RSS

[SPECIAL] SEND YOU OFF

24 Jul

Tribute to Yunho for his enlistment… My heart sunk that day, but he rocks the hair so it’s okay… Hari itu, aku lebih patah hati dari waktu Jaejoong enlist juga. Gimana kalo nanti Eunhyuk ya? T.T

Send You Off

By: @lolita309

Starring: TVXQ’s Jung Yunho

 

Di Republik Korea Selatan, menjalani wajib militer adalah hal biasa sekaligus luar biasa. Biasa, karena hal itu terjadi pada setiap pria dewasa di negeri ini. Tapi tentu, tetap luar biasa bagi si pria itu sendiri, dan pastinya keluarga serta orang terdekatnya.

Kisahku pun tak jauh beda. Hanya dalam 2 hari, kekasihku akan pergi melaksanakan wajib militernya. Sudah jauh-jauh hari aku mengetahui hal ini, ia sengaja menyisakan banyak jarak waktu antara saat memberitahukan panggilan wamilnya padaku hingga saat ia benar-benar harus masuk kamp pelatihan. Ia ingin menyiapkanku, menyiapkan hatiku karena jelas aku tidak akan bisa lagi sering melihatnya. Sejak awal menjalin hubungan juga kami memang sangat jarang bertemu, sehingga dengan pasti aku mengatakan bahwa itu sudah biasa.

Tapi sepertinya jawabanku itu malah makin membuatnya merasa bersalah. Aku hanya bisa tersenyum, mencoba menenangkan hatinya. Karena kalaupun ada yang harus disalahkan dalam hubungan kami, itu tentunya aku. Aku sendiri yang sejak awal mau menerima segala kondisi yang ia tawarkan padaku. Aku sendiri yang menjebak diriku dalam hubungan yang aku tahu, tak akan bisa berjalan seperti hubungan pria dan wanita lainnya…

Ya, aku memang mengencani seorang pria yang spesial. Seorang selebriti, idola banyak gadis, leader grup musik TVXQ, Jung Yunho. Dia orang yang sangat baik dan sopan, maka aku sungguh tak heran ia menerima banyak cinta dari banyak orang. Sama sepertiku, kurasa banyak penggemarnya juga merasakan ketulusan yang ia sampaikan.

Sedang aku? Aku hanya seorang karyawati biasa. Lebih muda darinya 6 tahun, saat ini aku berprofesi sebagai auditor junior di KPMG Korea, kantor akuntan publik yang memeriksa laporan keuangan tahunan SM Entertainment Co., Ltd*. Pertemuanku dengannya jangan ditanyakan, itu bisa jadi satu cerita lain sendiri, terlalu panjang. Karena memang, tidak seharusnya aku bertemu dengannya. Biarpun selama dua bulan dalam setahun aku secara harfiah “bekerja” di kantor pusat SM Ent. di Apgujeong, Gangnam, ia sama sekali tidak ada hubungannya dengan pekerjaanku. Aku, seharusnya, hanya memiliki hubungan dengan kontrak eksklusifnya sebagai artis di SM Ent. Hanya dengan bundelan kertas-kertas perjanjian atas namanya dan juga artis-artis lain dalam naungan agensi itulah aku seharusnya punya kaitan. Kenyataan kalau kami akhirnya bertemu dan jatuh cinta, itu perkara takdir. Hubungan kami pun belum lama, masih kurang dari setahun. Tapi kurasa justru karena itu, saat ini kami bisa dibilang sedang sayang-sayangnya dengan satu sama lain.

Maka itu, melihatnya yang saat itu langsung menampakkan wajah sedihnya mendengar jawabku, masih dengan senyuman, perlahan kujulurkan telunjukku untuk menarik kedua sudut bibir penuhnya, memaksanya juga ikut tersenyum. Tak bisa menang menghadapiku, ia pun akhirnya menyerah dan tersenyum lepas, biarpun wajahnya masih begitu merasa bersalah, “Maaf ya, kita sudah nggak ketemu sebulan lebih karena urusanku di Jepang, tahu-tahu aku pulang bawa berita seperti ini.” Ia mengacak rambutku pelan.

Aku mengangkat bahu, “Auditor nggak kalah sibuknya dengan artis kok, tenang saja. Lihat kan sekarang siapa yang tengah malam begini baru keluar kantor dan dijemput olehmu?”

Tersentak sebentar, kekasihku akhirnya tertawa terbahak-bahak di dalam sedan hitamnya, “Hahaha!! Iya ya, betul juga.” Ia tertawa sampai mengeluarkan airmata, sebelum akhirnya, menatapku lembut seraya mengelus rambut coklat terang-ku, ” Keluar mobil sebentar yuk, cari udara segar. Putar gedung kantormu sekali baru kita pulang.” ajaknya manis.

Aku mengangguk dengan senyum. Biarpun itu tak lama, karena sejurus kemudian, sifat perfeksionisme-ku sudah kembali beraksi (maklum, auditor), “Jangan lupa pakai masker dan topimu.” ingatku tegas. Hubungan ini memang belum menjadi konsumsi publik. Dan kalau bisa jangan. Seperti yang kubilang, oppa menerima banyak cinta dari banyak orang, aku tak ingin menjadi orang yang akhirnya mematahkan banyak cinta itu, hanya untukku sendiri.

Bengong (lagi) sebentar, Yunho oppa akhirnya kembali tak mampu menahan gelaknya, “Kamu tuh… benar-benar luar biasa.” Tawanya, sebelum kemudian mengakhirinya dengan sebuah genggaman tangan yang begitu hangat… dan lama. Tersenyum dan menatapku dengan matanya yang begitu teduh, ia kembali berucap, “Terima kasih ya… Song Rideum. Aku sungguh beruntung memilikimu.”

Tapi itu, 3 bulan yang lalu. Aku bisa begitu cool menanggapi berita penting semacam itu karena waktu itu, bagiku, itu masih lama. Sekarang, seperti yang sudah kukatakan di awal, hanya tinggal 2 hari lagi Yunho oppa akan memasuki masa wajib militernya. Hanya dalam kurang dari 48 jam, kami akan berpisah sekurangnya 21 bulan atau nyaris 2 tahun, sampai tahun 2017. Jarang bertemu memang sudah biasa, tapi komunikasi yang tidak akan lagi selancar dulu yang kukhawatirkan. 2017, lho! Itu… lama sekali… Tiba-tiba aku merasa hubungan kami terancam. Aku galau setengah mati.

Untungnya, hari ini hari libur. Hari Minggu. Sudah jauh-jauh hari aku dan oppa sama-sama berjanji kalau ini akan jadi “hari kami”. Kemarin dan tiga hari sebelumnya sejak diberi libur oleh SM Ent., oppa sudah kembali ke kampung halamannya di Gwangju untuk menghabiskan waktu bersama orangtua dan juga adik perempuan semata wayangnya. Besok, biarpun masih H-1 kepergiannya, dengan terpaksa aku tak akan bisa menemaninya karena harus masuk kerja. Yunho oppa juga mengerti sekali hal itu, maka ia akhirnya mengatur acara H-1 menjadi acara kumpul-kumpul dan farewell dengan teman-teman terdekatnya. Para artis tentu tak mengenal hari Senin ataupun weekend. Bagi mereka, ada schedule berarti hari kerja, jika tak ada berarti hari libur. Sesederhana itu.

Maka itu juga, karena hari ini akan menjadi terakhir kalinya aku bisa menghabiskan waktu dengannya sampai ia diberikan libur dari kamp militernya nanti, aku sengaja berdandan secantik mungkin. Biarpun hatiku hancur, aku tak boleh menunjukkannya. Aku ingin Yunho oppa mengingatku dalam tampilan yang terbaik. Tercantik. Sekali lagi kutatap pantulan diriku di kaca, terusan putih tanpa lengan bermotif garis vertikal biru pemberian oppa ini begitu manis. Makeup juga oke. Aku terlihat sempurna.

TINGTONG!! Ah, itu oppa! Terburu-buru, aku membukakan pintu rumahku untuknya dengan senyum lebar. Seperti janji kami, Yunho oppa mengenakan kaos polo berwarna navy seperti warna garis bajuku, dan celana kargo selutut warna putih. Rambut coklat pendeknya dibiarkan jatuh menutupi dahi, ia terlihat begitu fresh dan tampan (tentu saja!). Tidak setiap kencan kami bisa kompakan seperti ini. Faktanya, ini pertama kalinya kami benar-benar niat janjian menggunakan kostum couple. Lagi-lagi, untuk terakhir kalinya. Dalam waktu yang lama.

Padahal, hari ini juga kami tidak akan kemana-mana. Oppa menjemputku hanya untuk menghabiskan waktu di apartemen pribadinya. Memasak bahan-bahan yang kubawa bersama-sama, untuk dimakan bersama-sama pula. Ber-selca ria. Sayang-sayangan. Saling berpelukan selama mungkin, selama yang kami bisa… Hanya itu. Tadinya aku juga sudah berjanji pada diriku sendiri kalau aku tak akan menangis. Tapi semakin dekat waktu perpisahan kami, rasanya semakin luntur pula rasa percaya diriku dapat menepati janji itu.

“Entah kenapa aku nggak merasa khawatir kamu akan kesusahan tanpa aku disini nantinya.”

Yunho oppa tiba-tiba memecah kesunyian kami yang sehabis makan siang tadi seperti hanya ingin menikmati momen kebersamaan ini saja. Saling berpelukan di sofa dalam diam, aku dalam rengkuhan lengan besarnya. Hanya berkomunikasi lewat genggaman erat, merasakan kaki kami yang saling bertautan, sentuhan lembutnya di rambutku… Kami seakan ingin menimbun sebanyak-banyaknya rasa kangen yang nanti mungkin akan timbul saat kami tak bisa bersama. Saat kami nantinya harus bisa menghadapi waktu-waktu sulit sendirian, oppa dengan latihan militernya yang keras dan aku dengan ritme pekerjaanku yang tak pernah low tempo… tidak bisa lagi sedikit-sedikit curhat di chat maupun video call.

Tapi kenapa tiba-tiba oppa berkata seperti itu? Apa dia menyangsikan aku akan merindukannya nanti? “Maksudnya apa?” Responku akhirnya, sedikit tersinggung sih, makanya sampai menjauhkan kepalaku yang sampai tadi bahkan masih begitu nyaman bersandar di dadanya yang bidang. Berhenti mendengarkan melodi detak jantungnya yang teratur…

Yunho oppa terkekeh menatap wajahku yang langsung cemberut, sebelum sejurus kemudian kembali menarik kepalaku ke dalam rengkuhannya, “Dalam arti positif, Sayang.” Jelasnya seraya mengelus-elus rambut lurusku dan chu! mengecup puncak kepalaku lembut. “Aku merasa beruntung memiliki pacar dengan profesi yang nggak kalah sibuknya denganku. Teman-temanku selalu mengeluh pacar mereka selalu protes mengapa kami begitu sibuk sehingga jarang bertemu, hal yang juga dilakukan mantan-mantan pacarku. Itulah sebabnya banyak selebriti akhirnya pacaran dengan sesamanya, karena kami pikir hanya orang di industri yang sama yang akan mengerti pekerjaan kami…”

Aku tersenyum masih dalam pelukannya, menyadari sedikit banyak, itu memang benar adanya. Aku sama sekali tak tersinggung ia menyinggung-nyinggung soal ‘mantan’, semua orang di dunia ini berhak punya masa lalu. “Banyak tahu, profesi seperti itu…” Ujarku akhirnya. “Auditor… Dokter juga, kan? Terkadang pegawai kantoran biasa juga bisa lembur… Yah biarpun nggak sampai setiap hari, kadang-kadang harus menginap di kantor juga sepertiku sih, hahaha.”

“Tapi bukan berarti aku nggak akan merindukanmu juga…” Tiba-tiba nada suaraku berubah mellow. Yunho oppa segera bereaksi dengan menundukkan kepalanya untuk menatapku. Matanya begitu teduh, membuatku tidak bisa menyembunyikan apapun… “Jujur, tadi pagi tiba-tiba aku merasa ketakutan. Salahkah kalau aku merasa hubungan ini terancam? Selama ini aku cool-cool saja, tapi semakin dekat hari kepergianmu, semakin ini semua terasa nyata…”

“Kalau takut, bukankah aku yang seharusnya lebih takut?” Responnya kemudian seraya tersenyum, menyentuh hidungku dengan jari telunjuknya. “Setidaknya aku nggak akan kemana-mana, hari-hariku hanya akan berkisar di kamp, yang isinya juga pria semua. Sedang kamu? Kamu akan tetap menjalani hidupmu, kembali bertemu banyak orang baru, termasuk lawan jenis. Aku merasa was-was tapi apa yang bisa kulakukan? Hanya berdoa kalau kamu nggak akan tergoda. Kalau kamu akan menungguku kembali. Itu saja.”

Aku terdiam. Yunho oppa sepertinya menyadari pikiranku yang makin galau tak keruan, karena ia tiba-tiba langsung bangkit dari posisi tidurnya, menarikku juga. “Ikut keluar yuk. Temani aku mencukur rambutku.”

Mataku seketika membulat kaget, “Sekarang?? Apa nggak apa-apa? Oppa masih punya besok, nggak apa-apa kalau oppa masih mau bertahan dengan rambutmu…”

“Nggak apa-apa.” Jawabnya, tersenyum ke arahku seraya memakai jaket kulit hitamnya. “Cepat atau lambat aku harus mencukurnya, dan melakukannya ditemani orang yang kucintai sepertinya akan lebih menyenangkan. Kenapa aku nggak pernah kepikiran ya?”

Dan… menyaksikan seorang pria mencukur rambutnya menjelang wamil entah kenapa begitu menguras perasaan. Tanpa kusadari mataku berkaca-kaca, melihat hanya dengan beberapa sapuan pencukur elektrik, sedikit demi sedikit bagian rambut coklat tebal Yunho oppa jatuh ke lantai barbershop modern hanya di lantai dasar gedung apartemennya. Ia yang sedari awal tak lepas melakukan eye contact denganku lewat cermin besar di hadapannya sambil tersenyum, segera mengubah ekspresinya begitu tersadar, aku menangis! “Y-Ya, wae…?”

Aku menggeleng, susah payah mencoba menghapus butir-butir airmata yang terus membandel keluar dengan punggung tanganku, “Ani… Ani…”

“Jamkkanmanyo (Sebentar).” Yunho oppa akhirnya mengangkat tangannya, isyarat agar capster pria yang sedang mencukur rambutnya berhenti. Melepas alas potong rambut warna kuning yang terkalung dari lehernya terlebih dulu, ia buru-buru menghampiriku yang duduk di sofa kulit hitam tepat di belakang kursinya ketika sadar tangisku tak kunjung juga berhenti.

“Rideum-ah, wae…? Kenapa kamu nangis, Sayang? Harusnya aku dong yang nangis, kan aku yang rambutnya dicukur habis??” Tanyanya seraya berlutut di hadapanku, menunjuk kepalanya yang baru selesai dicukur saja, belum sempat dirapikan. Rambut-rambut 1 cm-nya masih mencuat kesana kemari, tak beraturan. Tapi kenapa oppa tetap ganteng, sih…??

“Huhuhu… Akankah aku baik-baik saja…?” Tanyaku sesenggukan. “Oppa, akankah aku betul-betul akan baik-baik saja tanpamu??”

Merengkuhku dalam pelukannya, Yunho oppa mencoba menenangkanku dengan menepuk-nepuk punggungku, “Bisa. Kamu bisa. Bukannya kamu yang sejak awal bilang padaku kalau ini nggak akan ada bedanya dengan hubungan kita sebelumnya…?”

Aku mengangguk-angguk, setuju penuh dengan ucapannya. Biarpun entah kenapa airmata ini tetap tak mau berhenti… Apakah karena sesungguhnya aku masih menyangsikan keteguhanku sendiri?

Betulkah aku akan bisa bertahan tanpanya…?

Dua hari kemudian,

Selasa, 21 Juli 2015. Hari-H.

Hari ini, aku masuk kerja seperti biasa. Seakan tak akan terjadi apa-apa. Kami sudah sempat menghabiskan waktu bersama seharian kemarin lusa, dan kurasa itu cukup. Diminta menjadi orang yang menemaninya mencukur rambut tebalnya sampai begitu pendek, aku merasa ia menganggapku sebagai orang yang penting.

Dan sebetulnya, adegan di barbershop kemarin itu juga belum selesai. Setelah berhasil menenangkanku yang kalau sudah mewek memang susah selesai, oppa akhirnya menyelesaikan prosesi cukur rambutnya. Sumpah, dia calon tentara paling ganteng yang pernah kulihat. Bahkan dengan rambut seperti itu! Kita tahu tidak semua orang bisa cocok dengan potongan tentara, kan? Tapi pada kasusnya, tinggi badannya yang di atas rata-rata, postur tubuhnya yang tegap, kulitnya yang sedikit tanned, semua seperti malah mendukung tampilan barunya ini. Aku sampai pusing melihatnya. Dia begitu sempurna… dan dia selalu mengatakan kalau ia yang beruntung memilikiku. Dilihat dari manapun, akulah yang beruntung memiliki pria se-mengagumkan dia sebagai seorang kekasih…

images

Ah, malam itu dia juga mengatakan sesuatu yang masih kuingat sampai sekarang:

“Kalau-kalau kamu menantikannya, dari sekarang aku sudah ingin meminta maaf kalau aku belum bisa memberimu sebuah cincin.” Katanya sepulang kami dari barbershop, berjalan menuju taman bermain di tengah-tengah kompleks apartemen 4 tower ini. Hari baru mulai gelap, biarpun jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Siang di musim panas memang berjalan lebih lama dari di musim-musim lainnya.

Aku, agak shock sebentar (kenapa dia bisa tahu pikiranku??), akhirnya hanya bisa diam, makin mengeratkan tautan jemariku di jemarinya. Cincin adalah hal sensitif bagi seorang perempuan. Sudah lama aku bertanya-tanya mengapa sudah berhubungan sekitar setahun tapi kami bahkan sama sekali tidak punya setidaknya sepasang couple ring. Karena kesibukan, kami memang secara natural bertumbuh menjadi pasangan yang praktis, seperti yang sudah kubilang hari ini bahkan pertama kalinya kami janjian menggunakan tema couple. Tapi bukan berarti aku juga tidak menyukai hal-hal manis seperti sebuah cincin… Akankah hari ini aku memperoleh jawaban atas sikapnya?

“Aku hanya tidak ingin mengikatmu.” Seperti bisa mendengar tanya hatiku, ia menjawab dengan pasti. “Sejak awal akan memulai hubungan denganmu, aku sudah tahu kalau dalam waktu dekat aku akan meninggalkanmu untuk wajib militer. Melihat umurku, pembicaraan tentang itu sudah sekitar 2 tahun ini bergulir di agensiku. Teman-teman yang seumur denganku juga satu per satu sudah pergi: Shindong hyung, Sungmin…” ia menghela napas sebelum kemudian menyebutkan nama yang terakhir, “Jaejoong…”

Aku masih diam, biarpun makin lama langkahku terasa melambat. Rasanya aku tak perlu mendengar kelanjutan alasannya…

“Akan sangat egois kalau aku menginginkan seorang gadis yang bebas menungguku untuk waktu yang begitu lama… Disaat aku nggak akan bisa melakukan apa-apa untuknya selama masa itu. Jangankan waktu untuk berkencan, menghubungimu saja mungkin akan sulit. Akan lebih sulit dari saat aku sibuk dengan tur konserku—“

“Aku mengerti.” Potongku seraya akhirnya, berhenti berjalan. Membuat lengan kami yang bertautan menjadi jarak di antara kami berdua. Yunho oppa menoleh. “Sedikit kecewa, tapi aku mengerti.”

Melihatku yang terlihat murung, merekahkan senyumnya terlebih dulu, satu per satu Yunho oppa kemudian melangkahkan kakinya mendekat. Aku masih menunduk, yang membuatnya akhirnya berlutut di atas tanah kuning taman bermain ini, sengaja menengadahkan wajahnya agar bisa melihat wajahku. “Tapi aku nggak mau kamu kecewa.” Katanya, merespon perkataanku barusan. CTASS! Dengan sebelah tangan ia mencopot kancing kedua kaos polonya, seraya tangan satunya lagi merogoh celana kargonya dan mengeluarkan seuntai kalung emas tipis tanpa liontin. “Di Jepang, kudengar seorang pria akan memberikan kancing kedua bajunya kepada gadis yang sangat ia sukai.**” Lanjutnya seraya masih sibuk menguntai kancing tadi ke dalam kalungnya. Berhasil.

Ia kini menatapku dengan senyum lebarnya, senyum bagai kanak-kanak, satu hal yang selalu kusuka darinya. Di telapak tangannya ia tawarkan untaian kalung berliontin kancing transparan itu. Ragu-ragu, kujulurkan tanganku mengambilnya. “Kamu tahu kenapa harus kancing kedua?”

Aku menggeleng.

“Karena kancing kedua terletak paling dekat dengan jantung kita.” Jawabnya lugas. Berdeham sebentar, ia kemudian melanjutkan, “Ehem, mungkin akan terdengar gombal… Tapi itu seperti simbol kalau aku… sudah memberikan jantungku, hatiku padamu.”

Mendengarnya, aku sama sekali tak bisa menyembunyikan bibirku yang rasanya sudutnya sudah tertarik kanan dan kiri, ingin tersenyum. Terkikik, malah. Mr. Awkward ini… bagaimana mungkin hanya dengan sebuah kancing ia bisa mengubahku yang tadinya begitu kecewa menjadi begitu bahagia begini??

Tapi nyatanya, ia bisa. Masih terkikik, aku mencoba memasang kalung itu sendiri ke leherku. Dengan sigap ia berdiri, menepuk-nepuk sebelah lututnya yang kotor terkena tanah sebelum membantuku memasang kalung ‘istimewa’ ini. “Hati atau jantung?” candaku akhirnya.

“Ha?”

“Yang oppa berikan padaku… Hati atau jantung? Hah… temanku yang dokter bisa marah-marah kalau ada yang salah menggunakan istilah bagian tubuh seperti itu. Oh ya, tadi kan oppa bilang kita cocok karena sama-sama sibuk. Dan aku bilang dokter juga sibuk, kan… Nah temanku yang dokter ini suka dengan Kyuhyun-ssi. Super Junior Kyuhyun! Apa oppa bisa bantu mencomblangkan?”

“YA! Aku bahkan sudah akan pergi ke ‘medan perang’ 2 hari lagi, dan kamu malah menyuruhku menyomblangkan orang?? Dan kamu bahkan belum menjawab perasaanku!” semburnya gemas, nyaris mengelitiki tubuhku… sebelum aku kabur duluan.

Dan dari jauh, aku akhirnya juga mengutarakan perasaanku, “Aku juga sangat menyukaimu, oppa! I really, really, really, really like you!

“Rideum-ah… Ya, Song Rideum! Ngapain sih ketawa sendirian?”

HUP! Seperti habis loncat waktu, jiwaku kembali lagi ke dunia nyata. Menengadah ke atas, dan melihat wajah audit senior-ku, close up! “Eonni!”

“Wae? Itu kerjaan numpuk, Honey Bunny Sweety… Baca email, nggak? SM minta release report Bahasa Inggris juga… Ya ampun kenapa nggak dari awal bilingual saja, sih?? Senang sih kesana tapi kalau manajemennya ngeselin begini ya malesin juga. Mana kita sudah di klien lain—”

Aku, akhirnya kembali lagi ke rutinitasku. Seperti yang sewaktu awal kukatakan dan juga diyakinkan Yunho oppa di barbershop waktu itu, semua akan baik-baik saja. Ini semua tak akan ubahnya seperti hubungan kami sebelumnya. Saat ini aku menganggap oppa sedang tur keliling angkasa, makanya lama sekali, lebih dari tur dunia. Dan karena sebab itulah, aku juga tidak mengantar oppa sampai kamp pelatihan, ia yang melarangku. Selain karena ini hari kerja, oppa bilang ia tidak ingin niatnya tiba-tiba berubah karena melihat wajahku disana. Another ‘gombal’ moment. (Tapi aku kemakan juga).

Sedangkan kemarin, oppa benar-benar menghabiskan waktunya dengan teman-teman selebritisnya seharian. Aku hanya bisa memantau via foto-foto yang diberikan oppa lewat chat. Super Junior, Changmin-ssi, Son Ho Joon-ssi, BoA-ssi, hingga Park Soojin-ssi yang sebentar lagi akan menikah dengan aktor gaek Bae Yongjoon, semua begitu suportif mendukung oppa menunaikan kewajibannya sebagai warga sipil Korea yang taat hukum. Leeteuk-ssi dan Yesung-ssi juga ia sebut banyak memberikan masukan bagaimana bersikap dengan senior disana, juga mengenai bidang apa yang kira-kira cocok untuknya disana nanti.

1391213_465898000252081_164610180_n[1]

Sedang aku, disini aku hanya bisa mendoakan. Perlahan aku menggenggam kalung berliontin kancing yang sejak hari itu selalu kupakai kemanapun. Disini aku hanya bisa menjaga jantung (hati?) yang sudah ia berikan padaku melalui kalung ini. Karena kalau tidak, nanti oppa bisa mati, dong. Ini kan jantung!

Sorry, sepertinya aku ketularan gombalnya. Anyway… This is how I send you off.

 

End.

 

* Ltd.: Singkatan dari ‘Limited company‘, semacam PT (Perseroan Terbatas) kalau di Indonesia. Terbatas disini artinya kekuatan mengontrol, keuntungan, maupun kerugian seseorang atas investasinya pada perusahaan tersebut hanya terbatas sesuai persentase saham/investasi yang ia miliki.

SM sendiri merupakan public limited company, yang artinya sahamnya dijual untuk publik/umum di bursa saham. Semua orang bisa ikut berinvestasi, bahkan fans. Yay!

** http://folklore.usc.edu/?p=9501

Advertisements
 
5 Comments

Posted by on July 24, 2015 in [SPECIAL]

 

Tags: , ,

5 responses to “[SPECIAL] SEND YOU OFF

  1. cizziekyu

    July 25, 2015 at 12:05 am

    Annyeong! I’m coming to give comment and spamming #eh
    Finally, after few years this blog finally updateddd!! #bersihinjaringlabalaba #mintaditabok

    Ceritanya huhuhu, emang yah pacar (read idol) wamil itu nightmare banget buat cewe2nya (read: fangirl), like we had discussed before hihihi

    And somehow, adegan rideum (kok rideum sih namanya? Ga familiar gtu yah #readerbanyakkritik #mintadihajar) nganterin yunho cukur rambut itu so sweet bangeettt (n tetiba ngebayangin klo rambut Kyuhyun pendek, yg biasa kaya mangkuk bakso tetiba jdi pentol baksonya, aku ga bisa nahan ketawa), in reality yg nganterin ke salon BoA kan? Jangan2…..

    Sedih yah, idola kita ga kerasa udh tua, udah wamil, ga tau dh entar setelah wamil apa mereka tetap bakal populer kaya dulu ato bakal kegusur sama yg baru, fresh n young, ngingat gini tetiba aku jdi sedih. Gapapa sih biar mereka ga terkenal, hits mereka ga #1 tapi klo bubar? Huhuhu aku ga tau mesti ngestan siapa lagiiii (aku tetiba galau mikirin kunyun unyu2)

    Fangirl aja segini sedih, apalagi pacar bener yahh huhuhu

    Btw itu… Maacih yaahhh udh bikin saya nyempil walopun mention doang (etdah serakah banget) hihihihihi

    Ayo nyahh aku tunggu nih ceritamu lagi, kangen banget loh skrg aku udh jarang nemu ff yg berkualitas huhu…

     
    • lolita309

      July 25, 2015 at 7:48 am

      Annyeong jugaaaa! As I always say, 역시 baca komen dr kamu selalu made my day!😆 iyanih akhirnya setelah sekian lama *ikutan bersihin jaring laba2*

      Daaann.. Yes, it’s a nightmare huhuhu tp tenang aja, seperti dalam cerita, kita disini juga sibuk kok. Jd pasti nanti tau2 udah balik kayak pas kangin, tuki, chullie, yeye.. Kita sudah berpengalaman kan? Hahaha

      Rideum comes from “Rhythm”, jadi song rideum artinya ritme lagu hahaha. Gak familiar yah? Eke ceritanya ngambil dari salah satu lagunya db5k “you’re my melody” hahahah

      Iyaaaa adegan itu emang terinspirasi dari denger2 Yunho dianter boa potong rambutnyah… Kenapa harus boa yah? Kenapa?? Serius aku galau deh waktu baca kabar itu. Ada apa dengan Yunho dan boa???? 😭😭

      Hahaha iyaaa syama2… I just know that I have to mention you kalo udah ngomongin profesi dan kesibukan hahaha. Maap yah cuma bisa disempilin, lain kali dibikin seengganya satu dialog deh #eh 😜

      Siaaapp, kalo nganggur saya akan berusaha produktif lagi deh. Etapi bukannya skrg ff malah pada bagus2 yah? Udah pada pinter tuh bocah2 jaman sekarang nulisnya.. Eke sampe minder OTL

      But anyways THANKYOU SO MUCH for always supporting me, darling… Youre the best! *insert BGM 2ne1 I’m the best :P* i heart you! *hug*

       
      • cizziekyu

        July 27, 2015 at 3:26 am

        Huhu iya sih chulie teuki dkk engga kerasa, tapi kalok kunyun huhuhuhu jelek2 gtu ngangeninnnn…
        Oalah, rhythm toh artinya.. Makanya dri sekian banyak nama korea unfamiliar yg pernah aku dgr, rideum lebih unfamiliar hihihi

        Hihi jgn2 boa n yunho ttman hihihihi tapi kata kaka aku yg jumpingboa, boa udh punya pacar korea-american gituhh

        Ada sih satu dua yg bagus tulisannya, yg lain rata2 yah mainstream udh ceritanya apalagi ya klo ceritanya masih ttg anak2 SMA gtu, Kunyunku kan udh engga cucok lgi jdi karakter cowo unyu munyu seragam abu! #readermaksa

         
      • lolita309

        July 27, 2015 at 10:02 am

        Huahaha jelek2 ngangenin berarti situ akhirnya ngaku nih kunyun jelek? Hihihi 😋

        Iyaaa jangan2 ttman huhu tapi alhamdulillah (?) deh kalo ternyata boa uda punya pacar, mengurangi jatah cewek available di SM hahaha, biar oppa2 pacaran sama non seleb aja.. Kita (?) misalnya… 😁

        Huahahaha setting cerita kan tergantung kedewasaan penulisnya hahaha kalo doi masih SMA ya mana ngerti dunia kuliahan/kerja. Etapi kayanya uda ga ada deh bocah yg bikin ff suju. Secara idolnya juga uda om-om, fansnya juga ya udah macem kita2 ini ga sih? Hahahah. Uda lama gitu sih sempet mampir ke blog ff campuran gitu, isinya exo semua palingan hahaha. Sesuai lah jadinya sama segmentasi bocah2 SMP/SMA gitu 😃

         

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: