RSS

[THE SERIES] DR. SHIN – CASE 5

14 Dec

Disclaimer dulu ah: semua cerita ini murni fiktif (dicampur beberapa penelitian author sih hahaha), jadi kalau ada kesalahan tentang prosedur ataupun kehidupan kedokterannya, harap dimaafkan 🙂 dan oh ya, bayangkan Shindong disini ketika dia dalam kondisi terkurusnya, terkerennya. Sekurus-kurusnya, sekeren-kerennya yang pernah Shindong alami ya, biar lebih dapet kesan dokter angkuhnya (loh?) :p

 

DR. SHIN

(Case 1; Case 2; Case 3; Case 4)

Written by: Lolita Choi (@lolita309)

Starring: Shin Donghee, Kim Jaejoong, Zhou Mi, etc.

 

(INFO) Daftar absen intern dr. Shin Donghee:

Kim Jaejoong (lk) = Kim 1

Kim Dal (pr) = Kim 2

Zhou Mi (lk, China) = Zhou

Park Yora (pr) = Park

LIMA. THAT POLICEMAN

Flashback

“Dokter itu seperti pisau.”

Aku segera menoleh ke arah pintu ruang istirahat dokter ini begitu mendengar suara itu. Sedari tadi, tepatnya secepatnya setelah prosedur euthanasia pertama (dan kuharap terakhir) yang pernah kulakukan, aku memang memutuskan untuk menenangkan diri sejenak, menyendiri di dalam ruangan yang lebih mirip kamar asrama, lengkap dengan segala set ranjang bertingkat, alat elektronik (AC, TV), dan berbagai cemilan ini. Mungkin ketika mohon diri pada dr. Hwan, Doojoon, dan lainnya tadi memang aku yang terlihat paling dapat menguasai diri, yah, tetap tenang dan dingin seperti biasanya, bahkan setelah bisa dibilang ‘membunuh’ seseorang. Tapi tentu, tak akan ada orang normal yang tidak akan shock pasca melakukan ‘pembunuhan’, sekalipun itu diperbolehkan dalam bidang medis seperti ini. Dan aku—pastinya—masih normal.

Biarpun seketika aku langsung menyeringai kecil sambil geleng-geleng kepala begitu melihat siapa si pemilik suara tersebut. Seperti mungkin sudah banyak yang menebak… ya, dia adalah intern wanita kesayanganku, Park Yora. Aku makin tenggelam dalam tawa kecilku, tawa sinis, mengingat bahwa kata-kata yang diucapkannya bahkan adalah persis, kata-kataku sendiri saat akan ‘menidurkan’ pasienku dalam damai. (Baca case 4, mendekati akhir)

Ah, sudahlah, Shin Donghee. Terimalah. Kalian memang berjodoh, jangan munafik lagi.

“Sillyehamnida. (Maaf mengganggu.)” Ia membungkuk hormat padaku setelah tak lupa menutup pintu di belakangnya. Aku mengangguk sekilas, mengiyakan. Diam sejenak, sebelum akhirnya ia memutuskan kembali bersuara ragu, “Dokter… tidak apa-apa, kan?”

Aku tersenyum simpul pada diri sendiri, ia khawatir padaku. Maka aku segera melanjutkan dengan bercanda, “Apa aku sedang sakit?”

“Bu… Bukan, Dok.” Ia cepat menggeleng. Sekuat tenaga kutahan senyumku melihat sikapnya, anak ini betul-betul mujarab menaikkan mood-ku. “Tapi… seorang dokter memang seperti pisau. Ya. Kita bisa membantu orang, tapi sebaliknya, terkadang kita juga harus berurusan dengan nyawa seseorang… Saya hanya mau bilang begitu.” Katanya pelan. “Ah tapi saya bukan bermaksud menggurui Dokter. Itu… kata ayah saya, Dok. Dokter, kehidupan, dan kematian adalah hubungan yang alami. Jadi Dokter tidak perlu terlalu memikirkan prosedur barusan (euthanasia).” Tambahnya cepat-cepat sambil kembali membungkuk berkali-kali, seakan takut dimarahi olehku karena berani-beraninya berceramah.

Yang memang biasanya seperti itu. Yaaah, setidaknya pada intern-internku yang lain.

Tapi alih-alih mengomel, aku malah makin tak kuasa menahan senyum (kalau tak mau dibilang tawa). Dia bahkan sebegitu perhatiannya pada kondisi mentalku, biarpun aku juga tahu sih mengapa. Park Yora adalah mahasiswa Kedokteran yang juga mengambil minor Psikologi, sehingga ia pasti tahu dampak-dampak kejiwaan yang bisa timbul akibat tindakan barusan bagi setiap orang yang bersangkutan dengannya, baik keluarga, staf dokter, bahkan pasien-pasien lain.

Tapi tetap saja, setidaknya ia bisa dibilang menaruh cukup perhatian padaku, kan? Jadi tak bisakah aku sedikit menggantung harapan…

“Kenapa…? Dokter tertawa, ya?” Tanyanya bingung melihat ekspresiku.

Aku kini menatapnya lagi dengan masih senyum terukir di wajahku, “Lagian kamu, siapa yang sedang memikirkan prosedur barusan?”

“Eh?? Jadi Dokter tidak—”

“Aku baru mau istirahat sehabis sarapan tadi—kalau jam 10.30 masih bisa dibilang sarapan sih,” tunjukku pada sebuah kotak mika yang masih berisi sisa-sisa salad dan dressing-nya di atas meja. Entah punya siapa, yah, yang penting itu sesuai dengan sepengetahuan mereka tentang pokok makananku akhir-akhir ini. Sudah sekitar sebulan ini memang aku sedang diet, dan tentu anak-anak itu tahu karena mereka memang kerap menemuiku di jam-jam makan siang untuk konsultasi kasus atau sebagainya, dan tentu, akhirnya melihat menu di tiap makanku yang penuh dengan makanan sehat itu. “…tapi tiba-tiba kau muncul.” Lanjutku.

Ia segera memberi wajah kaget yang cepat-cepat diikuti bungkukan berkali-kali lagi, “Maaf saya telah mengganggu, Dok. Maaf, maaf.”

Aku tertawa, “Dwaesseo. (Sudahlah.) Aku juga tidak begitu mengantuk kok.” Kataku. “Terima kasih ya… Yora.”

***

“Ah, Yora, bisa tolong kau antarkan ini ke dr. Kang?” Pintaku seraya menyerahkan sebuah map plastik biru berisi rekam medik seorang pasien yang memang diminta dr. Kang kepadanya. Gadis yang barusan masih sibuk membereskan ranjang pasien di bangsal kelas 3 ini bersama ketiga rekannya (atas suruhanku, pendidikan anti-sombong atas posisi ‘dokter’ yang mereka miliki) segera mendongak.

Tapi bukan jawabannya yang lebih dulu aku dengar, melainkan sebuah pengulangan atas namanya dengan nada tinggi penuh selidik, “Yora?”

Aku segera menoleh dan menemukan Kim 2 yang tadi masih sibuk jijik sana-sini membersihkan sprei bekas muntahan pasien dan sebagainya kini sudah berkongsi dengan dua teman prianya (Kim 1 dan Zhou). Mereka berbisik-bisik sambil sesekali melirik ke arahku dan Yora.

“Mwo??” Tanyaku sensi.

“Umm… Begini Dok, coba deh, nama saya siapa? Nama kecil.” Tes si pemuda Cina. Ia sedikit melangkah maju meninggalkan teman-temannya.

Aku memutar bola mataku ringan, ini mudah sekali. “Zhou.” Jawabku lugas.

…Yang segera direspon dengan tundukan kepalanya, kecewa T.T

“Oh, mungkin si dokter baru ingat nama intern-intern ceweknya, kali… Coba aku, ya. Kalau saya, nama kecil saya siapa, Dok?” Kini intern wanitaku satunya sudah menunjuk-nunjuk dirinya sendiri.

Aku bingung sendiri dengan tingkah mereka. Ini maksudnya apa, sih? Biarpun akhirnya tetap kujawabnya juga… “Kim 2? Aaargh, apa maksud kalian, sih?? Jangan mempermainkanku!”

“Yaaah, Dokter…” Gadis berambut lurus berponi itu memberi nada kecewa sebelum kembali pada rekan-rekannya. “Eh Mi, tapi kayaknya betul deh tebakan kita waktu itu. Hihihi,” bisiknya pada Zhou seraya melirik-lirikku lagi, sudah kembali ceria hanya dalam hitungan sepersekian detik!

“Ya, kan? Gentleman Mimi sih nggak akan pernah salah melihat gelagat seseorang. Hahaha,”

“Kalian ngomong apa, sih?” Tanya Kim 1 dengan tampang bloon bingung. Ia seperti terpisah dunia dengan teman-temannya, tak tahu sama sekali apa yang duo itu perbincangkan.

“Yah, nggak peka nih. But not here, JayJay. Tapi pasti kita kasih tahu deh—”

Sementara aku, telingaku yang sudah memerah akibat mulai sadar tentang apa yang sedari tadi mereka perbincangkan (terutama si soulmate Kim 2-Zhou), akhirnya memberi sinyal untuk murka juga demi menutupi rasa malu, “YA! Kalian cepat lanjutkan beres-beres! Ganti seprai itu! Dan kau Yora—Park, maksudku—segera bawa map ini. Semua go, go, go!”

Hari berikutnya,

“Yora—”

“Ohok, ohok.”

Aku segera melirik malas pada si sumber suara batuk-sangat-disengaja yang sudah berhasil memotong panggilanku barusan, intern wanita teramai yang pernah kubawahi (yah, kalian pasti sudah tahu lah) yang berdiri di samping Zhou di kamar pasien ini. Sejak kemarin mereka tak sengaja mendengarku memanggil Yora dengan nama kecilnya (tapi ternyata setelah di tes aku sama sekali tetap tidak bisa mengingat nama kecil mereka), keduanya memang sepakat untuk selalu menyindirku baik dengan dehaman maupun batuk seperti tadi. Walhasil daripada memilih memaksakan mengingat nama kecil 3 orang lagi dalam hidupku itu—yang malas sekali kulakukan, masih banyak hal yang lebih penting dari itu—aku pun sepakat untuk memanggil Yora dengan marganya lagi hanya di depan mereka, yah, sebelum dehaman dan batuk itu akhirnya berubah jadi berbagai sindiran dan ledekan jika mereka tahu alasanku bisa mengingat nama Yora adalah karena aku menyukainya. Biarpun tetap saja, serapi apapun aku mencuri waktu untuk bisa berdua dengan gadis itu dan kembali menghujaninya dengan berbagai perhatian, bisa memanggil namanya dengan ‘akrab’ lagi, tiba-tiba saja mereka selalu muncul lagi, tepat seperti barusan. Sial.

Merasakan pandanganku, dengan cepat Kim 2 pun buru-buru menoleh ke arah lain, pura-pura tidak tahu apa-apa sementara sang partner (Zhou, tentu saja) segera bersiul-siul pelan, mencoba menutupi ‘maksud’ kelakuan mereka barusan.

Percuma, karena biarpun baru 3 bulan aku jelas-jelas sudah mengenal perangai mereka masing-masing.

“Park. Park, maksudku.” Maka itu aku segera meralat dengan sinis, daripada mereka makin curiga dengan segala perlakuan berbeda yang kuberikan pada gadis itu. Dua bocah itu segera menaikkan jempol mereka ke arahku. Aku menggeram dalam hati. GRRR~

Itu belum seberapa.

 

 

Di lain hari,

Sudah beberapa hari ini kulihat Yora terlihat murung dan kurang bersemangat melaksanakan tugas magangnya. Berkali-kali kupergokinya bengong, melamun, padahal biasanya ia selalu antusias melakukan segala hal yang memang baru ditemukannya riil di RS ini. Semua orang sepertinya menyadarinya, terbukti dengan tak jarang aku melihat satu per satu orang bertanya tentang kondisinya, ataupun kira-kira ada masalah apa yang menimpanya. Biarpun seperti yang dapat dikira, selalu Yora menggeleng seraya tersenyum, menyatakan semua baik-baik saja. Tapi aku tahu, pasti ada yang tidak beres. Ada apa dengan Yora?

“Kau sepertinya kurang fokus akhir-akhir ini.” kemana Yora-ku yang kritis, yang selalu menjawab bahkan tanpa perlu ditanya? Aku merindukannya… tambahku, biarpun yah, hanya dalam hati tentunya. Karena jujur memang ia yang selalu antusias-lah yang selalu kurindukan, yang selalu menjadi penyemangatku ketika pastinya—sesuka apapun diriku dengan pekerjaan ini—saat-saat jenuh melanda.

BRAKK! Mungkin terlalu kaget, ia yang barusan masih terdiam lama menatap lokernya pun tanpa sengaja segera menutupnya keras dan berbalik. “Kamjjak-iya! Oh, Dokter!”

“Kau juga jadi jumpy (gampang kaget) akhir-akhir ini.” Tambahku ringan seraya menaikkan alis, mengingatkannya tentang tak cuma kali ini saja ia dengan mudah terkejut karena hal-hal kecil. Tanda-tanda orang sedang bengong, gampang sekali kaget.

“Ah, joisonghamnida, apeuro deo yeolsimhi hagesseumnida. (Oh ya, maaf Dok, ke depan saya akan bekerja lebih baik lagi.)” Ucapnya segera sambil membungkuk beberapa kali dengan takut-takut.

Yang segera kusadari kalau memang selalu itu respon darinya (dan setiap orang lain) tiap kali kuajak bicara. Memandangku sebagai sosok ‘superior’ yang ‘horor’. Duh, apa iya selama ini hanya kesan itu yang ia—mereka—dapatkan dariku? Bagaimana mungkin aku bisa memulai hubungan ‘spesial’ dengannya jika ia bahkan selalu memandangku seram begitu??

Aku harus mengubah itu semua. Jika memang aku ingin memiliki arti lebih di matanya. Ya. “Jadi, apa yang sedang kau lakukan tadi? Bengong menatap lokermu saja. Apa ada yang menarik disana?” Tanyaku seraya tersenyum, tiba-tiba teringat lagi dengan alasanku menegurnya tadi. Sekilas sepertinya aku melihat sebuah foto disana—yang sepertinya itu yang sedang ia pandangi tadi, seseorang dengan kemeja biru, atau…? Yah, pokoknya sebisa mungkin pertanyaan kepo itu kuucapkan dengan nada tersantai, ter-tak-kaku yang bisa lidahku produksi. Oh, ini cukup sulit. Sudah berapa lama aku tidak berbicara se-friendly ini pada seseorang?

Ia cepat-cepat menoleh ke lokernya dan segera menggeleng, “Tidak Dok, bukan apa-apa.”

“Jeongmal?”

“Jeongmal imnida.” Balasnya pasti. “Maaf sudah membuat Dokter khawatir.”

Aku mengangguk pelan mendengar perkataan terakhirnya, “Ya. Ya, aku memang mengkhawatirkanmu.” Iyaku sebelum SHYU~ menghela napas berat. Aku sudah memutuskan. Setidaknya aku harus pulang dengannya hari ini. Ia masih menatapku dengan mata berlensanya, bingung dengan perkataanku barusan. “Yora, pulang kerja nanti… bolehkah aku… mengan—”

“Yora~!”

BRAKK! Tanpa ba-bi-bu tiba-tiba pintu kayu di belakang kami sudah menjeblak seketika, diiringi suara cempreng-riang-pecicilan khas seseorang. Aku dan Yora kontan melonjak kaget.

“Eh, ada Dokter juga!” Seperti yang bisa diduga… itu Kim 2. Aku menghela napas lelah. Hari ini pun gagal. “Dokter ngapain disini? Ini kan ruang loker intern dan perawat…”

“Justru aku yang mau tanya, apa yang kau lakukan masuk melempar pintu begitu?? Ini RS, jangan berisik! Sudah, aku keluar dulu!”

Yora segera bereaksi, “Lho Dok, tadi mau bicara apa…?”

“Lain kali saja. Dan kalian, jangan lama-lama istirahat, kutunggu 10 menit lagi di UGD.”

Lain kali, Shin Donghee… lain kali. Bersabarlah, kau masih akan punya cukup banyak waktu berdua dengannya.

Biarpun ternyata sepertinya aku salah.

“Yora, bisa bicara sebentar?” Tanyaku seraya memberikan senyum (kaku) terbaikku. Ia yang baru akan menyuap makan siang nasi merah kesukaannya segera mendongak, dan menemukanku sudah bertengger di atas kursi di seberangnya di kantin khusus karyawan ini. Aku kembali tersenyum. TRIING~

“Uhm. Ya… Dok? Ada apa?”

“Ani, geunyang… (Bukan apa-apa, hanya…)” Bukaku. Ia masih menelengkan kepalanya, mendengarkan dengan baik. “Itu, hari ini shift-mu selesai sore, bukan? Bagaimana jika aku… aku…”

“Ya…? Jika Dokter kenapa…?” Tanyanya penuh senyum. Ya ampun, manis sekali!

Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tak gatal, salting dan pria kaku, kombinasi yang sangat jelek! “Bagaimana jika aku mengan—”

“Hei, Yora! Aku cari kemana-mana lho. Nanti pulang sama aku yuk, aku bawa mobil!”

Itu. Itu maksudku! Rasanya ingin sekali aku berteriak seperti itu, sebelum akhirnya aku tersadar kalau… Lagi. Seseorang telah mengacaukan rencanaku lagi. Seketika kami berdua pun mendongak begitu mendengar suara pria yang merdu itu. Biarpun sepertinya aku sudah bisa menduganya…

“Jaejoongie!” Sapa Yora cerah. “Pulang bareng, ya…? Um, oke. Kebetulan aku juga belum minta jemput sih.” Jawabnya yang diiringi senyum untuk teman magangnya yang sama-sama berasal dari Universitas Korea itu. Aaahh mudah sekali ia menjawab…

Kim 1 nyengir lebar mendengar reaksi positif Yora sebelum akhirnya memutuskan untuk langsung pergi pasca mengacak rambut gadis itu. “Ja, see you. Dok, duluan!” Pamitnya sekedar seraya berlalu begitu saja.

Datang begitu saja, pergi begitu saja, dan dengan mudah menghancurkan seluruh rencanaku. Mengesalkan sekali!

“Ja, Dok,” Yora kembali lagi padaku. “…tadi mau ngomong apa?”

Bete to the max, aku pun langsung berdiri begitu saja, “Lupakan.”

Biarpun begitu, sampai disini aku masih percaya kalau yang namanya ‘lain kali’ itu pasti ada. Pasti masih ada.

“Aigo, ai—”

“Aku bantu.” Kataku cepat begitu melihatnya kesulitan mengangkat sebuah kotak besar yang sepertinya berisi segala macam arsip-arsip RS kami itu. Sebetulnya sudah sejak tadi aku membuntutinya, sejak ada salah satu intern dari tim lain, pria, yang memintainya tolong mengangkut kotak itu entah kemana. Tidak tahu diri sekali memang intern itu, meminta tolong pekerjaan kasar begini pada wanita. Aku saja langsung sangsi saat melihat perbandingan ukuran kotak itu dengan tubuh Yora yang memang cukup mungil (kalau tidak mau dibilang ‘pendek’) makanya buru-buru memutuskan mengikutinya, tahu kalau ia pasti akan kesulitan. Lihat saja nanti, pasti akan kutegur intern itu langsung di depan resident-nya.

Yora yang kaget karena kemunculanku yang seperti superhero, tepat nongol di saat beberapa detik lagi kotak berat itu bisa saja jatuh dan menimpa kakinya langsung mendongak, “Dok!”

“Hai.” Balasku singkat dengan senyum seraya mengambil alih kotak itu. Benar saja, berat. Ia masih terbengong-bengong sambil mencoba menjajari langkahku yang langsung berjalan lagi begitu sudah membawa bebannya itu, sampai-sampai akupun merasa perlu memperlambat langkahku supaya ia bisa mengejarnya.

“Maaf ya Dok, merepotkan…” Katanya pelan, segan sekali.

Aku menoleh, “Sama-sama.” Jawabku ramah. “Lain kali kalau ada temanmu, apalagi pria, menyuruh melakukan hal seperti ini, bilang saja suruh dia kerjakan sendiri… Ara?”

Ia segera menghentikan langkahnya, menatapku bingung, “Lho… kenapa Dokter bisa tahu?”

Ups. Tanpa sadar aku sudah membuka kedokku sendiri… ‘Penguntit’. Mulut bodoh. “A-Aku bilang kan ‘kalau’, mana aku tahu kalau yang menyuruhmu ternyata betul-betul intern pria.” Untung aku cepat memutar otak.

“Oh…” Responnya seraya manggut-manggut.

“Nah, ya sudah percepat jalanmu. Sudah tidak membawa apa-apa kenapa masih lamban, sih?”

Ia langsung tertegun, “Oh iya Dok, maaf!” Katanya sambil kembali mengejarku dengan berlari-lari kecil. Sungguh menyusahkan… sekaligus juga menggemaskan di saat yang sama. Aku memang betul-betul tidak bisa bertemu tipe-tipe wanita seperti ini. Wanita yang dengan berada di sekelilingnya akan membuat kita merasa selalu ingin melindunginya.

“Bagaimana pengalaman hari ini di bagian lab?” Tanyaku akhirnya, mencoba memulai konversasi yang sedikit ringan. Hari ini berhubung aku ada penanganan operasi, mereka memang kusebar dan kutitipkan di beberapa bagian RS ini untuk belajar, dan Yora berdasarkan undian mendapat laboratorium RS sebagai ‘kelasnya’ hari ini.

Ia tersenyum, “Senang, Dok. Tapi orang lab terlalu pendiam, saya jadi canggung.”

“Bukan orang lab yang terlalu pendiam, tapi kau yang terlalu sering berinteraksi dengan orang-orang hiperaktif macam kawan-kawan setimmu itu.”

Ia tertawa.

“Oh ya, Yora.” Panggilku lagi. Ia menoleh sambil tetap melangkah di sebelahku. “Hari ini kau jaga malam, kan?” Aku mulai lagi dengan misi yang tertunda itu, mengajaknya pulang bersama. Tapi sekarang sudah dengan intonasi yang mantap dan percaya diri, dong. Ternyata benar kata orang: practice makes perfect. Tidak sia-sia juga bocah-bocah itu selalu menggagalkan rencanaku kemarin. Tapi awas saja kalau hari ini juga…

“Eh? Iya… sih, Dok. Memang ada apa?”

“Kebetulan malam ini aku ada membantu operasi tumor otak yang akan berlangsung semalaman, jadi sepertinya aku juga akan menginap disini hari ini. Bagaimana kalau besok pagi kita sama-sama pulang, aku mengan—”

BRUKK!!

“Aww!” Pekik Yora dengan badan sudah nyaris jatuh akibat ada orang yang tiba-tiba menabraknya dengan kecepatan tinggi barusan. Untung saja HUP! dengan cepat orang itu juga refleks menahan punggung intern kesayanganku sehingga tidak jadi jatuh ke lantai. Aku yang barusan masih terkejut sudah buru-buru mengatur napasku lagi, siap mengomel dan berceramah, ketika akhirnya aku melihat siapa sebetulnya orang itu…

“MIMI??” Yora mendahuluiku berseru menyebut nama si orang ceroboh tadi. Ya, betul sekali. Ia satu lagi internku, pria tinggi berkacamata kita, Zhou Mi… yang akhirnya membawaku pada satu kesimpulan final tentang ini semua:

NASIBKU BURUK SEKALI!!

“Oh, Yora, Dokter! Maaf, maaf, tadi aku…eh saya, eh aku… saya…” Ia menoleh berkali-kali antara aku dan Yora, bingung menentukan akan dengan bahasa mana ia berbicara: formal seperti tiap kali bicara denganku, atau banmal seperti yang sering dibahasakannya dengan teman-temannya. Aku memutar kepalaku malas. Kepalang jengkel.

Dan dengan segera ia pun seperti menyadari apa yang terjadi, yang barusan akan aku lakukan. Apalagi setelah menatapku dan Yora lagi bergantian, kali ini dengan lebih lekat-lekat… “Ya ampun! Saya ganggu ya? Maaf, maaf ya Dok! Sumpah tidak sengaja, jinjjayeyo!” Katanya sambil buru-buru membungkuk, tapi jelas sekali aku masih melihat cengiran-super-girang di sela-sela permintaan maafnya itu. Sial, dengan ini sempurna sudah… Dia sudah tahu 100% aku menaruh hati pada Yora. Setelah ini hidupku tidak akan pernah tenang karena sindiran dan ejekannya nanti-nanti. Tidak, aku tidak bisa seperti itu!

“Ganggu apa sih—”

“Ganggu apa!” Dengan cepat kupotong perkataan Yora, pura-pura acuh dengan membuang muka. Sudahlah, sudah… sepertinya aku juga harus sadar kalau Tuhan mungkin tidak merestuiku dengannya, dengan cara menurunkan setan-setan ini demi menghalangi segala usahaku. Aku… harus berhenti mengejarnya.

Zhou mengangkat kepalanya pelan sisa aksi membungkuk barusan. “Eung…?”

“Kubilang: mengganggu apa! Apa yang kau bicarakan, sih? Jangan suka berkhayal saat bekerja! Berlari pun sampai menabrak orang, fokus sedikit!!”

“Eh?”

“Sudah, cepat kembali ke UGD bersama Park. Bawa ini!” Dan BRUKK! kardus yang kupegang pun sudah berpindah tangan ke lengan putihnya yang terbuka karena ia selalu menggulung jas dokternya itu sampai ke siku. Zhou menatapku terbengong-bengong, bergantian dengan melihat kardus berat yang tiba-tiba sudah bertengger di pelukannya, menahannya sekuat tenaga supaya tidak jatuh.

“D-Dok, i-ini apa…”

“Aku pergi.” Dan begitu saja, aku melengos dari situ. Sungguh, selamanya aku tak akan percaya lagi dengan yang namanya ‘lain kali’…

***

HAAAH~

Kubuang napasku dengan berat dalam perjalanan menuju kamar pasien. Apa mencoba melupakan seseorang tapi dengan orang itu terus berada di sekitar kita memang sesulit ini? Kulirik 3 wajah-wajah ceria Kim 1, Kim 2, dan Zhou yang berjalan sambil bersenda gurau di belakangku. Ah, mereka inosen sekali… Padahal kalau saja tidak ada bocah-bocah ini… pasti aku akan lebih bebas mengekspresikan perasaanku pada Yora, jengkelku dalam hati.

Bukan apa-apa, masalahnya adalah, aku pun akhirnya capek juga selalu berpura-pura, berpindah-pindah ekspresi antara dengan Yora saja atau ketika tiga pengacau ini sedang ada. Dan klimaksnya, sekarang aku pun malah berakhir jadi terus ‘mengusir’ gadis itu dengan berbagai tugas supaya tiga temannya tidak lagi menaruh curiga pada gelagatku (‘mengusir’ satu orang akan terlihat lebih logis daripada tiga orang sekaligus, kan?). Itulah, alasannya kenapa sekarang Park Yora tidak ada bersama kami. Ia sedang kusuruh—

Guys!” panggil sebuah suara manis yang begitu kukenal. Aku menoleh, dan segera terlihat Yora berlari kecil ke arah kami yang langsung disambut dengan rangkulan para intern priaku. Ia tersenyum ceria pada mereka semua—mengesampingkan segala suruhan yang kuberikan hari ini. Betapa menyilaukannya, ah, andai aku ada di posisi dua intern badungku itu…

Tapi tunggu. Sekarang bukan waktunya untuk itu. Kenapa cepat sekali ia kembali? Ini bukan yang ada dalam skenarioku! Seharusnya kan ia membooking OR (Operating Room) 3 yang berada nun jauh di gedung sebelah untuk sore ini, yang kupastikan cukup berbelit-belit prosesnya mengingat waktunya yang terlalu mendadak. Ia harus mencari celah di antara berbagai jadwal lain yang sudah penuh mengisi papan jadwal pemakaian ruang operasi, karena aku bersikeras ingin ruangan itu untuk korban kecelakaan kerja yang kutangani hari ini. Aku terlalu ‘niat’? Yah, begitulah. Tapi kenapa baru 10 menit tiba-tiba dia sudah muncul lagi??

“Ah, Dok.” Ia cepat-cepat membungkuk begitu menemukan sosokku.

“Neo? Neo wae yeogi— (Kau? Kenapa kau—)”

OR 3 successfully booked, Doc. Pukul 3 sore tepat, hanya 2 jam, waktu tenggang untuk jaga-jaga setengah jam, semua persis permintaan Dokter.” Ia tersenyum berseri-seri seraya memberiku hormat bendera.

Aku sukses dibuatnya ternganga, “Bagaimana mung—”

“Begitu keluar gedung, kebetulan saya bertemu dokter penanggung jawab OR, dr. Yong. Dan begitu saya tanya, dr. Yong bilang kebetulan dr. Simmons baru saja membatalkan penggunaan OR 3 yang harusnya dipakai seharian buat operasi kanker. OR 3 kosong, dan saya adalah orang pertama yang tahu jadi bebas pilih jadwal, deh. Pas sekali kan?” Jelasnya bahkan tanpa perlu kuminta, dengan ekspresi riang-gembira.

Aku hanya bisa melenguh lemah. Ya ampun, selain brilian anak ini ternyata juga penuh keberuntungan.

“Nah jadi Dok, apa agenda tim kita hari—”

“Park, bantu dr. Kang di klinik.” Kataku lugas akhirnya, memotong perkataannya.

Gadis itu segera membulatkan mata coklatnya menatapku, “Y-Ye?”

“Kubilang, tolong bantu dr. Kang di klinik. Sisanya ikuti aku.” Ulangku yang segera dilanjutkan dengan melengos, melenggang begitu saja melewatinya. Ketiga internku masih ikutan bengong seperti kawan mereka, sebelum akhirnya satu per satu segera berlari mengejarku pasca tentunya, hanya bisa menepuk bahu Yora hangat, mencoba menguatkannya biarpun hanya sekedar.

“Yora, himnae! Dokter, tunggu…!”

Dan calon dokter muda kesayanganku, ia tidak merespon apa-apa. Namun bisa kupastikan ia pasti merasa sedih aku kembali mengucilkannya dari tim ini… Biarpun tentu itu sama sekali bukan mauku. Karena inginku, bila boleh, tentu hanya ingin bersamanya.

“Dok, si Yora salah apa, sih? Kasihan lho dia…” Kim 1, yang jika kuperhatikan dari dulu memang selalu sangat aktif—saingan beratku—perhatian pada Yora, tiba-tiba memberanikan diri bertanya biarpun masih dengan suara pelan (mungkin karena takut) begitu kami selesai memberikan perawatan harian pada seorang pasien luka bakar yang dirawat inap. Aku tak merespon, dan malah terus berjalan menuju kamar pasien berikutnya yang harus kami kunjungi hari ini. Yah, akhir-akhir ini, memang hanya sekitar kunjungan rutin atau yang biasa kami sebut patroli inilah pekerjaan kami sehari-hari, sampai ada lagi kasus yang berhasil kami ‘tangkap’ sendiri dari UGD seperti kasus pertamaku dengan anak-anak ini, atau ketika ada kasus khusus yang dipercayakan pada kami seperti kasus ICU pasien Gil Sara kemarin. Oh… sudahlah, sebisa mungkin aku tak ingin mengingat kasus itu lagi.

Nah, jika kembali ke syarat pertama bagi kami agar bisa keluar dari rutinitas patroli yang kuyakin pasti juga membosankan sekali bagi mereka ini, sebetulnya mudah saja bagiku. Aku sangat aware dengan kondisi pager sebagai alat komunikasi seluruh warga RS ini, maka jika ada pasien UGD baru, dengan cepat aku pasti bisa ‘menangkapnya’. Yang sangat disayangkannya… berbeda dengan anak-anak ini. Maka dari itu, jika mereka sampai tidak punya pasien begini, itu kesalahan mereka sendiri. Dan aku pun sengaja tidak ingin membantu mereka dalam hal ini, ini adalah pendidikan awareness. Bagaimana kalian perhatian pada hal-hal kecil semacam alat komunikasi mungil bernama pager.

“Iya Dok, kasihan kan Yora, klinik kan ‘tempatnya perawat’. Dia pasti kalang-kabut disana.” Dukungan suara melengking Kim 2 seketika menarikku lagi ke dunia nyata. Oh ya, tadi kami—mereka—sedang membahas Yora, ya.

Aku menggeleng-gelengkan kepala. Berlatar belakang keluarga yang memiliki hubungan kerabat dengan keluarga kerajaan, Kim 2 memang terkadang sedikit rasis dan berlagak putri (ingat ketika ia begitu jijik saat kusuruh membersihkan bangsal kelas tiga di awal cerita?) seperti ini. Biarpun aku tentu tahu kalau sebetulnya ia mahasiswi yang baik dan cukup pintar. Tapi tetap saja, “Jangan sombong! Tak ada ‘tempatnya perawat’ ataupun ‘tempatnya dokter’.” Potongku galak. Ketiganya buru-buru terlonjak, sebelum serempak menundukkan kepala takut—Zhou menyikut Kim 2, sebagai tambahan. “Tapi jika kalian memang bersimpati, silakan bantu dia. Aku tidak keberatan, malah bebanku akan jadi berkurang—”

PIP!

Aku sekejap berhenti dan merogoh kantong celana kain abu-abuku, mengambil pager. Di tengah-tengah itu aku masih sempat melirik tiga anak di belakangku, dan semuanya masih diam saja. Tuh kan, mereka tak pernah aware dengan ini. Tapi ya sudahlah, mari kita lihat—

“Aaah!” tiba-tiba suara teriakan terdengar dari belakangku. Tak jadi mengecek pager, aku pun segera menoleh. Kim 1? “Pager, code blue! Dua, dua ambulance ayo cepat kita kesana setidaknya kalau kecolongan satu masih bisa dapat satunya lagi!” dengan cepat ia sudah menyerocos tanpa titik-koma, mungkin saking excitednya. Tanpa ba-bi-bu ia segera menarik tangan Zhou, dengan Zhou menarik tangan Kim 2 secara refleks. Dengan cepat mereka pun sudah berlari begitu saja mengejar pasien.

Sementara aku, aku masih takjub melihat mereka yang berlari bagai diserang pasukan Korea Utara begitu. Tapi akhirnya aku tertawa, baguslah, itu berarti rasa awas mereka kini sudah mulai timbul. Buru-buru, aku pun juga ikut berlari mengejar mereka ketika tak sengaja berpapasan dengan Yora yang terlihat begitu capek berjalan menyusuri lorong RS ini.

Aku tak buang-buang waktu, “Park, ayo bantu. Pasien untuk UGD, ambulans akan datang sebentar lagi. Ayo cepat, cepat.” Seruku, hanya sempat menepuk pundaknya, bahkan tak berpikir untuk berhenti dulu. Aku harus menghormati anak-anak tadi, mereka sudah begitu bersemangat mencoba ‘menangkap’ pasien ini. Biarpun masih sempat kulihat Park bengong sejenak sebelum tentu, tergopoh-gopoh mengikutiku berlari.

Di lorong ke arah pintu UGD aku menyambar saja baju steril dan disposable gloves yang tersusun di lemari inventori, Park tetap mengikuti. Hanya dalam beberapa langkah berlari pun kami sudah bertemu dengan tiga internku yang lain yang sudah stand by di depan sebuah ambulans.

“Lee Donghae, 24 tahun, luka tembak di bahu kanan, terus kehilangan darah sejak dari TKP.” Kata si paramedis sambil menurunkan ranjang beroda itu dari dalam ambulans. Aku dan para internku mengangguk, dan beramai-ramai mereka pun segera melarikan ranjang itu untuk masuk ke dalam sementara aku masih menantikan diturunkannya pasien satu lagi dari ambulans kedua yang baru datang.

Dengan sigap aku turut membantu begitu paramedis sudah mulai menarik turun ranjang beroda itu. Sama seperti pasien tadi, seorang pria yang terlihat sangat gagah biarpun dalam kondisi seperti ini, kemeja putihnya yang banjir darah di bagian perut. Luka tembak, juga sama dengan pasien tadi. Sebetulnya apa pekerjaan mereka? Polisikah? Gangster?

“Choi Siwon, 23 tahun, luka tembak serius di bagian perut, peluru masih bersarang di dalam. Tak sadarkan diri sejak 10 menit—“

Aku mengangguk mengerti dan seorang diri, langsung mendorong ranjang beroda itu memasuki UGD. Biarpun langkahku segera terhenti begitu melihat seseorang terdiam mematung di mulut pintu UGD, memandangiku… bukan, memandangi pasienku lebih tepatnya. Matanya kosong, dan suara pelan diiringi getar segera terdengar, “Choi… Siwon…”

“TUNANGANMU??”

Tak terbayangkan betapa menggelegarnya suaraku saat meneriakkan itu. Maaf, sungguh aku tak bisa mengontrolnya. Karena ternyata… intern kesayanganku… gadis yang kucintai… sudah bertunangan? Dan tunangannya kini adalah pasienku?? Rasanya aku ingin bertepuk tangan. Sungguh, sempurna sekali Tuhan menunjukkan kalau Ia memang benar-benar tidak merestuiku dengannya. Tak puas menurunkan ‘setan-setan’ pengganggu PDKT-ku selama ini, Ia pun kini menurunkan jackpot-nya: seorang tunangan. Ya, seorang tunangan!! Mana mungkin aku bisa bersaing kali ini??

Yora mengangguk masygul, “Ya, Dok. Maka dari itu, tolong izinkan saya menanganinya. Saya mohon! Tolonglah, Dok… saya ingin memastikan ia mendapat pengobatan yang sebaik-baiknya…”

“Ah, jadi kau pikir aku tidak akan mengobatinya dengan baik?” selaku sinis. Memang TIDAK! Rasanya aku bahkan ingin membiarkannya saja begitu tanpa menerima penanganan, setelah tahu kalau ia adalah tunanganmu!

Baiklah, yang barusan adalah isi hati dari sisi ‘setan’-ku… tidak juga sih. Rasanya aku memang ingin melakukannya… TIDAK. Well… mungkin sedikit.

“B-Bukan, Dok!” Yora cepat-cepat meralat. “Hanya saja… tolonglah jadikan saya bagian dari tim yang akan mengobati pasien Choi, saya akan berbicara baik-baik dengan teman-teman tentang pengunduran diri saya dari penanganan pasien Lee… Butakdeurimnida (Saya mohon).” Mohonnya dengan membungkuk sangat dalam.

Setan dalam hatiku menggeleng cepat, TIDAK, NO WAY, ANDWAE!! JEOLDAE ANDWAE! “Baiklah.” Biarpun akhirnya aku tetap menjawab dengan tersenyum, lebih sebagai citra diri di hadapannya. “Segera temui dr. Yoon, ia yang akan mengoperasi pasien Choi petang ini. Katakan kalau kau adalah assistant surgeon yang kutugaskan membantunya.”

Patah hati. Sepertinya itulah yang baru terjadi padaku. Tapi layaknya berbagai karya roman picisan, melihatnya yang segera mengangkat wajah dengan pandangan tak percaya, airmata merebak dan membungkuk berkali-kali mengucap terima kasih atas keputusanku, setidaknya rasa sakit ini sedikit terbayarkan. SEDIKIT.

***

“Zhou, coba lihat ini. Pelurunya sedikit mengenai tulang gelang bahunya, tapi tak apa—“ seperti biasa, selagi menangani seseorang begini—apalagi operasi—tak pernah kusia-siakan kesempatan untuk menambah pengetahuan anak-anak itu. Zhou mengangguk sekilas seraya melongok ke arah luka tembus peluru itu sebelum dengan cepat mundur, mempersilakan kedua temannya dan kembali sibuk dengan buku sketsa yang ia bawa. Ia begitu tertarik dengan spesialisasi ortopedi (tulang), itulah sebabnya ialah orang pertama yang kuundang melihat luka pasien ini barusan.

Setelah semuanya melihat kondisi pasien, akupun dengan cepat kembali melanjutkan operasi ini. Seperti yang kubilang tadi, peluru berhasil menembus bahunya, serpihan-serpihannya berdasarkan pemeriksaan juga tidak ada yang tersisa bersarang di bahu pasien, maka kami tidak perlu melakukan pengangkatan seperti pasien sebelah. Masalah di pasien ini hanyalah akibat luka tembusan peluru tadi, darah pun sukses hilang banyak dari tubuhnya, selebihnya urusan kami—aku—dalam operasi ini hanya berkisar menutup lukanya saja.

“Baiklah, jarum,” instruksiku yang segera direspon dengan uluran jarum khusus operasi tanpa lubang berbentuk melengkung dengan benang operasi yang sudah menyatu disana (satu kesatuan itu disebut jarum atraumatis) oleh perawat. Seperti operasi minor lainnya, penghentian bleeding (pendarahan) dan hanya menjahit luka begini juga tidaklah sesulit operasi jantung, otak, atau sebagainya. Apalagi dengan aku sebagai surgeon-nya, ini betul-betul akan mudah. Hanya aku penasaran saja dengan apa yang terjadi di OR satu lagi…

OR 4, tempat Siwon dioperasi,

“Scalpel1.” dr. Yoon, dokter wanita spesialis organ dalam di RS Universitas Korea itu berkata lugas pada perawat yang berada di sampingnya. Dengan sigap si perawat wanita pun memindahtangankan alat yang diminta, pisau bedah kecil dengan kriteria yang pas, bahkan tanpa perlu disebutkan secara spesifik tipe apa yang diperlukan. Biarpun anehnya, Yora tak memperhatikan itu sama sekali. Padahal kalau dalam kondisi biasanya, dia pasti sudah akan terkagum-kagum melihat kerja dokter wanita paruh baya yang ‘cool’ ini. Hidup wanita!

Masalahnya gadis itu masih terus dan hanya terfokus pada kondisi Siwon, sang tunangan. Tak henti-hentinya ia menatap wajah tegas pria itu yang sedang tak sadarkan diri, sesekali juga mendongak demi melihat patient monitor2 yang menunjukkan sinyal-sinyal kehidupan pasien. Tuhan… Tolong selamatkan dia!

“Intern Yora, aku tahu siapa dia untukmu, tapi tolong, fokus.” Biarpun akhirnya ia kena teguran juga dari sang attending senior, walau tetap dalam ‘edisi dinas’-nya. Yora segera tersadar dari lamunannya menatap wajah Siwon, dokter ini sama (atau mungkin lebih?) tegasnya dengan dr. Shin!

Maka ia cepat-cepat membungkuk, “Joisonghamnida, joisonghamnida, jal mothaesseumnida.”

“Sudah, sekarang berdirilah lebih dekat denganku. Penjepit.” Ia berkata lagi pada perawat setelah berhasil membuka luka tembak Siwon dan menemukan peluru yang masih tertanam di dalam perutnya itu, hanya tepat di atas lambungnya. “Kita harus bersyukur karena peluru ternyata tidak berada dalam posisi membahayakan seperti yang kita kira setelah melihat rontgen. Kamu lihat benda kecil berwarna keperakan itu?” Ia menunjuk sesuatu di dalam torehan luka Siwon yang sudah ditahan agar tetap membuka dengan sebuah alat itu.

Yora melongok dan dalam sekejap sudah menemukannya. Benda alumunium itu terselip di antara lambung dan usus Siwon, dengan ajaib seperti ‘tertahan’ disana, disaat hanya beberapa milimeter lagi bisa saja merobek salah satu dari dua organ itu! “N-Ne.” Ia mengangguk.

Dan segera, dr. Yoon menyerahkan penjepit yang barusan dimintanya ke tangan Yora, “Itu pelurunya. Baiklah, ambil itu dengan hati-hati. Hal su itji? (Apa kamu bisa?)”

Yora menoleh dan menatap wajah dokter yang sebetulnya berparas keibuan sekali itu sebelum akhirnya mengangguk, “Hal su isseul geot gatayo. (Sepertinya saya bisa.)” Jawabnya sembari dengan yakin menggenggam penjepit yang diberikan dr. Yoon. Ditatapnya wajah sang tunangan sekali lagi sebelum melaksanakan tugasnya. Jagi, aku akan berusaha sebaik-baiknya, jadi kamu juga harus berjuang. Aku mohon hiduplah!

***

Dua hari kemudian,

Berkali-kali aku sengaja melewati ruang VIP ini hanya demi bisa melongok sedikit intern kesayanganku yang tak bosannya menunggui tunangannya, si pasien Choi itu tersadar pasca operasi kami berakhir. Seperti yang sebelumnya pernah kubilang, operasi penanganan luka tembak bukanlah operasi yang begitu rumit seperti operasi jantung atau yang lainnya. Lihat saja, buktinya dalam semalam dua pasien dengan luka tembak ini pun selesai dioperasi. Aku sendiri menangani langsung operasi pasien Lee, pasien yang pertama dengan luka tembak di bahu, sedangkan pasien Choi, tunangan Yora itu ditangani dr. Yoon, dokter wanita spesialis organ dalam di RS kami karena luka tembaknya yang hanya sedikit melenceng dari lambungnya itu. Well… sayang sekali.

Yah, lupakan betapa aku sebetulnya sangat ingin kalau saja peluru itu sedikit berbelok ke organ dalamnya tadi—OKE, LUPAKAN—kembali lagi tentang pasien Choi, aku sendiri juga tak tahu kenapa hingga dua hari penuh berlalu pun ia belum juga sadar dari tidurnya. Tentu bukan karena biusnya yang belum habis menguap, karena temannya, si pasien Lee saja sekarang sudah bisa berjalan-jalan biarpun dengan kursi roda, makan dengan lahap, dan menjadi idola baru suster-suster disini karena kepandaiannya bicara dan wajahnya yang tampan itu. Tapi kenapa pasien yang satu ini… Aku sungguh tak tahan melihat Yora yang juga jadi murung karenanya. Tak konsen bekerja karena selalu ingin buru-buru kesini, melupakan makannya juga karena ingin selalu buru-buru kesini.

“Yora, kenapa Siwon tidak juga bangun, Nak? Ini sudah dua hari…” Ah, itu suara orangtua pasien Choi ini, ibunya. Sudah sejak operasi juga mereka menunggui putranya ini dirawat, beberapa kali terlihat juga adik perempuannya yang datang menjenguk. Dan tebak? Keluarga ini ternyata adalah keluarga Choi pemilik Choi Corp.,kerajaan properti terbesar di Korea itu, pemilik ratusan gedung perkantoran, apartemen, dan hotel, dan pengembang ribuan real estate di seluruh Republik Korea Selatan. Aku makin jelas-jelas kalah jika dibandingkan dengan pria satu ini.

Yora menggeleng lemah dalam tundukannya, “Nado moreujiman… (Aku juga tidak tahu…)” Katanya pelan, seperti merasa bersalah karena sebagai dokter tidak juga mampu menjelaskan hal itu.

“Sudahlah, Yeobo.” Akhirnya sang kepala keluarga turun tangan. Ia merangkul sang istri, “Siwon pasti akan sadar karena Yora dan RS ini merawatnya dengan sangat baik. Kamu pasti sudah terlalu lelah, ayo kita pulang dulu dan beristirahat, nanti sore kita kembali lagi, mudah-mudahan sudah ada perkembangan dari Siwon. Eo?” Katanya bijak. Khas sekali, pemimpin yang kharismatik.

Yora mengangguk, “Ne, ajumeoni. Aku pasti akan merawat Siwon dengan baik, jadi ajumeoni dan ahjussi tidak perlu khawatir. Istirahatlah, kalau ada apa-apa aku pasti segera menghubungi rumah.”

“Ya sudahlah.” Sang ibu kembali berkata pasrah. “Yora-ya, ajumeoni percaya padamu. Jaga Siwon baik-baik ya, dan jaga dirimu juga. Makanlah, lama tak melihatmu, kamu sudah jadi sekurus ini. Ne?”

“Um.” Yora tersenyum senang pada perhatian sang calon mertua. Sepertinya mereka sudah betul-betul dekat sekali.

“Baiklah Yora, kami pergi dulu.” Kata Tuan Choi seraya mereka bertiga berjalan ke arah pintu. Cepat-cepat aku menyingkir dari sana dan mengambil asal sebuah map yang tergeletak di meja resepsionis, pura-pura membaca—biarpun masih melirik-lirik.

“Ne, annyeonghikaseyo. (Ya, selamat jalan.)” Yora mengiringi mereka dengan bungkukannya, dan baru berdiri kembali setelah mereka cukup jauh. Aku menghela napas yang melihatnya kembali berwajah datar masuk ke dalam kamar rawat itu. Ya sudahlah, semoga saja pasien itu betul-betul segera tersadar. Bukan karena aku simpati dengannya, ini lebih karena aku menyayangi Yora. Sekarang sebaiknya aku juga kembali bekerja. Himnaeja (Bersemangatlah), Donghee-ya!

“Lambat sekali kerja kalian! Dan apa ini? Aku minta alkohol 70% bukan 10%, memangnya aku sedang ingin minum-minum saat ini??” Biarpun akhirnya, segala campur-aduk emosiku atas kenyataan pahit tentang Yora dan tunangannya itupun kembali tertumpah kepada mereka… intern-internku yang lain. Sudah dua hari ini aku kembali lagi menjadi resident galak yang hobi marah-marah atas kesalahan sekecil apapun, bahkan lebih menyeramkan daripada yang dulu.

Mereka menatapku takut-takut, “Tapi tadi Dokter bilang 10%—”

“Tidak mungkin!” Potongku. Mereka serempak mundur selangkah sambil berpegangan satu sama lain. Di belakangku, pasien Lee yang memang sedang kami tangani penggantian perbannya terlihat juga ikut berjengit, masih belum terbiasa biarpun sudah berhari-hari melihatku mengomeli dokter-dokter muda yang menanganinya ini (author: pasien mana juga yang bakal terbiasa? -.-). Tapi aku membiarkannya saja. “Cepat ambil yang 70% sekarang juga!!”

“Siap Dok, siap, siap!” Kata mereka bertiga seraya buru-buru angkat kaki bersamaan dari situ.

…Yang kembali mengundang omelanku… “Satu orang saja cukup!!”

Drrt. Drrt.

Aku meraih pager yang berada di atas meja dokter jaga di UGD ini seraya menggelengkan kepala, masih karena ketakbecusan intern-intern itu. Padahal kurang dari sebulan lagi magang mereka akan berakhir, dan mereka masih seperti ini?? BAH!

 

Choi 503 siuman.

Kubaca pesan itu dan segera berdiri. Pasien Choi—tunangan Yora—siuman? “Zhou, Kim 1, tangani sendiri sementara pasien Lee, aku harus pergi sebentar. Pasien kita satu lagi akhirnya siuman.” Kataku pada mereka berdua yang tersisa disana, sebelum dengan langkah cepat keluar dari kamar kelas 2 ini menuju lantai 5. Di perjalanan aku juga bertemu dr. Yoon yang pastinya, sebagai dokter yang menangani operasinya, juga mendapat pesan yang sama.

“Donghee-ya!”

“Seonsaengnim!” Aku menyapanya sebelum menghentikan langkahku sejenak untuk membungkuk hormat. Ia mengangguk, dan kami pun akhirnya berjalan bersisian.

“Menurutmu bagaimana kondisinya?” Tanyanya.

“Entahlah Dok, Yora juga hari ini belum memberikan kabar apa-apa. Kalau menurut Dokter bagaimana?”

“Seharusnya sih tak ada yang perlu dikhawatirkan, aku hanya penasaran saja kenapa butuh waktu cukup lama baginya hanya untuk sadar begini. Tapi kita lihat saja nanti.”

Aku mengangguk.

“dr. Shin, dr. Yoon!” Adalah sambutan histeris pertama Yora yang diberikannya segera begitu kami memasuki kamar VIP yang luas ini. Dengan segera kulihat pria tampan yang masih terbaring dengan wajah pucat dan perban membalut penuh perut(berotot)nya itu, hanya bedanya kini ia sudah tersadar, matanya membuka, tidak hanya terpejam seperti saat pertama dan selama dua hari ini aku melihatnya.

“Bagaimana keadaannya, Park?” tanyaku seraya melihat patient monitor yang menampilkan detak jantung dan tekanan darahnya itu. Yora mengangguk dan segera menjelaskan tentang penanganan awal yang sudah dilakukannya begitu pasien ini terbangun tadi. Aku memasang stetoskopku, dan kini giliranku yang mengangguk setelah memeriksa ulang detak jantungnya, “Kita bisa minta perawat menghubungi orangtuanya. Pasien Choi sudah berhasil lewat dari masa kritis.”

Dan melihatnya yang segera bertukar senyum kelegaan dengan sang tunangan, aku pun kembali harus menelan ludah pahit. Pandangan mereka berdua, tak akan ada yang bisa dibohongi tentang betapa cintanya mereka satu sama lain.

***

Dan hari-hari berikutnya sampai sekitar 4 hari kemudian pasien Choi diizinkan pulang, aku benar-benar harus selalu sok pura-pura tak melihat, pura-pura tutup mata setiap kali menemukan kebersamaan mereka. Bukan, bukan karena mereka yang hobi pamer kemesraan, skinship sana-sini sampai membuat orang jengah, ini justru kebalikannya! Mereka… bahkan sama sekali tak perlu semua hal itu untuk menunjukkan kuatnya ikatan mereka. Hanya dengan hobi saling menatap, tepukan ringan dan senyuman penuh dukungan satu sama lain—pasien Choi agar Yora kembali bekerja dengan benar, tidak hanya terfokus padanya dan Yora sendiri agar sang tunangan bersemangat untuk cepat sembuh—yang bahkan tanpa kata! Tapi itu semua… cukup membuat hatiku serasa teriris. Antara kesal dan… iri.

“dr. Shin, dr. Yoon, terima kasih telah merawat saya dengan baik 4 hari ini.” Si pasien Choi yang sudah mengemas segala barang bawaannya untuk pulang dari RS berkata padaku dan dr. Yoon yang memang datang mengunjunginya untuk terakhir kali di kamar ini. Itulah kebiasaan RS ini, dokter penanggung jawab selalu mengantar pasiennya keluar dari RS. Pasien Lee sendiri—polisi satu lagi—sudah discharge sejak kemarin karena lukanya yang memang lebih ‘ringan’.

Si pasien Choi yang dari pengamatanku sangat penuh dengan gestur dan gerak tubuh itu sudah siap membungkuk juga (seperti seharusnya) ketika tiba-tiba sebuah tangan kecil menghadangnya, “Stop.” Seketika pandangan kami beralih ke gadis dengan rambut ikal panjangnya yang dikuncir kuda di sebelah lelaki itu. Siapa lagi kalau bukan… Yora. Aku kembali harus terpaksa memalingkan wajah. “Luka di perutmu belum sembuh, sudah mau bungkuk-bungkuk. Sini, biar aku yang membungkuk buat kamu. dr. Shin, dr. Yoon, jeongmal gamsadeurigoyo. Terima kasih karena telah mengoperasi dan merawat Siwon dengan baik. Jeongmal gamsahamnida.” Katanya sebelum membungkuk sangat dalam di hadapanku dan dr. Yoon.

Semua orang di kamar VIP itu pun tersenyum melihat kelakuannya. Semua kecuali aku. Pria itu mengacak rambutnya ringan dan dr. Yoon menyuruhnya kembali berdiri. Dengan akhirnya hanya tundukan biarpun tetap tak mengurangi rasa hormatnya pun pria itu pergi dari RS ini dengan sang ibu dan supir yang menjemputnya.

Dan hari ini ketika sedang mencari Kim 1 untuk menagih bukuku yang sudah lama dipinjamnya, aku tak sengaja kembali bertemu Yora di ruang loker para intern. Ia lagi-lagi tengah memandangi pintu bagian dalam lokernya, biarpun kini dengan ekspresi yang sama sekali berbeda dengan waktu itu. Kini wajahnya penuh senyum, dan akhirnya… aku melihat alasannya.

Ya, seperti dugaanku dulu, ia memang sedang memandangi sebuah foto, seseorang dengan kemeja biru. Yang kini—setelah bisa melihatnya dengan jelas—baru kusadari kalau itu adalah foto tunangannya itu, Choi Siwon dengan seragam kepolisiannya.

Ah ya, jika saja sejak dulu aku tahu kalau dia sudah menjadi milik orang lain, aku pasti sudah bisa menebaknya.

“Jadi ini alasanmu bengong waktu itu?” Tanyaku (sok) kasual sambil bersandar di loker-loker di sebelahnya.

Yora menoleh setelah menutup lokernya dengan cepat, dan segera kaget begitu melihatku disana, “Dokter?”

“Ya kan?”

Tanpa kata, ia hanya mengangkat alisnya seraya mengangguk. Aku tertawa miris dalam hati.

“Waktu itu sampai sebelum ia tertembak, kami memang sedang bermasalah. Karena pasien Jo Dambi di bagian Trauma itu, Dokter tahu kan? Yang juga satu kasus dengan dua pasien terakhir kita itu.” Aku tak tahu mengapa dia tiba-tiba curhat, yang jelas aku mengangguk. Karena aku memang tahu pasien Jo itu, gadis SMA yang terlalu shock sampai tak bisa bicara melihat dua orang tertembak di depan matanya.

Yora tersenyum mengangguk-angguk, “Tahu kan? Seingat saya juga… waktu itu Dokter juga tanya tentang saya yang seperti tak fokus… Nah, karena pasien Jo Dambi itulah,” lanjutnya malu-malu. Oh, ini alasan dia menceritakan semuanya… Sial, sekarang aku menyesal, aku tak butuh alasan yang mengesalkan hati seperti ini. “…tapi untungnya sekarang sudah lewat, kok. Semua masalah telah berakhir, mereka tak ada apa-apa!” Lanjutnya ceria sambil kembali menatap lokernya yang biarpun kini sudah tertutup itu sambil tersenyum lagi, seakan loker itu tembus pandang dan ia bisa kembali menatap foto sang tunangan. Yang kembali, pemandangan yang sungguh mengesalkan—jika tak mau dibilang menyakitkan—untukku.

Maka, malas mendengarkan cerita cinta curhat colongannya lagi, aku pun tanpa aba-aba memilih melengos begitu saja dari hadapannya. Ia terlihat bingung, “Lho, Dok? Mau kemana? Tadi ada keperluan apa kesini? Dok, dr. Shin!” Panggilnya dari belakangku.

“dr. Shin? Mana?” Kini terdengar suara Kim 1 diiringi suara pintu ruang shower yang menutup di ujung ruangan ini. Mungkin tadi dia baru saja mandi, dan sekarang melihatku malah pergi. “Dok, dr. Shin! Saya ada, lho! Dokter mau ambil bukunya kan? Lho, Dok, Dokter!”

Biarpun tetap, aku tak merespon dan malah BLAM! menutup pintu ruangan itu dan keluar. Goodbye my lover. Hari ini perpustakaan akan menjadi tempatku menyepi, karena besok, aku sudah memutuskan untuk kembali memasang ‘muka dinas’, tanpa ampun. Biarlah sisa hari ini menjadi hari terakhirku boleh berpuas-puas mengenang cerita cinta pertamaku yang sudah telat, menyedihkan pula.

Goodbye my lover,

You have been the one,

You have been the one for me…

TBC

 

1scalpel: pisau kecil dan sangat tajam yang biasa digunakan untuk operasi, bedah anatomi, bahkan untuk seni rupa (disebut juga ‘hobby knife’). Scalpel ada yang sekali-pakai-buang (single-use disposable) dan ada yang bisa dipakai berulang kali. Scalpel biasanya dikemas satuan dalam kemasan steril. Scalpel dengan mata pisau ganda disebut ‘lancet’.

 2patient monitor: terkenal juga di kalangan medis dengan sebutan ‘display’, adalah monitor yang menunjukkan berbagai hal yang berhubungan dengan kondisi pasien seperti denyut jantung, tekanan darah, suhu tubuh, bahkan display yang lebih canggih bisa menunjukkan kadar oksigen dalam darah.

baiklah, setelah sangat lama akhirnya ini selesai juga -.- daaaan…. shindong GALAU! yeyeeyey :p

saya cukup puas dengan hasilnya sih biarpun ga terlalu ilmiah (seengganya gara2 proyek ini saya jadi tau gunanya suatu alat medis yg dijepit di jari, yang biasa dipake orang2 sakit berat itu looh, ternyata buat ngecek kadar oksigen dalam darah! hebat ya? :D), bagaimana dengan kalian? 🙂

Advertisements
 
19 Comments

Posted by on December 14, 2011 in Super Junior, [THE SERIES]

 

19 responses to “[THE SERIES] DR. SHIN – CASE 5

  1. lolita309

    December 14, 2011 at 8:08 pm

    eeeeh, itu kenapa tiba-tiba foto siwon juga muncul dibawah????? tapi ah males edit lagi, biarkan saja ya teman2 kkkk :p

     
  2. ms.o

    December 15, 2011 at 12:13 am

    eonni…mau save the spot dulu ah..

    eciee, gambarnya bang Siw pake seragam polisi..uhuyy

    dan berasa galaunya dr.Shin, galau beraaatt,,ahahaha
    dan Yora lebih milih tunangan daripada abangnya (Tn.Choi daripada Mr.Lee..#ya iyalah)
    kasus medisnya kurang berasa, tapi kasus asmaranya amat berasa, wkwkwkw
    daebak..

    Fighting eonni.. ^^

     
    • lolita309

      December 21, 2011 at 8:33 pm

      buhahaha, maklum first love ketelatan kkkk~ :p

      ya kaaaaan, siw ganteng kaaaan?? ><
      btw ini emang si yora belom tau kalo DH sepupunya, makanya sebodo amat haha XD

      makasi yaa sayang uda baca.. fighting!^^

       
  3. gaemchii

    December 15, 2011 at 10:41 am

    whoaa.. Lama ga buka blog nyonyah, ternyata ada ff bru! Mian yg the beginning aku blm komen, abisnya bca pas kuliah sih wkwk.. Yg ini jga bcanya pas kuliah *ditabok*

    as usual, dr. Shin slalu keren! Pas bca sub judulnya “that policeman” udh nebak pasti nyritain cerita Siwon kmrn.. Kasian bgt dr. shin, cnta bertepuk sblh tangan..

    btw skdar koreksi nyah, bleeding it perdarahan nyah, kalo pendarahan it vaskularisasi (jd tentang pengaliran darah ke slrh tbuh) wkwk soalnya tiap kuliah, pasti di ingatin mulu bdanya perdarahan n pendarahan…

    wkwk, alat hitung kadar oksigen? Aku twnya jga bru wkt semester 1 kmrn, pas observ d RS wktu jaman culun2nya, kaget pas d monitor tba2 kadar oksigennya ga muncul d display, eh ternyata jepitnya lepas wkwk

    ps : siwonnya ganteng, banget!!

     
  4. gaemchii

    December 15, 2011 at 10:41 am

    whoaa.. Lama ga buka blog nyonyah, ternyata ada ff bru! Mian yg the beginning aku blm komen, abisnya bca pas kuliah sih wkwk.. Yg ini jga bcanya pas kuliah *ditabok*

    as usual, dr. Shin slalu keren! Pas bca sub judulnya “that policeman” udh nebak pasti nyritain cerita Siwon kmrn.. Kasian bgt dr. shin, cnta bertepuk sblh tangan..

    btw skdar koreksi nyah, bleeding it perdarahan nyah, kalo pendarahan it vaskularisasi (jd tentang pengaliran darah ke slrh tbuh) wkwk soalnya tiap kuliah, pasti di ingatin mulu bdanya perdarahan n pendarahan…

    wkwk, alat hitung kadar oksigen? Aku twnya jga bru wkt semester 1 kmrn, pas observ d RS wktu jaman culun2nya, kaget pas d monitor tba2 kadar oksigennya ga muncul d display, eh ternyata jepitnya lepas wkwk

    ps : siwonnya ganteng, banget!!

     
    • lolita309

      December 21, 2011 at 9:04 pm

      baiklah, perdarahan vs pendarahan. *noted* <– inilah gunanya punya reader yang berkecimplung langsung di dunia ini kkkkkk~ :p

      eh padahal hubungannya jari sama kadar oksigen apa ya? apa karena kulitnya tipis jadi deket sama darah? kkkk~

      iyaa dong siwon ganteng. YES! 😀

      makasi sayaang uda baca^^
      eh btw usul buat kasus berikutnya apa ya? penutup nih kk~

       
      • gaemchii

        December 23, 2011 at 8:52 pm

        Iya bngng jga, hub jari ama jepitnya it wkwk… Cuma setau aku slh satu cara bwt ngeliat normal ato ga nya pendarahan it lewat ujung jari (capillary refill) gt…

        Eh, kasus penutup? Bearti dr. Shin udh mau tamat dong? Huhuhu sedihnya, pdhl aq fans brt series ini lho….

        Kasus apa yah? Ortopedi udh, jantung udh, bedah udh, euthanasia udh juga… Hm pediatric, perhaps? Kyanya pasien kanker anak2 menarik deh << efek ntn drama korea surgeon bong dal hee :p

        kasian t nyah si shindong patah hati, skalian aja kasih dia pairing (Nari lah pastinya) wkwk

         
      • gaemchii

        December 23, 2011 at 8:57 pm

        Or maybe u can try plastic surgery on next case, nyah :p *poof*

         
      • lolita309

        December 27, 2011 at 11:06 am

        iyaa, next case itu tamatnya hehehe. aku juga suka bgt series ini loh, serial yang bikinnya pake kudu mikir dulu ga asal ketik hahaha, tapi anticipate yang lain juga ya^^

        umm… plastic surgery bagus tuh…. tp aku mikirin kasus syaraf juga, tapi ribet kali ya hahaha.
        iyalah so pasti si nari…. dan pengennya kasus depan itu sebagai alasan kemunculan dia haha XD

         
  5. oepieck

    December 15, 2011 at 9:54 pm

    asli, kayak nonton drama
    hahaha… 😀

    ck… shindong sabar ya…
    “tuhan menurunkan setan-setan dan jackpot-nya…” kkk~
    yah, mau gimana lagi ndong, emang bukan jodoh (padahal dia pede banget pas di depan :p)

    eh, eonni, berarti nanti shindong ama nari kan? 🙂
    ya kan ya kan?

     
    • lolita309

      December 21, 2011 at 9:10 pm

      buhahah sinetron bener ya? kkk~ XD

      iyaaaa sama nari, nantikan kemunculan nari di episode akhir dr.shin! 😀

      makasi sayaang uda baca^^

       
      • oepieck

        December 23, 2011 at 8:24 pm

        iya eonni, kayak dramkor yang setting.a di RS gtu, wakaka~

        ne? episode terakhir? tapi bukan akhir cerita shindong kan eon?

        iya lola eonni, sama-sama 😀

         
      • lolita309

        December 27, 2011 at 11:11 am

        yaaa kalo shindongnya mah mungkin nanti tetep bakal ada kok, paling nyelip2 doang, tapi buat yang khusus, cerita untuk siwon, sampe episode depan aja…. 🙂

        tenang aja masih banyak utang yang laen! 😀

         
      • oepieck

        December 31, 2011 at 9:50 pm

        hehehe, habis dari case 1 ampe 5 asyik banget bacanya. menikmati gitu… 😀

        yah, emang dasar istrinya siwon, kwkwkw~

         
  6. cybersungyoungpark

    December 28, 2011 at 3:59 pm

    Sebenernya yang That Policeman itu belom kepikiran. Terus aku geser kebawah, dinaikin lagi. Eh, nemu foto Siwon dua XD asek-aseeeek!

    Oiya, baru keingetan pas case 4 ngomong apa kemaren saya. Serasa drama..iya sih. Beberapa dramkor juga ada yang latarnya dominan rumah sakit, dan s-e-l-a-l-u dicampur dengan adegan romantika remaja (apaan, lagi) ._.

    Shindong aktif bener deketin Yora, yak. Tapi sayang, udah ada Siwon. Yang sabar, papa #eh
    Juga banyak banget adegan komedi-pelengkap cerita.Rindu juga liat muka Shindong yang serem, serius, adem sama kesan tegasnya lagi.

    Ditunggu episod selanjutnya yaa.
    Terus berkarya!

     
  7. Jessica

    January 24, 2013 at 1:39 pm

    Maaf saya baru komen 🙂
    tapi ini cerita yang bagus & saya suka, tapi bisa minta tolong jika dipercakapan2 nya dipakai kan bahasa yang formal saja, karena akan menambah nilai Art-istik nya
    contohnya : Nggak dirubah jd Tidak.

    terimakasih author 🙂 tapi kenapa lama sekali lanjutan episode nya ??

    TOLONG TANGGAPI .

     
    • lolita309

      January 25, 2013 at 11:05 am

      hihihi, maaf karena sudah bikin menunggu lama ><

      untuk part akhirnya memang masih digarap, yah, agak kurang profesional kalau saya bilang karena saya sibuk, tapi kan saya memang bukan penulis profesional jadi gapapa ya hahaha XDD

      terima kasih karena kamu sudah suka cerita ini^^ untuk masalah bahasa, itu memang sengaja… coba kamu perhatiin: gaya bicara santai dan sehari2 itu cuma dipakai yora dkk ke teman2nya, sedangkan kalo ke dr. shin mereka pakai bahasa formal. nah kalo dr. shin mah karena dia orangnya kaku jd bahasa formal terus. kenapa? karena aku ingin ini sesuai dengan kehidupan sebenarnya, kita nggak pakai kata 'tidak' atau bahasa formal ke teman, pacar, atau saudara, kan? di korea, itu namanya 'banmal', sedang bahasa formal namanya 'cheondaetmal'. jadi memang ada pembedaan seperti itu^^

      Tapi makasih banget ya kritiknya, dan lanjutannya secepatnya ko hehehe^^ salam kenal, ada bagusnya juga kan aku lama posting jd kamu 'muncul' deh hehehe :p #plak

       
      • Jessica

        February 2, 2013 at 4:41 pm

        jangan terlalu dikit partnya ,saya saran ketika mungkin dr.shin mengakui di suka ada baiknya ditambah konflik2 yang rumit (tapi bukan melalui pekerjaan dokter mereka, tapi masing2 diri mereka) ..
        pasti jadi kereeen !!

        tapi kapan muncul lg lanjutannya..?

         
  8. Jessica

    January 24, 2013 at 1:41 pm

    kapan ada lanjutannya ?? 🙂
    saya sangat menunggu cerita ini..

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: