RSS

[THE SERIES] DR. SHIN – Case 2

06 Aug

Disclaimer dulu ah: semua cerita ini murni fiktif (dicampur beberapa penelitian author sih hahaha), jadi kalau ada kesalahan tentang prosedur ataupun kehidupan kedokterannya, harap dimaafkan 🙂 dan oh ya, bayangkan Shindong disini ketika dia dalam kondisi terkurusnya, terkerennya. Sekurus-kurusnya, sekeren-kerennya yang pernah Shindong alami ya, biar lebih dapet kesan dokter angkuhnya (loh?) :p

 

DR. SHIN – Case 2

(Case 1)

Written by: Lolita Choi (@lolita309)

Starring: Shin Donghee, Kim Jaejoong, Zhou Mi, etc.


DUA. ANGIOPLASTI1

“Fiuhhh…” Kim 1 menghempaskan tubuhnya di salah satu kursi kosong yang mengelilingi meja kantin tempat ketiga temannya juga duduk berpangku dagu begitu setelah bosan sedari tadi hanya mondar-mandir saja tanpa kerjaan.

“Fuhh…” Kali ini suara Park yang meniup helai-helai rambut depannya yang tak ikut terkuncir rapi, terdengar lebih bosan dari Kim 1 tadi.

“Ahh… Internship apaan begini…” Kini Zhou yang sibuk mengacak-acak rambutnya, kesal dicampur bosan setengah mati juga.

“Padahal kasus pertama kita sudah oke banget, tapi kenapa setelahnya kita malah jadi pengangguran begini…” Protes Kim 2 pelan seraya menempelkan sebelah pipinya ke meja, sama bosan dengan ketiga rekannya.

“Kalau nggak jadi pengangguran, PESURUH.” Ralat Kim 1, memaksudkan pada kegiatan mereka membantu di klinik ataupun ‘kerja serabutan’ lain yang aku ataupun dokter lain minta atas seizinku ketika mereka tak ada kerjaan berarti.

Aku yang memang duduk sendirian membelakangi mereka di meja yang tak jauh dari sana tetap serius dengan bacaanku. Kim Jaejoong, Kim Dal, Zhou Mi asal Cina, dan juga Park Yora, itulah nama-nama lengkap mereka, internku yang hobi protes itu. Tapi berhubung aku tak suka mengingat nama kecil, maka kami pun sepakat (mereka sih protes, tapi kuacuhkan) untuk aku hanya memanggil mereka dengan nama keluarga, dan special case untuk dua orang Kim, aku memanggil mereka Kim 1 untuk yang pria dan Kim 2 untuk si wanita. Dan seperti perlakuanku saat semena-mena memutuskan memanggil mereka dengan hanya nama keluarga, kali ini pun aku juga mendiamkan semua protes terselubung itu. Biarkan saja, aku tahu mereka sengaja agar justru keluhan itu terdengar olehku. Sudah sekitar 2 minggu ini setelah pasien pertama mereka yang memang seru bagi intern seperti mereka itu, kami memang tidak kedapatan pasien yang khusus kami tangani sendiri lagi. Selain karena akhir-akhir ini aku memang kurang begitu aktif akibat sibuk belajar untuk ujian attending-ku sebentar lagi, semua juga karena semua tim intern memang selalu berlomba-lomba mendapatkan pasien, jadi jika ada 1-2 tim yang terbilang ‘kalah tanggap’, itu tentu hal biasa.

…Yang tentu saja belum disadari keempat anak muda ini. Mereka pikir bekerja di RS akan selalu mendapat kasus-kasus menantang, pastinya.

“Dok…” Mereka mulai merajuk lagi. Aku tetap tak bergeming. Baru di akhir kasus lalu aku memuji mereka yang mulai dewasa, sekarang sudah bertingkah khas anak kuliahan yang manja lagi.

“Dok.” Panggil mereka lagi, sekarang lebih tegas.

“Makanya kalau ada pemberitahuan di pager itu segera ditanggapi supaya tak keduluan tim lain… Kan aku sudah pesan begitu ketika bilang akan sering meninggalkan kalian karena ujianku ini.” Tanggapku akhirnya, datar sambil tetap tak mengalihkan pandangan dari buku Neurologi-ku.

Keempat internku kini semuanya sudah memandangku dengan wajah seragam: manyun. Kesal sekaligus menyadari kalau itu juga memang salah mereka, sih.

“Mau menghabiskan waktu dengan mengobrol juga, bahan omongan kami rasanya sudah habis, Dok… Saya dan Yora bahkan sudah tahu bagaimana keadaan kampus Dal-i dan Mimi, apa saja yang diajarkan disana, bedanya dengan kampus kami Universitas Korea… Kami bahkan juga sudah sampai tahu ada berapa toko dumpling yang dipunya ibu Mimi di Cina dan menu apa saja yang dijual.” Kata Kim 1 yang cepat disambut anggukan yakin teman-temannya.

Aku cuma menggeleng sekali dan kembali meneruskan membaca. Sekejap mereka yang tadi sudah harap-harap cemas akan reaksiku langsung melorot lemas lagi.

“Tapi Dok… Apa betul sudah tidak ada proyek yang butuh bantuan lagi? Pasien yang sudah ada, mungkin… Tidak perlu pasien baru…” Tanya Park yang langsung didukung anggukan rekan-rekannya lagi.

Ah, dia bicara begitu aku jadi ingat. Maka kali ini, aku pun tak lagi mengacuhkan mereka dan dengan ringan menutup buku yang sedang kubaca setelah tentu menandainya terlebih dulu. Kutatap mereka satu per satu, “Sebetulnya, tadi pagi dr. Hwan menawariku sebuah kasus.”

Dan sekejap, wajah mereka langsung segar mendengarnya, seakan menemukan oase di padang pasir.

Yang buru-buru kucegah dengan lanjutan perkataanku, “Tapi sudah kutolak, karena aku merasa ia akan memberatkan kalian, apalagi di saat aku sering tidak bersama kalian seperti ini.”

DANG! Harapan mereka pun sekejap pupus di tengah jalan. “Yaahhh, Dok, ambil saja Dok, ambil… Kami akan berusaha sekuat tenaga deh, betul!” Protes mereka segera yang langsung membuat ribut kantin khusus karyawan ini. Aku cuma bisa mengelus dada, untung pengunjungnya cuma sedikit, kalau tidak, bisa-bisa namaku jatuh karena dianggap tidak mampu mendidik anak-anak gaduh ini. Haah, baru kali ini memang kulihat calon dokter se-ramai mereka. Si Park yang awalnya pendiam kecuali ada hal-hal yang perlu ia kritisi saja sampai tertular bawel dan hobi protes teman-temannya, bahkan hanya dalam kurun waktu sebulan internship mereka ini.

Maka, melepas kacamataku terlebih dulu, sambil menyeringai akupun akhirnya melempar tantangan itu, “Yakin, kalian mau membantu proyek ini…?”

“Yakin Dok, yakin 1000%!!”

“Oke, khusus wanita.”

“EHHH??”

 

***

 

Pada akhirnya, mereka pun tetap menerima kasus itu (lebih baik daripada tidak ada, katanya) biarpun yang pria harus mengundurkan diri dan hanya membantu dua wanita lainnya dari balik ruang rawat alias rela tidak mencantumkan pengalaman proyek ini dalam riwayat penanganan pasien di CV mereka nanti. Yah, aku cukup kecewa sih, pasalnya aku pikir dengan keyakinan yang kata mereka 1000% itu, mereka semua akan mau turun. Haha, ya, aku berekspektasi para intern priaku bahkan mau disulap jadi wanita demi proyek ini. Kenapa tidak? Seperti yang pernah kubilang, Kim 1 adalah seorang kkotminam (flower boy), Zhou pun yaaah, tidak terlalu buruk lah, lagipula aku memang ingin ada mereka yang notabene pria untuk melindungi dua orang lagi yang notabene gadis-gadis tulen.

Melindungi? Ya, begitulah. Jadi mari kuceritakan tentang pasien ini…

“VVIP, Dok? Wahhh…” Keempat-empatnya langsung berseru kagum bahkan begitu aku baru memulai dengan background pasien kami ini dalam perjalanan ke kamar pasien itu. Aku sudah menghubungi dr. Hwan dan kepala RS kami itu bilang agar kami langsung kesana saja karena nanti ia akan menyusul.

“Ya.” Aku mengangguk. “Presdir jaringan swalayan RANCH yang terkenal elit itu.”

“Wah, itu ranch market favorit eonni-ku dan pacarnya…” Terdengar gumaman Park yang sepertinya ditujukan pada si Kim 2 di sebelahnya.

Aku tak menghiraukan mereka, “Ia tadinya ditangani dr. Hahn, cardiologist (spesialis jantung) dari Jerman itu, tapi beliau ternyata harus pulang tiba-tiba sehingga akhirnya dr. Hwan menawarkan ini padaku.”

“‘Cardio’? Penyakitnya jantung, Dok?” Seperti yang kuduga, Park langsung tanggap mendengar perkataanku. Ayahnya seorang cardiologist juga, lebih tepatnya cardiologist paling tersohor di Seoul ini: Park Gildong. Maka itu ia pasti sudah cukup akrab dengan organ paling krusial dalam hidup manusia itu. Sebetulnya dr. Hwan menawariku kasus ini disaat ia tahu aku sedang sibuk dengan ujian juga karena sengaja menyasar si Park, ingin mengetahui performa putri bungsu dokter terhormat itu, apakah sama brilian dengan ayahnya? Aku memang tidak suka dengan cara dr. Hwan, tapi itu masih bukanlah penyebab utama aku menolak kasus ini awalnya. Nanti mereka juga akan tahu.

Aku mengangguk, “Jantung koroner. Kali ini tugas kita hanya angioplasti saja, dan bahkan angiografi2-nya sudah sempat dilakukan dr. Hahn. Mudah kan?”

“Semudah ini, tapi kenapa awalnya Dokter tolak?” Kim 1 memicingkan matanya, sepertinya ia sudah mulai merasa curiga dengan kasus ini.

“Dan kenapa harus wanita?” Timpal Zhou juga. Ahh, seperti Park yang tertular bawel mereka, sebaliknya sepertinya teman-temannya ini juga sudah tertular kritisnya gadis itu…

Maka aku hanya mengangkat sebelah tanganku acuh seraya terus berjalan, “Kim 1, pertanyaanmu sudah dijawab oleh Zhou.”

 

 

“Jeon Jintaek, 53, mengidap jantung koroner akibat atherosklerosis3, dirujuk kemari oleh Dongsa Medical Centre untuk menjalani angioplasti. Ini file-file beliau, silakan. Dan Jeon-ssi, ini dr. Shin Donghee dan dua intern-nya yang akan menangani Anda kali ini, dr. Park Yora dan dr. Kim Dal.” dr. Hwan memperkenalkan aku, Park, dan Kim 2 pada pasien itu seraya membagikan 3 buah papan jalan berlogo RS yang berisi rekam mediknya untuk masing-masing kami. Sementara dua internku yang lain setuju menunggu diluar, biarpun aku yakin sesekali mereka pasti mengintip juga ke dalam sini dari celah kecil krei di jendela itu.

Aku menatap pria gemuk bertampang mesum yang terbaring di ranjang besar dan empuknya itu dengan pandang menghina yang sebisa mungkin aku samarkan sama sekali. Tapi andai kata aku tidak menyamarkannya pun, aku yakin ia tak akan melihatku. Karena kini pandangannya sudah penuh tertuju pada dua intern muda beliaku, dan matanya itu, seperti ular lapar yang menemukan kelinci-kelinci muda untuk dimangsa saja! Bahkan aku sangat terganggu dengan hal itu, bagaimanapun mereka berdua berada dalam tanggung jawabku, dan aku tak suka mereka dilecehkan biarpun dalam skala kecil dan (mungkin) tak mereka sadari.

Pria itu masih menatap dua internku sebelum kemudian berkata dengan seringai penuh maksudnya, “Nona-nona dokter, perkenalkan aku Jintaek.” Katanya seraya mengulurkan tangannya. Kim 2 dan Park serentak menatapku untuk meminta izin dengan tampang takut-takut, sepertinya mereka juga sudah mulai risih dibuatnya. Tapi aku tetap mengangguk pelan memberi izin, tidak ada alasan untuk menolaknya. Ia pasti akan berdalih itu hanya sapaan saja.

“Jintaek. Panggil saja oppa.” Katanya penuh senyum seraya menarik tangan Park yang bahkan belum sepenuhnya terjulur ke arahnya. Ia bahkan tak peduli dengan keberadaan istrinya di sebelahnya! Dan aku tak tahu apa yang ia lakukan saat mereka bersalaman, yang jelas seketika Park memekik kaget dan buru-buru menarik tangannya kembali. Sementara sang pasien hanya terkekeh, hal itu tentu saja ikut membuat Kim 2 terkejut dan makin ragu mengulurkan tangannya. Tapi ia tahu ia tak bisa kabur lagi, maka benar saja ketika mereka bersalaman, hal yang sama pun terulang. Dan aku hanya bisa menggenggam kepalanku kencang, menyesal tidak bisa melakukan apa-apa untuk mereka. Lebih menyesal lagi bahwa bahkan, kepala RS-ku pun tidak bisa berbuat banyak. Padahal kami sudah tahu tabiatnya.

“YA, YA, tadi aku dengar pakai ada teriakan segala ketika kalian di dalam. Ada apa, apa yang terjadi?” Para intern priaku segera memburu kami yang baru saja keluar dari kamar VVIP itu setelah dr. Hwan, pasca acara perkenalan dan penjelasan dasar tentang prosedur pada pasien tadi selesai.

“Byeontae… goyo… (Dia… mesum, Dok…)” Seakan tak mendengar pertanyaan rekannya, Kim 2 yang sepertinya masih shock hanya bisa menunjuk-nunjuk ke arah kamar tadi selama mengadu padaku.

Seketika mata kedua rekan prianya langsung membelalak kaget, “Hah, memang apa—”

“Dok.” Panggilan singkat nan tegas dari Park dengan matanya yang seperti menuntut penjelasan sontak menyerangku.

Aku tak segan membalasnya, “Aku memang tahu, itulah kenapa awalnya aku menolak tawaran ini. Sekarang kalian mengerti? Tidak mau memaksaku menerimanya lagi?” karena dr. Hahn pun bahkan ternyata withdraw juga karena hal ini, tambahku, biar hanya dalam hati.

“Tapi Dok, terlalu kasihan kalau mereka harus melayani pasien yang seperti itu, dan kami juga tidak rela mereka diperlakukan begitu!” Protes Zhou sambil sesekali melirik Kim 2 yang masih terlihat shock dan kini meletakkan kepalanya lemas di bahu Park.

“Lalu, kalian mau withdraw?” Tembakku langsung dengan pandang yang seperti berkata: yakin? Dan seperti kutebak, tidak ada yang menjawab. Aku tahu mereka pasti juga memikirkan keuntungan mengikuti kasus ini. Angioplasti adalah prosedur yang biarpun hanya perkara minor, tapi sangat unik dan pastinya menyenangkan terutama bagi calon dokter seperti mereka. Prosedur itu dilaksanakan di sebuah laboratorium khusus yang dinamakan Cardiac Catheterization Laboratory4 yang dilengkapi alat-alat radiologi yang sudah maju, bukan di ruang operasi karena memang, ia bukanlah operasi. Ya, angioplasti hanyalah tindakan invasif semata yaitu pemasukan sebuah kateter (pipa) untuk memperbesar arteri koroner yang menyempit akibat tumpukan lemak. Dan pengalaman membantu prosedur angioplasti dengan segala peralatan super-maju itu tentu akan jadi pengalaman yang sangat berharga bagi mereka.

“Lalu… kami harus bagaimana?” Park akhirnya membuka suara dengan ragu, sementara teman-temannya kini juga ikut menatapku seperti mendukung pertanyaannya, ikut memohon pertolonganku. Ah, yang begini yang tadi bilang yakin 1000% dan akan berusaha sekuat tenaga? Untung awalnya aku sudah sempat memikirkan cara mengatasi pasien ini, kalau tidak sepertinya reading days-ku mendekati ujian ini akan betul-betul tidak tenang karena gangguan mereka…

Maka aku hanya tersenyum tipis seraya menatap mereka satu per satu, “Sebetulnya, aku sejak awal sudah punya ide tentang ini, kalau-kalau kalian tetap bersikeras menanganinya.”

“Apa Dok??” Serbu mereka cepat dan serentak.

“Sejak awal, di tim ini ada satu orang yang jauh lebih cantik dari kalian berdua kan?” Kataku seraya menatap Park dan Kim 2 bergantian.

Seluruh internku langsung ikut menatap mereka berdua (dan dua gadis itu bertatap-tatapan), sebelum akhirnya, serentak semuanya segera menoleh ke arah Kim 1 dan menatap lekat-lekat pria berambut hitam itu dari atas ke bawah.

GLEK! Kim 1 terlihat menelan ludahnya dengan susah payah. Perasaan mulai tak enak. “W-W-Wae?? Kenapa semuanya jadi melihatku??”

“Jaejoongie, kamu masuk tim ini ya! Ya ya? Kamu kan lebih kuat, jadi pasti bisa melindungi kami. Didandani sedikit pasti cantik, dia nggak akan sadar kamu pria!” Park yang (seperti biasa) langsung mengerti maksudku wajahnya seketika berubah cerah dan meminta pada si Kim 1 dengan serangan matanya itu.

Yang lain pun dengan segera menangkap maksud itu setelah mendengar rekannya, terlihat dari wajah mereka (Zhou dan Kim 2, maksudku) yang lambat laun juga mulai berseri.

“Iya, Jae-ya… Ne??” Dengan cepat Kim 2 meraih tangan pria cantik itu, mengguncang-guncangnya.

“M-Museun…?? Sirheo! (Apa-apaan ini…?? Aku nggak mau!)” Kim 1 yang juga sepertinya sudah tanggap buru-buru menggeleng kencang dan sepertinya akan kabur…

…Sebelum si Zhou dengan cepat merangkulnya kembali, “Ayolah, Bro… Betul maksud dr. Shin, harus ada seseorang yang melindungi mereka. Lihat Yora dan Dal-i, gadis-gadis lemah begitu, kalau diapa-apain mana berani berontak? Tapi kamu kan pasti berani, bisa bela diri, lagi. Ayolah, wakili aku melindungi mereka…”

Sejenak, Kim 1 menatap dua gadis di belakangnya seperti suruhan Zhou (yang sekarang sibuk cekikikan tanpa suara di sebelahnya). Dengan segera Kim 2 dan Park mendekatkan diri dan mengangguk-angguk berbarengan dengan ekspresi se-inosen mungkin, layaknya dua gadis tak berdaya (halah). Cih, ada-ada saja.

“Mau kan? Kyaa, Jaejoongie saranghae! Yora, ayo cepat kita mulai make overnya!”

“Kalau begitu aku pergi.” Potongku segera untuk pamit, sebelum dua gadis diantara para internku sempat menyeret korban mereka yang terlihat masih tak rela. “Awasi satu sama lain, jangan mengacau, jangan permalukan aku.”

Maka berbarengan (terutama yang 3 orang), mereka pun langsung menghentikan aktivitas mereka dan membungkuk sangat dalam padaku dengan wajah penuh terima kasih, “Ne, Dok! Gamsahamnida!”

“Dokter, hwaiting ujiannya!! Gamsahamnida! ” Tambah Kim 2 seraya melambai-lambai padaku yang sudah berjalan menjauh—sama sekali tak terlihat seperti orang yang pernah mengalami shock sebelumnya—sebelum kembali lagi pada sang korban. “Jaejoongie kaja!”

“Aaaandwaaaeeee…!”

Menggeleng-gelengkan kepala mendengar suara-suara riuh di belakang—pokoknya kalau mereka ditegur aku tak ikut-ikutan, aku pun tetap melanjutkan langkah menuju loker untuk mengambil buku, sebelum seterusnya mengarahkan diri ke perpustakaan, ruang paling nyaman dan tenang bagiku di seluruh area RS ini.

“Prosedur lumbar puncture, jarum dimasukkan di antara ruas L3-L4 di bawah ujung sumsum tulang belakang, didorong hati-hati ke dalam rongga sekitar sumsum… Tungggu. Tadi L berapa? Ah, ada apa denganku…” Aku yang bahkan baru saja mulai belajar dengan sebuah boneka peraga milik RS mengacak-acak rambutku sendiri di dalam perpustakaan yang sepi ini, bingung dengan keadaanku yang tiba-tiba tak fokus. Padahal aku sudah hafal prosedur ini sebelumnya, tapi kenapa tiba-tiba seperti orang bodoh begini?

Ah, bicara tentang orang bodoh, aku jadi teringat dengan intern-intern kacau itu. Apa kabar kumpulan bocah itu ya?

Apa, aku mengkhawatirkan mereka? Cih, jangan salah tanggap. Aku mengkhawatirkan diriku sendiri, bisa gawat kalau ternyata mereka mengacau di luar pengawasanku begini. Niatku yang ingin fokus belajar untuk ujian agar mendapat nilai bagus bisa-bisa jadi berbanding terbalik karena nilaiku yang bagus itu jatuh akibat review tentang performance mereka yang gagal dibawah bimbinganku.

Tapi ingat mereka, aku malah jadi betul-betul tidak bisa melanjutkan belajar lagi, ini. Ah, sudahlah. Ayo fokus, fokus! Berdoa saja semoga di luar sana mereka melakukan semuanya dengan benar…

 

Sementara itu, di depan ruang loker staf medis,

“HUACHIM!” Jaejoong mengusap-usap hidungnya yang barusan bersin tiba-tiba tanpa sebab itu.

“Eh, Jae-ya, kamu flu-kah?” Yora yang barusan masih serius mengoleskan lipgloss di bibir tipis rekan prianya itu segera menengadahkan kepalanya khawatir.

“Bukan, kayaknya dr. Shin lagi mikirin dia tuh. Khawatir kita bikin kacau dengan acara samar-menyamar ini, kali.” Dal yang mengurus hair-do segera menimpali.

“Bukan! Ini gara-gara bedakmu, tahu.” Jaejoong buru-buru menggunakan kesempatan itu untuk menyampaikan protes yang sedari tadi ia pendam. Apa-apaan ini, sejak kapan pria bedakan, hah??

“Haah, sudah. Ayo keluar, keluar. Yuk, Yora.” Ajaknya seraya mendorong pria di hadapannya secara paksa. Yora yang berada di depan mereka segera mengangguk pelan dan menyingkir, memutuskan untuk berjalan setelah mereka saja supaya bisa Jaejoong, sang korban, tidak bisa memergokinya tertawa kecil sepanjang jalan keluar ruangan.

“Aiya! HEN PYAOLIANG!! (Ya ampun, CANTIK BANGET!!)” Zhoumi yang baru saja ditunjuki ‘wujud baru’ temannya refleks mengeluarkan bahasa asli yang belum sempat disaring translator Mandarin-Korean otaknya itu.

“Hah?” Tiga lainnya langsung pasang tampang bingung. Jaejoong bahkan alih-alih merasa dipuji, malah berpikir kalau sang kawan barusan mengata-ngatainya…

“Ani, maksudku, yeppeuda! JINJJA yeppeuda! Jinjja jinjja jinjja jinjjaya!” Zhoumi buru-buru mengoreksi kata-katanya, dan tak henti kini mengucapkan banget-banget-banget untuk kecantikan wanita, eh, pria, eh, pria jadi-jadian di hadapannya itu.

“Ya kan? Hihi, ada gunanya juga aku tadi aku bawa catokan dan bando cadangan.” Dal langsung memandangi lagi kawannya yang kini rambutnya sudah jatuh dan tertata rapi menggunakan bando tipis kuning mudanya itu.

Yora mengangguk, “Um, memang bando itu titik cantiknya. Bersinar di rambut hitam kamu. Manis banget, kayak malaikat.” Pujinya pada Jaejoong. Pria itu sudah nyaris terbawa suasana dan membalas senyum gadis imut di hadapannya sebelum akhirnya ia tersadar: ah, dia kan tak suka begini!! ƪ(°͡▿▿▿▿▿▿° )͡ƪ

“Tapi beneran, Jaejoong-ah. Make up-nya juga bagus, lho. Cantik banget, kalau nggak kenal pasti nggak akan sadar kamu aslinya cowok. Jalhaesseo Yora, Dal-i.” Zhoumi betul-betul terlihat masih tidak bisa menyembunyikan kekagumannya pada sosok cantik Jaejoong. Yora dan Dal segera melempar senyum satu sama lain, bangga ‘hasil kerja’ mereka mendapat pujian.

“Aaahhh, jangan lihat aku dengan muka mesum itu, Cina!” Kesal Jaejoong seraya menutupi seluruh wajah Zhoumi dengan sebelah telapak tangannya. Yang diomeli hanya tertawa-tawa. “Yaaa! Yang nggak membantu diam aja!!”

“Hei, aku membantu pinjam ruangan sana-sini untuk prosedur itu dan mengarang izin tentangmu ke dr. Hwan, tahu!” Cibir Zhoumi sambil tetap, menahan tawanya untuk Jaejoong. Ya ampun, marah saja cantik!

“YA~ Sudah-sudah. Uri ga kaja, kaja!! (Ayo kita pergi, pergi!!)” Dal segera memisahkan dua rekannya itu seraya menarik masing-masing tangan mereka untuk berjalan.

Jaejoong masih meratapi nasibnya dalam seretan gadis berambut sebahu itu, “Aaaa~ Dokter itu pekerjaan terhormat, kenapa aku harus kayak gini???”

 

***

 

“Annyeonghaseyo, Jeon-ssi. Sore ini kami ingin melakukan pengecekan final kondisi fisik Anda untuk prosedur besok.” Yora yang lebih dulu masuk ke dalam kamar rawat luas khas VVIP itu menyapa sang pasien yang sedang asiknya menonton TV. Tak ada sang istri di dalam ruangan itu. Wah, bisa jadi makin parah kelakuannya, kata Yora dalam hati.

Yang disapa segera mematikan TV-nya begitu mengetahui siapa yang datang. Tiga dokter-dokter muda yang cantik… Eh, tiga? Bukankah tadi dua? “Jeogi, Yora-yang (nona Yora), siapa teman Anda satu lagi ya?” Tanyanya seraya menggosok-gosokkan telapak tangannya dengan lidah sedikit terjulur, seperti melihat makanan menggiurkan saja. Bahkan tambahannya saja cantik! pikirnya.

Jaejoong buru-buru membuang mukanya ke arah lain, hanya demi tidak terlihat kalau ia baru saja memutar bola matanya dengan jijik melihat langsung tingkah laku pasien barunya ini. Awas saja kalau dia sampai menyentuhku! pikirnya.

“Oh, mata Anda awas juga dengan orang baru, ya. Betul, ini teman kami yang akan bergabung untuk ikut menangani Anda, dr. Kim Jaemi. Jaemi-ya, ini Jeon-ssi.” Kata Yora.

Jaejoong (yang disini namanya Jaemi, campuran Jaejoong dan Mimi, nama dari Zhoumi dengan alasan kalau keikutsertaan Jaejoong juga mewakili porsinya melindungi Yora dan Dal) hanya memberi senyum artifisial. Biarpun kata yang lain suaranya yang tinggi dan sedikit sengau—sengau seksi, kata Zhoumi—sudah mirip wanita sehingga ia bisa berkomunikasi biasa saja di hadapan pasien mereka, tapi tetap saja ia malas harus mengeluarkan suaranya hanya demi ahjussi mesum itu. Sebisa mungkin ia tak akan bicara kalau tak perlu.

“Aigoo, yeppeuseyo… (Aigoo, cantiknya…)” Puji pasien itu seraya menatap Jaejoong—Jaemi—lekat-lekat dari ujung kepala sampai kaki. Cantiknya… ia tinggi, putih dan langsing. Biarpun rambutnya yang hitam legam dan lurus jatuh itu terpotong pendek hanya sebatas leher, tapi ia menghiasinya dengan sebuah bando yang manis. Pandangan liarnya pada Jaejoong seperti sudah menggambarkan pikiran kotor yang ada di kepalanya. Dal yang melihatnya bahkan yakin kalau sebentar lagi pasien itu pasti akan meneteskan air liur karenanya. “Kenalkan, aku Jintaek. Panggil saja oppa.” Kata pasien itu seraya mengulurkan tangannya.

Yora dan Dal serentak menoleh pada Jaejoong, seperti isyarat kalau inilah bagian yang mereka ceritakan itu, ketika si pasien melakukan sesuatu seperti menggelitik telapak tangan mereka dengan sangat tidak menyenangkan. Jaejoong hanya mengangkat bahunya seraya menyeringai pada kedua gadis itu, seperti berkata: dia akan menerima hukumannya.

Maka ketika mereka akhirnya bersalaman dan pasien itu melakukan hal yang sama untuknya, Jaejoong buru-buru mengencangkan genggaman tangannya dengan seringai licik, berniat ‘meregangkan’ sedikit saja sendi-sendi jari pasiennya dengan beberapa gemeretak ringan.

“Argh, argh!” Pasien itu segera melenguh kesakitan karenanya. Jaejoong mencibir kecewa, ah sayang sekali, padahal baru terdengar 2-3 geretakan tadi.

Tapi ia buru-buru mengganti ekspresinya dengan wajah kaget yang palsu sekali, “Oh, joisonghamnida, Jeon-ssi. Apa jabatan saya menyakiti Anda? Joisonghamnida.”

Pasien itu cepat menggeleng sambil tetap meringis sakit, “Aniyo, mana mungkin wanita secantik dan lemah lembut Anda menyakiti saya? Tidak, tidak, tadi pasti tulang-tulang saya mulai kaku saja, biasa sudah umur.”

Itu sadar, cibir Dal yang menyaksikan itu semua dan jujur, masih dendam dengannya begitu mendengar kata ‘sudah umur’ dari pasien tadi.

Jaejoong tersenyum, sebelum kemudian membungkuk ringan dan memutar badannya untuk kembali pada kedua rekannya yang berdiri di ujung ranjang pasien itu.

…Ketika tiba-tiba ia merasakan sesuatu mendekati tubuh belakang bagian bawahnya…

HAP! Dengan cepat ia sudah menangkap pergelangan gemuk pria itu yang tadi sudah siap mendarat di bokongnya, “Apa yang mau Anda lakukan, OP-PA?” Tanyanya sinis.

Pria itu hanya bisa nyengir kuda karena niatnya sudah keburu digagalkan oleh dokter cantik ini. Sekaligus juga tentu, sedikit merasa ngeri akan kesigapan staf medis tambahannya itu.

Sementara kedua temannya seperti sudah akan bersorak kegirangan karena dendam mereka terbalaskan, Jaejoong hanya mengibas rambutnya ringan. Tidak sia-sia waktu remaja dulu ia belajar Taekwondo demi melindungi adiknya, Junsu, yang juga sering jadi sasaran ahjumma-ahjumma genit karena ‘duck butt-nya’ yang terkenal itu. Sekarang refleks itu berguna. Eh, tapi ‘mengibas rambut’? Kenapa lagaknya juga sudah jadi seperti wanita begini? ANDWAE!

“Baiklah, sampai bertemu besok saat prosedur, Jeon-ssi. Jangan lupa lanjutkan konsumsi aspirin sesuai resep dokter demi persiapan kondisi darah Anda. Dan Nyonya, annyeonghaseyo.” Pamit mereka juga pada si istri pasien yang baru kembali beberapa saat lalu dari minimarket itu.

Ah, minimarket. Yora langsung teringat. “Nyonya, tolong agar pola makan suami Anda dijaga—” kata-katanya segera terpotong karena begitu berbalik pada pasangan itu lagi, ia sudah mendapati pasiennya kembali makan sembarangan hasil belanjaan istrinya itu.

Ia langsung berdeham keras, “EHEM.” Barulah sang pasien berhenti. Maka Yora kembali melanjutkan, “Hanya ingin mengingatkan apa yang pasti pernah disampaikan dokter-dokter Anda yang lain, tolong jaga pola makan dan hidup Anda kalau masih ingin ada di dunia ini lebih lama lagi.”

Mendengarnya, maka jangankan pasien itu, teman-temannya bahkan sampai menganga takjub melihat gadis pendiam seperti Yora mampu berkata sarkastis seperti itu, apalagi pada seorang pasien VVIP yang bahkan Direktur RS ini pun menuruti keinginannya meminta hanya wanita sebagai staf medisnya.

“Aku cuma mengatakan fakta kok, memang kedengarannya kejam banget ya?” Yora malah bertanya kebingungan pada kedua temannya yang tadi menjadi saksi di dalam kamar VVIP itu, ketika mereka sedang menceritakan reka ulang semua pengalaman dengan pasien itu barusan selama perjalanan menyusuri lorong RS kepada Zhoumi yang segera menuntut cerita setelah selesai dengan urusan perizinan Jaejoong dan peminjaman ruangan selama mereka berada di dalam tadi.

“Wah… Kalau dia tadi marah, bisa-bisa dia buat kamu dicabut dari tim ini, mungkin. Atau lebih parah ia merasa terhina dan malah cabut nggak jadi berobat disini. Ah… sumber uang RS ini…” Jawab Dal sok dramatis.

Yora hanya mengangkat bahu.

“Nah, ya sudah sekarang kita pulang yuk, prosedur besok pasti menyenangkan!” seru Dal lagi pada rekan-rekannya.

Tapi di saat Yora dan Zhoumi mengangguk pasti, Jaejoong yang sudah selesai menghapus make up dan kembali mengacak rambutnya tak beraturan malah memberi pandang ragu, “Soljikhi, chingu-ya… (Sebetulnya, teman-teman…) Aku masih belum begitu clear tentang angioplasti ini. Tapi berhubung kata dr. Shin penyakitnya jantung koroner… berarti kita bakal ngapain arteri koronernya ya? Hehe.”

Teman-temannya langsung menatap takjub sebelum akhirnya menggelengkan kepala dan memutuskan bersama, “Kita nggak jadi pulang sekarang. Ayo ke perpus, Jae. Belajar!”

 

Di perpustakaan,

TAK! Aku meletakkan pena-ku dengan keras di atas meja untuk kesekian kalinya sejak keberisikan di bagian lain perpustakaan ini menggangguku sudah sejak 10 menitan yang lalu. Awalnya aku coba untuk bersabar, tapi orang-orang itu seakan tidak merasa kalau semua hantaman keras pena-ku ke meja adalah untuk memperingatkan mereka. Kalau sudah begini tidak ada jalan lain selain memperingati langsung. Lagipula aku juga jadi penasaran, siapa sih mereka? Kalau dengar dari suara mudanya, mungkin intern atau staf medis baru. Atau mungkin malah pengunjung RS? Tapi kalau sampai benar intern, betul-betul pasti akan kutegur resident-nya. Lihat saja.

“Sikkeureo! (Berisik!) Tak tahu ini perpustakaan?” Aku yang sudah tiba di meja mereka yang berada di bagian cardiologi (jantung) segera menegur 4 pemuda-pemudi yang masih memakai setelan medis biru tua mereka itu. Tuh kan, pasti staf medis baru. Eh tapi, sepertinya aku kenal penampakan-penampakan dari belakang ini…

“Ne, joisonghamnida—DOK??” Seorang wanita muda yang cepat-cepat menoleh untuk meminta maaf langsung terkaget-kaget begitu melihat wajahku. Yah, tapi tentu aku tak kalah kagetnya. Dia Park, intern-ku sendiri. Dan bocah-bocah yang lain, tentu teman-temannya sesama intern-ku juga… Jadi sekarang aku harus menegur diriku sendiri, ini?

“Dokter!” Sementara ketiga temannya lain, begitu mendengar seruan gadis itu segera berbalik, dan tak pernah kulihat wajah mereka yang begitu senang melihatku sebelumnya seperti saat ini. Tapi aneh… perasaanku tak enak.

“Jadi kalian belum paham tentang angioplasti? Dan manfaatnya??” Tembakku dengan suara tinggi. Ya ampun, apa saja yang mereka lakukan ketika kuliah, sih?

“Bukan kami, Dok. Jaejoong saja.” Park, Kim 2, dan Zhou cepat-cepat meralat seraya menunjuk pria satu lagi yang berada paling ujung di antara mereka.

“Angioplasti-nya sudah sedikit dapat pencerahan dari penjelasan mereka selama kami belajar tadi, Dok. Tapi manfaatnya… mereka sepertinya mengerti tapi susah menjelaskan. Jadinya saya juga tidak mengerti-mengerti.” Kim 1 segera membela diri.

“Kalau tak mengerti benar-benar manfaatnya, kalian tak akan bisa melakukan semua prosedur medis dengan baik, tahu?? Karena ketika menangani pasien itu, hati kalian sendiri masih bertanya-tanya: apa gunanya kalian begitu?”

“Nah, itu maksud saya.” Timpal si Kim 1 lagi cepat seraya mengangguk-angguk. Melihatnya, aku pun akhirnya tak jadi marah. Yah, setidaknya biarpun agak sedikit ketinggalan, tapi ia punya kemauan dan perasaan untuk memahami apa yang ia kerjakan. Itu sikap yang sangat bagus.

“Jadi begini, arteri koroner, atau pembuluh darah yang khusus membawa darah bagi otot jantung, sangat vital dijaga kenormalannya. Kenapa?” Aku pun akhirnya malah berakhir di meja ini, menjadi tutor anak-anak ini lagi. Yah, bertanggung jawab atas kemampuan tanggunganku itu. Mereka menatapku dengan serius. “Karena ketika arteri koroner berada dalam keadaan normal, maksudnya tidak mengalami penyempitan atau mungkin tersumbat aterom (lemak), darah pun juga akan mengalir dengan lancar kan? Dan seperti yang kalian pasti sudah hafal, darah membawa oksigen. Nah, oksigen inilah sumber kekuatan bagi otot jantung untuk terus berdetak. Bayangkan jika arteri koroner ini tidak lagi normal, mengalami penyempitan atau tersumbat aterom tadi.”

Mereka semua mengangguk-angguk. Dan sedikit-sedikit, wajah Kim 1 mulai terlihat cerah, tidak buntu tanpa harapan seperti beberapa saat lalu.

“Nah, kalau itu sudah terjadi, suplai darah dengan oksigen yang adalah ‘motor’ jantung pun akan menjadi terbatas. Kerja jantung jadi melemah, angina (nyeri dada) juga jadi sering terjadi. Kalau dibiarkan terus, kematian.” Aku kembali melanjutkan dengan penjelasan se-simpel mungkin yang bisa kubuat agar ia cepat mengerti. Bagaimanapun, prosedurnya besok, setidaknya aku harus mencegah ia betul-betul clueless saat menangani pasien nanti. Biarpun saat itu ia juga tidak akan banyak melakukan apa-apa karena semuanya harus dilakukan oleh specialized cardiologist5, tapi tetap saja. “Jadi bagaimana? Sudah lebih cerah?”

Kim 1 mengangguk pasti dengan senyum sumringah seraya langsung bangkit dari duduk dan membungkuk dalam padaku, sepertinya ia sudah berhasil menangkap ‘kuliah dadakan’-ku tadi. “Wahh, Dokter, terima kasih ya, terima kasih banyak!!”

“Ya sudah sana pulang, ingat besok: awasi—”

“Awasi satu sama lain, jangan mengacau, jangan permalukan Dokter. Siap, Dok!” Potong mereka dengan wejangan rutin yang selalu kukatakan sejak aku suka meninggal-ninggalkan mereka itu. Aku hanya geleng-geleng kepala acuh.

“Sudah, pulang. Dan oh, sudah berkenalan dengan lab tempat prosedur nanti dan specialized cardiologist pengganti dr. Hahn, dr. Moon, kan?” Pastiku lagi.

“Sudah Dok, tadi sebelum pemeriksaan sore pasien.”

PIP! Tiba-tiba pagerku berbunyi. Aku segera melihat pesan di dalamnya, dan isinya sekejap membuatku menghentikan aktivitas para internku yang sudah siap pulang, “Tunggu.”

Mereka berbalik.

“Ada berita buruk. Aku baru saja diberitahu bahwa untuk besok, ternyata hanya diperbolehkan dua intern yang masuk dalam lab.”

Kim 1 segera menjawab, “Oh, kalau begitu ya tidak apa-apa, Dok. Dal dan Yora saja, bagaimanapun mereka tim aslinya, lagipula saya saja baru paham prosedur ini tadi, mereka pasti sudah lebih menguasai. Apalagi ayah Yora juga cardiologist hebat, pasti Yora juga sangat familiar dengan ini.”

Tapi aku cepat-cepat menggeleng, “Tidak, justru aku ingin mengeluarkan Park dari tim. Yang maju besok adalah kalian berdua, Kim 1, Kim 2.” Aku menatap mereka satu per satu.

“Lho, Dok—”

“Final.” Kataku tegas.

“Tapi Yora—”

“Tidak apa-apa kok.” Gadis itu tersenyum. “Lagipula aku kan sudah turun di kasus kemarin. Itu maksudnya kan, Dok?”

Seperti yang kuduga, ia paham maksudku. “Aku pergi.” Tapi alih-alih menjawab, aku malah melengos begitu saja. Biarkan saja, gadis itu pasti bisa membuat teman-temannya mengerti.

Aku pun sudah kembali berkutat dengan buku-bukuku ketika tiba-tiba aku merasakan kehadiran seseorang di sebelahku. Aku menoleh, ternyata si Park.

“Wae?” Tanyaku acuh sembari kembali lagi pada bacaanku.

Tak kusangka ia malah membungkuk, “Terima kasih sudah banyak membantu kami, Dok.”

“Hm.” Anggukku sekedarnya.

“Umm… Boleh saya duduk?”

“Jib-e andoraga? (Kau tak pulang)?”

“Sebetulnya saya sekalian menunggu dijemput, sih.”

Ah, benar juga. Aku lupa dia putri kaya. “Ya sudah, duduk.”

“Dokter masih belajar untuk ujian attending itu ya?” Tanyanya setelah duduk dengan manis, begitu melihat tumpukan bukuku. “Spesialis apa, Dok?”

“Neurosurgeon.”

“JINJJAYO??” Serunya tiba-tiba, bahkan sampai berdiri dari meja. Tapi ia buru-buru menyadari tindakannya dan kembali duduk. “Joisonghamnida.”

Aku tidak merespon.

Maka takut-takut, ia pun kembali berkicau. “Sebetulnya, seperti Mimi yang juga sudah tahu minatnya di Ortopedi, saya juga sudah tahu minat saya, Dok… Saya juga tertarik dengan Bedah Syaraf. Makanya saya kaget begitu tahu Dokter sedang ujian untuk gelar Neurosurgeon.”

Kini, ia berhasil mendapatkan sedikit perhatianku. “Pantas tiap melihat operasi di OT (operating theatre, lihat case 1) kamu selalu serius menirukan gerakan tangan para dokter bedah.” Kataku padanya.

“Um.” Ia mengangguk. “Tapi selama saya disini belum pernah ada kasus bedah syaraf… Hajiman, jal butakdeurimnida. (Tapi, saya mohon bimbingannya.)” Ia cepat bangkit dan kembali membungkuk 90 derajat. “Saya tak menyangka ternyata dokter yang bisa saya jadikan role model untuk bidang ini ternyata begitu dekat… Sekali lagi saya mohon bimbingannya.”

Melihatnya sangat penuh determinasi seperti itu, aku jadi tersenyum. Dan benar, ini kedua kalinya selama karir kedokteranku aku tersenyum, karena dan pada orang yang sama pula. Entahlah… seperti ada sihir aneh pada gadis ini yang bisa membuat semua orang jadi menuruti keinginannya dengan sukarela.

Do you want love, naega eotteokhaeya dwae, and I want love~

Sesaat kemudian terdengar suara pelan yang berasal dari dalam tas tangannya. Ia segera mengecek ponselnya dan tak lama, sudah memasukkannya lagi dan bersiap pergi. Pasti jemputannya itu sudah datang… seperti tuan putri saja. “Kalau begitu saya permisi dulu, Dok. Maaf sudah mengganggu.” Pamitnya seraya membungkuk lagi. Aku hanya mengangguk.

Dan seketika, aku sendirian lagi di perpustakaan seluas ini. Penuh pemikiran bahwa dasar, apa jadinya anak-anak itu tanpa aku, ya??

 

Hari prosedur angioplasti,

“Baiklah, begitu saya pakaikan masker ini, hiruplah udara di dalamnya dalam-dalam ya, Pak. Rileks saja.” dr. Moon, specialized cardiologist RS Universitas Korea yang menangani hanya ketika prosedur angioplasti-nya dalam proyek pasien Jeon ini memberi instruksi pada pasien pria gemuk yang sudah terbaring di hadapannya itu.

Melihat tindakan dokter pria keturunan Amerika itu, Jaejoong—Jaemi—yang memeluk papan jalan berisi kertas-kertas untuknya mencatat buru-buru menarik baju steril Dal sambil berbisik, “Katamu angioplasti nggak perlu bius total…”

“Aku juga bingung.” Balas Dal yang berada di sebelahnya menjawab dengan bisikan juga. “Semua bahan yang aku baca bilang pasien dibiarkan dalam kondisi sadar saat menerima perlakuan, kok… Cuma bius mati rasa di bagian kateter akan dimasukkan.”

“Tadi pagi kami mendapat pesan dari dr. Shin untuk pengecualian pada pasien ini, ia minta kami melakukan bius total.” Tiba-tiba Nam Yura, asisten dr. Moon yang membantu prosedur ini sudah berada di sebelah mereka dan menjelaskan dengan senyuman. Jaejoong dan Dal langsung pasang tampang bingung. Yura tertawa kecil, “Beliau sih tidak bilang alasannya, tapi kurasa itu supaya selama prosedur, pasien ini tidak bisa mengganggu kalian… Kelakuannya itu sudah terkenal kok, jadi kalian tidak perlu heran aku tahu darimana. Yang jelas, sepertinya dr. Shin sangat perhatian pada kalian. Padahal pada internnya yang dulu galak sekali.” Ia tersenyum lagi.

“Sama kami juga, kok.” Dal dan Jaejoong yang tadi masih sibuk lihat-lihatan mendengar ‘kemurahan hati’ tiba-tiba resident mereka segera ber-koor merespon.

Yura tertawa melihat ‘hoobae-hoobae’ se-tempat kerjanya itu. “Nah, sepertinya dr. Moon sudah akan mulai tuh, ayo mendekat, tak apa.” Ia buru-buru melangkah mendahului mereka untuk membantu dokter itu.

Yura mengambilkan pisau bedah untuk membuat sayatan kecil di bagian selangkangan pasien itu ketika dr. Moon memintanya. Kenapa selangkangan? Karena disana terdapat arteri femoral atau pembuluh nadi yang memang cukup besar, tempat dimasukkannya kateter atau pipa halus yang ujungnya dilengkapi balon kecil dan stent (pipa berjaring baja tahan karat yang dapat mengembang) untuk angioplasti ini. Kateter ini kemudian di arahkan ke atas melalui aorta untuk masuk dalam jejaring arteri koroner yang diinginkan. Semua hal itu (mengarahkan dan nanti, peniupan balon pada kateternya) dilakukan dengan melihat seksama pada monitor sinar X yang dihubungkan dengan kateter tadi.

Jaejoong dan Dal melihat semua perlakuan itu lewat monitor dengan takjub. Wah, ini betul-betul pengalaman berharga!

“Baiklah, di arteri koroner yang sudah ditentukan sekarang kita kembangkan balonnya… Tidak usah khawatir terlalu mengembang atau bagaimana, semua ukuran sudah fixed kok. Tapi tetap harus hati-hati, bagaimanapun lapangan kerja kalian hanya berukuran 3 mm, salah gerakan sedikit bisa fatal.” Dal dan Jaejoong segera mencatat semua perkataan dr. Moon dengan tepat. “Nah, balon yang mengembang ini juga membuat stent yang mengelilinginya ikut melebar, sehingga menyempitnya arteri kembali bisa dicegah untuk waktu yang lama. Nantinya sel-sel akan tumbuh diantara jaring-jaring stent itu—”

Maka hanya dalam kurun waktu kurang dari dua jam, prosedur angioplasti itu pun selesai. 5 stent sudah berhasil dipasang, dan selama semalaman nanti pasien akan dipantau untuk recovery-nya. Karena seperti yang sudah dibilang, angioplasti memang hanya perkara minor sehingga tidak butuh waktu lama pasien bisa kembali beraktivitas, bahkan kalau semuanya normal, pasien sudah bisa pulang esoknya.

Jaejoong—Jaemi—dan Dal keluar dari lab khusus itu seraya meregangkan badan mereka. Padahal mereka cuma ‘menonton’, tapi tetap saja pegal sekali! Pegal mata lebih tepatnya, karena menjadi specialized cardiologist seperti dr. Moon ya mau tak mau harus melihat monitor seperti itu berjam-jam tiap kasus. Tapi pengalaman ini pasti tak akan pernah mereka lupakan selamanya!

“Salam pada dr. Shin ya.” dr. Moon yang baru keluar ruangan menepuk bahu mereka berdua dari belakang sebelum terus berlalu. Dal dan Jaejoong cepat-cepat membungkuk mengantarkan langkah beliau.

“Asik, kan?” Tiba-tiba Yura, asisten sang specialized cardiologist sudah muncul lagi di samping mereka berdua. Jaejoong dan Dal yang kaget cepat-cepat mengelus-elus dada mereka. Bisa cepat mati kalau berada dekat orang ini terus, munculnya tiba-tiba melulu!

Tapi mereka mengangguk, “Iya. Gomapseumnida, sunbaenim.”

“Ani.” Yura mengangkat sebelah tangannya. “Ya sudah aku juga duluan ya. Dan… Jaemi, namamu Jaemi, kan?” Ia menunjuk Jaejoong. Jaejoong awalnya bingung, tapi begitu Dal menyenggolnya, ia baru sadar kalau ia memang itulah namanya selama penanganan proyek ini.

Maka Jaejoong pun mengangguk.

Yura segera meraih tangan pria, err… ‘wanita’ itu bersemangat, “Kamu cantik banget, lho… Tapi aneh, ada intern secantik kamu kenapa nggak pada heboh, ya? Staf sini biasanya ribut sekali, lho.” Katanya tulus. Jaejoong sukses cengo dengan Dal di sebelahnya, sibuk menahan diri untuk tidak terpingkal-pingkal. Berarti hari ini dia sukses lagi mendandani orang! Atau… memang JJ yang sudah kelewat cantik, ya?

 

Dua hari kemudian,

“Baik Park, silakan.” Aku memberi instruksi pada Park yang sudah siap berdiri di depan hasil angiografi pasien sebelum dan sesudah prosedur, siap menjelaskannya pada pasien dan keluarganya. Hari ini aku memang sengaja meluangkan waktu sebelum ujian untuk menemani para internku menyampaikan hasil dari prosedur angioplasti yang sudah dilakukan RS untuk pasien ini. Timku berada dalam formasi lengkap, bahkan si Zhou pun ada disana, bersandar di ujung kamar bersama si sesama pria, Kim 1.

Park segera mengangguk begitu mendengar aba-abaku, “Baiklah. Jeon Jintaek, 53, mendapat rujukan angioplasti dari Dongsa Medical Centre. Sebelumnya disini, di bagian yang ditandai dapat dilihat terjadi penyempitan pada arteri koroner beliau, dan pada pagi dua hari lalu sudah diadakan prosedur angioplasti untuk memperlebarnya kembali. Sukses, dapat dilihat pada hasil kedua dimana diameter arteri koroner tersebut sudah kembali seperti semula.” Katanya, menyampaikan persis semua yang diajarkan dr. Moon padanya tentang cara mempresentasikan hasil X-Ray (angiogram) itu.

Aku melanjutkan penjelasannya, “Dan dengan melihat itu semua, Anda pun dinyatakan sudah boleh pulang hari ini.”

Tak berapa lama—karena pasien yang juga sebetulnya sudah tahu kalau ia memang sudah akan diperbolehkan pulang hari itu—kami pun sudah mengantar beliau menggunakan kursi roda menuju pintu masuk RS tempat mobilnya sudah menunggu.

Tapi tak disangka, ia seperti terlihat enggan memasuki mobilnya saat kami sudah sampai, dan terus menerus melihat ke dalam RS.

“Maaf, ada apa ya, Pak?” Kim 1 yang mendorong kursi rodanya bertanya heran.

“Aniyo, saya hanya sedang… mencari rekan kalian satu lagi. Jaemi-yang… Saya rasanya belum bisa pulang kalau belum melihatnya…”

“Hmph!” Kim 2, Zhou, dan Park yang berada di belakangku sudah sibuk menahan gelegar tawa mereka.

Sedangkan si Kim 1 hanya tersenyum-senyum geli, “Saya, Pak.”

“Ha?”

“Saya, Kim Jaemi.” Terangnya lagi seraya berbalik dan meminta sesuatu pada Kim 2. Gadis berponi itu segera memberikan sebuah bando berwarna kuning muda untuknya sambil tetap menahan tawa. Kim 1 dengan cepat merapikan rambutnya yang tadi diacak tak beraturan dengan gel seperti pria biasa lainnya itu dan mengenakan bandonya.

Dan seketika… mata pasien kami membulat dengan mulut ternganga, dan secepatnya ia langsung meloncat dalam mobilnya untuk cepat-cepat menyingkir dari RS kami.

“HUAHAHA~” para internku mengakak bebas begitu kami sudah berjalan masuk kembali dalam RS.

“Sudah kubilang jangan berisik atau aku akan memotong nilai kalian!” Omelku yang berada di depan merka cepat tanpa menoleh. Mereka langsung mengunci mulut rapat-rapat.

“Tapi Dok, Dokter hebat lho, bisa tahu sejak awal kalau Jaejoongie bakal cantik banget jadi wanita. Saya saja kaget, saya tahu dia memang terlalu manis sebagai pria, tapi untuk bisa jadi wanita secantik itu… WOW.” Zhou yang berjalan santai dengan meletakkan kedua tangannya di belakang kepala berkata.

Jangankan kalian, aku sendiri yang sudah bisa melihatnya sejak awal juga kaget kalau cantiknya bahkan bisa secantik itu!! (author: itu dia lihatnya yang belum pakai make-up padahal :p)

Tapi akhirnya aku tetap tak merespon.

“Oh ya Dok, terima kasih ya buat perhatiannya waktu prosedur kemarin.” Kata si Kim 1 tiba-tiba.

Aku mengernyit, “Hm?”

“Ah ah, si Dokter… Kami tahu lho tentang permintaan bius khusus itu… Ih senang deh Dokter sayang sama kami.” Kini si Kim 2 mulai menyikut-nyikut lenganku ringan.

“Sayang apa??”

“Aihh, Dokter masih pura-pura nih…”

Sukses, pipi tembamku terasa mulai terbakar sekarang. Sial, sudah kuminta pada dr. Moon untuk tidak memberitahu mereka…! “Aku TIDAK pura-pura dan jangan menggodaku!!”

“Ah, si Dokter…”

“YA!”

 

TBC

 

1tindakan memperlebar sebuah bagian arteri koroner yang telah menyempit atau tersumbat lemak. Visualnya begini:

dan ini adalah gambar bekas kateter asli yg sudah dipakai (lihat balonnya yang sudah menggembung):

2prosedur diagnosa yang memerlihatkan gambaran luar arteri koroner dengan gambar sinar X khusus (disebut angiogram).

3penyakit jantung yang disebabkan oleh penyempitan dan kakunya arteri akibat timbunan lemak di dindingnya.

4laboratorium khusus tempat dilakukannya angiografi dan angioplasti. Gambar Cardiac Catheterization Laboratory:

5ahli jantung khusus yang menerima training ekstensif di bidang Kardiologi Umum dan Invasive Cardiology (prosedur angioplasti dan angiografi). Ahli bedah jantung (cardiac surgeon) di-training secara berbeda untuk melakukan prosedur operasi, dan tidak melakukan angioplasti ini.

Tapi sebagai cardiologist top, papanya Yora bisa dua-duanya 🙂

 

Ya ampun makin hari makin panjang, sebentar lagi bikin tesis ini saya hahaha 😀

Advertisements
 
28 Comments

Posted by on August 6, 2011 in Super Junior, [THE SERIES]

 

Tags: ,

28 responses to “[THE SERIES] DR. SHIN – Case 2

  1. chrisnagustyani

    August 7, 2011 at 12:29 pm

    hahahahahahahaga gak bisa berenti ngakak ini, sayang nyonyah gak ngash piku Jaejoongie kalo jd cewe (diedit kek gtu)

    hah, kalo aku malah gak minat BS , abisnya kemaren udh smpt kuliah ttg bedah saraf sama dokter SpBS RSCM, n bedah saraf it rumit sekaliiii~

    sayang ya di ff ni gk ada Yunho… (kebayang YunJae wkwk)

    ayo nyah, ini msh mw lanjt case 3 ato the series lainnya?

     
    • lolita309

      August 8, 2011 at 9:07 pm

      huahaha, saya ga kepikiran sampe situh, kebanyakan cari piku buat ilustrasi prosedurnya malah ._.

      justru, pikirannya yora itu ya makin rumit makin seneng dia #bleh -____-

      ada loohhh yunho, anak intern dokter lain, di case 1 sempet numpat lewat namanya huahaha

      lagi nulis case 3, tapi pengennya selingin apa dulu gitu.. tp ga ada ide ._.

       
  2. hwangminmi

    August 7, 2011 at 5:06 pm

    AAAAAAAAHHHHHHH DAEBAK!! >..<
    kalo aja dia didunia nyata kayak begini jg~ .___.

    eonni, kim dal itu nama artis jg atau gimana?
    soalnya aku baru sadar kalo park minyoung itu nama artis setelah aku nonton city hunter -__-a

    *langsung kabur sambil kibas" tangan XD*

     
    • lolita309

      August 8, 2011 at 9:09 pm

      huahahaha, kalo di dunia nyata kayak gini, pada naksir kali ya sama shindong? huahaha #PLAK

      bukan, sayang.. kim dal itu murni OC, dal artinya bulan, bagus kan? *todong pisau biar iya* :p
      jiahhhhh, iya itu park minyoung artis, kan di cerita itu aku juga bilang dia lawan mainnya yoochun (di sungkyunkwan scandal)

      MAKASI SAYANG UDA KOMEEENNN..

      *bales dadah-dadah XDD

       
      • hwangminmi

        August 10, 2011 at 9:36 am

        Iya eonni! Waaaaa >.<

        *berhubung lg ditodong pisau jd langsung ngangguk"*

        Eonni, kalo gak ada ide bikinin ff buat aku dong~ :3 *tarik" baju* *pasang tampang (sok) imut*

        Oh iya, eonni udah denger berita soal yesung tunangan taun depan itu? Itu beneran gak? .__.

        Yak, komen saiia gaje -__-a

         
      • lolita309

        August 16, 2011 at 1:01 pm

        ooii, ff-mu udah di post tuh sayang…. masih part 1 sih tapinya, fail pulak huahaha XDD

        haaaahhhh??? yesung mau tunangan????? denger darimana tuh???? *pingsan*

         
  3. oepieck

    August 8, 2011 at 5:45 pm

    eonni!!! daebak deh! ^^

    asli aku ngakak dari awal sampe akhir, sejak awal aku dah ngrasa klo si jaejoong ini bakal diumpanin. kwkwkwk~ terus dia dipakein rok gitu ya eon? huahahaha~ tu orang mesum ketipu! kkk~
    sebel ya klo ada orang kayak gitu. klo aku jadi istrinya dah minta cerai dari dulu (emosi)

    kasus ini bikin aku inget ama shindong oppa. aku seneng banget dia diet dan sekarang udah gak se-ddung-ddung dulu. aku takut klo dia kena penyakit karena kegemukannya ini (kaya pasien di atas *lupa namanya) semoga dia mau berjuang biar bisa kurus lagi 😀

    ditunggu case selanjutnya! ^^

     
    • lolita309

      August 8, 2011 at 9:24 pm

      engga kok, ga sampe pake rok segala, kan mereka pake seragam RS, modelnya satu stel atasan-bawahan gitu hehe 🙂

      huaaaa tapi sekarang juga masih ndut.. aku bingung deh, itu yang piggy dolls aja (tau ga? girlband yg gemuk2 itu loh) mereka aja berhasil jadi langsing cm dalam 6 bulan. aku jadi curiga, ini shindongnya yg kurang effort apa emang sengaja pengen dibikin image-nya gitu sama SM ya? ._.

      tapi iya, mudah2an dia mau usaha biar kurus lagi, pasti bisa laaah! doi ganteng lho sebenernya 🙂

      sipp, makasi uda baca sayang^^

       
      • oepieck

        August 9, 2011 at 8:41 am

        huahahaha…. lucu aja kalo iya
        bajunya biru” yg kyak di gambar itu ya?

        iya tahu, keren banget itu perubahannya, salut!
        kyaknya iya shindong yg kurang usaha, waktu 4jib aja pelatihnya sampe putus asa gara” shindong suka bo’ong tentang apa yg dia makan. g berhasil deh… 😦

        iya shindong itu ganteng! apalagi wktu dia foto sama tunangannya itu…
        ayo oppa!! fightingg!!!

         
      • lolita309

        August 16, 2011 at 1:07 pm

        iya biru-biru, biru tua ceritanya kalo disini. tapi bukan kayak yg di gambar di atas, kalo itu baju steril namanya. baju dinas itu kayak yg di foto staf di case1 🙂

        waaaah sayang banget dongdong, padahal kalo aku bisa ke korea aja rasanya pengen icipin metode langsing+sehat trainer sana deh… masalahnya mereka kayaknya teratur banget, pasti hidupku juga bakal jadi lebih teratur disana hahahaha XDD

        iyaaaa, di foto itu ganteng banget!! tunangannya juga cantik disitu, padahal aslinya biasa aja sih -__-

        hehe iyaa semangkaa shindong oppa!!! 😀

         
      • oepieck

        August 17, 2011 at 11:35 am

        ow… yg dipake staff di dalem galeri tribun itu ya?

        huahaha… eonni ada” aja.
        iya, aku juga suka kaget lihat metode di sana begitu ampuh dan mujarab. apalagi setelah lihat idol” yang pipinya agak chubby, 1 minggu kemudian balik dengan pipi tirusnya sama tangan yang bebas lemak….. bureopttaa~!!

        eh, iya po? aku malah belum pernah lihat aslinya… hehehe :p

         
      • lolita309

        August 17, 2011 at 11:48 am

        iyaa yang itu^^

        haha tapi emang bener kok, abisnya perasaan makanku dikit, pernah coba fitness jg, tp tetep aja ga kurus2… setres to the max -_____-

        ya kan? iriiiiiiii loh, kayaknya disana ngurusin badan itu gampang banget ._.

        aku juga cuma liat di foto aja sih… mungkin angle-nya yg lagi jelek hahaha. tapi kalo urusan tinggi badan, suer ternyata dia emang pendek banget. awalnya aku ga percaya loh pas shindong bilang dia cm 150 cm. tapi setelah liat perbandingan tinggi mereka…. ya ampun…. -____- *wah, malah jadi ngomongin orang? #PLAK :p

         
      • oepieck

        August 17, 2011 at 8:48 pm

        sabar eonni! berjuang lagi biar bisa kurus! Ramadhan sepanjang tahun!! *PLAKK! *niat nyiksa
        hehehe…. eonni dah cantik kok! *g bo’ong ^_^v

        lha aku meskipun badan udah kurus (kelewat krempeng: beratku 6 kilo dbwh bb.ideal) tapi muka masih chubby gini. udah coba diet, lari-lari tiap hari tapi g ada perubahan. sama-sama stress…. -_______-

        hayo, hayo… puasa g boleh gosip~ :p

        iya, dulu aku pernah lihat foto mereka pas jalan di mall
        shindong kayak jalan sama adeknya yang masih SMP ntu… *sama aja ini juga gosip -__-*
        maap ya nari eonni, kalian tetep kudukung kok, hehe… 😀

         
      • lolita309

        August 17, 2011 at 9:45 pm

        apaan, ramadhan sama sekali ga ngebantu -____-
        sebetulnya sih aku tau yg aku butuhin biar cepet kurus (lagi): personal trainer. biar ada yg aturin makannya loooh, notice kan di korea sono makannya bnr2 diitung per kalori? *sigh*

        huahaha curhat booo XDDD

        kalo cuma muka chubby gpp kali, lucu ky sohee gitu hahaha. cuman kalo kayak kita nih yg pake jilbab, hrs pinter2 makenya buat nutupin chubby itu^^

        aaahhh kamu bisaa ajaa mujinya~~~ jadi (pengen punya) malu nih >< #PLAK

        haha gosiiiipppp mulu bulan puasa yeeee~ lanjutkan! (loh? :p)

         
      • oepieck

        August 18, 2011 at 1:53 pm

        iya, menurutku juga gitu. klo kita me-manage semua program diet sendiri belum tentu bisa berhasil, kan jadi semaunya diri kita. klo ada personal trainer pasti bener” diawasi. tapi diet pake personal tainer itu mahal yak?

        itu dia untungnya pake jilbab, kuakui mukaku lebih enak dilihat klo lagi make ^^

        jiahahaha~ auhornya gebleg. tapi bener kok eonni dah cantik 😀

         
      • lolita309

        August 18, 2011 at 9:26 pm

        iyalah mahaaaall~ waktu aku fitness aja, kalo mau pake trainer itu ada bayarannya sendiri diluar biaya member -______- walhasil cuma dibantu beberapa kali deh. fiuhhh~~

        banyak lhoooo untungnya pake jilbab.. kalo lagi jerawatan bisa ditutupin, kalo lagi bad hair day bisa ketutupan… huahahahaha <– setres

        aihh, jadi malu lagi. makasi yaaaaaaa cupss :*

         
      • oepieck

        August 21, 2011 at 12:41 pm

        oloh oloh… yang namanya usaha emang g ada yang gampang ya?

        hahaha, betul sekali.

        oh tidak, aku dicium lola eonni!! *Plak!

         
  4. wiehj

    August 8, 2011 at 8:53 pm

    ihh, tuu pasien mesum amat sihh -__-
    udah tua bangka, penyakitan gt pula. tp masi ajahh genit nya -____-
    hahhahaha, ngbyangin si joongie didandanin gt jd keinget poto dy dulu yg diedit jd cewe XD
    aq ada enek baca yg pas bag operasi2 am penjelasan masala2 bedah x_x ngebayangin kulit disayatsayat trus kluar darah2 gt.. errrr x___x
    lucuuu dee passi shindong digoda2in am intern2 nya….. lucu ngbayanginnya hahhahah 😀

     
    • lolita309

      August 8, 2011 at 9:41 pm

      huahaha dikatain tua bangka pula XDDD

      hihihi, banyak kan foto editan JJ jadi cewe? jadi ga susah lah ya bayanginnya hihi 😀

      hehe, namanya juga ff dokter2an…. kalo agak ganggu diskip aja sayang 🙂

      haha, tapi nanti itu intern2 bakal kena batunya tuh gara2 kebablasan ngeledekin residentnya #ehspoiler #ups :p

      makasi sayaang uda baca^^

       
  5. autumnsnowers

    August 9, 2011 at 7:33 am

    Oppaaaaa. . Neomu neomu yeoppo!! >< *ngebayangin*
    Coba ad pic nya pasti seru hehe ..

    Kyaaaaaa pacar saya (read :: jaejoong) dijadi'n umpan!!!
    As usual.. Daebak!!
    Ih tu pasien ngajak ribut.. Udh tau pnyakin jantung yg b'pngruh buat hidup.y.. Ttp aj mesum,, joongie oppa daebak.. Syuuut lngsung nangkep tngan org mesum itu haha..
    ,,Shindong lucu dh waktu d becanda sm para intern..
    ,, ahaha aq lihat ad benih" cinta nih #plak Zhoumi suka sm Kim 2 ya?? Udh shindong sama nona park aj *lupa nama* .. Trs jaejoong sm asisten dokter yg wkt prosedur itu. .
    ,,kapan lanjutan.y?? /plak

     
  6. autumnsnowers

    August 9, 2011 at 7:34 am

    eh ad typo. . Mksd.y lucu dh wktu shindong d becandain sm para intern.y

     
    • lolita309

      August 16, 2011 at 1:19 pm

      bales 22nya disini aja ya 🙂

      hahaha JJ emg cantik banget yahh :3

      iyaaa emg itu intern pada gatau diri becandain dokternya, belom liat shindong ngamuk sih hahaha XDD

      waaah pinter! iyaaa mimi emg bkl ada sesuatu sama dal… emg udah keliatan ya disini? #PLAK 😛

      lanjutannya? gatsu nih suraam… T.T huhu ditunggu aja yah sayang, makasi uda baca^^

       
  7. ms.o

    August 9, 2011 at 8:01 pm

    jaeppa, g tau deh dia nya salah hormon apa gmn, bs secantik itu,,,,
    berkah bwt dr.shin, musibah buat dianya, hahahaha
    ngakak baca dr.shin yang di bawah sadar khawatir sama intern nya, kalo sayang mah ngaku aja dok,,,,

     
    • lolita309

      August 16, 2011 at 1:21 pm

      huahaha ini ngakak, salah hormon Jae????? XPP

      haha iya nih, ngaku aja sih dok… ya kan ya kan???? *kedip kedip mata* *disumpel dr. Shin :p

      makasi sayang uda baca^^

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: