RSS

[THE SERIES] TRAGEDI YORA

11 Mar

TRAGEDI YORA

Written by: Lolita Choi (@lolita309)

Starring: Choi Siwon


“Na wasseo… (Aku pulang…)” Seru Ryeoru begitu memasuki rumahnya. Rumah keluarganya, bukan rumahnya bersama sang suami, Park Jungsoo aka Leeteuk. Si kembar nomor 2, Eunhyuk, langsung bangkit dari malas-malasannya di sofa ruang tamu (sambil garuk-garuk perut, cuma pake singlet+celana piyama pula, eww) begitu mendengar suara boombass sang noona.

“Noona! Ngapain?”

Ryeoru langsung menjatuhkan diri ke atas sofa sebelum menjawab, “Memangnya aku nggak boleh pulang ke rumahku sendiri, ya?”

“‘Berantem, terus pulang ke rumah orang tua’, ya?” Tebak Eunhyuk ngasal. Ryeoru segera mengayunkan tas tangannya buat menggeplak adik keduanya itu (Sungmin diitung adik pertama soalnya). PLAK!

“Adaww!! Ihh, barbar amat sih si noona ini!” Teriak si korban seketika.

“Heh, kebanyakan ketemu Yora di rumah ya? Hanguk yeoja ya memang seharusnya ‘berani bertindak’ kayak gini tau. Adikmu itu aja yang entah dapat gen Putri Jawa (?) dari mana sampai ‘klamar-klemer’ begitu. Makanya sekali-kali keluar, jangan di rumah aja, ketemunya Yora lagi Yora lagi kan.”

“Itu namanya ‘feminin’, noona… Lagian dia adikmu juga, kali -___-.” Cibir Eunhyuk sambil berpikir, gimana bisa eonni-yeodongsaeng beda banget gini ya. “Nah terus, noona ada apa pulang weekday-weekday begini, sendirian pula?”

“Berantem sama oppa.”

Eunhyuk langsung sweatdrop. “Laaah tuh kan bener…!! Terus ngapain geplak kepala aku tadi, hah??”

“Hehehe, pengen aja. Kepalamu kayaknya enak (?) buat digetok sih.” Jawab Ryeoru sambil garuk-garuk kepala. Tapi akhirnya dia baru ingat sesuatu. “Naaaah, kamu sendiri kenapa nggak ngantor??”

“Sakit.” Jawab Eunhyuk cepat. “Dan ternyata masih ketemu noona lagi, noona lagi. Aduuuh pecat aku aja deh… T.T”

“Yaaa! Aish, ee ai ga jinjja… (Anak ini betul-betul ya…)” Decak Ryeoru kesal. “Geureom eomma neun, eodi? Ni hyungie rang dongsaengdeul tto…? (Kalau gitu eomma mana? Hyung sama dongsaeng-mu juga…?)”

“Arisan. Kerja. Kerja. Magang.” Jawab Eunhyuk sesuai urutan: sang ibu-Sungmin-Donghae-Yora. Ia kemudian memperhatikan Ryeoru lekat-lekat, dari ujung kepala sampai kaki. “Ah geujyo, betul juga, biar bagaimanapun noona kan yeoja, ya. Noona, mau nolongin namdongsaeng-mu yang lagi sakit ini nggak?”

Firasat Ryeoru langsung nggak enak, “Apa dulu?”

“Noona bisa dongengin aku nggak? Katanya orang sakit kan harus istirahat, masalahnya aku nggak bisa tidur… Padahal badanku rasanya lemes semua… Beneran panas nih panas,” katanya sambil membawa tangan Ryeoru menyentuh dahinya. Dan benar, panas. “…dan waktu aku kecil biasanya eomma-ku bakal dongengin aku biar aku bisa tidur… Ya? Butakhalkke. (Aku mohon)”

Ryeoru awalnya mau menolak, tapi serangan puppy eyes plus kedap-kedip mata sang adik ketemu gede-nya ini langsung membuatnya pengen muntah luluh. Pasti dia kangen sekali sama almarhumah eomma-nya, pikirnya. “Ya udah, naik ke kamarmu cepetan.”

“Horeee…!!” Seru Eunhyuk sambil langsung melonjak dari sofa dan berlari menuju kamar bercorak garis-garis kuning miliknya dan sang adik kembar, Donghae, yang berada di lantai dua.

***

Udah disini, terus mau apa ya? Pikir Ryeoru bingung sambil melirik sang adik yang sudah siap tidur dibalik selimutnya. Eunhyuk nyengir, betul-betul tak sabar mendengar dongeng seperti yang dulu sering dilakukan ibunya. Ryeoru makin galau melihat adiknya betul-betul mengharapkan cerita darinya itu. Masalahnya, jujur saja dia bukan tipe cewek yang suka dongeng, fairy tale-fairy tale-an begini macam sang yeodongsaeng Yora! Waah, gawat… Mau cerita apa ini?

Aaahh, bicara tentang Yora… “Oh iya, dulu waktu kamu pertama pindah kesini, aku pernah janji mau cerita tentang ‘tragedi Yora’ dua tahun lalu kan?” Akhirnya ia menemukan topik cerita, biarpun harus menistakan sang adik, hahaha.

Eunhyuk mengangguk-angguk senang. Apa aja boleh deh, yang penting dia bisa tidur. Ryeoru tersenyum. “Nah, jadi gini…”

***

“Lalalala…” Seperti biasa Yora memulai ritual pagi harinya sebelum ngampus dengan mencari baju dan printilan lain-lainnya di walk-in-closets luas pribadinya di kediaman keluarga Park itu, masih fresh from the bathroom dengan mantel mandi membalut badan. Ada dua kamar untuk menyimpan segala macam tetek bengek gadis yang baru saja memasuki tahun keduanya di Fakultas Kedokteran Universitas Korea itu: satu di kamar yang bernuansa pink, untuk menyimpan baju-bajunya yang kebanyakan dress dan segala macam cardigan, rok, jeans, beserta koleksi coat branded-nya, dan satunya lagi, yaitu kamar yang dicat garis-garis warna baby yellow untuk semua tas dan sepatunya dari mulai flat shoes sampai kill heels.

Rampung memilih semua outfit untuk hari itu, ia sudah akan kembali ke kamarnya ketika tiba-tiba ia bertemu sang ayah yang (tumben-tumbennya) sedang tidak bekerja dan menunggu di luar ‘lemari raksasa’-nya itu.

“Appa.” Sapa Yora kaget.

“Hei, Yora.” Jawab sang ayah. “Appa mau bicara sini.” Katanya sambil mengajak Yora memasuki kamar gadis itu yang memang tepat berada di sebelah ‘lemari tas dan sepatu’-nya, di ujung koridor lantai dua itu.

“Jadi begini, RS appa sebentar lagi mau mengadakan baksos dan lelang amal, nah berhubung appa tau kalau anak appa yang satu ini adalah anak yang baik dan suka berbagi, jadi appa juga sudah mencatatkan nama kamu sebagai donatur baksos dan lelang itu. Tidak apa-apa kan?”

Yora tersenyum seraya menggeleng, “Nggak apa-apa kok, sama sekali. Tapi aku mau minta maaf dulu ya kalau nanti aku nggak bisa kasih banyak, appa tau kan aku sama Siwon juga lagi nabung buat biaya nikah setelah aku lulus nanti.” *nyengir*

Seketika, sang ayah langsung terbatuk-batuk, “Ni-Nikah??”

“Hehehe, iya. Buat apa kita tunangan bulan kemarin kalau kita nggak serius, appa?” Jawabnya sambil tersenyum tanpa dosa.

dr. Park Gildong hanya bisa menghela napas mendengar lagi-lagi ‘keter-dewasaan’ sang putri bungsu. Tapi ia langsung menggeleng, “Ya, lupakan dulu itu. Jadi begini, malah sebetulnya kamu tidak perlu menyumbang uang, karena konsep baksos RS appa kali ini adalah pemberian barang dan lelang. Lebih bagus kan?”

Firasat Yora langsung tidak enak, “J-Jadi, maksud appa sebetulnya apa nih?”

“Appa mau kamu nyumbangin minimal setengah dari koleksi baju-tas-sepatu kamu, yang kalau ditotal bisa menyentuh angka puluhan juta won itu.” Kata Park-ssi to-the-point.

JDERRR!!!

***

“Terus Yora mau gitu noona?” Sela Eunhyuk.

“Lho, belum tidur juga kamu?”

“Abis seru, itu juga sejarah kamar ini sama kamar sebelah kan? Jadi ini bekas lemari sepatu dan tas, ya…”

Ryeoru menghela napas lelah, begini kali rasanya ngurus ‘big baby’ ya? “Ya udah, tapi kalau sampai ceritanya abis kamu belum tidur juga, awas ya.”

***

Akhirnya, karena tak ingin kehilangan muka sebagai gadis anggun-baik hati-dermawan dan tidak sombong, Yora pun menyanggupi keinginan sang ayah untuk menyumbangkan setengah dari koleksinya, biarpun dalam hatinya menangis T.T

Dengan semangat menggebu-gebu ia pun langsung memulai keesokan harinya dengan niat menyortir mana yang akan disumbangkan dan di-keep. Tapi kenyataannya…

“Seharian cuma dapat ini aja nih?” Ryeoru yang sepulang kantor langsung mengadakan sidak ke masing-masing ‘kamar penyimpanan’ adiknya mengangkat dua helai rok dan dress, juga sepasang sepatu flat dan tas kulit warna coklat dibantu sang kekasih, Jungsoo.

Yora mengangguk lemah, “Tapi itu juga bagus kan? Abis aku sayang semuanya…” Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling ‘bayi-bayinya’, sepatu dan tas-tas itu.

Ryeoru geleng-geleng kepala sambil ikut melihat ke sekeliling kamar yang tertata rapi layaknya display butik itu, “Nah, ini.” Ia akhirnya mengambil sebuah coat warna abu-abu yang terlihat hangat. “Aku kayaknya udah lama nggak lihat kamu pakai ini, daripada sia-sia mending disumbangin kan?”

“Itu kado dari Siwon.”

Merasa maklum, Ryeoru kembali mencantolkan coat itu ke gantungannya lagi, dan mengambil barang yang lain, kali ini selop kaca dengan bunga pink yang sangat cantik. “Ini? Kamu juga jarang pakai ini kan? Ini bagus sekali lho, kalau dilelang pasti mahal.”

“Itu belinya di Singapura eonni, nggak ada yang model kayak gitu disini. Aku jarang pakai ya karena aku sayang…”

Ryeoru bertukar pandang lelah dengan sang pacar. Hhhh~

“Ini? Ini?” Kali ini giliran Jungsoo aka Teuki mengangkat sepasang wedges dan cocktail dress yang terlihat kasual tapi anggun.

“Oppa, lupa ya? Itu kan dari oppa! Aku sengaja nggak kasih karena takut oppa tersinggung…”

Heh? Dibeliin Teuki?? Ryeoru langsung mendelik.

Tapi Teuki tak menyadarinya. “YA, nggak apa-apa kok… Nanti oppa beliin lagi yang lebih banyak–aww aww, Ryeoru!!” Ia menjerit karena tiba-tiba sang pacar mencubit pinggangnya keras.

“Oppa tuh gimana sih, sia-sia lah kalau oppa malah beliin lagi! Jadi cowok kok ya gampangan banget!” Bisik Ryeoru kesal di telinga Teuki yang barusan juga dengan sukses dijewernya.

***

“Loh? Itu beneran baju sama sepatunya Yora dibeliin Teuk Hyung? Kok aneh?” Sela Eunhyuk lagi, yang ternyata belum tidur juga.

Ryeoru menghela napas, “Bukan cuma baju sama sepatu itu ternyata. Bahkan daripada barang-barang yang dikasih Siwon, barang-barang dari Teuki jauh lebih banyak!” Ryeoru geleng-geleng kepala. “Jadi ceritanya tiap kali mau beliin noona hadiah, hyung-mu ajak Yora buat pilihin. Dari situ deh, berasa punya anak kembar, kalau yang satu dibeliin, yang satunya juga harus. Gitu…”

“Trus noona nggak marah atau cemburu gitu?”

Ryeoru menatap wajah sang adik, “Coba lihat muka malaikatnya Yora, dan mari kita tes apa kamu bisa marah sama dia.”

Eunhyuk cuma mengangguk-angguk, menyadari itu benar adanya.

***

Di tengah-tengah kebingungan 3 orang itu akan bagaimana menyortir koleksi-koleksi Yora, tiba-tiba dr. Park masuk, mau inspeksi juga sepertinya.

“Ah, aboji.” Sapa Teuki begitu ayah sang pacar masuk.

“Appa.” Sapa Ryeoru dan Yora berbarengan.

“Sudah, Yora?” Sapa beliau setelah terlebih dulu mengangguk atas sapaan Teuki dan anak-anaknya. Yora menggeleng. dr. Park menarik napas panjang, “Hari ini appa mau ke Mokpo selama tiga hari, seminar kedokteran. Pokoknya setelah appa pulang, yang ada di kamar inilah yang akan appa sumbangkan. Oke? Jadi cepat diselesaikan evakuasi barang-barang yang mau kamu simpan, karena appa juga sudah bilang kan kalau kamar ini juga mau dikosongkan untuk kamar tamu?”

Yora hanya bisa mengangguk pelan.

Tapi setelah sang ayah pergi…

“Huaaaa oppa, eonni, eottokhae??”

Dua hari kemudian,

“Yora masih tuh?” Leeteuk yang memang biasa mampir ke rumah Ryeoru (baca: numpang makan malam) sepulang kerja memberi isyarat dengan dagunya ke arah dua kamar terhubung yang pintu kacanya terbuka lebar itu, walk-in-closets Yora.

Ryeoru mengangguk, “Kasian, dia jadi lupa makan gara-gara tiap hari, bangun tidur, berkutat sama tumpukan baju-sepatu-tas itu sampai waktunya kuliah. Pulang kuliah, langsung balik lagi niat lanjut menyortir, yang padahal aku lihat sih sia-sia…” Ryeoru bersedekap sambil geleng-geleng melihat adiknya yang duduk bersila di lantai, sibuk mengangkat satu item, menggeleng. Angkat satu lagi, geleng lagi. Terus seperti itu.

“Eh? Tapi dia tetap makan kan?” Teuki langsung khawatir.

Ryeoru mengangkat bahu, “Molla~ Dan parahnya, dia nggak mau dibantu, katanya mau urus semuanya sendiri–”

“Ryeoru, Jungsoo, makan malam sudah siap, tolong panggil Yora juga ya.” Tiba-tiba suara nyonya di rumah itu sudah terdengar dari dasar tangga.

Ryeoru mengangguk kemudian menatap pacarnya, “Yak, tantangan.”

Tapi ternyata, mereka sudah didului. Terlihat keberadaan dan suara percakapan antara Yora dan pengurus rumah tangga mereka, Ga-eul imo (bibi) dari luar pintu kaca ‘kamar tambahan’ gadis itu.

“Agassi… Ayo makan…”

“Nanti aja, aku bisa makan sendiri kok imo… Geokjeonghajimayo (jangan khawatir).”

“Tapi agassi belum makan dari dua hari lalu kan…”

Teuki si penyayang Yora langsung bereaksi, “Hah, dua hari lalu??”

Ryeoru hanya mengangkat bahu.

Dan benar saja… “Agassi! Agassi!!” Tubuh Yora tiba-tiba terkulai diiringi jeritan sang pengasuh. Ryeoru dan Leeteuk buru-buru menyeruak masuk ke dalam karenanya.

Dan terlihat wajah pucat Yora dengan mata terpejam dan bibirnya yang mengering. Rambutnya dikuncir asal, yang betul-betul sangat ‘tidak Yora sekali’. Ryeoru sangat panik dibuatnya.

“Yora! Yora!! Yora, jangan bikin eonni khawatir!” Ia menepuk-nepuk pipi adiknya berkali-kali sampai tangan Teuki menahannya.

“Dia pingsan, Ryeoru. Cepat panggil dokter!”

Hari ketiga,

Yora baru siuman dari pingsannya setelah full sehari semalam tak sadarkan diri, dan mendapati tangannya sudah diinfus begitu saja. Ia langsung mencari-cari ponselnya, si Motorola V3 pink, dan segera melihat jam. Sudah petang di hari Sabtu. Sabtu, Sabtu… Rasanya ada sesuatu dengan hari ini, tapi ia tidak begitu ingat apa itu…

Sayup-sayup Yora mendengar suara-suara berisik dari luar kamarnya. Tapi begitu mencoba bangun… ternyata ia masih begitu lemah hingga akhirnya terjatuh lagi. Apalagi dengan infus yang masih tertancap di pergelangannya. Dia kenapa sih? Ia bahkan juga lupa hal itu… Kepalanya masih berat sekali, apa mungkin sebaiknya ia tidur lagi saja? Ya sepertinya itu yang terbaik…

“Panasnya sudah turun, syukurlah…”

Yora terbangun dengan suara dan sentuhan tangan sang ibu di keningnya. Dan begitu membuka mata, ternyata tak hanya beliau, ada juga Ga-eul imo, pengurus rumah tangga keluarga Park sekaligus pengasuhnya dan sang kakak sejak kecil. Ia mengangkat lengannya perlahan, infus sudah dicopot. Maka tanpa ragu lagi ia pun mencoba bangun dan benar saja, tubuhnya sudah kuat melakukan segalanya lagi. Lagi-lagi hal pertama yang dicarinya adalah ponsel. Benda mini keramat nan ajaib itu memang lebih suka ia gunakan untuk mengecek waktu daripada jam dinding besar-besar yang terpajang di atas pintu kamarnya, tepat di hadapan ranjangnya ini. Minggu pagi. Dan ada reminder disitu: kerja kelompok, rumah Yongha.

Seketika Yora langsung melompat dari kasurnya tanpa berpikir apa-apa lagi. “Wuaah, eomma, aku ada kerja kelompok di rumah teman! Ga-eul imo, bisa tolong bilang Geunsuk ahjussi buat siapin mobil dan anter aku? Sekarang ya, butakhalkke.” Ujarnya sembari berlari ke kamar mandi di dalam kamarnya itu.

Lee Eunjyo-ssi, eomma-nya, bahkan belum sempat berkata apa-apa pada putrinya yang baru saja bangun dari satu setengah hari pingsannya itu. Apa jangan-jangan bungsunya itu sama sekali tidak–atau mungkin belum–ingat kejadian penyebab sakitnya ini? Maka beliaupun akhirnya memilih menyiapkan sarapan, setidaknya jika nanti Yora kembali ingat semua, ia tidak akan sakit lagi karena sudah sempat sarapan…

Dan benar saja, 30 menit kemudian, setelah Yora selesai mandi,

“AAAAA!! EOMMA, IMODEUL, KEMANA SEMUA BAJUKU???”

***

“Err… Rasanya aku bisa ngebayangin tuh gegernya rumah ini saat itu…” Eunhyuk bergidik ngeri bahkan hanya dengan memikirkan teriakan maut adik perempuannya itu.

“Kacau, K-A-C-A-U.” Timpal Ryeoru seketika sebelum akhirnya tersadar dan menoleh ke arah adik sakitnya, “Eh… yah, belum tidur juga ini anak…”

***

Dan pasca itu, kediaman keluarga Park banjir airmata. Tiada hari berganti tanpa Yora menangisi kepergian koleksinya itu. Di dalam hatinya, ia betul-betul tidak terima sang ayah bermain curang dengan menyumbangkan seluruh bajunya ketika dia tak berdaya karena sakit. Biarpun sebetulnya dr. Park sama sekali tak menyalahi aturan yang telah mereka sepakati yaitu tiga hari, tetap saja bagi Yora itu curang! Walhasil gadis itu kini melancarkan aksi diam; menolak keluar kamar, bicara, bahkan makan, hanya sesekali menangis jika ingat barang-barang kesayangannya itu lagi. Menurutnya ini cara yang lebih ‘elegan’ untuk protes dibanding harus marah-marah ngamuk tak karuan di depan sang ayah. Well, itu tidak sopan kan?

Dan disini, yang stres lagi-lagi adalah pasangan Teuki dan Ryeoru, disaat dr. Park sendiri membiarkan putrinya dengan pemikirannya sendiri. Ia percaya ini sebagai proses pendewasaan bagi Yora, dan nantinya ia pasti akan mengerti kalau ia yang salah disini. Masalahnya, dr. Park tidak mengenal Yora sebaik duo RyeoTeuk disebabkan kesibukannya, ia tidak tahu kalau putrinya itu sangat keras hati dan tidak akan menyerah sebelum keinginannya terpenuhi. Teuki bahkan mengibaratkannya sebagai: Yora’s wish is everyone’s command (keinginan Yora adalah perintah bagi semua). Makanya kalau ia bilang akan mogok makan, ia pasti akan mogok makan sampai kolaps lagi seperti kemarin.

“Tragedi.” Ryeoru mengetuk-ngetukkan jarinya di atas rak baju bercat krem milik Yora yang kini kosong di dalam salah satu bekas walk-in-closets adiknya itu. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling, dan kembali mengangguk-angguk. Ya, melihat bagaimana miripnya kamar ini dengan butik dulu, memang betul, hanyalah ‘tragedi’ yang mampu mendeskripsikan kenyataan pahit ini.

“Aku beliin dia baju-baju lagi aja ya, gimana?” Usul Teuki.

“Dibilangin ya, percuma kalau oppa terus manjain dia!” Geplak Ryeoru pada pacarnya itu.

“Terus gimana? Panggil Siwon deh, panggil… Cuma dia yang bisa nenangin Yora, kan…”

Ryeoru menatapnya lelah, “Panggil, panggil… Oppa kira oppa presiden bisa panggil-panggil taruna akpol yang lagi asrama pulang begitu aja, hah?? Pinter dikit dong, kesel deh jadinya.” Mulut pedas turunan keluarga Park yang sangat kental pada Ryeoru itu akhirnya keluar juga. Teuki mengkeret.

“Yah at least kita bilangin Siwon lah… Minta dia ngomong sama Yora, lewat telepon aja, nggak harus pulang…”

Good idea.” Respon Ryeoru sambil meraih ponselnya dan men-dial nomor Siwon. Semoga cowok itu nggak lagi latihan fisik, kuliah, atau apalah itu di akpol… Ayo jawablah…

“Yeoboseyo?”

“Siwon-ah!” Ryeoru sampai berteriak kegirangan teleponnya diangkat oleh calon adik iparnya itu. Teuki langsung menoleh tertarik. “Siwon, noona-ya, Ryeoru noona!”

Siwon terkekeh di ujung sana, “Iya tau kok noona… Aku save nomor noona kok. Ada apa?”

“Darurat, 911 nih. Yora nolak keluar kamar dan makan gara-gara koleksi fashion-nya semua disumbangin sama appa buat baksos RS! Ini sudah dua hari… Tolong ngomong sama dia dong, kondisinya sudah kacau banget…”

“Whoa, whoa, noona, pelan-pelan ngomongnya. Jadi Yora kenapa? Dan kenapa aboji bisa nyumbangin barang-barang itu? Ceritain yang lengkap, dan pelan-pelan aja ya…” Siwon menenangkan kakak tunangannya itu yang kalau bicara memang suka melebihi kecepatan ledak mercon sunatan (?).

“Jadi…”

“Yora, oppa mau bicara, boleh?” Teuki memasuki kamar gadis yang sudah dianggapnya adik sendiri itu dan segera duduk di pinggir ranjangnya.

Yora membuang muka sebelum menjawab, “Ngomong aja, mulut juga mulut oppa.”

Bahkan seorang Yora yang biasanya selalu manis… Ya ampun, putri-putri keluarga Park dan mulut berbisa mereka…! Teuki mengacak-acak rambutnya sendiri. Tapi ia tetap bersikeras melaksanakan misi ini, ia sudah bertekad!

“Yora, jalan-jalan sama oppa yuk, nanti kita brunch di coffe shop kesukaan kamu, mau?” Teuki menyodorkan hobi yang biasanya tak mungkin ditolak Yora: ngopi. Yora maniak kopi, black coffee, espresso, pokoknya bukan cappucino maupun milk coffee yang biasanya lebih disukai gadis-gadis. Yora tidak suka manis dan menurutnya ia gampang gemuk, makanya minuman penuh dairy product dan gula itu amat sangat dijauhinya.

Gadis itu terlihat tertarik, tapi… “Lagi nggak mood, ajak eonni aja.” Jawab Yora ketus.

“Hei, dongsaeng oppa kenapa sih? Galak amat ah, cepet keriput lho.”

Shock, Yora langsung meraih cermin kecilnya di meja lampu, mengecek kondisi sang wajah. Teuki tertawa terbahak-bahak.

Yora menggembungkan pipinya kesal sebelum akhirnya tersenyum juga karena candaan kakak cowok ketemu gedenya itu, “Tapi… aku nggak punya baju, oppa… Kan appa…”

“Iya, nanti di jalan kita berhenti di butik–”

“Hayo jangan lebay, bajumu masih banyak di lemari itu kan, Park Yora??” Ryeoru tiba-tiba muncul sambil menunjuk sebuah lemari kayu besar bercat pale pink tidak jauh dari tempat tidur Yora seraya memelototi pacarnya yang barusan sudah nyaris jatuh dalam aegyo sang adik. GLEK! Teuki cuma bisa nyengir geje karena kembali ke-gap tidak bisa menahan diri memanjakan gadis itu. Habis Yora imut sekali… >< pikirnya.

Tapi Yora masih diam bersandar di kepala ranjangnya.

“Yora…” tekan Ryeoru tegas dan penuh makna suruhan. Yora menatapnya bete, tapi karena memang dasarnya ia penurut (apalagi sama eonni galaknya itu), maka biarpun dengan muka tertekuk ia pun akhirnya tetap beranjak dan membuka lemari besarnya, memilih baju.

Yang ternyata… lama sekali dilakukannya…

Ryeoru akhirnya meledak, “YORA!!”

“Oppa, kita mau kemana sih? Ini bukan jalan ke CoffCaf, kan?” Yora mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres ketika tersadar mereka sebetulnya tidak sedang mengarah ke coffee shop langganannya itu.

Teuki meliriknya dari kaca di atas kemudi, “Nanti ya pas pulangnya, ada tempat yang oppa dan eonni-mu mau kamu kunjungin dulu. Oke?”

Yora sudah akan protes ketika tiba-tiba eonni-nya bersuara, “Sudah sampai kok.”

Seketika Yora menoleh ke tempat tujuan mereka. Sebuah rumah tak bertingkat yang cukup luas, berwarna dominan putih seperti RS. Dia sudah nyaris mengira ini rumah baru Teuki (secara oppa-nya itu tergila-gila warna putih) dan mereka hanya ingin pameran habis beli rumah padanya ketika tiba-tiba dua sosok gadis—satu duduk di atas kursi roda, sedang yang satu mendorong kursi itu–melintas di halaman rumah itu sambil bercanda sangat riang. Tapi bukan, bukan dua gadis itu yang menarik perhatiannya, melainkan apa yang mereka pakai…

Dress berlengan pendek motif bunga kecil-kecil pada satu gadis, dan cardigan biru dan rok renda pada gadis satunya. Tiga fashion item yang sangat Yora kenal… Seketika ia turun dari mobil dan tanpa sadar memasuki areal rumah itu. Dan belum lagi jauh berjalan, lagi-lagi ia harus menemukan sepatu flat yang juga sangat ia kenal pada seorang gadis yang sedang sibuk meraba-raba sebuah buku putih sambil duduk di bangku teras. Gadis itu… buta? Tak terasa airmatanya menetes, “Eonni, oppa, ini…”

“Yep. Baju-baju kamu, Saeng.” Jawab Teuki sambil merangkul Ryeoru. Mereka berdua tersenyum teduh.

“Ini… tempat apa…”

“Yayasan penyandang cacat di bawah naungan RS Seoul Internasional. Ya, RS appa, mereka menyumbangkan koleksi-koleksimu kemari.” Jelas Ryeoru sambil ikut masuk dan mengedarkan pandang ke halaman rumah yang luas itu. “Lihat betapa bahagianya mereka, dan selamat, karena secara tidak langsung kamulah sumber kebahagiaan mereka itu.”

Tes… Tes.

Satu per satu airmata Yora jatuh ke tanah berumput di bawahnya melihat lebih banyak lagi gadis-gadis kurang beruntung mengenakan berbagai koleksinya. Buta, pengguna kursi roda, penderita Down Syndrome, bahkan yang anggota tubuhnya tak sempurna… Mereka terlihat sangat bahagia mengesampingkan segala kekurangan mereka, dan yang paling membuat Yora tersentuh, beberapa bahkan berputar dan saling pamer barang-barang yang mereka gunakan, yang nyaris semuanya dulu miliknya. Barang-barang yang dulunya hanya tertumpuk maupun terpajang di walk-in-closets Yora, menerima nasib karena hanya dipakai sekali oleh sang pemilik setelah dibeli…

“Apa iya… barang-barangku sebegitu bagusnya sampai mereka sangat senang seperti itu, eonni?” Tanya Yora seraya mencoba menghapus airmatanya yang terus mengalir.

Ryeoru menepuk pundak Yora hangat, “Fisik mereka boleh tidak sempurna, tapi selera mereka boleh juga kan?” Ia mengedipkan sebelah matanya penuh canda.

Yora tertawa kecil sebelum kembali memandang gadis-gadis itu dari jauh. Beberapa pasien pria terlihat terpesona menatap gadis-gadis itu, yang Yora tahu kenapa. Cantik. Gadis-gadis itu bahkan terlihat sangat cantik di mata Yora kini. Kepercayaan diri memang make-up yang paling ampuh bagi semua orang, make-up yang mampu memancarkan aura kecantikan para gadis yang paling maksimal, se-tak sempurna apapun fisik mereka. Dan itu semua hanya karena sepotong-dua potong koleksinya yang sebagian besar tak pernah ia pakai lebih dari dua kali, Yora masih betul-betul tak percaya…

“Siwon memang hebat.” Teuki tiba-tiba muncul dan menggenggam tangan Ryeoru. Ryeoru mengangguk seraya menyandarkan kepalanya di bahu sang pacar.

Yora buru-buru menoleh, “Siwon?”

“Hm. Kenapa kamu belum cerita ini ke dia? Kita kaget lho waktu dia bilang dia nggak tahu sama sekali masalah ini. Tapi kenyataan kalau ia orang yang paling mengerti kamu, benar-benar terbukti kali ini. Dialah yang menyarankan kami membawa kamu kesini, ke tempat barang-barang kamu disumbangkan. Dan itu betul-betul berhasil membuka matamu tentang maksud appa menyumbangkan koleksi-koleksimu itu kan?”

Yora masih ternganga mendengar penjelasan pacar sang kakak. Ia memang sengaja tidak menceritakan ini pada Siwon, karena jujur, ia sendiri juga sadar kalau sikapnya yang ngambek hanya karena masalah baju sangat amat kekanakan, dan ia tidak ingin Siwon juga menilainya begitu. Dan kini, ketika anggota keluarganya sendiri sudah putus akal menghadapi sifat kekanakan terselubungnya, Siwon yang tidak tahu apa-apa bahkan dengan cepat mampu memberi ide untuk mereka. Betapa pengertiannya, maka airmata Yora pun kembali mengalir…

“Dan ini. Titipan dari Siwon, tadi supir rumahnya datang, bilang kalau Siwon telepon untuk titip ini buat kamu.” Kata Teuki sambil menyerahkan sebuah dompet kartu nama tipis yang terbuat dari kulit berwarna hitam pada Yora. Gadis itu membukanya, dan langsung terbingung-bingung menatap Teuki kembali. Yang ada di dalamnya adalah sebuah MasterCard Gold, tapi untuk apa??

“Kata Siwon, kamu boleh belanja apa aja dengan itu buat ganti semua koleksi kamu.” Jawab Teuki tanpa perlu Yora buka suara dan bertanya. “Oh ya, tambahan. Dia bilang, itu gold jadi jangan khawatir cepat limit. Hahaha.”

Seketika tangis Yora malah semakin deras mendengar tambahan Teuki tentang titipan tunangannya itu. Malu, ia malu sekali pada kedewasaan dan kebijakan Siwon, ia betul-betul merasa tidak pantas selalu bertingkah bak ‘ratu’ selama ini. Masih dengan mata basah, ia pun akhirnya menggeleng seraya menyodorkan kembali kartu kredit beserta tempatnya itu pada Teuki.

“Mana mungkin aku ngegunain uang yang susah payah dikumpulkan tunanganku untuk masa depan kami hanya demi kepentinganku sendiri? Joisonghaeyo oppa, eonni… Naega jal mothaessoyo… (Maaf ya oppa, eonni…Aku sudah bersalah…)” katanya sambil tersenyum dan menghapus sisa airmatanya.

***

“…dan jadilah Yora yang kita kenal sekarang, Yora yang thoughtful, kalem, biarpun manjanya masih suka keluar kadang-kadang. Banjir airmata di kediaman keluarga Park surut seketika saat itu, appa pun berani betul-betul menjadikan kamar ini dan kamar sebelah sebagai kamar tamu—sebetulnya sih beliau sudah siap-siap budget soalnya kalau-kalau Yora gagal ditaklukkan dan ia dengan terpaksa harus mengganti semua koleksi Yora untuk mengisi lagi kamar ini, hahaha. Sejak itu Yora nggak ikutin tren lagi dalam urusan baju, dia setia sama style klasik-femininnya (sadar kan Yora selalu pakai rok maupun dress selutut dan wedges kemana-mana?) Dan berakhirnya tragedi ini, semua thanks to Siwon, aku dan… Teuki oppa.” seketika Ryeoru tersentak mengingat semua kekompakannya dengan sang suami dalam menyayangi adik perempuan semata wayangnya itu. Dan seketika juga, dia kangen Teuki! Dia bahkan sudah tak peduli lagi dengan pertengkaran mereka tentang mau punya anak berapa itu *jadi berantem sampe pulang ke rumah ortu cuma gara-gara itu doang?? Astaga…*

“Hyukie, aku pulang du—“ Bergegas, Ryeoru pun segera menoleh untuk berpamitan pada sang adik ketika ia sadar Eunhyuk ternyata sudah tidur dengan pulasnya, biarpun dengan napas yang masih berat khas orang sakit. ia tersenyum melihatnya. Anak ini lucu juga ternyata kalau nggak pecicilan, pikir Ryeoru. Hati-hati, ia pun turun dari tempat tidur milik Eunhyuk dan Donghae itu dan sudah akan berniat menyelimuti sang adik yang cuma pakai singlet untuk tidur ketika tiba-tiba,

“Yeobo-yaaaa! Kamu abis ngapain sama Hyukie berduaan di kasur dia cuma pakai singlet gitu doang haaaahh???” Teuki tiba-tiba muncul di pintu dengan suara cempreng menggelegarnya.

Yaaahh~ sekarang malah jadi salah paham…

;P

END

Advertisements
 
34 Comments

Posted by on March 11, 2011 in Super Junior, [THE SERIES]

 

Tags: , ,

34 responses to “[THE SERIES] TRAGEDI YORA

  1. babyhae

    March 11, 2011 at 12:10 pm

    akhirnyaaa….keluar juga cerita tentang ini. dulu kupikir apa lho itu tragedy *judulnya saja sudah tragedy*..taunya ini gara-gara fashion…

    sortir? dari 2 kamar >> jadi 4 item astaga…bener-bener sangat mencintai koleksi *tipe setia nih Yora*

    Lola….Yora bikin iri…..Siwon so sweet. bahkan nggak tahu kejadiannya secara langsung, sudah bisa kasih jalan keluar,,,,sama bonusnya pula ahahaha

    Pas bagian Yora ada di tempat anak-anak itu,,,,terharu saya *ditambah air mata ehehehe*. suka banget sama cara Lola kasih tau kita semua….semua perempuan itu cantik kalau percaya diri ditambah kita bisa berguna buat orang lain sesederhana apapun caranya…..bener-bener terharu

    bagian yang ini,,,,wkwkwk….Lagi-lagi pasangan Ryeoru Jungsoo berantem gara-gara hal “kecil”? habis berebut tatacara nikah, sekarang jumlah anak? mana Hyuk yang digeplak ahahahahah…emang nggak ada matinya ini pasangan XD

    satu kata….DAEBAK!!!!

    satu lagi alasan saya buat jadi fans hehehehehe 🙂

     
    • lolita309

      March 11, 2011 at 7:21 pm

      huahaha, agak nggak penting ya emang tragedinya hehe :p
      oke, sebetulnya yang masalah sortir itu saya banget hahaha

      iyaaa, bonusnya itu lohh… creditcard, gold punya pula… waah sayang banget nggak dipake #PLAKK!

      huaaa makasi banget sayang^^

       
      • babyhae

        March 11, 2011 at 7:35 pm

        wow..berarti bis dibilang penyayang dong,,,sama barang aja sayang begitu, apalagi sama orang terdekat^^

        itu bisa ganti semua koleksi…gold begitu ahahahaha

        ne…sama-sama^^

         
      • lolita309

        March 15, 2011 at 11:33 am

        huahaha, ga bisa dibandingin dong barang sama orang… XD

        apa ya? ngejelasinnya bingung juga, yang pasti kata ‘penyayang’ mah amat sangat kebagusan hahaha :p

         
  2. Iwang

    March 11, 2011 at 3:51 pm

    Ngiri banget ma yora. .
    Karakter idaman kali y . .
    Suka terharu ma keakraban, kkompakkan atu ama lain.a. .
    Daebak. .

     
    • lolita309

      March 11, 2011 at 7:23 pm

      haaaahh?? buat saya mah disini tokoh idaman tetep siwon (iyalah, PLAKK) :p

      hehe gomawo uda baca sayang^^

       
  3. oepieck

    March 11, 2011 at 7:59 pm

    owalah, tragedinya itu to?
    tapi gila 2 kamar walk-in-closet cuma buat 1 orang? ckckck. untung siwonnya pinter yak?
    eunhyukku ternyata manja ama omma.a dan tentunya imut kalo lagi tidur. hahaha!!!
    teukie keliatan mengkeret banget di sini, kwkwkw~
    bagus onnie! ^^

     
    • lolita309

      March 15, 2011 at 11:36 am

      siwon mah emang pintar… (dan tajir #PLAKK :P)

      hey, perhatiin kata2nya ryeru: lucu juga kalo lagi nggak PECICILAN kan? hahaha, XD

      gomawo sayang^^
      gimana perkembangan persiapan ujianmu nak? aku sekarang ngajar MTK kelas 9 loh, jadi sedikit banyak tau perasaan kalian hahaha

       
      • oepieck

        March 16, 2011 at 7:57 am

        iya onnie aku juga ngakak pas baca yang itu. kwkwkw~

        matik sih, lumyan, banyak perkembangan. tapi kalo latian di skul masih suka ketinggalan ngerjainnya.
        b.indo masih parah.. biologi ama IPS apa lagi~ merasa terpuruk onnie… -___-
        do’akan saja! ^^

         
      • oepieck

        March 16, 2011 at 7:59 am

        onnie jurusan akuntansi ya? *soktahu
        pinter dong, hehehe
        wah~ ternyata ilmu di smp masih dipake sampe kuliah, ck ck ck

         
      • lolita309

        March 23, 2011 at 3:49 pm

        amiinn… pasti aku doain lah, semangat! 😀

        hehe, iyaa akun… kok tau? 🙂

        iya nih, demi mencari sesuap nasi (halah) selalu semangat, ngat, ngat yaa saeng!^^

         
      • Oepieck

        March 24, 2011 at 10:42 pm

        Makasih onnie, ^^
        tau dong, kan aku follow blog onnie, hehehe…
        emang akuntan itu kerjanya ngapain sih?

         
      • lolita309

        March 28, 2011 at 11:32 am

        akuntan kerjanya ngapain? ya bikin laporan keuangan perusahaan… dari situ bisa diliat kinerja perusahaannya bagus/nggak.. (ngerti? mudah2n ngerti ya :p)

        kamu kalo udah gede (?) mau jadi apa emangnya?

         
      • Oepieck

        March 29, 2011 at 10:02 pm

        ooo… mudeng mudeng *nod nod
        berarti harus bener-bener bersahabat ama yang namanya matematika ya?

        wah, belum tau ni onnie, agak suram…=______=”

         
      • lolita309

        March 30, 2011 at 10:03 am

        enggak juga sih, matematikanya mah dasar doang, tambah-kurang-kali-bagi…. tapi tetep ada mata kuliah matematika bisnis sih, itu baru matematika beneran.. cuma ketemu satu semester kok tapinya hahaha

        waah? cita2 masa ga ada sih bu? 😀

         
      • Oepieck

        April 1, 2011 at 3:26 pm

        ooo… tapi harus teliti kan ya? yah, kudoain moga” lola onnie jadi akuntan yang keren! 😀

        ada sih, cuma gak yakin bisa kesampaian…

         
      • lolita309

        April 1, 2011 at 4:44 pm

        iyaa, harus telitiiiiii banget. haaaahh saya sendiri aja gak yakin mau ambil kuliah profesinya/engga… lulus SE aja sepertinya cukup deh. hahaha jangan dicontoh ya :p

        Lho, emang kamu mau jadi apa?

         
      • Oepieck

        April 2, 2011 at 7:57 pm

        we? lha emang sebenernya onnie pingin jadi apa?

        apa ya? (sebelumnya maaf ni kalo malah jadi curhat)

        aku kalo liat suju oppa ato snsd ato bb dan gb lain pingiiin banget jadi kayak mereka. tapi,

        nge-dance aja kadang kagak luwes, nyanyi suara juga kadang kayak bebek, tampang juga sama sekali gak menjual, haduh~ desperate banget deh. kalo jadi penulis, gak yakin juga….

         
      • lolita309

        April 4, 2011 at 3:35 pm

        aku dulunya pengen jadi sutradara, soalnya dari kecil emang aku suka nulis dan pengen banget suatu hari nanti tulisanku dibikin film/dramanya hahaha ngarep :p

        hahaha, kalo kayak gitu mah aku juga pengen saeng, siapa sih yang nggak pengen jadi artis dan terkenal? 🙂
        tapi menurut aku sih, itu harusnya dijadiin cambuk untuk terus ningkatin diri aja, contohnya kalo buat aku nih, liat badan oke para GB, aku jadi semangat buat nurunin berat badan, belajar ngedance, gitu2 deh^^

        Makanya coba ubek2 lagi, cita2 yang sebenarnya pasti ada deh, bukan yang itu 😀

         
      • Oepieck

        April 4, 2011 at 7:54 pm

        lho, kenapa gak jadi sutradara aja? Cerita onnie bagus kok. Kalo dijadiin film pasti laris… 😀

        hwa~ great advice! Selagi masih muda, mengeksplore diri dulu. Kalo udah ketemu, baru mulai serius, gitu ya?

         
  4. JinkiLover

    March 12, 2011 at 10:54 am

    aku baru mampir kesini. sebelumnya udah baca yg di FF indo. bagus ceritanya. si teuki keliatannya sayang banget sama yora. jadi pengen punya kakak kayak gitu. ntar kapan-kapan aku mampir lagi thor, ini mau ngerjain skripsi dulu T.T

     
    • lolita309

      March 15, 2011 at 11:39 am

      waaaah terimakasih pelanggan (loh?) baru, selamat datang^^

      hehe, makasi yaa sayaang, yaudah kerjain dulu gih skripsinya. Hwaiting, hwaiting! 😀

       
  5. Zarararakuda

    March 13, 2011 at 7:14 pm

    Woah!saya rela nampung credit cardnya! #mataberbinar
    Kok kebayang kalo yora itu blair waldorf ya?:-D

     
    • lolita309

      March 14, 2011 at 9:47 am

      Whoaa, I ♥ B!! Beneran deh suer, waktu mikirin Yora aku sama sekali nggak keingetan Blair, tapi sekarang, setelah dipikir2, iya ya bener.. Penampakan fisik pun aku pernah deskripsiin Yora itu rambutnya panjang gelombang, warnanya brunette, dan sekarang kelakuannya begini, jadi beneran mirip Blair ya -.-

      Hehe, :p

      Pada Ming, 13 Mar 2011 19:14 WIB

       
  6. Zarararakuda

    March 13, 2011 at 7:16 pm

    Eh,sekalian.yg d untitled klo g salah yora hamil kan?emang kapan nikahnya??

     
    • lolita309

      March 14, 2011 at 9:50 am

      Hahaha, hayoo baca lagi yang bener cerita2 lainnya.. (Loh?) Pokoknya hint-nya, Yora nikah di ceritanya Kyu 😀

      Pada Ming, 13 Mar 2011 19:16 WIB

       
  7. choivaavaa

    March 21, 2011 at 8:55 pm

    annyeong lolita*blh g pggl kyk gt?* lm tk brsua*sksd* trnyta ni yg d mksd tragedi yora. Kren nich ff,da psan moralny d crta ni..trnyta ssuatu milik qt yg qt anggp bysa ja,trkdg mlh sgt brhrga d mta org lain.stuju coment2 d ats,mo donk CC Gold pny-nya siwon.heuuww..hehe

     
    • lolita309

      March 23, 2011 at 3:47 pm

      boleh kok boleh, atau lola aja juga gapapa^^
      aku panggil kamu apa? 🙂

      hehe gomawo^^
      wah, kayanya semua mau nih. kalo kita bagi2 warga satu blog ini aja gimana itu CC? hahaha :p

      makasi yaa sayang uda mampir^^

       
  8. wiehj

    March 25, 2011 at 11:01 pm

    arghhhh >,< hyuk cman pake singlet+celana tidur!!!nosebleed kali aq klu ampe beneran liad dy berkostum kae gtu XDD
    woww,jdi tnyata si yora bsa brubah jd anggun kalem dewasa gtu karena siwon??emg pendamping hidup ntu peran penting yahh dlm hidup ini.. *gaya abis bahasanya* wkwkwk 😀
    suda lama tag mampir kesini,banyak epep baru yg di post \(^v^)/
    saya lanjut baca ke 'dont call me oppa' dulu yah cingu..c u in there 😀

     
    • lolita309

      March 28, 2011 at 11:42 am

      iyah, abis aku aja yang biasanya nggak hobi si onyet (?) selalu suka kalo liat dia cuma pake singlet yang pas badannya itu lhooo ><

      iyaaa makasi yaa sayang udah baca… cu juga disana^^

       
  9. choivaavaa

    March 27, 2011 at 5:42 pm

    pggil Vaa ja. oia d jamin dh, wrga 1 blog lgsg pd ngntri kl CC tu mo d bagi2.hehe

     
    • lolita309

      March 28, 2011 at 11:44 am

      oke deh, halo vaa!^^

      hahaha, ya udah aku telpon siwonnya (?) dulu ya boleh nggak itu CC dibagi2 (loh?) XP

       
  10. Carrie Cho

    April 22, 2011 at 1:14 pm

    halllo, unni 🙂 kekekeke *umurku 17tahun soalnya :p*
    aku baru nemu blog unni, dan pertama kali aku baca yang ini. sempet agak ‘mudeng’ dikit sih sama silsilah keluarganya.

    tapi yaaah, aku suka sama ceritanya kekeke 🙂
    salut sama pengertiannya Siwon, dan itu juga agak membuat jadi iri :p
    kekekekeke

     
    • lolita309

      April 25, 2011 at 12:58 pm

      hehehe haloo saeng^^

      wah, masih bingung ya? maaf yaaa~ tapi itu ada penjelasannya kok di postingan THE SERIES CASTS AND CASTS’ RELATIONSHIPS 😀

      makasih yaaa, kenalan dong, aku lola, kamu siapa? 🙂

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: