RSS

TOKI WO TOMETE – Part 1

25 May

“Maaf, aku… nggak bisa.”

“Demo, nande (tapi, kenapa)?? Kamu juga suka sama aku kan? Kata teman-temanmu—”

“Sou dakedo, tada… (Ya, betul, cuma…)” Gantung gadis itu. Ia ragu, karena memang… ya, ia sebetulnya juga menyukai pria ini. Betul-betul bagaikan mimpi dia akhirnya menyatakan cinta padanya. Tapi tetap saja… keputusannya tidak boleh berubah. Karena cinta memang diciptakan bukan untuknya… “…Sumimasen (maafin aku).” Tutup gadis itu akhirnya sebelum terburu-buru membungkuk dan pergi begitu saja, meninggalkan lagi-lagi seorang pria dengan hati yang patah karenanya…


TOKI WO TOMETE (HENTIKAN SANG WAKTU) – Part 1

Written by: Lolita Choi (@lolita309)

Starring: Kim Jaejoong


“Mou kiita (Sudah dengar)? Si Sahara juga ditolak sama Moko-sama! Waah~ sugoi da na~ (hebatnya~). Sahara, lho, Sahara! Ck, jadi semakin bikin penasaran buat ngedapetin ‘bunga kampus’ kita itu…”

“Mimpi sana!” Tiba-tiba suara seorang pria membahana diiringi geplakan keras sebuah gulungan textbook ke kepala ‘biang gosip’ tadi. “Kalau aku aja ditolak, mana mungkin kalian bisa dapetin dia? Baka ja (Dasar bodoh).”

“Sahara!” Seru semua orang yang barusan bergerombol bikin forum gosip itu. “Sahara! Daijoubu ka (Kamu nggak apa-apa)? Pasti sakit ya ditolak begitu… Ini pertama kalinya buat kamu, kan? Yang sabar ya…”

“Cih, yame (hentikan)!” Omel cowok bernama lengkap Sahara Raitou itu seraya menepis tangan temannya itu dari bahunya kemudian menepuk-nepuk bekas pegangan itu di kaosnya seakan banyak kuman penyakit yang menempel disitu. Ia tak memedulikan gerombolan itu lagi dan malah mengarahkan pandangannya ke satu-satunya anggota kelas yang tidak ikut bergabung ‘diskusi pagi’ itu karena cuma sibuk dengan iPad-nya sedari tadi. Aku.

Ya, aku. Sahara menatapku dengan pandangan melecehkan, “Apalagi kamu. Anou sa, Jun (Hei, Jun). Kamu dengar kan? Kalau kamu ada hati sama Mokomiya Chizuru, mendingan lupakan mulai hari ini juga. Karena baka-baka (idiot-idiot) macam mereka aja,” katanya seraya menunjuk gerombolan cowok-cowok tadi. “…sudah kubilang nggak akan mungkin ngedapetin Chizuru setelah aku, seorang Sahara Raitou bahkan ditolak. Apalagi Korea culun mata empat kayak kamu, wakatta (ngerti)?” Ledeknya panjang lebar yang segera, langsung diiringi derai tawa teman-teman sekelasku.

Aku tak menghiraukan mereka dan tetap sibuk dengan gadget kesayanganku. Ke-rasis-annya atas identitas Korea-ku (nama asliku Kim Jaejoong, yang diadaptasi menjadi Kin Jejun atau hanya Jun disini) memang sudah keterlaluan, sampai-sampai dengan alasan yang kurang jelas—dia bilang keberadaanku saja bikin matanya langsung sakit—dia dan teman-temannya sering menjadikan aku korban bully mereka. Tapi justru karena itu, kalau hanya gertakan seperti tadi saja sih aku sudah imun…

Lagian siapa juga yang suka sama Mokomiya? ujarku dalam hati, menanggapi ‘saran’-nya untuk menjauhi gadis itu. Biarpun ya, sesungguhnya setelah mendengar cerita hari ini pun aku jadi sedikit penasaran dengan gadis yang saking menawannya sering dipanggil ‘Moko-sama’ (sama=panggilan hormat) itu. Ternyata ada juga gadis yang bisa menolak seorang Sahara Raitou. Ya, Sahara memang tidak berlebihan ketika tadi dengan bangganya ia bilang bahwa jika ia saja ditolak, tidak akan mungkin ada cowok lain yang mampu merebut hati Mokomiya. Sahara adalah magnet kampus ini, bahkan banyak mahasiswi yang masuk ataupun pindah kemari hanya karena mengejar keberadaan Sahara. Yah, mungkin saat itu si Mokomiya sedang khilaf, lihat saja nanti, pasti belum ada seminggu ia akan berubah pikiran.

 

***

 

2 minggu kemudian,

Samar-samar aku menatap bayangan wajah lebamku di kaca RS ini, setelah dengan sukses kacamataku kembali hancur untuk kesekian kalinya, hasil sampingan bully kawan-kawan kampusku. Dengan hati-hati aku menghapus tetesan darah yang masih tersisa di sudut bibir. Arghh~ sakit sekali hasil bully Sahara dkk hari ini. Padahal biasanya semua bisa aku endure atau obati sendiri, tapi ini rasanya sudah sangat keterlaluan…

“Konnichiwa (Siang).” Sapa sang dokter begitu aku memasuki ruang periksa. “Uwa! Kenapa wajahmu, Nak?” Serunya begitu melihat kondisi wajahku yang mengenaskan ini.

“Sensei, konnichiwa (Siang, Dok).” Jawabku seraya membungkuk di hadapannya. “Hehe, bertengkar dengan teman. Biasalah, anak muda.”

“Hontou? (Betulkah?)” Yakin dokter itu, ia terlihat tak percaya. Hei, apa wajahku sebegitu terlihatnya sebagai korban bully?

Aku mengangguk, “Um.”

“Ja, sore nara, doushita no koko ni kimashita? (Kalau begitu, ada apa kamu datang kemari?)”

“Anou (Itu)… Saya dan… teman-teman memang sering bertengkar, dan biasanya selalu bisa saya obati sendiri, tapi kali ini—sudah 2 hari ini—sakitnya tidak bisa hilang, terutama di bagian sini.” Kataku seraya menunjuk bahu ke arah punggungku. “Kochi desu. (Disini.)”

Dokter itu berdiri untuk menghampiriku yang duduk dihadapannya. Ia meminta izin sebentar untuk menyibak kemejaku, dan… “Dame ja (tidak bisa). Kamu bilang ini hasil bertengkar? Bertengkar dan dikeroyok adalah dua hal yang berbeda… Kin Jejun-kun?”

“Jun, desu. (Panggil Jun saja).” Koreksiku.

Dokter itu mengangguk sambil mengambil duduk di tepi meja kerjanya, “Na, Jun-kun. Koukousei ka, daigakusei ka? (Hei, Jun-kun. Masih SMA? Apa sudah kuliah?)”

“Daigakusei desu.”

“Doko? (Dimana?)”

“Waseda.”

“Sou ka? (Betulkah?)” Dokter itu terlihat langsung tertarik setelah mendengar jawabanku. “Berarti kamu pasti kenal Chizu-chan. Dia satu kampus denganmu.”

Aku menaikkan alisku bingung. Dokter ini kenapa malah mengajak ngobrol ngalor-ngidul begini sih? Bukannya langsung mengobatiku saja biar aku bisa cepat pulang… Aneh. “Chizu… chan?”

“Sou (benar). Hari ini sepertinya dia juga ada jadwal kemari. Siapa tahu kalian bisa ketemu.”

“Jadwal—”

“Shitsureishimasu (Permisi).” Belum selesai aku menyampaikan kebingunganku, suara lembut wanita tiba-tiba saja terdengar dari mulut pintu ruang periksa dokter itu.

“Tuh kan, panjang umur. Baru diomongin sudah tiba.” Ujar dokter itu begitu melihat siapa yang datang. Akupun ikut menoleh demi melihat gadis yang katanya satu kampus denganku ini “Na, Chizu-chan. Kenalkan ini—”

“MOKO-SAMA??” Teriakku seketika begitu melihat wajah gadis itu, “Ani, ah, iie, maksudku, Mokomiya-san??”

Ia menelengkan kepalanya bingung, “Are? (Hm?)” gumamnya seraya menatapku lekat-lekat, sebelum kemudian tersenyum canggung, “Ung… Dare… desuka? (Siapa… ya?)”

 

 

“Ja. Cepat sembuh ya, hasil CT scan-nya bisa kamu ambil besok. Chizu-chan, coba kamu antar dia ke administrasi.” Kata dokter itu seraya menyalamiku setelah semua proses pemeriksaan bahuku selesai.

“Hai (Ya).” Jawab Mokomiya. Kami pun berjalan dalam diam sampai keluar ruang dokter itu, sebelum ia akhirnya bersuara, “Hontou ni, gomennasai (Maaf banget ya). Tadi aku memang nggak kenal kamu, aku nggak tahu kamu anak Waseda juga, padahal kita satu angkatan dan jurusan pula. Gomennasai.” Katanya sambil membungkuk.

Aku mengibas-ngibaskan kedua tanganku dengan gugup di depan dada, “Iie, iie, ii desu. Hontou, ii desu. (Nggak, nggak, nggak apa-apa kok. Betul deh.) Aku sudah terbiasa selalu ‘transparan’ kok, malah kalau boleh pilih lebih baik hidup transparan daripada terlihat tapi dianggap sampah.” Anggukku pahit, teringat kelakuan Sahara dkk.

“Eh? Naze (kenapa)? Kalau aku, pasti bakal sedih banget kalau nggak ada yang nganggap kehadiranku…”

“Moko-sama yang selalu disayang dan dikelilingi orang-orang nggak akan mengerti.” Jawabku sambil tersenyum.

“Umm… sebetulnya ada 2 hal yang aku nggak suka dalam kalimat itu.” Protesnya seketika. Aku mengerutkan dahi. “Satu, aku sesungguhnya BENCI setengah mati dipanggil Moko-sama. Siapa sih yang mulai panggilan itu?”

“Lho, bukannya panggilan itu bagus ya?” Potongku.

“Buat aku sih jadi beban. Padahal aku biasa-biasa aja, tapi gara-gara itu jadi banyak yang segan sama aku. Itu hal kedua yang aku nggak setuju dari kalimat kamu tadi. Aku bukannya selalu disayang sama dikelilingi orang-orang kok—biarpun ya nggak ‘transparan’ juga sih, hehe—jadi sedikit-sedikit aku ngerti kok perasaan kamu.” Ia tersenyum manis sambil menatapku. Dan… DEG!! Oke, sekarang aku tahu kenapa semua orang jatuh cinta padanya.

“Nah, disini administrasinya. Dan kamu bisa tebus obatnya disana.” Tunjuknya pada bagian apotek di RS ini.

Aku mengangguk, “Wakarimashita. Arigatou.”

Ia mengangguk pelan, terlihat ragu, sebelum akhirnya membungkuk dan meninggalkanku. Aku juga sudah berbalik badan untuk mengantre di depan loket administrasi itu ketika tiba-tiba suara merdunya kembali memanggilku, “Na, Jun-kun.”

Aku menoleh.

“Anou… Tolong jangan bilang siapa-siapa kamu ketemu aku disini.”

Bingung sebentar, aku akhirnya tersenyum pahit seraya mengangguk mendengar permintaan itu. Yah, di akhir tetap saja ia tidak ingin terdengar pernah terlibat denganku, kan. Sama saja seperti yang lainnya.

“Ah, sepertinya kalau itu aja nggak akan cukup… Baiklah, demi ngejamin kamu nggak bilang-bilang tentang aku dan RS ini, pokoknya mulai besok kita harus bareng-bareng terus. Aku akan selalu cari kamu kalau lagi istirahat. Sekarang, boleh minta nomor teleponmu?”

“HEH??”

 

***

 

“Na, Mokomiya-san—”

“Chizuru. Chi-zu-ru.” Potongnya tajam sambil matanya masih serius memainkan iPad-ku. Ini sudah keesokan harinya di kampus, dan ternyata ia benar-benar mencariku di jam istirahat. Hebat.

“Oke, Chizuru.” Ralatku. “Aku masih belum ngerti deh alasan kamu ngawasin aku terus kayak gini. Sumpah, aku nggak akan bilang apa-apa tentang kita ketemu di RS kemarin—”

“Ssst.” Ia mengunci mulutku dengan punggung iPad yang dipegangnya. “Yang kamu lakuin barusan, termasuk dalam kategori ‘bilang-bilang’, tahu. Gimana kalau ada yang dengar? Terbukti kan kalau aku memang harus terus kawal kamu….”

“Tapi kenap—”

Kali ini, tanpa harus bersuara, ia mendekatkan wajahnya dan meletakkan telunjuknya di bibirku, seperti isyarat agar aku berhenti bertanya-tanya bawel. Aku seketika tersentak. Wajahnya itu lho, dekat sekali, terlalu dekat! “Ch-Chikaiyo! (Terlalu dekat!)” Seruku dengan wajah blushing sambil menjauhkan tubuhku darinya.

Ia terlihat kaget dengan reaksiku itu, “Eh? Gomennasai (maaf).”

“Da… Daijoubu (ng… nggak apa-apa).” Jawabku tergagap sambil merebut iPad-ku lagi dengan gugup, pura-pura memainkannya.

Dan sekejap, aku seperti tidak ingin lagi mempertanyakan alasannya harus terus ‘mengawal’-ku, entah mengapa. Atau mungkinkah tanpa kusadari, aku juga sudah menerima ‘takdirku’ sebagai mahasiswa kampus ini yaitu menyukainya?

Sejak itu, kami pun akhirnya betul-betul selalu bersama kecuali setiap berbeda kelas dan setelah pulang ke rumah. Oke, kini bisa dibilang bahwa aku SEPERTINYA juga mulai menyukai rutinitas ini. Yah, biarpun pastinya itu cuma aku, dan jelas-jelas bukan fans-fans Chizuru yang lain, yang membuat tentunya ‘tim bully’-ku semakin membesar tiap harinya…

“Gaya, sudah mulai gaya sekarang, ngerasa sombong karena tiap hari bareng-bareng Moko-sama kami, hah??” gertak salah satu teman dari gerombolan teman satu kampusku itu seraya BRUKK!! melemparku ke dinding dengan keras.

“Aaarghh!!” teriakku berbarengan dengan terdengarnya bunyi gemeretak dari daerah bahuku. Argh, sumpah ini sakit sekali! Sepertinya cedera bahuku yang sudah mulai sembuh itu kembali terbuka karena ini…

“Sudahlah Mikio, jangan lama-lama! Aku sudah nggak sabar mau ‘kerjain’ dia bareng-bareng, ayolah!” sulut salah satu di antara gerombolan itu juga seraya meregangkan sendi-sendi jarinya dan tersenyum licik. Sekilas aku dapat melihat satu-satu wajah mereka. Bukan, mereka bukan gerombolan Sahara. Maka akupun mendecak kecil, menertawakan nasibku seraya melepas kacamata sebagai persiapan pasrah. Betul-betul tim bully-ku sudah sangat bertambah besar jumlahnya, hanya karena kedekatanku dengan seorang Mokomiya Chizuru.

Pria yang dipanggil Mikio tadi, orang yang barusan melemparku, menanggapi dengan seringai, “Ya, betul juga. Ja, ikou! (Ya sudah, ayo!)” serunya yang segera disusul dengan hujanan tendangan, tamparan, lemparan, dan lain sebagainya dari sekitar 6 orang-an yang ada disitu. Aku hanya bisa menerima pasrah perlakuan mereka itu, sesekali mungkin mengerang kesakitan. Karena tentu, ini bukan wilayahku, aku merasa tidak berhak membalas, bahkan sekalipun aku telah merasa hak-hakku betul-betul sudah diinjak-injak oleh pemuda-pemuda lokal ini. Biarlah, karena suatu saat nanti mereka pasti akan capek sendiri. Aku hanya berharap semoga saat itu tiba dengan cepat…

“Eh, Sipit, dengar sekali lagi, ya: jangan berani dekati Moko-sama kami lagi!! Kamu SANGAT AMAT nggak pantas buat dia, ngerti??!! Wasurenaide!! (Jangan lupa itu!!)”

“Awas kalau kami masih melihatmu dengannya setelah ini! Karena jangan harap seterusnya akan seringan ini juga, Korea!!” gertak seorang lain lagi plus SPIT! ludahan darinya yang tepat jatuh di wajahku. Yah, seperti biasa, gertakan dari tim bully-ku memang tidak akan pernah datang sendirian, pasti diiringi sesuatu, entah serangan fisik atau hal-hal menjijikkan seperti ini.

Berbarengan, mereka pun akhirnya meninggalkanku setelah 15 menit penuh hujan tendangan dan makian tanpa henti tadi. Samar-samar karena mataku yang lebam, aku memerhatikan punggung mereka yang mulai menjauh. Cih, justru ‘Moko-sama kalian’ yang mendekatiku, baka!! umpatku dalam hati. Selalu, dan selalu hanya berani mengumpat dalam hati. Entah kapan sampai aku berani menyuarakan semua pembelaanku di hadapan mereka…

 

***

 

“Luka lagi…” protes Chizuru sambil menggeleng-gelengkan kepalanya begitu menemuiku di kelas keesokan harinya. Ia menaruh tas dan mengambil tempat duduk di sebelahku terlebih dulu sebelum melanjutkan, “Betul deh, apa perlu aku awasin kamu sampai pulang biar kamu juga sekalian nggak bisa berantem lagi, hah? Aneh deh cowok itu, suka banget berantem…” sungutnya yang kian memelan seiring tangannya yang sibuk mencari-cari sesuatu dalam tasnya, yang akhirnya aku ketahui itu adalah… plester. Masih terus mengomel, ia menempelkan benda itu di pinggir bibirku yang luka. “Sakit, apa lagi sampai masuk RS itu nggak enak, tahu… Nggak pernah ngerasain sih dari kecil jadi warga RS…”

“Hah?” responku seketika.

“Ng—nggak kok.” Katanya gugup seraya memunggungiku dan terlihat salting menguncir rambutnya. “Aku tadi bilang, memangnya kamu mau aku awasin sampai rumah, hah? Eh sudah ah, itu sensei-nya datang.” Putusnya begitu saja.

Aku cuma bisa menatapnya bingung. Sumpah, aku yakin tadi dia bilang sesuatu tentang sejak kecil dan RS… Tapi… ah, mungkin benar itu hanya perasaanku saja.

“Ja, mata ne. (Yuk ah, sampai ketemu.)” senyum Chizuru ketika kami berpisah di depan gerbang kampus sore ini. “Awas. Kalau. Berantem. Lagi.” Tambahnya dengan nada ancaman lambat-lambat, yang bahkan terlihat kawaii sekali di mataku. Ya ampun, apa jadinya kalau ada cowok lain kampus yang melihat ini? Moko-sama pujaan mereka, yang biasanya selalu tenang, kalem, tiba-tiba berakting imut di hadapan seorang sampah macam murid Korea pindahan Kim Jaejoong. Aku dipastikan akan mati… pikirku sambil geleng-geleng, memikirkan kemungkinan itu.

“Iya, tenang aja. Hati-hati ya.” Balasku sambil melambaikan tangan. Ia tersenyum sekali lagi sebelum benar-benar berbalik dan berjalan meninggalkanku. Arah pulang kami memang berbeda, makanya batas pengawasannya ya hanya bisa sampai area kampus ini saja. Aku menatap punggungnya yang makin menjauh sebelum memutuskan untuk ikut angkat kaki juga dari situ. Belum ada tiga langkah aku berjalan ketika tiba-tiba kudengar bunyi jatuh yang keras diiringi suara kaget orang-orang dari belakangku. Seketika perasaanku berubah tidak enak, dan itu terbukti saat aku menoleh.

Chizuru dengan sukses tergeletak tak berdaya di trotoar tempatnya berjalan tadi, dengan beberapa pejalan kaki yang mulai merubunginya.

“CHIZURU!!”

 

 

RS Prefektur Chiba

“Chizu-chan! Chizu-chan kolaps lagi!”

“Apa?? Padahal dia sudah rutin check-up, kenapa bisa? Cepat panggil Tanaka Sensei!”

Para perawat berlarian, suara riuh tarikan ranjang beroda untuk Chizuru seketika menyambut kami ketika ambulans yang membawaku dan Chizuru yang pingsan sampai di RS ini. Baiklah, mungkin ini memang keriuhan yang biasa terjadi ketika ada pasien gawat darurat yang datang, tapi untuk melihat betapa warga RS ini seperti sudah sangat mengenalnya, ditambah kata-kata ‘kolaps lagi’, ‘rutin check-up’… aku seketika merasa bingung dengan apa yang terjadi. Apa maksud mereka? Apakah Chizu seorang pasien rutin disini? Apa itu juga alasannya tidak ingin aku mengatakan apa-apa tentangnya dan RS ini pada orang lain?

“Chizuru, sejak kecil menderita gagal jantung. Ia dilahirkan disini, dan menjadi pasien langganan kami sejak itu.” DEG!! Baru sampai situ saja penjelasan dokter Tanaka, dokter yang dulu juga mengobatiku dan mengenalkan kami berdua, hatiku sudah ikutan sakit dibuatnya. Aku langsung mengejarnya begitu ia keluar dari kamar rawat Chizuru, dan bersikeras untuk tidak melepaskannya sebelum ia juga menjelaskan padaku apa yang terjadi. Dan disinilah, di ruang kerjanya, aku akhirnya mengetahui kenyataan itu. Jadi Chizuru… sakit parah?

“Karena penyakitnya, Chizu pun dituntut untuk tidak boleh memberatkan jantungnya. Ia dilarang berolahraga berat, lari pun sebisa mungkin tidak boleh. Namun semenjak ia menginjak masa remaja, masalah mulai datang. Ia jadi sering kolaps, yang akhirnya aku tahu kalau ternyata, untuk jantung dengan tingkat selemah Chizu, berdebar-debar terlalu berlebihan juga tidak bisa… Dan penyebab sering kolapsnya itu, adalah karena jantungnya terlalu sering berdebar-debar. Benar… Chizu mulai jatuh cinta.”

Aku menyusuri lorong RS ini begitu keluar dari ruang kerja dr. Tanaka dengan terseok-seok, terutama ketika mengingat kembali tiap perkataan dokter itu.

“Aku mengatakan kenyataan itu pada Chizuru, namun aku tidak sampai hati menyuruhnya berhenti jatuh cinta atau tidak berpacaran. Aku hanya bilang padanya, sebisa mungkin jagalah hatimu baik-baik. Chizu yang waktu itu masih muda juga awalnya tidak mengerti dan tetap melanjutkan keceriaan masa remajanya, namun kurasa, seiring waktu berlalu, seiring kolapsnya yang juga tambah sering terjadi, mungkin Chizu akhirnya lelah juga… Sejak SMA, ia bilang padaku kalau ia sudah resmi menutup diri untuk cinta. Ia bilang kalau cinta memang diciptakan bukanlah untuknya…”

KLEKK.

Aku membuka pintu kamar rawat Chizuru setelah sebelumnya menepuk-nepuk pipiku terlebih dulu, memastikan wajah ini tetap seperti biasanya seakan tidak terjadi apa-apa, agar tidak membuatnya khawatir. Chizuru yang ternyata terjaga di dalam kamarnya seketika menoleh ketika aku masuk.

“Jun-kun.” Katanya sedikit kaget, sebelum akhirnya menghembuskan napas seperti penuh kelegaan. “Huff~ ternyata kamu, ya. Orangtua dan perawat bilang teman sekampusku yang bawa aku kesini, aku kira siapa. Hehehe.”

“Orangtuamu? Mana?” tanyaku seraya mendekati ranjangnya.

“Aku suruh pulang. Tadinya sih aku mau ngomong langsung sama anak kampus yang bawa aku kesini itu, tapi ternyata kamu. Ah, nggak seru deh.” Katanya, terlihat sekali pura-pura kecewa. Padahal daritadi kelegaan begitu terpancar di wajahnya begitu tahu kalau akulah yang membawanya kemari. Sepertinya dia memang masih takut ada anak kampus yang tahu hubungannya dengan RS ini. Yang aku juga akhirnya baru mengetahui alasan sebenarnya tadi… itu pun bukan dari mulutnya sendiri.

“Kok diam?” tanyanya seraya menyelipkan sebelah rambut lurusnya ke belakang telinga. Aku memang terdiam sambil menunduk, sama sekali tidak punya keberanian menatap wajahnya. Aku takut wajahku sendiri nantinya malah akan menunjukkan simpati, hal yang juga menurut dr. Tanaka tadi adalah hal yang paling dibenci Chizuru. Itulah alasannya tidak ingin teman-teman sekampus kami mengetahui tentangnya yang seorang pasien tetap di RS ini. Pasien dengan penyakit yang kapan saja bisa merenggut hidupnya…

Tapi ternyata ia cukup pintar untuk sudah bisa merumuskan sendiri alasan diamku. “Mou… wakattan deshou? (Kamu… sudah tahu kan?)”

Aku masih terdiam, mencoba berpikir sebelum akhirnya pelan, mengangguk.

“Dan kamu kasihan sama aku?”

Seketika aku tersentak dan mengangkat wajah karena pertanyaannya yang begitu tepat pada inti sasaran itu. Walaupun seperti dapat diduga, tak mampu berbohong, aku pun kembali mengangguk…

Ia berdecak sinis melihatnya, “Itulah kenapa aku nggak suka ada ‘orang luar’ yang tahu tentang ini.” Katanya menusuk, beda sekali dengan Chizuru yang biasanya. Biarpun sepertinya aku bisa merasakan kepahitan luar biasa dalam setiap kata-katanya, karena aku yakin Chizuru bukanlah tipe orang yang bisa berkata seperti itu. Ah, tapi apa yang kutahu tentangnya? Kami bahkan belum ada sebulan ‘berteman’.

“Silakan kalau kamu mau bilang ke semua orang tentang ini, aku juga sudah nggak peduli lagi.” Sambungnya setelah masih juga tak mendengar responku.

“Maksudku kamu bahkan nggak perlu mati-matian menyembunyikan ini, Chizuru.” Balasku akhirnya, tak tahan lagi melihatnya pura-pura kuat seperti itu. “Apa yang salah sih dari sakit? Semua orang juga pernah sakit. Hanya aja mungkin sakit kamu lebih butuh ekstra perhatian daripada penyakit lain. Semudah itu kan?”

“Kamu nggak akan pernah ngerti, karena kamu nggak pernah ngerasain seumur hidup semua orang yang kenal kamu memandang kamu kasihan kayak kamu tuh orang paling menyedihkan di seluruh dunia!”

“Tapi itu artinya banyak orang yang care sama kamu kan?” sanggahku lagi. Entah kenapa cuma dengan Chizuru aku berani menyuarakan pendapatku bulat-bulat. Mungkin karena hanya dia selama ini yang tidak pernah menganggapku sampah yang mengganggu penglihatannya? “Tahu nggak, sebelum kita kenal, aku tuh selalu iri sama kamu yang selalu dikelilingi semua orang. Kemanapun aku pergi, aku selalu dengar: Moko-sama ini lah, Moko-sama itu lah. Bandingkan dengan kehidupan aku, dan lihat betapa beruntungnya kamu!”

“Tapi kamu sehat! Kamu sehat!! Kamu nggak pernah dibayang-bayangi ketakutan kalau kapan aja, nyawa kamu bisa tiba-tiba melayang hanya dalam satu detakan jantung! Kamu nggak tahu rasanya sakit sampai harus berbulan-bulan tinggal di RS!!!”

“Chizu—“

Tapi ia tetap melanjutkan, “Dan kamu, kamu nggak pernah tahu gimana rasanya selalu was-was tiap mau tidur, karena takut nggak akan pernah terbangun lagi esok harinya—Aarghh!!” Chizuru tiba-tiba meringkuk dari posisi duduknya dengan tangan mencengkram bagian dada piyama RS-nya kuat-kuat.

Aku seketika panik dan langsung menghampirinya, tapi Chizuru menepis tanganku kasar. “Pergi!! Aww, argh…” rintihnya lagi-lagi, dengan memegangi dadanya. Kontan alih-alih mengikuti suruhannya, aku malah makin mencoba merengkuh tubuhnya dengan sebelah tanganku memencet intercom, memanggil bantuan.

“Suster, tolong! Siapa saja, tolonglah! Chizuru kolaps lagi—“

“Pergi, aku bilang!!” teriak Chizuru lagi seraya meronta dari pelukanku, airmata terlihat sudah mengalir di pipinya sambil masih terus merintih. Kamu nggak tahu rasanya sakit sampai harus berbulan-bulan tinggal RS! Seketika ingatanku kembali pada salah satu perkataannya tadi. Apakah betul, apakah betul sesakit itu, Chizuru?

“PERGI!! ARGH!” jeritnya lebih kencang lagi, tambah erat pula mencengkram dada piyamanya, setelah berhasil mendorongku menjauh dengan sekuat tenaga. Kini aku hanya mampu melihatinya saja, tanpa tahu harus berbuat apa. Namun satu yang kutahu pasti, akulah penyebab kambuhnya ia kali ini. Dasar Jaejoong bodoh!! Mana, katanya kamu mau menjaga perasaannya? Yang ada kamu malah bikin dia tambah sakit! Dasar bodoh, bodoh, bodoh!!

“Chizu-chan, Chizu-chan!!” tergopoh-gopoh dua orang perawat segera masuk dan menghampirinya, salah seorang di antara mereka langsung melabrakku begitu mengecek kondisi Chizuru.

“Apa yang kamu lakukan, hah?? Apa kamu tidak tahu kalau Chizuru tidak boleh sampai emosi sedikit pun?? Sudahlah, lebih baik kamu keluar saja, dan jangan mengunjunginya lagi!” BRAKK!! Pintu pun ditutup dengan kencang.

Sementara aku, masih termenung dalam pikiranku di luar, walaupun setelah diusir barusan. Namun kini memikirkan implikasi perkataan Chizuru tadi… Kamu nggak tahu rasanya sakit sampai harus berbulan-bulan tinggal RS! dan perkataan suster barusan… …jangan mengunjunginya lagi!

Tanpa sadar akupun segera mengambil ponselku, “Sahara? Jun da-yo (Ini Jun). Kamu tahu, aku MUAK selalu ditindas olehmu. Dan sekarang aku nggak akan tinggal diam lagi, silakan bawa seluruh temanmu, kita habiskan semuanya malam ini.”

Inilah caraku untuk tahu rasanya tinggal di RS, tanpa harus mengunjungi Chizuru…

 

TBC

Advertisements
 
17 Comments

Posted by on May 25, 2011 in DBSK, [SONGFIC]

 

Tags: ,

17 responses to “TOKI WO TOMETE – Part 1

  1. chrisnagustyani

    May 25, 2011 at 9:43 pm

    am i first?? hohohohoho nyonyah akhirnya kombek with new FF!! *soraksorakbergembira*

    castnya Jaejoong yah, padahal di TVXQ aku sukanya Yunho *gadayangnanya*
    btw, MVnya Before You Go bagus banget nyaahhhhh klepek-klepek ane liatnya (telat banget mah)

    Sahara ntu nama cowok yah? kirain cewek tadi heheheh

    ayo lanjut next part nyah….

     
    • lolita309

      May 25, 2011 at 9:56 pm

      yoi first…^^

      jiahhh dia baru tau sekarang kalo BUG bagus -___- hahaha

      ho-oh, cowok. nama keluarga itu… sipp, lanjut! dan berhubung kamu first nihh…. jengjengg~

      AKU MAU POST TRIBUTE KAMU!

      hoyehoyee~ (tapi situ antagonis kelas berat loh disana hahaha)

       
      • chrisnagustyani

        May 26, 2011 at 1:08 am

        iya loh… aku jadi kesengsem ama Yunho (?) hahaha

        JINJJA?? AAAAAAAAAA brb kabur ke postingan sebelah…..

         
      • lolita309

        May 26, 2011 at 11:07 pm

        aih.. iya doi emang SUPERB! badannya itu loh ga nahan.. awrr! *geje*

        tapi aku tetep suka sama yoochunie dong… aing aing~ (ga ada yang nanya -_-)

         
  2. wiehj

    May 25, 2011 at 10:34 pm

    satu kata : SERUUUUU!!!
    haduuuu, aq bner2 impressed bgtt am sikap dan pemikiran jeje di kalimat akhir ntuu.. kyaaaaa bangettt!! hhahahahaha
    sptinya plot nya sad sad gtu yah cingu?? dr judul nya sajah suda terlihat kesan sedihnya.. smoga hepi end, nda rela klu ampe sad end *pdhalbrujgbacapartptama* hahahahhah
    bekgron tmpat dan budayanya jepan nihhh.. bru kali ini baca ff yg bukan berbekgron korea ^^
    ahhh daebak lah cinguuu!! pas awal crta blum brasa seru, blum dpet feelmya kayaknya.. hhahhah, makin kebawah makin seru dan bqin penasaran.. >,<
    ayukkk lanjut lanjuttt, aq gag sabaarrr pgen baca klanjutannya 😀

     
    • lolita309

      May 25, 2011 at 11:01 pm

      aaaangg~ GOMAWO^^

      hehe, emang tau apa yang dipikirin jeje sampe dia nelpon sahara? 🙂

      yaa…. sad dan nggak sadnya kan yg nentuin pemirsa… (loh?)

      hehe, iya, cari suasana baru, inget nonton jeje di sunanare soalnya^^

      sipp, mungkin bsk aku publish part 2nya, makasi yaa uda baca 😀

       
      • wiehj

        May 26, 2011 at 11:23 am

        hmmp, tebakan aq sh si jeje byar dikeroyok am sahara dkk ampe masuk rs.. hahahahaha .. bner kah tebakan ku ini cingu??? *berdoasmogagagsala*
        asik asik!! ~(^o^~)(~^o^)~ ditunggu part 2 nya 😀

         
      • lolita309

        May 26, 2011 at 11:16 pm

        dingdongdaeng! Yeeyy, kasi dujun buat kamyuu, dongwoon buat akuu~ (loh?) :p

        ahaha ternyata ideku itu gampang ditebak ya huhu T.T

         
  3. Oepieck

    May 26, 2011 at 11:13 am

    hwa~ keren keren
    ide ceritanya kreatiiif banget!

    jaejoong kasian di-bully padahal tu anak ganteng banget.
    kasian chizu, gak bisa bayangin punya penyakit kayak gitu. gak bisa jatuh cinta… duh, melaaas banget
    tapi jaejoong pinter juga ya idenya biar bisa nemenin chizu. berarti dia bela”in dipuklin biar bisa opname di RS ya? ckckck

    eonni, emang di Jepang, imigran itu dihina ya? Kok parah banget kayaknya sampe diludahi gitu

    dipost disaat” yang tepat ketika lagi sepi FF, makasih eonni 😀 daebak!

     
    • lolita309

      May 26, 2011 at 11:21 pm

      aingg~ makasi^^

      hahaha, dari pada dibilang ganteng, tuh anak kayaknya lebih tepat dibilang CANTIK banget deh, ngiri kali orang2 jepun sana kkkk~

      yaahhhh, ide saya kayanya emang bnr2 gampang ditebak ya? dingdongdaeng kamu becuuul~ *lempar unyuk* 😀

      hehe, gatau juga kalo masalah bully2an, tp emang sih di jepang ada juga yang suka jelek2in orang korea, bilang matanya sipit lah (berasa yang engga aja -___-) gt2 deh. 🙂

      sama2 sayang, makasi juga uda baca 😀

       
      • Oepieck

        May 27, 2011 at 6:35 pm

        aingg~ juga (?)

        *yah, eonni lemparnya kejauhan, balik lagi dah tu monyet ke korea *plak!!
        kasian dong orang koreanya, tapi klo sama artis k-pop kyaknya pengecualian ya?

        sama-sama eonni ^^

         
  4. babyhae

    May 27, 2011 at 3:02 pm

    Howaaaa!!! akhirnya saya bisa baca yang ini

    satu kata. KEREN!!!!!!!!!!!!

    Lolaaaaa…saya suka banget yang ini. Jaejoong hidupnya yang ditindas sama Chizu yang dipuja di mana-mana tapi nyatanya bertolak belakang….

    gak ada yang sempurna. itu sih yang ketangkep. kerennnnnnnn…

    adegan terakhir nih bikin deg-degan sekaligus terpesona. kyaaaaaaaaa!! segitunya dia mau berkorban…*mimisan* wkwkwk

    kerennnnnnnn. loncat ah ke part 2 🙂

     
    • lolita309

      May 28, 2011 at 10:40 pm

      yaaaayy, makasi uda baca sayaang^^

       
  5. ReDe

    May 27, 2011 at 9:17 pm

    Aigooo…. kereenn onniee… ^^
    tapi sempet kasian juga ama jaeppa…
    pas ditindas itu lho… aq jadi kasian sm muka jeje yg diludahin…yuck! pada sirik kali ya tuh cowok2 gara2 gak punya wajah tampan nan imut kayak jeje!
    *lama2 aq aja yg kasi pelajaran sm mereka wkwkwkwk *bletaakk*
    ending part 1 nya daebak! hehehe…

    tpi perasaan, jeje kok dapet babak belurnya aja yah?
    jadi inget Vacation, hehehe ^^v

     
    • lolita309

      May 28, 2011 at 10:41 pm

      loh loh loh, jadi dia yang esmosi (?) XD

      hehe, disini babak belur, tapi seterusnya engga ko kkkkk~

       
  6. Carrie Cho

    June 16, 2011 at 3:16 pm

    uuuuu udah jarang banget baca ff castnya DBSK /plaaaaaaak keseringan baca SJ hahaha -_-
    sumpah deh aku ngebayangin mas JEJE waktu dia di Heaven Postman dan… lumayan agak susah sih ngebayanginnya dia agak sedikit ‘weird’ wkwk
    emang selalu ada jalan untuk dekat dengan cinta *lirik jeje
    haha

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: