RSS

I WILL PROTECT YOU – Part 2 of 3

22 Feb

Tangis histeris Eunseo seketika makin menjadi melihat kedua orangtuanya. Rencananya gagal sudah. Padahal sebetulnya hanya dia yang tertimpa musibah itu, tapi kini semua orang yang ia sayangi juga harus tetap lanjut memikul bebannya. Maka dalam pelukan Yoochun ia kembali berteriak histeris, marah pada keadaan, “Kenapa aku nggak boleh mati, KENAPA???”


I WILL PROTECT YOU – Part 2 of 3

(Part 1)

Written by: Lolita Choi (@lolita309)

Starring: DB5K’s Junsu, SJ-M’s Henry

Kembali bersekolah menjadi masalah paling besar bagi Eunseo pasca kejadian itu. Setelah sebulan, dengan kemauannya sendiri ia memang memutuskan kembali masuk sekolah. Semua orang khawatir, tapi ia seperti sudah tak peduli dengan apapun. Memikirkan orangtuanya, ia bahkan tak pernah coba-coba bunuh diri lagi. Ia hanya ingin menyelesaikan tanggung jawabnya bersekolah yang sudah setengah jalan untuk lulus dan memutuskan menutup telinga dan hatinya dari semua omongan orang.

…Biarpun ternyata bukan itu masalahnya.

Kembali bersekolah, di luar pemikiran Eunseo, ternyata bukan hanya urusan menghadapi gunjingan semua orang ataupun sakit hati mendengar sekolah menjadikan kasusnya sebagai pelajaran-bagi-siswi-lain-untuk-tidak-berseragam-provokatif. Masalah terbesarnya ternyata adalah kontaknya dengan pria. Biarpun ia kini sudah memakai seragam dengan sangat ‘benar’: blazer, kemeja longgar, rok selutut yang tidak dipendekkan lagi, bahkan kini ditambah lengging hitam sampai ke ujung kaki segala, Eunseo masih betul-betul tidak bisa menjalani hidupnya dengan tenang akibat trauma itu. Masih sangat untung, seperti yang pernah disebutkan, sekolahnya memiliki kelas terpisah bagi siswa dan siswi. Tapi bukan berarti gurunya juga berdasarkan gender, siswa dan siswi pun masih bisa bertemu di luar pelajaran. Tak bisa dibayangkan ketakutan yang setiap hari harus dihadapi Eunseo tanpa bisa dikontrolnya itu. Tiap ada guru pria yang mengajar sambil berputar-putar mengelilingi tiap barisan meja di kelasnya, jantung Eunseo sudah mulai berdegup kencang, dan bahkan menjadi tiga kali lipat cepatnya tiap guru itu bahkan hanya lewat di samping mejanya! Ia menunduk dalam-dalam sambil memeluk tasnya erat, keringat dingin membasahi dahi dan tangannya. Hal yang lebih parah bahkan beberapa kali terjadi di jam masuk dan pulang sekolah. Lagi-lagi tanpa bisa dikontrolnya, Eunseo tiba-tiba menjadi histeris hanya karena tak sengaja bersentuhan dengan seorang siswa yang menyerobotnya ketika terburu-buru keluar dari gerbang sekolah. Tak ingin menambah gunjingan sebagai terlalu ‘lebay’—terutama dari siswi-siswi yang tidak menyukainya (baca: fans Junsu), konsekuensinya kini ia pun harus datang lebih awal dan pulang lebih telat dari siswa lain.

Bicara tentang Junsu, ia kini sudah putus dengan cowok itu—atau setidaknya itulah yang ia yakini. Jangankan dengan Junsu, ia bahkan memutuskan sepihak persahabatannya dengan Miran, Jisook, Minsook, dan Hara. Ia keluar dari gank dengan sukarela, berteman dengan ‘orang kotor’ sepertinya tentu tidak akan baik bagi citra 4 gadis itu. Jangan tanya bagaimana reaksi mereka, tentu semuanya menolak mentah-mentah. Tapi sekeras tekad mereka untuk terus menjenguk Eunseo dari sejak hari pertama, sekeras itu juga respon Eunseo untuk terus mengusir dan menghindar jika mereka ingin mendekatinya. Mungkin karena sama-sama wanita dan mengerti perasaan Eunseo, lambat laun keempatnya pun mencoba menghormati pilihan gadis itu dan memutuskan hanya terus mengawasinya dari jauh.

Namun tidak yang terjadi dengan Junsu. Sejak kontak terakhir mereka di hari naas itu, memang tak pernah ada kabar lagi dari Eunseo. Ia tak masuk sekolah, nomornya tak lagi aktif, teman-temannya pun sepakat tutup mulut. Maka itu ketika akhirnya bisa bertemu Eunseo lagi namun hal pertama yang ia dapat adalah kata “putus”, sampai kapanpun ia rasanya tak bisa mengerti keputusan ini…

“Neo gateun saram jeongmal sirheo. (Aku benci sekali orang sepertimu).” Kata Eunseo dengan nada jengkel ketika Junsu kembali mendatanginya di kelas untuk mengajak balikan. Tentang banmal yang tiba-tiba digunakan Eunseo, Junsu sama sekali tak ambil pusing. Itu hanya akting, ia ingin dirinya ilfeel dengan kekasarannya… yang tak akan pernah terjadi. “Kita sudah membahasnya berkali-kali dan aku mulai capek. Jadi tolong, berhentilah keras kepala karena sampai kapanpun keputusanku akan tetap sama, oke?”

Junsu menggeleng. Itu tidak oke. Bagaimanapun perasaannya tak pernah berubah, memang ia sempat shock saat tahu apa yang menimpa pacarnya, tapi justru karena itu, perasaan bersalah karena bisa dibilang itu semua terjadi karena ia yang batal mengantar dan memastikan sendiri gadis itu sampai di rumah dengan selamat… Junsu begitu ingin mengganti itu semua dan menjaga Eunseo sampai kapanpun! Tapi kenapa si gadis tak mau mengerti biarpun ia sudah menjelaskannya berkali-kali?

“Kamu yang nggak mau mengerti.” Eunseo membalikkan pertanyaan Junsu dingin, ia bahkan tak menatap wajah cowok itu sama sekali dan pura-pura sibuk membolak-balik buku pelajarannya. “Realistislah: kalau bukan karena merasa bersalah, kamu juga nggak akan mau kan terus berpacaran dengan cewek yang pernah diperkosa sepertiku? Masih beruntung aku nggak hamil, apa kalau yang terjadi sebaliknya kamu bahkan juga mau mengambil alih tanggung jawab—”

“Apa kamu betul-betul harus sampai seperti ini?” Junsu memotong perkataan gadis di depannya dengan tatapan nanar. Ia tak suka Eunseo berbicara seperti itu tentang dirinya sendiri. “YA, AKU MAU. Nggak apa-apa, aku sayang kamu, aku nggak peduli apa yang pernah terjadi padamu, dan ini bukan semata karena aku merasa bersalah. Apa kamu puas?”

DEG! Sekejap tubuh Eunseo menjadi kaku, halaman buku yang sedang dibaliknya terhenti di tengah-tengah. Perlahan matanya terasa hangat sebagai kelanjutan respon atas pengakuan Junsu barusan, namun ia segera mengalihkannya dengan berdiri. “A-Aku harus ke toilet.”

Junsu ikut bangkit dari duduknya di salah satu bangku kelas 2C itu, “Eunseo—”

“Sondaejima. (Jangan sentuh.)” Respon Eunseo datar seraya memalingkan wajahnya sebelum tangan Junsu yang begitu ingin ia menatapnya dengan benar sempat menyentuhnya. Pernah dengar tentang trauma Eunseo yang ini juga, seketika jemari Junsu hanya dapat mengepal erat di udara sebelum akhirnya ia menarik tangannya kembali turun. Menyakitkan, bahkan hanya dengan melihat apa yang bisa dihasilkan sebuah pemerkosaan terhadap mental korbannya… Ia betul-betul tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan menjadi korbannya itu sendiri, apalagi sampai menyangka semua itu akan menimpa orang terdekatnya… kekasihnya sendiri. Sungguh ia mengutuk supir bangsat itu, semoga ia membusuk di penjara!!

“Geu… boda (Daripada… itu),” tiba-tiba Eunseo kembali bicara. “…aku lihat hasil try out ujianmu jatuh bebas bulan ini. Kenapa kamu malah sibuk mengurusiku dan bukannya belajar dengan benar? Apa kamu lupa tujuanmu? Universitas Yonsei. Untuk apa semua usaha kerasmu selama ini kalau akhirnya semua sia-sia hanya karena aku??”

“Kamu masih memperhatikanku? Nilai try out-ku?” Suara Junsu seketika terdengar bahagia. Eunseo buru-buru menunduk, bodoh sekali! Tapi baru ia membuka mulut untuk menyangkal, Junsu sudah kembali bicara, “Tapi ya ampun, bagaimana mungkin aku bisa fokus ujian di saat kamu—Ah!” Ia yang awalnya sempat meng-counter semua dikte dari Eunseo dengan cepat tiba-tiba seperti teringat sesuatu.

“Ya, kamu benar…” Katanya lagi. “Ayo kita buat kesepakatan: aku janji akan masuk Yonsei seperti tujuan awal, tapi izinkan aku tetap mengawasimu, menjagamu. Aku nggak akan minta agar kita balikan lagi, aku hanya ingin bisa tetap mengawasimu dari jauh: mengikuti mobil ayahmu berangkat dan pulang sekolah demi memastikan kamu tak mengalami apapun di jalan dan selamat sampai tujuan, menghalangi cowok-cowok sini kalau kamu mau lewat, yang penting aku akan melakukan semuanya tanpa perlu dekat-dekat kamu. Janji, aku hanya akan menjagamu dari jauh dan YONSEDAE BAKKE (selain Universitas Yonsei)…” Junsu tiba-tiba menaikkan suaranya, mencoba mengundang respon Eunseo lagi dengan yel-yel ceria mereka yang dulu.

Perasaan Eunseo rasanya diaduk-aduk saat ini. Airmatanya terasa nyaris menetes dengan permintaan Junsu itu, yel-yel kebiasaan mereka… Betapa sebetulnya ia tak perlu hanya mengawasinya dari jauh, Eunseo rela dijaga ketat olehnya sampai kapanpun! Ia masih begitu mencintai Junsu, tapi pria sebaik dia berhak mendapat gadis yang sebanding… yang tentunya bukan seseorang yang sudah ‘kotor’ sepertinya. Sungguh, saat inipun betapa ingin Eunseo memeluk Junsu, mencari rasa nyaman yang dulu selalu ditemukannya tiap kali memeluk cowok itu. Tapi tangannya terasa kaku, kakinya seperti dilem di lantai kelas, tubuh ini seperti bukan miliknya sendiri… Yang bisa ia lakukan akhirnya hanya berjongkok memeluk lututnya sendiri sembari terus mengangguk dengan menggigit bibir, “Eobseo (nggak ada lagi)…” Jawabnya untuk yel itu. “Maafin aku… Terima kasih…”

 

Maka 3 bulan kemudian, setelah melewati hari-hari yang tenang—yang sepertinya semua hasil kendali Junsu (penjagaan dari jauh, seperti dia bilang), saat dirinya melihat papan pengumuman di sekolah dan dengan mudah menemukan tulisan:

 

Kim Junsu, 3A. Universitas Yonsei

 

Eunseo pun tersenyum. Ia tahu Junsu pasti menepati janjinya.

 

***

 

1,5 tahun kemudian,

Seoul International Academy of Arts, ruang dosen,

“Hari ini tepat seminggu Eunseo kuliah kan?” Tanya mahasiswa asing yang di kampus juga menyambi sebagai asisten dari dosen Park Yoochun itu pada si dosennya sendiri saat mereka sedang berbincang-bincang pasca mengajar.

Yoochun tertawa miris, “Kamu masih ingat? Ya, hari ini juga sebelum mengajar aku masih mengantarnya sendiri sampai ke kampusnya yang agak keluar kota itu. Tapi well… aku pikir dengan ia akhirnya memutuskan kuliah—biarpun sedikit telat dan harus di tempat yang jauh demi menghindari orang-orang yang tahu tentangnya—itu adalah isyarat kalau ia mulai termotivasi untuk membuka dirinya dan hidup bermasyarakat lagi. Ternyata aku salah.”

Henry Lau, si asdos asal Kanada namun berwajah sangat oriental itu segera menampakkan wajah khawatir, “Maksud Hyung, Eunseo masih tetap seperti satu setengah tahun ini—nggak ada perubahan?”

“Kind of.” Si dosen yang saking merasa cocoknya (alasan utama: sama-sama Asia yang besar di Amerika Utara, AS untuk Yoochun) dengan mahasiswa ini akhirnya memintanya memanggil “hyung” saja menjawab gamang. Ia sendiri betul-betul sudah tak ingin begitu tenggelam dalam kondisi psikologis putri tunggalnya… Bukan karena tak sayang, tapi makin lama semua makin terasa menyakitkan. Dokter memang bilang, pada korban pemerkosaan, luka luar mungkin tak seberapa, tapi luka hati yang dihasilkan sangatlah luar biasa… apalagi bila korbannya adalah remaja yang notabene sudah sadar betapa berharganya kesucian mereka. Saat kejadian itu terjadi, bisa dibilang tak hanya keperawanan mereka yang terenggut, tapi juga seluruh harga diri dan hari depan mereka. Obatnya hanyalah dukungan dari orang-orang terdekat dan juga waktu, yang sang dokter sendiri tidak bisa memberikan jangka pastinya karena pasti akan berbeda di tiap korban. Dalam kasus Eunseo, dukungan penuh sudah datang dari keluarga, sahabat, bahkan pacarnya sendiri, tapi di luar dugaan ia malah menolak semuanya. Harapan mereka kini hanya ada pada sang waktu… Namun ketika sudah sekian banyak waktu terlewat dan sama sekali belum ada perubahan dari Eunseo, Yoochun rasanya sudah tak ingin percaya pada apapun lagi…

“Kenalkan aku dengan Eunseo, Hyung. Please.”

Yoochun yang barusan masih terserap dalam pikirannya sendiri buru-buru memutar kursinya demi menghadap sang asdos begitu mendengar permintaan itu, “Mau apa kamu dengan putriku??”

 

___

 

CKIT. Sore itu Yoochun menghentikan mobilnya dengan mulus tepat di depan gedung LaSalle College tempat Eunseo menuntut ilmu Fashion Design sesuai hobinya itu. Ia melepas aviator hitam yang dipakainya demi melihat jam, masih 5 menit sebelum Eunseo selesai kuliah. Baguslah, lagi-lagi ia tepat waktu dan tak membiarkan putrinya itu menunggu… (Atau siap-siaplah kena omel sang istri di rumah kalau itu sampai terjadi -.-)

“Appa.” Eunseo hanya menyapa sekedarnya dan langsung masuk mobil begitu menemukan mobil sang ayah.

Yoochun tersenyum sambil geleng-geleng kepala ringan melihati sang putri. Menyapa, masuk, duduk, memasang seatbelt, duduk tegak dan menangkupkan kedua tangan di atas rok panjangnya, dan diam sepanjang perjalanan jauh mereka sampai rumah. Miris, tapi memang itulah yang akan terjadi kecuali ada yang berinisiatif bicara padanya. Yang sepertinya akan dilakukan Yoochun kali ini.

“Eunseo-ya,” panggilnya. Eunseo menoleh. “…nanti malam ada mahasiswa appa yang mau datang ke rumah, kamu kenalan dengannya ya.”

Eunseo menelengkan kepalanya, nyaris bergidik, “MahasisWA?”

“Um, dia asdos kesayangan appa, kayaknya appa pernah cerita deh. Nanti appa temani, nggak apa-apa kan?”

Eunseo mengangguk kecil sebelum kembali menatap lurus ke pemandangan di depannya. Tak masalah, ia hanya tinggal bersikap seperti saat pengenalan murid baru di kampus seminggu lalu…

 

Malamnya,

“Eunseo? Aku Hen—”

“Aku pernah diperkosa.” Kalimat itu seperti meluncur begitu saja dari bibir Eunseo bahkan sebelum mahasiswa sang ayah menyelesaikan perkenalannya. Ia tak peduli lagi, ini untung saja Yoochun sedang pamit sebentar membantu Min membawa teh dan cemilan, kalau tidak bisa-bisa ia sudah dimarahi!

Sekejap kata-kata pria berambut coklat di hadapan Eunseo itu terhenti. Biarpun tak lama, sebuah senyuman tulus terbentuk di bibir merahnya. Ia menatap Eunseo ramah, “Ara. Ije buteo jikyeojulgeoya. (Aku tahu. Mulai sekarang aku akan melindungimu.)”

 

____

 

“Eunseo, ayo dong, Henry bukan supir, Sayang. Duduk di depan ya.” Min, ibu Eunseo, segera mengingatkan. Tapi Eunseo tetap bergeming dalam duduk tegaknya di jok belakang SUV biru bermerek KIA milik Henry.

Pria berdarah Hongkong-Taiwan yang masih berdiri di luar bersama suami-istri Park itu menatap Eunseo sejenak, sebelum akhirnya tersenyum menatap Min, “Gwaenchanayo, Hyungsunim. Pada dasarnya, dia mau ikut pergi denganku berdua saja juga sudah kemajuan, kan?”

“Wah, kamu nggak tahu perjuanganku membujuknya.” Yoochun buru-buru meralat ke-PD-an Henry. Dengan segera mata sipit si pria yang lebih muda menatap dosen favoritnya bingung.

 

Sampai tadi siang,

“No, thanks, Dad.” Eunseo kembali menolak permintaan ayahnya agar ia pergi makan malam dengan Henry untuk kesekian kalinya sejak malam kemarin, pasca 2 hari ia berkenalan dengan seorang Henry Lau. Ia tersenyum tipis pada Yoochun sebelum kembali pada buku yang dibacanya.

“Tapi kenapa? Dari kemarin kamu selalu menolak tanpa alasan… Kalau kamu takut karena hanya pergi berdua, appa jamin dia nggak akan berani macam-macam. Appa pasti bakal bunuh dia duluan sebelum bunuh diri kalau dia berani berbuat yang nggak-nggak sama kamu. Ne?”

Eunseo hanya menggeleng pelan tanpa beralih dari bukunya, dan bahkan tak termakan sempilan candaan kecil Yoochun yang coba dilancarkannya tadi sama sekali. ‘Om-om’ kita yang penuaannya sepertinya terhenti di pertengahan umur 20-an itu mengerling putrinya sedih, “Appa kira dengan kamu sudah minta kuliah, kamu sudah mantap untuk move on, tapi jangankan teman cowok, teman cewek pun appa nggak pernah lihat bersamamu. Heokshi… bukan karena belum apa-apa kamu sudah menutup diri dengan mengatakan apa yang pernah terjadi padamu kan?”

DEG! Eunseo makin menunduk dalam bacaannya, berusaha menutupi ekspresi yang dihasilkan tebakan super tepat sang ayah itu. “Memang itu kenyataannya kan?” Ia akhirnya menjawab setelah berhasil mengumpulkan segenap ketenangannya lagi. Yoochun hanya mampu mengepalkan kedua tangannya dalam diam, betul-betul merasa sebagai seorang ayah yang gagal tiap kali ia harus mengingat kembali peristiwa yang menimpa putri tunggalnya itu, ditambah akibatnya adalah jiwa putrinya yang juga seakan menghilang sejak hari itu… “Appa sendiri juga sudah menceritakannya pada Henry itu, bukannya sama saja?”

“Darimana kamu tahu?”

“Dia bilang sendiri kemarin.”

Yoochun menghela napasnya sebelum memutuskan duduk di pinggir ranjang sang putri, tepat di sebelah gadis yang bahkan di malam musim panas ini tetap rela memakai sweater dengan leher tinggi, celana panjang dilengkapi kaos kaki, salah satu perubahan sejak setahun lalu, yang biarpun tak pernah ia katakan alasannya tapi Yoochun selalu tahu kenapa… Airmata tak terasa mulai menitik di ujung mata ayah muda itu melihat putrinya, tapi Yoochun buru-buru menghapusnya. Pelan-pelan ia merangkul Eunseo, “Kamu mau dengar cerita tentang Henry?”

Eunseo menoleh pelan.

“Kamu ingat, appa memperkenalkan Henry kemarin padamu sebagai asisten dosen yang sudah appa anggap adik sendiri. Sudah sejak lama appa selalu cerita tentang keluarga ini, terutama kamu, padanya. Appa ingin jadi appa yang bisa bersahabat dengan kamu, anaknya, dan appa pikir Henry yang cukup sebaya denganmu pasti akan lebih mengerti semua problematika remajamu dan lain-lainnya. Dari mulai kamu yang suka marah-marah kalau appa masuk kamarmu tanpa izin, waktu pertama kali appa tahu kamu punya pacar tentang Kim Junsu,” Yoochun mengambil jeda sebentar disini karena tiba-tiba wajah Eunseo yang langsung terlihat kaku. “…sampai akhirnya tentang kejadian itu…

“Appa nggak tahu lagi dengan siapa harus bercerita, ketika di rumah appa-lah yang seharusnya jadi tempat kalian berdua bergantung, padahal appa sendiri sama frustasinya. Raga putri appa yang memang masih hidup tapi jiwanya seakan sudah menghilang sejak kejadian itu, eomma-mu yang tak hentinya menangis setiap malam, biarpun hanya sebagai pendengar, tapi setidaknya karena Henry beban appa seakan terbagi. Oleh karena itu, sejak awal appa sama sekali nggak berencana menjodohkan kalian. Tapi biarpun begitu appa yakin, kalau sekarang Henry ingin berteman denganmu, itu semua tulus.”

Eunseo menggigit bibirnya, susah payah menahan seluruh perasaan iba untuk ‘pria nomor 1’-nya. Ternyata ia sudah begitu menyusahkan… Tapi apa yang bisa ia perbuat?

“It’s time to move on, Darling. Appa sudah begitu lama kehilangan Park Eunseo, putri yang bagaikan matahari di rumah ini. Appa kangen Eunseo yang selalu melengos dari pelukan appa setiap pagi, appa bahkan kangen sensiin semua teman cowokmu yang datang kemari…”

Tes. Sebutir air mata terlihat jatuh membasahi buku di pangkuan Eunseo, sebelum akhirnya ia memutuskan mengangguk tanpa menoleh. Berbohong pun tak apa, asal ayahnya tidak harus terlalu mengkhawatirkannya lagi… “Hanya sebagai teman, appa.”

 

“Hyung cerita banyak tentang kamu.” Henry mencoba memecah kesunyian yang seakan sudah mencekam di mobil itu sejak mereka tancap gas dari rumah keluarga Park Yoochun. Eunseo hanya terlihat merespon dengan anggukan dari jok belakang, itupun Henry cuma melihatnya dari cermin mobil. “Awalnya, sama seperti mahasiswa-mahasiswa lain di kampus dan juga mahasiswi-mahasiswi yang akhirnya patah hati karena kenyataan ini, aku sama sekali nggak percaya kalau Hyung sudah menikah, apalagi sampai sudah punya anak, sudah ABG pula! Tapi sejak kami jadi dekat karena aku terpilih menjadi asdosnya sekitar 2 tahun lalu, sedikit demi sedikit aku mulai percaya.

Mata hyung selalu bersinar-sinar tiap kali cerita tentang keluarganya, apalagi kamu. Dia begitu bangga dengan kamu; Eunseo sekolah di SMA favorit, Eunseo dengan bakat desainnya, Eunseo bayinya yang tercantik di dunia… Dan dari situ aku baru tersadar: ah, ya, dia memang seorang ayah…” Henry menoleh sekilas ke belakang, ke arah Eunseo sembari tersenyum lagi. Sepertinya itu memang adalah hobinya.

Tapi Eunseo tetap diam menunduk.

“You sure don’t talk much now.” Henry hanya mengangkat bahunya sambil kembali sibuk menyetir. “Sejak kepindahanku dari Kanada kemari, nyaris di seluruh harinya hidupku dipenuhi oleh seorang gadis bernama Park Eunseo. Aneh, aku bahkan nggak pernah bertemu dengannya sama sekali, tapi rasanya tiap hari aku seperti ikut tumbuh bersamanya, mengenalnya luar-dalam. Bawelnya kamu, cerianya kamu… Sok tahu, ya? Tapi appa-mu memang betul-betul pintar bercerita. Aku bahkan nggak butuh daya khayal setinggi langit hanya untuk bisa betul-betul membayangkan cerianya hidup seorang Park Eunseo, indahnya masa remajamu. Dan tanpa aku sadari, dari hari ke hari rasa sayang itu mulai tumbuh.

“Aku nggak pernah menyangka semuanya akan berjalan seperti ini. Maksudku, kamu yang sudah punya pacar… Aku nggak berharap lebih, hanya dengar cerita tentangmu dari Hyung pun aku sudah cukup bahagia. Tertawa-tawa tiap kali ia menggerutu tentang ‘pacar keren’-mu, ikut bangga saat ia cerita tentang prestasimu, dan tentu… turut sedih dan shock ketika musibah itu terjadi. Ah, itu, kita sudah sampai.”

Eunseo mengangkat kepalanya dan segera terlihat hamparan sebuah pantai dengan ombak berdebur-debur dari kaca depan mobil yang lebar. “Ini—”

“Yuk, keluar.” Tiba-tiba Henry sudah menawarkan tangannya dari pintu di sisi Eunseo dengan, seperti biasanya, sebuah senyum lembut. Eunseo menunduk cepat sebelum akhirnya memutuskan keluar tanpa bantuan pria muda yang bersamanya itu. Belum, sampai kini pun ia belum bisa bersentuhan sama sekali dengan pria manapun—bahkan awalnya termasuk ayahnya sendiri—sejak kejadian itu. Malu, Henry buru-buru menarik lagi tangannya dan mengibas-ngibaskannya di udara, sok pegal.

“Henry Lau. Ne.” Henry menyebutkan namanya pada resepsionis untuk mencairkan reservasinya. Dengan cepat seorang pelayan memandu jalan mereka lebih masuk ke dalam restoran yang betul-betul berada di pinggir laut itu, di atas sebuah pantai. Henry memandang Eunseo yang tetap berdiri ketika ia sendiri sudah nyaris melepas sneakers-nya agar bisa menginjak pantai dengan bebas. “Wae? Take off your shoes. Aku tahu ini tempat favorit kalian sekeluarga. Kita punya selera yang sama lho. But you know, the best seaside restaurant in the world is the one at Jimbaran Beach, Bali. Hahaha aku kebanyakan bicara lagi, ya? Makanya lepas sepatumu. Kata Hyung kalian belum pernah kemari lagi sejak rumahmu jadi suram. Apa kamu nggak kangen rasanya menginjak pasir-pasir lembut ini? Waah, nyamannya… Rasanya aku bisa lari dari ujung ke ujung, ya Park Eunseo, ppalli yeogi wa (hei Park Eunseo, cepat kemari)!!” Dalam sekejap Henry sudah betul-betul berlari begitu saja ke bibir pantai dan memanggil-manggil Eunseo dari sana dengan ramainya. Rasanya kedua ujung bibir Eunseo seperti sudah tertarik, ingin tersenyum melihat pemuda yang tiba-tiba tak ubahnya anak kecil bertemu mainan itu.

 

It’s time to move on, Darling.

 

Is it? Apa ini memang betul-betul saatnya ia mencoba membuka diri lagi? Tapi bagaimana dengan traumanya? Maka pelan-pelan, Eunseo pun berjongkok, mencoba melepas pump shoes yang membungkus kakinya. Biar tubuhnya saja yang menjawab kondisi psikologinya itu.

Henry tersenyum ketika dengan menunduk, Eunseo perlahan menghampirinya seraya menjinjing sepasang sepatu cantik berwarna abu-abu. Senyumnya tambah berkembang begitu ia menyadari satu hal lagi, “Kamu bahkan melepas kaos kakimu.”

 

***

 

“Apa nggak apa Henry-ssi tiap weekend selalu kemari?”

Ini adalah pertanyaan Eunseo setelah nyaris 2 bulan ia mengenal seorang Henry Lau, mahasiswa pindahan dan berkebangsaan Kanada di kampus tempat ayahnya, Park Yoochun, mengajar. Orang yang hanya dalam 2 hari mampu mengikis sedikit demi sedikit trauma dan obsesif berlebihan atas penutup tubuh yang dimilikinya sejak pemerkosaan yang menimpanya terjadi. Dan sejak itu, tak ada Sabtu dan Minggu yang terlewat di tiap minggunya tanpa Henry mengunjungi rumah bukit keluarga Park Yoochun. Sedikit demi sedikit Eunseo juga terlihat mulai membuka diri dengan curahan perhatian dari pemuda itu, biarpun tentu, ia masih sekuat mungkin mencoba berhati-hati dan membatasi dirinya. Terlihat dari segala keformalan dan honorifics yang masih ia gunakan tiap berbincang dengan Henry dan juga no skinship rule-nya, bahkan hanya untuk tak sengaja bersinggungan sedikit pun.

Henry tertawa, “Ani. Apa kamu merasa terganggu? Atau… jangan-jangan Hyung mulai sensi-sensi lagi seperti waktu pada pacarmu itu? Aduh, siapa namanya?”

Tangan Eunseo yang baru saja meraih cangkir tehnya dalam sekejap terhenti di udara. Junsu. Kim Junsu! Rasanya ia ingin meneriakkan nama itu, mengeluarkan seluruh kerinduan dan perasaan yang sekuat tenaga terus dan masih ia pendam demi kebahagiaan laki-laki yang ia cintai itu. Junsu Sunbae-nya pantas mendapat gadis lain yang lebih baik darinya, seorang ‘gadis’ dalam arti harfiah, perempuan yang tidak punya catatan kelam seperti dirinya, bukan perempuan yang sudah ‘kotor’ seperti dirinya.

“Oh, mian.” Henry buru-buru menoleh ke arah lain dan sibuk merutuk dirinya sendiri begitu sadar sudah salah ambil topik. Biarpun perlahan, senyum kecil mulai terlihat terbentuk di bibir Eunseo melihat tingkah ekspresif Henry yang sekarang tambah menoyor-noyor jidatnya sendiri sambil masih sibuk komat-kamit membodohi dirinya kenapa bisa sampai keceplosan.

“Gwaenchanayo.” Pelan Eunseo merespon yang langsung membuat Henry menoleh lagi padanya di meja taman belakang rumah asri itu. “Bicara tentang appa, bagaimana dia di kampus? Apa dia mengajar dengan baik?”

Henry tersenyum melihat satu per satu kunci hati Eunseo yang mulai terbuka sejak pertama bertemu dengannya. Dan kali ini: ia sudah kembali bisa membangun sebuah topik pembicaraan sendiri, tak lagi pasif dan hanya sekadar merespon.

“Oh, he’s fine! He’s good! Dia dosen mata kuliah Musicology yang paling laku, biarpun pada dasarnya di separuh jam kelas kerjaannya hanya menyuruhku demonstrasi instrumen dan mulai magabut—”

 

Di balik sebuah pohon cemara kecil tak jauh dari situ,

“Apa menurutmu sedikit demi sedikit sekarang Eunseo kita sudah mulai kembali ke dirinya lagi? Lihat, dia bahkan sudah berani nggak pakai kaos kaki dan kaos kerah tinggi lagi.” Min berbisik-bisik sambil tetap berusaha mempertahankan dirinya dan sang suami tetap tersembunyi demi mengintip progress sang anak.

Yoochun menutup celah di antara dua tangkai cemara yang sedari tadi ia jadikan media mengintip sebelum menjawab, “Sepertinya sih begitu… Tapi apa mereka betul-betul harus membicarakan aku?? ‘Magabut’??”

 

___

 

Eunseo mematut-matut dirinya sendiri di depan kaca salon khusus wanita yang sengaja ia kunjungi hari ini untuk potong rambut itu. Ini pertama kalinya ia berani melakukan sesuatu pada rambutnya lagi sejak kejadian itu. Dan semua hanya karena sebuah kalimat yang didengarnya semalam:

“Menurutku kamu lebih cantik dengan rambut pendek.”

“Eung?” Eunseo menggumam bingung akan komentar random Henry yang tahu-tahu diucapkannya begitu saja itu, sebelum akhirnya menyentuh rambutnya sendiri yang memang sudah 2 tahun ia biarkan memanjang begitu saja. Bukan karena ia memang ingin punya rambut panjang, ia hanya ‘butuh’ rambut panjang itu untuk menutupi wajahnya dari pandangan semua orang. Setidaknya jika ia berjalan menunduk seperti biasanya, rambut lurusnya yang jatuh akan secara alami membuatnya tidak begitu dikenali, yang biarpun hanya sedikit tapi mampu mengurangi rasa malu akan dirinya sendiri… “Ini… geunyang (cuma)…”

“Hehe, just saying. Habis semua foto-foto terakhir yang Hyung tunjukkan padaku mengabadikan kamu yang berambut pendek, bahkan nggak menyentuh pundak sama sekali. Dan menurutku, that suits you SO well. Padahal cuma lihat foto tapi rasanya keceriaanmu bisa langsung menular padaku.”

Eunseo terdiam. Bukan karena apa-apa, hanya tiba-tiba ia jadi teringat Junsu… dan juga joke yang pernah ia ucapkan

 

Sekitar 2 tahun lalu,

“Kamu tahu nggak kenapa kebanyakan cowok suka cewek yang rambutnya panjang?”

“Ha?”

Junsu sibuk menahan tawanya sendiri, karena pada dasarnya dia memang bukan tipe cowok yang humoris, tapi cepat dirangkulnya gadis berambut sebahu—sepanjang-panjangnya rambut seorang Park Eunseo—itu sambil berkata, “Karena kalau rambut panjang kan manggilnya bisa sambil dielus begini: Saya~ng…” Katanya sambil mengelus puncak kepala Eunseo sampai ke punggungnya. Si korban hanya menelengkan kepala, masih tak mengerti.

“….nah tapi,” Junsu kembali melanjutkan. “kalau rambutnya pendek, manggilnya kan juga jadi cuma bisa: ‘Sa-yang.’” katanya sambil betul-betul mengaplikasikannya pada rambut pendek Eunseo. “Habis rambutnya juga sudahan…

JRENG. Panggilan ‘Sayang’ dengan nada sungguh maksa, malesin, dan joke yang sungguh maksa pula, tapi cukup membuat Eunseo meledak terpingkal-pingkal saat itu—jelas berdua Junsu juga yang masih tak percaya bisa-bisanya ia ngegombal begitu. Biarpun pada akhirnya tetap saja Eunseo tak pernah memanjangkan rambutnya juga dengan alasan tak betah, toh Junsu tak pernah protes. Ia menyayangi sang pacar apa adanya.

Flashback end

“Kok diam?” Tegur Henry begitu melihat gadis di hadapannya malah hanya terus menatapnya tanpa respon. “Oh no, jangan bilang kamu mikir I’m kind of GAY karena tiba-tiba komentar tentang masalah rambut begini?? NO, I’M NOT, I really am not! Jinjjaya, jinjja! I am straight, like, super-straight! Full-straight!”

Dan di masa kini pun, Eunseo sukses kembali tertawa terbahak-bahak hanya karena masalah rambut. Pria ini betul-betul sama, tapi sekaligus juga berbeda dengan Junsu Sunbae-nya. Sedikit demi sedikit ia merasa mulai bisa mempercayakan lagi hatinya pada orang lain…

 

“Aigoo, Sooyoung-ssi boda nan niga deo ippeo… (Aigoo, menurutku kamu bahkan lebih cantik dari Sooyoung-ssi…) Potongan itu cocok sekali untukmu.” Ahjumma pemilik salon yang barusan juga menangani potong rambut Eunseo itu masih saja sibuk membanding-bandingkan potongan majalah dengan foto SNSD Sooyoung yang memang sengaja dibawa Eunseo sebagai contoh model rambut pendek yang diinginkannya, dengan si tamu salonnya itu sendiri. Eunseo hanya tertawa kecil seraya menggeleng sopan, itu tidak mungkin… “Tapi agassi, kenapa aku belum pernah melihatmu di daerah ini ya?”

“Ah, saya memang nggak tinggal disini, Ajumeoni.” Jawab Eunseo. Tentang alasan kenapa ia merasa perlu pergi ke daerah lain segala hanya untuk ke salon, sepertinya kita semua sudah tahu, bukan? “Geureom, saya pergi dulu. Terima kasih pelayanannya.”

“Ne, annyeonghikaseyo, dasi oseyo… (Ya, selamat jalan, silakan datang kembali…)”

Sooyoung-ssi boda deo ippeo… Eunseo melangkah keluar dari salon sambil senyum-senyum sendiri. Iyakah? Masa sih? Dia lebih cocok dengan potongan ini daripada seorang SNSD Sooyoung? Ah, dia jadi lebih ingin cepat-cepat mendengar tanggapan Henry. Seharusnya jam segini cowok itu sudah datang menjemputnya…

Drrrt. Drrrt.

Eunseo buru-buru merogoh saku jeans-nya sambil tetap melongok-longok di luar salon, mencari setidaknya penampakan ujung moncong depan KIA kesayangan seorang Henry Lau. Belum ada.

 

Eunseo-ya, disini macet banget, kayaknya aku bakal putar lewat jalan lain. Makanya kamu bisa nggak kira-kira tunggu di ujung terowongan, di belakang tempat kamu minta aku jemput aja? Nggak jauh kok. Nggak apa-apa kan?

 

Kekhawatiran sedikit tersirat di wajah Eunseo begitu melihat SMS yang ternyata dari orang yang ditunggunya itu. Tapi apa dia mau egois tetap minta jemput disini padahal itu harus membuang-buang waktu Henry bermacet-macet ria? Cowok itu memang dengan susah payah curi-curi waktu di sela kuliah dan jadwal asdosnya hanya demi menjemput Eunseo hari ini, karena itu Eunseo merasa ia juga tak boleh merepotkan terlalu banyak lagi…

Dengan hati-hati dan dag-dig-dug Eunseo akhirnya memberanikan diri berjalan sendirian di daerah yang tak begitu dikenalnya itu. Untunglah ternyata terowongan yang dimaksud Henry memang dekat, dari sini pun ia sudah bisa melihatnya. Masalahnya hanya tempat itu terlalu sepi, tapi mudah-mudahan saja violinis itu betul-betul tidak akan lama.

 

Sementara itu di tempat Henry,

TIIINN! TIIIN!

Henry berkali-kali mengklakson mobilnya tak sabaran. Ya iyalah, gimana mau sabar?? Sudah putar balik pun ternyata masih stuck begini, dan bahkan si terowongan itu sudah di depan mata, jika saja dia bisa maju sekitar 3 mobil lagi, tinggal menyusuri terowongan pendek atau mungkin lebih tepatnya disebut bypass yang jarang dilewati orang itu saja, ia pasti sudah bisa bertemu Eunseo.

Eh… ‘jarang dilewati orang’?

Ya ampun, tempat sepi! Dan ini sudah lebih dari 5 menit… dia lupa trauma Eunseo!!

 

Tap. Tap.

“Henry-ssi?” Eunseo sudah menoleh untuk kedua kalinya selama 5 menit lebih ini tiap kali ia mendengar suara sekecil apapun dari terowongan di belakangnya. Uh, bukan lagi. Yang pertama suara mobil, tapi bukan milik Henry, dan kini suara langkah 2 pejalan kaki pria. Mereka berjalan sambil mengobrol dan mungkin bahkan tidak menyadari keberadaan Eunseo sama sekali, tapi alam bawah sadar Eunseo jelas tidak melihat itu semua. Gadis itu buru-buru menunduk sambil memeluk tas bahunya erat-erat begitu melihat 2 pria itu, dengan sedikit demi sedikit menyeret langkahnya kecil-kecil makin ke pojok dengan harapan menjadi tidak terlihat tiba-tiba. Ia memejamkan matanya erat, sebentar lagi mereka juga pasti menghilang, hanya lewat seperti pejalan kaki lainnya.

…maka itu tubuhnya pun makin terasa bergetar begitu didengarnya suara langkah kaki mendekat. Eh, kenapa? Jadi mereka bukan pejalan kaki biasa? Kenapa mereka mendekatinya??

Kecil-kecil langkah mundur Eunseo tak terasa jadi makin besar, ia meraba-raba dinding mulut terowongan gelap itu, hanya demi menyadari kalau ia sudah betul-betul terpojok. Tak ada tempat lagi. Matanya masih dipejamkan, dan makin erat tiap langkah kaki itu mendekat. Apa yang mereka inginkan darinya?? Kenapa?? Eunseo buru-buru berjongkok ketakutan, dan langkah itu malah makin terdengar cepat, seperti berlari!

“Ojima, ojima… (jangan datang, jangan datang…)” bisik Eunseo panik, nyaris menangis. Sungguh dia takut sekali, dia takut sekali… Maka ketika malah derap lari lebih kencang yang mampir di telinganya, Eunseo kontan histeris sambil menutupi kepalanya, “Henry-ssi, Henry-ssi!! HENRY-SSI!!”

“Eunseo-ya, Park Eunseo! Na-ya, na! (Aku, ini aku!)” Suara seorang pria muda yang akhir-akhir ini begitu akrab di telinga Eunseo segera bergaung di terowongan sepi itu seiring rengkuhannya memeluk figur si gadis yang berjongkok gemetar.

Eunseo betul-betul gemetaran, dan bahkan masih gemetar luar biasa begitu perlahan membuka matanya karena suara yang ia kenal itu, “Henry-ssi…”

“Na-ya… (Ini aku…) Aku secepatnya lari kesini begitu ingat kalau kamu takut di tempat umum sendirian, maaf karena aku sudah lupa…” Henry mengangguk dan kembali menarik Eunseo dalam pelukannya. Ia mengusap-usap rambut pendek gadis itu, “Sshh, tenangkan dirimu… Sekarang sudah nggak apa-apa…”

Perlahan tangis Eunseo malah pecah, seiring pecahnya juga segala trauma yang dimilikinya. Rengkuhan nyaman Henry, rasa aman yang dihasilkannya, sentuhan hangat kulitnya… Di luar dugaan, secepatnya ia malah mengalungkan lengannya di leher Henry, “Aku mohon jangan pernah tinggalin aku… Aku nggak tahu gimana jadinya aku tanpa kamu… Jangan pernah tinggalin aku…”

Henry sekejap terhenyak begitu merasakan sikap proaktif pertama yang bisa dilakukan Eunseo sejak ia mengenalnya itu. Sebuah pelukan erat… Maka itu, menahan seluruh rasa syukur dan terima kasih luar biasanya pada Tuhan agar tidak begitu meledak, Henry pun memejamkan matanya dan membalas pelukan Eunseo, mengelus rambut pendeknya penuh kasih, “Untuk yang itu kamu nggak usah khawatir, karena sejak awal aku sudah bilang akan melindungimu, kan…”

TBC

Advertisements
 
5 Comments

Posted by on February 22, 2012 in DBSK, Super Junior

 

5 responses to “I WILL PROTECT YOU – Part 2 of 3

  1. upikipik

    February 22, 2012 at 9:29 pm

    smile… smile… smile….
    dari part 1 langsung terbang ke sini. Keren eonni!!! aku kangen baca ff eonni. akhirnya sekarang kesampaian.
    penggambaran waktu eunsoo trauma dan gak-berani-deket-ama-cwo-biarpun-jaraknya-meteran-atau-cuma-papasan bagus banget, banget banget. dan henrynya henry banget. Hampir kebayang 😀 Jeongmal! ^^v
    can’t wait for the next part~

     
    • lolita309

      February 23, 2012 at 10:19 am

      kyaaaang~ aku jg kangen sama kamu, pembaca setiaku sayaanggg~~ *peluk-peluk-kisseu* :*

      waa makasi sayang pujiannnya^^ kenapa bisa ngegambarin dengan (mungkin) bagus, karena sedikit-banyak aku tau rasanya…. hehehe dulu jaman SMA pernah jd korban ‘pelecehan’ kecil.. tp padahal cuma kecil aja aku traumanya luar biasa, beneran sampe takut dkt2 cowo apalagi yg ga dikenal, bahkan sm temen sekelas sendiri…. eh jadi curhat. hahaha gpp lah ya, pelajaran banget deh buat cewe2 biar lebih hati2, yg kayak gini bnr2 bs kejadian sm siapa dan dimana aja 🙂

      huahaha, iyakah? aku malah mikirnya henry yg ‘bocah’ kok kayaknya aku bikin ‘laki’ banget disini 😛

      okaaaay sip! 🙂 as always, makasi uda baca sayang^^ :*

       
      • upikipik

        February 23, 2012 at 8:16 pm

        O.O kok samaan?? aku juga pernah jadi korban ‘pelecehan’ kecil. waktu SD malah. aku langsung jadi pendiem dan sempet takut ama cwo. Makanya aku bisa muji” karena penggambaran yang eonni bikin mirip sama yang pernah aku rasain dlu 🙂
        Ah, eonni… kok ada ya cwo” bejat di dunia ini -____-”
        prihatin juga ama korban-korbannya. butuh waktu yang lama buat bisa menatap dunia lagi, itu pun belum tentu bisa sepenuhnya sama kayak dulu…. *sigh
        and what is needed to cure the wound is ‘true love’, hahaha! i love this fanfic 😀 *peluk-peluk-kisseu* :* lola eonni*

        yah, henry in different way lah. bocah kiyut” gitu tapi lagi jatuh cintrong. beneran kok, hampir kebayang ^^

        oh iya eon, temenku ada yang suka baca ff di sini, tapi kayaknya dia masih malu buat komen. niatnya aku mau kasih tau eonni dulu baru entar aku bujuk” lagi :p

        hehe, sama” eonni
        fighting nulisnya! ^^

         
  2. hwangminmi

    February 23, 2012 at 8:44 pm

    Ah syukurlah eunseo udah mulai membuka diri lg~ \(•ˆ▽ˆ•)/
    Di part 1 junsu, di part 2 henry ya :3
    Terus itu junsu udah gak ada contact lg sama eunseo? Udah ilang gitu aja? .-.
    Aaaaa neomu johaaa~ ditunggu part 3 nya eonni~ XD

     
  3. cizziekyu

    February 23, 2012 at 8:47 pm

    ARGH PART 3!! I NEED PART 3!!! SeSuju ama upik diatas, penggambaran trauma Eunseonya pas bgt! Brasa feelnya…
    Penasaran, eunseo ntar sama Henry ato ntar d part 3 junsu tiba2 muncul lg??

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: