RSS

OH MY GODDESS

19 Jun

OH MY GODDESS

Starring: Moon Jeonghyuk aka Eric Moon

Written by: Lolita Choi (lolita309)

 

Saat bertemu denganmu… untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku bersyukur Tuhan menciptakanku sempurna.

Seperti kebanyakan orang-orang dengan kehidupan normal lainnya di seluruh dunia, selama ini aku tak pernah betul-betul bersyukur memiliki apa yang kumiliki sekarang. Instead, mungkin malah tiada hari tanpa kita, orang-orang normal ini, mengeluh “kenapa mataku begini”, “kenapa hidungku begitu”, “kenapa aku pendek”, “kenapa aku tak bisa gemuk”… dan lain sebagainya, biarpun secara tak sadar atau hanya selintas tersirat dalam pikiran. Betul kan? Betul? Haha, tak usah malu, karena seperti yang kubilang di atas, aku juga termasuk di dalamnya kok. In fact, kalimat pertama dari contoh keluhan di atas, yup, keluhan tentang mata itu, itu adalah milikku.

Biarpun kebiasaan buruk itu rasanya akan segera berhenti begitu melihatnya.

Selama 10 detik berjalan, untuk pertama kalinya tiba-tiba aku merasa bersyukur bahwa biarpun kecil, tapi setidaknya aku masih memiliki mata. Sehingga aku bisa melihatnya… karya Tuhan yang begitu indah. Seperti tersedot blackhole… padahal begitu jauh, tapi secara instan wajah itu mampu menarik seluruh perhatianku.

Dan tanpa kusadari, kini aku sudah berlari keluar dari dalam kantorku demi mencari sosoknya. Gadis itu. Bagaimanapun aku harus bisa mengenalnya. Orang pertama yang bahkan tanpa perlu berkata apapun, sudah berhasil mengajarkanku untuk bisa mensyukuri sepasang mata ini. Aku bersyukur memiliki mata!

***

 

Tumbuh besar di Amerika Serikat yang seperti memiliki segala sesuatunya dalam ukuran ‘bigsize’ membuatku, Moon Jeonghyuk alias Eric Moon si Asia tulen kontan krisis percaya diri. Semua orang bertubuh tinggi besar, punya mata besar (berwarna pula!), tangan besar, anjing besar, bahkan paket burger pun dalam porsi besar. Masa-masa sekolahku selalu diliputi minder, aku merasa bagai liliput yang nyasar ke sekolah para raksasa. Bahkan murid-murid perempuan punya tubuh lebih besar dariku, tahu sendiri pertumbuhan para bule memang pesat luar biasa. Belum lagi mata Asia Timur-ku yang selalu diledek tidak pernah membuka. Selalu menjadi minoritas, masa pendidikan dasar sukses menjadi neraka bagi seorang Eric kecil. Untung di masa-masa puber pertumbuhanku seperti dirapel; mulai SMA tinggiku pun tak kalah jauh dengan teman-teman bule, aku juga akhirnya sukses bergaul. Semua seperti berubah… ya, kecuali ukuran mataku.

Sebetulnya tak ada yang begitu salah dengan mata ini. Aku pun tahu kalau ini masalah genetik, dan aku tak sendirian. Dibanding warga Korea lain yang pernah kukenal disana, nasibku bahkan jauh lebih baik. Teman-teman bule-ku juga tak ada yang meledek lagi, seiring dewasa mereka seperti sudah paham kalau wajar bagi seorang Asia Timur memiliki mata yang kecil. Tapi aku tetap tak mau mengerti. Sejak kecil seperti dicekoki paham kalau the bigger the better, aku sudah terlanjur membenci mataku sendiri, dan ketidakadilan Tuhan yang sudah memberikannya padaku. Bahkan ketika aku sudah kembali ke ‘habitat’ asalku, Negeri Ginseng tercinta ini.

Yang semuanya berubah hari ini.

Then you’re Mr. Eric Moon? Moon Jeonghyuk-ssi majayo? (Anda betul Tuan Moon Jeonghyuk?)

“Her, dia lucu!”

“Ssstt!”

“Dia nggak akan ngerti juga, kali. Mas, Mas ganteng, deh.”

“Mano! Oh, sorry. I’m  Hera, and this is Magnolia or Mano, we’re from Indonesia.”

Ia bernama Hera. Setelah akhirnya berhasil ‘menangkap’ dan berbasa-basi menanyakan keperluannya di Gedung Administrasi kampus ChoonHa University tempatku bekerja ini, aku pun mengetahuinya. Bahkan ia ternyata salah satu peserta program Summer School yang kutangani sebagai International Affairs disini, dan juga sedang mencariku (tentu saja)! Biarpun sedikit tak mengerti dengan apa yang sedari tadi ia dan temannya ributkan sambil berbisik-bisik, aku tetap bersyukur akhirnya bisa mengenalnya. Namanya Hera, persis seperti nama dewi dari para dewi, istri Zeus dalam mitologi Yunani. Nama yang begitu ‘pas’ untuknya. Sekarang aku mengerti kenapa tadi dengan mudah aku bisa mensyukuri nikmat Tuhan… ternyata itu karena ada campur tangan ‘dewi’ disana.

Nice meeting you, Moon-ssi.”

Lanjutan kata-katanya seketika menarikku dari lamunan. Tersenyum, kujabat uluran tangan cantik itu, “Just call me Eric. Hwangyeonhamnida, ChoonHaDae-eseo (Selamat datang, di Universitas ChoonHa).” …and to my life.

 

***

 

Aku mensyukuri semuanya kini. Aku bersyukur di tempatkan di Departemen International Affairs, aku bersyukur ditunjuk mengurusi program Summer School dari tahun ke tahun (biarpun akhirnya baru bisa menemukan ‘dewi’ ini tahun ini), aku bahkan bersyukur ia dan Magnolia kehabisan tiket pesawat untuk keberangkatan di tanggal yang sudah ditentukan bagi tiap peserta, sehingga akhirnya terpaksa tiba disini lebih cepat tiga hari dari seharusnya. Dengan itu kesempatanku untuk dapat menghabiskan waktu dengannya pun menjadi lebih banyak… yang tentu saja tak kusia-siakan. Biarpun selalu kutanamkan di otakku kalau sama sekali tak ada alasan bagiku untuk terburu-buru menyatakan perasaan, karena Summer School ini akan berlangsung selama 2 bulan. Aku masih punya cukup waktu… kuharap.

You know what, Eric-ssi? Selama ini aku dan Mano selalu berpikir Eric-ssi itu pasti pria yang sudah berumur. Bapak-bapak.” TAKK! Sebuah bola tenis sukses terpukul ke arah dinding. “Di Indonesia kami bahkan membahasakanmu sebagai ‘Om Jeonghyuk’, yang berarti ‘Uncle Jeonghyuk’. Habis Eric-ssi sabar sekali membalas semua email kami—dan aku yakin pasti seluruh peserta lainnya—satu-satu,” TAKK! sekali lagi Hera menerima pantulan bola dariku dengan raketnya. “…abeoji-cheorom (seperti seorang ayah). Siapa sangka 30 saja belum—Ah, gotcha!” serunya menutup ‘pembukaan rahasia’ itu sambil tertawa-tawa karena akhirnya berhasil membuatku tak bisa merespon pukulan squash-nya.

Aku ikut tertawa dan geleng-geleng kepala, tapi ini lebih akibat melihat demonstrasi multi-tasking luar biasa yang ditunjukkannya barusan. Bagaimana ia bisa tetap mengobrol denganku sambil juga fokus dengan tangannya yang memegang raket dan arah pantulan bola. Sedang aku? Tak bisa kalian bayangkan betapa seriusnya aku saat permainan tadi, bukan pada bola, tapi pada usaha menahan diri untuk tak terus menatapnya… yang sungguh sulit. Sekuat tenaga membagi perhatian pada bola dan permainan juga dirinya, squash yang biasanya hanya bagai bermain bekel bagiku, tiba-tiba menjadi rumit. Seluruh gerak-gerik tubuhnya bagaikan magnet, sedang aku hanyalah sebuah jarum yang bukan salahku terbuat dari besi. Tertarik olehnya adalah hukum alam yang tak bisa kutolak!

Ini hari ketiga aku mengenalnya, Hera Gionina, mahasiswi 20 tahun asal Indonesia yang sudah mengayunkan tongkat keajaibannya padaku. Tak butuh waktu lama memang sampai kami bisa berteman dan mengobrol dengan nyaman, karena ternyata kami memiliki banyak sekali kesamaan, salah satunya hobi bermain squash ini. Tak sengaja kembali bertemu di hall squash kampus ini sore hari pasca kedatangannya, selanjutnya tak pernah kusia-siakan akhir jam kerjaku untuk ‘berduel’ dengannya.

“Besok peserta lain akan mulai berdatangan, ya?”

Ia bertanya sambil kami beristirahat dengan duduk di lantai hall. Seketika, tanganku yang barusan masih memegang handuk untuk menghapus peluh di wajah pun terhenti. Dan ya… aku baru teringat. Ini hari ketiga ia ada disini, yang berarti tiga-hari-kedatangannya-yang-lebih-cepat pun juga akan berakhir. Mulai besok aku akan disibukkan dengan kedatangan peserta-peserta Summer School yang lain… yang itu berarti waktu-waktuku bersama dengannya juga akan berkurang?

Tapi memasang senyum palsu, kuberanikan diri menatap wajahnya yang terlihat merona segar setelah permainan kami barusan, “Ya, mulai besok kamu dan Magnolia bakal kedatangan banyak teman baru. Kalian nggak akan kesepian lagi, deh.”

“Aku… nggak kesepian, kok.” ia berkata pelan, sebelum akhirnya menolehkan wajah dan ikut menatapku. “Since I have Eric-ssi.”

 

***

 

Aku bahagia.

Aku memang tak tahu apa setelah hari itu, sejak Hera mengatakan kalau sejujurnya ia tak pernah kesepian berada di negara asing ini karena aku, kami bisa disebut sebagai ‘sepasang kekasih’. Tapi yang jelas, sejak itu hubungan kami memang sedikit berubah, segala skinship dan perhatian itu. Kini kesibukan kami masing-masing memang bertambah seiring dengan resmi dimulainya Summer School, tapi perhatian selalu tak luput ditunjukkannya lewat SMS dan telepon. Setiap kami bertemu—tak lagi begitu sering di hall squash karena kini banyak peserta-peserta lain yang juga bermain disana—tak jarang ia menggenggam tanganku sebagai dukungan semangat mengurus ratusan mahasiswa/i sepertinya dari seluruh dunia. Tapi apakah semua itu bisa menandakan sebuah ‘status’ di antara kami? Aku tetap tak tahu—dan mungkin sedikit tak peduli—karena yang terpenting adalah aku, kami, bahagia. Sangat bahagia.

So… your name really comes from that ‘Hera’? Just like in the mythology? Zeus’ wife?” …and Goddess of the Goddesses? tambahku, biar hanya dalam hati. Kami sedang berada di Seoul N Tower malam ini, entah kenapa tiba-tiba saja aku ingin mengajaknya ke must-visit-place di seluruh Korea ini. Setiap weekend memang kuliahnya libur, kerjaanku pun tentu juga. And… it is. IT. IS! Namanya memang betul-betul berasal dari nama Hera, sang dewi dari segala dewi. Padahal aku hanya bertanya random (daripada tak ada topik bahasan, kan) dan tiba-tiba teringat saat pertama kali bertemu dengannya. Ingat waktu itu aku betul-betul memuji namanya yang memang sesuai dengan kecantikan dewi dari para dewi itu?? Kalau aku, sejak dulu aku memang suka mitologi, major kuliahku di Amerika pun History dengan pengkhususan Mythology. Dan kini, bukan hanya ia tahu tentang ‘Hera’ dan mitologi itu (yang kupikir sekarang, apalagi anak muda pasti sudah tak ada yang tahu lagi), tapi ternyata namanya memang betul-betul berasal dari sana. Ayah dan ibunya adalah penggila film dan serial TV populer yang diangkat dari mitologi macam Hercules dan Xena: The Warrior Princess, dan dari situlah akhirnya mereka mendapat ide memberi nama putri mereka yang baru lahir.

Semuanya betul-betul sesuai dengan pemikiranku… Siapapun tolong bilang ini cuma kebetulan…!!

“Sayangnya, mitologi kurang begitu populer di Indonesia. Di sana, nama ‘Hera’ hanyalah nama umum biasa yang hanya terdengar cantik namun nyaris tak memiliki arti khusus. Tak akan ada yang menyangka kalau namaku berasal dari seorang dewi, in fact, selama ini tak ada satupun yang pernah bertanya arti namaku. Makanya aku sempat kaget begitu Eric-ssi tiba-tiba bertanya begitu.” jelasnya lebih lanjut sembari kami berjalan mengitari taman tower, menikmati udara malam di tengah-tengah ratusan pasangan lain yang juga ngalor-ngidul di sekitar kami. Seperti yang bisa diduga, Malam Minggu.

Aku hanya mengangguk-angguk dengan mata yang tak pernah lepas memperhatikannya yang berada di sebelahku (seperti yang pernah kubilang, ia magnet dan aku jarum: ini hukum alam!). Ia tersenyum riang, sesekali menunjuk sana-sini sebagai tempat yang diakuinya sering dilihat di berbagai drama TV. Melihatnya seperti itu, mungkin terbawa suasana, perlahan kujulurkan tanganku untuk menggenggam jarinya.

Ia sontak menoleh. Aku menatapnya beberapa saat, menunggu reaksi apapun darinya… yang ternyata sama sekali tak ia lakukan. Berdua, kamipun kembali menatap ke depan dan melanjutkan jalan-jalan ini seperti tadi. Hanya dengan perbedaan kalau kini, kedua tangan kami bertautan dengan sangat nyaman di dalam kantong jaketku.

“Waa, yeppeuda (cantiknya)…” serunya begitu kami sudah mencapai atas tower, melihat sekeliling kota Seoul yang berkelip-kelip bagai bintang dari atas sini.

“Yeppeujyo? (Cantik, kan?)” tanyaku yang segera disambut anggukan yakinnya. Aku tertawa. “This is the exact reason why I brought you here. Melihat keindahan ini bersama-sama, di tempat ‘sakral’ bagi seluruh pasangan di Korea Selatan ini.” Jelasku sambil tetap tersenyum.

Tapi alih-alih ikut tersenyum, ia malah terlihat bingung, “Should I… respond to that?”

Aku nyaris tergelak, “Of course you don’t!” dan secepatnya, ia menghela napas lega. Aku mengacak-acak rambutnya gemas. Hari ini, bisa menghabiskan waktu berdua dengannya, jauh dari area kampus dan berbagai mata yang mengenal kami hanya sebagai staf dan mahasiswi, aku betul-betul sangat bahagia. Sampai-sampai aku tak menyadari kalau sebetulnya ada yang patut kucurigai dari perubahan ekspresinya saat aku menyatakan alasan mengajaknya ke sini malam ini. Atau mungkin merasakan sesuatu saat mengantarnya sampai depan dorm tadi, karena tanpa aku tahu, dari jendela kamar asramanya di lantai 2, seseorang menatap kami dengan begitu tak suka. Magnolia.

 

______

 

Tak terasa, sudah nyaris 2 bulan program Summer School ini berlangsung. Seminggu lagi adalah jadwal wisuda anak-anak ini, karena 2 minggu kemudian mahasiswa-mahasiswi ChoonHa yang ‘asli’ sudah kembali memulai perkuliahan. Tapi tetap saja… sampai kini hubunganku dan Hera masih tanpa status alias ‘tak jelas’. Haha, tapi bukannya aku betul-betul tak peduli, kok. Ini saja aku sedang mengarah ke dorm para mahasiswa, siapa tahu nanti bisa bertemu dengannya dan bicara… yah, hitung-hitung usaha.

Melihatku datang, beberapa peserta Summer School yang sedang berada di sekitar dorm segera menyapa dan memberi salam. Untungnya jabatanku sebagai International Affairs memang membuatku tak aneh terlihat mengobrol atau bahkan berjalan dengan salah seorang dari mereka. Banyak di antara mereka memang sering berkonsultasi denganku, dari mulai tanya-tanya cara pergi ke tempat-tempat wisata dekat-dekat sini sampai yang curhat karena homesick. Makanya kalaupun aku datang kesini juga tidak akan terlihat istimewa.

“—jangan bilang lo bakal temuin dia lagi, Her. Gue sudah sering bilang: berhenti berhubungan lebih dengan dia!”

“G-Gue cuma mau titip tugas buat Professor Lee, kok…”

“Jangan kira gue nggak tahu!!”

Aku sedang diajak mengobrol oleh beberapa peserta bule di ruang rekreasi (semacam tempat kumpul-kumpul dan nonton TV) dorm ketika ribut-ribut dengan bahasa yang tak kumengerti terdengar jelas dari kamar 205, bahkan dari tempat ini yang notabene berada di lantai dasar. Seketika kami semua mendongak ke atas. Aku tahu pasti kamar siapa itu, not to mention betapa aku mengenal suara salah satu di antaranya. Suara yang sudah lebih dari sebulan ini selalu mengisi hari-hariku, membuatku lebih semangat untuk masuk kerja dan kembali berhadapan dengan pemuda-pemudi asing dengan berbagai latar belakang mereka. Tapi suara satunya lagi… sahabatnya sendiri, Magnolia?

Tak butuh waktu lama sampai akhirnya spekulasiku terjawab. BRAK-BRUK-BRAK. Terburu-buru, dua penghuni lain kamar yang sama sudah terlihat berlari-lari menuruni tangga dan tepat sampai di lounge yang memang menghadap anak tangga ini, seperti ingin menghindar dari terseret dalam perang saudara.

Hey, whaddup?” Aku langsung bertanya begitu dengan ngos-ngosan dua gadis yang juga berasal dari Indonesia namun universitas berbeda dengan Magnolia dan Hera itu menjatuhkan diri di atas sofa. Teman-temannya, 2 bule cowok yang barusan masih mengobrol denganku segera menyodorkan tumbler masing-masing yang terletak di atas meja untuk mereka minum.

Eric-ssi, Hera and Mano….

There. Itu betul-betul pertengkaran Hera dan Magnolia atau Mano, sahabat senasib sepenanggungannya, 2 peserta pertama ChoonHa Summer School tahun ini yang kukenal. Sudah sekitar 2 minggu ini beberapa kali memang aku melihat sendiri mereka berselisih kecil, karena seperti yang dibilang ‘saksi mata’ tadi, ini bukan yang pertama… biarpun sepertinya ini yang terbesar. Tapi karena apa?? Sebagai salah satu pengurus utama anak-anak ini, sepertinya sudah saatnya aku turun tangan menengahi mereka.

“Lihat mata kalian!! Kalian tergila-gila satu sama lain, Hera… Lo kira ini akan berakhir hanya sampai periode Summer School kita ini aja?? NGGAK!”

“I-Ini memang akan berakhir seiring SummSchool ini, No. Gue janji ini—“

“Lo sudah punya Athan, for the God’s sake!!”

Lebih dekat menuju kamar mereka, pertengkaran itu semakin jelas terdengar. Mereka bicara dengan bahasa mereka lagi… pikirku.  “What exactly are they talking about??

“Jeohee do jal mollayo (Kami juga kurang tahu)…” Jawab salah satu roommate Hera yang keduanya memang kupaksa ikut kembali ke kamar untuk menemaniku menengahi 2 teman mereka itu. Tentang hobi bicara campur-campur Inggris-Korea para peserta, itu semua karena biarpun Summer School ini diadakan dalam Bahasa Inggris, kami tentu juga memiliki kelas Bahasa Korea, yang bahkan dijadikan mata kuliah wajib bagi tiap peserta. “But it seems that Mano is mad because Hera is cheating from her boyfriend in Indonesia or something…

DEG! Boy… friend??

Tapi aku berusaha keras tidak begitu memikirkannya, karena misiku kini adalah mendamaikan dua peserta Summer School kami. Perlahan aku mengetuk pintu kamar mereka, dan segera ribut-ribut di dalam pun reda seiring dibukanya pintu itu…

“ERIC-SSI??”

Oh, what a right time.” Magnolia berkata sinis seraya menyilangkan tangannya menatapku. “Now let’s see if you’re able telling him that you actually already have a boyfriend, Hera. For five years. You said this is just a summer fling, right?

***

 

This isn’t a fling. Ini bukan sekadar ‘cinta numpang lewat’, aku tahu itu. Hanya dengan kehadirannya saja bisa membuatku lebih bersyukur pada Tuhan atas semua yang telah Ia berikan. Tapi kini, ia ingin membuatku kembali membenci Tuhan karena ketidakadilannya padaku?

I… actually have a boyfriend. As Mano said.

Kalian tak akan bisa membayangkan ekspresiku saat itu. Setelah jam makan malam selesai aku memang bersikeras meminta penjelasan darinya… and I successfully lost at word. Hampa, shock, merasa terkhianati mendengar itu semua dari mulutnya sendiri… nelangsa bagai habis dikecup Dementor. Lalu apa arti semua ini?? Selama ini?? Sandiwarakah?? Semua tatapan itu… genggaman itu… Rasanya aku ingin berteriak, ingin memaki, tapi seperti yang diduga, aku tak akan sanggup melakukannya. Tidak pada Hera, dewi dari segala dewi, tak hanya dalam mitologi, tapi juga bagiku.

Dia masih menunduk, seperti tak sanggup mengangkat kepalanya untuk menatapku. Yah, setidaknya dia tahu ia sudah sukses melukaiku.

“Athan. Namanya Athan… dan Mano adalah adiknya.” Katanya pelan setelah jeda beberapa lama. Jadi Magnolia adalah adik dari kekasihnya… Sekarang aku mengerti kenapa akhir-akhir ini juga ia selalu melihatku dengan begitu bencinya. Tapi pikiranku kembali teralihkan karena terburu, Hera kini meraih tanganku… yang bodohnya aku tetap tak sanggup menepisnya. “Aku bahagia bersamamu, sungguh! Hanya dalam waktu singkat ini aku bahkan berani bilang: aku mencintaimu. Hanya saja… kami… sudah bertahun-tahun bersama…”

Jadi ini arti semua sikapnya yang seperti selalu ragu-ragu dan khawatir tiap kami bersama akhir-akhir ini?

“Kamu nggak tahu betapa tiap hari aku merasa seperti seorang pengkhianat.” Ia kembali berkata lirih. “Saat bersama denganmu memang itu semua bisa terlupa, karena aku bahagia bersamamu. Tapi begitu aku kembali sendirian… hatiku dihantui perasaan bersalah. Ini semua salah, apa yang kita lakukan salah, biarpun aku nggak bisa menemukan di bagian mana yang salah… Salahkah dua orang yang saling mencintai untuk bersama? Berkali-kali aku memaksa diriku mematri dalam ingatan, termasuk berkata pada Mano kalau ini hanyalah ‘summer fling’ biasa, ini hanyalah sekadar ‘cinta-numpang-lewat’. Yet it’s not… it’s not…”

HUG. Aku tak tahu apa yang terjadi padaku, atau serangga apa, virus apa yang tiba-tiba menyerangku, yang jelas saat itu juga, alih-alih marah aku malah segera menghilangkan jarak di antara kami dan memeluknya begitu erat. Erat, karena sebetulnya sama sekali tak ada niatan bagiku melepaskannya. Erat, karena biarpun tak ingin, tapi aku tahu hanya sekaranglah kesempatanku untuk dapat memeluknya, untuk yang terakhir… Dan disanalah aku tersadar, kalau Hera kembali telah membantuku mensyukuri sepasang lagi pemberian Tuhan: kedua lengan ini, untuk memeluknya.

“Oh my, how awful I am…” ia malah makin tak bisa menahan luapan emosinya, seperti merasa tak patut dengan perlakuanku.

Cepat-cepat aku kembali memeluknya yang sudah jatuh terlutut menyalahkan diri sendiri, seraya menggeleng. “No.” Sebisa mungkin kujaga suaraku tetap teratur saat mengucapkannya, “Tak pernah aku sebahagia ini bisa memeluk seseorang… Dan kamu yang mengajarkanku. Aku bersyukur Tuhan menciptakanku sempurna.” Biarpun tanpamu, kini jiwaku yang tak sempurna…

Aku tak bilang ini tidak pahit, tidak, hanya saja ini lebih dari cukup… Aku juga tak tahu apa efek rasa penuh syukur yang diberikannya padaku ini juga terjadi pada semua orang yang bertemu dengannya, atau lebih spesifik, kekasihnya itu. Yang jelas, tak pernah selama ini aku secara khusus berterimakasih karena Tuhan menciptakanku sempurna, dengan badan sehat, anggota gerak lengkap, karena menurutku—dan mungkin seluruh orang lain di dunia yang belum menyadarinya—itu semua hal yang biasa, semua orang juga memilikinya. Sampai ketika ia datang.

 

END

 

Jadi…. ada yang tau siapa itu Moon Jeonghyuk aka Eric Moon? 😛

 

 

yup, itu dia orangnya.ahjussi-ahjussi cakep yak :3

Advertisements
 
6 Comments

Posted by on June 19, 2012 in Uncategorized

 

6 responses to “OH MY GODDESS

  1. ms.o

    June 20, 2012 at 4:27 pm

    yepp, eonniiiiiiee. akhirnya balik lagi deh ke dunia tulis-menulis…

    1st, tau doong, dia kan da leada’ nya Shinhwa,,,ahjussi yg agak2 aneh menurutku..
    ceritanya kok mak jlebb bgt sih, eonnie? tapi bang eric nya g kenapa-kenapa kan? mksudku dia sehat kan? kok kayaknya gitu banget,,

     
    • lolita309

      September 26, 2012 at 11:28 am

      bwahaha, keliatan kayak ‘psycho’ gt ya? :p

      gapapa kok, yah paling stress aja soalnya kan dia ceritanya uda serius disini, eh trnyata ceweknya uda punya pacar ._.

      hahaha, eric kan emang 4D makanya aneh, tp padahal doi pinter banget loh, makanya jd CEO Shinhwa Company. calon suami idaman *.*

      anyway makasi uda baca+komen sayang^^

       
  2. chaeky

    June 28, 2012 at 10:55 pm

    akhirnya onnie comeback juga T.T
    bawa sweet story om eric ganteng lagi XD
    sukaaaaa onn. jadi endingnya cuma begitu aja? bersatu donk u.u
    tapi rada ga bisa ngebayangin om eric begini, ingat SB terus sih wkwkwk
    onniiieeeee aku tunggu hutang(?) ffmu yg lain. ASAP ya kkkkk~

     
    • lolita309

      July 1, 2012 at 1:02 pm

      Hehe gomawo~ Buhahaha ga di SB jg doi emang gila ko, ini sih sumpah ngarang abis dia bisa kayak gini XDD

      Iya iyaa.. *inget utang* *pundung* #plak 😀

      Makaciw uda baca sayang 🙂

       
  3. cizziekyu

    September 21, 2012 at 10:06 am

    Hohoho bru baca yg ini… Ini, terinspirasi dr cerita nyata selama d korea kah??

     
    • lolita309

      September 21, 2012 at 11:08 am

      PREEETTT~~~ engga, lah! pengennya sih gitu, tp ternyata ga ada yg bisa dikeceng disana, paling bule inggris tuh atu, ganteng abis plus pinter pulak. tp koreanya mah…….. ._.

      haha makasi tapinya uda baca^^ ini salah satu karya gagal sih….. :p

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: