RSS

[THE SERIES] BAHASA LANGIT – Part 4

24 Oct

BAHASA LANGIT – Part 4

Written by: Lolita Choi (@lolita309)

Starring: SJ’s Kim Kibum

Hwangminmi/megumiTM as Minakami Megumi and Hwang Minmi

 

 

Minmi’s flashback

“Megu~!!” Tiffany yang terlihat sangat cantik mengenakan wedding dress berpotongan simpel warna putihnya segera menyongsong sang sepupu kesayangan yang baru saja datang, bahkan masih menyeret kopernya ke dalam fitting room butik bridal ini. Sementara si sepupu, Megumi, langsung merekahkan senyum seraya merentangkan tangannya demi memeluk sang calon pengantin.

“Tiffy…! Ih, cantik!” katanya sambil memeluk balik Tiffany. Tiffany tertawa. Ia pun segera menyeret siswi yang kini sudah kelas 3 SMP itu untuk duduk bersamanya di sofa merah yang ada di ujung ruangan. Betapa ia kangen sekali dengan gadis ini! Dan tentunya mau marah-marah juga, apa itu maksudnya selama sejak terakhir mengunjunginya di liburan musim panas 2 tahun lalu, si Megu ini tak juga menghubunginya sekalipun??

Seketika ekspresi Megumi langsung berubah mendengar omelan sepupunya itu. Tapi ia buru-buru memutuskan menutupinya dengan senyum, biarpun tetap datar saja. “Maaf ya.” Katanya. “Things happened… Kuceritain nanti sebelum tidur saja. You’re mine tonight, right? Awas kalau nggak, akan kuganggu malam-malammu setelahnya sama Greg!!” ancam Megu setelah sudah kembali menemukan tawanya.

Tawa palsu.

Tiffany mencibir, “Seenaknya! Tapi, oke deh. Lumayan gulingku sedang dicuci hari ini.” Gumamnya sambil terkekeh.

Megu cepat mendelik, “Nan na no?? (Apa-apaan itu??)”

 

Malamnya,

“Geureoguna… (Jadi begitu, ya…)” respon Tiffany pelan setelah mendengar cerita dengan nada-super-lesu yang dibela habis-habisan Megu sebagai hasil kecapekannya dan bukan karena pol-polan menahan airmata.

Megu cepat-cepat menelengkan kepalanya yang terpangku di kepala boneka Timmy the Sheep besar milik Fany, “Nani… ‘guna’? (Apa… ‘guna’?)”

“’Geureoguna’. Artinya: ‘Oh begitu, ya…’ Bahasa Korea, aku jadi belajar karena sering menginap di rumah keluarganya Greg.” Jawab Fany. Megu mengangguk-angguk. “Jadi begitukah, Megu? Aaah, yang sabar ya, sayang…” Tiffany cepat merengkuh si sepupu dalam pelukannya di atas tempat tidur itu.

“Nggak apa-apa kok, sudah basi juga. Maaf ya aku baru bisa cerita dan ngomong sama kamu sekarang. Habis aku malas sekali membahas dia, dan aku tahu kalau kita teleponan pasti kamu bakal bahas dia.” Kata Megu masih dalam pelukan gadis cantik itu. Jawabannya memang terdengar santai, tapi kenyataan kalau ia bahkan sama sekali tidak berusaha menolak pelukan Fany, sangat jelas menyatakan kalau sebetulnya ia pasti tetap menginginkan seseorang berada di sampingnya di saat-saat terpuruknya saat itu…

Tiffany memeletkan lidah, sadar persis dia memang pasti akan selalu mengungkit-ungkit si cowok yang konon hanya sahabat sepupunya. Habis dia kan penasaran sekali dengan kisah cinta ala anak itik yang sudah menjadi angsa ini!

“Ya sudahlah… Masih banyak cowok di dunia ini!” Tiffany akhirnya menepuk-nepuk keras punggung Megu sampai gadis itu nyaris tersedak. Ia pun kembali merebahkan tubuhnya di sandaran ranjang, bahkan tanpa menghiraukan pelototan Megu dan rambutnya yang sudah berubah jadi ular ala Medusa akibat ‘disiksa’ Fany barusan #bleh. “Haah… aku pikir semua pria Korea itu baik dan so sweet, apalagi sewaktu dengar cerita kamu dulu-dulu tentang dia yang super lurus dan pendiam itu… Tapi ya sudah, cukup. Tutup buku, nggak ada lagi Kim Kibum, ya!”

“Daritadi juga itu yang mau aku bilang… kamu malah ungkit-ungkit luka lama terus…” Megu masih geleng-geleng kepala dengan ke-kepo-an sepupunya ini. Masih khas remaja yang baru lulus SMA sekali… Akankah ia berubah setelah sudah menikah nantinya? Ah, tapi Megu cepat-cepat menggeleng. Kalau Tiffany yang ia kenal, pasti bisa, lah. Ia gadis yang cepat sekali beradaptasi.

“Nah, sekarang ganti topik saja.” Tiffany kembali bersuara. Ia mengangkat jarinya tinggi-tinggi. “Pokoknya hari ini kita curhat sampai puas ya, dilarang tidur!”

Megumi cepat menoleh takjub, “Heh, kamu tuh wanita yang dua hari lagi bakal jadi pengantin, tahu! Apa kata dunia kalau matamu sehitam panda nantinya???”

“Ada teknologi yang namanya spa dan concealer, tahu…” Tiffany dengan santai menggoyang-goyangkan telunjuknya ke kanan dan kiri. “Lagian juga pernikahanku masih lusa, masih cukup waktu! Ayo, ayo, kita cerita apa sajaaa…”

Megumi tertawa kecil memperhatikan tingkah sepupunya itu. Keceriaan Tiffany memang charm-nya. Dia pun sebetulnya juga seceria ini sih dulunya biarpun agak sedikit ‘aneh’, tapi sepertinya sejak Ki pergi itu, keceriaannya pun juga ikut terbawa bersama sang mantan sahabat, hilang begitu saja…

Yang tentunya tidak pernah diakui gadis ini. Ah sudahlah, yang penting beruntung sekali dirimu mendapatkan sepupuku, Greg, pikirnya, membayangkan pasangan itu dua hari lagi dalam pakaian pengantin mereka. Ah, tapi bicara tentang Greg… “Oh ya, yang tadi kamu bilang, kamu sering menginap di rumah keluarganya Greg? Bagaimana mereka?”

I’m in love with them.” Tiffany lekas menjawab tanpa keraguan. Ia menangkupkan kedua tangannya selagi menceritakan segala keramahan keluarga Hwang dengan mata bersinar-sinar, seperti memang dengan keluarga itulah ia selama ini berpacaran alih-alih hanya dengan putranya saja. “Dan kamu tahu, selain karena memang baik dari sananya, ternyata mereka sangat ingin punya anak perempuan, makanya aku begitu dimanja, dan bahkan kalau aku dan Greg bertengkar, dia malah dimarahi habis-habisan dengan kedua orangtuanya sukses membela aku sampai titik darah penghabisan. Kadang-kadang Greg sampai jengkel setengah mati, tapi aku sih senang-senang saja. Hahaha.”  Tawanya ceria.

Megumi geleng-geleng kepala, “Dasar nggak tahu diri.” Candanya sebelum menyibak selimut mereka berdua dan bangkit dari ranjang.

Tiffany yang barusan masih memeletkan lidahnya cuek akan ledekan sang sepupu segera bereaksi. Gadis yang memakai kaos pas badan dan shorts berwarna pink sebagai kostum tidurnya cepat-cepat memprotes, “Doko iku no? (Mau kemana?)”

“Ambil minum, sepertinya malam ini bakal panjang.”

Dan Fany hanya bisa tergelak dengan jawaban Megu, sadar persis kalau sudah bercerita memang mulutnya seperti tidak akan pernah capek…

“Ayo, lanjut.” Megu yang sudah kembali dengan sekarton besar susu cair beserta gelas dan satu ekslemplar koran ayah Fany di tangannya segera memberi instruksi lagi, seakan menekan kembali tombol play pada pause-mode-Fany.

“Nah.” Fany memulai lagi. “Jadi ya begitu, saking kepinginnya punya anak perempuan, aku juga jadi sering diminta menginap deh. Tapi kasihan mereka… Rencananya nggak lama setelah nikah nanti aku akan ikut Greg ke Korea kan untuk urusan kerjaannya, dan akan menetap disana. Adik Greg, Jason, juga lagi kuliah di Ohio sejak tahun kemarin. Mereka sampai jadi mau mengangkat anak segala—cewek, tentunya. Haha—demi menemani mereka itu. Tapi Greg sama Jace masih menolak sih, mereka sedikit takut kalau harus mengangkat anak yang nggak jelas asal-usulnya, soalnya Mr. and Mrs. Hwang maunya anak perempuan yang sudah agak besar biar nggak terlalu repot lagi dan juga bisa memperhatikan mereka. Maklum mereka sudah nggak muda lagi kan…”

Megumi mengangguk-angguk seraya mulai membuka koran US Daily yang barusan ia ambil dari ruang tamu. Selagi mendengar Fany mengoceh, ia menelusur satu per satu berita yang ada disana sebelum langsung meluncur bebas ke bagian Science yang memang menjadi rubrik favoritnya di koran yang cuma terbit di Amerika Serikat itu (iyalah, namanya juga US Daily (¬_¬) ). Dia suka sekali membaca ulasan-ulasan tentang benda-benda langit disana; laporan penemuan bintang baru, ilmu astronomi, pengetahuan tentang berbagai fenomena langit, bahkan sampai kolom prakiraan cuacanya. Biarpun tentu, terlahir sebagai wanita yang ditakdirkan punya bakat multi-tasking, ia masih dapat sekaligus mendengarkan cerita Fany di tengah-tengah keasikan membacanya.

“Nah oke, sekarang kamu.” Tiba-tiba Fany sudah menyudahi saja kisah tentang calon keluarga barunya itu. Megu menoleh pelan. “Um… setelah Ki ‘raib’… apa kamu… masih tetap menyukai robot…?” Tanya Fany ragu-ragu, takut menggores luka Megu lagi dengan kembali mengungkit-ungkit tentang Kibum.

Tapi Megu sekejap tersenyum meyakinkan, “Mochiron. (Ya pastilah)” Katanya mantap seraya memutuskan untuk kembali pada bacaannya selagi menjawab.

The Expanding Area of Asian Schools’ Extracurricular Activities… Ia sedang membaca judul sebuah artikel saat kembali menyambung jawabannya, “Dari awal juga yang suka duluan sama robot ya aku ini, kan? Dia sih cuma follower.” cibir Megu dengan mata tetap tertuju pada isi artikel itu. Sebagai pengalih perhatiannya, karena sesungguhnya hatinya tentu masih selalu sakit setiap topik tentang Ki diperbincangkan… Apalagi ditambah topik robot yang bisa dibilang adalah ‘pengikat’ kebersamaan mereka dulu.

“Baguslah.” Timpal Fany. Megu mengangguk-angguk, tetap sibuk membaca.

 

Asian, as well as other nations, has been developing sophisticated programs… blablabla… Reflected in the form of expandization in extracurricular activities… blablabla… Started with Japanese and its ‘quirky’ yet based on students’ interests extracullicular activities like manga (comic) club… blablabla… For example South East Asia’s Indonesia with batik… South Korea and robotic science…

 

(Bangsa Asia, sebagaimana bangsa lain, sedang mengembangkan berbagai program-program maju… blablabla… Tercermin dalam berbagai bentuk perluasan di bidang aktivitas ekstrakurikuler… blablabla… Dimulai oleh Jepang dan klub manga (komik)-nya yang ‘nyentrik’ namun didasarkan pada minat para siswanya… blablabla… Sebagai contoh adalah Indonesia di Asia Tenggara dengan batik… Korea Selatan dan klub robot…)

 

Robotic science? Megu membaca ulang kalimat yang barusan ia temui itu. Ternyata di Korea juga ada klub robot… Ia jadi makin penasaran membaca seterusnya.

Biarpun Megu belum tahu, kalau di bawah itu akan ada nama yang akan membuatnya lebih shock lagi…

 

Middle schooler Kibum Kim (15, Korea), who is currently joining the robotic science club in his school even reveals his determination in becoming world-class robot inventor. Left Japan as the leading nation in technology 2 years ago, he plans to use the knowledge of robotic science he learnt there and conquers the world. This has proven that not only expands the area of its extracurricular activities, but Asia also aims to—“

 

(Siswa SMP Kibum Kim (15, Korea), yang bergabung dengan klub robot di sekolahnya, bahkan mengungkapkan tekadnya untuk menjadi inventor kelas dunia. Meninggalkan Jepang yang merupakan bangsa pemimpin di bidang teknologi 2 tahun lalu, ia berencana menggunakan pengetahuan robotika yang ia dapatkan disana dan mengalahkan dunia. Ini membuktikan bahwa tidak hanya semata-mata mengembangkan bidang ekstrakurikulernya, tetapi Asia juga berkeinginan untuk—)

 

Kibum? Kibum Kim?? Megumi mengulang-ulang nama itu dalam otaknya. Terlalu terkejut, ia bahkan tak berniat melanjutkan lagi bacaannya, melupakan kalau sebetulnya inti dari artikel itu bukanlah anak dengan ekskul robotnya tadi, ia hanyalah sekedar contoh murid yang mengikuti ekstrakurikuler model baru yang memang sedang ngetren di negara-negara Asia itu. Tapi Megumi sudah buru-buru melompat ke bagian foto disana, dan segera terlihatlah olehnya sosok seorang remaja tampan berseragam, wajah yang tak pernah bisa hilang dari ingatannya…

Itu betul-betul Kim Kibum, Ki yang ia kenal.  Awalnya ia masih berharap itu adalah Kim Kibum yang lain biarpun ia tak tahu sebanyak apa orang bernama Kim Kibum di Korea. Ia hanya berharap itu Kim Kibum yang lain biarpun mereka sama-sama murid SMP dan menyukai robot…

Hanya saja kenyataan berkata lain. Yang ia lihat sekarang, perkataan seseorang yang ia baca sekarang, semua adalah milik Kim Kibum-nya. Ki. Left Japan… plans to use the knowledge he learnt there and conquers the world…  Ternyata ia memang benar-benar orang yang picik. Sudah tahu ia sepicik ini, tapi mengapa setelah ia ‘membuang’ MeguKi dan persahabatan mereka begitu saja, hatinya diam-diam tetap mencoba percaya kalau Ki sebenarnya bukanlah orang yang seperti itu?? Kalau memang itu semua pasti ada alasannya??

“Terus nanti aku mau kuliah disana juga, appa-nya Greg kan mantan rektor—“

“Fany,” panggil Megu tiba-tiba, memotong perkataan Fany yang sedari tadi memang masih bercerita tentangnya dan Greg penuh semangat. Megumi kini sudah menutup koran yang barusan masih dibacanya, tak bisa ditebak apa makna tatapan matanya yang tetap lurus ke depan itu: antara berkilat-kilat penuh amarah, bercampur pandangan kosong penuh kekecewaan?

Fany segera menoleh, menghentikan ocehannya. “Ya?”

“Putri angkat keluarga Hwang… nggak bisakah itu aku?”

Ia harus memberi pelajaran untuk orang sombong ini, untuk pengkhianat ini… Namun bukan dengan identitas Minakami Megumi.

Flashback end

 

“‘Minakami Megumi ini‘??”

Aku dapat melihat Minmi segera menoleh kaget ke arah pintu tempatku berdiri, yang BRUK! segera disusul jatuhnya ponsel miliknya ke karpet bulu sintetis yang terhampar di bawah tempat tidurnya. Matanya membalalak melihat kehadiranku disana, mengingat seperti yang pernah kubilang, selama ini, selama sekitar 4 bulan aku menjadi kekasihnya, teritoriku di rumah ini memang selalu dan masih hanya sampai ruang tamu tempat kami biasa main DDR bersama. Namun apa itu berarti aku tidak bisa mencarinya sampai kemari? Dan benar bukan, apa yang kutemukan adalah sesuatu yang sangat mengejutkan… terlalu mengejutkan.

Masih kutatap Minmi dengan intens, meminta penjelasan apapun yang dapat ia berikan. Tentu, aku masih ingin memberinya kesempatan. Aku mencintainya, maka seberapa besar pun rasa terkhianati akibat pembohongan terbesar yang pernah kurasakan ini, sebisa mungkin aku masih sangat ingin memberinya kesempatan kedua. Karena sekali lagi, aku mencintainya… dan bukankah bila ternyata ia memang betul Megumi, Megumi yang selalu ingin kutemui, selalu kusayangi selama ini, itu menjadi nilai tambah bagiku dalam mencintainya? Kalau ternyata dua wanita yang sangat kucintai adalah orang yang sama…

Tapi sepertinya ia merasa tidak membutuhkan kesempatan kedua itu. Karena tak butuh lama sampai akhirnya kekasihku menghilangkan ekspresi shock dari wajahnya dan menggantinya dengan sebuah senyum sinis, yang begitu mengingatkanku pada hari-hari pertama aku bertemu dengan seorang Hwang Minmi.

“Ya.” Jawabnya lugas. “Ya, aku Minakami Megumi.”

Ia menatapku begitu dingin. Tapi… tunggu. Aku betul-betul tak tahu apa yang ada di kepalanya, kenapa jadi ia yang sepertinya marah padaku? Bukankah harusnya aku yang begitu? Disini aku yang sudah dibohongi mentah-mentah olehnya, kan?

“Tapi berkali-kali aku bertanya apa kamu Megu, dan kamu selalu jawab BUKAN!”

“Itu karena Megumi yang kamu cari sudah mati!!” ia dengan cepat memotong seruanku. Aku terhenyak. “Minakami Megumi-mu, si cupu yang so-called sahabatmu itu, dia telah lama mati. Nggak lama setelah kamu membuangnya dan mimpi kalian begitu saja. Dia sudah tinggal nama! Hanya nama di masa laluku. Dan begitu juga kamu.”

“Begitu juga aku?” aku mengulang perkataannya. “Maksud kamu apa, sih? Aku nggak pernah melupakan kamu! Melupakan Megumi. Aku bahkan juga pernah bilang padamu saat kita baru jadian dulu kalau Megumi adalah cinta pertamaku, kan—“

“Begitu juga kamu, hanya nama di masa laluku!” ralatnya cepat pada perkataanku. Aku menatapnya tak percaya. “Sudah lama sekali aku nggak pernah menganggapmu lagi. Tapi tiba-tiba kamu muncul begitu saja di depanku saat kompetisi itu, jelas-jelas menaruh hati padaku. Dan saat itulah rasa benciku padamu muncul lagi. Aku merasa diberi kesempatan oleh Tuhan untuk membalaskan dendam MeguKi yang kamu tinggalkan begitu saja… okelah, membalaskan dendamku juga.” Ia mengangkat bahu dengan senyum sinis.

Aku masih terpaku, shock. Sedalam itukah luka yang sudah kutorehkan padanya karena kepergianku yang tanpa pamit itu dulu? Megumi-ku…?

“Tapi yah… berhubung sekarang kamu juga sudah tahu kenyataannya, baguslah. Tadinya sih aku ingin mencampakkanmu begitu saja seperti apa yang kamu lakukan dulu padaku dan MeguKi, tapi begini juga nggak apa, deh.” Ia melangkahkan kakinya menuju meja belajar putih di kamarnya. Dibukanya salah satu lacinya dan mengeluarkan selembar amplop dengan kop KOREAN AIR di mukanya. “Urusanku sudah selesai di negara ini, kuliahku beres, aku pun sudah puas bermain-main denganmu. Ah, itu taksiku sudah datang. So, bye.” Katanya ringan seraya melenggang sambil menarik koper berbahan jeans-nya melewatiku.

Aku yang berada di dalam kamarnya tak jauh dari pintu bahkan masih terlalu tercengang untuk mampu menghentikannya atau berbuat sesuatu. Dan pada akhirnya aku hanya mampu terpaku, kaki dan lidahku kelu, tak bisa bergerak ataupun berbicara sepatah katapun. Deru taksi sudah terdengar menjauh, namun mataku masih kosong, hampa menatap bekas kamar kekasihku yang juga hampa karena baru saja ditinggalkan pemiliknya itu. Masih teringat jelas kalimat terakhir Minmi—atau Megumi mungkin lebih tepat—saat melewatiku tadi sebelum keluar dari rumah ini:

“Dicampakkan itu menyakitkan, bukan?”

 

***

 

Aku masih tak sadar apa yang telah terjadi padaku bahkan sampai berhari-hari setelah kejadian itu. Hati dan otakku masih betul-betul sulit memproses kenyataan kalau Minmi memang sudah pergi begitu saja meninggalkanku. Itu hanya… terlalu tiba-tiba. Aku tak pernah bermimpi suatu hari ia akan pergi begitu saja seperti ini, maksudku, bagaimana mungkin aku bisa memikirkannya? Hubungan kami baik-baik saja selama ini, kami sangat saling menyayangi, tapi ternyata itu semua… sandiwara? Dan disaat itu aku baru sadar, mungkin seperti inilah perasaan Megumi saat dulu tiba-tiba aku menghilang begitu saja dari kehidupannya tanpa mampu berpamitan sama sekali. Dicampakkan memang… menyakitkan. Meskipun aku tak pernah tahu kalau itu akan sebegini besar efeknya pada hati gadis kecilku yang dulu selalu terlihat kuat itu…

“Kamu kenapa sih? Bengong terus gitu sudah berapa hari ini, aku jadi serem.”

Aku segera menengadah dari mangkuk nasiku yang dari tadi hanya kuaduk-aduk saja tanpa ada niat memakannya, dan segera kutemukan wajah kembaran yang anehnya tak ada mirip-miripnya sama sekali denganku itu, Ryeowook. Aku hanya tersenyum sekilas sebelum kembali menatap makananku lagi di atas meja ala bar milik dapur rumahku ini. Ryeowook yang berada di seberangku, di balik meja bar ini buru-buru keluar dari teritorinya dengan wajah makin khawatir.

“Gwaenchanhjyo? (Kamu baik-baik saja, kan?)” pastinya seraya memegang kedua pipiku. Kutatap kedua mata coklatnya yang memang begitu terlihat panik, takut kalau telah terjadi apa-apa padaku.

Ah, betapa perhatian kakakku satu ini. Tidak ingin membuatnya lebih khawatir lagi, maka aku buru-buru menyingkirkan kedua tangannya pelan sambil memberi senyum meyakinkan, “Gwaenchanhda. (Aku baik-baik saja kok.)”

Tapi sepertinya Ryeowook tidak sebegitu bodoh seperti kelihatannya (Wook: maksud loh??), ia tidak langsung menelan bulat-bulat perkataanku begitu saja dan malah menarik kursi tinggi ala bar di sebelahku dan mendudukinya. Kini sambil mengunci kedua pergelangan tanganku juga dan menatap wajahku lekat-lekat. “Ada sesuatu dengan Minmi, kan?”

Ternyata kami memang saudara kembar. (Maksudnya dia bahkan bisa menebak pikiranku.)

“Geunyeo ga sarajwotda. (Dia menghilang).” Akhirnya aku tak mampu juga menyembunyikan ini darinya lebih lama lagi.

“Sarajwosseo?? Menghilang?? Menghilang gimana maksudmu??” seperti yang sudah kuperkirakan, dia pasti akan histeris begini, deh. Itulah alasan awal aku malas bercerita ini dengannya, selain karena sifatku yang memang ‘gagu’ ini, sih.

“Menghilang ya… menghilang. Dia pergi begitu saja, dan aku nggak tahu kemana. Ketika aku datang besoknya untuk tanya-tanya ke kakak maupun kakak iparnya, ternyata mereka juga nggak ada, dan aku baru tahu dari tetangganya kalau pasangan Greg dan Fany sudah lebih dulu pamit dari lingkungan itu 2 hari sebelumnya. Pantas saja waktu itu aku merasa rumah itu lebih lengang dari biasanya, ternyata barang-barangnya sudah beberapa dipindah…”

“Kata-katamu kok kedengarannya pasrah banget sih.” Adalah protes pertama yang segera dikeluarkan Ryeowook sebagai tanggapan begitu ceritaku selesai, alih-alih segala kata penyemangat atau apa kek yang lain yang bisa diberikan.

Aku memicingkan mataku galak, tapi ia tak memedulikannya dan malah memangkukan dagunya di atas kedua tangannya yang didirikan tegak di atas meja sebelum menatapku kembali, “Nggak apa-apa sih kalau kamu memang nggak segitunya sama Minmi, tapi buat aku, sebetulnya Kim Kibum bisa melakukan yang lebih baik dari hanya pasrah menerima kenyataan.”

Diam. Kami berdua seakan sedang saling adu tatap sekarang, dan tumben sekali Ryeowook tidak kelihatan takut-takutnya sama sekali kulihati begitu.

“Saera wasseo~!”

Sedang tegang-tegangnya kondisiku dan Ryeowook, tiba-tiba suara cempreng si bungsu kami terdengar begitu saja. Konsentrasi kami segera teralih, apalagi setelah ditambah satu suara lagi…

“Nado wasseo!” suara seorang pria yang biarpun nggak berat-berat amat, tapi cukuplah bagi kami untuk tahu kalau dia cowok. Dan tengil. Ya, siapa lagi kalau bukan mantan musuh bebuyutan kami, salah satu dari tiga kembar Lee, Lee Eunhyuk yang adalah pacar Saera.

GUBRAK! Makin buyar, rusak sudah fokus kami dibuatnya.

“Eh, oppa sama Wook-ah lagi ngapain?” tanya Saera yang baru sadar melihat kami berdua tertunduk meletakkan dahi di atas meja ala bar dapur kami itu.

“Nggak, nggak ngapa-ngapain. Sudah terlanjur kacau.” Jawab Ryeowook tanpa mengangkat kepalanya. “Haah, padahal kapan lagi aku kuat main pelototan sama Kibumie begini…” lirihnya, nyaris tak terdengar.

Saera mengangkat bahunya, “Oh, oke.” Katanya sambil kembali pada kulkas yang baru dibukanya. Ia mengambil sebotol jus jeruk dan segera menuangkannya ke gelas, sepertinya untuk disajikan ke sang pacar melihat gelas yang ia ambil adalah memang gelas cantik khusus untuk tamu. “Oppa~! Sini nih, main sama Kibum oppa sama Wookie!”

“Aku ke kamar, ah.” Mendengar Saera yang sudah memanggil si monyet untuk gabung, aku langsung tambah malas dan buru-buru berniat kabur ketika cowok berhidung mancung itu sudah memanggilku terlebih dulu.

“Hei, Kibum!” serunya sambil berjalan dari arah ruang tamu. Aku menoleh, tumben dia ada perlu denganku. Melihatku yang sudah terdiam di tempat, Eunhyuk pun lebih mempercepat langkahnya menghampiriku. “Hei! Aku dengar kamu pacaran sama adik temanku, ya? Aku baru tahu, lho. Sampai kaget dengarnya.”

Aku seketika mengernyit, “Teman?”

“Greg Hwang. Kamu pacaran sama adiknya, si Merisa, kan? Merisa Hwang. Oh, tunggu. Disini nama Korea-nya… Min…”

“Minmi.” Bantuku cepat. Makin gusar, mulai galau.

Ia mengangguk-angguk. “Aku kan koreografer, kamu tahulah,” sombongnya, aku hanya mencibir. Puih. Tapi ia buru-buru melanjutkan, “…nah, Greg juga adalah koreografer, mungkin kamu juga sudah tahu. Dia partnerku ngebangun studio dance—“

Stockholder. (Pemegang saham.)” Celetuk Ryeowook yang melongok dari balik punggung Eunhyuk sambil cengar-cengir. Aku segera membungkam mulutnya. Nggak butuh istilah akuntansi di saat kayak begini!

Eunhyuk mengedikkan bahunya sekaligus berniat menyingkirkan dagu kakak kembarku yang bertengger disana, “Ya, seperti yang dibilang Wookie. Pas dengar tentang kalian dari Greg saja aku langsung mikir: dunia sempit amat, ya…” Katanya sambil mengambil ancang-ancang duduk di kursi bar yang barusan aku tinggalkan. Aku hanya mengangkat alisku, dunia memang benar-benar sempit.

“Oh ya, tapi seminggu yang lalu dia sudah balik ke Hawaii kan… Apa Merisa juga ikut Greg dan Fany? Terus kalian LDR dong?”

DEG! Biarpun sejak awal dia mengungkit-ungkit Minmi aku sudah mengantisipasi pertanyaan ini, tapi tetap saja rasanya agak perih, ya, jika seseorang yang tak bisa kita lupakan itu dibahas-bahas lagi…

“Yaaah, dibahas, kan…” Ryeowook menggeleng-gelengkan kepalanya. Pasangan SaeraHyuk segera menoleh bingung. Wookie mengangkat bahunya, “Sudah ‘habis’, mereka… Game over.”

“Jinjja??” Seruan kaget–yang tentunya didominasi suara Saera–segera berkoar. Ryeowook cepat-cepat menutup telinganya.

“Cuma gara-gara LDR doang??” Tambah Eunhyuk.

“Bukan itu.” Bantahku cepat dan kalem, sudah tahu mereka bakal histeris begini. “Ada lah, bukan urusan kalian.”

“Tapi sebetulnya sih dia masih ngarep…” Celetuk Ryeowook sambil buru-buru kabur berlalala ke dalam kamar kami, takut terkena amukanku.

Aku hanya bisa menghela napas lelah mengetahui sudah terlambat menyeretnya keluar lagi untuk diomeli. Eunhyuk terkekeh kecil.

“Aku punya alamat Hawaii keluarga Hwang, kalau kamu mau.”

Aku cepat menoleh, dan segera terlihatlah olehku sosok monyet itu menjepit sebuah kartu nama berwarna kuning gading dengan telunjuk dan jari tengahnya. Ia duduk dengan menyilangkan kaki dan berusaha memertahankan posisi yang pasti menurutnya paling keren itu. Di dalam meja bar kami tampak Saera bertepuk-tepuk tangan mendukung tampilan kekasihnya, yang segera disambut lambaian bangga Eunhyuk seakan menyuruh Saera berhenti, gaya artis yang dielu-elukan fansnya! Ya ampun, kenapa aku bisa berhubungan dengan pasangan ajaib begini, sih… ​‎​‎​(-̩̩̩-͡ ̗–̩̩̩͡ )

 

“…tapi buat aku, sebetulnya Kim Kibum bisa melakukan yang lebih baik dari hanya pasrah menerima kenyataan.”

 

Tapi seketika perkataan Ryeowook barusan seperti berputar-putar di kepalaku lagi. Dan seperti mendapat pencerahan, sekejap senyum pun terbit di wajahku, yang diiringi kata-kata, “Kemarikan kartu nama itu. Aku mau berlibur ke Hawaii.”

 

***

 

BRSHH.

Suara debur ombak Pantai Waikiki, Hawaii, segera menyambutku begitu pagi ini keluar dari hotel. Yah, berhubung kemarin aku datang sudah larut sekali, jadi dengan mata dan otak 1 watt begitu tentu aku tidak memperhatikan laut sama sekali, bisa mencapai kamarku dengan tepat saja sudah cukup bersyukur. Biarpun memang cukup sering keluar negeri dari kecil dulu, tapi penyakit jetlag-ku yang selalu kecapekan berlebih sehabis menempuh perjalanan udara (padahal di pesawat tak melakukan apa-apa juga) ini memang selalu merepotkan.

 

“Gigimu ngilu juga?” Megumi dan hobinya menebak. Kami saat itu baru saja turun dari pesawat yang membawa kami beserta teman-teman kelas 6 yang lain karyawisata ke Osaka, dan jelas sekali terlihat wajahku yang super-capek, jetlag berlebih yang membuatku jadi lebih bungkam, malas bicara lebih dari sebelumnya. Ryeowook yang memang sudah mengerti ‘penyakit’-ku ini bahkan akhirnya lebih memilih membiarkanku sendirian dan bergabung dengan teman-teman yang lain. Orang gagu kalau sedang capek bisa sangat galak!

Tapi sepertinya bocah ini belum tahu itu, aku melirik gadis cilik berkacamata dengan overall jeans dan rambut singa-nya yang sedang sibuk menjajari langkahku. “Tahu darimana? Sedikit sih, tapi sebentar lagi juga sembuh, sudah biasa.” Kataku, mengiyakan biarpun masih jutek.

“Kalau lagi atau menjelang hujan badai atau badai salju pasti kamu begitu juga, ya.”

Aku makin jutek mendengarnya. Anak ini bertele-tele sekali sih?? Tapi setelah kupikir lagi, sepertinya memang… “Iya, kayaknya.” Anggukku akhirnya. Memang benar, seringkali memang kalau badanku tiba-tiba lemas dan susah digerakkan, di hari itu ada saja badai melanda.

Hah, apa mungkin badanku ternyata indikator cuaca? Lalu buat apa selama ini aku dan Megu susah-susah mengembangkan robot cuaca kami?? Lihat kondisi tubuhku saja!

Tapi pikiran(bodoh)ku segera terpatahkan oleh selaan Megu, “Itu normal, sih.” Katanya. Aku meliriknya tertarik, sekarang selain jadi ‘master’ bahasa langit, dia juga jadi master bahasa tubuh? Ia balik menatapku sambil terus melanjutkan langkah kami menyusuri ‘belalai’ pesawat, “Ketika pesawat mau landing atau menjelang badai, tekanan udara itu menurun drastis dengan tiba-tiba. Nah, itu yang bikin tekanan darah kita juga jadi menyesuaikan, dan penyesuaian itu mempengaruhi saraf-saraf dan persendian tubuh, jadi kaku-kaku gitu deh, biarpun cuma sebentar, sih. Dan setahu aku itu juga biasanya dialami sama orang yang udah lanjut usia, yang tulangnya memang sudah ‘nggak beres’ gitu…” katanya sambil menerawang ke atas, dengan tampang-super-inosen.

Aku buru-buru mendelik dengan tatapan ‘MAKSUD LOHHH??’ besar-besar. Ia cepat nyengir-nyengir, “Hehe, mungkin tubuh kamu termasuk yang terlalu sensitif, kali. Sudahlaaahh~”

Mataku masih menatapnya jengkel, biarpun akhirnya penasaranku lebih kuat, “Tapi kok tumben kamu tahu beginian? Kirain jago cuaca aja.”

“Kan ada badainya.” Jawabnya cepat sambil terkekeh. Aku menepuk dahi, oh iya. “A coming storm your shooting corns presage, and aches will throb, your hollow tooth will rage. (Jika badai akan datang, ujung kakimu akan berjaga-jaga, dan sakit pun datang, gigimu pun marah)

“E… eh?”

Ia menatapku lagi, “Sajak kuno, tentang yang barusan. Dan masih banyak lagi yang lainnya, bikinan para pelaut, nelayan asli sesuai pengalaman mereka lho. Zaman dulu kan mana ada badan meteorologi. Selama ini aku selalu tepat menebak cuaca ya karena aku hobi baca sajak-sajak kuno itu.” Terangnya dengan mata berbinar. Mulutku perlahan terbuka karena takjub. Jadi ternyata ini, fdi balik semua ramalannya… Tapi ia cepat mengedipkan matanya, “Ssstt, himitsu, dakedo. (Ssstt, tapi ini rahasia, ya.)”

 

Aku menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum sendiri mengingat satu lagi fragmen memoriku bersama Megumi itu. Ya, benar, sajak kuno, itulah rahasia kejituan ramalannya selama ini, aku pun baru tahu detik itu juga. Aneh, ya? Aku bahkan tak pernah tahu kalau di era internet, di saat manusia bahkan sudah bisa dikirim ke bulan ini, memprakirakan cuaca masih bisa dilakukan dengan panduan sebuah sajak! Tapi memang itulah yang terjadi, dan seperti kata Megumi, semua sajak ini didapat dari pengalaman sungguh-sungguh yang kemudian dibuktikan dan diaplikasikan kebenarannya sejak dulu. Dan sejak mengetahui kenyataan itu, tak satupun hari kulewatkan tanpa buku ‘Weather Lores’ milik Megumi, menelaah satu per satu arti dari tiap sajak-sajak penuh konotasi itu, mencoba mendapatkan ‘feel’ dari tiap bahasa yang dikatakan langit. Seperti Megumi.

Yah, sudah. Sekarang kembali ke topik: pencarian Minmi, kekasihku yang menghilang, juga Megumi, sahabat sekaligus cinta pertamaku yang pernah kutinggalkan… yang ternyata orang yang sama.  Kugenggam erat-erat kartu nama pemberian Eunhyuk yang di mukanya tertuliskan ‘GREGORY HWANG’ dalam huruf kapital bercetak tebal, tepat di tengah tampilan kartu nama itu. Mengiringi di bawahnya adalah nomor telepon, email, dan alamat rumah… dan itulah yang kucari kali ini.

Taksi yang kutumpangi akhirnya berhenti di depan sebuah rumah berpagar kayu putih dengan sebuah halaman yang sangat cantik. Setelah memastikan ulang kalau memang inilah alamat yang kumaksud pada si supir, aku pun turun, dan dengan langkah mantap menuju pagar yang cukup rendah itu. HWANG. Memang begitu yang tertulis di atas kotak surat yang berada di samping pagar utamanya. Berarti memang benar, sebentar lagi aku akan bertemu dengan Minmi-ku.

 

TBC

 

WEEEEWWW saya kembaliiiiiii~ setelah hiatus (?) cukup lamaaa mian m-_-m

ya sudah. begitulah. selamat membacaaaa~ ai lap yuuuu~

*menghilang sebelum dihajar massa*

:p

Advertisements
 
13 Comments

Posted by on October 24, 2011 in Super Junior, [THE SERIES]

 

13 responses to “[THE SERIES] BAHASA LANGIT – Part 4

  1. p4nic

    October 25, 2011 at 2:47 pm

    hwa… finally keluar juga…
    suka banget nih sama the series,,
    tapi baru bisa comment.. mian yaaa… 😀
    sebenernya tiap pagi aku pasti mampir ksini, check n ricek gitu..
    kali aja udah update..
    next time aku comment lagi degh,, versi panjang nya..

     
    • lolita309

      November 1, 2011 at 4:37 pm

      buhahaha maaf yaaa lama… :p

      wuaaa makasiii >< iya gapapa kok, akan selalu kutunggu komenmu, tiada kesan tanpa kehadiranmu pokoknya hehe 😀

      wah, iyakah? lanjutkan ya sayang! biarpun maaf kalo aku ga bisa update sering2.. 🙂

      sipp, sekali lagi makasiiiii bgt yaa uda mau komen^^

       
  2. ms.o

    October 26, 2011 at 6:57 am

    rekam jejak dulu…ahahaha

    capcus ke kampus….

     
    • lolita309

      November 1, 2011 at 4:38 pm

      reader yang ini uda balik belom yaa dari kampusnya??? hahahah :p

       
      • ms.o

        November 7, 2011 at 12:04 pm

        ahahahahaha…miane eonni….banyak aral melintang,,,halah…
        dunianya kibum sempiiittt banget….ketemunya orang2 yang ada hubungannya sama megu…kasian…
        ummm,,adegan pandang-pandangan itu udah hampir klimaks, seandainya g ada monyet n pasangannya nongol..(hyuk: bilang ape lu?) wakakakakkaa

         
  3. oepieck

    October 28, 2011 at 12:35 pm

    uwaaaa~ akhirnya publish juga. ya ampun, nunggunya ampe jamuran ini, kkk~

    eh, kibum gentle banget ampe ngejar minmi ke Hawaii
    semoga ketemu, semoga ketemu..
    jelaskanlah semua~
    ampun ini aku geregetan gara-gara mereka salah paham
    minmi… semoga kamu mengerti, semoga kamu mengertiii~

    yoksi, aku dan pacarku jadi cameo lagi di sini :DDDD
    ternyata eunhyuk pethakilan banget ya? huwahaha

    lanjutannya ditunggu eonni ^^

     
    • lolita309

      November 1, 2011 at 4:54 pm

      buhahaha, maap yaa jamuraan~ *lempar fungiderm* #ditabok :p

      hihi, sekalian liburan itu maahhh, minmi jangan ge-er dehh…. (minmi: maksudnyahhhh???) XD

      amiin, semoga ketemu yaa, biarpun…. ups, pokoknya baca aja di part 5 kkkkkk
      eh tapi aku berasanya disini konfliknya kurang ngena ya? kayaknya kok dasar salah paham mereka cetek banget -.-” maaf yaaaaaaaaaa

      hahaha, seneng yaaa jadi cameo, pokoknya disini unyuk udah berasa bagian keluarga kim deh, abis nempeeell mulu dan muncuuuulll mulu bedua saera hihi

      sipp, makasi yaa sayang uda baca, luv yuuuu :*

       
      • oepieck

        November 5, 2011 at 9:45 pm

        kuakakaka~

        tapi kan emang nuansanya remaja eonni. jadi menurutku dasar masalahnya y itu, cetek. kkk~
        tapi tetep keren kok eonni. lagian kan kesalahpahaman sekecil apa pun klo g dilurus”in lama” juga jadi ruwet. lagian eonni tu pinter bikin konflik yang ribet, tapi cara ngemasnya mudah dipahami. jadi ya itu, keren. hehehe….

        aduh… kapan aku bisa bikin ff sebagus ff-nya lola eonni #mbayangin jadi seorang lolita

        eh eonni tuuuu
        spoiler deh, iiihh gemeees!
        pokoknya kibum jangan dibikin patah hati ya,
        terus endingnya yang spektakuler gitu eonn #banyak mau #PLAKK!
        ya pokoknya bikin yang keren y? heheh… 😀

        iya dong, aku senaaang. rasanya tu aku kayak cwe paling beruntung. dikelilingi oppa” yang sayang n perhatian, terus punya pacar yang keren kayak kunyuk. kkk~ apalagi mereka udah mulai akur. lengkap sudah… ^o^

        eh, aku jadi inget kim boys ama lee triplets. itu gimana nasibnya kangin ama ryeoyu?
        eonni… hutangmu pada readers belum terbayaaaar~ (eonni: haish, banyak bacot ni anak)
        hehehe…. gpp kok… aku setia menunggu ^^
        lop yu tu eon 😀

         
  4. asihkpop

    October 30, 2011 at 3:51 pm

    kyaaa…authorrr…..
    Setelah sekian lama nunggu*didalam goa sampe belumut*plaaak#abaikan
    TBC nya nanggung buat aku tambah penasaran….makin klimaks ni ceritanya…daebaaakkkk..
    Sukaaaa…sukaaa…sukaaa
    Aku juga Kangen ni sama cerita keluarga lee dan siwon…

     
    • lolita309

      November 1, 2011 at 5:00 pm

      makanya nunggunya jangan di dalem goa…. bahahaha *tawa congkak* #PLAK :p

      hehe, nanggung yaaa? jadi ceritanya, yang akhir itu emang motong dari lanjutannya… jadi kalo gantung gitu ya maap kkkk XD

      waaaaa betulkaahhh? seneng deh kalo emang makin klimaks, biarpun sebetulnya aku masih belum cukup puas lhoo hehe 🙂

      iyaa, nanti ada lagi cerita ttg keluarga lee (sungmin, lebih tepatnya) sama siwon yaaa^^

      makasi sayang uda baca 🙂

       
  5. hwangminmi

    November 7, 2011 at 9:45 am

    YEEEEEAAAAAAH AKU DATAAAAAAAANG~~~!!! \(‾▿‾\)\(‾▿‾)/(/‾▿‾)/ #heboh #ditabok

    Aku suka aku suka aku suka~ (╥_╥) #salahemot

    Minmi jahat amat ya (¬_¬) balas dendam memang menyeramkan~ tapi itu bukan aku ( ˘͡ -˘͡) (?)

    Ayo kibum~ kejar terus dia huahahaha~ XD (?) #ditaboklagi

    Oh iya, kok eonni lama bgt hiatusnya? (.__.)

     
  6. chrisnagustyani

    November 7, 2011 at 9:02 pm

    Whoa maaf ya nyah saya bacanya telat… sekarang opera mini saya muahal amat jadi mesti ngerem buka blog huhuhu belum lagi kuliah yang kaga kelar-kelar huaaaaa…. *curcol*

    waduh, masalahnya belum kelar-kelar toh? si Minmi udah kebuka kedoknya masih aja jual mahal, kibum ayo kejarrrrrr..!!!!!!!!!! *bawapompom*

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: