RSS

[THE SERIES] THE FINALE

25 Feb

THE FINALE

Written by: Lolita Choi (@lolita309)

Starring: SJ’s SW, YS, LT, and the Lees

 

4 tahun kemudian,

“Daddy Siwon…!” Panggil sebuah suara mungil nan cempreng khas seorang bocah dari arah pintu apartemen yang seusainya wajib militer, sudah 3 tahun ditinggali Siwon seorang diri itu.

Pria gagah yang barusan masih membaca koran sambil bersandar di sofa ruang tamunya segera menoleh, dan senyumnya seketika merekah lebar, selebar tangannya yang juga sudah membuka untuk menyambut bocah itu.

Bidadari kecilnya.

“Yowonie…! Hei, kesayangan daddy sudah datang. Mana appa dan eomma, Sayang?”

Park Yowon, nama gadis cilik itu, segera berlari menyongsong dan memeluk erat leher Siwon yang memang sudah berjongkok demi menyamakan ketinggian mereka. Tanpa berbicara ia hanya menunjuk ke arah pintu dengan sebelah tangannya demi menjawab, seakan pria yang sedang dipeluknya itu akan kabur kalau tangan satunya juga ia lepaskan. Sepertinya ia memang sudah keburu kerasan berada dalam pelukan sang ayah biologis. Ayah kandungnya.

Ya, biarpun bermarga Park, Yowon memang adalah darah daging Yora dan Siwon, putri yang namanya pun berasal dari nama keduanya. Putri yang bersikeras dilahirkan Yora dengan susah payah, biarpun ia tahu kalau bayarannya haruslah nyawanya sendiri. Putri yang sejak awal Yora tahu tak akan pernah bisa ia lihat tumbuh kembangnya, karena komplikasi pada kandungannya sudah memvonis bahwa hanya ada satu nyawa yang bisa diselamatkan, dan Yora memilih bayinya…

Siwon segera menoleh ke arah yang ditunjuk putrinya itu seraya perlahan, bangkit dengan menggendong Yowon yang masih tak rela melepas pelukannya di leher sang ayah. Benar saja, di depan pintu itu sudah berangkulan sepasang suami-istri yang begitu Siwon kenal.

“Teuki Hyung, Ryeoru Noona!” Sapa pria itu segera sambil setengah berlari menghampiri mereka. Teuki dan Ryeoru juga ikut berjalan menghampirinya.

“Hey, bro. Apa kabar? Sepertinya sibuk sekali CEO satu ini. Pantas kerajaan bisnis Choi Corp. makin maju setelah dipegang olehmu.” Teuki menjabat tangan kanan Siwon erat yang cepat direspon pemiliknya. Ryeoru dengan hati-hati mengambil alih Yowon dari gendongan Siwon agar pria itu tak kerepotan lagi.

Siwon tersenyum getir melihat Yowon yang sedang berpindah gendongan dari dirinya. Ya, betul juga. Merekalah appa dan eomma putrinya kini…

Biarpun tak lama-lama Siwon membiarkan dirinya tak fokus, ia segera memasang tawanya mendengar candaan Teuki tadi. “Hahaha, baik, hyung. Kalian apa kabar? PARK Hotel sepertinya juga sudah siap menyaingi kami dengan buka cabang dimana-mana.”

Ketiganya tertawa mengingat persaingan sehat antarsaudara itu. Siwon, sejak ayahnya mulai sakit-sakitan 2 tahun lalu memang akhirnya memutuskan melepas profesi yang selama ini merupakan mimpinya sebagai seorang polisi dan beralih mengelola perusahaan ayahnya. Sebagai anak sulung ia merasa harus bertanggung jawab dan berbakti, di saat menurutnya Jiwon tak akan bisa mengemban tampuk itu karena sudah terlalu disibukkan dengan urusan yayasannya yang makin besar. Kyuhyun apalagi.

“Kami juga baik, kok.” Jawab Ryeoru cepat seraya bertukar senyum dengan sang suami. Sesekali Teuki mengelus rambut berponi Yowon yang sedang sibuk mencubit-cubit pipi eommanya.

“Eomma, kita mau ke tempat Mommy Yora kan? Daddy Siwon, katanya kita mau lihat Mommy Yora, kan?”

Siwon tersenyum mendengar ocehan gadis ciliknya, “Iya, kok Yowonie pintar, sih? Memangnya sudah sekolah?”

“Sudah, playgroup!” Jawab Yowon mantap. Ketiga orang dewasa di sekelilingnya sontak tertawa gemas.

“Ya, baru tahun ini aku masukkan dia di playgroup bilingual. Sesuai yang selalu diinginkan Yora, kan? Pendidikan nomor satu, yang terbaik dan sedini mungkin untuk Yowon.” Jawab Ryeoru sebelum mengecup pipi putri angkatnya penuh sayang.

Siwon mengangguk mengiyakan.

“Ayo, kapan perginya??” Yowon mulai merajuk lagi, kini bahkan sudah menarik-narik rambut pendek Ryeoru yang paling mudah dijangkaunya. Bibirnya terlihat mengerucut.

Ryeoru menepis kedua tangan mungil itu dari rambutnya dengan pelan, “Hayo, janjinya mana, katanya nggak akan rewel kalau mau ke rumah daddy…”

Seperti mengerti, dengan cepat Yowon pun sudah bungkam mendengarnya, biarpun dengan pipi masih menggembung tanda masih ada sedikit rasa tak rela.

Teuki tertawa seraya mengulurkan kedua tangannya ingin menggendong anak itu juga, “Aigoo beratnya anak appa…” Katanya saat mengambil bocah itu dari pelukan Ryeoru. Yowon tertawa-tawa, seperti senang melihat ayahnya kesusahan menggendongnya (namanya juga udah umur ye #plak). “Lihatlah, somehow aku seperti melihat Yora dalam dirinya… Pintar dan selalu membuat kita terus mau menuruti semua keinginannya.”

“Mini-Yora.” Timpal Ryeoru sambil geleng-geleng kepala. Siwon sibuk menahan tawanya dengan telapak tangan. “Ya sudah, ayo kita pergi sekarang. Yeobo, turunin Yowon-nya. Yowon-ah, sini gandengan sama daddy dan eomma aja, ya…”

Teuki menurunkan Yowon pelan dari pelukannya dengan pura-pura mencibir, “Apa-apaan itu, ‘gandengan sama daddy dan eomma’? Jangan cari-cari kesempatan deh, AHJUMMA. Nggak ada yang akan ngira kalian pasangan, paling-paling disangka ayah-anak sama susternya.”

Siwon sukses ngakak sambil memegangi perutnya.  Ternyata pasangan ini memang masih sama saja! Sementara Yowon yang tidak mengerti hanya sibuk menengadah, berpindah-pindah menatap sang appa, eomma, dan daddy-nya. Siwon mengelus-ngelus rambut gadis kecil itu. Mudah-mudahan pertumbuhan psikisnya tak terpengaruh dengan kondisi rumah yang pastinya selalu dilanda huru-hara tak jelas dua orang itu.

Dan akhirnya, mereka benar-benar pergi, dengan Siwon membiarkan tetap duo RyeoTeuk menggandeng putri kecilnya. Ditatapnya bayangan keluarga kecil yang begitu ceria itu dari belakang selagi berjalan. Waktu benar-benar cepat berlalu, Yora…

 

“Sebelum aku masuk ruang bersalin, bolehkah aku minta satu permintaan padamu?”

Siwon yang sedang mengambil minum untuk dirinya sendiri itu segera menoleh, menatap sang istri yang sudah berganti baju bersalin, hanya tinggal menunggu kedatangan dokter untuk dibawa saja. “Hm?” Responnya seraya menghampiri wanita yang paling ia cintai itu dengan senyuman.

Yora menelan ludahnya dengan susah payah, “Jika… aku nggak berhasil selamat nanti… berikanlah, bayi kita pada eonni dan oppa.”

“Jangan ngomong macam-macam ah!” Omel sang pria seketika. “Kamu pasti selamat. Berjuta-juta ibu melahirkan setiap harinya, dan semua juga selamat. Maka kamu juga pasti.” Siwon menyentil dahi istrinya gemas. Ini pasti hanya sindrom ketakutan sebelum melahirkan, pikirnya.

Yora mengangguk, “Um. Jutaan ibu melahirkan dengan selamat setiap harinya… maka aku juga pasti.” Ulangnya. “Tapi… aku sungguh-sungguh. Jika benar nanti aku nggak selamat, berikanlah baby pada Ryeoru eonni. Mereka akan membesarkannya dengan penuh kasih sayang, yang utuh.”

 

___

 

“Sudah kukira kamu pasti ada disini.”

Siwon yang barusan masih menatap lurus nisan mendiang istrinya sendirian—setelah meminta RyeoTeuk dan Yowon kembali duluan saja ke mobil—segera menoleh begitu mendengar suara itu.

“Yesung.” Sapanya seraya tersenyum melihat sang sahabat beserta ‘rombongannya’; sang istri Shinae, putra kembarnya, dan juga seorang bayi yang baru dilahirkan Shinae 3 bulan lalu.

“Hai.” Sapa Yesung balik. Pria yang kini sudah pindah tugas dan menjabat sebagai Kepala Polisi wilayah Incheon itu mendekati Siwon dan memeluknya sekilas, sebelum beralih ikut menatap nisan di hadapannya. “Hei, Yora. Happy birthday.” Sapanya seraya meletakkan sebuah buket berisi bermacam bunga yang sangat cantik di atas tanah berumput itu, tempat jasad sahabat kesayangannya dimakamkan 4 tahun lalu.

Shinae yang baru selesai menyapa Siwon sambil menggendong bayi mungilnya, juga sebelah tangan menggandeng dua putranya yang lain sekaligus, menyaksikan itu semua dengan senyum getir, “Ya, hari ini ulangtahun Yora.” gumamnya. Dan kalau ingat Yora, yang pertama terlintas di pikirannya pasti tentang kebodohan mereka yang sempat tak saling tegur berbulan-bulan, hanya karena salah paham tentang… Yesung! Sampai sekarang pun ia masih suka merasa bersalah pada sahabatnya itu, dirinya yang dulu memang silly sekali. Biarpun setelah semuanya berakhir ia dan Yora pasti sukses tertawa-tawa tiap mengenang salah paham terbodoh itu.

Siwon yang berdiri di sampingnya menoleh. Shinae membalas tatapannya dengan senyuman, “Yora pasti senang karena kamu memilih untuk terus mengingat hari ulang tahunnya, bukan hari kematiannya seperti yang dilakukan banyak orang lain pada orang yang sudah meninggal.”

Siwon ikut tersenyum, “Ya kan? Yora yang kita kenal memang seperti itu.”

“…hanya suka diingat yang bagus-bagusnya.” Timpal Yesung cepat seraya bangkit dari jongkoknya di hadapan nisan Yora tadi. Ketiganya tertawa. Memang tak ada orang di luar keluarganya yang mengenal Yora sebaik mereka berdua, sahabat Yora yang akhirnya bersatu dalam ikatan pernikahan 3 tahun lalu.

“Sebetulnya kami juga sering kesini sebelumnya, tapi nggak pernah ketemu kamu. Baru aku tahu dari Eunhyuk kalau tradisimu—yang akhirnya diikutinya dan kakak Yora yang lain—adalah mengunjungi di hari ulangtahunnya kan?” Yesung bercerita.

Siwon mengangguk. “Mereka juga baru tahu dan mengikuti jejakku sejak tahun kemarin. Itu pun kami selalu datang di waktu yang berbeda. Bagaimanapun tempat ini adalah tempat yang sakral, kan? Nggak mungkin kami ramai-ramai disini.”

Pasangan itu mengangguk.

“Well, bicara tentang waktu yang berbeda, sepertinya kita kedatangan sepasang tamu lagi. Tamu besar.” Kata Yesung setelah melempar pandang ke sisi kanan taman pemakaman yang terawat dengan sangat baik itu. Sang istri dan Siwon ikut menoleh, dan segera terlihat kakak laki-laki tertua Yora, Sungmin, datang bersama istri yang baru dinikahinya tahun lalu itu, Shin Hagi.

Siwon terperangah. Karena jadwal Sungmin yang begitu padat sebagai artis, sejak Yora pergi pun ia sudah lama sekali tidak bertemu kakak iparnya itu. Apalagi setelah ia memutuskan menikah terang-terangan di atas statusnya yang sedang naik daun tahun lalu, tak apa-apakah ia pergi ke tempat umum seperti ini?

“Ya sudah, kalau begitu kami juga pergi dulu.” Shinae mohon diri yang didukung anggukan suaminya.

“Buru-buru banget? Sama-sama aja, habis menyapa Sungmin hyung juga aku mau balik kok. Kalian jauh-jauh dari Incheon…” Protes Siwon.

Yesung tertawa, “Bulan depan juga ketemu lagi kok. Eunhyuk mengundangmu kan?? Awas kalau nggak.” Ia sudah siap-siap dengan kepalannya.

Siwon menepuk tangannya sekali. Oh ya, ia baru ingat tentang itu!

“Nah, Kim Seung, Kim Yeol, insahaebwa (beri salam).” Shinae memberi aba-aba pada dua putranya.

“Siwonie ahjussi, annyeonghikyeseyo…” Dua duplikat Yesung berusia nyaris 3 tahun itu membungkuk patuh dengan begitu lucunya. Siwon mengangguk penuh senyum seraya mengusap rambut hitam mereka berdua.

“Yesung.” Sungmin masih sempat menyapa begitu mereka berpapasan.

Yesung menoleh, “Oh, Sungmin.” Jawabnya yang langsung berakibat SAKK! sikutan dari sang istri beserta lirikan tajam agar suaminya itu lebih sopan. Maka, “…hyung.” Pria itu pun melanjutkan dengan setengah hati. Biarpun masalah tiga kembar Lee dan putra-putra keluarga Kim sudah lama berakhir, tetap saja masih sulit baginya bersopan-sopan di hadapan 3 orang itu, sekalipun mereka lebih tua darinya.

Sungmin tersenyum dengan Hagi mengangguk sekilas sebelum akhirnya masing-masing pasangan pergi menjauh.

“Hyung.” Kali ini Siwon yang sudah siap menyapa mereka berdua. Ia membungkuk dalam, seperti biasanya. “Hyungsunim.” Sapanya juga pada Hagi. Pasangan itu mengangguk.

“Lama nggak ketemu, Siwon-ah.” Sungmin memeluk hangat adik iparnya itu.

Siwon mengangguk, “Lama banget.” Jawabnya. “Tapi… apa nggak apa-apa hyung kesini?”

Sungmin tertawa, “Santai. Sejak dulu aku idola yang bebas, lagipula cuma aku satu-satunya kakak yang belum pernah mengunjungi Yora di hari ulangtahunnya. Apa kata dunia?” Candanya. Siwon tersenyum. “Oh ya, tadi aku ketemu noona disana, kasihan itu Yowon sudah rewel sekali. Kamu cepat balik, biar kalian bisa segera pulang. Eo?”

“Oh iya, ini juga tadi niatnya mau langsung pergi habis menyapa hyung.” Siwon menjawab. “Padahal tadi Yowon yang semangat kesini, lho. Tapi mungkin bosan, ya sudah, aku balik duluan, Hyung. Hyungsunim.”

Sungmin mengangkat tangannya, “Nanti ketemu lagi kan di rumah besar? Rapat internal terakhir pernikahan Hyukie dan Saera bulan depan.”

Siwon mengangguk pasti, dan segera berlari pergi sebelum tak lupa kembali membungkuk pada keduanya, tak ingin membuat putri kesayangannya menunggu terlalu lama lagi.

“AAAAA~ AAAA~” benar saja, belum terlalu dekat dengan Audi putih trademark seorang Park Jungsoo, telinga Siwon sudah sukses menangkap jeritan kencang anak perempuan yang ia yakin pasti milik Yowon. Pria itu makin mempercepat langkahnya.

“HUAA~ AAA~”

“Cup cup cup, Yowon-ah, diam dong sayang… Ini sudah eomma peluk, sudah pakai AC, bobo yang pintar ya sayang… Ya, Yowonie-appa, nyanyi lagi sih!” Kata Ryeoru di dalam mobil, kalang-kabut seraya menginjak kaki Leeteuk karena tangannya sibuk menepuk-nepuk pantat Yowon agar bocah itu cepat tertidur. Baru sebentar bisa beristirahat dari bernyanyi nina bobo terus-terusan, Leeteuk kembali harus tersentak. Ia menoleh ke pertarungan ibu dan anak di sebelahnya, dan kembali menghela napas lelah. Ya ampun…

“Yowon bobo, oh Yowon bobo…”

“Nah, appa juga sudah nyanyi… Yuk, bobo yuk… Eomma ayun-ayun ya…”

“AAAANG~”

Teuki menunduk stres lagi, “Yowon-ah…”

“Maaf, maaf, aku lama.” Siwon yang baru datang langsung membuka pintu di kursi Ryeoru dan menyaksikan sendiri putrinya yang masih menangis kencang sampai mukanya memerah. “Ya ampun, Yowonie… Maaf, maaf, bosan nunggu daddy, ya? Maaf ya…” Katanya sambil berancang-ancang mengambil balita itu dari buaian Ryeoru.

“Nggak apa-apa kok, Won. Dia memang kalau ngantuk selalu jadi rewel begini, bukan karena kamu, kok.” Jelas Ryeoru sambil membetulkan rok pendek Yowon yang tersingkap saat berpindah ke pelukan ayah kandungnya tadi.

“‘Selalu’? Selalu tuh maksudnya… tiap hari kayak gini??” Teuki berseru histeris. Ya ampun, yang benar ajaa…!

Ryeoru menoleh cepat ke arahnya, “2 kali sehari, lebih tepatnya. Tiap tidur siang dan malam. Memangnya kamu pikir kenapa aku sampai resign dari kantor, hah? Makanya sekali-kali di rumah… Aneh, bos kok tapi lemburan terus.” Sindir Ryeoru. Curcol, padahal. Teuki sudah tak bisa berkata-kata lagi. Sukses menganga.

Biarpun ternyata disitu, yang merasa tersindir bukanlah Leeteuk seorang. Siwon yang masih memeluk Yowon di luar mobil kakak iparnya itu juga terdiam. Hanya meminta bertemu dengan putrinya itu sekali setahun saat gadis kecil itu berulangtahun, membuatnya juga tak pernah tahu apa-apa tentangnya. Bagaimana kebiasaannya, proses tumbuh kembangnya, ia tak pernah tahu. Biarpun Ryeoru dan Leeteuk sering sekali menawarkan untuk tak apa lebih sering menemui Yowon, tapi ia harus bertahan, karena ia tahu ini yang terbaik. Orangtua hanya ada satu, ia harus mau dan bisa membatasi perannya di hadapan Yowon, yakni hanya sebagai ‘paman’, bertukar peran dengan Leeteuk, biarpun RyeoTeuk tetap mengajarkan Yowon memanggilnya ‘daddy’ seperti yang sejak dalam kandungan sudah dibahasakan Yora padanya. Ia juga harus bisa menerima kalau Yowon adalah Park Yowon, bukan dan tak pernah menjadi Choi Yowon. Semua jika ia ingin tetap memegang amanat yang diberikan Yora padanya…

“Bicara tentang tidur, ya… Kalau dia adalah Mini-Yora mungkin…” Tapi tiba-tiba Siwon bergumam begitu selintas ingatan singgah di pikirannya. Ia buru-buru menyerahkan lagi Yowon yang masih rewel karena tak bisa tidur itu ke pangkuan Ryeoru, dan merogoh saku jeans-nya. Ponsel, ponsel… Playlist, Yora’s lullabies.

“Sumpah, beneran tidur…” Ryeoru langsung takjub begitu melihat Yowon yang perlahan-lahan diam, menutup matanya, dan sekejap sudah terlelap dalam mimpi hanya kurang dari 2 menit Siwon memperdengarkan musik klasik dari ponselnya itu. Dan lagunya mendekati habis pun belum!

“Luar biasa…” Teuki ikut menganga sebelum akhirnya menyikut Ryeoru. “Yeobo, minta, itu!”

“Oh iya, aku minta! Betulan Siwon, cepat nyalakan bluetooth-mu! Ya ampun, tahu begini dari dulu aku nggak usah susah-susah…” Ryeoru menggelengkan kepala seraya menyerahkan Samsung-nya pada Siwon untuk ditransferkan ‘obat tidur ajaib’ itu. “Tapi bagaimana kamu bisa tahu…”

Siwon hanya tersenyum.

 

“Kamu lagi apa?” Tanya Siwon bingung melihat istrinya memegangkan sepasang earphone iPod di perutnya yang mulai membesar. Ia pikir ia salah lihat, maklum mereka hanya berkomunikasi via videocall. Sudah jangan dibahas lagi, ia juga sangat menyesal karena di saat istrinya sedang mengandung begini, ia malah tak bisa menemaninya akibat wamil. Bisa videocall juga sudah untung.

Tapi Yora malah tertawa seperti menyatakan kalau suaminya itu bukan salah lihat. “Ini lho, kata orang kan musik klasik sejak dalam kandungan bisa bikin pintar. Aku rutin begini setiap siang, sekalian ngebiasain tidur siang buat baby, dan betul lho, setelah mendengarkan ini, tiba-tiba aja jadi hening. Dia nggak nendang-nendang lagi, akunya juga jadi rileks.” Jelasnya riang.

Siwon di layar ponsel Yora juga ikut tersenyum, “Kalau gitu pas dong ya aku telpon kamu jam segini, aku jadi nggak buta-buta amat tentang perkembangan kehamilanmu.” Katanya. Yora mengangguk-angguk. “Oh ya, memang kamu dengerin dia musik klasik yang gimana?”

Yora tertawa, “Biasa aja kok, lagu tidur aku. Diam-diam juga sudah aku bikin playlist di HP kamu. Hahaha.”

 

____

 

“Hahaha!”

“Lagi ngigau kembaranmu tuh. Nervous jelang pernikahan kali ya sampai otaknya juga geser begitu?”

“Dari dulu bukannya juga sudah geser?”

“HAHAHA!”

Canda-riang betul-betul terdengar di kediaman keluarga dr. Park Gildong sore itu, rumah yang biasa disebut putra-putri penghuninya sebagai ‘rumah besar’. Rapat serius membicarakan finalisasi proses pernikahan putra kedua rumah itu juga sudah berakhir, tinggal bersisa kumpul-kumpul dan mengobrol seperti ini. Jarang sekali kakak-beradik mereka bisa benar-benar terkumpul dalam formasi lengkap seperti ini, seperti hari ini. Sungmin dan Hagi si newlyweds, keluarga kecil Donghae-Shinmi beserta sepasang anak mereka yang masih berumur 1 dan 2 tahun, Eunhyuk si calon pengantin, Ryeoru-Leeteuk dan Yowon, dan tentu Siwon yang biarpun Yora sudah tiada tetap dan akan selalu dianggap sebagai bagian dari keluarga ini, bahkan jika nantinya ia memutuskan untuk menikah lagi.

“Apaan sih, apaan?” Ryeoru dan para wanita termasuk ibunya yang baru saja kembali dari dapur untuk mengambil cemilan lagi, langsung kepo melihat keseruan ngobrol para lelaki itu. Satu per satu mereka pun duduk di sebelah pasangan masing-masing.

Donghae mengawasi putra sulungnya mengambil donat dari piring di atas meja di ruang keluarga yang mereka kelilingi terlebih dahulu sebelum menjawab, “Itu lho, masa si Hyukie bilang berhubung rumah ini pasti bakal diwariskan ke dia, jadi setelah menikah dia juga bakal tinggal disini aja katanya. Nah masalahnya adalah, PD banget dia ini rumah bakal diwarisin ke dia??” Jelasnya yang segera disambut tawa para lelaki lagi, Teuki paling kencang, tentunya.

“Lho, otomatis dong.” Eunhyuk membela diri. “Kalian semua kan sudah pada married duluan, sudah punya tempat tinggal masing-masing juga dong, nggak butuh rumah ini lagi. Anak yang tersisa, tinggal aku. Itu triknya… makanya nikah belakangan… Hohoho.”

“Pelit juga nggak segitunya kali.” Teuki mencibir. Eunhyuk langsung membalas dengan juluran lidah, tak mau kalah.

“Tapi iya, gitu?” Ryeoru masih melongo. “Eomma?” Ia segera beralih pada wanita panutan mereka semua yang duduk di sebelah Siwon. Serentak semua orang membalik duduk mereka ke arahnya, penasaran dengan jawaban ‘ibu suri’.

“Appa kalian bisa ngamuk kalau tahu kalian sudah ribut-ribut tentang warisan di saat dia masih sehat begini.”

“Uh!” Teuki si musuh bebuyutan Eunhyuk langsung menyambar. “Makan, tuh.”

Eunhyuk merengut. Seketika semua tertawa lagi, melihat mereka tak ubahnya Tom & Jerry sejak dulu, tapi justru itu yang selalu bisa membangkitkan suasana di rumah ini.

“Daddy Siwon…” Tiba-tiba suara seorang gadis kecil, cucu pertama di keluarga itu terdengar lirih dari belakang mereka semua. Semua orang menoleh, dan menemukan Yowon sudah menuruni tangga sendirian sambil mengusap-usap matanya, tanda orang yang baru bangun tidur. Sedari tadi ia memang ditidurkan di kamar Ryeoru, berkat tidurnya yang begitu pulas dan tak juga terbangun biarpun mereka sudah sampai. Semua orang sudah khawatir dengan ia yang menuruni tangga sendiri, tapi dengan cepat bocah itu sudah meloncati anak tangga terakhir dan berlari kecil menghampiri pria yang dicarinya, dengan semua mata masih tertuju padanya.

Siwon segera mengangkat gadis cilik yang kini memeluk kakinya itu ke pangkuannya. “Apa, sayang? Kok baru bangun carinya daddy bukan eomma?”

“Tadi Yowonie ketemu Mommy Yora…”

EHH?? Semua orang langsung sibuk saling menoleh horor. Gimana ceritanya dia bisa ketemu orang yang sudah tak ada??

Tapi Siwon tetap mencoba tenang, “Lho, memang Yowonie ketemu dimana?”

“Di mimpi…” Dan fuuuh… semua orang langsung menarik napas lega. Habis kirain…

“Terus, Mommy Yora bilang apa?” Hagi, istri Sungmin, mencoba bertanya. Semua orang kembali serius menatap si gadis cilik, ingin mendengar jawabannya.

Yowon menggeleng, “Nggak bilang apa-apa…” Jawabnya polos. “Kita di tempat yang luaaas banget, banyak rumputnya—“

“Lapangan bola?” Eunhyuk si nggak-peka langsung nyeletuk ngawur. Donghae menjitaknya.

“…banyak rumputnya tinggi-tinggi…” Tapi seakan tak mendengar, Yowon tetap lanjut dengan celotehnya. Semua orang dewasa disitu akhirnya mengangguk-angguk. Oh, padang ilalang, maksudnya. “…Mommy Yora pangku Yowonie, terus kita dengar musik pakai yang di kuping itu, yang suka eomma pakai kalau lagi di mobil antar Yowonie…”

“Earset.” Ryeoru mengoreksi.

Tapi Teuki segera menyela, “Kamu dengerin musik pas lagi nyetir bawa anak?? Bahaya tahu!”

Yang diomeli hanya cengar-cengir sambil garuk-garuk kepala geje. Para wanita, terutama si ibu suri seketika geleng-geleng stres dengan sifat cuek si sulung yang ternyata tak pernah hilang biarpun sudah menjadi seorang ibu.

“…pakai itunya berdua, Mommy Yora kasih Yowonie sebelah. Musiknya bagus, Yowonie kayak pernah dengar, piano-piano gitu kayak yang Bu Guru suka main di sekolah, tapi lebih bagus… Yowonie juga kayaknya kenal sama Mommy Yora, tapi oh iya kan di rumah suka lihat fotonya…” Kembali Yowon tetap lanjut dengan ceritanya seakan tak terpengaruh ribut-ribut ayah-ibunya. Orang-orang di sekelilingnya seketika tersenyum haru, Yowon merasa mengenal Yora bukan karena sering melihat fotonya, tapi karena selama 9 bulan ia memang adalah bagian dari diri Yora…

“Tapiii,” si cilik kembali melanjutkan dengan suara lebih melengking, meminta perhatian. “Mommy Yora ternyata jauuuuuhh banget lebih cantik dari di foto… Kayak princess. Yowonie juga mau kayak princess, rambutnya panjang terus gelombang-gelombang kayak Mommy… Haluuus banget kena angin. Kok bisa ya?” Lanjutnya sambil cemberut memegangi rambutnya sendiri yang dipotong sebahu dan jatuh lurus itu.

Siwon yang barusan masih full konsentrasi menyimak putrinya segera menunduk kecewa, “Maaf deh kamu warisin rambut daddy… T.T” Gumamnya pelan.

“Eung?”

“Hehe, nggak kok.” Siwon buru-buru menutupinya. “Terus gimana lagi?”

“Sudah.” Jawab Yowon singkat sambil menengadah, tersenyum menatap Siwon. Pria itu mengusap-usap rambutnya sayang.

“Yowon-ah,” kini Ryeoru memanggilnya. Bocah itu mendongak. “Mommy Yora, yeppeuji? (Mommy Yora cantik, ya?)”

Yowon mengangguk-angguk cepat.

“Mommy Yora yeppeo, eomma yeppeo? (Cantik Mommy Yora atau eomma?)”

Teuki segera memotong, “Nonetheless question, Ryeoru. Jelas semua anak bakal jawab ibu yang selama ini mengurus—”

“Mommy Yora…” Tapi jawaban polos Yowon segera memotong teori appa-nya itu.

Teuki langsung menoleh dengan kaget ke arah putrinya. “Oh! Ternyata dia masih objektif.”

“Apa maksudmu hah??” Jewer Ryeoru segera. Satu ruang keluarga itu segera tertawa terbahak-bahak.

“Geundae, Siwon-ah…” Sungmin tiba-tiba bersuara serius di tengah gelak tawa yang ada. Siwon menoleh. “Apa kamu benar-benar nggak mau menikah lagi? Sudah 4 tahun, nggak mungkin kamu nggak kesepian, sesibuk apapun kamu coba tenggelam mengurus perusahaanmu.”

Seketika wajah semua orang juga jadi berubah mengingat kenyataan itu. Mereka seperti lupa kalau ya, di balik semua senyum dan tawa yang Siwon berikan tiap kali berinteraksi dengan mereka selama ini, pastilah melanjutkan hidup tanpa seseorang untuk berbagi lagi sangat sepi rasanya… Maka satu per satu setiap orang dewasa disana mengangguk-angguk, setuju dengan Sungmin barusan.

Ryeoru menambahkan, “Jangan pernah menahan dirimu sendiri hanya karena nggak enak dengan kami, Siwon-ah. Aku dan oppa selalu bilang kan, kalaupun kamu menikah lagi nantinya, sekali jadi keluarga ini, selamanya kamu akan terus menjadi bagian keluarga kami… Ya kan, eomma?” Ryeoru meminta pendapat pada sang ibu yang daritadi memang satu-satu orang yang belum bereaksi tentang pertanyaan Sungmin tentang Siwon tadi.

Nyonya Lee Eunjyo, ibu mereka, masih terdiam. Dan semua orang juga tahu Ryeoru sengaja ‘menembak’ langsung ibu mereka itu demi lebih meyakinkan Siwon kalau semuanya akan tetap baik-baik saja. Siwon adalah menantu kesayangan keluarga Park, sang nyonya terutama, itu jelas sekali selalu ditunjukkannya sejak dulu. Maka itu jika benar Siwon selama ini bertahan menduda adalah hanya karena merasa tak enak, sumber utamanya ya karena ia tak enak dengan ibu mertuanya ini.

“Eomma?” kini giliran Sungmin yang menegur, tak sabar melihat sang ibu terus diam. Anak-anak yang lebih tua memang cenderung lebih concern dengan kondisi psikis Siwon sejak Yora meninggalkannya untuk selamanya 4 tahun lalu.

“Bukan karena nggak enak, kok.” Siwon akhirnya bersuara duluan, mencoba memecah suasana yang mulai tegang. “Betulan, aku—“

“Karena Yora sendiri bahkan juga menghendaki Siwon begitu…” tiba-tiba Nyonya Park sudah memotong lambat-lambat, seperti masih begitu berat mengucapkannya. Semua pandangan langsung beralih padanya. “…maka nggak mungkin eomma bersikeras menahanmu… Ya, kalaupun kamu akhirnya menemukan kebahagiaan pada wanita lain, sampai kapanpun rumah ini, keluarga ini tetap akan selalu terbuka untukmu. Choi Siwon selamanya adalah bagian dari keluarga besar dr. Park Gildong.”

Sekejap, senyum merekah di bibir setiap penghuni ruang keluarga itu mendengarnya. Teuki menambahkan, “Dan adik kami yang paling luar biasa.”

“Ipar sekaligus mantan atasan ter-daebak!” Donghae mengacungkan jempolnya.

“Oppa ter-cool…” Shinmi di sebelahnya ikut nimbrung malu-malu.

Donghae seketika mendelik, “YA!”

Dan kembali rumah itu pun penuh dengan tawa. Siwon tersenyum memandang keluarganya bergantian, dan berhenti terlama pada sang ibu mertua di sebelahnya sebelum merangkulnya erat dan sayang, “Terima kasih. Kalian juga.” katanya sambil mengedarkan pandangannya ke setiap anggota keluarga Park. Ia tertawa kecil, “Tenang aja, kalau memang sudah ada yang sreg juga aku pasti nggak akan tahan-tahan lagi, kok. Tapi untuk saat ini, aku memang masih enjoy menjalaninya seperti sekarang. Betul-betul sama sekali belum kepikiran untuk menikah lagi atau apapun.” Tutup Siwon dengan senyum sambil memeluk Yowon yang duduk manis seperti boneka di pangkuannya. Seluruh keluarganya membalas tersenyum dan mengangguk mengerti.

“Yowonie mau menikah dengan Daddy Siwon kalau sudah besar!” tiba-tiba si kecil Yowon berseru memecah suasana, hasil menangkap sedikit-sedikit ‘bahasa orang dewasa’ yang baru didengarnya dari sang daddy.

Semua orang langsung membelalak kaget. HEHH??

“Yowon-ah, kenapa mau menikah sama daddy? Kenapa nggak appa?” Teuki yang paling shock langsung merespon.

“Appa kan sudah punya eomma!” jawab Yowon simpel. Sukses, satu keluarga tertawa lagi. Siwon mengacak-acak rambut putrinya gemas. Aku memang masih belum bisa melaksanakan permintaan yang kamu tujukan khusus untukku, Yora. Maaf untuk itu. Tapi jangan khawatir, karena jika kamu menanyakan kebahagiaanku, saat inipun dengan yakin aku bisa mengatakan: aku bahagia.

 

 

Teruntuk Choi Siwon

Suami tertampan, Komisaris Polisi terkeren, dan sekarang sampai setahun lagi, Marinir tergagah sedunia yang paling kucintai

 

Jagi annyeong^^

Kalau kamu menerima surat ini, berarti aku pasti sudah pergi ke tempat terindah di langit sana. Apa eomma menangis saat memberikannya padamu? Aku harap nggak, tapi rasanya sih nggak mungkin hehe. Tapi kalau kamu, DILARANG menangis sama sekali ya! Semua orang pasti akan kembali pada-Nya suatu hari, ini adalah hal yang lumrah, kan? Bilang itu juga pada eomma ya, dan sampaikan juga terima kasih karena sudah menyampaikan suratku ini 🙂

Oppa, oppa, oppa! Rasanya aku ingin meneriakkan panggilan itu untukmu sebanyak-banyaknya, menggantikan seluruh hari-hari kebersamaan kita dimana aku terlalu terbiasa memanggilmu ‘Siwon-ah’ sejak kita SMA, atau paling-paling naik tingkat menjadi ‘jagi’ sejak insiden Yesung waktu itu. Terlalu terbiasa menganggap kita seumuran karena sekolah di periode yang sama, aku sampai lupa kalau tanggal lahir aslimu sebetulnya lebih dulu setahun dariku (ingat ‘korupsi’ akte-mu? :p), dan tentu saja, semua pria pasti ingin dipanggil oppa oleh pasangannya, kan? Karena itu, OPPA! 🙂

Oppa,

Apa baby terlahir dengan sehat? Kalau masalah cantik aku nggak meragukannya sih :p Tapi apa usahaku menjaga dan merawatnya dengan baik selama ini nggak sia-sia? Aku harap begitu, ya. Karena jika benar, itu berarti aku juga sudah berhasil menjaga kepercayaan yang kamu berikan selagi kamu pergi melaksanakan tugas mulia membela negara ini. Betul kan?

Suamiku sayang,

Maaf karena aku nggak pernah memberitahukanmu tentang kondisi kesehatanku selama ini. Semua hanya karena satu alasan, Tuhan yang sudah mempercayakan baby pada kita. Komplikasi pada kandunganku mengharuskan aku menggugurkannya agar dapat selamat, mungkin saat ini kamu juga sudah mengetahuinya dari dokter. Tapi ibu macam apa yang akan tega melakukannya? Bagiku janin pun juga sebuah nyawa, dan ketika sebuah nyawa sudah dititipkan dalam tubuhku, tanggungjawabkulah menjaganya sampai titik darah penghabisan… Aku tahu kamu pasti mengerti. 🙂

Oppa,

Kamu masih ingat permintaanku hari ini? Memang nggak mudah, dan mungkin kamu akan bilang, “Apa kamu pikir dengan simply memberikan bayi kita itu berarti membantu noona??” Tapi ya, itu memang satu-satunya cara yang bisa kupikirkan saat mengetahui kondisiku itu. Mengetahui kalau nantinya baby akan tumbuh dengan baik di tangan yang tepat, mengetahui kalau nantinya bayi yang kukandung ini bisa membuat eonni yang selalu kususahkan bahagia, aku seperti selalu mendapat kekuatan untuk terus bertahan. Kamu tahu, memegang teguh tekad untuk terus mempertahankan sesuatu, apalagi ketika kamu tahu di akhir nanti nyawamu taruhannya, pasti sulit kan? Aku selalu tahu eonni dan oppa akan menjadi orangtua yang luar biasa, sebuah penyayangan yang sangat besar ketika mereka akhirnya dipaksa untuk melupakan mimpi itu karena hal buruk yang menimpa eonni. Kamu sendiri juga tahu bagaimana eonni selalu menjaga dan menyayangiku di hampir seluruh hidupnya, karena itu kamu nggak perlu khawatir, karena baby juga pasti akan mendapat perlakuan yang sama, bahkan lebih karena ia juga akan mendapat curahan kasih sayang dari sepasang orangtua yang lengkap. 🙂

(YA, Park Jungsoo dan Park Ryeoru, aku tahu kalian pasti juga akan membaca ini kan? 😀 Akan sangat menyakitkan bagi seorang anak kalau tahu ia ternyata ‘hanya’ anak angkat. Oleh karena itu, nggak perlu bercerita tentang aku, mulai saat ini anggaplah baby adalah putri kandung kalian, putri yang eonni lahirkan sendiri. Mohon bantuannya^^)

Oppa,

Aku bahkan sudah sampai memanggilmu oppa, jadi kamu harus mengabulkan permintaanku ya! :p Mulai saat ini, kamu harus hidup sendirian lagi. So act like one, Mr. Choi! Kini kamu telah kembali menjadi Choi Siwon yang bebas, Choi Siwon dengan status ‘single’ dan ‘available’. Anggaplah aku hanya sebuah titik di selembar HVS kehidupanmu; nggak ada yang bisa memungkiri aku pernah ada, tapi kamu selalu dapat menyamarkannya dengan tulisan lain kapanpun. Namun dalam kasus kita, titik ini meminta kepada pemilik HVS untuk cepat menyamarkannya! Segeralah temukan wanita yang baik dan tuliskanlah semua kenangan kalian untuk menutupiku. Bentuklah sebuah keluarga baru yang bahagia dan utuh, dengan kamu, istrimu, dan anak-anak kalian yang lucu. Doaku selalu bersama kalian. 🙂

Cintaku,

Sebetulnya banyak sekali yang masih ingin aku tuliskan disini, tapi rasanya kalau aku nggak berhenti sekarang, kertas ini bisa-bisa robek duluan karena terlanjur basah dimana-mana. Pasti saat kamu menerima ini, kertasnya sudah jadi keriting ya? Maaf ya, mudah-mudahan tulisanku dari atas-atas masih tetap terbaca^^

Lastly, there isn’t a single word that is able to fully describe how I always wish for your happiness in life. Nggak ada satu kata pun yang bisa menjelaskan dengan baik betapa aku selalu berharap agar kamu selalu bahagia. Jangan terlalu lama terpuruk dalam kesedihan, ingat kamu masih punya 1 tahun lagi waktu pengabdian sebagai pria Korea yang tangguh. Selesaikanlah tanggungjawabmu dengan baik dan segeralah kembali sebagai a more proud man. Sampaikan salam dan permohonan maafku pada keluargamu, it was a short time but I’ve always been so thankful. I am the happiest in-law in the world, ever. 🙂

 

Infinitely yours,

PYR

 

PS: untuk baby, jika suatu saat nanti kamu akhirnya membaca surat ini, kuharap jangan pernah meragukan rasa cintaku padamu, ya. Tuhan tahu betapa besarnya perasaan itu. 🙂

 

END

 

Aaaahhh…. akhirnya saya betul2 ga bisa nahan rasa gatel. siaul T.T

yah, beginilah. akhir. the series. niatnya mau dipost pas bener2 akhir tapi……..

tapi the series belom abis kok. belom. abis. *masih pundung ceritanya*

Advertisements
 
16 Comments

Posted by on February 25, 2012 in Super Junior, [THE SERIES]

 

16 responses to “[THE SERIES] THE FINALE

  1. cizziekyu

    February 25, 2012 at 1:36 pm

    Ehh…. Ini mksudnya apa? APA? APAAA? *naiktigaoktaf*

    masa Yoranya meninggal si nyah? Gak relaaa~

    aku bngung jadinya mau komen apa *masihshock*

    ini the series ga end kan? Ga END kannn??? *gemadimanamana*

     
    • lolita309

      March 1, 2012 at 10:29 am

      buhahaha, ihhh aku seneng deh tiap baca komen dari kamu, langsung hebring (?) suasana ><

      ini end-nya, tp ya emg belom akan selesai sih nge-post THE SERIES, wong masih banyak utang -.-

      ENGGA END KOK, ENGGAAA, ENGGAAAAAA *5 oktaf* :p

       
  2. upikipik

    February 25, 2012 at 3:03 pm

    Ya ampun, baru kali ini ketemu author yang posting ending padahal ceritanya mendekati ending pun belum -__-

    apakah benar kalo orang baik itu umurnya pendek?
    kaget eon. dari dulu aku merasa hidup yora perfect banget, ternyata harus mati muda. innalillah… T^T
    siwon pasti jleb-jleb klo ngeliatin eeteuk, ryeoyu, ama yewon…
    eh, tapi ntar ada cerita pas siwon mencari tambatan hati berikutnya kan?

    eh, aku dibikin nikah ha’a? HE HE HE… 😀

     
    • lolita309

      March 1, 2012 at 10:35 am

      buhahahaha, ceritanya kan nge-skip 😛 mulai ini kayaknya aku bakal alur backwards nih kkkkk~

      katanya sih gitu.. tp emg yora baik ya? kkkkk~

      GA ADA! aku gamau bikin siwon sama cewek laen! #plak XD

      belum nikah, bu…. baru rapat itu kkkk~ 😀

       
      • upikipik

        March 1, 2012 at 7:44 pm

        iya yora tu baek banget, kyak gak pernah dosa gtu eon, habis itu cantik, pinter, kaya, dirubungi cwo” ganteng macem siwon dkk.. ~…~ bikin ngiri aja… eh, tapi klo mati.a g ngiri #plak!

        ? enggak ada cwe laen? ya ampun, ini siwon cinta sehidup semati sama yora

        iya iya… BELUM nikah… iya #sabar 😀

         
  3. Ipeh

    February 25, 2012 at 7:41 pm

    Argh…Lola km sukses bikin aku mewek disepanjang baca cerita ini.
    Why??? Knp yora hrs meninggal?
    Bagaimana pun seorang anak hrs tau orang tua kandungnya. Jd menurutku Yewon jg hrs tau siwon adalah ayah kandungnya. But, ff the series km selalu bgs. Daebak lah pokoknya.
    Berharap ada epilog untuk kisah siwon dgn tambatan hatinya yg br. 😉
    Ditunggu kisah yg laennya. Fighting! 🙂

     
    • lolita309

      March 1, 2012 at 10:38 am

      waaaa jangan mewek….. btw aku juga bikinnya sampe nyaris nangis sih, mikirin kata2 di suratnya itu lhooo…. sedih banget yora-nya…. T^T

      ya paling nanti setelah dewasa jg dikasihtau sih, makanya dibawah suratnya aja yora antisipasi dg bikin PS sendiri buat Yowon 🙂

      GA ADA! gamau bikin siwon sama cewe laen! #plak :p

      makasi uda baca dan buat dukungannya sayaang 🙂

       
  4. iwang~

    February 26, 2012 at 7:07 pm

    wah~~
    berkunjung ke blog ini langsung ada endingnya…^^
    ..
    pda dasarnya kalo bca ff buatan lola, ga bisa nebak jalan crita slanjutnya,..termasuk yang ini..
    complicated, berisi, tapi ga maksain..hhe..
    salah satu author favorit..
    itu Shin Hagi, aq y?? ;P
    sneng bnget kalo iya..*pertama kali ada nama aq dlam ff*
    jeongmal gomawoyo..
    .. yang diatas itu gambaran smua ending tiap pasangan y..
    Ommo~ pada bahagia kyaknya, waloupun yora-nya dah meninggal..
    ditunggu the seriesnyaya..
    hhe..

     
    • lolita309

      March 1, 2012 at 10:48 am

      huahaha~ begitulah ><

      huaaa, iyakah?? makasi^^
      yup, itu kamu… nanti ada cerita sendirinya lg lho, cuman belum selesai 🙂

      iyaa, itu pada dasarnya ending semua psangan sih, mungkin kecuali Kim brothers ya (selain Yesung) 🙂

      sipp, makasi sayang uda bacaa^^

       
  5. tata

    February 29, 2012 at 3:21 am

    ini beneran meninggal yaa??
    abs kisah udh romantis2 dr awal kok jd meninggal
    aku anggep ini cuma mimpi
    aku anggep ga ada
    -_____-

     
  6. chaeky

    March 1, 2012 at 6:20 am

    aaaaaaaa kok gitu? ga terima kalo yoranya mati X﹏X
    sedih ya siwonnya. bagus onn. aku selalu suka ffmu (^▽^)
    the series beneran blm end donk ya. ceritanya kan blm lngkap onn. sungmin blm. unyuk blm. yesung blm. the lee blm jg. penasaran onniiiiiiiie!!!!
    onn, ga ad sekuel nih kenapa yora kasih yowon ke park couple? O.o
    ayo buat onn #plak

     
  7. megumikim

    March 3, 2012 at 5:40 pm

    jadi… endingnya kayak begini? yora meninggal? ya ampun kasian~ T^T

    perasaan eonni belum nyeritain soal teuki sama ryeoru yang gabisa punya anak deh u.u

    mana ini the series main ditamatin aja lg -___- ceritanya aja belum siap~

    aduh yang sabar ya siwon #pukpuksiwon #apaandeh

    ya baiklah komen saiia garing ==” *langsung kabur*

     
  8. Kang Hyu Ni

    March 13, 2012 at 10:16 pm

    Ahhhhh……..mewek T,T onnn….kok jadi gini?*nyanyi brng bensu**apa coba*
    Yora kok meninggal???????gak terimaaa!!!!……
    ah… ga ada happy endingnya siwon ya????kok gitu??yora idupin lagi ndunk onn??please….*narik baju author*

     
  9. Pingback: SO SICK | FFindo
  10. Vie

    January 24, 2013 at 7:09 am

    hiks.hiks.baru coment skrg. ASLI G PAKE BO’ONG. entah yg k brapa X bc ff ni,tp ttep ja nangis smpe susah napas. #makanya kl g coment,ngrasa g nghargai bgt si pnulis#
    Itu jg suratnya…aach,pokoknya trharu!
    Yowon-ah,U must love your dad!
    munculin Yowon lg y d ff mndatang.
    🙂

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: