RSS

[THE SERIES] SABOTAGE – Part 3 (END)

16 Feb

Exactly 2 weeks after SABOTAGE being published for the first time! rencananya emang gitu, jadi posting seminggu sekali. dari awal posting juga sebenernya cerita ini udah kelar hehehe. saya kapok ah bikin ff bersambung yang di dunia nyata padahal belom kelar ceritanya huhuhu. takut tiba2 kesambet (?) writer’s block, malah mengecewakan yang udah niat baca hehehe.

Soooo… here it is! SABOTAGE the last chapter! Enjoy! 🙂

SABOTAGE – Part 3 [END]

(Part 1; Part 2)

Written by: @lolita309

Starring: Jo Kyuhyun, Choi Jiwon

chrisnagustyani as Jung Yoona

10831873_1585669894999217_999561133_n

 

JIWON

Perempuan ini… hamil? Anak Kyuhyun oppa??

Nggak, nggak mungkin! Aku secepatnya menggeleng, mencoba menghilangkan pikiranku yang sepertinya sudah termakan provokasi wanita ini. Dia pasti mengatakannya hanya demi membuatku mundur, kan?

Tapi bukannya tidak mungkin juga… bagaimanapun Kyuhyun oppa adalah pria yang sehat dan— Oh Tuhan, stop it, Jiwon!! “Geojitmal… iji? (Itu bohong, kan?)” kataku, bahkan terlanjur menggunakan banmal. Otakku sepertinya terlalu kaget sampai lupa menyaring kata-kataku menjadi kalimat sopan terlebih dulu, seperti yang biasa kulakukan.

Tapi perempuan itu menggeleng, dan dengan senyum percaya diri menjawab, “Anindeyo (Sayangnya, tidak).” dan segera pergi dari situ.

…meninggalkanku yang BRUK! tiba-tiba jatuh melorot dari kursiku ke lantai berkarpet di bawah. Tapi bukan itu yang mengundang reaksi kedua penjagaku yang berseragam setelan jas di luar, melainkan suara tangisku yang segera pecah, kencang meraung-raung seperti bayi yang ditinggalkan ibunya. “NONA!” seru mereka seraya merangsek masuk, menolongku terlebih dulu untuk bangkit. Salah satunya terlihat memberi isyarat untuk keluar lebih dulu dan menyiapkan mobil agar aku bisa langsung pergi dari situ.

Padahal aku masih ingin menangis… Menangis lebih kencang dan lebih lama lagi… Hubunganku telah resmi hancur.

 

______

 

“Neo babo ni? (Kamu bodoh, ya?)”

“UNNI!” aku dan Yora unni, kakak iparku, buru-buru mengomel ketika Ryeoru unni, kakak kandung Yora unni, bahkan baru mengeluarkan komentar pertamanya. Aku tahu sih mulutnya memang tajam berkebalikan dengan adiknya (untunglah Siwon oppa menikahi Yora unni dan bukan kakaknya), tapi bagaimana mungkin dia malah mengataiku bodoh??

“Ya habis, kamu… Kenapa sih kamu polos sekali? Semua cewek murahan pasti akan mengatakan itu untuk melindungi posisinya. Aku yakin 99% dia nggak hamil!”

“Tapi kalau dia hamil betulan, gimana??” protesku, masih manyun.

“Itu artinya Kyuhyun yang bodoh. Cih, kalau diwawancara di TV dia terlihat pintar, tapi selingkuh saja lupa pakai ‘alat pengaman’.”

“UNNI!!”

“Tapi aku nggak setuju.” Yora unni tiba-tiba mengangkat tangannya. Wanita mungil yang kini tengah hamil 4 bulan anak pertamanya dengan Siwon oppa itu menggenggam tanganku erat, “Masalah hamil-menghamili, itu gampang, lah. Kamu tinggal bawa dia untuk USG ke rumah sakitku dan kamu bahkan bisa lihat langsung hasilnya. Masalahnya, kenapa sih kamu baru cerita ini sekarang?? Kalau kamu cerita dari awal, unni bahkan nggak akan membiarkanmu bertemu dengan cewek murahan itu. Kyuhyun memutuskanmu, ya sudah. Dia yang rugi. Untuk apa cowok brengsek seperti itu dipertahankan?? You worth more than that, sweetheart…”

Aku tersenyum. Seperti yang kukira, Yora unni yang begitu baik akan memberikan saran seperti ini. Ah, memang menyenangkan memiliki saudara perempuan… Sebelumnya aku tak tahu harus bercerita pada siapa kalau mengalami masalah apapun, dengan sahabat pun tak bisa semua masalah kuceritakan karena terkadang ia tak akan mengerti situasi keluargaku. Tapi Yora unni tahu semuanya, karena ia kini juga bagian dari kami.

Untunglah di weekend ini ia juga sedang libur sehingga aku bisa menemuinya di rumah keluarganya, karena biasanya pekerjaannya sebagai dokter bahkan menuntutnya untuk tetap stand by di rumah sakit bahkan di hari libur nasional sekalipun. Siwon oppa sendiri sudah nyaris 4 bulan ini melaksanakan wajib militer, ia menerima surat panggilan saat keduanya belum tahu kalau Yora unni hamil. Jadilah di saat istrinya sedang mengandung begini, ia bahkan tidak bisa mendampinginya sama sekali.

…Yang sepertinya tidak begitu dipusingkan Yora unni juga, lihat saja rumahnya yang selalu ramai ini. Setelah oppa pergi wamil, Yora unni memang sukses ‘dikembalikan’ ke rumah orangtuanya lagi, supaya ada yang memperhatikan kesehatannya dan si jabang bayi. Padahal bisa saja ia dititipkan ke rumah kami, tapi Siwon oppa bilang, unni pasti akan lebih nyaman di rumahnya sendiri.

“Sayangnya masalahnya nggak se-sederhana itu…” aku menggeleng pahit, biarpun tetap senang setidaknya masalahku sudah terbagi sekarang. Sungguh capek hatiku menyimpan-nyimpan masalah sendirian… “Unni tahu, lah. Appa…”

Tapi Yora unni hanya menggeleng polos, “Aboji kenapa?”

“Dia nggak akan mengerti.” Ryeoru unni kembali menyela seraya mencubit kedua pipi adiknya, gemas. Yora unni mencibirnya kesal. “Kita berasal dari keluarga dokter terpandang sejak era Joseon, menurutmu kalau kita nggak punya latar belakang sebagus itu, keluarga Siwon akan mau menikahkan putranya denganmu? Secinta apapun Siwon kepadamu.”

Mata Yora unni seketika terbelalak kaget, seperti bertanya, “Serius???” padaku. Tersenyum pahit, aku mengangguk.

“Masalah besar… ini masalah besar.” Yora unni berkomat-kamit seraya menganggguk-angguk. Sepertinya ia sudah mengerti titik permasalahannya sekarang. “Persoalan latar belakang, tentu nggak ada yang bisa mengalahkan Kyuhyun… begitu maksudmu kan? Dan tentu saja aboji nggak mau kehilangan itu makanya memintamu tetap mempertahankan cowok brengsek itu…”

Aku mengangguk-angguk, biarpun sedikit terkekeh dalam hati. Yora unni kedengarannya membenci Kyuhyun sekali karena hal ini. Aku senang sekali ada yang mendukungku!

“Tapi kalau posisi Kyuhyun sebegitu pentingnya di mata aboji, bukankah berarti posisimu juga sama?” Tiba-tiba Yora unni berkata lagi. Baik aku dan Ryeoru unni segera menoleh bingung ke arah wanita muda dengan rambut ikal panjang terikat satu itu. “Oh Tuhan… Kamu putri bungsu konglomerasi terbesar di negara ini, bukan?? Kyuhyun mungkin memutuskanmu, tapi sama sepertimu, ia bisa apa kalau ayahnya nggak menerima? Ceritakanlah semuanya pada Bapak Presiden, aku yakin pasti Kyuhyun yang akan diomeli karena telah memutuskanmu!”

Oh. My. God. Yora unni benar. Aku terlalu memusingkan perintah appa untuk membuat Kyuhyun oppa kembali padaku, sampai melupakan posisiku sendiri… Bargaining position-ku tentu lebih kuat dari gadis manapun di negara ini.

…dan cara itu tentu lebih elegan. Kenapa aku tidak menyadarinya dari awal?? Aku sudah terlanjur meruntuhkan image-ku sendiri dengan menemui wanita murahan itu… AAARGGHHH!!

 

YOONA

Aku bohong. Aku sama sekali tak hamil. Atau setidaknya, aku cukup pintar untuk tidak membiarkan diriku hamil di luar nikah. Sesungguhnya, aku pun hanya pernah tidur dengan Jo Kyuhyun seorang. Bukan karena ialah laki-laki paling potensial di bidang harta dan kekuasaan, tapi karena untuk pertama kalinya—oh, aku benci sekali mengatakannya—aku serius jatuh cinta dengan seseorang. Bagiku, otak adalah bagian terseksi dari seorang pria, dan Jo Kyuhyun memilikinya. Biarpun tanpa kusadari, hal itu yang akhirnya membuatku terlilit dalam sebuah jaring-jemaring hubungan terumit yang pernah kualami sepanjang ‘petualangan-petualangan sabotase’-ku.

Biarpun untungnya, Nona kaya itu sepertinya mempercayai segala perkataanku. Matanya seketika terbelalak begitu aku mengucapkan kalimat pamungkas itu. Dan yang paling kusukai adalah bagian akhirnya, karena pasca itu, dengan masih menatapku nanar ia berkata (bahkan sudah memakai banmal), “Geojitmal… iji? (Itu bohong kan?)”

Dan aku, dengan menggeleng anggun menjawab, “Anindeyo (Sayangnya, tidak).” kemudian berdiri dan pergi memohon diri.

Kemenangan besar untukku. Viva sabotase!!

Drrtt. Drrtt.

Baru saja bisa menghirup udara bebas lagi di luar restoran (di dalam temperaturnya ‘panas’ sekali), getaran dari ponsel di dalam kantong dress rajut yang kukenakan kembali menghentikan langkahku yang sudah siap memanggil taksi. Getarannya tak berhenti… berarti telepon?

“Apartemen City Crown di Cheongdamdong, ahjussi.” pintaku kepada supir taksi yang baru saja kunaiki, sebelum memutuskan mengangkat telepon yang ternyata bahkan dari nomor tak dikenal itu. Biasalah, fan service. Aku memang tak pernah sok cantik dengan menolak telepon siapapun yang masuk ke ponselku, kecuali memang nomornya sudah aku tandai sebagai nomor iseng. Biarpun sudah menjadi milik orang, mempertahankan fans tetap perlu, bukan? Bisa saja mereka calon yang ‘potensial’ juga kalau nantinya aku sudah tidak bersama pacarku lagi. “Yeoboseyo? (Halo?)”

“Jung Yoona? Ini… Yoon Doojoon.”

Aku membeku. Seperti udara dingin menusuk di luar menyusup masuk ke dalam taksi yang tertutup rapat ini.

 

___________

 

“Aku senang kamu mau bertemu denganku.”

“Hanya karena Kyuhyun-ssi memintanya.” jawabku dingin. Kami memang akhirnya bertemu, aku dan Yoon Doojoon, di lobi apartemenku karena aku mensyaratkan agar ini tidak lama. Sebetulnya, berkebalikan dari fan service yang kuceritakan tadi dimana aku selalu mau meladeni telepon dari siapapun, kali tadi bahkan ketika ia baru menyebutkan namanya, aku segera mematikan ponselku bahkan mencabut baterenya. Ponsel itu baru kunyalakan lagi begitu sampai di apartemen, dan hal pertama yang masuk disana adalah SMS dari Kyuhyun-ssi. Ia bertanya kenapa ponselku mati, dan yang terpenting, ia memintaku agar mau menemui Yoon Doojoon. Aku sungguh merasa bingung. Jo Kyuhyun adalah orang yang sangat posesif, bagaimana mungkin dia menyuruhku bertemu dengan pria lain? Atau jangan-jangan… Doojoon oppa telah…

“Apa yang ingin kamu bicarakan?” tanyaku, kembali menggunakan banmal. Aku sama sekali tak sudi bermanis-manis memanggilnya ‘oppa’ seperti dulu.

Yoon Doojoon tersenyum, sambil sesekali masih memutar pandangannya ke sekeliling lobi apartemenku yang luas, “Kamu… tinggal di tempat yang bagus.” pujinya, sama sekali tak menjawab tanyaku barusan. Aku segera memandangnya dengan tatapan “Berhenti berbasa-basi atau aku akan pergi”, yang baru bisa membuatnya kembali pada tujuannya menemuiku. “Aku… Hanya ingin tahu kabarmu—”

“Aku baik. Sudah selesai kan? Bye.” kataku seraya beranjak dari sofa di hadapannya, pergi dari situ.

“Aku sudah menceritakan semuanya pada Kyuhyun.” Biarpun kalimatnya yang berikut seperti sebuah pancang yang menahan kakiku di lantai, tak bergerak. Tebakanku benar adanya. Ia telah mengatakan semuanya pada Jo Kyuhyun! “Maaf.”

“Semuanya…? Termasuk dari mana aku berasal?”

“Ya.”

Mataku segera terbelalak, dan tanpa kusadari aku sudah berbalik ke arahnya, “Apa yang kamu pikir telah kamu lakukan??! Mati-matian aku menjaga citra diriku di depan Jo Kyuhyun! Aku adalah gadis sempurna di matanya!! Bagaimana mungkin kamu merusak itu semua??!!”

“Aku hanya sangat mengkhawatirkanmu—” Doojoon oppa tidak menyelesaikan kalimatnya dan malah mengangkat wajah untuk menatapku dengan pandangan bingung, “Kenapa… kamu harus menjadi gadis sempurna di hadapan Jo Kyuhyun…?”

Aku terdiam.

“Jawab aku, Jung Yoona! Apa kamu sedang menjadikan Kyuhyun sebagai targetmu seperti yang selalu kamu lakukan untuk mendapatkan uang sebelum aku menikah dengan Sara??! Dan apartemen ini… dari tadi aku sudah curiga bagaimana caranya kamu yang hanya bekerja magang di sebuah partai politik bisa tinggal di tempat seperti ini. Jangan bilang ini pemberian pria hidung belang yang kamu kenca—“

“Ya, dan pria hidung belang itu adalah Jo Kyuhyun, PUAS??!!” potongku dengan berteriak, aku bahkan sudah tak peduli dengan tatapan orang-orang yang segera menoleh ke arah kami. Doojoon oppa terlihat sangat shock. “Dan kamu tanya mengapa aku harus menjadi gadis sempurna di hadapannya? Karena ia juga begitu sempurna!! Untuk pertama kalinya, aku begitu menginginkan seorang pria, dan aku nggak akan bisa mendapatkannya kalau ia tahu aku memiliki cacat dalam sejarah kehidupanku!!”

Wajah Doojoon oppa seketika mengeras, seperti kehilangan kata-kata. Menggeleng sebentar untuk mengembalikan kesadarannya, ia segera menatapku tajam, “Apa kamu gila?! Bagaimana mungkin kamu berpikir apalagi berharap bisa menjadi pendamping seorang Jo Kyuhyun?? Aku selalu tahu kamu gadis yang ambisius, tapi kali ini, ambisimu terlalu tinggi, Jung Yoona.”

“KAMU nggak berhak menghakimiku!” kataku, masih dengan banmal. “Menurutmu karena siapa ambisiku muncul lagi?? Aku benci menjadi orang miskin yang hanya bisa diam saja menerima nasib. Unni sudah menjadi korbannya, dan aku nggak mau itu juga terjadi padaku. Aku bersumpah akan keluar dari kehidupanku yang menyedihkan, dan aku melakukannya!!”

Bisa kulihat wajah Doojoon oppa berubah mengeras begitu aku menyebut unni. Merasa sedikit tak enak hati, akupun kembali berujar, “L-Lihatlah tempat tinggalku sekarang, dan semua yang kumiliki. Lagipula aku betul-betul mencintai Jo Kyuhyun, dan aku tahu pasti ia juga mencintaiku sama besarnya.”

“Aku bicara seperti ini karena aku tahu masa lalu Kyuhyun. Ia nggak se-sempurna yang kamu pikirkan. Sadarilah, Yoona. Betapa besarpun ia mencintaimu, itu nggak akan lebih besar dari hutang budinya kepada ayahnya yang sekarang.” Menatapku sejenak, ia segera paham arti kerutan di keningku yang seketika muncul saat ia mengatakan ‘masa lalu’ dan ‘ayahnya yang sekarang’. Doojoon oppa membenarkan tebakan hatiku dengan berkata, “Ya, Bapak Presiden kita. Beliau mengangkat anak Kyuhyun sewaktu masih menjadi anggota dewan parlementer. Belum lama, sekitar 3 tahun lalu. Aku ingat karena saat kita sedang sibuk-sibuknya mengurus Sara. Intinya, ia nggak akan bisa bersama denganmu, Jung Yoona. You’re out of his league. You’re out of his father’s league.

Begitu panas mataku mendengar itu semua. Menyadari bahwa setelah mendengar itupun, aku bahkan masih mencintainya. Aku tidak jijik mendengar dia hanya anak angkat. Aku bahkan tidak khawatir kalau-kalau nantinya ia tidak tercatat dalam daftar ahli waris karena statusnya itu, yang akan berpengaruh kalau nanti kami sampai bersikeras menjalin hubungan. Bisa saja semua aspek finansialnya diputuskan oleh ayahnya bukan? Bagaimanapun Kyuhyun bukanlah darah dagingnya. Sungguh, ini bukan seperti aku yang biasanya… Bukan seorang Jung Yoona yang tergila-gila dengan status sosial dan harta seorang pria.

“Karena itu, tinggallah denganku, Yoona… Bagaimanapun kamu adalah adik iparku, baik saat Sara masih ada ataupun sekarang. Aku nggak akan bisa memberimu tempat tinggal di Cheongdamdong seperti sekarang, tapi setidaknya aku punya rumah orangtuaku, tempat kita bertiga tinggal bersama dulu. Aku juga sudah mendapatkan pekerjaanku kembali. Aku nggak tahu apa kamu memperhatikannya, tapi sejak 2 tahun lalu aku sudah aktif bermain kembali untuk nasional. Persatuan sepakbola menganulir pemecatanku atas petisi teman-teman…”

Sebelum aku tersadar, perlahan tubuhku melorot terduduk di atas sofa biru lobi apartemenku ini. Airmataku mengalir mendengar perkataannya. Aku memperhatikannya, diam-diam aku tentu memperhatikannya… Doojoon oppa adalah orang yang Sara unni cintai sepenuh hati. Berbeda denganku, unni adalah tipe gadis desa yang naif dan luar biasa tulus, sampai pada taraf aku khawatir seseorang akan dengan mudahnya memperdayai dan memanfaatkannya karena hal itu. Sebegitu naif dan tulusnya ia, hingga ketika ia sudah mencintai seseorang, bisa dipastikan ia akan memberikan seluruh hatinya pada orang itu.

Beruntung ia bertemu Doojoon oppa. Pria dengan ketulusan yang sama dengan unni. Pria yang juga begitu mencintainya dan dengan jantan mengajaknya menikah walaupun sama-sama masih di usia muda dan Doojoon oppa bahkan tengah berada di puncak prestasinya sebagai kapten timnas U-23 Korea saat itu. Hal yang aku sedikit iri karenanya… tapi harus kuakui itu mungkin balasan atas segala kebaikan yang unni tebar selama ini.

Gil Sara dan aku adalah dua anak asuh tertua di panti tempat kami dibesarkan. Ia hanya lebih tua sedikit dariku, tapi karena sifatnya yang keibuan, kami semua akhirnya memanggilnya ‘unni’. Saat sama-sama lulus SMA, kami berdua sepakat untuk tidak lagi merepotkan dan meninggalkan panti untuk melanjutkan kuliah sambil bekerja di Seoul. Yang hanya menjadi angan-angan belaka karena pada akhirnya, uang kami tidak cukup untuk bahkan melanjutkan kuliah di sebuah universitas terbuka. Unni pun kembali dengan keputusannya: ia rela tidak melanjutkan kuliah agar aku, yang menurutnya lebih potensial dalam urusan belajar, dapat melanjutkannya. Ia bahkan memaksaku masuk di universitas swasta elit demi menjamin aku mendapatkan pendidikan yang terbaik. Alih-alih, ia akan mendukungku sepenuhnya dari belakang, membiayai kuliahku dari hasilnya bekerja sebagai kasir di sebuah supermarket besar di pinggir kota Seoul, yang padahal juga hanya pas-pasan menghidupi kami berdua…

Melihatku yang tiba-tiba terus menunduk karena airmata yang tidak bisa berhenti mengalir, Doojoon oppa pun berdiri untuk menghampiriku yang duduk di hadapannya, dan perlahan memelukku dari samping. Tangisku makin keras. Betapa sesungguhnya, yang paling sedih kehilangan unni pastilah orang ini… suaminya sendiri. Setelah semua yang ia korbankan; pekerjaan, keluarga, uang… tapi tetap tak mampu menyelamatkan orang yang ia cintai.

“Aku… berkata pada pacar Kyuhyun-ssi kalau aku hamil. Anak Jo Kyuhyun.”

“Pacar Kyuhyun…? Choi Jiwon??” Doojoon oppa terbelalak, dan segera membalik tubuhku untuk menatapnya. “Dan kamu… hamil??”

“Aku nggak hamil. Aku hanya ingin Nona itu pergi dari hidup Jo Kyuhyun, agar aku bisa bersamanya.”

“Oh, Yoona-ya…” Doojoon oppa kembali memelukku, mengusap-usap punggungku yang kini bahkan sudah membiarkan diriku kembali menangis dalam diam di pelukannya. Sudah lama sekali aku tidak membiarkan orang lain melihatku seperti ini, melihat sisi ‘Yoona’ yang egois tapi cengeng, bukan ‘Jung Yoona’ si primadona yang dari luar selalu terlihat strong dan anggun. Disinilah aku baru sadar kalau selama ini aku bersembunyi… bersembunyi di balik topeng ‘sok kuat’, menunggu ada yang menemukanku. Yang kupikir itu adalah Jo Kyuhyun, pria yang kucintai. Nyatanya di depan dia pun aku tetap berpura-pura…

“Geureom kaja (Kalau begitu, ayo kita pergi).” Masih memelukku, Doojoon oppa tiba-tiba berkata lugas.

Aku mendorong kedua bahunya untuk menatap matanya, bingung, “Oppa bilang apa?”

“Ayo kita pergi.” ulangnya lagi, mantap menatap kedua mataku. “Aku… sesungguhnya mendapat tawaran untuk main di Sampdoria FC, Italia. Aku pikir aku akan menolaknya karena aku ingin memperbaiki hubungan kita dulu disini kalau kamu bersedia tinggal denganku lagi. Tapi ternyata kondisimu seperti ini. Kamu nggak akan bisa secepatnya move on kalau kamu terus di Korea, oleh karena itu… ikutlah denganku. Tinggalkan apartemen ini, tinggalkan… Jo Kyuhyun,” Doojoon oppa mengatakannya dengan berat karena takut kembali menggores kenyataan pedih di hatiku. “…jangan bawa apapun. Kita akan pergi ke Italia, kamu akan bisa makan pizza sepuasnya disana, dan mungkin melanjutkan kuliah… Apapun yang kamu inginkan. Oke?”

“O-Onje…? (Kapan…?)”

“Minggu depan, bulan ini… terserah padamu. Oppa tinggal menelepon pihak sana dan—”

“Besok.” potongku tiba-tiba dengan pandangan kosong… yang perlahan memburam karena butiran air kembali muncul di pelupuk mataku dan siap kembali jatuh. Doojoon oppa mengernyit, tidak mempercayai pendengarannya. Aku kembali mengulang, “Besok, lusa… secepatnya. Kalau bisa… besok. Ayo kita… berangkat besok, oppa.”

Bukannya aku tidak lagi mencintai Kyuhyun makanya menyerah secepat ini, tidak… Berkebalikan dari itu, aku sungguh sangat mencintainya sehingga aku takut kalau menunda keberangkatan kami hanya akan membuatku kembali berubah pikiran dan berusaha untuk bisa bersamanya lagi. Yang tidak akan pernah mungkin bisa terwujud, hal yang sesungguhnya sangat kuketahui namun berupaya keras untuk kubuktikan salah. Karena seperti ‘manual book‘ tak tertulis bagi kalangan ber-uang seperti yang kudengar dari teman-teman kampusku yang elit itu, bahwa:

 

“The riches will always play with the riches, date the other riches or some ordinary people, but still marry another rich. There’s no way to ruin the cycle.”

 

Awalnya aku juga tertawa mendengar itu, tapi kini aku merasakannya sendiri. Sebesar apapun aku dan Kyuhyun saling mencintai, kami tak akan bisa merusak siklus yang telah ada. Ada kekuatan yang lebih besar di luar sana yang mengatur itu semua. Dan berpikir aku bisa mengubah itu… ternyata aku tak kalah naif dengan Sara unni.

 

KYUHYUN

H+2 Putusnya Kyuhyun dan Jiwon

18.00 KST

Drrttt. Drrrtt.

Aku menatap telepon masuk di ponselku dengan caller ID sekretaris ayahku itu dengan pandangan malas. Aku sedang mencoba menjernihkan kepalaku dengan bantuan sebotol wine sejak Doojoon meninggalkanku tadi untuk menemui Yoona, namun telepon ini mengganggu sekali. Sudah berapa kali ia menelepon? Argh! Apa dia tidak tahu dua hari ini rasanya kepalaku begitu pusing dengan urusan percintaan?? Jauuuuh lebih pusing dibandingkan saat aku masih berselingkuh dengan Yoona di belakang Jiwon. Aku memikirkan perkataan ayahku, memikirkan lagi negara ini, memikirkan Yoona, memikirkan kebahagiaanku… Coba, mana ada pria umur 24 tahun yang memikirkan negaranya saat akan berpacaran dengan seorang gadis??

Padahal sesungguhnya ayahku juga sama sekali tidak bicara apapun tentang menyuruhku balikan dengan Jiwon, sebagai seorang Presiden ia sangat demokratis, yang itu tentu juga diterapkan ke putra-putrinya untuk memilih sendiri apapun yang kami suka. Tapi kalau kita dengar jawabannya saat aku bertanya bagaimana marriage material untukku itu, bukankah secara implisit ia menginginkan Jiwon yang menjadi calon istriku? Biarpun tidak memaksa, tapi sebaiknya itu adalah Choi Jiwon. Itu maksudnya bukan? Dan sekarang kepusinganku ditambah dengan berita tentang hubungan Doojoon dan Yoona yang tiba-tiba terungkap betul-betul bak petir di siang bolong. Entah kenapa, firasatku buruk. Tiba-tiba aku… merasa posisiku di samping Yoona terancam.

“AAARRGHH… INI MENGESALKAN!!!” DUKK!! Aku menggebrak meja kafe ini, setengah mabuk, sebelum akhirnya mencoba menjatuhkan kepalaku ke atas meja.

Tapi… aneh, mengapa empuk?

“Apa yang mengesalkan, Kyuhyun-ssi?”

Aku membuka mata, dan melihat sebuah telapak tangan besar menghalangi dahiku dan permukaan meja untuk bertemu. Kutolehkan wajah, dan samar-samar menemukan wajah pria 40-an berpakaian jas dilapisi mantel rapi dengan rambut klimis itu… “Sekretaris Kim? Anda menemukan saya, rupanya.”

Ia membungkuk, seperti yang selalu dilakukannya saat bertemu denganku, “Bapak Presiden memanggil Anda, tapi sepertinya kita harus melakukan sesuatu terlebih dahulu untuk membuat Anda sadar.”

BYURR!!!

Tanpa aba-aba, kepalaku diguyur dengan seember air yang dibawa dua orang bodyguard berseragam jas, di belakang Sekretaris Kim. Sedikit megap-megap karena kaget, aku sukses tersadar karenanya, dan segera menoleh ke kanan dan kiri, memastikan tak ada orang lain disana, baik tamu, pelayan, bahkan bartender. Sekretaris Kim jelas sudah menyingkirkan mereka semua terlebih dulu demi tetap menyelamatkan mukaku di depan publik.

Seperti yang kubilang, ayahku sangat demokratis. Bahkan pada para pegawainya. Ia membebaskan orang kepercayaannya ini menggunakan cara apapun yang dianggap baik untuk membimbing kami, anak-anaknya, tetap di jalur yang benar, seiring kesibukannya sebagai seorang Presiden.

PS: Ini bukan pertama kalinya aku juga Dambi, adikku, didisiplinkan seperti ini setiap kali kami berulah. Aku sih jarang, tapi Dambi, si mahasiswi ‘begajulan’ itu, sering sekali.

________

 

“Jeongshin charyeotna? (Kamu sudah kembali pada kewarasanmu?)”

Aku menghadap ayahku di ruang kerjanya di Cheongwadae, istana kepresidenan Korea yang juga sering disebut Blue House di media internasional, setelah terlebih dulu mengganti bajuku yang basah akibat guyuran air Sekretaris Kim tadi. Lagipula, untuk masuk kesini memang diwajibkan menggunakan baju resmi. Bahkan untuk seorang anak yang bertemu ayahnya hanya untuk kepentingan personal seperti aku pun, akhirnya berakhir dengan setelan jas hitam dan kemeja putih rapi.

Aku pun akhirnya tahu hal apa yang ingin dibicarakan ayahku sampai Sekretaris Kim begitu bawel menghubungi ponselku sesiangan ini. Di perjalanan tadi, tangan kanan ayah yang sudah dipekerjakan beliau sejak istri ayahku (ibu kandung Dambi) meninggal dunia 8 tahun lalu itu, memang telah memberitahuku secara umum tentang sebab ayah memanggilku. Seperti yang kubilang tadi… masalah personal. Aku diharapkan siap diomeli karena ternyata siang tadi ayah diundang makan siang oleh Direktur Choi—ya, ayah Jiwon—berdua saja. Tak perlu kutanyakan apa yang mereka bicarakan dalam makan siang itu.

“Saya mohon maaf. Apapun yang saya lakukan.” kataku dalam bungkukan 90 derajat di depan meja kerjanya, untuk menjawab tanya ayahku itu. Setengah hati… karena aku sama sekali tidak merasa melakukan kesalahan apapun. Salahkah dua orang yang saling mencintai untuk bersama?? Salahkah aku mengejar kebahagiaanku sendiri? Salahkah Yoona jika ia tidak punya latar belakang yang mengagumkan?? Karena aku pun juga dulu seperti itu!

Tapi tak ada satupun dari tanya itu yang keluar dari mulutku. Kurasa aku memang pengecut.

“‘Apapun yang kamu lakukan’?? BANYAK hal yang kamu lakukan, Jo Kyuhyun.” jawab ayahku sarkastis. Ia beranjak dari kursi kerjanya menuju sofa di belakangku, menepuk punggungku yang masih membungkuk juga untuk ikut bersamanya. “Kamu tahu aku sama sekali tak pernah mau ikut campur urusan pribadi kalian, baik kamu dan Dambi, karena bagaimanapun aku memberikan kepercayaan kalau kalian bisa mengatur hidup kalian sendiri, yang sampai saat ini kalian patuhi. Senakal-nakalnya Dambi pun ia tak pernah melewati batas, dan aku bahkan tak perlu bicara tentang dirimu. Sejak kamu menjadi putra sulungku, tak pernah sekalipun kamu membuat masalah besar, kamu adalah putra yang selalu kubanggakan ke semua orang.”

“Tapi kini aku murka!” katanya dingin, biarpun masih dikemas dengan intonasi biasa. Bedanya, ia kini menatapku tajam, tidak dengan pandang kebapakan sebagaimana matanya selalu bicara. Aku kembali menunduk dalam dudukku di atas sofa, dengan jemari tertaut dan siku bertumpu di pahaku, tidak mampu menatap beliau lama-lama. “Mungkin Sekretaris Kim sudah cerita padamu bahwa siang ini aku diundang makan siang dengan Direktur Choi. Rupanya dia juga sudah mengetahui tentang putusnya hubungan kalian, dan perlakuanmu kepada Jiwon. Beliau sangat kecewa padamu. Jujur, aku pun juga.”

Aku sungguh tahu apa yang akan ia katakan, dan sekarang aku sedang berpikir… kembali berpikir tentang keputusan yang harus kuambil. Antara Yoona yang kucintai, dan Jiwon yang negara ini butuhkan.

Tapi bukannya aku sudah tidak mencintai Jiwon lagi juga…

“Aku begitu malu mendengar Direktur Choi bahkan mengatakan: ‘Harusnya Kyuhyun lebih hati-hati’, alih-alih mengajukan komplain langsung padaku bahwa bisa-bisanya kamu menyelingkuhi putri kesayangannya. Aku akan lebih siap jika beliau marah karena kelakuanmu, karena memang apa yang kamu lakukan patut dicaci. Tapi ia tidak melakukannya. Begitu terhormatnya dia, Jo Kyuhyun, dan kamu telah mencoreng mukaku di depan orang se-terhormat dia!!”

Bahuku sedikit terlonjak saat mendengar seruan ayah, biarpun yang lebih kuingat adalah seluruh kalimatnya. Bahwa di luar perkiraanku, Direktur Choi bahkan tidak memojokkanku sama sekali, biarpun aku sangat tahu kalau ia pasti juga punya banyak informan dan mata-mata yang jauh lebih hebat dari yang Jiwon sewa secara pribadi itu. Dipastikan dia tahu benar apa yang kulakukan pada putrinya, tapi ia memilih tidak ikut campur lebih jauh. Begitukah orang yang ‘besar’ akan bertindak? Sungguh, aku merasa kecil sekali… Pantas ayahku begitu murka.

“Kali ini, aku sama sekali tidak mau tahu. Kamu harus segera pergi ke kediaman keluarga Choi dan meminta maaf pada Jiwon dan Direktur Choi. Aku akan sangat mengapresiasi kalau kamu juga memperbaiki hubunganmu dengan Jiwon, dan mengakhiri hubunganmu dengan Jung Yoona itu. Sekarang, pergilah.”

Terus-menerus mengepalkan tanganku kuat-kuat demi meyakinkanku akan keputusan yang kuambil, aku melangkah keluar dari ruang kerja ayahku.

…menuju apartemen Yoona.

 

______

 

TIT.

Pintu terbuka.” adalah sapaan elektronik dari kunci sandi pintu apartemen yang kusewakan untuk Yoona ini. Apartemen ini adalah satu dari sedikit apartemen dan kondominium di sekitaran Gangnam yang tidak dimiliki oleh jaringan properti Choi Corp. milik keluarga Jiwon, hal yang membuatku memutuskan memilih kawasan hunian ini untuk Yoona tinggal. Meminimalisir kemungkinan hubungan kami terbongkar begitu cepat.

Yang akhirnya tetap terbongkar juga.

“Yoona-ya? Yoona-ya?” aku memanggil-manggil nama Yoona, namun apartemen begitu sepi. Semua lampu dimatikan, TV pun tidak menyala. Sedari pulang dari Cheongwadae tadi, aku juga sudah menghubungi ponselnya, tapi tidak diangkat. Ingat ia tadi seharusnya bertemu Doojoon, akupun juga menelepon temanku itu, tapi ponselnya tidak aktif. Apa yang terjadi sebetulnya?

“Yoona—” panggilanku terhenti begitu menyalakan lampu ruang makan, dan menemukan ponsel yang kuberikan untuk Yoona disana. Beserta secarik notes. Dan di atas kertas putih itu, diletakkan sebuah cincin emas rose gold bermata berlian kecil pemberianku, yang biasanya selalu Yoona pakai di jarinya…

 

Dear Kyuhyun-ssi,

Maaf, aku meninggalkan apartemen ini tiba-tiba. Aku memutuskan tinggal bersama Doojoon oppa lagi, dan kembali memperbaiki hubungan kami. Maaf, karena kurasa sekaranglah saatnya kita juga untuk berhenti menjalin hubungan ini. It’s hard on both of us, right? Tapi kita menjalaninya dengan baik, dan aku ingin mengenang kita yang seperti itu.

Aku mengembalikan semua yang Kyuhyun-ssi berikan padaku: apartemen ini, ponsel, cincin, semua pakaian, perhiasan… dan juga cintamu. Aku tidak ingin membawa apapun, karena itu akan membuatku lebih mudah melupakanmu. Dan kukembalikan cintamu kepada yang berhak, Choi Jiwon. She really looks like a nice girl. Siang ini aku bertemu dengannya, dan aku mengerti kenapa dulu Kyuhyun-ssi jatuh cinta padanya. Di luar statusnya, dia sama sekali tidak fake seperti nona-nona besar pada umumnya. Tapi sebegitu aku ingin mempertahankanmu, aku sampai bilang kalau aku hamil di hadapannya. Ah, aku malu sekali. Tolong sampaikan maafku padanya, dan aku sama sekali tidak hamil. Kita selalu melakukannya dengan ‘aman’, bukan? 😉

I love you, as much as I love myself.

Jung Yoona

 

Aku membaca notes dari Yoona itu, dan tanpa kusadari senyum terbit di wajahku. With a heavy heart, yes, tapi Yoona berhasil mengemas perpisahan kami dengan begitu manis, tanpa penyesalan. Kami tetap saling mencintai, tapi kami berdua sama-sama tahu posisi masing-masing. Ia sungguh melakukannya dengan sangat luar biasa, yang aku sendiri bahkan belum tahu apa yang akan kulakukan saat menuju kesini untuk memutuskan hubungan kami. It turned out… to be better. Karena aku sendiri tak yakin apa aku benar bisa memutuskannya jika melihat wajahnya. Entah apa yang Doojoon katakan pada Yoona sampai bisa membuat gadis itu mengubah sikapnya pada sang kakak ipar seperti ini.

Drrrttt. Drrrttt.

Di tengah-tengah tenggelam dalam pikiranku sendiri sembari terus menatap surat dari Yoona, tiba-tiba ponsel putih di atas meja makan ini bergetar. Ponsel yang Yoona tinggalkan. Tapi… mengapa aku merasa nomor ini familiar?

“Yeoboseyo? (Halo?)”

Di ujung lain telepon, seseorang terdengar kaget mendengar jawabanku, “Yeobo… seyo? (Ha… lo?) K-Kyuhyun oppa?

Kini gantian aku yang tertegun mendengar suara wanita itu. Pantas nomor ini terasa familiar… “Jiwon-ah?”

E-Eo (Y-Ya).” jawabnya, masih belum mampu menyembunyikan keterkejutannya. “K-Kalau begitu, nanti aku akan telepon lagi, maaf menggang—

“Aniya (Nggak), kamu nggak mengganggu.” selaku cepat. “Ada apa? Yoona memang sudah nggak menggunakan ponsel ini lagi. Ia mengembalikannya padaku. Kami… sudah putus.”

Terdengar suara tarikan napas kaget di seberang sana, yang segera berganti dengan, “Lalu bayinya? Bagaimana bayinya? Aku dengar kalau Yoona-ssi hamil. Aku menelepon untuk mengajaknya USG di rumah sakit Yora unni… Apa oppa tahu kalau Yoona-ssi hamil??

Sungguh, aku tertawa kecil tetapi pahit mendengar Jiwon yang seperti langsung histeris dibuatnya. Bagaimana mungkin ia masih mengkhawatirkan keadaan orang yang bahkan telah merebut pacarnya sendiri? Dan disitu aku menyadari… betapa aku begitu bodoh telah menyia-nyiakan gadis sebaik dan setulus ia.

“Yoona… dia nggak hamil.” kataku akhirnya, teringat notes yang diberikan Yoona. Pesan agar aku menyampaikan yang sesungguhnya pada Jiwon. “Dia hanya berbohong agar kamu pergi dari hidupku. Dan ia meminta padaku untuk menyampaikan maafnya atas itu.”

H-Hwaksilhae? (O-Oppa yakin?)

“Aku tahu benar hubungan kami, Jiwon-ah.” lugasku. Jiwon terdiam. Yang membuatku segera ingin kembali mengisi kekosongan percakapan kami… “Oh ya, apa besok ayahmu ada di rumah? Kalau beliau ada waktu, aku ingin bertemu dengannya. Dan kamu.”

________

 

Keesokan harinya,

Kediaman pribadi keluarga Jo

08.00 KST

TUUUT. TUUUT.

“Yeoboseyo? (Halo?) Kyuhyun-ah.”

“Doojoon-ah!” seruku begitu gembira, begitu kawanku itu akhirnya menjawab teleponnya. Aku baru bisa menghubungi Doojoon pagi ini, setelah semalaman kemarin ponselnya terus nonaktif saat coba kuhubungi sepulang dari apartemen Yoona. Masalahnya hari ini aku baru saja melihat berita di TV kalau Yoon Doojoon kemarin telah menandatangani kontrak dengan klub sepakbola Italia, Sampdoria FC, dan berencana akan segera berangkat untuk menjalani training pengenalan disana!

Aku sangat kaget, karena selama ini ia sama sekali tidak pernah menyebutkan hal itu setiap mengobrol denganku. Ia bahkan merespon postif tawaranku menjadi kader baru partai kami, yang membuatku berpikir ia akan terus berkarir di Korea Selatan. Bagaimana mungkin ia akan pergi ke Italia begitu saja? Bagaimana dengan Yoona?

Eo (Ya). Maaf kemarin aku nggak bisa menjawab teleponmu, aku lihat voicemail darimu banyak sekali. Aku sibuk di klub mengurus kepindahanku ke Sampdoria, berbagai dokumen dan—”

“Itu, itu yang mau kutanyakan, dasar bodoh!” aku segera memotong penjelasannya, yang sesegera juga mendapat protes darinya: “Apa maksudmu bodoh, hah??” Tapi aku tak mempedulikannya. “Sejak kapan kamu dapat tawaran dari sana?? Lalu kapan kamu akan berangkat?? Dan… bagaimana keadaan Yoona…?” tanyaku, melembut di akhir.

Aku bisa merasakan Doojoon menghela napasnya di ujung sana, “Sebetulnya kamu cuma mau menanyakan yang terakhir, kan?

“Ani. (Nggak.)” responku buru-buru. Segera kudengar decakan Doojoon dari seberang telepon.

Aku berangkat malam ini juga, jam 9. Dan tentu bersama Yoona. Ia baik-baik saja, kamu nggak perlu khawatir. Hubungan kami juga semakin membaik… yang semuanya berkat kamu juga. Terima kasih.

Aku terdiam. Hanya pada kata “Ia baik-baik saja…”, hatiku yang sejak kemarin terasa sangat kacau seperti langsung tentram kembali. Tanpa tersadar, aku tersenyum, masih di atas sofa ruang TV, dengan remote di tangan kanan pasca menonton berita olahraga tentang Doojoon tadi.

Dambi yang baru saja lewat di depanku dengan memeluk mangkuk serealnya segera GREB! merebut remote itu, dan terlihat bingung aku bahkan tidak melakukan perlawanan.

“Geureom (Kalau begitu)… Aku titip dia ya, Doojoon-ah. Maaf aku nggak bisa mengantar kalian malam ini ke bandara, aku sudah janji akan ke rumah Jiwon untuk bertemu Direktur Choi dan memperbaiki hubungan kami.” kataku, sengaja memberikan penjelasan itu di akhir karena aku yakin Doojoon juga telah mengetahui semuanya. Tentang affair-ku dan Yoona. Dan aku ingin ia menyampaikan itu pada adik iparnya, kalau aku benar-benar kembali kepada Jiwon seperti yang ia minta. “Sukses ya disana! Salam untuk Yoona. Say that… I’ll miss her.

TIT. Aku mematikan sambungan telepon dan sudah akan beranjak bangun (tiba-tiba ingin tidur lagi saja sampai waktu janjianku dengan ayah Jiwon, aku harus melupakan semuanya), ketika Dambi menahan ujung celana piyamaku, “Memang Yoona unni mau kemana?”

“Bermainlah dengan Jiwon juga mulai sekarang, ia juga menyenangkan, kok.” pintaku seraya melengos pergi, sama sekali tak menjawab pertanyaannya. Masih bisa kudengar Dambi bergumam manyun, “Jiwon unni terlalu ‘klasik’!”

Aku tertawa kecil. Jadi itu alasan Dambi kurang cocok dengannya? Aku akan mengatakannya pada Jiwon nanti malam. Kalau mungkin ia harus sedikit keluar dari gayanya yang tak suka aneh-aneh dan mencoba bereksperimen dengan tren, jika ingin merebut hati adikku juga.

Sebagaimana Yoona juga merebutnya dulu.

 

Di rumah Doojoon,

Sukses ya disana! Salam untuk Yoona. Say that… I’ll miss her.”

TIT. Doojoon mengakhiri percakapannya dengan Kyuhyun, yang ternyata sedari tadi sengaja ia speakerphone agar Yoona juga dapat mendengarnya. Pria itu kini menoleh ke arah adik iparnya yang duduk di kursi makan persis di sampingnya, mencoba mengecek keadaan gadis itu.

Tapi Yoona segera melengos dengan berdiri. Memeluk kardigan yang dipakainya erat, ia berjalan menuju udara segar di taman belakang rumah pemberian orangtua Doojoon ini. Menangis dalam diam.

 

_________

Satu minggu kemudian,

“Selamat sudah diwisuda!” CTASS! Jiwon menarik pelatuk pistol berisi confetti yang dibelinya dan sesegera mungkin, rambutku pun sudah penuh dengan guntingan kertas-kertas kecil berkelap-kelip itu. Jiwon segera membantuku membersihkannya, biarpun tetap sambil tertawa terbahak-bahak. Ia kelihatan bahagia sekali. Yang aku syukuri, karena itulah tujuanku mengajaknya kesini.

Hari ini, aku mengajaknya camping untuk mengingat saat kami pertama bertemu di acara bakti sosial sebuah pulau dekat perbatasan Korea Utara, dimana kami harus menginap di tenda dan menyisir hutan untuk bertemu penduduk. Aku ingin kami—aku—mengingat lagi bagaimana kami jatuh cinta, sekaligus menjadikannya healing trip atas masalah kami seminggu belakangan. Biarpun hanya di area camping yang memang banyak terdapat di berbagai lokasi wisata alam di kota-kota satelit Seoul, tetap saja bagi kami, ini sungguh berarti.

Saat aku mampir ke rumahnya minggu lalu, karena waktu yang terlalu singkat dan aku yang akhirnya malah lebih lama diajak ngobrol oleh Direktur Choi, kami jadi belum sempat bicara apapun. Keesokan harinya kami sudah kembali disibukkan dengan rutinitas kerja dan aku yang akhirnya wisuda sehingga akhirnya, kami sepakat kalau weekend ini akan didedikasikan untuk menuntaskan unek-unek apapun mengenai masalah affair yang lalu. Jiwon juga berinisiatif agar kami sekalian merayakan kelulusanku.

“Rasanya sakit mendengarmu yang mengangkat telepon saat aku menghubungi Jung Yoona. Di pikiranku: ‘Ah, mereka betul-betul berpacaran… oppa bahkan dengan sangat natural mengangkat telepon yang masuk di ponselnya’. Aku seperti ditampar kenyataan bahwa memang, kita berdua sudah betul-betul berakhir…”

Aku hanya bisa terdiam mendengar curhatan Jiwon, tersenyum kecut karena menyadari, betapa perlakuanku sungguh buruk terhadapnya. Dan yang lebih luar biasa adalah, Jiwon dan keluarganya bahkan masih mau menerimaku setelah itu semua. Ah, untung saja kakak Jiwon, Choi Siwon, saat ini sedang wamil. Kalau dia sampai tahu, aku yakin aku akan dihajarnya sampai remuk seperti kerupuk.

“…Appa bahkan menyuruhku terima saja oppa selingkuh.”

Setelah lama hanya mendengarkan, kini aku tertawa pahit mendengar bahwa ada cerita seperti ini dalam fragmen permasalahan kami dari sisi Jiwon, “Geurae? (Betulkah?) Lalu kamu setuju?”

“Aniji. (Nggak, lah.)” jawabnya segera, mendelik ke arahku. Aku tertawa terbahak-bahak. Sungguh aku seperti telah melupakan betapa Jiwon selalu bisa membuatku bahagia selama berada di dekatnya. Aku dibutakan oleh keegoisanku sendiri… bodoh sekali. “Membiasakan hal seperti itu malah akan membuat wanita terus-menerus diperlakukan sewenang-wenang oleh pria. Mengatakan itu hal yang wajar, terjadi pada semua orang, yang penting ia tetap kembali padamu… Apa oppa betul-betul berpikir aku yang bahkan aktivis hak asasi perempuan akan melakukan hal itu?”

“Aniji. (Nggak, lah.)” kini gantian aku menggunakan perkataan yang sama dengannya sebelumnya, menggeleng-gelengkan kepalaku dengan ekspresi pura-pura kecewa. Jiwon gantian tertawa. “Tapi untung saja biarpun menolak hal itu kamu masih memperjuangkanku kembali, bukan terima-terima saja atau bahkan balas dendam langsung punya pacar baru.”

Jiwon tersenyum pahit, meneguk coklat panas dari dalam mug yang sedari tadi digenggamnya, “Mana ada pria yang lebih hebat dari oppa.”

“Apa?”

“A-Ani (Nggak).” Ia menggeleng, sebelum menghirup dalam-dalam udara malam di area camping tempat kami akan bermalam ini. “Yang terpenting aku, keluargaku, senang menerima oppa kembali. Tanpa kehadiran orang lain. Dan kuharap di masa depan juga. Ini pertama kalinya aku harus mengusik hidup orang lain seperti Nona-Nona di drama dan itu sungguh membuatku capek hati. Jadi please, kalau hal ini terjadi lagi, aku nggak akan peduli oppa anak presiden ataupun betapa aku mencintai oppa, aku akan pergi. Arasseo? (Mengerti?)”

Dia seketika menoleh ke arahku begitu aku tak menjawab dan hanya terdiam menatap wajahnya sembari tersenyum, “W-Wae? (K-Kenapa?)”

“Betapa kamu apa?” ulangku, ingin mendengar lagi yang dikatakannya barusan.

Jiwon seketika salah tingkah, duduknya menjadi tak tenang dan akhirnya malah berkomentar, “Tumben nggak ada yang minta foto denganmu… Biasanya oppa sudah seperti selebriti yang selalu dikerumuni orang dimana-mana. Gukmin Adeul (Putra Nasional).” sindirnya, pura-pura melihat ke sekeliling.

Aku hanya menghela napas seraya menghempaskan punggungku ke sandaran kursi lipat, “Pura-pura lupa. Ini kegiatan outdoor, dan kita bermalam pula. Bodyguard-MU pasti sudah mengurus mereka.”

Bodyguard-MU, kali.” baliknya, sadar dengan sindiranku. Kami berdua tertawa lepas, menyadari bahwa biarpun tak terlihat, memang selalu ada orang yang mengelilingi kami dimanapun berada. It’s a burden, yes, tapi kurasa cepat atau lambat aku harus menerima ini semua.

…Kalau semuanya telah berubah, kalau kini aku punya nama baik keluarga yang harus kujunjung tinggi. Kalau sebagai seorang putra presiden, bisa saja kini ada yang sedang mengincar nyawaku. Kalau menyangkut percintaan pun… tidak sembarang gadis bisa bersama denganku. Sudah tiga tahun dan kurasa aku sedikit terlalu lama memproses itu semua.

Jadi biarkanlah ini menjadi titik balik itu semua, bisikku dalam hati, seraya terus memandangi Jiwon yang begitu terhibur hanya dengan melihat bintang-bintang yang berserakan di langit alam terbuka seperti ini. Aku bahkan cukup beruntung, setidaknya aku mencintai gadis yang ‘pantas’ denganku itu. Biarpun ada seorang gadis luar biasa lainnya yang juga sempat meninggalkan jejak di hatiku dan tak akan bisa terhapus…

 

END

Only 2 words:

SO…. HOW??

In need of your feedback dear readers! 😀

Advertisements
 
1 Comment

Posted by on February 16, 2016 in Super Junior, [THE SERIES]

 

Tags: ,

One response to “[THE SERIES] SABOTAGE – Part 3 (END)

  1. cizziekyu

    February 16, 2016 at 6:58 pm

    Huhuhuhuhuhuhu endingnyaaaa!!!!!!!!!!

    Paling suka kata2 ini :
    “Sebesar apapun aku dan Kyuhyun saling mencintai, kami tak akan bisa merusak siklus yang telah ada. Ada kekuatan yang lebih besar di luar sana yang mengatur itu semua. Dan berpikir aku bisa mengubah itu… ternyata aku tak kalah naif dengan Sara unni.”

    Kasian kan Yoonanya! Kunyun udah rusak anak orang ituuuuu huhuhu tapi ya diliat dari sisi manapun, the rich one always ended up with another rich one. Yang namanya kisah kaya Cinderella sih one in a million yakk

    Gapapa lah entar Yoona bisa kok dapat mister-mister (bukan oppa-oppa lagi) di Italia sono wkwkwk

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: