RSS

[THE SERIES] BAHASA LANGIT – Part 3

04 Sep

BAHASA LANGIT – Part 3

Written by: Lolita Choi (@lolita309)

Starring: SJ’s Kim Kibum

Hwangminmi/megumiTM as Minakami Megumi and Hwang Minmi

“Jadilah pacarku sekarang, Hwang Minmi. Aku menyukaimu.”

Sambil menatap langit-langit kamarku dalam posisi tiduran, aku masih ingat betul dengan kata-kata yang kuucapkan sore tadi padanya itu. Dan lagi-lagi… aku mengacak-acak rambutku sendiri. Aarghh, darimana aku tiba-tiba bisa bicara begitu??? Setidaknya kalau aku memang betul-betul tertarik padanya, tak bisakah aku PDKT dululah, berkenalan dengan ‘proper’ dululah, bukannya langsung tabrak begitu saja! Tapi sepertinya rasa kagumku padanya yang tiba-tiba itu memang begitu besar sampai-sampai aku tidak bisa menahan diri lagi…

Hwang Minmi. Ya… gadis itu. Yang lebih anehnya lagi adalah karena ia menerimaku begitu saja…

 

“Jadilah pacarku sekarang, Hwang Minmi. Aku menyukaimu.”

Ia seketika langsung menelengkan kepalanya dengan alis terangkat, seperti baru saja mendengar lawakan paling garing sedunia. Ya ampun anak ini, ya… Sikapnya itu lho, sarkastis sekali. Tapi aneh, seperti memang cocok baginya, dia–

“Oke. Kita pacaran sekarang.”

Ya kan? Bilang pacaran saja–

Eh, apa? Dia bilang apa??? “M-Mworago?” Tanyaku gagap. Hei, pendengaranku salah, kan? Nggak mungkin kan dia… Disaat kecil sekali kesempatanku seperti ini…

Tapi ia mengangguk, dan dengan senyum khasnya yang begitu ‘tegas’ itu (kalau tidak mau dibilang ‘sinis’) ia hanya mengedikkan bahu dan berkata, “Kamu nggak akan tanya nomor ponselku?”

Dan sekejap, aku seperti langsung terbangun dari bengongku dan mengangguk cepat seperti orang bodoh, dengan buru-buru menyerahkan ponselku untuknya mengetikkan nomornya sendiri.

Begitu saja, kami akhirnya resmi berpacaran.

 

Ah, apa-apaan itu… Aku terlihat bodoh sekali kan?? Pacaran. Pa-ca-ran. Itupun kalau bisa dibilang begitu. Dan oh, besok kami juga baru akan mulai nge-date, setelah tadi ia menolak kuantarkan pulang karena tak enak dengan teman-temannya, katanya. Dan sebagai gantinya, ia bilang aku boleh mengajaknya pergi besok itu, terserah padaku mau kemana, dia akan dengan senang hati menunggu SMS konfirmasiku malam ini. Malam ini, ya… Ah gawat, apa dia sedang menguji kebolehanku memilih tempat kencan pertama? Apa jangan-jangan dia tahu kalau aku sama sekali tak punya pengalaman apapun tentang cinta-cintaan begini?? Yah dulu sih Megumi tapi itu kan cinta monyet, anak kelas 1 SMP! Anaknya juga aku tak yakin dia tahu perasaanku dulu, gadis cuek begitu…

Ah, apa yang aku lakukan?? Aku harus cepat-cepat bertanya pada seseorang!

Dan saat itu, tiba-tiba mataku sudah tertumpu pada pria berperawakan mungil yang sedang sibuk dengan hitung-hitungannya seraya tengkurap di atas kasur dan mendengarkan musik. Ya, kembaranku sendiri. Tapi… masa Ryeowook? Secara aku dan dia saja, sejak kecil sudah tentu lebih banyak gadis-gadis sekelas, anak-anak tetangga yang suka padaku daripada dengannya. Mereka bilang aku cool, yah, tanpa perlu sok cool. Ah, tidak. Ryeowook sedikit kurang meyakinkan. Sebaiknya aku cari Saera.

“Mau kemana, Bum?” Begitu aku baru beranjak dari kasur hendak keluar, Ryeowook sudah menegurku tanpa mengalihkan pandangannya dari buku tebal Akuntansi berbahasa Inggris-nya itu.

Aku menoleh, “Cari Saera. Sudah ya.” Kataku seraya melanjutkan menekan kenop pintu, sebelum kembali jawaban Ryeowook menghentikanku.

“Tadi kan pulang dari kampusmu dia dijemput si monyet… Dasar itu anak, mentang-mentang sudah lulus pacara~n terus. Mau bilang apa aku kalau eomma dan appa pulang nanti? Fuhh.” Ryeowook yang memang bekerja sama dengan Heechul Hyung sebagai pengganti orangtua kami yang sedang ditugaskan di Cina (ayahku yang ditugaskan–ingat beliau seorang diplomat?–ibuku hanya menemani), akhirnya menjatuhkan kepalanya di atas sang kalkulator.

Aku cuma bisa bengong mendengarnya. Sumpah, si Saera sedang keluar?? Ahh… apa jadinya aku? Sedangkan aku janji akan SMS waktu dan tempat kami ketemuan besok malam ini! Haduh…

Melihat wajah frustasiku, Ryeowook akhirnya penasaran juga, “Ada apa, sih? Perlu banget sama Saera? Aku nggak bisa bantu?”

“Entahlah.” Jawabku seraya menyeret langkah lemas ke atas tempat tidur lagi. “Kamu pernah pacaran? Atau minimal nge-date, mungkin?” Tanyaku tanpa menaruh harap sama sekali. Hanya supaya lega, sekali-kali sepertinya aku butuh mengeluarkan unek-unekku juga.

Ryeowook mengangkat alisnya, “Pernah. Sekarang juga sedang.” Jawabnya enteng sambil melanjutkan memencet-mencet kalkulator dan menulis-nulis lagi. Pasti kerjaan magangnya.

Ah, lupakan itu. Apa tadi dia bilang?? Pernah… Sedang?? “Kamu… punya pacar??” Seruku kaget.

Ia mengangguk, “Memang aku belum pernah bilang, ya? Oh ya, memang kamu kenapa? Baru jadian? Bingung mau nge-date kemana? Haha.” Ia tertawa kecil, yang seketika membuatku merasa jadi cowok ter-cupu sedunia!

Ah sial… Lain kali sepertinya aku tak bisa menilai orang dari luar lagi!

 

***

 

“Maaf, lama nunggu?” Pagi berikutnya, aku yang begitu sampai di kafe ini melihatnya ternyata sudah tiba lebih dulu segera mempercepat langkahku dan menyapanya.

Gadis yang mengenakan terusan selutut lengan panjang dengan rompi jeans itu mengangkat kepalanya dari cangkir berisi coklat panas yang ia genggam, “Oh, hai. Baru, kok. Good place.” Pujinya akan pilihan kafe ini.

Aku tersenyum kikuk. Ooh… Ryeowook-ah, saranghae!!

Dan dari situ, kami pun mulai berbincang, memperkenalkan diri masing-masing dengan lebih ‘proper’ lagi, mengenal lebih jauh satu sama lain. Karena memang setelah sesi curhat dengan Ryeowook kemarin, ia memilihkan tempat ini juga demi menyesuaikan dengan aku dan Minmi yang memang jadian di saat masing-masing belum terlalu mengenal (dia tak tahu kalau aku bahkan hanya tahu nama dan kampus pacar baruku ini saja!), ya supaya kami bisa mengobrol dan lebih mendekatkan diri seperti ini.

Tanpa kusadari, aku selalu menatap wajah Minmi selama obrolan kami yang sudah mendekati hitungan jam ini. Tanpa kusadari juga aku selalu tersenyum, karena sungguh melihatnya amat sangat tidak menjemukan! Ia selalu bicara dengan antusias, yang akhirnya kuketahui kalau memang itulah daya tarik seorang Hwang Minmi, di luar wajah dan penampilannya yang memang di atas rata-rata. Aku bahkan sampai tak menyangka kalau ia juga ternyata juga memerhatikan sikapku itu.

I like your smile.” Katanya, bahasa Inggris lagi. Sepertinya aku harus berterima kasih pada pekerjaan appa yang menuntutnya harus sering pindah-pindah negara, aku dan saudara-saudaraku juga jadi diwajibkan menguasai minimal bahasa Inggris sehingga aku juga jadi bisa mengerti perkataan gadis Korea warga negara Amerika Serikat ini.

 

 

Tapi aku masih tak memercayai pendengaranku, maka, “Hm?” Gumamku yang barusan masih menyuap busa cappucino-ku dengan sendok.

“Neo-ui miso ga joh-ahandago. (Aku bilang, aku suka senyummu.)” Katanya sambil tersenyum juga. Tapi… tunggu. Sepertinya aku pernah mendengar kata-kata itu…

 

“Ki-chan no egao ga suki. (Aku suka senyum Ki-chan.)” Kata Megumi setelah beberapa saat ia memperhatikanku yang memang sedang sangat asik memperbaiki Tamiya milik Yesung Hyung. Semenjak kenal robot, aku memang jadi suka sekali dengan hal-hal seperti ini!

Aku segera menoleh bingung. Tumben sekali ia memuji tiba-tiba begini? “Kamu sakit?” Tanyaku datar.

Dan dengan cepat ia langsung keluar dari rumahku dengan menghentak-hentakkan kakinya kesal.

 

“Hmph…” Aku rasanya jadi ingin tertawa mengingat itu lagi. Saat itu memang aku tidak mengerti, tapi setelah kupikir-pikir lagi sekarang… Apa jangan-jangan Megumi juga dulu menyukaiku? Dan itu salah satu cara dia menyatakannya? Wah, aku yang dulu memang sangat tidak peka… Eh, sekarang juga tidak begitu beda juga, sih.

Minmi memiringkan kepalanya bingung, “Wae?”

“Ani.” Jawabku, masih berusaha menahan tawa biarpun sudah lebih terkontrol kini. Aku kini tersenyum lagi padanya, “Hanya saja, sudah pernah ada yang bilang begitu padaku sebelumnya.”

Ia masih menatapku bingung.

“Minakami Megumi, teman masa kecilku, yang salah kukenali denganmu sejak awal lomba kemarin.” Jelasku lagi, lebih detil. Air mukanya terlihat mulai berubah, maka aku buru-buru melanjutkan dengan tanpa sadar meraih tangannya yang berada di atas meja, “Aku hanya ingin lebih terbuka padamu kok, karena bagaimanapun ia bagian dari masa laluku. Ia temanku yang berharga.”

“Hanya… teman?” Tanyanya ragu.

Awalnya aku terdiam, sebelum akhirnya memutuskan untuk tersenyum dan menggeleng, “Well, sebetulnya… bukan. Anaknya memang aneh, tapi dia cinta pertamaku.”

Air mukanya terlihat berubah lagi. Seperti… sedih? Apa dia cemburu?

Aku baru saja akan menanyakan itu ketika ia sudah menepuk ringan kedua pipinya seraya menggeleng, sebelum kembali menatapku lagi dengan senyum tulusnya (yang jauh beda dengan ‘senyum sinis ala Hwang Minmi’ kemarin), “Tapi aku bukan sekedar pelarianmu darinya, kan? Kalau memang bukan, then it’s okay.” Katanya lagi.

Diam sejenak. Sebelum akhirnya, senyumku pun pecah menatap gadis yang kini bisa dengan bangga kukatakan kalau aku menyayanginya itu. Aku menggeleng seraya tertawa kecil, “Bukan. Tentu bukan. Geokjeongma. (Jangan khawatir.)”

Dan ia membalasku dengan senyum termanisnya. Megumi, maafkan aku karena sepertinya aku telah menemukan partner hidupku selain dirimu…

Tak terasa 3 jam kami akhirnya menghabiskan waktu di kafe itu dengan obrolan yang rasanya tak habis-habis kami perbincangkan. Bercangkir-cangkir cappucino dan coklat panas pun habis hanya demi menemani omongan yang selebihnya tentu tak jauh-jauh dari dunia robot, hobi kami berdua itu. Kami sangat ‘nyambung’, seperti klop sekali. Padahal tahu sendiri aku biasanya diam, bahkan cenderung gagu, tapi gadis ini mampu terus memancing kata demi kata keluar dari mulutku!

Keluar dari kafe, kami pun sudah seperti dua orang yang sudah saling mengenal bertahun-tahun, hanya dalam 3 jam mengobrol! Hwang Minmi atau sesuai passport-nya Merissa Hwang, baru saja berulangtahun ke-21, pindah ke Korea untuk kuliah di Jurusan Sistem Informasi Universitas Sungkyunkwan. Tinggal di Seoul bersama kakak lelakinya yang sudah menikah dan telah lebih dulu pulang kampung ke negeri ini dari Amerika Serikat. Hobi gadis ini tentu, robot, tapi ia tidak ingin masuk kampus teknik yang identik dengan pria sepertiku, makanya ia memang lebih mengunggulkan pengendalian software dalam robot karyanya, yah, sesuai jurusan yang ia pelajari di kampusnya. Hobi lainnya yang sebetulnya selalu ia sembunyikan dari orang lain adalah kegemarannya bermain dance-simulation game, hasil ‘pencucian otak’ dari kakaknya yang memang seorang koreografer. Itu lho, permainan menginjak-injak board panah berbagai arah sesuai ritme dan instruksi layar yang sering kita temui di Timezone ataupun Fun World. Ia bilang itu sangat memalukan dan tidak sesuai image-nya, makanya ia hanya berani menyalurkannya di rumah (ia bahkan punya board Wii sendiri untuk itu!). Tuh kan, aku bahkan sekarang mengetahui fakta tentangnya yang orang lain pun bahkan tak pernah tahu. Rasanya aku bahkan bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya demi membicarakannya saja. Sedikitpun aku tak lagi menyesali kespontananku menyatakan cinta padanya kemarin.

Biarpun tentu, acara kencan hari ini tidak hanya sampai situ saja. Mengikuti saran Ryeowook lagi, aku pun mengajaknya berjalan-jalan di pertokoan sekitar kafe itu, melihat-lihat sekaligus ‘menurunkan’ minuman kami tadi sebelum nanti akan makan siang di tempat yang Minmi inginkan. Aku hanya memandanginya sambil tersenyum ketika dia begitu antusias melihat binatang-binatang dari etalase petshop yang memang berjejer disitu. Satu lagi hal baru tentangnya yang kuketahui: ia suka binatang. Sedang aku? Satu-satunya hal yang terbersit di benakku ketika melihat binatang adalah: kura-kura=Yesung Hyung dan kucing=Heechul Hyung. Selesai.

Senyum bahagianya karena melihat binatang-binatang lucu tadipun masih tersisa saat kami sudah kembali berjalan bersisian pasca melewati deretan toko-toko hewan tadi. Melihatnya begitu, entah kenapa aku juga jadi ikut senang, dan kembali berterimakasih dalam hati pada Ryeowook yang juga telah menyarankan acara ini dalam list kencan pertamaku. Aku pasti akan membelikannya teflon baru sebagai ucapan terimakasihku nanti.

“Hold hands?” Pertanyaan Minmi seketika kembali menyadarkanku dari lamunan. Dan begitu kembali ke dunia nyata, aku baru tersadar kalau dia sudah kembali berada di depanku, dengan tangan terjulur dan senyumnya yang menawan. Ah dasar memalukan saja, jangan sampai ia menilaiku sebagai cowok yang hobi ngelamun!

Maka sambil mengangguk, aku pun buru-buru menyambut tangannya yang sudah terjulur itu, menggenggamnya erat, “Sure.”

 

 

“Ini, rumahku. Mau masuk dulu?” Tawar Minmi begitu kami sampai di depan rumahnya. Aku memang kembali menawarkan diri mengantarnya pulang dengan motor kesayanganku itu, dan kali ini ia tidak menolak. Dan sampailah kami di sebuah rumah ukuran sedang berpagar hitam itu.

Aku menggeleng pelan, “Lain kali saja, takut merepotkan sudah malam begini.” Jawabku. Ia tersenyum maklum.

Dan melihatnya begitu… Setelah penuh perdebatan dalam hati, akhirnya aku tak kuasa juga menahan keinginanku memeluknya, memastikan kalau semua yang kami alami hari ini bukan mimpi. Kalau aku kini memang adalah kekasih seorang Hwang Minmi.

Maka dengan sebelah tangan aku pun meraih pinggangnya, menariknya yang sudah turun dari motor agar lebih mendekat lagi padaku. Ia tak menolak, dan malah tersenyum menatap kedua mataku. Perlahan kukecup keningnya penuh sayang…

“Minmi adikku… Kenapa temannya nggak diajak masuk saja ya??” Tiba-tiba suara merdu seorang wanita sudah menegur kekasihku begitu saja. Kami segera menoleh, dan tampak olehku seorang wanita muda nan cantik yang umurnya pasti tak lebih dari 23 tahunan sedang bertolak pinggang di depan pagar, pura-pura marah.

Minmi cepat-cepat tertawa malu setelah berhasil mendorongku sedikit menjauh darinya. “Hai, eonni. Ini Kim Kibum, ung… pacarku. Kibum-ssi, ini Stephanie Hwang, Tiffany. Kakak iparku, aku sudah cerita kalau aku tinggal dengan oppa-ku dan istrinya kan?” Katanya, gagap memperkenalkan kami berdua. Aku hanya mengangguk sopan padanya, masih dari atas motor.

Tapi kakak ipar Minmi yang tadi katanya bernama Tiffany itu dengan cepat mengubah ekspresinya ketika mendengar namaku. “Ki…” Gumamnya dengan tatap takjub. Aku seketika menatapnya kaget mendengar panggilan itu. Minmi pun dengan cepat juga memandang penuh arti pada kakak iparnya. Ada apa ini?? Bagaimana dia bisa tahu panggilan kecilku sewaktu di Jepang itu?? Aku baru akan membuka mulut ketika Tiffany sudah kembali melanjutkan seraya menggelengkan kepalanya, “…bum. Kibum… maksudku. Namamu Kim Kibum, kan? Aku Tiffany, istri oppa-nya Minmi, Gregory.” Ia tersenyum cantik. Aku menghela napas lega. Oh, itu maksudnya, pikirku.

“Dan nggak perlu panggil dia noona. Aku saja sebetulnya malas memanggilnya eonni. Tapi lingkungan Korea sangat penuh sopan santun, sih.” Timpal Minmi cepat. Aku tertawa, menyadari itu memang benar. Pasti sulit bagi mereka yang sudah terbiasa hidup bebas di Amerika, tiba-tiba harus kembali hidup di negara ketimuran yang banyak adatnya ini.

Minmi dan Tiffany segera ikut tersenyum lega merasakan suasana yang mulai cair di antara kami. Sadar hari yang makin malam dan udara yang tiba-tiba jadi sangat dingin, akupun cepat-cepat kembali mohon diri pada dua saudara ipar itu. Tapi Minmi segera menahanku sebentar, dan menyuruhku menunggunya sebentar saja sebelum kembali melesat ke dalam rumah. Tak lama, ia pun sudah kembali dengan membawa selembar mantel pria berwarna hitam.

“Pakai ini.” Katanya seraya membantu memakaikan mantel itu ke tubuhku. Sedang Tiffany sudah kembali masuk ke dalam dengan dalih cuaca yang mulai dingin.

Aku menatapnya bingung, “Kenapa? Jaketku cukup, kok…”

Ia menggeleng, “Lihat bulan, Jagi. Nah, selesai. Ini punya Greg, kakakku, jadi jangan lupa kembalikan ya.” Katanya sebelum CUP! mengecup pipiku kilat dan berlari masuk ke dalam lagi, meninggalkanku sendirian.

Dan dengan segera aku pun menoleh ke atasku, ke langit malam yang sedikit berawan itu, mencari bulan seperti kata Minmi. Dengan mudah akupun menemukannya, dan memang benar… kulihat sebuah cincin putih mengelilingi bulan penuh itu.

 

“Bulan yang ada cincinnya, tandanya hari itu akan turun salju pertama, lho.” Megumi mulai lagi dengan seluruh teorinya yang entah didapat darimana itu.

Aku menatapnya sangsi, “Iya, apa?”

“Yah, nggak percaya. Nah itu, baru dibilangin. Wah… salju…” Serunya takjub seraya menengadahkan tangannya seperti ingin menampung seluruh serpihan es yang perlahan menghujani kami. Aku dengan cepat menengadahkan kepalaku ke langit, memastikan kalau gadis ini kembali benar dengan semua tebakan cuacanya. Dan ya, memang satu per satu, salju pun berjatuhan, tanda dimulainya musim dingin yang menusuk bagi kota kami…

 

Bahkan sampai pada hal ini… Ya Tuhan… Minmi, kalau saja aku belum menyerah dengan tebakanku, aku pasti sudah menganggapmu Megumi lagi…

 

Di dalam rumah Minmi,

“Itu Ki, Minmi? Ki-chan… yang selama ini kamu ceritakan??” Tiffany cepat-cepat menarik pergelangan Minmi, meminta penjelasan sebelum gadis itu bahkan sempat masuk ke kamarnya.

Minmi mengangguk lemah.

“Dan kamu… pacaran sama dia, sekarang?? Kenapa aku nggak pernah tahu??”

Minmi mengangguk pelan lagi, “Baru kemarin, kok… Dan rencananya juga aku memang bakal bilang hari ini ke kamu… Tapi oh, Tiffs… ah, eonni,” ralatnya cepat. Fany segera menggeleng.

“Kalau berdua saja, Tiffs’ fine.” Katanya membolehkan. Minmi mengangguk.

“Aku… awalnya cuma ingin, well, ‘membalas dendam’ padanya… kamu tahu lah. Begitu tahu ia menyukaiku dan akhirnya ‘menembakku’ kemarin, aku langsung berpikir kalau inilah kesempatanku, apalagi setelah aku gagal mengalahkannya di lomba kemarin. Awalnya aku hanya ingin membuatnya terbuai, tergila-gila padaku dan di puncak rasa cintanya, aku akan mencampakkannya begitu saja seperti yang ia lakukan dulu padaku dan MeguKi. But–”

But then it turned out that he’s just too sweet sampai-sampai kamu nggak tega melakukannya, begitu?” Tebak Tiffany cepat. Why so drama? pikirnya dalam hati. Seluruh tindakan mantan adik sepupunya karena Kibum-Kibum ini selalu bagai drama. Dari make over, mengganti identitas, sampai aksi balas dendam yang terancam gagal karena biarpun belum sadar, di dalam hatinya sebetulnya masih menyayangi pria itu…

Tapi Minmi cepat-cepat menggeleng mendengar spekulasi Fany, “Bukan, bukan itu. Bukan hanya itu…” Katanya pelan, ragu-ragu. “Ki… Entahlah, hanya saja dari yang bisa kulihat hari ini, dia sepertinya bukan seperti apa yang selama ini kukira tentangnya. Dia sama sekali nggak terlihat sebagai cowok brengsek yang seenaknya membuangku dan MeguKi dulu… Dan buktinya ia bahkan terus mengingat ‘Megumi’, kan? Itu berarti–”

“Lalu apa yang mau kamu lakukan? Tiba-tiba bilang padanya: ‘Hai, aku memang Minakami Megumi yang kamu cari. Selama ini aku mengganti identitasku untuk membalas dendam padamu.’ Begitu?” Potong Fany, mulai sedikit jengkel dengan keplin-planan sang adik ipar, sepertinya. Minmi langsung terlihat shock, menyadari bahwa biarpun menyakitkan, tapi memang benar apa yang dikatakan Fany… Tapi wanita cantik yang barusan masih menyilangkan tangannya di depan dada itu dengan segera langsung tersenyum keibuan lagi, “Bukan berarti aku berprasangka buruk pada Ki, Minmi… Tapi apa kamu nggak pernah berpikir, kamu sekarang bisa dibilang sedang berakting. Bukan nggak mungkin kalau Ki pun saat ini, di depan seorang ‘Minmi’, juga melakukan hal yang sama… Semua orang pasti ingin terlihat bagus lah di depan pacar barunya… Ya kan?”

Minmi mengangguk pelan, “Apalagi aku yang sekarang adalah ‘Minmi’ yang cantik, ‘Minmi’ yang modis, ‘Minmi’ yang selalu mengundang decak kagum setiap orang yang melihatnya… Bukan ‘Megumi’ yang jelek, cupu, geek, aneh, mau dibandingkan juga nggak akan bisa kan… Semua pria normal, termasuk Kibum juga pasti tahu harus memilih dan bermanis-manis pada yang mana.”

“Aku nggak ngomong gitu lho, ya.” Fany cepat-cepat menginterupsi seraya tertawa renyah. Minmi tersenyum.

“Tapi ya, sekarang mataku seperti sudah betul-betul terbuka lagi. Aku bodoh banget ya… Baru ketemuan sekali saja sudah bikin tatanan hatiku hancur berantakan lagi begini. Padahal bagaimana mungkin semua perlakuan manisnya sehari ini bisa mengganti bertahun-tahun kebencian dan sakit hatiku atas pengkhianatannya? Nggak akan, Tiffs.”

“Hei, tapi jangan terlalu berapi-api juga lah, Dear. Go with the flow saja. Kalau nanti ternyata dia memang nggak sejahat yang kamu pikirkan selama ini, dan kamu juga masih sayang sama dia, silakan lanjut. Nggak akan ada yang ngelarang.” Canda Fany.

Minmi ikut tertawa karenanya, “Nggak lah, nggak. No way.” Katanya yakin.

Tiffany menaikkan alisnya komikal, “Yes, way.”

No way.

Yes–”

“Aduuh, ada apaan sih ini, ‘Yes way, no way‘?” Gregory yang baru saja sampai rumah langsung melancarkan aksi protes akibat pintu masuk ruang tamunya yang sulit dibuka karena terhadang dua wanita tadi. Minmi dan Fany cepat-cepat menyingkir dari situ–dengan Fany juga segera membantu membawakan sport bag suaminya–sambil cekikikan lebar.

Yang membuat Greg makin kepo dibuatnya, “Hei, ada apaan, sih??”

“Want to knowwww… aja. Hahaha!” Koor mereka serempak sambil ber-tos ria sebelum buru-buru ngacir, lebih masuk ke dalam rumah mungil itu, meninggalkan Greg yang segera jengkel ke ubun-ubun.

“YA!”

 

***

 

Hari demi hari berlalu, sebulan pun terlewati. Tak terasa libur musim dingin juga sudah di depan mata, yang bahkan tak bisa dibilang libur bagi mahasiswa tahun akhir sepertiku dan Minmi. Liburan musim dingin yang berlangsung sekitar sebulan, bagi para ‘pejuang skripsi’ seperti kami memang ada untuk memantapkan riset bahan tugas akhir. Di liburan ini kami ‘dianjurkan’, sunah muakad (?), untuk menghabiskannya dengan menuangkan seluruh hasil konsultasi, revisi kami dengan pembimbing akademik ke dalam tulisan dan karya yang impresif, sehingga begitu masuk nanti bisa langsung diajukan untuk sidang. ‘Dianjurkan’, karena memang memanfaatkan liburan dengan cara seperti ini tidaklah harus dilakukan, bagi yang ingin tetap liburan dengan selayaknya, ya silakan. Tapi bersiaplah wisudamu mengikuti gelombang tahun depan, yang bagiku sangat tabu! Sudah cukup adikku Saera yang lebih muda setahun dariku itu lulus terlebih dulu 2 bulan lalu, dan Ryeowook yang sekarang bahkan sudah magang dan sibuk mempersiapkan ujian masuk Program Profesi Akuntansi-nya demi menjadi Akuntan profesional yang teregistrasi. Tidak ada alasan lagi bagiku berleha-leha!

Dan tentang Minmi… Seperti yang kubilang tadi, sebulan telah terlewati. Tak terasa kalau aku dan gadis ini bahkan telah menjalin hubungan selama sebulan. Sebulan yang sangat menyenangkan dan menyejukkan hati. Sampai sekarang aku bahkan tak pernah tahu alasannya menerimaku dulu (menurut Ryeowook, si master percintaanku, sebaiknya aku memang tidak perlu dulu bertanya hal itu padanya), tapi melihatnya yang begitu tulus menyayangiku juga selama ini, sepertinya aku juga sudah tidak begitu khawatir apakah alasan awalnya mengiyakan ajakanku berpacaran. Terpaksa atau tidak, ada motif tertentu atau tidak, itu tak penting. Karena yang penting bagiku adalah perasaannya saat ini: terasa begitu tulus bagiku.

Nah, kembali ke topik. Sedang bagiku, punya pacar dengan interest, dan bahkan project skripsi yang sama, adalah keuntungan yang luar biasa besar bagiku. Ya, project skripsi Minmi juga adalah WeFo yang memang sudah ditekuninya sejak tahun akhir ini, sama denganku yang menaruh Advanced MeguKi sebagai tugas akhirku, hanya bedanya aku sudah menekuni robot ini nyaris seluruh masa hidupku. Keuntungannya jelas, bukan? Selain bisa saling tukar pikiran dan memberi ide bagi satu sama lain, kami juga jadi punya kesempatan lebih banyak menghabiskan waktu bersama di liburan musim dingin ini. Dengan tentu memakai dalih yang tak akan mungkin diprotes semua orang: menyelesaikan skripsi masing-masing.

“Jadi begini model tugas akhirmu? Agak sedikit beda dengan standar skripsi kampusku, tapi ayo kita berjuang sama-sama.” Ajak Minmi seraya tersenyum ke arahku pasca melihat draft tugas tertulisku di laptop. Hari ini adalah hari pertama kami mulai mengerjakan tugas akhir bersama di rumahnya, setelah pemikiran panjang tentang berbagai kemungkinan tempat yang bisa dipakai. Rumahku, itu sangat tidak mungkin. Kami tidak akan bisa bekerja karena terlalu ribut: 1. Saera yang hobi main telepon baik dengan teman maupun pacarnya, 2. Riuh bunyi kerontang seluruh alat masak Ryeowook yang jika libur begini pasti menyalurkan hobinya dibantu pembantu, 3. Bunyi latihan samsak Kangin Hyung kalau dia sedang di rumah, dan 4. Suara mengeong kucing-kucing Heechul Hyung. Edan.

Sedang untuk mengerjakannya di kafe atau resto 24 jam seperti Starbucks atau McD, sepertinya kurang nyaman bagi kami. Maka dari itu, jelas semua kemungkinan mengarah pada rumah Minmi. Kebetulan sang kakak dan istrinya juga tetap bekerja, sehingga rumah lebih sering kosong. Minmi pun terima-terima saja jika memang tujuan kami adalah mengerjakan tugas bersama-sama. Jadi semua: klop.

Kedua tangannya terlihat mengepal pasca ajakan itu, seraya berbisik “Aja, aja, fighting!” yang terlihat begitu manis di mataku.

Maka refleks aku pun ikut tersenyum, yang segera dilanjutkan dengan sesi diam cukup panjang karena kami akhirnya benar-benar terserap dengan pekerjaan masing-masing. Pada akhirnya, jika harus dihadapkan dengan hobi, kamipun dengan mudah bisa berubah ke diri kami aslinya lagi yang memang sama-sama serius dan (lebih tepatnya aku) pendiam. Sesekali kami mengulet, melenturkan bagian badan yang sedikit kaku akibat terus diam selama beberapa waktu itu, tapi tetap tanpa kata. Biarpun akhirnya aku sadar, kalau begini terus bisa-bisa skripsi kami akan selesai dalam sehari dan tak akan ada lagi dalih menghabiskan banyak waktu bersamanya seperti ini. Yah, biar kata aku se-kaku dan se-gagu apapun, tapi menyangkut masalah kekasih sepertinya aku cukup bisa disamakan dengan cowok-cowok biasa lainnya. Ingin terus bersama-sama, yah seperti itulah.

Maka berlagak menguap, aku pun menyorongkan laptopku sendiri ke arah Minmi, “Sepertinya aku sedikit mengantuk… bisa tolong kamu periksa sampai sini dulu?” Minmi memang dengan sukarela mengajukan diri sebagai editor tugas tertulisku sejak awal.

Kekasihku menoleh padaku yang sudah sukses menyandarkan diri di kaki sofa (kami bekerja dengan duduk di atas karpet ruang tamunya, dengan laptop di atas meja) dan meletakkan kepalaku di pinggir dudukannya. Ia tersenyum sekilas dan mengusap rambutku yang kini lebih pendek terlebih dulu, sebelum menekuni laptopku seperti yang kuminta tadi.

Merasakan hangat tangannya di rambutku barusan, akupun segera mengintip dengan membuka sebelah kelopak mataku. Segera, pemandangan dirinya dari belakang yang terlihat begitu serius meng-edit sana sini tugasku pun menyapa. Aku kembali tersenyum. Ah, rasanya sudah tak terhitung berapa kali aku dengan sukses dibuatnya tersenyum begini sejak pertama kami berhubungan. Dan lagi, aku memang sangat suka melihat bagian punggungnya seperti ini. Itu membuatku merasa bisa terus mengawasinya, menjaganya, dan mencegahku kehilangan jejak atas dirinya.

Maka tanpa sadar akupun sudah memeluk pinggangnya dari belakang dengan lembut dan meletakkan kepalaku di punggungnya. Begini sangat hangat, dan pastinya nyaman. Ia sepertinya sangat kaget di awal, tapi begitu tersadar kalau itu aku, ia kembali tenang dan malah tertawa kecil, “Kamu kayak kucing, deh. Ngantuk, ya?”

Aku hanya bergumam tak jelas dari balik punggungnya, antara ingin mengomel karena ketidakpekaannya itu tetapi malas, sekaligus juga sepertinya aku jadi memang mengantuk betulan.

Kembali tertawa, Minmi kini sudah sepenuhnya berbalik dan mengangkat kedua lenganku yang melingkar di pinggangnya. Ia mencubit pipiku yang kata orang sedikit chubby ini, “Jagi, bangun dong. Main DDR (DanceDance Revolution) saja yuk, kamu katanya penasaran waktu itu? Dijamin nggak ngantuk deh.”

Aku masih sok terpejam, biarpun sebetulnya aku ingin sekali menepis setiap tangan yang berani mencubit pipiku, termasuk dia (dan Megumi waktu kecil dulu). Tapi sepertinya kebiasaanku sejak kecil itu telah kalah oleh rasa sayangku padanya, makanya aku sekuat tenaga tetap diam.

Tapi ternyata ia tidak tinggal diam sepertiku.

…Karena tiba-tiba kurasakan sesuatu yang lembut menekan bibirku begitu saja, yang biarpun hanya beberapa detik tapi cukup membuatku seketika membuka mata karena kaget. Minmi perlahan juga membuka matanya sebelum memutuskan untuk mengangkat wajahnya sendiri dari wajahku. Ia tersenyum inosen seraya mengangkat bahu, persis seperti si confident Hwang Minmi di lomba lalu! “Seperti yang diceritakan, Snow White memang ternyata harus dibangunkan dengan ciuman, ya.” Katanya lugas sambil tetap tersenyum. Snow White adalah panggilan yang diberikan Heechul Hyung padaku, dan dia memang beberapa kali mendengarnya saat bermain ke rumahku waktu lalu.

Aku masih shock, “T-Tapi selama ini kamu selalu menolak jika aku… ingin menciummu!”

“Lalu? Apa itu berarti aku nggak boleh mulai duluan? Ah sudahlah, ayo cepat kita main, refreshing dulu–”

BRUK! Alih-alih ia yang menarikku bangun, aku dengan cepat malah menarik genggaman tangannya lebih kuat, sengaja agar gadis yang sudah setengah berdiri itu jatuh dalam pelukanku. Aku menggeleng seraya memeluknya yang terlihat kaget, “Bukan, itu berarti kamu harus bertanggung jawab atas tindakanmu sendiri.” Aku memeluknya lebih erat lagi, memejamkan mataku, mencoba merasakan harum rambutnya yang tergerai. Aku berbisik lembut di telinganya, “Terima kasih untuk tadi. Aku sayang kamu.”

 

***

 

“Minmi-ya… Jagi… Lama banget sih, nggak mau main lagi?” Aku berseru memanggil-manggil pacarku sendiri di dalam rumahnya. Sejak liburan lalu kami sering mengerjakan tugas akhir bersama disini, aku memang jadi sering sekali mengunjungi rumah ini, bahkan setelah skripsi kami selesai, di-submit, dan lolos seperti sekarang. Dan jujur, apa yang membuatku makin betah disini adalah mainan ini. Dance-simulation game kesayangannya. Gila, aku bahkan tak tahu aku akan suka pada acara ‘menggoyang-goyangkan badan’ seperti ini, tapi ternyata ini memang cukup menarik. Pantas Minmi tergila-gila padanya.

Tapi sebetulnya apa yang sedang dilakukan anak itu sekarang, sih? Tadi ia hanya bilang mau mengambil ponselnya yang tertinggal di kamar, tapi apa mengambil ponsel saja butuh waktu setengah jam? Maka bosan bermain sendiri, aku pun akhirnya memutuskan mengikuti jejaknya, masuk lebih jauh di dalam rumah ini (padahal biasanya teritoriku sebagai seorang ‘pacar’ hanya sampai ruang tamu yang juga bisa disulap jadi tempat main seperti tadi). Tidak lama–karena tidak begitu banyak juga ruangan di rumah yang hanya terdiri dari satu lantai ini–hingga akhirnya sampai di depan sebuah ruang dengan label ‘Minmi’s Room’ yang terletak di seberang ruang keluarga rumah ini.

Aku menarik napas lega karena melihatnya memang berada di dalam situ, sedang menelepon. Oh, pantas saja lama... pikirku maklum. Aku baru saja akan memberitahunya keberadaanku dengan mengetuk pintu yang sedikit terbuka itu ketika percakapan yang ia lakukan membuatku membeku seketika.

Percakapan bahasa Jepang, yang sangat lancar… dan melibatkan nama Jepang yang amat familiar buatku.

“…Un, kono Minakami Megumi wa sugu ni Nihon he kaeru, Papa-chan… Hai hai, ja, mata– (Iya, Minakami Megumi ini sebentar lagi juga bakal pulang ke Jepang, kok, Ayah… Oke oke, ya sudah, sampai–)”

Tapi nada tinggiku sudah keburu memotong perkataannya, seraya lebih membuka lebar pintu kamar itu. “‘Minakami Megumi ini‘??”

 

TBC

 

Entahlah, but i had so much fun ngetik part ini. mikirin kibum bakal se-sweet ini aja rasanya seneng ><

hope you’ll have as much fun as me reading it^^

Advertisements
 
19 Comments

Posted by on September 4, 2011 in Super Junior, [THE SERIES]

 

19 responses to “[THE SERIES] BAHASA LANGIT – Part 3

  1. ms.o

    September 4, 2011 at 8:37 pm

    first kah? dapat mug nih…ahahahahaha
    nah lho, mulai ketahuan ya? trus gimana dund eonn? mas mBum pasti marah deh, ,,aigooo,,,
    kacau..hiks..hiks..
    trus yg waktu nanyain tempat nge-date itu,,,makanya mas, don’t judge a book by it’s cover…pdhl udah under estimate gitu sama Wook, gitu2 dia pengalaman juga, ya gak Wookie? #tos sama wookie, deathglare dr mas mBum,,wkwkwkw

     
    • lolita309

      September 4, 2011 at 10:29 pm

      first… first terus loh km akhir2 ini hahaha 😀 *kasih payung cantik*

      jengjeng~ iya nih ketauan. cepet ya? padahal baru juga sayang2an hahahaha

      hahahaa, iya tuuh denger tuh bum…. kkkkk~ XP

      makasi uda baca sayang^^

       
  2. megumikim

    September 4, 2011 at 8:44 pm

    KYAAAAAAAAAAAA!!! < #gapentinglg

    omong diomong, itu sunah muakad apaan yak? ==a

    *langsung ngilang*

     
    • lolita309

      September 4, 2011 at 10:31 pm

      sunah muakad itu, sunah yang dianjurin… tingkatannya dibawah wajib. tny salsa deh. hahaha <– malah buka pengajian #PLAK XDD

      *langsung lempar petasan ngilang kayak iklan axis*

       
      • salishyun

        September 4, 2011 at 10:50 pm

        *lewat secara mistis* ada yang nyebut nama aku o_o *menghilang dalam kegelapan* (?)

         
      • hwangminmi

        September 5, 2011 at 6:51 am

        Yah komen aku yg diatas kepotong yah yah yah (╥_╥) (?)
        *cakar dinding wordpress* #emangbisa

        Pertama-tama, perkenalan dulu .-.

        Annyeong haseyo, the ‘less vocabulary girl’, megumikim imnida~ ~(˘▿˘~) ~(˘▿˘)~ (~˘▿˘)~ #PLAK

        Username yg ‘megumitm’ udah aku ganti jadi ‘megumikim’ loh eonni~ XD #gapenting

        Err, yg di atas anggap saja intermezzo (?) #apasih

        *mendadak panas*
        *langsung pingsan*
        *dibawa kerumah sakit*

        Beberapa saat kemudian… (?)
        #kenapajadiceritagini

        Ah pokoknya aku suka chapter ini eonni~ kyaaaaaaa~ *telat teriak*

        Eh tapi udah ketauan ya? Yah yah udah mau selesai dong yah yah (╥_╥) #mulaigajelagi

        Sayang sekali (?) saiia hanya main DDR disini, itu kan produk jepang eonni, produk koreanya namanya Pump it Up alias PIU huahaha~ (?)

        Oh iya eonni, udah cek e-mail, ff gaje saiia sama si ‘master typo’ salishyun sudah saiia kirim kesana~
        *lempar petasan*

        *bawa kabur kibum, langsung dissaparate*

         
  3. gaemchii

    September 4, 2011 at 8:59 pm

    hehehe.. Pdhl td bru aja mw nanyain di twitter ttg lnjutan ni ff, eh kburu nyonyah publish 🙂

    jd, awalnya si megu pengen ngebalas kibum gt? Eh trus waktu nyium Kibum, si megu msh kesal ato udh cinta beneran (lagi) sama Kibum?

    tbc nya pas lg seru ih -_-

    ps : aku juga suka suka bgt maen DDR! Walopun masi beginner si, tapi DDR lumayan lh bwt ngebakar kalori #plakk

    ayo lanjut nyah! 🙂

     
    • lolita309

      September 4, 2011 at 11:12 pm

      iyaaa awalnya pengen bales dendam gitu laah biasa anak mudaa #PLAK XP

      kalo yang itu…. gatau yah saya ahahaha XDD

      uhuy, dibilang seru^^

      saya malah belon pernah maen DDR -___- sering denger aja ._. #bleh

      okaaay, makasi uda baca sayang^^

       
  4. salishyun

    September 4, 2011 at 9:15 pm

    KYAAAAAAAAAAAA ANDWEEEEEEE XDDD geli sumpah baca ff nya ngebayangin Megu (bukan ngebayangin kibum ya!) se-agresif itu! sampe agresi militer belanda juga kalah! #plak #apadeh huweeee ini NC 17 XD #PLAK
    asli deh eon ini aku bacanya sambil tepuk tangan, senyum senyum, guling guling, jingkrak jingkrak, ngakak sendiri (kalau ngakak mah ngebayangin seorang megu se-so-sweet itu, mana mungkin mana mungkin! #plak *siap siap ditimpuk megu*)
    terus yang bikin ngakak lagi, bagian alasan kenapa mereka gangerjain tugas di rumah kibum, hahahaha wookie makin unyu aja disini =)) #halah
    kalau bagian aku gangebayangin Hwang Minmi itu bukan Megu mah, aku masih bisa terima FF ini cukup normal. tapi kalau ngebayangin itu megu…. *gantung diri* #plak *ngakak guling guling*
    ┐(‾.‾”)┐ ƪ(‾▿‾)ʃ┌(“‾.‾)┌ saya sudah gila dibuatnya lalalala #abaikan

    ryeowook udah punya pacar 😥 eonni nappeunde!!! huweeeee *nangis guling guling* (?) #borkenheart *lari kepelukan kyuhyun* #apadeh

    eonni daebak banget FF nya berhasil membuat saya ditatap dengan tatapan anda-sudah-gila? =))
    lolita eonni jjang \(´▽`)/ buruan lanjutin! (P.S: eonni adegan mesra mesraannya jangan banyak banyak yah ntar megu kegirangan #plak) *kabur dulu*

     
    • lolita309

      September 4, 2011 at 11:20 pm

      buhahahaahahah susah banget ya bayangin megu kayak gini? #digampar’

      yak, bagian alasan kenapa ga bisa ngerjain di rumah kibum itu emang sangat random, sesuai penghuni rumahnya yang ga bener semua -_____-

      ecieee beneran jatuh hati pada ryeowook nih, sampe gravatarnya aja doi ckckckc ._. <– salah emoticon (?)

      jaaaaaah itu mah ga usah karena baca ff saya, bukannya tiap hari anda juga ditatap begitu tapi ga ngerasa aja? #dihajarsalsa XPP hehe becanda kok^^ iyaaaaa makasi, senang bisa membuatmu begitu =)) sip, tenang aja, mesra-mesraannya udahan kok, kan udah ketauan tuh *tos, sama2 ga ridho megu seneng* <– #ditendangmegu

      makasi uda baca^^

       
      • hwangminmi

        September 5, 2011 at 6:59 am

        Yak, sesuai keinginan salsa saiia komen disini .-.

        kalo sama kibum apapun bisa terjadi hyun (?) (´._.`)\(‘́⌣’̀ ) *tapi bukan nc yak* #apaandeh

        Itu 6 bersaudara kok sifatnya bisa beda” semua ya? Amazing~ #barusadar

        Ryeowook udah punya pacar lalala~ pacarnya siapa ya eonni? XD #mendadakrandom

        Udah gaje, kabur dulu ah~

         
      • salishyun

        September 5, 2011 at 11:45 am

        SUSAH BANGET EONN XD #kabur
        suka bagian ryeowook (lagi) dan kucingnya heechul =))
        kekekek mendadak cakep tuh ryeowook sejak ff ini terlahir (?)
        eh iya sih emang bener eonn :/ *lirik kiri kanan*
        yeeeahhh! megu sama kibum end (mesra mesraannya :D) #plak
        sama samaaaaaa eonni :* #mainsosoraja (?)

         
  5. @eunmaysha

    September 5, 2011 at 6:53 am

    Eh nugu nugu pacar si wookie? Iuuu wookie ud pya cwe!
    G da heechul ya? Td aq smpt ngakak lo ama kata2 “EDAN” g tau knp?
    Itu jg minmi ketauan kan,,, cpt2 ketauan dah,aq pgn tau kibum bkal gmana!
    Dtgu next partnya ^^

     
  6. asihkpop

    September 6, 2011 at 6:14 pm

    eonii… Makin seru aja…
    Aigooo… Romantis..
    Suka..suka..

     
  7. oepieck

    September 8, 2011 at 5:33 pm

    eonniiiii so sweet banget ini,
    ya ollloh, all i can say is ceritanya bener” asyik
    lebih berasa teenlit daripada cerita” dewasa kayak cerita” yora, leeteuk dkk
    ah, pokoknya asyik banget baca ff ini sampe langsung terbang ke part 3

    ih, kibum kibum kibum
    imut banget waktu dia meluk minmi dari belakang dengan segala pemikirannya itu
    apa yang mau kamu lakuin di part 4 setelah tahu minmi itu megumi?
    g sabar~

    eh, di part 2
    ada heechul yang katanya sering pulang pagi, ngunci diri di kamar, dll….
    eonni serius nih mau bikin heechul jadi psikopat? huwuwuwu~
    eh, btw, shock pas adegan saera nyium ryeowook
    klo kenyataan udah pingsan aku~

    sebelumnya maaf sekali ini telat banget bacanya
    bales tweet eonni juga telat banget
    ngucapin met Lebaran juga telat
    haduuuuh~ maapin ya eon….

     
  8. lolipop

    September 24, 2011 at 6:39 pm

    whoaa, can’t stop smiling read your story 🙂
    hello, I accidentally stop at your blog and I read your story and I love it much at the first time i read it, you such a good writer 🙂
    well, just wanna tell you that I really appreciate your story, keep writing with passion 😉

     
    • lolita309

      September 25, 2011 at 11:02 pm

      whoaaaaa, thank you and welcome! 😀

      happy to have another beatiful reader here, and SOOOO happy to hear such a compliment, hope i can always be better than before 🙂

      i’ll bear that in mind, thank you so much for the cheering, darling! my name’s lola, very nice seeing you 🙂

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: