RSS

[THE SERIES] SABOTAGE – Part 1

02 Feb

Mengawali Februari dengan a long awaited (yakin?) story… :p Ya ampun konsep karya ini bahkan udah ada dari taun 2011 dan baru selesai (lagi-lagi) 5 tahun kemudian, maap seribu maap buat cizzie yang hobinya saya PHP-in mulu kkk~ XD Sesungguhnya saya berterima kasih saya pindah kerja, sehingga ritme hidup saya lebih slow dan bisa menghidupkan kembali hobi menulis ini… :’D 

 

SABOTAGE – Part 1

(Related stories: Gold Digger; Like A Template)

Written by: @lolita309

Starring: Jo Kyuhyun, Choi Jiwon

chrisnagustyani as Jung Yoona

10831873_1585669894999217_999561133_n 

YOONA

Sabotage. Sabotase. Hm, aku suka kuliah Teori Politik-ku hari ini. ‘Aku’ sekali. Yah, setidaknya aku akhirnya menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan keahlianku ini dalam satu kata. Sabotase, terdengar keren sekali, kan?

“Lihat, itu yang namanya Jung Yoona.”

“Jung Yoona? Yang digosipkan punya affair dengan Jo Kyuhyun?”

No way! Kyuhyun-ssi bukannya sudah tunangan dengan Choi Jiwon, putri bungsu jaringan Choi Corp. itu??”

Aku melewati gadis-gadis itu dengan full senyum sambil tetap memeluk erat textbook kuliahku yang tebal. Bukan sekali-dua aku dibicarakan begini, jadi biasa sajalah. Lagipula jika ingin menjelekkanku, silakan cari. Aku pintar, cantik, dan independen. Hidupku sempurna, jadi kalau banyak pria, termasuk mungkin pacar-pacar mereka juga menyukaiku, apa itu salahku? Aku seorang oportunis, jadi jika seorang pria menyukaiku dan ia juga masuk kriteria, aku tak akan menyia-nyiakannya. Dan parahnya, ternyata memang masih banyak ‘pria buaya’ di dunia ini. Ah, tapi aku tak peduli. Sudah kubilang sabotase adalah keahlianku, sama mudahnya dengan merebut mainan anak kecil di taman. Bukan masalah besar mengalihkan perhatian mereka dari pacar masing-masing, sampai akhirnya betul-betul jatuh ke tanganku. Kalian tanya untuk apa? Apa kalian tak tahu biaya hidup makin mahal?

Kebetulan sekali aku kuliah di kampus swasta terelit di Korea Selatan ini. Isinya adalah anak-anak konglomerat pewaris tahta perusahaan masing-masing, kalau bukan anak pejabat maupun tokoh terkenal atau artis di negara ini. Yah, biarpun untuk ‘petualanganku’ yang sekarang ini, sepertinya sedikit terjadi masalah. Singkat cerita, sejak tiga bulan lalu aku sedang berhasil menyabotase ‘mainan’ terbaik di Korea Selatan. Jo Kyuhyun, benar, nama pria yang dibicarakan cewek-cewek tadi. Berusia 24 tahun, ia putra sulung Presiden kami, pimpinan tertinggi di negara ini. Hebat kan? Aku kenal dengannya karena kami satu jurusan di Ilmu Politik Universitas Kyunghee ini. Bahkan pacarnya saat ini pun putri dari orang terkaya di Korea, konglomerat Choi Kiho, pemilik jaringan perusahaan properti nomor wahid negara ini. Biarpun justru di situ akar mula masalahku. Sabotase kali ini cukup… sulit. Hubungan mereka terlanjur menjadi sorotan publik, yang membuat pria ini tak bisa begitu saja meninggalkan nona itu, biarpun ia bilang hatinya sih sudah sepenuhnya milikku. Aku pun sukses berakhir hanya di status ‘simpanan’. Padahal ia sempurna: tampan, tinggi, berkulit pucat, dan pintar (I always have a thing on smart guys), sampai-sampai kurasa aku betul-betul menyukainya. Aku mencintainya betulan, sesuatu yang tak pernah kurasakan pada mantan-mantan hasil sabotaseku sebelumnya. Sama sekali tak ada keinginan dalam diriku untuk mengembalikannya pada pemiliknya yang dulu…. Nona Besar Choi itu.

Drrrrt. Drrrrtt.

Ah, baru dipikirkan sudah muncul, pikirku seraya mengeluarkan Samsung Galaxy Note-ku (yang juga sponsor darinya, pasti) dan mengangkat telepon itu. “Yeoboseyo? Kyuhyun-ssi.” Kataku dengan suara yang sengaja agak diputar volumenya, yah, bolehlah kalau gadis-gadis tukang gosip itu mau menguping. Daripada penasaran, tawaku dalam hati.

“Yoona? Hei, aku lagi ada di kampus mau mengurus wisuda, kamu sudah selesai kelas? Mau pulang bareng? Aku nggak akan lama, kok.”

Aku tersenyum menyeringai, “Boleh. Ketemu di tempat biasa saja.”

“Geurae, ittabwa. (Oke, sampai ketemu nanti.)”

“Eung.” Jawabku singkat seraya menutup flip cover smartphone-ku. Ah, tak lupa menengok dan tersenyum penuh kemenangan pada gadis-gadis tadi. Kalian lihat? Inilah aku, dan aku tak malu sama sekali dengan hidupku. Malu hanya akan membuat kalian tetap miskin, dan aku muak menjadi orang yang tak bisa berbuat apa-apa hanya karena tak punya uang. Unni-ku sudah menjadi korban karena itu, dan aku tak mau lagi.

Akhirnya aku pun menunggu di halte shuttle bus kampus, salah satu dari banyak fasilitas kampus ini yang terbilang tak berguna. Bagaimana mau berguna kalau kenyataannya mana ada anak kampus ini yang menggunakan bis? Hanya untuk ke gedung sebelah saja mereka akan menelepon supir, atau yang pria minta diambilkan valet. Ya, ada valet di kampus ini. Sedikit gila, memang. Tapi justru itu yang membuatku dan Kyuhyun menyukai tempat ini sebagai tempat kami bertemu. Tak akan ada orang yang mampir ke tempat ini… kecuali mungkin supir shuttle bus kami. Sambil menunggu, kembali kubuka satu textbook kuliah yang tadi kubawa. Bukan mauku untuk suka membaca, itu seperti bawaan lahir, kalau tak ada kerjaan aku pasti akan membuka buku apapun yang kupegang. Unniku dulu sering bilang kalau aku berotak encer, tapi ia tak pernah tahu kebiasaanku itu juga punya keburukan. Sering melihat diary unni tergeletak begitu saja di kamar kami dulu, aku terlanjur terbiasa membacanya begitu saja. Ah, tidak. Aku harus berhenti memikirkan unni. Airmataku tak boleh jatuh lagi, hanya boleh tinggal kebencian di hati ini. Kebencian pada mantan kakak iparku yang telah tega ‘membunuh’ istrinya sendiri… Unniku.

Oh, tunggu. Tapi kenapa aku seperti merasa… ada seseorang yang mengawasi—Bukan, bukan gadis-gadis tadi, mereka tak akan pernah menginjakkan kaki di tempat ini, tahu pun kurasa tidak. Pandangan ini lebih intens—

“Yoona.”

“Oh, Kyuhyun-ssi! Kamjjak-iyeyo. (Kagetnya.)” Sapaku, biarpun akhirnya tersenyum. Ah, mungkin tadi dia. Biarpun masih merasa aneh… kalau benar dia, untuk apa dia memperhatikanku dari jauh?

Selagi aku berpikir, kurasakan ia terus tersenyum menatapku. Mengernyit, aku tak kuasa tak bertanya manis,”Waeyo (Kenapa)?”

“Ani.” Ia menggeleng, masih tersenyum sebelum menjulurkan tangannya memainkan rambut hitam lurusku. “Aku selalu suka dipanggil ‘Kyuhyun-ssi’ olehmu.”

Aku tertawa kecil, “Bukankah semua orang juga memanggilmu ‘Kyuhyun-ssi’, Kyuhyun-ssi?” Godaku, sebelum akhirnya menambahkan, dengan penekanan pada kata ‘dia’. “Ah… Dia memanggilmu ‘oppa’.”

Ia segera menyilangkan tangannya tak suka di depan dada, “Kamu selalu menghubungkan segalanya dengan Jiwon.”

“Karena kamu bersamaku juga karena aku serba berkebalikan dengannya, kan?”

“Cukup deh, aku nggak mau kita bertengkar.”

“Geuraeyo. (Oke.)” Dengan instan aku mengiyakan perkataannya. Aku juga tak suka bertengkar, dengan siapapun pacarku. Hanya membuat rugi, siapa yang tahu di masa kita bertengkar ia seharusnya akan memberiku banyak materi yang kusukai? Kalau kami bertengkar, itu tak akan kejadian, kan?

Ia segera tertawa, “What a chic woman.”

Aku hanya mengangkat bahu, yang biarpun ringan tapi sedikit membuat kaos pas badan biru tua yang kupakai menjadi naik, menunjukkan 2 senti pinggang polosku di atas jeans.

Kyuhyun tertawa tanpa suara melihatnya, menggeleng sebelum akhirnya merangkulku di pinggang, tepat di jarak antara jeans dan ujung kaosku itu. “Let’s get you a dress.”

“Posesif!”

Ia tertawa, masih sambil menyeretku di pinggang, menyentuh kulitku. “Nggak—oke, itu sebagian. Tapi memang dari awal aku mencarimu untuk itu. Kamu ingat kongres partai kita lusa, kan?”

“Mana mungkin aku lupa? Aku panitianya.”

Ia mengangguk, “Nah, jadi mari kita cari gaun yang bagus untuk kamu pakai, oke?”

Jual mahal, aku melepas pelukannya di pinggangku. Ah, kulit yang hangat itu… “Gwaenchanayo, nan dresseu mani itgodeun-yo. (Aku punya banyak dress, kok.)” kataku, pura-pura menolak.

Ia mengangguk-angguk, biarpun secepatnya kembali mencari tanganku dan meraihnya, “Percaya, kok… Dan pasti bagus-bagus dan mahal. Tapi aku nggak mau kamu memakai dress dari mantan-mantanmu.”

Kini, giliranku yang tak kuasa menahan tawa, “Posesif.”

Ia mengangkat bahu.

But I like it. I love you.

 

JIWON

TOK. TOK.

Dari dalam kamarnya yang luas dan bernuansa coklat hangat, Jiwon di depan meja riasnya menoleh mendengar suara ketukan pintu. Merapikan kuncir cepol rambut hitamnya terlebih dulu, dengan menggigit bibir karena sedikit takut, wanita 23 tahun pemilik sebuah yayasan Lembaga Sosial Masyarakat (LSM) pemerhati wanita dan anak-anak bernama Jiwon Fund itu pun melangkah untuk membuka pintu.

Seorang laki-laki berjaket kulit hitam yang mungkin hanya lebih tua sedikit darinya segera membungkuk, “Nona.” Sapanya seraya menyerahkan sebuah amplop coklat, masih dalam posisi membungkuk. Jiwon menerimanya dengan ragu. Ini, hal ini yang membuatnya takut saat mendengar bunyi pintu kamarnya diketuk tadi. Ketakutan kalau apa yang dicarinya memang benar. Kalau orang-orang suruhannya memang betul-betul menemukan apa yang ia perintahkan…

Benar saja… TES. TES. Airmatanya kembali menetes ketika melihat foto-foto di dalam amplop yang diberikan pria itu. Foto Jo Kyuhyun, kekasihnya dengan pakaian kasual yang sedang berbincang begitu dekat dengan seorang wanita muda yang memeluk sebuah buku tebal, seperti textbook kuliah. Kedua tangan Kyuhyun terlihat memeluk pinggang langsing wanita itu yang terbuka karena kaos cropped yang ia gunakan terangkat. Banyak lagi foto-foto ketika mereka berada di dalam mobil, saat berbelanja, bahkan berpegangan tangan menikmati makan malam romantis. Wajah keduanya begitu bahagia.

Wajah yang sudah beberapa bulan ini tidak ia lihat saat Kyuhyun bersamanya.

Jiwon buru-buru menghapus titik air di kedua ujung matanya sebelum mengangkat kepala, menatap orang suruhannya itu, “Siapa… dia?”

“Jung Yoona. 22 tahun. Semester akhir di Jurusan Ilmu Politik Universitas Kyunghee dan sudah 4 bulan ini magang di sebagai humas di Partai Nasional Korea yang menyokong Presiden Jo Taewang. Baru 2 bulan pindah dan tinggal sendiri di apartemen City Crown di Cheongdamdong. Namun dari informasi yang saya dapat… kartu kredit yang digunakan untuk membayar sewa apartemen itu atas nama Jo Kyuhyun-ssi, Nona.”

DEG-DEG-DEG. Jantung Jiwon seketika berdegup 2 kali lipat rasanya kini. Kyuhyun bahkan menyewakan sebuah apartemen di kawasan mewah untuknya?? “H-Hwaksilhaeyo? (Kamu yakin?)”

Berusaha keras tidak menampakkan wajah simpati pada klien di hadapannya, pria berpakaian hitam-hitam itu mengangguk mantap, “Ne.”

Menahan rasa pusing tiba-tiba di kepalanya dengan menggigit bibir lebih keras dari tadi, Jiwon kembali bertanya, “Apa… lagi yang kalian dapatkan?”

“Jung Yoona adalah seorang yatim piatu. Sejak kecil sampai lulus SMA ia tinggal di panti asuhan di Gyeongju sebelum pindah ke Seoul untuk kuliah. Sebelum pindah ke apartemen sekarang, ia tinggal di apartemen tua di pinggir kota bersama teman satu panti asuhannya yang kemudian menikah dengan pesepakbola nasional, Yoon Doojoon. Di apartemennya yang lama, ia terkenal sering pulang sangat larut dan selalu diantar pria yang berbeda-beda. Di kampus pun beredar rumor kalau ia telah memacari seluruh mahasiswa Top 10 dalam hal latar belakang dan status sosial, termasuk Jo Kyu—”

“Cukup.” Kepala Jiwon rasanya makin sakit mendengar itu semua. Ini sungguh… kenyataan yang sulit diterima. Jo Kyuhyun yang berhubungan dengannya sejak satu setengah tahun lalu bukan orang yang seperti ini. Dia orang yang sangat lurus, yang bahkan selama pengalamannya menjadi pimpinan strategic planner kampanye Pemilu sang ayah, ia tak pernah sekalipun menggunakan cara-cara kotor maupun black campaign, apalagi dalam hubungan personal seperti hubungannya dengan kekasihnya sendiri. Lalu siapa orang di dalam foto ini??

“Lalu, apa yang harus kami lakukan sekarang, Nona?”

“Terus ikuti mere—” BRUK. Tanpa ia sadari, tubuh pewaris kedua jaringan properti terbesar di Korea itu sudah limbung, jatuh tersandar pada dinding di sebelah pintu kamarnya.

“NONA!”

­­­­­­­_________

 

Aku… sebelumnya tak pernah mencurigai apapun dari gerak-gerik Kyuhyun oppa. Semuanya normal; setengah tahun ini ia sibuk dengan tugas akhir dan pekerjaannya di kantor partai sehingga kami lebih jarang bertukar kabar dibanding sebelumnya. Aku sendiri juga selepas lulus kuliah makin fokus mengurus Jiwon Fund dan sesekali ikut rapat direksi bersama appa berhubung kakakku, Choi Siwon, yang memilih menjadi seorang polisi dan kini sudah menikah sama sekali tak tertarik dengan itu. Tak ada yang aneh dengan kami, setidaknya itu yang aku rasakan, bahkan saat aku diperkenalkan dengannya. Jung Yoona.

Bulan lalu, saat itu aku yang sedang menyetir sendiri sepulang dari acara penggalangan dana untuk para comfort women atau wanita-wanita Korea yang dijadikan ‘budak seks’ prajurit Jepang saat perang kemerdekaan, tanpa sengaja melewati lingkungan kantor Kyuhyun oppa dan memutuskan untuk mampir tanpa bilang terlebih dahulu. Oppa terlihat terkejut, tapi sebegitunya aku mempercayai pacarku sendiri sampai gelagatnya yang gugup saat memperkenalkan Yoona sama sekali tidak aku perhatikan. Kenyataannya, aku bahkan tidak memperhatikan Yoona sama sekali. Kecantikannya memang sedikit menarik perhatianku saat baru memasuki kantor oppa dan disambut olehnya, tapi ya sampai situ saja. Seperti yang kubilang, aku begitu mempercayai kalau Kyuhyun oppa adalah orang yang begitu lurus dan hubungan kami baik-baik saja. Aku tak akan pernah mengira oppa akan memiliki affair dengan siapapun, bahkan teman kampus yang juga rekan kerjanya sekarang.

Sayangnya, aku salah. Baru tiga hari yang lalu, salah satu teman SMA-ku tiba-tiba menghubungi via LINE dan mengirimkan sebuah foto. Tampak belakang seorang pria dengan penampilan seperti Kyuhyun oppa dan seorang wanita berambut hitam panjang dengan mini dress warna biru yang sedang berjalan sambil berpelukan. Temanku bilang saat ia akan keluar dari apartemen sepupunya di Cheongdamdong, ia berpapasan dengan sepasang pria dan wanita muda, yang prianya menurutnya mirip sekali dengan Kyuhyun oppa. Ia ingin mengonfirmasi apakah benar itu Kyuhyun oppa? Atau apakah aku mengenal wanita yang bersamanya? Atau… apakah aku telah putus dengannya.

Saat itu, dengan stiker tertawa, aku hanya mengatakan itu bukanlah dia, dan kami masih bersama. Padahal setelah itu aku langsung menelepon sekretaris ayahku, memintanya menyewa orang suruhan yang biasa dipakainya untuk memata-matai saingan bisnis perusahaan kami. Pantas saja… Pantas saja selama ini suaranya selalu terkesan hambar saat menerima teleponku. SMS-nya makin hari menjadi lebih singkat dari sebelumnya, isinya pun hanya jawaban dari apa yang kutanyakan, tidak pernah lagi memulai topik baru terlebih dulu.

….Karena biarpun dari belakang, aku tentu mengenali orang dalam foto itu. Ia bahkan menggunakan setelan jas yang kuberikan.

“Umh…”

“Nona, Nona sudah sadar?”

Mengerjap-ngerjapkan mata karena masih sedikit pusing, perlahan-lahan wajah paruh baya Min ahjussi, pengurus rumah tangga di rumahku mulai jelas terlihat. Menoleh ke kanan dan kiri, aku segera mendecak begitu kutemukan diriku ada di atas ranjang, lengkap dengan plester kompres turun panas di dahiku. Pingsan ternyata, pikirku, tertawa sinis dalam hati. Gadis bodoh.

“Nona, mau kemana? Anda masih demam…” Maka begitu aku menyibak selimut tebalku dan mencoba turun dari ranjang, Min ahjussi dan dua bibi lain di belakangnya segera melarang, yang tentu saja aku hiraukan. Demamku pasti hanya karena sudah dua malam ini aku tidak tidur akibat menunggu kabar dari orang suruhanku, sehingga pastinya nanti juga akan sembuh sendiri. SRET! Dengan asal aku melepas plester kompres di dahiku, dan biarpun masih sempoyongan, bersikeras menuju lemari, mencari baju untuk aku pergi.

“Saya tidak akan membiarkan Anda, Nona.”

“Ya sudah.” jawabku santai. “Bibi, tolong minta supir panaskan mobilku, aku akan di bawah 10 menit lagi. Dan ahjussi, aku mau ganti baju. Jadi tolong keluar.”

Aku memergoki Min ahjussi dengan seragam musim gugurnya, sebuah sweater rajut abu-abu lengan panjang melapisi kemeja putih, sedang menggeleng pada bibi yang tadi kusuruh turun ke bawah sebelum akhirnya ia menyadari aku sekarang tengah bicara padanya. Kembali dengan posisi setengah membungkuk sebagaimana semua karyawan di rumah ini selalu bersikap saat berhadapan denganku dan keluargaku, ia bertanya, “Nona mau pergi kemana?”

“Mengajak orang bertengkar.”

 

KYUHYUN

 

Manna-ja (Ketemuan, yuk). Kutunggu di apartemenku sekarang, aku tahu oppa nggak masuk kerja hari ini.

 

Aku menatap pesan singkat di ponselku sambil sesekali melirik pada Yoona yang sedang sibuk mencoba gaun di butik langganan adikku, Jo Dambi. Kami sudah pernah kesini bersama Dambi juga, sehingga kupastikan tak ada yang mencurigai ketika aku kemudian datang kesini lagi hanya berdua Yoona saja. Dambi sendiri mengenal Yoona sebagai teman dekatku di kantor appa dan hanya sekali bertemu, mereka berdua langsung klop. Aku bahkan kerap ditinggalkan mereka yang tiba-tiba mau nonton bersama, ke mal bersama, atau bahkan belanja. Yah… biarpun semuanya akhirnya menggunakan kartuku karena di rumah kami, sebelum seorang anak memiliki pekerjaan sendiri, ia tetap hanya diberikan ‘uang saku’ (seperti yang terjadi pada Dambi yang masih tahun kedua kuliah). Tapi maksudku, Jiwon bahkan butuh berbulan-bulan mendekati Dambi yang harus kuakui, brother complex. Aku sampai tak mengerti apa itu karena Yoona yang memang begitu supel, Jiwon yang kurang bersahabat, atau hanya murni disebabkan Yoona dan Dambi memang punya ketertarikan sama karena sepantaran.

Setelah memastikan aman karena Yoona baru saja masuk ruang ganti lagi ditemani seorang asisten dari butik untuk mencoba gaunnya yang entah keberapa ini, aku buru-buru kembali pada ponselku dengan banyak pikiran yang berkecamuk di kepalaku. Jiwon… Ini SMS yang cukup aneh dari Jiwon. Nadanya terdengar serius, dan ia bahkan tahu aku mengambil cuti hari ini, padahal kami sama sekali belum bertukar kabar sejak kemarin. Ingin tahu jelas apa maksudnya, beranjak sebentar dari sofa di dalam butik, aku pun memutuskan menelepon pacar ‘resmi’-ku itu.

“Tumben, telepon.” adalah sapaan pertama yang ia berikan saat menjawab teleponku, alih-alih “Halo” atau “Ya”. Dan suaranya… terdengar sengau? Somehow I got chills.

“Eo (Ya).” jawabku. “Ada apa? Ada yang mau kamu bicarakan? Hari ini aku mengurus wisuda ke kampus makanya nggak masuk kerja. Apa kamu telepon ke kantor?”

“Ani (Nggak).” balasnya singkat. “Aku membayar mata-mata.”

Detik itu juga, kami bertengkar hebat, di telepon, yang diakhiri dengan aku membanting ponselku sampai pecah belah ke trotoar di depan butik.

 

________

 

Sesungguhnya, secara nyata aku tak pernah punya masalah dengan Jiwon. Biarpun terlahir di keluarga konglomerat, tapi dia sama sekali bukan tipe pacar yang manja, ‘belagu’, apalagi banyak maunya. Atau justru karena memang ia terlahir di keluarga seperti itu makanya ia terbiasa memperoleh semua keinginannya tanpa harus meminta siapapun? Yang jelas, memperoleh pacar seperti ini akhirnya malah membuatku terkadang frustasi, marah pada diri sendiri. Aku merasa tak berguna karena Jiwon begitu mandiri. Sedikit pun, ia tak pernah berkeluh kesah padaku. Padahal seharusnya banyak yang bisa ia bagi: apakah yayasannya sedang mencari relawan baru, donatur, atau bahkan saat ia sedang mengerjakan tugas akhirnya tahun lalu. Lebih tua darinya namun memulai kuliah sedikit terlambat, aku pun baru memulai tugas akhir tahun ini dan baru sadar betapa beratnya itu. Bagaimana mungkin ia tidak mengeluh sama sekali?? Aku tidak janji bisa memberikan jalan keluar, tapi setidaknya aku juga ingin ia sedikit bergantung padaku, walau hanya sebagai seorang pendengar. Tapi di mataku ia selalu seakan tak punya masalah, dan ia… punya segalanya. Jangan membuatku memulai tentang bagaimana aku selalu harus berpikir keras bagaimana cara membuatnya terkesan dengan hadiahku (yang tak pernah dimintanya bahkan), karena semua barang yang dapat kupikirkan telah dimilikinya.

Mungkin banyak pria yang sudah berpasangan di luar sana akan mengecamku karena malah mengeluh di saat aku bahkan dikarunia pacar yang sama sekali tak merepotkan. Apalagi tidak seperti anggapan banyak orang di luar sana, hubungan kami juga sama sekali bukan berasal dari ‘perjodohan politik’ kedua ayah kami. Ini murni cinta, kami bahkan bertemu di saat masing-masing tidak mengetahui latar belakang satu sama lain, karena ayahku yang saat itu belum menjabat sebagai presiden dan aku yang tidak pernah tertarik dengan silsilah keluarga chaebol seperti keluarganya. Maka kini, ketika segala kepasifannya menjadi masalah untukku pun, jujur aku mengakui kalau mungkin ini hanya egoku saja. Egoku sebagai putra dari orang nomor satu di negeri ini yang padahal bisa dibilang juga memiliki segalanya, tapi tak dapat menunjukkannya di depan kekasihku sendiri. Mungkin aku memang masih norak dengan statusku yang tiba-tiba terangkat sebagai ‘anak orang kaya’, dari hidupku yang dulu.

Dan di kondisi seperti itu, aku bertemu dengan Yoona. Gadis yang serba keterbalikan dengan Jiwon. Gadis yang tidak bisa menyetir dan selalu memerlukan tumpangan. Gadis yang senyumnya selalu merekah cerah setiap aku memberinya hadiah. Gadis yang tanpa perlu diminta, menceritakan semua hal yang terjadi di harinya padaku.

“Kyuhyun-ssi dari mana?”

Aku menggeleng pada Yoona yang terlihat bingung mencariku saat keluar dari ruang ganti, kini mengenakan gaun panjang one-shoulder biru tua dengan ornamen bunga di bahunya, juga sepatu yang senada, “Ani (Nggak), tadi cuma ada telepon sebentar. Oh, ini bagus. Tetap panjang dan elegan, tapi kakimu masih bebas untuk berjalan. Nantinya kamu pasti masih akan sibuk mondar-mandir mengurus jalannya acara kan?”

“Ne (Ya).” tersenyum, Yoona mengangguk seraya kembali memutar-mutar tubuhnya di depan kaca ruang ganti, terlihat puas. “Aku juga suka yang ini.”

“Geureom (Kalau begitu),” kataku, sebelum beralih pada asisten butik di belakang Yoona. “Nona, tolong bungkus yang ini. Sepatunya juga.”

Dan melihat senyum bahagia gadis berambut hitam itu beserta silangan jari telunjuk dan jempol membentuk tanda hati kecil yang diarahkannya padaku, rasanya tak ada lagi yang kuinginkan di dunia ini.

 

_______

 

TIT.

“WELCOME.”

Suara kunci password apartemen futuristik milik pribadi Jiwon yang juga merupakan salah satu produk properti Choi Corp., perusahan ayahnya itu, menyambutku begitu aku berhasil memasukkan angka sandi pembuka pintunya. 5-4-5-9 sebagai bentuk angka dari huruf-huruf K-H-J-W yang berarti Kyuhyun dan Jiwon, aku mengetahuinya dengan jelas karena ini memang bukan sekali dua aku bermain kemari. Jiwon memang lebih sering tinggal di rumah keluarganya, namun setiap kali ingin privasi, termasuk saat ingin berdua saja denganku ataupun kebalikannya yaitu berpesta gaduh dengan teman-temannya, ia pasti akan pergi kemari.

Dan disana, aku menemukannya. Meringkuk memeluk diri di atas sofa ruang tamunya, terbalut seperti kepompong dalam sweater rajutan coklatnya yang kebesaran. “Mwohae (Kamu sedang apa)?”

“Wasseo (Kamu sudah datang)?” tanyanya dingin, bahkan tidak menghadapku sama sekali. Pandangannya masih hanya kosong menuju balkon apartemen ini, dan pemandangan kota di musim gugur yang menjelang malam di luarnya. “Sudah mengantar selingkuhanmu itu pulang? Ke apartemen yang oppa sewakan?”

Kurasakan darahku mendidih mendengarnya yang menyindirku dengan sepenuh hatinya. Tapi, mencoba menahan, aku hanya mengepalkan telapak tanganku kuat-kuat, “Kamu betul-betul membayar mata-mata untuk mengawasiku??”

“Baru 3 hari ini.” jawabnya, masih tanpa melihatku. “Dan penemuannya… sangat mengejutkan.”

GREP! Terlanjur emosi, kutarik sebelah tangannya untuk berdiri, “Tatap aku kalau bicara!!”

“APA SALAHKU PADAMU??? APA KURANGKU?? AKU MENCINTAI DAN MEMPERCAYAI OPPA SEPENUH HATIKU TAPI APA YANG AKU DAPATKAN!!!” teriaknya histeris… yang berujung pada jatuhnya ia, berlutut ke atas karpet bulu ruang tamu ini. Menangis tersedu-sedu.

Sungguh… aku tak pernah melihat Jiwon serapuh ini. Kurasa karena terbiasa dengannya yang mandiri, aku selalu menganggapnya setara denganku. Setiap kali ribut pun, kami terbiasa adu argumen dengan begitu logis dan kepala dingin, tanpa ada tangisan. Lebih mirip debat politik daripada hubungan percintaan.

…Yang sesungguhnya membuatku sangat merasa bersalah. Kemana diriku yang bahkan sampai setengah tahun lalu masih begitu tergila-gila padanya?? Cinta… sungguh hal yang tak bisa diprediksi.

“Kita sudah membahas ini di telepon. Kamu tanya apa salahmu? Nggak ada. Aku yang salah karena berani mencintaimu hanya mentang-mentang status sosialku yang sudah naik sekarang. Nyatanya, egoku masih ego orang miskin. Ego seorang cleaning service di Gedung Parlemen, hidupku yang dulu sebelum Presiden Jo mengangkatku sebagai anak.”

Untuk pertama kalinya sejak aku sampai kemari, Jiwon akhirnya mengangkat kepalanya untuk menatapku nanar. Ia selalu tak suka aku mengungkit-ungkit masa laluku. Dari sini, kembali kita bisa melihat betapa besar hati seorang Choi Jiwon. Tidak hanya karena ia sangat suka beramal dan bahkan sampai mendirikan LSM sendiri untuk itu, tapi juga betapa ia bahkan mengetahui latar belakangku yang buruk, namun tetap mau menerimaku apa adanya. “Dan apa hubungannya semua itu dengan apa yang terjadinya dengan kita sekarang?? Don’t just making up excuses!!

“Maksudku adalah, kurasa aku belum siap memiliki seorang Nona Besar sebagai pacar. Hanya dengan keberadaanmu saja mengintimidasiku. Maafkan aku dan ‘mental tempe’-ku ini.”

Jiwon terlihat sangat shock karena kata-kataku, sama sekali tak mengira alasan inilah yang kukeluarkan sebagai penyebab rusaknya hubungan kami. Mengumpulkan harga dirinya yang terserak karena ucapanku, dengan bibir sedikit bergetar ia berujar, “K-Kenapa aku merasa oppa membuat diri oppa sendiri terlihat sebagai korban…? Sedangkan jelas-jelas akulah korbannya disini. Akulah wanita yang diselingkuhi!”

You ARE! You are.” seruku juga akhirnya. Aku sungguh… tak tahan lagi. “Ya, kamu korbannya. Aku selingkuh di belakangmu, itu kesalahanku yang pertama. Dan kesalahanku yang kedua adalah aku, memilih dia dibandingkan kamu. I choose Yoona over you, which makes my mistakes unforgivable. Jangan pernah maafkan aku.”

“Jangan sebut namanya di depanku!!” serunya lagi, menatapku penuh kebencian dari duduk bersimpuhnya di atas karpet. “That witch! Dia nggak seperti yang oppa pikirkan. Aku tahu karena aku menyelidikinya, dan dia punya track record yang buruk tentang urusan pria. Di depan oppa mungkin ia terlihat suci, tapi apa oppa tahu oppa adalah pria keberapa yang ia pacari di kampus? Dan atas dasar apa ia mau berhubungan oppa dan pria-pria itu??”

Aku terdiam.

“Oppa adalah pria ke-10.” lanjutnya, tanpa peduli reaksiku. “Dan kesamaan oppa dengan pria-pria itu adalah status sosial yang tinggi. Kalian adalah Top-10 pria terkaya di kampus, dan selamat, kurasa ia memperoleh jackpot-nya dengan mendapatkan oppa.”

Air mukaku seketika langsung keruh, tak tahu harus memberikan reaksi apa. Aku memang pernah dengar dan bahkan melihat saat Yoona berpacaran dengan beberapa rekan sekampusku sebelum bersama denganku (kami sekampus, ingat?). Tapi untuk alasannya… Jiwon tentu hanya membuat-buat, kan? Semua agar hubungan kami tidak berakhir. Agar aku meninggalkan Yoona dan kembali ke pelukannya. Tapi entah kenapa, di mataku justru Jiwon yang seperti ini terlihat begitu menyedihkan… Maka berlutut, aku pun menyamakan pandanganku dengannya, menatapnya tepat di kedua mata, “A lady shouldn’t speak bad of others.” kataku seraya merapikan helai rambut hitam sebahunya yang menutupi wajah dan basah karena airmata. Dengan kedua tangan di kedua pipinya, aku pun mengecup dahi wanita yang telah mengisi hati dan hariku selama satu setengah tahun itu sebelum berkata, “Jangan membuat dirimu terlihat buruk hanya demi pria brengsek seperti aku. Selamat tinggal.”

~To Be Continued~

 

So…. HOW?? Tapi saya harap semoga siapapun yang baca dan ngikutin the whole [THE SERIES] series ini suka, dan diharapkan comment-nya!! Tapi muncul ataupun tidak munculnya kalian di comment section, saya akan tetap bersyukur kok setiap count view nya naik……… :”

I LOVE YOU ALL ❤

 

 

Advertisements
 
5 Comments

Posted by on February 2, 2016 in Super Junior, [THE SERIES]

 

Tags: , ,

5 responses to “[THE SERIES] SABOTAGE – Part 1

  1. cizziekyu

    February 16, 2016 at 12:16 am

    MWOHAEEEE KENAPA BARU TAU NYONYAH ADA UPDATEEEEE

    abis bersih2 email trus nemu notifikasi update wordpress (baru tau karena selama ini notif wordpress selalu otomatis masuk ke section promotion yang jarang banget aku buka)

    Uhuhu tokoh akunya ehem bgt yaaahh, dibilang jahat iya, tapi realistis juga iya.. klo beneran kejadian juga ga bakal sih ngelepasin eligible bachelor macam Kunyun :3 kan Kunyunnya juga cinta, win-win solution itu mah…

    Sumpah Jiwon disini ngingetin aku sama kisah temen aku yg udah pacaran 6 taun dan diselingkuhin pacarnya gara2 LDR… Ketauan gara2 selingkuhannya posting foto berdua cowonya di instagram cowonya coba!! Emosi bener dah x_x

    Jadinya galau kaannn, antara milih KunyunxJiwon (karena kasian sama Jiwon) ato KunyunxYoona hihihi

    Btw itu ada yg bikin ngakak deh pas serius baca bagian Kunyun di apartemen Jiwon mau minta maap trus pake bilang ‘mental tempe’ wkwkwk

    Capcus part 2 hihihi

     
    • lolita309

      February 16, 2016 at 10:11 am

      haaaiiiiiiii, i missed you in this blog kkkkkk

      hahahaha seneng kaannn, sesuai kan sama karakter kamu yang antagonis itu #eh #plak XD

      waaahh sedih banget temen kamu huhuhu, nyesek yah kalo LDR gitu, kitanya disini udah percaya eh ternyata dikhianati begitu saja T,T

      ‘mental tempe’ ceritanya biar lebih ‘membumi’ dan ngena buat pembaca indonesia gitu.. hahaha *ngeles*

      eniwei berarti hutang saya telah lunas kaannn?? (belom sepenuhnya sih, tapi tinggal 1 part lagi kok *wink*)

      gomawooo for the comment always! ^^

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: