RSS

[THE SERIES] MIINAH – Part 1

12 Jan

Mendapatkan ide ini karena lirik dan set MV Bonamana~~ Can you believe that I actually got the idea about 5 years ago tapi akhirnya ceritanya baru jadi sekarang?? Hahaha saya memang pemalas T.T Anyways, set MV yang kumaksud adalah bagian gelap-gelapnya yang (for me), terlihat seperti sel penjara yang gelap, tapi ada juga set yang serba putih seperti di rumah sakit (jiwa). Didukung dengan liriknya yang posesif banget… here comes this story. Happy reading! Jangan lupa komentar! 😀

MIINAH – Part 1

Starring: Kim Heechul, Choi Siwon

Written by: lolita309

siwonandheechul

 

Kim Heechul. Itulah nama tersangkaku kali ini. Berani sumpah kalau dia sama sekali tidak mirip psycho atau stalker, atau apalah itu yang menjeratnya ke kantor polisi ini. Kalau ada yang bilang ia model atau selebriti, mungkin aku malah akan lebih percaya. Maksudku, kulit seputih susu, rambut gondrong dicat coklat kepirangan, tinggi-langsing… jelas sekali ciri-ciri seorang kkotminam (cowok cantik). Yah, mungkin memang aku juga harus mengakui kalau terkadang ia suka sekali menyeringai, sendirian, tanpa sebab pula, dan sangat autis kalau sudah bertemu ponselnya. Tapi… bukannya sekarang nyaris semua orang juga pasti autis kalau bertemu ponsel?

“Ibwayo (Tolong perhatiannya).” Aku mengetuk meja interogasi ketika ia tak juga merespon pertanyaan yang barusan kutanyakan karena ya, seperti yang aku bilang tadi, terlalu sibuk dengan ponselnya. Ia masih tak menghiraukan, sepertinya malah makin asik tertawa-tawa sendiri sambil mengutak-atik si ponsel. “IBOSEYO (Mohon perhatiannya).” Tekanku akhirnya, mulai habis kesabaran.

“Ah wae, tto?? (Ah, apa lagi??)” Protes—atau mungkin lebih tepat, ‘rajuk’?—nya, akhirnya mau juga mengangkat kepalanya dari benda itu. Untungnya suaranya pria sekali, walaupun tidak begitu berat, tapi setidaknya aku tidak jadi menganggapnya ‘bencong’ karena tampilannya yang terlalu cantik itu.

“Tolong serius sedikit. Atau ini akan lama.” Tegurku. Ia hanya memutar bola matanya malas sembari kembali menenggelamkan diri di kursi interogasinya. Aku geleng-geleng kepala, terima sajalah tersangka ‘antik’ seperti ini. “Nah, jadi apa motifmu?”

Ia malah bertanya balik, “Motif apa?”

Aku menghela napas, “Kamu dilaporkan, dan memang tertangkap basah membuntuti dan memotret seseorang tanpa izinnya. Apa kamu tahu menjadi stalker seperti itu bisa dituntut sebagai perbuatan tidak menyenangkan?”

“Stalker? Nuga stalker-ya (siapa yang stalker)?” Tanyanya bingung. Biarpun kemudian, seperti orang yang betul-betul tidak tahu apa-apa, ia segera berseru seraya menunjuk dirinya sendiri, “Naega (aku)??”

Kulipat tanganku di dada seraya bersender di punggung kursi, mencoba rileks. Sepertinya kasus ini akan sangat menguras emosiku.

“Ah, cham.” Umpatnya. “Dari tadi aku bertanya-tanya kenapa aku diinterogasi, jadi karena itu? Mereka yang tiba-tiba menyeretku begitu saja, dan kemudian melaporkanku sebagai stalker? Ah, cham. Atas dasar apa??” Tanyanya, geleng-geleng kepala sambil mendecak.

“Sebetulnya bukan mereka yang melapor—”

“Ah, sudah cukup.” Selanya. “Tolong minta pacarku kesini saja, ia yang akan menjelaskan. Tadi aku sedang menuju apartemennya, malah dikira stalker. Siapa yang stalker? Siapa juga yang ku-stalker-i?” Cibirnya.

Aku mengangguk. Ah ya, betul juga. Seharusnya juga sudah sedari tadi aku menghubungi keluarga atau orang yang berhubungan dengannya, kenapa bisa lupa? “Baiklah, siapa namanya? Nomor teleponnya?”

“Mi In-ah.” Jawabnya singkat.

Aku kembali mengangguk seraya mengambil kertas dan pulpen untuk mencatat. “Mi In-ssi? Oke, nama keluarganya?”

“Oh, maaf. Bukan, itu tadi hanya panggilan sayangku padanya. Mi In-ah. Si cantik (mi-in: cantik). Maaf, maaf, aku kebiasaan.” Tiba-tiba ia meralat sambil garuk-garuk kepala malu. Aku mengangguk-angguk lagi. Okelah, jadi SRET, nama Mi In dicoret.

“Baiklah, jadi siapa namanya?”

“Park Shinji.”

TAK. Sekejap kuletakkan pulpenku di meja karena shock. Ia bilang pacarnya bernama Park Shinji? Ketika Park Shinji adalah nama orang yang melaporkannya atas tindakan stalker kemari…

 

***

 

Sehari sebelumnya,

“Maksud Anda ‘stalker?”

“‘Stalker’ boda (daripada stalker)… ‘psycho’ sepertinya lebih cocok…” Wanita berkacamata dengan rambut diikat satu itu menjawab masih dengan nada ketakutan. Tunggu, entah kenapa wajah wanita ini familiar… aku seperti sering melihatnya di suatu tempat. Biarpun akhirnya, aku segera menghapus pikiranku itu dan berbarengan bersama rekanku sesama investigator, Myungsoo, langsung saling pandang seraya mengangkat bahu. ‘Psycho’ berarti lebih parah dari stalker?

“Ini sudah 3 bulan…” Si pelapor melanjutkan. “Awalnya hanya SMS-SMS yang seperti iseng, tapi makin lama semakin menyeramkan… Ia tahu namaku, semua kegiatanku, dan secara berkala aku menerima paket berisi foto-foto diriku yang diambil diam-diam di berbagai tempat. Aku pikir mungkin hanya penggemar rahasia makanya aku mencoba untuk tak ambil pusing. Tapi sejak kemarin… SMS-SMS mulai berdatangan dengan nada mengancam, hanya karena aku memiliki pacar. Awalnya aku tetap mencoba cuek biarpun mulai merasa seram, tapi hari ini, baru saja tiba-tiba ia menelepon, dan ketika aku akhirnya terpaksa mengangkatnya, suaranya… betul-betul dingin dan seram… Aku takut sekali dan segera berlari kesini.”

“Mengancam?”

Ia mengangguk cepat-cepat seraya mengeluarkan ponselnya dari dalam tas, “Ini, SMS ini contohnya. Dan aku juga sebetulnya sudah pernah menyelidiki siapa dia sewaktu aku masih mengiranya hanya penggemar rahasia. Nomornya selalu sama, karena itu mudah sekali memperoleh datanya di operator provider selular. Ini dia. Tolonglah, aku betul-betul takut…” Katanya masih sedikit gemetar, sambil juga menyerahkan sebuah kertas hasil print berisi biodata seseorang. Myungsoo yang dari tadi berdiri di sampingku ikutan melongok demi melihatnya.

heechul-3

“Tampan.” Ia cepat berkomentar.

“Jangan tertipu dan cepat tolong aku!”

“Baiklah.” Aku menengahi mereka, sekaligus menyikut Myungsoo untuk jangan berkomentar yang tidak perlu. “Apa nama dan pekerjaan Anda, tadi?”

“Park… Shinji. Mahasiswi.”

“Oke, Park Shinji-ssi, kami akan memproses dulu laporan Anda. Dan Kim Heechul…” Aku menyebut nama di biodata yang diserahkan Park Shinji tadi seraya masih memerhatikan lekat-lekat fotonya. “…Kim Heechul, kami akan segera melakukan penyelidikan terhadapnya, jika ditemukan bukti yang cukup, saat itu juga kami pasti menangkapnya.”

Dan benar saja, tak perlu menunggu lama, di hari pertama penyelidikan kami terhadapnya, pria Kim Heechul itu sudah tertangkap basah membuntuti pelapor kami sampai ke rumahnya. Bukti foto-foto candid gadis itu yang tersimpan penuh di kamera profesionalnya makin memperkuat tuduhan atas itu. Dan kini, seakan ingin lebih mengokohkan cap ‘psycho’ seperti kata pelapor kami tadi, ia bahkan mengakui pelapor itu adalah kekasihnya sendiri.

 

***

 

“Nggak mungkin.” Tolak tersangkaku begitu aku menceritakan itu semua. Ia terus menggeleng, “Mi In-ah adalah pacarku! Ada apa sih dengan dia??”

“Sudah! Jangan berpura-pura lagi! Kami bahkan sudah punya buktinya!” Aku mengangkat tinggi-tinggi kamera profesionalnya yang kami sita tadi, dan sebelah tangan menunjukkan hasil print SMS ancaman yang ditunjukkan si pelapor kemarin. Pria itu segera melirik tulisan di dalamnya,

 

“Aku kasihan padamu. Percuma, mau kamu mencari kemanapun, nggak akan ada pria seperti aku. Ingat, selama aku masih ada, dunia ini harus terus berjalan mengikuti semua keinginanku. Cuma aku pria yang diciptakan untukmu. Cuma aku.”

 

Dengan cepat, ia segera menatapku lagi dengan pandangan yang seperti berkata “Apa?” dengan sangat jelas. Pandangan yang betul-betul inosen, seperti tidak tahu apa yang salah dengan itu!

“Ya lihat kan? Kamu mengancamnya!” Seruku akhirnya.

“Apa Tuan Polisi juga akan tinggal diam kalau pacarmu tiba-tiba selingkuh dengan orang lain?”

Aku terdiam. Ia kembali menghempaskan tubuhnya di punggung kursi dan segera sibuk mengutak-atik ponselnya lagi (sekarang bahkan ditambah berselca-ria!), autis sendiri lagi, seakan tidak pernah terjadi apa-apa.

“Tapi caramu berbicara…”

“Marah, nggak harus dengan ngamuk-ngamuk kan? Nae style-iya (ini style-ku).” Jawabnya, tanpa sekejap pun mendongak dari ponselnya.

Tapi ‘style-mu’ itu bahkan lebih menyeramkan dari ‘ngamuk-ngamuk’! balasku dalam hati.

“Ah, bagaimana dengan ini?” Aku akhirnya kembali memasang ‘tampang dinas’, seraya mengetukkan jariku di kamera hitamnya yang ada di atas meja. Kembali PD. Bukti yang ini ia nggak akan bisa mengelak hahaha, pikirku. “Untuk apa pacar memotret diam-diam seperti ini? Banyak pula. Cuma stalker yang melakukannya!”

Diam.

Tuh kan, KO telak. “Bagaimana?” Tanyaku lagi, PD sekali. Ternyata dia bukan psycho kok, memang stalker biasa. Akhir-akhir ini di Korea memang sedang marak kasus stalker, dan seperti yang lainnya, ini juga akan selesai dengan mudah.

“Haruskah aku bilang padamu?” Tiba-tiba ia bergumam ragu. Aku menelengkan kepala. Ia menatap wajahku. “Haruskah?”

Aku sukses melongo bingung. Ia masih belum menyerah? “N-Ne, geureoyadwaeyo… (Y-Ya, harus…)” Kini giliranku yang menjawab ragu.

Ia tersenyum sebentar, sebelum menggerakkan telunjuknya ke depan-belakang, isyarat memanggilku. Seperti orang bodoh, aku menurut dan segera mencondongkan badan, “Sebetulnya…” Ia memulai, “…aku sedang membuat kado istimewa untuk Mi In-ah…”

Aku mengangguk-angguk. Lalu…? Sebagai polisi yang baik aku harus memegang teguh asas praduga tak bersalah dan tetap mendengarkannya…

“Ah tapi nggak jadi, deh.”

“YA!!” Seruku sambil menggebrak meja. Baru saja aku berpikir untuk melunak padanya sedikit. “Apa aku perlu memanggil pelapormu, Park Shinji, kemari supaya kamu nggak bisa mengelak lagi, hah??”

“Ah ya, betul juga.” Ia menatapku lagi setelah di jeda sebentar tadi masih sempat mengecek ponselnya. “Betul, betul. Panggil Mi In-ah saja. Tapi sssst, jangan bilang tentang rencana kadoku tadi, ya. Ah, untung saja aku belum jadi membocorkan semuanya padamu tadi.”

“YA!!”

 

“Andwaeyo, andwae. Maldo andwaeyo. Dibayarpun aku tak sudi menemuinya!!” Tapi begitu kutelpon, malah beginilah jawaban dari sang pelapor yang kudapat.

Aku mengernyitkan kening, kenapa makin lama kasus ini makin terasa mengambang? Makin lama si pelapor juga makin terasa mencurigakan…

“Waeyo? Anda tahu, tersangka mengaku pada kami kalau Anda adalah kekasihnya, dan dengan masuk akal ia selalu bisa menjawab semua alasan tindak tidak menyenangkan yang Anda laporkan… Dan kini, sikap Anda yang seperti ini malah membuat kami semakin curiga atas kebenaran laporan Anda. Jangan-jangan, seperti yang tersangka bilang, Anda hanya sedang ingin menyingkirkan dia karena sudah punya kekasih baru?”

“Demi Tuhan dia itu DELUSIONAL, Pak!” Wanita itu cepat memotong perkataanku. “Dia memang selalu menganggapku miliknya. Makanya kemarin aku bilang kalau kata ‘psycho’ lebih tepat baginya kan? Dia bukan sekadar stalker, ia punya dunianya sendiri, dunia yang hanya ada dalam bayang-bayangnya! Oh Tuhan…”

“Dan darimana saya tahu kalau bukan Anda yang berbohong? Masalahnya ia malah menyarankan dan berani saja dikonfrontasikan dengan Anda secara langsung. Tapi Anda…?”

“Sudah kubilang dia itu psycho, karena terobsesi denganku ya pastilah dia ingin kami bertemu. Dia malah pasti akan senang sekali!!” Serunya lagi, sudah terdengar jengkel ke ubun-ubun. “Baiklah, baiklah, oke. Pengacara. Ya pengacara.” Ia akhirnya kembali bersuara, setelah sibuk terdiam setelah ‘lepas kontrolnya’ tadi.

“Hm?”

“Aku akan mengutus seorang pengacara. Aku jamin ia akan tahu semuanya, jadi anggaplah saja dia sebagai aku. Oke?”

“Tunggu, tunggu.” Selaku. “Pengacara? Bukankah itu terlalu berlebihan untuk hanya sebuah permusuhan mantan pacar?”

“SUDAH KUBILANG AKU BUKAN ITU!!”

 

“Gimana, gimana? Dia baik kan, Pak Polisi Choi Siwon? Nggak mungkin dia sampai melaporkanku ke polisi.” Begitu aku menutup telpon, Heechul sudah menodongku begitu saja sambil tersenyum lebar, PD sekali.

Aku memutar mata jengkel, “Diam kau. Dan jangan seenaknya memanggil namaku.”

__________

 

Di rumah, malam harinya

“Aku bisa ikutan gila lama-lama.” Curhatku sambil DUK! menjatuhkan kepala di atas meja makan. Ini bahkan baru hari pertama aku menangani kasusnya. Dan ya ampun… aku tanya serius, dia selalu jawab main-main! Lama-lama dia malah jadi curhat lah, cerita tentang hobinya, kepo tentang profesiku, bahkan sibuk mengomentari dan menyarankan krim macam-macam demi mencegah kulitku yang katanya kalau tak dimulai dari sekarang akan segera keriput! Sialan sekali… Ditambah dengan sikap aneh pelapornya juga, biarpun kalau main aneh-anehan sih ya jelas masih si Kim Heechul itu juaranya. Yang bahkan begitu aku mengatakan kalau sepertinya dengan sangat menyesal kami harus menahannya malam ini di kantor, dengan begitu senang hati ia menyanggupinya, terlihat senang sekali malah! Di saat orang-orang lainnya pasti akan langsung berusaha meminta pilihan status ‘wajib lapor’ saja, dimana mereka bisa tetap pulang ke rumah dan beraktifitas seperti biasanya, hanya secara berkala dan setiap dipanggil harus menghadap, dia malah bilang kalau dia suka dengan suasana kantorku (?) dan tak keberatan ‘menginap’ di sana, hanya meminta supaya ponselnya tetap boleh dibawa ke balik terali besi! Dan akhirnya, sisa jam kerjaku hari ini pun berakhir dengan jadi ‘selebriti sehari’, sakit kepala mendengar bunyi ckrak-ckrek dari ponselnya yang mengarah padaku dan sekeliling kantor. “Apa dia betul-betul nggak merasa sedang di penjara…?” PUKK! Kini pipi kiriku yang sukses mencium meja, sukses terguling demi mengucapkan gumaman penuh stres barusan.

“Kenapa sih?” Dari arah dapur tempat pandanganku kini menghadap, Park Yora, tunanganku, sudah berjalan seraya membawa sebuah panci yang isinya masih mengepul dengan kedua tangannya. “Hm?” Ia menegurku lebih lanjut lagi dengan senyuman dan sentuhan halus di pipiku setelah menaruh panci tadi di atas meja dan melepas sebelah sarung tangan antipanas-nya.

Aku akhirnya mengangkat kepala, “Nggak apa-apa kok.” Balasku dengan senyum juga. Ia mengelus rambutku sebelum mengambil duduk. “Oh ya, kamu pernah punya pengalaman dengan stalker? Kamu tahu kan akhir-akhir ini lagi marak banget, hati-hati ya.”

“Stalker?” Ia menelengkan kepala, sebelum akhirnya tertawa kecil. “Pernah sih, sampai sekarang juga masih.”

Mataku seketika membelalak, “HAHH?? Siapa, siapa? Kenapa kamu nggak pernah bilang?? Nuga, nuguya??” Amukku tak karuan.

Ia makin tertawa, seraya mengarahkan pandangannya ke pintu kamar di sebelah dapur rumah mungil ini. Aku mengikuti pandangannya. Itu kan kamar… “Yes, nggak usah nguping-nguping gitu deh, kebiasaan. Lapar kan? Keluar sini.”

Dan benar saja, tak ada sedetik kemudian, housemate-ku, partner ngontrak bareng rumah ini, si Polantas (Polisi Lalu Lintas) Kim Jongwoon aka Yesung sudah keluar melangkah dari kamarnya begitu saja sambil nyengir kuda dan protes, “Siapa yang stalker sih? Wah, kalbi-da! (Wah, iga!)”

Yora memangkukan dagunya di atas kedua tangan sambil tertawa kecil, “Kalau menurut kamu gimana, Jagi?”

Aku lantas mencibir, mengingat semua ‘loyalitasnya’ pada Yora sejak SMA sampai detik ini, “Stalker. Sasaeng fan. Obsessive, pathetic, jomblo kesepian—”

“YAA!!”

Yora dan aku segera tertawa.

“Apa yang aku lakuin dari SMA itu bukannya stalking, tapi lebih kepada bentuk perlindungan, tahu. Kamu harusnya berterimakasih sama aku… Lagian siapa juga yang nggak akan stalking cewek yang sudah cantik, pintar masak begini… Ah, kalbi, kalbi! Jal meokgesseumnidaa!!” Bela Yesung sebelum dengan cepat berlari ke dapur dan mengambil mangkok dan alat makannya sendiri kemudian menyendok sup iga itu banyak-banyak, memakannya dengan lahap.

“Thank you deh.” Kataku pura-pura tak ikhlas. Karena memang, biarpun terkadang kebiasaannya membuntuti Yora dengan dalih ‘bodyguard’ sejak SMA itu agak menjengkelkan, tapi ia benar, hanya ia satu-satunya orang yang kupercaya menjaga gadis yang sama-sama kami sayangi ini. Dan aku berterimakasih padanya untuk hal itu.

“Eh, ngomong-ngomong kalian ngomongin stalker, lagi ngurusin itu, Won?” Yesung bertanya di tengah kekalapannya menyuap iga empuk buatan tunanganku, yang bahkan aku saja belum menyentuhnya!

“Um, aku juga dari tadi mau tanya itu.” Dukung Yora sambil menyendokkan masakannya ke mangkuk sup-ku dan memberikannya.

Aku menerima mangkuk itu, “Ya… dan tidak.”

“Maksudnya?”

“Kasus ini aneh.” Jelasku. “Stalker atau bukan? Aku sampai bingung siapa yang harus dipercaya…”

Dan dari situlah, semua ceritaku mengalir tentang si stalker yang so-called ‘psycho’ ini, tingkahnya yang memang ‘nyeleneh’, pengakuannya yang bertolak belakang dengan si pelapor tapi sama sekali aku tak menemukan celah mematahkannya, biarpun tentu saja semuanya tanpa merek. Aku masih tetap harus menyimpan baik-baik info personal tentang klien dan tersangka.

“Hai-hetehor?” Yesung cepat menimpali di tengah-tengah kunyahan rakusnya pada si daging favorit. Aku dan Yora mengernyit heran. Cepat-cepat GLEK, Yesung menelan makanannya. “Lie detector, maksudku.”

“Oh.” Komenku. “Sudah, negatif. Dan kalian tahu? Mental age-nya bahkan terdeteksi setara dengan anak umur 5 tahun, yang berarti sangat kecil kemungkinan ia bohong. Dia seputih kertas HVS yang belum pernah dipakai.”

“Kenapa juga harus kertas HVS.”

“Tapi kenapa kamu tetap menahan dia?” Yora bertanya, masih on-track seakan tak menghiraukan tanya Yesung. Dalam hati, aku mengikik puas. HA-HA-HA!

Aku segera beralih padanya, “Itu juga yang aku nggak ngerti, entah kenapa… feeling aja. Dia memang pelakunya, tapi sampai aku dapat bukti lagi, dan selama pelapor masih kurang bisa diajak kerjasama begini, rasanya aku nggak akan punya alasan lagi buat nahan dia lama-lama.”

“Feeling? Memangnya boleh investigator cuma main feeling begitu?”

“Kalau kamu sudah bilang begitu, aku percaya kok. Lakuin sesuai insting kamu.” Yora kembali mematahkan perkataan Yesung begitu saja seraya meraih tanganku yang duduk di sebelahnya. Ia menatapku penuh dukungan dengan sebuah senyum manis.

“Thanks.” Balasku cepat yang balik menatapnya, tak kalah penuh cinta.

“JANGAN-SUKA-PAMER-PERASAAN-BEGITU-DI-DEPANKU.” Yesung buru-buru mengultimatum penuh penekanan sambil tetap sok fokus pada makanannya, meminum kuah sup langsung dari mangkuknya saking malas melihat kami berdua.

Aku dan Yora cepat tertawa. Hahaha, jomblo malang. #plak :p

“Oh ya, balik lagi ke bukti,” Yora tiba-tiba bersuara lagi. “Aku baru ingat, kamu sudah coba kontak provider dan minta rekaman percakapan telepon mereka belum? Tadi katamu si tersangka pernah telpon, terus ngancam gitu kan? Tahulah, percakapan antara sepasang mantan, dan seorang ‘psycho’,” ia membentuk tanda kutip dengan dua jarinya, “dengan korbannya yang nggak tahu apa-apa pasti beda, kan…”

DANG! Dan seketika aku langsung tersadar. Ya, benar sekali. Bodoh sekali aku sampai bisa-bisanya tidak kepikiran hal itu hanya karena terlalu ter-distract oleh keanehan seorang Kim Heechul…

 

***

 

Dan Yora benar. Setelah meminta rekaman percakapan itu (dan juga akhirnya seluruh data SMS dari nomor Kim Heechul untuk Park Shinji sebagai penguat bukti) pada providernya, positif sekali kalau dia pelakunya. Aku bahkan juga merunut seluruh SMS itu sejak awal, dan memang benar-benar terlihat kalau dia sejak lama meneror pelaporku seperti stalker. Semua sudah jelas sekali, maka dari itu kalian tak akan bisa membayangkan murkanya aku ketika dia, masih dengan cueknya, kembali menyangkal.

 

Mi In-ah! Neon naekkeo-ya, naekkeo… (Kamu itu milikku, milikku…) Dan karena kamu milikku, jadi nggak akan ada yang boleh mendampingimu selain aku…”

“K-Kamu siapa sebetulnya?? Aku bukan Mi In-ah, berhenti menggangguku!”

“Ooh… Ssshh, nae Shinji-ya, Mi In-ah, uljima… Jangan nangis dong, tenang aja, biarpun pria itu nantinya menghilang, kan masih ada aku…”

“Kamu siapa sih? Kamu siapa?? Jangan apa-apakan Janghyuk oppa… Ini semua mulai menyeramkan, aku mohon berhenti…”

“Ssshh, uljimara… Ah, tapi biar sedang menangis pun yeokshi, Mi In-ah akan tetap cantik seperti namanya… Oke, untuk sementara sampai sini dulu, nanti kutelepon lagi ya. Saranghanda, Mi In-ah.”

 

Aku menatapnya dengan wajah penuh kemenangan setelah memutarkan salah satu rekaman itu di hadapannya, “See? Dan kamu masih mau ngotot kalau kamu bukan stalker?? Hah??”

Ia terdiam, sebelum akhirnya memutuskan membuang muka untuk berkata lirih, “Aku pacarnya. Aku kekasih Mi In-ah.”

BRAKK!! Tak kupedulikan tatapan orang-orang sekantor akibat gebrakan mejaku, “Lihat ini, ini, ini!” Aku menyebar kertas-kertas berisi SMS-nya dari awal teror pada Park Shinji, dari mulai yang menyatakan ia tahu namanya, ia memperhatikannya dari jauh, laporan seluruh aktivitasnya, segala SMS yang memang hanya akan dilakukan stalker! “Kalau kamu mengaku, hukumanmu akan lebih ringan! Kenapa kamu terus menyangkal sih?? Apa masalahmu??”

Ia masih terdiam menatap lantai, dengan ujung kaki diketuk-ketukkan disana. Aku mendecak seraya menarik seluruh rambut depanku ke belakang. Aku sungguh bisa ikutan gila menghadapinya!!

“Sunbaenim, sudahlah!” Myungsoo yang memang bersamaku menangani ini segera menghampiri. “Benar kata pelapor, dia psycho! Dia gila, jadi kita serahkan saja ke RSJ untuk ditangani lebih jauh, oke?”

“Nggak.” Aku cepat menggeleng. “Nggak. Dia nggak sepenuhnya gila, Myungsoo, aku tahu itu. Untuk hal lain, dia sewaras kita semua. Kamu sendiri dengar pengakuan adiknya kemarin kan? Sudah beberapa bulan ini ia memang jadi jarang pulang maupun pulang larut malam, tapi selebihnya nggak ada yang berubah. Ia tetap berinteraksi wajar dengan semua orang. Kegilaannya hanya berlaku untuk Park Shinji seorang!” Seruku pada Myungsoo, sebelum kembali beralih pada tersangka kami. “Dan Anda,” kataku mengultimatum. “Anda resmi ditahan hari ini!!”

Aku tahu, ada sesuatu dengan dia. Sesuatu yang membuatku tak akan rela menyerahkannya ke RSJ sebelum aku bisa menyelidikinya sendiri…

______

 

“Masuk dalam dunianya?”

“Um.” Yora mengiyakan dari ujung telepon. Yah, seperti biasa, ketika sedang stres tumpuanku memang hanya tunanganku ini. Entah bagaimana ia selalu bisa memberiku jalan keluar biarpun tanpa sadar, mungkin contohnya ya kemarin itu tentang ide meminta bukti rekaman telepon dari provider. Lagipula ia memang mahasiswi Kedokteran yang ambil minor Psikologi, di RS tempatnya magang pun ia sering diminta menggantikan psikiater yang berhalangan. Makanya kupikir mungkin ia bisa memecahkan masalahku kali ini… Dan benar kan? Ada saja ide. “Jadilah temannya. Iyain aja semua celoteh dia tentang pacar khayalannya itu… Mungkin dari situ kamu bisa ketemu alasan dia yang sebenarnya.”

Aku manggut-manggut, masih agak ragu sebetulnya. “Gitu ya?”

“Eung (Iya). Buat dia percaya sama kamu dan akhirnya jadi ceritain semuanya, ya. Ah, aku jadi pengen ketemu cowok itu, deh… Sayang banget bulan ini kerjaanku numpuk.” Katanya dengan nada kecewa. Dasar anak Psikologi, dengar kasus ‘orang aneh’ begini ia pasti tertarik sekali.

“Nggak apa-apa kok. Kamu ngebantu begini aja aku sudah cukup berterimakasih. I love you.”

“Love you too.” Balasnya lembut. Dan aku bisa membayangkan ia mengucapkannya sambil tersenyum, seperti biasa, manis sekali. Saling menyatakan sayang memang biasa kami lakukan kapan saja tanpa ragu. Bahkan ketika banyak yang akhirnya suka membercandai: ‘Apaan sih kalian, kayak yang baru pacaran aja.’ (Kami memang sudah berpacaran lebih dari 5 tahun, by the way, sejak kelas 3 SMA) Lho, habis gimana kalau memang itu yang kami rasakan? 🙂

Aku tersenyum, “Ya sudah deh, berarti sekarang aku harus ajak ngobrol dia, nih? Apa? ‘Sabar-sabar’? Iya, iya… Ah, kamu tahu aja aku selalu langsung ngamuk kalau dia mulai ngawur.” Kataku pura-pura cemberut, yang tak lama segera beralih jadi kekehan lagi. “Okelah, laksanakan tugas dulu ya. Terimakasih buat sarannya, Bu Dokter Cantik.”

Yora tertawa, “Hahaha, sama-sama, Pak Polisi Ganteng. Good luck, dear.” Katanya sebelum TIT! telepon diputus.

Biarpun akhirnya aku tetap menghela napas lagi seraya menenggelamkan diri di dalam kursi. ‘Good luck, ya… Yah, semoga ini memang akan berhasil.

_____

 

“Tuan Polisi Choi Siwon memanggilku?”

TRIIIINGG~ Aku mengusahakan senyum selebar mungkin saat menatapnya yang baru datang ke ruang investigasi ini didampingi Myungsoo. Kuusir dulu junior di kepolisianku itu sebelum kembali tersenyum padanya. “Panggil aku ‘Siwon’ saja mulai sekarang.”

Ia mengernyit dengan tatapan curiga. Tapi senyumku tetap tidak boleh hilang! Ayo, ayo panggil namaku… Kamu toh lebih tua dariku kan??

“Err…” Ia memulai dengan ragu. Aku mengangguk-angguk di hadapannya, ayo terus, terus… mari kita bersahabat mulai sekarang… “…Tuan Polisi Choi Siwon?”

BRUK. Jidatku sampai langsung terjun bebas mencium meja. Ah, harapan palsu. “Sudah kubilang panggil aku ‘Siwon’ saja…”

“Ada apa Tuan Polisi Choi Siwon memanggilku lagi?” Tapi ia malah kembali bertanya begitu saja seakan sama sekali tidak mendengar perkataanku. “Mau mengamuk lagi? Atau mungkin pengadilan sudah menjatuhkan hukuman padaku?”

“Ya nggak mungkin lah, sebelum aku berhasil memperoleh motifmu, ini bahkan belum bisa diajukan ke pengadilan.” gumamku bak kumur-kumur.

“Ne?”

“Aniyo.” Aku buru-buru menggeleng cepat seraya tersenyum lagi di hadapannya. Aduh… gimana juga cara jadi temannya?? “Geunyang (Hanya)… Umm…”

“Kalau nggak ada yang penting, aku balik ke sel aja. Tuan Polisi Kim Myungsoo—”

“Jangan!” Tahanku cepat dengan menarik ringan lengan baju tahanannya. “Jangan. Jangan. Ayo duduk lagi, ada yang mau aku bicarakan.”

Ia mengerling padaku sebentar, sebelum akhirnya menghela napas dan kembali menurut untuk duduk lagi.

Tapi diam.

Diam.

Diam.

Pada akhirnya kami hanya berpandang-pandangan, karena jujur aku juga tak tahu harus mulai dari mana supaya bisa ‘menjadi temannya’! Ia juga terlihat mulai bosan, apalagi sejak ia resmi ditahan kami pun juga ikut menyita ponselnya, walhasil ‘sahabat setia’ tersangka nyentrik satu ini pun hilanglah pula.

“Masih diam?” Biarpun sepertinya ia akhirnya mencapai puncaknya juga. “Sudahlah, panggil aku lagi saja kalau—”

“Tentang Park Shinji.”

Ia yang sudah berdiri dan siap berbalik seketika berhenti. Diangkatnya sebelah alisnya sinis menatapku, “Mi In-ah? Wae? Bukannya kalian juga nggak akan percaya apapun yang kukatakan tentangnya? Kalian bahkan menganggapku gila.”

Aku cepat-cepat menggeleng, “Tidak! Kali ini tidak! Sungguh, aku ingin sekali mendengar tentang kalian! Bagaimana kalian bertemu, kapan… kalian mulai berpacaran… Yah, seperti itu…”

Ia hanya menatapku dengan mengerutkan kening seperti berkata “Ha?” dengan begitu jelasnya.

“A-Aku tahu mungkin perubahan sikapku memang begitu mendadak—”

“Banget.” Potongnya mengangguk-angguk.

Aku kembali meneruskan, entah dapat ilham dari mana, aku biarkan mulut ini berbicara sesukanya saja, lah! “…tapi yah, hanya tiba-tiba aku ingin berbagi cerita aja, sebetulnya aku juga punya seorang pacar, dia juga masih mahasiswi. Aku pikir kita banyak kesamaan jadi siapa tahu kita bisa berteman…? Mungkin…? Ung… Hyung?”

Aku tersenyum (err… ‘nyengir’ mungkin lebih tepat) begitu lebarnya menunjukkan gigi-gigiku yang rata. Ia terlihat berpikir, sekitar 10 detik seraya memperhatikanku dari atas ke bawaah, sebelum akhirnya… “Geurae.” Katanya seraya menarik kursi miliknya di hadapanku, bersiap duduk lagi. “Ayo kita berteman. Kau punya masalah apa dengan pacarmu itu? Siapa tahu mirip-mirip dengan apa yang pernah terjadi padaku dan Mi In-ah. Hm, Siwon-ah?”

Eh, berhasil, nih?? YES!

 

***

 

Dan sejak itu, mengikuti saran Yora, akhirnya aku benar-benar ‘masuk’ dalam dunianya. Melakukan interogasi dalam kedok curhat dan sharing, sedikit demi sedikit aku pun mulai mengumpulkan kepingan demi kepingan puzzle imajinasi seorang Kim Heechul akan gadis yang ia akui kekasihnya itu. Ia bercerita kalau mereka berkenalan secara tak sengaja sekitar 3 bulan yang lalu, dan sejak itu pun mereka mulai berhubungan. Ia bahkan mampu menerangkan dengan detil bagaimana prosesi ‘penembakan’ mereka, kapan mereka berciuman untuk pertama kalinya, ia yang selalu menemani Shinji berangkat dan pergi kuliah, bahkan awal mula pertengkaran mereka saat ia mengetahui ‘pacarnya’ berselingkuh. Betul-betul seakan memang semua itu kisah nyata, yang akhirnya setelah kuperbandingkan dengan bukti-bukti SMS dan rekaman telepon, serta keterangan pelapor, semua timeline dan tempat ternyata memang sejalan dengan yang ada, hanya berbeda konsep tentang situasi yang terjadi. Seperti misalnya teror darinya memang bermula sejak 3 bulan yang lalu (waktu yang dibilang sebagai awal ‘hubungan’ mereka), atau untuk hal ‘menemani’, pelapor memang selalu merasa diikuti tiap pulang-pergi dari apartemennya, dan sebagainya, yang membuktikan kalau memang tak ada yang salah dengan definisi ruang dan waktu pria ini, hanya saja ia memiliki dunia imajinasi sendiri tentang hubungannya dengan si gadis yang tentu, berbeda dengan dunia nyata.

Tentang panggilan Mi In-ah, menurutnya itu hanya panggilan yang tercipta secara spontan untuk gadis cantik yang ia cintai. Dan sejauh ini, seingatnya hanya dua orang dalam hidupnya yang berdasarkan kriterianya memenuhi ‘syarat’ untuk panggilan Mi In-ah tersebut. Walaupun saat kucoba mengorek siapa gadis satunya lagi, ia mengaku ingatan tentangnya hanya samar-samar dan berkata mungkin itu mantan pacarnya atau seperti itulah, yang jelas si gadis kedua adalah Park Shinji atau ‘pacarnya’ saat ini.

Tapi sungguh, seluruh ceritanya betul-betul terasa real, aku sampai takut akan ‘terjebak’ dalam dunia ini dan ikutan gila bersamanya…! Oh Tuhan, mungkin lain kali aku harus membawa koin atau penanda lain yang bisa kuputar seperti dalam film Inception, supaya aku bisa tahu mana dunia nyata dan ‘dunia Kim Heechul’ ini.

“Ya, ya, Siwon-ah, sebetulnya kamu dengar aku ngomong atau nggak, sih?”

“Ah, ah?” Jawabku tergagap, buru-buru kembali lagi dari pikiranku sendiri.

Heechul mendecak, “Tuh kan, aku tahu deh, makanya aku paling malas ngurusin cinta segitiga, orang aku sendiri juga salah satu korbannya. Saingan cinta sama sahabat sendiri memang nyakitin.” Gerutunya seraya memangkukan dagu dengan tangan kanannya tegak di atas meja investigasi. Hari ini aku memang sedang ‘memancing’ lagi apapun cerita darinya tentang motif terornya atas Park Shinji, kali ini dengan menggunakan topik kisah nyata percintaanku sendiri: cinta segitiga ‘terselubung’ yang di permukaan memang terlihat sudah selesai sejak aku terikat pertunangan dengan Yora, padahal nyatanya aku tahu pasti Yesung tak pernah bisa menghentikan perasaannya pada sahabat sejak kelas 1 SMA-nya itu.

Aku buru-buru bereaksi mendengar responnya darinya itu, “Sahabat? Memperebutkan siapa?”

“Ya Mi In-ah, lah!” Jawabnya santai seraya memutar-mutar gelas air putihnya. “Disini nggak ada susu ya, Siwon-ah?”

“Jadi Janghyuk-ssi, pacar Shinji-ssi itu—”

“SE-LING-KUH-AN.”

“Iya, iya.” Koreksiku. Ah, orang ini masih juga peka sekali. “Maksudku, jadi dia itu ternyata sahabatmu??”

Dan sungguh aneh, ia kini malah terlihat bingung, persis seperti orang yang linglung! “Eh, memang aku ngomong begitu, ya…?”

Aku mengangguk.

“Iyakah…?”

“IYA!”

“Aku nggak ngomong gitu kok… Kenapa aku harus ngomong begitu? Siapa yang sahabat siapa…” Racaunya, berulang-ulang seakan tak bisa berhenti. “Betulkah… betulkah aku bilang begitu, Siwon-ah?”

“Iya, Hyung. Serius deh. Jadi hubungan kalian itu sebetulnya apa sih? Jadi ini motifnya cinta segitiga? Rebutan cewek antar sahabat? Yang mana?” Tuntutku beruntun.

“Hyung?” Panggilku lagi, meminta jawaban begitu kusaksikan ia masih meracau sendiri tentang apa iya dia mengatakan apa hal yang tadi memang ia katakan. Aku masih menatapnya bingung sebelum tiba-tiba kusaksikan Kim Heechul perlahan mencengkram rambutnya sendiri, dan dengan keras menjatuhkannya di atas meja! “Ah, ah, sakit! Kepalaku sakit!!”

Aku kontan langsung berdiri kaget darii kursiku melihatnya yang seperti tiba-tiba langsung terlihat begitu kesakitan, “Hyung? Hyung gwaenchana?”

“Siwon-ah… ARGH! ARGH!”

Dan ketakutanku makin meraja ketika rintihannya tak juga reda, ia bahkan sampai membentur-benturkan kepalanya ke atas meja investigasi ini! “Myungsoo…! Myungsoo!! Kemari cepat, tolong aku!! Hyung? Hyung kenapa??”

Ada apa? Kenapa bisa begini? Sudah 3 hari aku menginvestigasinya dan tak pernah terjadi apa-apa!

Aku harus menelepon Yora!

 

 

“Hyung sudah nggak apa-apa?”

Aku menyapanya yang terlihat sudah tenang terduduk menyandar di dalam selnya pasca tidur siang tadi. Ia menoleh, dan secepatnya senyum semangat sudah terbentuk lagi di bibirnya, “Sudah. Bilang terima kasih sama tunanganmu ya, dan maaf aku jadi nggak bisa ngedengerin curhatmu deh, tadi. Aku juga nggak tahu kenapa tahu-tahu kepalaku seperti mau pecah gitu. Eh tapi sekarang sudah nggak apa-apa kok. Kamu boleh curhat lagi kalau mau.”

Aku hanya tersenyum.

 

“Obat sakit kepala biasa cukup kok, habis itu biarin dia istirahat. Lain kali jangan terlalu dipaksa ya, Sayang. Kalau mau memastikan sesuatu, jangan dituntut di waktu yang sama. Kamu bisa ungkit lagi setelah beberapa pertanyaan berikutnya. Ingat, sekarang kamu sedang menggali ingatan ‘pasien’ dan bukan ‘tersangka’, jadi jangan diburu-buru, ya. Tapi mudah-mudahan dengan ini, kita bisa bilang sedikit demi sedikit misteri mulai terbuka.”

 

“Kenapa?” Tanyanya inosen. Sungguh, aku masih betul-betul tak biasa dengannya yang terkadang bisa terlihat dingin menyeramkan, tapi sewaktu-waktu juga bisa begitu lugunya seperti anak kecil begini!

Aku menggeleng, “Nggak.” Ingat, aku tak bisa memaksanya.

“Oh ya, tentang Yesung-Yesung sahabatmu itu…” Ocehnya kembali tiba-tiba, seakan bisa me-resume sampai mana tadi memang kami mengobrol, dan itu memang sampai cerita tentang Yesung ini. Aku menoleh. “…adikku juga namanya Yesung, lho.”

Kunaikkan sebelah alisku, “Oh ya?”

Ia menganggguk, “Um. Kebetulan banget ya, aku punya adik yang namanya sama: Kim Yesung. Jangan-jangan mereka malah orang yang sama. Hihihi.”

Terkekeh, aku menggeleng pada obrolan ringan yang kuyakin pasti tak ada hubungannya dengan kasus kami. Biarlah, ini juga sudah sore, sekadar obrolan sore sebelum aku pulang saja. Yang penting sedikit kunci untuk masalah ini sudah mulai terlihat, aku harus mulai menyelidiki si Janghyuk itu juga, mengorek masa lalu mereka. “Sayang sekali, tapi sepertinya bukan. Yesung itu cuma panggilan buat temanku, istilahnya ‘nama beken’-nya dia, lah. Nama asli sih ada lagi.” Jelasku. “Eh, tapi seingatku adik Hyung namanya Kim Ryeowook, deh. Yang sering datang kemari kan? Waktu itu dia juga sempat kami minta keterangannya.” Jangan suka mengaku-aku, deh. Cukup kamu mengaku-aku satu wanita yang tak tahu apa-apa sebagai pacarmu!

“Nan dongsaengi mani itgeodeun. (Adikku banyak, tahu.)” Jawabnya santai dan simpel. “Cewek satu bungsu, Kim Saera yang suka datang bareng Ryeowook itu. Cowok ada… ah malas hitung, pokoknya banyak. Yesung dan Ryeowook cuma salah duanya. Tapi, ooh… yah, sayang banget ya kalau ternyata mereka bukan orang yang sama. Eh tapi Yesung-ku itu… Ah, tapi nggak jadi deh.”

Aku memicingkan mata, orang ini suka sekali bicara terus tiba-tiba nggak jadi gitu, sih? “Apa?”

“Nggak.” Ia menggeleng, biarpun masih dengan wajah ragu. “Cuma mikir apa kayaknya Yesung-ku itu juga bukan nama asli, ya…?”

Aku buru-buru tertawa mendengarnya, “Ah, hyung ikut-ikutan aja, deh!” Tegurku bercanda, yang segera disambutnya dengan cengiran. Begitu polos, yang akhirnya memancing senyuman di bibirku.

“Eh iya, sudah sore, kamu nggak pulang?”

Tersadar, aku segera melihat jam tanganku. Jam 5 lebih sedikit. “Tapi hyung OK?”

Ia tertawa, “Gwenchandanikka, geokjeongma. (Aku baik-baik aja kok, jangan khawatir.) Sejak kapan kamu segitu perhatiannya sama aku? Nggak seru ah, Choi Siwon itu polisi yang galak dan nyebelin, tahu!”

Sedikit demi sedikit, sebuah kekehan tulus merebak juga dari bibirku mendengar canda bersahabatnya itu. Tahanan ini… sepertinya aku mulai menyukainya.

 

***

 

“Amu sai eobtagoyo? (Tak ada hubungan apapun?)”

Aku mengulang jawaban yang diberikan Go Janghyuk, pacar resmi pelapor yang dengan senang hati (dan sebetulnya begitu bersemangat) datang begitu kubilang memerlukan beberapa keterangan darinya tentang kasus Heechul. Sepertinya dia juga sudah gemas sekali dengan ‘psikopat’ yang selama ini mengganggu kekasihnya itu, dan secepatnya ingin si penjahat mendapatkan balasan.

Pria berkulit coklat dengan sedikit brewok menghiasi wajahnya itu mengangguk pasti, “Ne, jeonhyeo eobtagoyo (Iya, sama sekali tak ada). Bertemu pun bahkan tak pernah—biarpun sebetulnya sudah lama sekali saya ingin menghajarnya,” Jelasnya berapi-api, sebelum kembali tersadar dan menatapku, “…geundae, waeyo? (…memang kenapa?)”

“Ah, aniyeyo (bukan apa-apa). Hanya sebagai keterangan pelengkap saja.” Kataku menutupi. “Tapi… Anda dan Park Shinji-ssi betul-betul tidak pernah kenal sama sekali sebelumnya dengan tersangka? Mungkin Anda lupa, saat masih sekolah dulu, misalnya? SMP atau SMA? Atau mungkin teman sepermainan dari lingkungan rumah… dan kalian menyukai orang yang sama—Park Shinji-ssi…?”

“Cerita dari mana lagi itu??” Deliknya cepat, dengan aku buru-buru nyengir inosen. Menghela napas (capek, sepertinya) ia pun kembali menggeleng seyakin di awal, “Eobtanikkayo. (Sudah kubilang tak ada.)” Katanya, terdengar mulai capek aku terus bersikeras mengulang-ulang pertanyaan yang sama. “Ah, oh ya. Boleh saya tahu berapa umur si brengsek itu?”

“E-Eh?”

“Oh, maaf. Maksudnya umur si Kim Heechul itu.” Ulangnya.

Aku membuka biodata Heechul di mejaku tanpa rasa curiga sama sekali, “29 tahun.”

“Sudah kuduga.” Pria itu segera menimpali dengan decak dan gelengan kepala. “Umurku baru 24 tahun, dan Shinji bahkan baru semester dua kuliah. Kami tak mungkin sempat satu sekolah apalagi sampai berteman dengannya.”

Aku mengangguk-angguk di hadapannya, biarpun sesungguhnya pikiranku malah jadi melanglang buana kini. Jadi apa maksud perkataan Kim Heechul tentang cinta segitiga itu?

 

______

 

“Eh, kamu tuh lulusan sekolah dari mana sih, Won?”

Hari ini kami kembali ngobrol. Seperti biasa. Entah kenapa semenjak hari itu obrolan kami menjadi saaaangaaaat ringan. Entah karena takut ia tiba-tiba sakit kepala lagi, atau aku yang jadi lupa apa tujuanku sebenarnya menginterogasinya… Yah, biarpun begitu, mendengar tanyanya barusan sontak aku segera balas menatapnya dengan tatapan, “Menurut situ?”

“Hei, aku serius nanya!”

“Ya aku juga serius! Menurut hyung lulusan dari mana aja sih yang bisa masuk kepolisian? Ya cuma lulusan akpol atau militer laaaahhh…”

Ah, lagi-lagi kami membuat keributan. Untung aku selalu memilih ruang investigasi khusus sebagai TKP ‘curhat’ kami. Paling-paling hanya Myungsoo dan Komandanku yang harus dibuat stres karena bagaimanapun harus memantau proses interogasi ini.

“Jadi kamu lulusan akpol, atau militer?”

“Akpol.” Jawabku ringan. “Akademi Polisi Seoul. Kenapa memangnya? Kalau hyung sendiri lulusan apa?”

Ia menggeleng, mengangkat bahu. “Nggak apa-apa. Penasaran aja. Orang militer itu semuanya galak kayak kamu, ya? Aku belum wamil soalnya, lagi pikir-pikir dulu.”

Kontan aku mengernyit heran, pikir-pikir dulu? Dikira wajib militer acara MBAH-MU yang bisa dipilih mau ikut atau tidak?! “Um… oke.” Responku akhirnya. “Ngomong-ngomong, jadi hyung lulusan apa?” Ingatku. Memang tak bisa hanya sekali menanyai makhluk ini.

“Oh, aku? Fotografi. Institut Kesenian Jongwon, yang di Gangwon-do itu, lho.”

Oh, kampus seni nomor wahid tempat anak-anak nyeleneh se-Korea kumpul itu, responku seketika dalam hati, mengangguk-angguk. Tak heran kalau begitu. Biarpun dari sanalah lahir banyak aktor gaek Korea, sineas perfilman, bahkan seniman-seniman ternama di Korea, semuanya punya kesamaan: ide gila. Kampus itu terkenal sekali di Korea karena berisi dengan mereka yang begitu nyentrik, dengan ide-ide yang mungkin tak akan sampai di pikiran orang biasa. Simpelnya, kita dengan mereka berbeda frekuensi otak. Dan ternyata ia lulusan sana.

Ia tersenyum riang menatapku, sama sekali tak tahu yang kupikirkan. Aku membalas senyumannya, nyengir.

“Kalau begitu pekerjaan hyung apa?”

“Fotografer, lah. Itu instrumen kerjaku sudah kamu tahan 3 hari disana.” Ia menunjuk kaca hitam di balik punggungku di ruang investigasi ini.

Aku menoleh. Di belakang kaca tinted setebal 5 mm itu memang ada satu ruangan lagi, ruang monitor tempat petugas lain biasa mengawasi jika sedang ada interogasi dengan seorang tersangka. Kaca itu hanya bisa melihat dari bagian dalam, sedangkan dari sini betul-betul gelap. Bagaimana dia bisa tahu ada ruangan disana, lebih-lebih kalau aku menyimpan kameranya disitu??

“Hyung ngomong apa sih?” Tanyaku akhirnya, sok inosen.

Ia tertawa, menghempaskan tubuh berseragam ‘pesakitan’ warna oranye-nya di punggung kursi, “Aku juga sering nonton fim, kali, Won. Di belakang situ, itu ruang monitor kan? Tempat bosmu menonton semua pembicaraan kita.”

Kini giliranku yang tertawa, palsu. “Hyung lihat itu?” Aku menunjuk kamera CCTV yang menempel di sudut langit-langit ruangan ini, di belakangku. Matanya mengikuti. “Jaman sekarang, monitoring pakainya itu, Hyung, ruangannya bisa dimana saja.” Betul sih, tapi sesungguhnya orang-orang di kantorku (baca: Komandan-ku) terhitung orang yang klasik (kalian tahu? Ia pergi ke kantor bahkan menggunakan hanbok, mentang-mentang divisiku memang divisi ‘polisi preman’ alias tidak diwajibkan mengenakan seragam akibat seringnya tugas luar) dan malas update teknologi. Terbiasa dengan ruangan ini, ia begitu tak ingin pindah dan hanya mengontrol dari ruangannya saja, tempat layar CCTV juga diletakkan. Padahal begitu sangat praktis. Komandanku memang sangat aneh, lupakan saja dia.

“Oh iya, kemarin adik Hyung datang lagi, kan? Ryeowook-ssi dan Saera-ssi.”

Ia mengangguk, “Ya, bawa makanan. Ah, aku memang nggak bisa hidup tanpa makanan Wookie. Kapan-kapan kamu harus coba, aahhh sayang kemarin aku habiskan semuanya. Enak banget. Daripada kuliah… umm, kuliah apa ya dia? Akun… Ampu… tasi?”

“Akuntansi?” Aku coba mengoreksi.

“Aaahhhh, iya iya itu!!” Teriaknya bersemangat! “Itu, Akun-apa-itu. Yah pokoknya daripada dia kuliah itu, mungkin seharusnya dulu dia kumasukkan sekolah kuliner. Sudah jadi chef mungkin dia sekarang.”

Aku mengangguk-angguk. Aaaahhh, tapi aku jadi ingat, ini sudah nyaris seminggu dan aku masih belum juga berhasil dengan tujuan utamaku: mengorek motifnya atas Park Shinji! Tidak boleh ada lagi santai-santai!

“Geundae, Hyung,” aku memanggilnya yang masih sibuk mengangguk-angguk, membenarkan pikirannya yang merasa akan lebih baik jika sang adik sekolah di tempat lain itu. Biarpun setelah mendengarku, ia segera mendongak dan menatapku penuh perhatian lagi. (Sepertinya ia memang senang sekali akhirnya ada yang mau mendengarkan dan percaya dengan semua ceritanya.) “…Hyung masih belum jawab lho, kenapa Hyung bisa jatuh cinta sama Shinji-ssi? Segitunya sampai sudah diselingkuhin aja masih mati-matian sayang.” Kataku mengompori. Segitunya sampai-sampai pikiranmu jadi terganggu seperti ini!

Tiba-tiba, pandangannya berubah datar, “Ya, kenapa aku mencintainya? Padahal nggak seharusnya… Padahal ia mencintai orang lain…” jawabnya mengambang. Aku mengernyit, yang kemudian segera berganti menjadi berjengit begitu matanya kini berubah membara, menatapku, “Tapi kamu tahu? Aku yang mengenalnya lebih dulu! Bukankah aku yang lebih berhak? Tapi lihatlah, 6 tahun berlalu dan mereka akhirnya tetap bersama. Aku bahkan diundang ke pernikahan rahasia mereka sebagai sahabat, tapi bagaimana aku bisa datang?? Katakan padaku bagaimana aku bisa datang??!!”

GREP! Tubuhku pun tertarik maju akibat tanpa aba-aba, dari sisi meja di hadapanku, Heechul mencengkram kuat kerah kemeja bermotif kotak yang kukenakan. Tubuh kami berdua kini setengah berdiri, wajahnya yang sedikit tertutup rambut gondrongnya kini terlihat jelas di hadapanku. Dan ia… menangis. Airmatanya deras, tapi tanpa suara, hanya sedikit senggukan yang terdengar.

Aku makin tak mengerti apa yang terjadi. Mulutku membuka, mencoba mencari kalimat yang tepat untuk mengkonfirmasi kembali apa yang barusan diceritakannya. 6 tahun? Pernikahan? Hubungan Park Shinji dengan Go Janghyuk, kekasihnya itu bahkan belum lebih dari setahun! Keduanya sunbae-hoobae di universitas yang sama, dan di sanalah mereka bertemu. Lalu yang ini cerita dari mana lagi??

__________

 

“Komandan dengar sendiri, kan? Omongannya sekarang bahkan sudah ngawur. Sudah tidak ada lagi alasan kita tetap menahannya disini. Tempatnya itu di RSJ, bukan penjara, apalagi kantor polisi ini!” Myungsoo, yang sejak awal kasus ini memang sudah gemas dengan ambisiku yang begitu ingin membongkar kasus ini makin gencar dengan usahanya mempersuasi komandan kami, Komandan Jo Kwon, untuk menyerahkan saja Kim Heechul ke Rumah Sakit Jiwa. “Dia bahkan sudah melakukan upaya kekerasan pada Siwon sunbaenim, apa Komandan tidak khawatir dengan keselamatan sunbaenim, bahkan mungkin pegawai lainnya, jika kita tetap bersikeras menahannya disini?”

Aku mengerlingnya tajam, “ Mencengkram kerahku bukan termasuk kekerasan, Inspektur Dua Kim Myungsoo. Dia hanya sedikit… emosional.”

“Bukankah awal semua kekerasan juga emosi?” lirih Myungsoo, masih ngeyel biarpun kini menghindari tatapanku. Aku kembali memelototi pria 23 tahun mantan adik kelasku di Akpol dulu itu yang seakan berkata, “Diam kau.”

Komandan Jo masih terdiam, terlihat berpikir dengan sebelah tangan memegang kipas kertas kesayangannya yang diketuk-ketukkan ujungnya ke dagu. Tadi, 10 menit yang lalu setelah aku kembali dengan terpaksa harus merampungkan interogasiku di tengah jalan karena Heechul yang mulai tak fokus dan, seperti yang sudah dipesankan Yora, aku dilarang memaksakan kondisinya, kami bertiga memang berkumpul di ruangan Komandan Jo untuk mendiskusikan kelanjutan kasus ini. Sesungguhnya aku pun sudah tahu kemana arah pembicaraan ini, kasus stalker bukanlah kasus besar yang bisa diperjuangkan investigasinya seperti kasus pembunuhan ataupun kasus korupsi. Menahan seseorang selama seminggu di kantor saja sudah cukup mengeruk anggaran kantor kami, karena sel tahanan di sebuah kantor polisi memang hanya difungsikan untuk menahan orang sementara saja, biasanya kurang dari seminggu kasus yang berat akan segera dialihkan ke pengadilan dan tahanan dipindahkan ke penjara, dan jika kasus ringan dan telah tercapai kesepakatan dengan pelapor dan penjamin, tahanan bisa dibebaskan.

Aku tahu aku memaksakan diri, tapi…

“Sedikit lagi, Siwon-ah. ‘Cinta segitiga’, ‘sahabat’, ‘6 tahun lalu’, dan ‘pernikahan rahasia’,” Komandan Jo menghitung kata-kata kunci yang berhasil kami dapat selama ini dari Kim Heechul dengan jari-jarinya, sebelum mengangkat wajahnya untuk menatap wajahku. “Mendengar ceritanya, aku semakin yakin bahwa ia hanya murni seorang pasien, tanpa niat kejahatan sedikit pun. Sekarang fokus kita adalah membuktikan itu semua agar ia hanya perlu mendapatkan penanganan psikiater tanpa dijatuhi tuntutan hukum. Oleh karena itu… 3 hari lagi. Aku memberimu waktu 3 hari lagi untuk mengungkap itu semua dengan mempertaruhkan anggaran kita yang menipis. Namun jika kamu gagal, kamu tahu kemana orang ini harus kita kirim, kan?”

Terkejut sebentar—aku sama sekali tidak menebak reaksi ini!—aku segera mengangguk mantap dan memberi hormat, “Siap, Komandan!”

Di luar tingkah nyeleneh-nya, aku selalu tahu Ajun Komisaris Jo Kwon menjadi seorang komandan di usianya yang masih muda bukan tanpa alasan.

 

TBC

Advertisements
 
1 Comment

Posted by on January 12, 2016 in Super Junior, [THE SERIES]

 

Tags: , , ,

One response to “[THE SERIES] MIINAH – Part 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: