RSS

[THE SERIES] MIINAH – Part 2

15 Jan

MIINAH – Part 2

(Part 1)

Starring: Kim Heechul, Choi Siwon

Written by: lolita309

siwonandheechul

 

Cinta segitiga. Sahabat. 6 tahun. Pernikahan rahasia.

Itulah 4 kata kunci yang harus kupecahkan hanya dalam waktu 3 hari. Aku sendiri sudah memiliki rencana tentang apa yang harus kulakukan terlebih dulu, yaitu mencari tahu lebih dalam lagi tentang apa yang dilakukan Kim Heechul 6 tahun lalu. Caranya? Dengan lagi-lagi meminta keterangan dari orang terdekatnya, sang adik Kim Ryeowook dan Kim Saera. Keesokan harinya setelah interogasi terakhirku dengan Kim Heechul, pagi-pagi sekali sekitar pukul 10 di akhir pekan ini, aku sudah meminta kedua kakak beradik itu untuk datang ke kantor kami.

“6 tahun lalu?” adik bungsu Kim Heechul, seorang wanita muda bernama Kim Saera yang kira-kira seumuran dengan pelapor kasus ini, Park Shinji, mengulang pertanyaanku seraya terlihat menghitung dengan jari-jarinya. “Waktu oppa kuliah, bukan, sih?” yakinnya sambil menoleh pada sang kakak, seorang pria mungil berambut keriting, Kim Ryeowook.

Ryeowook mengangkat kedua alisnya, berpikir, “Harusnya sih gitu, ya… Betul, Pak, saat itu hyung sedang kuliah, di Institut Kesenian Jongwon, Gangwon-do. Waeyo?”

“Animnida (Bukan apa-apa), hanya saja kami baru mendapat keterangan baru dari tersangka Kim Heechul—dalam lagi-lagi kondisi setengah terdistorsi—tentang kejadian 6 tahun lalu. Ini sepertinya berhubungan dengan cerita cinta segitiga yang pernah ia sampaikan dulu, antara ia dan sahabatnya. Yang menurut analisa kami, jika kita bisa mendapatkan akar permasalahan ini, kita bisa tahu penyebab Kim Heechul melakukan tindakan stalker kepada pelapor Park Shinji.” jelasku pelan, sebisa mungkin agar dapat dicerna oleh kedua tamuku. Biarpun dari sejak pertama kami mengetahui kondisi psikologis Kim Heechul, hal tersebut sudah langsung kami sampaikan kepada walinya yaitu kedua adiknya ini, tetap saja mungkin masih akan sulit menerima kenyataan bahwa kakak kandung kita sendiri memiliki gangguan secara psikis, bukan?

“Dugaan kami sementara, Kim Heechul merasa melihat cintanya yang dulu, orang yang ia panggil Mi In-ah di masa lalunya, dalam diri Park Shinji. Ia sempat bercerita pada saya bahwa dulu ia sempat memiliki kekasih atau wanita yang ia panggil Mi In-ah juga. Apa Anda berdua pernah mendengar atau mengetahui sesuatu tentang itu? Wanita di kehidupan Kim Heechul 6 tahun lalu?”

Kedua orang di hadapanku saling bertatapan, mengerutkan kening mereka. Ryeowook mengangkat bahu, sedangkan Saera, masih berpikir sebentar sebelum perlahan membalikkan tubuhnya kembali menghadapku, “Kami tidak tahu persis tentang kehidupan pribadi oppa, sahabat maupun pacar di waktu kuliahnya, karena saat itu oppa tinggal terpisah dari kami. Ia kos di dekat kampusnya dan jarang pulang kecuali libur besar. Teman pun tak ada yang pernah datang ke rumah, biarpun oppa sering main keluar yang dia bilang untuk bertemu teman-temannya… Tapi kami tak pernah tahu siapa.”

“Tapi kalau bicara tentang mi-in (wanita cantik) di 6 tahun yang lalu…” Kim Saera kembali melanjutkan. “Apa maksudnya yang di tempat kos oppa itu, ya?”

Eh? Aku yang barusan sudah nyaris putus asa dengan lagi-lagi kebuntuan kasus ini, langsung mengangkat kepalaku, tertarik mendengar keterangan tambahan adik perempuan Kim Heechul itu.

Ryeowook mengerutkan keningnya lagi, wajahnya terlihat jelas kebingungan dengan pertanyaan sang adik. Saera meyakinkan dengan anggukan kepadanya, “Itjana (Ada)… Putri pemilik rumah kos oppa, eonni yang cantik sekali itu. Kita beberapa kali melihatnya sewaktu main ke kos oppa, kan? Kamu juga bilang dia cantik, tapi galak…”

“Yang bilang galak itu Heechul hyung.” Koreksi Ryeowook, sepertinya akhirnya ia juga mengingat hal yang sama. “Majayo (Betul), ada wanita seperti itu, dia terkenal sebagai mi-in di lingkungan kos hyung 6 tahun lalu. Namanya…”

“Lee Sojin-ssi.” Saera cepat menyambar.

Ryeowook mengangguk cepat, mengiyakan perkataan sang adik biarpun terlihat sedikit ragu, “Tapi sepertinya hyung tidak punya hubungan khusus dengannya…”

“Tidak ada yang tidak mungkin dalam kasus ini, Kim Ryeowook-ssi.” Yakinku dengan senyum lebar. Senang sekali karena akhirnya melihat secercah cahaya. Kujabat tangannya yang untuk ukuran pria dewasa, cukup mungil itu, “Informasi seperti ini pun sudah sangat berarti. Terima kasih atas kerjasamanya. Kami akan mengabarkan kembali jika ada perkembangan terbaru. Sekarang, bisakah tolong Anda tuliskan alamat lengkap maupun denah menuju rumah kos itu?”

 

____________

 

Jongwondae-gil, Gangwon-do

Segera menindaklanjuti keterangan dari kedua adik Kim Heechul, aku dan Myungsoo segera meluncur ke Provinsi Gangwon, 3 jam perjalanan mobil dari Seoul. Jongwondae-gil, alamat yang dituliskan oleh Kim Ryeowook adalah nama sebuah jalan di lingkungan kampus Institut Kesenian Jongwon yang didatangi Kim Heechul 6-7 tahun yang lalu. Di jalan itu, sebagaimana biasanya sebuah jalan di lingkungan sebuah kampus, berjajar banyak rumah kos maupun rumah sewaan sebagai opsi hunian bagi para mahasiswa yang tidak tinggal di asrama. Awalnya agak sulit mencari rumah kos yang dimaksud oleh Ryeowook dan Saera karena mereka sudah lupa alamat persis maupun nama pemilik rumah kos itu, tapi berdasarkan denah yang digambarkan Ryeowook dan juga saat menyebutkan nama Lee Sojin, pencarian akhirnya mengerucut ke sebuah rumah bertingkat 2 dengan pagar hitam yang cukup tinggi, hampir setinggi satu lantai rumah itu.

TING TONG! Myungsoo memencet bel di dinding pagar rumah itu atas suruhanku. Saat bertanya-tanya tadi, semua info yang kudapatkan memang kalau Lee Sojin sudah sekitar 2 tahun pindah dari sini dan menjual rumah peninggalan kedua orang tuanya itu. Setahu mereka Lee Sojin tak punya keluarga lain selain orangtuanya, pemilik rumah kos itu, yang telah meninggal, ia juga bukan tipe wanita yang suka bersosialisasi dengan tetangganya sehingga tidak ada yang tahu kemana Lee Sojin pergi. Anehnya, semua orang berbicara baik tentang kedua orangtua Lee Sojin tapi tidak tentang wanita itu. Lee Sojin, biarpun memang sangat cantik, tapi selalu diceritakan sebagai wanita yang sangat pemilih sehingga berakhir sebagai ‘perawan tua’. Tak lama setelah orangtuanya meninggal ia sepertinya menjalin hubungan dengan seorang penghuni kosnya, tapi tidak ada yang kenal siapa pria itu, maupun sekitar berapa tahun yang lalu itu terjadi. Adrenalinku langsung terpacu liar. Apa itu maksudnya Kim Heechul? Jadi benar keputusan kami untuk pergi kemari?

Tapi sebagai seorang investigator aku seperti punya kewajiban untuk selalu curiga dan jangan cepat percaya dengan informasi orang lain dan untuk selalu mengecek kembali keterangan tersebut. Maka disinilah aku, tetap mencoba mencari keterangan lain dari orang yang menempati rumah ini sekarang. Aku tak peduli biarpun harus sedikit tidak sopan meminta untuk melihat ke dalam rumah ini, demi mencari secuilpun memori tentang Lee Sojin dan penghuni kosnya.

“Pemilik rumah ini sebelumnya? Saya membeli rumah ini dari agen properti, tapi dilihat dari sertifikatnya, rumah ini atas nama Lee Gahong-ssi… Sebentar saya carikan sertifikatnya dulu. Kebetulan kami belum sempat membalik nama rumah ini karena masih sibuk… Jamkkanmanyo (Sebentar, ya).” terang pemilik rumah ini, seorang pria berkeluarga berumur sekitar akhir 30-an itu. Untunglah beliau cukup baik mempersilakan kami masuk dan tidak tertutup saat kami mintai keterangan. Rupanya beliau juga berasal dari keluarga polisi, ayahnya pensiunan polisi lalu lintas di kota yang sama, beliau pun pindah bersama keluarganya kesini untuk merawat ayahnya itu.

Selagi menunggu pemilik rumah tersebut mengambil sertifikat rumah ini, rasa penasaranku yang besar membuatku tak bisa diam dan berkeliling ruang tamu berlantai kayu yang cukup besar itu. Konstruksi rumah ini sebagian besar dari kayu, ujarku dalam hati seraya menyentuh pilar kayu mahoni besar yang hanya divernis sehingga masih menunjukkan pola kayunya, di ujung ruang tamu dekat tangga ke lantai 2 itu. Di sebelah kanan tangga berubin itu ada ruang persembahan, dan di kirinya, persis di hadapan ruang tamu ini, ada dua buah kamar. Umumnya untuk rumah kos yang juga ditempati pemiliknya, lantai bawah adalah lantai tempat tinggal keluarga pemilik kos, yang berarti satu buah kamar adalah milik orangtua Lee Sojin, serta satunya lagi milik putri mereka. Jika konstruksi lantai atas sama, dengan asumsi ruangan persis di atas ruang tamu ini dijadikan 2 kamar, dan lahan di atas garasi dan juga ruang persembahan juga menjadi 2 kamar yang saling berhadapan, berarti ada total 6 kamar yang disewakan di lantai atas, salah satunya adalah kamar Kim Heechul.

TAP. Di tengah-tengah kesibukanku membayangkan konstruksi rumah ini 6 tahun lalu, tiba-tiba tanganku yang masih meraba pilar kayu itu menangkap tekstur guratan di bagian samping pilar yang menghadap ke tangga. Tak mengharapkan apapun, aku menengadah untuk melihat guratan apa yang tertulis pada pilar itu.

…Dan aku menemukannya.

K.H.C + H.G

 

***

 

KHC adalah Kim Heechul, tapi siapa HG????

Menemukan guratan itu seperti sebuah titik balik pencarian ini. Saat itu, seperti benar-benar terjadi di hadapanku, begitu jelas aku bisa membayangkan seorang Kim Heechul yang ceria di masa remajanya yang menggoreskan kedua inisial nama itu. Sebagai sebuah memorabilia. Kenang-kenangan. Tapi untuk apa? Dan dengan siapa??

“Bagaimana? Sudah kamu tanyakan ke pihak kampus? Bagian administrasi? Kemahasiswaan?”

Terengah-engah, Myungsoo yang baru sampai di hadapanku di taman danau kampus Institut Kesenian Jongwon ini buru-buru mengangguk, “Ne, Sunbaenim. Betul Kim Heechul terdaftar di kampus ini di Jurusan Fotografi sejak 7 tahun yang lalu dan lulus 3 tahun kemudian, tapi berhubung ia bukan mahasiswa yang begitu menonjol, tidak ada memori tertentu tentangnya. Ini adalah foto saat kelulusannya,” Myungsoo memperlihatkan ponselnya yang mengabadikan foto-foto yang mungkin ia dapat dari album di administrasi kampus tadi. “Foto-fotonya selalu dengan beberapa teman, sepertinya ia memang bergaul dengan semua orang. Tidak ada teman yang terlihat lebih istimewa dibanding yang lain.”

Aku mengangguk, “Lalu HG? Adakah salah satu dari orang-orang ini, atau mahasiswa di tahun yang sama dengan Kim Heechul, yang berinisial HG?”

“Eobseumnida (Tidak ada), Sunbaenim.”

“Hwaksilhae (Kamu yakin?)” aku menatapnya sangsi. Bagaimana mungkin dari sebanyak itu orang?

Myungsoo mengangguk mantap, “Ne, Sunbaenim. Saya melihat sendiri buku kelulusan Kim Heechul dan mencari nama-nama orang yang berfoto dengannya saat wisuda itu, tapi tidak ada yang berinisial HG.”

“ARGH!” aku menjejak tanah di bawahku, kesal. Pencarian ini buntu lagi. “Aku juga.” Kataku akhirnya, masih tak mampu memendam geram karena gemas dengan kasus ini. “Ryeowook-ssi dan Saera-ssi tak tahu siapa HG, sedangkan nomor kontak Lee Sojin yang kuminta dari agen propertinya pun sudah tidak aktif lagi. Ah cham, apa maksud ini semua???”

“Untuk berjaga-jaga, saya sudah mencatat alamat dan nomor kontak teman-teman kuliah Kim Heechul yang berada di foto ini, Sunbaenim.”

“Eo, sugohaesso (Baiklah, kamu sudah bekerja dengan baik). Mari kita lakukan itu. Berapa hari lagi yang kita punya?”

Myungsoo melihat ke ponselnya sebelum menjawab, “Sekarang pukul 8 malam, dan Komandan mau mendengar laporan kita hari Senin sore sebelum pulang kantor, jadi… Kurang dari 48 jam lagi, Sunbaenim.”

Kupejamkan mataku erat. 48 jam… “Oke, kamu sudah bilang ke keluarga dan pacarmu kalau hari ini dan besok harus lembur dan tidak bisa pulang, kan?”

Kim Heechul… lihatlah apa yang kami mati-matian kulakukan hanya untuk membuktikan kamu murni hanya seorang pasien, bukan penjahat dengan gangguan jiwa! Jadi tolong… berikanlah rekam jejak yang positif!

 

______

 

Senin, 11.00 KST. D-Day

Kantor Pusat Kepolisian Seoul Metropolitan

“Ajik eobseo (Masih belum ada)?” tanyaku, masih dengan gagang telepon menempel di telinga, setengah berteriak pada Myungsoo yang meja kerjanya berada di seberangku.

Pria muda yang biasanya selalu tampil rapi dengan rambut disisir itu menggeleng, poninya yang biasanya menutup dahi sudah tertarik asal ke belakang dengan sebuah bando sejak 2 malam yang lalu, sejak kami memulai maraton penyelesaian kasus ini. Di telinganya juga masih bertengger gagang telepon kantor, hasil mengontak teman-teman Heechul yang masih tersisa.

Pencarian kami di Gangwon-do kemarin sebetulnya juga tidak berakhir sampai situ saja, sampai tengah malam kami masih mencari alamat teman-teman Heechul yang tinggal di kota itu dan mengumpulkan beberapa informasi sebelum kembali ke kantor, namun hasilnya nihil. Di luar eksteriornya yang easy-going, nyatanya tidak pernah ada yang tahu begitu dalam tentang seorang Kim Heechul. Ternyata dia tipe yang extrovert on the outside, introvert on the inside.

…Cih, seperti yang selalu dibilang Yora tentang diriku.

Hari Minggu-nya, kali ini aku mengikuti tahap berikutnya dari rencanaku, yakni kembali melakukan ‘interogasi terselubung’ pada Kim Heechul, mengenai potongan-potongan informasi yang berhasil kami raih di Gangwon-do. Berhubung hari libur dan di kantor tak banyak orang kecuali yang sedang piket di Divisi Pelayanan dan juga beberapa yang sedang lembur menyelesaikan tugas seperti kami, aku akhirnya memberanikan diri mengajak Kim Heechul mengobrol di luar Ruang Interogasi, bahkan dengan mengajaknya jalan-jalan di taman kantor segala. Memintanya maklum, borgol pun tetap kami pasang hanya untuk berjaga-jaga: sebuah di tangan kananku, dan satu lagi di tangan kirinya. Ia sama sekali tak masalah. Mendengar ajakanku kalau ia bahkan bisa melihat matahari dan menghirup udara segar lagi saja sudah membuatnya begitu gembira. Ia bahkan mengikat rambut bergelombang coklat sebahunya hanya demi tak mengganggu pemandangan yang akan ia lihat nanti, katanya.

“Aku mengunjungi kampus Hyung, kemarin.” bukaku seraya berjalan lambat-lambat di sebelahnya yang sedang memejamkan mata, menghirup dalam-dalam udara pagi hari di taman kantor kepolisian pusat ini seraya merentangkan tangannya.

Ia langsung berpaling kepadaku melihat hal itu, kulit wajahnya yang seputih susu terlihat merona cerah, “Geurae (Iyakah)? Wae?”

“Ani, cuma mau lihat tempat Hyung kuliah dulu… Mencari Mi In-ah yang pertama, yang Hyung saja bahkan sudah lupa itu…”

Heechul tertawa kecil, “Dia nggak ada disitu…”

Aku segera menoleh kaget mendengar pengakuan itu. Dia ingat?? “Eh??”

“Um, aku akhirnya ingat. Mi In-ah yang dulu bukan teman kampusku, kami hanya tinggal satu atap sewaktu aku kuliah. Ah, boleh aku duduk disini, Siwon-ah?” katanya, menunjuk bangku panjang di depan kolam ikan koi taman kantorku. Aku mengangguk cepat-cepat.

“Aku masih lupa namanya karena hidupku kini dipenuhi Mi In-ah ku sekarang, pacar kesayanganku Park Shinji. Oh ya, dia masih belum datang kemari? Dia masih bersikeras ingin bersama bajingan perebut pacar orang itu?? Aah… Kapan aku bisa bebas, Siwon-ah? Aku ingin cepat-cepat menyelesaikan kadoku untuk merebut kembali hati Mi In-ah…”

Aku menghela napas dalam hati. Kado, maksudmu? Patung tanah liat berbentuk wajah Park Shinji berwarna merah yang ada di kamarmu itu, maksudmu? Itu kado terburuk yang bisa seorang pria berikan pada wanita. So creepy. Adiknya, Kim Ryeowook yang seorang pria itu saja langsung menjerit begitu menemukannya di dalam kamar sang kakak sulung yang sebelumnya tak pernah berani dimasukinya karena larangan Heechul. Dan ternyata kamar itu semenyeramkan yang bisa dibayangkan: gelap, berantakan, dan penuh dengan foto-foto Park Shinji yang memenuhi dindingnya.

Akhirnya aku hanya bisa nyengir, mengalihkan pembicaraan lagi ke arah yang benar, “Ooohh… jadi Mi In-ah yang dulu itu tinggal seatap dengan Hyung? Satu kos?” Lee  Sojin? HG? lanjutku, hanya mampu dalam hati tapinya.

Ia mengangguk, seperti langsung lupa lagi dengan celotehannya tentang Park Shinji tadi. Ah, mengalihkan perhatiannya semudah mengalihkan perhatian bocah umur 5 tahun… “Eo (Iya). Rumah kos. Ah… memori masa lalu. Zaman sekarang anak-anak kuliahan tinggalnya sudah di apartemen, ya, Won? Kalau dulu, anak-anak yang kuliah di luar kota, tinggal bersama-sama di rumah kos. Bareng bos pemilik rumahnya juga, berbagi kamar mandi, setiap keluarga bos ada yang ulang tahun, nyonya bos memesan ayam goreng untuk kami makan bersama. Kekeluargaan. Menyenangkan sekali.”

“Apa hyung masih ingat nama-nama orang yang kos bareng hyung dulu?” tanyaku, sedikit ragu mengeluarkan kata berikutnya, “H… G…?”

SHEESS~~

Suara angin musim gugur yang bersentuhan dengan daun-daun kering seketika jelas terdengar karena begitu aku menyebutkan dua huruf itu, Kim Heechul yang barusan masih begitu ceria tiba-tiba bungkam seribu bahasa. Ya Tuhan, berurusan dengan memori campur-campur seperti ini begitu membuatku gemas. Mungkin takdirku memang hanya menjadi seorang polisi, bukan psikiater. Haruskah memang sejak awal aku menyerahkan penanganannya ke RSJ di bawah pengurusan pengadilan?

“Apa itu HG? Merek handphone yang itu?” biarpun ternyata, ia malah menjawab dengan bingung, seperti baru pertama mendengar inisial itu. Yang diakhiri dengan plesetan garing pula.

“LG, hyung, LG.” koreksiku malas. Ia menepuk dahinya seraya tertawa girang. Tapi tentu saja, tak ada waktu untuk ini. Aku tetap harus kembali ke jalur. “Lee… Sojin… Kalau Lee Sojin… apa hyung mengingatnya?”

Kembali, kali ini Kim Heechul diam seketika begitu mendengar sebutan nama itu. Lama kutunggu mulutnya membuka… Sebelum akhirnya, menundukkan kepala, ia berkata lirih, “Kepalaku sakit, Won. Bisakah kita masuk saja?”

Inhale… exhale, Hyung.” Pintaku seraya mencontohkan menarik napas dalam-dalam dan membuangnya pelan-pelan. “Kita kan sedang menikmati udara segar, siapa tahu sakit kepala Hyung bisa segera hilang. Ne?” Kita sedang berpacu dengan waktu, Kim Heechul. Please.

“Aniya, Siwon-ah. Aku… capek.”

“Capek??” entah bisikan setan dari mana, tiba-tiba aku melupakan segala saran yang Yora berikan tentang bagaimana menangani Kim Heechul. Suaraku meninggi seketika mendengar alasan yang ia berikan. Bagaimana mungkin ia berkata seperti itu?? Harusnya itu perkataanku!! “CAPEK? Memangnya apa yang kamu lakukan?? Kamu bahkan nggak melakukan apa-apa hari ini!!”

“Whoaaa… Sunbaenim, tahan!” biarpun sebelum emosiku lebih meluap lagi, Myungsoo yang baru saja keluar lewat pintu samping kantor untuk merokok memergokiku. Ia segera berlari dan menahan tubuhku yang rasanya sebentar lagi sudah siap gantian menarik kerah baju tahanan Kim Heechul, seperti balasan perbuatannya padaku saat interogasi sebelumnya.

“Hah… hah… hah…” napasku terengah-engah dalam rengkuhan tangan Myungsoo di kedua lenganku. Mencoba mencari oksigen sebanyak-banyaknya demi mendinginkan lagi kepalaku. Tapi dia, Kim Heechul, dia tetap menundukkan kepalanya, menutup kedua telinganya. Kakinya bergerak cepat menginjak-injak jalan konblok di bawah bangku taman yang ia duduki, seperti orang sakau. Aku memperhatikan itu semua, dan akhirnya aku menyerah. Kupejamkan mataku seraya memberi sinyal pada Myungsoo untuk melepaskan pegangannya. Myungsoo menurut, dan begitu saja, aku pergi dari situ. Saat itu, aku sempat berharap aku juga seorang perokok yang bisa dengan mudahnya mengatasi stres hanya dengan isapan beberapa batang ber-nikotin itu.

Buntu lagi.

Biarpun setelah percakapan itu—dan setelah aku memperoleh kewarasanku kembali, aku jadi makin yakin kalau Lee Sojin adalah kunci dari ini semua. Maksudku, ia tak merespon saat aku membicarakan HG, tapi tiba-tiba langsung sakit kepala begitu nama Lee Sojin disebut. Apakah itu bukan karena ia tak ingin mengingat-ingat Lee Sojin lagi? Aku memang belum menemukan foto atau identitas lainnya (sedang dicari ke Bagian Administrasi Kependudukan/Adminduk, tapi ada berapa Lee Sojin yang tinggal di Gangwon-do 6-7 tahun yang lalu??), tapi aku yakin dialah Mi In-ah yang asli. Pasti ada kemiripan antara Lee Sojin dan Park Shinji, makanya Kim Heechul memilih membuntutinya. Dan aku yakin sekali, HG itu adalah sahabatnya. Yang dia sebut saingan cinta segitiganya itu.

Bagaimana? Analisis yang bagus bukan?

Tapi buat apa analisis yang bagus kalau tidak ada bukti? Lagipula aku juga belum menemukan apapun yang berhubungan dengan ‘Pernikahan rahasia’. Apa HG dan Lee Sojin akhirnya menikah? Tapi kenapa harus rahasia? Apa salah satu dari mereka adalah buronan polisi? Mafia? Artis terkenal?

Haaahh… Maka akhirnya disinilah aku, kembali lagi dengan strategi sebelumnya: menghubungi teman-teman Kim Heechul yang belum sempat kami hubungi. Berharap ada yang mengingat siapa teman terdekat Heechul saat kuliah. Atau ada yang mengenal penghuni lain rumah kos itu saat Heechul tinggal disana. Aaah… padahal ini sudah hari terakhir…

 

D-Day. 14.00

3 jam sebelum laporan

“Sunbaenim! Ada kabar dari Bagian Administrasi Kependudukan!” seruan Myungsoo seketika membuatku kembali mengangkat kepala penuh harap. Pria yang baru ditempatkan sekitar 3 bulan di divisiku pasca lulus dari Akpol itu terburu-buru membawakan map hijau yang baru ia terima ke mejaku, membukanya. “Jadi… setelah dikerucutkan, Lee Sojin, 6-7 tahun lalu berusia sekitar awal 30, beralamat di Jongwondae-gil… adalah orang ini.”

Aku menjulurkan leherku untuk melihat hasil print KTP atas nama Lee Sojin yang sudah diperbesar seukuran A4 itu. Mengernyit, aku dan Myungsoo saling bertatapan sebelum kompak berkomentar, “Nggak mirip…”

“Betul cantik sih, pantas kalau dia terkenal sebagai mi-in, tapi nggak ada mirip-miripnya dengan Park Shinji…” lanjut Myungsoo sambil garuk-garuk kepala.

“Dan buat nyari yang kayak begini, orang Adminduk butuh 2 hari??!!”

“Sunbaenim, hari kerjanya kan baru hari ini…”

Ah, aku lupa. Yang suka lembur di saat weekend untuk mengejar kasus ya hanya kami saja. Divisi Investigasi Kepolisian. Kantor pemerintahan lain jelas tetap mengikuti jam kerja normal: Senin-Jumat, 8 to 5.

“Argh, tiba-tiba kepalaku sakit.”

“Mau kuambilkan obat dari pacar Sunbaenim yang untuk Kim Heechul itu?”

Aku buru-buru mendelik ke arah Myungsoo yang sekarang sudah cekikikan. Bisa-bisanya dia masih bercanda di saat seperti ini. Tapi yang dipelototi malah mengulurkan kedua lengannya ke bahuku, menepuknya dua kali, “Sudahlah Sunbaenim, Kim Heechul juga nggak bisa diajak bekerjasama lagi—karena Sunbaenim juga kan? Tiba-tiba ngamuk kemarin.“ bukanya gamblang, sudah tak peduli lagi pelototanku atas sikapnya. “Ayolah, mungkin kita memang bukan ahlinya di bidang ini. Psychopath has to go psychiatry, not us. Bukti-bukti yang kita kumpulkan sudah cukup untuk menuntutnya ke pengadilan sebagaimana permohonan pelapor, biarkan pengadilan yang mengurusnya dengan bantuan RSJ pemerintah… Oke?”

Perlahan kuhela napasku. Haruskah…?

 

***

Malamnya,

“Aku… sungguh nggak rela. Ini nggak benar. Okelah bagaimanapun dia memang akan ditangani psikiater, tapi bukan sebagai tersangka. Dia bukan penjahat, dia sama sekali nggak punya niat jahat. Ingatannya hanya terdistorsi, itu juga hanya di bagian kisah cintanya. Sisanya dia mengenali seluruh keluarganya, masih menjalani pekerjaannya sampai sebelum ditangkap…”

Yora menatapku dengan pandangan yang begitu teduh, “You’re too attached to him.”

I am.” kataku lirih, mengakuinya. “I am.”

Gadisku tersenyum, menggenggam tanganku yang dua kali lipat besar tangannya dengan erat. Biarpun mungil, tangannya terasa hangat. Kukecup puncak kepalanya yang bersandar di bahuku, di sofa ruang tengah rumah kontrakanku bersama Yesung. Ah, begini begitu nyaman. Melepas hari yang berat dengan berkeluh kesah pada orang yang kau cintai betul-betul membantuku merelakan segalanya.

Tadi sore, akhirnya yang dapat aku dan Myungsoo serahkan pada Komandan Jo adalah laporan penuntutan Kim Heechul ke pengadilan, alih-alih pembelaan terhadapnya. Hanya itu yang dapat kami kumpulkan, ujung-ujung kasus ini masih menyimpul, yang belum bisa kutemukan pengurainya. Sedikit lagi, aku percaya itu, sayangnya waktu kami telah habis. Komandan Jo hanya tersenyum menerima laporan kami, mengatakan kami sudah bekerja keras. Aku tahu ia juga sudah mendapat tekanan dari Kepala Kantor, tapi ia tak pernah mengatakannya. Di luar tampilannya yang ‘di luar nalar’, harus kuakui ia sangat bertanggung jawab. Ia hanya mengatakan kalau hari ini, aku dan Myungsoo harus pulang tepat waktu. Beristirahat setelah 2 malam berturut-turut tidak pulang ke rumah.

“Percayalah kalau ini memang yang terbaik, Dear. Kamu sudah berupaya sebaik-baiknya. Oke?”

“Hm.” Aku mengangguk pada penghiburan Yora barusan, biarpun masih mengulum senyum pahit. “Anyway, kamu masih pulang kesini, memang rumahmu masih sepi?”

Yora segera tertawa mendengar pertanyaanku, memukul lenganku ringan, “Kamu membuatku terdengar seperti anak broken home yang nggak menyukai rumahnya sendiri, deh. Aku MAIN, tahu, kesini. Aku tetap akan PULANG ke rumahku sendiri jam 9 tepat seperti biasanya. Sorry.”

Aku ikut tertawa mendengar statement-nya. Begitu pulang tadi aku memang sudah menemukannya disini, sedang membaca komik yang kuyakin diambilnya dari kamar Yesung. Sebagai dokter magang, kerjanya memang ber-shift, dan sejak kemarin dia kedapatan shift malam yang membuatnya sudah pulang kerja tengah hari tadi. Sudah seminggu ini juga rumahnya yang biasanya selalu ramai tiba-tiba sepi karena seluruh anggota keluarganya sibuk dengan urusan masing-masing, yang membuatnya akhirnya lebih suka pulang kemari dan mengurus ‘bujang-bujang kacau’ sepertiku dan Yesung yang seperti sudah lupa bagaimana rasanya diurusi oleh orang lain, oleh sebab itu begitu mengapresiasi kehadirannya. Dan sepertinya Yora menyukai itu.

“Tapi iya sih, eomma dan appa baru pulang minggu depan dari seminar appa di Hongkong, Donghae oppa juga kayaknya nggak kelar-kelar diklatnya… Mentang-mentang pegawai pindahan di kantor kamu ya makanya dikejar diklat terus? Kayaknya kamu dulu nggak gitu, deh.”

Kakak angkat Yora, Lee Donghae, memang juga seorang polisi dan bekerja di kantor yang sama denganku, divisi yang sama pula di bawah pengawasan Komandan Jo Kwon. Sayangnya sejak awal bulan ini dia sedang mengikuti Diklat Penyidikan Sindikat Narkotika di Jeonju, kalau tidak ya sudah pasti dia juga diterjunkan dalam kasus Kim Heechul. Mungkin saja kalau ada tambahan orang, kasus ini bisa selesai dengan baik… Tuh kan, aku menyesalinya lagi.

“Aku juga gitu, tahu.” jawabku akhirnya, mencoba menghapus rasa sesal yang tak seharusnya tadi dengan bercanda dengan kekasihku, mengacak rambut ikal panjangnya yang selalu rapi bak model iklan shampo. Ia memukul tanganku pedas, dan aku tertawa-tawa. Park Yora memang selalu benci kalau ada orang yang membuat tatanan rambutnya rusak… yang malah makin membuatku gemas untuk menjahilinya. “Kamu saja yang waktu itu masih histeria baru mulai magang, jadi sibuk sendiri… Nggak tahu kan tunangannya lagi ngapain?”

“Cih.” Yora mencibir seraya melipat tangannya di depan dada, sok ngambek. Biarpun tak lama, karena lihat saja, kini tawanya sudah kembali terpecah dan mulai berceloteh lagi. Gadis ini memang dari luarnya saja terlihat anggun dan princess-like, nyatanya kalau dia sudah merasa nyaman dengan seseorang, bawelnya luar biasa. She nags so much. Kurasa jika sudah berkeluarga nanti, ia akan jadi ibu-ibu yang ‘ibu-ibu’ sekali.

Not that I’m complaining, though. Aku malah senang sekali sering-sering ‘diceramahi’ olehnya. Artinya ia memperhatikanku.

“Bagaimana dengan Eunhyuk hyung?” aku menyebut nama kakak laki-laki Yora satu lagi, Lee Hyukjae alias Eunhyuk. Ia dan Donghae hyung adalah kembar. Kembar tiga, lebih tepatnya. Kembar tertua bernama Lee Sungmin yang seorang musisi dan sekarang tinggal di dorm agensinya semenjak memutuskan masuk major label. “Kurasa menjadi pemilik studio dance nggak akan begitu menguras waktu. Ia juga hanya turun langsung mengajar di beberapa kelas, kan?”

Oh, don’t make me talk about him.” jawab Yora seraya memutar kedua bola matanya. “Sekarang ini, waktu kosongnya seakan sudah dipersembahkan untuk sang pacar seorang: Kim Saera. Bukannya aku nggak suka Saera sih, she’s so lovely. Tapi oppa jadi lupa sama adiknya…”

Sejenak, aku yang barusan ingin menjamah kue kering yang baru dibuat Yora saat menungguku tadi di atas meja, langsung terdiam. Aku seperti mendengar nama yang akhir-akhir ini begitu familiar… “S-Siapa…? Siapa nama pacar Eunhyuk hyung tadi?”

Yora menatapku bingung, “Saera, Kim Saera. Wae? Yang adiknya Yesung itu… Masa sih kamu belum pernah bertemu dengannya?”

 

“Adikku juga namanya Yesung, lho, siapa tahu orang yang sama.”

 

Seketika aku menganga. Ini nggak mung—

BRAKK!! Tiba-tiba pintu masuk di samping kami dibuka dengan begitu kasar. Aku dan Yora sampai terlonjak dibuatnya, “Yesu—“

“CHOI SIWON!” bentak Yesung memotong sapaan kami, seraya terburu-buru masuk ke rumah bahkan tanpa melepas sepatu boot-nya dan masih lengkap dengan pakaian seragam polantasnya. Ia tak membuang waktu untuk mencengkram kedua bahuku kuat saat kami sudah berhadapan. “Katakan padaku, kasus stalker dengan gangguan jiwa yang kamu tangani itu, apa dia bernama Kim Heechul?? APA BENAR PRIA DENGAN TUDUHAN PSIKOPAT YANG KAMU TAHAN ITU BERNAMA KIM HEECHUL???”

 

***

Hari-H Penyerahan Kasus ke RSJ

Hari ini, aku sama sekali tak ada muka memandang Kim Heechul. Entah kenapa, aku merasa bersalah walaupun jelas aku tidak melakukan kesalahan apapun. Tapi nyatanya hatiku masih begitu berat. Aku masih merasa ini bukan hal yang benar. Melihatnya dipakaikan jaket pasien jiwa oleh petugas RSJ membuat darahku mendidih. Tidak, sungguh ini tidak benar!

Di belakangnya berdiri Yesung dan Saera, kedua adiknya yang baru kuketahui kemarin kalau mereka bahkan berhubungan. Kalau kecurigaannya bahwa Yesung temanku adalah Yesung adiknya adalah benar. Ah, salah sendiri ia bahkan tidak mengingat nama asli adiknya sendiri. Yesung sendiri bilang kalau itu kemungkinan karena sejak kecil, orang-orang terlalu terbiasa memanggilnya dengan panggilan Yesung, alih-alih nama aslinya yaitu Kim Jongwoon. Dan Heechul, adalah tipe pria cuek yang sangat praktikal. Apa yang sering diucapkan itulah yang akan selalu ia ingat. Tak ada yang pernah menyebut nama Jongwoon di rumah, maka nama itu pun terlupakan olehnya.

Yesung terlihat menggigit bibir dari balik kursi yang diduduki Heechul di hadapan meja kerjaku. Aku sedang menyelesaikan beberapa dokumen pengantar yang harus dicap jempol oleh Kim Heechul sendiri, sebelum ia kami serahkan kepada pihak RSJ di bawah naungan pengadilan negara. Dan sungguh, aku mengerti perasaan sahabatku. Selama ini, nyaris setiap hari aku menceritakannya perkembangan kasus yang kukerjakan, tentang seorang tahanan aneh yang tak pernah kusebutkan namanya demi menjaga kode etik kepolisian. Siapa yang sangka bahwa itu ternyata adalah kakak sulungnya sendiri?? Betapa kedua adik bungsunya, Ryeowook dan Saera, begitu rapat mengunci mulut mereka dan baru membukanya ketika Heechul akhirnya sudah harus dipindahkan ke RSJ. Biarpun tentu mereka belum sampai hati mengabarkan hal ini ke kedua orangtua mereka yang tinggal di Cina karena tugas sang ayah.

“Maaf.” Maka hanya itu yang bisa kukatakan pada Kim Heechul, saat tiba giliranku mengucapkan selamat jalan padanya. Myungsoo sudah terlebih dulu melepas dengan memeluknya barusan, yang hanya bisa dibalas pria cantik berambut gondrong itu sekedarnya karena tangannya terikat di jaket pasien.

Pria bertubuh tinggi kurus itu tersenyum lebar menatapku, menggeleng. Dari dekat begini, ia makin terlihat seperti anak-anak tanpa dosa. Matanya jernih dan senyumnya tulus. Betapa menyesal aku—

“TV…!!” biarpun belum juga kalimat di kepalaku selesai, suara nyaring seorang pria yang kukenal jelas sudah memotongnya diikuti keluarnya pria itu dari ruangannya sendiri di belakang meja kerjaku. Ya, siapa lagi kalau bukan komandan yang paling nyentrik di Divisi Investigasi, yang—harus kuakui—adalah atasan langsungku: Komandan Jo Kwon. “Nyalain TV-nya, TV-nya! Lagi ada press conference nih, aktor top Han Geng itu, mau klarifikasi gosip yang bilang dia sudah menikah! Wah, seru nih. Ayo cep—”

“YAA!” aumanku seketika bangkit juga. Aku bahkan tak peduli dia atasanku atau apa. “Pak! Ini masih jam kerja, dan SAYA sedang bekerja!”

“Geng… Han Geng…”

Biarpun reaksi Kim Heechul yang kemudian lebih mengalihkan perhatianku dibanding meneruskan marah-marah pada Komandanku sendiri. Aku, Myungsoo, Yesung, Saera, dan petugas dari RSJ kontan terkejut begitu melihat pria itu tiba-tiba terjatuh lemas, seperti kehilangan seluruh tulangnya hanya dengan melihat pemandangan di televisi. Air matanya keluar dengan begitu deras, tatapannya nelangsa menatap televisi, tempat sebuah tayangan konferensi pers dari aktor terkenal Han Geng yang kuketahui dengan pasti adalah idola Yora sejak masih kuliah dulu, dan juga istrinya yang tak pernah diketahui publik selama 2 tahun ini: Lee Sojin.

Seketika aku dan Myungsoo terkesiap, dan saling tatap satu sama lain.

H.G. dan Lee Sojin

‘Pernikahan rahasia’.

Jadi ini maksud semua itu??? HG, sahabat Kim Heechul, adalah aktor terkenal Han Geng, dan Mi In-ah adalah Lee—

Bukan, biarpun begitu melihat kembali wajah close-up Han Geng di televisi, suara hatiku segera berkata lain. Han Geng… begitu mirip Park Shin—bukan, lebih tepatnya Park Shinji, pelapor kasus ini, seperti merupakan versi wanita dari sosok Han Geng. Garis wajahnya, bentuk hidungnya, bahkan matanya…

Dan di saat itu aku langsung tersadar. Kalau selama ini kami semua tertipu. Kalau Mi In-ah bukanlah Lee Sojin. Mi In-ah yang asli, Mi In-ah yang terus membayangi Kim Heechul, Mi In—ah yang menjadi penyebab Kim Heechul menjadi seorang stalker dan masuk ke dalam penjara… adalah Han Geng.

 

END

 


Epilog

Han Geng adalah aktor pria berkebangsaan Cina yang saat ini sedang berada di puncak kesuksesannya di industri entertainment Korea. Debut sekitar 4 tahun lalu sebagai seorang penyanyi pop, seiring berjalannya waktu Han Geng mulai merambah ke dunia akting yang saat ini akhirnya menjadi fokusnya. Namanya mulai mencuat sejak ia membintai drama akhir pekan yang ternyata digandrungi para ibu dan remaja putri, dan sejak itu jam terbangnya pun semakin tinggi. Ia pun kembali mengeluarkan album, yang juga sukses. Berbagai tawaran iklan pun mampir dan disabetnya, hingga tahun lalu ia bahkan dicap sebagai ‘Raja Iklan’. Sayangnya, kemarin akhirnya banyak hati yang akhirnya harus patah karenanya. Siapa yang sangka bahwa selama 2 tahun ini, bintang terkenal Han Geng ternyata telah menikah dengan kekasihnya yang jauh lebih tua dan tak diketahui publik?? Dan istrinya bahkan baru saja melahirkan putra pertama mereka. Hal yang kukira Yora juga akan shock dibuatnya… nyatanya tidak. Mengapa? Karena ternyata, ialah dokter yang membantu persalinan istri Han Geng itu sendiri. Dunia begitu sempit, eh?

Sehari setelah penanganan Kim Heechul diserahkan kepada RSJ di bawah naungan pengadilan negara dan juga konferensi pers itu, aku pun mengundang Han Geng ke kantor untuk sedikit meminta keterangan tentang Heechul dan hubungan mereka dulu, mencoba mengonfirmasi analisisku lagi. Tentu saja, tidak mudah menghubungi Han Geng apalagi memintanya bertemu pasca konferensi pers-nya kemarin, tapi begitu mendengar kata ‘Kim Heechul’, tiba-tiba kontak sudah berpindah langsung dari manajer ke sang bintang itu sendiri. Ternyata Han Geng juga selalu menantikan kabar dari Heechul. Ternyata mereka betul adalah dua orang sahabat. Dua orang sahabat dengan ikatan begitu dalam, yang dipaksa berpisah karena salah satunya menemukan cinta.

“Aku hanya sebulan tinggal di kos Sojin sehingga wajar kalau tak ada orang yang menyadari keberadaanku sama sekali, apalagi sampai mengingatku. Tapi di luar itu semua, Heechul membentangkan tangannya dan menyapaku duluan sebagai seorang teman. Aku, seorang remaja 22 tahun yang bermimpi jadi artis di negeri orang, dengan bahasa Korea yang bahkan tak sempurna, tapi dengan sabar Heechul mengajariku semuanya. Kami bermain bersama, membuat guratan nama kami di pilar kayu rumah kos sebagai tanda kalau persahabatan kami tidak akan pernah luntur seperti guratan yang tak akan pernah hilang walaupun kayu itu termakan usia.”

Pada kalimat itu, aku dan Myungsoo yang baru datang sehabis membuat kopi di pantry tersenyum, “Kami melihatnya.”

“Ne?”

Myungsoo meletakkan dua cangkir kopi yang ia buat untuk Han Geng dan manajernya di atas meja tamu terlebih dulu sebelum melanjutkan, “Guratan itu. Kami melihatnya. K.H.C + H.G. Oh, silakan kopinya.”

Han Geng dan sang manajer mengangguk. Aktor berkulit coklat itu menyesap kopinya baru melanjutkan, “Aku selalu merasa… aku bisa lolos audisi pun salah satunya adalah karena andil Heechul yang membuatkanku foto profil yang begitu bagus dengan kameranya. Heechul jugalah orang yang paling bahagia saat tahu aku mendapat kontrak keartisan yang kuinginkan, tapi sayangnya, saat itu aku lebih senang membagi kebahagiaanku dengan Sojin.”

“Saat aku keluar dari rumah kos untuk tinggal di dorm agensiku, Heechul terlihat cemberut tapi aku tidak begitu ambil pusing terhadap itu, dan malah menitipkan Sojin padanya. Saat itu, sungguh aku tidak pernah menyangka kalau itu akan menyakiti hatinya, bahkan membuatnya harus berurusan dengan hukum dan menjadi karakter seperti yang Bapak-Bapak Polisi ceritakan. Aku selalu melihat Heechul sebagai pribadi yang easy going sehingga kupikir ia akan baik-baik saja, bagaimanapun ia kuliah disana sehingga pasti ia masih akan punya banyak teman. Aku sungguh tak tahu kalau sebagaimana Heechul adalah sahabat pertama dan satu-satunya yang aku punya, begitupun aku baginya. Aku tak tahu sebegitu besar artiku baginya sampai membuatnya seperti itu…”

Sesaat, Han Geng terdiam. Kepalanya menunduk, kedua tangannya terlihat mengepal erat di atas lututnya yang terbalut celana bahan bermotif kotak-kotak coklat Burberry. Manajernya yang bertubuh sedikit tambun mencoba membuatnya lebih baik dengan mengipasinya menggunakan telapak tangan.

…Yang membuatku sedikit mengernyit. Yah, setidaknya manajer itu telah berusaha.

Han Geng menarik napasnya berat sebelum melanjutkan, “Sayangnya, begitu aku kembali lagi untuk menjemput Sojin di saat aku sudah cukup sukses, Heechul sudah tidak tinggal disana lagi. Ia sudah lulus setahun sebelumnya dan memutuskan pergi dari situ. Dan lagi-lagi, aku tidak berpikir begitu jauh. Aku pikir itu hal yang wajar karena semua mahasiswa yang telah lulus pasti akan pulang ke kampung halamannya. Aku mencoba menghubungi Heechul untuk mengundangnya sebagai saksi pernikahan kami. Tak ada yang  tahu perihal pernikahan kami selain manajerku ini, dan satu orang lagi yang aku ingin itu adalah Heechul. Sayangnya ia tak pernah membalas.”

 

Aku bahkan diundang ke pernikahan rahasia mereka sebagai sahabat, tapi bagaimana aku bisa datang?? Katakan padaku bagaimana aku bisa datang??!!

 

Flashback di kepalaku terbaca jelas seakan itu baru terjadi kemarin. Itulah sebabnya Heechul begitu emosi… Sebelumnya aku berpikir ini masalah rebutan wanita, yang wajar seorang pria begitu emosi jika wanita yang dicintainya berakhir dengan sahabatnya sendiri. Tapi ketika aku mulai mencium kalau sesungguhnya justru Heechul yang tidak ingin sahabatnya diambil oleh orang lain, jujur aku merasa aneh. Dan sedikit bergidik. Apa jangan-jangan orientasinya…

Biarpun cerita dari sisi Han Geng ini akhirnya berhasil menetralisir itu. Mendengar kisahnya, aku kembali teringat kalau Heechul memiliki kepribadian yang ekstrovert di luarnya saja, dan introvert di dalam. Sama sepertiku. Jelas saja ketika ia akhirnya bertemu seseorang yang begitu nyaman bersamanya, ia menjadi posesif dan seakan tak ingin membaginya dengan orang lain . Sama seperti saat aku menemukan Yora. Untung saja, Yora perempuan.

“Anda… mau ikut dengan saya menemui Kim Heechul?”

___________

 

CKLEK.

Bunyi kunci kamar yang diputar oleh perawat RSJ yang menemani kami langsung membuat pria muda berseragam pasien di dalamnya menoleh ke arah sumber suara. Helai-helai rambut sebahunya yang bergelombang nyaris menutupi setengah wajahnya yang masih terbilang tampan, biarpun kini lebih tirus dari sebelumnya. Sehari disini seakan telah mengambil setengah jiwanya yang dulu begitu meletup-letup, selalu protes akan apapun yang aku dan Myungsoo lakukan. Kim Heechul yang kami lihat sekarang… terlihat hampa. Dan kupikir kami menyerahkannya kepada penanganan yang ahli di bidangnya??

Biarpun tak lama kami melihat kehampaan seorang Kim Heechul, karena hanya dengan beberapa detik tolehan ke arah pintu, matanya yang tadinya terlihat kuyu tanpa percikan rasa percaya diri seperti dulu lagi itu kini sudah membulat, mengerjap-ngerjap seakan tak mempercayai penglihatannya. Masih menolak apa yang ia lihat, kini disingkirkannya jauh-jauh helai-helai rambut yang menutupi sebelah matanya, menyelipkannya rapi-rapi ke belakang telinga sendiri agar dapat melihat lebih jelas, “H-Han-ah… Apa itu kau?”

“Eo, ini aku, Heechul-ah. Kim Heechul, ini aku…”

Dan akhirnya, keduanya bertemu. Han Geng segera menghambur memeluk erat Heechul yang seakan hanya bisa terpaku sambil menangis di pinggir tempat tidurnya. Tubuhnya sedikit gemetar dalam pelukan sang sahabat, begitu perlahan baru bisa membalas dengan menggenggam kedua sisi kemeja coklat Han Geng. “A-Aku… Aku… Sojinie noona…”

“Ssshhh. Ara, gwaenchana (Aku tahu, nggak apa-apa).” balas Han Geng menenangkan, seraya mengusap-usap punggung sahabatnya itu.

Kim Heechul menggeleng, “Aku… bagaimana mungkin aku bisa menjaga noona seperti pesanmu, kalau aku bahkan membencinya…” racaunya, dengan dahi bertumpu pada bahu lebar sang aktor, menahan tangis. “Terus terang, aku merasa Sojinie noona merebutmu dariku. Aku yang berteman denganmu lebih dulu, tapi kamu begitu tergila-gila dengannya. Aku merasa… ditinggalkan…”

“S-Setelah kamu pergi, rumah kos kita menjadi momok untukku. Aku… benci bertemu noona, karena itu setelah lulus cepat-cepat aku kembali ke Seoul dan meninggalkan rumah kos untuk selamanya. Aku berusaha mencari teman baru, mencari kamu yang baru. Berkarir sebagai fotografer lepas, tanpa aku sadar obyek yang kupotret lewat lensa kameraku selalu tersisipkan fotomu. Cih, wajahmu… wajahmu ada dimana-mana. Jadi bagaimana mungkin aku bisa lupa??!”

Dari pintu kamar Han Geng yang terbuka, aku, Myungsoo, dan manajer Han Geng menyaksikan itu semua. Manajer Han Geng bahkan sudah dari tadi sibuk menghapus air mata yang ikutan jatuh di pipinya dengan sapu tangan, dengan Myungsoo yang memang begitu manly menatapnya dengan dahi mengkerut tanda tak mengerti. Aku sendiri hanya menonton dengan khidmat seraya bersandar di kusen pintu, sebisa mungkin tidak menunjukkan reaksi apapun. Karena aku tidak berhak, sungguh, memberikan penilaian atas apa yang terjadi di hadapanku. Aku senang karena apapun permasalahan yang terjadi di antara mereka akhirnya selesai, tapi di sisi lain aku menyesali pertemuan ini yang begitu terlambat. Berkas Heechul sudah sampai di tangan pengadilan, yang berarti walaupun motif kasus perbuatan tidak menyenangkan yang dilakukan Heechul sudah ditemukan, aku tidak bisa menariknya lagi dan menghentikan proses yang terlanjur berjalan. Paling-paling yang bisa aku lakukan nanti hanya mengajukan pembelaan dengan bukti-bukti yang aku punya, tetapi tetap saja, dengan terpaksa Kim Heechul harus tetap menjalani tahap demi tahap proses pengadilan yang seringnya berlarut-larut.

Kembali lagi pada Heechul dan Han Geng, betapa pria yang disebutkan terakhir merasa begitu bersalah melihat sepatah demi sepatah pengakuan sang sahabat yang ia sampaikan dengan terbata-bata. Betapa ia tak pernah secuilpun berpikir seorang Kim Heechul begitu bergantung terhadapnya, di saat ia selalu merasa kebalikannya. Sejak menginjakkan kaki di Korea, Heechul-lah satu-satunya tempat Han Geng bergantung. Ia menjelaskan semua hal yang tak diketahuinya tentang negara asing itu, dengan sabar mengajari bahasanya, juga mengajarinya untuk tidak mudah dibodoh-bodohi hanya karena orang asing. Han Geng merasa bersalah, tapi kemudian ia teringat, ada satu hal… “Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu.”

Mengernyit, Kim Heechul mengawasi sahabatnya mengeluarkan ponsel dari dalam saku kemejanya. Senyumnya seketika merekah begitu Han Geng menunjukkan foto di dalam ponsel itu, foto seorang bayi laki-laki berbalut selimut putih yang begitu manis… “Nugu… (Siapa…)” tanyanya menggantung, masih tak bisa melepaskan matanya dari layar ponsel itu, menggeser-gesernya untuk melihat berbagai pose lain sang bayi mungil.

“Han Ga-Oh.” jawab Han Geng dengan raut bahagia, senyumnya begitu lebar menunjukkan barisan giginya yang putih. “Baru 1 bulan, putraku dan Sojin. Dia tampan, kan?”

“Eo… Tampan sekali.” jawab Heechul cepat. Sebagai seorang kakak dari 5 orang adik, secara natural ia membangun jiwa kebapakan dan sangat menyukai anak-anak. Ia menatap wajah Han Geng saat membandingkan dengan foto itu, “Mirip kamu, nggak sih?”

“Ya iyalah.” jawab Han Geng bangga. Akhirnya mereka bisa bercakap-cakap dengan nuansa yang kasual lagi. Han Geng tersenyum, dan Heechul membalasnya. Keduanya kini duduk di pinggir ranjang Heechul, berbincang bersisian sembari menatap dinding di hadapan mereka. “Geundae, neo (Tapi kamu)… Serius bukan suka sama aku dalam konteks percintaan kan?”

Menoleh dengan pandang tak percaya, Kim Heechul segera mendecak, “Wah… mentang-mentang aku sampai begini karenamu, kamu mulai ngelunjak? YA, na michyeotnya?? (HEH, memangnya aku sudah gila??) Aku masih suka perempuan, tahu!!”

“Eo, michyeotda, neo (Iya, kamu memang sudah gila).” jawab Han Geng gamblang. “Kalau nggak ngapain kamu ada disini.”

“YA!!!”

Keduanya pun tertawa bersama, begitu lepas dan tergelak-gelak, sampai punggung mereka terhempas ke kasur Heechul di belakangnya. Tawa pertama setelah beberapa tahun yang berat untuk satu sama lain, bahkan bagi Han Geng yang kita kira bahagia karena bisa bersama wanita yang ia cintai, nyatanya ia mati-matian menyimpan pernikahannya dari media. Saat waktu besuk habis pun, Han Geng tak lupa menyemangati Heechul agar cepat sembuh dengan berjanji menjadikan Heechul ayah angkat Ga-Oh ketika ia keluar dari rumah sakit nanti.

Tersenyum, Heechul menatap Han Geng seraya berkata, “Pasti.”

 

END

tumblr_lu83gdxpnm1r43kwwo1_r1_500

 

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on January 15, 2016 in Super Junior, [THE SERIES]

 

Tags: , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: