RSS

MY SISTER’S KEEPER – Part 1 of 2

25 Sep

Sudah pernah menonton film “My Sister’s Keeper”? Tentang Anna, anak perempuan yang menuntut orangtuanya sendiri di pengadilan atas eksploitasi tubuhnya sejak kecil? Sejak bayi, Anna sudah dijadikan donor untuk kakak perempuannya yang sekarat akibat leukemia. Ia menginginkan hak penuh atas tubuhnya sendiri, ia tak ingin lagi menjadi ‘suku cadang’ untuk sang kakak… biarpun kemudian diketahui kalau ternyata penuntutan itu adalah ide sang kakak sendiri yang tahu kalau memang ia tak akan bertahan.

Namun bagaimana jadinya jika tuntutan si adik adalah betul-betul keinginannya sendiri? Karena bagaimanapun, ia punya alasan yang sangat cukup untuk itu…

 

MY SISTER’S KEEPER – Part 1 of 2

Written by: Lolita Choi (@lolita309)

Starring: Lee Sera, Kim Kibum, Lee Sungmin, Choi Siwon

 

Karena seorang bayi tidak pernah meminta untuk dilahirkan… Maka kewajiban orangtua-lah untuk merawatnya sebaik mungkin.

 

___

 

Pada dasarnya, setiap bayi di dunia ini terjadi secara kebetulan. Beribu-ribu sperma yang masuk saat dua orang dewasa melakukan yang dibilang ‘seks’, dan ketika salah satu berhasil bergabung dengan sel telur… voila! Seorang janin terbentuk. Well, hanya bagi pasangan yang betul-betul mengalami kesulitan memiliki anak mungkin, kehadiran bayi akhirnya direncanakan. Tapi kehadiranku sendiri ke dunia ini, kuketahui pasti bukanlah sebuah kebetulan. Kehadiranku betul-betul dirancang secara teknis.

Namaku Lee Sera. Aku terlahir dari pasangan pemadam kebakaran bernama Lee Sungmin dan seorang mantan pengacara bernama Go Hyesung, tepat 15 tahun yang lalu. Dan seperti yang kubilang, aku adalah bayi yang ‘dirancang’ untuk dilahirkan. Gen dalam tubuhku direkayasa sedemikian rupa sehingga menjadi duplikat yang 100% cocok dengan kakak perempuanku, Lee Sora yang terdeteksi menderita leukemia akut sejak berusia 3 tahun, sehingga aku bisa menjadi ‘donor sempurna’ baginya. Pada saat itu, memang hanya cara inilah satu-satunya yang dimiliki orangtuaku demi menyelamatkan nyawa Sora unni, tak ada satupun dari mereka maupun Eunhyuk oppa yang memiliki kecocokan mutlak secara genetis yang merupakan syarat sebagai pendonor. Atas saran ‘off-the-record’ dari dokter bahwa ada cara memiliki bayi dengan kecocokan mutlak dengan saudaranya, akupun kemudian hadir hanya setahun kemudian.

“Kamu bercanda kan?” Pengacara terkenal bernama Choi Siwon yang kudatangi demi membantu menuntut orangtuaku sendiri itu segera menggeleng dan mendecak dengan nada sangsi setelah mendengar ceritaku.

Aku menggeleng serius, “Aku betul-betul ‘bayi buatan’. Aku bahkan mungkin tak akan pernah ada jika unni tidak sakit.” Jawabku seraya menyorongkan sebuah map tebal ke atas mejanya.

Bisa kulihat wajahnya sedikit demi sedikit terperangah begitu dengan serius memeriksa dokumen-dokumen dari RS yang kuberikan. Seluruh catatan tentang sejak kapan sel-sel darahku telah diambil untuk didonorkan pada unni, berbagai operasi, pencangkokan sumsum tulang belakang yang tak akan bisa kalian bayangkan sakitnya bagi seorang anak yang bahkan belum genap berusia 7 tahun, efek samping yang dihasilkannya, hingga surat rencana pendonoran ginjalku bagi unni bulan depan.

Ia menatapku lebih lekat kini, “Tapi kamu tahu apa yang akan terjadi pada kakakmu jika kamu menolak pendonoran itu, kan?”

Aku mengangguk lagi, “Dia bisa mati.” Jawabku lugas. “Tapi aku… Ah, ini ada sekitar 700 ribu won.” Aku mengeluarkan segepok uang pecahan 10 ribu dari dalam ransel sekolahku, hasil menjual kalung pemberian appa. “Aku tahu ini tak akan cukup, tapi aku mohon bantulah aku.”

Aku hanya terdiam dalam bungkukan di hadapan meja kerja Pengacara Choi itu selama diam cukup lama di antara kami, sampai akhirnya beliau menepuk pundakku dan tersenyum sangat kebapakan, “Kamu mendapat dukungan penuhku.”

 

***

 

Aku bukannya benci dengan unni. Aku sayang padanya. Sayaaaaang… sekali. Unni juga sangat menyayangiku, dan karena sejak kecil aku juga sudah terbiasa membantu umma mengurusnya, maka itu sebetulnya aku tak keberatan sama sekali terus menjaganya, membersihkan muntahnya saat ia sedang kambuh karena kemo, membantunya ke toilet, bahkan tak jarang aku ikut menangis pedih saat unni mimisan dan batuk darah betul-betul tanpa henti. Hanya saja aku baru tahu kalau ternyata mengetahui kenyataan bahwa kehadiranmu di dunia ini hanyalah karena sebuah maksud ternyata lebih pedih dari itu…

“Nyonya Go Hyesung, ada surat untuk Anda. Dari Pengadilan Tinggi Daejeon.”

Hari ini aku, umma, dan oppa sedang menemani unni yang lagi-lagi masuk RS. Padahal sudah sebulan ini ia berhasil memaksa tinggal di rumah saja. Tapi setelah lagi-lagi muntah darah luar biasa yang terjadi padanya kemarin, dokter akhirnya menyatakan kalau ginjalnya sudah betul-betul tak berfungsi lagi, dan secepatnya ia membutuhkan donor…

Umma membuka surat dengan amplop berkop negara itu dengan raut bingung. Dan mulutnya makin menganga lebar setelah membaca apa yang ada di dalamnya… “Apa ini, Lee Sera? ‘Permohonan Penghentian Terbatas atas Kuasa Wali—kamu menuntut umma dan appa??”

Aku hanya bisa menunduk.

“Lee Sera…”

Aku akhirnya menjawab tergagap, “Aku… aku nggak mau dioperasi lagi, umma… Aku takut…”

“Da gwaenchana… Gwaenchaneulgeoya… (Semuanya baik-baik saja… Semuanya akan baik-baik saja…) Kamu tahu itu kan?” Kata umma cepat dengan senyum seraya mengelus rambut panjangku, seolah ingin menenangkan. Seolah ia tidak sadar kalau aku bukan lagi anak umur 5 tahun yang tak tahu apa-apa, yang bisa dengan mudah dijanjikan es krim agar mau menjalani operasi. Seolah ia melewatkan pertumbuhanku sejak masih 7 tahun yang masih bisa dibohongi kalau ditusukkan jarum besar ke punggung untuk diambil sumsumnya tidaklah menyakitkan.

Aku menggeleng keras seraya menggigit bibir, “Nggak! Semuanya nggak akan baik-baik saja. Umma ingat kata dokter kan? Setelah operasi itu aku mungkin harus terus berhati-hati karena ginjalku akan tinggal satu…” Aku menatap umma mantap biarpun hatiku sakit. “Tapi aku nggak mau berhati-hati! Aku mau main, aku mau jadi cheerleader, aku mau ngelakuin semua yang teman-temanku bisa lakuin tanpa harus takut kenapa-kenapa. Karena pada dasarnya aku sehat, aku nggak mau bagian-bagian tubuhku terus diambil seperti ini! Setelah ginjal, terus apa?? Ak—”

PLAKK!!

“Umma!” Bisa kulihat Eunhyuk oppa yang tadi berusaha keras untuk diam segera bereaksi dengan tamparan umma padaku. Akupun menatap umma sangat nanar. Kenapa…

Tapi umma tak gentar, “Apa yang terjadi padamu?? Siapa yang mengajarimu seperti itu, Lee Sera?? Dia kakakmu! Kenapa kamu begitu tega? Apa kamu nggak sayang dia??” Tegurnya emosional dengan airmata yang siap tumpah seraya mengguncang-guncang bahuku dan menunjuk unni di ranjang pasiennya.

“Jangan bertengkar karena aku…!”

Masih tetap memegangi pipi kiriku yang perih, aku segera menoleh pada unni yang kepalanya kini bahkan sudah plontos akibat penyakitnya itu. Airmata mengalir deras di pipinya biarpun Eunhyuk oppa sudah memeluk demi menenangkannya. Cepat-cepat kuusap air yang juga mulai menggenang di pelupuk mataku melihat kondisi kakak tertua kami. Sungguh, ini bukan karena aku tak sayang padanya…

“Ini bukan apakah aku sayang unni atau nggak, umma. Aku sayang padanya, sungguh. Tapi pertanyaannya adalah: apakah umma sayang aku atau nggak?? Aku juga penting! Aku juga anak umma!!”

“SERA!”

BRAKK!! Aku keluar dari kamar rawat unni dengan membanting pintunya. Tak kupedulikan panggilan Eunhyuk oppa yang pastinya betul-betul merasa terombang-ambing di antara wanita-wanita tercintanya. Tangisku segera turun deras. Padahal aku tahu pasti kalau oppa juga sebetulnya punya banyak alasan untuk mulai mengutarakan keinginannya mendapatkan kasih sayang yang cukup. Hanya saja ia bertahan, tapi kenapa aku tak bisa??

 

***

 

ganjan mangis. uma, apa, semwa sayan kamu. nona juga ga narah. E.H 🙂

 

Aku hanya bisa tersenyum haru melihat hal pertama yang kutemui saat bangun tidur pagi ini. ‘E.H’. Ini kartu dari oppa… yang seharusnya terbaca ‘Jangan nangis. Umma, appa, semua sayang kamu. Noona juga nggak marah.’

Mengerti maksudku? Ya, oppa memiliki disleksia, kesulitan dalam melakukan hal-hal yang bersifat linguistik seperti membaca maupun menulis. Seperti surat tadi, disleksia membuat oppa selalu menulis dan membaca dengan huruf yang terbalik-balik (b dengan d, m dengan n, j dengan g, dan lainnya yang memiliki struktur mirip), biarpun kamu tahu pasti ia sama sekali tidak bermaksud begitu. Mana ada orang yang sengaja membuat dirinya sendiri kelihatan bodoh?

…Yah, mungkin ada, tapi yang jelas Eunhyuk oppa tidak  begitu. Oleh sebab itu, bayangkan tahu seluruh kata tapi tak bisa menulisnya (dengan benar), dan bisa melihat tapi membaca lebih bodoh daripada orang buta… disitulah disleksia mengganggumu.

Sudah sejak SD sebetulnya disleksia oppa terdeteksi, karena jelas disleksia juga mempengaruhi kegiatan belajarnya di sekolah. Namun karena saat itu appa dan umma sedang repot-repotnya mengurus unni, biarpun menyesal tapi yang bisa mereka lakukan hanyalah mengirim oppa ke sebuah summer camp dengan penanganan khusus untuk anak dengan disleksia. Sayang sekali, karena sebetulnya anak dengan disleksia akan lebih mudah disembuhkan bila perhatian yang cukup juga tercurah dari kedua orangtuanya… Itulah yang kemarin kumaksud dengan sebetulnya oppa juga memiliki banyak alasan untuk menuntut perhatian lebih dari appa dan umma. Tapi tidak sepertiku, sekalipun oppa tak pernah mengeluh, padahal sudah selama 17 tahun hidupnya ia menjadi nomor 2. Padahal tak kalah banyak yang sudah oppa korbankan untuk unni, tapi tetap selalu senyum yang terbit dari wajahnya…

“Sera.” Tiba-tiba appa menyapaku seraya menyembulkan kepalanya dari balik pintu. Ia sudah rapi mengenakan kaos pas badan biru tua bertuliskan DFD (Daejeon Firefight Department) dan nama lengkapnya, Lee Sungmin, yang dipadu dengan celana kargo biru tua seragamnya juga. Ia tersenyum, dan aku membalasnya.

“Apa ini? Kartu dari Hyukjae?” ia segera sadar dengan keberadaan kartu yang masih tergeletak di pangkuanku itu dan mengangkatnya sambil terkekeh. “Tumben dia sok malu-malu. Kayak yang nggak biasa ngomong langsung sama kamu aja.”

“Nggak apa-apa dong.” Aku merebut kartu itu dari appa sambil menjulurkan lidah bercanda. Biarpun appa jarang di rumah karena pekerjaannya, kami memang tetap dekat karena bagaimanapun appa pasti selalu berusaha berinteraksi dengan kami kapanpun ia bisa. Ia tertawa-tawa seraya mengelus-elus rambutku yang kini bahkan sudah memeluk kartu pertama dari oppa yang—karena tahu tentang kekurangannya itu—biasanya malas sekali menulis. Ini harta karunku!

Appa masih mengelus rambutku seraya tersenyum, “Hei, ngomong-ngomong appa dengar tentang kemarin…” ia mulai membuka maksud utamanya menemuiku pagi ini sambil meraih duduk di pinggir tempat tidur unni yang tak jauh dari ranjangku. Aku seketika diam.

Appa kini menarik bahuku agar menatap tepat di matanya, “Kamu percaya appa dan umma juga sayang sekali padamu, kan?” tanyanya lembut. “Kamu, unni-mu, oppa-mu, semua anak appa dan umma yang berharga. Makanya tolong maafin umma kemarin, ya? Dia hanya sedang emosi setelah membaca tuntutan darimu itu juga…”

Aku tetap diam, biarpun perlahan menggerakkan kepalaku untuk mengangguk dalam tundukan. Aku juga tahu itu… Orangtua mana yang tak akan shock dituntut oleh putri remajanya sendiri? “Maafin aku ya… appa.”

Appa menggeleng, “Appa tahu cepat atau lambat ini pasti akan terjadi… kamu akan berhak memiliki suara untuk dirimu sendiri. Karena itu appa juga sudah bicara dengan umma-mu kemarin… dan kami akhirnya sepakat membiarkanmu maju dengan langkahmu.”

Aku mendongak. Maksudnya…?

Seperti mengerti kebingunganku, appa menjawab seraya menyentuh hidungku dengan jarinya, “Kita semua tahu unni-mu membutuhkanmu, tapi appa juga sangat ingin menghormati keputusanmu sendiri. Bagaimanapun appa dan umma selamanya tak akan bisa memilih di antara kalian berdua, karena sekali lagi kalian sama berharganya di mata kami. Oleh karena itu, kami akan patuh pada keputusan negara saja… Ya, umma dan appa akan memenuhi panggilanmu ke pengadilan, Sayang. Kamu masih belum berubah pikiran, kan?”

Seketika aku kembali terdiam. Kenapa tiba-tiba aku merasa jadi orang yang jahat sekali…? Apa aku betul-betul egois karena menginginkan hak untukku sendiri?

“SERAA…! KIBUM!”

Teriakan Eunhyuk oppa dari bawah segera mengalihkan perhatian kami, karena appa dengan senyumnya juga langsung menepuk lenganku sekali seraya bangkit, “Tuh, Kibum sudah datang. Mandinya jangan lama-lama.”

“Ah, appa.” Aku menahan tangannya. “Umma… mana?” aku mau minta maaf… tambahku dalam hati.

Appa mengangkat bahu, “Tadi pagi-pagi sudah pergi. Tapi tenang aja, dia nggak marah lagi, kok.”

 

***

 

“Nyonya, Nyonya, Anda tidak boleh masuk jika belum membuat janji! Nyo–”

BRAK!!

Siwon segera berdiri begitu mendengar ribut-ribut yang berakhir menjeblaknya pintu di ruangannya itu. Di depannya, Hyesung cepat-cepat berdiri mantap dengan dagu terangkat, tersenyum profesional pada ‘lawan’-nya. Ternyata kesinilah ibu tiga anak yang masih terbilang muda itu pergi: Kantor Pengacara Choi Siwon. Ia menyapa pria itu mantap, “Pagi, Tuan Choi.”

Siwon tertawa kecil memperlihatkan lesung pipinya sebelum menjawab. Ini adalah ibu dari ‘klien remaja’-nya. “Pagi. Dan kamu, kamu boleh keluar, tidak apa-apa.” Sambungnya pada sang sekretaris wanita di depan pintu. Segera sekretaris itu mengangguk pelan dan keluar.

Hyesung mengawasi itu semua sampai akhirnya mereka tinggal berdua di ruangan itu. Ia menatap si pengacara tinggi tegap di hadapannya, “Apa sebetulnya niat Anda? Jangan kira saya tidak tahu, putri saya tidak punya uang, ini bukanlah kasus yang akan dilirik sedikit pun oleh seorang pengacara kondang seperti Choi Siwon.”

Siwon tersenyum sebelum berbalik dan mengambil sebuah map biru tebal dari atas mejanya, “Usia 5 bulan: pengambilan sampel darah untuk kecocokan. Usia 1 tahun mulai transfusi darah—yang kemudian menjadi sebuah rutinitas—di saat semua orang juga tahu umur dasar pendonor sebaiknya berusia 17 tahun. Baiklah, kembali lagi. 5 tahun: operasi akibat efek samping segala macam obat penguat stamina yang juga harus ditenggaknya supaya tetap sehat sebagai ‘suku cadang’,” pengacara itu kembali memberi penekanan khusus seraya menaikkan alisnya menatap Hyesung. Wanita langsing itu membuang muka gugup. “…7 tahun, donor sumsum tulang pertama… dan Anda bilang saya tidak punya alasan?”

“Dia masih anak-anak! Mereka masih labil, sekarang bisa berkata ini, besok bisa berkata itu. Ia tidak serius, ia anak yang baik, ia tak mungkin menolak membantu kakaknya sendiri!”

Siwon mengangkat bahu, “Kenyataannya…?”

Hyesung menggeram pelan, “Anda tidak bisa menuntut saya. Kenyataannya, di Daejeon ini telah ditetapkan bahwa umur dewasa adalah 21 tahun atau sudah menikah, atau 18 tahun dengan meminta surat keterangan dewasa dari pengadilan. Dan Sera, sama sekali bukan keduanya! Umurnya masih begitu jauh, saya, orangtuanya, masihlah walinya yang sah!”

“Sayang sekali, tapi sejak hari pertama ia mempercayakan kasus ini pada saya, ia sudah meminta surat pengalihan wali ini.” Siwon tersenyum sambil kembali mengangkat selembar kertas dari atas mejanya. “Sera telah menunjuk saya sebagai walinya yang baru.”

 

***

 

“Aku jahat banget, ya…?”

Kibum oppa sontak menoleh padaku yang masih berjalan sambil menendang-nendang kerikil di jalan menuju sekolah kami. Aku ikut menatapnya, meminta respon akan lagi-lagi dilemaku, anak kurang ajar yang berani-beraninya menuntut orangtuanya sendiri itu. Tapi…

1 detik…

2 detik…

…lama kutunggu, tetap saja ia hanya menatapku tanpa berkata apa-apa.

Fuhh. Pasrah, aku hanya bisa meniup poniku sambil menatap lurus ke depan lagi. Yah, bukan salahnya, sih. Aku tahu diamnya tadi bukan karena memang dia yang ‘gagu’ alias kurang suka bicara—well, itu juga sih, sepertinya—tapi yang ini lebih karena dia memang betul-betul tak tahu harus berkata apa. Mau dicari bagaimanapun, pasti tak ada bagian kehidupan keluarganya yang bisa disamakan dengan dilema yang sedang kuhadapi ini. Jangankan dia, aku rasa di dunia ini mungkin tak akan ada lagi orang bernasib sama denganku. Maka itu kalaupun ia mencoba merespon simpati, itu hanya akan terlihat palsu, kan?

“Aah… arasseo, oppa.” Tutupku akhirnya, sebelum mencoba mengaktifkan kembali riang mode: on wajahku. “Nah, ya sudah. Sekarang ganti topik yuk, gimana sekolah baru—“

“Besok-besok kalau mau ke tempat pengacaramu itu, jangan sendirian lagi.” Tiba-tiba sahabat Eunhyuk oppa yang sudah kukenal seumur hidupku itu bicara biarpun tetap menatap lurus ke depan. “Ajak aku. Kamu masih punya aku.”

TAP. Sekejap, langkahku terhenti karena senyum yang tak lagi bisa kutahan.

Aku suka sekali perhatian-sok-acuh Kibum oppa.

 

***

 

Kibum oppa, Kim Kibum, adalah putra sulung keluarga Kim yang tak lain tetangga sebelah rumah kami. Ia seumur dengan Eunhyuk oppa makanya mereka pun cepat jadi teman main yang akrab. Berdasarkan jarak usia yang sungguh sangat dekat antara kami, kakak-beradik Lee, dan juga kakak-beradik Kim (Kibum oppa dan Saehee unni, adiknya yang hanya berbeda satu tahun denganku), praktis kami pun tumbuh bersama, sekolah di tempat yang sama, bermain bersama, sampai akhirnya satu per satu pun menghilang dari rutinitas itu.

Oppa dan unni-ku berhenti sekolah formal sejak masing-masing kelas 4 SD di tahun yang berbeda–oppa karena kebutuhan khususnya dan unni karena sakitnya–dan melanjutkan homeschooling. Saehee unni menyusul dengan pergi ke Amerika untuk menemani nenek Kim begitu lulus SD, sehingga praktis yang tersisa tinggal aku dan Kibum oppa. Biarpun saat itu aku baru naik kelas 5 dan dia sudah SMP, tapi berhubung sekolah kami masih satu yayasan, mengatasnamakan persahabatannya dengan Eunhyuk oppa sekaligus menganggapku sebagai pengganti adiknya, ia pun bersikeras terus menjagaku selama di sekolah, sampai sekarang (yang lingkupnya sudah tak lagi selama di sekolah saja). Bertahun-tahun pun berjalan, hingga akhirnya kami sadar ini bukan lagi permainan ‘abang-adik’… Sejak Kibum oppa harus pindah sekolah 2 bulan lalu karena beasiswa yang didapatnya, hubungan kami pun resmi berubah. Dan perhatian serta dukungannya itu pun kini makin kentara tercurah padaku…

Seperti di hari ini. Hari ini adalah sidang perdanaku dengan materi mediasi terlebih dulu antara kedua pihak. Kalian tahu kalau di ruang sidang, dua pihak yang berseteru memiliki deretan kursi untuk pendukungnya masing-masing? Dan dalam kasusku, kursi sebanyak itu hanya terisi Kibum oppa seorang. Oh, dan si Planet, Golden Retriever setia Pengacara Choi seekor. Luar biasa kan pengacaraku itu, ia bahkan bisa mempersuasi pengadilan untuk memperbolehkannya membawa seekor anjing besar ke dalam ruang sidang, biarpun aku tak pernah tahu alasan kenapa ia selalu bersikeras agar si Planet betul-betul harus selalu bersamanya kemanapun itu.

Aku menggerak-gerakkan kakiku di bawah meja pendakwa sambil menoleh ke sekeliling ruangan. Melihat ibuku yang sedang berbicara serius dengan Pengacara Choi, melihat dua pihak yang duduk di paling belakang ruangan–sepertinya mereka orang-orang yang akan menjalani sidang setelah sidangku, sampai akhirnya mataku tertuju pada deretan bangku-bangku di belakang meja terdakwa ibuku.

Disana ada oppa dan Ga-eun imo (bibi dari ibuku) yang semenjak sakit unni makin parah, ikut tinggal bersama kami untuk membantu umma yang bahkan sampai berhenti bekerja demi fokus mengurus unni. Hanya dua orang, tak jauh beda denganku—satu orang dan satu ekor—tapi perasaanku rasanya begitu perih. Perih menyadari kembali betapa seluruh keluargaku ada disana, tanpa bahkan satu saja yang mendukungku. Bahwa tak satupun anggota keluargaku yang sepaham kalau apa yang kulakukan ini memanglah benar.

“Tuan Choi, apa aku betul-betul melakukan hal yang benar?” Tanyaku padanya yang sudah kembali duduk begitu hakim memasuki ruangan.

Ia menatapku dengan senyum kebapakan, seperti sudah tahu aku akan meragu suatu saat, “Kamu melakukan hal yang benar, Nak. Menyayangi tubuhmu sendiri selagi mampu, itu hal yang benar.”

 

***

 

“Uhuk, uhuk!!”

“Unni!”

Aku buru-buru berlari menyongsong unni sembari menyambar baskom alumunium yang diletakkan di atas kabinet kamar rawat ini dan menyodorkannya pada kakakku itu. Muntahnya luar biasa, dan ini hasil kemoterapi. Aku tetap membantu memijat-mijat tengkuknya agar ia merasa enakan, sampai unni akhirnya menyodorkan kembali baskom itu begitu selesai.

“Thanks, Sis.” Katanya sambil bersusah payah tersenyum. Aku membalas senyumnya sebelum membawa baskom itu ke wastafel untuk dibersihkan. Muntah ini bahkan sudah seperti muntah bayi yang tidak berbau, karena sama seperti bayi, unni sudah jarang sekali makan kalau tidak dipaksa, hanya mengandalkan energi dari infusnya. Bau pahit obat yang malah lebih tercium dari muntahan unni-ku ini. Dan tiba-tiba saja airmataku menetes… yang buru-buru kuhapus sebelum kembali mendatangi unni di ranjangnya.

“Apa kabar, kamu?” Tanyanya dengan cengiran begitu aku mendekat.

“B-Baik…” Jawabku kaku. Sebetulnya aku betul-betul masih tak punya muka menemui unni. Betapa dia pasti membenciku… Tapi aku betul-betul kangen dengannya! “U-Unni-neun (Kalau unni)?”

Ia mengerutkan keningnya melihatku yang begitu kaku, “Neo wae-ya (Kamu kenapa, sih?) Kayak berhadapan sama orang lain aja.” Katanya, sebelum kemudian tersenyum lagi, “Hehe, aku baik kok. Kamu kemana sih seminggu ini? Aku kangen, tahu! Kangeeen banget.”

Aku tak merespon. Karena tiba-tiba mataku rasanya langsung memanas dibuatnya!

Sedang unni yang tak menyadari itu tetap nyerocos, “Tahu nggak? Gara-gara mau ketemu kamu, aku sampai mati-matian nurut sama dokter biar dibolehin pulang! Rajin minum obat, mohon-mohon sama umma…” Ia menggembungkan pipinya, pura-pura kesal sebelum kembali tertawa. Unni… kenapa unni bersikap seperti tak ada apa-apa? Kenapa unni nggak benci aku? “Fuuh, Hyukie juga nggak asik, masa ditanya ada gosip apa dia nggak ngerti, terus—Eh? Lho, lho kok kamu nangis?”

Dia benar. Airmata kini sudah sukses turun deras mengaliri pipiku. “Aku… pikir, unni pasti benci dan nggak mau ketemu aku lagi…”

Bisa kulihat Sora unni-ku seketika terdiam mendengar pengakuanku. Matanya berkaca-kaca, tapi ia sekuat tenaga menahannya dengan menengadahkan kepalanya yang plontos. Merasa sudah dapat mengontrol, cepat-cepat ia meraih tanganku, menatapku lagi seraya menggeleng, “Mana mungkin aku membencimu…” Katanya lambat-lambat, sengau. “Kamu, kamu adikku yang berharga. Aku sudah berhutang banyak padamu selama ini, aku sudah merampas banyak hal darimu, dari Hyukie. Mana mungkin aku berani membencimu… Malah aku yang berpikir kalau kamu begitu karena membenciku, bagaimanapun itu lebih wajar…”

Giliran aku yang buru-buru menggeleng di hadapannya. Nggak, sampai kapanpun aku nggak akan pernah benci unni, unni satu-satunya unni-ku di dunia…

Sora unni tersenyum. Ia menyibak helai-helai rambut coklat panjangku yang menutupi wajah dan menyelipkannya di balik telingaku, “Terima kasih ya. Dan terima kasih untuk selama ini, nae geokjeongma (jangan khawatirin aku), aku malah senang kamu akhirnya mau berdiri untuk hakmu sendiri… Itu lebih baik daripada kamu harus mogok jenguk aku seperti seminggu ini, aku kangen kamu tiap hari…”

“UNNI…!”

Sekejap, raungan tangisku pun menggema seiring hamburan pelukanku ke tubuh ringkihnya yang bersandar di kepala tempat tidur. Aku juga kangen unni, kangen sekali! Apa yang aku pikirkan? Apa yang aku pikirkan sampai berani hitung-hitungan dalam membantu saudariku sendiri yang begitu baik ini?? Oh Tuhan…

“Nah, ayo sekarang cerita dong, ada apa di luar? Kamu sibuk apa akhir-akhir ini? Kamu masih sama Kibum kan? Hihihi.”

Ini ketika kami sudah mengobrol santai lagi pasca ‘acara tangis-tangisan’, saling minta maaf ala Lebaran (?) tadi terlewat. Dan BLUSH! Secepat kilat pipiku rasanya seperti terbakar. Unni ini… kenapa dia bisa bertanya sekasual itu sih??

“Ssstt, Unni! Iiih, kalau ada yang dengar gimana?” Aku buru-buru membungkam mulutnya sambil celingukan kanan-kiri, kalau-kalau ada penampakan salah satu dari anggota keluargaku disana. Tak ada. Fuuuhhh~

Unni-ku cekikikan. Memang cuma dia di keluargaku yang tahu ‘hubungan spesial’-ku dengan Kibum oppa. Kalau kami sudah tak lagi bermain ‘abang-adik’, ini sudah menyangkut masalah ‘hati’. Yah, bagaimanapun di mata orang rumah, apalagi appa, aku masihlah anak SMP umur 15 tahun yang belum cukup umur untuk pacaran. Hanya unni tempatku bisa berbagi semuanya, bercerita apapun.

Maka aku akhirnya tersenyum malu-malu, “Iya iya, aku masih sama Kibum oppa kok. Puas?” Tanyaku bercanda. Unni terlihat senang sekali, matanya berbinar-binar menerawang langit-langit kamar rawatnya sambil berselimut. Aku yang sudah menempati posisi nyaman ikut berbaring di sebelahnya di atas ranjang rawat yang sama, menatap gadis 18 tahun itu aneh. “Kenapa sih?”

Ia masih senyum-senyum sendiri menatap langit-langit saat menjawab, “Nggak apa-apa. Ayo cerita lagi. Aku senang deh tiap kali dengar cerita kamu. Karena aku nggak pernah bisa merasakan cerianya sekolah, campur-aduknya rasa pacaran, aku seperti bisa menerka-nerkanya dari cerita kamu. Makanya kamu harus selalu sehat, supaya bisa menikmati dunia ini sepuasnya, demi bagianku juga.”

 

TBC

 

Jadi, apakah Sera akan tetap melanjutkan tuntutannya? Jika ya, apa keputusan pengadilan? Dan apakah Sora akan selamat?

 

Jawabannya nantikan di part 2! sebelum itu…. komen dulu bisa kali~~ XDD

Advertisements
 
9 Comments

Posted by on September 25, 2012 in Super Junior

 

9 responses to “MY SISTER’S KEEPER – Part 1 of 2

  1. hwangminmi

    September 25, 2012 at 9:10 pm

    eonnii~~~~~~~~~~ ^^v
    yak, di sela” ngerjain tugas, iseng” ngebuka blog eonni dan ternyata eonni update~ XD
    sering” kayak gini deh ya eonni, jadi ada yg bisa jadi hiburan gitu XD hohoho~

    dan ya… hati saiia tersayat” #halah TT
    beneran deh sedih bgt ceritanya, si pemeran utama (lupa namanya #PLAK) dilemanya berat bgt TT
    dan mamanya nyebelin bgt~ minta ditabok #eh -___-
    dan kenapa semuanya pada sakit”an gini -____-a
    dan… kenapa harus kibum lg TT #ceritanyaudahlupasamakibum #eh

    sekian komen tentang ffnya #halah, sekarang balas komen ff sebelah~ XD #apasih

    aku mau jg sih kuliah di korea eonni, tapi gak dibolehin papa mama, katanya senior di sana… agak kejam(?) gitu .-. yah eonnilah yg tau, eonni kan udah pernah kesana~ XD

    sekolah di taylor’s university nih eonni, jurusan teknik kimia~
    …mahal, stress parah karena english ngaco TT

    anak indo sih banyak eonni, tapi gaada yg 1 jurusan sama aku TT jadi gaada temen buat ngobrol disini~ #miris

    ini komennya agak panjang ya -___- yasudah mari kita sudahi sampai disini .____.b

     
  2. lolita309

    September 25, 2012 at 11:18 pm

    loh, emangnya kamu belom pernah nonton filmnya? waaah lebih bikin emosi lagi itu mamanya ._.
    dan di part berikutnya bakal nambah lagi yg sakit hahaha XD

    cieeee yg uda lupa ama kibum….YAKIN?? :p

    tuh kan, uda tau mahal.. paling juga ga jauh beda ama korea sono. dan disana biasa aja ko, asal kita ga songong, ga pake perpeloncoan atau orientasi apalah itu kayak disini bahkan…

    trus knp ga kuliah disini aja? kakakku jg lulusan teknik kimia UI loh, bagus itu^^
    tp km disono ga ada rasis2an kan? image malay kan agak…. ._.

    aduh saya udah yang kayak mak-bapak kamu aja yah kebanyakan ngatur gini ahahaha, baiklah kita sudahi disini juga saja :p

    SEMANGAT aja pokoknya sayang disana!! HWAITING! :*

     
    • hwangminmi

      September 26, 2012 at 10:44 pm

      belum tuh .___.a film korea yak?
      kenapa harus nambah lg -___- jangan bilang pemeran utamanya ikutan sakit gara” dikorbanin(?) terus~

      eh… udah lupa gak yaa~ XD
      tapi kayaknya udah setengah taun lebih lah aku berpindah ke yoochun dan gaada nyari” berita atau info tentang kibum lg… ><
      langsung terpesona ngeliat yoochun di sungkyunkwan scandal~ XD

      aku dulu mau ngambil UI jg kok eonni, cuma mama gak ngasih kalo ngambil teknik di indo… kalo dokter sih mending disini aja -___-
      padahal teknik kimia UI kan nomor 1 (katanya) di indo~
      btw eonni kuliah dimana sih? jadi penasaran .-.

      aja aja fighting! eonni jg ya~ #halah XD

       
      • lolita309

        September 27, 2012 at 12:52 am

        bukaaaannn, film barat, bagus deh yang jd ‘sera’-nya mantan artis cilik abigail breslin, trus mamanya cameron diaz.. itu lebih ngaduk2 perasaan dibanding ini :3

        hahaha, bukan pemeran utamanya kok yg sakit….

        APAAAA?? SITU DEMEN YOOCHUN SEKARANG???

        …ya gapapa juga sih #PLAK

        tp kamu sempet ikut tes2 di PTN sini? SIMAK kek, SNMPTN gt…

        aku… di universitas bakrie, jakarta. swasta tapi ajib, keren abis dosen-dosennya. ambil akuntansi~~

        iyaaaa aku juga fighting!! doain aku mau skripsi nih #halah :p

         
      • hwangminmi

        September 27, 2012 at 6:32 pm

        yasudahlah, pokoknya ditunggu aja last partnya XD

        aku belum bilang sama eonni ya? udah setengah tahun lebih lo, pas rooftop prince hampir tayang di sbs XD hohoho~
        kan yoochun bukan milik pribadi :3 #eh

        dulu sih niatnya gitu, coba” snmptn tulis dan langsung bantai itb, tapi ternyata bentrok sama kursus IELTS TT gajadi deh~
        padahal mikirnya kalo ternyata itb tembus #halah #ngarepbanget aku jadinya kuliah disana aja (kayaknya) gitu u.u

        cieh yg mau skripsi :3 udah mau lulus dong ya #ding .-.
        kami tiap semester ada project, susah pula tu eonni TT
        agak nyesel jg ga ngambil foundation, meskipun nambah setahun~

         
  3. marmel28marmel28

    October 1, 2012 at 10:56 pm

    onniee!! aku newbie di sini 😀 hehehe..
    wahh aku kmrn wkt bc lgsg keliling kota nie nyri DVD sister keeper gk dpt2 😦 onnie tau gk download dimn? nyri di youtube jg gk dpt2.
    trs lgsg deh bbm koko di malay mnt bliin novelnya xDD

    wahh onnie kpn nie part 2 nya?? can’t wait anymore!!

     
  4. marmel28marmel28

    October 2, 2012 at 10:17 pm

    wahh kamsahamnida onnie ^^ langsung download ahh …
    aku melisa ^^ heheh
    salam kenal juga 😀

     
  5. ipeh

    October 5, 2012 at 7:15 pm

    huaaa…Lola aku baru aja selesai baca.
    pgn nangissss…tp aku tahan2. Soalnya lg di kereta sehabis plng kerja. Alhasil si idung ni jd meler.
    Aku blm prnh nntn filmnya tp kynya mengharukan banget.
    Baca cerita km aja dah mengharukan lho. Oke bgt cara penyampaiannya.

    Lanjut dulu part 2 nya ah….

    😉

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: