RSS

[THE SERIES] DR. SHIN – Case 1

03 Aug

Disclaimer dulu ah: semua cerita ini murni fiktif (dicampur beberapa penelitian author sih hahaha), jadi kalau ada kesalahan tentang prosedur ataupun kehidupan kedokterannya, harap dimaafkan 🙂 dan oh ya, bayangkan Shindong disini ketika dia dalam kondisi terkurusnya, terkerennya. Sekurus-kurusnya, sekeren-kerennya yang pernah Shindong alami ya, biar lebih dapet kesan dokter angkuhnya (loh?) :p

 

DR. SHIN – Case 1

Written by: Lolita Choi (@lolita309)

Starring: Shin Donghee, Kim Jaejoong, Zhou Mi, etc

 

 

SATU. ICE TREATMENT

“Selamat datang di RS Universitas Korea, saya dr. Hwan, Direktur RS ini. Kepada seluruh intern, mulai hari ini kalian akan berhadapan dengan kasus-kasus yang riil, yang tentunya tidak akan semudah ketika kalian di Universitas dahulu. Dan biarpun kalian belum mengucapkan Sumpah Dokter, kami rasa kalian semua pasti sudah mengetahui isinya, bukan? Maka disini kami juga berharap kalian semua dapat menerapkannya dengan sungguh-sungguh. Baiklah, sekian. Ada pertanyaan?” Tanyanya.

Hening.

“Jika tidak ada, saya akan segera melanjutkan—”

“Maaf, Pak.” Potong sebuah suara. Kami semuapun langsung menoleh ke arah sang sumber bunyi yang sedang menutup fotokopian yang dipegangnya. “Saya baru selesai membaca SOP (Standar Operasional Prosedur) penanganan pasien di RS ini, dan saya mengerti jika dituliskan intern dilarang memutuskan sendiri penanganan untuk pasien. Tapi bagaimana jika saat itu kondisi darurat dan tidak dimungkinkan koordinasi dengan resident, Pak? Karena sebagai dokter, nyawa pasien adalah yang terpenting, bukan?”

Hening. Semua seakan tersentak mendengar pertanyaan ‘berani’ intern baru itu. Namun seketika, bisikan-bisikan mulai terdengar membicarakannya. Banyak yang mendukung (kebanyakan intern juga), namun tak sedikit pula yang mencela (kebanyakan para resident). Aku mengamati intern baru itu dengan seksama. Seorang gadis bertubuh mungil dengan rambut panjang bergelombang yang diikat menyisa, dengan pita putih yang senada dengan jas dokternya. Jujur aku katakan, dia imut sekali. Tapi justru itu, bagiku dia sangat tidak cocok menjadi dokter.

“Ah, kamu… putri dr. Park Gildong kan? Spesialis jantung yang terkenal itu?” Tanya dr. Hwan.

“Park Yora imnida.” Gadis itu membungkuk. “Maaf Dok, jadi bagaimana? Apa yang harus kami lakukan dalam kondisi seperti itu?” Ulangnya lagi, menghiraukan pertanyaan direktur kami.

dr. Hwan terhenyak, tapi kemudian, “Ah, ya. Itu semua tergantung kebijakan resident kalian. RS ini memberikan kebebasan yang bertanggung jawab pada semua dokter tetapnya, dan berhubung resident-lah yang harus bertanggung jawab atas segala tindakan medis intern-nya, maka mereka berhak membuat kebijakan yang mereka anggap baik bagi semua, untuk segala peraturan yang ditetapkan RS ini bagi para intern. Cukup jelas?” Park Yora mengangguk. “Ada pertanyaan lain? Cukup? Baiklah, saya akan mulai pembagian kelompok intern, bagi yang namanya dipanggil silakan langsung menuju dokter resident-nya. Kelompok satu dengan resident dr. Son: Kan Mina, Yoo Heejin, Jung Yunho, dan Han Shinae. Kelompok dua dengan resident dr. Shin: Kim Jaejoong, Park Yora, Zhou Mi, dan Kim Dal. Kelompok tiga dengan resident dr. Yang: Choi Minho, Min Yeonha—”

“Ikut aku.” Perintahku begitu keempat internku berkumpul. Mereka semua saling melempar pandang.

“T-Tapi Dok, yang lain—”

“Diam dan ikuti aku.” Potongku cepat tanpa menoleh dan terus berjalan meninggalkan ruang kumpul staf tadi. Aku membawa mereka ke sebuah ruangan yang cukup besar dengan ranjang bertingkat dan sebuah cabinet di dalamnya. “Ini adalah ruang istirahat dokter. Aku tidak suka mendengar ada intern yang izin, termasuk sakit. Jadi pastikan kalian tetap sehat, gunakan waktu istirahat yang diberikan RS sebaik-baiknya, kalau sempat bahkan silakan kalian tidur. Di dalam cabinet itu juga tersedia cemilan dan macam-macam obat maupun suplemen. Dengan fasilitas seperti ini, aku tidak mentolerir alasan sakit kecuali kalian sakit kanker atau penyakit kronis lainnya.”

Para internku terdiam, wajah mereka pun mulai berubah.

“Satu lagi,” lanjutku. “Aku tidak mengingat nama kecil, jadi puaslah jika aku hanya memanggil kalian dengan nama keluarga. Ada pertanyaan?”

“D-Dok, bagaimana dengan kami?” Tanya seorang intern pria bertampang sangat kkotminam (flower boy), sambil menunjuk dirinya dan seorang intern wanita di sebelahnya. “Nama keluarga kami sama-sama Kim, jadi—”

“Kau Kim 1, dan kau Kim 2.” Aku menunjuk intern pria itu lebih dulu. Mereka terlihat akan protes, tapi aku mengacuhkannya. “Ada lagi?”

“Dok,” seorang intern wanita yang lain mengangkat tangannya. Cih, ternyata aku mendapatkan gadis imut itu. “Anda tentu mendengar pertanyaan saya ketika apel pagi tadi, bukan? Bagaimana kebijakan Anda?”

Aku menyeringai mendengarnya, “Jangan harap!” Mulaiku. “Kalian mulai jika aku bilang mulai, berhenti jika aku bilang berhenti. Jangan pernah berpikir mengambil keputusan sendiri atau aku akan menggagalkan internship (magang) kalian. Arasseo?”

Mereka mengangguk takut-takut, tapi aku belum selesai. “Dan kau, Park. Ikat rambutmu sebelum itu mengganggu proses penanganan pasien!” Aku langsung meninggalkan mereka yang masih terbengong-bengong begitu saja, terutama si gadis Park itu. Tapi tak berapa lama langkah-langkah dan panggilan dari mereka segera terdengar menyusulku dari belakang.

 

***

 

Namaku Shin Donghee, dokter tetap dengan level resident atau dokter pembimbing di RS Universitas Korea ini. RS Universitas Korea sendiri merupakan RS bertaraf teaching hospital atau RS pendidik, yaitu RS yang memiliki misi pendidikan selain misi penyembuhan pasiennya itu sendiri. Maka dari itu di RS ini sering diadakan berbagai penelitian, seminar, maupun open surgery (operasi yang dilaksanakan di dalam operating theatre1 atau ruang operasi khusus yang memiliki sebuah tribun kecil berdinding kaca transparan [disebut galeri] sehingga pelaksanaan operasi bisa dilihat staf medis lain sebagai bahan pembelajaran, maka biasanya open surgery hanya dilaksanakan untuk kasus-kasus operasi tak biasa), RS kami juga sering dijadikan rujukan berbagai kasus-kasus medis serius dari RS lain sehingga bisa dibilang standar kami memang terhitung tinggi di bidangnya.

Oh ya, mengenai posisi dokter, sebagai educating hospital, RS tempatku bekerja ini membagi para dokter tetapnya ke dalam dua level, yaitu resident dan attending. Attending adalah dokter spesialis sekaligus penasihat bagi dokter-dokter dengan level di bawah mereka. Attending juga lah yang selalu ditunjuk sebagai pimpinan dalam proyek penanganan kasus penting. Ujian untuk naik tingkat menjadi attending sangat sulit, sehingga jumlah attending pun terhitung sedikit namun bisa dipastikan kemampuan mereka tidak perlu diragukan lagi. Sedang resident atau dokter pembimbing, seperti namanya, bertugas membimbing para pemagang atau intern, yaitu mahasiswa/i kedokteran semester akhir dari berbagai universitas yang melamar untuk magang disini. Karena resident-lah yang yang mengajarkan segala sesuatu mengenai ‘dunia nyata kedokteran’ pada para intern, maka resident jugalah yang memegang tanggung jawab penuh atas segala tindakan medis para intern-nya itu, sehingga bisa dibilang performa intern sangat mencerminkan kecakapan sang resident sebagai seorang dokter.

Well, menjadi resident bukan tugas main-main kan? Maka itu aku amat strict dengan berbagai peraturan pada intern-internku.

PIP!

Tiba-tiba pager pemberian RS-ku berbunyi. Code blue. Maka aku langsung menoleh pada keempat internku yang selalu setia (halah) mengikutiku di belakang, bersiap memberi perintah (lagi).

“Kalian semua, ikuti aku.” Kataku sambil melangkah cepat menuju pintu UGD. “Ini adalah salah satu tugas rutin kita. Lihat pager kalian, kalian harus selalu awas dengan itu. Code blue berarti akan datang pasien untuk UGD dalam kurun waktu maksimal 5 menit, sehingga kalian harus sudah siap menanti ambulans yang membawa pasien itu di luar.” Aku berhenti untuk mengambil pakaian steril dan disposable gloves, mereka mengikutiku juga. “Nah, itu ambulansnya sudah datang. Ppalli, ppalli!” Aku menyuruh mereka bergegas yang (tentunya) langsung dituruti oleh mereka.

“Korban kecelakaan mobil. Gu Minha, 21 tahun, luka di sekujur badan akibat pecahan kaca mobil, denyut nadi normal namun tak sadarkan diri sejak ditemukan di TKP.” Kata si paramedis sambil menurunkan ranjang beroda dari dalam ambulans.

Aku menatap pasien yang ditidurkan tengkurap itu sebentar dan baru akan membuka mulut untuk bertanya ketika seseorang menduluiku, “Korban lainnya?”

Seketika kami semua menoleh. Si gadis Park itu… Kenapa pikirannya sama denganku? Apa dia juga bisa melihatnya?

“Yora-ya, apa maksudmu?” Tanya si Kim 2.

“Lihat, lukanya nggak wajar… Kalian juga sadar kan? Dia terkena pecahan kaca banyak sekali, di bagian punggung dan lengan pula, itu berarti kemungkinan cuma ada dua: airbag mobilnya nggak berfungsi, atau dia sedang menjadi ‘airbag‘ untuk korban lain…”

Analisanya sama persis dengan pemikiranku.

“Geureom, Anda benar. Memang ada 2 korban, satu lagi si supir. Anda tahu, dalam kecelakaan memang supir selalu lebih sulit dievakuasi karena posisinya yang rawan terjepit kemudi. Dan ya, tadi mereka memang ditemukan dalam keadaan pasien ini memeluk sang supir yang diperkirakan adik perempuannya, seperti melindungi.” Kata si paramedis membenarkan.

Para internku langsung memandang gadis berkuncir kuda itu kagum, “Uwaa~ Yora-ya, keren! Kamu–”

“YA! Kalian, kerja, kerja! Kim 2, Zhou, bawa pasien ini ke UGD, cepat!” Omelku langsung. Dua anak itu buru-buru mengangguk dan mendorong ranjang beroda itu cepat-cepat. Sementara aku, Kim 1, dan gadis Park itu masih menunggu mengingat ternyata kami masih punya satu pasien lagi on the way. Terdengar dua internku yang tersisa itu bercakap-cakap dalam bisikan. Cih! Mereka pikir aku tuli. Tapi ya sudahlah, sementara pasien itu belum datang, juga hadiah buat si Park ini atas analisanya tadi.

“Yora-ya, meosisseo (keren)!” Puji si Kim 1. “Tapi kok kamu bisa tau sih?”

“Hehe, gomawo, Jaejoongie.” Jawabnya sambil tersenyum. “Soalnya aku dulu juga pernah kecelakaan seperti itu, dan ternyata kasusnya benar-benar persis. Jadi waktu aku masih kelas 1 SMA, eonni-ku mendorong aku coba-coba bawa mobilnya padahal waktu itu aku belum begitu bisa nyetir. Nah pas kecelakaan, eonni-ku buru-buru melepas seatbelt-nya untuk melindungiku, tepat seperti pasien barusan–naluri seorang kakak, kali ya. Untung hanya tabrakan ringan dengan pohon jadi ga sampai separah ini deh. Ah, watda, watda (ah, mereka datang, mereka datang).”

(Curhat: model kecelakaan Yora adalah kisah nyata author hahaha~ #abaikan :p)

“Eonni-ku… Eonni-ku mana…” Ternyata gadis belia korban kecelakaan itu masih tersadar. Dan terlihat memang ia tidak terluka banyak, hanya beberapa memar parah terutama di bagian kaki, mungkin hasil terjepit mobilnya tadi.

“Gu Minjun, 17 tahun, pendarahan dalam di bagian kaki, cukup parah. Selebihnya hanya memar biasa.”

Aku mengangguk sambil memberi isyarat pada Park dan Kim 1 untuk menarik ranjang beroda itu masuk. Tak buang waktu, intern kritis-ku itu langsung mengajaknya bicara, “Eonni-mu tidak apa-apa kok, temanku sedang merawat dia sekarang. Geokjeongmaseyo (jangan khawatir).” Kata si Park menenangkan. “Namamu Minjun ya? Minjunnie, aku dr. Park Yora. Kami akan merawat kalian dengan baik, jadi kalau kamu capek kamu boleh tidur sekarang, tenang aja.”

“Betul ya? Terimakasih ya… Yora eonni…” Katanya sebelum jatuh tertidur. Semua pasti pernah sakit kan? Ketika sakit memang otak kita memberi sinyal untuk istirahat, jadi kita pasti akan mengantuk. Tapi gadis ini terlalu khawatir tadi sampai ia menahan diri untuk tidak mengikuti suruhan istirahat otaknya. Dan lagi-lagi, internku yang satu ini menyadarinya sehingga dengan cepat dapat melepaskannya dari kekhawatiran yang membebani tubuh sakitnya.

 

***

 

Aku salah.

Setelah diperiksa, ternyata pendarahan dalam yang dialami pasien adik (Gu Minjun) lebih parah dari yang kuperkirakan, yang menyebabkan keadaannya kini malah lebih mengkhawatirkan dari sang kakak. Ia mengalami fraktur spiral2 di bagian tulang kalkaneus (atau yang biasa kita sebut tulang tumit) ditambah riwayat diabetes sehingga sudah nyaris tidak dapat dilakukan penanganan apa-apa lagi atasnya. Mengapa? Karena satu, kondisi fraktur spiral memang menyulitkan patahan tulang dikembalikan ke posisi asalnya, apalagi pada bagian kalkaneus yang termasuk tulang pendek. Dua, diabetes memperkeruh segalanya. Pendarahan dalam yang biasanya akan sembuh dengan sendirinya setelah perawatan beberapa hari malah berujung terbalik karena diabetesnya ini. Betisnya yang tadinya hanya biru-biru ala memar biasa kini sudah resmi menghitam, nyaris seperti kayu yang dibakar. Dan pendarahan dalam serius ini akhirnya menutup penanganan bagi fraktur-nya tadi karena letaknya yang berdekatan, mengkhawatirkan terjadi pendarahan berlebih dari kumpulan darah tersumbat di luka dalamnya itu ketika operasi relokasi tulangnya.

Mempertimbangkan semua fakta-fakta itu, maka aku (yang kata para internku adalah dokter yang tak punya hati) sudah akan memvonis amputasi juga untuk gadis itu ketika lagi-lagi si Park membantahku.

“Mana bisa begitu, Dok! Ini semua salah kita kan karena terlalu menggampangkan memarnya dan lebih memfokuskan perhatian kita pada pasien kakak, maka kita harus bertanggung jawab!”

“Kita sudah melakukan semampu kita, Park. Kita sudah melakukan pengecekan darah, dan tidak ditemukan reaksi diabetes. Maka jika tiba-tiba riwayat diabetesnya yang dulu muncul dan menimbulkan komplikasi di lukanya, itu adalah sesuatu yang tidak bisa dielakkan. Dibiarkan begini pun, tanpa bisa menangani frakturnya itu, ia juga tetap tak akan bisa berjalan. Sama saja, kan? Amputasi adalah satu-satunya cara menyelamatkan kakinya sebelum pendarahan dalam itu menyebar kemana-mana. Apa menurutmu ada cara lain?”

Dia terdiam.

“Ada Dok, ada.” Tiba-tiba si Zhou bersuara. Aku menatap intern pria impor dari Cina itu dari ujung kaki sampai ujung kepala. “Saya sudah lama tertarik dengan spesialisasi ortopedi, dan pernah membaca tentang penyembuhan severe calcaneus fracture dengan komplikasi diabetes seperti ini di salah satu review seorang dokter asal Vietnam. Kalau Yora, saya yakin ia bisa, Dok.” Katanya seraya mengangguk pada gadis di sebelahnya.

Si Park langsung menatap teman satu grupnya itu  dengan mata berbinar-binar. Ia mengangguk sebelum kembali padaku, “Kami juga tentu akan meminta saran dari dr. Hong juga. Mohon izin Anda, Dok. Ini pasien saya yang pertama, dan saya tidak akan memaafkan diri saya kalau hanya bisa membiarkannya begitu saja padahal ada cara untuk menyembuhkannya. Butakhalkkeyo.” Ia membungkuk dalam padaku, yang tidak berapa lama juga diikuti teman-temannya.

Aku sudah akan kembali menggeleng–tahulah, keputusanku selalu final dan tidak dapat diganggu gugat–ketika tiba-tiba seseorang menepuk bahuku. dr. Hong, yang barusan internku sebut-sebut, satu-satunya attending spesialis ortopedi (tulang) di RS ini. Ia tersenyum, “Sudahlah, dr. Shin. Aku juga jadi tertarik dengan kasus ini sepertinya setelah melihat semangat intern-internmu. Lagipula aku jadi penasaran bagaimana teknik dokter Vietnam yang dibilang internmu tadi. Aku bersedia jadi penasehat proyek ini, yah, jika Anda mengizinkan. Bagaimanapun mereka intern Anda.”

Aku menoleh ke arah intern-internku yang sudah memasang serangan mata penuh harap ke arahku, sebelum akhirnya menghela napas kalah. “Baiklah Dok, saya mohon bantuannya. Kim 1, Park, aku serahkan kasus ini pada kalian, kalian harus bertanggung jawab penuh akan apapun yang terjadi. Dan kau Zhou, Kim 2, kalian boleh membantu, tapi jangan lupakan pasien asli kalian, si pasien kakak. Arasseo?”

Keempat internku langsung bertukar pandang cerah sebelum menjawab pasti, “Ne, Dok!”

Segera, Park dan Kim 1 mulai bekerja mengurus kasus pasien ini dengan dibantu dua internku yang lain dan juga dr. Hong. Si Zhou memberikan semua materi yang mereka butuhkan, sedang Kim 2 berjanji akan langsung bergabung dengan mereka begitu ia selesai mengurus pasiennya dan si Zhou sendiri. Dan aku, yah, aku cuma memperhatikan mereka dari belakang. Mereka amat bersemangat, tapi ya… semua intern juga pasti akan bersemangat di awal-awalnya, lihat saja nanti…

“Operasi? Ya, memang harus dengan operasi, tapi begini, kalian semua sudah sedang menyusun tugas akhir, bukan? Jadi aku yakin kalian tahu pasti bahwa perokok, orang-orang dengan sirkulasi darah yang buruk, apalagi diabetes, sangat tidak disarankan ditangani dengan cara operasi mendadak, penyakit apapun itu. Risikonya tinggi, aku tidak jamin tidak akan ada komplikasi selama maupun setelah operasi berlangsung. Kalian semua tahu akulah satu-satunya spesialis ortopedi disini, jadi tidak akan ada yang bisa membantuku jika aku kesulitan nanti. Dokter itu mungkin berhasil karena ia memang sudah pro dan persiapannya terhadap pasien cukup, sedang kalian…? Pasien kita?” dr. Hong menatap tiga internku itu bergantian sebelum menggeleng lemah. Aku tersenyum sinis. Hahaha, dr. Hong terlalu baik, kalau aku jadi dia, aku pasti juga sudah menambahkan pandangan merendahkan untuk mereka.

“Biasanya bisa diadakan diet non-gula sebelumnya kan, Dok? Suntik insulin, mungkin?” tanya si Kim 1.

“Diet: seingatku kondisinya membutuhkan penanganan secepatnya kan?” dr. Hong membalik-balik file pasien di hadapannya. “Ya, tidak boleh lebih dari dua hari. Either way, ampu(tasi). Maka itu tadi aku bilang penanganan ini masuk kategori ‘operasi mendadak’. Dan suntik insulin: dia diabetes tipe II3, kebal insulin.” Ia mengangkat bahu seraya menatap intern-internku itu lagi. Sunyi seketika.

“Ini semua tentang kekhawatiran pendarahan berlebih ketika menyayat lukanya, bukan? Bagaimana dengan prosedur blood-cooling? Penghentian jantung untuk sementara waktu agar tidak terjadi bleeding itu saat operasi…” usul Zhou.

Myocardial protection4? Tidak. Terlalu riskan membuat kerumitan seperti itu hanya untuk sebuah operasi ortopedi—“

“Selalu pikirkan cost dan benefit. Ini hanya perkara ortopedi, tetapi dengan myocardial protection berarti kita harus membutuhkan spesialis jantung, equipment yang lebih banyak… sangat costly. Belum lagi prosedurnya, itu yang dimaksud dr. Hong tadi. Jadi tolong pikirkan usul kalian sebelum bicara.” Tambahku. Biasa, kuliah harian dari resident. dr. Hong mengangguk atas tambahanku.

“…aduh, gawat.” Ujar si Park sambil menjatuhkan kepalanya ke atas meja. Dua temannya juga langsung menunduk.

Tuh kan, belum ada dua jam mereka diskusi intens dan ditegur seperti itu, sudah hilang semangat. Aku tidak ikut-ikutan lagi ah… Kalau aku bilang amputasi itu satu-satunya cara, itu bukan tanpa dasar, aku selalu mengamati perkembangan pasienku sejak awal.

dr. Hong juga masih terlihat berpikir, “Kalau saja ada cara mendinginkan darahnya secara lokal…”

“Sillyehamnida (Permisi),” tiba-tiba Kim 2 masuk setelah sebelumnya mengetuk dengan sopan. Ia langsung mengambil duduk di sebelah Park sambil menggosok-gosok dan sesekali meniup kedua telapak tangannya. “Aduh, dingin sekali kamar pasien kakak itu, memang sih obat luka luarnya panas sekali… tapi betul-betul deh, darahku rasanya sampai beku… Oh ya, sudah sampai mana?” tanyanya yang langsung disambut gelengan lemah dua pria muda di hadapannya.

“Tunggu.” Tiba-tiba si Park bersuara. “Tunggu, Dal-i, tadi kamu bilang apa?” tanyanya dengan sedikit memaksa pada gadis yang ada di sebelahnya.

Kim 2 menatapnya bingung, “Yang mana? Kamar si pasien kakak dingin sekali? Kenapa?”

“Ya, ya, setelah itu… ‘Darahmu rasanya sampai beku’…”

“Oh… Iya, coba deh kamu masuk kesana, mau berjalan saja sulit, seperti kakimu dikelilingi es batu—“

“Ya, itu dia! Dok, Dok, apakah seperti itu bisa? Anda mengerti kan?” si Park langsung memotong dengan bersemangat (bahkan sampai menggebrak meja segala) dan beralih ke dr. Hong yang berada di ujung meja. Dokter paruh baya itu tersenyum puas sambil mengangguk-angguk.

Dan ya… aku juga menyadarinya. Teknik itu sepertinya memang akan efektif…

 

***

 

Hari operasi,

“Ya, betul seperti itu. Sikat sampai ke sela-sela jarimu, pokoknya jangan biarkan satu kuman pun masih menempel disana. Membilas pun, yakinkan sampai bersih dan semua busanya telah hilang. Setelahnya, hati-hati jangan sampai menyentuh apapun, angkat kedua tanganmu seperti ini dan matikan keran dengan kakimu.” Aku menginstruksikan dengan detil seluruh tata cara sterilisasi pra-operasi pada dua internku itu, Zhou dan Park, dan menutup seluruh penjelasan itu dengan menendang ringan kenop keran di bawahku. Oh ya, kenapa tadi aku menyebut Zhou? Karena dialah yang memang sangat tertarik dengan bidang ortopedi ini dari awal, makanya begitu ia memohon pada Kim 1 untuk memberikan posisi assistant surgeon padanya, Kim 1 langsung menyetujuinya.

Mereka mengangguk sambil terus memperhatikanku dengan seksama dan langsung mempraktekkan semua instruksi-instruksi itu. Di sebelah mereka, dr. Hong terkekeh sambil geleng-geleng kepala, “Kalian sabar-sabar saja ya sama dr. Shin, dia memang terkenal sebagai dokter paling higienis di RS ini. Tapi tidak apa-apa kok, itu memang sudah seharusnya kan? Hahaha.” Katanya seraya menyelesaikan sterilisasinya dan menatap kedua internku yang masih terlihat gugup. “Dwaesseo? (Siap?)” tanyanya seraya tersenyum.

Park dan Zhou saling pandang, “Dwaesseumnida (Siap).” Angguk dua calon dokter itu pasti.

Aku menatap galeri di atas operating theatre ini begitu memasuki ruangan. Tidak begitu ramai, hanya ada Kim 1, Kim 2, beberapa dokter dan perawat, juga dr. Hwan yang baru datang. Galeri memang hanya diperuntukkan untuk medical personnel, di luar itu tidak diperkenankan masuk. Terlihat Kim 1 dan Kim 2 langsung bangkit menyapa direktur RS kami itu sebelum kembali duduk dengan kaku. Mereka menoleh kanan-kiri seperti orang kebingungan, mungkin merasa aneh dengan keadaan tribun yang memang santai. Disana-sini dokter saling mengobrol sambil memegang cup kopi, bahkan ada yang duduk sambil memakan sandwich-nya segala. Dua anak itu tentunya belum tahu kalau melihat pelaksanaan open surgery bukanlah hal yang begitu formal sampai harus berkaku-kaku segala. Yah, dari sini akhirnya mereka tahu kan.

Mengenai kenapa operasi ini sampai bisa mendapat kehormatan menempati operating theatre, semua karena rekomendasi dr. Hong. Dia bilang dua internku (Zhou dan Park) itu sangat menarik (mananya?) dan ia ingin orang-orang di RS ini tahu kualitas mereka. Aku sih iya saja, okelah sejujurnya aku juga SEDIKIT tertarik dengan kira-kira apa sih reaksi mereka di prosedur operasi riil perdana mereka sebagai calon dokter ini?

“Hei, Minjunnie. Tenang ya, kami pasti akan merawatmu dengan baik di operasi ini.” Kudengar si Park memberikan sambutannya pada pasien kami yang baru didorong masuk seraya tersenyum.

“Wah, dr. Park, tapi maaf, menenangkan pasien dalam operasi itu tugas saya lho.” dr. Min, dokter anestesi kami langsung menyela seraya menarik ranjang dorong pasien itu bercanda. Seketika semua mengulum senyum melihat wajah Park yang langsung tertekuk, tak terkecuali si pasien. Oke, termasuk aku juga, sebetulnya. Sepertinya aku mulai merasa nyaman dengan intern-intern ini…

“Sudah, sudah, ayo mulai. dr. Min, silakan.” Kataku mengingatkan kumpulan dokter-dokter dan perawat itu. Dalam proyek ini tak kurang ada 3 dokter (aku, dr. Hong, dr. Min), 2 intern (Zhou dan Park), dan dua perawat yang terlibat.

Dalam waktu singkat anestesi lokal di kaki kiri pasien pun dilaksanakan. Aku mengangguk pada dr. Hong untuk memulai prosedur operasi. Dan disinilah, kunci utama kami datang. Dua kantong besar pengompres es diletakkan di sekitaran betis pasien yang akan dioperasi. Inilah yang dimaksud dengan pendinginan darah lokal demi mencegah pendarahan, tanpa perlu prosedur myocardial protection. Aku juga sebetulnya pernah membaca ini, prosedur yang disebut juga ice-treatment. Tapi ini memang pertama kalinya RS kami melakukan itu, itulah juga sebabnya operasi ini akhirnya menempati tempat ini yang juga disebut open OR (operating room).

“Proses pendinginan lokal dengan kompres es sudah dilakukan, sedang menunggu suhu yang diinginkan.” Aku menjelaskan tiap detil operasi ini lewat microphone kecil yang menempel di dekat bibirku. Ini juga salah satu prosedur open surgery.

“Yak, suhu darah 10 derajat Celsius, bersiap melakukan pembedahan.” Kataku lagi seraya meminta pisau bedah pada perawat yang bertugas. Oh ya, aku memang calon attending spesialis bedah, jadi tindak operasi memang sudah sering diberikan padaku oleh RS ini. Hati-hati, aku mulai menyayat kulit betis bagian bawah pasien yang sudah terlihat nyaris menghitam oleh pendarahan dalamnya itu. Haaah, syukurlah, tidak terjadi pendarahan berlebih. Sepertinya teknik ice-treatment ini berhasil.

“Siap Dok, silakan penanganan ortopedinya.” Kataku pada dr. Hong disebelahku.

Ia mengangguk, “Baiklah, tulang tumit yang retak sudah terlihat, sejauh ini aman. Plat metal-nya, tolong.” Ia berkata pada perawat. “Bersiap menempatkan plat metal di bagian yang retak… Oke. Lalu sekrup…” sama sepertiku, ia menjelaskan tiap detil prosedurnya agar dapat didengar semua orang.

Dan seterusnya, tetap dr. Hong yang memegang kendali sebagai kepala operasi kali ini. Karena berkat ice treatment itu, segalanya jadi bisa dilakukan seperti penanganan pasien biasa saja, biarpun tentu harus tetap lebih hati-hati dan yang paling penting: TEPAT WAKTU karena suhu es tak bisa terus dipertahankan tetap stabil dalam waktu yang lama. Tapi dengan begitu tugasku pun selesai sampai tiba bagian jahit-menjahit tutup-menutup luka nantinya.

Maka selama itu, aku melempar pandang ke arah dua intern-ku yang seperti sudah ‘tersirap’ dengan pengalaman real surgery mereka. Sementara jari-jari Park sibuk menari-nari di udara, menirukan gerakan tangan dr. Hong dalam menangani pasien kami, Zhou tampak super serius dengan buku sketsanya, menggambar bagian-bagian tulang pasien maupun mencatat tiap catatan yang bisa ia temui.

Aku terkekeh melihat itu semua. Melihat mereka seperti membawaku kembali pada masa intern-ku dulu, Shin Donghee si intern gendut yang kelewat kritis. Yah, biarpun sekarang bagian ‘gendut’-nya sudah bisa sedikit diralat, tapi kata dokter-dokter sini yang dulunya masih resident semasaku magang, kekritisanku tidak pernah berubah. Tapi bukankah nyaris semua pemagang seperti itu? Ingin tahu, berlomba aktif, dan sebagainya. Setidaknya dari dua kali aku membimbing para intern, itulah kesan yang kudapatkan dari mahasiswa-mahasiswa ini.

“Dok, Dok, dr. Shin.” Bisikan si Park tiba-tiba menyadarkanku dari lamunan. Aku seketika tersentak. Ah, sejak kapan aku suka melamun ketika prosedur begini?? Dan begitu aku melihat, Zhou sudah tak ada ditempatnya tadi. Hah, kemana dia? Aku pun menoleh, dan ternyata pria berkacamata itu sudah bertengger di sebelah dr. Hong saja, gantian menangani pasien kami dengan dokter ortopedi kita menerangkan tiap detil langkah padanya. Pantas saja tadi kulihat buku sketsanya sudah ada dalam pelukan Park begitu saja…

Maka akupun segera mendekati kedua orang itu, karena tadi maksud Park memanggilku juga untuk mengingatkan kalau sebentar lagi prosedur selesai dan luka harus segera ditutup. Begitu melihatku, dr. Hong segera mengangguk dan meminta Zhou menjauh agar aku bisa segera bekerja, menyempurnakan operasi yang tadinya kukira tak akan mungkin terjadi dengan lancar ini.

 

 

“Mimi…! Yora…! Waah, kalian daebak banget deh. Wanjeon daebak!” Kim 1 dan Kim 2 segera menyambut kedua temannya yang baru keluar dari ruang operasi begitu proyek pertama mereka itu selesai.

Park tertawa, “Haha, aku sih nggak ngapa-ngapain, Mimi tuh asik, diajak mencoba juga sama dr. Hong.” Ia tersenyum pada pria Cina disampingnya.

Zhou menghembuskan napasnya lega, “Fiuhh, tapi betul-betul, pressure berada di dalam itu ya… Wahh, operasi asli memang beda.” Katanya seraya geleng-geleng kepala.

“Senang ya, intern baru aja kasus kita sudah seperti ini. Aku jadi nggak sabar sama kasus kita berikutnya…” Kata Kim 2 dengan mata berbinar-binar dan menangkupkan kedua tangannya, yang segera disambut tawa renyah 3 rekannya yang lain.

“‘Kasus berikutnya’? Ya, pasien yang ini saja belum selesai. Kalian pikir setelah operasi semuanya berakhir? Hah?” Aku yang baru saja keluar dari ruang operasi bersama dr. Hong dan melewati mereka segera berkomentar dingin mendengar ucapan salah satu internku itu.

Mereka berempat segera menoleh kaget, “Dok…!”

“Dok.” Zhou dan Park buru-buru membungkuk juga pada dr. Hong di sebelahku. Dokter paruh baya itu mengangguk seraya tersenyum.

“Jalhaesseo. (Kerja kalian bagus.)” Pujinya tulus pada dua orang itu. Mereka langsung saling bertatapan dengan wajah takjub sebelum kembali membungkuk penuh terima kasih pada beliau. “Perhatikan proses penyembuhan bekas operasinya, ya. Terkadang suka terjadi pembengkakan kalau kalian tidak merawat luka pasien diabetes dengan benar. Jaga pasien pertama kalian baik-baik. Kalian juga.” Tambahnya hangat juga pada Kim 1 dan 2 dibelakang Park dan Zhou yang segera disambut bungkukan dua anak itu, sebelum akhirnya dokter kami akhirnya berlalu.

Sepeninggalnya, empat intern-ku kini menatapku lekat-lekat, seperti biasa, menanti dengan setia instruksi dariku daripada magang mereka digagalkan hahaha. Maka tertawa kecil, akupun berkata pada mereka, “Dengar dr. Hong tadi kan? Segera siapkan perawatan yang baik untuk recovery pasien kalian.”

Saling menoleh, mereka pun serentak memberi hormat padaku sambil tersenyum-senyum, “Laksanakan, Pak!”

 

 

Seminggu kemudian,

Aku dan empat intern-ku berdiri berjajar di ujung kamar kelas 1 yang berisi dua orang kakak beradik Gu ini, memperhatikan keluarga kecil yang sedang mempersiapkan kepulangan kedua putrinya itu. Sejak beberapa hari yang lalu, mengingat kondisi luka parah pasien kakak juga sudah membaik, kedua orangtua mereka memang meminta agar putrinya ditempatkan di ruang yang sama demi mempermudah mereka mengurus keduanya. Dan hari ini, setelah mendapat persetujuan dari dr. Hong selaku penasehat proyek pasien adik, dan melihat bekas operasi yang juga tidak memburuk seperti yang ditakutkan dr. Hong terjadi pada pasien diabetes ini, akhirnya disetujui kalau si pasien adik juga bisa pulang di hari yang sama seperti kakaknya ini dengan syarat terus melakukan check up teratur.

Tiba-tiba, pasien adik yang masih menggunakan gips di tumitnya dan alat penyangga di bawah ketiaknya untuk membantu berjalan mendekati kami dan berhenti di hadapan Park.

Intern dengan rambut bergelombangnya yang terkuncir kuda itu segera mengeluarkan kedua tangannya dari dalam kantong jas dokternya dengan kaget dan refleks membantu memegangi belakang pundak gadis pasiennya itu.

Pasien adik menggeleng menolaknya, “Aku sudah nggak apa-apa kok.” Katanya sambil tersenyum. “Yora eonni, terimakasih ya, sudah menepati janji menyembuhkan eonniku dan aku…”

Park segera menggeleng kencang, “Eh, nggak kok, bukan cuma aku… Nih, justru yang membantu kamu ketika dioperasi itu oppa yang ini, namanya Zhoumi oppa. Dan yang menyembuhkan eonni kamu itu eonni yang disana, Dal eonni, dan oppa itu, Jaejoong oppa.” Jawabnya seraya mengelus rambut remaja itu. “Tapi nggak lupa sih, bosnya kita semua ya dokter ahjussi ini… Namanya dr. Shin. Dari beliau kita semua tahu bagaimana mengobati kamu dan eonni-mu. Jadi terimakasihlah paling banyak sama dia ya.”

Aku segera menoleh kaget mendengar ‘credit’ besar yang diberikan Park padaku itu (salah satunya sebetulnya juga karena panggilan ‘dokter ahjussi’ itu, sih. Apa-apaan itu? Aku masih 26 tahun!). Karena sifatku yang terlalu kejam sebagai resident, tidak pernah kudengar sekalipun anak didikku yang berhasil akhirnya memberi credit padaku sedikitpun atas kesuksesannya, biarpun pastinya sedikit-sedikit itu memang atas jasaku ia dapat berada di posisinya sekarang. Tapi aku tak pernah peduli dengan hal itu, karena tanpa credit mereka pun sudah banyak RS-RS lain yang tahu tentang performaku dari pembicaraan dokter-dokter lain. Bahkan sudah banyak juga RS lain yang mencoba ‘meminangku’, biarpun aku tetap bersikeras mengabdi di RS almamaterku ini, RS Universitas Korea.

Maka ketika aku mendengar pujian tulus dari salah satu internku yang segera didukung anggukan cepat rekan-rekannya, perasaanku seperti tidak bisa dideskripsikan. Senangkah? Aku tak tahu. Yang jelas, pastinya, aku tetap mencoba stay cool dan menutupinya hanya dengan senyum tipis pada pasien kami itu.

“Jeongmal? Dokter ahjussi, gomapseumnida!” Ia segera mencoba membungkuk yang tentunya susah ia lakukan. Melihat putrinya, sang ayah pun segera menghampiri dan membantu putrinya itu membungkuk dan kemudian ikut pula memberi hormat dalamnya setelahnya, sangat berterimakasih padaku dan intern-intern mudaku.

“Eonnideul, oppadeul, ahjussi, annyeong!” Pasien Gu Minjun yang memang lebih ramai dari sang kakak tak lupa melambaikan tangannya sebelum memasuki mobil keluarganya untuk pulang. Di sampingnya, sang kakak Gu Minha yang sudah sembuh total dan pastinya lebih tenang dari sang adik hanya membungkuk dalam dan tersenyum penuh terimakasih.

Keempat internku yang mengantar keluarga itu sampai depan RS ikut melambai-lambaikan tangannya, sementara aku hanya melihat dari belakang mereka dengan tangan kumasukkan kedalam kantong jas dokterku. Tapi di saat ketiga temannya masih melambai dan bahkan berjalan sedikit maju supaya bisa terus melihat kepergian pasien pertama mereka, Park tiba-tiba mundur dan berdiri di sebelahku.

“Dokter juga ice treatment lho.” Katanya tiba-tiba dengan tetap menatap lurus pada 3 temannya di halaman RS.

Aku menoleh bingung, “Hm?”

“Dokter mengajari dan memperlakukan kami dengan dingin, tapi perlakuan dokter itu justru berguna. Persis seperti ice treatment yang kita gunakan untuk menangani Minjunnie, kan?” Katanya seraya menoleh dan menatapku dengan tersenyum manis.

Aku menatapnya balik, dan seketika muncul perasaan bangga di hatiku. Aneh, padahal pujian ini hanya datang dari anak bawang, di saat bahkan pujian untukku sudah pernah datang dari berbagai orang yang kedudukannya jauh lebih tinggi dariku seperti kepala RS bahkan rektor kampusku sendiri. Dan mengingat credit yang juga dia dan teman-temannya berikan sebelumnya, rasanya tidak ada salahnya juga balas memujinya.

“Kalian juga, sudah terlihat lebih dewasa dan disiplin daripada ketika pertama aku bertemu kalian. Keep up the good work.” Kataku, sambil tersenyum ke arahnya.

Dan Park seketika membuka mulutnya seperti tak percaya melihatku ternyata bisa tersenyum. Aku tertawa kecil seraya geleng-geleng kepala sebelum segera berbalik dan berjalan meninggalkan mereka begitu saja. Dan secepatnya, kembali kudengar suara-suara ramai itu memanggilku disertai derap-derap langkah mereka.

“Dok, Dok, tunggu kami…!”

 

TBC

1 tipe-tipe (galeri) operating theater :

a. galeri bentuk tribun, jadi bahkan bagian yang dioperasi bisa kelihatan langsung karena dilihat dari atas.

staf dalam galeri tipe tribun

pelaksanaan operasi dilihat dari galeri

 

 

 

 

 

b. ada juga galeri yang letaknya di sebelah ruang operasi seperti ini (dibalik kaca), fungsinya tetap sama supaya staf medis lain bisa melihat jalannya operasi.

tapi di cerita ini kita pakai OT galeri tribun sebagai OT RS Universitas Korea. 🙂

2 tulang patah (fraktur) yang terjadi karena gaya berputar yang tajam sehingga mematahkan tulang secara diagonal (menyerong). Ujung bergerigi dari patahan dapat menyebabkan kesulitan mengembalikannya ke posisi awal.

3 diabetes melitus terbagi dua, tipe I ketika sel beta pankreas hancur sehingga hanya menghasilkan sedikit insulin atau bahkan tidak sama sekali, dan tipe II yang lebih sering ditemui, ketika seseorang menjadi kebal terhadap efek insulin dan biasanya disertai dengan obesitas. Diabetes tipe I ditangani dengan terapi insulin (suntik), sedang tipe II lebih kepada pola makan dan hidup yang diatur dan sehat.

4 penghentian kontraksi otot jantung untuk menghasilkan lapangan operasi yang tenang saat operasi jantung dan perlindungan (proteksi) terhadap cedera jantung akibat iskemia atau kekurangan suplai oksigen karena jantung berhenti berdetak itu. Yang dimaksudkan Zhou Mi bisa dipakai disini yaitu dengan menghentikan jantung, aliran darah juga akan terhenti dan mencegah bleeding. Prosedur ini dilakukan dengan pemberian larutan cardioplegia.

Ff-nya nggak shindong banget ya? Hahaha ;p

Dan buat yang nanya: kenapa Shindong? Karena Shindong idol juga. he deserves his own (good) ff. 🙂

(eh tapi saya hebat juga bisa nemu picu shindong pake jas putih kayak dokter gitu. mana pas juga doi lagi lumayan ganteng hahaha)

Advertisements
 
22 Comments

Posted by on August 3, 2011 in Super Junior, [THE SERIES]

 

Tags: ,

22 responses to “[THE SERIES] DR. SHIN – Case 1

  1. ms.o

    August 3, 2011 at 8:14 am

    first? gyahahaha
    eonni, daebak, jjang, keren,
    makasih banyak udah ngasih pengetahuan2 kyk gt, kayak ternyata kalo qt sakit, otak cenderung kasih sinyal tubuh bwt istirahat, n itulah kenapa kalo sakit, hawanya pengen tidur #curhat,,,
    pasti mimi gege keren bgt deh, pake jas putih gt, n operasi orang, hahaha
    ceritanya keren,,nungguin next part, ahahaw

     
    • lolita309

      August 4, 2011 at 4:44 am

      iyaa first, chukhahae^^ (loh?)

      aaaaa, makasi sayangkuuh, cups :*
      sama2, haha iya itu emang uda nature-nya kalo sakit pengennya nempel bantal terus hahaha
      iya mimi pasti keren, jaejoong keren, shindong aja pasti keren deh kayaknya kalo jadi dokter2 begini 😀

      sipp, next part ditunggu ya… makasi sayang pujian dan mampirnya 🙂

       
  2. chrisnagustyani

    August 3, 2011 at 8:19 am

    waaa….. Aku speechless nyah, ini benar2 DAEBAK!!! Wah bener2 ngasih info buat aku ni, smga pas koas 3 taun nanti msh ingat #plak

    ah nyonyah bkinnya mendetail bgt! Aku suka! Sampe ngebhas sgala os calcaneus sgala… Cuman ya aku msh sulit ngebyangin gmana posisi tbrakan’a smpe bisa fraktur spiral gt..
    Oh iya.. Jd sbnrnya resident it juga dokter yg msh belajar loh, jd mrka it mash ngambil program spesialis, nah nilai mrka it jga brgantng sama nilai koas yg dbimbingnya, mkanya byk residen yg tegas ama anak koasnya… N internship it udh gk dbmbng resident/registra (kalo gk slh jga sih), yg msh dbmbing it koas (co-assistant), kalo internship biasanya udah di oper k daerah2 gt, istilah jaman dulunya PTT..

    mengenai tindakan operasinya… Aku no komen dah, abisnya aku jga gk tw, jd aku manggut aja #plak aku prnh dgr ttg ice treatment, istilahnya it mmm… Aku lupa. #dihajar massal

    ah nyonyah, kmu bner2 bkin aku takjub dh, mana it si yora pnter bgt lg.. (nyonyah : yg pntar it yg bkn epep kalee..)

    eh aku ngbyangin shindong dsni kaya d 5jib loh, dia ganteng n kurusan wkwk

    stju bgt nyah, shindong deserved his own ff, jrg bgt yg mw bkin ff bwt dy..

    nyah suka ntn grey’s anatomy, Kalo aku skanya ntn CSI *gadaygnanya*

    second case n ff lainnya aku tnggu nyah!!

    p.s : kamu mau jd dosen aku nyah? Aku udh bosen ama muka2 dosen2 UI yg udh pada berumur *dipecatjadimahasiswa*

    udah ya nyah, komenku udh kaya drabble aja, mana ngetik via hp lg huhu.. Smga gk kepotong kya kmrn2..

     
    • lolita309

      August 4, 2011 at 5:06 am

      dan ternyata ga kepotong…! HOYEEEE~ XDD

      wuaaa seneng deh dapet komen sepanjang drabble gini hahaha, akan kucoba jawab satu2^^

      yah, pas koas nanti malah jgn diinget, sesat! HAHA XDD

      ttg model kecelakaannya gmn sampe bs fraktur spiral, udah ga usah dipikirin, namanya juga cuma cerita hahaha <– ngasal bener -___-

      iya bener, resident masih dinilai juga dari perform internnya, dan aku pake intern disini karena ngikutin sistem luar krn diluar ga ada koas, jadi yg namanya koas tetep intern disana. tapi makasi infonya sayang^^

      aaaaaa, makasi yaaa sayang, uda tau aja jawaban aku tiap yora dipuji (yang pinter yang bikin loh :p) hahaha XDD #dihajarmassa

      CSI? aku juga suka ko, biarpun ga ngikutin banget kayak grey's hehe

      sippp, ditunggu yah, masi on going nih, but i'm in a good mood so maybe it'll be sooner to be done and posted kkk

      wah, PS-nya lebih kacau lagi nih, pas koas aja saya udah bilang jangan diinget, ini malah minta jadi dosen. sesat nak sesat, beneran hahaha orang yang biasanya ketemu angka (akuntan) disuruh ngajar kedokteran pulak HUAHAHAHA #plak

      anyways, makasi uda baca dan ngasih komen seabrek sayaangg, muah :*

       
  3. chrisnagustyani

    August 4, 2011 at 8:45 am

    hahaha jadi d postingan ini ada satu oneshot dan dua drabble #plakk

    aku malah bru tau kalo d luar gak ada koas, aku mlh mikir istilah koas it dari luar asalnya wkwkwk

    aku jga gk trlalu ngkutin sbnrnya.. Abisnya kalo di kos aku gk ada foxcrime jd aku cma bisa ntn kalo aku libur di rumah huhuhuhu

    and yeay! Glad to hear that u in a gud mood! I’ll be waiting for the second case hehehe^^

    hahaha kalo aku disuruh milih antara akuntan ato dokter, aku pasti milih jadi istrinya Kyuhyun nyah (loh?)

    dan kmenku ini, sdh sepanjang stengah drabble wkwk *kabur*

     
    • lolita309

      August 8, 2011 at 3:25 pm

      iyaaa diliur sana pake intern terus, soalnya di grey’s begitu….^^

      akhir2 ini aku malah jadi ngikutin si CSI (yg newyork) gara2 ditayangin di TV lokal jakarta… keren banget hihihi

      wuah, saya kalo disuruh milih jadi akuntan apa selingkuhannya siwon juga lebih milih jadi selingkuhan.. buhahahaha XDD

       
  4. oepieck

    August 4, 2011 at 10:56 pm

    hwa~! baru kali ini baca ff-nya shindong yang bener-bener keren n bagus! 😀
    setuju ama pendapat eonni tentang “kenapa shindong?” kan dia member Suju juga, jadi berhak dapet ff yang keren
    aku juga pingin bikin tapi belum ketemu ide yang pas, eonni daebak deh! ^^

    btw, semua kronologinya keren banget, situasi rumah sakitnya juga kelihatan
    terus si zhoumi keren banget XD (bertanya-tanya apakah henry ntar juga bakal keluar)
    karakternya shindong, jujur, sangat tidak shindong sekali ^_^v
    tapi aku malah senyum-senyum sendiri pas dia mulai luluh sama intern”.a 🙂
    seneng y klo dapet dokter” yang ramah kayak yora, jadi inget waktu opname dulu..
    oh iya, shindong sekurus-kurusnya itu waktu rambutnya model rambut jamur…. huahahaha~
    (tenang ndong, aku bayanginnya kamu pas SMA kok, kamu keren banget deh! :D)

    risetnya berapa lama eon?

     
    • lolita309

      August 8, 2011 at 3:30 pm

      hihi, makasi yaa, btw emg uda berapa kali kamu baca ff yg tokohnya shindong sayang? kikiki ;p

      henry…. ga disini kayanya, soalnya aku idah plot-in ini sampe abis, dan henry blm disini munculnya^^

      wahahah, saya malah kerjaannya ngarang itu yg tentang kehidupan RS, belom pernah dirawat soalnya hehe :p

      risetnya…. sambil nulis sih, sekitar 3-4 hari hehe ;D

      makasi yaa sayang uda baca^^

       
      • oepieck

        August 8, 2011 at 6:10 pm

        ye? 4 hari?? wah, oenni rajin banget! daebak deh! kadang aku udah pesimis dulu klo baca nama penyakit”nya -___-

        2 kali sebelum ff ini? habisnya jarang banget ff tentang shindong. klo pun ada pasti ceritanya udah pasaran: cwe yang mau nerima dia apa adanya. dia klo ikut jadi support cast juga jarang keluarnya… 😦
        makanya waktu eonni bikin ff ini langsung DEG! selama ini aku selalu mikir tentang shindong dan ukurun badannya, tapi kenapa g dibikin kurus aja? kan ini fiction! ya gak? *minta pendapat

        oh iya, kangen ama kibum ni eonn :3

         
      • lolita309

        August 8, 2011 at 9:47 pm

        wuahaha rajinkah? aku perfeksionis sih soalnya, lebih tepatnya :p btw emg kamu mau bikin ttg dokter2an jg? 🙂

        wah, aku malah belum pernah sama sekali kalo baca ff yg dia main castnya. itu malah bagus lho cerita yang dia nemuin cewe nerima dia apa adanya^^

        huahaha, iya pemikiran kalo ‘ini kan fiction’ itu bisa aja sih.. tapi gara2 aku bikin pemberitahuan di atas itu (yg minta bayangin dia sekurus2nya), somehow aku jadi ngerasa ga nerima dia apa adanya… jd ngerasa bersalah ._.

        iyaa, aku lagi bikin kibum nih, tapi ga maju2 huahaha XDD

         
      • oepieck

        August 9, 2011 at 9:16 pm

        enggak… andai kata aku lola eonni gitu loh.. hehe 😀
        tapi iya, eonni emang rajin kok. klo aku mungkin stuck di tengah”

        duh, jangan merasa bersalah dong eonni… ini kan cuma ff
        (aku malah ikutan merasa bersalah juga… :()

        yeee! kudoain cepet dapet inspirasi, asal jangan ‘dibunuh’ ya eonni? kkk~
        btw, percaya g klo orang “dalam cangkang” yang di teaser mr.simple itu dia?

         
      • lolita309

        August 16, 2011 at 1:28 pm

        huahaha, iyaaa happy ending kok, belom mati dulu kibumnya haha XDD

        yg di teaser 2 yaaa??? entahlaah… kalo aku liat sih bukan.. tapi apa emg ceritanya mau dibikin sbg wujud transformasi dia nanti kali ya?

         
      • oepieck

        August 17, 2011 at 11:26 am

        blum mati dulu? berarti nanti mati???

        ha? maksd.a cerita transformasi? *otak lemot

         
      • lolita309

        August 17, 2011 at 11:32 am

        ya nggak gitu juga.. maksudnya untuk sekarang saya belom bikin dia mati.. tapi kalo suatu saat lagi mood buat ‘membunuh’ seseorang, bisa aja doi yang saya jadiin sasaran (seperti biasanya) hahahaha XDDD

        maksudnya, mungkin juga sih teaser itu sebagai isyarat dari SM dan SJ kalau shindong akan segera bertransformasi jadi lebih ganteng bin kurus gitu loh^^ (ngerti? #PLAK :p)

         
      • oepieck

        August 17, 2011 at 8:50 pm

        hwa~ eonni kejam nian dirimu….

        olala… yaya mudeng, hehe 😀

         
  5. wiehj

    August 8, 2011 at 8:27 pm

    gag ngerti ttg istilah2 medis nya -__- tp ttep asik baca nya hahhaha 😀
    ini cman ceritain ttg khdpan dokter si shindong? khdpan cinta nya?? crtain jg dunnn XD
    byar ad romansa2 (?) nya dikit gtcuuu 😀
    cinguu, plis plis piss lanjutkan crta si monkey ganteng ntu am si saera.. aq penasaran am crta cinta suam ku yg satu itu wkwkwk.. gmana perjuangan dy dpet restu dr para kembar keluarga kim…
    *ini komen ku gag nyambung am ff ini yah?* *maaf yah #bow* :DD

     
    • lolita309

      August 8, 2011 at 9:50 pm

      huahaha, maaf yaa kalo ga ngerti *bow* ._.

      ada kok adaaa… ntar doi naksir sama yora #ehspoiler #PLAK

      iyaaa, aku juga pengen sayaang, tapi buntu ini otak.. bingung merangkai kata *loh* tapi aku usahain yaaa, makasi yaa uda nungguin… haha ga nyambung gapap kok, lanjutkan! XDD

      makasi sayang uda baca^^

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: