RSS

I WILL PROTECT YOU – Part 1 of 3

21 Feb

I WILL PROTECT YOU – Part 1 of 3

Written by: Lolita Choi (@lolita309)

Starring: DB5K’s Junsu, SJ-M’s Henry

 

 

“Pagi-pagi-pagi!!”

Seorang gadis berseragam kemeja lengan panjang putih, lengkap dengan pita merah tipis terikat di kerah sebagai dasi dan rok rimpel navy blue 10 cm di atas lutut khas siswi SMA itu terlihat berlari-lari menuruni tangga kayu rumah keluarganya sambil mencoba mengikatkan selembar kemeja bigsize kotak-kotak warna-warni di sekeliling pinggangnya. Nah, selesai! Mencangklong ranselnya lagi dengan benar, tanpa perlambatan sedikitpun gadis itu dengan ceria malah terus masuk ke dalam dapur alih-alih menyapa ayahnya yang sudah merentangkan tangan, siap memeluknya di ruang makan tepat di sebelah dapur tadi. Eunseo, nama gadis itu hanya terkikik ketika ayahnya pundung karena terkecoh.

“Eomma, sini!” Eunseo cepat-cepat membantu dengan mengambil alih piring oval ceper berisi nasi goreng yang sangat harum dari tangan sang ibu. Si wanita berperawakan mungil yang masih terlihat sangat muda itu segera tersenyum seraya mengikuti sang putri dengan langkah ringan setelah melepas apronnya.

“Jal meokgesseumnida!” Koor Park Yoochun, si tuan rumah yang masih sangat tampan di penghujung usia 30-annya, dan sang putri berbarengan sebelum menyantap sarapan masing-masing. Sang koki, si nyonya rumah Song Min, mengangguk sambil ikut mengambil sendoknya, juga siap makan dengan suasana ceria seperti biasanya di rumah ini. Seperti biasanya, selalu dan setiap hari seperti ini sejak pernikahannya 18 tahun lalu dengan pria di seberang yang kini sedang sibuk adu ledek penuh canda dengan gadis ABG kesayangan mereka. Dan suasana ini, tentu, memang semakin tambah ceria sejak kehadiran si gadis ABG itu dalam bentuk bayi mungil 17 tahun lalu. Buah cinta mereka, harta karun yang tak terhingga berharganya.

Min tersenyum, betapa bahagianya ia karena tiap hari mampu merasakan kehangatan keluarga seperti ini. Suaminya, Park Yoochun, dan putri remaja mereka yang rasanya tiba-tiba saja sudah menginjak 17 tahun. Jarak umur mereka yang tidak begitu jauh akibat aksi nikah muda yang ia dan Yoochun lakukan dulu pun malah membuat mereka mampu dekat dengan putri mereka itu layaknya sahabat. Rumah mereka pun otomatis selalu penuh kebahagiaan, biarpun ia tak pernah tahu kalau sebentar lagi, matahari akan segera meredup dari naungan cerianya di kediaman itu.

 

***

 

“Eunseo-ya!”

“Eunseo!”

“Minsook, Hara!” Eunseo melambai-lambai penuh semangat begitu melihat duo yang sudah menyapanya bahkan sebelum ia sempat menutup dengan sempurna pintu mobil sang ayah sehabis turun. Mereka adalah dua dari empat karibnya sejak kelas satu. “Appa, bye bye!” Buru-buru gadis berambut tak sampai sebahu dengan poni dijepit rapi itupun melambaikan selamat tinggal pada pria nomor satu yang paling disayanginya di dunia ini: sang ayah yang memang selalu meluangkan waktu mengantarnya sekolah sebelum pergi kerja.

Yoochun di depan setir, mengenakan kemeja rapi warna hijau lime yang pastinya akan makin menambah kesangsian orang-orang kalau ia sudah berusia 39 tahun dan bahkan sudah punya anak gadis, cepat tersenyum dan ikutan melambai, “Bye bye, belajar yang betul ya!”

“Eung!” Eunseo mengangguk pasti sebelum segera berlari menghampiri dua sahabatnya yang sudah menunggu di depan gerbang.

“Pagi!” Ia menyapa sekali lagi dua gadis itu, Hara si imut yang selalu dianggap anak bawang dengan edisi pink hari ini: ikat rambut, bros bulu-bulu di blazer seragam-nya, tak lupa sepatu keds yang juga full-pink. Lalu perkenalkan Minsook, ia adalah gadis satunya yang bertubuh cukup subur dan dianggap ‘eomma’-nya gank satu ini.

“Pagiii!” Hara cepat membalas riang sebelum mereka bertiga berjalan beriringan lebih masuk lagi ke dalam SMA bertingkat tiga di kawasan Hongdae itu.

“Mana Jisook?” Tanya Eunseo begitu menyadari Minsook malah berdua Hara hari ini, alih-alih dengan kakak kembarnya yang juga member gank mereka, Kim Jisook.

“Jisookie duluan sama Miran buat nempatin tempat duduk kita di lab nanti.” Hara yang memang bawel kembali menjawab. Eunseo mengangguk-angguk, ia baru ingat hari ini memang akan ada praktikum untuk kelas mereka. Sambil terus mengobrol dan bercanda-canda layaknya siswi SMA biasa, mereka juga terus melanjutkan sisa perjalanan menuju kelas di lantai dua sekolah. Hari ini pun hari seorang Park Eunseo, siswi kelas 2 SMA Hongdae itu berjalan seperti biasanya. Sekolah, bertemu teman-teman, dipastikan nanti juga akan bercanda di tengah pelajaran sesekali, bergerombol ke toilet maupun kantin, dan tentu saja… cerita cinta.

“Eunseo-ya!”

Eunseo segera berbalik begitu mendengar sapaan itu, suara yang ia kenal betul. Karena jika tadi ia bilang sang ayah adalah ‘pria nomor satu’, maka laki-laki ini, adalah ‘pria nomor dua’-nya. Pria kedua yang paling berharga baginya di dunia ini.

“Sunbae!” gadis bermata monolid dengan kemeja bigsize-nya yang kini sudah ia pasang sebagai pengganti blazer seragam itu melambai-lambai full-energy, kelihatan girang sekali. Melihat si penyapa, Minsook dan Hara yang sedari tadi masih berjalan beriringan dengan sahabat mereka pun langsung memberi sinyal satu sama lain untuk sok pamit duluan ke kelas, ingin membiarkan pasangan ini memanfaatkan waktu mereka dengan leluasa sebelum bel masuk berbunyi.

“Sunbae.” Eunseo menyapa lagi ketika si pacar sudah tepat berada di depannya. Kim Junsu, siswa kelas 3. Mereka resmi berpacaran sejak akhir kelas 1 bagi Eunseo, dan kelas 2 bagi Junsu, sehingga otomatis umur hubungan mereka pun sudah mendekati satu tahun kini. Dan keduanya, tergila-gila satu sama lain. Mungkin memang akan terdengar naif dan ‘ABG’ sekali, tapi Eunseo selalu betul-betul merasa Junsu-lah ‘it guy’-nya. Tak ada yang bisa, dan akan bisa lebih mengerti dirinya selain Junsu, begitu juga sebaliknya. Mereka memang juga hobi bertengkar, tapi tak perlu khawatir, karena di akhir nanti pasti Junsu selalu memastikan untuk menyelesaikannya, tak peduli salah siapapun itu.

“Baru datang kamu?” cowok 18 tahun dengan rambut di-spike dan tubuh 177 cm berbalut kemeja seragamnya yang dikeluarkan itu mengacak ringan rambut sang gadis penuh sayang.

Eunseo mengangguk seraya tersenyum, “Yup.”

“Sama appa?” Tebaknya. Eunseo kembali cepat mengangguk. Junsu meletakkan lengannya di balik punggung si pacar seakan isyarat untuk berbalik dan melanjutkan ngobrol-ngobrol mereka sambil menuju kelas gadisnya itu saja.

“Ah, ngomongin tentang appa… Tadi appa tanyain kamu.”

Junsu mengangkat alisnya, sangsi mengingat perlakuan dingin ayah sang pacar itu kepadanya selama ini, “Hah?”

“Um. Kangen kali hahaha.” Eunseo terbahak, yang cepat diiringi gelengan tak percaya dari Junsu. Itu tidak mungkin… Ayah super-protektif seperti Park Yoochun-ssi, ayah pacarnya itu, dibilang menanyakannya untuk tahu apa ia sudah putus atau belum dengan putrinya, Junsu pasti lebih percaya. “Terus… oh ya, para sunbae, ujiannya tiga bulan lagi kan?”

“Iya, kenapa? Aaah… Bukan appa kali yang kangen, tapi kamu. Tenang aja, tiga bulan lagi ‘pingitan’ kita betul-betul akan berakhir kok.” Goda cowok itu sambil sesekali melirik Eunseo dalam rangkulannya dengan tawa ditahan, menyebut ‘perintah’ yang memang dititahkan ayah sang pacar begitu tahu kalau ia adalah siswa kelas tiga: membatasi intensitas date-nya dengan Eunseo sampai ujian masuk universitas selesai, dengan dalih ingin membiarkannya belajar. (Yang Junsu tahu sekali bukan itu poinnya -.-)

Eunseo tertawa kecil, “Pede. Maksud aku tuh, gimana progres belajarmu? Yonsedae bakke eobseo! Yonsedae animyeon andwae! (Hanya ada Universitas Yonsei! Kalau bukan Yonsei, tidak bisa!)” Serunya, menirukan ucapan aktor Kim Sooro dalam serial God of Study, bedanya Eunseo mengganti nama universitas fiktif Chunha yang dalam cerita merupakan tujuan siswa kelas spesial disana dengan Universitas Yonsei yang merupakan target kekasihnya.

Junsu tertawa, “Lupa satu line lagi kamu… DAREUN GOT… (Universitas lain…)”

“PILYO EOBTA! (Nggak butuh!)” Sambung Eunseo segera, hafal betul line itu juga. Mereka tertawa bersama. Eunseo masih menggenggam jemari Junsu yang merangkul pundaknya selama perjalanan mereka yang sebentar lagi akan berakhir di depan kelasnya itu, seakan tak rela lepas dari rengkuhan striker andalan tim sepakbola di sekolahnya itu. Junsu tersenyum seiring rangkulannya yang juga semakin ia eratkan, “Justru itu, aku kesini juga mau bilang, nanti sepertinya aku nggak bisa antar pulang, ada pelajaran tambahan gitu lah. Kayaknya bakal sampai malam… Nggak apa-apa kan?”

Eunseo mengacungkan jempolnya, “Ya nggak apa-apa lah, ada teman-temanku kok. Paling nanti aku nebeng jemputan Miran atau yah, gimananya bisa diatur. Kamu belajar aja, pokoknya YONSEDAE BAKKE… (Selain Universitas Yonsei…)”

“EOBSEO! (…nggak ada lagi!)” Lanjut Junsu refleks, sepertinya efek terlalu sering dicekokin menonton serial itu oleh Eunseo demi memacu semangatnya ujian sudah begitu terlihat sekarang. Gadis berkulit kecoklatan di hadapannya tertawa puas begitu melihat sang kekasih yang sekarang sedang bingung-bingung sendiri kenapa ia begitu fasihnya dengan berbagai lines di serial itu, nggak cowok banget! pikirnya. “Ah, tapi betul nggak apa-apa kan? Bener kamu ada Miran?”

Eunseo mengangguk mantap sekali lagi, “Iya, tenang aja. Semangat, Jagiya! Saranghae.” Dan CUP! berjinjit sedikit, sebuah kecupan langsung sukses mendarat di pipi kanan Junsu yang cukup membuatnya tiba-tiba bengong, sama sekali tak menyangka aksi itu. Masalahnya disini kan—

“YA, DUL-I!! (Hei, kalian berdua!!) Sekolah bukan tempat pacaran! Sudah begitu, YA, Park Eunseo, apa-apaan kemeja kotak-kotak itu? Mana blazermu? Dan kau, Kim Junsu, ini sudah bel masuk, cepat kembali ke kelasmu sendiri!!”

Tuh kan, baru juga mau dibilang, sudah keburu kepergok guru duluan. Tapi cekikikan, masing-masing pun segera sepakat berpisah untuk kabur, Eunseo melompat ke dalam kelasnya yang memang hanya tinggal selangkah lagi dan Junsu segera melesat ke gedung sebelah, gedung para siswa, mengutilisasi bakat berlarinya sebagai salah satu ace kebanggaan tim sepakbola Hongdae. Karena layaknya kebanyakan sekolah swasta lainnya di Republik Korea Selatan, kelas bagi siswa dan siswi SMA Hongdae memang dipisah, biarpun tentu mereka tetap bisa bertemu di luar pelajaran, seperti ketika istirahat atau pulang sekolah.

Keluarga yang hangat, gank para cewek dengan teman-teman SMA, pacar yang baik. Hidup penuh tawa dan keceriaan milik Eunseo seperti betul-betul sebuah potret normal hari-hari nyaris seluruh gadis-gadis ABG di dunia ini. Masa remaja yang sedang mekar-mekarnya, seakan tidak pernah ada kesulitan yang begitu dianggap pusing. Kehidupan yang sangat normal, sampai-sampai sama seperti kita, seorang Park Eunseo juga tidak akan pernah tahu hal yang akan merenggut seluruh kebahagian masa remajanya itu telah ditakdirkan terjadi hari ini.

 

***

 

“Baiklah, pelajaran hari ini selesai. Oh ya, Ibu ingatkan lagi untuk kalian selalu hati-hati, ya. Akhir-akhir ini kejahatan sedang marak, tak kenal usia pula. Kalian semua kan wanita, jaga diri kalian baik-baik. Jangan pulang terlalu malam atau sebisa mungkin jangan berjalan sendirian di tempat sepi. Ini sudah terlalu meresahkan. Arasseumnikka?”

“Ne, Seonsaengnim…” Koor seisi kelas 2C termasuk gank 5-member Hara-Eunseo-Minsook-Jisook-Miran serempak.

“Ja, insa! (Beri salam!)”

“Seonsaengnim annyeonghaseyo, gamsahamnida…”

Sang guru wanita tersenyum sambil mengangkat buku-bukunya, “Ne, daeum ju-e bwayo… (Ya, sampai ketemu minggu depan…)”

Sekejap, seisi ruang kelas pun riuh lagi seiring kepergian sang guru yang menandakan waktu pulang sekolah juga telah tiba. Satu per satu siswi-siswi kelas 2C meninggalkan kelas mereka, sambil mengobrol ataupun sibuk SMS-an, beberapa yang punya pacar sesama siswa Hongdae bahkan sudah dengan setia ditunggui di depan pintu belakang kelas. Biarpun sepertinya, rapat seru masih terjadi di 2 bangku urutan ketiga dan keempat dari tengah ruang kelas itu: tempat duduk Miran dan Eunseo.

“Jadi hari ini kamu nggak dijemput, Miran?” Eunseo si penghuni bangku keempat langsung meletakkan jidatnya di atas meja, stres memikirkan kelanjutan cara pulangnya sore ini begitu gadis cantik bak model di hadapannya mengatakan hal itu.

“Eo.” Miran langsung menoleh dan ikut meletakkan dagunya di meja Eunseo, wajahnya terlihat tak enak sekali. “Mianhae, Eunseo-ya. Changminnie nawarin antar aku pulang naik motornya tadi pas istirahat, coba kamu bilang lebih cepat—”

Eunseo cepat menggeleng, “Gwaenchanha. Iya, aku juga lupa banget nggak bilang dari tadi-tadi, padahal Junsu Sunbae sudah kasih tahu aku dari pagi…” Tapi takut membuat kawannya lebih tak enak hati, Eunseo buru-buru tersenyum, “Ya sudah, nggak apa-apa kok aku naik bis aja. Nanti juga banyak anak-anak Hongdae kan? Ja, kaja.”

“Hwaksilhae? (Kamu yakin?)” tanya dari Minsook yang memang paling perhatian segera menghentikan langkah Eunseo yang sudah siap meninggalkan mejanya. Ketiga gadis lainnya juga jadi ikut menatap Minsook bingung. Si pusat perhatian buru-buru menggeleng, “Ani, cuma tiba-tiba ingat pesan Shin Seonsaeng tadi…”

“Ya ampun, ini juga bukan pertama kalinya Eunseo pulang sendirian, berlebihan deh kamu.” Jisook buru-buru menjitak kembarannya begitu selesai membereskan tas dan siap pulang. Eunseo mengangguk mengiyakan seraya tersenyum menenangkan pada Minsook. Biarpun masih bingung kenapa perasaannya tetap begitu tidak enak, Minsook akhirnya juga mengangguk, memberi isyarat pada yang lainnya kalau ‘rapat’ telah selesai. Beriringan, mereka pun beranjak meninggalkan kelas. “Eh tapi, kalau Junsu Sunbae ada pelajaran tambahan… nah memang Yoochunie appa kemana?”

“Nuga nugu appa-ya? (Siapa appa-nya siapa?)” Hara cepat mencibir. Jisook yang memang hanya penampakannya yang mirip dengan Minsook namun sifat 180 derajat berbeda segera memeletkan lidahnya yang juga buru-buru dibalas si gadis imut lagi. Tiga gadis lainnya tertawa, dua anak itu memang selalu rebutan mengaku-ngaku ‘anak tambahan’ Yoochun-appa-yang-tampan, bahkan termasuk selalu cari perhatian si ‘om-om kece’ itu tiap bermain ke rumah Eunseo.

“Aku sudah terlanjur bilang hari ini pulang bareng Junsu Sunbae, dia pasti ngamuk-ngamuk dan bakal tambah sensi sama Sunbae kalau tiba-tiba aku bilang aku nggak jadi diantar pulang.”

“Geundae, Eunseo-ya,” Minsook tiba-tiba bersuara ragu, tepat setelah mereka berpisah dengan Miran yang sudah ditunggu pacar ‘berondong’-nya, si uljjang anak-anak kelas 1 Shim Changmin di ujung tangga lantai dasar sekolah. “…nanti setelah turun bis gimana? Kan masih harus jalan cukup jauh buat sampai rumahmu… Kamu sendirian, sudah mau malam pula…”

“Neo wae irae? (Kamu kenapa sih?)” Jisook kembali merespon si kembaran. “Perasaan kalau tiba-tiba aku harus pulang sendirian, kamu nggak pernah sekhawatir ini…”

Minsook menyilangkan kedua tangannya, “Tolong ya, kompleks kita bertiga kan tinggal salto juga sampai dari sekolah ini.”

“Eng… dan orang jahat juga pasti lihat-lihat tampang dulu, sih.” Hara mulai lagi dengan hobi nyeletuknya sambil pasang tampang inosen. Dia baru sibuk cengar-cengir ketika wajah lebar Jisook sudah di depan mukanya, “Kyaaaa… Jisookie sereeeemm…!”

Minsook dan Eunseo geleng-geleng kepala lagi melihat dua anak yang sekarang sedang kejar-kejaran di halaman sekolah itu, sebelum akhirnya Eunseo meraih sebelah tangan Minsook. Ia tersenyum, “Gwaenchananikka, jeongmal-iya. (Aku nggak apa-apa kok, betulan.) Ah, itu bis aku sudah datang, salam sama dua bocah itu ya, bye Minsookie! Naeil bwa! (Sampai besok!)” Serunya sambil berlari terburu-buru dan melambai-lambai di waktu yang sama.

“Ah, Eunseo-ya—” tapi Minsook kembali mengurungkan panggilannya, dan memutuskan untuk membalas saja lambaian sang sahabat. Cukup, cukup. Ini pasti hanya perasaan, parno yang keterlaluan. Mereka pasti masih akan benar-benar bisa bertemu lagi besok. “Naeil bwa!”

 

***

 

Sudah sampai rumah? Kamu jadi sama Miran hari ini kan? Kelas tambahanku baru mau mulai, maaf lagi ya aku nggak jadi antar pulang hari ini.

 

“Waah… Aku lupa lapor Sunbae kalau hari ini nggak jadi bareng Miran…” Eunseo yang sudah setengah perjalanan menuju rumahnya dengan bis tiba-tiba berseru seraya menepuk jidatnya sendiri begitu membaca SMS yang baru saja masuk ke ponselnya, SMS dari Junsu. Ia lupa sama sekali kewajiban lapor-melapor keberadaan dalam hubungan perpacaranan (?) mereka ini! Buru-buru, ia pun segera menekan tombol reply dan mengetik sambil bergumam, “Iya… maaf—”

 

Iya, maaf juga aku lupa kasih kabar >< Miran pulang sama Chang-goon naik motor jadi nggak bisa bareng… Sekarang aku di bis, Sunbae fighting!^^

 

Eunseo sedang melihat-lihat keluar jendela, takut-takut ia kelewatan turun nantinya—dia memang sedikit linglung masalah jalanan begini, cenderung buta arah malah—ketika HP-nya kembali berbunyi. Balasan dari Junsu.

 

Bis? Tapi kamu baik-baik aja kan? Hati-hati sudah mulai malam. Harusnya tadi kamu bilang aja kalau Miran nggak bisa… Aku bisa bolos kok.

 

“Gwaen-chanh-al-geo-ya. (Aku bakal baik-baik aja kok.)” Eunseo mengetik di ponselnya sambil seperti kebiasaannya, digumamkan.

 

Gwaenchanalgeoya. Jangan sampai bolos dong, Sunbae harus sukses ujian demi aku juga. Bikin appa nggak bisa bilang apa-apa lagi!:D tenang aja, ini juga habis turun bis kayaknya aku mau naik taksi, kriminal di Seoul sudah mulai nyeremin, tadi Shin Seonsaeng juga bilang begitu. Cari aman aja deh 🙂

 

From: KJS♥

Baru aku mau usul begitu 🙂 iya, di TV juga sudah ramai banget tuh beritanya, baguslah kamu inisiatif. Sip, aku pasti bakal sukses demi kamu juga. Jaga diri, Sayang. C u.

 

Eunseo senyum-senyum sendiri membaca balasan terakhir Junsu. Sayang. Sayang. Hihi, biarpun sudah jalan nyaris setahun, tapi entah kenapa Eunseo masih tetap suka berbunga-bunga sendiri tiap kali Junsu SMS, telepon, atau bahkan hanya simply mengetikkan kata s-a-y-a-n-g atau I-L-U di ujung SMS-nya. Silly, ya? Atau malah gombal kalau dilihat dari sisi Junsu? Apapun itu, yang jelas bagi Eunseo, that’s the sweet part of Kim Junsu, yang dia suka sekali.

BRAKK!!

“AH!!” Tiba-tiba kepala Eunseo sudah sukses membentur kursi penumpang di depannya karena bis yang entah kenapa mengerem mendadak. Kontan semua penumpang segera penasaran dan siap-siap mengomel, biarpun akhirnya malah berubah jadi kepanikan ketika si supir meminta semua penumpang turun karena tiba-tiba mesin terlihat berasap dan bis tidak bisa dijalankan kembali. Jelas Eunseo juga buru-buru berebut turun, dan segera menghela napas leganya ketika sudah berada di kursi belakang taksi yang tadi langsung dicegatnya untuk lanjut pulang. Bakal tambah ongkos dari yang seharusnya jika ia naik di halte terdekat rumahnya sih, tapi daripada ia terus di dekat bis itu? Siapa yang tahu jika nantinya bis itu malah meledak. Hiiiy, ini pasti yang bikin Minsook agak aneh tadi, ia pasti sudah punya firasat. Untunglah dirinya tidak apa-apa.

“Banchon-euro (Ke Banchon), Ahjussi.” Pinta Eunseo begitu si supir sudah mulai menjalankan taksinya. Tapi… ‘Ahjussi’? Apa sepertinya panggilan itu kurang cocok ya? Kalau dari foto identitas pengemudi yang ia lihat terpajang di atas dashboard itu sih, sepertinya masih cukup muda… mungkin belum sampai 30. Dirinya memang terbiasa memperhatikan identitas pengemudi tiap naik kendaraan umum, ajaran bagus luar biasa dari seorang Song Min, sang ibu yang memang hobi nge-bolang (?) alias jalan-jalan ke berbagai tempat sejak sebelum menikah dengan Yoochun.

Naik taksi seharusnya aman dan nggak akan lama, pikir Eunseo riang sambil mengeluarkan ponselnya lagi, siap mengirim kabar posisi terbaru pada sunbae kesayangannya. Selesai mengirim satu SMS dengan peringatan bagi Junsu untuk tak usah membalas (nanti mereka malah SMS-an dong, kapan belajarnya tuh yang lagi kelas tambahan? -.-), Eunseo pun asik twitter-an, yah, layaknya ABG SMA masa kini lainnya. Begitu asiknya senyum-senyum sendiri melihat isi timeline-nya, ia sampai tak merasa sama sekali kalau sejak tadi sang supir taksi sudah tidak begitu konsentrasi dengan urusan menyetirnya. Supir itu sibuk memperhatikan Eunseo dari kaca yang mengarah ke jok penumpang di belakang. Berkali-kali ia menelan ludahnya melihat gadis yang memang begitu ‘appealing’ untuk taraf anak SMA itu. Eunseo memang dikaruniai tubuh yang molek bahkan jika dibandingkan dengan wanita dewasa rata-rata di Korea, itupun tanpa perlu operasi sana-sini, betul-betul hanya hasil kombinasi sisi-sisi terbaik dari Yoochun dan Min, ayah-ibunya: bibir penuh dan tinggi badan memadai dari Yoochun dipadu dengan siluet tubuh ala S-line dari Min. Bedanya hanya selama ini tidak pernah ada yang sadar Min memiliki S-line karena tertutup tubuh mungilnya, tapi pada Eunseo, itu jelas menjadi kentara luar biasa.

Sepasang mata itu makin jelalatan melihat Eunseo dengan seragam pas badan dan juga rok pendek yang mengekspos kakinya dari setengah paha hingga betis. Ia betul-betul sudah lupa sama sekali dengan tugas mengemudinya, mungkin juga karena bercampur hilang akal akibat alkohol yang barusan ditenggaknya tepat sebelum Eunseo naik. Gadis penumpangnya juga tak kunjung sadar dengan situasi rawan yang mengintainya, sampai akhirnya ia baru merasa kalau jalan yang mereka lewati bukanlah jalan yang seharusnya diambil untuk sampai ke ‘rumah bukit’-nya. Jalan ini terlalu… sepi?

“Lho? Ahjussi, kenapa lewat sini? Banchon kan—”

KLEK. Eunseo seketika tambah merasa janggal ketika mendengar suara seluruh pintu taksi yang tiba-tiba dikunci sentral. Perasaan takut mulai menjalar di sekujur tubuhnya, “Ahju… ssi—Ahjussi, Ahjussi!!!”

Dengan brutal, supir yang akhirnya sudah tak kuasa menahan nafsu setannya itu pun sudah berpindah ke jok belakang dan menyerang gadis penumpangnya sendiri. Ia menarik Eunseo dengan kasar sampai jatuh di atas jok dan segera memegangi kedua tangan gadis itu agar ia tidak bisa kabur dengan sebelah tangan, sedang dengan sebelah tangan lagi ia itu mulai merobek paksa kemeja putih Eunseo.

“ANDWAE, ANDWAE…!!” Eunseo kontan meronta-ronta begitu menyadari apa yang terjadi. Kenapa begini?? Taksi adalah salah satu angkutan umum yang harusnya teraman, tapi kenapa sekarang…?? Ia terus memberontak, menjejakkan kakinya ke segala arah mencoba melepaskan diri dari supir gila itu namun tak bisa. “SALLYEOJUSEYO, SALLYEOJUSEYO!! (Tolong aku, tolong aku!!)” teriaknya sambil tetap sekuat tenaga mencoba menggerakkan seluruh anggota tubuhnya. Dan tiba-tiba… CTEK! Entah bagaimana sepertinya salah satu kunci pintu mobil di bagian penumpang itu terbuka. Betul kan? Itu betul suara pintu yang ter-unlock? Ya, Eunseo langsung merasa inilah kesempatan baginya, sekarang atau tidak sama sekali. Mengumpulkan segenap kekuatannya, dan beruntung sekali orang gila itu belum sadar apa yang terjadi, Eunseo segera bangkit dengan mendorong pria itu. Berhasil!

…biarpun itu hanya berlangsung sebentar. Hanya sempat berlari beberapa langkah, dengan mudah penjahat itu bisa menjangkaunya lagi dan kini menariknya lebih kasar.

“SALLYEOJUSEYO…! ANDWAE, ANDWAE!!” Tangis Eunseo makin keras seiring tambah brutalnya supir yang masih terhitung muda itu sebagai ‘hukuman’ baginya yang barusan sudah mencoba kabur. Ia bahkan tak peduli tempat eksekusinya terhadap gadis itu sekarang adalah di pinggir jalan, toh ia tahu pasti tempat ini begitu gelap dan sepi. Eunseo tambah kencang memohon-mohon, berteriak, dan menangis begitu ia sadar sang supir mulai melakukan pelecehan dan kekerasan seksual terhadapnya. Ia sama sekali menolak untuk capek berusaha, namun tetap saja semuanya sia-sia, tenaga seorang pria dewasa tentu lebih kuat dari gadis remaja sepertinya. Airmata sudah sejak tadi mengalir deras di pipi Eunseo, dan semakin membanjir saat ia tahu kegadisannya telah terenggut paksa…

“Hei, siapa itu?? Hei, hei!!”

Maka ketika akhirnya dua orang polisi yang sedang berpatroli tak sengaja lewat disana, Eunseo tak merasakan itu sebagai secercah cahaya sama sekali. Di hadapan seorang polisi yang tersisa karena temannya yang satu lagi sedang berusaha mengejar si penjahat yang tadi langsung kabur meninggalkan Eunseo saat kepergok, gadis itu hanya mengeluarkan suara lirih sambil bersusah payah menutupi tubuhnya dengan sisa-sisa pakaian yang melekat di badannya, “Sallyeojuseyo… Sallyeojwoyo…”

 

***

 

Bagaikan tersambar petir bagi pasangan Min dan Yoochun ketika polisi mengantarkan putri mereka pulang dan menjelaskan apa yang terjadi. Min langsung jatuh lemas, sedang Yoochun tak mampu berkata apa-apa lagi. Sudah beberapa jam ini mereka memang mencari keberadaan Eunseo yang tak juga sampai ke rumah padahal kata teman-temannya ia sudah pulang sejak sore. Tapi mereka betul-betul tak pernah menyangka alasannya adalah karena putri mereka baru saja menjadi korban pemerkosaan…

Berdasarkan saran dari polisi, Eunseo sebaiknya segera divisum dan diperiksakan kondisi kejiwaannya. Mereka juga mengabarkan supir pemerkosa Eunseo itu segera tertangkap dan karena bukti dan saksi sangat cukup, ia akan langsung diproses untuk dijebloskan ke penjara. Yoochun yang begitu emosi sangat senang dan menuntut hukuman seberat-beratnya. Hari itu juga ia segera ikut ke kantor polisi demi mengurus semuanya, sedangkan Min lebih memilih menemani Eunseo yang begitu sampai tadi langsung memutuskan naik ke kamarnya dan meminum obat penenang agar bisa tidur. Ia menuangkan seluruh isi botol yang sesungguhnya milik sang ayah itu dan berniat meminum semuanya, untung saja Min cepat ikut naik dan mencegah Eunseo melakukan itu. Dengan suara datar Eunseo berdalih ia tak sengaja menuang kebanyakan, namun Min segera tahu kalau mulai saat ini, ia tak akan boleh membiarkan putrinya berada sendirian sebentar saja…

 

_____

 

“AAAA…!!! Kamu siapa?? Pergi, pergi!! Jangan dekati aku!!!”

Eunseo yang padahal baru membuka matanya di keesokan hari segera melonjak dari atas kasur bersama selimut yang ia pakai menutupi seluruh badan begitu melihat keberadaan seorang pria beruban dengan jas putih seperti seorang dokter sedang menulis di sisi tempat tidurnya. Min dan Yoochun yang baru sebentar mengurus perizinan sekolah Eunseo lewat telepon di bawah segera panik dan langsung naik lagi begitu mendengar ribut-ribut itu.

BRAKK! Yoochun membuka pintu kamar Eunseo keras. “Apa, ada apa? Ada apa??”

Dan di hadapannya kini, sang putri terlihat sudah mengangkat jam weker dari atas mejanya dan segera melemparnya ke arah si dokter. Merasa belum cukup, kini giliran pot bunga kecil di ujung kamarnya yang cepat-cepat ia ambil untuk dilemparkan.

“Whoa, whoa… Darling, Eunseo, taruh lagi potnya, Sayang… Kamu kenapa sih? Ini dr. Han, dia dokter yang akan memeriksa kamu…” Yoochun buru-buru berlari untuk merebut pot bunga itu dari tangan Eunseo. Namun aneh, begitu tangan mereka bersentuhan, Eunseo seperti orang kaget buru-buru melepas tangannya begitu saja, yang mengakibatkan pot bunga itu jatuh berkeping-keping…

Yoochun menatap putrinya bingung, “Eunseo, kamu—“

“Nampyeon, sudah. Lebih baik kamu ke bawah saja, tadi dr. Han bilang beliau ingin bicara, biar Eunseo denganku.” Tapi Min buru-buru menyela pemikiran suaminya dan mendorong pria gagah itu keluar kamar sebelum menutupnya lagi dan kembali pada sang putri. Menahan airmatanya kembali jatuh, wanita itu memeluk sang putri dengan hati hancur, “Maafkan eomma karena sempat meninggalkanmu tadi, Sayang…”

 

Di sekolah,

Minsook tak henti menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari sedikit saja isyarat keberadaan Eunseo di dalam kelasnya. Bel masuk sudah berbunyi… Nggak masukkah? Eunseo nggak masuk sekolah? Firasat buruknya kemarin apakah—

Ani, ani. Gadis tambun itu cepat-cepat menggeleng, menghapus seluruh pikiran buruknya. Sebaliknya, ia kini segera menggunakan kesempatan sebelum guru mereka datang untuk mengeluarkan ponselnya dan menelepon rumah Eunseo, begitu ingin memastikan.

Dan benar saja… Seketika butir-butir airmata jatuh bebas ketika ia mendengar penjelasan yang begitu emosional dari seberang telepon, “Jinjja… yeyo… Ahjumma?”

 

***

 

Oleh dr. Han yang seorang ahli jiwa, Eunseo didiagnosis berada dalam sebuah trauma yang luar biasa pada pria. Untuk pria tak dikenal, ya, itu jelas dan bisa dimengerti. Tapi Eunseo selama ini tak sadar kalau ternyata itu juga berlaku untuk pria yang dikenalnya dengan baik, bahkan seumur hidupnya seperti Yoochun. Dan itu semua baru diketahui juga sejak kejadian dengan pot yang lalu… Tubuh Eunseo secara refleks bahkan menolak disentuh oleh ayahnya sendiri. Hati kedua orangtua Eunseo makin hancur, terutama tentu, bagi Yoochun.

Sudah seminggu berlalu, dan kondisi kejiwaan Eunseo terlihat makin menyesakkan hati. Ia diam dan menjadi sangat pasif, hanya berbicara ketika ditanya, itu pun pendek saja. Sekarang mungkin ia sudah tidak sering menangis dan bertanya-tanya “Kenapa harus aku? Kenapa harus aku?”, tapi maniaknya dengan urusan menutup tubuh setelah kejadian itu tetap berlanjut. Semua yang dipakainya wajib menutup dari ujung ke ujung, dan itu termasuk kaos kaki, terkadang sampai sarung tangan biarpun ia bahkan nyaris tidak pernah keluar kamarnya. Ia seperti begitu takut disentuh, di hari-hari awal ia bahkan terus memeluk diri dalam selimut bahkan setelah menggunakan semua pakaiannya itu. Setiap hari ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk mandi dan bersikeras menggosok kulitnya keras-keras, inci per inci, bahkan tak jarang sampai terkelupas. Dan Min kembali harus sekuat tenaga menahan airmatanya tiap kali mengawasi sang putri mandi, tiap kali dengan putus asa dan terus menggosok, Eunseo menatapnya putus asa seakan meminta pertolongan, “Eomma… Eotteokhae? Nodanya nggak mau hilang… Aku kotor…”

 

_______

 

Tapi selayaknya Min dengan rencananya tak akan membiarkan putri tunggalnya sendirian sebentar saja, Eunseo pun juga punya rencananya sendiri…

“Eomma, sampai kapan eomma mau terus kawal aku sampai ke kamar mandi segala?” Tanyanya setelah 10 hari berturut-turut berada dalam ‘pengawasan’ sang ibu.

Min tertegun, “Habis—”

“Aku nggak apa-apa kok sendirian… Betul…” Pinta Eunseo masih dengan datar. Sesak sekali bagi Min terus melihat putrinya seperti ini, di saat ia tahu pasti seorang Eunseo yang biasanya pasti sudah akan tebar aegyo kemana-mana jika berada di posisi yang sama. Maka itu, tak sanggup menolak, dengan berat hati nyonya muda itu pun akhirnya mengangguk…

PRANGG!! Baru ada 15 menit berjalan tiba-tiba terdengar suara barang pecah dari dalam kamar mandi. Min terlonjak kaget dan buru-buru bangkit dari duduknya di atas ranjang sang putri. Perasaannya langsung tak enak seketika.

“Eunseo? Ada apa? Kamu masih mandi, Sayang? Nak, kenapa kamu nggak jawab, Eunseo?” KLAK-KLAK-KLAK. Min yang awalnya masih mengetuk pintu pink kamar mandi di kamar Eunseo dengan lembut kini sudah resmi panik sambil tetap berusaha memutar-mutar kenop pintu itu. Secepatnya ia pun merogoh saku cardigannya dan mengeluarkan kunci duplikat untuk membuka pintu itu.

BRAKK! Min membuka pintu kamar mandi dengan keras. Benar saja, sesegera mungkin screening matanya menemukan Eunseo sedang duduk di bawah shower yang menyala dengan sebelah tangan gemetar memegang kepingan pecahan kaca tajam yang di arahkan ke nadinya. Ternyata selama ini, diam-diam Eunseo tak pernah membuang niatnya untuk bunuh diri…

“EUNSEO!!”

Eunseo mendongak, hanya demi tambah menguatkan tekadnya untuk memotong nadi di pergelangan tangannya sendiri begitu menatap wajah sang ibu. Airmata sekejap menggenang di pelupuk mata Eunseo sambil tetap memaksa menggoreskan pecahan cermin kamar mandinya biarpun Min dengan cepat menahan. Tak boleh, jangan kira ia tak tahu kalau di lingkungannya kabar ini sudah tersebar, dan tentu amat berat bagi ibunya menahan semua gunjingan itu… Rencananya harus tetap berlanjut, ia tidak bisa terus hidup!

Yoochun yang baru pulang kerja—mengajar di sebuah kampus seni internasional—sore itu langsung merasa aneh dan buru-buru mempercepat langkah kakinya begitu mendengar ribut-ribut dari kamar Eunseo di lantai 2. Dan hatinya harus kembali mencelos begitu menemukan sang putri yang histeris di dalam kamar mandi, dengan sebelah tangan menggenggam pecahan kaca kuat-kuat sampai berdarah!

“EUNSEO!” Yoochun cepat berlari untuk membantu istrinya menahan keputusasaan putri mereka itu. Ia memegangi tangan Eunseo dan memeluknya dari belakang, sedang Min yang sudah dari tadi bingung menghadapi anaknya sendirian buru-buru merebut pecahan kaca itu hanya demi secepatnya ikut jatuh ke lantai dan menangis.

Tangis histeris Eunseo seketika makin menjadi melihat kedua orangtuanya. Rencananya gagal sudah. Padahal sebetulnya hanya dia yang tertimpa musibah itu, tapi kini semua orang yang ia sayangi juga harus tetap lanjut memikul bebannya. Maka dalam pelukan Yoochun ia kembali berteriak histeris, marah pada keadaan, “Kenapa aku nggak boleh mati, KENAPA???”

 

TBC

 

comeback dengan beginian. kkkk~ sabar yah, ga panjang2 ko, uda jadi pula semuanya :p (kapok punya utang) yah, beginilah. ide awal gara2 miris liat berita pemerkosaan di angkot… terutama yg pas korbannya anak SMP, ga kerasa airmata netes aja gitu sambil nonton tv… dan terpikirlah cerita ini. 🙂

semoga suka, dan mudah2an dapet feelnya… pesan moral: jaga diri baik2 ya gadis2.. 🙂

 

dan…. kedua kalinya bikin banner sendiri! huahaha~

Advertisements
 
5 Comments

Posted by on February 21, 2012 in DBSK, Super Junior

 

5 responses to “I WILL PROTECT YOU – Part 1 of 3

  1. amara_varadesya

    February 21, 2012 at 9:30 pm

    Seremnya ya…. Gimana nasibnya junsu? Eunso juga takut dideketin junsu?
    Udah ah! Ditunggu lanjutannya!
    Oh iya! I’m a new reader! Call me vara
    고마워! 😀

     
    • lolita309

      February 23, 2012 at 10:01 am

      iya serem ya T.T kemarin malah aku baru liat lagi anak SD diperkosa dan skrg jd hamil… judulnya “Bocah SD Tak Lagi Riang Akibat Diperkosa” ya iyalaaahhhh~~~ T.T

      sip, uda ada lanjutannya ko^^ halooo vara! selamat datang disini~~ aku lola, salam kenal 😀

       
  2. hwangminmi

    February 23, 2012 at 8:28 pm

    Eonni~ serem~ (╥_╥)
    Kasian eunseo huhu (╥_╥)
    Gak kebayang deh kalo bener” kejadian sama minimal temen sendiri (╥_╥)

    Oh ya, eonni kenapa baru ngepost sekaraaaaaaanngggg~~~ (ˇ▽ˇ)-c<ˇ_ˇ)
    Kangen sama cerita eonni kkk~ :3
    *ngedance heavy rotation* *lanjut baca part 2*

     
  3. cizziekyu

    February 23, 2012 at 8:46 pm

    Mian aku bru mampir ke blog nyonyah >.<

    semester 4 membunuh -__- *kok jadi curcol gni?

    Idenya….!! Ekstrim! Beda ama yg lain, jarang2 ada yg mau bkin castnya diperkosa gt… Tapi it yg bkin nyonyah beda dari yang lain 🙂 << ini muji loh

    betewe tetewewe, aq liat d castnya ada henli sjm, tapi belum muncul yak? *kaburkepart2*

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: