RSS

[THE SERIES] BAHASA LANGIT – Part 2

23 Aug

BAHASA LANGIT – Part 2

(Part 1)

Written by: Lolita Choi (@lolita309)

Starring: SJ’s Kim Kibum

Hwangminmi/megumiTM as Minakami Megumi and Hwang Minmi

Flashback

“Tunggu.” Suara pelan seorang pria dan genggamannya di pergelangan Minmi seketika menghentikan gadis itu dari perjalanannya bersama para kawan untuk keluar dari lingkungan kampus Institut Teknik Seoul dan segera pulang ke rumah masing-masing. Gadis itu dengan cepat berbalik, dan begitu mengetahui siapa tersangkanya, segera kembali beralih pada teman-temannya dan menyuruh mereka duluan saja.

Karena pria itu Kim Kibum. Rival utamanya dalam kompetisi ini.

“Ya?” Tanya Minmi setelah menepis genggaman Kibum dengan tegas.

“Aku tanya sekali lagi, Hwang Minmi. Apa kamu Minakami Megumi?”

Sesaat, Minmi seperti tidak sanggup menatap mata Kibum yang terlihat berkilat-kilat seperti sangat yakin dengan pertanyaannya itu, sebelum akhirnya ia memutuskan menatap balik pria itu dengan pandangan se-yakin yang sama, “Aku bilang BUKAN, Kim Kibum.”

Flashback End

 

“Fuhh…” Minmi meniup poni depannya lemas di atas ranjang empuknya malam itu. Dalam pelukannya terdapat WeFo si robot mungil ciptaannya sebagai teman bergalau. Namun galau hari ini bukanlah karena tegang mau menghadapi finalnya besok, melainkan karena kejadian yang ia alami bersama dengan Kim Kibum tadi sore. Di bayangan Minmi masih jelas sekali ingatan tentang mata Kibum yang begitu menyala-nyala saat menginterogasinya sebagai teman masa kecilnya itu. Kenapa ia bisa begitu yakin? Kenapa ia bahkan begitu kuat pendiriannya sampai-sampai menanyaiku dua kali?

“Bukan, bukan. Ia sudah melupakanmu, Minmi. Kalau nggak, kenapa dulu ia menghilang begitu saja bahkan tanpa berpamitan sama sekali? Ah, WeFo… ani. MeguKi #2… apa yang harus eomma lakukan??”

 

8 tahun yang lalu,

“Lalala… Ini termometer elektrik untuk MeguKi, bautnya, murnya… Eh perlu rambut nggak ya? Tapi MeguKi cewek apa cowok sih? Um…” Megumi yang masih berusia 13 tahun dan sedang menghabiskan liburan musim panas kelas 1 SMP-nya di Hawaii bergumam sendiri begitu melihat begitu banyak pernak-pernik elektro yang ia temukan di Spareparts Center ini. Waah, ternyata belanja bahan robot menyenangkan sekali!

“Hey, Megumi. You really want to be a robot maker, don’t you?” Tiba-tiba kehadiran seorang pria sudah mengagetkannya saja dari belakang. Megumi remaja segera menoleh dengan terkejut.

“Kyaa! Oh my, Uncle Mike!” Serunya kaget sekaligus lega begitu mengetahui siapa gerangan si penegurnya. Salah satu familinya di Hawaii ini, adik ipar dari sang ibu. Ia masih mengelus-elus dadanya sambil berusaha lanjut menjawab, “Um-hum… Thanks for your info last night, that helps my project A LOT!”

“Anytime, dear.” Jawab sang paman. “Still keep my design for your project, right? Just shop base on that, so that yo won’t need this… and this…” Satu per satu ia meletakkan kembali bahan-bahan rakitan yang berada dalam troli belanja Megumi yang memang menggunung. Gadis berkacamata itu hanya bisa nyengir sambil menggaruk rambut acak-acakannya. “You said your purpose is to get this robot helps people in your city, right? Is it considered helping if the cost for your robot too much?”

Megumi menggeleng pelan seraya menunduk malu menjawab tanya Uncle Mike-nya. Kenapa ia tak berpikir begitu ya?? Orang dewasa pikirannya memang selalu maju! Eh, tapi ada juga sih anak seumurnya yang juga pikirannya se-maju itu… Iyalah, siapa lagi kalau bukan partner tersayangnya, Ki-chan.

Ah, bicara tentang Ki… Dia jadi betul-betul tidak sabar ingin menanti hari kepulangan keluarganya kembali ke Jepang esok hari. Bukan, bukan karena ingin bertemu dengan anak itu, kok! Dia cuma berpikir apa Ki betul-betul menjaga calon MeguKi #1 dengan baik, ya? Huh, awas aja kalau nggak! Aku akan membuat anak itu bukan hanya pendiam, tapi tidak bisa bicara lagi untuk selamanya!

“Megumi, Tiffany’s calling you.” Uncle Mike-nya menunjuk seorang gadis cantik berwajah Asia yang kini sedang melambai-lambai di luar toko suku cadang itu. Wajah Megumi seketika berubah cerah dan cepat-cepat menyerahkan keranjangnya pada sang paman untuk tolong dibawakan ke rumah sebelum ia segera menghampiri sepupu favoritnya itu.

“Tiffs!”

“Hai!” Balas Tiffany seraya membalas pelukan adik sepupunya yang baru menginjak ABG itu. “Siap dengan make over kita?”

Megumi mengangguk pasti, “Um!”

 

Di rumah,

“Na, Megumi… Jujur aja ya, ada cowok yang lagi kamu suka, kan?” Goda Tiffany sambil terus menyisir ‘rambut singa’ Megu. Tidak seperti Uncle Mike-nya tadi yang memang bule, Tiffany adalah pure gadis Jepang makanya ia bisa berbincang-bincang fasih dengan bahasa itu dengan Megumi. Karena biarpun sejak bayi ia berkewarganegaraan Amerika Serikat mengikuti sang ayah, kakak dari ibu Megumi, yang memang sejak bekerja di Hawaii berpindah warga negara, tapi berhubung kedua orangtuanya Jepang asli, setiap hari pun di rumah ia berkomunikasi dengan bahasa ibu-nya itu.

Megu cepat-cepat menoleh, “Sonna koto nai! (Mana ada yang kayak gitu!)”

Tiffany makin cekikikan melihat ke-salting-an sepupunya. Habis bagaimana ia tidak curiga? Seorang Megumi yang berantakan, kacau, kemarin malam tiba-tiba minta didandani segala dan diubah penampilannya! Gadis seusianya, kalau bukan karena cowok karena apa lagi, coba?

“Ii yo. (Nggak apa-apa, kok.) Aku aja, sebetulnya kemarin baru aja dilamar.” Kata Tiffany seraya mengangkat tangan kirinya, menunjukkan selingkar cincin yang tersemat manis di jari manisnya dengan wajah merona, terlihat bahagia sekali.

Sukses menganga, Megumi segera bangkit dari kursi riasnya dan berbalik, “Hontou? (Betulkah?) Gregory?? Tapi kan kamu masih kelas 2 SMA!” Ia menyebut nama pacar long-term Tiffany sejak masuk SMA, si pria berdarah Korea namun berkewarganegaraan AS seperti Tiffany juga, Gregory Hwang.

Tiffany mengangguk antusias, “Iya, rencananya lulus SMA nanti kami akan langsung menikah. Seru kan? Apalagi Greg juga sudah settle sebagai koreografer. Dakara, daijoubu da yo. (Makanya, nggak apa-apa deh.)” Senyumnya sebelum kembali memaksa Megumi kembali duduk untuk melanjutkan make over mereka.

“Demo, hontou daijoubu kana… Ji-chan? Ba-chan? (Tapi, apa betul nggak apa-apa… Paman? Bibi?)” Tanya Megu khawatir.

Fany menggeleng, “Ii. Daijoubu. (Iya. Betul, kok).” Jawabnya sambil terus mengoleskan krim pelurus rambut sebelum mencatok rambut sepupu ABG-nya. “Pria Korea itu gentle banget, lho… Makanya kalau kamu suka dia, kejarlah. Nggak akan rugi.” Mulai Tiffany lagi dengan ledekannya.

BLUSH! Seketika pipi Megu terasa panas. “Ihh, apa sih. Cowok Korea apa?” Tutupnya dengan ngomel-ngomel.

“Yee, malu tuh… Hihi aku tahu, lah… Tiap hari kamu omongin dia gitu. Apaan tuh partner bikin robot… alasan!” Fany memeletkan lidahnya meledek.

Pipi Megu makin menggembung demi menutupi perubahan warna merah disana mengingat sang partner yang memang makin tampan setelah SMP itu, “Uhh… Shut up, you!”

Maka begitu ia sudah kembali menginjakkan kakinya di Jepang dengan tampilan baru: rambut lurus dengan poni samping yang dijepit manis, dress kasual berbahan jeans (pokoknya mau diapain pun ia harus tetap pakai jeans!) yang semuanya hasil karya Fany, Megumi pun tanpa ada jetlag-jetlag lagi padahal baru menempuh perjalanan 8 jam Hawaii-Jepang langsung berlari ke arah rumah keluarga Kim sambil membawa bahan-bahan robotnya sebagai alibi. Ya, alibi. Karena biarpun memang ia ingin memperlihatkan semua yang telah dibelinya untuk MeguKi, tapi alasan utamanya adalah karena ia ingin sekali Kibum menjadi orang pertama yang melihat transformasinya. Biarpun tentu, ia tidak berharap banyak dari respon anak itu (pasti dia hanya akan mengangguk-angguk saja tanpa kata kan? Pasti!) tapi tetap saja. Besok-besok ia takut tidak bisa menjadikan dirinya secantik maha karya Fany ini, makanya ia harus cepat memamerkannya pada Ki! Sampai-sampai tadi di pesawat saja ia rela tak tidur dan terus duduk tegak hanya agar rambut barunya tidak rusak lagi.

“Ki…! Ki-chaaan…!” Megu memanggil-manggil nama si empunya rumah di depan pintu sambil terus berkali-kali memencet bel yang ada di sebelahnya. Tak ada respon. “Sumimasen… Konnichiwa…!”

Tetap tak ada yang menjawab ataupun keluar sama sekali.

Megumi mengerutkan keningnya bingung. Apa mungkin mereka semua sedang keluar? Maka demi memastikan sekali lagi, ia pun segera melangkahkan kakinya melompati titian batu yang ada di taman yang menuju samping rumah keluarga itu, mencoba melihat keadaan ruang tengahnya. Kosong, gelap. Dan tiba-tiba… matanya menangkap seonggok kerangka robot setengah jadi yang tergeletak begitu saja di teras samping rumah itu. MeguKi #1.

Megumi meraih kerangka robot sebesar boneka itu dan cepat-cepat memeluknya. Tapi tunggu… kenapa dia berdebu sekali? Apa Ki tidak menjaganya dengan baik? Dasar anak itu, lihat saja nanti!

Maka sejak itu, setiap hari Megumi pun mengunjungi rumah Kibum hanya demi mengecek apakah keluarga itu sudah pulang. Sekarang spekulasinya adalah bahwa keluarga Kim pastilah sedang berlibur di last minute dari libur musim panas ini. Namun ketika hari masuk sekolah sudah tinggal sehari lagi dan Ki belum juga kembali, entah kenapa perasaan Megu mulai tak enak… Dan itu semua terbukti ketika ia mendengar semuanya dari guru sekolah mereka.

“Mulai semester dua ini, Kim bersaudara sudah tidak akan bersekolah disini lagi. Mereka sudah kembali ke Korea karena masa tugas ayahnya yang sudah berakhir disini. Jadi kita doakan yang terbaik untuk kesuksesan mereka di negaranya, ya.”

“Hai, Sensei…! (Ya, Sensei…!)” Jawaban serentak para murid pun segera menjawabnya.

Namun tidak yang terjadi dengan Megumi. Ia bahkan sama sekali tidak ikut menjawab ajakan gurunya tadi, karena kini, untuk bernapas pun sulit baginya setelah mendengar berita mengejutkan itu. Kim bersaudara… sudah pergi? Ki… meninggalkannya dan MeguKi begitu saja? Tanpa seujar katapun?? Makin sulit merasakan keberadaan oksigen di ruangan kelasnya, Megumi pun segera mohon izin untuk keluar sebentar pada sang guru.

Megumi berkali-kali tersandung semua barang kecil yang menghalangi langkah kakinya mulai dari tempat sampah sampai beberapa kursi yang diletakkan di luar kelas. Napasnya memburu, airmata seakan sudah siap tumpah dari kedua matanya yang sekarang dilapisi softlense dan bukan kacamata kuda lagi, namun ia cepat-cepat menengadah demi mencegah tetes air itu turun. Tidak, tidak, untuk apa menangis?? Dia bahkan ternyata tidak pernah dianggap selama ini oleh orang itu! Kedudukannya sama sekali tidak berbeda dengan teman-teman yang lain, orang yang bahkan tidak cukup penting untuk dipamiti sebelum ia pergi untuk selamanya dari Jepang. Jadi untuk apa menangisi hal itu? Seharusnya ia marah, karena Ki telah berkhianat. Ia menelantarkan MeguKi begitu saja, mengkhianati janjinya untuk terus berpartner dengannya menciptakan MeguKi.

“KIM KIBUM DAIKIRAI!!! Dai… kirai… (AKU BENCI SEKALI PADAMU, KIM KIBUM!!! Benci… sekali…)” Teriak Megumi dari atas atap sekolahnya, sebelum… BRUK! ia akhirnya jatuh terduduk di alas beton atap itu. Dan satu-satu, airmata pun mulai membasahi seragam sailor SMP-nya. Ternyata ia tetap tidak bisa memungkiri bahwa kebencian akibat pengkhianatan ini memang menyakitkan… Dan airmata ini adalah untuk rasa sakit itu, dan dia juga bersumpah, inilah yang terakhir. Yang terakhir bagi seorang Kim Kibum…

Flashback end

 

“Minmi-ya, mwohani? (Minmi, lagi apa?) Kenapa bicara sama robot? Ah ya, aku lupa kalau kamu memang punya hobi begitu, ya.” Tiffany yang tiba-tiba masuk kamar Minmi seketika menyadarkan gadis itu dari lamunan.

“Oh, nggak ngapa-ngapain, kok…” Jawab Minmi sambil bangkit dari tengkurap dan duduk bersandar di kepala ranjangnya. Tiffany segera mengambil duduk di pinggir tempat tidur itu. “Greg sudah pulang?” Tanya Minmi lagi.

Tiffany menggeleng, “Belum. Kamu belum tidur? Besok final, kan?”

Minmi mengangguk, “Ya, sih… Ah, eonni.” Ia tiba-tiba memegang pergelangan Tiffany yang baru saja meraih sebuah majalah Minmi untuk dibaca. Wanita yang sudah selama 6 tahun ini berganti nama belakang menjadi Tiffany Hwang akibat pernikahannya dengan sang suami itu segera menoleh bingung pada sepupunya. “Ki… Aku benar-benar bertemu Ki.”

Seketika kedua mata Fany membulat kaget, “Jinjja?? Lalu kamu bilang tentang kamu?” Tanyanya, khawatir dengan kondisi hati dan perasaan sepupunya itu pasca pertemuannya lagi dengan penyebab keputusan Minmi (atau Megumi) untuk akhirnya ikut dengan keluarga Hwang ketika lulus SMA tiga tahun lalu, mengganti identitasnya, dan melanjutkan kuliah di negeri ini hanya demi mengembangkan kemampuan membuat robotnya di atas tanah yang sama dengan Kibum. Karena siapa tahu ia bisa kembali bertemu dengan orang itu yang telah mengkhianatinya, dan membuktikan kalau ia bisa tetap berjuang dengan robot cuacanya sendiri, tanpa bantuannya…

Yang ternyata itu semua menjadi kenyataan hari ini. Maka ia hanya menggeleng lemah, sesuai kenyataan yang terjadi tadi. “Nggak…” Jawabnya dengan kepala akhirnya terkulai ke bahu orang yang secara hukum kini adalah kakak iparnya itu. “Ah eonni, aku tahu aku harus tetap teguh dengan tekadku membenci dan jika boleh dibilang, membalas dendam pada Ki. Tapi tetap saja, hatiku rasanya sakit sekali ketika tadi harus berbohong kalau aku bukanlah Megumi… Kenapa dia bahkan masih mengenaliku? Bukankah dia sudah melupakanku makanya pergi begitu saja dulu… Bukankah aku nggak pernah punya arti baginya…?”

 

***

 

Sementara itu,

Sepulang dari kampus pasca lomba itu, aku buru-buru memasuki kamarku dan Ryeowook dan menutupnya rapat-rapat. Kurebahkan badanku di kasur, tapi tetap saja itu tidak membantu meringankan beban pikiranku akibat gadis itu… Hwang Minmi. Ya, Hwang Minmi dan bukan Minakami Megumi. Ah Kibum, sudahlah terima saja kalau dia memang bukan Megumi! Megumi tidak akan mungkin tiba-tiba berubah jadi orang Korea, kan? Lagipula lihat saja penampilannya, dia sama sekali bukan Megumi-mu! Tapi… mengapa entah kenapa hatiku seperti sama sekali belum bisa menerima??

TOK TOK!!

Aku menoleh ke arah pintu dengan tubuh masih terbaring terlentang di atas kasur. Siapa di rumah ini yang bahkan masih peduli dengan etika mengetuk pintu? “Masuk.” Kataku akhirnya.

Plop! Kutatap wajah adikku yang tiba-tiba sudah melongok dari balik pintu saja. “Oppa, mwohae? (Oppa, lagi apa?)” Tanyanya. Ia tersenyum seraya melangkah masuk dengan meloncati ubin hitam-putih kamar ini. Rambut lurus berponinya yang terkuncir kuda ikut bergoyang seiring langkah lompatannya itu. Haha, adikku memang gadis yang sangat menyenangkan. Itulah kenapa biarpun ia selalu cerewet dan selalu ingin tahu, aku sangat menyayanginya melebihi siapapun di rumah ini.

Tapi aku tetap tak menjawab pertanyaannya. Karena memang aku tahu itu juga hanya basa-basinya, jadi biarkan sajalah. Dan benar saja, ketika ia sudah mengikuti jejakku berbaring di atas kasur yang sama dengan kepala bertumpu di lenganku, keluar jugalah maksud asli dari kunjungannya ke kamarku ini, “Oppa, masih mikirin cewek di lomba tadi ya?”

Tepat seperti dugaanku, ke-KEPO-annya itu.

Aku menarik lenganku dari bawah kepalanya, pegal juga ternyata. Aku tak pernah tahu kepalanya seberat itu. Pasti penuh dengan not-not balok dari musik-musik keahliannya itu deh. “Nggak.” Jawabku singkat.

“Geojitmal. (Bohong.)”

“Ya sudah kalau nggak percaya.” Jawabku seraya memiringkan tubuhku, memunggunginya.

“Jeongmal?” Yakinnya lagi dengan memicingkan matanya. Aku tak menjawab, tapi seperti biasa adikku itu sudah langsung mencapai ‘mufakat’-nya sendiri. “Ja, geureom. Wookie… deureowa…! (Ya sudah kalau begitu. Wookie… masuklah…!)” Serunya ke arah pintu. Aku langsung ikut menoleh juga, dan seketika tersembullah kepala keriting coklat milik kakak kembarku. Ia nyengir sebentar disana sebelum akhirnya melangkah masuk ke kamarnya sendiri juga ini.

“Ngapain kamu masuk kamar sendiri aja pakai aba-aba Saera gitu?” Tanya begitu dia sudah duduk di atas kasurnya sendiri di seberang milikku. Ranjang kayu yang diisi bedcover, sprei, dan segala perangkat warna biru itu memang hanya dipisahkan oleh sebuah meja lampu dari ranjang bertipe sama milikku, biarpun aku lebih suka dominan warna netral hitam mengisinya.

Ia nyengir lagi, biarpun akhirnya tetap si bawel Saera yang menjawab, “Wookie takut soalnya muka oppa pas datang tadi seram gitu. Makanya aku disuruh memastikan keadaan dulu, aku kira oppa masih bete gara-gara ditolak dua kali sama cewek tadi.”

“Aku nggak nembak cewek tadi dan panggil Wookie dengan ‘Oppa’, Kim Saera.” Lurusku dingin sekaligus mengingatkan Saera lagi tentang silsilah keluarga ini: Ryeowook kakakku, yang notabene kakaknya juga. Masa dia memanggilku oppa tapi memanggil orang yang lebih tua (biarpun hanya beberapa menit) dariku hanya dengan nama saja? Sudah sejak kecil pula dia begitu.

“Nggak apa-apa, Kibum-ah. Aku juga jadi merasa muda terus kalau Saera anggap aku temannya. Ya, Saera?” Ryeowook membelanya seraya tersenyum pada bungsu kami itu. Dasar, orang rumah ini memang selalu memanjakannya hanya karena dia satu-satunya wanita sejak eomma ikut appa tugas di luar negeri lagi. Tapi anehnya Saera malah jadi paling dekat denganku justru karena memang hanya akulah yang paling berani menegurnya itu. (Biarpun kata hyung-hyungku yang lain itu semata-mata hanya karena Saera si tukang ngomong yang merasa klop ketemu dengan orang ‘gagu’ seperti aku sih, jadi tidak akan ada yang menyelanya saat berkicau.)

“Ne…” Saera menjawab juga dengan senyum. “Aang~ Wookie memang eternal maknae. Sini ppoppo dulu.” Lanjutnya seraya mengulurkan kedua lengannya dan melangkah menuju kasur sebelah untuk mengecup pipi kembaranku yang tentu saja, disambut dengan senang olehnya.

Aku berguling ke arah yang lain lagi, malas melihat mereka. “Suka-suka kalian, lah.”

“Tapi oppa, betul kan oppa bukan galau gara-gara cewek tadi?” Pasti Saera sekali lagi, sebelum bangkit dari kasur Wookie untuk keluar.

Aku hanya menggumam tak jelas sambil memeluk bantalku, mau pura-pura tidur saja. Mengerti maksudku, ia pun mengangguk sebelum membuka pintu kamar kami, “Ya sudah, lain kali aku kenalin sama temanku ya, sebenarnya banyak yang naksir oppa lho! Jalja. Jalja, Wook-ah.” Pamitnya seraya berdadah-dadah pada kembaranku juga, sebelum BLAM! menutup pintunya.

Aku menggeleng-geleng sambil menarik selimutku sepeninggalnya, akhirnya jadi betul-betul berniat tidur. Yah, kalau dia memang bukan Megumi, berarti aku tidak boleh ‘lembek-lembek’ terhadapnya kan? Aku harus istirahat agar besok bisa final dengan prima! Biarpun tentu aku tak lupa memperingatkan Ryeowook yang memang mudah sakit sebelum benar-benar tertidur, “Pakai kaos kakimu, Wookie. Malam ini akan dingin.”

“Hm?” Aku yakin ia langsung memasang tampang bingung menatap punggungku.

Aku menunjuk bulan yang bersinar cerah, terang tanpa terhalang awan atau kabut secuil pun di luar jendela kami, “Megumi.”

Karena biarpun mungkin selama ini aku tak pernah bisa menemuinya lagi, tapi setiap perkataannya, setiap bahasa langit yang ia ajarkan, hatiku selalu mengingatnya…

 

“Ki-chan, bawa jaket yang tebal ya, nanti campingnya dingin.”

“Hm?”

Ia menunjuk bulan di atas rumahku, “Clear moon, frost soon.”

 

***

 

“Annyeonghaseyo, Jang Wooyoung imnida. Hari ini saya akan mempresentasikan–”

Dan hari final kompetisiku ini pun akhirnya dimulai. Setelah pembukaan dari MC dan sambutan sana-sini, intinya pun dijalankan juga: presentasi karya menyeluruh dari tiga finalis yang ada. Tiap finalis diberi waktu 15 menit untuk menyampaikan semua yang perlu disampaikan tentang hasil karyanya: mulai dari tujuan pembuatan, bahan-bahan, fungsi, latar belakang ide, apa saja! Setelah pengundian tadi diputuskan urutan tampil kami adalah Jang Wooyoung tadi, aku, barulah si peserta wanita Hwang Minmi. Aku suka sekali posisiku sebagai orang di tengah-tengah ini, apalagi fakta kalau aku harus tampil sebelum Hwang Minmi yang notabene punya karya dengan tipe yang sama denganku. Jadi aku punya kesempatan lebih dulu untuk menarik perhatian juri hanya pada karyaku saja.

“–dengan kemampuan Pecko tadi, maka diharapkan para orangtua yang memiliki bayi atau balita akan lebih santai mengerjakan tugas-tugas rumah mereka, karena Pecko akan selalu siap memberitahu jika putra-putri Anda menangis atau tiba-tiba terbangun dari tidur.”

“Yak, waktu selesai!” Sang MC tiba-tiba berseru. Si Jang Wooyoung itu pun juga segera mengangguk, tanda ia memang sudah selesai dengan materinya. Setelah tiap presentasi, akan ada sesi tanya jawab maupun pemberian masukan dari juri. Dan untuk kasus Jang Wooyoung ini, kuakui ia memang kuat pada materi, tapi sepertinya ia bukan tipe orang yang mampu berpikir cepat, atau mungkin sebelumnya ia tidak berlatih mengantisipasi berbagai pertanyaan yang mungkin dilontarkan juri. Bisa dilihat darinya yang sering terlihat berpikir cukup lama sebelum menjawab pertanyaan yang bahkan hanya seputar karyanya sendiri itu, maupun malah menjelaskan secara panjang lebar yang membuat para juri termasuk kami, penonton, jadi tidak bisa menangkap inti jawabannya itu.

Ah, ya sudahlah. Yang penting kini giliranku, aku harus bersiap-siap.

“Finalis selanjutnya: Kim Kibum dan Advanced MeguKi-nya!” Panggil si MC.

Aku maju seraya tersenyum dengan senyum khasku yang entah kenapa segera disambut suara teriakan mahasiswi kampus-kampus lain (kujamin 100% kalaupun ada yang dari kampusku, itu pasti hanya hitungan 1 jari. Masalahnya namanya juga kampus teknik, kampusku memang sarang penyamun bagi para wanita!). Aku hanya membiarkannya saja biarpun sedikit kaget, kenapa juga mereka tahu-tahu teteriakan begitu? (Author: gara-gara situ, kaliii (¬_¬))

“Annyeonghaseyo. Kim Kibum imnida, di kesempatan ini saya akan mencoba mempresentasikan karya saya, proyek impian saya sejak kecil. Disini adalah Advanced MeguKi,” aku mengangkat robot putih beroda yang memiliki badan berbentuk kubus berbahan stainless steel dengan kepala diatasnya itu dengan kedua tanganku. Aku membuat Advanced MeguKi ini semirip mungkin dengan desain asli MeguKi #1 milikku dan Megumi, yah, setidaknya semirip mungkin dengan ingatanku tentangnya. Ingatan tentang satu-satu barang yang aku tinggalkan untuk Megumi agar ia tetap mengingatku, mengingat mimpi kami bersama itu.

“…kelebihannya adalah kemampuan pencitraannya itu yang berasal dari kamera yang dipasang seolah-olah sebagai matanya. Bisa dilihat pada slide, cara kerja kamera ini adalah aktif memantau perubahan benda-benda langit dan selalu menyesuaikannya dengan data yang telah ada sehingga bisa didapatkan ramalan cuaca yang akurat, yang disempurnakan dengan keberadaan termometer untuk mengukur suhu udara pula. Dengan keberadaan Advanced MeguKi ini, saya harap selain saya bisa mewujudkan mimpi partner cilik saya, Megumi, juga bisa membantu rumah-rumah tangga sehingga tak perlu tergantung lagi dengan prakiraan cuaca badan meteorologi yang dibuat secara umum. Terima kasih.” Tutupku dengan senyum meyakinkan kepada para juri.

MC kami melihat jam tangannya, “Sudah cukup? Yakin? Waktu masih menunjukkan 13 menit jika ada sesuatu yang ingin ditambah lagi. Tidak? Baiklah, kita mulai dengan sesi pertanyaan. Ah, silakan Kaneda-san, dosen robotika dari Universitas Tohoku.”

Mengetahui bahwa aku pernah tinggal di Jepang dari presentasiku tadi, maka tanpa segan lagi juri tamu yang khusus didatangkan dari Negeri Sakura itu segera menyampaikan komentarnya dalam bahasa Jepang untukku. Ia memulai dengan memuji kecerdikanku yang berhasil memanfaatkan kemampuan bahasa Jepangku sebagai titik yang langsung menarik perhatian khusus 2 juri kehormatan asal pusat robotika dunia itu dengan membuat slide hasil karyaku dalam dwibahasa (Korea dan Jepang). Aku hanya tersenyum bangga mendengarnya. Yah, aku pikir ‘cerdik’ kata yang tepat, karena begitu mengetahui kalau ada juri yang berasal dari Jepang, aku memang langsung mendapat ide membuat slide dwibahasa itu, mumpung aku bisa bahasa mereka.

“…arigatou gozaimasu.” Tutupku begitu selesai menjawab pertanyaannya tentang kemungkinan produksi massal robotku ini. Aku menjawab ‘ya, bisa’ karena sejak awal ini memang dicanangkan sebagai produk massal untuk membantu warga, namun dengan syarat produksi massal itu tidak akan mengurangi kualitas MeguKi yang sebenarnya.

Juri Jepang itu mengangguk-angguk dengan wajah puas mendengar jawaban lugasku.

Pertanyaan kedua datang dari Head Engineer sebuah pabrik robot besar di Korea ini, Go Kyungdon, “Jujur, jika sesuai dengan pemaparan Anda dalam presentasi tadi tentang latar belakang karya Anda ini, saya dengan sungguh-sungguh memuji ide ini sebagai ide yang sangat brilian yang bisa diperoleh oleh dua orang murid SD.” Bukanya. Aku mengucapkan terima kasih melalui mic yang kupegang. Namun ternyata ia belum selesai, “Namun hal yang cukup mengganggu saya adalah, menyambung pertanyaan Kaneda-san tadi, adalah bagaimana mungkin robot Anda bisa dijadikan produksi massal jika Anda tetap menginginkan kualitas yang sama dengan robot yang sekarang, yang sorry to say, tapi bisa dibilang sangat tidak terjangkau warga biasa? Saya me-refer pada keberadaan dua kamera pencitraan tadi, yang sebagai seorang Engineer saya tahu pasti harganya cukup mahal.”

Jujur, aku sedikit terkejut dengan pertanyaan juri satu ini. Juri ini sudah sejak awal kompetisi memang terkenal dengan kritik pedasnya karena seperti yang ia bilang, ia memang adalah orang yang benar-benar terjun di industri robotika ini di masyarakat. Maka menutupi kagetku itu dengan senyuman, akupun mencoba menjawab tanya itu se-‘aman’ mungkin. “Ya, hal itu memang benar. Namun seperti alat elektronik lain, misalnya ponsel, semua pun di awal memang terasa mahal dan hanya dapat dijangkau beberapa pihak, bukan? Tapi jika fungsi alat itu sudah terasa, dengan sendirinya produksi dan penjualannya juga akan meningkat.”

“Tetap saja, bagi saya, Anda seperti melupakan ide awal teman Anda itu yang dengan tulus ingin membantu para warga kotanya. Tanpa mengurangi kualitas awal, saya rasa Anda bukannya membantu, malah akan memberatkan para warga dengan produk mahal ini.” Tutupnya seraya meletakkan kembali mic-nya di atas meja.

DAG!! Aku seperti ditampar bolak-balik di tempat dengan komentarnya itu. Ya, ya… setelah kupikir, biarpun pedas tapi omongannya memang benar… Kenapa aku tidak pernah berpikir seperti itu? Kenapa selama ini aku selalu hanya berpikiran untuk membuat robot yang hebat dengan menggunakan bahan-bahan terbaik, alat-alat tercanggih, tanpa sekalipun memikirkan tujuan awalku dan Megumi menciptakan MeguKi? Aaargh, aku bodoh sekali!

Maka masih dengan tampang datar akibat shock, akupun membungkuk pada para juri dan penonton sebelum meninggalkan panggung. Di bawah, suporter setiaku yang sekarang sudah bertambah populasinya karena kedatangan kakak tertuaku, Heechul (biarpun minus si pacar Saera karena memang jasa drivernya tidak diperlukan lagi kalau kakakku ini ada), menyambutku dengan dukungan penuh mereka.

“Kibum-ah, gwaenchana!” Seru Ryeowook menyemangati. Aku memberinya senyum datar.

“Ja, ja, ja, sekarang foto dulu aja biar semuanya senyum lagi, oke?” Ajak Heechul Hyung seraya mengangkat kamera DSLR hitam yang dikalungi di lehernya itu. Aku menatapnya cukup intens. Kakakku ini… sudah berapa hari aku tidak melihatnya, ya? Kejelekanku yang lain selain sifat pendiamku ini adalah bahwa aku juga cenderung acuh dengan keadaan sekitar. Sehingga aku juga baru sadar kalau beberapa minggu ini memang Ryeowook kerap mengeluh tentang kakak sulung kami ini yang makin sering pulang pagi, atau kalaupun di rumah saja, lebih memilih mengunci diri di kamarnya yang pintunya bertuliskan ‘MASUK ATAU MATI’ besar-besar itu. Dan sekarang begitu aku melihatnya… ini perasaanku saja atau dia yang mengurus, ya? Bayangan hitam juga seperti tampak di bawah matanya. Ah… ini pasti hanya efek keluar malamnya itu saja. Nanti akan kubilang Saera untuk menasehatinya.

Kamipun sibuk berfoto-foto sampai-sampai aku bahkan melupakan kalau sebetulnya aku ingin sekali melihat presentasi dari si Hwang Minmi itu. Dan aku baru tersadar ketika tiba-tiba, jawaban dari sesi pertanyaannya terasa menyentil jawabanku atas kritik pedas yang kuterima tadi…

“…saya teringat paman saya di Amerika yang pernah berkata, ‘Is it considered helping if the cost of your robot too much?’ Saat itu saya betul-betul tertohok karena kita semua tahu bahwa jawabannya tentu: TIDAK. Tapi selama ini warga sudah terlanjur terbebani dengan harga barang yang semakin mahal, alat elektronik yang dipatok setinggi langit dengan alibi meringankan pekerjaan Anda. Saya merasa cukup dengan itu semua, jika benar-benar ingin membantu, bukankah daripada mengikuti pattern yang ada seperti analogi ponsel yang tadi sempat kita semua dengar, lebih baik menurunkan cost robot ini saja bila memang memungkinkan? Karena memang mungkin kok, itu sebabnya saya menggunakan barang-barang daur ulang seperti kaleng bekas soda ini sebagai eksterior karya saya, yang tentu tidak mengurangi kinerjanya di dalam. Dan kelebihannya, portable pula, bukan? Jadi bahkan saat Anda bepergian pun tidak perlu khawatir dengan cuaca yang tak pasti.”

Ternyata benar kan, bukan hanya ‘seperti kaleng soda’ layaknya yang aku katakan kemarin ketika melihat tampilan karyanya, tapi itu ternyata memang betul terbuat dari kaleng soda bekas! Eh tunggu, kenapa aku jadi kagum begini, dia kan barusan mempermalukan ‘analogi ponsel’-ku? Aaarghh!

Dan PLOK PLOK PLOK~ seketika tepuk tangan pun membahana untuk Hwang Minmi dan karyanya yang sangat inovatif itu. Ia tersenyum seraya membungkuk beberapa kali dengan robotnya yang dibuat seperti robot-robotan anak-anak jika kaki dan tangannya direntangkan, yang juga ternyata berfungsi sebagai gabungan pengukur suhu, tekanan udara, hingga kelembaban super-sensitif! Semua data-data yang didapat alat ukur itu nantinya tersambung dengan processor juga di dalam badan kalengnya, dan hasil analisis ramalan cuaca akan segera muncul di layar 3 inci berwarna biasa yang diletakkan di kulit kaleng itu, dengan emoticon lucu-lucu pula dari berbagai model cuaca! Simpel, menyenangkan, ramah lingkungan pula, kuakui alih-alih sepertiku yang menggunakan pencitraan dan termometer yang amat repot, tentu ini memang sangat menarik… Dan di detik aku merasa kagum dan mulai tertarik padanya, saat itu juga aku merasa sangat bersalah pada Megumi. Karena telah menyalahgunakan maksud awal pembuatan MeguKi kami, itu satu, dan satu lagi adalah karena sepertinya aku betul-betul tertarik dengan Hwang Minmi…

“Baiklah, setelah kita semua sudah kenyang sehabis istirahat makan siang tadi, sekarang saatnya masuk ke acara yang sudah ditunggu-tunggu! Yayaya… pengumuman pemenang Kontes Robot Nasional Tingkat Perguruan Tinggi ke-XI ini!!” Buka si MC lagi setelah kami semua kembali berkumpul pasca satu jam istirahat untuk penjumlahan nilai juri dan makan siang tadi. “Nah nah nah, siapakah kira-kira yang akan menerima piala bergilir ajang bergengsi ini, dan juga tentu uang tunai sebesar 5 juta won sebagai modal awal karir robot maker-nya? Si Pecko, MeguKi, atau mungkin WeFo…??”

Hening sejenak. Semua orang seperti ‘tegang berjamaah’ menantikan pengumuman menentukan itu. Karena selain untuk si finalis sendiri, kemenangan itu juga merupakan kebanggaan tersendiri bagi masing-masing kampus yang tahun ini bahkan berbeda-beda sama sekali dari ketiga finalisnya. Maka itu aura kompetisi hari ini memang lebih terasa, karena tiap finalis seperti menanggung beban moral yang sama berat di pundak kami.

Saera dan Ryeowook masing-masing menggenggam tangan kanan dan kiriku sambil memejamkan mata mereka erat-erat dan komat-kamit sendiri. Heechul Hyung berada di belakang adik-adiknya sambil meletakkan dagunya di pundakku, ikut menanti pengumuman ini. Sementara aku sendiri hanya bisa pasrah, karena setelah mendengar presentasi ‘sempurna’ dari Hwang Minmi tadi, rasanya di saat itu juga memang sudah tamat riwayatku… Aku yakin itu. Aku sudah sepenuhnya ikhlas (?) jika memang ia yang harus menang, karena seperti kubilang tadi, aku sepertinya mulai mengagumi dan tertarik padanya…

“…Institut Teknik Seoul. Kim Kibum, karya: Advanced MeguKi!!!” Tiba-tiba seruan si MC terdengar menggelegar begitu saja. Masih diam sejenak, sebelum akhirnya, sorak sorai pun pecah!! Semua orang (terutama mahasiswa kampusku) berlarian dan bergantian memelukku. Sementara aku sendiri masih bingung: memang tadi MC-nya mengumumkan apa sih? Bisa saja yang barusan hanya juara ketiga kan??

“Heii, jangan bengong! Kamu juara, adikku yang gagu, kamu juara! Tadi itu juara pertamanya! Ya ampun, hyung bangga banget sama kamu!!” Heechul Hyung langsung memelukku erat-erat sebelum memutuskan kalau mencubit pipiku lebih menyenangkan baginya.

Mendengarnya, aku bahkan sampai tak punya keinginan menepis tangannya yang masih menempel di pipiku seperti biasanya. Benarkah?? Tapi kenapa–

“Kim-ssi, chukhadeurimnida. Mudae wi-e ollagaseyo. (Kim-ssi, selamat. Silakan naik ke atas panggung.)” Sang MC mempersilakanku. Semua orang langsung berusaha mendorong-dorongku untuk segera maju dan menerima hadiah. Sebelum naik ke atas panggung, aku masih sempat menoleh sebentar ke tempat para mahasiswa/i Sungkyunkwan beserta Hwang Minmi berada. Gadis yang memilih atasan kemeja berenda dan celana pendek berbahan formal yang sekarang sedang ngetren di kalangan para wanita karir sebagai busana presentasinya hari ini itu hanya terdiam, mungkin sedikit kecewa dengan hasil barusan. Ya jangankan dia, aku pun cukup bingung dengan hasil aneh ini, padahal lihat saja bagaimana semua orang begitu terkesan pada karya Hwang Minmi tadi, kenapa jadi aku??

“Alasan kami, para juri, memilih karya Kim Kibum haksaeng (murid) sebagai yang lebih unggul dibanding dua pesaingnya yang juga tak kalah hebat, adalah karena passion yang sangat kuat yang ia tunjukkan selama mengikuti kompetisi ini dari awal hingga akhir. Dan semua itu makin terasa saat kita semua mendengarkan presentasinya tadi, bukan? MeguKi adalah impian Kim haksaeng dan temannya sejak kecil, dan ia tidak lantas membiarkannya hanya sebagai mimpi saja. Ia terus berusaha membangun MeguKi, mengembangkannya, sampai tercipta Advanced MeguKi yang sangat canggih. Saya pun kalau disuruh membuat seperti itu juga sepertinya akan sedikit bingung, tak akan ada pikiran sama sekali untuk mencampuradukkan semua gadget-gadget prima itu dalam satu kualitas robot. Dan ternyata hasilnya juga bagus, overall ia menerima nilai tertinggi dari dua pesaing lainnya dalam bidang penjurian inovasi, estetika, fungsi, dan pembawaan presentasi. Sugohaesyeotseumnida. Chukhahamnida. (Kamu sudah bekerja keras. Selamat.)” Jelas salah satu perwakilan juri itu seraya menjabat tanganku.

Serentak, seluruh penonton pun akhirnya bertepuk tangan, ikut memberikan selamat atas keberhasilanku. Aku tersenyum haru, berterimakasih atas dukungan mereka, biarpun akhirnya lagi-lagi yang kulirik betul-betul adalah Hwang Minmi. Ia ternyata juga ikut menepukkan tangannya biarpun masih terlihat lesu. Sungguh, aku pun masih merasa tak enak dengan kemenangan ini, karena aku sendiri pun merasa ini memang bukan hakku. Tapi untung saja selanjutnya diumumkan kalau ialah yang menempati juara kedua sehingga beban rasa bersalahku padanya jadi sedikit terangkat karena setidaknya ia bukan yang terakhir juga.

Aku menyalaminya ketika ia juga naik ke atas panggung untuk menerima hadiahnya. Ia hanya tersenyum sekedarnya padaku, basa-basi sebelum akhirnya perhatian kami kembali teralih pada barisan juri yang satu per satu akan menyalami kami.

Lagi-lagi aku menerima pujian dari si juri Jepang ketika ia menyalamiku, yang dua-duanya menyatakannya dalam bahasa Jepang. Aku mengangguk sambil tersenyum, sesekali menjawab juga jika kupikir itu perlu.

“Otsukaresama deshita. (Kamu sudah bekerja keras.)” Seperti yang diucapkannya padaku, juri Jepang ini juga mengucapkannya pada Minmi ketika menyalaminya. Aku masih sibuk menyalami juri yang lain ketika…

“Doumo. Iroiro osewani narimashita. (Terima kasih. Maaf saya telah merepotkan.)”

Seketika aku menoleh kaget mendengar jawaban yang sangat lancar dan terucap dengan sangat baik dari Hwang Minmi itu. Biarpun ternyata yang kaget bukan aku saja… “Eeee? Nihongo ga wakarimasuka? (Eh? Kamu bisa bahasa Jepang?)” Tanya juri itu surprised.

Hwang Minmi menggaruk-garuk belakang kepalanya yang kujamin tidak sedang gatal. Ia tersenyum salting, “Nanka… sou nan desuga, (Yah… mungkin bisa dibilang begitu, Pak,)”

Tunggu, bukankah dia bilang dia sama sekali tidak tahu menahu tentang Jepang kemarin?? Dan sekarang ucapan se-fasih ini, atau jangan-jangan… ia berbohong padaku? Dan tentang Megumi juga… berarti ada kemungkinan–

Ia terdiam sejenak ketika aku kembali mengintimidasinya tentang apakah-dia-Megumi-atau-bukan karena kebohongannya tentang ‘tak tahu-menahu sama sekali mengenai Jepang’ itu. Setelah turun panggung tadi aku memang tidak buang waktu lagi dengan langsung menariknya ke taman di luar tempat acara kami dan yah, menginterogasinya.

Ya biarpun diamnya itu tidak berlangsung lama karena ia kembali memutuskan untuk tersenyum sinis seperti yang selalu ia berikan tiap aku menanyakan hal itu sejak kemarin, “Oh, geez. Nggak bolehkah aku belajar sedikit bahasa juri kita untuk menarik perhatian? Yang ternyata aku terlalu bodoh melupakannya ketika di atas panggung dan baru teringat ketika sudah pengumuman pemenang begitu. Satisfied enough?” Jawabnya dingin. Dan dari yang kuperhatikan dia memang kerap menjawab dengan campur-campur bahasa Korea-Inggris, ya… Ah betul juga, aku baru ingat kalau kemarin ia memang bilang ia warga negara Amerika Serikat. Tapi Megumi-ku juga fasih berbahasa Inggris karena keluarganya yang memang cukup banyak tinggal Hawaii, apakah itu berarti… Argh, kenapa aku selalu menghubung-hubungkan gadis ini dengan Megumi, sih?? Tidak cukupkah tiga kali ia membantah bulat-bulat asumsiku itu??

“Baiklah, oke, kalau memang kamu bersikeras.” Balasku akhirnya, sebelum tiba-tiba memutuskan menggenggam sebelah tangannya. “Tapi kalau begitu, jadilah pacarku sekarang, Hwang Minmi. Aku menyukaimu.”

 

TBC

 

huaahhh, maaf yaa lama dan kalo fail (lagi)… huhuhu T.T

Advertisements
 
20 Comments

Posted by on August 23, 2011 in Super Junior, [THE SERIES]

 

20 responses to “[THE SERIES] BAHASA LANGIT – Part 2

  1. hwangminmi

    August 24, 2011 at 4:58 pm

    KYAAAAAAAAA~ *teriak lg* #PLAK

    Sesuai dugaan, ternyata orangnya emang sama ya huahahaha~ XD #ditabok

    Ada fany eonni lg, pas bgt deh dia jadi sepupu aku hohoho~ (ˇ▽ˇ)-c<ˇ_ˇ)

    Itu si heechul kenapa? Kasian bener, udah kurus makin kurus lg~ pake acara kurang tidur segala (╥_╥)
    *keinget heenim yg mau wamil tgl 1 september* *nangis di pojokan*

    Tapi kok kibum yg menang ya?
    Perasaan tadi kan kelemahanya 'ngena' bgt itu u.u

    “Tapi kalau begitu, jadilah pacarku sekarang, Hwang Minmi. Aku menyukaimu.” <– speechless sebentar
    Ini apa lagi si kibum main nembak aja (¬_¬)
    Ajak nikah aja dah langsung~ aku rela kok~ XD #PLAK #PLAK #PLAK #dibunuhditempat #lebay

    FFnya DAEBAK EONNI~ \(•ˆ▽ˆ•)/

    P.S.: kayaknya komen aku panjang luar biasa ya .-.

     
    • lolita309

      August 26, 2011 at 4:50 pm

      iyaaaa aku emang sengaja kasih bonus si fany tuh, sering liat di twitter kamu eonni-eonnian sama dia. <– anak stres :p

      aaaaaa aku juga galau tuh gara2 heenim 1 september.. T.T

      wahaha, kenapa kibum yg menang? kan doi pemeran utamanya di sini.. kkkkkk~

      jreeeenggg~ saya mah diajak kawin langsung juga hayuuukk atuh mah…. hahaha XDD

      uwaaaa makasi sayaang^^

      PS juga: masih kurang panjang kok… belom bikin drabble disini hahaha :p

       
      • hwangminmi

        August 29, 2011 at 9:49 pm

        hohoho gomawo eonni~ *peluk siwon* *langsung dibunuh* <– #miris (?)

        gaboleh galau gaboleh galau, 2 tahun lagi dia balik kok ;;)
        *padahal 2 tahun kan lama T^T* #apasih

        ih gaseru ah masa kibum menang gara" dia cast utama~ -__- #siapaelo

        kapan" aku bikin komen sepanjang drabble deh .__.b kalo bisa ya~

         
  2. salishyun

    August 24, 2011 at 7:37 pm

    Ih sedihlah pas cerita megu ditinggal kibum ;_; mana pas baca itu keputer lagu Mr. Simple~ tambah mellow lah bacanya #eh #salahgaul

    Kyaaaaaa ada Fany ada Heenim!! XD kenapa gaada sooyoung sama kyuhyun yah? .-. #gaadahubungannya

    Kok kibum yang menang? Kenapa bukan megu? Padahalkan aku dukung megu -,- kesal he lihat kibum ni pandai kali laah menggoda juri (?) *ditabok kibum* *kabur*

    FF NYA BAGUS BANGET EONNI!!!! \(˚☐˚!!)/

     
    • hwangminmi

      August 24, 2011 at 9:21 pm

      Eh ada penampakan (¬_¬) #PLAK

      Buat yg empunya blog mohon maaf lahir batin ya, ada orang gaje nyasar ni .__. *deep bow*
      *tarik salishyun* *masukin ke kotak* *kirim ke dorm SJ* #lho?

      Sekian~ *langsung pake jurus menghilang*

       
      • salishyun

        August 26, 2011 at 5:39 am

        -_- yaa hwang minmi anda pikir anda tidak gaje he?

        eh tapi makasih ya udah ngirim aku ke dorm SJ :p
        *ngadem di kamar kyumin -kyumin kyuhyun sungmin ya, bukan kyumin anak leeteuk loh-

        sekian~ (?)

         
      • lolita309

        August 26, 2011 at 4:53 pm

        ya ampun kalian ini yaa, ga di twitter ga disini, gajeee aja HAHAHA XDD

        eeehh ada salsa, halo^^ makasi yaaa pujiannya^^

        yak, silakan lanjutkan bertengkar lagi.

        (eehhh??)

        XDDD

         
      • hwangminmi

        August 29, 2011 at 9:51 pm

        kepada saudara choi hyunjin, saiia emang gaje kok .__. dan saiia sadar akan hal itu (?)
        aku ngademnya di kamar kibum doooong ;;) #PLAK

        lola eonni, maaf sudah mengacaukan (?) blog anda .__.v *langsung kabur*

         
  3. cizziekyu

    August 25, 2011 at 11:50 am

    eaa… Pdhl udh bca dr kmaren tapi bru komen skrg #ditabok

    tuh kan, si megu sama minmi it org yg sama… Udh si megu ngaku aja jgn sok jual mahal gt (?) udh ketauan juga kan kalo si kibum masih ingat sama dia…

    eh eh, ada couple bru, Greg + Tiff Hwang? Greg it koreografernya SM bukan? Umurnya brapa sih??

     
    • lolita309

      August 26, 2011 at 5:15 pm

      huahahaha tau tuh si megu jual mahal aja mentang2 mau lebaran (?)

      iyaaaa greg itu koreografernya SM… abisnya bingung pengen gimana caranya megu bisa berubah nama jadi hwang, yaudahlah dibilang ikut keluarganya greg aja gara2 doi merit sama tiff hahaha XDD *maksa.com :p

      gatau umurnyaaa, tp berhubung anak2 SJ manggilnya hyung, paling seumuran tuki gitu sih….

       
  4. p4nic

    August 25, 2011 at 2:17 pm

    hwaaaaaaaaaaaaa……….
    sukaaaaaaaaaaaaaaaaaaa bangeeeeeeettt..

    next part ya..
    penasaraaaaan..

     
    • lolita309

      August 26, 2011 at 5:17 pm

      huaaaaaa
      makasiiiii bangeeeeetttttttt

      XDD

      hehe sipp sayang^^ makasi yaa uda baca 🙂

       
  5. Iwang

    August 26, 2011 at 5:48 pm

    Ngomen dri hp, g maw pnjang2 takut ilang. .hhe. .
    Skrang nggarap robot, canggih ih~ , .><
    jdi ingt daftar ukm robotika tpi g prnah ikut lathan. .#curcol
    nyesek taw kibum ninggalin meguki gtu aja. .-,- . .
    Huhu. .dtnggu lanjutan.a. .

     
    • lolita309

      August 28, 2011 at 1:42 am

      waaah adanya di kampus kamu ukm robotika? serunyaa~

      iyaa, abis gimana dong kudu ikut ortunya pindah hehe

      sipp, makasi yaa iwang-ssi uda baca^^

       
  6. wiehj

    August 28, 2011 at 10:27 am

    Wuahhh, kibum tothepoint banget!!!! °•(>̯┌┐<)•°
    Menurutku cara 'nembak' yg blak2an tanpa basa basi gt keren lohh *tpyahtergantungsiapaygnembakjgsih* wkwkwkkw XD
    Si minmi kaget bgt tuu pasti pas kibum nembak dy gt.. Hwhw penasaran ap jawaban minmi!! *nebaknyasihditolakpastituusikibum*
    Ayuk lanjut asap cinguuuu~ 🙂

     
    • lolita309

      August 29, 2011 at 11:54 pm

      iya sih emang tergantung orangnya juga huahahaha XDD

      jreeeng~ sebetulnya saya juga belum kepikiran sih si minmi bakal jawab apa #PLAK :p

      sipp, makasi sayaang uda baca^^

       
  7. ms.o

    September 4, 2011 at 8:20 pm

    aloha eonn..
    yakk..masih aja megu gengsi,,gak nyesel ape di”tembak” sama mas mBum? kalo daku sih udah nosebleeding kali ya..ahahhahahaha
    eungg, trus kan mas mBum keluarga Kim ya? g ada Kim JongWoon sama Kim YoungWoon ya eonn?
    wook-ah, mau diapain juga bakalan jadi eternal magnae se eternal-eternal nya,,,,abisnya dia ituu, cute n polos banget, walopun jailnya 11-12 sama Kyu,,,,

     
    • lolita309

      September 5, 2011 at 1:59 pm

      alohaa~ *nari pendet* <

      iyaaa doi keluarga kim. yg ada jongwoon dan youngwoon^^
      hihihi, namanya juga eternal magnae, mau jadi anak pertama juga tetep eternal magnae (?) kali 😀

      makasi uda baca sayang^^

       
  8. @eunmaysha

    September 4, 2011 at 8:47 pm

    Omo omo laa,udh ad lnjtany toh! MasyaALLAH aq ktgln byk y m(_ _)m mianhae
    eh kibum lgsg to the point it,,manly bgt dah!
    Eh aq jg sng bgt ada fany,dy cwe favq c #gnya
    DAN DAN JUGA KNP HEECHULKU? KENAPA? Heechulq keluyuran kmn z #lupakan
    DAEBAK lola’ssi dtgu nextnya

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: