RSS

[THE SERIES] NAE IREUMEUN JO KYUHYUN – Part 1

01 Dec

NAE IREUMEUN JO KYUHYUN (NAMAKU JO KYUHYUN) – Part 1

Written by: Lolita Choi (@lolita309)

Starring: Kyuhyun

 

Jadi secret service itu pasti keren sekali, ya.

Lagi-lagi aku mencuri-curi lihat ke arah hyung-hyung secret service itu sambil melakukan rutinitasku mengelap kaca pintu masuk utama gedung parlemen ini. Aku memang selalu suka memperhatikan kerja para hyung secret service yang memang sering berseliweran disini sebagai pelindung para pejabat negara itu. Lihat saja penampilan mereka; jas serba hitam, earset dan microphone kecil yang selalu terpasang di telinga, gerak-gerik yang selalu waspada, tubuh yang ‘jadi’, bahkan tak jarang mereka memakai kacamata hitam yang makin menambah kesan ‘keren’ itu. Yaah~ aku jadi melihat diri sendiri lagi kan, badan kurus kerempeng begini, ga bisa bela diri, ceroboh, cleaning service pula. Kyu, Kyu, mau jadi secret service? Jangan mimpi pagi-pagi deh…

Tiba-tiba sebuah mobil mewah berhenti di teras lobi gedung ini. Aku segera menoleh, dan satu per satu isi mobil itu keluar. Dan aku melihatnya. Orang pertama yang keluar dari mobil itu, dengan jas dan perlengkapannya, sepertinya ia juga seorang secret service. Aku belum pernah melihatnya disini sebelumnya, tapi dia… keren sekali…

Ia terlihat berbicara dengan microphone kecil yang menempel di pipinya sebelum mengangguk pada sang sopir agar membukakan pintu penumpang di mobil itu. Aku betul-betul tidak bisa melepaskan pandanganku darinya. Apa ini… cinta pada pandangan pertama? Haish, Kyu, kamu kan masih normal! Aku menepuk kedua pipiku sambil menggeleng keras. Tapi hyung ini betul-betul beda sekali dari hyung secret service lain yang sering aku lihat disini…

Ia berjalan sambil sedikit berbicara dengan pejabat yang dilindunginya. Siapa itu? Aku juga tidak mengenalnya… Mungkin ia senator baru? Mataku pun akhirnya terus mengekor pergerakan mereka yang kini sedang menuju lift, siap naik ke lantai para anggota dewan…

“Secret service keren ya?” Tanya sebuah suara di belakangku. Aku mengangguk-angguk bersemangat sambil mataku terus memperhatikan secret service keren itu.

“Itu senator baru, namanya Jo Taewang, pasti kamu belum pernah liat…”

Aku kembali mengangguk-angguk lebih kencang. Jadi itu senator muda Jo Taewang yang akhir-akhir ini sedang tenar?

“Apa kamu ga mau tanya kenapa aku bisa tau?” Tanya suara itu lagi. Aku langsung tersadar: oh ya, kenapa orang ini bisa tahu? Hebat, pasti dia update sekali dengan berita-berita…

“Ya, kamu hebat bisa tau ban—Supervisor Song??” Teriakku begitu tersadar kalau orang yang sedari tadi menimpali omonganku adalah supervisorku yang… kejam. Gawat.

“Sudah kubilang waktunya kerja, kerja!!” Semburnya. Aku langsung buru-buru kabur sambil mengangkat ember dan meraih lapku. Tapi tiba-tiba…

BRUKK!

Aku menubruk seseorang sampai ember berisi air kotor untuk mencuci lapku berhamburan kemana-mana, termasuk ke orang itu juga. Aku segera berdiri dengan gugup.

“Joisonghamnida, jeongmal joisonghamnida.” Aku membungkuk berkali-kali tanpa sempat melihat orang ini. Aku sudah siap biar harus dimarahi juga, sudah biasa ini setiap hari Supervisor Song memarahiku.

Tapi alih-alih mendengar seruan keras, aku malah melihatnya memungut lap kotorku dan memasukkannya ke dalam ember yang sudah kosong itu. Dan aku baru sadar siapa dia sebenarnya… secret service keren yang tadi.

Ia menyerahkan ember kecil biru itu padaku sambil tersenyum, “Ga apa-apa, aku juga salah terlalu sibuk koordinasi dengan temanku lewat earset tadi, tapi lain kali kamu juga hati-hati ya… Kyuhyun?” Ia melihat sekilas nametag yang terpasang di kemeja kerjaku sambil tersenyum. Seperti tertulis disana, namaku memang hanya ‘Kyuhyun’, tanpa nama keluarga. Omo… hyung ini sudah keren, baik hati pula!

“Ye, gomapseumnida, joisonghamnida…” Kataku sambil mulai membungkuk-bungkuk lagi. Ia tersenyum sekilas dan langsung berlalu.

***

Aku menaruh tasku begitu saja di atas meja begitu sampai di flat kumuh yang aku kontrak baru setengah tahun ini pasca memutuskan merantau ke Seoul. Aku sebatang kara, maka jangankan saudara, bahkan orangtuaku pun aku tak tahu siapa mereka. Sekarang mengerti kan kenapa aku tidak punya nama keluarga? Aku dibuang di depan sebuah host club—itu lho, tempat dimana ‘objek’-nya adalah pria, selama ini kita tahunya pekerja tunasusila itu wanita kan?—murahan ketika masih bayi. Entahlah kenapa juga tempat itu yang dipilih untuk membuang aku. Yang jelas, besar di tangan pria-pria itu, masih bisa hidup sampai sekarang pun aku sudah bersyukur.

Wah, sudah jam berapa ini?? Belum sempat makan—tidak ada makanan juga sih sebetulnya—aku sudah kembali berlari, pergi bertugas lagi, kali ini kerja sambilan. Hidup di kota besar—apalagi sebesar Seoul—memang butuh kerja keras, apalagi tujuanku kesini adalah untuk kuliah. Ya, biarpun agak terlantar di kampung halamanku itu, syukurlah aku tetap bersikeras sekolah dan berhasil lulus SMA dengan nilai yang baik. Sudah 2 tahun terlewat dari waktu aku seharusnya kuliah, tapi aku tetap mau berusaha, makanya aku memutuskan merantau kesini. ‘Ayah-ayah’-ku? Terlalu banyak pria plus pengaruh alkohol yang selalu mereka minum tiap hari demi menemani ahjumma-ahjumma kesepian itu mungkin membuat mereka tidak menyadari kalau aku bahkan sudah tak ada lagi disana.

“Kyu! Akhirnya kamu datang juga… Ayo kemari, kemari, lihat aku bawa temanku juga. Bisa gawat nasib kami kalau kalau kamu ga jadi datang…” Changmin menyambutku yang baru masuk ke dalam warnet tempatku kerja sambilan itu.

Aku berjalan mengikutinya ke arah teman-temannya yang menempati ruang VIP warnet kami. Merasa aneh? Ya, selain jajaran komputer yang hanya dipisahkan sekat-sekat layaknya warnet biasa, warnet tempatku bekerja memang menyediakan ruang VIP yang bentuknya lebih mirip noraebang, khusus untuk tamu yang berniat membayar lebih. Yah, tahu layanan ‘webcam XXX’ begitu kan? Warnet kami menyasar target itu pada awalnya, biarpun akhirnya ada juga orang ‘waras’ seperti Changmin dan teman-temannya ini yang menggunakannya untuk belajar bersama.

Ya, mereka belajar. Denganku. Changmin memang adalah langganan warnet kami, aku sering melihatnya main game disini biarpun akhirnya kami baru berkenalan sebulan yang lalu. Waktu itu ia sedang mencari bahan untuk makalah ilmu sosialnya. Aku suka sekali ilmu sosial, terutama matematika ekonomi. Oh ya, Changmin kelas 3 SMA, sebentar lagi ujian. Dan sejak aku membantunya dengan makalahnya itu, kami berteman. Well, tidak ‘setulus’ itu sih, lebih tepatnya ia akhirnya membayarku sebagai ‘teman privat’-nya. Cara mengajarku memang tidak seperti guru, itu yang katanya membuatnya jadi lebih pintar, biarpun sebetulnya aku belum melihat perubahan itu sih -___-”

“Chingudeul, ini Kyu yang aku ceritakan.” Changmin memperkenalkanku pada teman-temannya. Tak kurang ada 5 orang disitu, mix pria dan wanita.

“Kyu Hyung!”

“Kyu Oppa!”

“Penyelamat kami!”

Aku hanya garuk-garuk kepala mendengar panggilan mereka. Perasaan waktu mau ujian dulu aku ga se-desperate ini :3

“Annyeonghaseyo, Kyuhyun imnida. Panggilnya Kyu aja ga usah embel-embel.”

“Ga mungkiiin kita panggil Hyung tanpa embel-embel, Hyung udah berhasil menyelamatkan Changmin dari ‘masa depan suram’ gitu kok.” Kata salah seorang teman Changmin yang langsung berakibat kena jitak dari cowok tinggi itu. “Yee, maksudnya kita juga mau ‘diselamatkan’ kayak kamu, tau. Ayo Hyung, mulai!”

Kamipun mulai belajar, dan ampuun, bocah-bocah ini ramainya ga ketulungan deh. Yoochun, Junsu, Saehyun, Dambi, dan Minji. Untungnya mereka cukup cepat menerima materi yang kuajarkan *lirik-lirik Changmin yang dulu agak ‘bebal’*. Err… Tidak semuanya ramai sih, yang ‘Dambi’ ini, aku sama sekali belum mendengarnya bicara. Jika ada sesuatu yang lucu dia hanya ikut tersenyum, dan ketika aku menjelaskan ia pun hanya memperhatikan, dan membiarkan temannya yang bertanya dengan dia hanya mendengarkan penjelasanku atas pertanyaan temannya itu. Bukan pendiam, lebih tepatnya seperti… tidak mau bicara?

“Oppa, gomapseumnida…” Kata Saehyun dan Minji sambil membungkuk. Dambi hanya ikut membungkuk, gadis-gadis ini memutuskan langsung pulang pasca acara belajar kami selesai, malas menemani nomdeul yang masih ingin game battle dulu ini.

“Um, hati-hati.” Jawabku sambil membungkuk juga, lalu sibuk tengok kanan-kiri, ke arah cowok-cowok ABG yang cuma heboh dengan game mereka itu. Bocah-bocah ini ya… “Ya, namja! Ga ada yang inisiatif nganter nih?”

“Ga usah, oppa. Pengawalnya Dambi jemput kok.” Jawab Minji sambil terkikik. Heh? Pengawal? @_@

“Tuuh Hyung, kita mah udah ga dibutuhin sama mereka… Kalo ga dijemput supir, pasti pacar. Emang deh ah, ga ada toleransinya sama geng… T.T” curhat Junsu, sementara yang lain masiiih cuma peduli sama game-nya. Apa game betul-betul seasik itu ya? Sepertinya aku harus coba kapan-kapan. *jangan Kyu, jangaaan~—author begging-begging*

“Yuk ah, oppa, annyeonghikaseyo…” Trio Minji-Saehyun-Dambi pun membungkuk lagi dan betul-betul pergi. Aku bisa melihat sebuah sedan hitam terparkir di depan warnet ini, dan seorang pria tegap pun keluar untuk membuka pintu penumpang. Betul-betul deh, aku memang tahu Changmin adalah anak keluarga berada dan bersekolah di sekolah elit, tapi aku benar-benar tidak menyangka kalau bahkan teman-temannya sampai punya pengawal pribadi seperti itu. Hidup kami memang berbeda… -__-

Eh, tunggu sebentar. Aku menoleh lagi ke arah pintu kaca warnet kami. Itu… seragam secret service?

“H-Hei, kalian.” Aku memanggil ketiga cowok itu. Mereka tak merespon. Hhh~ beneran ya anak-anak ini tuh… “YA!”

“Oh, eh, ya Hyung.” Jawab mereka gelagapan, dan BRUKK! joystick mereka pun terjatuh. Aku geleng-geleng.

“Kenapa Kyu?” Tanya Changmin sambil cengar-cengir geje.

“Dambi…”

“Oh, engga kok Hyung, ga semua dari kita sampe punya pengawal pribadi gitu, Dambi aja. Tapi kalo supir sih pasti ada.” Yoochun memotong seperti mampu menerka apa yang akan aku tanyakan.

“Anak pejabat sih dia.” Tambah Changmin. Aku ber ‘Oo..’ ria. “Lagian inget ga sih yang gara-gara kejadian 3 bulanan lalu itu loh…” Changmin berujar pelan, lebih kepada teman-temannya.

“Kenapa?” Tanyaku penasaran.

“Eng…” Changmin menatap teman-temannya seperti minta persetujuan, karena terlanjur keceplosan menceritakan gadis se-geng mereka itu. Yoochun dan Junsu hanya mengangkat bahu. “Padahal Dambi dulu anak yang ceria, kamu sadar kan daritadi dia ga bicara? Dia trauma, Dambi nyaris dibunuh sama orang yang disinyalir saingan politik ayahnya… Sejak itu sih dia harus dikawal kemana-mana, apalagi karir politik ayahnya akhir-akhir ini lagi naik…”

“Oh.” Aku cuma bisa komentar itu. Pantas, kasihan ya, padahal dia cuma remaja yang ga tahu apa-apa, tapi harus terseret masalah pekerjaan ayahnya juga.

“MENAAANG!!!” Tiba-tiba teriakan Junsu membahana. “Yaaayyy! Hyung, si 6000(yukchun)-ah ini yang bayar semuanya.” Lanjut Junsu sambil bangkit dan sofa, meninggalkan PC dan ruangan VIP itu sambil tersenyum bahagia. Yoochun masih menatap layar komputernya melongo.

“Changmin, lain kali kita belajar di rumahku aja. Full wi-fi, ga ada batasan waktu. Aku kapok ikutin kebiasaan aneh kamu main di warnet. Aaarghhh anak itu bikin aku gemas…! Junsu ayo kita ke rumahku sekarang, sekarang!!” Teriak Yoochun sambil berlari mengejar Junsu, sebelumnya tak lupa ia mengeluarkan beberapa lembar puluh ribuan won dan memberikannya padaku, untuk membayar ruangan ini beserta fasilitas dan cemilan-cemilan yang mereka pesan tadi.

Changmin hanya bisa ternganga karena kebiasaan ala ‘rakyat jelata’-nya ini dicela habis oleh si ketua geng. Ia pun menatapku sebelum keluar warnet, “Kyu, emang aneh ya aku lebih suka main di warnet? Abis disini kan rame…”

Aku hanya menatapnya kasihan (sebetulnya sih sudah sejak dulu aku berpikiran sama dengan Yoochun: buat apa anak kaya ini main di warnet? Seperti di rumahnya tak ada saja!). Akupun menepuk-nepuk pundaknya pelan, “Aneh sih, tapi berhubung itu nguntungin warnet ini jadi ga apa-apa…”

***

Secret service hyung yang keren itu namanya Choi Siwon!

Tahu darimana? Aku akhirnya kenalan dengannya~ (pasti lagakku betul-betul terlihat seperti ABG labil kasmaran. Tapi… HEI! Sekali lagi, aku masih NORMAL!)

Sejak hari aku menubruknya itu, tiap kali kami bertemu iapun tersenyum. Betul-betul pantas kujadikan idola: baik, ramah, dan keren… Uuuh! Tanpa sadar kami jadi suka mengobrol, betul-betul ia baik sekali, aku pikir semua orang dengan jabatan tinggi tidak akan mau berteman dengan orang yang hanya cleaning service sepertiku. Tapi ia tidak!

Choi Siwon, anggota kepolisian Seoul, sebetulnya bukan seorang secret service, ia hanya diminta khusus oleh Jo Taewang, senator yang sedang naik daun itu, sebagai pelindungnya karena sudah percaya akan kemampuannya. Umur 23 tahun, sudah bertunangan dengan seorang dokter dan akan segera menikah (katanya ia menerima pekerjaan ini juga demi kejar setoran biaya menikah. Hahaha~), ia malu-malu gitu pas nunjukin foto tunangannya, gadis yang cantik dan terlihat anggun, mereka serasi sekali! ><

“Kalau kamu? Rasanya selama kita mengobrol kamu belum pernah cerita sedikitpun tentang kamu, aku bahkan cuma tau namamu.” Tanyanya padaku.

“Aku, ya? Umm…” Ini aku sedang berpikir, bagian hidupku yang mana ya yang tidak buruk-buruk amat untuk diceritakan? “Aku lulusan SMA, Hyung. Ilmu sosial. Aku pindah dari kotaku ke Seoul untuk kuliah, lebih tepatnya cari uang dulu, baru kuliah dengan uang itu. Makanya selain kerja disini, aku juga nyambi jaga warnet dan jadi guru privat anak-anak SMA. Lumayanlah.” Aku tersenyum.

“Ilmu sosial ya? Coba sekarang aku mau tanya pendapatmu tentang negeri ini, mumpung kita juga ada di gedung parlemen, siapa tau ada yang mendengar aspirasimu. Hahaha~”

“Ah, Hyung bisa aja.” Aku meninju bahunya pelan. Tapi aku tersenyum, belum pernah ada orang bertanya hal seperti ini padaku, padahal aku betul-betul punya banyak sekali masukan dan pendapat-pendapat untuk negeriku ini—jika kamu tinggal di daerah lokalisasi dan hidup bersama ‘kaum terpinggirkan’, pasti setidaknya kamu punya sedikit ‘curhatan’ kok untuk negerimu—hal ini juga lho yang menimbulkan rasa sukaku pada ilmu sosial! “Untuk aku ya, uri Hanguk-eun…”

Dan tanpa aku sadari, memang ada seseorang yang mendengar pendapatku. Seseorang yang nantinya juga akan mengubah hidupku…

***

“Heeh? Kamu ga punya handphone?” Changmin memandangku seperti orang aneh ketika kami bertemu lagi di warnet seperti biasanya, ia untuk main game, dan aku jaga. Kali ini ia sedang akan membuat janji untuk belajar bersama di rumah Yoochun seperti yang diminta cowok itu terakhir kali, dengan berkata: nanti kuhubungi aja ya, nomormu berapa? Yang kujawab dengan: nomor? Nomor pegawaiku? Dan dia: zzzzzz… (-,-)

“Iya ga punya, penting ya?” Jawabku sepolos mungkin.

“Grrrr, ya penting! Aduuh, hari gini mah haraboji tukang kebun aku bahkan punya HP kali Kyu… Ya udah nanti aku omongin lagi sama anak-anak, kamu free kapan lagi? Hari itu aja ya.”

Dan aku hanya mengangguk…

Senin malam,

“Ini, rumahnya Yoochun. Yuk masuk.” Ajak Changmin begitu kami sampai dan turun dari sedannya. Wow, besarnya… ini sepertinya seluas satu gedung flat tempat tinggalku deh! Changmin melihatku dengan dahi mengerut, “Kenapa melongo begitu? Pasti kamu kira kami sekaya itu dan rumah kami harusnya sebesar istana ya? Engga kok, rumah kami ya emang segini-gini aja, kami cuma rakyat biasa.”

Giliran dahiku yang mengerut: pikiranku betul-betul kebalikan itu, tau (-,-)

“Guys!” Changmin menyapa teman-temannya yang sudah dalam formasi lengkap di kamar Yoochun, yang bahkan luasnya 3-4 kali flatku, atau mungkin lebih? Ah sudahlah, cukup aku menerangkan segala sesuatu disini, tak akan ada habisnya (dan aku pasti terlihat norak sekali).

“Kyu oppa, lihat!” Saehyun menyorongkan sebuah kotak padaku sambil tersenyum. Aku membukanya. Ponsel? “Setelah Changmin bilang kalau oppa ga punya handphone, kami berebutan mau beliin oppa, akhirnya diputusin patungan aja deh. Abis takutnya pria-pria ini punya maksud lain beli-beliin oppa…” Katanya sambil melirik sinis teman-teman prianya. Mereka hanya sok siul-siul dan melihat arah lain.

Aku tertawa kecil, “Maksudnya?”

“Mereka pengen punya ‘nilai lebih’ di mata oppa, biar oppa lebih perhatiin belajar mereka juga. Enak aja! Posisi kita harus sama disini.” Timpal Minji sambil memeletkan lidahnya ke arah teman-temannya itu. Tapi ia segera kembali padaku, “Jadi ini, HP ini aja ga apa-apa kan oppa? Dambi yang pilih, tadinya kami mau BlackBerry aja berhubung rata-rata kami pake itu jadi kan komunikasi gampang, tapi berhubung Dambi bilang oppa lebih cocok ini, ya udah deh. Sense dia bagus soalnya.” Jelasnya panjang lebar.

Aku menimbang-nimbang ponsel flip biru yang memang langsung aku sukai itu sambil melihat tulisan di kotaknya: LG Lollipop? Namanya aja lucu, sense Dambi memang betul-betul bagus.

“Jadi kalian serius nih ini buat aku?” Yakinku yang disambut anggukan pasti mereka. “Wah, jeongmal gomawoyo. Tapi…”

“Kenapa, oppa/hyung/kamu ga suka?” Tanya mereka semua langsung panik.

“Eh, engga… Maksudku, tapi… ini bukan gantinya gaji aku bulan ini kan? Hehe maaf ya aku lagi nabung banget soalnya…” Aku menggaruk-garuk kepalaku yang ga gatal, malu-malu.

“Hoo~” koor mereka sambil menghela napas lega. “Ah yang begitu aja dipikirin, engga lah Kyu, kami mah profesional, anggap aja ini hadiah, apa bahasa ekonominya kemarin? Positif…?” Tanya Changmin bingung sambil melihat langit-langit, seakan disitu tertempel jawabannya.

“Hayo, apa?” Aku terkekeh melihat mereka semua akhirnya ikutan mikir dan bingung begitu. Tetap diam. Ah, sudahlah, sepertinya mereka betul-betul lupa, “I—”

“Insentif.” Suara kecil seseorang yang belum pernah aku dengar pun akhirnya terdengar. Aku langsung menoleh takjub.

Dan ternyata yang lain pun demikian, “Dambi?? Uwa, Dambi ngomong, Dambi ngomong! Leader, cepat telepon dokternya! Wah, Dambi…”

Tapi Dambi langsung menahan tangan Yoochun yang sudah siap dengan BlackBerry-nya, “Ga usah, aku tadi gemes aja kalian istilah begitu aja lupa…” Jawabnya masih pelan. Aku tersenyum, jadi suaramu seperti itu…

“Naah, berhubung hari ini hari istimewa karena maknae kita akhirnya mau bicara, jadi mari kita rayakan! Belajar… DIBATALKAN!” Teriak Junsu yang disambut sorakan teman-temannya, minus Dambi.

“Enak aja!!” Aku langsung angkat bicara. “Kalian kan bilang kalau kalian profesional, jadi aku juga harus gitu. Waktunya belajar, belajar!” Omelku yang langsung disambut tekukan wajah satu geng itu. Tapi aku tak peduli, “Hari ini kita belajar Hubungan Internasional, biasanya yang keluar di ujian sekolah itu esai, tentang tanggapan kalian mengenai banyak aspek dalam hubungan antar negara, jadi sekarang aku akan cerita tentang maksud pelajaran ini, di akhir nanti kalian harus kasih pendapat—”

Dan disini, tanpa aku sadari juga, seseorang mendengarkanku penuh kagum dan langsung memutuskan akan melakukan hal yang akan sangat membantu mewujudkan mimpiku…

 

<TBC>

Advertisements
 
6 Comments

Posted by on December 1, 2010 in DBSK, Super Junior, [THE SERIES]

 

Tags: , , , , , ,

6 responses to “[THE SERIES] NAE IREUMEUN JO KYUHYUN – Part 1

  1. Shania9ranger

    December 1, 2010 at 4:50 pm

    WAAAAAAAAAAAAHHHHHHHH . . . . suka-suka-suka-suka-suka!!!!! Lanjut part 2 dong chingu, tp jangan lama-lama ya. *maaf main asal komen aja nie* saya baru nemu blog ini sekitar 15menit yang lalu. ^^

     
    • lolita309

      December 2, 2010 at 9:10 am

      waaaaaa gomawo-gomawo-gomawo^^

      sippo, pasti lanjut deh. haha, gapapa kok, kalian bebas ngapain aja di blog saya hihihi

      salam kenal. 🙂

       
  2. eternalmagnae

    August 27, 2011 at 5:40 am

    imejnya kyu beda ya .__.
    jadi menggemaskan :3
    *lanjut baca*

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: