RSS

[THE SERIES] WISH

12 Mar

WISH (The Missing Link)
Written by: Lolita Choi (@lolita309)
Starring: PJS, CSW

“Pengumuman…!” Teuki oppa langsung mulai dengan suara melengkingnya itu begitu menemui adik-adikku di ruang makan. Kebetulan eomma dan appa juga sedang tidak ada jadi dia betul-betul berasa ‘raja’ deh di rumah orangtuaku ini.
Ketiga adikku segera menoleh dari aktivitas makan mereka, menatap kakak ipar mereka itu dengan tatapan seragam, kata tanya “APA?” Besar-besar di jidat mereka.

“Aku dan kakak kalian mau advance di bisnis kami berdua loh…” Umumnya, memaksudkan pada perusahaan jasa organizer yang sudah kami bangun bersama sejak masih pacaran itu. “Sekarang nggak cuma EO lagi, tapi hotel! Yup, kita mau bangun hotel. PARK Hotel. Rancangan, lahan, dana, semua sudah ada, deh. Hebat kan ipar kalian ini??” Pamernya lagi, kini dengan senyum bangga seraya merangkulku. Pandangannya tak henti bersinar-sinar memutar ke tiap-tiap adik iparnya, memandangi mereka satu per satu, sekaligus pamer gigi putihnya itu. Cring cring!

Eunhyuk dan Donghae si kembar sekaligus partner-in-crime buru-buru kembali ke makanan mereka dengan tampang malas dan tak tertarik begitu mengetahui pengumuman yang ada, “Daripada bikin hotel mendingan bikin anak dulu tuh hyung, bikin anak! Sudah 2 tahun nikah, masa kalah sama Yora yang belum ada berapa bulan langsung ‘jadi’?” Sentil mereka, padu dan kompak!

DEG!

Tapi sungguh, mendengarnya sangat menyakitkan buatku… Biarpun tentu aku tak memperlihatkannya, karena perhatianku kini sepenuhnya tercurah pada juga perubahan paras di wajah suamiku tercinta. Senyumnya sekejap menghilang, tak terlihat lagi sinar-sinar malaikat yang biasanya memang selalu memancar dari dirinya itu, pembawa keceriaan di keluarga kami dengan kepandaiannya bicara. Ah, oppa… Aku tahu ia juga sedih karena kenyataan itu. Tapi kembali menjadi Leeteuk si ceria lagi–ia lebih pintar berakting daripada aku–ia pun sudah kembali menutupnya dengan guyon, “Ya Siwon memang ‘tokcer’, kali.”

“Jadi situ nggak tokcer? Huahahaha.” Eunhyuk yang memang musuh bebuyutan adu mulutnya itu cepat-cepat menjawab lagi, yang segera disambut tawa menggelegar dari Donghae di sebelahnya. Mereka pun ber-tos ria. Teuki oppa buru-buru mencibir jengkel.

Aku dengan cepat mengendalikan keadaan, “Heh, sudah tahu aku nggak suka anak-anak. Jadi nggak usah ya dipaksa-paksa gitu.” Omelku seraya menjulurkan tangan untuk menjitak mereka yang ada di seberang meja makan satu-satu. Mereka meringis sambil tetap terkekeh-kekeh.

Yah, pada akhirnya aku tetap saja berbohong lagi.

Aku dan Teuki oppa baru saja akan mengambil duduk kami di salah satu kursi untuk ikut makan ketika tiba-tiba Yora, adik bungsuku, bersuara ragu, “Oppa bukan mau nyangingin usaha keluarganya Siwon, kan?” Tanyanya curiga seraya memicingkan mata, secara tak sengaja mengacungkan pisau pengoles selai yang sedang dipegangnya pula! Ya ampun, sejak kapan anak ini jadi barbar? Pasti calon bayi yang sedang dikandungnya itu cowok, deh. Fixed!

Teuki oppa dengan pandang ngeri buru-buru mencabut pisau itu terlebih dulu dari genggaman adik ipar kesayangannya sebelum menjawab, “Aduuh, saeng, bahaya loh itu… Ya ampun.” Katanya begitu dengan selamat berhasil menjauhkan si pisau dari jangkauan adikku. Ia kini berani memandang Yora sambil terkekeh, “Ya nggak, lah. Mana bisa aku nyaingin kerajaan properti terbesar Korea macam Choi Corp. itu, adik sayang?” Ia mengelus rambut bergelombang dokter muda kami lembut.

Yora masih memicingkan matanya, “Jinjja? Habis kan kalau ayah mertuaku jatuh bangkrut dan Siwon sampai nggak dapat warisan, nanti hidup kami gimana? Si baby?” Ia memaksudkan pada jabang bayi yang baru 4 bulan dikandungnya. Kami semua seketika melongo heran, sejak kapan adik kesayangan kami jadi matre begini? Secara dia sendiri kan sudah seorang dokter yang tahu sendiri gajinya cukup besar, lagipula sebelumnya mana pernah dia sebegitu bergantung pada kekayaan keluarga Siwon? Itu big NO NO buat keluarga kecil mereka!

Tapi sepertinya ia menangkap tampang shock kami, maka ia buru-buru melanjutkan, “Eh, bukan. Maksudnya kan ya tahu lah, hidup kan makin susah dari hari ke hari, kalau mau realistis rasanya mengandalkan pekerjaan polisinya Siwon aja sepertinya… Bukannya aku materialis atau gimana, lho…” Ia cepat-cepat menggeleng, yang jujur malah terlihat imut sekali, apalagi bagi oppa-oppa-sok unyunya itu! Maka kami semua seketika malah tersenyum melihat kegagapan jawaban Yora itu, yang makin membuat wanita mungil itu malu dan cepat-cepat beranjak kabur seraya meraih tas dan jas dokternya. “Umm…ya sudah deh aku berangkat dulu ya. Ah, nggak ada Siwon jadi nggak ada yang bisa belain aku deh. Dan eonni,” ia kini menatapku serius. “…betul tuh kata oppadeul: cepat bikin anak! Bye!”

***

Argh. Aargh! Berkali-kali aku mengacak-acak rambutku sendiri, mencoba menghilangkan semua pikiran yang menggangguku akibat perkataan bocah-bocah itu. Berkali-kali juga aku sok tetap fokus membaca majalah sambil malas-malasan di rumah besar yang sekarang kosong ini. Sia-sia. Aargh! Mana bisa aku begini terus? Kondisi ini sih sama saja dengan di rumahku, lalu buat apa aku mengungsi kesini selama oppa meeting dengan kontraktor hotel, hah??

Tapi harusnya aku juga sudah tahu, sih. Mau di hari Minggu seperti ini pun, bagi adik-adikku yang bekerja sebagai pelayan masyarakat, tak akan pernah ada hari libur. Yang satu dokter (Yora), satu polisi (Donghae), satu artis (Sungmin), satu lagi bukan salah satu dari itu sih, ia koreografer sekaligus pemilik dance studio (Eunhyuk), tapi jangan pernah berharap dia ada di rumah pada hari libur. Semua hari kosongnya telah dedikasikan bagi sang pacar, alias ngapel.

Di saat seperti ini, mau tak mau aku jadi kembali terpikirkan semua ocehan adik-adik badung itu. Bayi. Anak. Keduanya bahkan hanya terdiri dari satu kata, empat huruf. Tapi bagiku, mereka sama sekali tak terjangkau. Semuanya sudah terlambat, dan mumpung dua kata itu masih hanya terdiri dari sedikit huruf yang harusnya bisa cepat dihapus, aku harus buru-buru menghapusnya juga dari hatiku, keinginanku. Galau-galau begini, this is so unlike me.

“Yeobo, kamu belum tidur?”

Malam itu, Teuki oppa yang baru pulang dari meeting segera menghampiriku yang masih terduduk di pinggir ranjang, seraya melonggarkan dasi merah maroon-nya. Ia mencium keningku lembut sebelum mengambil tempat di sebelahku.

Aku tersenyum, “Belum. Kamu mau mandi dulu? Aku siapin airnya, deh.”

“Nggak usah.” Tapi Teuki oppa buru-buru menarik tanganku lagi yang sudah bangkit dari kasur. Aku kembali terduduk. “Aku kayaknya capek banget, mau langsung tidur aja.”

Aku mengangguk. Sebagai istri yang baik aku pun perlahan membantunya membuka kancing-kancing kemeja bergaris yang dikenakannya. Ia yang tadinya juga sedang mencoba melepas kancing di pergelangannya segera terdiam begitu melihatku yang begitu serius.

“Ryeoru.” Panggilnya lagi.

“Ya?” Jawabku tanpa melihatnya. “Yak, selesai. Angkat tanganmu.” Instruksiku yang langsung diturutinya. Dengan cepat aku pun sudah melepas kemeja kotornya untuk dilipat sebelum dimasukkan ke keranjang cucian. Aku baru akan berdiri untuk meletakkannya ketika Teuki oppa kembali menahan tanganku.

“Aku mau ngomong, kamu duduk dulu.”

Aku melihatnya yang sudah tinggal mengenakan singlet putih dan celana kerjanya, dan kembali tersenyum. “Ganti baju dulu, buka kaosmu, aku ambilkan piyama.”

“Serius, Ryeoru.” Ia masih menahan tanganku. Mengernyitkan dahi, aku pun akhirnya kembali duduk di sebelahnya. Berkali-kali ia menggenggam telapak tanganku, membukanya, sebelum akhirnya ragu bertanya, “Ryeoru, apa kamu betul-betul… nggak ingin punya anak?”

Oh. Seharusnya aku sudah bisa menduganya. Oppa pasti tak kalah galaunya denganku hari ini karena hal itu…

Maka aku segera membuang muka, pura-pura melihat ke arah lain. “Jangan dengarkan bocah-bocah itu, oppa. Selama ini kita baik-baik aja, kan? Kalau Tuhan memang sudah percaya pada kita, Ia pasti akan memberikannya…”

“Tapi kamu selalu bilang kamu nggak suka anak-anak…”

Karena aku nggak akan pernah bisa memilikinya, jawabku dalam hati. Aku benci anak-anak karena aku tahu, selamanya aku tak akan bisa memilikinya…

“Memang,” Jawabku akhirnya. Wajah suamiku dengan cepat berubah muram. Tapi aku buru-buru menggenggam tangannya seraya tersenyum, “…tapi karena aku tahu kalau suamiku sangat suka anak-anak, maka itu aku juga jadi sangat menginginkannya. Keturunan seorang Park Jungsoo. Kita hanya harus tetap berusaha kan?” Kataku dengan senyum menggoda.

Perlahan Teuki oppa juga tersenyum, dan mengedikkan bahunya ke arah ranjang di belakang kami, tempat tidur di kamar pribadiku di rumah ini, sebelum aku pindah dan menjadi nyonya rumah di kediaman keluarga Park suamiku. “Tonight?” Tanyanya nakal

Aku mengangguk pelan. Tersenyum, biarpun dalam hatiku perih.

Tuhan, sampai kapan aku harus terus memberinya harapan palsu?

***
Biarpun ternyata Tuhan benar-benar mendengarkan suara hatiku. Dia betul-betul tidak membiarkanku lama-lama lagi terus berbohong, well, setidaknya biarpun belum terkuak pada semua orang, tapi Ia akhirnya memberikanku seorang teman untuk membagi kenyataan ini. Kini aku tak harus menyimpannya seorang diri lagi, biarpun aku sendiri tak tahu apa dengan ini akan membuka bagiku sebuah jalan menuju hal yang benar atau malah jalan menuju jurang kematianku sendiri…

Hari itu padahal berjalan seperti biasanya, aku mengurus kantor sendirian karena Teuki oppa sedang sibuk-sibuknya meeting sana-sini demi pengerjaan proyek hotel kami. Hingga jam makan siang datang, dan tiba-tiba Yora menelepon untuk mengajakku keluar, menemaninya cek kandungan sekalian makan bareng di luar.

“Heh? Makan barengnya sih boleh, tapi cek kandungan… bukannya itu ‘habitat’ sehari-hari kamu ya? Paling juga tinggal salto ke Poli Kandungan juga sudah sampai, ngapain minta antar?” Aku yang memang amat-sangat simple-minded dan ogah repot ini buru-buru menangkis tawaran bungsu keluarga kami itu.

“Aaaah, perhitungan banget deh… Ayolah, eonni juga nggak sibuk kan? Memangnya nggak mau lihat calon ponakannya? Ya? Ya?”

“Nggak pakai aegyo deh, aku bukan oppa-oppamu.” Cibirku jengkel, bercanda. Hah, jangan-jangan calon bayinya itu kembar cewek-cowok, habis selain jadi barbar, sejak hamil bawaan Yora buang-buang aegyo melulu juga. Adikku terdengar terkekeh di ujung sana, sadar ‘trik’-nya sudah terbaca. “Ya sudah, aku kesana sekarang, tungguin.”

Yora segera memekik girang, “Yaaaay! I heart you, sist!”

____

“Baiklah, selesai. Overall dari hasil pemeriksaan, saranku masih sama, Yora.” Dokter wanita yang memeriksa Yora ini—dr. Oh seingatku namanya—berkata dengan wajah serius pada adikku yang terbaring di ranjang setelah di-USG tadi. Tapi aneh, Yora buru-buru membalas dengan gelengan kecil dan isyarat wajah yang aku tak mengerti pada dokter itu. Sang dokter seperti langsung tersadar dan melihatku sekilas sebelum akhirnya berkata  dengan mood ceria yang luar biasa berbeda dari yang tadi. “Oh, bayinya sehat. Sehat, kok. Masih cewek, belum berubah hahaha. Kalian lihat tadi, kan? Sudah lengkap organnya karena sudah jalan 5 bulan.”

“Yakin cuma cewek, Dok? Saya curiga kembar cewek-cowok tuh, habis kepribadian Yora sekarang jadi ganda gitu, kadang maniiiiis kayak gulali, tapi sebentar langsung nyeremin.” Aku buru-buru meledeknya yang segera disambut juluran lidah adikku yang sudah bangkit dari ranjang periksa. dr. Oh tertawa seraya berjalan ke mejanya sendiri. Yora menarikku mengikutinya.

Tapi dr. Oh malah terlihat bingung Yora sekarang duduk di kursi yang ada di depan mejanya itu, “Lho, kenapa masih disini? Balik kerja sana.” Candanya kasual. Sepertinya hubungan Yora dengan dokter kandungan yang sama-sama bekerja di RS Universitas Korea ini amat baik.

Yora tertawa, “Sekarang kakak saya yang mau periksa, Dok. Kesuburan, ya.”

“HEEEEEHHHHH????” aku buru-buru berseru kaget. Aku sudah curiga endingnya bakal seperti ini. Yora hanya cengar-cengir lebar menatapku, bangga berhasil menjebak kakaknya sendiri yang selalu menolak periksa ke dokter begini. Sementara aku terus geleng-geleng kepala menolak keras. Tidak, rahasiaku bisa ketahuan!!

Benar saja…

“Eonni…” kini Yora hanya bisa menutupi mulutnya yang menganga tak percaya melihat sendiri layar USG yang niatnya untuk mengecek kondisi kesehatan rahimku itu. Karena pada kenyataannya… rahim pun bahkan tak ada disana. Ya, aku tak (lagi) memiliki rahim. Inilah kenapa aku tak akan bisa punya anak. Rahasia yang selalu kusembunyikan, bahkan dari suamiku sendiri.

dr. Oh bahkan tak berani berkata-kata melihat begitu intensnya suasana antara aku dan Yora saat ini. Maka aku segera membetulkan lagi posisi kemejaku yang tadi diangkat untuk USG dan segera turun dari ranjang periksa. Aku tersenyum padanya dan tak lupa membungkuk dalam, “Terima kasih, Dok. Saya mohon diri.”

“Eonni, eonni!” Yora dengan perutnya yang sudah buncit susah payah mengejarku yang sedang berjalan menyusuri ruang tunggu RS menuju tempat parkir sambil tentu, sekuat tenaga menahan airmata dan terus tersenyum. Malah adikku itu yang begitu aku menoleh ternyata sudah sukses ‘banjir’.

“Hei, kamu—“

“Kenapa eonni nggak pernah bilang?? Kenapa? Kenapa bisa begitu? Karena apa??” Bruk. Ia segera menarik dan memelukku erat sambil terus menangis. Mataku masih membelalak karena tak mengantisipasi reaksinya tadi, tapi perlahan aku tersenyum tipis dalam pelukannya. Dia pasti begitu shock… akupun begitu saat baru mengetahuinya dulu. Apalagi saat itu aku masih begitu muda, hanya seorang mahasiswi yang tak pernah menyangka semuanya akan menjadi seperti ini…

“A… borsi? Eonni—Oh, ya Tuhan…” satu per satu tetes airmata Yora kembali jatuh begitu aku menceritakan sebab-musabab semuanya. Hal yang selama ini selalu kusimpan untuk diriku sendiri. Ia kembali memelukku di dalam mobil yang masih bertahan di tempat parkir ini.

Aku melepas pelukannya ringan dan tersenyum pahit, “Yup. Rahimku harus diangkat akibat percobaan aborsi ilegal yang kulakukan. Saat itu aku masih 19… 20 tahun? Jelas aku panik begitu tahu aku hamil. Aku dan oppa masih kuliah, aku langsung tahu kami nggak akan bisa menanggung anak ini. Belum lagi ketakutanku akan reaksi appa kalau ia tahu… Selama ini aku selalu dianggap anak rebel, pemberontak yang berbeda langit-bumi denganmu, aku yakin appa pasti akan makin kecewa padaku.”

“Eonni…” Yora memandangku sedih seraya menggeleng. Bagaimanapun orang-orang melihat kami sebagai dua pribadi kakak-adik yang sungguh bertolak belakang, tapi kenyataannya kami sangat saling menyayangi seperti ini… Ia tak pernah suka aku mengungkit-ungkit pandangan orang itu.

Aku tersenyum lagi, “Singkat cerita, saking paniknya aku pun memilih cara yang salah. Aborsi ilegal itu nggak hanya meluruhkan janinku, tapi juga rahimku… Aku pingsan saat prosesi, dan begitu terbangun sudah berada di RS dengan rahimku yang dengan terpaksa juga telah diangkat seluruhnya karena sudah terlanjur rusak. Ternyata pengaborsi ilegal itu yang membawaku, ia panik karena tahu telah melakukan kesalahan, dan langsung kabur setelahnya… Aku seketika menangis histeris penuh penyesalan, tapi semua sudah terlambat.”

Yora betul-betul terlihat tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia hanya terus menggeleng dengan wajah super-shock. Tak tahan melihat pandang kasihan darinya itu, aku akhirnya mencoba bercanda biarpun dengan suara sengau luar biasa, “Aku tahu pasti kamu berpikir: tuh kan, bukannya aku ‘kuno’, tapi seks pranikah itu memang nggak benar… Hahaha itulah kenapa setelah kejadian ini, aku selalu merasa iri tiap kali melihatmu dan Siwon. Kalian luar biasa.” Aku yakin airmata kini sudah menitik di sudut mataku. “Tapi sudahlah, itu sudah lama sekali. Nah karena kamu sekarang sudah tahu semuanya, jadi jangan pernah ikut-ikutan oppa-oppamu meledekku lagi, ya.”

***
Bulan-bulan terasa begitu cepat ketika kita sangat sibuk. Event Organizer milik Ryeoru dan Teuki hectic setengah mati seperti biasa di akhir tahun karena banyak permintaan acara dari mulai natal sampai menyambut tahun baru nanti, dan ditambah juga dengan fokus mereka yang terbagi untuk proyek P.A.R.K Hotel. Mereka berdua begitu sibuk sampai-sampai kegalauan masalah baby juga tersingkirkan, Ryeoru bahkan sudah lupa betapa desperate-nya ia saat menumpahkan semua isi hati tentang rahasianya pada Yora nyaris 2 bulan lalu. Ia jarang bertemu dengannya lagi, yah, karena kesibukan itu. Sekarang memang gantian kebanyakan Ryeoru yang terjun langsung ke lapangan, memulai interior dan eksterior desain untuk hotel yang nyaris jadi. Cepat, ya? Itulah the power of sponsors and investors.

“Iya appa, iya, iya. Kurang lebih nggak sampai 3 bulan lagi hotel bakal launching, appa sama eomma datang kan? Kalau nggak aku nggak akan balikin pinjaman uang dari appa, lho. Hahaha,” ini Teuki, yang saking kesepian, tak biasa mengurus kantor sendiri sedangkan ia tahu sang istri tak bisa diganggu, akhirnya malah bela-belain menelepon orangtuanya yang memang sudah lama tinggal di Kanada. Mencari teman ngobrol.

“Ryeoru lagi gantian ngurus hotel, sekarang sudah masuk tahap interior desain. Iya, dia kan lulusan seni, bidang dia banget lah menghias-hias gitu.” Teuki kembali bicara lewat telepon kantornya. Ini nih ternyata kenapa akhir-akhir ini Ryeoru selalu menemukan biaya telepon membengkak di laporan keuangan perusahaan. -.-

“Tuh kan, kamu sih selalu bikin dia sibuk. Pantas kalian nggak bisa-bisa punya anak.”

DEG! Tiba-tiba Teuki yang barusan masih ramai ala dia yang biasanya langsung terdiam. Tentang anak lagi… “Ah, aku ada telepon dari kantor arsitek. Sudah dulu ya appa, kapan-kapan kutelepon lagi.”

“Jungsoo, kamu itu selalu menghindar–“

TIT. Telepon sukses diputus sepihak oleh Teuki. Hiihhh, iya iya, aku akan bikin anak dengan sebaik mungkin, deh! pikir Teuki dalam hati. Tapi iya juga sih, sepertinya sekarang memang sudah saatnya mereka memang ‘program’ betul-betul, ke dokter dan sebagainya. Selama ini Ryeoru memang selalu menolak, tapi kali ini ia akan memaksa!

“Kalau begitu… Dokter… Dokter… Kayaknya dulu klien untuk Wedding Organizer ada yang dokter di klinik in vitro*…” Teuki bergumam sendiri sambil mengobrak-abrik laci meja kantornya, sebelum akhirnya teringat kalau arsip Wedding Organizer dikumpulkan di ruangan Ryeoru. Bergegas ia pun ke kantor yang pemiliknya sedang tak ada itu. “Dokter… Dokter… Aduh, namanya siapa sih? Dokter–” Teuki masih mencari di arsip-arsip yang ada di file holder meja Ryeoru, sampai ketika matanya terpaku pada selembar foto USG yang tiba-tiba tersembul dari dalam amplop yang juga berada di atas meja istrinya itu. Foto USG? Ny. Park Ryeoru… RS Universitas Korea? Itu bukannya RS-nya Yora?

“Aaah! Jangan-jangan Ryeoru sudah inisiatif sendiri buat periksa kandungan!” Ia segera menarik kesimpulan dengan riang-gembira. Wah, syukurlah… berarti sekarang go-go-Yora aja, tanya hasil ini berarti kondisi rahimnya bagus atau nggak! Go-go-go!

“Ya ampun… Agassi, kenapa mimisan lagi?”

Teuki yang baru sampai di rumah utama keluarga dr. Park langsung mempercepat langkah kakinya masuk begitu mendengar seruan itu. Dengar-dengar Yora memang sedang sakit makanya ia juga datangnya ke rumah begini, tapi mimisan? Lagi?

“Yora, kamu mimisan??” tanya Teuki setelah melempar smartphone-nya begitu saja ke sofa. Yora yang masih sibuk menengadah dengan tisu di hidungnya itu melirik dan malah tertawa.

“Eh, oppa! Hehehe iya… Mimisan doang… nggak apa-apa kok.” Jawabnya riang. Sementara itu Teuki malah sibuk melihati gelengan dari pengurus rumah tangga keluarga itu, seperti isyarat kalau itu bukanlah sekadar ‘mimisan doang’ karena sudah terjadi berkali-kali. Tapi Yora buru-buru mencubit si bibi, “Aaah, orang rumah lebay, oppa… By the way, ada apa kemari? Padahal akhir-akhir ini sama eonni suoombongnyaa~ minta ampun. Oh ya, nggak apa-apa ya aku sambil begini, takutnya ngucur lagi berabe.” Candanya, memaksudkan pada kondisinya yang masih menengadah menahan tisu itu.

Teuki tertawa seraya mengacak rambut si adik ipar, “Dasar! Oh iya, ini nih, oppa mau minta tolong kamu lihatin ini.” Katanya sambil mengeluarkan si foto USG dari dalam saku kemeja. “Ini bagus nggak kondisi rahimnya? Ini punya—“

 

 

Yora mengernyit sebentar sebelum akhirnya tertawa, “Oppa mau ngetes aku, ya? Mana rahimnya? Itu mah kalau bukan foto USG cowok pasti anak-anak karena organ reproduksinya belum berkembang. Eh, wanita yang rahimnya sudah diangkat juga bisa, sih—oh…” tiba-tiba Yora berhenti dan segera menurunkan kepalanya, untung si mimisan terlihat sudah berhenti. “…itu punya eonni… oppa? Darimana oppa dapat itu??”

Teuki masih betul-betul belum bisa menangkap apa yang terjadi, “Maksud kamu apa? Iya ini punya Ryeoru, sepertinya dikirim dari RS kamu makanya aku mau tanya… Tunggu. Jadi, Ryeoru…”

Yora cuma bisa menggigit bibir. Dan di saat itu darah mulai mengalir lagi dari hidungnya…

_____
“Na wasseo… (Aku pulang…)” seruku seperti biasa setiap sampai di rumah. Wah, gelap… Harusnya akhir-akhir ini kan aku yang lebih sibuk, jadi tetap aku nih yang pulang lebih dulu? Aku tertawa kecil diiringi gelengan kepala memikirkan itu, seraya kini mendekati dinding untuk menekan saklar lampu ruang tamu. Tak apalah, siapa suruh nikah sama orang yang pergaulannya sana-sini, nggak bisa diam macam seorang Park Jungsoo?

CTEK!

“Omo!” aku segera berteriak refleks begitu lampu sukses menyala. Habis, lihatlah, ternyata Teuki oppa sudah duduk di sofa sana, diam saja begitu! Aku melangkah mendekatinya, “Yeobo… ngagetin, tahu. Kamu sudah pulang kok nggak dinyalain lampunya?”

“Kenapa kamu nggak pernah bilang??”

“Hah?” Aku sukses bingung dengan nadanya yang tiba-tiba tinggi itu. Bilang apa?

“Ini!” Ia melempar sebuah foto ukuran kecil seperti polaroid ke atas meja, yang setelah kuperhatikan betul ternyata adalah foto USG… milikku. Dia menemukannya?

“Yeobo–”

“Kenapa kamu nggak pernah bilang padaku! Kenapa saat itu kamu bahkan nggak minta pendapatku?? Kita melakukannya berdua, aku yang memintamu, tapi kenapa bahkan kamu nggak pernah memberitahuku kalau terjadi apa-apa setelah itu?? RYEORU JAWAB AKU!!”

Aku tersentak mendengar bentakan pertamanya padaku setelah sekian lama kami bersama ini. Dia tahu semuanya…? Yora?? “A-Aku… berpikir aku pasti bisa mengatasinya sendiri, kita masih kuliah dan–”

“Itu, itulah satu-satunya hal yang kubenci darimu.” Teuki oppa terlihat mendecak. Ia menggelengkan kepalanya dengan wajah kecewa. “Kamu selalu merasa bisa melakukan semuanya sendiri! Kamu begitu mandiri, bahkan terkadang aku merasa kamu bahkan bisa hidup dengan sangat baik walaupun tanpa aku! Tapi jujur, aku kecewa, Ryeoru. Dan lebih kecewa lagi karena setelah semuanya nggak berjalan seperti yang kamu pikirkan pun, kamu tetap menyembunyikannya dari aku!!!”

“Menurutmu kenapa aku menyembunyikannya??” Aku tiba-tiba berteriak histeris, betul-betul tak kuat lagi menahan semuanya. Bahuku bergetar karena emosi yang meluap-luap; ya tangis, marah pada diri sendiri, sakit hati… “Aku tahu aku telah salah, dan itu bahkan mengakibatkan ‘kecacatan’ bagi diriku. Aku makin takut… Lebih takut dari saat aku tahu aku hamil diluar nikah. Aku takut kamu akan meninggalkanku! Aku begitu takut kamu akan meninggalkanku sampai-sampai aku nggak tahu sampai kapan aku harus terus berbohong…”

Tap. Tap.

Segera langkah kaki sepatu pantofel suamiku terdengar mendekat dan tak berapa lama sudah kutemukan diriku dalam rengkuhannya. Ia memelukku begitu erat, mengelus rambut hitam tebalku yang dipotong sedang dengan tubuhnya yang kurasakan juga gemetar. Cengeng, dasar Donghae kedua. Aku tahu ia pasti menangis. Tapi tak bisa kupungkiri saat ini pun aku juga melakukannya…

“Tumben kamu nangis pas kita berantem?” Tanyanya sambil tetap memelukku di tengah-tengah rumah serba putih milik keluarganya yang kini hanya kami tinggali berdua itu.

Aku menjawab sesenggukan, “Habis kamu nginjek aku…” Bisa kulihat ia buru-buru melihat ke arah kakinya. Aku tertawa dalam tangis, “Bodoh, ya nggaklah… Aku nangis karena aku tahu aku sudah memutuskan semua harapanmu untuk punya anak… Maafin aku… Tapi aku tetap menolak poligami, kalau kamu mau menikah lagi kita harus cerai dulu.”

“Babo!” Teuki oppa buru-buru menjitakku. Refleks aku mengangkat tangan untuk mengusapnya, sakit tahu! “Ngomong kok nggak diayak. Tadi bilang sendiri kamu takut aku ninggalin kamu, sekarang malah nyuruh cerai. Pikiran pendek bagai katak dalam tempurung-mu itu tuh yang harus diubah,” ia menusuk-nusuk jidatku dengan telunjuknya, biarpun akhirnya tersenyum. “…nanti kita minta kontak adiknya Siwon aja sama Yora. Aku dengar dia punya yayasan sosial kan? Untuk punya anak nggak harus selalu dari darah daging kita sendiri…”

Aku terperangah kaget, “Kamu… nggak apa-apa? Karena kamu sebetulnya tetap bisa punya anak kandung–”

Ia menggeleng, “Kita akan mengangkat seorang bayi yang ganteng kayak aku.” Katanya sambil sok membetulkan dasinya.

Aku betul-betul susah payah menahan tawa kali ini, “Ganteng kayak siapa…?”

“YA!!”

***
Aku betul-betul tak menyangka semua akan berakhir happy ending seperti ini. Dan begitu cepat. Memang sih selama ini pertengkaranku dan oppa memang selalu singkat, tak pernah berlangsung lama. Tapi maksudku, itu kan karena biasanya pertengkaran kami pasti cuma berkisar hal remeh-temeh dari mulai pakai baju apa ke kondangan atau mau makan siang bareng dimana. Maka itu tentang kasus ini, aku selalu berpikir aku pasti mati jika rahasiaku itu sampai ketahuan, namun nyatanya, semua orang kini malah berebut ingin bermanis-manis untuk menghiburku karena itu. Eomma dan appa memelukku, dan pria-pria kembar di rumah (minus Sungmin yang memang tinggal di dorm agensinya) sekejap menutup mulut ember mereka dan langsung merasa tak enak hati karena selama ini tak berhenti meledekku. Sekarang aku bisa tertawa terbahak-bahak karena mereka jadi super nurut dan mau kusuruh apa saja demi menebus rasa bersalah! Aku dan oppa sendiri, kami berencana baru mau mengurus tentang adopsi setelah pengerjaan hotel selesai, yang tinggal sebulan lagi. Oh, mertuaku juga fine-fine saja dengan mengangkat anak ini. Senang kan?

“Jreng~ inilah P.A.R.K Hotel. Foto ini, aku pertama kali menunjukkannya pada kalian lho, perdana! Selama ini pembangunan hotelku selalu ditutup seng tinggi supaya surprise kan?” Teuki oppa kembali berkoar-koar riang-gembira sepulang kami kerja pada ipar-iparnya yang sedang main kartu bareng di ruang keluarga rumah orangtuaku ini. Ia menjembreng (?) sebuah foto ukuran poster bisnis baru kami, hotel yang dinamakan P.A.R.K Hotel itu. Aku sih geleng-geleng kepala saja di sebelahnya. Mau malu juga memang sudah bawaan dari oroknya si suamiku ini sangat riya’ (?) alias tukang pamer. -.-

Tiga dewasa bermental kanak-kanak yang sedang main kartu di nyaris tengah malam Sabtu ini (Donghae, Eunhyuk, dan Saera–pacar Eunhyuk) hanya menoleh sebentar dengan respon “Oh” sebelum kembali ke kesibukan masing-masing.

Jelas suamiku (yang nggak jauh beda mentalnya dengan mereka) merasa dikacangin, “Ya~ jangan gitu dong. Kalau Yora, Yora? Yora sih pasti dengerin cerita oppa kan?” Hopeless, ia kini beralih pada satu-satunya adik yang sedarah denganku, Yora yang tak ikut bermain dan hanya bergelung dengan selimut di sofa.

Adikku–yang sepertinya tadi sudah nyaris tidur–mengangkat kepalanya dengan mata 5 watt, “Ya, oppa?”

Aku sungguh ingin ngakak. Kasihan sekali suamiku ini, pundung kan dia sekarang. Biarpun akhirnya yang menjadi concern-ku adalah kondisi ibu hamil satu itu. Yora terlihat pucat sekali, bibirnya kering, oh ya dari yang kudengar dari eomma, di bulan-bulan mendekati persalinannya ini ia juga jadi sering sakit dan absen kerja, sampai akhirnya RS memberinya cuti bersalin dini karena itu. Sudah lama aku tak melihatnya karena sibuk, tapi kondisinya malah tidak menyenangkan… “Yora, kamu sakit lagi ya? Pucat gitu… Tidur di kamar lah, ngapain lihatin anak-anak monyet main kartu…” Kataku seraya duduk di sofa yang sama dan mengelus rambut panjangnya yang bergelombang halus. Tak kupedulikan protes kompak si ‘anak-anak monyet’:

“Noona!”

“Eonni aku juga…?? Tuh kan gara-gara aku pacaran sama kamu, sih…”

“Memang kenapa kalau kamu pacaran sama aku, hah??”

“Tuh kan, berisik gitu…” Aku kembali mengusap pipi hangat Yora, stres dengan keributan dua sejoli di belakang. “Naik sana, minta gendong oppamu kalau malas jalan. Yeobo, gendong nih.”

Tapi Yora malah menahan tanganku di pipinya seraya tertawa kecil, “Nggak apa-apa kok. Lagipula nggak lihat apa perutku sudah segede bagong begini, oppa mah…” Ia melirik Teuki oppa penuh maksud, yang langsung dibalas pundungan suamiku lagi yang seperti berkata: iya-deh-aku-memang-masih-jauh-dari-Siwon. Yora sukses cekikikan melihatnya, “Hehe, bercanda. Maksudku kalau perutnya sudah besar begini, nggak akan bisa gendong belakang lagi, nanti ketekan. Makanya sekarang tidurku juga sudah pindah ke kamar eomma biar nggak usah capek naik tangga. Oppa sama eonni lama nggak kesini sih, nggak tahu apa-apa kan?”

Aku cuma bisa nyengir kuda. “Tapi kamu benar nggak apa-apa? Pucat banget lho…”

“Hehe, cuma kurang vitamin K kok. ‘Kasih sayang’.” Ia tetap menjawab dengan senyum biarpun terlihat lemah sekali.

“Sama vitamin C: ‘Cium mesra’~” timpal Donghae yang langsung disambut tos Eunhyuk si partner-in-crime. Kami semua tertawa-tawa.

Tapi aku akhirnya mengangguk, “Iya, ya. Siwon belum ambil cuti juga? Dia bakal nemenin kamu pas bersalin kan? Due date kamu kurang dari sebulan lagi padahal…”

“Dia datang pas aku bersalin juga aku sudah syukur banget, nggak usah disengajain cuti… Waktu Donghae oppa tunangan sudah cuti, masa sekarang cuti lagi. Kasihan nanti dia dibilang pakai ‘kekuatan’ aboji biar bisa cuti terus–”

“Memang iya kok. Baru di saat-saat begini aku bersyukur terlahir sebagai pewaris Choi Corp. Kekuatan aboji luar biasa.”

Seketika kami semua menoleh begitu mendengar suara berat dan lugas seorang pria yang datang dari balik tembok ruang keluarga ini. Benar saja, tak berapa lama sesosok tegap berseragam angkatan laut sudah muncul di hadapan kami. “Yo! Rasanya rumah yang tengah malam masih ramai ya cuma rumah ini ya.”

“SIWON-AH!”

“Jagi-ya…”

“Ih, nangis. Halo, Sayang.” Siwon, pria tegap yang kubilang tadi, cepat menghampiri Yora dan mengecup matanya yang tadi sempat menitikkan airmata. Yora menepuk dada Siwon, malu sekaligus terharu. Pria itu tertawa kecil seraya mengacak ringan rambut adikku.

“Kamu kok nggak kasih tahu?”

“Kamu sendiri ngapain jam segini belum tidur? Orang niatnya aku mau datang-datang terus tidur di samping kamu, biar pas bangun kaget. Hehe.”

Airmata terlihat menitik lagi di sudut mata Yora, “Aku seneng lho…”

Yak, dan seterusnya sudah bisa ditebak. Siwon ber-ooohhh sambil memeluk istrinya penuh sayang, aura kangen langsung menyeruak deh di seantero ruang keluarga itu. Eunhyuk buru-buru menutup mata Saera dan menarik tangannya untuk bangkit.

“Pulang, pulang. Sudah malam.”

“Aku juga tidur aaahh…” Ini Donghae, sambil sok menguap.

“Kita juga, Yeobo. Tiba-tiba disini panas.”

Memang tak akan ada yang kuat dengan ‘energi cinta’ panas membara semanis permen gulali merah-hijau berbentuk burung (?) dari Yora dan Siwon.

***

Ryeoru, Jungsoo, Yora sudah masuk kamar bersalin. Kalian kapan datang?

Aku membaca SMS dari appa sambil terus melihat jam. Iya kami juga mau secepatnya datang, appa… Tapi ini lho meetingnya nggak selesai-selesai T.T

“Kenapa sih? Grasa-grusu begitu.” Teuki oppa buru-buru berbisik begitu melihatku yang terlihat gelisah setengah mati bak orang yang sedang nahan pipis (?).

“Yora, lho… Aku ke RS duluan boleh nggak sih? Eochapi (gimanapun) aku juga nggak ngaruh banget di meeting ini… Tender urusan kamu, kan?”

Ia memberi senyum artifisial pada klien kami yang sedang memberi presentasi sebelum menyorongkan tablet-nya padaku tanpa melihat:

Sabar, kamu masih dibutuhkan sebagai “face” perusahaan kita. Jangan lupa senyumnya, Face 🙂

Bleh. (¬_¬)

“Aaah, tuh kan gara-gara kamu nggak bolehin aku duluan… Sudah satu jam nih, jangan-jangan keponakanku sudah dievakuasi ke ruang bayi. Ppalli, ppalli!” Aku mengomel-ngomel sambil setengah berlari di koridor RS Universitas Korea, sebelum akhirnya memutuskan menarik dasi Teuki oppa yang kunilai super-lamban dan masih sempat-sempatnya mengurusi rambut pirang berponi lempar-nya itu. Grrrrr…

Dan disanalah, di depan ruang bersalin di lantai 2 kulihat keluargaku–appa, eomma, dan Siwon–berkumpul. Tapi… aneh, kenapa suasana terlihat suram? Siwon dan appa terlihat berbicara serius dengan dr. Oh yang menangani Yora sejak awal. Dan eomma… airmata?

Apa ada yang terjadi dengan Yora? Keponakanku?

Kupercepat langkah kaki ber-stilleto ini kesana, “Eomma, museun–“

“…sejak awal Yora sudah tahu semuanya, dr. Park. Sudah sejak trimester pertamanya ia tahu, kalau hanya ada satu nyawa yang bisa diselamatkan dalam persalinan ini…” Tak sengaja aku mencuri dengar potongan penjelasan dr. Oh pada appa dan Siwon. Tapi… tunggu. ‘Satu nyawa’?

BRUKK!!

Teuki oppa segera berlari menyanggah badan ibuku sebelum beliau betul-betul terjatuh. Segala pemikiranku lagi-lagi dipatahkan, secepatnya aku ikut membantu memapah eomma yang semakin deras menangis untuk duduk. Aku dan Teuki oppa sama sekali masih tak mengerti, biarpun sepertinya tak lama lagi semua akan menjadi jelas…

“…tubuhnya terlalu fragile, sedangkan bayinya tumbuh begitu sehat dan aktif. Simpelnya, tubuh Yora ‘kalah’ dengan bayinya sendiri. Saya sudah memperingatkan ini sejak pertumbuhan pesat si bayi terdeteksi di sekitar minggu ke-12, menggugurkannya adalah cara terbaik… Ia masih tetap bisa hamil, mungkin bayi yang lebih ‘kalem’ dan sesuai dengan kondisinya. Tapi seperti yang kita semua bisa perkirakan, Yora bersikeras menolak.”

“Siwon-ah…” Lemah ibuku bersuara memanggil adik iparku yang masih berdiri terpaku dengan wajah shock tak terkira. Akupun rasanya juga makin bisa menerka apa yang terjadi… “Siwon-ah…”

“…karena dia tahu masih bisa diusahakan terapi kan, dr. Oh?? Yora memang rapuh tapi dia juga dokter!!” Tak seperti biasanya, appa seperti kehilangan kendali dengan terus mendebat dr. Oh. “Dia juga dokter, dia sama seperti kita. Dia tahu apa yang harus dilakukan!!”

“Yeobo cukup!” Tiba-tiba ibuku menjerit dengan menutup kedua telinganya. Sekejap kami semua menoleh. “Dokter benar… Yora memang sudah tahu semuanya…” Sambungnya terisak. Dengan tangan gemetar ia kini mencoba merogoh tas tangannya, dan tak lama mengeluarkan sepucuk amplop tak beralamat. “Siwon-ah, Yora menitipkan ini untukmu…”

Dengan langkah perlahan-lahan Siwon mendekati tempatku dan eomma berada. Tangannya terlihat gemetar saat terulur untuk menerima amplop itu dan membukanya tepat di hadapan kami.

Betul-betul sesuatu yang tak pernah kusaksikan sebelumnya, karena tanpa aba-aba tiba-tiba airmata menetes dari sudut mata seorang Choi Siwon. Satu… dua… hingga akhirnya tak terhitung lagi titik air menyusuri pipinya yang tegas. Gemetar di tangannya yang memegang ujung-ujung surat itu makin hebat, seiring BRUKK!! tubuhnya yang kemudian jatuh bertumpu pada lutut. “Jadi… Yora betul-betul serius?” Racaunya dengan suara parau penuh kesedihan yang sungguh tak bisa disembunyikannya. “Dan baby…”

SAKK! Tanpa kesabaran aku cepat-cepat merebut surat yang masih digenggam Siwon. Teuki oppa segera menyusul dengan ikut membaca dari balik punggungku. Dan… OH!! Sungguh, aku hanya bisa menutup mulutku yang refleks ternganga karena shock berat. Apa-apaan… ini?? Yora–

“Terapi… ya, tentu kami juga Yora betul-betul telah mengusahakan segalanya…” Dengan wajah bersimpati menatap kami semua dr. Oh kembali bersuara seperti menjawab tanya appa. “Tapi tubuhnya seperti tetap tak mampu dengan tegas mempertahankan jatah nutrisi untuk dirinya sendiri. Makin lama tubuh Yora pun makin terdeteriorasi, ia tahu tak akan bisa melewati persalinan bahkan caesar sekalipun, tapi ia tetap begitu ingin melahirkan bayinya. Singkat kata, seperti yang sudah saya bilang, sejak awal Yora tahu hanya ada satu nyawa yang bisa selamat disini, dan yang ia pilih… adalah bayinya…” dr. Oh terlihat berkata pelan seraya menghapus sesuatu di ujung matanya dengan jari. Mengatur napas, senior adikku di tempat kerjanya ini akhirnya kembali melanjutkan perkataannya dengan mantap. “Ya, Yora… telah pergi. Ia menghembuskan napas terakhirnya setelah melakukan perjuangan yang begitu mulia.”

“Park Jungsoo dan Park Ryeoru, aku tahu kalian pasti juga akan membaca ini kan? Mulai saat ini anggaplah baby adalah putri kandung kalian, putri yang eonni lahirkan sendiri…”

END

wkwkwkw~ kenapa missing link? karena ini emang missing link dari FINALE yang kemaren di-post :p

yah, beginilah…. masalah utamanya malah gampang banget ke-resolve ya? bukan saya yang emang nulis alurnya kecepetan, tapi emg teuki-ryeoru kalo berantem mah selalu singkat-padat-ga jelas wkwkw XD

tentang foto USG: kalo diperhatiin itu ada tulisan RS Bunda Jakarta. EPIC FAIL XD trus ini aku punya foto USG yg rahimnya keliatan lohh (bukan punya ibu hamil)~

(foto2 belong to their rightful owner)

baidewei eniwei baswei, foto yg ceritanya foto ryeoru itu bukan bnrn foto tanpa rahim sih, cuma ga keliatan aja, ga sejelas foto diatas walhasil saya manfaatin :p

dan PARK Hotel benar2 ada lhoooo di jakarta^^

PS: maaf kl akhir2 ini saya suka ga bales komen, sumpah suer waktu tersita demi kuliah tercinta T.T tp tenang aja, pasti selalu usahain bales ko~

makasi buat semua yg uda baca, semoga suka^^

Advertisements
 
11 Comments

Posted by on March 12, 2012 in Super Junior, [THE SERIES]

 

11 responses to “[THE SERIES] WISH

  1. iwang~

    March 13, 2012 at 3:49 am

    aku nangis ini~

     
    • lolita309

      March 13, 2012 at 9:00 am

      yaaa jangan nangis duooong~ cupcup, nanti ff hagi cepet2 aku selesain deh *janjiin org lagi* #PLAK

      🙂

      hehe, makasi yaa uda baca iwang-ssi~ semoga suka^^

       
  2. gaemchii_

    March 14, 2012 at 1:36 am

    jadi ini cerita napa Ryeoru-Teuk ga bisa punya anak???

    ga kbayang deh gimana rasanya sbg cewe tapi ga punya rahim… aku aja ama temenku yang amenorea sekunder aja hebohnya udah setengah mati takut ntar ga bisa punya anak~

    itu pas lagi sedih2an melow2an sempat2nya aja ryeoru bcandaan ngomong kakinya keinjek -___-

    tapi ga papa, ga jadi adopsi anak seganteng teuk, malah dapat anak SIwon ma Yora yang pastinya cantik :))

    mm nyah, aku masih ‘miss’ nih ama Yora yang ‘kalah’ ama bayinya sndiri, jadi critanya Yora itu punya pnyakit lain apa ga sih?? *abisakubelummasukblokreproduksi*

    ditnggu missing link seri lainnya nyah~~

    P.S : aku ikutan naksir Siwon ga papa kan? abis doi ganteng banget di Skip Beat!~ :p

     
    • lolita309

      March 16, 2012 at 10:04 am

      iyaaa~ ah pokonya pesan moralnya: berani berbuat berani bertanggungjawab lah ya~ kkk. 😀

      uuungg~ u-know what? sebenernya sih aku dapet idenya dari novel Breaking Down hehe, disitu kan ceritanya pas hamil Renesmee, si Bella udah kayak org yang mau mati saking bayinya ‘strong’ banget… kayak dihisap gitu semua nutrisi, kekuatannya… nah dari awal kan yora emg fragile, tipe putri2 yang gampang pingsan (?), jadi sebenernya sih ga ada penyakit khusus 🙂

      iyaa~ gapapa kok ambiiiil~ tp emg kan doi gantengv bgt disitu? lagi kurus^^

      makasi uda baca sayangs 😀

       
  3. upikipik

    March 21, 2012 at 3:52 pm

    eonni~
    udah baca sejak kemarin tapi komen g masuk, akhirnya sekarang lupa #plethak!

    hehehe, intinya: baguuus 😀
    masih ngerasa bahwa yora itu orangnya terlalu baik
    kasihan ryeoyu, apalagi eeteuk

     
  4. hwangminmi

    March 24, 2012 at 6:06 pm

    He… (╥_╥)
    Begitu ternyata~ ya ampun (╥_╥)

    Yah, segitu saja nangis”nya #PLAK #PLAK
    Lumayan menghibur (?), lagi UAS sih -___- #curcol #udahstressakut

    Yak, yg pasti endingnya ‘bahasa langit’ masih ditunggu ya eonni 😛 #PLAK #readertidaktauterimakasih #apasih

     
  5. cybersunyoungpark

    April 5, 2012 at 4:13 pm

    Kakaaaaak~ saya kembali lagi. Sapa yang nanya coba. Maaf komennya telat, beberapa minggu (pake hari nggak cukup) ya, soalnya lagi sibuk tryout nih, huhuhu ToT

    HUWA KENAPA YORA HARUS MATI KENAPA KENAPA KENAPA BAYINYA PADAHAL KATANYA KEMBAR. Mungkin kembar yang dimaksud dalam artian paling sebenarnya adalah Yora sama babynya, ya. Ikhlas deh aruuum *nangis.

    Padahal baru ketemu sama Siwon. Ini kenapa tragis.

    Ditunggu karya yang lain ya kakak 😀

     
  6. asihkpop

    April 23, 2012 at 8:22 am

    onieeee ,,, bogoshippo,, akhirnya sekianlama terbelengu dalam dunia persiapan Ujian akhir SMA bisa lanjut kembali membaca ff onie,,
    nyentuh banget,, serasa jadi ryeoru,,si tukie suami setia..
    Pas baca finale rada nyesek klo tau yora mati 😦
    daebak deh,, karya mu…

     
  7. Pingback: SO SICK | FFindo
  8. Vie

    January 24, 2013 at 7:26 am

    Yo-Won tu msra+cntanya kyknya tulus,sygnya takdir trllu cpt mmisahkn mreka.
    The series sllu bgz..

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: