RSS

[SONGFIC] I LOVE YOU

25 Jan

I LOVE YOU

Written by: Lolita Choi (lolita309)

Starring: Park Yoochun


Give me a chance to explain along with some bouquets

Girl, I’m burning up in flames yet I’m too stressed to feel the pain

If only you believe me when I say I’m gonna change

But you know I ain’t in this game, for the money and the fame


“Baru pulang, hah?? Sudah kubilang, tinggal di rumah selagi aku tak ada!!”

PLAKK!!

Aku memukul wajahnya keras. Wanita yang tidak mau mendengarkan perkataan kekasihnya memang patut diberi pelajaran seperti ini. Setidaknya itulah yang aku percayai. Wanita memang keras kepala, mereka tidak akan pernah mengerti jika hanya dengan mulut saja.

“Tap-Tapi aku… belanja untuk masak—”

“Belanja?? BELANJA?? Matamu yang belanja, maksudnya?? Atau tubuhmu??! Dasar jalang!!”

Dan PLAKK!! Kembali aku memukulnya dengan keras sampai ia membentur tembok dan terjatuh.

Terdengar isakannya lemah. Cih, semua wanita berpikir dengan menangis pria akan memenuhi semua keinginannya, begitu?

Aku menyeringai, “Aku sudah memberimu nomor-nomor telepon supermarket yang melayani belanja antar, jadi jangan pernah menggunakan alasan itu lagi karena AKU TIDAK AKAN TERTIPU!! Ara??” Teriakku.

Tak ada jawaban.

“YA! Ara??” Aku menendang-nendang kakinya ringan. Masih diam. “Ya! Yeoshin-ah! Choi Yeoshin, daedaphaebwa (jawab aku)!!” Teriakku lagi, kini di telinganya. Aneh sekali, bahkan kini suara isakannya benar-benar sudah hilang…

Tetap tidak ada jawaban.

Aku mulai panik dan segera berlutut untuk memeriksa keadaannya. Kutepuk-tepuk pipinya, dari mulai pelan sampai cukup keras yang seharusnya cukup untuk membangunkan seseorang. Tetap tak ada respon. Dan tiba-tiba mataku menangkap sebuah lebam cukup besar di sekitar bahunya. Tapi… tidak, tidak, bukan sebuah. Aku menelusuri wajahnya, memperhatikan seluruh bagian tubuhnya. Matanya sedikit bengkak, darah segar mengucur dari sudut bibirnya, dan berbagai lebam itu… Berbagai lebam menghiasi sekujur raga wanita tercintaku.

Dan itu semua perbuatanku.

And I just wanna see us secured so we can chill and start a family

Provide for the bills yet you don’t seem to understand me

Want me to give up what my plans be, but just to see you happy, girl I’ll do it gladly

PLAKK!!

Ia terjatuh ke atas kasur kami dengan airmata berlinang akibat pukulanku.

“Apa? Kenapa? Masih belum sadar salahmu dimana? Masih mau tanya lagi kamu salah apa?” Tanyaku sinis sembari mencoba berganti baju.

“Tapi aku betul-betul masih tidak tahu apa yang salah dari aku kerja sambilan… Aku cuma mau bantu kamu… Hiks, hiks.” Ia masih menangis sambil menyentuh pelan pergelangan tangannya yang terlihat membiru bekas genggaman kencangku ketika membawanya pulang tadi. Sepulang dari kampus tadi aku memang menemukannya sedang bekerja membagi-bagikan tisu di jalan dekat stasiun tempatku transit. Kemarahanku langsung timbul dan saat itu juga aku langsung menghampiri dan menyeretnya pulang dengan kasar.

Seketika aku berhenti melakukan aktivitasku karena perkataannya, tepat ketika aku baru melonggarkan gesper untuk berganti celana rumah. Gesper. Ia betul-betul salah waktu.

“Masalahnya, aku, tidak butuh bantuanmu.” kataku dingin sambil melepaskan gesperku dengan sempurna dan menggulung ujungnya di telapak tangan kananku. “Aku sudah sering bilang kalau aku bisa mengurus semuanya!!”

SPLATT!! Satu sabetan dari gesperku mendarat di tubuhnya. Ia mengerang menahan sakit. “Aku bisa membeli makan untuk kita berdua, aku bisa membayar tagihan-tagihan apartemen kita, jangan pernah remehkan aku!!”

Dan sekali lagi, SPLATT!! Gesperku kini sukses menodai betis telanjangnya dengan sapuan panjang warna kemerahan. Ia segera menarik kakinya dalam ringkukan dan kembali menangis. Tapi aku belum berhenti sampai situ. SPLAT!! SPLAT!! SPLAT!! Sabetan demi sabetan kuhadiahkan ke tubuhnya bertubi-tubi, tanpa ampun. Ia berkali-kali menjerit di tengah-tengah tangisannya, tapi telingaku seakan sudah tuli.

Sampai akhirnya aku capek sendiri, aku pun mencoba menenangkan napasku yang memburu akibat terlalu emosi. Baru setelah akal sehatku kembali, aku tersadar dengan kondisinya. Maka dengan segera aku ikut berbaring di sebelahnya, merengkuhnya dalam pelukanku erat. Masih terdengar isakannya biarpun sudah tinggal sedu sedan.

Aku mempererat pelukanku, “Sshh, mianhae, mianhae… Mengertilah, aku cuma mau kamu tidak perlu ikut memikirkan kehidupan kita… Aku memang hanya mahasiswa asing di negara ini, tapi aku tetap akan bekerja sekuatnya untuk kita. Tinggallah di rumah saja dengan aman dan tunggu aku, karena aku benar-benar takut kehilanganmu…”

Sekali lagi, biarpun aku sudah berkali-kali membuatnya seperti ini, ia tetap berbalik untuk balas memelukku, memaafkanku.

So could I say I’m sorry? (Sure)

But would it do any good? (No…)

‘Cause she’s out of my life and you never wanna see me again…


 

Ya, ya… aku sadar, bukan kali ini saja aku pernah menyakitinya. Tapi bodohnya, kali ini untuk sejenak aku malah terpaku melihatnya tergolek tak sadarkan diri seperti itu. Entah shock atau menyesali diri sendiri, aku hanya mampu diam, menyentuhnya pun aku tak berani lagi. Luka-luka itu… jadi itu semua hasil perbuatanku? Tapi aku sama sekali tak bermaksud, aku hanya ingin ia aman di rumah, tidak pergi dariku, selalu menungguku, tapi mengapa ia tidak pernah mendengar? Sehingga akhirnya aku selalu harus memaksanya mengerti dengan cara seperti tadi.

Aku terus memandanginya yang tetap tak bergerak, berharap ia tiba-tiba akan terbangun dan kembali memelukku, memaafkanku seperti biasanya. Tapi sepertinya itu hanya harapan kosong… Tapi tunggu, ia tidak mungkin mati, kan? Yeoshin-ku akan terus menemaniku kan? Namun seketika aku sadar, ia hanya manusia, tidak seperti namanya (yeoshin=dewi). Berarti kemungkinan itu… tidak, tidak, tidak akan kubiarkan seorangpun mengambilnya dariku, tidak sebelum aku meminta maaf—atau… tidak, sampai kapanpun aku tidak akan pernah membiarkannya meninggalkanku!

Maka aku pun buru-buru mengangkat tubuhnya dan melarikannya masuk ke dalam mobil. Ringan sekali… aku memeluk kakinya dengan amat mudah, dan… longgar. SIAL!! Aku bahkan tak sadar gadisku sudah sekurus ini! Dan semua juga karena aku!!

Yeoshin-ah, maafkan aku, maafkan aku… Tapi, akankah itu mengubah apapun saat ini?

 

What can I do to fix this, ’cause babe

I need you more than the night sky needs the moon…


 

“Lihat bulan itu!” Aku menunjuk putri malam yang sangat cantik, yang raganya setengah tertutup awan itu. Ia ikut mendongak sambil menghapus titik-titik airmata terakhirnya. “Kamu tidak perlu khawatir, Seoul dan Tokyo itu bahkan tidak ada perbedaan waktu sama sekali kan? Jadi kalau kamu kangen aku malam-malam, lihat keluar saja, dan carilah bulan. Karena disana, aku pasti juga sedang melihat bulan yang sama… Dengan itu kita jadi merasa dekat kan?”

Aku memandangnya sambil tersenyum. Ia menatapku sebentar, dan kemudian… CUP! Ia menciumku lebih dulu, tepat di bibir. Aku terlalu kaget bahkan untuk bisa membalasnya. Ini kali pertama ia menciumku lebih dulu, pasca sebulan kami bersama. Dan setahuku ia memang bukan tipe wanita yang fearless seperti ini, ia adalah tipe wanita Korea asli dengan sifat-sifat ketimurannya: pemalu, penurut, dan teramat sopan. Tapi itu justru yang aku suka. Sudah jarang gadis Korea yang seperti dia, kebanyakan sudah sok-sok Barat yang membuat mereka jadi berlaku murahan. Padahal barat juga bukan seperti itu juga, kalaupun mereka have sex, semua berlandas cinta, bukan hanya biar tidak dibilang ketinggalan zaman seperti disini (<— pernah tinggal di Amrik gini nih). Tapi tunggu… kenapa aku merasa ada tetes air mengalir di pipiku?

“Huhuhu… Kamu bodoh…” Isaknya setelah melepaskan ciuman itu. Ternyata dia. Ia malah tambah menangis.

“Heh??”

“Iya, kamu bodoh… Kalau tiba-tiba aku kangen kamu ketika bulan sedang tidak ada, bagaimana? Ada yang namanya fase-fase bulan, kan… Ketika bulan penuh, sabit, setengah seperti ini, atau bahkan tidak ada sama sekali… Gimana sih…” Ia manyun menatapku.

Seketika aku tertawa, “Hahaha, kamu menghancurkan mood romantisku deh!” Kataku sambil mengacak rambutnya. Tapi ia melepaskan tanganku dan kembali menatap langit.

“Tapi lihat deh, bulannya hanya setengah saja langitnya sudah gelap seperti ini… Apalagi kalau tidak ada sama sekali. Pasti langitnya sedih sekali karena tidak ada yang menerangi dia…”

Aku ikut menatap langit sembari menggenggam tangannya. “Jangan malah mengasihani langit, kasihanilah aku dulu.” Ia menoleh dan menatapku dengan pandang heran. Aku tersenyum, sambil tetap memandang bulan di atas kami. “Karena aku lebih, jauh lebih butuh kamu daripada langit malam membutuhkan bulannya…”

Aku akhirnya menoleh, dan mendapati wajah cantiknya yang terlihat terkejut. Masih sambil menggenggam tangannya, aku semakin membuatnya terkejut dengan kata-kataku selanjutnya, “Ikutlah denganku.”

***

“Uff, jadi disini kita bakal tinggal?” Ia mengusap peluhnya akibat berjalan kaki dari stasiun sambil menenteng-nenteng koper besar, menolak kubantu.

Aku mengangguk, “Um, orang-orang Jepang menyebutnya ‘apato’. Maaf ya kita hanya tinggal di apartemen kecil begini, aku harap kamu tak menyesal dan tiba-tiba pulang lagi ke Seoul saat aku sedag kuliah.” Kataku setengah tertawa.

Ia terkekeh, “Wah, kalau itu aku tidak tahu ya.”

Aku menyeringai, “Berani, ya…” Kataku sebelum mulai melancarkan kelitikan-kelitikanku di pinggangnya. Ia menggeliat sambil tertawa-tawa dan mencoba kabur, tapi aku menahannya, kini malah menjitak kepalanya ala mamanya Shinchan sambil ikut tertawa. Bukannya masuk rumah, kami pun terus bermain-main, sampai tiba-tiba pintu di sebelah kamar apartemen kami terbuka.

Kami langsung terdiam melihat obaba (nenek-nenek) yang keluar dari kamar apartemen itu. Merasa bersalah karena sudah ribut, aku sudah akan menunduk meminta maaf ketika aku merasakan sebuah tangan menekan kepalaku untuk ikut membungkuk.

“Sumimasen.” Kata kekasihku, Yeoshin, sambil tetap membungkuk dalam. Aku meliriknya dalam bungkukku, sejak kapan anak ini bisa bahasa Jepang?

“Ani to imouto da no? (Kakak-adik, ya?)” Tanya obaba itu.

Yeoshin menoleh ke arahku ketika kami sudah bangkit dari bungkuk, tidak mengerti sepertinya. Hahaha. “Hai. Kankoku kara kimashita. Kore kara osewani narimasu, dozo yoroshiku onegaishimasu. (Iya, kami datang dari Korea. Mulai hari ini kami akan merepotkan, mohon bantuannya.)” Aku kembali membungkuk, sepertinya lebih baik memang kalau identitas kami disini kakak-adik saja. Yeoshin yang tidak mengerti ikut-ikut saja membungkuk.

Obaba itu hanya mengangguk-angguk dan langsung masuk kembali ke dalam kamar apato-nya.

Yeoshin menatapku penasaran, “Kita dimarahin ya? Apa katanya?”

Aku menahan tawaku seraya menatapnya, “Iya, kita dimarahin tuh, gara-gara kamu sih.” Aku menyentil keningnya. Ia menggembungkan pipinya tanda kesal tapi tak mampu berkata apa-apa, lucu sekali. “Sudah ah, setidaknya kamu sudah bisa minta maaf, lain kali kalau tidak mengerti orang bilang apa, bilang ‘sumimasen’ saja seperti tadi ya. Hahaha.” Kataku sambil menengok kiri-kanan, memastikan tak ada orang. Ia ikut menoleh-noleh, bingung akan tingkahku. Yosh, aman! Tanpa aba-aba aku pun langsung membopong tubuhnya.

Ia hanya mampu ternganga sebelum akhirnya, “Aaaa~ Yoochun-ah turunin…!!”

***

Aku sedang mengajaknya melihat-lihat kampusku sesuai permintaannya kalau aku libur ketika aku tersadar kalau sedari tadi matanya bersinar terlalu cerah hanya dengan menginjakkan kaki di areal daigaku (universitas) ini. Kelas-kelas, laboratorium, perpustakaan, bahkan hanya kantin, di semua tempat matanya terus memandang kagum dan mulutnya tak henti bertanya ini-itu padaku. Padahal akhir-akhir ini ia terlihat murung di rumah, namun karena hari ini, aku jadi mengerti kenapa.

“Kamu mau kuliah juga?” Tembakku begitu saja ketika kami sedang makan ramen di kantin. Seketika ia menghentikan makannya dan menatapku dengan matanya yang terlihat membulat saking senangnya.

Ia mengangguk-angguk cepat, seperti masih tak mampu melukiskan dengan kata-kata betapa senang hatinya akan kepekaanku menebak keinginannya itu.

Aku tertawa kecil sambil geleng-geleng kepala, “Telan dulu ramennya.” Kataku sembari mengusap-usap rambutnya yang terkepang ala Lara Croft. Ia mengangguk sekali dan GLEK! langsung menelan ramen di mulutnya tanpa melanjutkan mengunyah lagi. Aku makin tertawa. “Ya ampun, tersedak tidak tanggung, lho ya.”

Ia menggeleng sambil tersenyum lebar, “Iin desuka? (Bolehkah?) Aku boleh kuliah juga, Yoochun-ah?”

Aku berpikir sebentar sebelum mengangguk, “Yah, kalau cuma daigaku negeri sih sepertinya dengan bekerja sambilan lebih keras lagi aku masih bisa membiayaimu—kuliahku beasiswa ini, ada uang sakunya lagi *senyum*. Tapi ujian negara masih setengah tahun lagi kan, itupun kalau kamu bisa masuk. Satu kali kesempatan saja ya, biaya daigaku shiken (ujian masuk universitas) mahal soalnya.” Akhirnya aku maju dengan keputusan gambling seperti itu. Gambling, karena aku bertaruh ia tidak akan lolos daigaku shiken yang memang terkenal sulit itu. Ini hanya untuk mengembalikan keceriaannya lagi saja. Ia tidak akan, tidak boleh pergi dariku…

Dan benar saja, seketika matanya berbinar lebih cerah lagi, “Hontou ni?? (Betulkah??) Arigatou, Yoochun-ah! Arigatou gozaimasu!” Ia bangkit dari duduknya dan memelukku. Melihatnya, mahasiswa/i lain langsung memandangi kami heran.

“Imouto desu, imouto desu. (Ini adikku kok, adikku.)” Aku menunduk memohon maaf atas keberisikan gadisku ini pada mereka. “Ya! Oniichan (kakak <laki-laki>), panggil aku oniichan kalau di luar!” Bisikku padanya.

Ia menepuk jidatnya sebentar tanda lupa, dan langsung memelukku lagi, “Arigatou, ONIICHAN~!!”

I gotta face the fact she’s not here

So I’m begging You to hear my cry, God I need that girl

If You must take instead my life…


 

Aku mengingat-ingat semua kenangan kami selama perjalanan ke rumah sakit. Kenangan sejak kami di Korea sampai kepindahan kami ke Jepang untuk mengikuti studiku. Ya, ia akhirnya memilih untuk pergi denganku biarpun tanpa restu orangtuanya. Baiklah, orangtua mana sih yang akan setuju anak perempuan mereka yang baru lulus SMA ikut begitu saja ke negeri orang, dengan pria yang juga baru lulus SMA, dan baru sebulan dipacarinya? Tapi ia tetap mantap ingin memulai hidup baru bersamaku, dari nol lagi, di negeri orang ini. Cinta memang buta, kan, eh?

Dan memori demi memori yang kukenang, sepertinya semuanya indah… Ya kan? Biarpun di tahun-tahun pertama hidup kami sedikit sulit sebagai pasangan mahasiswa asing dengan keuangan yang terbatas, tapi hari-hari kami selalu penuh senyuman, sampai akhirnya aku berhasil magang dan kini sukses sebagai insinyur hingga mampu memberi kami hidup yang layak… Di bagian mana yang salah??

Sambil tetap ngebut melajukan mobilku, aku meliriknya yang masih terbaring tak berdaya di jok belakang, dan BUKK!! BUKK!! BUKK!! Kutonjok setir berkali-kali atas ketidakmampuanku menjaganya, aku bahkan sampai lupa kapan kebiasaan main tangan-ku terhadapnya mulai mencuat… Bagaimana bisa, dan apa motif awalku menyakiti wanita yang kupuja ini?? Aku betul-betul tidak habis pikir, karena semua yang kuingat, selama yang kuingat, kebersamaan kami selalu manis…

Rumah sakit, akhirnya aku menemukannya. Tanpa mempedulikan kanan-kiri lagi aku pun langsung banting setir memasuki gerbang rumah sakit itu.

TIIINNN!!

“Hati-hati, hei!!”

“BAKA NO OTOKO!! (Pria idiot!!)”

Bunyi klakson dan makian terdengar dengan segera, tapi aku tak peduli. Ada yang mati karena manuverku yang tiba-tiba tadi pun aku tak peduli, siapapun boleh mati asal bukan Yeoshin-ku. Kalaupun Tuhan memang harus mengambil nyawa seseorang hari ini, aku bahkan bersedia menyerahkannya. Sebagai ganti Yeoshin-ku, sebagai ganti dewiku…

Aku memarkir mobilku, hasil kerja kerasku selama 4 tahun di Jepang ini begitu saja di depan instalasi gawat darurat dan dengan segera membopong tubuh mungilnya dari dalam mobil memasuki instalasi itu.

“Sensei (Dokter)!! Sensei!! Tolong kekasihku, tolong kekasihku!! Sensei!! Sensei cepat tolong dia, tolong dia!! Tolong dia, onegaishimasu (aku mohon)…” Aku berlari kesana-kemari dengan tubuhnya di pelukanku, berteriak-teriak layaknya orang gila memanggil-manggil dokter untuk menolongnya.

‘Layaknya’? Aku memang SUDAH gila, karena orang waras tidak akan mungkin membuat kekasihnya seperti ini. Aku terus berteriak minta tolong sampai akhirnya ada seorang juru rawat pria mengambil alih Yeoshin dari gendonganku dan segera menidurkannya di atas ranjang beroda, mendorongnya lebih masuk ke dalam instalasi gawat darurat itu. Aku hanya mampu terduduk lemas, aku memang gila, orang gila yang terlampau sering menyakiti orang yang paling dicintainya, yang paling mencintainya, sampai-sampai ia sudah tidak sadar kapan pertama kali wanita tercintanya itu harus menjadi korban kegilaannya. Aku bodoh sekali, aku bodoh sekali…!!

Break out, break out, ashita e no do-a~

Tepat di saat itu, ponselku berbunyi yang dapat kutebak itu panggilan masuk dari ringtonenya. Tapi alih-alih mengangkatnya, aku hanya diam menatap benda yang masih sibuk berkedip-kedip itu. Ponsel. Panggilan masuk. Dan… ya, aku ingat semuanya. Awal dari semuanya kebiasaan burukku padanya…

I love you, I love you, I love you means this can’t be

I love you, I love you, I love you’s the only beginning

I love you, I love you, I love you this ain’t the end

I love you, I love you, I love you’s the only beginning

“Saengil chukhahamnida, saengil chukhahamnida, saranghaneun uri Yoochun… Saengil chukhamnida…” Ia tersenyum menyambutku yang baru pulang bekerja sambilan dengan sebuah cake cokelat berhias lilin di tangannya. Aku ikut tersenyum sambil menyalakan lampu apartemen mungil kami yang mungkin sengaja ia matikan tadi untuk melengkapi kejutan ini.

“Gomawo, Yeoshin-ah.” Kataku sebelum meniup lilin-lilin itu dan mencium kelopak matanya. Ia sedikit menengadah untuk menatapku, masih dengan senyumnya itu. Cantik. Gadisku memang selalu cantik seperti dewi sesuai namanya. Ia baik, dan mencintaiku dengan sepenuh hatinya. Ia bahkan rela meninggalkan keluarganya demi ikut dan tinggal bersamaku di Jepang ini biarpun tanpa ikatan pernikahan, hal yang tak pernah henti aku ucapkan terima kasih biarpun hanya dalam hati. Hanya satu kekurangannya…

Kotoba wa iranai, tada kimi ga~

Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ia buru-buru meletakkan kue dengan lilin yang sudah padam sempurna itu ke atas meja makan kami untuk meraih ponsel yang berada di dalam kantong apron yang masih dikenakannya. Firasat (dan mood) ku tiba-tiba berubah buruk.

“Moshi-mosh~ Ah, Jaejoongie! Iie, kamu tidak ganggu kok. Ada apa? Oh, sou… Ee, wakatta, wakatteta— (oh, begitu… Iya aku mengerti, sudah mengerti kok—)”

Ia terus melanjutkan menelepon, sekarang malah sudah berbalik badan, sebegitu pribadikah pembicaraan mereka sampai membuatnya harus berpaling dari hadapanku? Dan Jaejoong, Kim Jaejoong. Pria itu lagi, teman sekampusnya. Kampus? Ya, aku ternyata kalah bertaruh, karena ia tanpa diduga dinyatakan lulus dalam ujian masuk universitas yang aku janjikan itu sehingga dengan terpaksa aku juga harus melepasnya kuliah. Disanalah ia akhirnya bertemu pria ini, sama-sama mahasiswa asal Korea, yang akhirnya menjadi alasan untuknya terus mendekati kekasihku.

“…watashi no kare? Yoochunie no koto desuka? (Pacarku? Tentang Yoochunie, maksudmu?)”

Aku seketika mendelik. Pria itu bahkan berani bertanya-tanya tentang aku?? Dan bodohnya, gadis ini menjawabnya! Ini, inilah yang aku bilang satu-satunya kekurangannya, ia sama sekali tidak peka dengan perasaanku, bagaimana mungkin dia membicarakan aku dengan teman laki-lakinya, di hadapanku sendiri?? Apa sudah sebegitu asiknya mereka mengobrol bahkan aku pun seperti tidak terlihat di hadapannya? Dunia milik berdua, eh??

Akhirnya kesabaranku habis sudah, aku sudah menahan ini sekian lama, sejak awal teman kampusnya itu mendekati gadisku. Tapi sepertinya ini sudah fatal, ingat kan kalau ini ulangtahunku? Dan ia malah asik mengobrol dengan pria lain?? Maka dengan kasar aku pun langsung merebut ponsel yang masih dipegangnya, “Na, Yeoshinie namjachinguya. Wae? Jigeumbuteo, nae yeojareul tteonabwa, areo?!! (Aku, kekasih Yeoshin. Kenapa? Mulai sekarang tinggalkan wanitaku, mengerti?!!)” Teriakku dengan bahasa Korea, sengaja karena menurutku bahasa ibu kami lebih memudahkanku berkata kasar padanya. Tak menunggu lama, aku segera kembali menatap kekasihku dan langsung mematahkan ponsel flip itu menjadi dua bagian di depan wajahnya, dan membiarkannya jatuh begitu saja ke lantai. Ia betul-betul terlihat terkejut. Karena biasanya aku memang selalu tenang, terlalu tenang… Tapi pernah dengar kan kalau biasanya orang yang tenang itu akan lebih menyeramkan saat marah? Itu benar adanya.

“Aku sudah sering bilang baik-baik padamu untuk menjauhi bajingan itu, tapi sepertinya telingamu tuli, ya? Apa memang butuh kekerasan untuk membuatmu mengerti, hah??” Tanyaku dengan nada yang makin lama makin tinggi. Tapi ternyata bukan hanya itu bagian dari diriku yang telah meninggi, karena tiba-tiba… PLAKK!! sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulusnya. Tanganku yang barusan terangkat, tanpa kusadari telah melaksanakan tugasnya.

“Yoo… chunie…” Ucapnya pelan sambil menyentuh pipinya, seperti shock akan perbuatan kasar pertamaku selama nyaris dua tahun kami berhubungan ini. Tapi seakan belum cukup, aku langsung menendangnya yang masih terdiam memandangku itu, sampai terjatuh.

“Mulai hari ini, kamu dilarang kuliah lagi!! Dan jangan coba-coba keluar rumah tanpa aku!!” Kataku sambil menghadiahinya ‘kado’ terakhir malam ini, kursi makan kami yang terbuat dari kayu yang kulempar ke atas tubuhnya. Dan BRAKK!!! kursi itu patah dengan bunyi keras yang dihiasi jerit rintih kekasihku.

Aku menatapnya yang sedang mencoba bangkit dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi aku bertanya-tanya apakah aku keterlaluan, tapi aneh, aku betul-betul tak tahu apa, tapi dengan melakukan ini semua, rasanya seperti ada sesuatu di dalam sini yang merasa ‘terpuaskan’…

“Aku mencintaimu.” Bisikku akhirnya. “Ini semua kulakukan karena aku mencintaimu. Mari kita mulai hidup yang baru, jangan pernah memaksaku menyakitimu lagi karena yang seperti ini baru permulaan… Aku sendiri tidak tahu apa yang akan aku lakukan jika lain kali kamu berulah lagi.”

Tapi sayangnya, ia tidak pernah mendengarkan. Dan sejak itu, menyakitinya mulai jadi kebiasaanku…

***

Hari ini aku pulang cepat karena restoran tempatku kerja sambilan sedang berulang tahun, dan karena itu jugalah mereka memperbolehkan karyawannya memilih satu menu dan membawanya pulang secara GRATIS. Aku tentu senang sekali dan segera membuat dan membungkus satu set sushi untuk Yeoshin dengan senyum memngembang. Sushi adalah makanan mahal, orang Jepang sekalipun jarang-jarang bisa menikmatinya. Yeoshin pasti akan senang, aku sudah bisa membayangkannya.

Sesampainya di gedung apartemen kami, aku sampai meloncati tangganya dua-dua sekaligus saking tak sabarnya memberi kejutan pada kekasihku itu. Yeoshin tunggulah, hari ini kita akan makan besar^^

Tapi ternyata, pemandangan yang aku dapatkan di depan kamar apato kami seketika menghancurkan semuanya.

“Omae!! (Kamu!! <bentuk kasar>)” aku segera menjatuhkan kotak sushi-ku dan menyerang pria bertopi rajut itu tanpa ampun. Kim jaejoong. Dialah Kim Jaejoong itu. Aku pernah dikenalkan padanya suatu kali saat menjemput Yeoshin di kampusnya, dan sejak saat itu, meninjunya sudah menjadi obsesiku tersendiri. Dan kali ini ia sendiri yang mendatangiku, betul-betul suatu kebetulan.

“Ige mwoya??” ia mendorongku menjauh sambil mengelap sudut bibirnya yang berdarah.

Aku menarik kerah jaketnya kasar, “Kamu tanya ‘apa-apaan’?? Nandemonai, tada, kore, (Tidak ada apa-apa, hanya, ini,)” dan BUKK!! Kembali aku meninju rahangnya sekuat tenaga. Terdengar suara krakk! kecil, sepertinya aku telah berhasil mematahkan satu atau dua giginya. Yah, sebetulnya kalau lebih akan lebih baik lagi, sih.

“Yoochun-ah, geumanhae, geumanharago! (Berhenti, aku bilang berhenti!)” jerit Yeoshin sambil berusaha keras memisahkan kami. Aku mendorongnya menjauh. Ini urusan pria.

Tapi sepertinya aku lupa mengontrol kekuatanku, ia pun terjatuh dengan sukses menabrak pintu.

“YAA!” si pria Jaejoong ini langsung bereaksi melihatnya. Oh, mau terlihat lebih khawatir padanya dari aku? Mau cari muka di hadapanku gadisku, hah? Maka akupun langsung menariknya yang sudah nyaris menghampiri kekasihku lagi, dan memberikannnya tinju pamungkasku, yang pastinya jauh lebih keras dari yang sebelum-sebelumnya. Sukses.

“Kita masuk!!” aku menarik paksa tangan Yeoshin, menghindari pandang dan bisikan-bisikan tetangga-tetangga kami yang sudah berkumpul karena mendengar ribut-ribut di luar kamar apato mereka. Tapi jangan harap ini semua berakhir, karena di dalam, kali ini gilirannya yang mendapat pelajaran dariku.

PLAKK!!

Seperti biasanya, ‘menu pembuka’-ku untuknya adalah tamparan.

“Masih tuli? Apa perlu aku membawamu ke dokter THT hanya supaya kamu mendengarkan laranganku? Aku KEKASIHMU, hei! ANGGAP AKU!!” teriakku sambil mengguncang-guncang kepalanya.

“Aku juga tidak tahu apa-apa, dia datang menjengukku karena aku tiba-tiba berhenti kuliah, aku—“

“USO!! (bohong!!)”

“Uso janaiyo! (Aku tidak bohong!)” jeritnya akhirnya, sambil menutup telinga. Pelan-pelan tubuhnya pun melorot jatuh ke lantai. Ia menangis, seperti biasa.

Aku hanya meliriknya sambil menghela napas lelah, “Kamu tidak lagi punya kunci. Semua kunci apartemen kita aku yang pegang, dan semua pintu akan kukunci dari luar setiap aku pergi, sampai waktu yang tidak ditentukan. Semua tergantung sikapmu.”

***

“Aku hamil!” serunya senang sambil berlari memelukku yang sedang sarapan untuk memamerkan testpack berbentuk stik itu. Aku segera menoleh dengan senyum tak percaya dan langsung balas memeluknya juga. Betulkah? Aku akan jadi ayah, jadi ayah!

“Hontou? (Betulkah?)” tanyaku masih sambil memeluk dan mengelus-elus rambutnya.

Ia mengangguk pasti, “Hontou ni.” Senyumnya, amat bahagia. Aku makin memeluknya erat. Bayi ini datang betul-betul di saat yang tepat… Baru saja bulan lalu aku lulus kuliah dan langsung diterima sebagai karyawan tetap di perusahaan manufaktur mobil kenamaan tempatku magang. Walhasil hidup kami seketika berubah menjadi berkecukupan, aku bahkan mampu mengkredit mobil dengan diskon karyawan yang diberikan perusahaanku itu. Kehidupan yang layak, mobil pribadi, dan bayi… betapa lengkapnya hidup kami kini. Hanya mungkin…

“Berhubung anggota keluarga kita akan bertambah satu, haruskah kita membeli rumah yang lebih layak? Yang lebih besar, mungkin? Aku ingin anakku nanti bisa bergerak dengan bebas…Bagaimana menurutmu?” tanyaku padanya.

Ia langsung menutup mulutnya karena terkejut campur senang, “Hontou ni? Ya, iya, aku mau, aku mau!” serunya sambil kembali memelukku. “Arigatoyo, hontou ni arigatou!”

“Dou-mo. (Sama-sama.)” Ejaku sambil menyentil keningnya bercanda. Ia tertawa kecil sambil kembali menenggelamkan wajahnya di dadaku. Aku mencium puncak kepalanya lembut. Dengan ini aku pikir aku akan bisa kembali menjadi aku yang dulu, tapi ternyata aku salah…

Tak menunggu lama, seminggu kemudian kami pun sudah pindah ke sebuah apartemen baru yang jauh lebih layak daripada apartemen kami yang dulu. Agak mahal sih, tapi apa sih yang tidak akan aku beri demi wanita dan calon bayi yang paling aku cintai? Karena itu juga, tiap harinya aku pun jadi seperti mendapat semangat untuk terus bekerja lebih baik lagi di kantor. Pasti perasaan semua calon ayah seperti ini ya? Aku betul-betul tidak sabar menantikan kelahiran anak kami. 6 bulan lagi, ya… Gidaehalkke (aku sangat menantikannya)^^

Eh, tapi tiba-tiba aku jadi ingat satu hal… Pernikahan. Hehe, kami bahkan belum menikah. Tapi karena itu aku jadi berpikir… bagaimana kalau setelah putra (entah kenapa aku yakin sekali ini putra, Park Yooshin) kami lahir, kami kembali  ke Korea dan menikah? Tentu saja dengan membawa putra kami juga. Kata orang biasanya hati orang tua akan mencair jika melihat cucunya kan? Waah, aku jadi makin tidak sabar menunggu jam pulang kantor hari ini, ingin segera menyampaikan ide brilianku ini padanya…

“Tadaima. (Aku pulang.)” Kataku begitu membuka pintu rumah kami. Lho, sepi? Apa ia sedang keluar? Iya, aku memang memperbolehkannya keluar lagi sekarang, hitung-hitung hadiah kehamilannya, dan siapa tahu putraku mau jalan-jalan, masa iya aku tidak memperbolehkannya?

“Yeoshinie… Jagiya…” panggilku sambil memeriksa seluruh ruangan di rumah kami.

“Okaeri. (Selamat datang).” Akhirnya aku menemukannya sedang meringkuk di atas kursi makan kami. Ia menjawabku lemah dengan wajah masih tertunduk di atas kakinya yang memang tertekuk di atas kursi.

Aku langsung khawatir melihatnya, “Hei, ada apa?” tanyaku yang dengan segera menghampirinya.

Seperti biasa, jika ditanya begitu ia pasti akan tambah menangis. Benar saja, isak tangisnya seketika terdengar makin keras. Aku makin panik dibuatnya. “Ya, ya, uljima… Ada apa?”

“Jal mothaesseo… (Aku salah…)” racaunya. “Naega jal mothaessoyo…  (Aku sudah berbuat salah…)”

Firasatku mulai tidak enak, “Lho, ada apa sih ini? Yeoshin-ah, jangan membuatku bingung!”

“Aku keguguran…” jawabnya pelan, tanpa berani memandang wajahku. “Aku kehilangan bayi kita.”

Dan hari itu, adalah hari terburuk baginya. Pembalasan baginya karena telah menghilangkan bayi kami, sekaligus awal kembalinya sisi tiran-ku, yang ternyata jauh lebih kejam dari aku yang sebelumnya.

All you wanted was I love you, I was too insecure to

But if it brings you back, I will love you girl

Love you, I am your man…

Aku ingat semuanya, aku ingat… Setelah kejadian itu, aku betul-betul telah berubah. Walaupun perasaan di dalam sini yang mencintainya tetap sama, tapi sepertinya ia tidak pernah merasakan itu. Bagaimana mungkin seseorang merasa dicintai jika bentuk cinta yang diberi pasangannya hanyalah berupa pukulan dan makian? Aku sadar itu semua kini. Aku sadar, akulah yang telah menyakiti fisiknya selama ini. Tapi aku tak pernah menyangka, dan tak pernah memperhatikannya begitu lekat untuk mengetahui keberadaan banyak luka itu, hasil perbuatanku. Dan kini, aku sampai berhasil membuatnya tak sadarkan diri. Aku menyesal, menyesal… Menyesal telah memilih cara yang salah untuk mencintainya. Aaaaaaarrrghh!! Apa yang telah aku lakukan selama ini?? Kalau saja penyesalanku ini dapat membawanya kembali…

“Keluarga dari Choi Yeoshin? Ada disini?” Tiba-tiba seorang dokter keluar dari instalasi gawat darurat itu ke ruang tunggu ini. Aku segera menengadah dan berdiri menghampirinya tergopoh-gopoh.

“Ore desu. Sono hito wa ore desu. Kare desu. (Saya, saya kekasihnya.)”

Ia menatapku dengan pandangan aneh, seperti sangsi, atau… curiga? Tapi aku tak mempedulikannya. “Ore no kanojou wa…? (Bagaimana keadaan pacar saya?)”

Tiba-tiba wajah dokter itu berubah keruh, ia memegang kedua bahuku. “Maaf, kami sudah berusaha, tapi kekasih Anda…”

Aku langsung menepis kedua tangannya, “Tidak, tidak, Anda bohong. Ia tidak mungkin mati, kan? Tidak mungkin, kan?? Jawab saya!!” Aku mengguncang-guncang tubuh dokter itu kencang, tapi ia tetap menggeleng.

“Maaf… Kami betul-betul telah berusaha.” Katanya. “Tapi kami menemukan banyak luka-luka dan lebam-lebam di sekujur tubuh kekasih Anda, baik lama maupun baru. Apakah Anda tahu—”

Buram. Sunyi. Seketika dunia terlihat abu-abu dan begitu hampa di mataku. Aku bahkan sudah tidak mampu lagi mendengar kelanjutan perkataan dokter itu. Telingaku menuli, mataku tiba-tiba rabun akibat airmata yang sudah siap tertumpah namun menolak dikeluarkan. Rasanya sakit, ingin melepaskan semua ini lewat tangisan, namun ternyata bagian tubuhmu itu malah mengkhianatimu, bersekongkol dengan nasib seakan belum cukup pahit yang ia tuliskan untukmu. Mengesalkan, mengesalkan sekali… Kenapa airmata ini betul-betul menolak untuk keluar…

Akhirnya aku hanya mampu jatuh berlutut, “Saya.” Ucapku pelan, hanya ingin mengakui segalanya. “Saya pelakunya.”

Aku mencintainya, terlalu mencintainya, terlalu serakah menginginkannya untuk diriku sendiri sampai semuanya berakhir seperti ini… Dan aku patut mendapat balasan atas semua itu.

So I’m begging You now to hear my prayer

God I will be her man

I’ll cherish her, this time I’ll do it right…

Dan disinilah aku, hanya mampu menyesali diri tiap harinya, terkurung di jeruji besi bersama para ‘pesakitan’ lainnya. Bedanya, dalam kasusku, kata itu bukan hanya sebuah istilah. Aku betul-betul ‘sakit’. Pesakitan bodoh yang malah membunuh satu-satunya orang yang paling mencintai dan dicintainya. Pesakitan yang menghabiskan waktunya hanya untuk mengemis-ngemis pada Tuhan agar mengembalikan gadis itu, separuh jiwanya itu. Dan… Tuhan, aku betul-betul memohon pada-Mu, masih belum cukupkah semua doaku? Belum pernah kan aku memohon pada-Mu sampai seperti ini? Maka kabulkanlah, kabulkanlah… Aku berjanji akan menjaganya kali ini, aku berjanji akan melakukannya dengan benar, aku mohon…

“Haha, lihatlah, dia mulai dengan ritualnya lagi.” Terdengar suara seorang pria. Aku segera mendongak. Oh, opsir. Biarlah, baik opsir maupun napi yang lain, semuanya sudah biasa mengolok-olokku.

“Sayang sekali, padahal orang Korea itu tampan sekali, lho.” Kini suara wanita, pasti opsir wanita yang ada disebelahnya tadi. Aku tidak mempedulikannya, dan tetap khusyuk berdoa dengan tangan tertangkup. Ya, seakan Tuhan mau mendengarku saja. Tapi ini patut dicoba kan? Setidaknya aku rela melakukan apa saja sampai Tuhan mendengarkanku.

“Tapi aku jadi sedikit takut melihat sikapnya itu, ia bahkan tidak pernah bicara. Apa memang seharusnya dia lebih cocok di rumah sakit jiwa ya?”

Cih! Mereka betul-betul mengganggu kini. Penjara ataupun rumah sakit jiwa, bagiku semua sama! Mau aku berada di istana pun, selama tanpa Yeoshin-ku, semua tetap terasa seperti di neraka. Sekarang aku baru betul-betul tersadar bahwa kalimat ‘penyesalan selalu datang terlambat’ itu benar adanya. Juga ‘seseorang tidak akan pernah tahu betapa berharganya orang lain sampai orang itu menghilang’, itu juga benar. Perbedaannya hanyalah, aku SUDAH tahu betapa berharganya ia saat masih bersamaku, hanya saja setelah ia menghilang, betapa berharganya ia jadi semakin terasa…

 

This is truly my fault

‘Cause when you left that day it was tears from our fight

I should’ve made you stay


 

5 tahun kemudian

Ya, ini memang salahku, sepenuhnya salahku. Tangisan-tangisan, penderitaan, sampai kepergiannya, semua salahku. Hingga kini aku sudah terbebas dari kurungan penjara, aku masih tetap merasakan penyesalan yang sama. Padahal kalau saja aku tidak sebodoh itu, mungkin saja ia masih ada disini, padahal seharusnya aku mampu membuatnya tetap disini…

Dan lihatlah, sudah selama ini ternyata Tuhan belum juga mengabulkan permintaanku. Padahal aku hanya berharap satu hal, kembalikan dia padaku. Seumur hidupku aku tak pernah meminta apa-apa, hanya ini… Tapi yah, jika Ia memang menginginkannya seperti itu, apa yang bisa aku katakan? Dia pasti punya rencananya sendiri, dan begitu juga aku…

Aku memasuki areal pemakaman yang terletak di daerah perbukitan tidak jauh dari Seoul ini dengan sebuah buket mawar merah. Entahlah, biarpun dia sering bilang tidak suka diberi bunga, tapi lagi dan lagi aku selalu berakhir  dengan pilihan ini sebagai hadiah untuknya. Mau bagaimana lagi? Ia juga tidak suka diberi boneka, coklat apalagi. Kasihan bunganya kalau dipetik lah, susah merawat boneka, sampai coklat yang bisa bikin gemuk. Aku sampai selalu bingung dibuatnya tiap kali harus memilih kado. Padahal bagi pria, hadiah andalan untuk diberikan pada kekasihnya hanyalah di antara tiga pilihan itu kan? Hah, gadis aneh, tapi tuh kan, lagi dan lagi aku tersenyum bahkan hanya dengan memikirkannya. Dan seiring dengan senyumku, penyesalan kembali datang…

“Jagiya, annyeong.” Aku menyapanya yang tertidur di bawah rindang pohon yang aku tak tahu namanya ini. Hanya saja di bawah sini sejuk, sama seperti setiap aku berada di dekatnya, betul-betul tempat yang cocok untuknya. “Maaf aku baru bisa menemuimu sekarang, yah, karena satu dan lain hal.” Senyumku, tidak ingin ia mengetahui yang sebenarnya. Padahal menemuinya adalah hal pertama yang aku lakukan pasca menyelesaikan hukumanku. Aku bahkan telah memesan tiket dan mempersiapkan segalanya jauh sebelum hari kebebasanku tiba. Tapi kenyataan kalau ternyata selama ini aku berada di penjara pasti akan membuatnya sangat khawatir, dan aku tidak ingin itu terjadi, makanya aku memilih untuk merahasiakannya saja.

Berbicara tentang hukuman, aku memang sengaja menerima semua keputusan yang dibebankan pengadilan atas perbuatanku untuknya, tanpa banding atau apapun. Aku merasa pantas mendapat itu semua, lagipula mau ditaruh dimana mukaku saat bertemu kembali dengannya seperti sekarang, kalau dengan tidak tahu dirinya aku tiba-tiba mengajukan banding atas semua perbuatan yang memang aku lakukan? Tidak jantan sekali.

“Nareul bogoshipeosseoyo? (Apa kamu rindu padaku?)” tanyaku padanya. “Kalau aku, ya, jelas. Dan lihat betapa jahatnya Tuhan yang belum juga mengabulkan permohonanku untuk membawamu kembali. Tapi bagaimana lagi kalau memang itu yang ia inginkan, ya? Makanya aku sengaja kesini untuk menemuimu.”

Aku berlutut untuk meletakkan buket mawar yang kubawa sekaligus mengelus-elus batu nisannya. “Akhirnya aku sadar kalau tidak mungkin aku menyuruh-nyuruh seorang Tuhan, aku bodoh ya baru sadar sekarang? Maka dari itu, sekarang rencananya berubah,” aku tersenyum sambil merogoh saku bagian dalam jas hitamku dan mengeluarkan sebuah botol kecil.

“…karena tidak mungkin Ia yang membawamu kembali lagi padaku, jadi aku saja,” aku membuka botol itu dan mencium wanginya. Hmm, harum juga, tidak seperti yang kuduga. “…jadi aku saja yang datang padamu.” Kataku sebelum menenggak habis isi botol itu. Wow, efeknya langsung terasa, obat yang hebat. “Aku… pintar…” Yeoshin-ku, dewiku, aku datang, kita akan bisa segera berkumpul lagi. “…kan…?”

God I’m begging you now, hear my prayer

I really need this girl, bring her back today…


 

END

Advertisements
 
13 Comments

Posted by on January 25, 2011 in DBSK, [SONGFIC]

 

Tags: ,

13 responses to “[SONGFIC] I LOVE YOU

  1. babyhae

    January 25, 2011 at 5:06 pm

    author…..ini serem. beneran deh. bergidik sendiri baca ini. Yoochun cinta tapi saking terobsesinya sampe begitu >.<

    seremmmm…..bahkan sampe genre beginipun author daebak

     
    • lolita309

      January 27, 2011 at 11:59 am

      maaf yaa baru bales, baru ketemu internet lagi hehe

      hahaha, serem yah? ini sebetulnya bisa dibilang songfic sih, itu yang kalimat2 b.inggris, lagunya yoochun di album jyj-the beginning, aku langsung dapet ide beginian gara2 dengerin lagu itu, bagus banget T.T

      gomawo sayang uda baca^^

       
  2. Oepieck

    January 25, 2011 at 10:36 pm

    ya ampun, onnie
    sumpah, yoochun SADIS banget. gila aja, cwe dilempari kursi. Astaughfirullah…
    emang cinta tu kadang bikin orang gak berpikir logis ya? Sampe gak nyadar udah nyiksa cwenya sendiri.
    onnie kayaknya genre apa aja bisa ya? Daebak!

     
    • lolita309

      January 27, 2011 at 12:08 pm

      hahaha, gomawo 🙂

      iya, aku sengaja bikin cerita idol yang abusive, soalnya kayaknya aku belum pernah liat ada yang bikin idol jadi cowok jahat begini hehe

      makasih banget ya sayang udah baca^^

       
      • Oepieck

        January 27, 2011 at 6:33 pm

        sip onn! ^^

         
  3. maudiwook!

    January 26, 2011 at 6:57 pm

    *ngelus2 dada*
    sumpah nyelengsek banget bacanya -.-”
    konflik, konflik, konflik dan tadaaa~ tragis endingnya -.-”

    kasian yeoshinnya, tapi yoochun juga aneh, kok kayak jadi abnormal gitu.. (_ _”) #gedeplak

    bagus deh. jarang2 baca endingnya tragis.. :3 lanjott~ XD

     
    • lolita309

      January 27, 2011 at 12:14 pm

      nyelengsek? -___-

      hahaha, iya, tapi ngerti kan maksud ceritanya? abis aku alurnya bolak-balik-bolak-balik begini hehe. gomawo yaaa sayang uda baca^^

       
  4. hwangminmi

    January 27, 2011 at 1:52 pm

    serem unnie -.-
    gak gitu ngerti ceritanya <– bodoh -.-
    mungkin gara" bolak balik jadinya gak ngerti kali ya ==a
    atau mungkin gara" starringnya TVXQ?

    maap menggaje~

     
    • lolita309

      January 27, 2011 at 4:33 pm

      hwahahah, sepertinya dua-duanya mungkin tuh :p

      gapapa gapapa.. disini semua berhak menggaje hihi

       
  5. wiehj

    January 28, 2011 at 1:41 pm

    Keren thor!!!
    Ide crta bner2 ‎​gã byasa,karakternya aplgi..byasa th castnya pasti yg bagus2,cowo yg almost perfect..tpi yg nee bner2 jauu dr kata ‘cowo idaman’..keren lahh pokoknya.. 🙂
    Yeoshin nya jga babo!!dy slalu diem klu dipukul am yoochun,jdina yh si yoochun makin menjadii dh..
    Yoochun sh serem sumpah dh dsni..dy tlalu cemburuan,terobsesi bgtt am cintanya..emg sgala sesuatu yg lebey ntu ‎​gã bgus
    ‎​gã jdi kepengen dh punya cowo yg tenang cool gtu,ntar skalinya marah lebey kae si yoochun lage..wkwkkwkw XD
    Authorr,the series nya lanjutkan asap dunn..reader menantii *ga nyambung* heheh :p

     
    • lolita309

      March 10, 2011 at 4:01 pm

      iyaaa the series-nya sabar yaaa lagi ga ada waktu nih hikshiks T.T

      makasi sayang uda baca 🙂

       
  6. cho eunmi

    January 30, 2011 at 7:05 am

    hoalah , yuchun jadi psikopat . love is blind . lagunya enak .

     
    • lolita309

      March 10, 2011 at 4:03 pm

      yeah.. love is a true blind. iyakaaan lagunya enak kaaan? liriknya nancep JLEB JLEB JLEBB! XP

      gomawo uda baca 🙂

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: