RSS

[THE SERIES] DON’T CALL ME OPPA – Chapter 2

24 Feb

DON’T CALL ME OPPA

(Chapter 1)

Written by: Lolita Choi (@lolita309)

Starring: Lee Donghae

babyhae as Lee Shinmi

Chapter 2. IMPORTANT TEST

“Jadi gimana, gimana? Apa keputusan kalian? Eh, tapi kalaupun kalian negatif juga aku bakal tetep jalan dengan dia sih, kalau perlu kawin lari.” Sepulang kerja aku langsung memburu noona-ku yang kebetulan belum pulang ke rumahnya dan adikku di kamarnya. Terlihat adikku itu sedang sibuk membuka-buka berbagai buku dan kertas-kertas tua berisi hanja yang berserakan di ranjangnya. Ia berkali-kali membetulkan letak kacamatanya (mata adikku memang aslinya minus, hanya kalau keluar ia memakai softlense baby eye favoritnya), tapi tetap tak meresponku sama sekali, seperti bahkan tidak sadar kalau aku ada disini.

Tapi ternyata noona-ku masih bisa mendengar kedatanganku yang grasa-grusu itu dan PLAK! tanpa aba-aba langsung menggeplakku dengan salah satu jilidan kertas yang sedang dibacanya. “Kalau ngomong jangan sembarangan! Kawin lari, anggota keluarga Park nggak ada yang pikirannya pendek kayak gitu, malu-maluin aja.”

“Eottokhae? Orang aku lahir di keluarga Lee…” Cibirku pelan.

Tapi sepertinya noona-ku masih bisa mendengarnya… “Aish, anak ini mau kupukul lagi ya??” Ia mengangkat kertas yang dipegangnya tinggi-tinggi untuk menggertakku. Aku buru-buru menahan tangannya sambil cengar-cengir.

“Ampun noona… Hehe, jadi gimana? Dan kalian lagi nyari apaan sih di tumpukan kertas-kertas jadul ini?” Tanyaku sambil mengangkat selembar kertas, yang akhirnya langsung robek. Wah gawat, sepertinya semua sudah tua sekali…

“Positif kok, adikmu sampai tergila-gila padanya. Tuh lihat, dia serius sekali mencari celah yang mungkin bisa kita jadikan dasar untuk mendapatkan restu pernikahanmu di semua transkrip-transkip aturan keluarga besar ini… Ia betul-betul ingin pacarmu itu jadi anggota keluarga ini.”

“Jinjja? Uwaaa noona, Yora, saranghae!” Kataku sambil mengecup pipi masing-masing saudaraku itu.

“Donghae jangan lebay…!” Teriak noona-ku itu langsung sambil mengusap-usap pipinya jijik. Aku cuma cengir-cengir, sementara Yora, betul-betul masih terserap dalam bacaannya (dasar tipikal dokter), hanya mendongak sebentar dan tersenyum.

“Jadi?” Tanyaku lagi.

“Entahlah oppa, banyak sih sebenernya kata-kata ambigu yang bisa kita gunain buat tameng, tapi ya gitu deh… Contohnya ini nih, denger deh:

Pernikahan se-marga yang terjadi lebih dari satu kali dalam satu keluarga inti tidak diperbolehkan untuk menghindari kemungkinan percampuran satu darah yang lebih besar…

Disini ada dua part yang artinya ambigu, yang pertama: lebih dari satu kali dalam satu keluarga inti, disini kalau kita pikir-pikir, keluarga inti itu maksudnya yang berasal dari ayah-ibu yang sama kan? Berarti cuma aku dan eonni. Tapi—”

“Tapi coba aja kamu ajuin alasan itu ke appa.” Ryeoru noona memotong. “Hiih, tahu sendiri dia paling sensitif kalau sudah ada yang membeda-bedakan kalian dengan kami. Karena,”

“Sungmin, Hyukjae, dan Donghae adalah putra-putra kebanggaan dr. Park Gildong.” Sambungku dan Yora serempak. Sudah tak terhitung berapa kali appa mengucapkan kalimat itu baik di depan kami ataupun saat memperkenalkan aku dan kakak-kakakku ke kolega-koleganya.

Aku langsung menghela napas lelah, “Keluarga kalian tuh repot banget deh ya…”

“Ehem! Ralat, keluarga KITA.” Koreksi Ryeoru noona seketika. Aku cuma manggut-manggut mengiyakan.

“Nah, kalau kalimat ambigu yang kedua, ini: …tidak diperbolehkan untuk menghindari kemungkinan percampuran satu darah yang lebih besar… Percampuran satu darah, maksudnya incest kan? Oppa sama Shinmi-ssi, incest bukan?” Yora bertanya dengan polosnya.

Aku langsung menatapnya aneh, “Menurutmu? Polos juga nggak segitunya kali, Saeng.”

“Ih, siapa yang tahu lho… Aku sih orang sains yang belum akan percaya sebelum ada bukti fisik.” Yora melepas kacamatanya dan memijat-mijat keningnya sebentar. Butuh sedikit waktu bagiku untuk mencerna kalimat tak langsung-nya itu. Aku sih orang sains… ‘Aku’ disini, maksudnya dia sebagai dokter? Dan berhubung appa juga seorang dokter, berarti maksudnya beliau juga seperti itu?

“Yeobo, pulang.” Tiba-tiba Teuki hyung sudah muncul di pintu kamar Yora begitu saja, masih lengkap dengan kemeja dan dasinya biarpun terlihat sudah dilonggarkan. Noona-ku segera menoleh dan sudah berancang-ancang meraih tas tangannya ketika Yora bersuara,

“Nginep sini aja, oppa. Aku masih butuh eonni.”

“Hum?” Teuki hyung yang tadinya cuma bersandar di pintu kamar Yora yang terbuka langsung masuk dengan melompati serakan kertas-kertas dan buku-buku kuno di lantai. Wajahnya terlihat bingung, “Kalian lagi ngapain sih memang?”

“Tuh, bantuin si ikan, daripada nanti kita dipaksa-paksa cerai lagi. Tapi kalau yang Yora maksud bukan tentang ini sih, biasa urusan cewek.” Jawab Ryeoru noona sambil menyambut pelukan plus cipika-cipiki suaminya.

“Fiuhh… Tapi aku kan baru pulang dari dinas seminggu, kangen kamu… Takutnya ‘aktivitas kangen-kangenan’ kita malah ganggu disini lagi.” Rajuk Teuki hyung masih dengan tangan yang melingkar di pinggang noona-ku.

“Err… Sadar umur sih ahjussi, kalian tuh sudah nyaris dua tahun nikah lho… Masih sok manten baru aja.” Suara sinis kembaran monyet (?)-ku tiba-tiba terdengar juga dari arah pintu. Hahaha, sepertinya dia masih trauma tuh, dulu waktu zaman kakak dan kakak ipar kami ini baru menikah, dia memang pernah punya pengalaman nggak enak tentang ‘acara mesra-mesraan’ mereka gitu deh.

Teuki hyung langsung mencibirnya jengkel yang dibalas dengan juluran lidah Eunhyuk. Aku tak memedulikan mereka dan langsung kembali pada Yora yang mulai terlihat mengipas-ngipas wajahnya dengan tangan seperti kepanasan. Aneh, padahal disini full AC lho.

“Jadi… Yora-ya, maksudmu bukti fisik itu… Tes DNA?”

Kind of. Di kasus-kasus kepolisian sering juga kan? Siwon suka bilang soalnya, jadi pasti oppa ngerti juga lah ya… Formalitas aja kok, appa kan juga orang sains jadi pada dasarnya ya nggak kolot-kolot amat. Kalau sudah ada dasar fisik gini, mudah-mudahan direstuin lah.” Jawabnya dengan masih sibuk mengipas-ngipas.

“Tunggu, tunggu.” Eunhyuk kembali menyela. “Jadi rencana barunya tes DNA nih? Agak repot ya… Padahal ada yang lebih gampang lho, sudah sering kejadian, dan pasti direstuin.”

Seketika kami semua langsung menoleh. “Apa?”

Eunhyuk memutar bola matanya, “Hamil… duluan?”

“YEE!!” Bantai kami semua langsung dengan melempari bantal-bantal Yora. Hyukie cuma cengir-cengir seraya menangkis semua serangan yang ditujukan padanya itu. Aku, jujur, masih terdiam memikirkan saran kakak kembarku. Itu bukan ide yang buruk sih, dan memang benar biasanya pasti akan direstui kan? *pletak!!

“Eh, tapi bener juga sih saran Hyukie.” Tiba-tiba Teuki Hyung angkat bicara sambil memeluk bantal Yora yang barusan urung dilemparnya.

“Ya kan??” Responku dan Hyukie bersamaan. Mendengarnya, kami berdua pun saling pandang sambil cengengesan dan ber-tos ria.

Tapi Yora seketika mendelik, “Oppa, nggak ada ya. Nggak pakai hamil-hamilan duluan. Andwae andwae andwae!” Wajahnya sudah mulai sewot sambil berkata begitu, dengan tangan makin cepat mengipasi wajahnya. “Panas banget sih…” Tambahnya lagi, seperti bergumam sendiri.

“Aedeul-ah (anak-anak)… ada Sungmin!” Terdengar seruan ibu kami dari bawah. Kami seketika menoleh. Waah, Sungmin pulang?

“Sungmin pulaaang…! Sungmin, atas sini, kamar Yora!!” Teriakku dan Hyukie berbarengan. Aku sudah bilang belum kalau kami memang partner-in-crime? :p

Dan tak berapa lama, muncullah Sungmin dengan masker kelinci pink (?) menutupi hidung dan mulutnya. Ia langsung membungkuk dan memberi sapaan ala perkenalannya di acara-acara TV sebagai seorang entertainer Sungmin, “Annyeonghaseyo, God of Guitar, Lee Sungmin imnida.”

“SUNGMIN~!” Teriakku dan Hyukie sembari menyongsong kakak kembar kami ini dan memeluknya sambil meloncat-loncat. Sungmin cuma tersenyum sambil mengacak-acak rambut kami berdua. Aaaah~ aku kangen sekali padanya! Sudah 1 tahun ini Sungmin tidak pulang karena sibuk dengan aktivitas keartisannya sebagai solo gitaris yang langsung meroket pasca debutnya. Padahal debutnya itu sendiri juga baru setahun yang lalu lho.

“Ckckck, Hallyu star kita yang satu ini, gaya banget ya. Pakai masker segala, kita-kita juga masih bisa ngenalin kamu lagi.” Ledek Teuki hyung sambil membalas ‘brother hug’ Sungmin ke semua anggota keluarganya yang ada disitu.

“Ini bukan gaya, Niichan. Aku lagi sakit makanya pulang… Uhuk, uhuk.” Jawabnya sambil terbatuk seraya mendekat ke ranjang Yora untuk memeluk adik kesayangannya itu. “Yora.”

Tapi Yora, tidak seperti dirinya yang biasanya, malah menunjukkan wajah tak suka. Sambil masih, tentu, mengipas-ngipas dengan telapak tangannya. Padahal udaranya masih sejuk kok, anak ini kenapa sih?

“Oppa… jangan dekat-dekat! Jangan pada kumpul di kamarku juga kenapa sih, kamarku jadi panas kebanyakan orang…!!” Teriaknya sambil menolak pelukan Sungmin dan melempari kami semua dengan bantal-bantal yang masih bisa diraihnya. “Keluar, keluar!!”

Sungmin langsung shock, “Yora, oppa-eyo, oppa… Oppareul bogoshipji anha? (Yora, ini oppa lho, oppa… Kamu nggak kangen sama oppa?)”

“Semuanya keluar, ah…! Keluar! Aku nggak enak mood kalau rame begini… Oppa juga keluar aja, pokoknya semuanya lanjut kapan-kapan aja!” omelnya lagi sambil menarik selimutnya sampai atas kepala.

Jujur, aku, kaget. Dan pastinya kakak-kakakku juga. Intinya kami semua shock berat deh. Anak ini aneh sekali, kenapa sih? Sejak kapan seorang well-mannered seperti Yora bisa memaki?

Tapi mungkin karena ia satu-satunya yang bergender sama dengan Yora disitu dan bisa mengerti perasaan sang adik, noona-ku langsung menggiring kami semua keluar, “Hormon itu hormon. Keluar aja yuk, biar dia tenang dulu.”

Heh? Hormon? Ah, tapi entahlah. Yang penting agendaku besok adalah mengajak Shinmi tes darah di RS!

***

“Oppa-ya!” Shinmi melambaikan tangannya ke arah mobilku begitu keluar dari SMA tempatnya mengajar. Aku tersenyum seraya memajukan mobilku agar lebih dekat ke tempatnya berada.

“Shinmi Seonsaeng, annyeonghaseyo…” Sapa dua orang siswi yang kebetulan lewat ketika Shinmi sedang akan memasuki mobilku.

Maka ia pun segera berhenti dan menjawab mereka, “Ah, annyeonghaseyo… Hati-hati pulangnya.”

“Ne…” Jawab mereka berbarengan seraya berlalu. Eh, tapi rasanya aku mau tes satu hal ah. Maka aku pun segera membuka kaca mobil dan memasang senyum ramahku ketika mereka melewati sisi pengemudi. Benar saja…

“Omona, omona, tampannya! Aaah, aku mau pingsan…” Mereka langsung berbisik-bisik bersemangat begitu melihatku, dengan badan yang sudah mulai limbung. Aku terkekeh bangga melihatnya. Seperti yang kukira, ternyata aku masih ‘berdaya jual’ juga di kalangan anak SMA… Hahaha. Tapi sudah ah, aku tak mau berlama-lama tebar pesona dengan mereka, karena disini, sudah ada gadis lain yang pesonanya bahkan lebih dari aku. Aku menoleh dan mendapati dirinya sudah duduk manis di jok penumpang di sebelahku.

Ia tersenyum, “Sudah?”

“Hehehe, cuma mau tes aja kok.” Cengirku sambil mendekatkan diri ke arahnya dan CUUP! mengecup keningnya lama. “Gimana mengajar di semester baru ini, jagi?”

Ia menggeleng masih dengan wajah terhias senyum, “Jalanin dulu mobilnya.” Aku menurut dan segera men-start mobil dinas pemberian Kepolisian tempatku bekerja ini. “Anak-anaknya masih sama kok, jadi nggak masalah.” Lanjutnya setelah kami sudah meluncur di jalan. “Oppa sendiri, nggak apa pulang cepet begini? Dan kita jadi nih tes DNA?”

“Santaai kantorku mah… (Komandan: santai kepalamu?? Awas kalau izin lagi!)” Yakinku sambil mengenggam jemarinya sebentar sebelum kembali menaruh tanganku pada persneling. “Dan… ya, kita betulan jadi tes DNA—sesuai saran Yora sebelum kemarin moodnya terjun bebas entah kenapa. Aku sudah cerita kan? Kenapa, kamu keberatan?”

Ia menggeleng cepat, “Nggak sih, cuma lucu aja, secara nggak mungkin juga kita ada hubungan darah. Maksudnya, itu jelas sekali kan…” Ia tertawa kecil.

“Makanya, karena kita sudah tahu itu, jadinya aku sengaja buru-buru hari ini mau buat buktinya. Dengan itu restu dari keluargaku juga jadi lebih cepat kita dapatkan, kan?” Aku mengelus-elus rambutnya sambil mataku tetap konsentrasi menyetir.

“Hum.” Shinmi menatapku setuju sambil mengangguk lagi. “Oh ya, bicara tentang Yora-ssi… Gimana dia hari ini? Moodnya sudah normal lagi?” Tanyanya, ia terlihat senyum-senyum sendiri saat menanyakan itu. Omona~ pacarku memang selalu baik dan perhatian, bahkan pada keluargaku! Ya ampun, kalau aku nggak lagi nyetir, pasti sudah ku-unyeng-unyeng (?) dia ><

“Entahlah, aku juga belum ketemu dia hari ini. Tadi pagi dia nggak turun sarapan, tapi betul deh, kemarin dia aneeeh banget. Padahal dia paling sayang Sungmin diantara kita bertiga—paling normal, katanya—tapi bisa-bisanya kemarin Sungmin ditolak mentah-mentah begitu. Sebelumnya nggak kenapa-kenapa, padahal. Cewek tuh memang susah dimengerti ya…” Sungutku tanpa kenal titik-koma.

Shinmi hanya tertawa, “Hahaha, hormon itu oppa, hormon. Mulai hari ini sabar-sabar aja ya sama Yora-ssi…” Ia tersenyum misterius—sesekali cekikikan sendiri, malah. Aneh.

“Heh, kenapa omonganmu persis noona-ku? Dia juga bilang masalah ‘hormon’.” Aku mulai menatapnya curiga. Something’s fishy here… (Ini satu-satunya frase bahasa Inggris yang aku ingat, habis ada kata ‘ikan’-nya hehe) “Kamu tahu sesuatu yang aku nggak tahu ya? Ayo bilang!”

“Hahaha, ada deh, urusan cewek ah oppa, mau tahu aja.” Katanya sambil masih terkikik geli.

“Yaaa~ ayo kasih tahu aku…!” Aku mulai tak konsen nyetir karena tanganku yang satunya sibuk mencoba menggelitik pinggangnya bercanda.

Ia masih tertawa, “Hahaha, oppa, oppa, yang bener ah nyetirnya… Hahaha, yaa~”

“Rekomendasi dari dr. Park Yora? Ah ye, silakan.” Seorang perawat mempersilakanku dan Shinmi masuk begitu saja ke dalam ruang pemeriksaan tanpa perlu mendaftar terlebih dulu. Sepertinya Yora sudah mempersiapkan segalanya biarpun hanya dari rumah (adikku itu sedang sakit makanya lagi cuti juga sebentar). Waah, adikku baik sekali^^

“Lee Donghae-ssi dan Lee Shinmi-ssi?” Tanya seorang dokter yang kami temui di dalam. Aku dan Shinmi mengangguk. “Saya dr. Kim Jaejoong, teman dr. Yora sewaktu masih magang. Silakan duduk.” Katanya setelah menyalami kami berdua. Tak menunggu lama (tanpa basa-basi pula) ia pun segera mulai dengan prosedurnya dibantu sang perawat, mulai dari pemeriksaan tensi, persiapan alat suntik, hingga membersihkan lipatan lengan kami dengan alkohol. Wow, kami bahkan betul-betul tidak perlu bilang lagi apa keperluan kami disini, Yora memang daebak…

“Baik, kami akan segera mengambil sampel darah Anda ya,” katanya sebelum mulai menyuntik dan menyedot beberapa cc darah kami (darahKU lebih tepatnya, karena Shinmi di sebelahku ditangani oleh sang perawat). “Oh ya, kata dr. Yora, Anda saudaranya? Tapi saya masih bingung, tumben sekali lho kakak-adik periksa darah bareng-bareng begini, untuk apa hasilnya?”

DANG! Seketika aku dan Shinmi melongo, “Eh? Kami bukan kakak-adik kok. Kakak-adik darimana?”Jawab kami serempak cepat-cepat. Lho, dokter ini kenapa jadi bikin perkara aja sih?

“Hanya saya yang saudaranya dr. Yora, ini…” Koreksiku seraya menatap Shinmi, mencoba mencari kemantapan akan kata-kata yang akan aku ucapkan. Matanya membalas tatapanku ramah dan teduh, seperti biasa. ENERGY LOADED! Inilah sumber kemantapanku itu. “…ini calon istri saya.”

Segera mata Shinmi yang masih balas menatapku tadi, langsung membulat kaget. ‘Calon istri’? Tunangan saja belum! Jangankan tunangan, belum sempat kenalan dengan keluarga saja sudah ditolak duluan. Pacaran juga baru tiga bulan, memang kata ‘pernikahan’ pastinya sudah terpikirkan (buat apa kami serepot ini kalau ujung-ujungnya bukan untuk menikah kan?), tapi ya itu, baru sebatas pikiran saja. Dan sekarang aku sudah berani menyebutnya ‘calon istri’ dengan mantap, maka wajar ia kaget. Tapi tak apa, dia harus terbiasa dengan semua kejutan-kejutanku^^

Maka aku malah makin mendekatkan wajahku ke arahnya dan berbisik menggoda, “Kenapa?”

Ia menggeleng dengan wajah tertunduk sambil kembali memutar duduknya menjauhiku, “Nggak… Nggak apa-apa.” Jiaaaa~ malu tuh… Lucunya ><

“Oh, jadi malah calon pengantin? Wah wah, maaf ya, habis kalian mirip. Jodoh berarti.” dr. Kim mengoreksi perkataannya seraya memplester bekas suntikan di tanganku. Aku mengangguk-angguk mengiyakan. Naah, gitu dong, kalau jodoh baru bener… “Oke, selesai. Hasilnya bisa diambil dua minggu lagi ya. Langsung di lab saja. Untuk administrasi bisa ikuti suster ini.”

Kami berdua mengangguk seraya bangkit dari kursi. Tak lupa Shinmi membungkuk dalam ke arah dokter itu, berterima kasih. Ah, semudah ini ternyata…

Tuktuk! Shinmi mengetuk lenganku dalam perjalanan kami ke bagian administrasi. Aku segera menoleh.

“Oppa, dokternya ganteng ya.” Bisiknya malu-malu.

Aku menyentil keningnya pelan, gemas. *gemes apa ngerasa kalah saing? #plakk* “Iya, sayang kalau ngomong nggak diayak. Asal jeplak aja bilang kita saudaraan. Cari perkara aja, sudah tahu kita mau tes DNA.” Gerutuku seraya merangkulnya dan berjalan beriringan. “Ah, tapi yang lebih penting: hanya dua minggu lagi, dan restu keluargaku akan kita kantongi. Ya?” Aku berbisik mesra di telinganya, sudah tak sabar memikirkan hari dimana keluarga besarku akan merestui kami itu.

Ia tersenyum senang dengan anggukan mantap. “Ya oppa, pasti.”

 

Maka dua minggu kemudian ketika tiba-tiba selembar kertas di hadapanku ini menunjukkan hasil POSITIVE, 99.92289% MATCHED, duniaku seakan hancur seketika.

 

TBC

Advertisements
 
17 Comments

Posted by on February 24, 2011 in Super Junior, [THE SERIES]

 

Tags: , , , ,

17 responses to “[THE SERIES] DON’T CALL ME OPPA – Chapter 2

  1. babyhae

    February 24, 2011 at 3:41 pm

    emmm….Lola-ssi….gyaaaa!!! tiba-tiba sudah muncul part 2 nya. Saya langsung baca *lupakan dulu yang lain* ahahaha

    Bahasanya yang ini sedikit lebih formal tapi masih ringan^^

    Ceritanya,,,wow..bener-bener buat deg-degan dan sesaat, saya menyesal nama saya Lee Shinmi *kenapa gak Han Shinmi aja biar cepet happy ending* > semau sendiri wkwkwk

    Itu Shinmi sabar banget, Hae iseng tebar pesona gitu ahahaha XD. Jadi benar-benar ber-image malaikat

    nah ini nih, Jaejoong? idola saya bisa masuk juga di sini. Pas banget.

    overall, saya suka sama semua FF di sini. di satu cerita, semua ada lho dari bahagia, kaget, sedih, lucu, sampe yang bikin deg-degan macam ini.

    Gomawo, Lola^^

     
    • lolita309

      March 1, 2011 at 12:44 pm

      wahaha, itu Jaejoong emang aku ambil dari temen magangnya Yora, cerita selengkapnya ada di ff dr. Shin yang belom keluar #plakk

      :p

      Hehe, sama2 sayang, justru gara2 nama kalian sama aku jadi dapet ide begini^^

       
      • babyhae

        March 1, 2011 at 2:19 pm

        wah,,,,jadi ada sendiri nih FF buat si Jaejoong?? ahaha,,,jadi penasaran

         
      • lolita309

        March 1, 2011 at 6:56 pm

        Bukaan.. Itu sebenernya ffnya shindong, JJ cuma supporting role aja, jadi anak buahnya shindong bareng Yora dkk juga. Baru sebatas ide sih, ch.1 jg belom selesai. Makanya sepertinya perjalanan msh panjang sebelum dipost -.- Hehe 🙂

        Pada Sel, 01 Mar 2011 14:19 WIB

         
      • babyhae

        March 2, 2011 at 12:17 am

        ah gitu to….ternyata bikin FF susah ya, Lola *peres keringet* ehehehehe

         
  2. Oepieck

    February 25, 2011 at 12:30 am

    Kyahaha, aku hepi part 2 keluar. Masih blum ada judul.a y? Kesian ini lola onnie peres otak.

    Orang hamil muda suka uring”an. Nasib pria” malang yang direcoki tiap hari. Wakakaka~
    baca part ini jdi penasaran ama perjalanan karir lee sungmin, hehe

    donghae masih aja tebar pesona, ama anak SMA lagi, muridnya shinmi juga, ck ck ck… Shinmi ternyata jga sama aja terang”an ngomong ke pacarnya sendiri, dokternya ganteng. Kwkwkwk~
    gak heran mereka ada hubungan darah. Aduh itu kenapa bisa 99,9%??! Serasa pingin nyekek jaejoong sbg dokter penanggung jawab *PLAKK!

    Next chapter! ^^

     
    • lolita309

      March 1, 2011 at 12:46 pm

      hahaha, iya nih, lama2 judulnya untitled beneran deh :p

      hehe, aku uda kepikiran sih nyeritain karirnya sungmin, tapi belom ada waktu ngetiknya T.T

      cekek aja tuh JJ, cekek! #kompor.com

      sipp, gomawo uda baca^^

       
      • oepieck

        March 4, 2011 at 5:44 am

        masama onn, ^^

         
  3. Iwang

    February 25, 2011 at 9:22 pm

    Huwa~
    deg2an baca.a. .
    Suka ma karakter donghae dsni. .
    Kyak nak kcil. . Cwe.a dwasa bnget. .
    Jdi kyak pcaran ma noona2. .*noona neomu yeoppo. .
    Wkwk. .
    Lebih enak dbca dbnding yg part 1.a. .heu. .
    Pnasaran~ huwa. .
    . .
    Pling suka crita lee triplet. .pkona klw ada 3 kmbar. .udah serulah. .kocak. .sring2 aja. .hehe. .*bnyak maw
    tpi ntah mngapa kngen ma siwon. .bang won2 g nongol . .

     
    • lolita309

      March 1, 2011 at 12:49 pm

      iya, donghae emang karakternya kubikin bocah banget disini (bener ga sih emang doi childish?)
      naah kalo cewenya emang dewasa banget *tunjuk2 babyhae :p*

      hehe

      iya mereka+teuki emang peran penggembira deh, kalo siwon, disini doi kan lagi wamil jadi ga ada… tp kalo kangen nanti aku selipin deh^^

      thx yaa 🙂

       
  4. wiehj

    February 26, 2011 at 1:22 am

    lah kug bsa positive hasilnya????
    mreka bkan sodara kan??masa iy sodara sihh??kasiannn donghae,pdhal ud ngebet nikah tuh dy..hhahahaha
    yaampun shinmiiiiii,sabr amat dirimuuuu..si hae tepe2 gtu mala cman disenyumin..klu aq si hyukie tepe2 mulu,kukurung dy dlm lemari baju..wkwkwkwk
    eh??ryeoru-teukie ud 2th nikah??sungmin ud 1th debut??nah loh??!?? nasib hyukie-saera gmna kabarnya toh thor??penasarann aq iniii am mreka b2..hhahahahaha..lanjutkan asap jga dunn yahh yg hyuk-saera..
    kerennn dahh ni epep..ad aj ide crtanyaa si author inii..klu aq mu bqin ff kyak gini hrus semedi entah brapa lama mungkin..#lebeeyyy *ktular hae am yora* hahahahahah

     
    • lolita309

      February 27, 2011 at 5:09 am

      Hihihi, pertanyaan2nya nanti bisa kejawab sendiri ko dichapter2 berikutnya :p Haha, saya juga kalo siwon uda mulai TP-TP gt, rasanya pgn dipiteees aja. Nakal! 😀 Iyaaa, ini difastforward ya, tp tenang aja yg satu itu pasti lanjut ko (biarpun nggak tau kapan #plakk) Huahaha, saya juga dapetnya gara2 semedi ko (loh?) :p hehe, engga deng, ya ampun bisa ko kamunya pasti.. Makasi yaa pujiannya.. *bow* (eh, kamu muji kan itu ya maksudnya? #pletak!) :p Gomawo dayang 🙂

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: