RSS

[THE SERIES] DON’T CALL ME OPPA – Chapter 4

24 Mar

Aku, masih terbelalak mendengar penjelasan eomma-ku itu. Jadi… ayahku dan ibu Shinmi memang betul-betul punya hubungan? Jadi Shinmi ternyata memang betul adalah… adikku?

DON’T CALL ME OPPA

(Ch. 1; Ch. 2; Ch. 3)

Written by: Lolita Choi (@lolita309)

Starring: Lee Donghae

babyhae as Lee Shinmi


Chapter 4. DON’T CALL ME OPPA

Tanpa pikir panjang aku langsung berusaha menghubungi Shinmi mati-matian. Telepon, SMS, twitter, cyworld, segala cara sudah kulakukan, tapi tetap nihil. Aaaarghh! Shinmi, kamu betul-betul membuatku nyaris gila! Sepertinya tidak ada cara lain. Aku segera berlari menuju kamarku dan Eunhyuk, mengambil kunci mobilku yang kutinggal disana. Aku harus menemuinya langsung. Ia yang memaksaku.

“Eomma, kanda! (Eomma, aku pergi!)” teriakku sebelum melompat ke dalam mobil dinasku dan pergi. Aku masih sempat melihat kedatangan Eunhyuk dan pacarnya, Saera, yang baru pulang nge-date (sepertinya). Mereka terbengong-bengong melihat betapa buru-burunya aku seakan ada pasukan Korea Utara mengejar di belakang.

“Shinmi angkatlah… angkatlah…” aku masih berusaha menghubunginya biarpun di dalam mobil. Masih tak berhasil. Kali ini bukan ia yang tak menjawab atau me-reject panggilanku, tapi nada bicara yang terdengar. Aduuuh, di saat sepenting ini, dia lagi main telepon dengan siapa sih??

Tapi tepat ketika aku akhirnya putus asa menghubunginya dan melempar ponselku asal ke kursi penumpang di sebelahku, benda itu tiba-tiba berbunyi. Aku meliriknya sebentar, dan CIIITT!! seketika langsung mengerem mendadak. Shinmi.

“Y-Yeoboseyo?” jawabku gagap, masih tak percaya ia menghubungiku lebih dulu setelah selama ini.

Tak ada kalimat, hanya isak tangis yang terdengar dari mulut gadisku itu, memanggilku. “Oppa… oppa… oppa…”

 

 

“Apa maksudmu dengan ‘mau kabur dari rumah’?? Ini bukan kamu, jagi. Lee Shinmi yang aku kenal nggak punya pikiran pendek seperti itu!” tegurku ketika kami akhirnya bertemu. Dan coba tebak? Aku menemukannya sedang berjalan tak tentu arah dengan pandangan kosong di sekitaran kompleks tempat tinggalnya, tanpa alas kaki, tanpa jaket apapun, di musim gugur yang mulai menusuk ini. Dan Shinmi-ku bahkan tak pernah bertindak seceroboh itu sebelumnya!

“Da kkeutnasseo, oppa… Da kkeutnasseo… (Semuanya sudah berakhir, oppa… Semuanya sudah berakhir…)” ia meracau lemah begitu aku mulai meraih tubuhnya yang siap jatuh.

“’Da kkeutnasseo’ mwo? Kita lagi ngomongin apa sih ini?”

“Kita betul-betul saudara, oppa…”

 

 

Flashback

“Eomma, appa, ada… yang mau aku tanyain.” Shinmi duduk di hadapan kedua orangtuanya yang sedang mengobrol santai di ruang tamu secara tiba-tiba.

Ayah dan ibunya menatapnya bingung, “Ada apa, Sayang? Serius amat sepertinya.” Jawab sang ibu sambil menghentikan kegiatan rajut-merajutnya, sementara sang ayah hanya merubah posisi duduknya, bersiap mendengar pertanyaan yang diajukan putri tunggalnya itu.

Shinmi bolak-balik menelan ludah, bingung harus mulai darimana. Tapi ia harus menanyakannya hari ini juga, ia tak boleh menunda-nundanya lagi. Sudah seminggu ia mengacuhkan sang pacar hanya karena belum mendapat bukti-bukti apapun untuk menyanggah maupun (jangan sampai) mengiyakan hasil tes itu. Pokoknya harus sekarang! Toh hasil itu pasti salah kan? Ia dan Donghae tidak mungkin betul-betul bersaudara! “Umm… apa aku… anak kandung… appa dan… eomma…?” tanyanya akhirnya, ragu-ragu plus tak berani menatap muka kedua orangtuanya.

Diam.

Hei, kenapa jedanya lama sekali ya? Aaah, pasti mereka sakit hati deh, bisa-bisanya sih aku bertanya hal bodoh seperti itu?? Shinmi babo! rutuknya pada diri sendiri. Maka, pelan-pelan Shinmi pun menengadahkan wajahnya, bersiap menghadapi omelan kedua orangtuanya atas pertanyaan ngawurnya itu.

“Kamu ngomong apa sih, Lee Shinmi? Ya jelas lah kamu anak kami, lucu kamu deh.” terlihat ibunya akhirnya menjawab sambil tertawa kecil, yang entah kenapa di pandangan Shinmi seperti… pura-pura?

Tapi Shinmi langsung menyingkirkan pikiran itu dan segera bangkit dan membungkuk, menyadari kesalahannya, “Eomma, appa, joisongham—“

“Sebetulnya, aku pun hingga saat ini masih meragukan hal itu, No Mari.”

Seketika Shinmi bangkit pelan-pelan dari bungkuknya mendengar suara berat sang ayah. Meragukan… hal itu?

“App—“

“Yeobo, apa-apaan sih kamu!”

“Perlu aku ulangi? Ya, sampai saat ini pun, jujur, aku masih meragukan kalau Shinmi adalah anakku. Dan bukankah memang benar? Dia bukan anakku kan? Akuilah kalau si Lee Sooman itulah ayahnya!!”

Lee… Sooman? Ayah… Donghae oppa?

“Yeobo, apa maksudmu??”

“Jangan pura-pura Mari, kamu kira selama kita pacaran dulu, aku tak tahu kalau kamu juga masih berhubungan dengan sahabat masa kuliahmu itu? Awalnya aku pikir itu hanya perasaanku, tapi coba kamu lihat Shinmi sekarang!” sang ayah meraih pergelangan tangan Shinmi yang masih terpaku di tempat dan menariknya maju. Tubuh gadis itu terlihat gemetar. “Lihat putrimu! Dia bahkan sama sekali tidak mirip denganku! Selama ini aku memang menyayanginya, tapi dia sudah besar, dia patut tahu yang sebenarnya!”

PLAKK!!

Sebuah tamparan melesat ke pipi ayah Shinmi dari tangan sang istri berbarengan dengan Shinmi yang melepas paksa genggaman ayahnya di pergelangan tangannya sebelum langsung berlari keluar. Ia menangis sejadi-jadinya tepat di luar pintu kediamannya itu, mengetahui kenyataan yang lebih pahit ini. Kenyataan kalau ayahnya sendiri ternyata tidak pernah mengakuinya selama ini…

Flashback end

 

 

“Aku rasa… aku nggak akan bisa tetap tinggal disitu, oppa… Aku sakit… Hatiku sakit… bahkan appaku sendiri… selama ini…” Shinmi sudah tidak mampu lagi melanjutkan kata-katanya. Tangisnya kembali pecah, ia sukses menangis meraung-raung di dalam mobilku. Seketika aku menariknya dalam pelukanku, tidak mampu berkata apa-apa juga. Hanya saja aku berharap, semoga pelukan ini dapat membantu, biarpun tanpa kata…

“…maksudku… buat apa selama ini, oppa? Apa artinya selama ini?? Appaku… aku bahkan lebih dekat dengan appa selama ini, daripada dengan eomma… Appa yang selalu mengambil raporku dari SD, appa yang selalu bermain dan mengobrol denganku… Jadi itu semua… pura-pura…??” Shinmi kembali, masih dengan terisak-isak, melanjutkan semua curahan hatinya.

“Sssshhh, aku ngerti, aku ngerti…” ucapku menenangkan sambil mengusap-usap rambut kekasih—ralat, adik—ku itu. ‘Penemuan’ kami hari ini bahkan sama persis… Shinmi betul, segalanya memang sudah berakhir… Fixed, positively, kami adalah… “Karena sebetulnya, ada juga yang ingin aku sampaikan padamu.”

Tangis Shinmi seketika terhenti, kini hanya berupa isakan mendengar perubahan nada menjadi serius yang tiba-tiba dariku. “…hal yang sama persis dengan yang barusan kamu katakan, bukti-bukti kalau… ayahku dan ibumu memang pernah berhubungan di masa lalu.”

Dan satu per satu, semua cerita dan beberapa foto-foto yang berhasil aku bawa pun menjelaskan segalanya. Aku menyampaikan semua apa yang kudengar dari eomma, semuanya, tanpa ada cacat sedikitpun. Shinmi seketika langsung shock dibuatnya, ia hanya mampu diam dengan mata membulat, mencoba pelan-pelan memproses segala informasi yang begitu tiba-tiba ia terima hari ini. Matanya bahkan masih kosong ketika mengucapkan kesimpulan kami berdua, “Jadi kita… betul-betul bersaudara. Adik dan… kakak.”

 

 

“ Jadi sekarang, apa rencanamu?” tanyaku begitu yakin kalau kami sudah cukup tenang dan aku mampu menjalankan mobilku dengan baik lagi. Aku juga sudah sempat mampir ke minimarket demi membelikan sepasang sandal untuk kaki telanjangnya, juga secangkir teh untuknya, dan kopi untukku sendiri.

Shinmi menggeleng seraya mencoba mengatur napasnya yang masih tersengal-sengal khas orang yang habis menangis itu. “Moreugesseoyo… (Aku nggak tahu…)”

Aku menghela napas, “Sebetulnya… aku dikasih mess polisi oleh kantorku, yang sampai sekarang tetap kosong karena aku tinggal di rumah Yora dan noona, yah kamu tahu kan. Untuk sementara ini, mungkin kamu bisa tinggal disana. Pastinya kamu nggak akan selamanya minggat dari rumahmu kan?”

Shinmi terdiam sebentar, sebelum akhirnya mengangguk pelan, masih tak yakin. Melihatnya, aku seketika memutar mobilku, melaju ke arah kawasan mess bagi para karyawan kepolisian Seoul ditempatkan.

Sesampainya disana, aku dengan hati-hati menuntunnya yang memang masih terlihat shock turun dari mobil. Mess-ku memang terletak agak dalam dari jalan, sehingga setelah turun mobil harus jalan kaki sebentar dulu. Beberapa kali aku menyapa (dan disapa) teman-temanku sesama anggota kepolisian yang kebetulan sedang berada di luar mess mereka, macam-macam yang mereka lakukan dari mulai hanya membaca koran sampai yang bercocok tanam. Dan Shinmi masih tetap tak bergeming.

“Ini dia.” kami berhenti di sebuah rumah kecil yang rumput-rumputnya terlihat mulai tinggi disana-sini. Shinmi akhirnya menunjukkan reaksi pertamanya dari sejak sampai disini, yaitu menyentuh kusen jendela rumahku.

“Nggak begitu kotor, oppa… Padahal oppa nggak pernah tinggal disini kan? Disini ada housekeeping service-nya ya?” tanyanya sambil meniup sedikit debu yang menempel di ujung jarinya, hasil menyapu kusen jendelaku itu.

Housekeeping? Aku hanya terkekeh kecil sambil garuk-garuk kepala. Wah, bisa gawat kalau dia tahu penyebab sebenarnya rumah ini tidak begitu kotor. Hehehe~ (Oke, penyebab sebenarnya adalah karena sebelum bareng Shinmi, Donghae memang hobi bawa cewek kemari, jadi ya dia harus pastiin rumahnya bersih kan *dasar playboy, PLAKK*) “Eng… mungkin temanku kalau lagi bersih-bersih iseng bersihin rumah ini juga, jag—Shinmi-ya.” aku buru-buru mengoreksi panggilan terakhirku padanya.

Ia seketika mendongak seperti akan bereaksi atas itu, tapi langsung mengurungkannya lagi, mungkin menyadari kalau itu benar adanya. Kalau kami memang sudah tidak seharusnya memiliki hubungan yang melibatkan perasaan antar pria dan wanita. Karena kami adalah kakak… dan adik. Ya, kakak dan adik. Hanya 3 kata itu saja, tapi kenapa mengucapkannya berat setengah mati??

“Eng… sepertinya, biarpun nggak terlalu kotor, tapi kita tetap harus bersih-bersih sedikit deh, op… pa…” Shinmi juga tertegun mendengar panggilan yang biasanya memang ia tujukan untukku itu. Terkejut karena kini, itu bukanlah hanya sekadar panggilan sayang dari seorang gadis pada kekasihnya lagi. Itu adalah kenyataan, panggilan itu adalah panggilan seorang adik kepada kakaknya…

Aku menyadari situasi kaku yang tiba-tiba menyeruak di antara kami itu, makanya aku buru-buru mengangguk dan mencari semua alat bersih-bersih yang bisa aku temukan di mess-ku itu. Tak banyak, tapi cukup membantu lah. Tak berapa lama, kamipun selesai. Untung aku kepikiran menaruh sebuah ranjang beserta kasur dan selimutnya di rumah ini waktu awal dikasih dulu (halaah, bilang aja itu persiapan kalo ngundang-ngundang cewek #PLETAKK), pemanas juga ada, listrik juga masih berfungsi. Setidaknya Shinmi tidak akan kekurangan suatu apa disini, sedangkan untuk makanan aku janji akan membawakannya setiap hari atau sekalian kami makan di luar saja.

“Betul kamu nggak lapar? Temenin aku makan di luar deh…” aku membujuknya makan untuk terakhir kalinya sebelum aku benar-benar pergi karena barusan kantor meneleponku untuk panggilan tugas mendadak. Shinmi lagi-lagi menggeleng pelan seraya tersenyum. Aku menghela napas menyerah, “Ya sudah aku berangkat dulu, kamu yakin berani sendirian? Aku bisa aja nolak—“

Shinmi meletakkan telunjuknya di bibirku seraya menggeleng lagi, “Gwaenchanayo, jeongmal. Oppa ada kerjaan kan? Gih berangkat, nanti dimarahin komandanmu lagi.” Ia memaksa tersenyum cerah—yang bahkan sama sekali tak terlihat cerah, lihat saja matanya yang masih bengkak gara-gara nangis itu.

Aku akhirnya mengangguk sebelum memeluk tubuhnya erat. Shinmi membalasnya. Masih terbawa suasana, aku pun mulai mendekatkan wajahku ke arahnya, mencoba mengabsen bibir mungilnya yang kemerahan, seperti biasanya. Aku sudah memejamkan mataku ketika tiba-tiba…

“Stop, oppa. Ini salah, kita… nggak seharusnya begini.” Shinmi buru-buru menahan dadaku dan memalingkan wajahnya sebelum bibir kami bahkan sempat bertemu.

Aku seketika menyadari kekhilafanku dan dengan gugup segera melepas pelukanku di pinggangnya, “Maj-a (Betul). Kita… kakak-adik.”

“Ne. Kita… kakak-adik.” Pelan, Shinmi mengulangi perkataanku. Kaku lagi.

“Emm… Okelah, aku pergi dulu ya, kamu disini baik-baik, kalau ada apa-apa langsung telepon aku aja. Batere-mu masih cukup kan? Nanti pulang kantor aku beliin charger baru buat kamu.” Kataku seraya mengacak rambutnya. Shinmi tersenyum. Tapi baru beberapa langkah aku menjauh, tiba-tiba aku berbalik lagi. “Shinmi?” panggilku.

Gadisku yang sudah nyaris memasuki rumah menoleh, “Ya?”

“Umm… Ani. Hati-hati.” Aku mengurungkan perkataanku. Shinmi mengangguk dan sekali lagi, melambai padaku. Aku pun kembali berbalik untuk menjauh, tapi rasanya…

Drap, drap, drap!!

Seketika aku kembali berbalik dan berlari untuk memeluk kekasih—aku tidak akan rela menyebutnya adik, sampai kapanpun—ku itu. Ia bahkan belum sempat membalik badan dan aku sudah keburu berlari menyongsongnya lagi, sehingga aku kini dapat memeluknya dengan begitu posesif. Ia yang masih bingung dengan apa yang terjadi hanya mampu tercengang, belum refleks melakukan apa-apa. Aku merasa ia membiarkanku, maka aku pun meneruskannya dengan mencium bibirnya kasar tanpa aba-aba sedikitpun.

“Op—Oppa…!” Ia sepertinya mulai sadar, ditandai dengan tubuhnya yang mulai meronta dan sibuk mencoba mendorongku menjauh. Tapi dengan akal yang sudah kurang sehat dikarenakan luapan emosiku seharian ini, juga karena nafsuku yang mungkin sudah dikuasai setan, siapalah itu aku tak peduli, aku bergeming, lebih tepatnya malah memojokkannya ke arah jendela teras mess-ku. Aku terus merajai bibirnya, sesekali menggigit kecil agar ia merespon permainanku seperti biasanya. Yah, seperti biasanya. Tahap ini sih memang sudah lewat sekali bagi kami, makanya aku yakin dalam hatinya ia juga menikmati ciuman ini.

Dan benar saja, tak berapa lama, Shinmi mulai menghentikan rontaannya, mungkin capek, atau malah terbuai? Yang jelas hal itu malah makin membuatku merasa segala perbuatanku ‘direstui’, maka tanpa ragu lagi aku menyingkirkan helai-helai rambut yang menghalangi akses bibirku ke leher mulusnya, dan mulai membuat beberapa kissmark kecil disana. Sebelah tanganku menjejak ke jendela di belakangnya, sekaligus sebagai penghalang jika nantinya tiba-tiba ia ‘sadar’ dan kembali memberontak. Aku gila? Ya, memang. Siapa yang tidak gila kalau ternyata, tiba-tiba, gadis pertama yang kau cintai dengan sepenuh hati, yang hanya dalam hitungan bulan akan kau nikahi, ternyata adalah adikmu sendiri??

Untungnya, ternyata Shinmi tidak menolak. Pastilah dia sama shock-nya sepertiku dengan kejadian hari ini, dan kondisi labil begini memang paling mudah dipengaruhi hal-hal yang buruk kan? Mencoba lebih ‘pintar’ dengan tidak pamer kemesraan di depan umum, aku pun kembali mendorong tubuh kami yang masih melekat satu sama lain, begitu pas, ke dalam rumah.

“Op… pa… tugas… mu…” Shinmi mencoba berbicara di sela-sela aksi French kiss kami yang makin intens.

“Sudah aku bilang aku bisa aja nolak, kan?” jawabku enteng seraya kembali menikmati lekuk tubuhnya yang masih murni, sama sekali belum pernah aku sentuh itu. Okelah, ini memang bukan ‘game’-ku yang pertama. Tapi untuk Shinmi, aku begitu mencintainya hingga sampai saat ini pun, 4 bulan, aku bahkan belum pernah menyentuhnya sama sekali. Kami betul-betul baru sampai tahap kiss, padahal dengan yang lain, one-night stand pun aku biasa. Tapi kali ini lain, aku hanya merasa sudah tidak ada gunanya lagi kami menahan-nahan perasaan ini, karena setelah hari ini, kami tahu kalau kami tidak akan pernah bisa bersatu. Aku bahkan tak peduli apa yang kami lakukan ini incest atau apalah itu, yang jelas aku mencintai Shinmi, dan aku ingin ia tahu itu…

 

***

 

“Kita… sudah melakukan dosa besar…” kata Shinmi pelan seraya memalingkan badannya memunggungiku di ranjang kami.

Aku bangkit dan duduk bersandar di kepala ranjang, dengan selimut yang kubiarkan menutupi bagian pinggang kebawahku. Kupandangi cincin pemberian Yora yang kujadikan kalung di leherku, cincin pertunangan adikku itu dan Siwon yang bertuliskan ‘TRUE LOVE WAITS’. Dan ingatanku langsung kembali ke hari itu, hari pasca Hyukie dan Teuki Hyung membahas tentang hamil duluan sebagai jalan keluar masalahku dan Shinmi…

“Oppa.” Yora menyambutku yang baru pulang kerja hari itu, sekaligus tes DNA juga sih sebelumnya. Adikku tersenyum-senyum mencurigakan. Dalam pikiranku, anak ini aneh deh, kemarin marah-marah nggak jelas, sekarang senyum-senyum nggak jelas…

“Iya, ada apa, Saeng?”

“Ini.” Ia melepas cincin kedua yang melekat di jari manis tangan kirinya (cincin yang ditumpuk diatas, itu cincin pernikahannya) dan langsung menggenggamkannya di telapak tanganku. “Ini namanya purity ring, oppa. Cincin yang akan membantu kita untuk selalu ingat kalau cinta sejati pasti akan mau menunggu, jadi mudah-mudahan pemakainya nggak akan ngelakuin kesalahan atau berbuat hal-hal yang nggak perlu sebelum waktunya, deh.” Ia kembali tersenyum.


Aku menatap cincin berukir ‘TRUE LOVE WAITS’ yang cantik itu dan wajahnya bergantian, “Terus, hubungan sama oppa-nya…?”

“Siwon dan aku sukses menjaga kemurnian hubungan kami sampai nikah karena cincin ini, lho… Kami jadi selalu ngerasa diingetin untuk nggak berbuat lebih jauh, makanya aku harap oppa juga begitu ya. Nggak ada hamil-hamilan duluan lho, sayang Shinmi-ssi nya, oke?”

Dan aku ingat sekali, saat itu aku mengangguk dan begitu terharunya atas kepedulian adikku. Tapi sayang, karena kini, ternyata aku gagal… “Mau kita bersaudara atau nggak, yang kayak gini juga tetap aja dosa.” Jawabku akhirnya, ketus, menutupi segala penyesalanku karena telah menodai gadis yang paling aku cintai, yang parahnya lagi, adalah adik kandungku sendiri…

“Tapi, oppa—“

“Jangan panggil aku oppa, aku bukan oppamu.” Kataku dingin, mengulangi lagi semua permintaanku padanya agar tak lagi mengingat kenyataan kalau kami bersaudara ini. Aku memintanya berhenti memanggilku oppa (karena itu lebih terlihat seperti panggilan seorang adik untuk kakaknya kan?), dan beralih dengan jagi, Donghae-ya, apa saja asal bukan oppa. Dan setelah itu kami akan terus berhubungan, dengan asumsi kalau semua kenyataan ini tidak pernah ada… Menutup mata, hati, dan telinga untuk semuanya.

Ia terdiam. Aku mengelus bahu telanjangnya sebelum meraih jeans biru tuaku yang tergeletak di lantai dan mengeluarkan sekotak rokok plus lighter dari dalamnya. Cess… Sekejap rokokku sudah tersulut api, bersiap dinikmati pemiliknya.

Mungkin karena mendengar suara sulutan api itu, Shinmi-ku segera berbalik dan tercengang melihat pemandangan yang ada di hadapannya.

“Oppa—“ aku buru-buru mendelik. Shinmi segera meralat perkataannya. “Kamu, maksudku. Kamu… ngerokok? Sejak kapan…”

“Hyukie.” Jawabku seraya mengembuskan asap rokok itu. Nggak enak sih, tapi lumayan juga buat ngehilangin stres. “Aku pernah bilang kan kalau dia nggak minum?”

Shinmi mengangguk.

“Makanya, dia ngelepas stres dengan ngerokok. Kemakan pergaulan SMA kami di Jepang, dia kan ceritanya anak gaul gitu disana. Mungkin kalau besar disini juga larinya ke minum kali ya kayak nyaris semua cowok Korea lainnya. Tapi akhir-akhir ini dia mulai berhenti, karena Saera. Yah, selama ini dia juga kucing-kucingan sama Yora dan appa, sih. Bisa digorok kali kalau sampai kami ketahuan ngerokok. Hahaha.” Tawaku seraya mengacak rambutnya. Ia menyingkirkan tanganku tanda tak suka. “Oh ya, ini juga rokok dia kok, aku boleh ngambil aja di kamar, ternyata lumayan juga buat ngilangin stres.” Jelasku sebelum kembali menghisap dalam rokok itu.

“Hyukie oppa… mulai berhenti karena Saera? Memang Saera ngapain?”

“Uhuk, uhuk.” Aku sampai tersedak asap rokok karena mau tertawa tapi tidak sadar masih menghisap batang itu *aaahh, kurang pro nih #PLAKK* “Haha, kalau Saera sih lucu. Dia bilang gini sama Hyukie: ‘Oppa boleh ngerokok, tapi harus bagi aku ya…’ Lho, ya jelas Hyukie kelimpungan lah, mana berani dia nyekokin anak orang, bisa di-smack down sama kakaknya Saera, si Kangin, kali. Hahaha, seru memang itu monyet dua.”

“Kalau gitu aku juga…” Shinmi tiba-tiba berkata datar. Aku segera menoleh seraya melepas rokokku dari mulut. “Aku juga… kamu boleh ngerokok, tapi harus bagi aku…”

“HEHH?? Andwae!”

“Wae andwae? Sini pokoknya, aku mau coba juga!” Shinmi mulai mencoba meraih batang rokok yang sengaja kupegang tinggi-tinggi dengan tanganku itu. Tanpa sadar tubuh kami kembali berdekatan, dan yah, namanya juga anak muda, yang namanya hasrat itu pun kembali muncul. Pelan, aku mencium bibirnya…

“Huek, nggak enak!” tiba-tiba Shinmi mendorongku menjauh sambil mengusap-usap bibirnya dengan punggung tangannya sendiri. “Maaf ya, sepertinya aku nggak suka kisseu sama perokok deh. Jadi silakan tinggalkan kebiasaan ini atau ucapkan selamat tinggal dengan segala kemesraan kita, se-la-ma-nya.” Katanya memberi ultimatum sambil tersenyum tanpa dosa.

Seketika aku melempar pandang protes, “Lho, kok gitu??”

 

***

 

Sementara itu, di lain tempat…

“dr. Yora.” Panggil seorang pria pada Yora yang sedang berjalan sendirian di lorong RS Universitas Korea tempatnya bertugas sejak masih magang itu.

Yora berhenti dan menoleh, “Eh, Jaejoongie! Aku kira siapa, kalau nggak ada orang, panggil Yora-ya kayak biasa juga nggak apa-apa kok.” Balas dokter wanita itu sambil tersenyum.

dr. Kim Jaejoong, atau yang barusan Yora akrab panggil Jaejoongie saja itu membalas senyumnya. “Oh ya, kamu sudah tahu hasil tes DNA saudaramu yang waktu itu?”

“Oh iya, aku lupa tanya terus! Kenapa? Nggak ada yang aneh kan?”

“Nggak ada yang aneh gimana? Hasil tes mereka positif, padahal katanya mereka mau menikah kan??”

“Apa? POSITIF???”

 

TBC

 

Oke, pemberitahuannya telat, malah ditaro dibawah, yang jelas ini PG-15 alert (reader: belah mananya thor? PLAKK!)

dan buat vivi, maaf sebesar-besarnya dirimu saya nistakan (?) disini, beserta si ikan juga… oh iya si monyet juga…. m-___-m

Advertisements
 
53 Comments

Posted by on March 24, 2011 in Super Junior, [THE SERIES]

 

Tags: ,

53 responses to “[THE SERIES] DON’T CALL ME OPPA – Chapter 4

  1. babyhae

    March 24, 2011 at 11:01 am

    Gyaaaaaaaaaaaa!!! saya ternodaaaaa XD #plakk

    aigo,,,pertama kaget. Oke, Donghae di sini serem wkwkwk…image-nya yang kalut jadi beda sama Donghae yang ceria kayak biasa. Saya sampe ikutan bisa merasakan perubahannya lho, Lola. Dan saya ikutan merasa nyeri gimana gitu pas Donghae ngomong “Aku bukan Oppamu” pake nada dingin itu. Kesannya serem gimana gitu

    Sampe sini, masih ada beberapa kesamaan lagi di karakter Shinmi wkwkwkwk

    Yang ini penuh kegalauan ya, Lola…kerasa banget bacanya. Jadi ikut, galau, sedih, deg-degan juga apalagi pas part PG-nya. aduh,,kenapa saya jadi blushing sendiri ahahahah

    Overall,,,ini kerennn^^

    aduh sampe lupa “SELAMAT!!! akirnya judul dapet juga dan itu pas di bagian saya merinding”

    Gomawo, Lola *deep bow*

     
    • lolita309

      March 24, 2011 at 2:56 pm

      sama2 sayaaangg :))

      iya nih, mulai kesini-sini kesan donghae yang cerianya jadi ilang, kadang suka mikir juga, kira-kira orang yang cheerful gitu kalo lg stres gini ga ya? ah takut dibilang ga konsisten kasih karakter ><

      hahaha, iya, ilham di kala subuh tuh, baru kepikiran judul itu. dan sudah diganti deh semuanyaaa^^

      *deeper bow*

       
  2. GDictator710

    March 24, 2011 at 6:31 pm

    Omooo
    pantes kok hae dbuat mesum #dikroyokELFISHY

     
    • lolita309

      March 25, 2011 at 12:47 pm

      huahahahahaha bener2! *makin digaplok elfishy XD*

      thanks sayaang uda baca 🙂

       
  3. megumiTM

    March 24, 2011 at 6:44 pm

    Whoaaaaa~ *terpana*

    Untung aku udah 16 taun unnie~
    .___.

    Gatau mau komen apa, masih shock #halah
    -_-v

     
    • lolita309

      March 25, 2011 at 12:49 pm

      halah shock XD

      hehehe, tetep makasih yaa sayang uda baca 🙂

       
      • Oepieck

        April 1, 2011 at 3:28 pm

        lah, kok malah dicita2in punya pacar perokok hahaha, jangan sampe saeng 🙂

        huahaha, jangan baca saeng, NC tuh (maap ya) kalo yang nulisnya ga bagus bakalan cuma jadi (duh, maap lg ya) sampah doang… cuma ngerusak pikiran tapi ceritanya ga ada juntrungannya. (loh?)

        wah, bentar lagi saya dibashing para penulis NC nih hahaha XD

        hehe, enggak lah, kan kalo :p

        oo mudeng, (maap) lebih mentingin NC.a dari pada jalan ceritanya gitu ya?
        *siap” dibashing author NC jga… XD

        #oiya, turut prihatin atas batalnya konser JYJ di indo… 😥

         
  4. Oepieck

    March 24, 2011 at 11:55 pm

    kyaaa~ gak nyangka hae begituan!!! andwae andwae andwae, di kehidupan nyata jangan ah, amin…
    onnie, aku masih 14 ini… tpi gak tanggung ya, kan pemberitahuannya di bawah, hehehe… *PLAKK!!

    shinmi… merananya dirimu~
    itu intinya mereka masa bodo ama status asli mereka ya onnie? haduh, aku makin penasaran ama lanjutannya, apalagi setelah yora tahu hasilnya!! >.<

    senyum" gaje dikit pas adegan eunhyuk ama aku pulang ngedate (?) kwkwkw~ karakterku kok pinter banget ya? "Oppa boleh ngerokok, tapi harus bagi aku ya…" kwkwkwk~

     
    • Oepieck

      March 25, 2011 at 12:01 am

      oh iya!!!! judul! judul!
      akhirnya ada judulnya, “Don’t Call Me Oppa” keren keren!!

       
    • lolita309

      March 25, 2011 at 12:59 pm

      kayaknya di kehidupan nyata juga begitu deh… *kompor.com* :p

      hahaha, saya menodai pikiran anak dibawah umur ini ><

      iya, tutup mata-hati-telinga kan katanya? hikshiks

      hohoho, sebenernya (lagi-lagi) yang pinter tuh aku looh, kan aku yang bikin #PLAKK
      engga deng, yang ucapan Saera itu pengalaman pribadi (loh, curhat? :P)

      makasi sayang uda baca^^

       
      • Oepieck

        March 26, 2011 at 5:58 am

        aaa~ jangan!! anak suju masih suci!! tak gorok onnie!! *plakplakplak :p

        kwkwk~ sante onnie, pikiran saya sudah ternodai sejak lama, gara-gara salah pinjem buku. ya allah, nistanya diriku…

        tapi itu pasti bukan saudara deh… kan ntar kasian baby hae yang udah nunggu kelamaan ternyata tidak disatukan… huwuwu~

        bilang ‘ya’ aja deh biar seneng, *PLAKK!
        wo? pengalaman pribadi, pacar lola onnie dulu ngerokok?

        iya, sama” onnie ^^

         
      • lolita309

        March 28, 2011 at 11:20 am

        hehh?? pinjem buku apa kamu? biasanya kalo K-Fans kan ternoda gara2 NC.. hayohayooo hahahaha

        iya nggak yaaa…. hahahaha ditungguin ajah^^

        ho-oh, trus beneran sembuh gara2 aku lhoooo *PD banget haha :p*

         
      • Oepieck

        March 29, 2011 at 9:57 pm

        aku malah belum pernah baca NC… *gubrak
        dulu pinjem buku.a Mag Cabot yang The Guy Next Door di perpusda. tebak kelas berapa saya waktu itu! Masih kelas 4!! ya ampun! tapi karna saya waktu itu masih bawang jadi gak mudeng apa” tentang bagian NC.a… XD

        wah onnie pinter ya, ntar kalo aku punya pacar perokok juga aku gituin ah, hehehe… ^^

         
      • lolita309

        March 30, 2011 at 9:57 am

        lah, kok malah dicita2in punya pacar perokok hahaha, jangan sampe saeng 🙂

        huahaha, jangan baca saeng, NC tuh (maap ya) kalo yang nulisnya ga bagus bakalan cuma jadi (duh, maap lg ya) sampah doang… cuma ngerusak pikiran tapi ceritanya ga ada juntrungannya. (loh?)

        wah, bentar lagi saya dibashing para penulis NC nih hahaha XD

         
      • Oepieck

        April 1, 2011 at 3:30 pm

        #haduh… pake acara salah masukin komen segala, *gedekgedek

        hehe, enggak lah, kan kalo :p

        oo mudeng, (maap) lebih mentingin NC.a dari pada jalan ceritanya gitu ya?
        *siap” dibashing author NC jga… XD

        #oiya, turut prihatin atas batalnya konser JYJ di indo… 😥

         
      • lolita309

        April 1, 2011 at 4:39 pm

        aaaaaaa aku udah lupa ini jangan diingetin lagi 😥
        suer sedih banget, langsung JLEBB JLEBB JLEBB pas denger pertama kali, sekarang tinggal stres nunggu refund-nya… T.T

        gimana UAS-mu saeng?

         
      • Oepieck

        April 2, 2011 at 7:49 pm

        haduh, maap maap… moga moga tu duit balik dengan selamat tanpa kekurangan suatu apa pun… amin. *kok malah doain duitnya
        aku juga sempet kaget, padahal teaser juga udah keluar… moga” kejadian gini gak terulang lagi

        alhamdulillah terlalui dengan baik. tapi ragu banget ama IPA, PKn, B. Indo, B. Ing, #lama” semua kesebut ini XD
        yah, tinggal pasrah aja deh onn, moga” nilainya gak mengecewakan

         
  5. chrisnagustyani

    March 25, 2011 at 6:17 am

    wah.. Akhrnya part 4 nya muncul juga!! Kok saya malah setuju yah kalo hae sama shinmi dinistakan author *evilsmirk* #plakkk artinya kan masih ada kesempatan buat mereja brsatu, n endingnya emang harus gtu! *readermaksa*

    btw, judulnya pas th, hehehehe

    mian ya saya sksd :p

     
    • lolita309

      March 25, 2011 at 2:25 pm

      huahaha, selamat datang^^

      disini mah sksd malah dianjurkan hahaha, salam kenal ya sayang, aku lola, nyonya (?) blog ini XD

      makasi uda baca, sering2 mampir yaa 😀

       
  6. Zarararakuda

    March 25, 2011 at 12:31 pm

    Wah speechless saya.bukan karena gamenya,tp gara2 kerumitan ceritanya.AMAZING!btw saya 14,gapapa kan?^^

     
    • lolita309

      March 25, 2011 at 2:29 pm

      gomawo sayang, btw emang rumit ya? *pasang tampang inosen*

      hehe, gapapa kok (loh?) kan PG (Parental Guidance), jadi ajak2 ortu atau orang dewasa yaa kalo baca (loh? :p)

      hahaha XD

      btw makasi yaa sayang uda baca^^

       
  7. chrisnagustyani

    March 25, 2011 at 7:04 pm

    hahaha bearti bebas nyampah dong dsini, nyonya??

    Aku suka bgt bca ffnya, abis bhasanya ringan, kalo biasanya di ff lain, pasti knflik HaeMi ky gni bkal pnuh deraian air mata dll, tapi kalo yg ini aku suka, bhasanya gak pnuh air mata, tapi feel n emosinya tetep dapet…

    jd pengen dbkinin ff kya gni, tapi bias aku Kyuhyun, dsni Kyu udah ama Jiwon, gmana dong? *banjirairmata* #gadayangnanya #plakkk

    astaga, benerkan, saya nyampah wkwkwk

     
    • lolita309

      March 28, 2011 at 11:22 am

      bebas, bebas… silakan tapi sampahnya pungutin sendiri yaa (loh?) XD

      gomawo sayang pujiannya, mudah2an aku bisa terus ningkatin kualitasku ya^^

      selain si kunyun ga ada lagi? atau mau dijadiin selingkuhannya kunyun? hahaha :p

       
  8. Zarararakuda

    March 25, 2011 at 7:49 pm

    Bukan gt,saking PRO-nya,onni bisa bikin yg rumit tp bisa dimengerti gini (?)

    Wah kalo ajak ortu bisa digampar saya! XD

     
    • lolita309

      March 28, 2011 at 11:29 am

      aih, saya dibilang pro. jadi malu ><

      gomawo sayang^^

      hahaha ya udah nggak usah diajak, itung2 pelajaran buat masa depan (?) hohoho~ *ketawa setan*

       
  9. Iwang~

    March 25, 2011 at 10:36 pm

    Omo~
    semakin kagum ma ff buatan drimu..
    emosinya bener2 dapet…

    duh moga2 bener deh hasil tes darah yang positif itu punya.a hae ma umin…
    ga kebayang klo beneran sodara kandung..

    Oala..
    aku telat aja bca ff drimu..
    huhuhu..

     
    • lolita309

      March 28, 2011 at 11:33 am

      gomawo sayang^^

      hehe, gapapa kok telat, yang penting baca kan? hohoho~ 😀

      makasi yaa uda baca 🙂

       
  10. wiehj

    March 25, 2011 at 11:32 pm

    errr,masa sih mreka bneran sodara???gak mungkin!!impossible!!maldo andwe!!masi ga terima kenyataan(?) akuu..kasihann am hae dan shinmi..ngikut merasa sedih dan tertekan deee *oke,aq agak lebey.mian*
    tpi pasti ga mgkin kakak-adik dee mereka..masa iy nglakuin itu????haduuuu,lanjutt asap pleaseee cingu…baru slese baca ajah ud penasaran giniii >,< bakal aq datengin ini blog tiap oL mule bsok..bwt ngcek ud dipost blum ene lanj nya..hahahhaha

     
    • lolita309

      March 28, 2011 at 11:46 am

      loh, jadi dia yang emosi (?) XD

      sabar bu, sabar… iya iya nanti dilanjutin yah.. hehe

      makasi sayang uda baca^^

       
  11. choivaavaa

    March 27, 2011 at 6:12 pm

    pdhl akhr2 ni lg g doyan ma ff series.tp pngecualian bwt ff ni.so,krn bru bc dr part 1-4 ni,comentny dsni ja y. Sdih,kl Donghae-Shinmi bnrn kk adk.ttep brhp tes tu slh.pgn lht mreka nikah.. Lola,jgn smpe sad end yow..#request mode: on#

     
    • lolita309

      March 28, 2011 at 11:47 am

      ah, terima kasih^^

      amin…. mudah2an nggak sad ending ya sayang, doain aja (loh?)

      makasi uda baca 😀

       
  12. chrisnagustyani

    April 3, 2011 at 12:34 am

    *pungut sampah, buang ke tong sampah, gk lupa pilih sampah yg bsa d daur ulang (?)* #mulungdong

    waduh gmana yah nyah? Bias ptama Kunyun, kedua Hae, udh pnya org smua dong? Eh tapi yg namkor Jiwon ntu ada yg punya gk nyah? Kalo cuma karangan nyonyah (?), aye mau dah nyah djadiin selingkuhan kunyun, wakakakakak *evilsmirk*

    btw, mana nih part 5 nya? Tiap hari loh aq bka blog nyonyah, tapi blm ada lnjutannya hiks hiks….

     
    • lolita309

      April 4, 2011 at 3:18 pm

      Jiwon itu tokoh asli lho… adiknya Siwon beneran 😀
      yauda nanti aku jadiin selingkuhannya kunyun aja ya, serius aku emang sempet ada ide bikin si kunyun punya selingkuhan hehehe. :p
      Jadi namkormu apa sayang? 🙂

      ituuu baru keluar,,, maap yak lama bgt.. ^^

       
  13. chrisnagustyani

    April 4, 2011 at 4:04 pm

    hahaha iya tau aja kok kalo jiwon emang yeodongsaeng siwon bneran…

    aish, JINJJA? Beneran nyah? *sujudsembahdikakinyonyah* waaa aku mah mau bgt! Kalo bisa juga jgn cuma jadi selingkuhan, skalian jadi bini, bini kedua juga kagak masalah! *readersarap*

    aduh, tapi bngung ama namkorku nyah, dari dlu ganti2 mlu *gakkonsisten* tapi brhbung nama cinaku Yong Yuen Na, kmrn smpt kpkiran pnya namkor Jung Yoona, gmana th?

    aahh bkal tdur sambil snyum dah ane mlm ni, ksambet apa ane sampai nyonyah mau bkinin saya epep *pedetingkatdewa*

     
    • lolita309

      April 5, 2011 at 9:13 am

      iyaaa beneran kok… masalah ceritanya nanti ditungguin aja yaa, masi agak lama tpnya gapapa kan? dkt2 ini mungkin masih mau nyeritain kyu-jiwon dulu soalnya^^

      nah, iya itu bagus… Jung Yoona oke kok, mau itu aja? 😀

      hahaha, seneng lah diriku bisa bikin dirimu tidur sambil senyum 🙂

       
      • chrisnagustyani

        April 5, 2011 at 1:28 pm

        iya gak papa, aku tungguin kok, asal gak nunggu sampe Kyuhyun kawin aja (?)

        aduh beneran ni, aku seneng banget dah, tapinya kalo aku jadi selingkuhan Kyu, akunya jadi anttagonis dong nyah? aku kan baik, wkwkwkwkwkwk

        iya ni, kemaren aku tidur sambil snyum2 sendiri, eh hari ni malah sial, udah jath dari motor, laptop ikutan jatuh mpe rusak, eh dapat kabar Kyu mabuk trus bilang mau nikahin cewek China, menggalau saya arghhhhhh…… *nangisdipojokan*

         
      • lolita309

        April 5, 2011 at 3:36 pm

        jreeenggg~ baik? antagonis ajaaa~ hayo ngaku! hahaha XD

        haduuhh… sabar ya nak, hwaiting! 😀

        oiya aku kan liat di fb mu, kamu anak FK yaa? wah, aku kan mau rilis ff ttg dokter2an nih, kalo ada apa2 aku konsul kamu yaaa kkkk~ 🙂

         
  14. chaeky

    April 5, 2011 at 7:15 am

    onniiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiie keren onn 😀
    sumpah donghae gila banget #PLAK
    nekat bgt mereka, untung umin gx gitu, kkk~
    lanjut onn 😀

     
    • lolita309

      April 5, 2011 at 11:24 am

      sipp sayang, uda ada lanjutannya tuh^^

      makasi yaaa uda baca *bow*

       
      • chaeky

        April 6, 2011 at 4:34 pm

        ok onnie, aku tunggu lanjutannya :*

         
  15. chrisnagustyani

    April 5, 2011 at 5:17 pm

    uwaa? Saya ini baik hati, tidak smbong dan rajin menabung loh nyah! Usahain jd protagonis aja, emang Kyunya aja yg playboy cap telor mata sapi (?) hahaha

    iya aku anak FK, tapi bru sem 2 sih, kalo knsulnya yg dasar2 sih oke aja, tapi kalo knsul ttg gmana cra ngoperasi usus buntu mah saya blm tau ahahaha lgian saya mah mls bgt blajar (?) gyahahahaha *evilsmirk*

    oiya, d tgu ff dktr2an’a, pasti bkal nyritain krjaan Yora kan?

     
    • lolita309

      April 6, 2011 at 6:31 pm

      oh yeahhhh??? hahahah XD

      sip sip, liat nanti aja ya ceritanya kayak apa, tapi emang sepertinya saya lagi obsesi ngejelek2in si kunyun nih haha :p

      okeee, iya mau ceritain kerjaannya Yora, tapi sebenernya itu ffnya shindong sih, kan doi aku jadiin dokter pembimbingnya Yora hohoho~ ditunggu ya sayang^^

       
  16. chrisnagustyani

    April 6, 2011 at 6:59 pm

    ige mwoya? Mau ngejelek2in Kyu? Langkahi dlu mayatku hahahahaha

    y udahlah, saya mah tserah maunya sutradara aja… Yg pntg saya berbahagia ama Kyu kekekeke~

    oiya nyah, ada lowongan buat pairing Yesung ato Wookie gak? Temenku ada yg mau nih…

     
    • lolita309

      April 7, 2011 at 12:46 pm

      baiklah, mana mayatmu (loh?) XD

      lowongan ada sihh… (tunjuk2 posting #cumannanya)

      tapi suruh temenmu yang komen namkor sama pairingnya sendiri yaa di posting itu, aku ga terima pake calo hahahaha :p

       
  17. chrisnagustyani

    April 7, 2011 at 5:17 pm

    jiah… Mau gak ni mayat buat praktikum ane? *digaplokdosen

    oke lah, ntar aq suruh mreka kmen, mreka gk pnah komen soalnya mreka baca pke hape aku…

    kalo pke jasa PJTKI, terima gak?

     
    • lolita309

      April 8, 2011 at 10:25 am

      eh, situ uda mulai praktikum pake mayat? sugoi~ ><

      ga terima juga, situ kira sini penyalur pembantu? hahaha :p

       
  18. chrisnagustyani

    April 8, 2011 at 4:16 pm

    ahaha kagak, 2 minggu lg bru aku mulai praktek pke mayat…

    sugoi apaan yah? #plakkk

    hahaha situ kan nyonyah2, kali aja mw cri pmbntu, pmbntu buat mijitin Siwon (?) jahahahaha

     
    • lolita309

      April 8, 2011 at 7:07 pm

      waaah taun pertama uda langsung praktek pake mayat ya? anatomi? cuma diliat2 doang apa uda langsung disayat2 (?) ?

      jiahh, kurang gaul lagi nih anak. sugoi tuh bahasa jepang, artinya keren hohoho~

      eeeits, siwon cuma mau dipijitin sama saya (?) kali…. hahaha XD

       
  19. chrisnagustyani

    April 9, 2011 at 8:06 am

    iya, kayanya sih bkal d sayat2 , soalnya setau aku kmi bkal blajar neuroscience, otomatis perlu tau jar. Syaraf d dalam tubuh…
    sugoi sugoi, yang ada deg-degan kali nyah >.<

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: