only hope that you and all my readers like it! J

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on May 9, 2016 in Super Junior, [THE SERIES]

 

Tags: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: