RSS

[THE SERIES] SO SICK

23 Jan

SO SICK

Written by: @lolita309

Starring: Choi Siwon

siwon-super-junior-29389755-600-746 

 

Gotta change my answering machine

Now that I’m alone

‘Cause right now it said that we can’t come to the phone…

 

“Rrrrrrrr… Rrrrrrrrr…”

Aku menoleh pada pesawat telepon yang kini sedang berdering itu. Di pojok ruangan ini, yang sebetulnya masih dalam jangkauan angkatku, kalau saja aku berniat berdiri dan berjalan beberapa langkah saja dari sofa di ruang tengah kami ini. Tapi aku tak melakukannya. Aku membiarkan mesin penjawab telepon melakukan tugasnya. Dan perlahan memejamkan mataku…

“Hai, ini Yora dan…”

“Siwon.” Suaraku sendiri. Terdengar tawa kecil Yora disana.

“Kami sedang nggak bisa menerima telepon sekarang. Mungkin kalian bisa telepon lagi nanti, atau tinggalkan pesan setelah bunyi apa, Jagi?”

“Bip.” Suaraku lagi, komikal sekali. Terdengar begitu bahagia. “Jangan lupa tinggalkan pesan setelah bunyi ‘bip’, supaya kami bisa segera merespon kalian. Oke?”

BIP!

“Siwon-ah, hyung-iya. Teuki hyung. (Siwon, ini hyung. Teuki hyung)”

Kubuka mataku mendengar suara penelepon itu, seraya bersiap bangkit untuk mengangkat si pesawat. Hiburanku telah usai. Kembali ke dunia nyata.

“Eo, hyung.” Jawabku segera.

Ia terdengar kaget, “Lho, kamu ternyata ada? Kenapa tadi nggak diangkat teleponnya? Lagi di kamar mandi?”

Aku tertawa, “Nggak kok. Lagi pengen aja.”

“‘Pengen’?” Ulangnya bingung. “Ah dasar, aneh-aneh aja kamu. Oh iya ngomong-ngomong besok—”

Aneh. Aku kini tertawa dalam hati memikirkan kata itu. Aku tahu kok. Tapi bagaimana jika hanya tinggal inilah cara aku bisa mendengar suaranya lagi…

 

And I know it makes no sense

‘Cause you’ve walked out the door

But it’s the only way I hear your voice anymore…

 

 

***

 

 

It’s been months

But for some reason I just can’t get over us

And I’m stronger than this…

 

“Kamu mengerti kan, Siwon-ah? Choi Jin-ah, Restoran Jepang Nobu, ruang Merak, jam 7 malam. Ya? Jangan kecewakan eomma lagi, ya, Sayang? Bukannya eomma nggak sayang Yora, tapi ini kan sudah setahun…”

Aku tersenyum dari balik meja kerjaku di sini, di kantor polisi ini, mendengar suara ibuku via sambungan ponsel kami. Ya, aku memang polisi. Polisi yang bahkan baru saja kembali dari wajib militernya di Angkatan Laut. Polisi yang sudah setahun ini ditinggalkan sang istri untuk selama-lamanya.

Sudah setahun. Seperti kata orang-orang. Tapi bagiku, ini baru setahun.

“Iya, eomma.” Jawabku dengan nada ceria, seperti biasanya. “Kapan sih aku ngecewain eomma? Aku juga selalu datang kan tiap eomma mengatur pertemuan untukku?”

“Tapi kenapa belum ada yang berhasil juga kalau bukan karena kamu main-main?”

Aku tertawa, “Ya karena belum ada yang cocok, eomma sayang… Aku nggak main-main kok.”

“Kamu ini… Padahal kurang apa coba dari 3 gadis yang eomma perkenalkan kemarin? Semua cantik, santun, pintar, dari keluarga baik-baik… Nggak kalah dengan Yo—”

“Aaahh, eomma, eomma. Aku dipanggil atasanku nih, sudah dulu ya. Nanti malam aku pasti datang kok. Oke? Annyeong.”

TUT!

“Hhhhh~” dengan sukses aku memutus telepon begitu saja sebelum menghempaskan punggungku ke sandaran kursi di belakangnya. Menghindar lagi. Kutatap langit-langit ruang kerjaku yang ramai ini, menerawang, mengingat lagi keluhan ibuku tadi. Kurang apa?

Kurang senyum Yora. Kurang wajah cantik Yora. Kurang sifat Yora. Kurang Yora, Park Yora. Kurang keberadaannya di dunia ini…

Sial, kenapa aku jadi selemah ini???

 

Enough is enough

No more walking ’round with my head down

I’m so over being blue, crying over you…

 

Maka disinilah aku, di depan restoran yang dipesan eomma sebagai tempat kencan butaku yang keempat. Mencoba kembali membuka hatiku.

Biarpun aku yakin itu bukan perkara mudah.

“Jin-ah. Choi Jin-ah.” Ternyata gadis itu datang lebih dulu dariku. Cukup gugup, ia mengulurkan tangan langsingnya begitu aku duduk di hadapannya.

Cantik. Tinggi. Rambut panjangnya lurus dan pirang.

Bukan Yora. Yora tidak tinggi, apalagi pirang. Biarpun sama-sama panjang, rambut Yora-ku coklat bergelombang—

Aaarghh…! Cukup, Siwon!!

“Siwon. Choi Siwon. Marga kita sama.” Balasku akhirnya, tersenyum.

Ia mengulum senyum malu. Sepertinya gadis yang cukup menyenangkan. Tapi kenapa rasanya masih ada bagian yang tak rela di dalam sini…??

Kamipun berbincang merajut malam diiringi alunan lagu-lagu slow dari pemutar musik yang memang disediakan di pojok tiap ruangan di restoran ini. Obrolan kami untungnya cukup nyambung. Seperti perkiraanku tadi, ia gadis yang menyenangkan… biarpun tetap bukan tipeku.

“Sebetulnya aku kurang suka lagu-lagu percintaan…”

Aku menengadah di tengah raihan sashimi yang sedang kulakukan. Di belakang kami sedang mengalir lagu Because You Loved Me oleh Celine Dion, sebagai lanjutan dari serangkaian lagu-lagu cinta klasik yang diputar sebelumnya. Kutebak pasti judul playlist hari ini adalah ‘The Greatest Love Songs’.

Tertawa kecil, aku merespon, “Aku juga.”

“Jinjjayo?”

“Eung.” Anggukku, meneruskan perjalanan sashimi yang tadi berhenti di udara ke dalam mulutku, mengunyahnya pelan. “Kalau kamu, apa alasanmu?”

“Lagu cinta kebanyakan terlalu mendayu-dayu…” Ia menjawab cepat, seakan sudah tahu sekali dengan pendiriannya. “Padahal menurutku, cinta sebetulnya nggak selemah itu kan?”

Diam sebentar, akupun mengangguk. Dia benar. Kalau cinta malah harusnya kita menjadi lebih kuat…

Jin-ah tersenyum. Terasa tulus sekali. “Kalau begitu kita matiin aja ya? Nggak apa—”

“Jangan.” Biarpun aku segera memotongnya, menahan juluran tangannya yang siap menekan tombol OFF si pemutar musik. Ini lagu-lagu kami. Aku tak menyukai lagu-lagu percintaan kini, karena semuanya pernah menjadi lagu kami…

Tapi kenapa aku masih selalu mendengarnya?? “Biarkan saja. Dan… oh ya, apa kamu tahu aku memiliki seorang putri?”

 

And I’m so sick of love songs, so tired of tears

So done with wishing you were still here

And I’m so sick of love songs, so sad and slow

So why can’t I turn off the radio?

 

 

***

 

 

Gotta change that calendar I have

That marked July 15

Because since there’s no more you, there’s no more anniversary…

 

Yora meninggalkanku tepat di tengah-tengah masa wajib militer yang sedang kujalankan. Ia pergi selagi menjalankan tugas mulianya sebagai wanita… melahirkan putri kami. Ya, seperti yang kukatakan saat kencan buta tadi, aku memang memiliki seorang putri. Yowon, namanya. Park Yowon.

Dia tak memakai marga Choi dariku, karena Yora telah memilihkan jalan lain untuknya. Di surat terakhirnya, ia meminta putri kami diasuh pasangan Park Jungsoo—ya, Teuki hyung—dan sang istri, kakak Yora yang tak bisa memiliki anak. Park, dari orangtuanya kinilah Yowon mendapatkan marganya. Biarpun namanya sendiri tetap diambil dari singkatan nama kami berdua: Yora dan Siwon. Yo-won.

Tapi sebetulnya bukan hanya demi menolong kakaknya Yora berani menulis permintaan seperti itu. Ia juga ingin menolongKU. Masih di dalam suratnya, ia bilang ia ingin membebaskanku dari semua beban hati ini, membiarkanku kembali menjadi seorang Choi Siwon, pria single dan available. Memaksaku memulai kembali hidupku yang baru, tanpa jejak ingatan tentangnya…

“Na wasseo. (Aku pulang.)”

Aku berujar pelan begitu membuka pintu apartemen kami sepulang pertemuanku dengan Jin-ah. Sia-sia, karena tak akan ada yang menjawab. Aku tahu itu, tapi rasanya hal ini seperti sudah menjadi kebiasaan, satu lagi rutinitas kami yang begitu melekat dalam ingatanku biarpun kami hanya sempat tinggal bersama setelah menikah selama setengah tahun. Karena kemudian aku dipanggil wamil sampai akhirnya Tuhan seperti tak tega dan ikut memanggil Yora ke pangkuannya…

“Drrrrttt. Drrrrttttt.”

Ah, ya ampun. Tahu siapa tersangka yang membuat ponselku bergetar heboh kali ini, aku malah makin merasa capek. Bahkan belum ada 5 menit aku sampai ke rumah, dan ibuku sudah begitu penasaran dengan hasilnya.

“Eo, eomma. (Ya, eomma.)” Jawabku malas-malasan. “Dia—Oh, eomma sudah tahu?”

“Apa-apaan itu ‘Oh, eomma sudah tahu’? Jelas eomma sudah tahu! Ya Tuhan Choi Siwon… sekarang apa yang salah darinya??”

“Bukannya aku sengaja, eomma…” Aku buru-buru membela diri. Bagaimanapun aku sudah mencoba kan, bahkan biarpun aku tahu ini akan sulit. “Hari ini juga padahal awalnya berjalan bagus, aku juga nggak mengerti kenapa semua kandidat selalu berjatuhan di kalimat yang sama…”

“Oh, uri Siwonie…” Mendengar jawabanku, mau tak mau ibuku pun melunak. Ia mengerti sekali bagaimana sebisa mungkin aku juga sebetulnya tidak ingin mengangkat pembicaraan tentang Yowon. Aku harus puas hanya jadi seorang paman baginya, jika aku masih ingin menjalankan amanat terakhir Yora. Semua hanya sebagai ujian, apakah gadis-gadis itu mau menerimaku apa adanya. Yang sayangnya tidak.

“Ah, eomma mau mengatur pertemuan lagi? Ya ampun, sepertinya daftar calon jodoh untukku masih panjang sekali, ya. Tapi terserah, asal bukan weekdays karena pekerjaanku sedang menumpuk akhir-akhir ini… Oke, sebentar aku lihat kalender dulu.” Ujarku lagi via ponsel itu seraya melangkah lebih masuk ke dalam rumah, ke arah kalender dinding yang terpajang di dinding ruang keluarga. “Tanggal berapa? 15? 15…”

Dan seketika jariku yang barusan menelusuri angka-angka kalender terhenti.

 

“Mana, mana kalender tahun depan? Sini biar aku tandain juga!” Yora berseru semangat—sedikit melompat-lompat, lebih tepatnya—sambil mengacung-acungkan spidol merahnya padaku pasca menandai hari jadi kami di kalender yang kubawa. Kalender dengan logo Angkatan Laut yang memang dibagikan bagi seluruh tentaranya sebelum kami semua diliburkan dalam rangka tahun baru ini.

Kuputar bola mataku gemas—dan cemas, “Kamu tuh, suamimu baru bisa pulang dari wamil setengah tahun bukannya disambut dulu, malah langsung sibuk sama oleh-oleh. Lagian aduuuh, hati-hati dong Sayang, sekarang tubuhmu bukan cuma milikmu lagi…”

Dan ZAP! seketika lompatan-lompatan kecil Yora langsung terhenti. “Ups.” Ia kini hanya bisa nyengir, sebelum lanjut dengan mengelus perutnya yang mulai membesar. Yah, 6 bulan. Bisa-bisanya dia baru ketahuan hamil tepat setelah aku mulai wajib militer. “Baby, maafin Mommy, ya…” Pintanya manis.

Aku geleng-geleng kepala seraya mendekat demi menjitaknya pelan, “Dasar, gimana aku bisa balik lagi ke kamp nanti dengan tenang, coba.” Ia memeletkan lidahnya malu. “Lagian apa bagusnya sih suvenir-suvenir dari markasku itu? Sampai kamu girang banget. Tahu aja lagi kalau kami memang dikasih kalender sekaligus 2 tahun. Nih.”

Yora kembali nyengir seraya meraih gulungan kalender dinding dari tanganku, kalender tahun depannya lagi (karena sekarang masih tahun baru, kan). Ia memeluknya selagi menempelkan kalender tahun ini di dinding. “Karena disini ada kamunya, tahu. Disini. Siwon versi botak. Keajaiban dunia nomor 10. Aku lingkarin juga ya.” Ia terkekeh seraya menunjuk-nunjuk wajahku yang padahal begitu kecil tapi berhasil saja ia temukan di tengah ratusan tentara lain dengan seragam dan potongan rambut sama di foto angkatan kami, cover kalender ini. Ia kini sudah sibuk melingkar-lingkarinya dengan si spidol juga. Aku menepuk muka pasrah.

“Jjan~ Nah, jadi. Sekarang kalender tahun depan. Bulan Juli… Tanggal 15… Ah, ini.”

Sret, sret. Penuh senyum bahagia, Yora sudah menggambari satu tanggal spesifik itu begitu saja dengan bentukan hati mengelilinginya. Tanggal pernikahan kami. Tak lupa ia menuliskan:

ANNIVERSARY

YR SW SELAMANYA

 

Hanya senyum pahit terbentuk di bibirku mengingat itu semua. Aku bahkan lupa kalau aku masih tersambung dengan ibuku di ujung telepon sana. Karena kini tak akan mungkin ada lagi hari jadi untuk kita, haruskah aku juga mengganti kalender ini? Yora aku tak tahan lagi…

 

I’m so fed up with my thoughts of you

And our memories

And how every song reminds me of what used to be…

 

 

***

 

 

Leave me alone…

Stupid love songs…

 

Sejak menemukan jejak Yora lagi di kalender dan memutuskan membuangnya, keputusanku pun akhirnya melebar dengan mencoba menyingkirkan semua barang di rumah ini yang berhubungan dengan mendiang istriku itu.  Biarpun kemudian aku sadar… itu hal yang sia-sia. Terlalu banyak, bahkan rumah ini pun jelas-jelas termasuk dalam list. Pilihan terbaik adalah aku angkat kaki dari rumah ini dengan tidak membawa apapun, yang entah kenapa enggan kulakukan. Mungkin ibarat lagu-lagu cinta yang kubenci tapi terus kudengar, inginku memang mematikannya, tapi apa daya kemampuanku hanya sampai pada mengecilkan volumenya.

Karena itulah, keputusanku akhirnya adalah dengan sebisa mungkin hanya berada di rumah ini dalam waktu singkat. Hanya untuk tidur, bahkan. Aku memilih menenggelamkan diri dalam pekerjaan, sesuatu yang sangat aku sekali. Yora bahkan sering menyebutku workaholic, makanya aku sampai bingung kenapa ide menghindar ini bisa-bisanya baru terpikir sekarang.

“Pak, ada kasus baru.”

“Jadi menurut hyung kita harus gimana?”

“Siwon-ah, kamu yang menangani korupsi Sohyang Group?”

“Rrrrrrrr. Rrrrrrrr.”

TAK!! Sesaat, hentakan pulpenku seperti langsung membuat keheningan di seantero ruang divisi investigasi ini. Aku buru-buru minta maaf dengan gesturku sebelum merespon ‘serangan’ bertubi-tubi yang bahkan barusan sempat membuatku hilang kendali begitu. Untung saja menjadi polisi memang impianku sejak dulu, jadi aku sama sekali tak berhak protes jika semua jadi begini.

“…Eo, sunbaenim. Aku penanggung jawab kasus Sohyang. Ada apa? Oh, tapi sebentar ya, aku angkat telepon dulu.”

Diskusi. Telepon. Pertanyaan. Kesibukan. Semua ke-hectic-an kantor kepolisian pusat kota Seoul kini memenuhi hidupku. Bukannya dulu aku tak sibuk, tapi akhir-akhir ini semua seperti jadi 2, 3 kali lipat lebihnya. Dan ini semua pilihan, yang kalian tahu alasannya.

“HA? Oh, maaf. Ne? Wawancara??”

Maka ketika tiba-tiba datang permintaan di luar kasus pembunuhan, penculikan, seperti ini, aku jadi bingung sendiri…

“Ne, Choi Siwon-ssi. Ah, maaf, mungkin lebih tepatnya… Komisaris Polisi Choi Siwon?”

Aku segera mengernyitkan alis tebalku menatap wartawati bernama Han Hwayoung dari majalah wanita yang menelepon kemarin itu. Berdasarkan dukungan teman-teman sekantor aku akhirnya memang mengiyakan janji wawancara ini, biarpun aku sama sekali tak tahu untuk apa. “Eng… Choi Siwon saja.”

“Baik, Siwon-ssi.” Wanita berkacamata itu mulai dengan meletakkan perekamnya di atas meja ruang rapat ini. “Singkat saja, sebetulnya tema majalah kami bulan depan adalah ‘Reason’. Apa Anda tahu kalau sejak foto Anda memimpin Paspampres (Pasukan Pengaman Presiden) di acara kenegaraan bulan lalu beredar di internet, Anda kini terkenal—terutama di kalangan wanita—sebagai ‘polisi ganteng’? Apalagi dengan latar belakang keluarga Anda—siapa sangka si ‘polisi ganteng’ ternyata putra sulung pemilik Choi Corp, kerajaan properti terbesar di Korea?—dan kenyataan kalau Anda, ehm, ‘duren’—”

“Ehem.” Aku berdeham, mulai jengkel. “Sepertinya tadi Anda bilang ‘singkat saja’.”

Ia nyengir, “Intinya, Anda kini menjadi idaman wanita di Korea. Sehubungan dengan tema, banyak yang penasaran dengan alasan Anda menjadi seorang polisi. Kenapa tidak mewarisi Choi Corp. saja? Tolong dijelaskan.”

Sekejap aku terdiam. Hanya satu tanya: alasan. Namun itu seperti sanggup menggelar kembali waktu bertahun-tahun lalu itu, seakan semuanya kembali berjalan di depan kedua mataku sendiri…

 

6 tahun lalu, SMA Gangnam

“Kenapa kamu mau jadi polisi?”

Yora bertanya padaku saat kami sedang menghabiskan waktu istirahat dengan duduk-duduk di belakang sekolah, menyaksikan fase daun-daun menguning di awal musim gugur ini. Aku menatapnya, dan segera tak tahan tak mengecup dahi berponi gadis yang baru saja menjadi pacarku itu, dia manis sekali. Setelah 2 tahun mengejarnya di SMA ini, kesampaian juga kami berpacaran sebelum terlanjur lulus.

Yora buru-buru mencubit lenganku, tapi dengan pipi memerah juga, “Iiih!”

Aku tertawa, tapi pura-pura tak menghiraukannya dan kembali menatap lurus ke depan, “Aku mau jadi polisi, karena aku ingin mengubah sistem kepolisian Korea saat ini. Aku ingin semua orang memperoleh keadilan, aku ingin jadi polisi yang bisa melakukan itu.”

“Whoa…” Serunya takjub.

“Apa?”

Ia menggeleng, “Nggak, tapi alasanmu… keren banget. Kamu pasti bisa jadi polisi seperti itu. Aku percaya. Lindungi aku dan negara ini dengan baik, ya.”

 

Aku melindungi negara ini dengan baik, kan? Biarpun gagal melindungimu…

Sampai wawancara yang (kupaksa) singkat itu berakhir pun, entah kenapa ingatanku masih tak bisa lepas dari Yora. Sial, mana pernah aku mengantisipasi hal ini. Kalau ternyata menyibukkan diri di kepolisian pun masih bisa mengingatkanku dengannya…

Drrrrt. Drrrrrt.

Kurogoh saku jeansku dan mengeluarkan ponsel. Keuntungan dari bekerja di divisi investigasi adalah aku tak perlu berseragam polisi. ‘Polisi preman’, bahasa bekennya.

Aboji calling.

Aku menghela napas. Jika telepon dari eomma pastilah tentang kencan buta, maka ‘aboji’ pasti… “Aboji, berapa kali harus kubilang? Aku tak akan meninggalkan kepolisian dan menjadi pewaris—”

“Oppa, Jiwon-iya. (Oppa, ini Jiwon.) Aboji… Aboji masuk RS!”

 

_____

 

Aku menatap tubuh paruh baya ayahku yang tertidur di ranjang kamar VVIP-nya dari balik jendela. Akhir-akhir ini memang sudah beberapa kali beliau kolaps karena keluhan perutnya, tapi baru kali ini ia sampai dibawa ke RS. Perlahan kurasakan seseorang menyentuh bahuku. Aku berbalik, “Eomma.”

“Siwon-ah, kamu masih berkeras dengan pendirianmu…?”

Aku terdiam, dan kembali mengalihkan pandangan ke kamar rawat ayahku. Melihat Jiwon terus memegangi tangan beliau, padahal wajahnya sendiri kelihatan tak kalah pucatnya. Betapa ia pasti kelelahan mengurus yayasan sosialnya sendiri dan kini juga Co-Director Choi Corp. Mataku kini beralih ke pria tinggi bertubuh sedang yang sedang sibuk dengan teleponnya beberapa meter di hadapanku. Jo Kyuhyun, tunangan Jiwon. Ia kini sedang membatalkan berbagai janjinya menjadi moderator, pembicara, bahkan bintang tamu di acara talk show sebagai politisi muda brilian, putra sekaligus tangan kanan Presiden Jo Taewang, demi menemani dan membantu Jiwon mengurus perusahaan kami. Ya, tunangan adikku adalah putra sulung presiden Korea saat ini. Kesibukannya tak usah ditanya, tapi ia bahkan rela ikut turun membantu di saat-saat seperti ini. Sedang aku?

Tapi bagaimana dengan janjiku pada Yora…? Haruskah aku gagal di keduanya? Melindungi dirinya, dan kini melepaskan tanggung jawab melindungi negara ini?

“Apa eomma yakin ini akan lebih menyibukkanku dibanding kepolisian? Aku ingin menyibukkan diriku. Bilang aboji, aku akan mengambil alih semuanya, bahkan bagian Jiwonie. Dengan syarat… berhenti mengatur kencan buta untukku.”

Tapi mungkin ini memang saatnya aku berhenti. Melupakan semuanya, mematikan lagu cinta ini. Aku ingin sendiri.

 

Don’t make me think about her smile

Or having my first child

I’m letting go… Turning off the radio…

 

 

END

 

 

Daaaaannn tiba-tiba ada insiden ‘polteng’ alias ‘polisi ganteng’ di tengah sana. Hayo yang masih ingat dengan penuhnya infotainment dan ramenya twitter indonesia saat itu… Biarpun ternyata doi cuma ‘instagram-genic’, sih. #plak XDD

 

Dikomen, dikomen… *kipaskipasff* :p

Advertisements
 
6 Comments

Posted by on January 23, 2013 in Super Junior, [SONGFIC], [THE SERIES]

 

Tags:

6 responses to “[THE SERIES] SO SICK

  1. cizziekyu

    January 23, 2013 at 9:20 am

    야 야 야!! another ngenes story eh? kayanya nyonyah hobi banget bikin readernya jadi pengen nyakar rambut… kaya yg pgn aku lakuin sekarang!! udh bikin tokohnya sendiri mati.. trus si siwon dibikin menderita gitu..

    Aku jadi emosi nih!!!!!!

    huhuhu… sayang biasku bukan siwon.. kalo enggak aku udh nyolot ngerayu nyonyah buat jodohin aku aja sama si iwon wkwkwkwk *ditendangkyuhyun* *laporinkepolisi* *saingankasusrastiezagionino* *masukinpoteimen* *terkenal*

    dan yang aku tangkep dari seluruh tokoh yg ada d the series.. bahwa di hidup mereka yg kayanya “bahagia” sebenernya mereka punya sisi kelam masing2… dan itu yg membuat aku bisa ngebayangin mreka kaya manusia yg benar2 hidup di dunia nyata.. ga kaya bbrapa ff sebelah yg kisah cintanya lebay selebay lebaynya.. trus kalo ada konflik di luar nalar gitu… itu yang aku suka dari penokohan n penceritaan ff2 nyonyah… ringan tapi ttp ngena…

    dan apa pula itu ada polteng n duren???? ga sekalian dibikin siwon satu divisi sama ex-briptu Normann gitu? :p

    trus gimana nih… siwon bakal ttp jadi duren selamanya ? ga bakal nikah sama siapapun lagi? ato dijodohin bareng Dambi aja gimane ???

     
    • lolita309

      January 24, 2013 at 6:28 am

      Yups! Another ngenes story. That’s why tadinya aku gamau ngepost ini sebelum menghasilkan yg lain.. Apa daya hasil yg lain ternyata ngenes juga 0TL

      Hehehe, anyway kenapa situ yg esmosi?? Saya aja ngenesin suami sendiri kaga esmosi!!!! *ikutan esmosi* #plak

      Hahaha begitukah yg kamu tangkap? Bukan cuma ngejilat doang kan? Biar saya lanjutin cerita kamu? « negative thinking bgt, jgn ditiru ya nak :p

      Hahaha tapi engga ko, teyimikiciw sayang kalo kamu bener ngerasa begitu.. Tp kadang2 saya juga suka lebay ko, dan kalo tiba2 saya mulai gaje, kualitas menurun, lebay, konflik diluar nalar kayak yg km bilang itu, tolong kasitau ya? Biar aku ttp bs kasih yg terbaik^^

      Buhahah, kemarin kan si Yesung uda pernah aku sangkut2in sama briptu norman :p

      KAGAK!! Siwon ga sama siapa2! Ini aja rasanya aku mau stop bikin tentang siwon tp kenapa doi lagi, doi lagi… Ooohh, cinta memang tidak bisa dibohongi….. « apapula ini #plak XDD jadi siwon paling cuma sampe sini aja, aku mau fokus selesain the series yg lain, krn sebetulnya the series uda selesai kan? 🙂

       
      • cizziekyu

        January 24, 2013 at 1:38 pm

        ihh situ pede bener sih??? emang aku mau ngejilat nyonyah? ngejilat Kyuhyun aja ga selesai-selesai… <<apapulaini,tolongabaikan #plak

        bener kok.. cerita nyonyah bagus.. tapi yaaa ada tapinya *tsah kadang ya itu… alurnya bisa kecepatan, ya intinya selama nyonyah terima aku akan kasih kritikan thdp ff nyonyah dari sudut pandang seorang pembaca *tsahpart2

        ya intinya sih.. selama ini ff2 nyonyah menarik n ngena di aku.. ada blog ff Kyuhyun yg super duper terkenal yg punya ribuan readers, tapi aku ga pernah minat baca tuh, karena ff2nya sebagus apapun ga ngena di hati aku *inijadicurhatlagi*

        yah… the series selesai.. tapi nyonyah ga berenti nulis ff kan?? ya gapapa kalo kputusan nyonyah untuk nyelesain the series, tapi aku bakal kangen sama park fam, lee triplet n dlll….

        oh ya aku jdi keingat satu hal…
        ada author ff yg usernamenya babyhae yg temen temen nyonyah itu kan? dia udh hiatus ya? abisnya ga prnah update lagi.. pdhl ff nya bagus lhoo.. 😦

         
  2. Vie

    January 24, 2013 at 6:37 am

    sllu always baguz. the series is d’best pokoknya.untung g smpe ngalir nich air mata,kl g JKT tmbah bnjir#lebay#
    aq sllu nunggu krya2mu. keep writing.
    #by reader stia cm gnti ID
    :-)#

     
  3. chaeky

    January 25, 2013 at 10:02 am

    Sama kyk Siwon, aku masih ga rela Yora mati T.T
    Kasihan bgt abang Siwon, udah ditinggal mati Yora, mau ditinggal mati pula sama bapaknya #plak
    Ah jd Siwon bakal + workaholic aja nih kerja di perusahaan, udah pasti ga bakal nikah lagi nih? Padahal duren kan XD

     
  4. yewongirl

    February 12, 2013 at 12:33 pm

    annyeong…
    icha imnida, 93line. bangapseumnida.. 🙂
    aq reader baru d sni, nemu blog in dri blog http://fransiscaisme.wordpress.com

    ffnya keren meskipun kshan ma siwon oppa yg ditinggal Yora. kayaknya hdup dy mendrta bget yah, aplgi anknya g bisa manggil dy appa. 😦
    Yora kejam nih, misahin anak ma appa..

    last, keep writing thor. d tggu karya2 lainnya klo bsa sih yg castnya siwon soalx aq penggila kuda stu itu.. hehehe

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: