RSS

[THE SERIES] SABOTAGE – Part 2

05 Feb

Menyambut Imlek dengan new episode of SABOTAGE! berhubung libur panjang besok saya pulang ke Jakarta (kerja di Lampung) dan kayaknya ga bawa laptop, jadi saya publish sekarang aja…. Semoga suka, dears! :))

 

“Jangan membuat dirimu terlihat buruk hanya demi pria brengsek seperti aku. Selamat tinggal.”

 

SABOTAGE – Part 2

(Part 1)

Written by: @lolita309

Starring: Jo Kyuhyun, Choi Jiwon

chrisnagustyani as Jung Yoona

10831873_1585669894999217_999561133_n

 

YOONA

Keesokan harinya, Jumat 19.00 KST

Kongres Partai Nasional Korea

Seoul Ritz Carlton Ballroom

“Annyeonghasimnikka (Apa kabar)? Silakan menuju kesini.”

“Oooo… Yoona-ssi, gaun yang cantik.” puji salah satu kader partai kami, Tuan Yoo Hongman yang baru saja kusambut dan kini sedang kutunjukkan jalan menuju mejanya.

Aku tersenyum seraya menarik kursi untuk diduduki pria 30 tahunan itu, “Gaunnya saja? Orangnya tidak?” candaku artifisial, seperti sudah biasa dengan basa-basi seperti ini semenjak ditugaskan di Bagian Humas kantor pusat Partai Nasional Korea tempatku magang.

“Hahaha, mal-i jal haneyo (Anda pintar bicara rupanya).” tawanya terhibur, yang segera kubalas dengan senyuman kembali dan juga anggukan sebelum pergi dari situ.

“Jung Yoona.”

Aku menoleh begitu mendengar suara familiar itu memanggilku setengah berbisik, saat aku dalam perjalanan kembali ke pintu ballroom untuk menyambut tamu. Mengulum senyum melihatnya yang selalu bertambah tampan 10 kali lipat saat mengenakan setelan jas, aku pun mengulurkan tangan untuk menjabatnya (sebagaimana akting kami selalu di depan publik), “Kyuhyun-ssi.”

Biarpun sepertinya ia sengaja membalas jabat tanganku dengan sedikit terlalu kuat hingga aku akhirnya tertarik dalam pelukannya. Berbisik di telingaku, ia berkata, “Bergabunglah di meja kami nanti. And… just so you know that I’m heavily restraining myself tonight. Kamu terlalu cantik.”

“Sama-sama, Kyuhyun-ssi.” balasku dengan suara biasa seraya kembali ke posisi berdiriku, sebagai kamuflase untuk orang-orang yang lewat di sekeliling kami. Tersenyum penuh arti, Jo Kyuhyun pun meninggalkanku dengan berjalan ke meja bundarnya sendiri yang akan ia duduki bersama sang ayah, Presiden Jo Taewang, dan Wakil Presiden Kwon Seunggi, juga beberapa petinggi lain partai kami.

“Annyeonghasimnikka, silakan menuju—” dan saat kembali untuk bertugas, kejutan ternyata sedang menungguku. Seketika sapaanku terhenti begitu melihat siapa yang sedang kusambut kali ini. Pria berkulit coklat berusia pertengahan 20-an dengan setelan jas tanpa dasi yang begitu kasual…

Pria di hadapanku itu juga terlihat kaget menemukanku disini. Mata besarnya seketika membulat, “Jung Yoona?”

“Doo… Doojoon oppa.”

Yoon Doojoon, nama pria itu. Sungguh, seperti tak ada yang berubah dari penampilan pria ini sejak sekitar 2 tahun yang lalu. Sejak aku memilih memutuskan tali persaudaraan kami pasca keputusannya ‘membunuh’ kakak perempuanku, istrinya, yang sudah koma selama setahun akibat penggumpalan di batang otaknya setelah jatuh dari tangga. Ya, ini pertemuan pertamaku setelah kejadian itu dengannya, salah seorang pemain timnas sepakbola Korea Selatan, dan juga mantan kakak iparku. Ah, begitu benci aku menyebutkannya. Kalau saja kakakku tidak bertemu dengannya, atau kalau saja setidaknya ia menikah dengan orang yang lebih berpikiran positif, nasibnya tidak akan seperti itu. Unni tidak akan meninggalkan dunia ini dengan cara ‘disuntik mati’.

Euthanasia. Itulah keputusan mantan kakak iparku saat istrinya tidak juga bangun dari tidur panjangnya di rumah sakit, hal yang membuatku akhirnya membenci pria itu seumur hidupku dan juga kondisi ekonomi kami pada saat itu. Sebagaimana kita tahu biaya rumah sakit tidak murah, apalagi unni membutuhkan penanganan yang ekstra di ICU. Bulan-bulan awal, Doojoon oppa yang memang sesungguhnya berasal dari keluarga berada dan bahkan memiliki pekerjaan sebagai kapten timnas sepakbola U-23 Korea memang mampu menyelesaikan seluruh administrasi rumah sakit. Namun seiring berjalannya waktu, pahitnya kenyataan pun harus kami terima. Doojoon oppa diberhentikan secara tidak hormat dari timnas akibat seringnya membolos latihan dan pertandingan karena harus menjaga unni bergantian denganku. Bak sudah jatuh tertimpa tangga pula, melewati bulan keenam, keluarga Doojoon oppa yang sudah tidak memiliki harapan dengan kondisi menantu mereka juga membujuk putranya untuk menyerah, atau mereka akan menghentikan sokongan materi yang selama ini mereka berikan. Doojoon oppa menolak, ia masih terus percaya istrinya akan kembali sadar. Dan konsekuensinya, semenjak hari itu tunggakan rumah sakit pun terus menumpuk, tanpa aku yang hanya seorang mahasiswi mampu berbuat apa-apa.

Ya, sesungguhnya lebih dari pada aku membenci oppa, aku membenci diriku sendiri yang tak berdaya, hanya bisa menjadi penonton dalam situasi ini. Kalau saja rasa sayangku pada unni dapat diubah menjadi uang, atau setidaknya kelebihan energiku bisa disalurkan kepada unni agar ia segera sadar, itu akan sangat menyenangkan. Sampai suatu hari di bulan ke-13 unni dirawat, oppa meminta izinku atas keputusannya.

Bagaimana mungkin aku menyetujuinya?? Pria ini mau membunuh unni!! Memang itupun bukan atas keinginan oppa sendiri namun berdasarkan saran medis dari dokter yang menangani unni, yang seakan ingin membangunkan kami bahwa unni bisa kembali sadar hanyalah mimpi belaka. Tapi sekuat apapun aku menolak, wali oppa adalah unni. Walau tanpa persetujuanku pun oppa tetap dapat memohon persetujuan pengadilan untuk prosedur euthanasia unni. Dan ia melakukannya.

Sejak itu, aku bersumpah untuk keluar dari hidup miskinku yang tak berdaya, bagaimanapun caranya.

_____________

 

“Neo wae geureoni (Kamu kenapa)? Seperti habis melihat hantu.”

Aku seketika terlonjak dari dudukku di meja bundar bersama rekan-rekan dari tim humas ketika salah satu rekan wanitaku akhirnya menegurku yang sudah sejak acara dimulai sepertinya kehilangan fokus.

“O-Oh… Aniya, gwaenchana (Nggak, nggak apa-apa). Sudah sampai dimana kita?”

“Sudah mulai ramah tamah. Itu, lihat hidangannya sudah mulai keluar. Makanya aku ‘membangunkan’ kamu. Kamu bengong lama sekali lho, tiga sambutan orang penting!”

Aku nyengir, “Hehe, thank you.” kataku. Rekanku itu tersenyum, dan mulai bersiap menyambut hidangan dengan membuka serbet makannya yang terlipat di atas meja.

Anyway, sepertinya kamu tadi nggak lihat sih, tapi yeokshi (seperti biasanya), sambutan Kyuhyun-ssi bagus sekali lho! Memang pantas sebagai putra—“

Drrtt. Drrtt. Tiba-tiba ponsel di dalam clutch berwarna silver yang kusimpan di atas pangkuanku bergetar.

 

From: Q

Join us at our table. Aku ingin mengenalkanmu pada ‘para petinggi’.

 

Aku mengernyitkan dahi, seraya menatap bergantian ponselku dan wajah Gong Mina, rekanku yang barusan bicara tentangnya. Bagaimana bisa dia selalu muncul saat ada yang membicarakannya? Sepertinya julukan ‘EvilKyu’ yang didapatnya dari orang-orang di kantor bukan hanya karena ketajaman mulutnya, tapi juga kemampuannya untuk seperti selalu tahu kalau ada yang bicara tentangnya. Creepy.

Berpamitan pada rekan-rekanku terlebih dulu, tepat sebelum hidangan pembuka disajikan para pelayan aku pun sudah berdiri dan melangkah ke meja terdepan di ballroom ini.

 

To: Q

On my way.

 

“Yoona.”

Biarpun baru setengah jalan menuju meja Kyuhyun, langkahku sudah terhenti lagi karena panggilan seseorang. Yoon Doojoon tengah menghampiriku, setengah berlari, dari mejanya sendiri di barisan tengah para tamu. Sepertinya sudah dari tadi ia menunggu kesempatan bisa mengajakku bicara.

Rasanya aku mau segera menghilang dari situ. Aku tidak sudi bicara dengannya lagi!

“Yoona—Ya, Jung Yoona! Tolong, berhenti menghindar.” Pintanya seraya GREP! menahan pergelanganku saat aku memutuskan melengos dari hadapannya.

Aku menarik tanganku, jijik disentuh olehnya. “Apa lagi? Sejak KAMU ‘membunuh’ kakakku, sudah nggak ada lagi hubungan di antara kita.” kataku dingin, sengaja menggunakan banmal karena merasa aku tak perlu bersopan-sopan padanya.

Ia terlihat tersinggung. Bukan karena banmal yang kugunakan, melainkan pada pilihan kataku saat menyebut kata ‘membunuh’. “Selama 2 tahun ini aku menuruti permintaanmu untuk putus hubungan biarpun aku tahu kamu masih kuliah di kampus yang sama. Aku ingin kamu tenang, tapi kurasa setelah sekian lama pun, kamu belum juga paham ya? Bukan hanya kamu yang bersedih karena kepergian Sara, AKU JUGA!! Jadi berhenti memanggilku pembunuh karena nggak perlu kamu ingatkan pun, di otakku semuanya masih terekam jelas! Dan itu menyakitkan…”

Aku menatap pria berambut coklat itu yang kini sudah menengadah, menutupi kedua matanya dengan tangan seolah ingin mencegah sesuatu keluar dari sana. Kukepalkan kedua tanganku, ingin beranjak dari situ namun rasanya kakiku seperti di-lem. Perasaanku campur aduk, Doojoon oppa seperti meneriakkan suara kecil dari pojok hatiku yang selama ini memang sadar kalau aku yang hingga kini membenci oppa hanyalah aku yang kekanakan dan terus mencari kambing hitam atas ketidakrelaanku dengan kepergian unni. Sesungguhnya aku tahu itu, hanya saja…

Untung saja suara musik dari tarian pengisi acara cukup keras sehingga pertengkaran kami tidak begitu menarik perhatian. Tapi sungguh, siapapun keluarkan aku dari situasi ini—

“Jung Yoona, mwohae (kamu sedang apa)?”

Dia tak akan pernah tahu betapa senang aku mendengar suaranya hari ini, “Kyuhyun-ssi…”

Di hadapanku, pria itu pun juga menoleh dan wajahnya seketika berubah cerah, “Oh, Kyuhyun-ah!”

“Doojoon-ah? Hei, ternyata kamu jadi datang!” balas Kyuhyun dengan ramah seraya lebih cepat menghampiri kami dan berpelukan dengan Doojoon oppa.

Aku memandang keduanya bingung. Doojoon-ah?

“Gomawoyo (Terimakasih).” ucapku begitu aku dan Kyuhyun sudah berjalan menuju mejanya.

Pria berambut pendek itu menatapku heran, “For? Anyway, kamu kenal dengan Doojoon?”

“G-Geureomyo (Tentu saja). Dia kan pemain sepakbola yang terkenal.” jawabku, menghindari tatapannya. Kyuhyun ber-“Ooohh” ria. “Ah, justru aku yang mau tanya, sejak kapan Yoon Doojoon menjadi kader partai kita?”

Jo Kyuhyun tertawa kecil sebelum menjawab, “Dia bukan kader kita kok. Belum.” katanya, memastikan tidak ada yang memperhatikan kami sebelum mengelus rambutku yang tergelung, singkat. Aku tertawa kecil seraya diam-diam mencubit pinggangnya. “Aku kenal secara personal dengan Doojoon, dan sekarang memang sedang dalam taraf mengajaknya menjadi kader partai kita. Image-nya sebagai bintang sepakbola pasti bisa lebih mendongkrak popularitas partai kita di kalangan pecinta olahraga.”

“Wow… Yeokshi (Seperti yang bisa diduga), Jo Kyuhyun.” pujiku sembari bertepuk tangan ringan. “Sepertinya tak ada hal yang tidak direncanakan dalam hidupmu.”

“Ada.” jawab pria itu lugas. “Kamu.”

DEG! Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku sedikit termakan gombalan seorang pria. Tapi tak ingin menunjukkannya, aku pun hanya berkomentar, “Well, that’s new.

Dia hanya tertawa kecil sebelum dengan sopan, mempersilakanku lebih mendekat ke kursi sang ayah, Presiden Republik Korea Selatan saat ini, Jo Taewang.

 

KYUHYUN

“Daetongryong-nim (Bapak Presiden),” aku menyapa ayahku sendiri dengan ‘sapaan dinas’ seperti yang memang selalu kupergunakan di muka publik, sesampainya aku kembali di meja kami. Baru saja aku mohon diri sebentar untuk mencari Yoona yang tak juga datang pasca aku mengubunginya via SMS untuk mampir ke meja kami. Dan dia kutemukan sedang berbincang dengan Yoon Doojoon, salah satu pemain timnas sepakbola Korea Selatan yang juga temanku. Aku mengenalnya dari mantan murid lesku yang juga anggota timnas sepakbola U-23 Korea saat itu, sebelum aku menjadi putra presiden. Dan belum lama ini, aku memang sengaja menghubunginya lagi untuk mengajaknya menjadi kader baru partai kami demi menjaring lebih banyak pemilih dari segmen suporter fanatik dan para pecinta sepakbola.

Alasan yang tentu saja lebih ‘manis’ lagi saat kukatakan padanya.

Bapak Presiden—ayahku, Wakil Presiden, dan juga beberapa pejabat partai kami lainnya seketika menghentikan obrolan mereka mendengarku datang. Aku tersenyum sebelum membungkukkan badan 90 derajat, “Izinkan saya memperkenalkan seseorang kepada Anda semua.” kataku, seraya kemudian bergerak satu langkah ke kiri demi mempersilakan Yoona maju.

Gadis yang hari ini terlihat begitu cantik dengan gaun yang kubelikan dan rambut hitamnya yang tergelung rendah itu maju dengan anggun, dan seperti yang kulakukan tadi, meletakkan kedua telapak tangan di depan perut sebelum membungkuk 90 derajat dengan sopan, “Annyeonghasimnikka (Apa kabar)? Saya Jung Yoona, staf kehumasan kantor pusat Partai Nasional Korea. Senang bertemu dengan Anda.”

Dalam hati, rasanya aku ingin sekali bertepuk tangan. Yoona memang bukan berasal dari keluarga terpandang, tapi lihatlah, ia selalu bisa menempatkan diri dimana saja. Seperti air yang selalu mengikuti bentuk bejana yang ia isi. Di saat kasual ia bisa mengikuti, dan di saat formal ia tetap bisa bersikap anggun layaknya putri yang dididik di keluarga bangsawan. Adik angkatku, Jo Dambi yang seumur hidupnya menjadi putra ayahku yang sebelum menjadi anggota parlemen kemudian Presiden, memang sudah seorang pengusaha sukses saja aku tak yakin bisa bersikap se-anggun ini dalam acara resmi. Ia terlalu kekanakan.

Maka begitu sambutan yang cukup hangat terlihat dari senyum para ‘petinggi-petinggi’ di meja kami atas perkenalan Yoona, aku pun sudah cukup puas. Dengan senyumnya yang anggun, Yoona mengikutiku saat kuarahkan ke kursi kosong di sebelah kananku.

“Apa yang baru saja kamu lakukan?”

Biarpun bahkan sebelum aku juga duduk kembali, Bapak Presiden yang duduk persis di sebelah kiriku sudah menarik ujung jas yang kukenakan. Aku menoleh dengan pandangan bingung. Ia bertanya dengan bisikan, namun nadanya… begitu dingin.

Aku, sama sekali tidak memperkirakan sambutan itu, segera mencondongkan tubuhku ke arahnya, seperti biasanya jika kami ingin membicarakan sesuatu secara personal namun sedang berada di tengah-tengah publik, “Ne? (Ya?)”

“Apa yang baru saja kamu lakukan? Kalau kamu berharap memperoleh simpatiku untuk menjadikannya pendampingmu, langkahmu sangatlah salah.” ujar ayahku pelan, namun tetap begitu lugas bahkan tanpa begitu terlihat menggerakkan bibir karena pandangan dan senyumnya masih sibuk disunggingkan kepada tamu-tamu di meja kami.

Tanpa kata, mataku membelalak kaget. Aku merasa beliau telah membaca seluruh isi dalam kepalaku. Seperti ia mengenalku sebagaimana ia mengenal telapak tangannya sendiri.

“Dari mana dia berasal? Bagaimana keluarganya? Sadarilah, Kyuhyun. Sebagaimanapun kamu mencintainya, dia bukanlah marriage material untukmu.”

“‘Marriage material‘?” Aku mengulang bisikan ayahku itu dengan nada tak percaya. Ini pertama kalinya aku mendengar ayah bicara sebegitu picik, yang membuatku akhirnya tak tahan juga untuk pertama kalinya, selama aku merasa berhutang budi karena beliau telah mengangkatku sebagai anak, membantah perkataannya. “Lalu seperti apa ‘marriage material‘ untukku itu?” tanyaku sinis.

Dengan tersenyum, ayahku menjawab lugas, “Kamu baru saja memutuskannya kemarin.”

_________________

 

“Kyuhyun-ssi?”

“Oh, ah… Wae (Kenapa)?”

Yoona menunjuk pintu masuk sebuah gedung apartemen di sebelah kami. Aku dan Yoona berada dalam mobil, lebih tepatnya. Aku baru saja mengantarnya pulang dari kongres partai kami, dan kurasa kami baru saja berangkat dari hotel tempat diadakannya acara… Atau itu hanya perasaanku saja? “Kita sudah sampai. Mau sampai kapan bengong?”

Aku tertawa, “Aku bengong?”

“Ne (Ya). Sejak berangkat dari hotel, Kyuhyun-ssi bahkan sama sekali tidak merespon obrolanku. Aku sampai takjub kita bisa sampai disini tanpa tergores sedikit pun.” protesnya manis, sedikit menggembungkan pipinya. Rasa khawatir terpancar dari wajah itu, “Apa… ada sesuatu yang Kyuhyun-ssi pikirkan?”

Aku berpikir keras kini. Sebetulnya sedari tadi (sepertinya) di kepalaku terngiang-ngiang berbagai macam hal. Tentang putusnya aku dengan Jiwon, tentang perkataan ayahku… Mengenai kabar putusnya aku dan Jiwon, bukankah sesungguhnya itu kabar baik untuk Yoona? Sejak hari ini dimulai, memang aku berencana menyampaikan kabar ini secara langsung kepada Yoona selepas acara. Kalau ia kini menjadi satu-satunya di hatiku. Kalau kami tidak harus lagi sembunyi-sembunyi. Ia pasti akan sangat senang.

Tapi mendengar sindiran ayahku tadi… aku kembali memikirkan keputusanku.

“Ani, eobseo (Nggak, nggak ada).” kataku akhirnya. “Ah, hanya tadi aku sempat bertemu Doojoon lagi, dan ia bertanya apa kamu bekerja di partaiku. Yeokshi (Seperti yang bisa diduga), Jung Yoona. Sepertinya dia tertarik padamu.” sindirku tulus, akhirnya mengingat sesuatu yang cukup penting lainnya yang terjadi malam ini. Tulus cemburu, maksudnya. Di satu sisi bangga memiliki wanita se-mempesona dia di sampingku, namun terkadang tidak bisa mengakuinya sebagai kekasih membuatku juga harus terus makan hati ditanyai banyak orang tentang keberadaannya: apakah ia karyawan baruku, siapa namanya, boleh minta nomor ponselnya… Yang akhirnya selalu kujawab dengan: Menurut kalian gadis secantik dia masih single? Yang dilanjutkan dengan bisikan: Sudah ada ‘monyetnya’!

Aku, monyetnya.

Alih-alih menjawab, Yoona terlihat bergegas menggenggam clutch-nya dan mendekat untuk CUP! mengecup pipiku sebelum membuka pintu, “Jangan diladeni, bilang saja Kyuhyun-ssi tidak begitu mengenalku. I’m off the market, right?

Sure.” kataku cepat. Dikecup olehnya selalu bisa membuat kewarasanku melayang sejenak hingga bisa membuatku mengabulkan apa saja permintaannya. Gadis seperti ini, yang appa bilang bukan marriage material untukku??

Whatever.

Tapi apakah benar aku akan terus bisa tak peduli dengan kenyataan ini? Di saat aku bahkan berhutang sebuah keluarga kepada beliau…

 

JIWON

Kediaman keluarga Choi

20.00 KST

CKLEK.

Dengan kepala masih pusing karena terlalu banyak menangis, aku mengangkat kepala dari gulungan selimut yang memeluk tubuhku sejak subuh tadi tadi, sejak aku meminta dijemput pulang oleh supir karena muak berlama-lama di apartemen yang setiap sudutnya mengingatkanku dengan orang itu. Si brengsek itu. Pria yang kini aku tahu dari mana sebutan ‘EvilKyu’, sebagaimana julukannya di kantor partai ayahnya, berasal. Dia iblis!

Biarpun baru saja aku ingin mengomel karena pintu kamarku yang dibuka tanpa diketuk (someone surely has no manner), penampakan orang yang kini ada di seberangku sudah membuat semua omelan itu tertelan lagi ke tenggorokan. Glek! “A-Appa.”

Beliau tidak tersenyum. Masih mengenakan trench coat hitamnya, pria 51 tahun pimpinan tertinggi jaringan perusahaan properti kami yang kuyakin baru saja pulang kantor itu segera mendekati sofa kulit berwarna coklat di sisi kiri kamarku, dan dengan menggerakkan kedua jari tangannya, memanggilku untuk ikut duduk disana.

Aku kembali menenggelamkan diriku dalam selimut.

“Choi Jiwon!” seru beliau akhirnya melihatku membandel, yang membuatku mau tak mau segera bangkit dan masih menyeret selimut coklat mudaku, beringsut menuju sofa di sebelahnya. Beliau perlahan menatapku di kedua mata begitu aku sudah duduk memeluk selimut, “Appa dengar kamu putus dengan Kyuhyun?”

DEG! Rumor surely flies fast. Tapi aku tak menjawab.

“Karena apa? Orang ketiga?” tanyanya lagi, kembali tepat sasaran. Argh, aku selalu benci dengan mekanisme keluarga chaebol yang punya ‘telinga’ dan ‘mata’ dimana-mana itu! Tapi melihatku kembali diam—it’s not like I need to answer, though. Appa pasti sudah tahu dengan lebih detil—appa menjulurkan kedua tangannya untuk meraih kedua bahuku, menatapnya lebih dalam. “Seorang lady harus bisa berdamai dengan sakit hati, Jiwon-ah. Mengapa kamu begitu egois menginginkan Kyuhyun untuk dirimu sendiri? Di saat hubungan kalian bahkan tidak melibatkan kalian berdua saja. Akan terjadi kehebohan kalau putusnya hubungan kalian diketahui publik. ‘Choi Corp. Tidak Lagi Didukung Pemerintah’, atau ‘Keputusan Buruk: Pemerintah Memutuskan Hubungan dengan Penguasa Industri Properti Korea’. Headline surat kabar seperti itu yang kamu inginkan?”

Aku menatap ayahku dengan pandangan tak percaya,  “Di saat seperti ini… sungguh hanya itu yang bisa appa katakan?? Appa nae appa majayo? (Apa benar appa ayahku?)”

“Eo (Ya), justru karena appa adalah ayahmu makanya appa harus mengatakannya.” jawabnya lugas. “Properti adalah salah satu industri utama penyokong negeri ini. Namun menurutmu, bagaimana juga bisnis kita bisa bertahan tanpa bantuan pemerintah? Suku bunga KPR, perkara pembebasan lahan, proyek perumahan rakyat… Appa yakin, karena memikirkan hal itu juga makanya Kyuhyun tetap mencoba bertahan denganmu biarpun ia telah memiliki wanita lain.” lanjutnya, masih tetap dengan pembawaannya yang penuh wibawa seakan tak bermaksud menabur garam di lukaku yang masih berdarah. Aku memicingkan pandanganku.

“Yang ingin appa katakan adalah, kita ada di win-win situation saat ini, dan appa tidak mau itu berubah. Sekarang cepat pergi dan minta maaf. Di mata appa, kalian tidak pernah putus.”

BLAM. Suara pintu kamarku yang tertutup karena baru ditinggalkan appa seakan menjadi bel dimulainya sakit kepalaku lagi. Dan sakit hati. Berdamai dengan sakit hati… aku mengulang perkataan appa dalam hati dengan airmata yang nyaris kembali tertumpah. Jadi pada intinya, ayahku baru saja membuka rahasia dapur banyak Nyonya di kancah konglomerasi chaebol Korea Selatan, dimana di balik potret keluarga sempurna mereka yang terlihat di publik, nyaris semuanya menanggung rasa sakit hati yang sama: suami mereka, para Dirut dan Presdir itu, di luar sana memiliki affair dengan wanita lain. Tapi seperti yang dikatakan appa tadi, berhubung para Nyonya tersebut sebagian besar juga berasal dari keluarga dengan status sosial tinggi, semua seakan juga sudah diajarkan hal seperti ini di keluarga mereka, bahwa mereka tidak boleh egois, bahwa hubungan mereka bukan hanya melibatkan mereka berdua saja. Jika suamimu tidak bahagia sampai harus mencari kebahagiaan di luar, berarti itu salahmu. Jadi biarkan ia mencari kebahagiannya, yang penting di akhir ia tetap kembali padamu dan keluarga kalian akan baik-baik saja.

Tapi siapa juga yang mau seperti itu?? Aku kembali menentukan sikap. Tidak, tidak ada wanita di keluarga intiku yang bisa diperlakukan seperti itu. Tidak ibuku, kakak iparku, apalagi aku. Appa adalah salah satu dari sedikit pimpinan konglomerasi chaebol yang menikah karena cinta dengan ibuku yang orang biasa (seperti drama, bukan?), sehingga sampai sekarang pun ia tetap mempertahankan cintanya dan tidak mendua. Jadi bagaimana mungkin ia bisa menyuruh putrinya untuk menerima diselingkuhi begitu saja?? Tidak!

Kalaupun memang perusahaan kami membutuhkan hubunganku dan Kyuhyun oppa kembali, aku akan memastikan akulah satu-satunya di hidupnya.

 

YOONA

(H+2 Putusnya Kyuhyun-Jiwon)

Function Room, Restoran Goraebul

Aku menatap deretan hidangan berbagai macam irisan ikan mentah di meja makan di hadapanku dengan sedikit heran, bergantian dengan menatap seorang nona muda berwajah oval dengan blazer coat merah dan rambut hitam sebahunya yang duduk di seberangku. Bertemu secara langsung, ternyata nona ini lebih cantik dari foto-foto di surat kabar; riasannya natural dengan make up sangat tipis, nyaris tak ada. Antara memang ia wanita yang sangat praktis, atau sangat percaya diri dengan wajah aslinya. Tapi mendengar cerita orang (baca: Dambi), kurasa jawabannya adalah yang pertama.

Kemarin malam, persis setelah Kyuhyun-ssi mengantarku pulang, aku memang menerima telepon dari nomor tak dikenal yang ternyata adalah nomor pribadi seorang Choi Jiwon. Ya, wanita ini. ‘Kekasih resmi’ kekasihku. Ia bertanya dengan nada cukup sarkastis apakah di hari Sabtu ini aku punya kencan dengan kekasihnya, dan jika tak ada, ia ingin mengajakku bertemu untuk makan siang bersama (dengan nada sarkastis lagi).

Kurasa ia akhirnya sudah tahu tentang kami. Not that I’m worry, though. Hal yang cukup mengejutkanku sesungguhnya adalah kenyataan kalau ia yang turun tangan sendiri untuk membuat janji denganku, alih-alih melalui sekretarisnya atau sekretaris ayahnya, seperti yang beberapa kali terjadi kalau aku harus berurusan dengan putri orang kaya lain yang pacarnya kusabotase sebelumnya. Sepertinya sesuai cerita Kyuhyun-ssi beberapa kali, Choi Jiwon memang betul-betul ‘putri kaya’ yang mandiri. Biarpun berdasarkan intuisiku, ia lebih sebagai putri kaya dengan harga diri tinggi yang tidak ingin ‘masalah dapur’ hubungannya dengan sang kekasih beredar keluar sebelum ia menyelesaikannya.

Dan begitu sampai disini kemudian menemukan bahwa lokasi kami bertemu benar-benar di sebuah ruangan khusus agak ke dalam restoran, plus keberadaan dua penjaga dengan setelan jas lengkap menjaga pintunya, semua masih sesuai perkiraanku. Aku sudah berpengalaman dengan ini, jadi mari kita lihat apa lagi perbedaan yang ada dari Nona ini dan Nona-Nona lainnya.

Dan ternyata ini perbedaannya.

“Silakan dimakan.” katanya pendek dan dingin, menyambutku yang baru saja duduk di kursi yang ditarik oleh pelayan untukku.

Aku menatapnya bingung. Biasanya kalau ada yang ‘mengajakku bertengkar’, makanan di atas meja hanya jadi pajangan saja? Yang sangat sayang menurutku. Mereka tentu belum pernah merasakan kelaparan tetapi harus berbagi dengan makanan dengan banyak adik lainnya di panti asuhan. Di luar sana masih banyak orang-orang yang butuh makan, dan mereka membuang-buangnya!

“Ne? (Ya?)” tanyaku akhirnya, sedikit tidak mempercayai pendengaranku. Jadi kita tidak langsung pada ‘inti acara’?

Ia meraih sumpit emas di hadapannya dengan anggun, sama sekali tak menatapku saat menjawab (alih-alih matanya bergerak ke barisan hidangan seakan sedang memilih yang lebih dulu diambilnya), “Kita butuh energi untuk bertengkar. Lagipula, banyak orang di luar sana yang bahkan tidak bisa makan, bagaimana mungkin aku menjadikan ini hanya hiasan artifisial semata?”

DEG! Di tengah kegiatanku membersihkan tangan dengan tisu basah yang disediakan sebelum makan, aku tertegun. Perkataannya… sama dengan pikiranku. Di luar dugaan, ia… sedikit berbeda dengan nona-nona besar lainnya. Sepertinya yayasan LSM yang ia miliki bukan sekadar ‘pencitraan’ semata.

“Aku suka sashimi, makanya aku memilih restoran ini. Kuharap kamu juga menyukainya, kalau tidak ya sudah.”

…Biarpun lanjutan kalimatnya tetap saja membuat sebal. Ternyata semua nona besar memang pasti punya sisi angkuh dan egois yang sama.

Kami makan dalam diam, biarpun harus kuakui, ini enak! Aku belum pernah makan disini, semua pacar-pacarku dulu selalu lebih memilih mengajak makan di restoran Perancis demi membuatku terkesan. Padahal bagaimana mungkin aku bisa terkesan diberi makan siput (escargot), telur ikan (kaviar) secuil, hati angsa (foie gras) secuil, dan segala-galanya yang secuil lainnya??

Oh, aku baru ingat. Aku dan Kyuhyun-ssi pernah makan di restoran sashimi serupa, tapi bukan disini biarpun aku memintanya. Karena bagaimanapun, restoran ini terkenal sekali di seantero Seoul, bisa dibilang restoran sashimi paling kesohor di Seoul adalah di tempat ini. Harganya juga luar biasa, harga yang kalau mengambil istilahku, adalah harga yang: kalau aku bisa dibayari, kenapa juga aku harus bayar sendiri? Dan sekarang aku baru sadar mengapa Kyuhyun-ssi tak mau kemari saat itu. Jelas tidak mungkin kami makan disini… karena restoran ini adalah langganan putri kesayangan keluarga Choi.

TUK. Suara sepasang sumpit logam yang diletakkan dengan ringan di bantalan kayunya di atas meja mengalihkan perhatianku yang sedari tadi lebih sibuk memperhatikan makan nona besar di hadapanku daripada memakan makananku sendiri. Dia sungguh… berbeda dengan nona-nona lainnya. Dia makan dengan sangat baik, tidak sok-sok hanya makan sedikit demi menjaga penampilan seperti nona-nona lainnya. Karena itulah tubuhnya ‘berbentuk’ dan, you know, she looks healthy.

“Waeyo? (Kenapa?)” tanyanya datar begitu sadar dengan tatapanku sedari tadi, seraya mengelap bibirnya dengan serbet yang diambil dari pangkuannya.

Aku mengangkat bahu, “Aniyo (Tidak). Jadi apa yang ingin dibicarakan? Aku sibuk.”

Ia terlihat tertawa memaksa, sebelum menatapku tajam, persis di kedua mataku, “Apa masalahmu? Apa kamu punya dendam padaku?”

“Kita sedang membicarakan apa?” tantangku, pura-pura tak tahu.

“Ibuku selalu bilang, ‘Jangan suka berlagak bodoh, nanti kau bodoh betulan’.”

Aku memutar kedua bola mataku malas. Sijakhaetguna (Oh, sudah dimulai), pikirku dalam hati. “Haha, Nona berpikir aku punya dendam padamu makanya merebut pacarmu, begitu? Aku sama sekali have nothing on you, Nona. Pacarmu menyukaiku, dan aku juga menyukainya. Apa salah kami bersama?”

Bisa kulihat sekarang mulut Nona Besar Choi itu sudah membuka, kehabisan kata membalasku yang langsung menusuk ke titik persoalan. Cih, baru segitu saja.

“Bukan itu, kan?” Biarpun tiba-tiba ia kembali bersuara, sedikit mencibir di akhir. “Aku tahu track record-mu, Jung Yoona. Kamu mantan anak panti asuhan, sebelum berhubungan dengan oppa, kamu bahkan tinggal di flat kumuh di pinggir kota. Kamu terkenal telah memacari seluruh mahasiswa kaya di kampusmu, menjual dirimu,” disini nona itu terlihat berkata dengan jijik. “…hanya demi uang. Iya, kan?”

Aku mengepalkan kedua tanganku, geram tapi berusaha untuk tetap mengangkat dagu. Perlahan aku tersenyum, sebelum membawa kedua telapak tanganku untuk bertepuk tangan. “Luar biasa, apa Nona mengutus mata-mata untuk menyelidikiku? Tapi sayangnya, Nona salah. Aku tidak menjual diriku—Oh, tapi memang aku pernah tidur dengan pacarmu, sih.” kataku ringan. Seketika ekspresinya berubah. Aku segera memberikan pandang simpati, tertawa dalam hati, “Aahh, aku rasa tentu dia tidak bilang padamu, ya? Maaf, ya.”

Diam sebentar, sebelum akhirnya aku mendengar suara pelan dari wajah cantik yang tertunduk itu. “…uang.” gumamnya. Aku mengernyit, yang membuatnya kini kembali mengangkat wajah dan mengulang, “Uang. Itu yang kamu mau kan? Aku akan memberimu berapa saja, tapi tinggalkan kami.”

Aah, now I have something on you, Princess—Sekarang aku baru membencimu.” Aku segera mendecak. Serius, ia telah mengaktifkan kata tabu dalam hidupku. Aku memang menyabotase pria kaya sana dan sini, tapi sungguh, aku membenci mereka yang merasa bisa membeli apapun, semudah itu, dengan uang banyak mereka. Padahal asal uang itu juga paling-paling dari korupsi ayah mereka. “Terbiasa bisa membeli apa saja, kamu pikir seseorang juga bisa dibeli dengan uang?”

“Apa salahnya menjadi mantan anak panti asuhan?” Aku kembali melanjutkan. “Takdir yang hina? Iya? Lalu takdir yang mulia itu hanya jika terlahir dari keluarga baik-baik sepertimu? Punya orangtua yang kaya, yang akan memberimu apa saja??” cecarku. Kali ini aku benar-benar emosi. Sungguh!

Ia terdiam.

“Tapi sayang sekali, Nona, jawabannya: tidak. Sudah kubilang ini bukan tentang uang!” Tak mendengar respon, aku pun dengan segera menjawabnya sendiri. “Algesseoyo (Mengerti)? Aku tidak akan menyerahkan Kyuhyun-ssi! Lagipula, anak ini membutuhkan ayahnya.”

 

KYUHYUN

“Dari mana dia berasal? Bagaimana keluarganya? Sadarilah, Kyuhyun. Sebagaimanapun kamu mencintainya, dia bukanlah marriage material untukmu.”

“‘Marriage material’?” Aku mengulang bisikan ayahku itu dengan nada tak percaya. Ini pertama kalinya aku mendengar ayah bicara sebegitu picik, yang membuatku akhirnya tak tahan juga untuk pertama kalinya, selama aku merasa berhutang budi karena beliau telah mengangkatku sebagai anak, membantah perkataannya. “Lalu seperti apa ‘marriage material‘ untukku itu?” tanyaku sinis.

Dengan tersenyum, ayahku menjawab lugas, “Kamu baru saja memutuskannya kemarin.”

 

Betul kan, aku tidak akan bisa tidak mempedulikannya begitu saja.

Aku kembali mengulang seluruh percakapan kami saat acara makan malam Kongres Partai Nasional Korea, partai kami, kemarin itu ketika aku baru akan berniat menggandeng Yoona yang juga datang sebagai bagian dari partai kami ke hadapan beliau, berniat memperkenalkannya secara resmi. Tapi seperti ayahku yang memang tahu segalanya, belum berbicara apapun ia bahkan sudah mencondongkan wajahnya ke arahku untuk membisikkan kalimat itu. Singkat, tapi begitu tepat sasaran dan menusuk. Aku tak akan pernah habis pikir bagaimana ayahku tetap bisa mengurus negara ini dengan baik namun juga tahu dengan begitu update dan detil apa saja yang terjadi dengan putra-putrinya. Dia bahkan tahu aku memutuskan Jiwon, hal yang baru terjadi malam sebelumnya dan dilakukan di apartemen Jiwon yang hanya ada kami berdua.

Luar biasa.

Marriage material. Aku kembali mengulang-ngulang dua kata itu, fokus utama sesungguhnya dari seluruh perkataan ayahku. Yoona bukanlah seseorang untuk dinikahi. Dipacari (atau mungkin lebih tepatnya: dijadikan selingkuhan), mungkin, tapi tidak untuk dinikahi. Latar belakang dan status sosial, seperti yang ia sebutkan, keduanya memang tak dimiliki Yoona. Harsh but undeniable truth.

Drrrt. Drrtt.

 

From: Yoon Doojoon

Ada waktu? Ada yang ingin aku bicarakan.

 

Aku mengernyit menatap barisan kata di ponselku, sebelum kemudian perlahan, tersenyum lebar. Doojoon menghubungiku, pasti ia akhirnya memutuskan bergabung dengan partai kami. Singkirkan dulu kepusinganku masalah cinta!

“Mworago?? (Apa kamu bilang??) Jung Yoona adalah… adik iparmu??”

Biarpun ternyata aku salah. Ia sama sekali tidak menyinggung masalah politik, dan khusus mengajakku bertemu di sebuah kafe bertema sepakbola milik salah satu temannya sesama pemain timnas demi membicarakan… Yoona. Yoona-ku. Yang ternyata adalah adik angkat mendiang istrinya…

Doojoon mengangguk, “Eo (Ya). Itulah sebabnya aku kaget melihat ia di acara partaimu. Sejak Sara meninggal, kami memang juga putus hubungan… yah, karena satu dan lain hal.” Matanya terlihat sedih saat mengatakan itu, biarpun ia tetap mengemasnya dengan senyum getir.

“Karena itu, aku ingin meminta nomor kontak Yoona padamu. Sebetulnya aku sudah ingin memintanya di acara kemarin, tapi kamu terlihat begitu sibuk. Maaf, kalau ini begitu tiba-tiba. Aku sama sekali nggak bisa tidur sejak kemarin karena terus kepikiran tentangnya. Bagaimana… dia selama ini? Kamu bilang kalian teman kuliah, bukan? Apa dia tetap menjadi mahasiswi berprestasi? Apa dia punya banyak teman? Aku sungguh… Aku sungguh kakak yang nggak bisa diandalkan…”

Terpaku. Aku hanya bisa terpaku mendengar rentetan kisah dan tanya Doojoon mengenai Yoona. Ekspresinya, senyum pahitnya… Pria ini sudah mengalami berbagai cobaan yang begitu berat bahkan hanya di usianya yang belum sampai 25 tahun. Menikah muda dengan gadis yang ia cintai, namun belum juga sempat menikmati empat musim bersama dalam ikatan pernikahan, mimpi buruk sudah memutuskan mampir di hidup mereka karena tiba-tiba sang istri koma dan tak pernah kembali terbangun. Euthanasia adalah saran medis yang ia terima dari dokter penanggung jawab sang istri, hal yang juga sempat mengobrak-abrik dunia hukum, agama, dan medis Korea Selatan saat Yoon Doojoon, mantan kapten timnas U-23 Korea saat itu, memilih melakukannya. Publik gempar, berita perkembangan sidang permohonan euthanasia Gil Sara, istri Doojoon, selalu menjadi berita utama yang menghiasi siaran berita di TV maupun surat kabar. Hal yang begitu kontroversial, yang bahkan jika warga biasa yang melakukannya pun, pasti akan mendapat sorotan dari masyarakat. Dan ini, seorang publik figur yang melakukannya. Doojoon habis dikecam banyak pihak.

Sebelum peristiwa itu, sesungguhnya aku juga belum terlalu mengenal Doojoon. Kami hanya sempat dikenalkan sekali saat aku diundang Junsu, salah satu murid lesku sebelum diangkat anak oleh Jo Taewang, menonton friendly match antara timnas U-23 Korea dan Manchester United yang sedang tur dunia. Junsu, atau Kim Junsu, adalah pemain termuda timnas U-23 saat itu. Dari dialah aku kemudian mendapatkan nomor Doojoon dan menghubunginya untuk berbincang pasca kontroversi euthanasia itu terjadi. Aku sudah diadopsi sebagai Jo Kyuhyun, dan ayahku yang saat itu masih menjadi anggota parlemen memberiku tugas pertama untuk membuat esai mengenai kontroversi Yoon Doojoon ditinjau dari berbagai aspek yang melingkupinya. Ayah sedang mengumpulkan bahan untuk proposal kebijakan baru yang akan diajukan kepada Presiden, dan aku sedang membutuhkan sebuah tulisan sebagai salah satu persyaratan penerimaanku di Jurusan Politik Universitas Kyunghee. Win-win solution.

Hak asasi manusia, aspek agamis bahwa hanya Tuhan-lah yang berhak mencabut nyawa seseorang, hingga kode etik kedokteran sang dokter penanggung jawab Sara memang terus menjadi pertanyaan saat peristiwa itu terjadi. Dari segi sejarahnya juga, kasus itu barulah kasus kedua permohonan euthanasia di Korea Selatan yang diterima oleh pengadilan tinggi, dan dikabulkan. Kasus pertama terjadi di pertengahan tahun 2009, kepada seorang nenek 77 tahun yang juga mengalami koma pasca operasi paru-paru di tahun 2008, dengan cara melepaskan respirator yang digunakan sebagai penyambung hidup pasien.

Sungguh keputusan yang tak mudah untuk seseorang dengan usia semuda itu, tapi Doojoon berhasil menjaga ketegarannya. Biarpun tidak lama, karena seingatku, tak pernah sekalipun aku mewawancarai Doojoon di luar tempat itu… Klinik Psikiater.

“Dia baik-baik saja kok. Yoona.” jawabku akhirnya, menepuk bahunya yang bidang dan keras di seberangku sembari tersenyum. “Bukan berprestasi lagi, kuliahnya sampai S2 nanti juga sudah dijanjikan dengan beasiswa dari kampus. Ah, ini nomor Yoona. Bicaralah baik-baik dengannya. Semoga berhasil, Doojoon-ah.”

Aku bahkan tak perlu berpikir untuk memberikan nomor gadis yang kucintai kepada pria lain, seperti yang selalu kulakukan selama ini. Karena aku juga tahu betapa ia mencintainya. Seperti adiknya sendiri. Doojoon bilang ia sengaja tidak menemui Yoona selama ini karena menghormati keputusan gadis itu pergi dari hidupnya setelah kepergian sang kakak, tapi aku tahu alasannya bukan hanya itu. Selama setahun Doojoon menjalani pengobatan intensif oleh seorang psikiater… akibat trauma yang ia terima pasca memutuskan ‘mencabut nyawa’ istrinya sendiri. Pengobatan itu masih berlanjut hingga sekarang.

 

JIWON

Perempuan ini… hamil? Anak Kyuhyun oppa??

Nggak, nggak mungkin! Aku secepatnya menggeleng, mencoba menghilangkan pikiranku yang sepertinya sudah termakan provokasi wanita ini. Dia pasti mengatakannya hanya demi membuatku mundur, kan?

Tapi bukannya tidak mungkin juga… bagaimanapun Kyuhyun oppa adalah pria yang sehat dan— Oh Tuhan, stop it, Jiwon!! “Geojitmal… iji? (Itu bohong, kan?)” kataku, bahkan terlanjur menggunakan banmal. Otakku sepertinya terlalu kaget sampai lupa menyaring kata-kataku menjadi kalimat sopan terlebih dulu, seperti yang biasa kulakukan.

Tapi perempuan itu menggeleng, dan dengan senyum percaya diri menjawab, “Anindeyo (Sayangnya, tidak).” dan segera pergi dari situ.

…meninggalkanku yang BRUK! tiba-tiba jatuh melorot dari kursiku ke lantai berkarpet di bawah. Tapi bukan itu yang mengundang reaksi kedua penjagaku yang berseragam setelan jas di luar, melainkan suara tangisku yang segera pecah, kencang meraung-raung seperti bayi yang ditinggalkan ibunya. “NONA!” seru mereka seraya merangsek masuk, menolongku terlebih dulu untuk bangkit. Salah satunya terlihat memberi isyarat untuk keluar lebih dulu dan menyiapkan mobil agar aku bisa langsung pergi dari situ.

Padahal aku masih ingin menangis… Menangis lebih kencang dan lebih lama lagi… Hubunganku telah resmi hancur.

 

~To Be Continued~

Advertisements
 
6 Comments

Posted by on February 5, 2016 in Super Junior, [THE SERIES]

 

Tags: , ,

6 responses to “[THE SERIES] SABOTAGE – Part 2

  1. cizziekyu

    February 16, 2016 at 12:41 am

    Ajegileeeeeeee!!!!

    Part 2 isinya ga keprediksi ga kebayang sama sekali… Ga nyangka kalo Jo Taewang yang bisa ngangkat Kunyun yang notabene dulunya nobody jadi anak tapi pas milih menantu mesti yg marriage material

    Dunia politik emang kejam ya huhuhu

    Ga nyangka juga kalo Jiwon berani konfrontasi langsung, untungnya ga ada adegan jambak-jambakan ato cakar-cakaran yaaa XD

    Biar adil yaudah Jiwon dipasangin sama Doojoon aja jdi Kunyun tetap sama Yoona bwakakakak

    Hihi klo banyak waktu lowong dilanjutin ya nyah rame banget ceritanya, beneran deh aku gabisa sama sekali nebak akhir ceritanya

    Btw, cerita2nya ga pengen dipublish di wattpad nyah? Banyak kok penulis2 ff suju yg hijrah ke wattpad sekarang 😀

     
    • lolita309

      February 16, 2016 at 11:32 am

      dunia politik memang kejam, nak… kkkkk

      huahahaha tadinya mau kubikin seru tuh berantemnya, tapi memikirkan karakter masing-masing, kayaknya itu nggak jiwon banget. kalo lawannya ryeoru, mungkin banget tuh sampe jambak-jambakan hahaha

      kamu iniiii maunyaa~~~ tapi sesungguhnya aku juga galau sih kunyun mau di ending-in sama siapa pas bikin ini kkkk. tapi akhirnya sudah memutuskan kok XD

      huaaaa maaciiii, seneng rasanya kalo masih bisa bikin cerita yang rame u_u. wattpad ya? ini aku lagi liat-liat sih…. tapi ga apa-apakah dipost disitu? sedikit malu….. soalnya rata2 pada chapter banyakan gitu T.T

       
      • cizziekyu

        February 16, 2016 at 6:06 pm

        Hihi aku sekalian balas di part 2 aja yaaaa

        Iyaa udh bertaun2 dlu yaaa kita sering ngeramein blog inih huhuhuhu

        Enggak papa laaahhh.. Banyak juga kok yg formatnya cerpen ato oneshot gtu di wattpad… Lagian format wattpad biasanya lebih dikit kok dibanding wp, jdi yang di wp 1 part bisa jdi banyak part di wattpad hihihi

         
      • lolita309

        February 17, 2016 at 4:27 pm

        Eh tapi aku bingung deh sama mekanisme baca cerita di wattpad. Misalnya aku abis publish cerita nih, trus orang2 bisa bacanya gimana? Harus search keyword kan? Karena yg tampil di depan biasanya cuma yg featured stories… Jadi selain yg follow aku, ga akan ada yg tau aku publish crita baru kan?

         
      • cizziekyu

        February 20, 2016 at 8:23 pm

        Iya harus lewat keyword, dan bikin tag juga kaya diwordpress gtu nyah.. Klo writer2 awal kayanya mesti rajin2 promote ceritanya di lapak lain gtu, nnti klo viewnya jdi banyak biasanya ada kaya jdo trending gtu di home wattpadnya nyah… Kadang kalau lgi baca satu cerita bisa muncul rekomendasi cerita dg genre yg sama gtu nyah

         

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: