RSS

[THE SERIES] BAHASA LANGIT – Part 5

27 Dec

Taksi yang kutumpangi akhirnya berhenti di depan sebuah rumah berpagar kayu putih dengan sebuah halaman yang sangat cantik. Setelah memastikan ulang kalau memang inilah alamat yang kumaksud pada si supir, aku pun turun, dan dengan langkah mantap menuju pagar yang cukup rendah itu. HWANG. Memang begitu yang tertulis di atas kotak surat yang berada di samping pagar utamanya. Berarti memang benar, sebentar lagi aku akan bertemu dengan Minmi-ku.

 

BAHASA LANGIT – Part 5

(Part 1; Part 2; Part 3; Part 4)

Written by: Lolita Choi (@lolita309)

Starring: SJ’s Kim Kibum

Hwangminmi/megumiTM as Minakami Megumi and Hwang Minmi

TINGTONG! TINGTONG!

Tak butuh waktu lama bagiku sampai seorang wanita dengan lembut membuka pintu rumah itu. “Ya? Mencari siapa?” tanyanya dalam bahasa Inggris yang begitu fasih mengesampingkan wajah Asia-nya. Aku yakin saat itu ia belum melihat wajahku, karena tentu saja, kami sebetulnya sudah pernah bertemu.

I’m looking for Merisa. Minmi.”

“Ki??”

 

 

“Sayang sekali, tapi Minmi nggak ada disini.” Buka Tiffany dingin setelah aku dipersilakan masuk—dengan sangat enggan, hanya karena tiba-tiba Nyonya Hwang akan keluar dan bingung karena Tiff tak juga mempersilakan tamu masuk. Ia menatapku yang sedang duduk di sofa dengan tajam, beda sekali dengan image wanita ramah yang membukakanku pintu tak lebih dari 5 menit tadi. Aku jadi berspekulasi kalau semua wanita di keluarga Hwang ini memang punya dua kepribadian yang bertolak belakang, ini aku belum terlalu mengenal ibunya saja. Mudah-mudahan dia tidak seperti putri dan menantunya. *sigh*

Aku mendecak mendengar jawaban Tiffany, “Jangan berbohong, Tiffs. Nggak mungkin dia nggak ada disini. Dia pasti pulang mengikuti kalian kan?”

“Nyatanya, dia memang nggak ada disini.”

Impossible.”

It isn’t. Ask our mom.

Aku terdiam. Dia sampai berani menyuruhku bertanya sendiri pada nyonya rumah ini, berarti dia tak berbohong kan? Kecuali kalau Nyonya Hwang juga sudah diajak bekerjasama oleh mereka, yang aku rasa tidak mungkin. Ibu-ibu biasanya sangat susah disuruh rahasia-rahasiaan, apalagi yang berhubungan dengan teman pria putrinya. Aku tak pernah lupa bagaimana eomma selalu menggoda habis-habisan (dengan norak) Saera waktu SMA dulu setiap cowok yang ditaksirnya diam-diam tiba-tiba datang ke rumah untuk kerja kelompok, misalnya. Sampai Saera akhirnya malas curhat ke eomma lagi sebagai satu-satunya orang dengan gender yang sama dengannya di rumah kami, dan lebih memilih aku atau Ryeowook sebagai pelampiasan.

Maka aku akhirnya menyerah, “Lalu dia ada dimana?”

“Mana aku tahu?”

“Tiffs, please!”

“Aku nggak tahu, Ki. Kenapa kamu maksa, sih??” Serunya kesal seraya berdiri dari sofa yang didudukinya. Aku menahan tangannya.

“Oke, kalau memang kamu betul nggak tahu.” Kataku sebelum menarik ringan pergelangan tangannya, menyuruhnya duduk kembali. Ia menurut biarpun dengan enggan. Aku kembali berbicara setelah ia kembali duduk, “Setidaknya ada satu hal yang mau aku tanyakan.”

“Aku dulu.” Potongnya. Aku mengernyit bingung. “Darimana kamu tahu alamat kami?”

Aku tersenyum tipis, “Kamu pasti kenal Eunhyuk.”

“Eunhyuk? Lee… Eunhyuk maksudmu? Ya… dia teman Greg…”

“…dan pacar adikku.”

What??

“Dunia begitu sempit kan?”

Ia terdiam.

Aku kembali tertawa kecil, “Dan berbicara tentang dunia sempit, aku juga tahu kalau kamu sudah lama mengenalku kan?”

Ia terlihat bingung, “Maksudnya?”

“Ki. Kamu selalu tanpa sengaja memanggilku Ki, baik waktu pertama kita bertemu, tadi saat membukakanku pintu, bahkan barusan. Cuma teman-teman kecilku di Jepang yang tahu panggilan itu. Dan teman Jepangku itu, termasuk Minakami Megumi.”

Aku menoleh sedikit demi melihat ekspresinya yang duduk di sofa terpisah di samping milikku. Wajahnya terlihat pucat, seperti ketakutan.

Aku tersenyum, “Merasa familiar? Okelah, kita blak-blakan saja disini. Minmi sendiri sudah mengaku padaku kalau ia memanglah Megumi. Dan kamu juga tahu itu kan? Aku mohon, beritahu aku hal lain yang kamu tahu, tentang bagaimana Megumi masuk ke keluarga Hwang, apa yang selalu ia ceritakan padamu tentangku… semuanya! Aku mohon!”

Diam sejenak. Biarpun akhirnya, dengan senyuman sinis ia menggeleng.

“Aku mencintai Megumi!”

Ia kini menoleh dengan sebelah alis terangkat, seakan tak percaya dengan pengakuanku.

“Aku selalu melihat Megumi dalam diri Minmi… Apa dia nggak pernah cerita padamu kalau bahkan, di hari pertama kami bertemu, aku sempat mengenalinya sebagai Megumi?”

Ia terdiam.

“Pernah kan? Bukan berarti aku nggak tulus dengan ‘Minmi’, hanya saja di dalam hatiku memang selalu ada tempat untuk Megumi. Maka ketika aku tahu kalau mereka ternyata adalah orang yang sama, aku… Anyway, nggak cukupkah itu menjadi alasan??”

“Tapi kamu meninggalkan Megumi begitu saja dulu!”

“Bukan berarti aku melupakannya—tunggu. Kamu bahkan tahu ceritaku dan Megumi sampai situ? Sedekat itukah kamu dengan adik iparmu?”

Ia tertawa kecil, “Aku mengenal Minmi bahkan lebih lama dari Gregory, kakak angkatnya sendiri. Nama Jepangku Minakami Miyon, aku sepupu kandung Megumi.”

 

“Megumi mengajukan diri menjadi putri angkat keluarga Hwang ketika ia masih kelas tiga SMP, yang baru kuketahui kemudian kalau alasannya hanya semata ingin lebih dekat dengan Korea yang merupakan negara asalmu. Ia ingin bisa menjadi warga negara Korea dan bersekolah disana, dan mungkin menemukanmu. Ia juga berusaha keras mempercantik diri, berubah menjadi seorang Hwang Minmi yang menawan. Semua untuk balas dendam. Padamu.

Tapi tentu, Minmi nggak pernah betul-betul menyatakan alasan itu. Ayahnya saja awalnya sudah mati-matian menolak keputusannya pindah ke keluarga Hwang, apalagi jika ia sampai jujur mengatakan alasannya? Dan mungkin juga itu hanya pikiran pendek kanak-kanaknya, karena ternyata setelah dewasa dan benar-benar kuliah di Korea pun ia akhirnya melupakan niat balas dendamnya. Ia tak seambisius dulu dan menjalani hidupnya dengan senang, tapi mungkin memang nasib kalian, ia akhirnya bertemu denganmu lagi tanpa sengaja. Dan sekejap, Minmi kembali lagi jadi Megumi yang menyeramkan dan penuh dendam…”

 

Aku mohon diri dari rumah keluarga Hwang dengan hati mencelos. Ternyata datang kemari malah membuatku jadi tambah shock dengan kenyataan yang ada. Shock, setelah mendengar tuturan langsung dari orang yang ternyata merupakan tempat curahan hati Megumi sejak kecil, sepupu kandungnya sendiri, Tiffany. Tapi sekarang bukan waktunya itu. Aku harus cepat-cepat berkemas dan segera take off, pulang ke tempatku dibesarkan: Jepang!

“Megumi ada di tempat seharusnya ia berada. Tempat yang mungkin akan menjadi tempat Megumi menghabiskan seluruh hidupnya kalau saja kamu nggak pernah datang dan membuatnya berubah. Kalau saja kamu nggak pernah bertemu dengannya, baik sewaktu kecil dulu maupun saat kompetisi robot yang lalu. Semuanya sudah terlanjur salah, dan biarpun sebetulnya aku sudah bersumpah nggak akan mengatakan apa-apa padamu, bagaimanapun aku ingin sepupu kecilku Megumi kembali. Kamu calon insinyur, dan bukan hanya montir karbitan, kan? Yang hanya bisa mempreteli barang-barang tapi nggak bisa menyusunnya lagi. Kamu yang sudah menghancurkan hati Megumi, maka hanya kamu juga yang bisa memperbaikinya lagi.”

***

Ibaraki, Jepang

“Obaasama, kore wa roboto-dayo. Tenki ga waruku naru toki, kore ‘biiip-biip’ to iimasu. Obaasama wa kaimono shitemo, tonari ie wo kitemo, hayaku kaeru to dekirundayo. (Nenek, ini robot, lho. Kalau cuaca akan buruk, dia bakal berbunyi ‘biip-biip’. Jadi mau nenek sedang belanja, atau lagi berkunjung ke tetangga, nenek tetap bisa cepat-cepat pulang, deh.)”

“Aa… Sou desuyo ne… Arigatou Kirei-chan… (Oh… Begitu ya… Terimakasih ya, Nak Cantik…)”

Pipi Minmi segera bersemu merah, “Nandayo Kirei-chan-tte… (Nak Cantik apa…)” Katanya malu seraya membungkuk dan mohon diri.

Akhirnya mimpi kami tercapai, Minmi berkata pada dirinya sendiri seraya terus melangkah menyusuri jalan di kota kecilnya, dengan memeluk kardus berisi sisa 5 WeFo yang niatnya masih akan ingin ia bagi-bagikan ke para penduduk. Sudah nyaris 10 hari ia pulang ke kampung halamannya ini, dan begitu sampai, tanpa membuang waktu lagi ia segera melesat mengunjungi walikota untuk mendemonstrasikan robotnya. Kepulangannya memang bukan tanpa tujuan yang jelas, biarpun tentu salah satunya karena ia memang sudah rindu sekali dengan keluarga aslinya, tapi alasan lain adalah demi mewujudkan impiannya dulu: membantu penduduk di kota dengan cuaca ter-absurd se-Jepang ini.

Dan untung saja, presentasinya di depan walikota berhasil. Yah, biarpun tetap hal itu tidak lepas dari ‘campur tangan’ sebuah surat keterangan dari kampus beserta piagam juara kompetisi robot kemarin yang makin memperkuat nilai WeFo. Andaikata tak ada itu semua, Minmi pun bahkan tidak yakin walikota akan percaya pada seorang gadis muda yang bahkan belum resmi jadi sarjana ini. Tapi ah, mari lupakan itu, dan hanya fokus pada kenyataan kalau akhirnya pemerintah kota betul-betul mempercayakan pembuatan sampe 10 WeFo untuk warga padanya!

Ya, robot-robot dalam kardus di pelukannya ini. 3 buah sudah ia bagikan kemarin sore, tepat setelah semua kelar dan diuji coba. Dia betul-betul tak sabar ingin WeFo segera dapat membantu orang lain! Pilihan warganya ia dapat dari walikota, tapi berhubung memang tidak ada bantuan sama sekali kecuali sedikit dana, distribusi pun akhirnya ia lakukan sendiri. Berbekal sepeda putih berkeranjangnya.

Ah, tapi ‘mimpi kita’? Mimpi siapa maksudmu, Minmi? tiba-tiba sebuah tanya usil muncul begitu saja di kepalanya. Entah dari bagian dirinya yang mana, tapi itu sukses membuat langkahnya berhenti seketika, tak jauh dari sepedanya yang terparkir di taman perumahan itu. ‘Mimpi kita’? ‘Kita’ itu…

“Ah, ‘kita’ ya maksudnya aku dan WeFo. Ya iyalah. Ada-ada aja.” Biarpun dengan cepat ia buru-buru menghapus itu semua dengan berbicara sendiri. Untung taman sedang sepi, hanya ada beberapa anak kecil yang sedang bermain di bak pasir saja. Kalau tidak, bisa-bisa ia dikira sudah gila!

BRUK. Minmi pun meletakkan kardusnya di dalam keranjang sepeda. Ja, siap distribusi lagi! Target hari ini dua rumah lagi, agak jauh dari sini, makanya ia harus cepat-cepat mumpung belum terlalu sore. Kaja!

“Konna koto iina, dekitara iina, anna yume konna yume ippai arukedo~ (Aku ingin begini, aku ingin begitu, ingin ini ingin itu banyak sekali~)” sambil menggoes sepedanya, ia bernyanyi OST serial Doraemon itu dengan riang. Jujur, salah satu alasannya dulu ingin menjadi pembuat robot ya karena tokoh satu ini. Bukan tidak mungkin setelah WeFo ia bisa membuat robot sejenis Doraemon kan? Yang bisa mengeluarkan segala macam benda!

“An-an-an, totemo daisu— (La-la-la, aku sayang seka—)”

CKITT!!

Dan nyanyiannya seketika terhenti karena tiba-tiba, sebuah mobil sedan hitam dengan plat biru yang beda dari plat mobil pada umumnya, sudah menghadang jalannya begitu saja.

***

Sehari sebelumnya,

“Nak Kibum??”

“Annyeonghaseyo.” Sapaku sambil memberi salam penuh hormat pada penanggung jawab kedutaan besar Korea di Jepang itu. Wah, ternyata bapak ini masih sama! “Oraenman-ineyo, Han-ssi.”

“Tunggu, tunggu… Tapi kamu benar Kibum, kan? Kim Kibum? Putra Diplomat Kim yang paling pendiam??”

“Ne.” Anggukku sedikit malu dengan senyuman. Betul-betul tak menyangka kalau ia ternyata juga masih mengingatku. Padahal diplomat yang punya anak kan banyak, terutama ayahku yang putranya bahkan sampai 5 orang, ditambah 1 putri segala!

“Ya Tuhan… Lihat dirimu! Kamu betul-betul tak berubah sama sekali! Akhirnya tubuhmu sesuai dengan wajah-terlalu-serius-bagi-anak-kecilmu dulu!”

DOEENG~! Seketika kagumku hilang berganti tepukan jidat stres. Itu… penghinaan, ya? Apa wajahku waktu kecil dulu memang ‘tua’ sekali? Haaah, pantas saja dia masih begitu mengenaliku.

“Ehehehe…” Akhirnya aku hanya bisa tertawa palsu. Sabar, Kibum-ah… Daripada kamu tidak bisa tinggal gratis nantinya…

“Ah, apa kabar ayahmu? Ibumu? Kakak dan adikmu? Kamu sendirian? Sombong sekali keluarga kalian, tak pernah sekalipun berkunjung kesini setelah tugas Diplomat Kim selesai dulu.” Katanya bercanda.

Aku kembali tersenyum artifisial. Itu hal yang tidak perlu dijawab, karena ia sendiri sebetulnya sudah tahu kalau pekerjaan appa memang sangat sibuk.

“Dasar, kamu masih susah bicara juga ternyata.” Ia geleng-geleng kepala. Lagi-lagi, senjataku adalah tersenyum meresponnya. “Ja, ada apa kamu kesini, Nak? Tapi melihat ransel besarmu, sepertinya aku sudah bisa menduganya…”

Aku tertawa kecil lagi. Mendengarkan bapak ini berbicara memang selalu menyenangkan. Ia tersenyum begitu ramah. “Ne, sesuai dengan pikiran Anda, Pak.” Anggukku.

“Backpacking, eh? Ya sudah, ini, pakai kamar yang biasa dipakai mahasiswa yang sedang main kesini saja, ya. Kamu dan kakak-kakakmu dulu juga suka main dengan mereka, jadi tahu kan?”

Aku segera mengangguk pasti seraya tersenyum lebar menerima kunci itu, “Terimakasih, Han-ssi.”

Yes! Budget penginapan, save!

“Oh ya, Kibum-ah.”

Aku yang sudah berjalan meninggalkan Han-ssi setelah pamit dengan hormat tadi segera berbalik lagi mendengar panggilannya, “Ya?”

Ia tertawa, “Ini, aku ada bonus untukmu. Kebetulan putra Pak Dubes sedang keluar negeri selama sebulan. Tapi ssst, diam-diam saja ya.” Dan SYUUNG~ ia segera melemparkan sesuatu padaku dengan santai.

HAP! Aku menangkapnya mudah. Apa ini… pikirku seraya membuka kedua telapak tanganku yang tertangkup. Tunggu… YA. TUHAN. Ini… kunci mobil dan STNK-nya??

Aku segera menatap Han-ssi di seberang sana dengan pandang tak percaya. Ia hanya tertawa-tawa seraya mengedikkan bahunya.

Waah, biaya transportasi pun, save!

 

 

Keesokan harinya,

Ibaraki. Akhirnya aku sampai di kota yang terletak hanya bersebelahan dengan Tokyo ini. Kota tempatku tumbuh menjadi remaja, tempat yang bahkan memiliki lebih banyak kenangan daripada di negara asalku sendiri. CIITT. Aku memberhentikan mobil tepat di depan rumah yang memang sudah berubah sana-sini selama 10 tahun ini, tapi aku masih tetap bisa mengenalinya. Tapi setelah turun, bukan rumah itu yang menjadi perhatian pertamaku, melainkan mobil satu ini. Sedan hitam berplat biru dan hanya bertuliskan satu kanji. Hanya satu, tapi kanji ini sangat luar biasa. Kanji itu dibaca ‘soto’, memiliki arti harfiah ‘luar’ atau ‘luar negeri’, yang berarti ini adalah milik sebuah kedutaan besar. Aaah, untung ada mobil ini. Sudah menyingkat perjalananku yang tadinya siap kutempuh dengan kereta, dengan mobil ini pun jalanku jadi amat lancar karena polisi cenderung menghormati plat istimewa ini. Bayangkan, hanya karena sebuah plat dan statusmu di jalanan berubah seketika! Putra Pak Dubes, aku janji akan menggunakan mobilmu dengan baik!

BRRR~ Tapi angin musim dingin tiba-tiba bertiup yang segera memaksaku makin merapatkan satu-satunya jaket yang kubawa dari Korea ini. Mau bagaimana lagi? Awalnya rencanaku kan memang hanya ingin menuju pulau tropis nan hangat Hawaii, jaket ini pun hanya pakaian yang kupakai dari rumah menuju bandara saja. Tak kusangka aku harus ke tempat yang memiliki 4 musim juga, dan sungguh, bulan Januari di Jepang ternyata lebih dingin daripada di Korea.

TINGTONG! Buru-buru kupencet bel di rumah bertingkat itu sambil menggosok-gosokkan kedua tangan. Dingin sekali!

“Hai? (Ya?)” Intercom di atas tombol bel segera bersuara. Sepertinya seorang ibu-ibu.

“Ah, Minakami desuka? (Apa benar ini kediaman keluarga Minakami?)” Jawabku dengan bahasa Jepang yang masih cukup fasih. Aku tak akan pernah lupa dengan bahasa ini, bahasa Jepang sudah seperti bahasa ibu ketigaku setelah Korea dan Inggris.

“Hai, sou desu. Dare… desuka? (Ya, betul. Siapa… ya?)”

“Kim Kibum dakedo, Megumi imasuka? (Aku Kim Kibum, Megumi-nya ada?)”

“Kim… Kibum? Ah, Ki-chan desuka??”

Aku tersenyum. 100% positif, ini ibu Megumi. Ia bahkan masih mengingatku. “Hai, sou desu. Okaasama, ohayou gozaimasu. (Ya, betul. Ibu, selamat pagi.)”

“Oh! Chotto matteyo! (Oh! Tunggu sebentar!)” Serunya sebelum tak lama, pintu pagar rumah itupun segera terbuka. Wajah ibu Megumi yang betul-betul tak berubah segera menyembul dari baliknya. “Ya ampun, kamu betul-betul Ki-chan!”

Aku tersenyum lagi. Seperti yang pernah kukatakan, ini satu-satunya senjata orang ‘gagu’ sepertiku.

“Megumi tak ada??” Lagi?? tambahku biarpun hanya dalam hati. Aku sudah berada di ruang keluarga kediaman ini, disuguhi ocha panas dan senbei (snack beras), duduk di dalam meja pendek berpenghangat, tapi informasi yang kudapatkan lagi-lagi seperti ini. Ini kenapa, sih? Apa Tiffany membohongiku?

Nyonya Minakami tersenyum seraya menggeleng, “Bukannya betul-betul tak ada, ia hanya sedang keluar dari tadi pagi. Mengantarkan sampel robot buatannya kepada warga. Anak itu, sudah besar masih saja maniak pada robot. Oh ya, betul juga. Dulu kalian juga ikut klub robot sama-sama kan di SMP? Apa Ki-chan juga masih suka robot?”

Aku segera menghela napas lega mendengar jawaban itu. Syukurlah, aku tak perlu harus mengitari setengah dunia lagi hanya demi mencari gadis ini. Rute Korea-Hawaii-Jepang hanya dalam kurun 3 hari sudah cukup melelahkan! “Um.” Jawabku singkat. “Jadi, kemana Minmi—Megumi, maksudku—pergi?”

“Kamu sudah tak sabar bertemu sahabat cilikmu ya? Megumi tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik lho, kamu pasti langsung tergila-gila melihatnya.” Godanya bercanda.

Aku tertawa kecil seraya mengangguk-angguk. Ya, aku tahu benar hal itu. Dan tergila-gila… tepat sekali.

“Dia sedang berkeliling kota, aku juga tak tahu kemana. Anak itu, sekian lama baru pulang malah pergi-pergi terus… Ah ya, kamu tunggu disini saja, nanti sore dia juga sudah kembali.”

Tapi aku segera menggeleng, aku tak bisa menunggu selama itu. Hatiku tak akan tenang jika sudah berada di atas tanah yang sama dengannya tapi tak segera bisa menemuinya. “Tak usah, Bu. Terima kasih. Aku cari Megumi sendiri saja, sekalian jalan-jalan.” Kataku sopan seraya bangkit dari duduk bersilaku.

Ibu Megumi ikut bangkit dengan wajah khawatir, “Betulkah? Hati-hati lho, jalanannya sedikit licin karena salju kemarin…”

“Daijoubu desu yo. (Tak apa-apa kok.)” Jawabku menenangkan. “Oh ya, Megumi memangnya naik apa?”

“Kesukaannya, sepeda.”

Aku menelengkan kepalaku, “Bukankah itu lebih berbahaya?”

Nyonya Minakami hanya tertawa-tawa, “Pro desuyo, kanojou wa. (Dia sudah pro, kok.)”

Akhirnya, sesiangan pun aku lalui dengan hanya berputar-putar keluar-masuk setiap perumahan di kota ini hanya demi mencari Minmi. Seingatku ini hanya kota kecil, tapi kenapa sulit sekali, sih? Tak sengaja kutatap speedometer mobil dan segera menemukan indikator bensinku yang sudah mendekati huruf E, Empty. Sial, bensinku nyaris habis, haruskah aku juga berhenti untuk hari ini? Agak tak rela, tapi akhirnya aku memutuskannya seperti itu juga. Setelah isi bensin, aku akan segera kembali ke Kedubes. Toh besok juga aku pasti akan kembali lagi kesini. Mudah-mudahan Minmi juga sudah selesai dengan distribusi robotnya itu juga. Biarpun diam-diam, aku sangat kagum padanya. Dia benar-benar mewujudkan mimpi kami, membuat robot untuk membantu masyarakat. Walaupun mungkin sekarang ia sudah tidak menganggapku sebagai bagian dari mimpi itu lagi…

Aku baru saja keluar dari pom bensin, bahkan belum sempat memasang seatbelt-ku ketika kulihat sosok seorang gadis dengan jaket tebal bertudung sedang mengendarai sepeda berkeranjangnya. Aku mengenalnya… Mau dari depan, samping, belakang, aku tak akan pernah salah mengenalinya lagi. Itu Minmi. Gadis yang bahkan kurang dari sebulan lalu masih selalu dapat kupeluk dengan eratnya.

Buru-buru aku menancap gas untuk segera mengejarnya, biarpun tetap memaksa berhati-hati karena jalanan yang licin. Sudahlah Kibum, pergerakan pelan mobil tentunya masih lebih cepat dari sepeda yang mengebut, kok. Aku terus mengikutinya, sedikit demi sedikit mencoba menjajari atau bahkan menyalipnya. Ia belum tersadar, dan memang itu yang aku inginkan. Aku tak ingin ia kabur lagi tanpa aku sempat mencegahnya seperti dulu.

Kami sudah memasuki sebuah area perumahan yang jalannya cukup sepi begitu aku berhasil mempertahankan mobil bersisian dengan sepedanya. Sesekali aku menoleh menatapnya dari balik jendela mobil, rambutnya yang dibiarkan tergerai tertiup angin dengan sangat indah. Pipinya sedikit merona, mungkin karena dingin, mungkin juga karena begitu bersemangat dengan apa yang ia lakukan. Matanya begitu bersinar, ia terlihat begitu bahagia berada disini, tanpaku. Aku jadi kembali mempertanyakan keberadaanku disini. Mungkinkah memang hanya aku yang menginginkan kami kembali?

Tapi biarpun begitu, aku tetap harus bicara dengannya. Setidaknya aku harus meminta maaf tentang kepergianku dulu, meluruskan semua kejadian yang tak pernah kusadar telah berhasil menghancurkan hati gadis kecil yang dulu kukenal sampai berkeping-keping. Maka menginjak gas lebih dalam lagi, aku pun dengan mudah menyalipnya.

CIIT!! Mendadak kuberhentikan mobil tepat di depan sepedanya, menghadang jalannya. Dengan kaget ia pun cepat-cepat menghentikan lajunya juga. Kubuka pintu mobil dan segera keluar.

“KIBUM??”

“Minmi—oh, mungkin lebih tepat, Megumi. Please, kita harus bicara.”

Tapi tanpa menjawab, ia sudah membalikkan sepedanya saja dan mengayuhnya ke arah yang berlawanan. Aku cepat-cepat memasuki mobil lagi untuk mengejarnya.

“Megumi, ayolah. Masuk ke mobil aja, kita bisa bicara dan aku akan mengantarmu kemanapun.” Aku kembali membujuknya sambil terus berusaha menyamakan kecepatan di sisi sepeda yang terus bergerak itu.

“Sudah kubilang Megumi sudah mati.” Jawabnya ketus bahkan tanpa merasa perlu menoleh. Ujung gang, ia segera membelokkan sepedanya ke kanan. Aku tetap mengikutinya, kembali bersusah payah menjajarinya lagi.

“Okelah, Minmi. Please, tolonglah, masuk aja, ya? Aku tahu di luar dingin sekali, kan?”

“Darimana kamu tahu aku disini?”

“Itu nggak penting. Dan ya ampun, nggak bisakah kamu pelan sedikit? Jalanan sangat licin, kamu harus hati-hati!”

Baru saja aku bilang begitu, tiba-tiba ia sudah berbalik arah tanpa mengurangi kecepatan sedikit pun, hanya setelah melihat sesaat ke langit yang menaungi kami. Aku sukses menganga melihat U-Turn luar biasanya itu. Benar kata ibunya, ia memang seorang pro.

“Hei, kenapa kamu putar balik? Kamu salah arah?” Aku yang setelah dengan susah payah ikutan memutar mobil di jalan kompleks yang cukup sempit kembali bisa menjajarinya. Dan ya ampun, sekarang kayuhan sepedanya bahkan lebih cepat dari tadi. Aku betul-betul khawatir ia akan terjatuh di jalanan yang licin ini!

Ia menoleh sebentar untuk menjawabku, “Sekian lama meneliti cuaca, apa instingmu masih tumpul?”

Cepat-cepat aku menoleh ke belakang, mencoba melihat langit dari kaca belakang mobil. Oh ya, benar. Awan di belakang sana mulai gelap, sebentar lagi akan hujan. Dan Minmi sedang menjauhinya, dengan mencari jalan lain mengikuti awan yang masih lebih terang di daerah sini.

“Dakara (karena itu, kan), sudah kubilang masuk aja kesini, naik mobil nggak akan kena hujan!”

Ia tak merespon dan malah makin mengayuh sepedanya lebih cepat meninggalkanku. Aku menepuk dahi, susah sekali bicara dengan gadis ini, bahkan diperlukan adu balap sepeda VS mobil segala! Lelah terus berteriak dari dalam mobil, kali ini aku pun berniat memaksanya untuk ikut denganku. Dan hal pertama yang harus kulakukan adalah menyalipnya lagi. Maka perlahan aku pun kembali menginjak gas, mencoba mengejarnya yang sudah berada satu blok di depan.

…Ketika tiba-tiba dari dalam jalan di pertigaan yang sedang kulintasi, melaju sebuah truk jasa kurir dengan kecepatan tinggi. Aku pun baru tersadar ketika suara klakson mereka sudah benar-benar seperti berada di telingaku. Dan begitu menoleh, cahaya kedua lampu depan truk itu yang begitu menyilaukan mata adalah hal terakhir yang bisa kuingat. Refleks aku membanting setir, tapi aku lupa. Hal yang selalu diwanti-wanti ibu Megumi sejak tadi… Jalanan yang licin.

BRAKK!!

“Ki… bum? KIBUM!!”

 

TBC

Advertisements
 
5 Comments

Posted by on December 27, 2011 in Super Junior, [THE SERIES]

 

5 responses to “[THE SERIES] BAHASA LANGIT – Part 5

  1. Ipeh

    December 27, 2011 at 5:58 pm

    Hah… Lola…koq dikit bgt. Pas lg seru2nya lgsng cut. Semoga Minmi mau mendengarkan penjelasan Ki. Ah,cepet baikan. Gregetan jadinya.
    Ditunggu update-an berikutnya. Semangat ^^

     
  2. Oepieck

    December 27, 2011 at 7:33 pm

    Eonni!! Kenapa ini malah tabrakaaan??!!
    Kibum… Kibum… Sabar ya, author yg satu ini kyak.a g segan ngasih kamu cobaan #PLAKK!
    Eonni! Itu mobil anak.a pak dubes to? Itu gmn itu?
    Ah, eonni jago bikin orang penasaran
    semangat ya bikin lanjutan.a!

     
  3. ms.o

    January 1, 2012 at 3:57 pm

    annyeong..
    eonniiii….benarkah…benarkah…ki…kibum??? #ala sinetron…

    pendek dan nanggung, hahahaha,,,pas lagi penasaran geeellaaa, malah tbc,,yaaah..reader kecewa..

    ayo eonn, ditunggu lanjutannya,,,semangat!!!

     
  4. hwangminmi

    January 5, 2012 at 10:16 pm

    Yak, udah lama gak mampir ke blog eonni udah ada 3 aja yang belum dibaca ==”

    Yg penting part 5 udah keluar yeah~ XD
    *tebar bunga* *ditabok penyapu jalan* (?)

    Aduh kasian kibum ditabrak mobil~ *ambil tisu*
    Kayaknya nasib kibum selalu tragis di setiap ff yg aku baca yak ==” kibum yang malang~

    Terus tadi aku sempat shock pas baca bagian minmi nyanyi lagu doraemon XD dulu aku jg suka nyanyiin yg versi jepangnya di sekolah looooooo~ :3 #teruskenapa

    Udah lama gak ngomentarin postingan orang jadi gatau mau ngomong apa ==”

    Selamat tahun baru~ X)

    P.S.: sekarang aku jadi suka yoochun loh eonni :3 huahahhahahaha (?)

     
  5. asihkpop

    January 11, 2012 at 10:23 pm

    sumpah gregetaaaannnn,,,,
    Udah lama menanti,, next ceritanya tambah buat aku galauuuu…

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: