RSS

I WILL PROTECT YOU – Part 3 of 3 (END)

26 Feb

Perlahan tangis Eunseo malah pecah, seiring pecahnya juga segala trauma yang dimilikinya. Rengkuhan nyaman Henry, rasa aman yang dihasilkannya, sentuhan hangat kulitnya… Di luar dugaan, secepatnya ia malah mengalungkan lengannya di leher Henry, “Aku mohon jangan pernah tinggalin aku… Aku nggak tahu gimana jadinya aku tanpa kamu… Jangan pernah tinggalin aku…”

Henry sekejap terhenyak begitu merasakan sikap proaktif pertama yang bisa dilakukan Eunseo sejak ia mengenalnya itu. Sebuah pelukan erat… Maka itu, menahan seluruh rasa syukur dan terima kasih luar biasanya pada Tuhan agar tidak begitu meledak, Henry pun memejamkan matanya dan membalas pelukan Eunseo, mengelus rambut pendeknya penuh kasih, “Untuk yang itu kamu nggak usah khawatir, karena sejak awal aku sudah bilang akan melindungimu, kan…”

***

I WILL PROTECT YOU – Part 3 of 3 (END)

Written by: Lolita Choi (@lolita309)

Starring: DB5K’s Junsu, SJ-M’s Henry

Benar saja, sejak hari itu Eunseo resmi kembali—atau mungkin setidaknya mencoba kembali—menjadi seperti Eunseo yang dulu. Ia mau memakai pakaian-pakaian modisnya yang dulu, biarpun tetap bukan yang terlalu terbuka. Ia kini bisa berinteraksi dengan semua teman-temannya termasuk pria biarpun, yah, masih begitu risih dengan kontak fisik, tapi setidaknya ia tidak akan jadi sehisteris dulu jika tersenggol sedikit saja. Di dalam hatinya ia selalu merasa aman karena ada Henry, biarpun pria itu tak selalu di sisinya. Betul-betul tak sia-sia perjuangan Henry di lebih dari setengah tahun mereka saling mengenal itu.

“Menurutmu sekarang akhirnya mereka pacaran?” Min dan Yoochun lagi-lagi sibuk nguping perbincangan putrinya dan si ‘adik angkat’, kali ini di ruang tamu rumah sederhana mereka.

“Kenapa? Mau dihalang-halangin lagi? Awas, ya.” Min buru-buru memberi bisikan ultimatum begitu mendengar tanya sang suami. Habis, dia seperti tidak sadar saja berkat siapa akhirnya putri mereka mau kembali ‘normal’ begini…

Yoochun kontan bungkam seribu bahasa. Iya sih dia juga tahu itu, apalagi Henry juga bukannya orang asing lagi baginya. Tapi tetap saja perasaan sebagai seorang ayah dari putri yang hanya satu-satunya ini… T.T Biarpun tentu, ketika menatap lagi ekspresi kebahagiaan Eunseo saat bercanda dengan Henry atau saat menikmati permainan biola pemuda itu, hatinya sungguh kembali menjadi tenang. Putrinya yang ceria kini telah pulang, mentari telah memutuskan menyinari lagi rumah ini dengan kebahagiaan…

“Aku masuk ya, sekali lagi selamat untuk kelulusannya, Sarjana Seni.” Eunseo tersenyum sambil berancang-ancang membuka pintu KIA Henry untuk turun sepulang pesta wisuda yang diadakan teman-teman pacarnya malam itu. Si pemuda mengangguk kasual, juga penuh senyum sambil mengacungkan jempol. Ia sedang mencondongkan badannya ke jok sebelah untuk membantu Eunseo menutup pintunya ketika ia melihat dompet panjang bermotif garis hitam-putih milik Eunseo tertinggal di jok itu. Henry segera meraihnya, “Eunseo-ya, jigab (dompet)!” Panggilnya seraya melambai-lambaikan benda itu. Eunseo yang sudah setengah jalan meniti batu-batu hias menuju rumahnya segera menepuk kening dan berbalik cepat sambil tertawa malu karena sudah begitu ceroboh.

Tapi sambil menunggu Eunseo sampai kembali ke mobilnya, Henry yang kepo memutuskan membuka dompet itu, penasaran kira-kira apa sih yang disimpan seorang wanita muda seperti Park Eunseo dalam dompetnya?

“Ini—” biarpun penasarannya ternyata hanya berbalas rasa sakit begitu ia melihat sebuah foto yang langsung terlihat begitu dompet itu terbuka. Hasil jepretan photobox Eunseo dan seorang pria muda lengkap dengan seragam SMA mereka dan tentu saja, ekspresi bahagia yang terpotret begitu jelas dari pasangan itu disana…

“Oppa, mwol bogo—Ah! (Oppa lagi lihat ap—Ah!)” Seketika Eunseo yang baru datang menarik dompet itu dari sebelah tangan Henry seperti orang yang ketakutan karena sudah terpergok. Ia buru-buru menunduk, merasa bersalah.

Henry awalnya juga masih terpaku, tiba-tiba merasa kepalanya terlalu ruwet karena banyak hal setelah melihat foto itu. Kecewa? Shock? Atau mungkin keduanya? Henry sama sekali tak tahu. “Apa kamu percaya takdir?” Malah pertanyaan itu yang tiba-tiba terlontar dari mulutnya. Eunseo mengangkat kepalanya, kaget dengan pertanyaan itu. Tapi Henry buru-buru memutuskan tertawa, “Anya (Nggak), nggak usah kamu pikirin. Just saying, aku juga nggak tahu kenapa tiba-tiba tanya begitu. Ya sudah, masuk sana, sudah malam. Salam untuk Hyung dan Hyungsunim.”

“Tapi oppa, oppa boleh kok hukum aku dulu. Foto ini, Junsu Sun—”

“Sstt.” Henry cepat-cepat menyuruh Eunseo diam dengan menaruh telunjuk di depan bibirnya sendiri. “Tapi kalau memang kamu bersikeras mau dihukum, okelah. Sini, persiapkan keningmu, Sobat.” Kata Henry sambil menggerakkan jarinya memanggil Eunseo mendekat.

Mahasiswi itu memejamkan mata seiring keputusan menjulurkan kepalanya ke arah jendela mobil dengan sebelah tangan menyingkap poninya sendiri, bersiap menahan sakit sentilan Henry. Tapi alih-alih rasa perih ttakbam… CHU! Sebuah kecupan kecil malah mendarat di dahinya dengan lembut.

Eunseo membuka matanya kaget.

“Sudah, sana masuk. ABG.” Henry menyeringai seraya BRUUM~ langsung tancap gas di hadapan Eunseo yang masih terbengong-bengong.

Biarpun setelahnya, Eunseo langsung bertekad dalam hati: ini adalah sebuah peringatan. Setelah ini tak boleh ada lagi Kim Junsu dalam hidupnya. Hanya ada Henry. Henry Lau seorang.

***

“Oppa…! Lihat deh, ini foto kitaa, lihat lihat!” Eunseo menunjuk-nunjuk bagian dalam dompetnya, tempat bertenggernya sebuah selca mereka berdua yang baru dicucinya sepulang kampus tadi.

Henry hanya memberi senyuman datar melihat tempat foto itu diletakkan, tempat yang sama ia melihat foto Eunseo dan mantan pacarnya itu seminggu yang lalu. Jadi Eunseo memutuskan mengganti foto itu dengan foto mereka berdua? Karena Henry tahu masalahnya bukanlah terletak disitu, tapi apakah di dalam hati Eunseo, posisinya pun juga telah menggantikan pria itu…

Tapi akhirnya Henry memutuskan menghapus semua pikiran itu. Tidak, ia harus berprasangka baik. Setidaknya dengan ini Eunseo pasti tengah berusaha, dan ia harus menghargai itu… Maka perlahan Henry akhirnya memberi senyum tulusnya yang biasa, “Eo, jal bwasseo. (Iya, aku lihat kok.) Kamu bagus disitu.”

Eunseo tersenyum, “Aniya, aku malah sengaja cari foto yang oppa-nya paling ganteng. Eh, ternyata semua foto oppa ganteng…”

Henry tertawa seraya mengacak rambut Eunseo yang kini sudah sibuk mengagumi lagi foto manis yang terpajang dalam dompetnya, ketika tiba-tiba ia merasa ponselnya bergetar. Henry buru-buru merogoh saku celana kargo khas ‘nyantai’-nya di rumah (baca: dorm kampus) untuk meraih si BlackBerry hitam. Sebuah email.

“Ck, destiny really must exists. (Ternyata yang namanya takdir benar-benar ada.)”. Decaknya setelah beberapa saat membaca isi email yang baru diterimanya itu sampai habis. Ekspresinya betul-betul langsung berubah, seperti orang yang kehilangan mood secara drastis. Eunseo menatap si pacar yang lebih tua nyaris 3 tahun darinya itu dengan tatapan heran. Menyadarinya, Henry buru-buru mengubah lagi ekspresi itu dengan wajah cerianya yang biasa sambil meraih tangan kanan Eunseo, “Nggak kok. Ah cham (Ah iya), aku baru ingat. Nanti bulan Maret temenin aku ke perbatasan kamp ya, temanku minta dijemput pas discharge.”

“Perbatasan kamp? Kamp wamil maksudmu? Oppa punya teman orang Korea?”

“Yup. Memang kenapa, nggak boleh?” Tanya Henry bercanda. Eunseo buru-buru menggeleng. “Dia sempat homestay di rumah Kanada-ku waktu liburannya SMP dulu. Sudah lama banget sih makanya pas tiba-tiba aku bilang aku ada di Korea dia langsung minta ketemu gitu. Terus demi memastikan aku datang, katanya dia juga sudah bilang sama keluarganya buat nggak usah jemput, jadi betul-betul harus aku yang bawa dia pulang. Dasar bikin masalah aja.” Cowok itu menggeleng-geleng, pura-pura jengkel.

Eunseo ber-oo ria.

“Nah, okelah. Berarti selagi dia belum muncul aku harus memanfaatkan waktu dengan baik.” Bisik Henry, seperti lebih pada dirinya sendiri. “Ja, ja, selama dua bulan ini ayo kita puas-puasin main! Main sampai puas!”

Eunseo menatap Henry bingung, “Kenapa cuma selama dua bulan ini? Memangnya ada apa setelah temanmu itu pulang wamil?”

Wajah Henry langsung terlihat kaku, sebelum akhirnya ia memutuskan menjawab dengan senyum seperti biasa, “Soalnya kalau ada dia, besar kemungkinan aku bakal disabotase full dari kamu. Nah sebelum itu kejadian makanya kita ‘nabung’ rasa kangen dulu, oke??”

***

“Nggak bisa datang? Kenapa baru bilang sekarang sih? Kamu tahu nggak, aku sudah nunggu di restoran yang aku bilang itu dari 2 jam yang lalu! Lagipula ini kan sudah malam, jam 10! Apalagi yang kamu kerjain, coba??”

Bulan-bulan sudah berlalu lagi, dan malam ini tepat adalah malam ulangtahun Eunseo. Dan layaknya hubungan lain, hubungan Henry-Eunseo memang tentu tak selalu manis, terkadang kerikil kecil, salah paham, juga suka mampir menghiasi biarpun semuanya juga akhirnya berlalu. Eunseo enggan mengakuinya tapi dalam masalah bertengkar, Henry memang betul-betul mirip Junsu yang selalu memastikan berbagai masalah selesai, siapapun yang salah disana. Maka itu ketika tiba-tiba hari ini Henry bahkan bisa menaikkan nadanya dan memaki Eunseo—biarpun ia tahu ia memang salah, gadis itu merasa aneh…

“Tapi oppa, dari kemarin-kemarin kan aku sudah bilang nggak usah malam ini karena aku nggak janji acaraku sudah selesai… Lagipula ulangtahunku juga masih besok, kan? Kalau mau ucapin pas tengah malam, lewat telepon kan juga bisa…”

“Kamu ingat kan hari discharge temanku itu dimajuin jadi besok?”

“Terus…?”

“Ya jadi aku nggak akan bisa ngerayainnya berdua aja sama kamu kalau nggak sekarang!”

Eunseo sukses tersentak lagi dibentak begitu sampai-sampai ia merasa perlu menjauhkan si ponsel dari telinga. Ditambah alasannya kok sepertinya ‘dangkal’ sekali… “Oppa, geureojima… (Oppa jangan begitu, sih…) It’s not like there won’t even be next year… Kalaupun iya besok nggak bisa ngerayain berdua karena ada temanmu, kan masih ada tahun depan… Dia nggak bakal nempel sama kamu terus sampai tahun depan juga kan? Aku juga janji akan dedikasiin waktuku khusus—”

Henry cepat menyela dengan nada yang belum berkurang tingginya. “Masalahnya aku nggak tahu apa setelah dia muncul, kamu masih akan sama aku atau nggak tahun depan!!” Eunseo mengernyit lagi di ujung telepon. Maksudnya…? “Oh shit. Just… forget that. I mean, you know, kalau tahu kamu akan jadi begini, I prefer the old you. Seorang Park Eunseo yang pasif karena traumanya, sehingga dia nggak akan jadi sibuk keterlaluan seperti sekarang!”

“Oppa!” Eunseo sukses makin merasa bersalah mendengar Henry bahkan sampai mampu berkata seperti itu. Ya, ya… Rasanya akhir-akhir ini ia memang jadi begitu sibuk sampai-sampai melupakan segalanya… Dia begitu terserap dalam kehidupannya dengan teman-teman, kepanitiaan berbagai acara kampus, sampai-sampai beberapa kali ia juga harus membatalkan janjinya dengan Henry, orang yang padahal begitu berjasa baginya hingga bisa kembali menjadi Eunseo yang sekarang. Dan itu semua kembali terjadi hari ini. “Kalkke. Kalkke, oppa. Aku pergi sekarang.”

“Ojima. (Jangan datang.)” Henry merespon dingin. “Ojima. I think I’ll just go clubbing right now. Gyesok ni il-i hae. (Lanjutkan saja urusanmu.)”

TIT.

“Oppa!”

Di tengah acara fashion week kampus yang memang sedang diurusnya, Eunseo menggigit bibir, merasa tidak enak hati apalagi setelah Henry menutup teleponnya begitu saja seperti tadi. Bolak-balik ia mencoba menghubungi balik pria itu, tapi berkali-kali juga teleponnya di-reject. Duuh… Henry oppa, Henry oppa!

“Eunseo-ya, mau kemana?” Seorang teman wanitanya sesama panitia segera menggamit siku Eunseo begitu melihat gadis itu melintas dengan begitu terburu-burunya.

Eunseo menoleh, “Izinin aku pulang duluan, ya. Ada urusan penting. Maaf.” Pintanya sambil membungkuk dalam sebelum secepatnya kembali berlari. Sekarang semuanya tak penting, tak ada yang lebih penting dari meminta maaf pada orang yang begitu berarti baginya!

“Permisi, tadi ada laki-laki, rambutnya coklat, kayaknya dia sudah reserve meja disini untuk ulangtahun terus sempat nunggu agak lama gitu… sekarang ada dimana ya?” Eunseo yang dalam 15 menit sudah berhasil mencapai restoran tempat ia dan Henry seharusnya bertemu (terima kasih kepada lalu lintas di nyaris tengah malam ini yang begitu lancar-jaya) segera menginterogasi pelayan pertama yang ia temui tentang keberadaan pacarnya itu. Oh, dan tentang Eunseo yang sekarang bahkan sudah berani pergi dan bawa mobil sendirian pula, tentu juga berkat Henry, jelas (ditambah Yoochun juga sih sebagai sponsor mobilnya).

“Eh? Henry-ssi?” Tanya pelayan pria yang barusan sedang sibuk mengepel itu. Eunseo mengangguk-angguk cepat. “10 menit yang lalu dia sudah pergi… Heoksi (jangan-jangan)… Anda Eunseo-ssi?”

Eunseo mengangguk lagi cepat-cepat biarpun langsung bingung kenapa pelayan ini tahu namanya segala. Seperti bisa melihat kebingungan Eunseo, pelayan itu segera berkata sambil menunjuk counter kasir di belakangnya, tempat sebuah tart cokelat dua tingkat yang sangat cantik terletak. Cantik, karena ia dihiasi gambar berbagai macam model pakaian yang dibuat menggunakan krim cantik warna-warni, seperti betul-betul menggambarkan kecintaan Eunseo pada desain. “Itu, tadi ketika pergi Henry-ssi bilang kue itu untuk kami para karyawan saja… Di atasnya ada tulisan, ‘Happy Birthday Eunseo’, jadi saya pikir Anda pasti… Eh? Eunseo-ssi! Kuenya bagaimana? Eunseo-ssi!”

Eunseo tiba-tiba sudah berlari kembali ke mobilnya tanpa merasa perlu mendengar penjelasan lebih lanjut si pelayan. Ia sudah cukup dibuat berkaca-kaca, terharu melihat keindahan tart custom-made yang pastinya dipesan Henry dengan sangat memikirkannya itu. Ya, Henry oppa-nya memang selalu memikirkannya… Bisa-bisanya ia bahkan kini membatalkan janji begitu saja di hari H, tanpa memikirkan perasaan pacarnya itu sama sekali?? Bodoh, Eunseo bodoh! Tapi tunggulah, tak lama lagi ia pasti sampai. Eunseo tahu pasti di daerah mana club yang dimaksud Henry. Tempat orang-orang asing berkumpul di Seoul… Itaewon.

Di sebuah club di Itaewon,

“Yo! Henry Lau is in ‘da house!”

Henry segera menoleh begitu seseorang menepuk bahu dan lantas merangkulnya. Ia hanya tertawa kecil sambil lanjut menyesap lagi potongan lemon gin-nya di meja bar saat mengetahui sang oknum, Amber, sesama mahasiswa asing di kampusnya, seakan gadis tomboy itu tak begitu penting.

Amber sukses tersungging, eh, tersinggung, “YA, aku nyapa baik-baik, lho.” Katanya sambil mengambil tempat di sebelah Henry. “Still not drinking much, eh? Masih takut lepas kendali kalau bareng cewekmu itu? Mr. Bartender, Heineken 1 ya.” Pintanya yang langsung bersambut sebuah botol kecil warna hijau dari merk bir favoritnya itu. “Nih, men should be drinking this, you know.”

“Jangan bawa-bawa Eunseo, ya. And you’re a woman. Please do remember that.” Kata Henry dingin sembari TAK! menaruh gelas yang barusan ia tenggak isinya sampai habis itu di atas meja dan segera pergi dengan meraih jasnya, bagian dari formal outfit yang setidaknya sampai satu jam yang lalu masih ia pakai karena masih berharap dapat merayakan ulang tahun sang pacar. Ia sudah nyaris keluar pintu club ketika merasa melihat sosok Eunseo berdiri dikelilingi beberapa pengunjung mabuk, terpojok di dinding dekat situ. Tapi apa benar itu Eunseo? Apa yang dia lakukan disini?

“Eunseo?” Henry yang penasaran mencoba memanggil nama sang pacar, berniat memastikan. Dan benar saja, sesegera mungkin respon ‘Henry oppa!’ bernada bahagia menyambutnya diiringi keluarnya gadis itu dengan susah payah dari ‘kepungan’ cowok-cowok bule mabuk tadi.

Eunseo menatap Henry dengan mata berbinar-binar begitu si pacar telah berada di depannya, masih tak percaya ia benar-benar berhasil menemukannya disini. Tapi Henry yang memang masih sedikit jengkel dengannya tak memperhatikan itu sama sekali dan segera menariknya untuk pergi. Eunseo segera ingat dengan misinya, “Oppa maafin—”

“YA! Niga mwonde?? (HEI! Kamu pikir kamu itu siapa??)”

Henry berhenti sejenak mendengar seruan tak fasih yang sepertinya berasal dari bule-bule yang barusan ia ‘recoki’ urusannya. Tapi hanya mengedikkan bahu, ia pun kembali melangkah dengan kembali menyeret Eunseo dalam genggamannya.

“HEY, YOU!!”

“Mwoga munje-ya?? (Apa sih masalah kalian??)” Kali ini violinis kita sukses berbalik dengan murka. Ia mendorong Eunseo hingga jatuh terduduk di salah satu bangku empuk terdekat di club itu dan kembali menghampiri tiga bule tadi sendirian. “She is my girlfriend. Are we done now?”

“Woo… A boyfriend… Namja-chingu!” Sindir salah seorang dari mereka dengan mimik sok ketakutan yang langsung diiringi derai tawa teman-temannya. Henry memutuskan tak menghiraukan mereka sama sekali dan terus beranjak pergi… sampai ketika ia mendengar sebuah komentar yang begitu menyulut hatinya.

“You do have a really hot chick right there, Man! Is she as great as her body in bed?”

“YOU…!!” Henry cepat berbalik lagi dan segera mencengkram kerah kemeja bule dengan brewok itu. Sebagai seorang musisi, berurusan dengan warna suara adalah makanan sehari-harinya, maka itu ia begitu yakin bule satu inilah oknum penghina Eunseo tadi. Ia langsung hapal suara mereka hanya dengan sekali dengar.

“Whoa, whoa. Easy, Dude. You’re making the people all have their eyes on us.” Respon si bule sambil mengangkat kedua tangannya, namun dengan wajah tak menunjukkan rasa bersalah sama sekali. Sedang alarm keributan di kepala Eunseo langsung berbunyi nyaring melihat adegan itu. Cepat-cepat ia pun bangkit untuk mencoba memisahkan mereka. Jangan sampai ada ribut-ribut disini hanya karena dirinya!

“Never-talk-like-that-again-about-my-girl.” Ancam Henry tegas sambil menusuk-nusukkan tangannya di dada si bule. Si lawan terlihat tidak suka, dengan kasar ia menyingkirkan tangan Henry dan malah menariknya mendekat untuk berbisik.

“Why? Don’t say that you haven’t slept with her??” Kata si brewok dengan wajah sok terkejut yang segera disambut tawa dua kawan bulenya lagi. “Geez, what are you? A GAY? Her body’s like shouting ‘Use me, use me!’, what are you hesitating? She’s no longer virgin, afterall. Right, Hottie? You’d lost your virginity, right? It’s so obvious, Man!” Serunya lagi masih dengan suara mabuk ke arah tepat di belakang Henry. Cepat-cepat Henry menoleh. Jangan, jangan bilang betul-betul ada Eunseo disana!

Tapi harapannya gagal, dengan jelas ia bisa melihat Eunseo berdiri nelangsa, tak bisa merespon sama sekali saat pria itu membuka lagi bagian paling kelam dari masa lalunya di depan umum. Semua orang melihat… Semua orang tahu… Satu daerah lagi tahu tentang ia yang sudah ternoda…

“Eunseo, dia mabuk, jangan dengar perkataannya! Eunseo!” Henry segera berteriak demi menyadarkan gadisnya, mencoba mencegahnya terserap dalam traumanya lagi. “And you, you don’t talk like that about her!! Minta maaf, CEPAT MINTA MAAF!!” dan BUKK, BUKK, BUKK!! Berkali-kali Henry menghujani pria tinggi itu dengan tinjunya sampai terjatuh. Orang-orang segera berkumpul melihat keributan tersebut, terutama beberapa teman kampus Henry yang sama-sama sedang hangout disana.

Mereka berusaha melerai perkelahian itu, tapi Henry cepat mendorong mereka kembali, “Step back, Nichkhun. And that goes to you as well, MISS Amber, Kim Kibum.” Peringatnya sebelum menatap lagi bule brewok yang sudah terkapar babak belur dan kini dirubung dua temannya itu. Amber yang merasa perkelahian ini belum akan selesai segera berinisiatif menghampiri Eunseo yang masih terduduk hampa. Hanya gadis itu yang mampu menghentikan Henry yang mulai brutal.

Sementara itu di tempat ribut-ribut, Henry perlahan berjongkok dan mendekatkan wajahnya ke arah si tukang gara-gara, “Itulah sebabnya orang bilang minum terlalu banyak itu tidak baik, Sir. You can’t even throw back any of my punches. Jadi gimana? Siap minta maaf?” Tanyanya dengan sebuah seringai, sebelum bangkit demi melihat keadaan Eunseo hanya beberapa langkah di belakangnya.

Eunseo yang dituju, sudah berhasil berusaha menguatkan diri dan kembali pada kesadarannya berkat ‘sentilan’ dari Amber tentang kenapa ia malah diam saja dan tak melerai Henry sama sekali, kini ikut mendekati kekasihnya. Ia meraih tangan Henry cepat ketika mereka bertemu, “U-Uri… geunyang jib-e kaja… (K-Kita… pulang aja yuk…)” Katanya masih dengan gemetar.

“Kamu nggak apa-apa?” Henry cepat memegangi bahu Eunseo seakan takut gadis itu akan jatuh lagi saking gemetarannya. Eunseo menggeleng. “Arasseo. Kita pulang sekarang. And you guys,” cowok itu menoleh pada tiga musuhnya hari itu yang masih menatapnya penuh dendam. “…berterimakasihlah karena—”

JLEBB. Tanpa aba-aba, salah seorang dari mereka secepat kilat berlari dan menusukkan sebilah pisau dalam genggamannya ke perut Henry. Kemeja putih Henry seketika banjir darah seiring ia yang perlahan jatuh terlutut memegangi perutnya sendiri.

“HENRY!!” Amber dan beberapa teman kampusnya yang lain segera berseru terkejut yang langsung disambung oleh pekikan dari para pengunjung wanita club itu melihat terjadinya penusukan di depan mata mereka.

Sedang Eunseo, orang yang betul-betul menyaksikan kejadian itu tepat di depan matanya sendiri, masih hanya bisa terperangah kaku. Bibirnya sedikit terbuka, namun betul-betul tak ada kata yang keluar sama sekali darinya, ia bahkan tidak sadar kalau mungkin itu adalah saat terakhir baginya dapat melihat Henry…

______

Eunseo duduk dengan memeluk kakinya di dalam hanbok hitam yang ia pakai sambil menatap ke arah dorm kampus Seoul International Academy of Arts yang tepat berada di hadapannya dari aula kampus tempat abu Henry disemayamkan ini. Satu per satu baik keluarga Henry maupun teman dan dosen kampusnya berlalu-lalang melewatinya untuk masuk ke dalam dengan menangis. Tangis, ya… Bagi Eunseo, rasanya airmata itu telah habis…

Perlahan diturunkannya kakinya untuk melangkah di atas tanah kuning yang mengarah ke jalan menuju dorm. Dia ingin pergi kesana… Ke tempatnya beberapa kali main sejak mereka resmi berpacaran. Adik perempuan Henry yang langsung pergi bersama keluarganya dini hari tadi begitu dikabarkan dan baru tiba pagi ini segera menegur begitu melihatnya. Selama ini sebetulnya ia hanya mengenal Eunseo dari foto yang ditunjukkan sang kakak tiap mereka chat, siapa sangka sekalinya bertemu harus dalam acara seperti ini… “Eunseo!”

Eunseo menoleh. Adik Henry yang masih berusia awal SMA itu segera berlari kecil yang membuat rok selutut hitamnya melambai tertiup angin, “Kamu mau kemana? Sebentar lagi kita mau melepas Henry, apa kamu nggak ikut?” Tanyanya dalam bahasa Inggris.

Yang ditanya menggeleng, “I think I’ll pass. Aku masih ingin mengenang Henry sekali lagi sebelum memutuskan melupakannya… Aku mau kesitu,” katanya sambil menunjuk lantai 3 dorm tempat kamar Henry berada. “…salam saja untuk ayah, ibu, dan kakak tertuamu… Tolong bilang ke orangtuaku juga ya.”

“Eunseo…”

Tapi Eunseo tetap berjalan mantap menuju tempat Henry tinggal selama 3 tahunnya di Korea itu. Di setiap langkah ia mengenang kebersamaan mereka, dari mulai perjuangan Henry ‘menyembuhkannya’, saat-saat mendesain pakaian sambil mendengarnya bermain biola, bersama-sama membicarakan Yoochun yang selalu berakhir ketahuan karena appa-nya itu ternyata memang hobi menguping, ketulusannya, kasih sayangnya, janji untuk selalu melindunginya… Dan sekarang ia meninggalkanku, mengharapkan aku bisa hidup di dunia ini tanpa dia?? Dia tahu aku nggak akan bisa melakukannya!! Aku sudah bilang aku nggak tahu apa jadinya hidupku tanpanya…

Airmata Eunseo jatuh lagi. Ia memegang kenop pintu kamar Henry sebelum terjatuh akibat tangis derasnya yang sudah tak mungkin ditahan-tahan lagi. Napasnya tersengal-sengal, mukanya memerah, seiring tumpahan sisa-sisa terakhir dari airmata yang ia kira sudah kering hanya dalam semalam sejak kepergian Henry. Tapi sungguh, ini yang terakhir. Ia tak mau menangis lagi!

Maka mencoba menguatkan diri untuk bangkit, Eunseo cepat-cepat membuka pintu kamar Henry dan berlari ke ujung kamar itu, tempat sebuah jendela berkorden yang menghadap taman belakang berada. Hanya karena ia tak bisa menjaga dirinya sendiri dulu ia sudah merasakan akibatnya. Tapi tak apa, karena setidaknya ialah yang jadi korban. Namun kini, hanya karena dirinya, orang yang paling ia sayangilah yang menjadi korban… Ia tak bisa menerima itu! Ia pembawa sial, dan pembawa sial tak boleh hidup lebih lama lagi agar tak lebih banyak orang yang harus menderita!

“Jigeum… myeot si-ya? (Sekarang…jam berapa?)”

Eunseo masih hanya terdiam dalam shock-nya, bahkan ketika tiba-tiba Henry bersuara lemah seraya terbaring kritis di lantai club itu… menanyakan jam?? “12 AM, 12 AM or something. What is it, Hen??” Amber yang tak sabar dengan kepasifan Eunseo buru-buru menjawab tanya teman kampusnya itu.

“Geureomyeon… (Kalau begitu…)” Henry kembali bersusah payah bicara, mengusahakan sisa-sisa terakhir kekuatannya untuk meraih tangan Eunseo dan tersenyum. “Saengil chukhahae… Eunseo-ya. Aku… melindungimu… kan?”

TUK. Tangan Henry sekejap jatuh terkulai seiring juga hembusan napas terakhirnya. Disini, seperti tiba-tiba baru mendapatkan kesadarannya kembali, airmata Eunseo seketika tumpah. Ia meraung-raung di atas dada Henry… yang sayangnya sudah tak bernyawa.

“Oppa… Oppa…!!” Eunseo kembali menyuarakan merananya ia ke taman yang terbentang di bawahnya. Ia kini sudah berhasil memanjat jendela itu dan berdiri di kusennya, membiarkan angin meniup korden, rambut, dan hanboknya cukup kencang. Tak bisa hilang dari ingatannya kata-kata terakhir Henry… Bodoh, sempat-sempatnya ia mengucapkan selamat ulang tahun untuknya, di saat seharusnya ia bisa menyimpan saja tenaganya itu! Untuk apa, oppa?? Aku sudah cukup merasa bersalah karena masalah ulang tahun ini, dan kamu malah makin menambahnya dengan ucapan selamat itu…

“Aku melindungimu kan?”

Ditambah kata-kata itu. Seharusnya kamu nggak perlu melindungiku, seharusnya kamu biarkan saja bule-bule itu menghinaku!! “BODOH, OPPA BODOH!!” Teriak Eunseo sekencang-kencangnya dengan sebelah kaki sudah meninggalkan kusen, siap ditarik oleh gravitasi nantinya. Ia betul-betul merasa siap sekarang, karena ia memang pantas mati! Pandangannya terasa mengabur karena airmata, tapi setidaknya ia tahu seseorang pasti akan segera mati bila terjatuh dari lantai 3 sebuah bangunan asrama setinggi ini.

Tururururu~ turururu~ turururu~

Tapi baru ia siap meloncat, tiba-tiba suara dering ponsel dengan bunyi violin verse lagu “Don’t Don!” yang dimainkan Henry sendiri itu terdengar nyaring. Eunseo seketika berhenti. Itu bunyi ponsel Henry… Ia buru-buru merogoh kantong rok hanboknya, baru teringat kalau ia luput mengembalikan ini pada keluarganya setelah kemarin orang RS memang memberikan semua barang yang Henry bawa padanya. Tapi… Apa yang datang ini? SMS?

From: Xiah

Mr. Henry Lau, EODIYA??!! Jangan bilang kamu lupa hari ini. Pokoknya aku akan menunggumu sampai kamu datang, TITIK. Bogoshipjanha!!

“…demi memastikan aku datang, katanya dia juga sudah bilang sama keluarganya buat nggak usah jemput, jadi betul-betul harus aku yang bawa dia pulang…”

Eunseo menatap pesan di BlackBerry sang pacar dengan hati gamang. Harusnya tadi ia tak perlu membuka pesan ini segala… kini perasaannya betul-betul terbagi dua. Xiah. Teman Henry yang sedianya akan mereka jemput dari discharge wamil-nya hari ini. Orang ini pasti tak tahu Henry temannya telah tiada, kasihan sekali jika ia harus menunggu seseorang yang tak akan pernah datang… Tapi hei, apa pedulinya? Tapi jika mengingat perkataan Henry waktu itu: harus ia yang membawanya pulang

Ah sudahlah, sudahlah. Pelan-pelan, Eunseo akhirnya memutuskan turun dan mengurungkan niatnya hari itu. Ini bisa dilakukan siapa saja, tapi kini setidaknya harus ada yang memberitahu tentang Henry pada temannya itu! Sudah sejak lama pula Henry selalu menghitung hari sampai hari discharge temannya ini dari wamil, berarti ia pasti juga sudah sangat merindukannya. Orang yang tahu itu semua dengan sangat baik hanyalah Eunseo, maka itu ia merasa berkewajiban melanjutkan janji kekasihnya itu.

Perbatasan kamp wajib militer,

Eunseo keluar dari mobilnya sambil berusaha menelepon nomor bernama “Xiah” itu dari ponsel Henry. Ia tak tahu sama sekali yang mana orangnya, karena itu sebaiknya mereka janjian di suatu tempat di sekitar ini. Sambil tetap dengan ponsel di telinganya, Eunseo yang tentu sudah berganti baju sebelum berangkat kini sibuk celingukan sembari berjalan di tengah orang-orang lain yang juga menjemput famili mereka. Siapa tahu kemungkinan mereka berpapasan atau apa.

“Henry-ya, eodiya???”

Eunseo segera terkesiap begitu mendengar hal pertama yang diucapkan penerima telepon itu begitu mereka tersambung. Suara ini… familiar…

“Y-Yeoboseyo, Xiah-ssi?”

Di ujung telepon sana, Junsu juga langsung terperangah begitu sadar bukanlah suara Henry, anak host parents-nya saat summer school di Kanada jaman SMP dulu yang menyapanya begitu sopan baru saja. Tapi… bukan, bukan hanya karena itu, suara wanita ini… sangat ia kenal…

“Eunseo… ya?”

TAK. Sekejap langkah Eunseo terhenti begitu matanya bertumpu dengan seorang pria berbaju militer yang sama-sama sedang menelepon sepertinya. Baru sadar apa yang terjadi setelah ia mendongak dari pandangannya ke jalan, kontan pria itu juga berhenti saat melihat Eunseo. Keduanya kini berhadapan dalam jarak sekitar 5 meter, dan biarpun itu cukup jauh dan terkadang orang-orang lewat terus menghalangi, tapi sebentar saja rasanya sudah cukup bagi Eunseo untuk mengenali siapa dia. Biarpun ia masih begitu ragu, karena orang itu seharusnya berada di tempat lain…

“Xiah… ssi?” Yakinnya pada orang di ujung telepon.

“Eunseo-ya? Kamu benar-benar Eunseo?”

PUKK. Sekejap genggaman Eunseo bagi ponsel Henry di telinganya melemah yang akhirnya menyebabkan benda kotak itu jatuh ke tanah. Dia. Itu benar-benar dia. Eunseo betul-betul tidak bisa mempercayai apa yang ia temukan saat ini… Junsu Sunbae-nya adalah teman Henry?

“Masalahnya aku nggak tahu apa setelah dia muncul, kamu masih akan sama aku atau nggak tahun depan!!”

Tuhan, Eunseo merasa baru bisa menghubung-hubungkan semuanya saat ini. Jadi ini alasan Henry… Ia tak ingin menyembunyikan Eunseo dari temannya sendiri, tapi di sisi lain ia juga takut kalah, karena ia tahu Junsu yang bernama barat Xiah ini masih memiliki tempat istimewa di hati kekasihnya…

“Sunbae…” Hanya itu yang bisa keluar dari mulut Eunseo begitu Junsu kini berada di hadapannya.

“Eunseo-ya… Kamu ngapain disini? Henry…? Apa hubunganmu dengan Henry?”

“Sunbae sendiri… bukankah seharusnya di Yonsei?” Tanya Eunseo balik sebelum tiba-tiba, tanpa ia hendaki sebutir airmata menitik dari sudut matanya.

“Apa kamu percaya takdir?”

 

“Destiny really must exists.”

 

Kata-kata dari Henry lagi. Tuhan… apa itu adalah isyarat? Maka sambil menahan airmatanya dengan jari, Eunseo mencoba tersenyum saat bergumam pada dirinya sendiri, “Destiny really does exist…”

END

Advertisements
 
8 Comments

Posted by on February 26, 2012 in DBSK, Super Junior

 

8 responses to “I WILL PROTECT YOU – Part 3 of 3 (END)

  1. cizziekyu

    February 26, 2012 at 1:29 pm

    Nah kan!! Aku emang udh nebak, temen Henry pasti Junsu…..

    Tapi tapi kenapa Henrynya mesti pergi huaaa

    tapi (lagi) kebayar ama endingnya yg sweet bgt, eunseo ktmu lg ama junsu…

    Ide nyonyah selalu aja beda dr yg lain, blm lg gaya penulisannya santai…. That’s why i heart u kkk~

     
    • lolita309

      September 26, 2012 at 12:52 pm

      ya kalo henrynya ga pergi nanti eunseo ga bisa ketemu junsu dong… jd ini emang fate, mereka udah ditakdirkan bareng2 mungkin^^

      aaaaahhh~~ kamu suka begitu deh, i heart u too lah kkkkkk~ XDD

       
  2. upikipik

    February 27, 2012 at 7:55 pm

    ya allah, ternyata balik lagi ama junsu. ck ck ck.
    dan si henry mati. tragis eon.
    suka sama karakter amber yang terkesan jujur dan blak-blakan ^^
    menurutku bagus, tapi endingnya agak kurang mengena, hehe, just saying
    eh, ini nyrempet [THE SERIES] gak sih? ada kibum tadi 😀

     
    • lolita309

      September 26, 2012 at 12:55 pm

      hahaha, emang karakter amber sengaja aku bikin begitu, iiihh, kamu tuh emang selalu berhasil nangkep karakter yg aku coba bikin ya? hahaha 😀

      iya sih, aku juga mikir gitu, kurang apa ya.. greget gitu kan? gpp ko sayang, itu namanya kritik membangun, apalagi aku juga ngerasa^^ makasi yaaa~~

      engga, ga nyerempet sama sekali… wong disini yoochun uda jadi bapak2, di the series doi kan masi bocah SMA temennya dambi :p

      makasi sayang uda baca+komen^^

       
      • upikipik

        December 12, 2012 at 10:57 am

        iya dong, kan aku punya radar neptunus #eh, ketularan perahu kertas #apa hubungannya coba?
        Oh iya! eh, yoochun tambah keren aja ya lola eonni, hehe …

         
      • lolita309

        December 16, 2012 at 11:17 pm

        iyaaa yoochun tambah keren! pasti kamu ngikutin I Miss You juga yaaa?? 😀 sayang di beberapa scene close up muka ‘bulan’-nya masih keliatan banget kkkkk~ :p

         
  3. megumikim

    March 3, 2012 at 5:41 pm

    gak nyangka endingnya kayak gini .____.
    itu ceritanya si junsu pernah pertukaran pelajar ke kanada atau gimana gitu?
    ah kasian henry~ T^T

    yak dan entah kenapa saiia kehilangan kata-kata saat ingin menulis komen jadi ya sekianlah~ *kabur lg*

     
    • lolita309

      September 26, 2012 at 12:57 pm

      asiiiikkk, ga nyangka kan? tau2 henry ditusuk orang trus mati deh~~~ #PLAK
      btw scene ini sih terinspirasi dari video clip agnes monica yang ‘Tanpa Kekasihku’.. *ga ada yg nanya* XDD

      trus iya, junsu pernah pertukaran pelajar ke kanada tp disono pake nama baratnya gitu, xiah. homestay di rumah henry makanya jg bs kenal sm doi. dunia sempit banget yak? kkkk~

      *jurus menghilang*

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: