RSS

[THE SERIES] DR. SHIN – Case 4

13 Sep

Disclaimer dulu ah: semua cerita ini murni fiktif (dicampur beberapa penelitian author sih hahaha), jadi kalau ada kesalahan tentang prosedur ataupun kehidupan kedokterannya, harap dimaafkan 🙂 dan oh ya, bayangkan Shindong disini ketika dia dalam kondisi terkurusnya, terkerennya. Sekurus-kurusnya, sekeren-kerennya yang pernah Shindong alami ya, biar lebih dapet kesan dokter angkuhnya (loh?) :p

 

DR. SHIN – Case 4

(Case 1; Case 2; Case 3)

Written by: Lolita Choi (@lolita309)

Starring: Shin Donghee, Kim Jaejoong, Zhou Mi, etc.

 

(INFO) Daftar absen intern dr. Shin Donghee:

Kim Jaejoong (lk) = Kim 1

Kim Dal (pr) = Kim 2

Zhou Mi (lk, China) = Zhou

Park Yora (pr) = Park

 

 

EMPAT. EUTHANASIA1

Akhir-akhir ini, di RS sedang ramai para staf (terutama wanita) yang membicarakan seorang long-term patient kami. Seorang pasien wanita muda di ICU yang sedang mengalami koma, sudah sekitar satu tahun ini. Yah, lebih tepatnya para staf itu membicarakan tentang sang suami, seorang pemain di tim nasional sepakbola Korea U-23, yang tak pernah absen setiap hari mengunjungi dan merawat sang istri yang tak pernah terbangun lagi sejak kecelakaan itu menimpanya. Selain masih muda, suami itu juga tampan, yang makin membuat cerita tentang kesetiaan cintanya pada pasien kami makin santer setiap harinya. Pria itu bernama Yoon Doojoon.

Sebetulnya seperti yang sudah kubilang tadi, dirawatnya sang pasien dan kehadiran suaminya terus menerus di sisinya itu memang sudah sejak lama adanya. Pasien kami, Gil Sara, tercatat sebagai pasien sejak 11 bulan lebih yang lalu akibat kerusakan otak yang dialaminya karena terjatuh dari tangga rumahnya. Namun akibat aturan ICU yang ketat dimana tidak semua pihak bisa masuk dan mengakses kasus pasien, akhirnya berita ini pun baru mulai menyebar ke seluruh bagian-bagian RS ketika pria ini juga makin sering terlihat (bayangkan, selama setahun, setiap hari) berkunjung. Selidik punya selidik, dari perawat ke perawat, sekarang seluruh staf bahkan mungkin beberapa pasien pun sudah mengetahui dan mengagung-agungkan kekuatan cinta bak dongeng itu. Yah, apalagi wanita, dan tak terkecuali internku.

“Yora, kamu sudah dengar tentang cerita di bagian ICU belum? Tentang suami muda dan tampan yang setia merawat istrinya yang koma itu lho.” Bisik si Kim 2 di perjalanan saat kami kunjungan rutin ke beberapa pasien.

Aku hanya menggeleng-geleng dalam tatapan dan langkahku yang tetap lurus, tak mengerti kenapa para staf wanita heboh sekali dengan itu, sih.

Biarpun aku sebetulnya agak tertarik juga dengan jawaban gadis ini… Oke, lebih tepatnya akhir-akhir ini aku memang selalu tertarik dengan semua yang berhubungan dengan salah satu intern wanitaku ini, Park Yora. (Nah, itu salah satu contohnya. Ia intern pertama yang mendapat kehormatan agar nama kecilnya bisa punya sedikit tempat dalam ingatanku. Ah, bertele-tele. Intinya hanya dialah intern yang nama kecilnya bisa kuingat begitu saja. Tapi tentu aku tetap tidak akan memanggilnya dengan nama itu. Belum.)

Ya, tak bisa kupungkiri lagi kalau memang aku menjadi lebih tertarik padanya sejak kasus baby-blue yang lalu. Sejak aku mulai menatapnya dengan pandangan yang berbeda. Sejak eomma-ku amat sangat menyetujui jika aku benar-benar punya hubungan dengannya pasca MMS lalu…

Ah, cukup, Shin Donghee. Fokus.

Park menggeleng, “Belum. Ada yang seperti itukah?” Ia malah balik bertanya, juga dengan bisikan.

Dan sekarang giliran dua pria yang memang lebih bigos dari teman-temannya itu yang menyambung, “Jinjja? Masa kamu belum tahu? Itu kan lagi happening banget di antara para staf lho!”

“Iyakah?” Tanya gadis itu lagi.

“YA! Cukup! Ayo cepat masuk ke kamar ini, pasien berikutnya!” Aku buru-buru menghentikan rumpian mereka begitu sampai di kamar pasien yang kami tuju. Sekejap mereka langsung kembali berjejer dan masuk dengan rapi.

“Han Taesun, 10, menjalani operasi usus buntu kemarin malam pukul 7. Operasi dinyatakan berhasil, tabung berisi potongan apendiks sudah diserahkan kepada keluarga, bukan? Ne. Oleh karena itulah, jika dalam 3 hari ini bekas luka maupun kondisi pasien dinyatakan baik, pasien sudah boleh pulang.” Park menjelaskan kondisi umum pasien kami pada keluarganya seraya tersenyum, sebelum menambahkan dengan tos pada si bocah pasien, “Ya kan, Sun-ah?” Tanyanya bersahabat.

Bocah itu menyambut high five-nya, “Ne, noona!”

“Anak pintar.” Internku itu mengelus-elus rambut pasien kami penuh sayang. Aku, refleks tersenyum melihatnya. Anak ini betul-betul sempurna… Cantik, pintar, berasal dari keluarga baik-baik, keibuan pula…

Ah tapi… Tunggu. Bukankah biasanya kalau ada intern yang main-main begini aku akan langsung memarahinya? Aaarghh, kembali ke dirimu yang dingin seperti biasa, dr. Shin!!

“…baiklah, kalau begitu kami mohon diri. Semoga cepat sembuh.” Tutupku pada kedua orangtua pasien cilik kami yang segera disambut bungkukan pasangan itu. Aku mengangguk sekedarnya sebelum berjalan keluar diikuti keempat internku.

Kami baru saja keluar dari kamar pasien itu untuk lanjut kunjungan ke pasien lain ketika tiba-tiba kami berpapasan dengan rombongan tim internship lain. Aku segera tersenyum pada pria tinggi kurus yang memimpin rombongan itu. Rekan sesama resident-ku, dr. Son Hoyoung bersama 4 internnya, 3 wanita dan 1 pria.

“Pagi, Dok.” Sapaku seraya menjabat tangannya. Ia ikut tersenyum. Para internku cepat-cepat membungkuk juga padanya, begitu juga 4 intern dr. Son yang segera membungkuk padaku. Biarpun sempat kulihat juga seorang intern wanita dr. Son melambai-lambai riang ke arah internku. Oh ya, aku baru ingat ia adalah sahabat Park Yora yang waktu itu ada di ruang istirahat ketika aku menghukum anak-anak ini sekitar sebulan yang lalu.

dr. Son melepas jabat tangan kami sambil tetap tersenyum, “Senang bertemu Anda disini, dr. Shin. Sedang patroli?”

“Ya.” Anggukku. “Anda juga?”

Beliau menggeleng, “Sebetulnya tidak. Kami sedang dalam perjalanan menangani pasien di ICU. Nah, betul juga. Sebetulnya sejak tadi saya juga sedang mencari Anda.” Katanya.

Aku mengernyit bingung, “Hm? Ada apa ya, Dok?”

“Jadi begini, tim kami ditugaskan menangani dua pasien di ICU, tapi saya sendiri jujur takut kewalahan menangani mereka dan akhirnya malah jadi tidak maksimal, karena itu saya berniat mengajak tim Anda untuk bergabung… Bagaimana? Ini bisa jadi kesempatan yang baik juga untuk anak-anak belajar menangani pasien ICU, Dok.”

Aku berpikir sebentar begitu mendengar penawarannya. Bagus juga sih, kebetulan kami memang sedang tidak sibuk akhir-akhir ini, dan betul kata dr. Son, bocah-bocah ini juga jadi bisa belajar tentang penanganan pasien ICU yang tentu beda dengan penanganan pasien rawat inap biasa. Maka tak lama, aku pun sudah mengangguk lagi, “Baiklah, Dok. Tapi omong-omong, kasus apa yang akan kita tangani?”

dr. Son tertawa kecil, “Intern Anda pasti menyukainya, Dok. Salah satu kasus kita adalah pasien koma dengan suami setianya yang sekarang sedang jadi berita hangat disini. Ya, pasien Gil Sara itu.”

Dan seketika, bisa kudengar pekikan riang bocah-bocah di belakangku itu begitu mendengar siapa yang akan mereka tangani. Ya ampun, alih-alih menangani 2 intern pria dan 2 intern wanita, entah kenapa aku lebih merasa seperti empat internku kesemuanya wanita…

 

***

 

“Nah, tak kenal maka tak sayang ya, Dok. Jadi sebelumnya saya akan memperkenalkan empat intern saya terlebih dulu. Dari kiri bernama Kan Mina, Yoo Heejin, Jung Yunho, dan Han Shinae.” dr. Son menunjuk masing-masing internnya yang segera membungkuk kepadaku di hari kami memulai ‘joint forces‘ ini. Aku hanya mengangguk pada mereka. “Yah, seperti yang bisa dilihat, saya dan Yunho jadi selalu adu ketampanan disini karena banyaknya wanita hahaha.” Candanya yang segera disambut tawa kecil para intern. Sementara aku, artifisial alias ‘palsu’ saja, sih. Saraf humor-ku sepertinya memang tidak bekerja dengan baik sejak aku lahir.

Pasca perkenalan itu, dengan cepat intern-intern kami pun berbaur, dan dengan segera sudah tercipta soulmate-soulmate baru saja seperti Park dengan sahabatnya yang seingatku bermarga Han itu, Kim 1 dengan si satu-satunya intern pria dr. Son, biarpun Kim 2 dan Zhou, juga 2 intern wanita dr. Son yang lain tetap setia satu sama lain.

“Baiklah, mari kita mulai saja, Dok.” Ajakku. Tapi dr. Son segera menatapku bingung.

“Eh, Anda belum mengenalkan intern Anda, Dok.” Ingatnya.

Aku segera menoleh lagi dan menatap jejeran internku, sebelum kembali beralih pada dr. Son, “Dari kiri Zhou, Kim 1, Kim 2, dan Park. Kalau bingung lihat nametag mereka saja, Dok. Mari.”

dr. Son membelalak bingung, “Kim 1? Kim 2? Lho, Dok, dr. Shin…!”

 

 

“Doojoon-ah.” Aku menyapa ramah seorang pria muda yang sedang duduk dengan terus menggenggam tangan dan mengelus rambut istrinya itu.

Ia segera menoleh, mengernyit sebentar saat melihatku, sebelum akhirnya… “Dokter… Shin? Betulkah Anda? Wah, oraenman-ineyo! (Wah, lama tak berjumpa!)”

Aku mengangguk-angguk seraya menepuk-nepuk punggungnya. Ya, Gil Sara, istri dari pemuda ini sebetulnya adalah mantan pasienku sebelum aku ditugaskan menangani intern di awal tahun baru ini. Selama sekitar 5 bulan aku menanganinya, dan selama itu aku tahu sama sekali kalau dia sesungguhnya memang tak akan pernah bisa terbangun lagi. Tentu, sebagai dokter yang kata orang ‘kejam’ ini, akupun dengan segera dan terus terang mengatakannya saja pada pria ini, Yoon Doojoon, bahkan sejak bulan pertama aku mengawasi keadaan pasien. Tapi tebak apa yang dia katakan saat itu? Ia bilang ia percaya pada istrinya… Ia yakin kalau ia terus ada disini, menunggunya, secepatnya ia pasti kembali.

Awalnya aku sedikit skeptis dengan kesungguhannya itu. Ia bahkan memintaku untuk ikut percaya juga di atas semua perhitungan-perhitungan ilmiah yang sudah kulakukan, padahal bisa saja ia nanti juga akan lelah dan akhirnya menyerah kan? Yang ternyata memang tidak dilakukannya. Padahal mereka bahkan baru setahun menikah dan sudah di hadapkan pada cobaan besar seperti ini! Dan begitu melihat kesungguhannya itu, barulah aku mengerti. Itulah kali pertama aku merasakan ‘kekuatan cinta’ yang sesungguhnya. Aku dibesarkan oleh orangtua yang bercerai, maka aku tak pernah tahu sama sekali bagaimana ‘cinta’ itu. Itulah sebabnya aku bahkan sampai bertahan merawat wanita beruntung ini selama setengah tahun lamanya.

“Jadi, bagaimana kabarmu?” Tanyaku sambil mengajaknya jalan-jalan sebentar, setelah meminta tolong perawat membantu menjaga pasien kami sekaligus mengajari anak-anak tentang merawat pasien ICU.

Ia tersenyum seraya menyeruput kopi yang kubelikan, “Baik, Dok. Dokter?”

“Bisa kau lihat sendiri, makin sehat dengan mengurusi anak-anak muda penuh energi itu. Karena setiap hari harus mengomeli mereka hahaha.” Kataku, mencoba bercanda. Hanya di depannya. Karena sejak ia membuka mataku tentang arti ‘kesungguhan cinta’ itu, di dalam sini aku seperti sudah menganggapnya adikku sendiri. Adik laki-laki yang tak pernah aku miliki. Adik yang aku sangat ingin ia selalu ceria.

Ia tertawa, “Sepertinya Dokter sangat menyayangi mereka.” Katanya.

Aku cepat-cepat menggeleng, bergidik sekali mendengar kata itu. ‘Sayang’? Hiiyy, jangan sampai aku menyayangi ‘anak-anak monster’ itu! Yah, kalau si Park itu pengecualian. “Tidak, tidak. Tidak akan pernah terjadi yang namanya itu.”

Ia makin tertawa lepas. Aku tersenyum menatapnya. Kapan terakhir kali ia tertawa? “Kau kurusan.” Kataku akhirnya. Dan lingkaran matanya itu… Rambutnya yang mulai memanjang tak terurus. Pasti berat sekali menjalani hidup barunya yang alih-alih diurus oleh istri, malah berbalik harus mengurusinya…

“Iyakah?” Tanyanya sambil melihat dan memutar-mutar lengannya sendiri.

“Masih terus percaya?”

Ia seketika berhenti dan menatapku, kaget akan pertanyaan tiba-tiba itu. Sebelum akhirnya kembali tersenyum pahit, mengerti maksudku. “Ya, masih, Dok.”

“Kau boleh menyerah, kok–”

“Tidak. Tidak, Dok.” Ia segera memotong perkataanku. “Tidak lagi, Dok…”

Dan dari situ, aku kembali mendengar seluruh rangkuman perjalanannya selama aku terpaksa harus meninggalkan sang istri, pasienku, demi pengurusan intern-intern ini. Satu per satu kisah yang kebanyakan pastinya pahit itu ia utarakan dengan banyak tersenyum masygul, mencoba menguatkan diri sendiri lagi. ‘Lagi’, seperti katanya tadi, karena memang jujur, pasti ada saat-saat dimana dia merasa lelah dan tak kuat lagi menahan segala cobaan yang ada: ya tekanan fisik, mental, pikiran, finansial, sampai lingkungan. Fisiknya capek harus selalu bolak-balik RS berbulan-bulan, mengurusi sang istri sambil tetap pula harus bekerja demi membayar tagihan hidup dan RS. Mental dan pikirannya tertekan, yah, siapa juga yang tidak akan tertekan dengan kondisi seperti ini? Tak ada yang tahu apa orang yang kamu kasihi sebetulnya akan kembali hidup, bangun, dan sehat lagi atau tidak. Finansial, semua orang tahu biaya RS, apalagi ICU saat ini sangat mahal. Doojoon memang berasal dari keluarga berada, tapi menyambung pada tekanan lingkungan yang ia terima, kedua orangtuanya yang sudah lebih dulu menyerah dengan menantu mereka malah menyuruhnya meninggalkan saja sang istri. Dan begitu Doojoon menolak, segala bantuan ekonomi pun putus dari keluarganya. Di saat seperti itu juga tiba-tiba ia mendapat surat dari Persatuan Sepakbola Nasional Korea tempatnya bernaung, yang menyatakan kalau ia diminta mundur dengan hormat dari skuad U-23 karena seringnya absen latihan. Seorang Yoon Doojoon kini jobless, dan sesaat ia seperti merasa dunia begitu tidak adil baginya. Suatu hari bahkan ia nyaris mencabut begitu saja alat bantu hidup sang istri saking frustasinya, ketika tiba-tiba wajah damai Sara kembali menyapa penglihatannya. Wajah cantik sang istri yang tertidur panjang, yang membuatnya kembali ambruk merutuki kebodohan yang sempat merasuki dirinya sendiri itu…

“Dan seketika aku merasa gagal sekali… Tubuhku ambruk dalam tangisan meraung-raung. Kedua tanganku yang masih memegang selang kehidupannya gemetar hebat sebelum akhirnya terkulai lemas ke lantai, menyadari apa yang nyaris aku lakukan padanya, pada istriku yang begitu kucintai sendiri. Aku merasa sebagai suami yang gagal… Sebagai yatim piatu, Sara kini bahkan hanya tinggal punya aku. Tapi di saat itu malah aku, orang satu-satunya yang dimilikinya, malah akan ikut menyerah dan membuangnya… Bagaimana mungkin aku bisa tega…” Mata Doojoon menerawang, ia seperti lebih berkata pada dirinya sendiri dan sekilas terlihat setitik air bening yang sudah terbetik di sudut matanya, biarpun ia cepat-cepat menghapusnya. Pria itu mencoba tersenyum kembali padaku. “Di saat itu saya sudah bertekad untuk tidak akan menyerah lagi, Dok. Saya akan berusaha sekuat mungkin sampai titik darah penghabisan…”

Aku tersenyum kagum menatapnya, biarpun itu semua hanya bisa kusalurkan lewat tepukanku yang kaku di punggungnya. Ia ikut tersenyum, berterimakasih.

“Lalu apa yang kau kerjakan sekarang?” Tanyaku sekasual mungkin.

Ia menatap lurus lorong RS yang sedang kami susuri bersama sebelum kembali tersenyum, “Mengajar. Untunglah ada tetangga menawarkan menjadi pelatih kesebelasan putranya yang masih SD. Biarpun tak menghasilkan banyak, tapi setidaknya lumayan daripada tak ada sama sekali. Waktunya pun fleksibel, dan bonusnya lagi, itu adalah bidang yang saya sukai dan kuasai.” Tutupnya dengan senyum lagi.

Senyum dan syukur. Itulah yang amat aku salutkan pada dirinya, yang seperti selalu melihat sisi positif dari setiap hal yang menimpanya.

“Tapi saya senang Dokter kembali kesini.” Ia berbicara lagi. Aku cepat-cepat menoleh bingung. Ia tertawa kecil, “Karena hanya Dokter… hanya Dokter yang tak pernah mengasihani saya. Semua orang disini selalu menatap saya dengan pandangan simpati, kasihan karena keadaan Sara, tapi Dokter sama sekali tidak. Dokter hanya bersikap biasa dalam menangani Sara layaknya pasien lain, tak ada wajah sok lebih simpati atau yang lain. Tapi justru sikap biasa Dokter itu yang memberi saya kekuatan, keyakinan kalau Sara memang seperti hanya pasien penyakit biasa lainnya yang secepatnya juga pasti akan sembuh. Maka itu terimakasih Dok, karena waktu berpisah dulu saya belum sempat mengatakannya.” Doojoon membungkuk hormat padaku.

Aku cepat-cepat mengibas-ngibaskan tanganku sebagai tanda tak perlu baginya sampai seperti itu. Biarpun secepatnya pula di otakku langsung tercipta perang batin: yang dikatakannya itu sebetulnya memuji atau menghinaku sebagai dokter tak berperasaan, ya?

 

 

Doojoon-ah? Jadi sebetulnya Dokter kenal dengan ‘suami legenda’ itu?” Begitu kami selesai dengan kegiatan ICU perdana kami hari ini dan berpamitan dengan keluarga kedua pasien termasuk Doojoon, aku yang kini terpaksa ‘mengasuh’ dua intern dr. Son, Jung dan Han, yang ternyata sudah begitu ‘lengketnya’ dengan Kim 1 dan Park (mereka bahkan sudah punya panggilan sendiri, YunJae atau apalah itu untuk duo Kim 1 dan Jung) segera mendapat intimidasi tentang panggilanku saat pertama bertemu Doojoon tadi. Kim 2 yang mewakili keingintahuan teman-temannya dan bertanya itu kini bahkan sudah memicingkan matanya menatapku. Mereka memang tidak tahu sama sekali tentang aku yang pernah menangani kasus itu, karena tiap kali membicarakan tentang kisah bak dongeng di ICU itu, aku tak pernah sekalipun ikut merespon, apalagi memberi pengumuman kalau aku mantan dokter bagi pasien bersangkutan.

Aku segera berhenti begitu sadar sekarang keenam muda-mudi itu sudah separuh menghalangi jalanku, mereka membentuk setengah lingkaran dengan mata semua tertuju pada sang resident, aku, meminta jawaban.

“Ya. Seperti yang mungkin kalian sudah dengar dari perawat selama aku pergi dengan suami pasien, dulu aku adalah dokter yang menangani pasien Gil.” Jawabku akhirnya, seraya melebarkan tanganku dan menyingkirkan badan-badan mereka semua untuk membuka jalan.

Mereka segera sibuk mengejarku lagi, “Tapi kenapa Dokter tak pernah bilang? Tahu begitu kan kami bisa dapat cerita dari sumber yang lebih terpercaya…” Cecar Kim 2 lagi. Yang lainnya hanya berangguk-angguk mengiyakan.

Aku memutar bola mataku dengan cara paling sinis yang bisa kulakukan, “Dan membiarkan diriku menjadi sumber gosip kalian? You wish.” Kataku sambil mempercepat langkahku lagi. Aku bahkan tak peduli dengan keberadaan dua bocah yang notabene bukan anak didikku disana. Mereka tetap mengikuti.

“Tapi, Dok… Dokter juga pasti tahu kan kalau kemungkinan pasien Gil sadar kembali hanya sedikit… Sangat kecil–kalau tidak mau dibilang tak ada, tumben sekali Dokter bersedia menangani seorang pasien sampai berbulan-bulan seperti itu disaat memang tak ada lagi harapan…”

Langkahku seketika berhenti lagi. Mereka yang tak mengantisipasi itu, secepat mungkin bertabrakan satu sama lain, dengan Kim 1 (nama asli: Kim Jaejoong) yang paling depan sibuk mengerem seraya menahan sang soulmate baru, Jung, di sebelahnya agar tak sampai juga menubrukku yang ada di depan mereka sedikit pun. Bisa terjadi penurunan nilai massal jika itu sampai kejadian.

Aku menatap si penanyaku, Park yang memang terlihat sedang membolak-balik map data dan juga hasil scan otak pasien kami, dengan wajah sedikit lebih ramah dibanding menghadapi teman-temannya tadi. Akhirnya ada juga yang berpikir jernih sedikit, syukurku dalam hati, biarpun sebetulnya ada juga sih bagian yang merasa tertohok dengan kalimat terakhirnya. Ternyata sudah sedalam itu mereka mencapku sebagai dokter tak punya hati. “Ada alasannya.” Bukaku seraya kembali melanjutkan langkah lambat-lambat, berniat menjelaskannya sambil berjalan saja berhubung hari sudah sore. Aku ingin cepat-cepat pulang sebelum ada yang sempat menarikku lagi untuk membantu operasi atau apalah itu seperti biasanya.

“Sejak awal begitu memeriksanya, seperti yang mungkin juga sudah kalian kira dariku, aku tentu sudah memberitahu keluarga pasien kalau memang bisa dibilang tak ada harapan lagi bagi kesembuhan Gil Sara…” Mulailah aku dengan penjelasanku atas kenapa aku sampai bisa menangani seorang pasien dengan harapan hidup dibawah 10% itu sampai berbulan-bulan lamanya. Nyaris semua keceritakan, yang kesemuanya bermuara pada kekagumanku atas kesungguhan seorang pria muda bernama Yoon Doojoon yang akhirnya mampu mengalahkan seluruh vonis cedera batang otak yang sudah kubebankan pada pasien itu. Kesungguhan seorang pria yang bahkan berani memintaku untuk sama-sama percaya pada pasienku sendiri di saat dimana-mana seharusnya pasien dan keluarganyalah yang harus percaya padaku sebagai dokter! Tapi lebih gilanya lagi, aku akhirnya mengiyakan ajakannya, lagi-lagi karena rasa kagumku atas kesetiaan, kesungguhan bukan main yang ditunjukkan pria itu. Dan akhirnya, selama 5 bulan masaku dengan pasien Gil Sara, mengesampingkan semua egoku sebagai dokter tanpa basa-basi, aku akhirnya membiarkan diriku terus merawatnya, memberinya obat yang semata-mata bahkan hanya demi mempertahankan detak jantungnya agar tetap ada! Biarpun aku sendiri tak bisa dipaksa untuk percaya kalau nantinya pasien kami akan bisa kembali, tapi setidaknya dengan ini aku telah mendukung satu orang yang begitu percaya akan hal itu…

Dan begitu aku selesai dengan penjelasanku, tepat ketika kami sampai di depan ruang loker staf, betapa kagetnya ketika kulihat hidung dan mata keempat internku sudah sukses memerah seraya sesenggukan menatapku. Mata mereka berkaca-kaca dengan bibir digigit haru, sementara dua anak lain sudah masuk lebih dulu ke dalam ruang loker.

“Y-Ya! Mwolbwa?? (Heh, apa yang kalian lihat??)” Tanyaku, perasaanku mulai tak enak ini.

“Syukurlah, Dok… Syukurlah Dokter ternyata masih punya hati…” Koor mereka seraya mengangguk-angguk terharu pada satu sama lain.

“YAA!!”

 

***

 

Author’s POV

Keesokan harinya,

“Gil Sara-ssi, annyeong.” Sapa Yora pada pasien terbarunya itu seraya mengelap lengan si pasien dengan handuk basah. Kebiasaannya memang mengajak bicara semua makhluk hidup, mulai dari sesama yang bisa bicara seperti keluarga dan temannya, pasien yang sedang koma seperti ini, kura-kura Yesung sahabatnya, bahkan sampai pot-pot tanaman mini koleksinya di rumah. (<– setres) “Sara-ssi, apa Anda tahu? Saat ini Anda sedang terkenal sekali lho di RS ini, semua orang membicarakan Anda. Mereka semua iri pada Anda yang cantik dan dikaruniai seorang suami yang gagah dan sangat baik. Anda sangat beruntung, lho.”

Yora tersenyum sejenak sebelum mengganti handuk yang sudah selesai ia pergunakan dengan sebuah cotton bud yang ia celupkan ke dalam air minum. Ia menepuk-nepukkan cotton bud basah itu ke bibir si pasien, untuk mencegah bibir kering dan sebagai asupan air minum pula. Matanya kembali berkaca-kaca, persis seperti kemarin saat pertama melihat kondisi pasien ini, betapa ia kasihan padanya. “Maka dari itu… cepatlah sembuh. Tidakkah Anda rindu dengan suami Anda? Tidakkah Anda khawatir ia akan direbut wanita lain? Terus terang saya sendiri bahkan tidak akan rela kalau pria sebaik suami Anda diambil wanita lain, oleh karena itu–”

“Tenang saja, saya juga tidak ada niat selingkuh, kok. Hahaha.” Tiba-tiba sebuah suara pria muda sudah menimpali perkataan Yora saja. Gadis itu dengan kaget segera berbalik, dan melihat Yoon Doojoon, suami pasien Gil sudah muncul dengan baju sterilnya. Ia tertawa kecil. Yora lantas menganga hebat. Sumpah ia malu sekali!

“Ah, itu… Joisonghamnida.” Dengan pipi memerah Yora cepat-cepat bangkit dari kursinya dan membungkuk berkali-kali. Doojoon masih tersenyum seraya menggelengkan kepalanya.

“Gwaenchanseumnida. Annyeonghaseyo, Dokter… Park?” Ia melihat sekilas nametag di jas putih Yora. Gadis itu mengangguk. Ia buru-buru menyingkir dari kursi di samping tempat tidur pasien itu dan menawarkannya pada Doojoon. Pria itu mengangguk seraya berjalan lebih mendekat lagi ke ranjang pasien.

Ia menatap Yora sebelum duduk, “Ah, ini hari Rabu, kan? Boleh dijelaskan padaku pengamatan mingguan pasien?”

“Eh, Anda hapal, ya?” Tanya Yora bingung. Hari ini ia disini memang untuk jadwal pemberitahuan hasil pengamatan mingguan pasien pada keluarga. Sebetulnya teman-temannya juga harusnya ada, tapi Yora sengaja datang lebih dulu agar bisa membantu mengurus pasien ini sebelumnya.

Doojoon menopang dagunya seperti menerawang, “Dua minggu sekali, hari Senin, selang-seling dibawa keluar untuk scan otak ataupun thoraks (dada). Tiap Rabu pembacaan hasil pengamatan mingguan, kunjungan dokter untuk memeriksa kondisi fisik dan performa tubuh lewat alat-alat. Sabtu sore kunjungan dokter lagi.” Ia berkata dengan lancar, sebelum kembali menatap Yora dengan senyumnya yang bikin melting itu (Yora baru tahu sekarang kenapa dengan cepat kisah suami setia yang tampan ini cepat sekali meroket di kalangan staf, terutama para wanita). Dokter wanita kita sampai nyaris bertepuk tangan–biarpun ia seketika sadar untuk terus behave–karena hapalan pria ini! “Nyaris setahun saya mengamati itu semua, dan Sara pun juga. Ya kan, jagi?” Ia mengelus-elus lembut tangan sang istri.

Yora tak kuasa menahan senyum harunya melihat pemandangan itu.

“Saya senang sekali saat mendengar perkataan Dokter pada istri saya tadi. Tenang saja, saya yakin Sara pasti akan segera bangun kembali. Namanya saja berasal dari kata ‘hidup’, kan? (Sal=hidup) Maka Sara akan hidup, ia akan terus hidup. Sara-ya, sarajwo, ne? (Sara, hiduplah, ya?)” Kata pria itu lagi sebelum kembali pada Yora. “Nah, silakan hasil pengamatannya, Dok.”

“Ah, ne.” Yora segera sadar dari rasa irinya pada sang pasien yang sedang tertidur itu. Tuhan, kenapa wanita seberuntung ini tidak dibiarkan hidup sehat? pikirnya dalam hati, menyampaikan protesnya pada Sang Pencipta. “Untuk itu, ditunggu sebentar lagi ya, Pak. Hasilnya akan segera dibawa teman-teman saya, sekalian dengan dr. Shin–”

“…lagian Dokter juga ngapain sih tadi, bukannya masuk malah ngintip dari jendela saja.”

SAT! Pintu otomatis di belakang Yora dan Doojoon pun menggeser terbuka seiring dengan terdengarnya perkataan tadi. Dokter muda dan suami pasien itu dengan cepat menoleh, terutama Yora karena suara itu amat dikenalnya.

Dan benar saja, sedetik kemudian 4 wajah-wajah familiar itu sudah melangkah masuk dan pintu otomatis itupun menutup kembali dengan sendirinya. (ya iyalah namanya juga otomatis, author setres -_- #abaikan)

 

___

 

“…lagian Dokter juga ngapain sih tadi, bukannya masuk malah ngintip dari jendela saja.” Heran si Zhou setelah ia dan teman-temannya sukses memergokiku yang memang sebetulnya sudah daritadi datang namun tidak juga masuk dan malah sibuk menontoni intern brilianku, Park, mengurusi pasien dan barusan berbincang dengan suaminya. Makin hari sepertinya aku memang makin tidak bisa memungkiri lagi ketertarikanku pada intern satu ini. Tapi layaknya orang yang baru pertama kali mengalami masalah suka-menyuka begini (dulu-dulu kapasitas otakku mana ada tempat kosong untuk wanita? Semua berisi nama-nama saraf, anatomi tubuh manusia, dan sejenisnya) maka tindakanku pun sangat bisa dibilang cupu sekali! Yah, contohnya seperti ini, selalu hanya bisa memerhatikannya dari jauh. Mengintip, lebih tepatnya. Disaat sebetulnya kesempatanku bersama atau bahkan berdua saja dengannya banyak sekali.

TIT! Ia menunjukkan ID RS-nya di kamera dan seketika pintu ICU itu pun membuka.

Aku jamin wajahku pasti langsung memerah seketika. Mencoba menutupi malu, aku pun meraih kerah jasnya di bagian belakang dan seperti mengangkat anak kucing, cepat-cepat kusuruh dia berhenti bicara dan berjalan di depan, “Sikkeureo! Sana, pimpin jalan. Dan kalian juga.” Aku cepat beralih pada 2 internku yang lain yang tadi sudah siap cekikikan melihat penderitaan teman mereka. Seketika mulut mereka membungkam.

Akupun bisa menatap intern kesayanganku dan suami pasien itu dengan wibawa lagi.

“Pagi, Dok.” Doojoon menyapaku lebih dulu. Aku mengangguk seraya menyambut uluran tangannya. Sejak hari pertama dr. Son mengajak timku bergabung, secara tak tertulis memang sudah dibagi tugas untuk kami yakni pasien Gil untuk kutangani mengingat ia juga tahu aku dulu memang dokternya, dan dr. Son beserta para internnya menangani pasien kami yang satu lagi. Maka itu, setelah lewat hari pertama itu tim kami pun juga mulai bekerja masing-masing biarpun hal itu tetap tak merenggangkan keakraban di antara para intern kami.

“Pagi. Jika mengacu pada kau yang dulu sewaktu aku masih disini, maka hari ini hari kesukaanmu.”

Ia tertawa, “Haha, masih kok, Dok. Ya, saya selalu ingin tahu perkembangan Sara.” Katanya tersipu.

Aku tersenyum, “Ja, geureom. Mari kita lihat saja, kebetulan hasil thoraks dua minggu lalu juga keluar hari ini. Kita harap saja yang terbaik untuk Sara, ya.”

Ia mengangguk pasti.

Dengan segera, internku pun membuka map yang mereka bawa. Dua orang cepat meletakkan hasil X-Ray dada pasien di penampangnya, sebidang persegi berisi lampu yang tertempel di dinding, dan segera menekan saklar untuk menyalakan lampu. Hasil X-Ray itu pun jadi begitu jelas bagi kami, bahkan Doojoon yang tentu sudah terbiasa melihatnya.

Tapi raut wajahku seketika berubah begitu melihat hasil itu. Terlihat bayangan putih menutupi tampilan foto paru-paru sebelah kanan (di X-Ray sebelah kiri) pasienku, dan seketika aku langsung tahu ini bukan hal yang baik. “Oh, tidak.” Gumamku pelan, yang mungkin tak didengar Doojoon karena ia masih begitu bersemangat memperhatikan hasil itu. Namun tetap saja, Park yang ada di sebelahku segera mendengarnya dan cepat tersadar dengan hal itu.

Pada akhirnya aku tetap mencoba menahan ekspresiku dan berkata lugas, “Baik, Kim 1, coba jelaskan apa yang bisa kau lihat.”

Cowok cantik itu mengangguk, “Ne. Jadi disini adalah hasil X-Ray thoraks pasien Gil Sara, dapat dilihat kondisi kedua paru, paru kiri terpantau baik dan normal, namun paru kanan… Bayangan putih ini… Dok…” Ia menatapku dengan pandangan bingung.

Aku melihat Park sudah nyaris mengangkat tangannya untuk menjawab (persis seperti Hermione di Harry Potter yang hobi sekali menjawab tanpa diminta), ketika tiba-tiba gadis lainnya, Kim 2, sudah membuka suaranya lebih dulu, “Pneumonia2… Stage awal… Bayangan putih itu cairan yang mulai tertumpuk di paru-parunya kan, Dok?” Ucapnya sedikit ragu sambil terus menatap hasil itu.

Park segera menurunkan tangannya dengan wajah kecewa, tapi segera mengubahnya lagi dengan anggukan bangga pada rekannya itu. Anak ini lucu sekali–aah, fokus, Donghee!

Aku mengangguk, sambil segera beralih pada Doojoon setelah menunduk sejenak, mengambil keputusan paling ekstrem dalam karir kedokteranku, “Ya, Doojoon, seperti yang kau dengar tadi… Keadaan mulai bertambah buruk. Seperti yang sangat mungkin terjadi pada pasien koma, istrimu juga telah mengalami komplikasi pneumonia. Entahlah, Doo-ya, tapi satu-satunya hal yang bisa kusarankan padamu setelah melihat ini semua adalah… relakanlah dia. Jangan tunggu lagi.”

 

***

 

“Euthanasia?? Dok, itu pelanggaran kode etik kita, baik RS dan kita sebagai dokter!!” Seperti yang bisa kutebak, dengan cepat berita aku menyarankan ‘pembunuhan secara damai’ pada seorang pasien segera menyebar dari mulut ke mulut (sepertinya dari perawat, karena setelah kejadian aku sempat nyaris menggagalkan intern mereka, keempat internku sudah sangat kapok membicarakan aku di belakang lagi) yang berujung pada pemangilanku untuk sidang dengan semua petinggi-petinggi dokter di RS ini.

Aku hanya menggeleng pelan, dengan tetap tak ragu memandang mereka semua. Aku tak pernah sembarangan mengambil keputusan.

“Dok, terus terang saya mengajak tim Anda bergabung sehingga Anda bisa menangani pasien Gil kembali bukan untuk hal seperti ini! Sebagai dokter kita harus bisa memberi harapan pada pasien…” Kini dr. Son, rekan resident-ku ikut angkat bicara dengan baik-baik. Aku masih dengan ketenanganku.

“”Dan Anda menyebut diri Anda ‘dokter’, dr. Shin? Jangan buat saya tertawa!” Sindir seorang dokter wanita. Aku masih mencoba bertahan, biarpun rasanya difat temperamenku sudah siap meledak karenanya.

“Yang Anda lakukan itu amat sangat memalukan RS–”

“Saya tahu apa yang saya lakukan, dr. Kan!” Aku segera menginterupsi resident berambut ikal yang barusan berbicara itu, tidak tahan lagi dengan semua ‘ke-soktahu-an’ rekan-rekan sesama dokter-ku ini. “Saya adalah dokter tunggal yang menangani pasien Gil selama nyaris setengah tahun dulu, saya mengenal suami pasien Gil secara personal, saya tahu bagaimana prospek kesehatan pasien dan juga prospek kesehatan ekonomi suaminya! Kita semua tahu pasien Gil tidak akan pernah terbangun lagi karena gumpalan darah di batang otaknya, dan kini ditambah pneumonia… Secepat mungkin efusi pleura3 akan terjadi dan tidak, pasangan itu tidak akan bisa menanggungnya!!”

Aku berhenti sebentar untuk mengatur emosiku yang sempat meluap tadi, sebelum kembali mulai berbicara, “Memang, saya tahu sekali bahwa tugas kita sebagai seorang dokter adalah memberi harapan bagi pasien, tapi kita sendiri juga tahu harapan itu tidak murah, apalagi cuma-cuma… Untuk apa kita terus memberatkan keluarga pasien padahal kita tahu itu semua akan sia-sia? Apalagi dengan komplikasi ini, penanganannya pasti akan menambah lagi segala macam biaya yang harus ditanggung suami pasien itu, seorang diri. Ya, dari yang saya ketahui selama dulu menanganinya, pasien Gil adalah seorang yatim piatu. Dan kini suaminya itu pun sudah kehilangan pekerjaannya akibat terlalu sibuk mengurusi sang istri di RS sejak ia koma. Jujur, saya tidak tega jika harus terus berpura-pura bahwa kita pasti bisa menyembuhkan pasien Gil disaat kenyataannya itu tidak akan terjadi. Biarpun kejam, tapi kita juga harus membuka mata suami pasien kalau memang inilah yang terbaik, bukan hanya bagi dirinya, tapi bagi si pasien juga… Saya yakin jika pasien Gil bisa mengatakan pendapatnya, ia pun pasti juga tidak ingin memberatkan suaminya lagi. Jadi… saya mohon.” Aku segera bangkit dari dudukku dan membungkuk dalam di hadapan belasan pasang mata pria dan wanita berjas putih di ruang rapat ini.

Terdengar kasak-kusuk yang mulai bising, terutama pastinya pada kelompok dokter yang mengambil alih pasien Gil setelah mundurnya aku dulu sampai kurang dari sebulan lalu ketika aku kembali menyanggupi kasus ini. Mereka terlihat sedikit tertohok oleh perkataanku yang memang sedikit-sedikit menyindir kurang aware-nya mereka atas berbagai aspek yang meliputi pasien termasuk kondisi keluarganya. Tak sedikit di antara sekitar 5 orang itu yang melirikku sinis sebelum menggeleng tegas pada teman-temannya, menolak permintaanku. Aku cuek saja dengan perlakuan itu.

“Tapi belum pernah ada sebelumnya seorang dokter yang menyarankan hal itu pada pasiennya di Korea ini, Dok. Mau tak mau kita harus mengikuti prosedur yang ada: harus keluarga pasien sendiri yang mengajukan euthanasia itu ke pengadilan.” Tiba-tiba suara berwibawa dr. Hwan, kepala RS kami segera menghentikan dengungan bak lebah yang daritadi masih melingkupi ruang rapat ini dari para dokter-dokter yang lain.

Mendengarnya, segenap peserta rapat segera menoleh dengan pandang tak percaya pada pimpinan kami itu. Itu berarti ia menyetujui permintaanku dengan syarat harus Doojoon sendiri yang mengajukannya ke pengadilan? Wajahku segera kuangkat dari posisi tertunduk barusan. Aku menatapnya yang dibalas anggukan kecil biarpun tetap dengan raut kecewa. Raut kecewa yang kuketahui pasti karena ia juga sadar kalau ini semua memang hal terbaik yang harus dilakukan. Rasa kecewa yang sama dengan yang sudah kurasakan sejak setahun lalu pertama menangani pasien ini, kecewa karena aku tahu aku tak akan bisa menyembuhkannya, biarpun tak pernah tahu semuanya harus berakhir seperti ini…

Aku membalas anggukannya, “Ya, Dok. Saya juga mengetahui hal itu, dan sudah menyampaikannya pada suami pasien. Ia bilang akan memberikan keputusannya hari ini.”

 

Flashback

3 hari yang lalu,

“…Entahlah, Doo-ya, tapi satu-satunya hal yang bisa kusarankan padamu setelah melihat ini semua adalah… relakanlah dia. Jangan tunggu lagi.”

Doojoon segera mengernyitkan keningnya menatapku, “Apa… maksud Dokter?” Tanyanya ragu.

“Akhiri penderitaannya, Doojoon-ah. Biarkan ia pergi dengan tenang.”

“Dokter!” Gabungan suara empat internku yang segera mengerti maksud pernyataanku cepat-cepat menginterupsi. Mereka menggelengkan kepala padaku dengan wajah tak percaya bahwa aku bahkan sampai hati menyarankan hal seperti itu. Mungkin mereka pikir, setega-teganya aku, seberbisanya mulutku, aku pasti tetap tidak akan sampai hati menyarankan hal yang sangat melanggar hak-hak hidup seorang manusia itu.

Tapi mereka tidak tahu. Mereka tidak pernah tahu sudah betapa kerasnya usahaku selama ini bertahan dan terus pura-pura ikut percaya pada sesuatu tak ilmiah bernama ‘mukjizat’ yang selama ini dipaksakan Doojoon! Terus mencoba mendukung orang yang sudah kuanggap adikku sendiri itu, di saat egoku bahkan terus-terusan berkata aku tak bisa menahannya terus disini, membiarkan pria muda itu menanggung tagihan RS yang terus membengkak hanya demi sesuatu yang aku sudah tahu pasti bagaimana akhirnya! Tidak… cukup. Jika ada seseorang yang harus membuka matanya, walaupun itu berarti akan ada seorang ‘bad guy‘ disini, maka itu mestilah aku. Toh selama ini aku juga sudah cukup menjadi tokoh antagonis di RS ini.

Maka aku dengan cepat mengangkat telapak tanganku begitu saja sambil membelakangi mereka, instruksi agar mereka segera membungkam mulut masing-masing. Aku kini menatap Doojoon yang sepertinya mulai bisa menerka apa saran yang kumaksudkan itu. Tahu darimana? Dari wajahnya yang mulai pucat dengan persis, mulut menganga dan tatapan tak percaya menatapku seperti anak-anak tadi. Aku mengangguk pelan padanya, “Ya, euthanasia. Aku rasa aku tak perlu menjelaskan artinya padamu, karena pasti kamu juga pernah mendengarnya. Sugohaesseo, Doojoon-ah. Kamu sudah cukup berusaha. Maka itu, sudah saatnya juga kamu membiarkannya pergi dengan tenang seperti yang seharusnya, jangan tambah penderitaannya lagi.”

“Apa maksud Anda dengan aku menambah penderitaannya??!!” Dengan cepat kurasakan sebuah cengkraman keras menarik kerah jas dokterku. Doojoon dengan mata berkilat penuh amarah sudah menarikku begitu saja ke depan wajahnya, dengan sebelah kepalan tangan yang juga sudah terangkat, siap meninjuku kapan saja. Aku hanya membuang muka, seperti tak peduli apa dia benar-benar akan memukulku atau tidak. Dia hanya sedang emosi, dan siapapun yang berada di posisinya pasti akan melakukan hal yang sama. Aku harus mencoba bertoleransi.

“Pneumonia-nya.” Tiba-tiba suara seorang gadis segera membantuku menjawab pertanyaannya yang belum sempat kubalas tadi. Kami semua menoleh. Park Yora.

Yah, seharusnya aku sudah tahu. Siapa lagi?

“Mungkin yang dimaksud dr. Shin adalah pneumonia yang dialami istri Anda.” Lanjutnya seraya menatapku sebentar, ragu-ragu. Aku mengangguk pelan, membenarkan analisanya. “Pneumonia adalah radang pada alveolus, yaitu tempat pertukaran oksigen dan karbondioksida saat bernapas, yang menyebabkan penumpukan cairan yang tak semestinya di paru-paru. Jika seseorang terus terbaring, maka dahak yang tetap terproduksi dalam tubuh dan seharusnya dikeluarkan pun menjadi tidak bisa keluar, yang dalam kasus istri Anda menjadi penyebab pneumonia ini.”

Jeda sebentar akibat ia kini menatapku ragu lagi, seperti berat melanjutkan kata-katanya. Biarpun akhirnya ia tetap melakukan itu, “Penanganan pneumonia tingkat lanjut memang akan makin menambah penderitaan pasien Gil… yaitu pengeluaran cairan dengan memasukkan jarum berlubang maupun penggunaan selang melalui dinding dada. Tapi-tapi, bukan berarti saya mendukung saran dr. Shin, untuk prosedur euthanasia tetap saja–”

“Cukup.” Aku segera menghentikan perkataannya yang mulai tercampur emosi khas wanita itu. Kutatap Doojoon yang masih mencengkram kerah jasku, “Begitulah.” Kataku mengangkat bahu, pura-pura tersenyum sinis padanya.

Gemeletuk giginya terdengar keras sebelum akhirnya ia melepas cengkramannya dariku. Ia terlihat memejamkan matanya erat seraya menengadah sebentar, sebelum akhirnya tetap saja… “Tidak.” Seperti yang kukira ini tak akan mudah. “Tidak, Dok. Bagaimana mungkin Anda bahkan bisa menyarankan itu kepada saya?? Jeoldae andwae!! (Saya tidak akan melakukannya!!)” Ia berteriak keras di depan wajahku.

“Saya sudah bilang kalau saya juga pernah nyaris menyerah seperti ini kan Dok, dan saya janji saya tidak akan melakukannya lagi–”

“Sudah kubilang, tidak apa-apa jika kau ingin menyerah!”

“Tapi saya yang tidak mau!!” Ia berteriak lagi. Para internku dengan cepat tanggap keadaan, sebagian meminta para perawat yang berada disitu untuk keluar, dan sebagian lagi sibuk mendorong-dorongku dan Doojoon masuk ke ruang dokter di ujung ICU ini jika tetap bersikeras bertengkar. Untung saja ini masih cukup pagi jadi belum banyak perawat dan penjenguk yang datang.

Kini kami sudah berada di ruang kerja dokter jaga ICU. Hanya ada kami berdua, dan kembali aku menatapnya sinis, “Tidak mau? Yakin tidak mau menyerah? Dengan apa akan kau bayar semua tagihan RS Sara, Doojoon-ah?? HAH??” aku sengaja mendesaknya dengan hal yang paling kasat mata bagi kami semua itu. Kondisi ekonomi Doojoon setelah semua yang menimpanya.

Ia terdiam sejenak. “Pasti ada jalan, Dok.” Katanya tak yakin.

“Apa? Jalan apa? Orangtuamu sudah menyerah padamu, kau sudah dipecat dari pekerjaan, darimana lagi bisa kau dapat uang sebanyak itu?? Belum lagi dengan komplikasi ini, akan bertambah lagi daftar biaya perawatan yang harus kau bayar. Dan kau bahkan sudah menunggak selama 3 bulan!”

“Tapi saya tetap tidak akan menyerah, Dok. Uang bisa dicari, saya pasti bisa berusaha mendapatkan–”

“Masalahnya memang sudah tidak ada harapan lagi bagi Sara, sadarlah!!” Potongku dengan mengguncang-guncang bahunya. Ia terlihat shock, tidak menyangka aku akan berkata seperti itu. Tapi kejujuran memang menyakitkan, bukan? “Setelah ini, tidur Sara tidak akan sedamai biasanya, Doojoon-ah. Pneumonia… menimbulkan efek batuk darah, dan pasien akan mengalami kesulitan bernapas. Kau tak akan tega melihatnya yang bahkan tidak sadar tapi harus mengalami itu semua…”

Ia tertegun sejenak. Biarpun akhirnya, tetap menggeleng pelan, “Tidak, Dok. Terima kasih.” Katanya dengan senyum tipis demi kesopanan semata sebelum perlahan, berjalan meninggalkan ruangan itu, meninggalkanku sendirian.

 

Keesokan harinya,

“Uhuk, uhuk!”

Benar saja, baru kemarin hasil scan yang menunjukkan tanda-tanda pneumonia pada Sara kami dapatkan, malamnya, dan sampai hari ini efek penyakit itu sudah menyerangnya. Ini kedua kalinya pasienku itu terbatuk dengan dahak berdarah (yang pertama kemarin malam) sejak sekian lama ia tertidur dalam komanya yang begitu tenang seperti tanpa tanda kehidupan. Tapi bukan berarti ini merupakan kemajuan, biarpun kini ia sudah bisa terbatuk, tapi itu semata karena tekanan dadanya yang mulai sesak karena tumpukan cairan di paru-parunya. Bukan berarti tanda-tanda kehidupannya sudah kembali, bahkan kebalikannya, ini merupakan kemunduran.

Maka hari ini aku datang kembali, hanya demi menyaksikan para internku membantu perawat mengurus pasien kami, membersihkan segala bekas batuk darah di tubuh dan seprainya. Sedang aku, kembali menangani Doojoon.

“Sudah lihat? Aku bahkan tak mengira efeknya akan datang secepat ini, tapi sepertinya hanya satu alasan yang bisa kuberikan: kondisi koma istrimu yang hanya bisa terbaring itu yang membuat penyakitnya cepat memburuk, lebih cepat dari seharusnya.”

“Berarti jika ia sadar nanti, itu akan lebih mudah ditangani kan, Dok?” di luar ekspektasiku, setelah jeda berpikirnya yang cukup lama, tiba-tiba keluar kalimat seperti itu dari mulut lawan bicaraku.

Aku menatapnya bingung.

“Maksud saya… saya ingat Dokter pernah bilang kalau kesadarannya bergantung pada keberadaan gumpalan darah di batang otaknya—“

“Dua minggu sekali rutin kau lihat scan otaknya dan tidak pernah ada perubahan, bukan? Sedang kau tahu operasi tidak mungkin dilakukan—“

“Jika pneumonia ini saja bisa datang begitu tiba-tiba, bukan tidak mungkin gumpalan darahnya juga sudah mengecil dan sebentar lagi ia akan sadar, bukan?” potongnya cepat. Aku menatapnya takjub, tak menyangka ia bisa sampai pada pemikiran seperti itu. “Mengingat sudah setahun juga Dokter terus memberinya obat yang diharapkan bisa mengikis gumpalan darahnya itu… tidak mungkin kan mereka sama sekali tidak punya efek? Dokter, tolong lakukan scan otak untuknya lagi, saya ingin sekali melihatnya—“

“Dan jika hasilnya tetap sama, kau harus mau menyerah, Doojoon.”

Diam. Aku tetap menatapnya tajam, mencoba mengintimidasinya dengan ide negosiasi yang entah darimana tiba-tiba saja aku dapatkan ini. Ia mengalihkan wajahnya. “Anda tidak melakukan tawar-menawar dengan saya, Dok.”

“KAU yang tidak melakukan tawar-menawar denganku. Berjanjilah, jika hasil scan ini tetap sama, tak ada tanda-tanda kesadarannya akan kembali, kau akan melakukannya. Sebaliknya, jika hasil scan menunjukkan gumpalan darah itu mengecil sedikit saja, aku yang akan menyerah. Aku akan mendukung keputusanmu, apapun itu.”

“Bagaimana saya tahu Dokter tidak akan memanipulasi hasilnya?” tanyanya ragu.

Aku tertawa sinis, “ Kau seperti yang tidak mengenalku saja, Doojoon-ah. Ja, geureom. Aku akan menyiapkan prosedur scan untuk besok, hari ini sudah terlalu sore.” Aku menepuk pundaknya.

Ia menggeleng lemah, “Tapi untuk keputusannya lihat nanti saja, Dok. Saya tidak berjan—“

“Sampai ketemu.” Aku sudah memotongnya begitu saja seraya berbalik dalam senyum pahitku. Aku melangkah lambat-lambat, seakan menginjak ribuan duri dalam tiap langkahku. Tak pernah kurasakan menjadi tokoh antagonis kali ini begitu beratnya. Bukan hanya karena apa yang kusarankan ini merupakan keputusan ekstrem, tapi karena juga entah kenapa aku seperti bisa merasakan betapa menyakitkannya berada di posisi Doojoon saat ini. Ia memang pernah bilang aku adalah satu-satunya dokter yang tak pernah bersimpati padanya, tapi sepertinya ia salah. Karena dari luar aku memang tidak menunjukkannya, tapi jauh di lubuk hati dan kesadaranku, di balik semua topeng dingin yang kutunjukkan di hadapan Doojoon, akulah dokter yang paling bersimpati padanya di RS ini.

Flashback end

 

“Berikan padaku hasilnya, Park.” Suruhku pada dokter magang berkuncir kuda itu. Setelah sidang tadi aku segera menuju ICU untuk bertemu dengan Doojoon dan para internku untuk sama-sama melihat hasil scan otak yang kemarin sudah kami lakukan. Kuminta para internku itu yang mengambil hasilnya agar aku dan Doojoon berada dalam posisi yang sama yakni tidak ada yang tahu hasil itu terlebih dulu. Begini-begini aku adalah dokter yang jujur dan adil kayak pemilu aja 😛.

Tapi salah satu internku itu malah menggeleng kaku seraya menyeret kakinya mundur sedikit demi sedikit. Aku menghela napas, menahan amarahku karena melihat tingkahnya, “Kubilang: Serahkan. Padaku. Hasilnya.” Ulangku lagi dengan tegas. Ia menunduk takut dan kini malah cepat-cepat menyembunyikan map berisi foto X-Ray itu ke balik punggungnya. Amarahku rasanya siap meledak sekarang. “Serahkan padaku!!” bentakku seraya merampas paksa map yang disembunyikannya dengan posisi kedua tangan seperti memeluk gadis itu. Aku belum sadar sampai tiba-tiba kulihat wajahnya yang entah kenapa sudah tepat berada di depan wajahku sendiri. Ia menyengir canggung seperti mengingatkan tentang posisi kami itu.

Seketika aku buru-buru mendorong tubuhnya dan berdiri tegak seraya pura-pura membereskan jas dokterku, dengan map yang berhasil kurampas berada di sebelah tangan. Kim 1 dengan sigap menahan tubuh Park yang limbung akibat dorongan refleksku tadi.

“Whoa, whoa, Dok. Santai dong sama cewek!” tegurnya seraya merangkul rekannya khawatir.

Aku seketika menoleh, baru sadar sudah melakukan ‘kejahatan’ seperti tadi pada intern favoritku, “Oh, maaf. Ah, maksudku, kau tidak apa-apa, kan. Ya sudah.” Aku mulai sok dingin lagi.

Melihatku, Zhou dan Kim 2 sudah sibuk saling terkekeh saja.  Zhou membetulkan letak kacamatanya sebelum menyeletuk, “Ehem. Ada yang merah pipinya. Jadi curiga.”

Doojoon, Kim 1, dan Park segera menoleh padanya dengan tampang bingung, sedang aku yang langsung merasa tersindir dengan cepat mengalihkan pembicaraan, “Aaah, sudah. Ayo kita mulai lihat hasilnya saja.” Kataku seraya cepat-cepat memasang X-Ray itu di penampangnya. Aah, sempat-sempatnya saja aku membuat orang curiga dengan rasa sukaku pada Park di saat-saat menegangkan bagi pasienku seperti ini!

Dan secepatnya hasil itu pun bisa dengan jelas kami lihat. Yah, seperti yang sudah kuduga dari gelagat Park tadi, ia yang memang sedari tadi memegangnya pasti tak tahan dan sudah mengintip lebih dulu sebelumnya. Dan ternyata hasilnya… tepat seperti dugaanku. Tak ada perubahan pada gumpalan darah di batang otaknya.

“TIDAK, Dok. TIDAK! Saya tidak akan melakukannya, tidak, TIDAK!!” Doojoon mulai histeris lagi seraya memejamkan matanya, menutup kedua telinganya dan jatuh terduduk ke lantai. Keempat internku memandangnya kasihan, dengan dua gadis di antaranya sudah saling berpelukan karena tak sanggup menahan haru mereka atas nasib yang menimpa Doojoon itu.

Aku ikut berjongkok, mencoba merengkuh pria itu seperti seorang kakak, “Sudahlah, Doo-ya.” Aku menepuk-nepuk punggungnya hangat. “Memang seperti inilah jalan yang harus ditempuh Sara… Relakanlah dia, kau mengulur waktu lebih lama lagi, bersikeras tetap merawat Sara disini, di akhir nanti jalannya pun tetap akan sama… Kau masih muda, umurmu bahkan sepertinya masih sebaya dengan calon-calon dokterku yang baru akan diwisuda ini.” Aku menunjuk para internku. “Kejarlah mimpimu, Doojoon-ah. Sara pun jika ia sadar, pasti ia tidak ingin melihatmu meninggalkan semua impianmu itu hanya demi merawatnya seperti ini, menghabiskan waktumu yang berharga hanya demi berada di RS ini, demi dirinya… Sudahlah. Bukan berarti aku kejam padamu—“

“Saya tahu Dok, saya tahu itu bukan maksud Dokter… Saya percaya pada Dokter…” satu per satu airmata mulai mengalir di pipinya. “Tapi untuk melepas Sara, saya… saya… Sara…” dipukul-pukulnya lantai di bawahnya dengan airmata yang terus mengalir deras. Seakan dengan menyakiti dirinya sendiri, itu akan mengurangi rasa bersalahnya karena akhirnya ia memutuskan menerima saranku…

 

***

 

Akhirnya datanglah juga hari besar itu. Setelah seminggu Doojoon akhirnya menyampaikan permohonan izin perlakuan euthanasia untuk istrinya ke pengadilan, kemarin izin itupun keluar pasca berbagai kontroversi yang melingkupinya pula semenjak tiba-tiba kasus itu bocor ke publik. Tentu saja, bukannya aku tidak tahu kalau semuanya memang akan jadi seperti ini, tapi tetap saja dengan adanya sorotan dari mana-mana pada kasus ini, padaKU khususnya sebagai dokter yang menyarankannya, aku amat sangat terganggu. Bukan karena aku akhirnya terkenal di seluruh negara sebagai dokter kejam menyeramkan tak punya hati tak tahu diri, itu sih aku sama sekali tak peduli karena semua orang di RS ini juga tahu bagaimana kemampuanku, tapi yang membuatku tak suka adalah ruang gerakku yang menjadi amat terbatas karenanya!

“Maaf, tapi tolong minggir.” Kataku tegas seraya menyingkirkan para wartawan yang menghalangi jalanku yang baru datang melewati lobi.

“Pak, apakah Anda tetap akan melakukannya? Masih banyak sekali kontroversi yang terjadi…”

“Apa benar nantinya organ dari pasien juga akan didonorkan?”

“Berikan satu saja komentar, Pak!”

Aku memutar bola mataku lelah, sebelum memberi isyarat pada security RS yang dari tadi juga menjaga mereka dariku untuk lebih mendorong mereka lebih jauh. Dengan bebas aku pun kini dapat melenggang pergi. Lagi-lagi tanpa sepatah katapun keluar dari mulutku.

“Pak, PAK!!”

 

 

Aku menepuk bahu Doojoon, mencoba menguatkannya dengan tatapanku juga begitu aku melihatnya di ruang ini. Pasien Gil telah dipindahkan ke ruang rawat tersendiri hanya demi prosedur ini agar tidak mengganggu pasien ICU yang lain, baik karena keberadaan banyak orang nantinya maupun demi mencegah efek psikologis yang mungkin menyerang pasien lain di ICU itu karena melihat sesama mereka tiba-tiba ‘disuntik mati’.

Doojoon mengangguk padaku, mencoba menahan segenap perasaannya yang pasti sudah tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata itu. Karena sekali lagi, tidak lama setelah ia mengajukan permohonan euthanasia itu ke pengadilan, Doojoon kembali membuat keputusan terbesar dalam hidupnya: ia memutuskan mendonorkan organ-organ yang masih sehat milik istrinya setelah pelaksanaan prosedur nanti. Awalnya aku juga kaget begitu mendengar itu dari seorang perawat, sebelum tiba-tiba ia menyorongkan selembar formulir donor dengan tandatangan asli Doojoon di atasnya.

Pria itu benar-benar serius.

 

Flashback

4 hari yang lalu,

“Apa ini??” Tuntutku pada perawat itu.

“Itu formulir donor, Dok. Pasien Gil Sara, oleh suaminya Yoon Doojoon.”

Aku menggeleng, “Bukan itu maksudku, tapi kenapa kotak centangan organ donornya kosong? Apa maksudnya??”

Perawat pria itu menjawab takut-takut, sepertinya sudah jiper duluan dengan temperku yang memang meledak-ledak ini, “Itu… Yoon-ssi ingin mendonorkan seluruh organ sehat yang masih dimiliki pasien Gil, Dok. Maka itu ia menyerahkannya pada dokter saja untuk mengisinya.”

Aku sukses menganga hebat. Doojoon… apa lagi ini??

“Butuh dua hari bagi saya sebelum akhirnya memutuskan hal itu, Dok.” Katanya begitu aku berhasil menemukannya, tentu di ICU, seraya menyerahkan sebuah diary berwarna biru muda.

Aku mengernyitkan kening menerimanya, biarpun akhirnya tetap membukanya juga di bagian yang sudah ditandai Doojoon. Langsung terlihat olehku sebuah tulisan tangan rapi dengan tinta biru.

 

Hari ini aku mengunjungi panti asuhan tempatku dibesarkan dulu. Setiap melihat tempat ini, aku selalu merasa bersyukur karena biarpun tak punya orangtua dan keluarga, aku masih dapat diasuh dan bertemu dengan banyak ibu yang pastinya menyayangiku dan teman-temanku disini, tak kalah dari orangtua kami sebenarnya.

Sudah dua bulan sejak aku terakhir kemari sehari setelah pernikahanku dengan Doojoon. Dan aku tidak tahu, kalau selama dua bulan kebahagiaanku itu, salah satu ibuku disini sakit keras dan membutuhkan seorang pendonor jantung. Tuhan… betapa menyakitkan hatiku saat berada disana tadi, hanya bisa melihatnya terbaring sakit tanpa mampu berbuat apa-apa. Jika saja boleh, jangankan jika jantungku ada dua, jantungku hanya satu seperti sekarang pun rasanya aku ingin sekali menyerahkannya saja padanya sebagai ganti semua kasih sayang yang ia berikan dulu…

Tapi apa mau dikata, jangankan memperbolehkanku mendonorkan satu-satunya jantungku itu, sebelumnya mereka bahkan tak sampai hati mengganggu kebahagiaanku dan mengabarkan keadaan ibu. Maka dari itu aku begitu bersyukur karena tiba-tiba sudah seminggu ini aku rasanya ingin sekali pergi ke panti, dan akhirnya bisa melihat ibu biarpun untuk terakhir kalinya, karena tadi sore, ibu akhirnya meninggal dunia setelah melihatku…

Di perjalanan pulang bersama Doojoon tadi, tak henti-hentinya aku memikirkan ibu. Betapa banyak tentunya orang yang bernasib sama seperti ibu di dunia ini, di negara ini… Orang-orang yang memerlukan donor tapi tak bisa mendapatkannya. Aku tentu tak berani mengatakan ini pada Doojoon sekarang (karena tentu ia pasti marah-marah padaku, fiuhh~ Biarpun aku tahu sih itu karena ia begitu menyayangiku ><), hanya kuharap jika suatu saat nanti aku meninggal lebih dulu darinya, ia sempat membuka tulisanku ini dan menyadari keinginanku yang begitu besar untuk menjadi cahaya bagi orang lain yang membutuhkan.

Oke, jagi? (Mudah-mudahan kamu baca. Amin!^^) -Sara

 

Aku segera menatap Doojoon kembali begitu selesai membaca itu, yang segera disambut anggukan pelannya, “Saya menemukan itu ketika membuka-buka diary-nya di hari saya mengajukan izin ke pengadilan. Awalnya saya sangat tidak rela, bagaimana mungkin saya rela istri saya pulang ke haribaan Tuhan dengan jasad yang tak utuh, di saat membiarkannya pergi dengan tenang saja sudah sangat sulit bagi saya??”

Ia menarik napas panjang sebelum memutuskan untuk tersenyum, “Saya bersikeras tidak mengindahkan tulisan itu, saya bahkan selalu berpura-pura kalau saya tidak pernah menemukan diary yang sebagian besar berisi cerita indah kami berdua itu. Tapi entah kenapa, biarpun itu hanya secuil tulisan di tengah-tengah catatan hariannya yang lain, tapi secuil tulisan itu selalu terngiang-ngiang di kepala saya, hingga akhirnya, dua hari kemudian, hari ini, saya memutuskan mengisi formulir itu juga. Karena itu, tolong donorkanlah organ tubuh Sara yang masih sehat pada mereka yang betul-betul membutuhkan, Dok… Terutama orang-orang yang tak berpunya. Butakhalkke.” Ia segera berdiri dan membungkuk di hadapanku.

Dapat kurasakan mataku memanas melihatnya, bergantian dengan melihat Sara juga di atas ranjangnya yang terlihat mulai susah bernapas karena pneumonia-nya itu. Selama ini aku kira kelenjar airmataku tidak pernah berfungsi dengan baik, tapi ternyata aku salah. Biarpun aku cepat-cepat menarik napas panjang dan menengadah ke atas demi mencegah sesuatu keluar dari sana.

Kemudian aku menggeleng, “Tapi tidak, Doojoon. Aku… hanya akan mengizinkan Sara mendonorkan 1 organnya.” Karena aku tahu biarpun di luar berkata lain, tapi sebetulnya pasti masih menyisa rasa tak rela di hati pria tangguh ini…

Benar saja, Doojoon pun perlahan mengangkat wajahnya penuh rasa tak percaya, menatapku dengan airmata siap merebak, dan segera membungkuk kembali berkali-kali, “Terima kasih, Dok! Terima kasih! Terima kasih!”

Flashback end

 

Maka dimulailah prosedur mercy killing ini dengan disaksikan kepala RS, dr. Hwan, dr. Son, Doojoon dan kedua orangtuanya, serta dr. Hahn, spesialis jantung kami yang berkebangsaan Jerman untuk mengurus pendonoran jantung Sara kepada seorang siswa SMA tak mampu secepatnya pasca prosedur ini. Sebelumnya sudah ditampilkan hasil scan otaknya juga yang terbaru, kalau-kalau ternyata ada perubahan sehingga mungkin saja prosedur ini bisa digagalkan. Biarpun ternyata tidak ada yang berubah, gumpalan itu tetap tak juga luruh biarpun setahun ini sudah diberikan bermacam obat untuk mengikisnya dari dalam, tanpa operasi. Doojoon yang barusan sudah harap-harap cemas kembali jatuh tertunduk, menyadari kalau memang sudah tidak ada jalan lain bagi sang istri, dan airmata yang sekuat mungkin ditahannya tadi pun perlahan meleleh tanpa suara…

Aku menarik napasku panjang saat mengambil alat suntik dari dr. Son, betul-betul tidak menyangka suatu hari aku akan melakukan hal seperti ini dalam karir kedokteranku. Karena sungguh, biarpun aku yang menyarankannya, tapi bukan berarti aku betul-betul tega melakukan ini! Bagaimanapun, aku selalu diajarkan bahwa profesiku adalah untuk membantu orang lain, tapi apa yang terjadi dengan profesi ini hari ini… Dan di saat seperti inilah aku baru menyadari dwifungsi profesiku yang seperti pisau: layaknya pisau yang bisa digunakan untuk memasak dan lainnya, seorang dokter juga dibutuhkan untuk menyembuhkan orang lain, tapi seperti pisau yang juga berbahaya, ada kalanya seorang dokter juga bisa menyakiti bahkan membunuh seseorang…

Injeksi pertama untuk mencegah penggumpalan darah agar organ nanti masih bisa didonorkan pasca pasien sudah meninggal sudah berhasil kusuntikkan di infusnya. Dan kini, satu shot potasium klorida sudah berada di tanganku juga, siap melaksanakan fungsi ‘pencabut nyawa’-nya.

“Akan saya lakukan sekarang.” Gumamku pelan, yang kupastikan tetap bisa didengar seluruh orang di dalam ruangan. Memejamkan mataku sejenak untuk menghimpun ‘rasa tega’, perlahan kusuntikkan pula cairan itu ke dalam infus Sara.

Tidak butuh waktu lama sampai cardiogram-nya berbunyi nyaring “TIIIIIIT…” dan menampilkan sebuah garis lurus tanpa putus di layarnya.

Aku segera melihat jam tanganku, “Waktu kematian: 9.32 pagi.”

Dan sekejap, Doojoon yang sejak tadi berada di samping ranjang Sara dan menggenggam tangannya langsung berteriak histeris menangisi kepergian istrinya, “SARA…!!”

 

TBC

 

1Euthanasia: sering disebut juga mercy killing atau ‘pembunuhan secara damai’, adalah tindakan menghentikan hidup seseorang pasien–biasanya yang sudah tanpa harapan–oleh tenaga medis. Ada 3 macam euthanasia:

· Euthanasia pasif: Tidak semua kemungkinan teknik kedokteran yang sebenarnya tersedia untuk memperpanjang hidup seorang pasien dipergunakan.

· Euthanasia tidak langsung: Usaha untuk memperingan kematian dengan efek sampingan. Dengan harapan,  pasien barangkali meninggal lebih cepat. Dalam hal ini termasuk pemberian segala macam obat narkotika, hipnotika, dan analgetika yang secara tidak langsung dapat memperpendek kehidupan walaupun hal tersebut tidak disengaja.

· Euthanasia aktif: Proses kematian diperingan dengan memperpendek kehidupan secara terarah dan langsung. Ini yang digunakan dalam cerita ini.

Euthanasia bisa diajukan sendiri oleh si pasien atau jika pasien terlalu sakit, bisa dilakukan oleh walinya. Di beberapa negara euthanasia dilarang dan beberapa lagi memperbolehkannya berdasarkan UU, dan sampai sekarang pun berbagai kontroversi baik dari segi agama maupun HAM masih menyelimutinya. Di Korea sendiri tindak euthanasia terlegalisasi (disetujui pengadilan) pertama terjadi th. 2008 pada seorang nenek dengan penyakit kronis berusia 70 tahun.

2pneumonia: di Indonesia sering disebut ‘paru-paru basah’, yaitu radang pada alveolus yang menyebabkan tertumpuknya cairan sehingga menekan dada si penderita. Selain karena sebab yang diceritakan di kisah ini, pneumonia seringkali disebabkan oleh bakteri Streptococcus pneumoniae. Jika sebabnya bakteri maka ditangani dengan antibiotik. Di atas sudah ada contoh hasil X-Ray pneumonia, dan di bawah ini adalah contoh hasil X-Ray paru-paru normal:

3efusi pleura: keadaan ketika terdapat cairan berlebih di dalam pleura atau selubung paru-paru, biasanya hasil dari pneumonia ataupun TBC. Cairan yang tertumpuk bisa sampai 3 liter banyaknya sehingga menyebabkan sesak napas dan nyeri dada. Ditangani dengan mengeluarkan cairan melalui selang atau jarum berlubang.

 

Ya ampun ini panjang banget, bertele-tele tapi ga padat isi… Bosen ya? bosen? apa seharusnya saya potong jd dua bagian aja kali ya.. T.T

dan maaf, ga dapet ilustrasi x-ray gumpalan darah di batang otaknya.. T.T

 

Advertisements
 
27 Comments

Posted by on September 13, 2011 in Super Junior, [THE SERIES]

 

27 responses to “[THE SERIES] DR. SHIN – Case 4

  1. 9886ipeh

    September 13, 2011 at 8:09 pm

    DAEBAK!!! Wow,FF nya keren banget. Aku sampe terharu bacanya. Salut bgt sm Doojoon. Adakah pria spt itu dikehidupan nyata? Aku harap ada,kkk… Jd bisa buat aku nantinya. Amin #ngarep 😛 Tp kisah cintany dr.Shin kurang ni. Nanti lg tambah y. Plisss…hehe… Lolita,maaf ya br komen skrng. Sbnrny aku pembaca setia ff-mu. Berhubung selama ini bc lewat hp n pernah suatu ketika mau komen. Eh, malah ga nyangkut. Jadilah hopeless. Semoga kali ini nyangkut jd bs trs komen deh. Semangat y lanjutin bikin ff-nya. Aku tunggu lho. 😉

     
    • lolita309

      September 15, 2011 at 12:20 am

      whoaaa, terimakasih dan selamat “muncul”!! (loh? :p)

      hehe, beneran, aku seneng banget deh tiap kali ada reader yang akhirnya mau menampakkan dirinya begini <– apasih #abaikan. gapapaaa banget kok baru komen sekarang…. yang penting komen lebih baik dari gak komen hehehe. 😀

      ttg ff ini…. jinjja? betulkah bagus? padahal liat aja tuh di tulisan paling bawah, aku udah ngedrop banget gara2 ngerasa ini rusak banget -____- tapi seneng kalo reder tetep suka. thanks ya^^
      dan doojoon…. entahlah, mungkin kalo di dunia nyata suaminya malah bakal langsung ninggalin istrinya kali ya? ngerasa sia-sia buang masa mudanya gitu.. mudah2an doojoon aslinya pun nggak gitu deh 🙂

      alhamdulillah yah akhirnya komennya nyangkut… kalo gini komen terus ya! (maunya #plak :p) iyaaaa aku semangat! terimakasih lagi! oia, kenalan dong, dan boleh panggil aku Lola aja kok 😀

       
      • 9886ipeh

        September 28, 2011 at 2:57 pm

        Whoa, ternyata nyangkut juga tu komen. Alhamdulillah … ^^
        Aku dah was2 takutnya ga nyangkut -___- , kan kasian kamunya.
        Ini aku nyempetin OL lewat PC.
        Aku janji tar lagi bakalan komen. Haha …. #plak ;P krn baru insaf

        Lola, Ipeh imnida. Salam kenal ya, aku dari Bandung.
        Pertama kali tau tulisan kamu dari FFIndo,
        Aku dah baca semua FF kamu. Menurut aku semuanya bagus2.
        Kamu salah satu author fav ku lho.

        Buat FF yang Dr. Shin ini bener2 nambah pengetahuanku tentang kedokteran, soalnya aku anak teknik yang lulusan STM. Kkkk…

        Gomawo dah bikin FF yang bagus, Hwaiting buat next FFnya 🙂

         
      • lolita309

        October 24, 2011 at 5:06 pm

        iya nyangkut ko, tenang aja hahaha 😀

        horeeee dijanjiin, bener yaaa, makasi^^

        salam kenal juga sayang, aku lola, jakarta 🙂
        waaaa makasi yaaa, seneng bgtbgtbgt ><

        haha, berarti kamu anak teknik yg tertarik kedokteran gitu? tapi baguslah kalo nambah pengetahuan 🙂
        iyaaa semangat! makasi sayaang 🙂

         
  2. p4nic

    September 14, 2011 at 9:41 am

    hiks,,,

    *I Can’t say anything….

     
    • lolita309

      November 1, 2011 at 4:55 pm

      wuaaaaa uljimaaaaaa~ *lempar tisu*

      cepcepcep, yang penting makasi yaa sayang uda baca^^

       
  3. ms.o

    September 14, 2011 at 10:52 am

    annyeong eonn.. #lap airmata dulu…
    beneran deh,,,,miris saya,,,kesetiaan doojoon, ketegasan dr.Shin, semuanya,,,,

    kompleks,,,,mungkin dilema terbesar buat doojoon atau bahkan semua manusia yg pernah ngalamin kayak gini,,,ngerelain seseorang yang PALING di sayang buat “dimatikan”….

    entah di dunia nyata ada apa nggak orang kyk doojoon itu….

    hwaiting eonn,,,bwt selanjutnya,,,

     
    • lolita309

      November 1, 2011 at 5:09 pm

      annyeong sayaang, maaf br bisa bales >< sini aku bantuin lap airmatanya deh…. *telat uda kering -.-*

      huaaaaa, iyaa nih doojoon-ah…. T.T dilema juga sih yaa, aku rasa kebanyakan orang, apalagi yang masih muda kayak doojoon, pastiu bakal susah juga nerima ujian kayak gini… mempertahankan sesuatu yang memang seharusnya udah ga bisa dipertahanin lagi….

      iyaaa makasi sayang semangatnya.. HWAITING! makasi uda baca 🙂

       
  4. gaemchii

    September 15, 2011 at 9:04 am

    huaa… aku bcanya sambil nangis lho… apalagi aku bcanya smbil dgr lgu Sung SiKyung yg super sedih, tbh mengucur lah ni air mata T.T

    tapi sih kalo aku jd dr. Shin, aku jga bkal nganjurin euthanasia (emang antagonis yah wkwk)

    kok pke TBC sih? Udh tegang ini pdhl….

    btw mianhae ya aku telat 😥 lg setres blajar anatomi ini, mana byk bener lg 😥 huhu doain bisa dapat A ya nyaha #plak

     
    • lolita309

      September 15, 2011 at 9:51 pm

      berarti nangisnya gara2 efek lagu itu say….. 😥

      dasaar calon dokter antagonis -.- huahaha XD

      yaaa TBC-nya, TBC ke case 5, say…. ini mah sampe sini aja, tapi nanti masih disinggung2 juga kok dikit di case 5 nya. 🙂

      iyaaa gapapa kok, telat lebih baik drpd nggak sama sekali haha

      wuaaa hwaiting darl! yaaah ga usah A lah ya…. saya mah B+ juga alhamdulillah yah…. hoho XP

       
  5. oepieck

    September 15, 2011 at 3:56 pm

    eonni, ini keren banget!
    jadi sadar kalo tugas dokter itu berat. apalagi kalo udah g bisa nyembuhin tapi malah harus ngasih kabar buruk buat pasien ama keluarganya.
    jadi lebih menghargai perjuangan dokter” di RS sana…

    eh, Shindong keren banget di sini
    apalagi waktu rapat ama dokter” lain
    sama pas dia kesengsem ama yora juga, kkk~
    itu si zhoumi dah mulai curiga, ntar nasibnya dia gmana ya?

    eh iya, kasian juga itu. image-nya di mata masyarakat gmn y?
    hah, jadi sorotan publik itu susah ya eonni?

    btw, sama sekali g kepanjangan
    malah rasanya kurang
    baca ffnya lola eonni tu g pernah bikin bosen 😀

     
    • lolita309

      November 1, 2011 at 8:12 pm

      wuaaa betulkah?? makasi >< makin dapet deh nih imagenya pas bikin hahahaha

      bener nih ga kepanjangan? aku aja baca sendiri ngerasa panjang loh, takut pada boring , tapi kalo beneran engga sih baguslah. 🙂

      kyaaaaangg~ pujian di akhirnya itu loh~~ GOMAWO~NG^^
      makasi sayang uda selalu baca 😀

       
      • oepieck

        November 5, 2011 at 9:42 pm

        iya sama” eonni 😀

        beneran kok. kalo baca cerita eonni tu pinginnya ngebut, soalnya jalan cerita asyik n mulus, gak grenjel gitu. terus pesan moralnya dapet. Jadi klo cuma baca satu chapter tu kurang eonniiiii…. :3

        ah, udah ah, ntar eonni terbangnya ketinggian, kkk~ :p

        eh, eonni pingin jadi penulis g to? nerbitin buku gitu
        cerita eonni kan keren-keren

         
      • lolita309

        November 12, 2011 at 1:48 pm

        pengen sih, tapi masih bingung pilih cerita yg mana yang bakal dikirimin… kalo menurut kamu, kira2 judul mana aja yaa yg layak dari blog ini? hehe :p

        kalo uda pilih judul2nya kan tinggal edit2 nama dan sebagainya aja 🙂

        mohon bantuannya yaaaa~~

         
      • oepieck

        November 14, 2011 at 10:09 pm

        klo buat yang dikirimin kan yang kehidupan orang biasa kan berarti?
        mmm…. favoritku itu ceritanya kyuhyun. dari awal sampe si dambi mulai menerima jiwon
        don’t call me oppa juga asyik,
        klo buat teenlit” gitu bahasa langit itu keren (tapi dirampugin dulu ya :D)
        untuk cerita lepas di majalah” gitu, toki wo tomete atau deudgoshipeun moksori pas
        dr. shin juga keren banget, kehidupan sosialnya ama mengena soalnya
        tapi nanti klo shindong udah ketemu jodohnya ya? 😀

        sebenernya bikin novel sequel kayak punya ilana tan yang 4 musim itu kan bisa eonni
        the series semuanya dimasukin juga gpp 😀

         
  6. chrisnagustyani

    September 15, 2011 at 11:14 pm

    hahaha enggak juga kok, emang ffnya sedih palagi yg waktu doojoon udh desperate pernah mau nyabut monitornya sara… trus wktu baca diarynya sara juga itu sedih banget..

    eh nyah dosenku prnah bilang kalo d amerika, euthanasia legal, tapi dokter ga boleh ngelakuinnya jadi yg euthanasia itu kerabat pasien…

    yah nyah doa itu harus minta yg bagus2 sekalian hahaha

    yg bahasa langit kpn dilanjut nyah? tapi aku udh ga bisa apdet2 lgi ni abisnya kuliah padat 😦

    buat oepick : eh aku boleh sksd yah? #digampar
    iya jadi dokter itu sulit bgt! buat nyampein kabar buruk aja kita mesti belajar bahkan ada rumusnya loh! trus buat anamnesis juga pake prosedur.. dan semuanya itu bikin aku stress mengingat aku orgnya agak2 susah berkomunikasi lisan n formal dg org2 yg ga aku knal hiks 😦 jadi dokter itu mengasyikkan tapi bikin derita hahaha

     
    • oepieck

      September 18, 2011 at 6:54 pm

      sksd juga, kkk~
      wah, repot juga ya. g pernah nyangka bakal seberat itu. aku kadang susah komunikasi juga lho. pinginnya ngomong A, yang keluar malah Z 😦
      tapi kalo emang pingin jadi dokter, pasti bisa! aku do’ain loh ^^

      eh, situ yang jadi cast di Gold Digger kan?
      Upik imnida 🙂

       
      • chrisnagustyani

        September 29, 2011 at 9:32 am

        hahaha Cizzie imnida..

        iya aku yang jadi castnya Gold Digger yang jaat itu hahaha

        gomawo ya doanya :))))

         
      • oepieck

        September 30, 2011 at 2:34 pm

        enaknya dipanggil apa ni? eonni ato apa?

        hehehe, itu antagonis banget ya karakternya

        sama” 😀

         
    • lolita309

      November 1, 2011 at 8:19 pm

      ikuuutt nimbrung~ *telat* :p

      hah, gimana ceritanya keluarganya yg euthanasia? jadi mereka yang cabut alat2nya gitu?

      woooiii itu bahasa langit udah apdeeet, buru bacaa~! *tau deh orgnya baca/ga hahaha* XD

      untuk seterusnya….. yakyak silakan kalian berkenalan dan berteman kkkkk~ seneng bs bikin org2 tmnn disini! ^^

      eh btw emgnya oepick nanti kira2 mau ambil apa pas kuliah? ada sunbae2 akuntansi dan kedokteran nih disini hahahah XDD

       
      • oepieck

        November 5, 2011 at 9:27 pm

        kekeke~
        ntar klo pembaca eonni udah bejibun bisa bikin forum nih 😀

        mmm…. yang jelas gak bakal masuk kedokteran (cizzie eonni mianhae~) aku orangnya gak tegaan, apalagi klo harus nanganin pasien, takut klo salah. akuntansi? yang ada entar laporan keuangan perusahaan ancur semua klo aku yang ngerjain, kwkwkw~

        klo pinginan sih, pingin masuk arsitektur 😀 tapi aku juga suka design baju ama jahit-menjahit.
        tapi masih bingung juga sih… enaknya gimana ya eonn?
        jadi remaja tanggung tu susah y?

        oh iya, setelah kupikir”, kayaknya namaku susah diketik dan disebut. mending ketik upik aja ya eonni, lebih ringkas dan lebih gampang diketik ^^

         
  7. cybersunyoungpark

    September 29, 2011 at 2:10 pm

    Baca setengah kemaren, setengah sekarang, baru komen sekarang tapi kemaren nggak ninggalin jejak. Harap dmaklumi mbaknyaaaaaaa, aku lagi dalam minggu sulit nih mbk ><

     
  8. cybersunyoungpark

    September 29, 2011 at 2:17 pm

    Sialan. Komen aku kepotong ><
    Oh iya, ffnya bagus kok mbak. Nggak jelek…
    Sekali lagi ya? FF ini kan jarang, bahasa kedokteran dan segala-galanya sampai ke istilah kedokteran yang rinci banget! I like that :3

     
    • lolita309

      November 1, 2011 at 8:33 pm

      balesnya sekalian disini aja ya^^

      waaa, minggu sulit? berarti udah berakhir blm? mudah2n udah ya 🙂
      hehe, makasi yaaa dibilang bagus…. seneng deh, dan lebih seneng lagi kalo kamu juga suka aku ngangkat hal-hal beginian….. hehehe :3

      makasi lagi yaa sayang uda baca^^

       
  9. hwangminmi

    October 4, 2011 at 8:48 am

    Annyeong haseyo~ *mendadak muncul* (?)

    Akhirnya setelah berbagai bencana yg menghadang (re: gak ada pulsa males komen #ditabok) akhirnya saiia bisa komen jg~ \(´▽`)/ #apasih

    Yak, cukup sudah pembukaannya (?)

    Ah, cerita yg romantis~ *langsung merinding* #apaandeh

    Keren kok keren, seperti biasa ^^b apalagi sekarang shindong makin cakep (?) #ganyambung

    Kapan cerita pas siwon-donghae masuk rumah sakit itu eonni? Si shindong pasti patah hati disitu kan? XD #soktau #ditaboklagi

    Udah ah, komennya kepanjangan (‾_‾”) *langsung ngilang*

     
    • lolita309

      November 1, 2011 at 8:37 pm

      annyeong~~~~ *baru muncul sebulan kemudian* #dihajar

      horeeeee~ akhirnya ada yang nyampah di blogku lagiii #PLAK XD

      wah, makasi^^ iya nih shindong makin cakep, jadi makin ngena ceritanya~ #apadeh

      iyaa abis ini, di part 5 itu.. masih dalam penulisan nih, sabar yoo 🙂 dan yup, shindong bakal patah hati disitu. bersiaplah nak~~~~ kkkkkkkkk *ketawa setan*

      tengkyuuu say uda baca! *brb ngilang juga*

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: