RSS

[SONGFIC] DON’T WAKE ME UP

21 Aug

[SONGFIC] DON’T WAKE ME UP

Written by: @lolita309

Starring: Lee Donghae, Ji Sena (OC)

Belakangan ini, hidupku rasanya tak ubahnya lomba lari maraton. Capek, membuat sesak napas… dan seperti tak kunjung selesai. Lebih dari itu, di belakangku seperti ada anjing yang terus menggonggong, yang membuatku mau berhenti pun tak bisa. Aku ngos-ngosan, tanpa suara. Sesak napas juga secara klinis tak perlu bantuan oksigen. Karena ini semua hanya di kepalaku. Lomba maraton ini adalah deadline proyek desain yang sedang kukerjakan, sedang anjing yang menggonggongku di belakang, tak lain adalah perfeksionisme-ku sendiri.

Namaku Ji Sena, seorang desainer interior senior di sebuah kantor arsitek ternama di Seoul. Sebagai seorang wanita karir di kota metropolitan, hidupku seperti dipenuhi tuntutan dari banyak pihak: tuntutan untuk mampu dipandang sejajar dengan pria dalam urusan pekerjaan, tuntutan untuk tampil modis setiap bertemu dengan klien, sampai tuntutan untuk tetap dapat bersikap lembut kepada bawahan karena bagaimanapun, kita wanita. Sedikit tidak adil, bukan? Dalam hal pekerjaan, orang-orang akan meremehkan jika kita banyak tidak mampunya jika dibandingkan dengan pria. Tapi kalau sudah hubungan senior-junior, mereka seakan inginnya melihat kita kembali ke fitrah sebagai seorang wanita yang kalau galak sedikit akan dikatakan perawan tua atau sejenisnya. Talking about double standards.

Untungnya, pada kenyataannya aku bukan perawan tua, tuh. Late 20’s, yes, dan belum dilamar-lamar (#eh), tapi setidaknya aku punya seorang pacar. Sudah lama, ia teman SMA-ku. Lee Donghae, ia seorang musisi; gitaris sekaligus penyanyi. Pekerjaannya manggung di kafe-kafe seantero Seoul. Tak banyak menghasilkan, sih… Ah, tapi marilah kita tidak membahas itu. Yang penting ia sangat menyayangiku. Di matanya aku bagaikan seorang putri yang untuknya akan diusahakan apapun.

And I mean… apapun. Biarpun harus dengan caranya sendiri.

“Manhi pappa? (Kamu sibuk sekali?)” tanyanya khawatir begitu malam ini, aku tak berhenti menerima telepon. Kami sedang makan malam, yang memang sekali-sekali kami lakukan berdua di flat sewaan kecilnya. Di hari off-nya tanpa jadwal ‘ngamen’, pasca menjemputku di kantor dengan motor kami akan menyetel DVD selagi menunggu masakan Cina kesukaanku yang kami pesan. Makan di meja makan, bercerita kesibukan kami sambil belepotan saos jjajangmyun yang sedang dimakan. Dan ia akan tersenyum seraya membantu mengelapkan tisu di sekitar mulutku, menggelengkan kepala kenapa aku tak pernah berubah sejak SMA.

Itu, idealnya.

Nyatanya, malam ini, bahkan untuk menyentuh sumpit pun aku belum bisa melakukannya. Sejak sampai di flat Donghae, telepon dari klien maupun atasanku tak berhenti datang, membuatku yang baru duduk di meja makan berdiri lagi, menyingkirkan diri untuk menerima telepon. Baru saja kembali duduk, atasanku kembali menelepon, yang membuatku mau tak mau harus bangkit lagi. Terus begitu bergantian. Ini sudah keempat kalinya aku kembali ke meja makan pasca menerima telepon, wajahku sudah tertekuk berlipat-lipat. Seluruh tanggung jawab ini… Ini klien besar pertamaku sebagai senior designer, dan atasanku betul-betul membuatku merasa bersalah karena aku memilih pulang tepat waktu hari ini. Padahal hari ini saja! Karena proyek ini aku sudah sering menggagalkan janji dengan Donghae, dan aku begitu ingin bertemu dengannya… Tidak bisakah atasanku itu sedikit mengerti?

“Kenapa? Nggak makan?” Tanya pacarku lagi begitu aku tak menjawab dan hanya diam menatap mangkuk mi saus kacang hitam bagianku. Di pikiranku berkecamuk segala hal; haruskah aku kembali ke kantor? Tapi aku masih ingin bersama Donghae… kami bahkan belum ada setengah jam bersama-sama. Aku mulai menggigit bibirku, kebiasaan yang selalu kulakukan kalau mulai panik. Apa yang harus kulakukan…

“B-Bolehkah… aku bekerja disini?” kujawab tanyanya akhirnya dengan pertanyaan balik, sangat tak enak karena akan merusak momen kami. Tapi hanya itu satu-satunya cara yang bisa kupikirkan agar aku tetap bisa bersama dengannya namun terbebas dari rasa bersalah meninggalkan pekerjaan.

Ragu-ragu kuangkat wajahku untuk melihat reaksinya. Pacarku terdiam, wajahnya keruh, biarpun sesegera mungkin ia mencoba menggantinya begitu tersadar aku sedang menatapnya. “Dengan satu syarat?” jawabnya, balik menatapku. Aku menelengkan kepala, berusaha mendengarkan dengan baik. “Habiskan dulu makananmu.” Lanjut Donghae kemudian, seulas senyum yang begitu menenangkan timbul di wajahnya.

Kuhela napas kelegaan. Aku selalu tahu memilih bersama dengannya adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah kubuat dalam hidupku.

TUKK. Suara pelan alas laptopku yang bersentuhan dengan meja ruang tengah seakan menjadi penanda akan berakhirnya kebahagiaanku hari ini. Seusai makan, akhirnya aku benar-benar mengobok tas tanganku untuk mengeluarkan selembar laptop tipis warna hijau yang biasa kupakai bekerja. BE-KER-JA. Di tempat seharusnya aku pacaran. Perlahan aku mulai duduk bersimpuh di karpet ruang tengah Donghae, sedikit susah payah karena hari ini aku mengenakan rok span bercorak geometris ketat yang jatuh di bawah lutut, belahan 15 cm di bagian belakang juga tak membantu. Rambut pirangku yang dipotong bob pendek dan berponi samping yang manis juga sekarang sudah sukses tertarik rapi ke belakang menggunakan bando. Mengekspos dahiku yang untungnya, cukup bagus. Tapi tetap saja… Mau cantik di depan pacar malah jadi tampilan lembur begini. Argh!

Donghae masih menatapku begitu khawatir, apalagi melihatku yang kini mulai memijat-mijat kening, memeriksa hasil desain interior stafku untuk proyek bar milik klien besar yang sedang kami kerjakan. Menurut atasanku tadi, para anak buahku itu sampai kini memang masih berada di kantor, kembali merevisi desain sesuai permintaan klien. Yang membuatku pusing adalah aku tidak merasa pernah menyetujui sebuah revisi lagi! Manajerku yang memang punya relasi dengan pemilik bar itu yang sepertinya secara sepihak menyetujuinya. Oh Tuhan, aku mau mengamuk pun tak bisa!

“Ada yang bisa kubantu?” Donghae bertanya hati-hati, mungkin takut tiba-tiba aku menggigit nantinya.

Aku memaksa tersenyum, menatap wajahnya yang tampan. Rambut pendeknya yang menutupi dahi, kulit putih itu, mata dombanya yang besar dan hitam pekat… Rasanya aku ingin mengatakan kalau bebanku seperti terangkat melihat itu semua. Sayangnya aku begitu realistis… jadi tidak. Pekerjaanku malah jadi tidak akan selesai kalau aku terus memandanginya. “Ani, gwaenchana. (Nggak, nggak apa-apa.)” Gelengku sembari masih tersenyum. Biarpun harus kuakui ia berada disini saja sudah menjadi dukungan moril terbesar buatku.

Tapi sepertinya Donghae tidak bisa tinggal diam begitu saja (apalagi bisa dibilang sekarang dia sedang ‘dianggurin’). Maka ia buru-buru melesat ke kamarnya dan sudah keluar lagi dengan… gitar akustik cokelat kesayangannya.

Aku mengernyit. Pria yang hanya dua bulan lebih tua dariku itu nyengir, menunjukkan giginya yang seperti kelinci, sebelum berucap, “Backsound bekerja, cue!”

Achimi ogo haessari uril gamssado

Manyage na an ireonado

Nareul kkaeujin marajwoyo~

(Ketika pagi datang dan sinar mentari memeluk kita

Bahkan jika aku tak terbangun

Jangan bangunkan aku~)”

 

“Lagu baru?” Tanyaku antusias, sedikit terhibur. Senyum riang mulai terbit di wajahku.

Donghae menaikkan alisnya dua kali sambil tetap memetik gitarnya, “Kamu mengganggu pertunjukanku, tapi ya, ini lagu baru. Dan oh, aku suka senyummu. Harusnya dari tadi kamu seperti itu. I love you.”

Blush! Pipiku rasanya seperti langsung terbakar mendengar kalimat terakhirnya. Itu… Dia… Sejak kapan dia bisa semudah itu bilang c-cin…

“Aku malah jadi nggak bisa kerja…” protesku menggumam. Pusing karena terpesona melihatmu, tambahku dalam hati.

Donghae seketika berhenti dengan alunan gitarnya, “Jadi nggak perlu backsound, nih?” godanya.

Aku buru-buru nyengir, menggeleng, “Ani, ani, hae. Gyesok hae. Jebal. (Nggak, nggak, lanjutkan. Terus lanjutkan. Please.)”

Kamu tahu rasanya mengerjakan tugas sambil mendengarkan musik, kan? Apalagi musik yang slow. Sekarang bayangkan kalau alih-alih hanya lewat mp3 di iPod atau ponsel, kalian bisa mendengarnya live. Jernih melodi gitar terdengar nyata di telingamu, bukan hanya lewat earphone. Sejak kuliah aku sering melakukannya, mengerjakan tugas di kafe diiringi slow live music. Awalnya hanya sambil menyambi menemani Donghae manggung, ujung-ujungnya aku ketagihan. Bahkan bisa dibilang suksesnya tugas akhir kuliahku adalah berkat aku mengerjakannya dengan hati ‘adem’ berlatar akustikan para musisi-musisi kafe.

“Don’t wake me up, jigeum idaero joha

I sigan soge neowa nappunijanha

Don’t wake me up, neoui neukkimi joha

Geujeo ne pumsogeseo pyeonhi jamdeun chaero…

Don’t wake me up, don’t wake me up~

(Don’t wake me up, aku menyukai seperti sekarang

Saat ini, hanya kau dan aku

Don’t wake me up, aku menyukai rasamu

Tertidur nyaman dalam pelukanmu…

Don’t wake me up, Don’t wake me up~)”

“Ini highlight-nya.” Di tengah genjringan gitarnya di sofa di hadapanku, tiba-tiba ia bangkit. Membuatku yang tadinya sudah kalem bekerja diiringi senandungnya, sibuk mengoreksi dan memberi input untuk material dan corak bahan yang dipilih stafku untuk meubelair pengisi bar, kembali mendongak untuk menatap wajah longterm BF-ku itu, mengikuti langkahnya yang makin lama… makin mendekat? Kerut di keningku makin jelas ketika kini ia sudah berdiri di belakangku, gitarnya yang terselempang digeser ke punggung. Grep!! Tanpa aba-aba dua tangannya kini mencengkram bahuku… memijat??

“Neoui geokjeonggeori jamsi mireodwo

It’s alright, it’s alright…

(Singkirkanlah kekhawatiranmu sejenak

It’s alright, it’s alright…)”

Donghae kembali bersenandung, melanjutkan lagunya yang indah tanpa iringan gitar. Karena kini, ia memilih meletakkan tangannya di bahuku, memijatnya pelan. Seakan ingin menyalurkan dukungannya tak hanya lewat lagu, tapi juga perbuatan. Dan lirik itu… apakah maksudnya agar tak apa aku sedikit rileks?

Aku mendongak, dan wajah Donghae terlihat tersenyum tepat di atas wajahku.

Yeogin neoui swimteo, geudaero isseojwo

It’s alright, it’s alright~

(Disini tempatmu beristirahat, tetaplah begitu

It’s alright, it’s alright~)”

Mengikuti maksud Donghae dalam lagunya, refleks kuturunkan tanganku dari laptop di atas meja. Perlahan mataku terpejam, mencoba rileks dan menikmati saja alunan lagu yang begitu menenangkan karya pria yang paling kusayangi setelah ayahku itu. Ya, berada bersamanya memang selalu membuatku nyaman. Kuletakkan pipiku menyentuh lengannya yang masih memijatku ringan, mengulang bagian reff lagunya tapi kini dengan lebih pelan. Ah, mendengarnya aku jadi ingin tidur… dan seperti dalam liriknya, tak mau dibangunkan.

“Jadi, sudah sedikit santai?” Bisiknya di telingaku. Dan suara rendahnya itu… Kenapa aku masih terus protes dengan pekerjaannya yang tak tetap, padahal nyatanya dengan sumber pekerjaannya ini, suaranya, aku juga akhirnya selalu memperoleh kekuatan??

“Ya… Sena-ya, tidurkah?”

Aku tetap diam dengan mata terpejam. Bersandar di lengannya yang masih bertumpu di bahuku, berharap selama mungkin tak perlu terbangun. Donghae mengguncang pelan bahuku, yang kurespon dengan menarik kedua lengannya agar memelukku dari belakang, mengeratkannya dengan lenganku sendiri. Bisa kudengar tawa kecil dan hangat napasnya di dekat telingaku, tajam dagunya kurasakan tertumpu di bahu kiriku sekarang.

“Kamu tahu?” Tanyaku tiba-tiba, nyaris seperti mengigau karena melakukannya dengan mata tertutup dan kepala bersandar di dadanya di belakangku.

“Hm?”

“Aku berjanji nggak akan pernah lagi menyentuh laptop begitu menginjakkan kaki di tempat ini.”

Aku tak melihat, tapi kuyakin Donghae kini, menatapku bingung (karena perlahan dagunya juga terangkat dari bahuku). “Hei, aku nggak bermaksud gitu, lho…”

“Ani, gwaenchanda. (Nggak, nggak apa-apa.)” jawabku cepat, masih sok ngigau, betapa aku sudah terlalu nyaman untuk mau membuka mataku lagi. Dipeluk memang menyenangkan, eh? “Seperti kamu bilang, di sini, bersamamu, adalah tempatku beristirahat, waktuku beristirahat. Aku nggak akan lagi mengorbankan waktu kita yang terbatas hanya demi pekerjaanku…”

“Nanti kamu kena marah…” Donghae tetap bersikeras, sepertinya merasa tak enak karena takut lagunya lah yang menjadi penyebab keputusanku. “Kamu selalu cerita bagaimana stigma di kantormu terhadap senior wanita. Aku tahu betapa kamu menyukai pekerjaanmu, karena itu nggak mau pamormu jadi jelek karena–”

“Nyatanya, aku lebih menyukaimu, suaramu, lagu-lagumu daripada pekerjaanku.” Lugasku, yang sama sekali tak ada maksud menggombal. “Selama mendengarkanmu tadi memoriku seakan melayang sewaktu masih kuliah, menemanimu bernyanyi di kafe sambil mengerjakan tugas yang tak jauh beda dengan pekerjaanku sekarang, tapi aku lebih rileks mengerjakannya. Kenapa? Karena kita berdua saling mendukung melakukan hal kita sukai. Nggak seperti belakangan ini ketika aku sering cerewet dengan pekerjaanmu. Sudah pusing dengan pekerjaan, aku menambahnya dengan keegoisanku menginginkanmu bekerja tetap, di kantoran. Aku seperti lupa dengan kita yang dulu…”

“Jadi sekarang bisakah aku tidur betulan?” Protesku bercanda akhirnya, menutup semua ocehan panjang lebarku barusan. Aku membuka mataku, dan tak bisa tak tersenyum melihatnya masih dengan ekspresi serius, mencoba mencerna kata-kataku (iya, pacarku memang terkadang lemot seperti ini, kok). Biarpun akhirnya, sepertinya pesan berhasil tersampaikan dan Donghae kini tersenyum, wajahnya betul-betul seperti malaikat. Seperti anak-anak. Menenangkan.

“Ya, tidurlah.” Jawabnya akhirnya. “Dimarahi tinggal dimarahi, kantormu yang akan menyesal jika nanti kehilangan sumber daya sepertimu.”

“Tenang, aku nggak akan kena marah.”

“Hm?”

Aku tersenyum, mataku sudah kembali terpejam, bersandar nyaman di dadanya, “Kalau kamu nggak bangunkan aku, aku nggak akan ke kantor dan kena marah atasanku. Don’t wake up, Lee Donghae. Jigeum idaero joha. (Aku menyukai seperti sekarang.) I love you.”

END

Tribute to the most beatiful song of the whole SJ’s DEVIL album, “Dont Wake Me Up” by SJ D&E!! Lagunya bagus banget, dari pas denger di highlight teaser nya langsung suka dan ternyata… ini lagu D&E! Buah tangan Donghae lagi-lagi nggak gagal bikin kagum. Ditambah rap Hyukie… I’m in love with ‘Growing Pains’ (너는 나 만큼) dari album pribadi D&E, dan sekarang ini! D&E jjang!!😍😍

Advertisements
 
2 Comments

Posted by on August 21, 2015 in Uncategorized

 

2 responses to “[SONGFIC] DON’T WAKE ME UP

  1. cizziekyu

    August 29, 2015 at 8:05 pm

    Hihihi, barusan ngecek email terus nemu ada notif update ^°^

    Tumben nih akang Donge yg jdi castnya? Btw itu fotonya bening amat akang ya owoh, Kunyun mah lewat atuh wkwkwk

    Don’t wake me up emang bagus lagunga aku juga sukak! Tuhan itu emang adil yah biar akang Donge mukanya agak2 oon (eh) tapi klo soal nyiptain lagu talented banget, dari dulu lagu doi bagus2 dari Y, Haru, Still You, Growing pain etc

     
    • lolita309

      August 30, 2015 at 9:17 pm

      Iya dooong, he deserves a lead role karena udah bikin lagu yg bagus bangeettt kayak DWMU hehehe 😁

      Haha itu foto jaman kapan bgt yak rambutnya msh gondrong kkkk

      Iyayaah, oon mah di kehidupan nyatanya aja ya ternyata, begitu masuk studio langsung jadi jenius 😂

      Thanks for reading (and commenting, of course), darling! 🙆

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: