RSS

MY SISTER’S KEEPER – Part 2 of 2 [END]

01 Oct

Unni masih senyum-senyum sendiri menatap langit-langit saat menjawab, “Nggak apa-apa. Ayo cerita lagi. Aku senang deh tiap kali dengar cerita kamu. Karena aku nggak pernah bisa merasakan cerianya sekolah, campur-aduknya rasa pacaran, aku seperti bisa menerka-nerkanya dari cerita kamu. Makanya kamu harus selalu sehat, supaya bisa menikmati dunia ini sepuasnya, demi bagianku juga.”

 

MY SISTER’S KEEPER – Part 2 of 2 [END]

Written by: Lolita Choi (@lolita309)

Starring: Lee Sera, Kim Kibum, Lee Sungmin, Choi Siwon

 

 

Sebulan kemudian,

“Sera, titip Planet sebentar, ya. Ada beberapa hal yang perlu kudiskusikan dengan Hakim Ketua. Tenang saja, Planet pintar, kok. Dia tak akan merepotkanmu.”

Aku melirik sebentar pada si anjing ‘raksasa’ yang lucunya juga langsung menelengkan kepala melihatku begitu Pengacara Choi selesai dengan kata-katanya. Anjing ini masuk ruang sidang lagi… pikirku. Kenapa Pengacara Choi sebegitu tak ingin terpisahnya dengan dia ya?

Biarpun rasanya tanya itu akan segera terjawab setelah kejadian di sidang ketiga kali ini…

“Sera, tolonglah, nyawa Sora diperkirakan hanya akan tinggal beberapa hari lagi jika ia tidak melakukan operasi ini…”

“Interupsi, Ibu Hakim Ketua!”

“…apa kamu betul-betul tega, Sera?? Imo (bibi) pun, kalau imo bisa pasti akan dengan sukarela menjadi donor bagi Sora, hanya saja imo nggak mampu, kami semua nggak mampu. Hanya kamu, Sera! Hanya kamu…“

Refleks hanya tundukan dalam-dalam yang langsung kepalaku lakukan mendengar itu semua. Jangan lagi, jangan lagi…! Kenapa harus terus aku yang dipersalahkan? Kenapa terus aku yang dibilang tega?? Padahal siapa yang meminta aku dilahirkan untuk ini, bukan aku…!!

Pengacara Choi langsung tanggap melihatku yang segera pucat pasi di sebelahnya. Ia menggenggam bahuku dengan sebelah tangannya, “Ibu Hakim Ketua, tolong! Saksi Ga-eun sudah mengintimidasi klien saya, ini tidak bisa—“

“Diam kau, Tuan Choi!! Ini semua pasti karena Anda, Sera keponakanku bukan anak yang jahat seperti ini, dia anak yang selalu mau membantu kakaknya!!“

“U-Unni… sudah bilang nggak apa-apa… Dia sudah bilang nggak apa-apa kok… Unni nggak mau nyusahin aku lagi…”

“Sera…” Pengacara Choi segera mengelus rambut panjangku kebapakan mendengar ucapan lirih penuh gemetar dariku, seakan mengerti dengan pasti kebimbanganku sebelum kembali ia beradu argumentasi di ruang sidang ini, menyuarakan hakku, pendapatku. Sempat kurasakan tangannya yang begitu basah oleh keringat—entah karena apa—biarpun dengan cepat ia langsung menghapusnya juga dengan sapu tangan yang selalu tersedia di saku celananya, sambil makin erat menggenggam tali kekang Planet seakan binatang itulah satu-satunya pegangan hidupnya di dunia ini.

Sementara aku, dalam gemetar yang masih sulit kukendalikan karena tak sanggup mendengar perseteruan keluarga pertama yang pernah kualami ini, terus-terusan menoleh ke pintu ruang sidang yang terjaga dua keamanan pengadilan ini. Aku mencari Kibum oppa… sumber kekuatanku. Kemana dia…? Kenapa belum datang…

Drrt. Drrrtt.

Telepon. Kibum oppa. Kuangkat telepon itu biarpun harus menyurukkan wajahku ke balik meja dan bersuara serendah mungkin, “Yeoboseyo? Oppa!”

“Sera, Sera, aku punya berita bagus untukmu!” ia berkata penuh semangat biarpun terdengar deru napas terengah-engah juga dari suaranya.

“Oppa… lagi lari?”

“Iya, aku lagi lari ke tempatmu, soalnya macet banget. Ah, tapi lupakan itu. Dengar ini, Sera.” Pintanya sambil sepertinya terus berlari (karena suaranya yang masih terengah-engah itu). “Sebentar lagi, Profesor yang pernah kuceritakan itu akan datang ke sidangmu. Barusan akhirnya dia menyatakan bersedia datang ke sidangmu hari ini karena batal pergi seminar ke Jeju… tapi konsekuensinya aku harus mengambilkan data-datanya yang dia tinggal di kantornya, makanya kami nggak bisa pergi bersama. Mudah-mudahan dia datang lebih dulu supaya bisa menjelaskan secara umum tentang alternatif solusi untuk kalian, karena data yang mau kuambil ini sebetulnya hanya pelengkap saja.” Katanya tanpa titik-koma. Aku cuma bisa diam, tak tahu harus merespon apa.

“Sera?” tegurnya. Aku buru-buru mengangguk, biarpun akhirnya sadar, dia juga tak bisa melihatnya. “Oke? Ya sudah ya, aku harus buru-buru. Sampai ketemu nanti di pengadilan. Umm… Sayang.”

Masih tersendat-sendat aku mencerna seluruh perkataan Kibum oppa yang begitu ekspres macam kereta KTX itu saja. Bukan, bukan hanya karena kata terakhirnya, panggilan (manis) yang jarang-jarang–tak pernah!–diucapkannya padaku, tapi karena penjelasannya tentang ‘Profesor yang pernah aku ceritakan’. Profesor? Profesor…

Ah, Profesor itu??

 

Flashback, seminggu yang lalu

“Sepertinya akan ada sedikit pencerahan untuk masalahmu dan Sora noona.”

Kibum oppa berkata padaku dengan tetap, wajahnya yang selalu datar itu sambil terus menekuni laptopnya, mengetik sana-sini, berselancar di internet.

Aku yang memang hobi ‘bertamu’ dan main di kamar anak tetanggaku itu menoleh seraya menjauhkan wafel krim yang sedang kumakan hanya demi merespon, “Hum?”

“Sudah sejak aku tahu alasan kamu sering masuk RS padahal badanmu segar bugar begitu aku mulai berkorespondensi dengan seorang profesor ahli darah. Ia salah satu pengajar mata pelajaran Biologi di SMA-ku sekarang, dan bahkan dari dia-lah aku akhirnya direkomendasikan mendapat beasiswa dan pindah sekolah disana,” jelasnya. Aku mengangguk-angguk, sok ngerti saja sambil meneruskan menggigit wafel 1.000 won-ku.

 

“Nah, akhir-akhir ini Beliau sedang melakukan penelitian dengan tim dari RS tempat dia juga bekerja, tentang kloning organ tubuh manusia. Dan barusan Beliau memberitahuku via email, kalau penelitian itu telah diujicobakan dan berhasil! Asal tersisa stem cell yang masih bagus dari organ yang ingin dikloning, maka organ baru bisa diciptakan, dan nggak perlu lagi adanya pendonor…” ia menggantung kata-katanya seraya menatap mataku lekat-lekat, mengangguk-angguk ringan seakan berkata, ”Ngerti kan apa maksudku??”

Dan sekejap… mataku berbinar-binar menangkap itu semua. Jadi… “Jadi unni…?? Aku…??”

Kibum oppa mengangguk, “Minggu depan adahearing untuk sidangmu lagi kan? Ini belum di-leak ke publik sih, tapi aku berencana membawa profesorku ini sebagai saksi ahli, dan semua data-data lainnya. Doakan saja dia mau dan jadwalnya kosong saat itu ya. Mudah-mudahan semua masalahmu bisa segera berakhir.”

Flashback end

 

Pelan-pelan kututup flip ponselku mengingat semuanya. Tuhan… saking saat itu aku juga tidak begtu berharap banyak, sampai sekarang pun aku akhirnya lupa tentang hal itu! Tapi ternyata Kibum oppa tetap mengusahakannya… Aku harus segera memberitahu Pengacara Choi tentang hal ini!

“…saya bahkan menyangsikan kakak kedua klien saya, Lee Hyukjae-ssi, juga sebetulnya menentang keputusan adiknya.”

“Pengacara Choi…” Aku mulai memanggilnya pelan. Ia hanya melirik sekilas dan dari gestur tangannya terlihat sekali ia seperti menahanku kembali bicara. Aku bersikeras, “Pengacara Choi tapi ini–”

“Apa maksud Anda?? Selama ini Hyukjae selalu berada di pihak kami! Jelas-jelas ia juga ingin adiknya membantu kakak mereka! Karena ia juga menyayangi Sora!” Tapi selaan keras umma-ku dari meja di sebelah jauh kami seketika menghentikan usahaku memanggil Pengacara Choi. Terburu-buru aku menoleh ke arah Eunhyuk oppa di belakangnya yang kini terlihat berusaha keras menundukkan kepalanya dalam-dalam. Aku menatapnya dengan pandangan sedih, Oppa… maafin aku, gara-gara aku oppa juga jadi ikut terbawa-bawa…

Tapi Pengacara Choi malah terlihat mendecak mendengar pengakuan bibiku itu. Sepertinya kini ia sudah mulai terlihat rileks, tidak menunjukkan tanda-tanda aneh seperti tadi. Biarpun tetap tanpa ingin melepaskan genggamannya dari tali kekang Planet, tapi pengacara tampan-ku kini terlihat sudah kembali ke dirinya yang selalu begitu sinis dan tenang, “Oh ya? Masalahnya saya begitu penasaran kenapa Hyukjae-ssi tidak pernah dimasukkan ke dalam daftar saksi selama sidang kita yang sudah nyaris mendekati pembacaan putusan ini. Oleh karena itu,” ia membuka map yang terletak di atas meja kami dan meraih selembar kertas di dalamnya. Aku hanya bisa melihatinya, entah kenapa lupa kalau aku harus memberitahu tentang kedatangan Profesor yang dibicarakan Kibum oppa. Apa lagi rencana pengacaraku satu ini?

“Oleh karena itu,” ia melanjutkan, seraya menatap umma di meja seberang sana, sebelum berganti pada Hakim wanita di hadapan kami, “…saya meminta Lee Hyukjae-ssi untuk maju ke meja saksi dan membacakan pengakuan penolakan dukungan ini, Ibu Hakim Ketua. Sendiri, dan tanpa interupsi dari pihak tergugat.”

Jelas dalam sekejap aku, umma, dan seluruh keluargaku menganga mendengar permintaan pengacaraku itu. Ia kini bahkan sudah menyampaikan kertas berisi hanya dua paragraf ketikan pendek itu kepada Hakim Ketua. Tidak, tidak begini, Tuan Choi…! Aku jelas-jelas sudah memberitahunya tentang oppa, oppa-ku dan disleksia-nya, ia tak akan bisa–

“Interupsi Hakim Ketua! Ada alasan kenapa selama ini putra saya tidak pernah kami cantumkan sebagai saksi. Hyukjae begitu menyayangi Sera! Karena itu ia tidak akan pernah tega menyampaikan kesaksiannya di hadapan adiknya sendiri!”

Ibu Hakim Ketua menurunkan kacamata yang barusan dipakainya untuk memeriksa isi kertas yang diberikan pengacaraku sebelum menatap wajah umma dan menjawab bijak, “Bukankah barusan Anda sendiri yang berkata kalau Nak Hyukjae juga mendukung kakaknya yang notabene pihak Anda?”

“Itu… Tidak…” Umma seperti tidak mampu berkata apa-apa lagi. Eunhyuk oppa apalagi. Ia makin menundukkan kepalanya dalam-dalam, sungguh tak tega aku melihatnya. Maka buru-buru kutarik lengan jas pengacaraku begitu ia sudah nyaris mendekati meja kami untuk kembali duduk.

“Tuan Choi! Aku sudah pernah cerita kalau oppa memiliki kekurangan linguistik, kan? Kalau Tuan berniat mempermalukan oppa-ku di hadapan umum, aku tidak rela!” Bisikku tegas.

“Diam, Sera! Hanya ini senjata terkuatmu untuk menang! Apa kamu mau terus seperti ini? Tidak memiliki hak dan kuasa atas tubuhmu sendiri! Kamu mau??” Intimidasinya, sedikit emosi. Dan… aneh, tanda-tanda anehnya tadi kembali muncul. Tangan dan kakinya kembali gemetar, dengan mulut yang seperti tiba-tiba miring, layaknya orang stroke? “Oh… Tuhan, dimana Planet? Planet…” Seperti juga sadar dengan kondisinya, biarpun dengan susah payah Pengacara Choi melirih memanggil sang anjing kesayangan. Ia mencari dengan tangan menggapai-gapai, yang pintarnya, dengan sigap Planet pun buru-buru mendekat dan menyorongkan tali kekangnya sendiri ke tangan sang tuan.

Aku hanya bisa bengong menatap itu semua. Ada apa lagi ini? “Tuan Choi… Anda tidak apa-apa, kan? Ada sesuatu yang mau aku bilang, akan ada saksi ahli–”

Tapi umma-ku sudah keburu memotong sinis, “Ah, saya mengerti sekarang. Anda pasti sudah kehabisan ide untuk memenangkan kasus ini kan? Jadi Anda akan melakukan cara apapun, termasuk menggunakan kekurangan putra saya, begitu?? Anda licik sekali!!”

“TIDAK–argh, argh!”

BRUK!!

Dan sungguh aku langsung shock mendadak ketika tiba-tiba, tubuh Pengacara Choi terjatuh begitu saja dari kursinya dan terkapar. Ia kejang-kejang, dengan busa keluar dari mulutnya. Disaat semua orang juga langsung kaget tapi dengan cepat memutuskan menolongnya–terutama orang pengadilan, aku masih hanya bisa menganga dan bahkan tak sadar, sedikit demi sedikit melangkah mundur karena takut. A… Apa yang terjadi??

“Guk, guk!!”

 

 

Dan tiba-tiba, sesuatu yang menurutku ajaib terjadi. Melihat tuannya seperti itu, Planet tanpa ragu segera mengitari kakiku yang ternyata demi menarik tas kerja hitam Pengacara Choi yang diletakkan di bawah meja. Dengan cepat ia membuka kancing magnet tas itu dengan mulutnya, dan mengaduk-aduk dalamnya, seperti mencari sesuatu. Tak butuh lama sampai aku tahu apa yang dicarinya: sebotol obat dan secarik sapu tangan yang dengan buru-buru segera dilarikannya ke tengah kerumunan orang itu dengan cara digigit.

Ragu-ragu (karena jujur aku masih takut! Ada apa sih ini?? Pengacaraku kenapa??), aku baru akan mengikutinya ketika tiba-tiba seseorang menepuk pundakku dengan terengah-engah.

“Maaf, maaf aku terlambat, Profesorku akhirnya meminta pergi bersama. Ini dia orangnya–eh, tapi ada apa ini?”

“Kibumie Oppa!” Tak bisa kalian bayangkan betapa bebanku seperti tiba-tiba berkurang drastis hanya dengan kehadirannya. Tak peduli apapun lagi, segera kukalungkan kedua lenganku yang masih gemetaran ke lehernya, “Oppa, eotteokhae? Aku bingung dan takut sekali… Aku juga nggak tahu—”

“Epilepsi… Orang itu epilepsi?? Kibum-ah, kita harus segera panggil ambulans! Seekor anjing penolong saja tak akan cukup membantunya!”

Aku refleks segera menoleh dengan mata membulat pada pria yang masih cukup muda di sebelah Kibum oppa, orang yang ia perkenalkan sebagai profesornya tadi.  A-Apa…? ‘Anjing penolong…? Epilepsi??

 

***

 

Baru kuketahui kemudian kalau ternyata Pengacara Choi memang mengidap epilepsi dengan Planet adalah ‘anjing penolong’ yang sudah terlatih mengurus tuannya. Itulah alasan pengacaraku itu tidak pernah ingin terpisah darinya sama sekali selama ini. Sedang epilepsi… aku juga jadi mengerti sekarang mengapa beliau begitu ambisius atas kasusku ini, di luar kenyataan kalau aku bahkan sama sekali tidak punya cukup uang untuk membayar jasa pengacara tersohor sekelasnya. Ia paham perasaanku, saat kambuh epilepsi juga membuatnya seakan tidak punya kendali atas tubuhnya sendiri. Dan kendali atas tubuh sendiri… itu kan yang sedang kuperjuangkan saat ini? Ia tahu bagaimana rasanya memiliki badan tapi tidak menguasainya, maka itu ia juga berjuang mati-matian memenangkanku, karena setidaknya ia ingin aku yang masih punya kesempatan memiliki hak atas tubuhku sendiri, mendapatkannya. Jangan seperti dirinya yang sama sekali sudah tidak punya harapan terbebas dari belenggu penyakitnya sendiri, yang sewaktu-waktu selalu berhasil mengambil alih kontrol atas tubuhnya tanpa ia sendiri mampu berbuat apa-apa…

Dan unni, setelah profesor yang dibawa Kibum oppa menjelaskan semuanya, keluargaku akhirnya setuju untuk mencoba prosedur kloning organ yang diajukannya. Unni pun menjalankan berbagai pemeriksaan yang berujung pada penanaman stem cell milik ginjalnya sendiri yang ternyata masih ada yang cukup baik pada sepasang ginjal buatan, di saat sebetulnya bisa saja stem cell itu diambil dari ginjalku yang sehat wal afiat–aku adalah duplikat unni, ingat? Tapi unni memutuskan tidak melakukannya, ia tak ingin lagi menyusahkanku, dalam bentuk apapun itu. Ia lebih memilih menunggu, menunggu sampai stem cell yang kini sedang coba dikembangkan dalam ginjal buatan untuknya berhasil, agar ia dapat secepatnya dioperasi.

Sedang aku, hari ini aku memberanikan diri mendatangi lagi kantor Pengacara Choi setelah beberapa hari kami tak berhubungan pasca sidang terakhir itu. Planet yang menyambutku saat aku dibolehkan masuk oleh sang sekretaris, sebelum akhirnya aku bertemu dengan pemiliknya. Pengacara Choi yang terlihat sedang sibuk membolak-balik sebuah file seraya bersandar di pinggir mejanya segera tersenyum dan melepas kacamatanya begitu melihatku. Seperti biasanya. Seakan tak pernah terjadi apa-apa baru-baru ini.

“Aku… memutuskan mencabut tuntutanku atas umma dan appa.” Kataku seraya tertunduk. Ia pasti betul-betul menganggapku anak yang labil kini. Setiap saat aku meragu apakah keputusanku menuntut mereka benar, apakah aku betul-betul ingin mendapatkan hakku atas tubuhku sendiri. Dan sekarang, aku malah berniat menyerah atas semuanya?

Tapi di luar perkiraanku, ia tersenyum tulus, memperlihatkan lesung pipitnya yang dalam. Ia meletakkan file yang barusan dipegangnya kemudian mendekatiku, meletakkan kedua tangannya di pundakku. “Maafkan aku, ya. Aku pasti sudah terlalu mengintimidasimu selama ini… semua karena keegoisanku semata. Maka itu, kini lakukanlah apa yang kamu inginkan, Lee Sera. Aku akhirnya sadar kalau aku hanyalah pengacaramu. Tugasku hanya mewakili apa yang kamu inginkan, asalkan itu benar dan berasal dari hatimu sendiri.”

Aku mengangguk. Ya, ini keinginanku sendiri… Aku sudah begitu sakit menjadi public enemy bagi keluargaku sendiri. Maka kini setelah sudah sedikit ada pencerahan melalui prosedur kloning organ itu, tak ada lagi yang perlu kuperjuangkan, kan?

Pengacara Choi mengangguk mengerti. “Baiklah, secepatnya aku akan menghubungi pengadilan untuk mencabut tuntutanmu. Sekali lagi maafkan aku ya. Semoga prosedur baru untuk unni-mu berhasil dan kamu bisa terus menjadi gadis yang bebas melakukan apa saja dengan tubuh sehatmu itu.”

Mendengar dan menatap wajah tulus pengacaraku itu, refleks dengan mata berair aku memeluk pria berusia awal 30-an itu dengan begitu erat. Ia balas memelukku. Di balik keambisiusannya, aku tahu sekali kalau Pengacara Choi adalah orang yang begitu baik, baru ada 3 bulan kami menjalin relasi, tetapi ia sudah seperti pamanku sendiri. “Aku pasti juga akan selalu mendoakan untuk kesembuhanmu, Tuan Choi…” kataku dalam pelukan kami. Ia tersenyum sebelum melepaskan rengkuhannya dan mengacak rambutku ringan seraya tersenyum. Begitu kebapakan.

“Ah, oh ya.” tiba-tiba saja aku baru teringat sesuatu. Pengacara Choi mengerutkan keningnya menatapku yang kini sibuk mengobok-obok tas selempang hijau army-ku, mengeluarkan sebuah amplop tebal dari dalamnya. Kusorongkan amplop berisi uang hasil kerja part time-ku selama 3 bulan ini setelah memutuskan mengambil tindakan hukum atas kedua orangtuaku. “Ini. Mungkin masih tetap tak cukup… tapi aku berusaha keras mendapatkannya. Terima kasih telah mau terus membantu dan mendukungku, Tuan Choi.”

Aku masih membungkuk dengan tangan terulur menyerahkan amplop itu, menunggu sampai beliau mengambilnya. Pengacara Choi terdiam sesaat, sebelum akhirnya kurasakan amplop itu terenggut dari tanganku. Beliau akhirnya mengambilnya, tapi…

“Ya, apa kamu meledekku? 600 ribu won… Konsultasi denganku saja bertarif 100 ribu won per jam, Nona Muda…” katanya seraya menghitung sekilas lembaran uang yang hanya disembulkan setengah bagian dari dalam amplopnya itu. Mataku membelalak stres, bagaimana aku bisa membayarnya???, sebelum akhirnya ia kembali melirikku dan tertawa, “Hahaha, aku bercanda.” Ia mengacak poniku lagi, lebih keras, seraya mengembalikan amplop itu ke pelukanku kembali.

“Aku Pengacara Choi Siwon dengan persentase kemenangan kasus 99,1%. Waiting list klien-ku untuk bulan ini saja sudah nyaris ratusan orang, jadi aku tak akan kekurangan uang hanya karena menolak pembayaran seorang klien remajaku. Gunakanlah itu untuk membantu orangtuamu saja ya.”

 

***

 

3 hari kemudian,

Tak butuh waktu lama sampai prosedur yang dilakukan profesor bawaan Kibum oppa itu membuahkan hasil. Stem cell yang ditanam dalam dua buah ginjal buatan itu berkembang dengan sukses! Ginjal bionik itu pun kini tak ubahnya dengan ginjal asli. Aku dan oppa yang diajak profesor itu ke lab pun menyaksikan sendiri simulasi bagaimana ginjal tersebut akan bekerja jika sudah ditanam dalam tubuh manusia. Dan melihatnya, aku dan oppa hanya bisa menukar senyum penuh rasa syukur. Unni, kamu akan segera selamat!

“Sora noona beruntung sekali. Nggak hanya satu, sekarang ia bahkan bisa punya dua ginjal sekaligus sebagaimana mestinya. Kamu juga nggak perlu dilema lagi, silakan kamu ikutan klub cheerleader seperti yang kamu mau, terus nanti dukung aku ya kalau aku tanding basket!” Kibum oppa bicara begitu bersemangat dalam ambulans menuju RS ini sambil memeluk kotak khusus tempat ginjal buatan untuk unni ditempatkan.

Aku mencibir bercanda, “Gimana ceritanya? Sekolah kita kan beda, lagipula sekolah barumu itu kan khusus cowok, setelah lulus SMP aku mau masuk kesanapun nggak akan bisa, kali…”

“Ya makanya itu aku kekurangan bahan pemandangan, tahu! Satu sekolah isinya ‘batangan’ semua…”

Aku sukses tergelak, yang langsung buru-buru kuhentikan karena pandangan aneh dari juru medis yang juga dikirim RS bersama ambulans ini begitu Profesor Heo, nama profesor Kibum oppa menghubunginya untuk menjemput ginjal untuk unni yang sudah selesai dikerjakan. Hari ini, begitu semua sudah dirasa mantap—walau agak terburu-buru karena kondisi unni yang memang sudah kritis—Kibum oppa yang memang sudah didaulat sebagai asisten proyek pembuatan ginjal untuk unni ini memang akhirnya diberi mandat untuk mengantarkan ginjal tersebut dari lab ke RS. Aku—tentu—tak mau ketinggalan menyambut hari bahagia ini, sekaligus bonus bisa bertemu Kibum oppa segala, bersikeras ikut dengan ambulans dari RS. Walhasil kini kami pun bisa mengobrol berdua selama perjalanan yang tidak begitu jauh juga antara lab dan RS.

Dan entah kenapa, mungkin karena sama senangnya sepertiku, hari ini Kibum oppa juga tumben sekali banyak bicara (ingat kalau dia bisa dibilang sedikit ‘gagu’ saking pendiamnya itu?. Tapi tak apa, aku menyukainya, menyukainya seperti ini sampai aku tak bisa berhenti memandanginya… Biarpun itu hanya sampai aku—kami—mendengar pembicaraan di telepon dari juru medis yang duduk di sebelahku itu.

“Apa?? Pasien Lee Sera, resipien (penerima) ginjal buatan ini baru saja meninggal?? Oh Tuhan… lalu bagaimana—“

Dan sekejap, pikiranku seperti tiba-tiba kosong.

BRUKK! Kotak yang barusan masih oppa peluk dengan begitu bersemangatnya pun tiba-tiba jatuh ke lantai ambulans begitu saja.

 

***

 

“Ini semua salahku, kan?? Ini semua salahku… Kalau aja aku nggak menuntut umma dan appa, kalau saja aku setuju begitu saja mendonorkan satu ginjalku untuk unni seperti biasanya… semua nggak akan jadi seperti ini… Huhuhu… Kenapa aku begitu egois?? Kenapa aku—“

HUG. Eunhyuk oppa sekejap memelukku dari belakang dengan sebelah telapak tangannya menutup mulutku, mencegahku berbicara lebih banyak lagi, mengutuk diriku sendiri lebih banyak lagi. Aku pun akhirnya hanya bisa menangis deras dalam rengkuhan oppa yang tentu juga tak kalah sedihnya dariku, di hadapan pusara unni. Semua orang yang datang ke pemakaman unni hari ini telah pergi, umma bahkan sama sekali tidak berniat datang, mungkin ia sama sekali tidak ingin melihat wajahku yang sudah menyebabkan putri sulungnya pergi seperti ini. Tersiksa menanti satu-satunya orang yang bisa menolong tapi malah menghiraukannya… aku.

“Unni…” aku masih meraung sambil terus mencoba menggapai-gapai pusara kakak perempuanku satu-satunya itu, yang tentu saja tak bisa karena Eunhyuk oppa bersikeras terus menahan pinggangku dalam lingkaran kedua lengannya.

Kibum oppa hanya dapat melihat kami berdua dari jauh, berdiri diam dalam setelan jas hitamnya, ia sama sekali tidak ingin ikut campur bila sudah ada oppa-ku sendiri di sampingku. Nelangsa, aku akhirnya jatuh terduduk di hamparan guguran daun maple musim gugur ini, masih tetap menangis walau hanya tinggal sesenggukan dan lelehan airmata diam-diam. Eunhyuk oppa tetap mengikuti. Ia bertumpu pada sebelah lututnya, dan setelah memberi sebuah anggukan pada Kibum oppa, sahabatnya, kalau ia bisa menanganiku sendirian, ia pun kini membalik tubuhku agar menghadapnya. Sementara Kibum oppa yang mengerti, segera beranjak dari situ pula seperti yang lain, bersiap pulang.

“Sera…” Eunhyuk oppa mulai berkata padaku. Aku masih menunduk. “Cukup… Kamu menangis seperti apapun, menyesali dirimu sendiri, noona tetap nggak akan kembali. Dan ia pun tahu itu… selama kamu nggak menjenguknya dulu, ia sudah seringkali bilang padaku kalau mungkin memang ini jalan agar ia bisa berhenti berhutang budi padamu. Malah setidaknya kamu akhirnya memberi kesempatan padanya untuk ‘membayar’ semua itu kan? Dua ginjal buatan yang sedianya akan ditanamkan padanya, kini telah membantu bahkan dua nyawa orang sekaligus. Ia pasti bahagia disana, makanya kamu juga nggak perlu menyesali semuanya seperti ini…”

“Tapi tetap saja, kalau saja aku—oh Tuhan… Aku masih tetap merasa begitu jahat, malah kini aku yang merasa berhutang. Satu ginjalku masih berada dalam tubuhku, tapi aku merasa seperti sudah bukan pemiliknya… Ia milik unni… Apa yang sudah aku lakukan??” histerisku, yang seperti bergaung di tengah-tengah areal pemakaman yang sepi ini.

Oppa cepat-cepat mengunci mulutku lagi dengan meletakkan telunjuknya di bibirku, “Sera, tolong! Lupakan itu. Semuanya sudah terjadi, kini semua anggota tubuhmu adalah milikmu, milikmu seorang, sebagaimana noona juga menginginkannya seumur hidupnya… Seperti yang kubilang, bila bisa ia juga nggak ingin terus merampas semuanya darimu… Jadi tolong, Sera, berhenti menyalahkan dirimu sendiri atau oppa akan marah!”

Sungguh, aku hanya mampu tertunduk mendengar oppa berkata tegas seperti itu. Ia tentu juga begitu menyayangi unni, tapi ia tetap berusaha tegar untukku… “T-Tapi umma…”

Pandangan oppa kembali melembut kini, mendengar hanya dua kata mengambang dari mulutku itu, “Hanya akan sesaat. Percayalah, Sera. Umma selama ini hanya begitu overprotektif pada noona karena penyakitnya, tapi pada dasarnya ia menyayangi kita semua sama rata… Dalam hatinya pun ia pasti juga sudah bersiap kalau suatu saat ini akan terjadi. Kamu nggak akan bisa membantu noona selamanya, karena ia tahu penyakit noona juga sudah begitu akut, hanya saja ia ingin terus berharap, yah bagaimanapun ia seorang ibu, kan?”

Kini giliranku yang mengangguk pelan. “Oppa makin mirip sama appa.” Komentarku kemudian yang langsung ditanggapi dengan cengiran khas kakakku satu itu, seraya jarinya menghapus titik air mata yang masih menggantung di ujung mataku. Memastikan aku sudah tersenyum lagi, barulah ia berdiri dan membantuku bangkit juga setelahnya. Kami berjalan bergandengan tangan menyusuri deretan pohon maple yang menghiasi areal pemakaman itu, masing-masing bertekad dalam hati untuk menjaga satu sama lain, karena kini hanya ada kami. Hanya ada kami berdua, Lee Sungmin dan Go Hyesung junior.

Biarpun begitu akan menyeberang jalan untuk mencari stasiun subway terdekat untuk pulang, rubungan keramaian di mulut sebuah gang kecil menarik perhatian kami, ditambah keberadaan sebuah ambulans pula yang sepertinya baru datang karena si juru medis baru terlihat mengeluarkan ranjang beroda dari dalamnya. Penasaran, aku dan oppa sepakat untuk melihat, dan apa yang menyambut kami betul-betul di luar perkiraan.

Kibum oppa tergolek tak berdaya di atas ranjang beroda milik ambulans setelah diangkat oleh dua orang juru medis yang datang. Seluruh tubuh dan wajahnya penuh lebam dan berdarah, seperti habis dikeroyok seseorang. Aku hanya bisa membeku di tempat melihatnya yang sudah dalam proses dinaikkan ke ambulans. Sementara Eunhyuk oppa lebih berinisiatif, ia sempat bertanya pada orang-orang disana dan saksi mata menyatakan kalau segerombolan geng tiba-tiba mencegat Kibum oppa dan mencoba memalaknya, yang sepertinya tidak dituruti makanya satu per satu anggota geng itu pun mengeroyok sahabat oppa-ku sampai seperti ini.

“Ya Tuhan, anak itu dan idealismenya… Kenapa dia nggak memberikannya aja sih??” Eunhyuk oppa sampai mengacak-acak rambutnya sendiri stres, sebelum dengan cepat menarik tanganku yang masih shock dan meminta ikut dengan ambulans tadi, menyatakan diri sebagai tetangga dekatnya.

 

_____

 

Di RS, orangtua Kibum oppa yang dihubungi oppa-ku saat di ambulans tadi ternyata sudah tiba lebih dulu. Bersama-sama kami menunggu dengan tak sabar di luar UGD tempat oppa dimasukkan tadi, maka itu begitu seorang dokter keluar, serempak kami semua langsung merubunginya demi meminta informasi lebih lanjut.

“Keluarga Kim Kibum-ssi?” dokter itu bertanya. Tuan dan Nyonya Kim buru-buru mengangguk dengan harap-harap cemas. “Beritanya cukup buruk… Organ dalam Kim Kibum-ssi terluka cukup parah, dua ginjalnya rusak akibat benturan benda keras, dan membutuhkan donor segera.” Disini aku samar-samar mendengar Eunhyuk oppa mengumpat pelan dengan menggenggam tinjunya, “Sialan, pasti karena keroyokan itu. Pasti ia ditonjok ramai-ramai. Sialan, sialan, sialan!”

Sementara aku, mendengar kata ‘ginjal’, aku masih terus mendengarkan lanjutan perkataan dokter itu. “…Satu ginjal cukup, karena pada dasarnya ginjal diciptakan sepasang hanya demi membagi tugasnya agar tidak terlalu berat. Oleh karena itu sebetulnya seseorang tetap bisa hidup hanya dengan satu ginjal. Nah, jadi siapa yang—“

“Saya, saya, Dok.” Ayah Kibum oppa cepat merespon bahkan sebelum dokter itu selesai dengan pertanyaannya. “Jega hagesseumnida (Saya yang akan melakukannya).”

“Baiklah, apa—“

“Aniyo, jegayo (Tidak, saya saja).” Tapi Nyonya Kim cepat memotong. Tipikal sekali orangtua yang berlomba-lomba ingin menyelamatkan anaknya, apapun yang harus mereka lakukan.

Tapi sepertinya dokter ini sudah berpengalaman menghadapi situasi seperti ini, maka tersenyum, ia kembali bertanya ramah, “Baiklah, jadi siapa di antara Anda yang memiliki darah A? Atau Anda berdua? Wah, kalau begitu sulit, Anda harus berkesepakatan sendiri siapa yang—“

“Ah, apa ini ada hubungannya dengan golongan darah, Dok?” Tuan Kim kembali memotong perkataan sang dokter, dengan ekspresi panik yang berbanding terbalik dengan dokter itu yang begitu senang pasiennya akan segera tertolong.

Dokter itu mengerutkan keningnya, “Geuromyo! (Tentu saja!) Nanti organ akan disambungkan ke pembuluh darah pasien dan lain-lainnya kan, jadi kalau golongan darahnya tidak cocok akan terjadi penolakan… Organ baru tidak akan berfungsi juga di dalam tubuh pasien…” jelas dokter wanita yang masih cukup muda tersebut, sebelum kemudian ia menangkap keanehan dari pasangan paruh baya di hadapannya ini. “Eng… waeyo?”

“Eomona… Uri adeul eotteokhaeyo?” Nyonya Kim tiba-tiba sudah terisak begitu saja, ia memegangi dahinya seraya jatuh lemas ke atas kursi tunggu di koridor RS itu, yang segera diikuti sang suami yang memeluk sambil mengelus-elus lengannya. “Saehee… hanya Saehee… Apa kita bahkan harus memanggil Saehee…? Tapi bagaimana kalau tak ada waktu lagi—oh Tuhan…”

Baik aku, oppa, bahkan sang dokter sendiri terbingung-bingung melihat adegan tersebut. Saehee? Saehee unni, maksudnya? Adik Kibum oppa yang di Amerika?

“A-Ahjumma… waeyo? Wen iriseyo? (B-Bibi… kenapa? Ada apa?)” aku akhirnya mencoba memberanikan diri bertanya. Tapi alih-alih menjawab, Tuan Kim malah kembali cepat beralih pada sang dokter.

“Berapa lama… waktu yang dibutuhkan untuk donor itu, Dok? Saya sendiri berdarah AB, dengan istri saya berdarah B, hanya putri kami, adik Kibum yang memiliki golongan darah sama dengannya, tapi ia sedang berada di Amerika… Bagaimana kalau kami hubungi sekarang—“

“A… Aniyo. Pilyo eobseoyo. (Ti… Tidak. Tidak perlu.)” tanpa sadar, tiba-tiba aku sudah berkata begitu saja dengan pandangan kosong, entah pada sang dokter atau ayah Kibum oppa sendiri. Aku hanya menatap ke depan seraya melanjutkan, “Jega halkeyo (Aku akan melakukannya). Golongan darahku O, aku donor universal. Tolong jangan membuat oppa menunggu… Jega halkeyo. Jega halkeyo. (Aku akan melakukannya. Aku akan melakukannya.)”

Ternyata perasaanku benar, seperti yang baru saja kukatakan pada Eunhyuk oppa di hadapan pusara unni tadi… Sebelah ginjal ini memang masih ada dalam tubuhku, tapi ia seperti sudah bukan milikku lagi…

 

END

Advertisements
 
6 Comments

Posted by on October 1, 2012 in Super Junior

 

6 responses to “MY SISTER’S KEEPER – Part 2 of 2 [END]

  1. marmel28marmel28

    October 3, 2012 at 4:36 pm

    daebakkk!! aaa~
    gk film gk ff nya sukses deh bkn aku nangis :’)

     
  2. hwangminmi

    October 4, 2012 at 6:34 pm

    whoaaaaaaaa~
    kasian sora eonni meninggal duluan TT mana kibum pake acara kecelakaan lg~ dan eommanya beneran kejam banget -___-
    tapi ya.. lumayan lah endingnya~ .-.
    gaada after story ya eonni? ya meskipun pasti pendek sih, kayak conan the movie gitu XD #halah

     
  3. iwang~

    October 20, 2012 at 11:27 pm

    keren ff nya…

     
  4. upikipik

    December 14, 2012 at 4:26 pm

    Eonni~ bagus ^^b
    tapi tanggung. Beneran. bikin lanjutannya dong

    waktu baca part 1, ketimbang film, aku lebih suka ff ini karena eonni penjelasannya bagus. aku jadi mudeng problem kakaknya. pas nonton filmnya aku mudengnya terakhiran.
    feel.a dapet 😀

    film ajeb banget ya eon. bantalku basah gara-gara kupake buat lap air mata :p

     
    • lolita309

      December 16, 2012 at 9:31 pm

      emang niat bikin nanggung hahaha, biar open question, kira2 reaksi mamanya sera gimana ya? dulu buat kakanya ga mau tp buat pacarnya sekarang rela donor (biarpun alasannya ya krn sera ngerasa bersalah sama sora juga kan?^^)

      aih, jadi malu dibilang part 1-nya lbh jelas dr film >< #plak iya filmnya nguras emosi banget, tp entah kenapa aku ga suka endingnya, beneran deh uda siap banjir airmata, eh ga jadi gara2 ketauan kalo semua ternyata emang rencana kakaknya. masalahnya yang ngena di aku adalah anna yang emang uda ga tahan 'dikorbanin' terus… makanya akhirnya aku bikin cerita ini dimana 'anna' emang betulan nuntut orangtuanya^^

      hihi anyway makasi sayaang uda baca+komen as always! 😀

       
      • upikipik

        December 20, 2012 at 12:36 pm

        hehehe, sama” 😀
        aku malah justru suka endingnya 😀
        tapi versinya lola eonni juga keren og 😀

         

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: