RSS

KENCANA – Part 1

13 Jul

Leader Hyung, umm… Aku… Aku mau married!” Kata Junsu ragu campur malu.

“APAA??!!” teriak member DBSK lain. Sepertinya sore itu akan menjadi sore yang panjang untuk Junsu…

***

 

KENCANA

by: Lolita Choi

Starring: DBSK Junsu


Hari itu sekitar 4 bulan yang lalu ketika Junsu ‘menemukan’ gadis ini, Kencana, di taman kota Seoul. Saat itu ia sedang terburu-buru untuk latihan di studio SM Entertainment dan secara tak sengaja menabrak Kencana dengan cukup keras di bagian bahu. Junsu tidak begitu memusingkannya dan sudah bersiap berlari lagi ketika…

“S-Sorry…” Tegur sebuah suara lembut wanita yang terdengar ragu-ragu dari belakangnya. Junsu terpaku seketika. Gawat, pikirnya dalam hati. Gawat, bisa-bisanya dia ketahuan di saat buru-buru begini…

Junsu menoleh dengan tersenyum memaksa. Namun Kencana, si sumber suara, tidak memedulikannya, ia menunjuk ke arah sepatu Junsu dengan wajah cemas. Junsu mengikuti arah jari itu, bertanya-tanya ada apa dengan sepatunya. Kencana berjongkok dan Junsu menemukannya, secarik kertas kecil tersembul dari bawah sol sepatunya. Refleks ia mengangkat kakinya pelan, dan terburu-buru gadis itu mengambil kertas yang sudah lecek dan kotor dengan cap sol sepatu Junsu.

Diam.

Kencana bangkit perlahan sambil tetap menunduk menatap kertas kecil yang kini dipegang dengan kedua tangannya. Tangan-tangan itu terlihat gemetar. Junsu mulai cemas, akan dirinya sendiri. Apa, apa salahku? Kenapa sih gadis ini? Aku sudah telaat..!

“Gwaen…chanh-a? (baca: kencana, namun dengan pelafalan ‘e’ seperti pada ‘pena’—Are you okay?)” Junsu bertanya hati-hati sambil mencoba melihat wajah Kencana yang masih tertunduk. Ia memutuskan untuk mencoba memastikan keadaan gadis itu sebelum benar-benar kabur dan mengejar latihannya.

Tes… Tes.

Butir demi butir air terlihat jatuh membasahi kertas itu. Junsu kini betul-betul khawatir. Apa itu airmata? Ia tak bisa melihat jelas karena dari samping, wajah gadis itu tertutup oleh rambutnya… Jika memang ia menangis, mengapa? APA yang telah ia perbuat??

“Hiks, hiks… Huwaaaa..!” Dan tangis Kencana pun pecah seketika.

Junsu panik, “Ya, ya! Wae, waeyo? Kenapa kamu nangis? Wae? Aish..” Kata Junsu gugup sambil menggaruk-garuk kepala. Ia masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Ada apa sih ini?

“I’m sick of this country! I wanna go home, I wanna go home!! I’ve had enough of everyone, why can’t everybody speak English?? I just want to know where my host parents live, that’s it! But now I’m officially lost, I’m totally lost in this super-strange city since this address has destroyed… What do I do??” Gadis itu mulai ‘mengoceh’ dalam bahasa yang sedikit-sedikit familiar di telinga Junsu.

Bahasa Inggris? Gadis ini ini turis?? Junsu terkaget-kaget. Wajahnya Korea sekali! Memang kalau dilihat lagi, kulitnya berwarna kecoklatan alami, tidak putih seperti rekan-rekan artisnya di SME maupun gadis-gadis yang sering dia lihat di negara ini, bahkan dirinya! Tapi hal itu justru yang membuat dia semakin terlihat cantik… Junsu jadi membayangkan jika semua gadis Korea punya kulit seperti itu, pasti cantik sekali… Aduh, mikir apa sih dia?!

Disekililingnya mulai banyak orang yang penasaran berkumpul untuk melihat apa yang terjadi, Junsu yang hanya bersenjatakan topi beanie dan kacamata minusnya makin ingin untuk pergi saja dan mengejar latihannya, tapi sisi gentleman-nya yang lebih kuat memaksanya untuk tinggal dan bertanggung jawab karena (sepertinya) ialah yang telah membuat gadis itu sampai seperti ini. Iapun akhirnya menarik Kencana ke bangku taman yang memang tersebar di kawasan taman itu.

“You are… tourist?” Tanya Junsu terbata-bata. Semoga gadis ini mengerti dengan bahasa Inggrisnya kacaunya.

Yang ditanya segera menghentikan aksi ‘curhat colongannya’ yang sampai tadi masih berlangsung dan seketika menoleh ke arah Junsu dengan pandangan tak percaya, “Yes, yes, I am!” Jawab Kencana cepat dan riang, seperti lega karena sedari tadi tidak menemukan orang yang bisa berbahasa Inggris di kota ini.

Kencana segera menghapus sisa-sisa airmatanya. Ia juga mengatur napasnya yang masih tersengal-sengal sehabis menangis sekuat-kuatnya tadi. Kelihatannya gadis ini tidak menyadari identitas Junsu, karena dia langsung mengalihkan pandangannya lagi ke kertas kecil nyaris hancur yang dipegangnya. Junsu ikut melihat kertas itu.

“Do you know this address?” Tanyanya sambil menunjuk-nunjuk kertas kecil itu dengan pandangan mengiba.

Junsu membetulkan letak kacamatanya demi melihat tulisan di kertas kecil itu, yang sudah kabur tercampur cap sol sepatunya dan airmata gadis ini. Sepertinya dalam alfabet latin… Pantas tidak ada yang melayani pertanyaannya…

Eh? Ini bukannya dekat apartemen kami?

Junsu mengangguk. “Yes, I know.”

“You do?” Kencana makin tidak dapat menyembunyikan kegembiraan di wajahnya, ditambah senyum-senyum sendiri pula! Tapi ekspresinya manis sekali… Junsu bahkan jd ikutan blushing ngeliatnya, tapi ia buru-buru menghapus perasaan aneh itu.

“So will you…” Kencana menggantung kalimatnya, tapi Junsu mengerti. Ia berharap Junsu akan mengantarnya, maka Junsu menggeleng pelan.

“Sorry, but I have something to catch on so I can’t accompany you there. But I can show you the way…” Jawabnya. Kencana terdiam sejenak, tapi kemudian ia mengangguk sambil mengeluarkan sebuah notes dan pulpen. Junsu segera sibuk menunjuk arah sana-sini dan sesekali menulis pada notes itu, dalam hangeul dan alfabet latin sekaligus agar gadis itu dapat bertanya lagi pada orang lain jika di tengah jalan nanti ia kebingungan. Kencana mengangguk-angguk sambil sesekali ber-oh-oh ria mendengar penjelasan mendetil Junsu. Sepertinya ia gadis yang pintar.

“Is it okay that i can’t come with you? You sure?” Yakin Junsu.

“Yes. Gamsahamnida…” Jawab Kencana sambil membungkuk. Itu satu-satunya kata bahasa Korea yang dia tau.

“You’re welcome.” Jawab Junsu. Sepertinya tugasnya sudah selesai. “I think I gotta go, then. Goodbye.”

“Goodbye, thank you, once again.”

***

Kencana baru saja menutup pagar rumah homestay-nya karena hendak keluar ketika ia mendapati pria itu—Junsu—melintas di hadapannya. Hari itu urusan Junsu memang selesai lebih cepat dari biasanya. Sebetulnya ia malas pulang, aneh saja rasanya siang-siang begini sudah di apartemen, sendirian pula. Selesai urusan tadi, member yang lain memang melanjutkan dengan pergi makan merayakan selesainya proses recording mereka, dan ia terpaksa harus menolak ikut karena sedang diet. Iapun akhirnya memutuskan untuk pulang saja dengan naik bis yang dilanjutkan berjalan kaki, hal yang tak pernah ia lakukan sebelumnya. Dan kini, ia tertegun ketika menyadari keberadaan gadis yang memakai mantel hitam panjang itu, ternyata ia betul-betul tinggal di dekat apartemennya…

“Ah… Annyeonghaseyo…” Sapa gadis itu sambil membungkuk. Junsu membalas dengan menunduk pelan.

“Waktu itu… terima kasih ya,” ucapnya dalam bahasa Korea yang terbata-bata.

Junsu tersenyum sambil mengepaskan kembali kacamatanya di hidung karena tadi sempat longgar akibat menunduk, “Cheonmaneyo (Nevermind).” Jawabnya.

Hening.

Kekakuan mulai menyelimuti keduanya. Aneh, Junsu tidak pernah sekikuk ini ketika bertemu seseorang sebelumnya. Di lain pihak, gadis itu juga terus menunduk dan membisu.

“I think—”

“Sepertinya—” mereka membuka suara bersamaan. Kaku lagi, tapi kemudian mereka berdua tertawa kecil.

“Silakan,” ucap gadis itu malu-malu.

Junsu mengacak-acak rambutnya, malu. “Umm… Sepertinya… kita belum kenalan.” Katanya sambil mengeluarkan tangan kanannya yang sedari tadi berada di dalam saku. “Junsu. Kim Junsu.”

Gadis itu menyambut uluran tangan Junsu, “Kencana.”

Junsu menurunkan hoodie jaketnya, merasa mungkin indra pendengarnya sedikit terhalangi dengan itu. Ia mencoba meyakinkan pendengarannya, “Gwaen–“

“Ah, joisonghaeyo (sorry)… I think I gotta go,” gadis itu mohon diri dengan terburu-buru setelah sekilas melihat jam tangannya. Sepertinya bahasa Korea-nya belum terlalu lancar, terbukti dengan bahasa campur-aduk yang masih digunakannya. “Annyeonghikyeseyo (I’m leaving now)…” Katanya sambil membungkuk dalam.

“Oh, annyeonghikaseyo (go safely).” Junsu mau tak mau mengiyakannya sekalipun tanda tanyanya masih belum terjawab.

Dan gadis itu berlalu.

Junsu melanjutkan perjalanan menuju apartemennya yang hanya tinggal 1 blok lagi itu dengan langkah lambat-lambat. Di kepalanya, misteri nama si gadis telah mengambil alih posisi puncak isi pikirannya yang 80% biasanya hanya berisi lagu-lagu itu. Apa iya dia yang salah dengar? Gwaenchanh-a? Apanya yang ‘tidak apa-apa’? Atau betul itu namanya? Masa sih??

“Hmmph,” Junsu mulai tidak mampu menahan tawanya memikirkan kemungkinan tersebut. Agak tidak mungkin sih, tapi… apa coba yang tidak mungkin di dunia ini? Dan akhirnya…

“HUAHAHAHA~” Junsu tergelak sambil merebahkan dirinya di atas kasur, ia baru saja sampai di apartemen yang berada di lantai 12 itu. Ia tertawa sampai meringkuk-ringkuk di atas kasurnya, geli sekali. Lagipula mumpung tidak ada orang lain disini, ia totally free!! “Hahaha, nama yang aneh, tapi cocok dengan orangnya. Gwaenchanha… Iya sih, wajahnya yang sok kuat itu memang seperti akan terus berkata kalau segalanya baik-baik saja… Rapuh, tapi kuat… dan cantik. Gwaenchanha…”

***

Lagi-lagi Junsu tak kuasa untuk tidak menoleh tiap kali melewati kediaman Kencana. Pasca mengetahui bahwa gadis yang sejak awal menarik perhatiannya menempati rumah ini, seperti ada magnet yang selalu memaksanya menatap rumah tersebut, baik ketika ia sedang berada di dalam mobil untuk berangkat atau pulang kerja, maupun ketika sedang melakukan rutinitas lari paginya seperti sekarang ini. Gwaenchanha… Dari mana sebetulnya ia berasal? Pasti dia memiliki darah Korea, tapi campuran darah mana lagi yang bisa bikin dia secantik itu? Wajah porselen ala Korea tapi dengan kulit coklat muda, mata besar, dan tubuh yang ‘berbentuk’ (Junsu tidak ingin menggunakan kata-kata tidak senonoh disini).

“Ah… Kamu?”

“Oh, annyeonghaseyo.” Sapa Junsu, cepat-cepat menutupi kegugupannya karena ‘tertangkap basah’.

“Annyeonghaseyo.” Kencana membalas dengan menundukkan kepala pelan. “Uri… Accidentally meet kind of a lot.” Ujarnya malu-malu, masih dengan bahasa campur-campurnya.

“Ehm. Aku tinggal di dekat sini, apartemen di blok sebelah, mungkin kamu tahu.”

“Ah… Ye.” Jawab Kencana. Kekakuan mulai menyelimuti keduanya lagi, seperti pertemuan kedua mereka 2 hari lalu.

“Ken-ah… Is that a guest? Why don’t you guys have a chat inside?” Sebuah suara wanita dari dalam rumah dengan pekarangan luas itu memecah kesunyian antara Junsu dan Kencana.

“Oh, ye, eomonim…” Jawab Kencana. Ia menoleh pada Junsu dan bertanya ragu-ragu. “Come in?”

Junsu mengangguk pasti setelah melihat jam tangannya. Masih 2 jam lagi sebelum manajer Hyung menjemputnya untuk photoshoot majalah, masih cukup waktu. “Geundeyo… Jamkkanman (but… Wait).”

Kencana yang sudah memandu jalan menghentikan langkahnya.

“Namamu…”

Kencana menatap Junsu dengan kedua mata besarnya, “Waeyo? Have you forgotten?”

Junsu hanya menunduk, merasa tidak enak. Sebetulnya dia tidak lupa kok, hanya ingin memastikan…

“Ken-ca-na.” Eja Kencana per sukukata.

“Gwaenchanh-a? Jadi betul-betul itu?” Junsu berusaha keras agar tidak tertawa.

Kencana memicingkan matanya, “I beg your pardon?”

“Oh, oh, mian, mian (sorry, sorry). It just suits you… well.” Tambah Junsu yang masih mencoba menahan tawanya. Ia pun mengambil duduk di salah satu bangku di teras rumah Kencana setelah dipersilakan.

“Still isn’t fluent with Korean, I guess?”

“Yeah, still only understand some daily greetings and conversations. It’s been a week, though. Pity me.” Jawab Kencana seperti menyesali dirinya. “Tapi aku tahu arti namaku, kok—finally.” Tambahnya dengan bahasa Korea yang terbatas dan sambil tersenyum sinis.

Junsu terhenyak, “Mian.” katanya sambil menunduk.

Kencana tertawa, “Gwaenchanha… Ah, dengar? Namaku lagi kan? Hehe. Uri host parents couldn’t also stand a laughter after hearing my name. How embarassing… Haha.”

“‘Host parents’? Are you in the student exchange program?”

“Ehm.” Kencana mengangguk. “Indonesia. Kamu tahu?”

Junsu mengangguk sekali.

“Names are written in alphabets in Indonesia, dan namaku ditulis seperti ini, yang dibaca dalam hangeul seperti ini kan…” Kencana menuliskan kata ‘Kencana’ dan huruf-huruf hangeul Ken-cha-na (켄차나) di atas meja dengan jari-jarinya. Junsu mengangguk-angguk. “But in Indonesia, you could also pronounced my name with this…” Ia kembali menuliskan huruf-huruf hangeul, namun kali ini Keun-cha-na (큰차나). “Yang artinya ‘gold’.”

“Gold?” Junsu refleks menaikkan kacamatanya dengan jari tengah, merasa tertarik.

“Ne.” Jawab Kencana. “It was uri late hareomoni who gave me the name, she was half Korean–i also recently knew the fact. Maybe she thought it’s kinda cute because Kencana indeed an Indonesian name, but instead of pronounce it just the way it is, she urged uri appa, who didn’t know anything since he is pure Indonesian, to pronounce it like ‘gwaenchanha’, which means ‘it’s okay’? Was she want me to stay strong no matter what?” Kencana menutup penjelasannya sambil tertawa lepas.

“Then you’re ‘quarter Korean’?”

“‘Quarter Korean’? Yeah, could be said like that, i guess. Wae?”

Junsu menggeleng. There, problem solved, pikirnya. The reason why she has the Korean look but pretty tanned skin and the body shape…

***

“Junsu!! Apa kamu sudah gila??”

“Aku engga, Hyung! Aku cuma ga ingin terpisah lagi dengannya, dan itu satu-satunya cara… Aku bukan apa-apa tanpa dia, aku ga bisa membayangkan ia pulang ke negaranya untuk selamanya tanpa aku sempat mencegahnya…” Terang Junsu kepada Yoochun, dan seluruh member lainnya.

“Tapi ini kurang bijak, Junsu. Itu bukan satu-satunya cara. Tidak di saat-saat seperti ini. Timing-nya ga tepat.” Sela Jaejoong. Tapi di dalam hatinya ia memuji kerapian Junsu dalam menyembunyikan hal sepenting ini, selama ini…

“Lalu aku harus apa? Keputusanku mungkin bodoh, terburu-buru, tapi aku yakin itu hal yang benar… Kalau kita married, dia akan di sisi aku selamanya. Aku ga bisa ngebiarin dia ninggalin aku karena aku akan hancur tanpanya!”

PLAKK!! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Junsu.

“Yunho!”

“Hyung!”

Semua orang bangkit dari duduknya setelah menyaksikan adegan tersebut. Junsu menatap Yunho tajam.

“Apa? Apa kamu sudah sadar sekarang setelah menerima tamparanku? Jika belum, tanganku masih cukup kuat untuk memberimu beberapa pukulan lagi sampai kamu sadar, rebellious kid. Karena kata-kata saja tidak akan cukup untuk menyadarkanmu kalau pikiranmu itu picik!!” Seru Yunho. “Kamu hanya memikirkan kepentingan dirimu sendiri, Junsu. Egois! Apa kamu pernah memikirkan kita, saudara-saudaramu? Bagaimana dengan grup ini? Kami memang selalu menganggapmu anak-anak, tapi aku tak menyangka kalau pemikiranmu memang kekanak-kanakan seperti ini! Dangkal sekali, Kim Junsu.”

 

(to be continued)

Advertisements
 
3 Comments

Posted by on July 13, 2010 in DBSK

 

Tags: , , , ,

3 responses to “KENCANA – Part 1

  1. oepieck

    January 22, 2011 at 6:16 pm

    Onnie, ni aku ngebut baca part 1 ampe part 5 di ff indo. keren banget ceritanya onnie!
    gwaenchana jadi kencana, kakakaka~
    mereka tu klop banget! cinta satu sama lain, co cwitnya…
    appa-angkatnya lucu deh, hehehe ^^

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: