RSS

[THE SERIES] DON’T CALL ME OPPA – Chapter 5

04 Apr

“Nggak ada yang aneh gimana? Hasil tes mereka positif, padahal katanya mereka mau menikah kan??”

“Apa? POSITIF???”

DON’T CALL ME OPPA

(Ch. 1; Ch. 2; Ch. 3; Ch. 4)

Written by: Lolita Choi (@lolita309)

Starring: Lee Donghae

babyhae as Lee Shinmi


Chapter 5. IS MAKING ME CRAZY YOUR HOBBY?

Maka, tanpa banyak cingcong lagi, Yora buru-buru ambil langkah seribu setelah sebelumnya tetap tak lupa berpamitan singkat pada rekan kerjanya itu. Waah, Donghae oppa dan Shinmi-ssi punya hubungan darah?? Itu tidak mungkin!! Lari, dia harus lari!

“Yora-ya, hati-hati baby-nya…!” terdengar seruan Jaejoong dari belakang.

Yora tertegun, dan langsung berhenti seketika. “Oh iya, baby! Tenang… tenang…” katanya pelan sambil mengatur napas dan mengelus-elus perutnya sendiri. Setelah yakin tenang, barulah ia menoleh pada pria yang masih tersenyum di belakangnya itu. Yora ikut tersenyum sambil melambaikan tangannya, “Jae Samcheon, gomawoyo… (Om Jae, makasih ya…)”

“Sama-sama, calon keponakan…” Jawab Jaejoong pelan sambil membalas lambaian Yora. Wanita itu terkekeh.

Baiklah, kembali berjalan, Yora… Yora memulai lagi langkahnya, namun kini dengan mencoba tenang dan tak terburu-buru, biarpun tentu pikirannya masih dipenuhi macam-macam asumsi. Benarkah oppa-nya dan Shinmi-ssi betul-betul bersaudara? Atau jangan-jangan… ini semua karena ucapannya waktu itu…

“Oppa sama Shinmi-ssi, incest bukan?”

Donghae langsung menatapnya aneh, “Menurutmu? Polos juga nggak segitunya kali, Saeng.”

“Ih, siapa yang tahu lho… Aku sih orang sains yang belum akan percaya sebelum ada bukti fisik.”

“Mati aku…” Yora makin panik begitu mengingat semua ucapannya itu. Kata orang, kata-kata ibu hamil itu didengar Tuhan, kan? Aaahh gawat, ANDWAE!!

Akhirnya ia sampai juga di depan tujuannya, gedung laboratorium RS Universitas Korea, untuk memastikan hasil tes itu. Mudah-mudahan sampel datanya masih disimpan. Dan ternyata…

 

LAB TUTUP

 

“Seolma (Nggak mungkin)…” makin ngenes keadaan Yora kali ini, ia pun sukses jatuh lemas di atas bangku yang berjajar di depan laboratorium itu. Dia lupa sama sekali kalau ini hari Sabtu, yang berarti sampai besok pun lab ini masih akan tutup. Bagaimana ini??

“Ah, ponsel, ponsel…” Yora akhirnya mendapat ide menghubungi salah satu orang lab yang dia kenal. “Ketua Lab, dr. Song Hani… Song… Song… Nggak ada??? Yora babo! Gimana mungkin kamu nggak nyimpen nomor beliau? Ahh… babo babo!!”

Yora tertunduk sambil memukul-mukul pahanya sendiri, sudah nyaris menangis mengetahui betapa bodohnya dia, ditambah (seperti biasa) hormon ibu hamil yang membuatnya memang selalu cepat emosi baik itu marah, menangis, dll. Napasnya mulai tersengal-sengal akan emosi yang tiba-tiba menyesak berlebihan di dadanya, sebelum akhirnya ia ingat kalau ia harus tetap tenang demi perkembangan baik janinnya. “Tenang, Yora… tenang.” Katanya seraya terus mengatur napas satu per satu. “Haahh… done. Baby, maafin mommy ya tadi sudah stres tanpa mikirin kamu… Sekarang kita harus cari cara menyelamatkan Donghae Samcheon. Mommy yakin itu salah. Ya, mommy yakin itu salah, insting ibu hamil itu tajam kan?” Yora memulai monolog-nya dengan sang jabang bayi seraya mengelus-elus perutnya sendiri yang masih terlihat rata (dari yang ia baca, komunikasi dengan bayi selama masih dalam kandungan itu penting buat membangun hubungan batin ibu dan anak). “Menurutmu, mommy harus apa—“

“dr. Park? Anda sedang bicara dengan siapa?” tiba-tiba suara seorang wanita menegurnya yang masih sibuk bicara sendirian itu. Yora seketika mendongak.

“dr. Song Hani!”

 

 

“Ini, sampel darah Lee Donghae dan Lee Shinmi tiga minggu lalu, untung belum dimusnahkan oleh bawahan saya. Karena biasanya masa penyimpanan hanya dua minggu, sampai hasil diberikan pada pemilik hasil tes untuk memberikan tempat buat sampel-sampel yang lebih baru di lemari penyimpanan ini. Tapi kebetulan semingguan ini tidak banyak yang memerlukan tes lab, makanya mungkin bawahan saya juga merasa nanti saja dimusnahkannya.” Jelas sang ketua lab sambil memberikan dua tabung reaksi bertutup dengan label Lee Donghae dan Lee Shinmi itu.

Tapi mata Yora sekilas melihat sebuah tabung lagi yang menarik perhatiannya di dalam lemari dingin itu, dekat tempat dua tabung tadi diambil. Maka seketika ia menghentikan tangan dr. Song yang sudah siap menutupnya lagi, “Jamkkanmanyo, dr. Song…” katanya. “Jeogi… geugeon… (Tabung yang disana itu…)” ucapnya seraya menunjuk tabung yang menarik perhatiannya itu. dr. Song menatap rekan kerja beda divisinya itu bingung sambil mencoba meraih tabung yang dimaksud.

“Igeoyo? Waeyo? (Ini? Kenapa?)” tanyanya seraya membaca tulisan di labelnya terlebih dulu sebelum menyerahkan tabung itu pada Yora. “Tes ini, general check-up di hari yang sama dengan tes DNA dua sampel yang Anda pegang itu. Ada yang menarik perhatian Anda, dr. Park?”

Sementara itu, yang ditanya masih sibuk ternganga begitu membaca nama di label yang ditempel pada tabung reaksi di hadapannya, “Lee… Sungmin… Ya, pantas saja…”

 

***

 

“Pulanglah, sudah 3 hari kamu disini, kamu bahkan sudah bolos mengajar pula hari ini, kan? Hmm, Shinmi…?” bujukku sekali lagi padanya, entah sudah yang keberapa kali seharian ini begitu dia bahkan menolak masuk kerja dan membolos untuk pertama kalinya. Hari ini tepat tiga hari sejak dia kabur dari rumah begitu mengetahui kenyataan kalau kami… yah, bersaudara itu. Padahal Shinmi-ku yang biasanya nyaris tidak mungkin membolos… Dia betul-betul disiplin dan berdedikasi pada pekerjaannya.

“Apa… oppa keberatan kalau—“

“Sudah kubilang berhenti memanggilku oppa.” Potongku dingin, langsung merubah nada suaraku begitu mendengar panggilan yang kini sangat kubenci itu. Ia terlihat shock. “Ah, sudahlah… lupakan. Sepertinya aku juga masih akan tetap disini kalau kamu memang belum mau pulang. Yah, bahaya banget kan ada putri cantik sendirian di rumah tanpa ada yang menjaga? Setidaknya aku harus ada disini untuk itu.” aku mengedipkan sebelah mataku menggodanya. Ah, rasanya sudah lama sekali tidak menyalurkan hobi Casanova-ku ini, leganya… (author: hobi kok tebar pesona -___-) “…biarpun Yora bolak-balik sudah dua hari ini terus menelponku sih, tapi aku rasa kamulah yang lebih membutuhkanku saat ini.” Aku tersenyum.

Tersipu sebentar, Shinmi kemudian kembali sadar dengan cepat—sepertinya dia sudah imun dengan ketampananku, ah sayang sekali. *author (lagi): hehh?* “Yora-ssi… bolak-balik menelpon opp—kamu,” ia buru-buru meralat perkataannya (lagi-lagi, kenapa sih dia selalu lupa untuk tidak lagi memanggilku oppa??) sebelum aku kembali mendelik. “…memang ada apa?”

Aku mengangkat bahu lagi, “Entahlah, tapi paling juga pengen curhat karena kangen sama Siwon, atau khawatir aku nggak pulang-pulang, padahal aku kan sudah izin sama eomma… Dia ninggalin beberapa voicemail sih di mailbox-ku, tapi belum aku dengerin. Gampanglah.”

Shinmi menggeleng, “At least dengarlah… Siapa tahu ada yang penting. Lagipula kamu nggak harus terus prioritasin aku, kok… Gwaenchanayo.”

“Nggak ah.” Tolakku enteng. “Bagiku kamu itu nomor satu, bahkan lebih dari saudara-saudaraku sendiri—dan dilarang protes.” Aku meletakkan telunjukku di bibirnya begitu ia membuka mulut, siap menentangku lagi. “Tapi okelah, akan aku dengar. Ayo, bareng-bareng.” Ajakku seraya menepuk tempat di sebelahku, di atas tempat tidur kami (mess-ku tidak punya kursi kecuali yang di teras, jadi maklum saja). Akupun mengeluarkan ponselku dari dalam saku celana dan mulai me-loudspeaker pesan-pesan Yora satu per satu agar bisa terdengar oleh kami berdua.

Pesan pertama:

“Oppa, eodi isseo? Kenapa pakai acara nggak pulang sih? Cepat pulang…”

PIP! Pesan berakhir.

“Tuh kan.” Komenku segera, “Dia cuma khawatir karena aku nggak pulang… Pasti waktu itu eomma belum bilang ke dia, tapi pasti sekarang sudah lah.”

“Kalau sudah kenapa dia masih telepon juga? Berkali-kali pula seperti ada yang benar-benar penting… Pasti bukan hanya karena itu, tahu.” Balas Shinmi cepat.

Umm… betul juga sih. Oke, pacarku memang pintar.

Pesan kedua:

“Oppa! Ahh… michigetda… Ppalli jib-e dorawa… (Oppa! Ahh… mau gila aku rasanya… Cepat pulang…) Ada yang mau aku omongin, penting! Nggak bisa lewat telepon… Seenggaknya telepon aku balik lah begitu dengar ini… Oke?”

PIP! Pesan berakhir lagi.

“Tuh, langsung telepon balik, gih…” suruh Shinmi cemas.

Aku malah melambai-lambaikan tanganku tanda itu tidak begitu penting. “Sudahlah, kita dengar yang lain dulu.”

Pesan ketiga:

“Oppa…!! Kenapa teleponku di-reject sih??—

“Kamu bahkan nge-reject teleponnya?” potong Shinmi cepat. Ngomel, lebih tepatnya.

Aku cuma bisa nyengir, “Hehehe…”

“…yang mau aku omongin itu, kalau sepertinya aku punya dugaan tes DNA oppa dan Shinmi-ssi itu salah, dan aku yakin aku bisa buktiin itu! Maaf, tapi aku sudah tahu—“

Kami seketika menoleh kembali pada ponsel yang masih aku genggam itu, yang barusan terdengar lanjutan voicemail Yora, statement bahwa ia ternyata sudah tahu, menyangsikan tes DNA kami, dan juga bisa membuktikannya. MEM-BUK-TI-KAN-NYA. Masih shock, aku dan Shinmi pun telat merespon, “Omo, kita harus cepat pulang!!!”

 

 

“Tadaima…! (Aku pulang…! =bahasa Jepang, cuma ini satu-satunya celotehan Jepang yang sama sekali tidak bisa aku tanggalkan)” Sapaku begitu memasuki rumah dengan terburu-buru seraya menarik Shinmi. “Jagi, kamu tunggu sini ya, duduk di sofa situ dulu aja. Aku mau cari Yora dulu. Oke?” aku menghadap Shinmi seraya menunjuk sebuah sofa di ruang tamu rumah ini. Shinmi mengangguk.

“Yora…! Dongsaeng…!” Aku mulai berkoar-koar mencari keberadaan adik perempuanku satu-satunya itu seraya menaiki tangga menuju lantai dua rumah kami. “Yora-ya, oppa wasseo… Yo—“

“Donghae-ya!” tiba-tiba seseorang menepuk pundakku dari belakang.

“Omo, kapchagiya (kagetnya)! Eomma~” aku langsung menghela napas begitu melihat wajah keibuan di hadapanku itu. “Eomma, ngagetin deh!”

Ia tersenyum, “Justru kamu, malam-malam bikin ribut di rumah, bawa-bawa cewek segala, siapa tuh?” ia menjitakku bercanda seraya menunjuk ke arah Shinmi yang sedang duduk manis di ruang tamu di bawah.

“Hehe, joisonghamnida.” Aku buru-buru membungkuk 90 derajat. “Pacarku, eomma. Cuma sebentar kok, aku cari Yora aja, terus antar dia pulang, terus aku pulang lagi deh.” Jawabku masih dengan melongok-longok ke arah kamar Yora yang tertutup di pojok lantai dua.

Eomma-ku sepertinya menyadarinya, “Adikmu sudah tidur, kasihan dia tadi muntah-muntahnya parah sekali, sampai izin pulang dari RS segala…” jawabnya sambil ikut menatap pintu kamar Yora.

“Eh? Yora sakit??”

“Iya. Tapi paling besok juga sudah sehat lagi, ini sih cuma kambuhan aja, masa-masa rawannya sudah lewat kok.”

“’Kambuhan’? ‘Masa rawan’? Eomma ngomong apa sih, aku nggak ngerti deh.” Aku geleng-geleng kepala seraya menghela napas. Fiuhh~ Gagal deh menginterogasi adikku itu malam ini juga…

“Geundae…” aku menatap eommaku lagi. “Eomma, bogoshipesseoyo…! Ihh, baru tiga hari nggak ketemu aja aku udah kangen banget sama eomma! Apa kabar? Baik-baik aja kan? Eomma, eomma, eomma…” aku memeluk erat eomma mungil-ku, bahkan nyaris mengangkatnya. Wuaa kangennya…!

Eomma-ku tersenyum senang, tapi sambil geleng-geleng kepala, “Ternyata betul kata kakak-kakakmu, kamu memang agak ‘lebay’  ya, Lee Donghae…”

 

***

 

“Pagi…” sapa Yora yang baru memasuki ruang makan kami seraya menenteng jas dokter putih dan tas tangannya, siap sarapan sebelum berangkat kerja. Aku langsung mendongak begitu mendengar suaranya.

“Yo—“

“Pagi… Eh, Yora? Tunggu,” tiba-tiba Eunhyuk yang juga sudah duduk di meja makan tepat di seberangku memotong. Ia menatap adik kami itu lekat-lekat, dari ujung kaki sampai ke ujung kepala, sebelum akhirnya berkata dengan polosnya, “Yora-ya, kamu gemukan, ya?”

Jjajan~ seketika aktivitas semua orang di ruang makan langsung terhenti mendengar sentilan kembaranku itu. Aku yang barusan masih sibuk meracik serealku saja langsung terdiam memaku, membiarkan kotak susu yang baru kuangkat tetap berada di udara. Ya ampun, anak ini… Sudah berapa tahun sih dia tinggal di rumah ini?? Apa dia lupa kalau menyebut kata ‘gemuk’ di depan Yora adalah tabu?? T-A-B-U…Wah, gawat, aku nggak ikut-ikutan ah…

Aku baru saja berniat kabur dengan memeluk mangkuk serealku ketika tiba-tiba, alih-alih ngambek, Yora malah menjawab dengan suaranya yang paling ceria, “Iya oppa, aku gemukan. Sudah mulai kelihatan, ya? Aih, jadi malu.” Jawabnya sambil memegangi kedua pipinya yang mulai merona.

HEEEEEEHHHHH???

“Saengie, sayang, kamu masih sakit, ya? Oppa dengar kemarin kamu habis muntah-muntah? Kayaknya kamu belum sembuh deh, nggak usah masuk kerja ya…” aku buru-buru mendekatinya seraya membandingkan suhu keningnya dengan keningku sendiri. Aneh, suhunya normal kok…

“Ihhh, oppa, apa-apaan sih.” Ia menyingkirkan tanganku begitu saja dari keningnya. “Aku 100% sehat, kok…”

“Tapi Saeng, kamu malah ngakuin kalau kamu gemukan, itu apa namanya kalau bukan kamu sakit sampai pikirannya keganggu gitu, coba?”

Ia melirik sebentar eomma kami yang masih tenang mengoles rotinya di ujung meja makan, dan baru beralih lagi pada kami setelah wanita panutannya itu mengangguk. “Oh iya, oppadeul pada belum tahu ya. Hihihi,” lagi-lagi, tanpa tersinggung sama sekali, ia menjawab sambil terkekeh riang dan tersenyum-senyum cerah sendiri. Saking cerahnya, aku bahkan yakin sekilas melihat mawar-mawar bermekaran di sekelilingnya tadi -______-.

“Jadi…Oppadeul, oppadeul bakal jadi Samcheon, lho…” umumnya sambil masih senyum-senyum sendiri dan mengelus-elus perutnya.

DANG! Samcheon? Samcheon… Siapa yang ham—Tunggu. Berpikir sebentar, aku pun langsung menganga tak percaya begitu ‘konek’. Yora hamil?? Wuaaahhh~ Maka tanpa pikir panjang aku pun segera memeluk adikku itu erat seraya meloncat-loncat riang bersamanya. Wah, aku bakal jadi samcheon, jadi samcheon…!!

Sedang Hyukie yang memang kurang peka—atau lebih tepat dibilang bloon? #PLAKK :p—malah menimpali ngawur, “Apa? APA?? Kamu hamil, Saeng?? Sini, sini, bilang sama oppa, siapa ayahnya?” ia buru-buru menarik tangan Yora dan bertanya dengan berbisik-bisik, seperti takut didengar orang.

GUBRAKK!!

Baik aku, Yora, dan eomma kami langsung stres seketika.

“Oppa-ya…!” rajuk Yora kesal seraya menggembungkan pipinya.

“Ya ampun Saeng, ini demi kebaikan kamu juga! Kok bisa-bisanya sih kamu selingkuh, sampai hamil pula, disaat Siwon lagi nggak ada gini? Gimana kalau dia tahu, coba??”

“OPPA!!”

Hyukie baru sadar begitu mendengar Yora membentaknya keras seperti barusan. Ia pun menatap adik kami itu dengan tampang sok polosnya, “Lho, jadi itu anak Siwon? Tapi, bukannya dia lagi…”

“Ya ‘bikinnya’ sebelum dia wamil lah, oppa… Ini aja sudah masuk 3 bulan. Tahu ah, aku sebel sama oppa! Eomma, kamnida (Eomma, aku pergi dulu). Donghae oppa, mau anterin, nggak? Sekalian kita ngomong.” Kata Yora lugas seraya meraih jas dokter dan tas tangannya dan keluar dari ruang makan.

Mendengar ajakannya, aku buru-buru menyelesaikan sarapanku dan mengejarnya setelah sebelumnya mencium pipi eommaku terlebih dulu untuk pamit. Dan begitu melewati Hyukie yang masih melongo, aku tiba-tiba punya ide iseng.

Hehehe… Terkekeh, aku berbisik di telinganya, “Sukurin… BA-BO.” Ucapku sambil menjulurkan lidah ke arahnya seraya berjalan menjauh.

Seketika Hyukie pun tersadar, “Yaaa~ Lee Donghae!!”

 

 

“Aku butuh potongan rambut atau kuku oppa dan Shinmi-ssi.” Kata Yora begitu kami mulai membicarakan tentang dugaan kuatnya kalau aku dan Shinmi tidak betul-betul bersaudara, alias hasil itu SALAH di dalam mobilku selama perjalanan.

“Tapi Yora, sampel darah kami kemarin—“

“Aku sudah memeriksanya ulang, dan hasilnya memang negatif—“

“POSITIF, adik sayang. Dua kali pula.” Ralatku seketika. Aaahh… tuh kan, dia salah tes pastinya. Hancur sudah harapanku…

“…ketika aku mengetesnya dengan sampel darah Sungmin oppa.” Lanjut Yora, terdengar setengah kesal. Apa mungkin karena kupotong tadi? Ternyata ini yang dimaksud ‘hormon’ oleh noona dan Shinmi, ya… Ibu hamil memang gampang emosi.

Tapi aku seketika menoleh begitu ingat lanjutan kalimatnya tadi, “Eh, SUNGMIN??”

“Ya, Sungmin oppa ternyata juga tes di hari yang sama dengan oppa dan Shinmi-ssi kan? Aku juga baru ingat. Dan DNA oppa dan Sungmin oppa nggak cocok. Aneh kan? Tapi aku masih belum benar-benar berani bilang kalau hasil itu tertukar, makanya aku minta sampel dalam bentuk lain dari oppa dan Shinmi-ssi…”

Seketika wajahku menjadi cerah mendengarnya, “Itu pasti tertukar! Tertukar, Saeng…! Pasti, pasti, pasti! Aaahh… sudah kukira aku dan Shinmi tidak mungkin bersaudara…”

“Jangan senang dulu, oppa.” Potong Yora cepat. “Dengan asumsi oppa dan Sungmin oppa memang betul-betul kembar, kemungkinan besar hasil itu memang salah. Tapi… bagaimana jika oppa dan Sungmin oppa ternyata memang sama sekali tidak punya hubungan darah? Bisa saja kan ketika lahir kalian tertukar? Apalagi kalian memang nggak mirip sama sekali. Sekali lagi, sebagai orang sains, aku sih nggak akan percaya sebelum ada bukti fisik.” Kata Yora seraya mengangkat bahunya.

Ah, orang sains memang skeptis dan sangat pintar menghancurkan impian orang.

 

 

Laboratorium RS Universitas Korea

“Maaf, tapi saya tanya sekali lagi, betul Anda yakin tidak tertukar sewaktu menempelkan label pada tiga sampel darah ini? Jujur saja, tidak apa-apa kok, saya juga sudah meminta sampel baru pada pasiennya. Ini hanya agar saya tahu kejadian yang sebenarnya, tidak akan berpengaruh pada pekerjaan Anda, betul kan, dr. Song?” Yora untuk kedua kalinya dalam dua hari ini menginterogasi salah seorang petugas lab yang sekitar sebulan lalu menangani sampel darah dua kakak dan satu calon iparnya itu. Di sebelahnya, dr. Song sang ketua lab hanya diam tanpa merespon pertanyaan Yora. Karena ia sendiri sebetulnya adalah orang yang perfeksionis, hal seperti ini mana mungkin tidak berpengaruh pada pekerjaan karyawan yang bersangkutan? Hasil laboratorium adalah penentu tindakan medis bagi sebagian besar pengajunya. Orang yang ceroboh pastinya lebih baik dibuang saja!

“dr. Song?” Yora kembali memastikan, dengan pandangan ‘Jebal, jebal, jebal~’-nya. Jangan sampai hanya karena keingintahuannya ini seseorang jadi dipecat. Dia harus memastikan kalau karyawan ini tidak kehilangan pekerjaannya, atau dia akan sangat merasa bersalah…

dr. Song masih terdiam sebentar sebelum akhirnya, dengan berat, mengangguk. “Baiklah.”

Petugas lab di hadapan mereka itu awalnya masih ragu dan sudah siap menggeleng dan berkata yakin tidak melakukan kesalahan seperti ketika diinterogasi kemarin, tapi begitu mendengar perkataan atasannya, pendiriannya pun mulai goyah. Karena sebetulnya ia sendiri juga tidak merasa yakin dengan apa yang ia lakukan hari itu…

 

 

Laboratorium RS Universitas Korea, sekitar sebulan sebelumnya

“Ini semua sampel darah untuk hari ini ya, totalnya ada 5; 3 orang general check up dan 2 lagi untuk satu tes DNA. Seperti biasa data juga sudah kuletakkan sesuai urutan suntikan. Mohon kerjasamanya…” kata seorang perawat pria yang bertugas mengantarkan sampel darah pasien ke lab hari itu.

“Ne, sugohasyeotseumnida… (Baik, Anda sudah bekerja keras…)” jawab si petugas lab wanita yang menerima nampan berisi satu jajaran suntikan dan data-data di atasnya itu. Setelah perawat pria tadi pergi, ia pun langsung memulai dengan meletakkan nampan itu di atas meja dan mencari tabung-tabung reaksi kosong untuk memindahkan sampel-sampel darah itu.

“Baiklah… data pertama, Lee Donghae… ah, ini untuk tes DNA itu ya…” katanya seraya menulis nama itu pada sehelai label dan menempelkannya pada tabung yang sudah terisi darah sang pasien. “Data berikutnya, Lee Sungmin… Eh, tapi berikutnya Lee Shinmi… Wah, banyak sekali nama Lee hari ini…” ia membolak-balik kertas-kertas data yang ada di hadapannya.

“Kang Hyemi-ssi… Bisa kemari sebentar?” panggil salah seorang atasannya dari dalam ruangan di lab itu.

“Ne~” terburu-buru, Kang Hyemi, petugas lab tadi pun segera meninggalkan tempatnya dan meletakkan dua kertas data yang barusan dibacanya begitu saja di atas meja untuk menghampiri atasannya. Ia tidak sadar kalau dua kertas itu kini dalam keadaan tertukar posisi…

“Haahhh~ Hari ini ternyata lembur…” Kang Hyemi kembali dari ruang atasannya itu dengan badan lemas karena baru saja mendapat kabar kalau malam itu akan diadakan lembur bagi semua petugas lab. Dan disinilah, ia kembali menghadapi pekerjaannya yang belum selesai tadi, memproses semua sampel-sampel darah hari itu.

“Oke, sampai dimana tadi? Oh, ini, Lee Shinmi…” katanya seraya meraih kertas data yang terletak di paling atas dan sebuah suntikan yang kini terletak paling ujung di atas nampan itu. “Eh, tapi tunggu. Seingatku tadi, pasien Lee Sungmin ini yang lebih dulu…” ia mengambil kertas data bertuliskan Lee Sungmin yang berada tepat di bawah pasien Shinmi sambil terus mengingat-ingat.

“Tapi… disini pasien Shinmi ini kan yang mau tes DNA dengan pasien Lee Donghae tadi… Berarti ya, benar, pasti Lee Shinmi ini yang lebih dulu. Dua sampel darah untuk satu tes, pasti diletakkan berdekatan. Ya.” Ia mengangguk-angguk sendiri mendengar semua analisanya. Baiklah, berarti ini sampel darah pasien Lee Shinmi. Lee-Shin-Mi. Sip, tertempel. pikirnya dalam hati begitu selesai menulis dan menempelkan label itu pada tabung reaksi yang sudah berisi sampel darah pasiennya. Ya, sampel darah pasiennya, yang seharusnya diberi label Lee Sungmin alih-alih Lee Shinmi…

Flashback end


“Jadi seperti itu…” respon Yora sambil menutup mulutnya, shock begitu mendengar pengakuan dari si petugas lab. Jadi kemungkinan besar hasil itu salah, karena sampelnya tertukar?

“Joisonghamnida, joisonghamnida, tapi saya sendiri juga ragu apa memang saya salah memberi label waktu itu atau tidak… Saya juga masih tidak yakin, maafkan saya, maafkan saya… dr. Park, Ketua Lab, maafkan saya…” kata petugas lab itu seraya membungkuk berkali-kali.

“Aniyeyo (Tidak apa-apa)—“

“Kang Hyemi, jam pulang kantor nanti, tolong datang ke ruangan saya.” Ucapan dingin dr. Song seketika memotong perkataan Yora. Ia pun langsung berlalu begitu saja tanpa berucap apa-apa lagi.

Yora dan Kang Hyemi, petugas lab tadi pun langsung berpandang-pandangan takut. Uwaa, eotteokhae?

 

 

Aku memberhentikan mobilku tepat di depan rumah Shinmi sesampainya disana. Sepulang kerja, aku buru-buru kemari untuk membicarakan permintaan Yora akan sampel baru dari kami untuk tes DNA ulang yang akan dilakukannya, intinya aku ingin minta sedikit potongan kuku atau rambutnya lah. Tapi aku belum sempat memberitahu Shinmi, karena entah kenapa seharian ini nomornya tidak dapat dihubungi, ditelepon ke sekolah tempatnya mengajar pun, katanya ia tidak masuk sejak kemarin. Kalau kemarin sih oke, karena ia memang masih kabur dan bersamaku, kan. Tapi ia tidak masuk juga hari ini, sakitkah? Maka dari itu aku pun memutuskan untuk langsung menemuinya di rumahnya saja.

TING TONG!

Aku menekan bel di rumah itu seraya menggosok-gosokkan kedua telapak tanganku. Sudah dekat musim dingin, pantas saja udaranya terasa menusuk sekali akhir-akhir ini. Huwa~ ayo cepat bukakan… Aku bisa mati beku hanya bersenjatakan sehelai jaket kulit ini… Jangan sampai besok muncul di headline koran-koran:

SEORANG POLISI TAMPAN MATI BEKU KARENA HANYA MEMAKAI SELEMBAR JAKET KULIT DI HARI YANG DINGIN, HANYA DEMI TERLIHAT KEREN

Ahh… Konyol sekali, kan. -___-

KLAKK. Terdengar suara pintu dibuka. Aku segera menoleh, dan menemukan ibu Shinmi disana.

“Eomoni.” Sapaku seraya tersenyum. “Shinmi—“

“Donghae-ya! Donghae-ya, apa kamu tahu dimana Shinmi? Kami sudah putus asa mencarinya selama 4 hari ini, ia tidak menjawab telepon kami, ingin bertanya padamu tapi kami tidak tahu nomormu… Tolonglah, apa kamu tahu dimana Shinmi??” tanyanya bertubi-tubi, terdengar sangat putus asa.

Aku seketika tertegun mendengarnya, “Jam—Jamkkanmanyo… Shinmi… bukankah kemarin ia sudah pulang? Aku sendiri yang mengantarnya kemari—“

Gelengan kencang ibu Shinmi sekejap menghentikan semua perkataanku.

Ahh… jinjja, Shinmi!! Kamu betul-betul hobi membuatku gila!

 

TBC

Advertisements
 
42 Comments

Posted by on April 4, 2011 in Super Junior, [THE SERIES]

 

Tags: ,

42 responses to “[THE SERIES] DON’T CALL ME OPPA – Chapter 5

  1. megumiTM

    April 4, 2011 at 2:49 pm

    First kah? XD

    *maaf gaje lg u.u

    Keren deh keren~
    Ceritanya udah mulai jelas (?) tapi tiba” udah ada masalah baru aja~
    ><

    Masa sih panjang unnie?
    Aku malah ngerasa kurang panjang *eh? .__.v

    Ditunggu lanjutannya unnie~ ^^

     
    • lolita309

      April 4, 2011 at 3:12 pm

      iyaaa first, chukhahae^^

      iyaa nihh, mulai jelas soalnya chapter besok uda yg terakhir 😀

      hehehe, panjang maksudnya, don’t call me oppa ini ff terpanjang (6 chapter loh) yang pernah aku bikin XD

      sip, makasi yaa sayang uda baca^^

       
  2. babyhae

    April 4, 2011 at 4:25 pm

    saya datangggg^^

    Lola,,,ini pujian atau apa saya juga bingung,,,tapi Lola jago banget bikin perasaan jadi bolak-balik,,,sebentar senyum-senyum seneng,,detik berikutnya tegang,,habis itu ngakak dan langsung pasang tampang >> -_-; wkwkwkwkw

    beneran deh,,,,sama sekali gak nyangka begitu ternyata kronologisnya kenapa bisa ketuker.

    Hyuk….bwahahahaha,,,,bloonnya gak ketulungan. bisa-bisanya dia panik. dan Hae…aduh…usil kayak biasa XD

    Lola yang muncul di tengah-tengah sana makin bikin ngakak wkwkwkwk…..hobi casanova LOL

    makin seruu…giliran udah mau reda,,badai baru lagi nih. Jadi tegang lagi nunggu kelanjutannya^^

    Gomawo Lola *bow*

     
    • lolita309

      April 5, 2011 at 1:04 pm

      aihhh, gomawo ><

      hahaha, masa sih ga nyangka? uda banyak yang nebak lho padahal^^

      iyaa sama2 sayang…. gomawo juga yaa uda baca *bow* 😀

       
  3. chrisnagustyani

    April 4, 2011 at 4:34 pm

    ya ampun! Td udh ngetik kmen spnjang drabble, tapi tba2 aja ke hapus! *deritakomenlewathape* jd patah smangat dh buat nulis pnjang2 lg huhu

    aish! It si hae bnar2 lebay dah -___-a

    t kan, aku emang udh nyangka kalo darah shinmi kmrn sma sungmin ktkar, syukur dh si hae emang jadi sma shinmi..

    endingnya d next part ya nyah? Gak sbr udh!

     
    • lolita309

      April 5, 2011 at 3:04 pm

      hahaha, sabar bu… *tepok punggung*

      iyaa next part, tungguin aja ya, gomawo uda baca^^

       
  4. Oepieck

    April 4, 2011 at 9:05 pm

    hwa~ shinmi ilang! shinmi ilang! shinmi ilanaaanggg! *PLAKK!!

    saya tahu ini salah, gak mungkin mereka saudaraan. dan kehadiran sungmin di part 3 bukan cuma numpang lewat aja.
    bersatulah! donghae-shinmi! bersatulah! *sarap mode on

    yang jadi pertanyaan, berarti omma.a shimnmi ama sooman gak pernah ngelakuin apa” tuh? semoga aja enggak, amin…

    eunhyuk pekok banget tadi. jelas” suaminya siwon kok tanya ayahnya siapa, kwkwk~
    oh iya, moga” tu kang hyemi gak kenapa-napa, amin…

    great job! ^^

     
    • lolita309

      April 5, 2011 at 3:10 pm

      huahahaha gatau kenapa pas liat respon awal kamu aku langsung seneng lho, emang itu yang pengen aku jadiin highlight di akhir chapter ini: Shinmi ilang!! ;p

      iya dong, bukan numpang lewat doang, aku emang sengaja kasih hint, dan ternyata sebagian besar uda pada bisa nebak kan^^

      ttg masalah ortu mereka, semua kejawab di chapter ending ya, chapter berikutnya. 😀

      gomawo sayang uda baca^^

       
      • oepieck

        April 5, 2011 at 9:00 pm

        hwa~ makin penasaran aja nih. buruan ya postingnya, hehe :p

        iya masama onnie, ^^

         
  5. choivaavaa

    April 4, 2011 at 10:35 pm

    yeah,asik,tggl 1 part lg.soalnya udh pnsrn ma endingnya.akhrnya lmyn udh da ti2k trang.trnyta ktuker d Lab.fiuh. lega..haha,hyuk babo tingkat akut,ktawa pas scene ni.shinmi kmn tuch?sok d lnjt lah..

     
    • lolita309

      April 5, 2011 at 3:15 pm

      hahaha, emang udah pada nebak kan kalo pasti ketuker? 😀

      emang tuh onyet kadang2 perlu diraut juga otaknya (tumpul soalnya #PLAKK :p)

      hehe, sipp lanjut.. makasi yaa uda baca sayang^^

       
  6. megumiTM

    April 5, 2011 at 6:22 am

    Oh itu toh maksud “panjang” nya .__.

    Ah, baru sadar si hyuk rada ****** di sini #sensor XD
    Unnie postnya pas dia ultah pula tu~ XD

    Ah apasih gajelas gini komennya -_-

     
    • lolita309

      April 5, 2011 at 3:30 pm

      hahaha iyaa… haduh kamu ini -___-

      hehe, aku bahkan ga nyadar kemaren doi ultah #PLAKK

      baru tau tadi pagi pas ngeliat komen kamu ini, trus tanya sm temen: emg ultahnya kunyuk kapan?
      dijawab: 4 april
      aku: oh, kemaren dong *ekspresi datar*

      hahahaha, saya jg ga jelas ini jawabnya -___-

       
  7. megumiTM

    April 5, 2011 at 4:14 pm

    Gak inget jg gapapa kok unnie ,
    Gak penting kok hahaha~ XD
    *tiba” dihajar jewels sampai pingsan*
    *gak bisa nulis komen lg*

    ………. To be continued <— apa"an ini -_-

     
    • lolita309

      April 6, 2011 at 6:20 pm

      no comment ah.. daripada ikut dihajar jewels wakaka :p

      jiaahhh komen aja tbc kamu mah.. -___-

      haha

       
  8. chrisnagustyani

    April 5, 2011 at 5:26 pm

    hoho iya dong aku slalu nggu next part, next ff, next gosipnya(?) bkinan nyonyah

    endingnya bkin yg heboh ya nyah, pkoknya smua teka-teki hrus trjawab, trus jangan lupa after storynya, trus jangan lupa syukurannya (loh ga nyambung bgt ini mah) hahaha

    *semogakomennyamasuk*

     
    • lolita309

      April 6, 2011 at 6:24 pm

      masuk kok masuk…. trauma ya nak? hahaha :p

      iye iye, saya bikin heboh deh pokoknya, pake petasan, kembang 7 rupa, wayang semalem suntuk (apa ini -__-)

      heeehh? kapan saya pernah bikin gosip? ngerumpi sering (loh?) haha XD

       
  9. chrisnagustyani

    April 6, 2011 at 7:13 pm

    sembelih sapi kambing domba jangan lupa ondel2nya (betawi bgt th)

    lah apa bedanya ngerumpi ama gosip? -__-

    pokoknya saya mah udah jadi fans ff2 nyonyah…

     
    • lolita309

      April 7, 2011 at 1:02 pm

      huahahaha, itu mah adat kawinan saya sama siwon #plakk

      aihh, gomawo sayaaang, ucuk ucuk cup cup muah muah >w<

       
  10. wiehj

    April 6, 2011 at 7:30 pm

    jahh,masala pertama suda hampir terselesekan ehhh ini si shinmi mala pake acara ngilang sgala..aigooo yaaaa~ hhahahahah XD
    tuhh kann bener kannnn sample darahnya ketuker.. \(^-^)/
    inii si shinmi kmana lagiii cingu????hadeeee,buruu ktmu si hae am shinmi..byar mreka cepat berbahagia..hahhahaha
    yaampun hyukjae monkeyyyy!!babo amat sih dirimu sayanggg???masa iy si yora bakal seneng gtu klu dy gag hamil anaknya si siwon??? -____- ganteng2 babo nee,butuh ajaran dari diriku lebi kanjut sptina byar pinteran dikit..wwkwkwkkwkw XDD

     
    • lolita309

      April 7, 2011 at 1:08 pm

      hahaha, makanya di latih dulu ya bu pawang, piaraannya…. (kkk piss v^.^)

      gatau tuh sayang, mari kita cari bersama2 si shinminya kkk~

      makasi uda baca :))

       
  11. Zarararakuda

    April 6, 2011 at 7:54 pm

    Ok komen kmrn g msk T.T Nasib mau UN,susah online.
    The highest praise 4 u.i ❤ this part.part ini publishnya lama bgt,onn!

     
    • lolita309

      April 7, 2011 at 1:10 pm

      hehe, sabar ya nak.. nanti abis UN puas2in deh tuh ngenet hoho^^

      aihhh, gomawo ><

      iyaa maaf yaa, banyak urusan akhir2 ini…. pulang kuliah malem terus pula T.T (loh, curhat?)

      hehe, gomawo uda baca sayang^^

       
  12. GDictator710

    April 7, 2011 at 5:58 am

    Oa la,knp aq g dkc tau dtwitter c kl ud publish
    ktgalan deh T.T
    *bca nti deh,plg gawe*

     
    • lolita309

      April 7, 2011 at 1:11 pm

      hehehe, maaf yaaa ><

      sipp, kalo uda baca komen lagi yaa (lho? XP)

       
  13. chaeky

    April 7, 2011 at 7:17 am

    keren onn, gx nyangka ketukar sama yg sungmin..
    nama sungmin sama shinmi emg mirip sih. tapi mereka gx sodaraan kan? O.O
    lanjutannyaaaaaaaaaaa cepetan ya 😉

     
    • lolita309

      April 7, 2011 at 1:13 pm

      sipp sayang, makasi banyak yaa uda baca+komen 😀

       
  14. megumiTM

    April 7, 2011 at 1:29 pm

    Hehehe~ *nyengir siwon* *lho?*
    #dihajarmassa
    .__.v

    Saengil chukha hamnida~
    Saengil chukha hamnida~~~~~
    *nyanyi lagu winter child*
    *apasih*

    Titip salam buat suaminya unnie ya, ciee tambah tua~~ XD

    *maap gaje lagi -_-

     
    • lolita309

      April 7, 2011 at 5:09 pm

      ayaaaangg, ada yang titip salaam~ #plakk

      mewakili suami tercinta, saya mengucapkan terimakasih yaa.. salam balik katanya (lho?)

      ah, saya suka kok ‘pria dewasa’… apalagi doi sekarang agak brewokan dikit. aww aww! #stres

      XP

       
  15. chrisnagustyani

    April 7, 2011 at 2:30 pm

    jiah… *ambillangkahseribu*

    yg boleh cup cup saya cuma Kyu!! *ditabok*

     
  16. GDictator710

    April 7, 2011 at 6:57 pm

    Joa joa
    kerenlah pokoke!
    Dtgu next partx y

     
    • lolita309

      April 9, 2011 at 8:52 am

      makasi sayaang uda baca, sipp^^

       
  17. megumiTM

    April 9, 2011 at 8:28 am

    Cieeee~
    Aku sukanya yg imut” kayak sungmin kibum~ *gak ada yg nanya* #plak
    Ngasih kado apa ni unnie?
    Kkk~ X) *evil smirk*

     
    • lolita309

      April 9, 2011 at 8:47 am

      ahhh, semakin dewasa, nanti juga kamu bakal lebih nyari cowok manly kok… hohoho~

      kadonya? aku dimasukin kotak, trus dipitain.. rela diapain aja deh #PLAKK :p

       
  18. megumiTM

    April 10, 2011 at 5:35 pm

    Ah, aku lupa kalo aku masih polos #plak
    Ikutan dong unnie, siapa tau ketemu kibum ntar~ #ngarep .__.v
    *tiba” teringat tgl 4juni*
    *terdiam*
    ……..
    *bengong*

     
  19. Iwang

    April 10, 2011 at 10:29 pm

    Wuah. .
    Dah bca lama . .
    Komen yg kmrin g masuk2 jdi aja pundung. .
    Hehe. .
    . . .
    Tdi.a g bkal komen lg. .tpi syang ff bgus g dkomenin. .
    Kekeke~ curhat. .
    Itw2 shinmi kmn?. .
    . .
    Kasian yoora hamil, suami g ada g pulang2. .hoho. .
    Maap gaje

     
    • lolita309

      April 13, 2011 at 10:29 am

      gatau tuh si shinmi kemana… hehehe~

      makasi yaa uda rela (?) komen lagi^^

      hahaha bang toyib kali ga pulang2 :p
      gapapa gaje~ saya suka (?) orang gaje (loh?) XP

       
  20. mydivakey

    August 26, 2011 at 7:02 pm

    Hwaaa untung aku bongkar2 wp nya eonni, haha
    bener kan kalo hasilnya ketuker *lega*
    donghae benar2 lebay *pletak* headline koran apaan tuh kaya gt -.-”
    hahaha kesian amat si hyuk.. Yg sabar ya sayang ngadepin si ikan nemo.. Ikan teri sabar aja #duagh
    baca lanjutannya ah hihi

     
    • lolita309

      August 30, 2011 at 1:37 am

      hahaha, ada lagi nih penduduk ffi yang nyasar kesini gara2 penasaran hihihi ><

      emaaaang doi kan lebay banget huahahah

      yak, sesama ikan harus saling bersabar ya… ~PLAK 😛

      makasi uda baca disini sayaang^^

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: