RSS

[THE SERIES] DON’T CALL ME OPPA – Chapter 3

15 Mar

Maka dua minggu kemudian ketika tiba-tiba selembar kertas di hadapanku ini menunjukkan hasil POSITIVE, 99.92289% MATCHED, duniaku seakan hancur seketika.

DON’T CALL ME OPPA

(Chapter 1; Chapter 2)

Written by: Lolita Choi (@lolita309)

Starring: Lee Donghae

babyhae as Lee Shinmi


Chapter 3. INCONVENIENT TRUTH

Dua minggu sebelumnya,

Sungmin makin merapatkan jaket dan topi petnya selagi melewati lorong RS itu, menghindari kesadaran orang-orang akan keberadaannya. Ia benci keramaian, sudah sejak lama. Agak aneh memang untuk seorang artis yang sedang top-topnya seperti dia, secara tiap hari ia diwajibkan menghadapi kerumunan fans-fansnya yang kebanyakan wanita (para noona, lebih tepatnya). Tapi memang itulah dirinya yang asli, makanya ia memilih menghindar kali ini, karena kalau sedang sehat saja dia bisa berubah jutek setengah mati jika dirubung orang, apalagi di saat lagi sakit begini?

Geudaeman barabol su itdorok, geudaeman saranghal su itdorok~

Sungmin berhenti sebentar untuk merogoh saku jaketnya. Manajer hyung calling. “Ne, hyung?” jawabnya segera begitu mengetahui identitas si penelepon, sambil kembali melanjutkan berjalan. “Yah, begitulah… masih nggak enak badan banget. Eung, ini juga baru selesai cek dokter, masih di jalan mau ke parkiran RS malah. Hm? Ne… aku ambil yang full general check-up sekalian kok, pakai acara ambil darah segala.” Ia terdiam sebentar, memberikan kesempatan lawannya berbicara. “Kapan kira-kira bisa pulang ke dorm? Moreugesseoyo (belum tahu)… Kata dokter sih buat flu beratku aja butuh seminggu sampai betulan sembuh, tapi nggak tahu juga, lihat hasil general check-up tiga hari lagi aja katanya…” Sungmin menggantung kalimatnya mendengar sang manajer terdiam cukup lama di ujung sana, seperti berpikir.

“Jadwalku… jadi berantakan banget ya hyung?” tanya Sungmin akhirnya, merasa tidak enak. “Joisonghaeyo… Gini aja, kalau memang betul-betul ada yang nggak bisa di-cancel, jangan ragu bilang aku aja ya, aku nggak apa-apa kok. Yah… paling siapin banyak suntikan aja sih nantinya. Eo, nan gwaenchanhayo jeongmal, ini sudah konsekuensi aku yang sudah tandatangan kontrak… Oke hyung? Ne… annyeong.”

Ia mengunci i-Phone-nya seraya menghela napas. Hahh~ sudah minta cuti dan pulang ke rumah orangtua gara-gara sakit pun tetap saja hari-harinya tak tenang…

 

***

 

Hari ini,

Berkali-kali aku melihat keluar jendela kantorku selama mengerjakan file kasus percobaan pembunuhan seorang Direktur Utama perusahaan ekspor-impor besar Korea ini. Ah, cerahnya langit itu, seperti pertanda kalau hari ini akan terjadi hal yang baik. Lebih tepatnya, hari ini pastinya memang akan menjadi hari yang baik, untukku dan Shinmi, terutama. Karena tepat hari ini, hasil tes DNA-ku dan Shinmi keluar, yang berarti hari ini pula aku akan mendapatkan restu dari ayah dan keluarga besarku. Senang kan?^^ Aku dan Shinmi bahkan sampai taruhan siapa yang lebih cepat pulang kerja hari ini, boleh ambil hasilnya duluan. Dan ternyata, ia tiba-tiba harus lembur karena ada rapat awal semester di sekolahnya. Hahaha, memang sudah nasibku melihat hasil itu duluan, tunggu kabar aja ya Shinmi sayang… Eh tapi, berkali-kali juga aku melihat jam, kenapa belum juga jam 5 sih? Lama sekali…

PLAKK!!

Tiba-tiba kurasakan gempuran (halah) sebuah kipas kertas di kepalaku. “ADAWW!! Eh, komandan??” teriakku begitu mengetahui siapa tersangka pemukulan itu. Komandanku, Komandan Jo Kwon.

“Apa-apaan itu, ‘Eh, komandan’? Sudah kubilang kalau waktunya kerja, KERJA! Contoh adik iparmu si Choi Siwon itu, dia officer teladan selama dua tahun ini kan, SERSAN DUA Lee Donghae??” omelnya, dengan memberi penekanan pada jabatanku. Mungkin maksudnya: malu sama jabatan dong!

Aku masih meringis memegangi kepalaku yang habis jadi sasaran kipas saktinya, “Dia kan jabatannya memang di atas saya, Dan. Wajarlah.” Sungutku.

Komandan nyentrikku (habis hobinya bawa-bawa kipas kemana-mana dan menolak pakai seragam ke kantor, ia lebih memilih hanbok sebagai pakaian dinas sehari-harinya) mencibir, “Aish, alasan! Harusnya bakat tebar pesonamu itu dialihkan untuk hal-hal yang lebih berguna, tahu!!”

Aku hanya menoleh ke arah lain dan menggerakkan bibirku mengikuti kata-katanya malas. Dan tiba-tiba…

KRIIINGG!!!

Aku kembali menoleh ke atas meja kerjaku, tempat jam weker yang barusan berbunyi itu kuletakkan. Hehe, aku bahkan menyetel jam wekerku sesuai jam pulang kantor, jam 5, saking tak sabarnya ingin mengambil hasil tes itu hari ini. Buru-buru, aku meraih tas kerjaku dan langsung kabur. “Komandan, jam 5 nih. Meonjeo kamnida (saya pergi duluan), sampai ketemu besok!!” teriakku seraya meninggalkan meja kerjaku beserta kertas-kertas yang berserakan di atasnya.

Tak kupedulikan teriakan menggelegar komandanku itu, “YAAA~ Serda Lee Donghae!!”

 

 

“Ini hasil lab-nya, silakan.” Kata penjaga lab wanita itu seraya menyerahkan sebuah amplop besar putih bercap RS padaku.

Aku tersenyum menerimanya, “Gomapseumnida.” Dan seperti sudah kukira, petugas lab itu langsung tersipu melihat manisnya senyumku (author: huek!). Aku sudah nyaris berbalik pergi ketika tiba-tiba, rasanya aku mau kasih bonus untuknya deh… Yah, mumpung hatiku sedang senang.^^ Maka aku pun menoleh lagi ke arahnya dan… WINK! mengedipkan sebelah mataku sebelum langsung berbalik lagi dan pergi.

1….

2…

3, dan… BRUKK! Terdengar suara ambruk gadis itu ke lantai.

GOTCHA! Aku terkekeh bangga. Aih, berhasil lagi. Hebat kamu Lee Donghae!

Aku berjalan dengan hati senang seraya membuka segel amplop itu. “Hasil tes DNA Lee Donghae dan Lee Shinmi… yayaya… hasilnya, hasilnya…” gumamku seraya menelusuri kertas di hadapanku. Dan…

 

 

Result:

POSITIVE, 99.92289% MATCHED

 

Tu—Tunggu. Ini… apa-apaan ini?? Apa maksudnya ini?? Hei, adakah seseorang yang bisa menjelaskan padaku, ada apa ini?? Kenapa hasilnya seperti ini??

‘Positive’… Sebentar. Pasti aku hanya salah mengartikannya. Gemetar, aku membalik kertas itu, mencari bagian dengan full bahasa Korea yang memang ada di belakangnya. Bukan, bukan karena aku sebegitu bodohnya sampai bahasa Inggris dasar seperti itu saja aku tak mengerti, tapi… aku hanya ingin meyakinkan diriku sendiri kalau-kalau pengartianku akan tulisan itu salah… Kalau arti dari hasil itu bukanlah seperti yang aku pikirkan…

Tapi tetap saja,

 

Hasil:

POSITIF, 99.92289% DNA COCOK

 

Seol… ma… (Nggak… mungkin…) Ini nggak mungkin, nggak mungkin!! Pasti ada kesalahan! Aku dan Shinmi… punya hubungan darah?? Mana mungkin!  Dari mana? Dari siapa??

Buru-buru aku berlari kembali ke lab itu. Aku harus memastikannya. Hasil ini pasti salah, pasti ada sesuatu. Terpajang besar-besar tulisan di pintunya: SELAIN KARYAWAN, YANG TIDAK BERKEPENTINGAN DILARANG MASUK. Tapi aku tetap menerobos masuk. Aku punya kepentingan kok, tidak salah kan?

“Pak, maaf, Anda tidak boleh masuk!” seruan seorang petugas lab pria segera menyambutku.

Aku menyingkirkan tangannya yang memegangi pundakku dari belakang, “Persetan!! Saya butuh tes ulang atas hasil ini,” aku mengangkat hasil tesku dan menempelkannya tepat di depan wajahnya. “…cepat, sekarang juga!!”

Petugas itu terlihat mulai gentar dengan gertakanku, tapi ia mencoba sekuat tenaga untuk tetap tak menyerah. Pelan, ia menggeleng. Cih, sepertinya ini saatnya untuk sedikit tegas. Aku mencengkram kerah bajunya erat sebelum merogoh saku celanaku dan mengeluarkan dompet, menunjukkan ID kepolisianku. “Saya POLISI, dan membutuhkan pemeriksaan ulang atas hasil ini. Dengan segenap otoritas saya, SAYA MEMAKSA!”

Seketika suasana lab yang tadinya masih sedikit ramai dengan bisikan-bisikan petugas lab yang lain langsung menjadi sunyi. Ah, baguslah, masih banyak orang yang takut dengan polisi di negara ini ternyata. Aku kembali menatap dalam petugas lab di hadapanku itu. Ia mulai gemetaran, dengan teman-temannya yang sama sekali tidak dapat berbuat apa-apa untuk membantu. Takut-takut, ia pun akhirnya mengangguk. Aku tersenyum sinis, berterima kasih atas kesediaannya.

Ia pun mulai dengan berjalan ke sebuah lemari besar seperti kulkas (atau mungkin memang kulkas?) di belakangnya, dan membukanya, “Sampel darah tes dua minggu lalu… Ah, ini dia. Lee Donghae dan Lee Shinmi.” Ia bergumam sendiri sebelum kembali menuju ke meja kerjanya. Aku terus menempel intens di balik punggungnya, persis seperti orang menodong, hanya minus senjata tajam atau pistol saja. Aku pistol ada sih, tersembunyi di balik jaket kulit hitamku (perlengkapan standar polisi divisi investigasi), tapi tentu saja aku tidak akan sebodoh itu menggunakannya kali ini. Gini-gini, aku pasti masih akan tetap butuh pekerjaan ini untuk membiayai masa depanku kelak.

“Maaf… Pak.” Ia tiba-tiba berhenti dari pekerjaannya. “Tapi… untuk mendapatkan hasilnya sekarang juga, itu tidak mungkin… Minimal—“

“Ini, untuk kepentingan investigasi, Pak.” Potongku tajam dengam memberi penekanan pada tiap kata yang kuucapkan. ‘Kepentingan investigasi’? Hell yeah, whatever! Selama ia mengikuti kemauanku. “Saya tahu pasti tes seperti ini bisa dilakukan dalam waktu singkat. Bila Anda terus seperti ini, saya bisa saja mendakwa Anda atas tindakan menghambat penyelidikan kepolisian. Dan Anda tahu apa pidananya? Minimal, 5 tahun penjara.”

Keringat dingin seketika makin menghiasi wajah ‘sandera’-ku itu. “B—Baik, tapi… bisakah setidaknya Anda menunggu disana saja?” ia menunjuk sebuah kursi di salah satu meja kerja yang ada disitu. “Saya janji akan menyelesaikan ini dalam 30—tidak—15 menit.”

Aku berpikir sebentar sebelum akhirnya memutuskan untuk mengangguk dan memberinya ruang untuk bekerja. Tapi betul-betul deh, hanya melihatnya saja dari sini tanpa melakukan apa-apa benar-benar memberiku banyak kesempatan untuk berpikir. Sayangnya, apa yang aku pikirkan bukanlah hal-hal yang bagus. Semuanya pikiran jelek; bagaimana jika nanti hasil tesnya kembali positif? Apa yang harus aku katakan pada Shinmi nanti jika ia menelepon?? Dan masa depan hubungan kami yang pastinya suram kalau memang betul kami ternyata (amit-amit jangan sampai) sedarah! Oh, Tuhan…

Maka aku berkali-kali memutar ponselku seraya berdoa supaya Shinmi jangan dulu meneleponku. Setidaknya, jangan sekarang. Aku betul-betul masih belum tahu harus bicara apa, lagipula tentu saja aku masih ingin menunggu hasil tes kedua ini kan? Aku betul-betul masih menggantung harapan kalau hasil yang tadi memang salah, hasil itu pasti salah…

Drrt~ Drrtt~

Shit!! Ponselku bergetar. Tuhan, jangan Shinmi, tolong jangan Shinmi…

Yora calling.

Haaahh~ Dahaengida (leganya)… Aku pun segera mengangkatnya, “Eo, Saeng?”

“Oppa, gimana hasil tesnya?” tuh kan, aku sudah tahu dia bakal tanya hal ini.

Putar otak mode: on. “Umm… belum tahu, Saeng. Oppa sama Shinmi masih sibuk jadi belum ambil…”

“Oh gitu… Mau aku ambilin, oppa? Kebetulan aku lagi mau ke lab nih.”

Hehhh?? Dia mau ke lab?? Di saat lab lagi kusabotase begini?? ANDWAE!! “Eng…” putar otak lagi mode: on. “Ah, matda (betul juga)! Yora, dongsaeng, untung kamu telepon. Oppa baru ingat nih, tadi Sungmin telepon oppa, katanya dia minta dikirimin hasil general check-up-nya yang dua minggu lalu ke email kantornya… Sekarang, katanya.”

“Eh? Sekarang, oppa? Wah, masih aku simpen nggak ya? Masa harus cari ke bagian arsip dulu, sih…”

Nah, iya tuh, cari yang lama ya dongsaeng sayang… “Iya, Saeng, sekarang. Ya sudah cepetan cari gih. Kayaknya sih penting banget deh… Sudah ya, oppa nggak mau ganggu kamu. Jangan lupa dicari sekarang, kasian Sungmin kalau kamu tunda-tunda. Oke? Annyeong.”

Klik. Sambungan langsung kuputus. Fiuuhhh~

“Maaf, Pak. Ini hasilnya.” Tiba-tiba si petugas lab tadi sudah menghampiriku sambil menyerahkan selembar kertas yang masih hangat khas baru di-print.

Aku menoleh dan segera berdiri, “Baik, terima kasih atas kerjasama Anda, Pak. Saya mohon diri.”

Aku menggenggam kertas itu sambil berjalan dengan perasaan berdebar-debar. Tapi aku menahannya. Aku menahan diri untuk tidak membukanya, tidak dulu, tidak disini. Aku mengantisipasi segala reaksiku nanti, karena tidak mungkin kan masih dalam jarak pendengaran karyawan lab, tiba-tiba aku berteriak baik karena senang ataupun kesal karena hasil ini? Bisa-bisa ketahuan kalau tes ini hanya untuk kepentingan pribadiku dan bukan investigasi. Maka aku pun mempercepat langkah menuju mobil, setidaknya di dalam mobil, apapun reaksiku akan hasil tes ini, tidak akan ada yang bisa menggangguku. Bahkan jika hasil ini…

 

 

“Positif?? Nggak mungkin, oppa! Aku mau protes ke RS itu sekarang, pasti ada kesalahan—“

“Shinmi, terimalah!” aku ikut bangkit untuk menahan tubuhnya yang sudah siap pergi meninggalkan meja kami di restoran 24 jam itu. Kami memang janji bertemu disini setelah semua pekerjaannya di sekolah selesai, karena ia bilang ia tak sabar melihat hasilnya. Ia tidak tahu kalau hasilnya tidaklah seperti yang kami harapkan. Ya, hasil tes kedua itu ternyata kembali positif… “Ini sudah hasil yang kedua! Aku juga awalnya nggak percaya makanya langsung meminta mereka buat tes ulang, tapi setelah hasilnya kembali sama seperti ini, artinya kita memang sudah nggak bisa apa-apa lagi… Mengertilah, Shinmi…”

Ia terlihat mulai menangis tapi sebisa mungkin menghapus airmata itu sebelum terlanjur jatuh. “Tapi… gimana mungkin aku bisa mengerti, oppa? Gimana mungkin hasil itu bisa positif? Kita nggak mungkin punya hubungan darah! Darimana? Dari siapa??” emosinya mulai menyeruak seiring airmatanya yang semakin deras dan tidak mampu lagi ia hapus satu per satu. Aku sekuat tenaga menahan diri untuk tidak ikut menangis melihatnya. Tidak boleh, sudah seberapa sering ia melihatmu menangis, Donghae?? Dan kini, disaat dia menangis, kewajibanmulah menenangkannya…

Maka aku yang tadinya hanya mencengkram kedua bahunya pun kini menariknya dalam pelukanku, “Sssshh, uljima… Shinmi-ku gadis yang kuat.” Aku memaksakan diri tersenyum seraya merapikan rambutnya sebelum membimbingnya kembali duduk di kursi, menghindari tatapan pengunjung-pengunjung lain restoran itu yang sudah mulai menyadari sedikit kehebohan di meja kami. Setelah yakin kalau ia sudah lumayan tenang, barulah aku kembali melanjutkan, “Aku tahu ini memang sulit kita terima, maka dari itu sekarang yang perlu kita lakukan adalah mencari kebenaran tentang ini, Shinmi… Mencari asal-usul kita.”

Ia menengadahkan kepalanya dari cangkir teh hangat yang memang sedari tadi digenggamnya demi mendengar semua perkataanku.

“Kalau memang kita bersaudara, berarti kamu adalah adikku, adik kami bertiga. Tapi ibuku nggak pernah mengandung lagi setelah melahirkan kami. Berarti satu-satunya kemungkinan adalah kamu, adik kami dari satu ayah, tapi ibu yang berbeda…”

Ia seketika mendelik, “Mandeuljima, oppa!! (Jangan membuat-buat, oppa!!)” teriaknya marah sembari meletakkan cangkirnya kasar di atas meja. “Kalau yang oppa maksud adalah ibuku sebagai wanita lain, aku nggak terima! Aku nggak terima ibuku dibilang wanita lain, wanita simpanan… Aku anak ayah dan ibuku, aku yakin, dan akan aku buktikan itu!!” serunya seraya meraih tas tangannya dan segera pergi meninggalkanku.

Aku, entah kenapa, hanya bisa terdiam. Aku bahkan tidak mampu menahannya untuk tetap tinggal, dan akhirnya hanya membiarkannya pergi begitu saja. Aku tidak tahu, hanya saja, ada sebagian diriku yang sadar kalau aku tidaklah membuat-buat… Karena aku sadar, semua kata-kata itu berdasarkan hasil pemikiranku yang berdasar, pemikiran dari diriku yang lain, seorang Lee Donghae sang penyidik kepolisian.

 

***

 

Sudah seminggu ini pasca aku dan Shinmi mengetahui kenyataan pahit itu, kenyataan kalau kami ternyata bersaudara. Dan sejak hari itu pula, aku hilang kontak dengan Shinmi. Ia tak pernah lagi membalas SMS maupun teleponku, entah kenapa. Bahkan ketika suatu kali aku berhasil menghubunginya dengan menggunakan ponsel temanku, ia hanya mengatakan kalau ia sedang sibuk, dan segera menutupnya lagi. Dan sekarang sudah masuk weekend, dengan aku hanya terbengong-bengong saja di rumah seperti ini. Haah~ sendirian di kala weekend begini sangat ‘tidak Lee Donghae sekali’ deh. Dan disinilah aku baru sadar, betapa berartinya keberadaan Shinmi bagiku selama ini…

Sedang mengenai ideku tentang pencarian asal-usul kami itu, sudah seminggu ini juga aku akhirnya tidak melakukan apa-apa. Yah, sepertinya aku memang kurang jantan, karena jujur, aku sedikit takut jika nantinya penemuanku malah akan lebih mendukung kenyataan pahit itu. Tapi ternyata, yang namanya kenyataan pasti akan tetap menghampiri pemiliknya, sejauh apapun kita menghindar. Dan sepertinya, itulah yang terjadi padaku kali ini…

Aku tak sengaja melewati ruang keluarga kami ketika kulihat eomma-ku sedang sibuk menatap dan membalik-balik sebuah album foto disana sendirian. Masih kesepian akibat weekend kelabu, aku pun akhirnya memutuskan untuk mendekatinya. “Eomma.” Sapaku.

“Ah, Donghae-ya.” ia menoleh seraya menghapus sesuatu dari sudut matanya. Airmata?

“Eomma ureo? (Eomma nangis ya?)” tanyaku seraya mempercepat langkahku ke arahnya.

Ia menggeleng, “Ani.” Aku memicingkan mataku, tak percaya. Beliau akhirnya tertawa kecil, “Aigoo, arasseo, arasseo. Jogeumman. (Aigoo, iya, iya. Cuma sedikit kok.)” katanya sambil memberi isyarat ‘sedikit’ dengan jempol dan telunjuknya. Aku langsung mengambil duduk di atas pegangan sofa eomma-ku dan memeluknya sayang.

“Eomma gwaenchanha…” tenangnya sambil tersenyum seraya menepuk-nepuk lenganku yang memeluknya. “Cuma lagi sedikit kangen aja sama appa-mu, namdongsaeng eomma satu-satunya, Soomanie. Dia betul-betul pergi terlalu cepat…”

Aku malah makin memeluknya begitu mendengar itu. Oh ya, lupa bilang. Eomma dan appa-ku yang sekarang memang bukan orangtua kandungku, mereka itu tadinya paman dan bibiku dari pihak ayah. Tapi setelah orangtuaku meninggal 2 tahun lalu, mereka akhirnya mengangkat kami menjadi anak, dan sejak itu kami bertiga (aku, Sungmin, Eunhyuk) resmi menjadi anggota keluarga dr. Park Gildong, ‘mantan paman’-ku.

Eomma-ku masih tersenyum—sekarang aku tahu murah senyum adikku Yora turun dari siapa—dan akhirnya kami malah bersama-sama melihat semua album-album yang ada. Wah, daebak! Dari jaman eomma-ku sekarang dan appa kandungku masih remaja, sampai akhirnya masing-masing menikah dan punya anak, semuanya ada! Ada banyak foto ibuku juga… Ini waktu beliau masih hamil kami ya? Wah, perutnya besar sekali! Pasti berat bawa tiga anak kemana-mana seperti itu ya… Tak terasa airmataku menetes. Ah, aku kangen sekali padanya…

Lain album, lain lagi ceritanya. Kali ini sudah masuk ke masa-masa kecilku, kembaranku, dan dua (mantan) sepupuku, Ryeoru noona dan Yora. Terlihat salah satu foto dimana aku menangis dengan Ryeoru noona di sebelahku, tersenyum penuh kemenangan sambil memegang mainan. Wah, ternyata bakat barbar noona-ku dan bakat cengengku memang sudah ada sejak kecil -___-

Ada lagi, fotoku sekeluarga di bandara. Ini pasti sebelum kami migrasi ke Jepang ya… Fotoku bertiga dengan dua kembaranku waktu shichi-go-san (perayaan anak umur tiga, lima, dan tujuh tahun di Jepang)… Ibuku pasti yang mengirim ini kesini. Tetes demi tetes airmata pun semakin menghiasi pipiku. Aku buru-buru menghapusnya, hingga tersisalah sebuah album yang berukuran lebih kecil dari yang lain.

Kami bersama-sama membukanya, dan ternyata isinya adalah foto-foto ayahku semasa kuliahnya. Foto waktu study trip, banyak foto bersama ibuku (iyalah, mereka sudah pacaran dari jaman kuliah lho), dan juga… foto ayah dan ibuku, bertiga dengan seorang gadis di tengah mereka. Tapi… tunggu. Sepertinya aku… kenal wajah itu… Bukankah dia… ibu Shinmi??

Seketika aku mulai membalik-balik album itu cepat. Banyak, banyak sekali foto mereka bertiga. Ya, aku yakin, aku yakin itu ibu Shinmi, tidak salah lagi. Tapi apa, kenapa ia bisa punya banyak foto dengan orangtuaku? Apa hubungan mereka?

“Eomma, ige—“

“Oh, itu. Itu sahabat ayah dan ibumu, No Mari.” No Mari. Betul, nama ibu Shinmi. “Mereka sudah sahabatan sejak awal kuliah. Kemana-mana bertiga, bahkan ketika ayah dan ibumu akhirnya pacaran, disitu yang akhirnya membuat ibumu sedikit kurang nyaman dengan itu.” Jelas eomma-ku sebelum menatap dalam ke arahku, seperti ragu melanjutkan ceritanya.

“Ah, kamu juga sudah besar ya, jadi tak apa sepertinya eomma cerita ini.” Ia mengelus rambutku penuh sayang. Aku makin menatapnya penasaran. Ada apa sebetulnya? “Kamu tahu alasan kalian sekeluarga pindah ke Jepang dan menetap disana?”

Aku menelengkan kepalaku tak yakin, “Lanjut studi appa, kan?”

Eomma-ku menggeleng. “Nah, kita fastforward sampai ketika kalian lahir ya. Jadi ternyata, sampai ayah dan ibumu menikah dan memiliki kalian itu, ayahmu dan Mari masih suka berhubungan. Puncaknya adalah ketika umur kalian belum genap satu tahun, waktu itu ibumu memergoki ayahmu membawa Mari berdua saja ke rumah kalian. Dari situlah ibumu minta kalian sekeluarga pindah jauh-jauh agar ayahmu putus kontak dengan Mari. Dan pindahlah kalian ke Jepang tak lama setelahnya… Singkat kata, No Mari-lah penyebab kepindahan kalian itu.”

Aku, masih terbelalak mendengar penjelasan eomma-ku itu. Jadi… ayahku dan ibu Shinmi memang betul-betul punya hubungan? Jadi Shinmi ternyata memang betul adalah… adikku?

 

TBC

Advertisements
 
18 Comments

Posted by on March 15, 2011 in Super Junior, [THE SERIES]

 

Tags: ,

18 responses to “[THE SERIES] DON’T CALL ME OPPA – Chapter 3

  1. babyhae

    March 15, 2011 at 5:32 pm

    waaaa….udah ada part 3…..

    Donghae-yaaa….masih aja tebar pesona. itu perawat sampe pingsan di tempat.

    Lola, bwahahaha..komandannya itu Jo Kwon? pantes anak buahnya kayak Donghae wkwkwk. ngakak beneran pas baca bagian komandan-serda. gak beres itu kantor polisi

    ciri khas Hae, keras kepala….minta ngecek ulang, seenak sendiri pula caranya nodong pake jabatan XD

    Shinmi…seperti saya, kalo udah marah lama tenangnya..wow…bisa sama lagi. keren deh

    ini cerita bikin saya ikutan panik juga lho..deg-degan dengan segala urusan sodara bersodara ini

    wahhh,,,penasaran sama lanjutannya

    Lola,,,gomawo udah dibikinin cerita yang bagus gini^^

     
    • lolita309

      March 15, 2011 at 9:04 pm

      Huaaa sama2.. *hug* 😀

      Makasi yaa sayaang, haha emang nggak beres itu kepolisian, komandannya aja kayak gitu stres :p

      Hihiy ditunggu aja yaa sayang, maaf yg ini agak lama, yah karena tragedi keapusnya ff yg sudah panjang2 kutulis ini ​‎​‎​(-̩̩̩-͡ ̗–̩̩̩͡ )

      Btw kira2 uda bs nebak blm arahnya kmn? Hehehe

       
      • babyhae

        March 16, 2011 at 4:48 pm

        *hug Lola*

        itu komandan pake hanbok pula,,,,stress bener wkwkwk. untung masih punya Siwon di sana,,,seimbang ahahah

        gwenchana, Lola…saya sabar menunggu kok. take your time^^

        nah ini nih, sampe sekarang saya belom bisa nebak ke mana arahnya dua orang ini ntar. aduh,,maklum saya lemot soalnya XDD

         
  2. megumiTM

    March 15, 2011 at 6:25 pm

    Keren unnie~~~~
    >.<
    Ya ampun ya ampun ya ampun~
    Penasaran bgt sama lanjutannya~

    Lanjutannya secepatnya ya unnie~ #maksa
    XD

     
    • lolita309

      March 15, 2011 at 9:00 pm

      Sipp… Gomawo yaaa sayaaang 😀

       
  3. Zarararakuda

    March 15, 2011 at 8:55 pm

    Ige mwoya -.-? Sedih amat.sabar ya babyhae onn.
    Eh,tumben,pendek ffnya,onn *digeplak,gatau diri*

     
    • lolita309

      March 15, 2011 at 8:59 pm

      Ini chapter terpanjang dalam sejarah untitled malah saeng -.-
      Hahaha, makasi uda baca^^

       
  4. Gdictator710

    March 15, 2011 at 11:31 pm

    Komndanx jo kwon e
    ngakak mbyangnx
    daebak
    Tp
    *clingakclinguk cri unyuk*

     
  5. Iwang

    March 16, 2011 at 1:45 am

    Tes~

     
  6. Iwang

    March 16, 2011 at 1:50 am

    Ngomen g msuk2. .==”
    . . .cba lg. .
    Omo~ bang umin drimu propesional~ jdi inget nak2 suju yg sakit parah tpi tetep maksain krja. .
    . . .
    Hae, give me ur wink~
    meleleh. .hehe. .
    .. .
    Itw jgn2 hasil lab.a pnya.a hae ma umin kali y. .haha. .nebak2. .
    . . .
    Lanjut. .

     
  7. Oepieck

    March 16, 2011 at 11:03 pm

    ha? adik? dongsaeng? sister? *kesan.a goblog bgt y, wakaka~
    ige mwoya?!
    orang cuma mau nikah halangannya bejibun, ck ck ck
    kasian shinmi, baby hae sabar ya~
    ayo donghae oppa, terus selidiki! berjuanglah biar kmu bisa sama shinmi! Fighting!!
    Keren onnie! ^^

     
  8. Oepieck

    March 16, 2011 at 11:08 pm

    ha? adik? dongsaeng? sister? *kesan.a goblog bgt y, wakaka~
    ige mwoya?!
    orang cuma mau nikah halangannya bejibun, ck ck ck
    kasian shinmi, baby hae sabar ya~
    ayo donghae oppa, terus selidiki! berjuanglah biar kmu bisa sama shinmi! Fighting!!

    yang bikin kaget itu keluarga lee yang dari awal kukira sangat harmonis dan adem ayem ternyata sooman-nya pernah selingkuh, makin penasaran ama cerita selanjut.a nih.
    oiya, ngakak berat waktu dongdong ngasih ‘bonus’ buat perawat.a itu, kwkwk~
    Keren onnie! ^^

     
  9. wiehj

    March 25, 2011 at 11:10 pm

    eiyyy,ini mah pasti ketuker dee hasil tes nya am si sungmin punya..
    masa iya hae am shinmi sodara-an..maldo andwe~ *sotoynya kumat,mian cingu* :p
    bisa pas amatt umma nya shinmi tnyta punya hub am pumonim nya hae..hae jangan salah sangka dulu yahhh,pasti ketuker ntu am si umin punya..hahhahaha

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: