RSS

[THE SERIES] DR. SHIN – Case 6 (A)

13 Oct

Disclaimer dulu ah: semua cerita ini murni fiktif (dicampur beberapa penelitian author sih hahaha), jadi kalau ada kesalahan tentang prosedur ataupun kehidupan kedokterannya, harap dimaafkan 🙂 dan oh ya, bayangkan Shindong disini ketika dia dalam kondisi terkurusnya, terkerennya. Sekurus-kurusnya, sekeren-kerennya yang pernah Shindong alami ya, biar lebih dapet kesan dokter angkuhnya (loh?) :p

 

DR. SHIN

Written by: @lolita309

Starring: Shin Donghee, Kim Jaejoong, Zhou Mi, etc.

 

(INFO) Daftar absen intern dr. Shin Donghee:

Kim Jaejoong (lk) = Kim 1

Kim Dal (pr) = Kim 2

Zhou Mi (lk, China) = Zhou

Jung Nari (pr) = Hopkins

Image

ENAM. NEW GIRL

KLEKK. Aku membuka pintu ruang istirahat dokter dengan berat. Hari ini capek sekali, capek luar biasa. Aku harus buru-buru tidur…

Biarpun pemandangan yang menyambutku seketika membuat mood tidurku itu langsung hilang. “ZHOU! KIM 2! Apa yang kalian lakukan disitu, HAH???” Omelanku segera meledak begitu melihat dua internku yang berbeda gender itu sedang tidur berdua, satu ranjang, ranjang single pula di deck atas salah satu tempat tidur bertingkat di dalam ruangan ini.

Si wanita Kim 2 refleks terbangun dan segera duduk tegak begitu mendengarku. Ia menyikut-nyikut rekannya yang belum juga terbangun sebelum kena omelanku yang lebih garang lagi. Zhou akhirnya bangun dengan masih menguap dan mencari-cari kacamatanya… dan baru terlonjak saat menemukanku di depan pintu, “DOKTER!”

“Aku tanya, apa yang kalian lakukan disitu hah???”

“T-Tidur, Dok…” Jawab pria Cina itu tergagap. Kim 2 di sebelahnya mengangguk-angguk mengiyakan.

Aku menyilangkan kedua tangan di depan dada, “Aku juga tahu, INTERN! Maksudku, kenapa kalian tidur seranjang?? Mau membuatku malu, hah?? Mau membuat skandal??”

“Biasanya juga nggak apa-apa kalau tempat lain penuh kan—” kini giliran Kim 2 yang menjelaskan seraya menunjuk ke sebelah kirinya dengan tangan lurus… yang langsung membuatnya terbelalak karena tidak seperti pembelaannya, kesemua kasur di 2 tempat tidur tingkat yang lain betul-betul KOSONG. “Sumpah Dok, sumpah tadi—”

“CEPAT TURUN!!”

“Kyaaaaa, ampun Dok, ampun!” Koor keduanya sambil langsung melompat dari atas ke lantai—Zhou—dan dibantu melompat—Kim 2.

“Dasar, kalian membuat mood-ku hilang saja!!” Omelku sekali lagi sebelum BRAKK!! membanting pintu dan keluar.

Di dalam,

Zhoumi dan Dal masih bengong sambil lihat-lihatan menyaksikan lagi aksi bagai-cewek-datang-bulan sang dokter pembimbing.

“Efek Yora resign tuh.” Dal geleng-geleng kepala, nggak tahu lagi deh sama moody si dokter pembimbing.

Zhoumi membetulkan letak kacamatanya sambil tertawa kecil, “Berasa lihat ABG baru patah hati…”

BRAK! Tiba-tiba pintu terbuka lagi, “APA KALIAN BILANG??”

“Huaaaa!! Ampun lagi Dok, ampun!!”

_________

Capek. Sudah seminggu ini capekku memang menjadi dobel. Capek marah, capek kerjaan juga. Yah, harus kuakui perkataan anak-anak itu mungkin betul juga: ini semua karena resign-nya seorang Park Yora, intern-ku yang paling ‘berguna’. Sudah capek sampai segininya, sekalinya punya kesempatan tidur malah harus ketemu anak-anak yang kerjanya cuma memancing emosiku saja lagi itu. Haaah~

Kembali lagi ke topik, ya, Yora memang resign. Seminggu lalu. Dia bilang ingin fokus ke skripsinya, dan memang kontrak magangnya juga sudah habis, hanya tiga bulan di saat teman-temannya akhirnya memperpanjang jadi 6 bulan sesuai satu semester yang memang diberikan khusus untuk magang, biasa, mungkin terlena karena sudah kenal ‘gaji’. Yah, orang yang kuinginkan untuk tinggal malah resign, orang-orang yang kuinginkan resign malah pada tinggal. Nasib macam apa ini…

“Dok, tumben-tumbenan tugas luar begini jangan lesu dong, kalau tentang Yora, nanti habis lulus juga dia pasti ditarik ke RS sama dr. Hwan… Tenang saja sih.” Suara pria dengan aksen Cina itu menegurku dari belakang. Ia mempercepat langkahnya dua kali demi menjajari dan melongok ekspresiku.

“Diam kau, jangan sok tahu.” Hardikku jengkel sambil meraih topi bulu khas winter-nya dan mendorong mukanya jauh-jauh dengan itu. Eh, dia malah cekikikan dengan si soulmate (baca: Kim 2) yang tentu hari ini juga ikut dengan kami, menyusuri jalan yang basah karena salju di kawasan Incheon Metropolitan Medical Center (MMC) ini untuk menuju gedungnya.

Jadi ceritanya, hari ini aku sedang akan melihat kondisi pasien bayi kembar siam dempet kepala (craniopagus) yang operasi pemisahannya ditawarkan padaku. Operasi ini jelas, sangat rawan. Dalam kasus seperti ini salah satu bayi biasanya bahkan dipastikan akan meninggal karena perdarahan luar biasa. Karena itu biarpun aku sudah resmi lulus sebagai Neurosurgeon (ahli bedah syaraf) seperti ini pun, aku masih belum bisa begitu saja menerima tawaran itu. Akhirnya akupun memutuskan mengecek keadaan mereka sendiri ke RS tempat si kembar dilahirkan daripada harus membuat bayi-bayi itu menempuh perjalanan jauh ke Seoul demi datang padaku, yang belum tentu betul-betul akan mengoperasi mereka kan? Dan 3 anak ini pastinya ikut denganku, sudah terlalu sering aku menanggung malu karena harus menitipkan mereka ke dokter lain karena kesibukanku selama ini.

“Kalian ngomongin apa sih? Kok bawa-bawa Yora sama Dokter…?” Tiba-tiba si cowok cantik Kim Jaejoong atau Kim 1 bertanya polos. Pria berambut hitam tertutup kupluk yang biarpun ‘cantik’ tapi sifatnya ternyata lebih ‘laki’ dari anggota priaku satu lagi (baca: Zhou Mi) ini menatap kami bertiga bergantian sambil tetap melangkah melompati genangan-genangan air bekas salju mencair dengan kaki panjangnya. Sepertinya memang cuma dia satu-satunya yang tak ‘kepo’ seperti teman-temannya. Yah, mungkin karena dia juga sama-sama menyukai Yora, lihat kan perhatiannya pada gadis itu dulu? Tapi sayang sekali Nak, nasib kita sama kali ini.

Zhou tertawa sambil merangkul sang rekan, “Si Dokter, depresi berkepanjangan gara-gara tahu Yora sudah punya tunangan, eh sekarang dia pake resign segala. Makin parah lah pembimbing kita ini hahaha.”

“YA!!” Aku makin mencak-mencak sambil menoyor kepala cowok jangkung itu keras dari belakang. Tapi kini Kim 1 malah ikut menatapku aneh dengan alis terangkat.

“Lho, memang Dokter beneran nggak tahu?”

Sekarang aku yang bingung, kenapa dia santai sekali? Bukannya kita harusnya sama-sama patah hati? “Apa maksudmu? Lagipula bukannya kau suka dengannya, kenapa bicaramu santai sekali begitu?”

Melongo sebentar, akhirnya cowok berkupluk itu tertawa, “Hahaha, ya nggaklah, Dok! Sayang sih sayang, tapi ya cuma sebagai teman saja. Saya tahu banget Yora sudah tunangan dari zaman kuliah dulu, sudah 2 tahunan kalau nggak salah. Dokter lupa kami teman sekampus? Ngapain juga saya naksir cewek yang sudah ‘ada monyetnya’? Nyakitin hati aja.”

Ngapain naksir cewek yang sudah ‘ada monyetnya‘… Nyakitin hati…

Nyakitin hati…

Nyakitin hati…

Dan entah kenapa, makin banyak kata-kata yang dia ucapkan, makin terdengar jauh di telingaku…

Sial, jadi selama ini cuma aku yang tak tahu apa-apa??

***

“Pindahan dari John Hopkins?? Sumpah??”

Johns. With an ‘S’. Johns Hopkins.” Gadis mungil—sungguh, dia bahkan lebih mungil dari Yora, mungkin hanya sekitar 150 cm-an!—itu mengangguk sekali seraya tersenyum pada semua internku. Hari ini timku memang kedatangan anggota baru sepeninggal Yora. Ya, gadis ini. Gadis yang di awal sempat membuatku perlu melihatnya dua kali dari atas ke bawah. Habis, apa-apaan itu? Rambut pirang panjang berponi depan yang digerai (dan super lurus bak disetrika), tindikan berjajar di telinga… Apa dia betul-betul berniat jadi dokter?

“Johns Hopkins-guna… (Johns Hopkins, ya…)” Kim 2 mengangguk-angguk, jelas terkagum-kagum. “Ah, namamu?”

“Nari. Jung Nari. Salam kenal.” Katanya sambil membungkuk dalam dan lama. Kuliah di luar negeri tapi ia masih tahu sopan, rupanya.

Ketiga internku langsung berseru, “Whoaa, daebak!!” dengan kedua prianya langsung sikut-sikutan sambil nyengir, merasa dapat kecengan baru.

“Eh tapi, tahun akhir di Johns Hopkins berarti umurmu…” Tiba-tiba, seperti baru ingat sesuatu, Kim 2 bertanya ragu seraya mengangkat alisnya menatap sang gadis baru. Ah, aku mengerti sekali maksudnya. Beda dengan sistem sekolah kedokteran yang dianut di Korea dan banyak negara Asia lainnya, di Amerika sekolah kedokteran atau medical school merupakan sekolah lanjutan (graduate school) sehingga untuk masuk, seorang mahasiswa harus telah lulus S1 (Undergraduate/Bachelor’s Degree) terlebih dahulu. Kita tahu S1 akan menghabiskan waktu 4 tahun sendiri, di saat medical school juga akan menghabiskan waktu sekitar 3-4 tahun. Dengan asumsi ia mulai kuliah di umur 18 seperti lulusan SMA lainnya, maka bisa dipastikan umur gadis ini sekarang tentulah—

“22.” Jawabnya singkat. Diam-diam aku menaikkan sebelah alisku, heran. Kok bisa? “Aku menyelesaikan Bachelor’s dengan major Biologi sekaligus in-class Med School-ku dalam 4 tahun… Sisanya tinggal out-class 1 tahun, lewat magang ini.” Senyumnya.

Tiga internku yang lain hanya bisa melongo, “Jinjjaya?? (Seriusan??) Kita seumur, dong!”

“Jinjja-ji. (Serius, lah.) Bukannya Tablo dari Epik High juga begitu? Dia lulus Bachelor’s plus Master dari Stanford cuma dalam 4 tahun kan? Nggak aneh, lah.”

Aneh, lah, pikir kami semua dalam hati, cuma bisa nyinyir kalau ketemu anak ‘kepinteran’ macam begini.

Yah, tapi biarpun begitu, aku sama sekali tak peduli dengan latar belakang pendidikannya di Johns Hopkins University, universitas di Amerika Serikat dengan Fakultas Kedokteran (med school) terbaik di dunia, atau mungkin wajahnya yang terbilang cute atau apalah itu. Perhatianku selalu lebih tercurah pada hal-hal yang lebih medis, jadi… “Cukup. Hopkins, ikat rambutmu sebelum itu mengganggu penanganan pasien. Dan tindikanmu… kurasa kau tahu apa yang harus dilakukan.”

Begitu saja, aku meninggalkan mereka. Seperti biasa.

“H-Hopkins? Dok, tapi nama saya—“

“Sudah, dia memang begitu.” Dal menahan tubuh Nari yang sudah siap mengejar sang pembimbing baru sepeninggalnya. Gadis berambut sebahu itu kini mengulurkan tangannya seraya tersenyum, “Anyway menurutku kamu keren, lho! Coba aku juga boleh piercing seperti itu… Oh, namaku Kim Dal. Panggil aja Dal-i. Yah, biarpun si Dokter memanggilku Kim 2 sih…”

Nari mengernyit bingung seraya menjawab uluran tangan Dal, “Kim… 2…?”

“Makanya tadi Dal-i bilang si Dokter memang begitu… Biarin aja.” Jawab Jaejoong ringan, sekarang gantian menjabat tangan mungil si anak baru. “Kim 1. Nama asli: Kim Jaejoong. Panggil Jaejoong, Jaejoongie, Jeje… atau Jay biar agak bule dikit juga boleh. Sejak masuk sini aku sudah nggak segitu sensitifnya sama masalah nama, kok. Hahaha.”

Zhoumi dan Dal segera ikut tertawa, menyadari itu benar adanya. Cuma nyakitin hati mempermasalahkan masalah yang sudah ditetapkan oleh dokter pembimbing mereka itu. Sia-sia. “Jadi 1 dan 2 itu karena marga mereka sama-sama Kim, lho…” Zhoumi memperjelas, seraya ikut mengulurkan tangan juga. Menjabat si intern baru. “Oh ya, aku juga intern transfer, dari Cina. Namaku Zhou Mi, tapi bocah-bocah ini memanggilku Mimi, sih. Kalau panggilan dari dr. Shin kamu mungkin sudah bisa menebak? Hahaha. Ceritanya dr. Shin memang malas mengingat nama kecil intern-internnya. Masih untung beliau panggil kamu Hopkins. Daripada dipanggil Jung 2, gara-gara disini sudah ada intern yang namanya Jung. Tuh soulmatenya Jaejoongie, Jung Yunho internnya dr. Son.”

Jaejoong mengangguk-angguk, mengiyakan. Nari masih menunjukkan wajah tak sreg.

“Eh tapi… kok aku kayak deja vu ya sama kata-kata dr. Shin ke Nari tadi?” Gumam Dal tiba-tiba setelah sibuk berpikir tadi. Tiga rekannya menoleh. “Kayaknya dia pernah bilang ke siapa, gitu…”

Dua pria di hadapannya—Jaejoong dan Zhoumi—yang notabene sama-sama anak lama ikut berpikir… sebelum akhirnya berbarengan berteriak, “YORA!”

__________

“Cieeee, ‘Yora baru’…”

Nari mengernyitkan dahinya menatap Jaejoong dan Zhoumi, dua rekan pria barunya itu dengan wajah tak suka selagi menguncir rambut pirangnya seperti suruhan si ‘bos baru’ tadi, “‘Yora baru’ apa, sih? Yora itu siapa, lagi…”

“Yora itu intern kesayangannya dr. Shin,” Jelas Dal seraya tersenyum, sebelum kemudian ia berjalan menjauh demi lanjut kerja lagi, ikut sang resident memeriksa beberapa kondisi pasien rawat yang ditangani beliau.

Nari buru-buru menjajari langkahnya di lorong lantai 5 RS ini sambil kini mencoba melepas anting-anting yang berjajar di telinga kirinya. Kedua rekan pria mereka mengikuti di belakang dengan happy, Zhou Mi merangkul Jaejoong yang berjalan dengan tangan terlipat di dada. “Terus apa hubungannya sama aku?”

“Kamu itu mirip dia.”

“Miriiiiiip banget!” Tambah Jaejoong dan Zhoumi segera, bersemangat seraya nyengir dari belakang. Dal tertawa kecil.

Tapi Nari jelas masih bingung (dan tak rela dimirip-miripin gitu), “Hm?”

“Kwiyeobgo, yeppeugo, ttokttokhago… (Imut, cantik, pintar…)”

“Aku nggak gitu…” Nari bergumam pelan sambil tangannya masih sibuk melepas dan mengantongi satu per satu sang anting ke dalam jas dokter warna putihnya. Agak ragu juga mengatakannya, habis gadis mana coba yang akan menolak dipuji begitu, tapi kenapa harus dimirip-miripkan dengan orang, sih??

“Kita juga tadinya nggak sadar kok, tapi nyatanya memang benar. Yora itu MaPres (Mahasiswa Berprestasi) di FK Universitas Korea, sedang kamu mahasiswi universitas dengan FK terbaik sedunia. Kalian sama-sama mungil dan kritis—not to mention ‘imut’—dan di hari pertama magang, kalian berdua sama-sama kena semprot dr. Shin masalah rambut.”

“Memang Yora-Yora itu rambutnya pirang juga?”

Dal melirik kedua temannya dengan senyum kecil, “Kita nggak ngebayangin deh kalau Yora sampai ngecat rambut pirang. Hahaha,” tawanya, biarpun segera tersadar kalau di depan sana, si dokter pembimbing sudah berkacak pinggang seraya memelototi mereka yang tak juga sampai-sampai di kamar pasien. “O, o… Iya, iya, Dok! Guys, yuk!”

Berbarengan, keempatnya pun segera bergegas, biarpun di kepala Nari masih sibuk berputar-putar nama Yora. Apaan sih cewek itu? Dan kenapa juga teman-temannya malah tak bisa membayangkan kalau dia sampat cat rambut pirang? Aaaahh, tapi apapun, dia tak suka dimirip-miripkan dengan orang lain!!

***

Keesokan harinya,

“Pagi, Dok.”

Aku menengadah sambil sekalian membetulkan letak kacamataku mendengar sapaan ceria itu. Dan kurasa aku sampai harus menyipit begitu mengetahui siapa oknum tersebut. Selain karena warna rambutnya yang begitu terang, apalagi tertimpa cahaya matahari yang terbias dari jendela lebar di sebelah mejaku di kafetaria staf RS ini, aku sangat amat tak terbiasa dengan seseorang (apalagi intern) menyapaku dengan begitu ‘bahagianya’. Senyum-tiga-jari terpasang sempurna di wajah intern baruku itu. Si Hopkins, anak magang baru transferan dari Johns Hopkins University di Amerika Serikat.

“Oh, pagi.” Akhirnya hanya itu yang bisa kukatakan, sebelum kembali tenggelam dalam bacaanku: map berisi data-data pasien bayi kembar siam Incheon-ku. Ya, aku memang sedang me-review kembali kemungkinan aku menerima tawaran operasi itu. Dari hasil pemeriksaan, kedua bayi ini memang operable, dalam artian mereka tidak berbagi 1 otak sehingga bisa dipisahkan karena masing-masing anak memiliki pusat pengendali sendiri. Hanya saja kedua otak tersebut menyatu di mana beberapa pembuluh darah vital juga jadi menempel, dan itu faktor riskan dalam pemisahan ini, belum lagi tahap rekonstruktif untuk menutup kepala masing-masing bayi setelah pemisahan. Bagaimanapun aku harus cepat memutuskan, agar kalaupun nantinya aku menolak, mereka bisa dengan cepat mencari neurosurgeon lain untuk menangani dua bocah tersebut, karena perencanaan dan juga persiapan pra-operatif untuk operasi ini juga akan panjang.

“Oh, apa itu, Dok?” biarpun sepertinya niatku yang ingin fokus itu sedikit terancam dengan keberadaan intern satu ini. Tanpa kusadari ia sudah berpindah ke belakang punggungku saja! “Oh! Bayi craniopagus?”

Aku hanya bisa menghela napas. Bukan yang beres, ternyata timku malah kedatangan satu anak ‘ajaib’ lagi. Aktif, cengengesan, dan ‘nyeleneh’, setipe dengan intern-internku yang tersisa!

“Itu kasus Dokter yang baru, Dok? Saya dengar Dokter memang neurosurgeon…”

Aku tak  merespon, seraya terus membalik-balik kertas dalam map biru di pangkuanku. Kenapa anak ini harus datang kepagian, sih? Satu waktu dalam sehariiiii saja aku ingin tenang, bebas dari suara bising ABG kuliahan seperti mereka!

“Tapi bayi craniopagus… berarti seperti kasus legendaris-nya Profesor Carson, ya…”

Biarpun akhirnya, seketika aku berhenti memeriksa berkas-berkas pasien bayi-ku itu mendengar lanjutan respon si gadis baru. Ya, betul juga… Anak ini kan berasal dari tempat ‘orang itu’…

“Profesor Carson?” tiba-tiba terdengar suara tanya dengan nada melengking (?) yang sama sekali tak asing di telinga kami berdua. Baik aku dan si gadis baru menolah, dan 2 meter dari kami, si ‘cowok cantik’ Kim 1 tengah melangkah mendekat selagi menggaruk-garuk kepalanya bingung.

“Benjamin Carson.” Biarpun baru sempat membuka mulut, jawaban cepat Zhou yang juga baru memasuki kafetaria berbarengan dengan sang soulmate, Kim 2, segera menghentikan si Hopkins yang sebetulnya sudah siap bersuara. Dengan kedatangan mereka berdua, tim kami telah lengkap sekarang. “dr. Benjamin Carson, pediatric neurosurgeon (ahli bedah syaraf spesialis anak) di Johns Hopkins Hospital itu, lho. Dokter pertama yang berhasil menyelamatkan kembar siam craniopagus dengan hasil keduanya hidup…c Ya kan Nari?” si intern Cina kembali menyambung penjelasannya. Sang mahasiswi Johns Hopkins yang keduluan menjawab itu buru-buru mengangguk-angguk mengiyakan begitu sadar kalah cepat. Lucu sekali.

Eh?

“Ngomong-ngomong memangnya kamu nggak nonton film The Gifted Hands? Tentang perjalanan hidup dr. Carson, bagus banget itu.” Zhou menambahkan lagi. Ditanya begitu, Kim 1 perlahan menggeleng polos yang segera disambut tepukan jidat ketiga rekannya. Pantesan. Itu film wajib anak kedokteran, padahal, geleng mereka dalam hati.

“Sudah.” Akhirnya aku kembali bersuara. Empat anak muda itu buru-buru mengambil posisi berdiri berjajar di hadapan meja kafetaria tempatku membaca tadi. Sikap sempurna, biarpun untung belum pakai hormat bendera segala. Ahjumma pengurus kafetaria yang sedang menuang sayur ke dalam wadah besar di meja prasmanan di belakang kami sampai harus melihat dua kali pemandangan di hadapannya. Sejak kapan RS tempatnya bekerja berubah jadi kamp militer?

Ah, tapi sejak kapan aku peduli pandangan orang lain. “Jadi, Hopkins—“

“Jung Nari, Dok.”

Ketiga temannya langsung terbelalak menatap gadis mungil yang berdiri di tengah jajaran mereka itu. Belum pernah ada yang berani membantah resident galak mereka!

Biarpun aku sih cuek saja, mau berapa kali ia ingatkan nama aslinya, jika itu bukan sesuatu yang dianggap penting oleh otakku, aku tak akan mengingatnya. Tuh kan, aku bahkan sudah lupa lagi, siapa namanya? “Oh, Hopkins.” Panggilku lagi akhirnya. “Apa jadwalku hari ini?”

Ia menunduk dengan wajah manyun kecewa. “Appy. Jam 9, OR 4.” Jawabnya pelan.

Appy? Bukannya jadwal dokter pagi ini operasi usus buntu, ya?” Tanya Kim 1 bingung.

“Ya itu, appy itu dari kata ‘appendectomy‘, Jae. A-pen-dek-to-mi. Operasi usus buntu.” Bantu rekan bermarga sama-nya, Kim 2, cepat.

Kim 1 segera merespon dengan wajah takjub, “Hoooo, bilang aja kek: u-sus-bun-tu, gitu… Eh tapi waaah, gaul juga ya! Nari, itu bahasa yang dipakai di RS di Amerika ya?”

Sebelum yang ditanya menjawab, aku yang kepalang memutar kedua bola mataku bosan dengan ketelmian internku satu itu segera memotong, “20 menit lagi operasiku mulai. Aku sudah bilang kan kemarin apa yang harus kalian lakukan?” Tanyaku seraya menutup map yang barusan kubaca dan bangkit dari kursi, tak lupa menghabiskan kopi yang kupunya di atas meja.

Keempat bocah di hadapanku kontan mundur satu langkah melihatku yang sudah berdiri. Mereka memang sudah tahu tentang jadwal ini. Sampai aku bisa mendampingi mereka lagi, mereka akan… “Bantu-bantu di ER, Dok.” Jawab mereka serempak.

“Bagus.” Anggukku, seraya siap melangkahkan kaki keluar.

…Biarpun sepertinya aku punya rencana lain. Santai, kutolehkan wajahku ke arah Hopkins yang sedang sibuk melayangkan pandangannya ke seantero kantin karyawan ini. Tempat yang kerap menjadi tempat berkumpul tim magangku ini tentunya masih begitu asing baginya. “Hopkins.” Panggilku. Ia—nyaris terlonjak karena kaget—cepat menghadapkan wajahnya padaku lagi. “Siap-siap, you’re scrubbing off (kamu ikut operasi).”

“NE??”

_____

“Kau tak suka?” Aku bertanya selagi kami bergegas menuju OR 4, ruang operasi yang akan digunakan dalam operasi kali ini. Pasca ingat kalau ia berasal dari Johns Hopkins University/Hospital tempat pertama kali dilaksanakan operasi pemisahan bayi kembar craniopagus dengan hasil sempurna sekaligus tempat bekerja penemu metodenya, dr. Ben Carson, aku pun memutuskan mengajaknya ikut operasi kali ini, untuk mengetesnya. Sepertinya aku mulai memikirkan untuk menerima tawaran operasi pemisahan di Incheon…

“Bu-Bukannya gitu sih, Dok…” Gadis pirang yang hari ini mengepang habis rambutnya ke belakang itu menjawab ragu. “…tapi maksudnya ini tiba-tiba sekali, kemarin Dokter bilang ini cuma operasi minor yang sudah sering kami eksplor makanya kami tak perlu ikut. Tapi hari ini tiba-tiba saya disuruh ikut…”

“Oh, jadi kau tak suka karena harus menghabiskan 1 jam lebih banyak denganku dibanding teman-temanmu.”

“Bukan, Dok…!”

“Sudah, apa pun alasanmu, yang jelas alasanku hanyalah karena aku tiba-tiba ingat kalau aku sama sekali belum pernah melihat performamu dalam operasi. Dan sekarang ada kesempatan, kenapa tidak?” Jawabku santai seraya TIT! menempelkan ID-ku di alat pembaca sensor di depan pintu OR 4. Pintu itu pun membuka. “Jangan bilang kau belum pernah berdiri di ruang operasi.”

“P-Pernah dong, Dok!” Ia terburu berseru. Biarpun akhirnya, sadar dengan pandanganku, ia buru-buru memelankan suaranya lagi, “Dokter tahu saya sempat magang tiga bulan di Johns Hopkins Hospital…”

“Nah, ya sudah, kenapa masih bawel?”

Ia memutar bola matanya ke atas, melihat langit-langit, “Iya juga, sih. Kenapa juga saya ribut banget, ya Dok?”

Aku mengangguk berkali-kali. Setuju total.

“Selamat pagi.” Aku menyapa semua orang di dalam ruang operasi berukuran 6 x 5 meter, ruang operasi terkecil di RS Universitas Korea ini. Dokter anestesi, dua perawat yang sedang mempersiapkan peralatan dan pasienku—wanita berusia 26 tahun—segera beralih dari pekerjaan mereka untuk melihatku yang baru masuk dari ruang sterilisasi, sudah siap dengan pakaian operasi lengkap.

“Selamat pagi, Dok.”

“Pagi, dr. Shin.” dr. Min, si dokter anestesi membalas sapaanku dari tempatnya bekerja di belakang kepala pasien. Ia tersenyum, biarpun matanya segera menyipit bingung melihat keberadaan seseorang di belakangku. Dokter pria yang seumur denganku itu kemudian tertawa kecil, “Oh, bawa ‘buntut’ rupanya.”

Aku mengangkat bahu, “Ya, ini intern baru di tim kami…”

“…Jung Nari.” Si Hopkins dengan cepat menambahkan seraya maju ke sampingku dan membungkuk. Mungkin takut tiba-tiba aku mengenalkannya ke semua orang dengan nama ‘Hopkins’. “Annnyeonghaseyo, jal butakdeurimnida. (Selamat pagi, mohon bantuannya.)”

“Annyeonghaseyo.”

“Baik, jadi apa pasien sudah siap, dr. Min?” Tanyaku lugas begitu kami sudah berada di samping pasien. Kelihatannya sih sudah, pasien sudah terlelap nyenyak, lapangan operasi yaitu bagian abdomen (perut) pasien juga terlihat telah disterilkan dan siap untuk dilakukan prosedur operatif, tapi tetap saja bertanya kepada yang berkepentingan adalah perlu agar lebih pasti, bukan?

dr. Min mengangguk dengan wajah cerah, dia memang dokter dengan kepribadian paling menyenangkan di RS ini. “Siap. Sekarang tugas Anda, Dok.”

Aku menggeleng perlahan, seraya menyeringai tipis mengalihkan pandangan tepat pada Hopkins di hadapanku. Yang ditatap terlihat buru-buru berjengit, merasakan firasat buruk. “Bukan saya, tapi dia.” Kataku seraya meminta perawat memberikan pisau bedah padaku, untuk kemudian kutawarkan pada si gadis baru. “Jadi, bagaimana prosedur apendektomi terbuka1, Hopkins?”

______

“Kau bisa, kan?”

Aku memastikan dengan mengangkat sebelah alisku ketika gadis muda dengan jubah operasi biru di hadapanku tak juga meraih scalpel yang kugenggam. Melihat tatapanku, tak yakin, ia menyorongkan tangannya dan mengambil pisau bedah tersebut.

“Bisa… sih Dok, tapi kenapa jadi saya? Saya kira saya hanya akan mengamati—”

“Apa sewaktu kecil kau menelan radio?”

Ia yang barusan sudah siap membuat insisi (irisan) di perut bagian kanan bawah pasien, seketika berhenti, “Ha?”

“…Kau cerewet sekali.” Lanjutku ketus, yang segera disambut dengan kekehan kecil dr. Min dan kedua perawat, juga bibir manyun darinya. “Jadi, apa yang sedang kau lakukan?” Tanyaku kemudian begitu melihatnya mulai bekerja.

Ia yang sudah selesai dengan pisau bedahnya dan kini sedang meminta gunting pada perawat, menjawab, “Opened the abdomen transversely, enlarge incision with scissors—”

“Dalam bahasa Korea, tolong.”

Berhenti sejenak, seperti tersadar ia segera mengangkat kepalanya menatapku, nyengir, “Maaf Dok, kebiasaan.” Aku memicingkan mataku malas, terserah kau saja, pikirku. Untung sampai saat ini prosedur yang dilakukannya benar dan sempurna. “Jadi, um… Saya baru saja melakukan insisi pada abdomen pasien, dan akan memperlebar insisi tersebut menggunakan gunting…”

“Gunakan retraktor2, kemudian… keluarkan apendiks (usus buntu).” Lanjutnya sambil terus melakukan segala prosedur, lancar dan tanpa ragu sedikit pun. Aku melihat jam di atas pintu otomatis pemisah OR ini dan ruang sterilisasi di sebelahnya. Tanpa sadar 15 menit sudah berlalu saja. “…klem di dasar apendiks—”

“Klem apa yang kau gunakan?”

Pasca menerima klem yang dimaksud dari perawat, ia segera kembali fokus melanjutkan prosedurnya pada pasien. Aku kira ia lupa menjawabku ketika tiba-tiba, tanpa melihatku sama sekali, ia bersuara, “Straight-clamp, Dok. Lalu potong apendiks…” Oh, dia berhasil selamat dari omelanku jika ia sampai tak menjawab apa yang kutanyakan.

Dan pluk! tak butuh beberapa detik sampai dengan sukses si usus buntu bermasalah telah berpindah ke dalam wadah stainless di tangan perawat. Aku mengangguk-angguk. Betul, sampai sini semuanya betul… “Buat jahitan pursue string pada pangkal bekas apendiks. Sebentar… yap, selesai.”

“Oh, rapi sekali, intern Jung. Jalhaesseo.”

Aku yang tadinya mengawasi biasa saja, baru tertarik untuk melihat lebih baik hasil jahitan calon dokter baru nan imut kita begitu mendengar pujian dari dr. Min. Dokter dengan mata sipit yang selalu terlihat tersenyum itu baru saja kembali ke duduknya lagi di belakang kepala pasien selepas melongok pekerjaan internku. Sepertinya ia penasaran setelah mendengar betapa tanpa ragunya si Hopkins melakukan tahap demi tahap operasi ini, apakah hasilnya juga bagus?

…Dan hasil itu memang bagus. Setelah aku lebih memperhatikan lagi, memang benar, jahitan yang dibuatnya rapi sekali. Seperti sedang menjahit di atas kain… “Gamsahamnida, dr. Min.” Ia menjawab pujian dokter anastesi kami seraya tersenyum, sebelum kembali mengarahkan pandangannya ke pasien dengan perut masih terbuka di atas meja operasi. “Baik, sekarang kita bisa melepas klem dan masukkan kembali usus ke dalam perut. Tutup dan buat jahitan sesuai lapisan kulit dengan jelujur. Pertama peritoneum… sebentar…”

Dan satu per satu aku menyaksikan hasil jahitan yang mungkin merupakan jahitan bedah dari intern ter-rapi yang pernah kulihat. Setelah aku mengamati lebih baik pula, aku pun baru sadar kalau insisi yang ia buat juga begitu minimal, sebisa mungkin hanya agar operasi bisa tetap dilakukan dengan baik. Sepertinya aku makin menemukan titik terang akan apakah aku akan bisa menerima tawaran operasi pemisahan itu… Gadis baru ini punya bakat dalam dunia bedah.

_____

“Intern Jung, sugohasseo (kamu sudah bekerja keras). Kerjamu bagus sekali, belum pernah saya melihat dokter—apalagi intern—dengan pekerjaan begitu rapi sepertimu.” Saat sedang menunggu teman-temannya di ruang tunggu operasi, suara menyenangkan seorang pria menyapa Nari. Gadis itu menoleh dan melihat dr. Min, dokter pria spesialis anastesi di operasinya tadi menjadi orang terakhir yang keluar dari OR. Sepertinya ia baru selesai membereskan peralatannya. Ia mengenakan seragam dokter jaga-nya, setelan berwarna hijau tua yang terdiri dari atasan lengan pendek longgar berkerah V dan juga celana panjang berpinggang karet lengkap dengan sepatu keds. Dan… oh! Tanpa penutup kepala untuk operasi-nya, ternyata ia memiliki rambut ikal yang agak gondrong dan berwarna hitam kelam. Chic dan terlihat asik sekali—di luar kenyataan kalau ia juga ganteng—ia seperti artis di mata Nari!

“dr. Min! Gamsa—”

Biarpun baru saja Nari berniat mengucapkan terima kasih, suara dalam pria lain yang terdengar mendekat sudah memotongnya begitu saja, “Itu berarti jam terbang Anda yang masih kurang, dr. Min.”

dr. Min tertawa melihat si sumber komentar, “Shin Donghee. Seharusnya bisa kukira, dokter dengan mulut paling tajam di RS ini.”

Benar saja, pemilik suara itu adalah dr. Shin, resident baru Nari sendiri. Pria tambun yang kini sudah kembali rapi dengan jas dokter putih di luar seragam dokter jaganya itu terlihat menaikkan kedua alisnya bersahabat seperti sapaan pada sang dokter anestesi.

“Nari-ya!!”

“Oh, itu teman-temanmu datang.” Kata dr. Min begitu melihat tiga pemuda-pemudi dengan jas putih di luar seragam medis yang sama dengannya namun berwarna biru tua itu berlari ke arah mereka. Ia menepuk pundak Nari, “Kalau begitu saya duluan. dr. Shin, intern Jung. Semangat ya, kalian juga anak-anak!”

“Ne, dr. Min!! Byebye!!” Zhoumi, Jaejoong, dan Dal—Dal paling keras—menjawab seraya melambai-lambaikan tangan mereka ke arah si ‘resident tergaul se-RS’. Biarpun itu tak berlangsung lama… Karena suara mengintimidasi residen mereka pada Nari di belakang seperti segera mengalihkan perhatian mereka lagi.

______

“Kenapa kau begitu lelet?” Bersilang tangan di dada, aku mulai menginterogasinya begitu ia berada di hadapanku. Kalian tahulah, aku selalu to-the-point. Aku perlu tahu mengapa penting baginya memolorkan waktu operasi barusan sampai lebih dari setengah jam. Ya, serius. Tadi, anak kecil yang katanya mahasiswi tahun akhir Johns Hopkins Medical School ini sudah berhasil membuat sebuah operasi minor berjalan lebih lama nyaris 1,5 kali lipat. Dan itu bukan semata-mata karena ia pemula, ia sengaja memberi perhatian lebih pada proses penjahitan pasien.

“Eh?”

“Kenapa kau sebegitu merasa pentingnya menghabiskan sebagian besar waktu operasi hanya untuk jahitan yang nantinya juga akan dilepas??” Tambahku tajam. Teman-temannya yang barusan masih mengantar kepergian dr. Min mulai memberi perhatiannya pada kami. Penasaran, ketiganya pun perlahan mendekat, biarpun sedikit ragu. Gadis yang sedang kuomeli hanya bisa menunduk. “Baiklah, aku akui pekerjaanmu memang begitu rapi. But that cost my precious time. Beruntung hari ini aku cukup senggang—bahkan sampai bisa menggantikan dokter dari bedah umum untuk operasi tadi—tapi jika ini terjadi di hari-hariku yang biasa, kau tahu berapa nyawa yang akan tergadai? Pekerjaanku tidak hanya mengawasimu, gadis bule.”

“Whoa, Dok, ada apa sih ini? Sabar Dok, sabar… Masih pagi, lho. Tak enak dilihat orang…“

“Diam.” Tegurku cepat. Ketiga bocah anak lama di tim magangku itu buru-buru berdiri tegap dan memberi isyarat meretsleting mulut mereka. Puas menyaksikan itu, aku mengembalikan pandanganku ke arah Hopkins.

Hening sejenak.

“Karena… biarpun nantinya akan dilepas… bagi saya jahitan yang rapi tetap penting, Dok.” Ia akhirnya menjawab. Kutelengkan kepalaku tertarik, ingin mendengar lebih lanjut. Perlahan ia memberanikan diri mengangkat wajahnya menatapku. “Bagaimanapun… sebuah jahitan akan membekas, bukan? Lalu bagaimana dengan orang yang jahitannya panjang? Kasihan sekali kalau ia sampai memiliki bekas luka yang jelek hanya karena jahitan asal-asalan… Apalagi kalau bekas itu berada di tempat yang terlihat, yang kalau dalam kasus tadi, ia adalah seorang wanita, akan ada saat-saat baginya ingin menggunakan bikini atau pakaian lainnya yang menunjukkan perut—“

Aku memutar kedua bola mataku. Kenapa ia jadi ceramah? “Dan kenapa kau begitu peduli?”

“Karena saya tertarik di PS, Dok.” Jawabnya langsung dan tegas, seakan ia sudah betul-betul tahu dengan pendiriannya. Ditatapnya kedua mataku kini dengan mantap.

Hening sebentar ketika kami mencoba menyerap perkataan itu. Tunggu… bidang apa yang ia minati? Baru ‘ngeh’, serempak kami semua pun memekik, “HAH??”

“PhotoShop?”

Biarpun sesegera pula, komentar polos dari Kim 1 membuat aku dan ketiga temannya memicingkan mata tak percaya mengapa ia begitu bodoh menatapnya. Zhou menghela napas lelah sebelum akhirnya merespon singkat, “Yah… mirip sih.”

“Sama-sama bisa ‘mempermak’ orang.” Tambahku cuek, tak tahu juga kenapa jadi ikutan menimpali anak-anak itu biarpun hanya sebuah celetukan pelan. Tapi… ya kan? PS (baca: pi-es) untuk PhotoShop dan PS untuk Plastic Surgery di sini, keduanya bisa membuat seseorang tampak lebih ‘indah dilihat’. Satu di media foto, satu di media tubuh langsung alias dunia nyata.

“Ya ampuun, PS itu Plastic Surgery, Jeje sayang… Gimana sih magang sudah diperpanjang masih telmi juga, ah. Bete, ah.” Rajuk Kim 2.

Kim 1 ber-oo pelan seraya mengangguk-angguk, “Oh gitu?? Ya maaf deh, maksudku ya mana aku tahu gitu-gituan? Namanya juga cowok, tertarik juga nggak deh sama ‘operasi plastik’.” ia mengucap seraya memberi isyarat tanda kutip dengan masing-masing dua jari tangan kanan dan kirinya saat menyebut kata ‘operasi plastik’.

“Seriusan? Jadi wajah ‘cantik’-mu itu bukan hasil PS?” ledek Zhou.

“HEH!!” bentak Kim 2 yang disambut gelak sukses si calon dokter asal Cina. Biarpun tak lama juga si cowok yang ‘lebih cantik’ marah-marah, karena kini, seperti baru memikirkan sesuatu, ia tertawa, “Eh tapi serius. Tadi pagi appy, sekarang PS… gila, kayaknya semenjak Nari muncul, kosakata kita jadi gaul banget, American style banget gitu! Yo yo yo, man—”

Kami semua sukses kembali memicingkan mata, menatap aneh si cowok yang padahal kuliah di Universitas Korea, universitas terbaik di negeri ini. Kenapa bisa-bisanya tak hanya kuliah disana, ia bahkan masuk Fakultas Kedokteran?

“Jadi kau berminat di PS…” Tak peduli lagi dengan semua kekonyolan intern-intern lamaku, aku kini bergumam seraya menatap si gadis baru tepat di mata besarnya. Ia memiringkan sedikit kepalanya sat balik menatapku, mencoba menerka apa yang akan kukatakan. “…apa karena bagian tubuh atau wajahmu adalah hasil PS?”

Hening. Semua internku seketika menganga mendengar pertanyaan (atau pernyataan?)-ku itu, shock. “D-Dok, itu…” Si Zhou memulai.

“…nggak sopan, lho Dok…” Sambung Kim 2, merasa tak percaya dengan bisa-bisanya aku menanyakan hal se-vulgar itu di ruang publik.

Yah, bukankah mereka sudah tahu kalau aku memang blak-blakan? Tapi di akhir, aku sama sekali tak merasa itu hal yang jahat kok, lihat saja yang ditanya malah sibuk tertawa sekarang. “Gwaenchana, yaedeul-ah. (Nggak apa-apa kok, guys.)” Katanya santai kepada teman-temannya, sebelum kembali menatap mataku, tersenyum penuh percaya diri, “Bukan karena itu kok, Dok. Yah… biarpun sebetulnya saya ingin sekali. Kalau ada operasi plastik untuk meninggikan badan, saya pasti sudah jadi pendaftar pertama.” Ia terkekeh, yang segera diikuti teman-temannya. Mereka mengangguk-angguk setuju karena itu memang benar, kalau ada satu hal dari fisik gadis ini yang perlu ‘diperbaiki’, sudah barang tentu tingginya itu yang bercokol di urutan pertama daftar.

Yah, aku juga paham itu. Maka itu kini aku makin menatapnya tertarik, menunggu kelanjutan perkataan si gadis Hopkins.

“…Saya hanya ingin memberikan hari depan yang lebih baik untuk pasien-pasien saya nantinya.” Ia kembali bersuara, kini dengan pandangan menerawang yang seperti menembus dinding-dinding ruang tunggu operasi ini. “Mungkin bagi kita para dokter, sebuah operasi tak lebih hanyalah prosedur tak istimewa yang kita lakukan sehari-hari. Tapi bagi pasien, arti sebuah operasi—apalagi operasi plastik—sangatlah jauh lebih besar dari itu. Tarafnya bahkan sampai bisa mengubah hidup mereka. Dan saya ingin menjadi orang yang bisa membantu mengubah hidup mereka itu, Dok.”

Sebuah alasan yang begitu mulia—teman-temannya bahkan sampai bertepuk tangan—tapi aku masih tetap merasa tak puas. Bakatnya dalam operasi seharusnya bisa digunakan untuk hal yang lebih besar. Untuk apa ia mencoba mengubah hidup orang sehat namun tamak (biarpun memang ada pasien yang menjalani PS bukan karena memang ingin, seperti anak-anak dengan bibir sumbing, mantan penderita kanker payudara, dll, tapi tetap saja kebanyakan adalah orang-orang tamak itu), jika ia mampu menyelamatkan hidup orang yang sakit dan lebih butuh pertolongan dengan kemampuannya?

***

“Jadi akhirnya Dokter memutuskan menerima tawaran itu?”

Zhou menebak dengan jitu alasan pagi ini secara tiba-tiba aku menyuruh keempat internku—dia, Kim 1 dan 2, dan juga si Hopkins—bersiap-siap untuk pergi keluar. Aku mengangguk.

“Tawaran yang mana? Kita mau kemana sih?” Tanya si anak baru yang sudah siap dengan jaket kulit coklat, skinny jeans yang dimasukkan ke dalam boots hitam sebetis, dan kini sedang menguncir ulang rambut pirangnya. Aku menatapnya cukup terkejut. Anak ini berjiwa rocker sekali, apa ya? Lagipula, untuk tampilan ‘se-gaul’ ini, ia cepat juga. Padahal tadi aku hanya memberikan waktu 5 menit setelah mereka menerima pesan pager-ku.

“Ke Incheon, Nari honey. Ketemu craniopagus baby~” Kim 1 menjawab riang seraya masih sibuk memakai mantelnya di lobi RS ini. Seketika wajah si anak baru berbinar.

“Serius?? Waaaahhh akhirnya Dokter pede mengoperasi anak-anak itu? Terus sekarang kita mau mulai project planning-nya?”

Seketika mataku memicing, “Apa maksudmu dengan akhirnya aku PD mengoperasi mereka?? Tapi yah… ya, hari ini kita akan menghadiri meeting perencanaan dengan tim dari MMC. Kalian tahu kan ini proyek besar yang akan melibatkan banyak dokter spesialis? Oh ya, kemarin aku juga sudah bertemu dengan orangtua bayi itu. Mereka kelihatan senang sekali mendengar kabar ini.”

“Jadi kemarin sore dokter tiba-tiba hilang tuh kesana?”

“Wow, woohoo!!” Biarpun tanya dari si cepat tanggap Zhou itu segera tertutupi dengan lengkingan tiba-tiba Hopkins. Kami semua berjengit kaget. “Aku bakal melihat operasi spektakuler craniopagus secara langsung, LIVE! Are we all going to scrub-off? (Apa kita semua akan ikut operasinya?”

Ketiga rekannya saling bertukar tawa yang ditahan mendengar tanya Hopkins, sebelum akhirnya Zhou, yang paling tua dari anak-anak di timku, membiarkan dirinya menjawab, “Nope, it’s just you, Nari baby… Kita bertiga cuma bakal nonton dari galeri. Hahaha.”

“Haaaa???”

“Bercanda.” Kim 1 akhirnya tertawa-tawa melihat wajah penuh rasa horor si gadis baru, sebelum akhirnya beralih padaku, bertanya kasual, “Bercanda, kan Dok?”

“Kata siapa?” Kataku datar.

“HAAAAA??” Kini empat-empatnya yang serempak berteriak. Aku menghela napas capek, siapa suruh pakai main-main? Kalau yang 1 teriak kan sudah jelas pasti karena tak mau sendirian, sedangkan yang tiga lagi kini ikutan, jelas karena sesungguhnya mana mau mereka kelewatan kesempatan berharga disaat kelahiran kembar craniopagus saja hanya 1:100.000 kelahiran?? Huh, sudah tahu begitu masih saja bercanda, kalian pikir aku tidak bisa melakukan hal yang sama?

Tapi ya sudahlah, kali ini saja kubiarkan. Daripada kami tidak jalan juga ke Incheon. “‘Kata siapa hanya si Hopkins?’ Itu maksudku.”

Sekejap, keempatnya melongo.

Kim 2 menyikut Zhou, si soulmate, “Eh, si Dokter nyoba bercanda, ya?”

Aku memicing, “Bicara apa kalian…??”

“Hehehe, bukan apa-apa, Dok. Guys, ayo kita jalaaaan!!”

Cih, aku mencibir dalam hati seraya geleng-geleng kepala melihat kelakuan mereka dari belakang (karena mereka keburu kabur). Dasar, selalu begini. Sejak dulu tak pernah berubah. Anak-anak itu tetap bandel seakan tak belajar.

…Tapi anehnya aku nyaman. Internship tahun ini… cukup menyenangkan.

“Oh ya, Nari. Bicara tentang operasi craniopagus… berarti kamu sudah pernah bertemu langsung dengan dr. Carson, dong? Waaahh, daebaaaakk…!”

Sembari terus berjalan menuju mobilku di tempat parkir, Si Hopkins cekikikan bangga seraya mengangguk-angguk menjawab tanya satu-satunya rekan wanitanya, si Kim 2 itu. “Iya dong, Profesor Carson itu baiiiikkkk banget. Aku beberapa kali ikut Guest Lecture (kuliah tamu) beliau, seru deh.“

Kim 1 menelengkan kepalanya polos mendengarkan kedua rekannya, “Profesor siapa?”

“Uuugh, dr. Benjamin Carson yang kemarin aku ceritain, lho… Minta dijitak banget anak ini.” Intern pria satu lagi, si jangkung berkacamata, Zhou, segera menjawab jengkel.

Kim 1 mengangguk-angguk seraya menggosok kedua telapak tangannya, mencoba membuat kehangatan di tengah dingin menusuk pagi musim dingin ini, “Oh dia… Iya iya, ingat. Eh tapi serius, Mimi. Kemarin aku amazed lho kamu tahu banyak tentang dokter itu! Waaah luar biasa…”

Zhou memutar bola mata di balik kacamatanya, “Aku yang amazed kamu nggak tahu beliau.” Nyinyirnya seraya terus berjalan sampai akhirnya membuka pintu di jok penumpang SUV KIA-ku dan duduk bertiga di tengah bersama kedua gadis-gadis, sedangkan Kim 1 duduk di jok depan di sebelahku. Kim 2 mengangguk-angguk setuju pada pernyataan sahabatnya. Well, aku juga sih. dr. Carson memang (seyogianya) populer di kalangan kedokteran termasuk mahasiswa berkat film The Gifted Hands yang bisa dibilang ‘tontonan wajib anak kedokteran’ itu. Biarpun pada kasusku, justru aku yang sengaja mencari film itu begitu tahu salah satu neurosurgeon yang kukagumi di dunia dibuat kisah hidupnya menjadi sebuah film.

“Oh iya Dok, jadi teknik apa yang akan Dokter pakai untuk memisahkan pasien kita? Dari tadi kita bicara tentang Profesor Carson, apa Dokter akan menggunakan cara beliau?”

Melirik si penanya (siapa lagi kalau bukan bintang baru tim kami, si Hopkins?) dari cermin di dalam mobil, aku hanya menyeringai seraya tetap fokus menyetir santai di tengah jalan tol menuju Incheon, “Yang itu, itulah gunanya meeting hari ini. Kalian akan tahu semuanya disana.”

_____

“Selamat pagi, dr. Shin. Selamat datang kembali di MMC, silakan masuk, silakan masuk.”

Segera diarahkan ke ruang rapat di bagian utara lantai dasar RS terbesar di Incheon ini begitu sampai, kedatanganku pun segera disambut oleh salah satu pejabat di Metropolitan Medical Center ini. Pimpinan poli anak di MMC, dokter pria berambut klimis yang terbelah di pinggir berusia sekitar 35 tahun, dr. Song.

“Pagi.” Jawabku lugas seraya menjabat tangannya.

Ia tersenyum begitu ramah, terlebih begitu melihat keberadaan sebaris muda-mudi di belakangku yang (dengan noraknya) masih sibuk mengedarkan pandangan dan terkagum-kagum melihat begitu banyak staf medis berkumpul dalam satu kesempatan, di ruang rapat yang juga begitu besar. dr. Song bertanya tertarik, “Saya tebak ini intern-intern Anda?”

Sekejap, empat bocah itu kembali pada fokus mereka, mengangguk atas tanya dr. Song yang diteruskan dengan membungkuk dalam dan mengenalkan diri masing-masing. Dokter di hadapan kami itu mengangguk-angguk dengan tetap penuh senyum ramah–mungkin itu memang sifat seorang dokter anak–sebelum mempersilakan kami lebih masuk lagi menduduki tempat yang sudah disediakan. Setelahnya ia pun segera mohon diri untuk menyambut tamu lain.

“Waah… Ramai ya, Dok. Banyak yang bawa intern juga…”

Dengan tampang poker face aku menjitak si cowok cantik nan telmi yang bertanya. TAKK! “Katanya kalian sudah tahu ini proyek besar, tapi masih takjub. Akan ada 40 orang yang terlibat, 20 untuk masing-masing bayi. Minimalnya saja akan ada dokter anastesi, bedah otak, dokter anak, bedah plastik, perawat, operator alat, asisten bedah–itu kalian–semua hanya dalam 1 operasi. Pasca pemisahan, akan ada 2 bayi untuk ditangani, maka silakan seluruh staf itu dikali 2.”

Kali ini tak hanya yang bertanya, keempat-empatnya internku menarik napas shock.

Tapi jika mereka menarik napas, aku harus menghela napas. Mereka semua sama sekali belum paham apa yang akan mereka hadapi… Apa harus kucabut kata-kataku tadi yang bilang internship tahun ini cukup menyenangkan?? “Sudah, sana duduk di belakang dengan intern-intern lain–”

“Oh, Park Gildong seonsaengnim! Selamat datang!”

DEG! Aneh. Sesaat, jantungku seakan terkesiap mendengar nama itu, suara dari belakangku, arah pintu masuk. Pikiranku sekejap terasa dialihkan. Park Gildong? Nama itu seperti familiar buatku. Park… Gildong–

“Oh? Gildong abeonim?”

Biarpun belum sempat menoleh untuk mengonfirmasi pendengaranku, seruan dari Kim 1 yang segera melompat dari kursi yang baru sedetik didudukinya sudah mendahuluiku. Dengan cekatan, ia berlari melewatiku untuk ikut menyambut sang tamu yang kedengarannya begitu dihormati itu. Demi melihatnya, aku pun kini sudah betul-betul membalik badanku, kembali menatap pintu ruang rapat terbesar di RS ini.

Pria paruh baya dengan tinggi tak lebih dari 180 cm, memakai jas dokter putih di luar kemeja abu-abu dan dasinya, dan biarpun sudah mulai beruban namun posturnya masih begitu tegap ala militer itu segera menoleh mendengar namanya dipanggil. Keningnya perlahan berkerut begitu melihat seorang pemuda dengan jas putih dokter namun bertampang anak kuliahan yang kini sudah berada di hadapannya, tersenyum setelah membungkuk begitu kilat. “Nugu…?” Tanyanya, biarpun bingung tapi begitu terdengar berwibawa.

Kim 1 kembali membungkuk, “Kim Jaejoong imnida. Saya teman kampus sekaligus magang Yora. Kita pernah bertemu dua kali sewaktu kami kerja kelompok di rumah Anda, Gildong abeonim.”

DANG! Y-O-R-A. Benar. Perkiraanku benar. Beliau adalah dr. Park Gildong yang itu, spesialis jantung yang terkenal itu… Ayah Yora.

“Aah… Jinjja? Kalau begitu maaf, maaf, aku memang mudah lupa dengan orang baru. Senang bertemu denganmu, Nak Jaejoong.” Kata dr. Park ramah seraya mengusap-usap bahu Kim 1. Karena hanya melihat dari kejauhan, aku kurang jelas lagi apa yang mereka bicarakan. Tapi yang jelas mereka tersenyum, sedikit tertawa, dan seperti yang sudah kuperkirakan… kini Kim 1 terlihat menunjuk ke arahku seraya masih berceloteh, yang membuat sang dokter veteran akhirnya menoleh untuk melihatku. Aku terkesiap, biarpun untungnya beliau tersenyum ramah (tentu saja), yang membuatku akhirnya, dari sini, mau tak mau membungkuk untuk menyapanya.

Tak pernah kusangka perkenalan pertamaku dengan ayah dari gadis yang kusukai akan berlangsung jauh-jauhan seperti ini.

Anyways, tak lama sampai kemudian dr. Park menepuk-nepuk pundak Kim 1 untuk kembali beranjak dari pintu masuk tempat mereka mengobrol itu. Kim 1 mengiyakan, dan secepatnya kembali membungkuk di balik punggung dokter karismatik itu begitu beliau pergi, mengiringinya yang berjalan bersama sang sekretaris pria menuju tempat yang sudah disediakan, dipandu oleh dr. Song. Yang menarik adalah, setiap kali melewati dokter-dokter yang telah datang lebih dulu, orang-orang itu seketika berdiri untuk menyalami sang ahli jantung! Biarpun kenal wajah, aku memang sama sekali belum pernah bertemu langsung dengan dr. Park Gildong ini. Maka itu melihat reaksi dokter-dokter tadi… aku baru tersadar kalau beliau betul-betul tokoh top.

“Siapa tuh, Jae?” Tiga internku secepatnya bertanya kompak begitu cowok cantik itu kembali ke tempatnya di ujung belakang ruang rapat ini, bersama para intern dari RS-RS lain. Sementara aku, segera kupicingkan mata penuh intimidasi ke arahnya, isyarat mengomel karena bisa-bisanya dia menunjukiku begitu saja pada dr. Park. Seharusnya kan aku bisa menyapa beliau dengan lebih sopan!

Biarpun sepertinya yang kupelototi itu tidak merasa, sih. Dengan antusias ia bercerita pada teman-temannya, “The Almighty dr. Park Gildong! Appanya Yora yang cardiologist top itu loh…”

“Huwaa… Jadi itu appanya Yora yang tenar seantero Korea ini??” Kim 2 buru-buru memekik. “Eh, tua-tua ganteng gitu, ya? Agak pendek sih tapi ganteng, kya!”

“Appanya Yora?”

Baru 2 pria di antara mereka siap menjitak si anggota termuda karena bisa-bisanya ngecengin ayah teman mereka sendiri, tanya dari si anak baru sudah mengalihkan perhatian mereka. Ketiganya segera menoleh, dan melihat gadis manis dengan kuncir kuda di belakang mereka tengah menaikkan alisnya penasaran.

Kim 1 tertawa, “Oh iya Nari belum tahu, ya. Jadi appa-nya Yora memang spesialis jantung top gitu, terbaik se-Seoul–kalau nggak mau dibilang se-Korea, sih. Kayaknya dia bakal menangani masalah jantung disini–” ia tiba-tiba berhenti, terlihat bingung sebelum kemudian beralih padaku. “Eh tapi memang nanti kita bakal butuh ahli jantung juga ya, Dok? Kan dempetnya di kepala…”

Aku tak perlu bereaksi, karena sekejap, si Hopkins yang barusan seketika menunjukkan wajah tidak sreg begitu mendengar penjelasan Kim 1 tentang dr. Park itu (entah karena apa), kini sudah menatap ke depan, tepat ke arah dr. Song, pimpinan meeting kali ini yang sedang memulai acara. Aku tersenyum tipis. Sudah kukira, seperti si brilian yang biasanya, ia segera tersadar. “Ahli jantung… Kita betul-betul akan menggunakan teknik dr. Carson.”

TBC

1Teknik pembedahan tradisional untuk membuang apendiks (usus buntu) yang dilakukan dengan anestesi umum. Dikatakan tradisional karena saat ini operasi usus buntu juga bisa dilakukan secara laparoskopik (apendektomi laparoskopik) dengan insisi lebih kecil dan dokter memantau pemotongan apendiks melalui monitor.

2Instrumen bedah untuk ‘merobek’ insisi (sayatan), sehingga nantinya bekas luka dapat pulih dengan lebih baik karena jaringan pada luka terobek secara natural alih-alih menggunakan pisau/gunting. Setelahnya retraktor juga digunakan untuk menahan kedua sisi robekan luka/organ sehingga lapangan operasi terlihat jelas. Gambar:

Image

HAAAAIIIII GUYYYYSSSSSS, SAYA KEMBALI LAGEEHHHHHH~ Omaigat berapa juta tahun ga nyentuh blog ini huhuhu mian OTL. dan saya kembali dengan Dr. Shin. Buat yang nanya (baca: Megu) kenapa bukan BAHASA LANGIT, jawabannya karena naskah komplit Bahasa Langit lagi aku kirimin ke penerbit looohhhhhhhh horehorehore semoga diterima! >< Makanya jadi ga aku post lagi, biar seengganya kalo lolos masih ada ‘kejutannya’. 🙂

Daannn…. disinilah kemunculan Nari. Demi mengcover dia, Case 6 sampe 2 part! Makanyaa maaf yaa kalo kepanjangan atau bertele2, maapppppp banget. Mungkin skill-ku hilang (?) (oh jangan sampe! ><). Lastly, jangan lupa dikomen, kritik saran amat sangat diterima! chu! :*

Advertisements
 
9 Comments

Posted by on October 13, 2013 in [THE SERIES]

 

Tags: , , ,

9 responses to “[THE SERIES] DR. SHIN – Case 6 (A)

  1. selingkuhan siwan

    October 14, 2013 at 9:24 pm

    nyonyah I’m comingggg!!

    as always yah, ffnya kerenn nyonyah niat bener itu ngerisetnya ampe cari2 gambar apendektomi segala ^^b

    dan… saya menangkap ada kehadiran abang Bloblo sbg cameo disini #eh

    pas ngomong2in bayi craniopagus n dr. Carson, tiba-tiba keinget sama filmnya, jdi nyonyah udh nntn itu film? Selain the Gifted Hands, coba ntn Something the Lord Make deh, ceritanya based on true story ttg Vivien Thomas, orang kulit hitam (bukan dokter) yang berjasa banget dlm bidang pediatric cardiac surgery, doi bantuin dr. Alfred Blalock buat operasi jantung bayi yg kena kelainan jantung bawaan Tetralogy of Fallot a.k.a blue baby… sumpah itu film keren banget! andddd latar ceritanya juga d Johns Hopkins Hospital lohh… RS pendidikan terkeren di dunia >.<

    hmm cuman boleh kasih tambahan ga nyah? ituu scene waktu dr. Shin mau ke OK buat apendektomi doi lgsg pergi ke ruang OK doang kan.. harusnya sblm operasi ada proses sterilisasi dulu.. ganti baju OK, cuci tangan dll,

    dannn… ya ampun kenapa itu Jaejoong diperbodoh bangettt… masa ganteng2 kudet sih ahaha… cuman ya emang bener sih biar kata anak FK ada juga yg orangnya kudet kaya Jaejoong, yg gaptek jg ada.. intinya ya anak FK juga manusia biasa kkkkk~

    dr. Shin kayanya udh mulai move on dari Yora yaa bagus deh, soalnya gimanapun juga ga bakal bisa ngalahin si Masiwon di posisi hati Yora #eciee penasaran klo Nari jdian sama dr.Shin didini bakal kaya gmana ya secara dr. Shin kan cool cool menintimidasi gtu pdahal klo di kehidupan nyata kyanya si Shindong kan tipe2 suami takut istfi gtu yg klo jalan bawain tas Nari ampe kasih kartu kredit wkwkwkwk

    anyway… lanjutannya ditunggu lhoo usahain cepetannya mumpung masih presh(?) ceritanya n aku juga udh lupa gmana itu teknik surgerynya dr. carson soalnya aku nntn filmnya udh lama banget hahahaha

    udh ah kayanya komen aku kepanjangan banget nih hahahahhaa

    sincerely,

    pacar Kyuhyun selingkuhan Siwan flirtingannya Kunyuk *mintadigeplak*

     
    • lolita309

      October 15, 2013 at 10:56 pm

      astaganaga dia ganti username lagi hahaha niat amat pulak itu uname XD
      hahaha iyaaa doong, harus niat abisnya kan ada ‘master’ di bidang kedokterannya disini (baca: SITU!!) :p
      dan emang special tribute buat abang bloblo. rapper yang pintar, sweet dan mirip unyuk #eh
      udah, aku udah nonton gifted hands, makanya ini idenya dari situ hehe. dan yang pas dr.shin mau operasi…. itu aku tulis ko dia dari ruang sterilisasi, nih aku quote:

      “Selamat pagi.” Aku menyapa semua orang di dalam ruang operasi berukuran 6 x 5 meter, ruang operasi terkecil di RS Universitas Korea ini. Dokter anestesi, dua perawat yang sedang mempersiapkan peralatan dan pasienku—wanita berusia 26 tahun—segera beralih dari pekerjaan mereka untuk melihatku yang baru masuk dari ruang sterilisasi, sudah siap dengan pakaian operasi lengkap.

      Emang agak ga keliatan sih karena ditulisnya di akhir….. hahaha eniwei maaci loh ih kamu detil banget, aku suka deh artinya kamu beneran baca dengan khidmat :p

      ah ciyusan di kehidupan nyata shindong sampe ngasih kartu kredit? widiiiiihhhhhh mau amat ikutan (?) jadi pacarnya *drooling*

      iyaiya mudah2an cepet yaaaa terusannyaaaa, maaciiiiiiiiiiii banget masih setia menjadi tamu di rumah ini, menyenangkan hati nyonya rumah yang mulai kesepian rumahnya sepi pengunjung………………… #plak XD

      i heart u ❤

       
      • selingkuhan siwan

        October 15, 2013 at 11:27 pm

        apa daya kemaren engga bisa login akun wp gegara lupa password akhirnya mesti pke email satunya buat komen n ya udh sekalian aja pake uname gregetㅋㅋㅋ

        ya ampyuun saya dibilang master padahal anak FK kelas teri doang ini :/ kemaren ikut progress test aja nilainya turun dri C jadi D *mentalbreakdown*

        iya loh si Shindong beneran ngasih Nari kartu kreditnya doi sampe eommanya jealousㅋㅋㅋ

        hehe sbg pembantu yg baik(?) saya siap memenuhi rumah nyonyah dengan keceriaan dan kebahagiaan(?) wkwkwkwkkw

         
      • lolita309

        October 16, 2013 at 8:19 pm

        hahahaha makanya jangan kebanyakan fangirling ampe nambah bias segala, turun kan nilainya #plak <– malah tambah nge-bully :p

        hueeeeeeeee aku juga mauuuuu, eniwei eommanya siapa yang jeles? eommanya nari apa shindong? #eh ._.

        aahhhhh jangan gitu ahh, kamu sudah kuangkat sebagai saudari kok #ceileh ;p huwaaaa tapi maaci banget yaaa sayaang… *ketjupbasah*

         
      • selingkuhan siwan

        October 19, 2013 at 9:21 pm

        huhuhu itu nambah bias juga engga disengaja, abisnya aku gabisa nolak pesona siwan~~ padahal dulu pas Haepumdal temen2 aku malah kesengsem sama Siwan tapi cuma aku yang gasuka sama dia dan kayanya aku kena karma jadi suka sama dia >.<

        klo nilai turun mah emang tiap itu tes aku ga prnah belajar cuma yg bikin kesel harusnya klo naik semesteran nilainya mesti tmbah bagus eh ini malah jeblok hahaha

        haha yg jeles mamahnya shindong dong soalnya. si shindong ga prnah kasih krtu kredit k mamahnyaㅋㅋㅋ

        wiiiii beneran ini saya dianggap saudari? barusnya ada seremoninya gtu dong kaya makan2 d kyochon kek gtu #eh *maruk* saya juga anggap nyonyah sbg saudari saya loo saudari seperjuangan(?) dalam menjelajahi duni perkpopan yg kejam *jjstkidding* intinya saya senang kok bisa knal sama nyonyah abisnya nyonyah asik diajak ngobrolㅋㅋㅋ *balasnya pake cipika-cipiki aja ya, ketjup basah aku udh di hak milikin sama Siwan* #eh

         
  2. Hanifah Sausan

    November 6, 2013 at 6:40 pm

    Daebak!
    Jinja oren manida~
    aku baru nyadar klo gaya cerita eonni kya drama.
    Well, yeah, it’s kinda too long. But it’s fine, i like it 🙂
    No, you don’t lose your skill. Maybe just because it’s been a long time.
    Aku jadi keinget drama good doctor nih~ u,u
    Good Luck untuk “Bahasa Langit”! Semoga lolos. Entar aku beli 😀

     
    • lolita309

      February 21, 2014 at 11:41 am

      as you know…. Bahasa Langit was recently rejected by a major publisher *mental breakdown*. hehehe tapi maaci yaaa masih sempet baca dan jalan2 ke website iniiihhhhh, sukses UN-nya! 😀 *cium*

       
  3. peri

    February 7, 2014 at 3:57 am

    eonni ngeluarin fanfic akhirnyaaa aku udah kelewat berapa bulan nih hehehe tapi aku menginginkan siwon eonnn.. kangen cerita yang cast nya siwon hiks
    yudeh baca duluuuu yaaa

    semangat !! 😀

     
    • lolita309

      February 21, 2014 at 11:43 am

      haaiiiii periiiii~! hihihi siwon ada sih on progress…..masalahnya progress itu ga jalan2 hahaha. eh tapi aku seneng loh kamu masih main2 kesini, mudah2an cerita siwonnya bisa cepet rilis. amiiinnnnn *cium* 😀

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: