RSS

[THE SERIES] DON’T CALL ME OPPA – Chapter 6 [END]

06 May

DON’T CALL ME OPPA

(Ch. 1; Ch. 2; Ch. 3; Ch. 4; Ch. 5)

Written by: Lolita Choi (@lolita309)

Starring: Lee Donghae

babyhae as Lee Shinmi


Chapter 6. THE REVEALING

Flashback

“Kamu betul nggak apa-apa masuk sendirian? Aku bisa temenin kamu kalau kamu mau, mungkin aku bisa bantu ngejelasin alasan kabur kamu kemarin supaya orangtuamu nggak begitu marah… Eottae?” tawar Donghae pada Shinmi begitu mereka sampai di depan kediaman keluarga gadis itu. Ah, dia betul-betul khawatir pada keadaan kekasihnya itu…

Shinmi menggeleng, “Kalau menurut aku, aku malah bakal tambah dimarahin deh kalau tiba-tiba pulang bareng oppa—eh, aku boleh panggil begitu lagi kan? Kata Yora-ssi kan kemungkinan kita—”

“Andwae! Nggak akan, sampai betul-betul jelas kalau kita bukan… ‘itu’.” Jawab Donghae cepat, dengan kata ganti pada kata-kata yang paling dibencinya itu: kalau mereka… ‘kakak-adik’. “Tentang ketakutanmu bakal tambah dimarahin… ya kalau gitu ayo aja sih kita dimarahin sama-sama, asal bareng-bareng sama kamu, mau dimarahin appa-mu, eomma-mu, orang sekampung juga, aku SANGAT oke!” katanya bersemangat, mengeluarkan jurus ‘gombal maut’-nya demi mengalihkan pembicaraan.

“Gombal!” tegur Shinmi seketika, sebelum akhirnya ia tertawa. Ya, tawa pertama pasca ‘acara kabur’-nya 3 hari yang lalu, yang bahkan Donghae sendiri pun sudah kehilangan akal bagaimana mengembalikan kecerian gadis itu. Ia tidak pernah menyangka kalau solusinya ternyata malah hanya aksi gombalnya yang memang akhir-akhir ini sudah agak ia tinggalkan (author: yakin?). Wah, kalau begitu nggak jadi meninggalkan kebiasaan ini deh, karena ia berniat membuat orang yang paling ia sayangi ini tertawa terus setiap hari! *bilang aja emang hobi #plakk*

“Ya sudah kamu masuk gih, langsung minta maaf sama orangtuamu ya, kalau ada apa-apa jangan lupa langsung hubungi aku. Oke?”

Shinmi mengangguk dan segera beranjak untuk keluar dari sedan merah itu ketika tiba-tiba, Donghae menahan sebelah tangannya.

Shinmi menoleh, dan seketika pria itu memeluknya erat… dan posesif. Shinmi membalas pelukannya sebentar, sebelum kemudian memutuskan mendorong tubuh kekar itu menjauh. “Aku nggak akan kemakan ‘pancingan’-mu untuk kedua kalinya, lho.” Katanya sambil tersenyum. Jelas sekali Shinmi yang sekarang sudah bukan lagi Shinmi yang pemalu, clumsy, seperti dulu. Ia kini wanita yang kuat, karena keadaan dan kenyataan yang harus ia hadapi akhir-akhir ini memang menuntutnya untuk harus begitu…

Malah jadi Donghae yang langsung salting mengingat ‘aksi buas’-nya waktu itu. Ia menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal, “Hehe, ya maaf deh. Tapi sekarang bukan kok, bukan. Asli cuma mau peluk kamu aja, swear. Entah kenapa aku ngerasa bakal kangen kamu banget, padahal kita nggak akan kemana-mana, kan…” akunya seraya mengangkat dua jarinya yang membentuk huruf V.

Shinmi hanya terdiam. Aku… memang akan pergi, oppa… ucapnya dalam hati. “Ah, geureom, (Ah, ya sudah aku pergi dulu,)” kata Shinmi akhirnya seraya mengangguk singkat pada Donghae. Polisi itu pun mengiyakan setelah mengecup ringan kening pacarnya itu terlebih dulu, dan segera menjalankan kembali mobilnya pasca saling memberikan lambaian singkat.

HAAHH~ Shinmi menghembuskan napas berat begitu Donghae telah pergi. Ia pun menoleh ke belakang, ke arah rumah tempatnya dibesarkan sejak lahir itu. Padahal sudah sedekat ini… Padahal ia hanya tinggal masuk dan meminta maaf, dan semua akan kembali seperti biasa. Ia hanya perlu berpura-pura bahwa tidak pernah terjadi apa-apa, bahwa ia tidak pernah bertanya tentang asal-usulnya…

Namun sayangnya ia tidak bisa. Bagaimana mungkin ia bisa tinggal disana jika ayahnya sendiri ternyata selama ini tidak pernah mengakuinya?? Kalaupun nanti beliau meminta maaf pun, ia sendiri belum tahu akan menjawab apa. Hatinya terlanjur sakit, ia merasa dikhianati setelah selama ini, setelah menerima semua kasih sayang yang ternyata hanya pura-pura…

Tapi mau pergi kemana? Ia sendiri juga belum tahu. Yang pasti, ia tidak boleh merepotkan orang lain lagi. Perlahan, Shinmi pun mengecek isi dompetnya. Uang tunai lumayan, debit card juga ada, yang isinya seingatnya masih cukup banyak mengingat ia bukan tipe orang yang hobi hura-hura juga. Baiklah, cuma tempat itu yang ada di pikirannya kali ini. Tempat yang selama ini selalu ia ingin kunjungi demi meningkatkan kemampuan berbahasa Inggrisnya sebagai guru… English Village.

Flashback end

 

“Donghae, Donghae, jadi sebetulnya kemarin-kemarin kamu tahu keberadaan Shinmi dimana? Jadi dia bersama kamu?? Aigoo~ Donghae-ya, kenapa kamu tidak menghubungi kami?? Kami kebingungan setengah mati—“

“Masalahnya aku mengerti penyebab kaburnya Shinmi, eomoni.” Potongku seketika. Kepalaku sudah nyaris pecah karena bingung kemana Shinmi menghilang, dan ‘rengekan’ ibunya ini hanya memperparahnya saja! Bukannya aku tidak sopan, sungguh. Semua orang tahu betapa sopannya aku pada wanita. Tapi kepalaku terlanjur nyaris meledak dengan segala macam permasalahan yang muncul akhir-akhir ini. Selesai satu, timbul yang lain, selesai yang itu, timbul yang lain lagi. Aku benci sekali! “Bisa kita bicara sebentar? Sebaiknya ada aboji juga. Masalah ini harus kuluruskan sekarang juga.”

Dan disinilah, di ruang tamu rumah keluarga Shinmi, kami bertiga duduk setelah ayah Shinmi yang seorang dosen dipanggil pulang sebentar dari kampusnya dengan alasan ada hal penting, tentang Shinmi. Dan betapa meledaknya ayah Shinmi ketika tahu kalau selama 4 hari ini, anaknya ternyata bersama pria muda di hadapannya itu… Aku.

“Jadi selama ini dia bersama kamu?? Apa yang kamu lakukan, hah?? Sepasang pria dan wanita tanpa ikatan pernikahan hidup berdua, kamu pikir kamu tinggal di negara mana!! Jangan-jangan Shinmi bisa kabur pun gara-gara pengaruhmu—“

“Jangan memutar balikkan fakta!”  selaku cepat, nyaris berdiri dari kursiku saking emosinya. “Anda pikir Shinmi kabur gara-gara siapa?? Maaf, saya memang belum pernah bertemu langsung dengan Anda selama berhubungan dengan Shinmi, tapi kini saya tahu kalau Anda bahkan tidak mengenal cukup dalam anak Anda sendiri!”

Hening.

“Maaf.” Ucapku lagi seraya membungkuk dan kembali duduk, cukup menyesal sudah sampai lepas kendali seperti tadi. Aku menatap lurus ayah Shinmi, “Yang saya maksud adalah… saya tahu ada masalah apa dengan Shinmi juga eomoni dan Anda. Dan menurut saya, Anda sedikit kurang bijak menyikapinya.”

Ayah Shinmi terlihat mulai melunak mendengarku yang juga sudah berbicara dengan pelan, ditambah keberadaan tangan ibu Shinmi yang dengan erat menggenggam telapak tangannya. Maka akupun berani melanjutkan, “Sejauh yang saya kenal, Shinmi adalah tipe gadis yang introvert, dari luar ia memang selalu menutupinya, padahal sedikit kata tajam pun bisa dengan mudah melukai hatinya.”

Kedua orang tua Shinmi mengangguk-angguk mendengarku, tanda mengiyakan.

“Dan kenyataan bahwa Anda setelah sekian lama ini ternyata tidak pernah mengakuinya sebagai anak sendiri, itulah yang paling menusuk perasaannya. Kalaupun memang benar ia bukan anak Anda, seharusnya bukankah Anda tidak perlu terlalu bersikap frontal seperti itu? Seperti… Anda sudah membawanya terbang tinggi dengan kasih sayang Anda selama ini, tapi ketika sudah di atas, Anda menjatuhkannya begitu saja tanpa aba-aba. KALAUPUN hal itu memang benar,” tekanku lagi. “…saya rasa dia juga akan mengerti jika Anda memberitahunya pelan-pelan, bukan?”

Ayah Shinmi (yang sepenglihatanku sepertinya tipe pria dengan pride super-tinggi) mencoba menjawab dengan tenang, “Ya, saya sadar kalau saya salah saat itu. Tapi jujur saja, saya tidak suka dikuliahi oleh Anda seperti ini, Nak… Donghae?” ia melihat sekilas nametag yang masih terpasang di kemeja di balik jaketku.

“Siap, Sersan Dua Lee Donghae imnida! Tentara yang kini ditugaskan sebagai polisi di Kepolisian Seoul, selesai!” Jawabku lantang seraya memberi hormat. Heh? Tunggu. Aku ngapain sih ini?

Ah sial, refleks ini… Akhirnya sadar kalau itu memalukan, maka perlahan aku pun menurunkan hormatku tadi dengan senyum garing. Ya ampun, bisa-bisanya ngelawak di depan camer sendiri, Donghae babo! rutukku pada diri sendiri.

“Polisi, eh? Jadi itu kenapa kamu merasa berani menggurui saya?” ayah Shinmi menanyaiku sinis, yang langsung dibalas tatapan tajam istrinya. Ia tidak menghiraukan.

Aku seketika menggeleng, “Aniyo, aniyeyo, jinjjayo. Saya… saya hanya… selama ini saya dan Shinmi sebetulnya juga mencari tahu kebenaran tentang asal-usul Shinmi itu, dan mulai menemukan titik terang kalau sebetulnya masalah siapa anak siapa itu hanya salah paham saja—“

“Mengenai hal itu, kami juga sudah mengetahuinya. Melalui tes DNA, saya resmi adalah ayah biologis Shinmi—“

“…karena saya adalah putra kandung Lee Sooman, pria yang selama ini Anda kira ayah kandung Shinmi—EH??” seruku seketika begitu mendengar kalimatnya yang dinyatakan bersamaan dengan ucapanku.

“EH??” dan ternyata mereka juga mengalami kekagetan yang sama mendengar perkataanku. “Jadi kamu putra Lee Sooman??”

“Jadi Shinmi betul-betul anak kandung Anda? Hwaksilhaeyo? (Anda yakin?)” tanyaku tak percaya.

“Kamu… putra Soomanie dan Youngshinie? Donghae-ya…” tanya ibu Shinmi sekali lagi seraya merasakan wajahku dengan kedua tangannya, dengan mata yang juga berkaca-kaca.

“Takdir macam apa ini…” ayah Shinmi tiba-tiba jatuh terduduk di sofanya dengan kepala menunduk. Aku menatap mereka berdua bingung. Ada apa sebenarnya?

“Yeobo, sekarang kamu bisa menyampaikan maafmu secara langsung kan? Ayolah, kamu tidak bisa terus-terusan beralasan kamu harus menemui Sooman secara langsung untuk itu, disaat ia sekarang bahkan sudah tiada…” ibu Shinmi nyaris menangis lagi saat mengatakannya. “Kini, putra kandungnya ada di hadapanmu, ayolah… Aigoo~ Donghae-ya, kenapa selama ini aku tidak pernah sadar kalau kamu mirip sekali dengan Youngshinie… Aku merasa bersalah sekali baru tahu tentang kepergian kedua orangtuamu jauh setelah itu terjadi… Biarpun terlambat, aku turut berduka cita…”

Aku menggeleng, “Gamsahamnida… Dan tidak perlu meminta maaf,” aku menatap ayah Shinmi yang masih menunduk. “…aku yakin ayahku mengerti semuanya. Hanya… kalau boleh, bisakah eomoni cerita padaku apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana kalian tahu bahwa Shinmi betul anak kandung Lee-ssi?”

“Seperti yang kubilang tadi, tes DNA.” Ayah Shinmi mulai mengangkat kepalanya. “Setelah Shinmi pergi dari rumah, istriku bersikeras ingin membuktikan kalau Shinmi memanglah darah dagingku, maka kami mengambil sedikit rambut yang tersisa di sisir dalam kamarnya, dan membandingkannya dengan darahku…Dan mereka cocok. 99.9%.”

“Ini hasilnya.” Ibu Shinmi tergopoh-gopoh mengambil selembar kertas di bagian dalam rumahnya dan segera memberikannya padaku.

Aku membaca kertas itu sebentar sebelum kembali menyampaikan satu hal yang masih kupertanyakan di benakku, “Tapi… bagaimana dengan… maaf, hubungan eomoni dan ayahku? Maksudnya… aku dengar Lee-ssi juga mempermasalahkan itu kan makanya sempat meragukan tentang Shinmi? Aku pun juga baru-baru ini menemukan foto-foto semasa kuliah kalian, dan mendapat cerita tentang persahabatan eomoni, ayah, dan ibuku dahulu…”

“Dari Eunjyo eonni?” tebak ibu Shinmi, menyebut nama eomma-ku yang sekarang, seraya tersenyum tipis. Aku mengangguk. “Mengenai itu, aku juga sudah menceritakannya pada suamiku.” Ia menepuk lembut paha sang suami sebelum melanjutkan, “Itu semua sama sekali salah paham. Klimaksnya ketika ibumu memergoki aku ada di rumahnya hanya berdua dengan Sooman ketika kalian masih bayi, kan? Itu karena saat itu aku sedang curhat dengan Sooman, pasca mengetahui kalau aku sedang mengandung Shinmi, hasil hubunganku dengan pacarku saat itu. Ya, ayah Shinmi ini, Tuan Lee Taeyang.” Ia menatap penuh arti pada sang suami sambil menekan tiap-tiap kata terakhirnya. Aku hanya bisa diam mendengarkan sindiran sinis seorang istri pada suaminya itu. Ya ampun, jadi orang dewasa berat sekali sih. (author: lah, dia kira dia belum dewasa kali -___-)

“Waktu itu, aku sama sekali tidak berani memberitahu pacarku sendiri tentang itu, maka aku minta pendapat Sooman, satu-satunya sahabat priaku. Dan walaupun aku tahu Youngshin itu cemburuan, tapi aku betul-betul tidak pernh menyangka ia akan bertindak seekstrim itu, pergi dengan kalian sekeluarga begitu saja, tanpa pamit, entah kemana. Eunjyo eonni yang kutanya pun bersikeras menutup mulutnya atas pesan Youngshin, padahal aku ingin sekali berterimakasih pada Sooman karena akhirnya aku berani mengatakan yang sebenarnya pada pacarku hingga kami bisa segera menikah—walaupun selama 24 tahun ternyata ia selalu merasa curiga dan diam-diam tidak mengakui anaknya sendiri,” sindir ibu Shinmi lagi seraya mengerling ke arah sang suami.

“Haaahh, Mari, sudahlah, aku kan sudah mengaku salah!” yang disindir akhirnya bereaksi juga. Aku menatapnya kasihan. Pak Lee, sabar ya, wanita memang begitu. (??)

Akupun mengangguk-angguk mengerti setelah mendengar semua penjelasan itu. Ya, semua jadi masuk akal sekarang. Sudah kukira kami tidak mungkin bersaudara. Tapi betul kata ayah Shinmi tadi: takdir macam apa sih ini?? Padahal awalnya kami hanya ingin membuat bukti bahwa kami sama sekali tidak punya hubungan darah walaupun nama keluarga kami sama, demi memperoleh izin menikah dari keluargaku. Dan tiba-tiba semua jadi terungkap sampai ke masa lalu orangtua kami begini…

“Jadi, eomoni dan… aboji,” aku memberanikan diri memanggil ayah Shinmi dengan panggilan (sok) akrab itu. Tak ada respon. Yah, bagiku diam berarti ‘ya’. “…kira-kira apalagi yang sudah kalian rencanakan untuk mencari Shinmi? Minta bantuan polisi? Ke rumah teman-temannya? Ke rumah saudara jauh kalian?”

Mereka saling pandang sebelum akhirnya serentak menggeleng, “Semua sudah kami lakukan dalam empat hari ini, tapi tak ada hasil.”

“Karena ia ternyata bersamamu, kan.” Sela ayah Shinmi kejam. JLEB JLEB JLEBB!!

“Yeobo, sudahlah!” tegur ibu Shinmi. “Sekarang lain perkara, kan. Shinmi betul-betul hilang kali ini. Orang-orang yang kami datangi itu juga sudah kami titip pesan untuk segera menghubungi kami jika Shinmi datang, tapi tetap belum ada hasil. Nah, Donghae, sebagai polisi dan pacar Shinmi, menurutmu kemana kira-kira orang yang kabur akan pergi selain ke tempat-tempat tadi?”

Aku mencoba berpikir sebentar, mengingat-ingat tempat-tempat apa saja yang menjadi favorit Shinmi, keinginan Shinmi, maupun kenangan kami…

Buntu. Aaah~ Shinmi terlalu tertutup. Aku baru sadar selama sekitar 4 bulan kami berhubungan ini, kalau akulah yang memang selalu mendominasi semua pembicaraan karena kebawelanku ini. Donghae babo, babo, babo!!

Maka akupun juga sudah siap menggeleng ketika tiba-tiba mataku menangkap sebuah poster serial Boys Over Flowers di pintu sebuah kamar yang terletak di ujung belakang rumah ini (mungkin kamar pembantunya). F4 dengan Jandi di depan gedung sekolah mereka… dan akupun segera tersadar. Sekitar sebulan yang lalu…

“Wah, bagusnya… Jadi pengen kesini deh.” katanya yang sedang melihat-lihat majalah yang baru dibelinya itu.

Aku mendongak, “Kemana?”

Ia menunjukkan artikel di majalah berbahasa Inggris yang dipegangnya, “English Course di English Village. Sudah lama aku nyari tempat belajar intensif bahasa Inggris kayak begini, oppa… Buat uji kompetensi aku sebagai guru.” Jawabnya sambil tersenyum. “English Village, ya… Suasananya mendukung, ada sertifikasinya juga lagi. Wah, bagus banget ya… Eh, ada onsen (pemandian air panas)-nya juga! Wah, jadi tempat buat sembunyi dan nenangin diri bisa juga deh kayaknya…” gumamnya sendiri dengan mata berbinar-binar. Terlihat jelas sekali ia langsung jatuh cinta seketika dengan tempat itu dan ingin sekali kesana.

“’Sembunyi dan nenangin diri’? Oh, oke. Jadi kalau kamu hilang pokoknya aku cari kesitu aja ya.” Godaku sambil mengacak rambutnya. Ia tertawa kecil. Aku melongok sebentar ke majalahnya lagi, “English Village… tempat syuting BOF itu, ya? Apa nama tempat course-nya?

Ia menjawab dengan riang, “HAPPY Intensive English Course.”

Jjajan~

“Aboji, eomoni, aku pinjam hasil tes DNA Shinmi ini ya, sepertinya aku sudah tahu ia ada dimana!” seruku seraya menyambar kertas itu dan segera berlari keluar.

HAPPY Intensive English Course, English Village!!

***

Hari sudah malam ketika aku akhirnya sampai di ‘Kampung Inggris’ ini. Dan seiring masuknya aku ke areal itu, seketika itu juga aku dihadapkan pada satu masalah lagi: ‘Fake Immigration Procedures’-nya. Prosedur yang mengharuskan tiap pengunjung menjawab semua pertanyaan dari ‘petugas imigrasi’ dengan bahasa Inggris. Jreeeengg~ -___-

Ah, mati aku… Aku lebih baik balik ke batalyon tentara-ku dulu daripada harus berbahasa Inggris, ini adalah kelemahanku yang paling pol, maksimal! Apa karena aku besar di Jepang ya? Orang-orang sana kan terkenal tidak bisa berbahasa Inggris. *nyalahin orang, kan -___-* Dan sekarang aku malah pacaran sama guru bahasa Inggris, pula. Untung Shinmi sudah sempat kuancam kalau dia berani-berani sok British di hadapanku, aku akan membalasnya dengan bahasa Jepang yang tidak dia mengerti sama sekali. Kkkk~

“Good evening, Sir.” Sapa ‘petugas imigrasi’ wanita kulit hitam itu begitu aku datang mendekat.

Tuh kan. Baru sapaan aku sudah bingung. Ini kan sudah malam, bukannya harusnya ‘good night’, ya? *cerita ini hanya fiktif, jadi mohon maaf jika tokohnya terlihat terlalu bodoh. Hehe XP* Tapi yang bule kan dia, ah ya sudahlah ikuti yang ada saja biar cepat, “Umm… good evening?” jawabku ragu-ragu.

Petugas itu mengangguk sambil tersenyum. Yes, lolos satu pertanyaan! Fiuhh~ “May I see your passport, Sir?” tanyanya lagi.

“This (He meant ‘here’, actually -.-).” Kataku sambil buru-buru menyerahkan ‘paspor pura-pura’ yang dibagikan tadi. Ayolah aku harus segera mencari Shinmi ini…

Ia terlihat mengulum senyum mendengar jawabanku. Eh, tapi kenapa? Tadi aku betul pakai ‘this’, kan? Maksudnya kan ‘ini paspornya’. Iya kan iya kan? #PLAKK

“OK. What’s the purpose of your visit, Sir?”

DANG! Aku betul-betul mati kali ini. Wasa… apa? Wasaperpes… ofor visit? Aarggh, sudahlah! Dia memaksaku mengeluarkan ‘jurus andalan’ kalau begini sih.

Maka, memasang senyum paling oke sejagad, aku pun berkata, “You are so gorgeous.” dan tak lupa TING! kedip sebelah mata. Kkk~

Hening. Wah, sepertinya dia betul-betul terbius dengan ketampananku. Aish, berhasil lagi, Lee Donghae!

“Oh, thank you. I am.” Jawabnya kemudian dengan tenang, dan tanpa menunjukkan keinginan sama sekali untuk melepaskanku dari prosedur itu.

Haahh?? Jadi untuk pertama kalinya aku… GAGAL???

Aish, akhirnya keluar juga dari ‘neraka’ itu~ pikirku sambil melempar kesal ‘paspor-pasporan’ tadi ke dalam keranjangnya sebelum keluar dari ‘gedung imigrasi’ itu. Tapi betul-betul deh, selera bule itu aneh banget sih, bisa-bisanya dia tidak terpengaruh sedikitpun dengan ketampananku ini. Atau karena wajahku yang terlalu Asia? Ah, tidak mungkin. Pasti matanya saja yang sedang bermasalah tadi (PD mode: on). Tapi satu pelajaran yang pasti sih, sepertinya aku sesekali betul-betul harus berguru pada Shinmi tentang bahasa Inggris ini. Gawat sekali kalau ke luar negeri ternyata betul-betul kejadian ditanya-tanya dengan bahasa Inggris begitu. Bisa-bisa belum sempat liburan aku sudah keburu dideportasi karena tidak bisa menjawab pertanyaannya. *geleng-geleng*

Ah, sudah, cukup dengan permasalahan bahasa Inggris tadi. Sekarang harus fokus cari Shinmi, Shinmi! HAPPY Intensive English Course, ya… Mataku pun berputar mencari keberadaan tempat itu, berpedoman pada peta kawasan English Village di tangan. HAPPY, HAPPY…

“Donghae… oppa?”

Aku pun segera berbalik begitu mendengar panggilan itu. Suara orang yang sangat kukenal… “Yora!”

Dan yap, itu suara adik kesayanganku, bukan Shinmi seperti yang (mungkin) kalian pikirkan. Adikku terlihat rapi (eh, dia selalu rapi, sih) dengan dress hitam yang ditutupi mantel bulu sintetis-nya, dan tangan yang menggamit lengan kekar seorang pria tinggi tegap… “SIWON??”

“Hyung.” Jawab adik iparku itu sopan seraya menundukkan kepalanya. Waah~ kerennya, lihat dia! Mengenakan seragam angkatan laut lengkap yang masih terlihat biarpun tertutup mantel… Biarpun aku juga pernah melihatnya dengan seragam kepolisian (polisi di divisi kami, crime squad/investigasi, bukanlah tipe polisi berseragam, jadi kecuali ada acara khusus kami tidak pernah memakai seragam polisi sama sekali), tapi ini betul-betul keren, wanjeon daebak! Wah, aku betul-betul harus menyegerakan wamil-ku juga biar nggak kalah keren! (author: heh? -__-)

“Oppa lagi ngapain?”

“Kalian?” tanyaku balik, bahkan sebelum menjawab.

Mereka saling melempar senyum sebelum Yora akhirnya bersuara, “Hari ini Siwon dapat izin keluar, jadi kita ketemuan deh, mau nonton konser orkestra klasik disitu, tuh.” Katanya seraya menunjuk gedung kesenian di balik air mancur tepat di belakang kami itu. “Eh, oh ya, oppa, gimana Shinmi-ssi? Sudah dibilangin? Aku gatel banget mau buru-buru periksa ulang kalian biar cepat dapat faktanya nih! Bawaan baby kayaknya, aku rasa cowok deh, soalnya hobinya kok mau investigasi terus kayak kerjaan daddy-nya. Hehe.” Cerocosnya sambil senyum-senyum malu.

Aku menatapnya bingung, sejak kapan adikku jadi cerewet begini? “Eng… kayaknya ada ceweknya juga deh… mungkin kembar.” Habis kamu jadi ‘rame’ gitu, tambahku dalam hati. :p

“Jadi gimana, oppa?” ulangnya lagi, melihatku yang belum juga menjawab pertanyaan utamanya, tentang Shinmi.

Aku, jelas bingung. Shinmi, ya… kalau ditanya bagaimana dia, jujur aku juga belum ketemu dengannya kan. Lihat saja dia masih hilang begini. Tapi haruskah aku katakan itu pada Yora? Sedangkan dia adalah adik paling pengen ikut campur (dalam arti positif) sedunia. Bisa-bisa dia bakal langsung ninggalin suaminya gitu aja dan ikutan aku nyariin Shinmi, tanpa peduli kalau mereka bahkan baru ketemu setelah setengah tahun ini Siwon wamil. Okelah, berarti sepertinya aku memang harus menyimpan ini sendiri, mudah-mudahan saja Shinmi benar ada di tempat kursus itu sehingga aku juga cepat menemukannya…

“Shinmi?” jawabku akhirnya, berpikir keras mau melanjutkan dengan apa. “Eng… kebetulan kami masih sama-sama sibuk sih Saeng, jadi—“

“Ah! Oh… ternyata oppa lagi sama Shinmi-ssi juga ya? Eeeii~ bisa aja nih, sok malu-malu segala bilang lagi sama-sama sibuk, padahal lagi jalan bareng juga.” Goda Yora seraya mencubitku bercanda.

Eh? Anak ini ngomong apa sih? “Ap-Apa-apaan sih, Saeng?”

“Aih~ udahan deh pura-puranya, oppa. Tuh, itu Shinmi-ssi kan? Kalian aktingnya kurang oke nih.” Ujar adikku bercanda sambil geleng-geleng kepala dan mengedikkan dagunya ke arah di belakangku.

Mendengarnya, tanpa buang waktu aku langsung menoleh ke balik punggungku, arah yang ditunjuk Yora. Dan benar… itu Shinmi. Aku melihat gadisku disana, sedang berjalan ke arah kami dengan seorang gadis bule berambut pirang sambil sesekali berbincang, dan tangan memeluk map bertuliskan HAPPY Intensive English Course. Betul ternyata tebakanku… ia bersembunyi disana.

Begitu menatap kembali jalan di hadapannya, barulah Shinmi menyadari kehadiranku. Seketika langkahnya langsung terhenti dan BRUK!! seluruh kertas-kertas yang mengisi mapnya berhamburan seiring jatuhnya map itu ke konblok jalan.

“Op-Oppa—”

Perkataannya langsung terhenti seiring pelukan posesifku yang langsung merengkuhnya setelah berhasil menghilangkan jarak di antara kami hanya dengan 3 langkah lariku. Gadis ini, gadis bodoh ini! Tidak tahukah dia betapa aku mengkhawatirkannya??

Tes… Tes… Airmataku satu per satu akhirnya berjatuhan ke punggung pakaiannya. Airmata yang selalu kutahan sejak salah paham kami tentang masalah hubungan darah itu. Ketegaran yang selalu kucoba lakukan hanya demi menguatkannya juga, padahal tentu dalam hatiku juga amat perih dengan semua hal yang kami pikir adalah kenyataan itu…

“Oppa…” panggilnya lagi, kini dengan nada amat khawatir (sepertinya juga mungkin karena dia sudah mulai merasakan punggung bajunya yang basah karena airmataku, sih). Akupun buru-buru menghapus airmataku terlebih dulu sebelum melepas pelukanku padanya.

“BAKA! Omae ni shimpakatta wakaranai no??? Hontou ni aitakatta, wakaranai no??? (BODOH! Apa kamu nggak tahu betapa khawatirnya aku sama kamu??? Aku kangen banget sama kamu, tahu???)” omelku sebelum kembali memeluknya erat. Aku tak peduli kalau dia tak mengerti, aku hanya ingin menyuarakan isi hatiku, dan entahlah, tiba-tiba bahasa Jepang yang lebih kuanggap bahasa ibuku inilah yang keluar.

“Wa… Wakattemasu yo. Zenbu wakattemasu yo. Watashi mo… aitakatta dakara. Hontou ni… aitakatta desu. (A… Aku tahu kok. Aku tahu semuanya. Karena aku juga… kangen sama kamu. Betul-betul… kangen.)” jawabnya terbata-bata, dan lebih menghebohkannya lagi, dengan bahasa Jepang juga!! Aku seketika hanya bisa melongo. Jengjengg~ dimana dia belajar satu-satunya bahasa yang jadi kelebihanku dibanding dirinya itu??

Menelan ludahnya terlebih dulu, Shinmi kembali melanjutkan, “Tapi… oppa tahu kan, kita nggak akan bisa bareng-bareng… gimanapun caranya. Makanya aku juga memilih kabur lagi dari rumah, karena aku juga nggak akan sanggup tinggal disana lagi… Oppa ngerti kan? Oppa, adalah oppaku, suka atau nggak. Aku capek terus pura-pura kalau kenyataan ini nggak ada… Aku mau panggil oppa dengan bebas kayak dulu lagi, dengan ‘Oppa’, seperti yang memang seharusnya aku lakuin…”

Aku seketika menghela napas mendengar ia kembali berbicara Korea. Sepertinya ia belum lancar dengan bahasa Jepang tadi. Haahh~ Aku aman~

Eh, tapi sekarang bukan saatnya buat itu! *baru sadar* Maka, dengan PD akupun langsung mengeluarkan kertas hasil tes DNA yang kupinjam dari kedua orangtuanya tadi dari saku dalam jaketku, dan menunjukkannya tepat di depan wajahnya, persis seperti biasa aku menunjukkan surat penangkapan untuk seseorang. (Oke, ini kebiasaan, jangan salahkan aku) Aku tersenyum lebar melihat wajah bingungnya. “Gimana kalau aku tunjukkin ini? Ini adalah hasil tes DNA-mu dan ayahmu. Cocok, sempurna. Ayahmu sudah 100% mengakuimu sebagai anak, Shinmi. Dan kita, kita bukan saudara!”

“Da… Darimana oppa dapat itu?”

“Makanya jangan keburu kabur kalau belum tahu kenyataannya…” aku mencubit hidungnya bercanda. Menggenggam tangannya, aku pun memberi isyarat pada Shinmi untuk berjalan setelah tak lupa permisi terlebih dulu pada gadis bule yang berbincang dengannya tadi. Gadis bule itu mengangguk sambil tersenyum sebelum melambaikan tangannya pada Shinmi dan meninggalkan kami. “Segera setelah kabur kamu yang pertama, ibumu langsung mau membuktikan kalau ayahmu salah. Makanya dia ambil beberapa rambut yang tersisa di sisirmu, dan membandingkannya dengan darah ayahmu, jadilah itu. Tapi sayangnya kamu nggak pulang-pulang, sekalinya dipulangin malah kabur lagi kemari.” Kataku sambil geleng-geleng mengingat kelakuannya. Ia seketika memalingkan wajahnya dariku dan menunduk malu.

Aku tertawa sambil mengacak sayang rambutnya. “Yah, yang penting kan sekarang kamu sudah ketemu. Nggak mau tahu, pokoknya kali ini, aku mau pulangin kamu bener-bener sampai masuk rumah, lihat kamu minta maaf sama orangtuamu dulu, baru aku mau pulang. Kamu nggak tahu kan perjuangkanku nyari kamu sampai kesini. Hufh~” omelku bercanda seraya mengingat kejadian di ‘imigrasi-imigrasian’ tadi. Ampun, nggak lagi-lagi deh aku ke tempat ini…

“Oppa, Shinmi-ssi! Habis ngapain sih disana tadi? Pakai acara peluk-pelukan segala, kayak yang habis nggak ketemu seabad aja…” protes Yora begitu aku menghampirinya lagi bersama Shinmi.

“Eh, kalian masih disini?”

“Lho, Yora-ssi lagi disini juga?” tegur Shinmi kaget begitu melihat adikku dan Siwon.

“Ah~ Shinmi-ssi, sudahan ah pura-puranya, sudah ketahuan, tahu.” Kata Yora, terdengar sedikit kesal.

Shinmi yang tidak tahu apa-apa, jelas melongo mendengar pernyataan dokter mungil itu. Yah, inilah saatnya aku mengendalikan suasana. “Hayo, sudah-sudah… Saeng, itu pertunjukannya bukannya sudah mulai ya?”

Yora segera melihat gedung pertunjukan putih yang pintunya kini sudah terbuka itu sebelum berseru, “Oh iya! Oke deh, oppa, Shinmi-ssi, aku tunggu besok siang di RS ya. Annyeonghaseyo!” katanya sebelum menggamit lengan Siwon dan bergegas pergi. Siwon mengikutinya setelah tak lupa, menundukkan kepalanya terlebih dulu ke arahku dan Shinmi.

“’Besok siang’?” tanya Shinmi bingung begitu Yora dan Siwon sudah menjauh.

Aku menggenggam tangannya dan mengajaknya berjalan lagi, kini menuju pintu keluar area itu untuk pulang, “Tes DNA ulang buat kita, kan? Formalitas. Biar tambah yakin aja sih, pokoknya kamu masih belum boleh panggil aku oppa sebelum hasilnya keluar, lho ya.” Kataku sambil terkekeh.

Shinmi geleng-geleng kepala, “Bisa 15 menit keluar kan? Kalau nggak bisa, oppa sabotase lagi aja itu laboratoriumnya.”

“Baru dibilangin kalau masih belum boleh panggil ‘Oppa’ dulu.” Protesku yang segera disambut tawanya.

Aku menatapnya yang sedang tertawa itu sambil tersenyum. Terlihat jelas sekali kini, betapa segala beban yang ditanggungnya seminggu ini telah menghilang. Tawanya lepas, kelegaan terpancar di wajahnya sejak ia melihat kertas hasil tes DNA-nya dengan sang ayah tadi. Dia memang tidak terlalu menunjukkannya, tapi aku tahu pasti kalau ia tentu sangat senang begitu mengetahuinya, ditambah ketika mendengar kalau ayahnya kini juga telah 100% mengakuinya karena hasil itu.

“Ah, oppa!”

Aku menatapnya jengkel, “Dibilangin, ya…”

“Hehehe, cuma mau tanya kok, yang tadi, suaminya Yora-ssi?”

Aku langsung memberinya pandang curiga, “Iya. Kenapa?”

“Ganteng.” Komentarnya singkat sambil terkikik kecil dan memalingkan wajahnya. Hah~ sudah kukira dia mau komentar seperti itu, wanita mana juga yang nggak akan bilang begitu setelah ketemu Siwon? Eh, tapi tunggu… sekilas tadi aku lihat… pipinya memerah?

“Heh, heh, apa-apaan itu pipimu merah begitu? Suami orang, tahu!”

Dibilangin begitu, ia malah mempercepat langkahnya sambil tertawa. Aku sudah siap mengejar dan kembali mencecarnya bercanda (karena aku tahu ia selalu memuji setiap cowok ganteng di depanku untuk mengetes kadar kecemburuanku) ketika tiba-tiba ia sudah berhenti terlebih dulu. “EH, OPPA!”

Aku benar-benar menatapnya jengkel kali ini, “Anak ini, ya… Dibilangin jangan panggil—“

“Aku baru ingat! Barang-barangku masih di dorm, oppa…” potongnya sebelum tiba-tiba, secara aneh ia tersenyum penuh maksud. GLEK! Seketika perasaanku langsung nggak enak. “Um… hehe, boleh ambilin… nggak, oppa? Agak jauh sih, dan harus jalan kaki… Yah, 2 km ada kali ya…” cengirnya malu-malu.

Aku seketika menghela napas. Hah~ Cuma suruh jalan jauh aja kok… Sip! Maka akupun segera mengangguk, dengan segala macam gombalan yang sudah siap pakai di kepalaku, “Boleh kok… Apa sih yang nggak buat Putri Shinmi tercinta—“

“Tapi oppa,” potongnya lagi. “Kalau mau masuk kesitu harus pakai bahasa Inggris, kalau nggak, nggak akan dibukain pintu sampai bisa ngebales dengan betul… Nggak apa-apa kan? Oppa kalau bahasa Inggris dasar aja, bisa kan?”

Seketika semua gombalan yang sudah siap menyusul perkataanku tadi lenyap seketika begitu mendengarnya. “HEEEHHH??”


END

Ah, baiklah… ini endingnya, maaf kalo udah lama banget, fail pula T.T

butuh epilog nggak sih kira-kira? aku udah mulai bikin, tapi takutnya nggak sesuai dengan ending bener2 yg para reader mauin, makanya mau tanya dulu, akhir yg manakah yg mau diliat sama orang2? dengan satu catatan, mereka belum akan nikah ya, paling banter baru dapat izin dari appa-nya Donghae atau tunangan aja. Atau kalau udah cukup sampe sini jg gpp, malah bagus jadi aku bisa fokus ke ff lain hahaha. gimana? 🙂

Advertisements
 
36 Comments

Posted by on May 6, 2011 in Super Junior, [THE SERIES]

 

Tags: ,

36 responses to “[THE SERIES] DON’T CALL ME OPPA – Chapter 6 [END]

  1. Oepieck

    May 6, 2011 at 6:35 pm

    hwa~ akhirnya akhirnya akhirnya…. keluar juga. onnie kebangetan deh, nunggu setaun baru muncul ni last chapter. Tapi gak papa, it’s worth

    akhirnya mereka bersatu! ye ye ye ye ye!
    shinmi… kenapa musti kabur segala ha? donghae nyariinnya susah tahu! tapi gpp ding, klo gak kabur kan donghae gak usah nyari sampe ke English Viillage. Mengingatkanku pada masa-masa ‘U’ dulu pas super junior fullhouse. “You’re so gorgeous!” kwkwkw~ beneran udah lama gak denger itu.

    si siwon kok cuma nongol doang ya? gak ngomong sepatah kata pun. padahal lagi kangen sma siwon-yora couple… 😀

    endingnya bagus! kalo mau posting epilognya saya mau mau aja :p

     
    • lolita309

      May 8, 2011 at 6:29 pm

      hahaha, maap yaa kemaren2 emang bnr2 males ngetik kkk~ :p

      hehe, karena aku tau banyak yg kangen sm SiYo couple *PD dahsyat haha XP* jadinya nyelip lah doi, tapi emang maap ya kalo ga ngomong, kan nyelip doang hehe 😀

      makasi sayang uda baca, makasi lagi karena bilang bagus^^

       
      • Oepieck

        May 8, 2011 at 10:46 pm

        kwkwkw~ nyelip doang. sumpah di situ siwon bener” kayak orang bisu, sedangkan yora nyrocooos terus dari awal sampe akhir

        ya bagus lah onnie, sejak pertama kali baca ff.a lolita309 sampe sekarang tu gakada ff yang masuk kategori fail, suer! -___-v

        onnie udah lama ya gak nongol di ffindo…

        btw, KIMCHI 4 juni nanti, onnie datang kah? *katakan ya! XD

         
      • lolita309

        May 9, 2011 at 9:22 am

        hehe, abis aku malu, uda lama ga posting disana tau2 posting lagi… secara banyakan ff aku THE SERIES, dijamin uda pada lupa deh -.-
        ntar aja kalo ada ff lepas :))

        hehe, makasi sayaang, reader pertamaku^^

        engga dateng kok, nggak worth buat aku, biar kata mereka main shownya, tapi kalo panggungnya dibagi 5 artis gitu kok ya rasanya…………….

        hehe :p

        UAN-mu gimana?

         
      • Oepieck

        May 9, 2011 at 12:03 pm

        sama-sama onnie 😀
        haduh, terbang dikit XD

        Oh… tanggung banget banget kalo sekedar KIMCHI? maunya konser sekalian :p tapi gpp, disyukuri mereka udah mau dateng ke indo 🙂

        Alhamdulillah terlewati dengan baik. tapi sebel juga ada soal-soal yang gak bisa kujawab. Aku sempet nangis loh onn, matikku salah satu gara-gara kurang teliti. Sekarang masih belajar buat tes RSBI, do’ain ya onnie 😀

        oh iya, aku mau bikin ficlet nih, aku perlu riset sedikit. onnie jadi narasumber mau ga? *puppy eyes

         
      • lolita309

        May 9, 2011 at 12:48 pm

        hehe, iyaa~ abis kok harganya sama kayak waktu itu aku nonton di luar… mending ngincer ke singapur buat SS4 deh (kalo di indo ga ada hehehe)

        alhamdulillah… tes RSBI? emang kalo mau masuk SMA RSBI ada tes terpisahnya ya? nggak dari PSB online aja? wah baru tau aku… aniways, semangat^^

        boyeeeehhh banget. mau tanya apa sayang? 😀

         
      • Oepieck

        May 9, 2011 at 6:27 pm

        yah moga” aja mereka ngadain di indo, amin 😀

        bukan gitu onnie, tes RSBI sendiri sebenernya bukan dari SMA.a tapi dari SMP.a itu sendiri, soalnya dari pusat. cuma buat ngetes standard dan peringkat siswa dan sekolah di provinsi ama nasional. Kalo masuk SMA.a tetep sama. nanti nilai kelulusan tes RSBI.a nambahin 1 poin buat masuk ke SMA, gitu… hehehe ^^

        kan berhubung onnie orang jakarta, pasti tahu daerah” sono dan sekitarnya 😀 Aku mau tanya, kalo misal suju manggung di indo, tempat konser mana aja yang cocok? terus di luar jakarta klo ada yang lebih cocok, tolong disebutkan. terus klo suju dateng ke indo, kira” nginep dimana ya? habis itu kalo dari bandara kira” bakal ngelewati mana aja?

        haduh, kayaknya kebanyakan ya onnie? maap ya
        padahal ini cuma buat detil kecil. mohon bantuannya… *bow ^_^v

         
      • lolita309

        May 10, 2011 at 3:55 pm

        kalo misal suju manggung di indo, tempat konser mana aja yang cocok?
        jawab: tendoor (tennis indoor senayan), PRJ Kemayoran OK juga pas 2PM kemaren.. balai sarbini bisa juga kali ya? kkk~

        terus di luar jakarta klo ada yang lebih cocok, tolong disebutkan.
        SICC (Sentul Int.Conv.Center), gatau lagi… hehe

        terus klo suju dateng ke indo, kira” nginep dimana ya?
        100% MULIA (Hotel Mulia). dr WG, SHINee, nginep sini semua waktu dateng kmrn

        habis itu kalo dari bandara kira” bakal ngelewati mana aja?
        lewat kampusku hahaha~ daerah kuningan gt, senayan juga.. gitulah. 😀

        ada lagi?^^

         
      • Oepieck

        May 10, 2011 at 4:08 pm

        Onnie!!!! makasih makasih makasih!!! makasih makasih makasih!!! jeongmal gamsahamnida!!! *a very deep bow *ciumlutut

        sungguh sangat membantu! 😀

        satu lagi, dari semua tempat konser itu, paling bagus yang mana? makasih, makasih makasih 😀

         
      • lolita309

        May 12, 2011 at 9:27 am

        yang paling bagus….

        SICC. (jelas banget -.-)

        hehe^^

         
      • Oepieck

        May 12, 2011 at 12:28 pm

        ooo….

        terus klo mereka nginep di mulia terus konser.a di SICC mungkin gak?

        sekali lagi makasih… ^^

         
      • lolita309

        May 12, 2011 at 2:43 pm

        kayanya engga deh… mulia kalo di senayan, kalo ngga daerah jakarta gt… kalo di SICC paling ya di resort sentul-nya, yg di areal track balap gitu deh (gatau namanya -.-)

         
      • Oepieck

        May 12, 2011 at 8:26 pm

        oh oke”
        ya udah di senayan aja 😀
        jeongmal gamsahamnida… *deep bow

         
  2. wiehj

    May 6, 2011 at 8:11 pm

    hahahhhaa, aku jdi inget full house dehh..
    wkwkkww, kebayang tampang nya hae pas di english village di full house >,<
    butuhhhhh!!! butuh epilog!!! rela kug klu cman ampe tunangan aj, yg penting ketauan lebi jelas hub mereka… 😀
    gag fail kug cingu….bgini dblg fail, succes nya segimana??hahahha XD
    aku tunggu epilog nya!!! PLUS, klanjutan the series dan ff cingu yg lain 🙂

     
    • lolita309

      May 8, 2011 at 6:31 pm

      iyaaa aku juga kangen fullhouse makanya bikin setting english village^^

      oke oke, aku bikin epilog ya, ditunggu aja 😀

      huaaa, betulkah nggak fail? makasi yaa sayang^^

       
  3. babyhae

    May 6, 2011 at 10:57 pm

    Lolaaaaaaaa…saya datang^^

    Oh iya, katanya mau repost. Jadi nggak? Mau dikirimin filenya? Kalau ada perlu apa, bilang aja oke? saya akan bantu 🙂

    back to FF

    gyaaaaaa!! gimana bisa fail?? saya malah senyum2 sendiri.
    bahasanya ringan banget enak buat dibaca malem2 ahahahaha

    Shinmi kelamaan sama Donghae jadi berubah drastis. Hobinya ngerjain orang mulu…mana kaburnya ke sana. English village = neraka buat Donghae. bwahahaha….bener tuh, jadi ngingetin pas masa-masa Full House. dengan pedenya main alphabet plus senyum polos.

    Itu Donghae keseringan dipanggil Jokwon ya? sampe kebawa dipanggil calon mertua jadi siap hormat ala polisi begitu XDD

    bisa-bisanya pengen cepet wamil demi terlihat keren?? wkwkwk

    Lolaaa!!! terimakasih sudah ubah Shinmi yang introvert jadi lebih ceria dan bisa ngimbangin Donghae (sama-sama doyan ngetes kadar cemburu LOL)

    aigo….ada epilog bagus, nggak ada pun juga nggak maksa *biarpun penasaran juga sih* wkwkwkwk #plakk

    P.S. ikutan bayangin Siwon pake baju begitu. tampannnn wkwkwkwk

    Lola….this is really nice..DAEBAK^^

     
    • lolita309

      May 9, 2011 at 10:16 am

      hehe… gomawo sayang^^ seneng deh kalo kamu suka 😀

      adaa kok akhirnya epilognya~ ditunggu aja ya, aku mau repost ff kamu dulu nih 🙂

      sama2… ayoo yang aslinya juga jangan suka galau lagi gara2 si playboy cap nemo hahaha XD

       
  4. chrisnagustyani

    May 7, 2011 at 8:43 pm

    huhuhu, nyonyah publish ff gak bilang2 -_-

    hahahaha kasian dh Hae, dnistakan dsni, brasa “oon” bgt si Hae…
    ayo ayo nyah, epilognya! Teserah aja gmana epilognya, yg pntg bsa jd hburan n refresh otakq, skrg aq tiap seminggu skali ujian loh T.T *curcol

    sori komennya pendek nyah, komen dtgh2 waktu blajar ni hahaha

     
    • lolita309

      May 9, 2011 at 10:26 am

      hehe, aku bilang kok di twitter^^

      huahuahua, nggak usah dinistain juga emang udah *l*on #PLAKK

      sipp, ini lagi diselesain epilognya, tunggu aja ya^^

       
      • chrisnagustyani

        May 11, 2011 at 9:28 am

        jinjja? aku jarang buka twitter sih #plakk

        eh! biar *l*on gitu yang penting ganteng hahahahaha
        tapi kata temenku, kadang malah si bang Kuda tu yang mukanya kaya anak kena sindrom Down hahahaha, apalagi pas dia nyanyi lagu Song For You di SS3 Japan kemaren *ngomporin*

        trus aku juga punya video fancam supergirl pas SM town LA, si Iwon ngedance sambil monyong-monyong gitu, apaan coba? yang ada aku malah ngakak guling-guling bwahahahahahah

         
    • lolita309

      May 11, 2011 at 1:05 pm

      iya donghae emang ganteng yaa unyu~ sayang ketinggian badan kurang mendukung ahaha

      iya, saya juga sadar kok muka doi emang suka kayak anak down syndrome (?) haha. saya objektif kaaan~ kkkk

      aahh dia emang hobi monyong, menurut dia seksi kali -___-

      :p

       
      • chrisnagustyani

        May 15, 2011 at 2:50 am

        iya sih, tapi tetep aja kalo dia disandingin ama aku jadi tinggi juga ahahahah

        kekekekekekeke~ ngakak baca pengakuan nyonyah, jadi pengen ngaku juga, kalo sebenarnya muka Kyu itu juga sebelas-duabelas ama parutan kelapa, gak ada mulus-mulusnya gitu, tapi ya gak tau kenapa aku tetap aja cinta ama dia (?) hahahahahahahahaha

        hahah kalo menurut di seksi, kalo menurut nyonyah seksi gak tuh?

        eh nyah, nonton Kimchi??

         
      • lolita309

        May 15, 2011 at 7:16 am

        GUBRAKK! parutan kelapa itu loh cyinn~ ga ada kata yang lebih bagus hahahah XD

        jreng~ males banget kalo saya mah, mau doi monyong kayak apa juga kagak ada napsu2nya saya. padahal dia diem aja idah oke kok bang.. ga perlu diapa2in lagi bener deh, so stop acting cute! *curhat, padahal orangnya jg ga mungkin liat :p*

        engga, mau nabung buat SS4 aja kkkk~ 😀
        kamu?

         
  5. Zarararakuda

    May 8, 2011 at 4:21 am

    Akhirnya~ selesai juga.donghae apabgt masa ngenalin diri otomatis gt. Ah onni daebak!!
    Bikin epilog!mereka nikah!

     
    • lolita309

      May 9, 2011 at 10:27 am

      huahahaha, apa banget ya -.-

      sip! epilog! *tapi nggak nikah* #PLAKK

      Makasi uda baca sayang^^

       
  6. GDictator710

    May 8, 2011 at 8:45 am

    Loli loli loli lolipop
    ddaebak, bner2 keren! ! ! ! Epilog2 dnk

     
    • lolita309

      May 9, 2011 at 10:36 am

      makasi^^

      sipp, ini lagi dibikin epilognya, ditunggu aja ya 😀

       
  7. Carrie Cho

    May 8, 2011 at 5:44 pm

    yang ampun keren begini disebut failed -_____- aku suka banget gaya bahasanya yang ringan, tapi asyik dibacanya.
    sumpah deh berasa flashback ke 4 tahun yang lalu gyayahahaha waktu SJ masih polos-polos banget apalagi yang namanya Lee Donghae /plaaaaaaaaaak

    waktu si Donghae puppy eyes ke ‘petugas imigrasi’ yang kulitnya item itu /rasis hahaha pengen ngakak ditambah bilang, ” You’re so gorgeous…” lol
    apalagi waktu ketemu Yora beserta sang suami hahahaha kebayang banget deh itu tampannya Choi Siwon yang kalau wamil rambutnya dicepak ~^^ tapi kebayangnya malah pake baju pangeran kayak yang peragaan busana bareng Suli itu cuman ini ditambah mantel :p

     
    • lolita309

      May 8, 2011 at 6:18 pm

      jujur, kalo ttg siwon saya juga kebayangnya itu hahaha~ pake baju pangeran, keren banget… fufufu XD

      iyaah, aku lagi kangen sama mereka yang dulu soalnya, polos2 bocah gemanaaa gt. sekarang mereka sudah dewasa #PLAKK

      hehe, makasi ya sayang, abis kalo menurut aku ini masih belum memuaskan, makanya bilang failed. tapi seneng deh kalo di mata reader engga^^

       
  8. megumiTM

    May 8, 2011 at 6:03 pm

    Jeng jeng jeng jeng~ *bgm lagu mr taxi* #gaje #PLAK
    Akhirnya setelah nunggu selama-lamanya (re: lama) (?) keluar jg part 6 nya~
    *mulai ngedance lagu danger* #gajelagi #PLAK

    Berhubung tadi bacanya ngebut, jadi…
    Ya begitulah (?) ._.v
    Mau bilang apa ya? (˘_˘”)

    Yg pasti,
    Tulisan eonni dimataku selalu indah kok (?) (◦’⌣’◦) #apasih
    Soal epilognya…
    …. #mulaibingung
    Terserah aja deh~ .__.v

    *langsung kabur*

     
    • lolita309

      May 9, 2011 at 10:39 am

      haduuuh, ini anak apa deh… hahaha -.-

      tapi gpp, yang penting komen, panjang pula biarpun nggak jelas juntrungan (?) nya. haha XD

      yang penting makasi yaa uda baca, gimana prospek ff-mu yang ttg kyuyoung itu?

       
    • hwangminmi

      May 9, 2011 at 12:01 pm

      jjajjan~ XD
      *pas nulis itu entah kenapa jadi inget pas star golden bell ep 248(?), pas changmin 2AM bilang kalo mereka punya jokwon XD #PLAK #PLAK #PLAK #abaikanaja*

      maaf eonni komen yg kemaren rada gaje ._.v
      pas lg komen itu emang otaknya lg perlu direboot gitu (re: ngantuk) deh eonni~ XD

      setelah ngulang baca lg,
      aku baru menyadari sesuatu hal (?)~
      eonni bisa ngomong bahasa jepang sama korea ya?
      soalnya kata” donghae itu kan informal banget, gak mungkin pake google translate gitu deh (?) -_-

      pokoknya sesuai dengan pernyataan saiia kemaren, dimataku ff eonni emang selalu indah~
      #mulaigajelagi

      soal ff kyuyoung itu…
      belum sempat dipikirin lg -_-v

       
      • lolita309

        May 9, 2011 at 12:59 pm

        hahaha, iyaa, aku sekarang lagi les jepang, kalo korea belajar otodidak 😀

        lagian kalo pake google translate juga munculnya dalam karakter jepang lah sayang, hahaha~ kamu juga bisa bhs.jepang kan makanya bisa ngerti? ^^

        aihh~ terbang nih saya kkkk~

        jiaaa, jangan lupa dicatet tapi idenya, takut terbang (?) lagi haha XP

         
  9. megumiTM

    May 9, 2011 at 4:15 pm

    Mau jg dong eonni les bahasa jepangnya~
    Eh tapi sebenernya maunya les bahasa korea sih .__.
    Soalnya kalo belajar sendiri susaaaaaah~~~~~
    T^T

    Cuma ngerti sama kata ‘wakaranai’ aja sih, soalnya aku gak pernah belajar bahasa informal~
    Yg formal aja masih patah” gini -__-

    Yg pasti pas baca kata ‘baka’ langsung teringat SS2 japan pas lagu ‘gee’ yg diceritain teuki pas come to play itu lo~ XD
    *ngakak guling”* #gajelagi

    Tenang aja eonni, itu ide udah aku foto terus aku jadiin wallpaper~ <– bohong bgt ini -_-
    Yg pasti sekarang lagi nyari ide lain biar ceritanya nyambung (?)
    Yah… Begitulah~

    Sekian dan terimakasih *bow* (?)

     
    • lolita309

      May 10, 2011 at 3:58 pm

      boyeeh boyeeh kalo mau belajar~ (loh?)

      bahasa korea gampang kok, bisa deh belajar sendiri. di internet bisa, beli buku/kamus juga bisa..^^

      pokoknya tipsnya, bnyk2 nonton produk (?) sana deh 😀

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: