RSS

KENCANA – Part 2

25 Sep

KENCANA – Part 2

(Part 1)

Oleh: Lolita Choi (@lolita309)

Starring: Kim Junsu


Seiring berjalannya waktu, Junsu dan Kencana memutuskan untuk berteman dan sering menghubungi satu sama lain. Junsu pun mengetahui lebih banyak tentang Kencana.

Kencana, siswi program pertukaran pelajar dari Indonesia dan disini kuliah di Kyunghee University majoring in Nutritionary. Umur 21 tahun, vegetarian, suka memasak, dan yang paling penting dia betul-betul tidak mengenal Junsu. Nor DBSK. Dan Junsu sendiri juga tidak ada niat mengubah itu. Biarlah gadis ini mengenalnya sebagai Kim Junsu, bukan Xiah Junsu.

Kencana sendiri mengenal Junsu hanyalah sebagai seorang mahasiswa biasa berumur 23 tahun dengan hobi bermusik dan mencipta lagu. Hanya dalam satu bulan, Junsu dan Kencana pun berkomitmen sebagai sahabat…

“Junsu-ya!” Kencana keluar dari rumahnya sambil masih berusaha memakai sepatu. Hari ini Junsu memaksa mengajaknya keluar ditengah-tengah kesibukannya yang hanya berkisar antara rumah-kampus-perpustakaan-dan… Junsu itu. Ya, di Korea ini hidup Kencana memang hanya ia fokuskan untuk belajar, belajar, dan belajar, sebagai bentuk konsekuensi dan tanggungjawabnya telah memilih egara ini dalam program pertukarannya.

Junsu menatapnya sambil tersenyum, seperti biasa. Ia sendiri tidak mengerti, sejak pertama kali bertemu, matanya seperti tidak ingin beranjak dari memperhatikan segala gerak-gerik Kencana yang memang selalu menarik di matanya itu. Ia membukakan pintu tempat duduk penumpang ketika Kencana mulai mendekat.

“Kita mau kemana?” Tanya Kencana sambil menatap wajah Junsu lekat. Ia suka sekali dengan wajah ramah pria berkacamata yang baru dikenalnya sebulan ini.

“Silakan duduk,” Junsu mendorong punggung Kencana memasuki mobil dan meletakkan tas tangan gadis itu di atas pangkuan Kencana sendiri. “Kamu tahu cara pakai navigasi GPS untuk mobil, kan?”

***

Kencana melewati toko kaset itu setiap hari. Dan setiap hari pula, ia selalu merasa ada yang aneh dengan poster berukuran sedang yang tertempel di etalase kaca toko itu. Poster dengan penampakan lima orang pria tampan berjas lengkap, di bawahnya terdapat tulisan yang ia tahu itu hanja, tapi ia tidak bisa membacanya. Cukup hangeul saja yang ia pelajari, CUKUP, ia tidak mau menambah-nambah masalah lagi, yang penting dia bisa membaca textbook-nya dengan aman dan nyaman. Aarrgh, bicara textbook, dia jadi ingat lagi dengan setumpuk textbook Korean version yang belum selesai dia baca. Baiklah, semangat lanjut membaca di perpustakaan! Dan masalah poster misterius itupun terlupakan kembali…

Sesampainya di perpustakaan, Kencana terlebih dulu membuka laptopnya demi memindahkan foto-foto perjalanannya dengan Junsu ke Busan kemarin. Ia tersenyum-senyum sendiri sembari menyortir foto-foto itu. Junsu selalu dan selalu terlihat bagus di foto, tapi akhirnya ia berhasil menemukan sebuah foto dimana keduanya terlihat bagus dan cocok bersama. Sebuah self-taken picture, Junsu merangkul bahu Kencana dan menempelkan kepala mereka masing-masing. Dengan riang Kencana juga membuat salinan foto ini di ponselnya, ia ingin bisa melihatnya setiap saat.

Soal alasan ke Busan?

“You’ve been in this country for about a month and your life here was just around school-home-library then school-home-library again… What a pity, Kencana.” Jelas Junsu sambil terus berkonsentrasi menyetir. “Jamkkanman, apa katanya? Kanan atau kiri?” Lanjutnya, me-refer alat GPS yang tersetel di layar TV mini itu.

“Kanan.” Jawab Kencana, untung dia bisa mempelajari gadget baru Junsu ini dengan cepat. Sepertinya ia berbakat menjadi navigator yang baik. “Hajiman (Tapi)… Kenapa Busan? It’s… kinda far.”

“Cuma itu tempat wisata terkenal di luar Seoul yang aku tahu, yang bisa dijangkau dengan mobil.”

Junsu menghentikan mobilnya pelan, ia menatap Kencana dan melihat ragu di wajah gadis itu, “It’s okay if you feel like not coming.”

Kencana menggeleng, “Aniya, gwaenchanhayo… Namaku Kencana bukan tanpa alasan kan?” Dan Junsu tersenyum. Senyum paling indah yang pernah dilihat Kencana…

***

DBSK baru saja mengeluarkan album terbaru mereka, Mirotic. Tentu saja hal ini membuat Junsu serta rekan-rekannya tambah sibuk dan akhirnya membuat Junsu kehilangan waktunya atas Kencana. Ia merasa sepi dalam kesibukannya. Junsu rindu Kencana, rindu kebersamaan mereka selama 3 bulan lebih ini. Waktu yang singkat untuk terburu-buru menyatakan ia mencintai Kencana, tapi memang itulah yang Junsu rasakan sekarang, dan itu baru terasa ketika mereka terpaksa harus terpisah sementara karena kesibukan Junsu. Junsu merasa ia harus berbuat sesuatu, apalagi 2 bulan lagi program student exchange Kencana akan berakhir, dan ia tak ingin Kencana meninggalkannya…

Di lain pihak, ‘menghilangnya’ Junsu 2 minggu terakhir ini akhirnya mengusik tatanan hidup Kencana pula. Mungkin ia harusnya bersyukur karena setelah sekian lama ia bisa fokus pada kuliahnya lagi, tapi Kencana justru merasa bosan. Ia rindu pada pria berkacamata minus yang hobi memakai topi beanie itu. Ia rindu membuat bekal vegetarian tiap kali mereka piknik di halaman luas rumah homestay Kencana. Ia rindu pada SMS-SMS dan telepon yang selalu mengganggunya belajar. Ia rindu pada guru bahasa Korea-nya itu…

Kencana menepuk-nepuk pipinya. Ia harus sadar! 2 bulan lagi masa studinya akan berakhir, tapi ia merasa belum mendapat apa-apa dari kuliahnya disini. Mungkin Junsu juga menyadari hal itu dan ingin memberikannya kesempatan lagi untuk fokus belajar… Ia harus berpikir positif!

Ia memutuskan pergi keluar, ke perpustakaan tentu saja, menghentikan aksi ‘semedinya’ yang hanya keluar rumah untuk ke kampus semenjak Junsu raib bagai ditelan bumi. Tapi lagi-lagi ia berhenti di depan toko kaset itu. Tidak hanya sejenak seperti biasanya, karena hari ini poster yang selalu menarik perhatiannya itu telah raib. Ya, raib. Tergantikan poster lain yang lebih besar, tapi dengan obyek yang sama. Wajah 5 pria itu terpampang lebih jelas di kedua matanya, dengan tulisan MIROTIC besar-besar di bawahnya. Ia masih belum bisa mengerti Hanja untuk mengetahui nama kumpulan orang yang ia yakini boyband ini, tapi dengan wajah sejelas itu, sosok salah satu pria di dalamnya makin mengganggunya.

Tanpa sadar Kencana mendekat ke etalase kaca toko dan menyentuh gambar wajah pria itu. Junsu-ya… Pria ini mirip sekali dengan Junsu, tapi tanpa kacamata minus dan topi yang selalu dipakainya. Tapi tidak mungkin! Kencana menggeleng kencang. Penampilan pria itu juga berbeda sekali, ia hanya mengenakan rompi dengan zipper depan terbuka setengah yang mengekspos dada bidangnya, sesuatu yang nyaris tidak mungkin dikenakan Junsu yang dikenal Kencana. Tapi wajah itu… Biarpun dengan ekspresi yang berbeda, tapi itu adalah wajah yang sama, yang selalu ia tatap lekat-lekat tiap kali mereka bertemu…

Seperti tersadar, Kencana langsung mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya, yang penuh dengan wajah-wajah grup itu juga. Sejak kapan billboard di jalan itu berganti dengan gambar mereka? Dan ocus-koran di kios-kios pinggir jalan itu, bahkan bis yang melewati jalan raya semua menampilkan wajah mereka. Kemana saja dirinya selama ini??

Tapi ia kembali menggeleng. Tidak, tidak ada bukti. Mungkin saja mereka hanya mirip, lagipula bukankah ketika baru menginjakkan kaki di negara ini, Kencana juga selalu menganggap bahwa semua orang disini mirip satu sama lain? Kencana menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan hatinya yang masih dipenuhi tanda tanya. Belajar, belajar. Kencana hwaiting! Ia tak akan terganggu karena hal ini, semua pasti hanya karena ia begitu merindukan Junsu sehingga semua yang dilihatnya terlihat seperti Junsu…

“Annyeong!” Kencana saling bertukar sapa dengan kawan-kawan kampusnya yang ia temui di perpustakaan. Melihat cukup banyak kawannya yang juga berada di sana, Kencana memutuskan untuk bergabung dan belajar bersama. Ia sedang sibuk mengetik tugasnya ketika tiba-tiba nyaris seluruh teman wanitanya beranjak untuk merubungi salah seorang temannya juga yang sepertinya sedang melakukan livestreaming suatu acara TV.

Teman-temannya berusaha keras menahan untuk tidak menjerit dan membuat keributan mengingat mereka sedang berada di perpustakaan, tapi Kencana dapat melihat sorot penuh kagum memancar dari mata mereka. Kencana ikut bangkit karena penasaran, apa sih yang sedang mereka tonton sampai segitunya?

“Lagi nonton apa sih?” Tanya kencana pada Haeri, salah seorang temannya.

“Dong Bang Shin Ki. Mereka lagi di show di salah satu TV Jepang, promo Joomoon.” Jawab Haeri bersemangat tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop itu.

“Dong Bang Shin Ki?” Tanya Kencana tepat ketika penampilan ‘Dong Bang Shin Ki’ itu berakhir. Ia pun berhasil mendapatkan fokus dari kawannya itu.

“Ne. Kamu ga tau Dong Bang Shin Ki?” Haeri bertanya balik yang dijawab gelengan Kencana.

“Jinjja (Betulan)?” Tanyanya lagi, meragukan. Kencana kembali menggeleng.

“Jinjja jinjjayo (Betul-betul, ga tahu)?” Tanyanya lagi seakan tak percaya dengan suara yang agak keras saking terkejutnya. Seketika semua orang menatap mereka. Sang kawan yang merasa malu langsung menarik Kencana ke tempat duduk terdekat. “Dong Bang Shin Ki, kamu beneran ga tau?”

Kencana mengangguk, “Ne. Waeyo? Mereka terkenal sekali ya?”

Haeri menghela napas, “Sepertinya Hallyu (Korean Wave) ga sampe ke negara kamu ya? Mereka itu boyband dengan fanbase terbanyak di dunia, lho. Sebentar aku tunjukin fotonya. Ah, nih.” Ia menunjukkan sebuah foto di ponselnya ke hadapan Kencana. “Kalo kamu mau iseng, coba aja cegat acak gadis remaja di jalan, tanya suka Dong Bang Shin atau engga. Aku berani jamin 90% jawab ‘ya’.”

Kencana tidak mendengar perkataan kawannya lebih lanjut karena sudah terlanjur terseret dalam memorinya lagi saat melihat foto di ponsel itu. Foto yang sama dengan yang dulu terpajang di etalase toko kaset itu… 5 pria tampan bersetelan jas rapi yang salah seorangnya berwajah sangat familiar. Ia segera menunjuk wajah pria itu.

“Ini… Siapa namanya?”

“Eh?” Respon Haeri kaget akan cepatnya respon Kencana atas foto itu. “Xiah… Wae? Tampan ya? Aku juga suka dia, tapi lebih suka leadernya sih, U-Know…” Jawab sang kawan sambil tersenyum. Kencana menghela napas lega. Xiah, ya… Ia bukan Junsu, pria itu bukan Junsu…

Tepat di saat itu, ponsel Kencana bergetar. Junsu!

“Junsu-ya!” Jawab Kencana riang seraya menjauh dari kawannya itu sambil fokus isyarat ia menerima telepon. Semua beban seperti terangkat dari pundaknya. Ia lega sekali, lega karena Junsu masih mengingatnya, lega karena Junsu tidak betul-betul ‘menghilang’…

“Bogoshipta, bogoshipta. I miss you, really miss you, Kencana.” Ucap Junsu seketika. Ia tak tahan lagi tidak menyentuh ponselnya dan men-dial nomor Kencana seperti yang selama ini ia lakukan semenjak launching album baru mereka, agar ia bisa fokus…

“Na do, na do bogoshipta (me too, me too miss you). Where have you been, rascal? I almost went crazy without you!” Jawab Kencana, berusaha menahan airmatanya yang siap tumpah karena emosi yang meluap.

“Mianhae, jeongmal mianhae Kencana… Shall we meet tonight? Ada yang mau aku bilang… Shigani isseoyo? Do you have time?”

“Isseoyo (Ada).” Jawab Kencana singkat.

“Joh-a (Baguslah). Nanti aku jemput sekitar jam 8, ga kemalaman kan? See you, my tough girl.”

Kencana menutup telepon Junsu dengan jantung masih berdegup kencang. Ia tak pernah mengakui bahwa jiwanya hilang separuh tanpa kehadiran Junsu, tapi ketika kini semangatnya seketika datang pasca hanya sebuah telepon dari Junsu, Kencana langsung mengakuinya. Ya, ya, jiwanya hilang separuh tanpa Junsu, tapi separuh bagian itu kini telah kembali…

***

Junsu jatuh berlutut di lantai. Betul, pikirannya sangat dangkal saat ini, tapi apa lagi yang bisa ia lakukan? Kencana lebih berarti baginya dari segala hal yang ia miliki… Tapi ia belum memperhitungkan keberadaan DBSK. Jaejoong Hyung, Yunho Hyung, Yoochun Hyung, Changmin… Kebersamaan mereka kini sebanding dengan arti Kencana baginya…

“Aku, kami, tidak menyuruh kamu untuk melepaskan gadis itu, Junsu. Siapapun dia, kami tidak membencinya biarpun dia telah berhasil mengacaukan tata otakmu sampai seperti ini,” Yunho menambahkan dengan bijak sekalipun dihiasi nuansa sarkastik. “Jika kamu yakin dengan perasaanmu untuknya dan perasaannya untukmu, aku yakin jarak dan waktu bukanlah masalah. Berapa jauhpun jarak yang memisahkan kalian, berapa lamapun kalian harus terpisah, jika kamu percaya, takdir akan kembali mempertemukan kalian. Bersabarlah, Junsu.”

“Yes, brother. Percayalah, demi salah seorang Dong Bang Shin Ki, semua wanita akan rela menunggu biar harus menghabiskan separuh hidupnya.” Timpal Yoochun yang disambut tawa semua member DBSK.

Junsu tersenyum, “Arasseo, arasseo (oke, oke).” Katanya sambil menatap keempat pria itu bergantian. “Shall we get a rest? Besok kita harus ke Jepang lagi kan?”

Hening.

“W-Wae?” Tanya Junsu melihat saudara-saudaranya yang terdiam.

“Whoa, hyung, sekarang lancar ya Inggrisnya, mentang-mentang punya pacar impor. Hahaha,” Changmin si bungsu yang tadi sempat ternganga mendengar cara bicara Junsu buka suara. Kakak-kakaknya tertawa mendengarnya, mereka juga baru menyadari hal itu, kalau sudah beberapa lama ini Junsu memang sering berujar dalam bahasa Inggris… Ternyata semua karena seorang gadis bernama Kencana.

***

“Udah mau pulang?” Tanya salah seorang kawan kampusnya ketika melihat Kencana sudah kembali mengepak barangnya padahal ia baru setengah jam berada di perpustakaan itu.

Kencana tersenyum, “I have a date,” ia mengedipkan sebelah matanya.

“Jeongmal (Iya)? Anak mana? Han-guk saram (Orang Korea-kah)?” Tanya temannya itu excited.

“Jeongmal, it is. Han-guk saram, yes. Myoungji University, he attends.” Kencana mengangguk dengan senyum lebih lebar.

Sang kawan menatapnya dengan mulut terbuka, “Oooohh, chukhahae chukhahae!” Teriaknya.

Kencana mengangguk-angguk cepat, “Arayo, arayo! Wish me luck, annyeong!” dia melambaikan tangannya cepat pada temannya itu dan segera berlari.

“Kencana, jamkkanman!” tiba-tiba temannya itu kembali memanggilnya. Kencana menoleh. “Ponselmu—eh, ini Xiah Junsu??” ia mengacungkan ponsel Kencana yang tertinggal di atas meja dan terkejut begitu melihat wallpaper ponsel itu, foto Busan Kencana dan Junsu.

“Ne, gomawo—ne??” Kencana yang baru saja sampai kembali di hadapan temannya langsung merasa pendengarannya sedikit terganggu. Dia bilang apa tadi? “Mwo-Mworago (K-Kamu bilang apa tadi)? Xiah… Junsu?” ia mencoba memastikan.

“Ne, nama asli Xiah TVXQ adalah Junsu. Ini Xiah Junsu, kan? Neon geuwa eottohke ara (Kamu kenal sama dia)??” interogasi temannya. Yah, bayangkan saja jika kamu fangirl dan tiba-tiba mendapati temanmu berfoto dengan-amat-mesranya dengan idolamu. Penasaran? Iri? Pasti.

Kencana betul-betul tidak mampu berkata apa-apa lagi. Jadi selama ini perasaannya benar…

***

Kencana menghampiri Junsu yang baru saja datang ke rumahnya. Junsu seketika memeluknya, “I miss you, Kencana. I really do.”

Alih-alih menjawab, Kencana melepaskan diri dari pelukan Junsu dan melepas kacamata minus Junsu perlahan.

Ia membeku.

Tak ada keraguan lagi, Junsu adalah dia… Junsu-nya adalah…

“Xiah…”

Junsu terus menunduk. Ia tahu cepat atau lambat hal ini akan terjadi, dan kalaupun tidak, pasti ia yang akan lebih dulu memberitahunya. Tapi bukan di hari ini, ketika ia akan melamarnya…

“Jun… Ah, Xiah… Ah, aku jadi bingung sendiri, Junsu atau Xiah aku harus memanggilmu.” Lanjut Kencana kaku sambil berusaha tertawa.

“Kenapa kamu ga pernah bilang? Aku pasti akan senang sekali mengetahui punya teman seorang idola, Jun… Ah, Xiah-ssi… Aduuh, aku betul-betul harus terbiasa memanggilmu Xi—”

“Cukup, Kencana. Jangan buat aku lebih merasa bersalah lagi, jebal (tolong)…” Potong Junsu sambil memeluk Kencana lagi.

Akhirnya tangis Kencana pecah juga, “Aku… Seperti orang bodoh saja. Menyayangi orang yang bahkan aku tak tahu siapa dia sebenarnya…”

“Sshh, mianhae, mianhae…”

“No, it’s me who has to say sorry. Sorry, for making it hard to you, sorry that I don’t deserve you…”

Itu dia, kata-kata yang sejak dulu dihindari Junsu, penyebab ia tak ingin terburu-buru mengungkapkan jati dirinya yang lain…

“You, deserve me. Kita baik-baik saja sebelum ini, kan, Kencana? Aku tetap Junsu, aku tetap Kim Junsu yang kamu kenal. Kim Junsu yang bukan siapa-siapa. Dan Xiah pun juga bukan siapa-siapa, tanpa kamu… Ayo kita pergi, akan aku jelaskan semuanya.”

Kencana baru saja selesai mengabarkan host parentsnya kalau ia akan menginap di asrama temannya dan tidak pulang malam ini. Ternyata mendengarkan penjelasan Junsu tidak cukup hanya 1-2 jam (sebetulnya sih itu karena ia juga punya banyak sekali hal yang ingin ia tanyakan). Kencana mengambil tempat duduk di sebelah Junsu yang duduk di lantai sambil bersandar ke dinding.

“Ini apartemenku dan member Dong Bang Shin Ki yang lain. Mereka masih di Jepang dan baru akan pulang besok, sedang aku langsung pulang hari ini setelah semua pekerjaan disana selesai.” Hanya untuk bertemu kamu, Kencana, tambah Junsu dalam hati.

“Maaf sudah membuatmu terkejut dengan kenyataan yang begitu tiba-tiba ini.”

Kencana ikut-ikut menengadah menatap langit-langit, “Gwaenchanhayo. Namaku Kencana bukan tanpa alasan.”

Junsu tersenyum pahit, “Aku selalu suka dengan cara Tuhan mempertemukan kita. Karena siapa sangka aku bisa jatuh cinta pada gadis asing yang hanya kutemui di jalan dan baru 4 bulan yang lalu?” Ia tertawa kecil.

“Memangnya aku tidak? Bisa-bisanya aku terlibat ‘summer fling’ dengan warga lokal disaat aku harus fokus dengan beasiswaku. Apalagi ternyata ia seorang selebriti, lebih parahnya aku tak bisa membencinya bahkan setelah ia menyembunyikan segalanya dariku dan akhirnya aku harus tau hal itu sendiri…” Ujar Kencana.

Junsu tertawa sambil masih menatap langit-langit. “Aku pikir semua orang akan senang punya pacar selebritis.” Candanya.

Kencana menoleh dengan tatapan galak, “Tidak di negara ini. Fans-mu galak-galak sekali. Itu baru yang aku lihat lewat internet. Aku tak bisa membayangkan jika mereka mem-bashingku di dunia nyata.”

“You’ll be fine. Namamu Kencana bukan tanpa alasan kan?” Junsu tertawa lebih keras. Tapi kemudian sunyi lagi, “Setelah aku menjadi ‘Xiah’, semua orang, terutama gadis-gadis, tidak pernah melihatku sebagai ‘Kim Junsu’. Makanya aku senang ketika ada orang yang betul-betul tidak mengenal aku maupun grupku, karena artinya ia tulus berteman denganku… Dan aku tidak ragu jatuh cinta padanya.”

“Selama ini aku berpikir apa yang membuat dirimu tetap menarik biarpun perkataanmu jelas-jelas gombal picisan… Tapi setelah mengetahui jati dirimu yang lain, semua menjadi jelas.”

“Apa itu?”

“Aura seorang bintang.”

Junsu tertawa sambil menyenderkan kepalanya ke bahu Kencana, “Yang itu, aku tak keberatan kalau kamu juga terpengaruh olehnya. Hanya kamu yang terpengaruh ‘aura bintang’ itupun aku rela.”

“Tuh kan gombal lagi…” Ujar Kencana yang diiringi derai tawa mereka berdua. Junsu menggenggam sebelah tangan Kencana yang terdekat dengannya.

“Marry me, Kencana.”

tbc

Advertisements
 
1 Comment

Posted by on September 25, 2010 in DBSK

 

Tags: ,

One response to “KENCANA – Part 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: